Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menyempurnakan Kejahatan
    Dunia kita hari ini adalah dunia yang menyempurnakan kejahatan melalui berbagai sarana dan media. Tetapi keadaan seperti ini juga merupakan keadaan dimana orang percaya dikondisi untuk disempurnakan kesuciannya. Tetapi, ini sedikit sekali. Hampir tidak ada orang yang mengalaminya. Tentu kesuciannya adalah kesucian standar Allah, bukan pura-pura suci atau kelihatan suci, melainkan benar-benar suci. Siapa yang bisa melihat itu? Kita tidak bisa meneropong orang lain, dan tidak perlu juga meneropong orang lain. Tetapi suatu hari nanti di pengadilan Tuhan, semua akan terbuka. 
    Untuk menjadi bagian dari orang yang disempurnakan kesuciannya, kita harus benar-benar berjuang di jalan Tuhan, artinya hidup sesuci-sucinya, terlepas dari ikatan dunia, bergairah untuk membahagiakan hati Tuhan. Dengan demikian, Tuhan akan memberi kepekaan kepada kita untuk bisa mengetahui apa yang membahagiakan hati-Nya, lalu bisa berpikir seperti Allah berpikir. Ini bukan hanya sesaat, melainkan sepanjang waktu hidup. Allah akan memercayakan proyek-proyek pekerjaan-Nya di akhir zaman ini. Orang-orang seperti ini akan disempurnakan kekudusannya dan kesuciannya. Jika dibandingkan dengan jumlah orang yang disempurnakan kejahatannya, jumlah orang yang dimurnikan jauh lebih sedikit. 
    Daniel 12:10, “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik. Tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya.”  Walaupun dia Kristen, menjadi aktivis, pendeta, atau teolog, ia tidak akan memahaminya karena ia fasik. Jaketnya Kristen, tapi dalamnya fasik. Fasik artinya tidak takut Tuhan, tidak peduli kehendak-Nya. Yang penting keinginannya tercapai. Dia takut kalau kurang terhormat atau tidak suka kalau kurang terhormat; uangnya sedikit dan tidak dianggap penting. Tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya. Tentu bijaksana bukan karena kecerdasan intelektual, melainkan karena mengerti kehendak Allah. 
    Masa penuaian sekarang terus mengalami penurunan atau sudah memasuki selesainya, dan diganti dengan masa penampian. Kalau orang menampi, biasanya itu diguncang, untuk memisahkan antara kulit beras dan berasnya; untuk memisahkan antara gandum dan kulitnya. Diguncang, ditiup, dan kita harus bisa merasakan guncangan ini. Walaupun kita ada di lingkungan gereja, atau pelayanan, kita juga benar-benar bertekad untuk hidup benar dan hidup suci, tetapi kita bisa merasakan guncangan itu. Dunia ini sedang diguncang. Lagipula, orang-orang yang mau menjadi istimewa di mata Allah, Iblis pun tahu. Iblis tahu bahwa orang ini mau menjadi istimewa, dan ini tentu saja membahayakan bagi kerajaan kegelapan. 
    Mereka atau orang-orang ini pun ditarget. Makanya Petrus memberikan nasihat, “Jangan kamu heran, seakan-akan ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi atas kamu,” karena imanmu diuji. Iblis itu mendapat semacam hak untuk pengujian ini, dan ini sudah menjadi semacam mekanisme. Mekanisme di dalam realita hidup, seperti yang dialami Ayub yang menunjukkan kepada kita bahwa Iblis bisa memiliki hak untuk melakukan pengujian. Pengujian tersebut sebenarnya bertujuan untuk menjatuhkan atau merusak. Tetapi, Allah menjadikan itu sebagai pemurnian. Makanya Tuhan Yesus mengatakan, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu.” Yudas dibujuk Iblis, dan dia bisa diseret melakukan kesalahan. Di dalam firman Tuhan mengatakan, “maka berbisiklah Iblis kepada Yudas;” Iblis masuk dalam diri Yudas. 
    Orang-orang yang sungguh-sungguh akan dituntut untuk dicobai, dan Tuhan mengizinkannya. Jadi, peringatan bagi kita yang hidup di akhir zaman ini dimana dunia membawa orang semakin fasik untuk menyempurnakan kejahatannya. Tetapi juga di aspek lain, orang-orang dikuduskan atau disucikan. Kita tidak boleh menunda, sebab penundaan itu berbahaya, dan ingat, penampian itu akan dialami seseorang kapan saja. Ia harus selalu berjaga-jaga dan bersiap-siap. Kalau tidak, pasti akan jatuh. Dan Iblis tahu bagaimana menjatuhkan kita.
    12 min
  • Dari Allah
    Kita meteraikan dan goreskan di dalam hati kita, sedalam-dalamnya, dan kita mau terus membangkitkannya di dalam pikiran bahwa kehidupan ini bukanlah milik kita. Hanya Allah yang bisa menciptakan dari apa yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Kehidupan ini bukan dari siapa-siapa, tapi dari Allah. Yang Alkitab sebut sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Dialah yang Empunya kehidupan ini. Itulah sebabnya dalam Doa Bapa Kami, Tuhan kita Yesus Kristus mengajarkan kalimat: “Karena Engkaulah yang Empunya kuasa, kerajaan, kemuliaan sampai selama-lamanya.” Kehidupan adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Tetapi Tuhan berkenan memercayakannya kepada kita untuk kita jalani. Tentu kita harus menjalaninya sesuai dengan kehendak Dia. Di dalam kehidupan itu, ada hak dan kewajiban. Karenanya, kita harus menjalaninya dengan bijaksana. Ada hak yang boleh kita nikmati, tapi ada kewajiban yang harus dipenuhi. Hak adalah anugerah, tetapi kewajiban juga memuat anugerah, jika kita jalani. 
    Dan jikalau kewajiban kita jalani, maka hak yang Tuhan berikan bisa kita nikmati secara maksimal. Karena kehidupan milik Tuhan—dan kita adalah makhluk yang dipercayai untuk menjalani kehidupan tersebut dimana kita harus menjalaninya sesuai dengan kehendak Allah—maka kita harus menjalaninya guna memenuhi apa yang Allah rencanakan. Sebab ketika Allah menciptakan kehidupan, tentu Ia memiliki tujuan. Hidup tidak gratis, tetapi ada pertanggungan jawab. Dalam Roma 14:12 dan Ibrani 4:3 memuat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kita harus memberikan pertanggungan jawab. Ironis, banyak manusia yang tidak mau mengerti hal ini. Dan memang kuasa kegelapan telah membutakan banyak orang sehingga mereka tidak mengerti hak dan tanggung jawabnya secara benar. Pada umumnya, orang merasa memiliki hak tanpa mempersoalkan dari mana hak tersebut. Dan mereka juga tentu tidak mempersoalkan kewajiban yang ada di dalamnya.
    Sejatinya, pasti Tuhan mengingatkan mereka dengan segala cara. Tetapi kalau seseorang memang membuka hatinya terhadap suara lain, maka ia tidak mau dan tidak akan mengerti. Orang yang tidak mau mengerti kebenaran ini dan akhirnya memang tidak mengerti, merasa bahwa kehidupan ini adalah miliknya sendiri. Ia merasa berhak menggunakan sesuai dengan apa yang dia hasrati, dia ingini. Mulut kita ini sebenarnya milik Tuhan, dipercayakan-Nya kepada kita. Dengan metabolisme tubuh yang sempurna, hubungan antara otak dan mulut, otak dan seluruh anggota tubuh, Allah yang memiliki, menciptakan, dan mendesain sempurna. Mestinya tidak boleh digunakan sembarangan. Seperti seorang budak yang telah ditebus, dibeli, tapi tidak hidup untuk mengabdi kepada tuannya. Jadi, kiranya kita hari ini menyadari sesadar-sadarnya bahwa setiap kita harus menghadap takhta pengadilan Allah. 
    Kuasa kegelapan berusaha untuk menutup-nutupi hal ini agar manusia melupakannya dan tidak memperhatikannya sama sekali. Dan memang faktanya, kalau kita melihat manusia pada umumnya atau hampir semua manusia tidak pernah memedulikan realita pengadilan Tuhan. Kita sendiri bisa terbawa oleh situasi dunia yang tidak memperkarakan adanya pengadilan Tuhan. Kita juga bisa menjadi ceroboh terhadap hidup kita. Tanpa disadari, kita menganggapnya sepele atau bukan masalah besar. Padahal, ini kecerobohan yang terbesar dalam hidup, ketika orang tidak memperkarakan hal pengadilan Tuhan bahwa ia harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah. 
    Kalau kita benar-benar memperkarakan hal pengadilan ini, kita akan serius setiap hari membawa diri kita di hadapan Allah untuk diterangi Tuhan. Kita mohon pimpinan Roh Kudus, seakan-akan dan memang bisa terjadi setiap saat, kita ada di hadapan pengadilan Tuhan. Jangan sampai ada sekecil apa pun kesalahan yang masih kita lakukan, sehalus apa pun dosa yang kita perbuat. Kita harus bisa membayangkan seakan-akan sudah ada di pengadilan Tuhan, dimana tidak ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Kiranya kita tidak bisa tidur nyenyak sebelum memperkarakan ...
    8 min
  • Hak dan Tanggung Jawab
    Harus selalu kita ingat bahwa manusia bukanlah makhluk gratis. Artinya, Allah memberi kehidupan kepada manusia agar manusia melakukan apa yang Allah kehendaki, dan memenuhi atau menggenapi rencana yang Allah telah tentukan dan susun. Manusia adalah makhluk, yang satu aspek memiliki hak, tetapi di aspek lain memiliki tanggung jawab. Ketika Allah menciptakan manusia atau ketika Allah “melahirkan” manusia, Adam disebut sebagai anak Allah. Di dalam hak tersebut, manusia memperoleh kenikmatan dari apa yang Allah ciptakan untuk disediakan bagi manusia. Di dalam tanggung jawab, manusia dikehendaki untuk memperoleh, belajar, meraih, dan meneguk kebenaran yang membuat manusia menjadi sempurna atau serupa dengan Bapa. Maka kita bisa menganggap bahwa hak adalah anugerah, tapi tanggung jawab juga harus dipahami sebagai anugerah. Karena kalau manusia melakukannya, manusia dapat memperoleh berkat, kenikmatan, dan kehormatan, yaitu bisa menjadi serupa dengan Bapa, serupa seperti Allah. 
    Secara figuratif, dalam kehidupan Adam ada kebenaran yang Adam bisa teguk, atau raih, yang diperoleh melalui pohon kehidupan. Sedangkan di luar kebenaran tersebut adalah buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Oleh karenanya Tuhan berfirman, “Kamu boleh makan semua buah di taman ini.” Artinya buah yang bisa dikonsumsi untuk fisik dan juga ada buah yang dikonsumsi untuk jiwa, pohon kehidupan; kebenaran. Itu adalah hak. “Tapi yang satu ini jangan kamu makan,” yaitu buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Itu adalah tanggung jawab. Jadi, sebenarnya ada dua jenis buah. Buah yang dimakan secara fisik, yaitu segala jenis buah; tapi juga ada buah yang dimakan untuk kebutuhan jiwa, yaitu kebenaran, yang diwakili oleh pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Ini mewakili pengetahuan yang bukan dari Allah. 
    Kalau manusia makan buah yang dilarang ini, maka manusia gagal menjadi manusia sesuai rancangan Allah. Manusia gagal menjadi serupa dengan Allah, sehingga manusia tidak pernah sempurna seperti Bapa. Dengan keadaan tidak sempurna seperti Bapa, manusia tidak bisa mengelola alam semesta. Dan kalaupun mereka beranak cucu, anak cucunya akan segambar dan serupa dengan Adam, bukan segambar dan serupa dengan Allah. Ingat, ketika Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan menurut gambar-Nya, tapi rupa-Nya tidak. Memang rencana Allah “baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” (Kej. 1:26). Namun di Kejadian 1:27 dikatakan, “Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya,” rupa-Nya tidak, karena rupa ini menunjuk kualitas jiwa, kualitas karakter, harus diproses. Makanya ada pohon kehidupan. 
    Sebagai hak manusia, ia bisa menikmati semua yang Allah ciptakan, mulai dari makanan fisik, dan segala keindahan alam. Tapi, manusia punya tanggung jawab untuk mengelola alam semesta dan beranak cucu. Itu adalah rencana Allah yang harus manusia penuhi. Apa yang Allah rencanakan untuk dipenuhi ini bisa terlaksana kalau manusia segambar dan serupa dengan Allah, sempurna seperti Bapa. Hal ini kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya ada kompleksitas atau kerumitan untuk menjelaskan. Ada hak, ada tanggung jawab. Hak ini anugerah, tanggung jawab juga anugerah. Karena kalau dikerjakan, maka kita bisa serupa dengan Allah. Lalu kalau sudah serupa dengan Allah, kita bisa memenuhi mandat atau perintah yang Allah berikan yaitu mengelola alam semesta dan beranak cucu dengan keturunan yang baik. Kalau Adam dan Hawa segambar dan serupa dengan Allah, keturunannya juga pasti segambar dan serupa dengan Allah. Tetapi karena manusia gagal, maka dalam kitab Kejadian 5 kita membaca bahwa mereka melahirkan anak yang segambar dan serupa dengan Adam, bukan segambar dan serupa dengan Allah. 
    Keselamatan yang diberikan adalah anugerah. Dalam hal ini, dosa manusia diampuni, dianggap benar di hadapan Allah, walaupun belum benar sehingga bisa menghampiri Allah, dan diberi Roh Kudus. Inilah hak. Tapi ada kewajiban,
    9 min
  • Manusia yang Agung
    Banyak orang Kristen, seperti banyak manusia lainnya, merasa hidup ini gratis. Kalau orang sudah berpikir hidup ini gratis, maka pasti dia tidak menyadari ada pertanggungan jawab. Di Kejadian 3, ketika Adam dan Hawa telah jatuh dalam dosa, Allah berkata, “Apakah kamu makan buah yang Kularang?” Pada akhirnya matilah manusia dan terkutuklah bumi. Itu adalah konsekuensinya. Jangan sampai kita ini melihat hidup seperti gratis, sehingga kita berpikir dan bersikap suka-suka. Itu sangat berbahaya. Karena nanti ada pertanggungan jawab, dan rata-rata kita ini belum menyadari bahwa suatu saat akan ada pengadilan Tuhan. Makanya kita harus back to the basic; kita kembali ke dasar, ke awal landasan kehidupan yang Tuhan tetapkan. Hanya manusia, makhluk ciptaan yang memiliki keberadaan seperti ini, yaitu memiliki hak dan kewajiban. Di sini kita menemukan keagungan makhluk yang disebut manusia. Oleh karenanya, manusia akan benar-benar menjadi agung, jika bukan saja memahami hak-haknya melainkan juga tanggung jawabnya, dan mengerti bahwa hak itu adalah anugerah. Manusia tidak dapat atau memang tidak boleh hanya memiliki salah satu; harus dua-duanya, yaitu hak dan tanggung jawab. Ini seperti sekeping mata uang yang memiliki dua sisi. Kalau sekeping mata uang hanya memiliki satu sisi, menjadi tidak sah. 
    Kita dapat melihat dalam kehidupan manusia pertama, Adam dan Hawa, Allah menciptakan Eden atau bumi yang indah di mana manusia diberi kehidupan untuk menikmatinya dengan segala fasilitas. Inilah hak menikmati bumi. Tetapi manusia harus mengelola bumi dan memenuhinya, dan untuk itu manusia harus serupa dengan Allah. Sebab kalau tidak, bumi akan habis, rusak, manusia mati, dan bumi menjadi terkutuk. Makanya kita tidak bisa berharap bumi ini menjadi lebih baik. Maka Tuhan Yesus berkata, “Kamu bukan dari dunia ini, Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Jelas kita hanya menantikan kedatangan Tuhan dan membawa kita ke tempat di mana Dia ada, “Supaya di mana Aku ada, kamu ada.” Untuk itu, manusia harus bertumbuh dalam kedewasaan rohani agar manusia bukan hanya segambar dengan Allah, namun juga memiliki pikiran dan perasaan Allah.
    Dari pikiran dan perasaan itu manusia bisa menciptakan kehendak. Namun kalau manusia hanya punya pikiran dan perasaan tanpa kualitas yang baik, maka kehendaknya menjadi kacau. Manusia harus memiliki pikiran dan perasaan yang benar agar bisa melahirkan keinginan atau kehendak yang sesuai dengan kehendak Allah. Makanya di Perjanjian Baru, firman Tuhan mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Kenapa? Sebab Kristuslah model manusia yang Allah mau. Jadi, hidup kita itu sebenarnya disita untuk menggumuli dan memperkarakan hal ini. Tidak boleh ada hal lain yang menyita hidup kita. Ini adalah rancangan Allah semula, yaitu menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Dia, supaya pikiran perasaannya dikuduskan, dan kehendaknya selalu sesuai dengan kehendak Allah, sehingga apa yang direncanakan bisa dipenuhi. Berhubung manusia telah gagal, bumi dikutuk oleh Allah, maka Allah menciptakan langit baru bumi baru. Dan kita memang dirancang untuk mengembalikan apa yang rencanakan Allah semula, yang bukan gagal melainkan tertunda dan akan dipenuhi oleh umat pilihan. 
    Jika manusia tidak serupa dengan Bapa, artinya berkarakter buruk, maka manusia tidak bisa mengerjakan mandat yang Tuhan berikan, atau memenuhi tanggung jawabnya, dan manusia tidak dapat menikmati keindahan-keindahan yang Allah telah ciptakan. Oleh karenanya kita harus memperhitungkan, kalau kita hidup di dunia ini, tidak mungkin kita bisa menikmati kehidupan yang ideal. Selain bumi menumbuhkan onak dan duri, manusia harus berjerih lelah untuk melanjutkan perjalanan hidupnya yang singkat di bumi. Manusia telah menjadi rusak, dan kita melihat sekarang bahwa manusia semakin rusak. Oleh sebab itu, orang percaya karakternya harus diubah. Yohanes 14:27 mengatakan,
    10 min
  • Melibatkan Seluruh Hidup
    Orang Kristen yang hanya mengatakan Yesus Tuhan dan Juruselamat, hidupnya tidak berbeda dengan orang yang beragama lain, bahkan bisa lebih rusak. Tetapi kalau kita melibatkan seluruh hidup kita terkait dengan status-Nya, kita tidak punya lagi ruangan untuk yang lain. Namun banyak orang tidak melibatkan seluruh hidupnya terkait dengan pengakuan itu. Jadi seharusnya, kita bukan hanya mengakui status Yesus, melainkan juga percaya akan diri-Nya, yaitu Pribadi-Nya. Dan kalau kita mengerti ini, maka kita harus mengenakan hidup-Nya. Yesus menjadi hukum kita. Kita mau kembali kepada Injil yang sejati. Ini mengerikan bagi kuasa kegelapan, sebab akan dilahirkan “kristus-kristus;” yaitu orang-orang yang berkata, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus.” Kuasa kegelapan pasti berusaha untuk bagaimana menghentikan laju suara kebenaran ini. 
    Tapi bagi kita yang memiliki nurani yang dipimpin Roh Kudus, harus bisa membedakan antara dusta dan kebenaran. Kita harus menjadi misionaris Tuhan. Kita harus membuktikan keberadaan-Nya dalam hidup kita. Tuhan berkata, “Berjuanglah masuk jalan sempit.” Jika demikian, mengapa kita bisa menganggap ini hal yang mudah? Dalam Injil Yohanes 6:27-29, Tuhan berkata agar kita bekerja bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, tetapi untuk makanan yang tak dapat binasa, yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Lalu murid-murid bertanya, “apakah yang harus kami perbuat untuk memperoleh makanan yang tidak dapat binasa itu?” Tuhan Yesus berkata, “inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Percaya itu bukan sekadar sesuatu yang dipikirkan dan diyakini, kemudian disetujui di dalam pikiran, melainkan sesuatu yang diusahakan, ergon; dikerjakan. 
    Maka di Filipi 2:12-13 firman Tuhan mengatakan, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Ayat sebelumnya, “hendaklah kamu dalam hidupmu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Yang harus menaruh pikiran, perasaan Kristus itu siapa? Kita. Jangan berkata, “Tuhanlah yang menaruh. Tuhan yang menentukan kamu selamat lalu memberi kamu iman, menaruh iman jadi percaya, lalu diberi pikiran, perasaan Kristus, lalu bisa selamat.” Ini membuat kekristenan mati. Karena respons manusia tidak dibutuhkan atau tidak bisa mengemuka secara proporsional. Keselamatan tidak cukup diterima dengan aktivitas nalar. Perhatikan doktrin-doktrin yang bernuansa demikian, mereka akan berputar-putar dalam penjelasan, definisi, rumusan, tetapi tidak jelas implikasinya. 
    Orang-orang yang menekankan benda, atau uang, pasti menekankan perkara-perkara duniawi. Karena percaya yang dimiliki semua dinalarkan, sehingga tidak melibatkan seluruh hidup. Jadi, orang bisa dikatakan percaya kepada Yesus, kalau melibatkan seluruh hidupnya. Semua kita sebenarnya dalam perlombaan. Bagaimana kita meningkatkan iman makin sempurna, dan memandang Yesus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan, artinya yang akan mengajari kita bagaimana taat kepada Bapa seperti Dia taat. Percaya itu tindakan. Percaya itu menyerahkan diri kepada objek yang dipercaya. Dan untuk proses perlombaan ini berlangsung dengan baik, dosa dan beban harus ditanggalkan (Ibr. 12:1). Kita semua harus berlomba, namun bukan untuk saling bersaing, lalu saling menyikut dan menjatuhkan. Suatu hari Tuhan akan membuka hasil perjuangan kita. Jadi, kita hanya menunggu pengadilan Tuhan. 
    Iman itu diperjuangkan, tapi iman datang dari pendengaran; rhema (Rm. 10:17). Semua kita mendengar khotbah, membaca Alkitab, membaca buku, namun itu belum tentu rhema. Rhema adalah suara yang Roh Kudus sampaikan kepada kita. Roh Kudus akan menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran, maka pasti Roh Kudus berkarya. Tidak mungkin Dia diam. Manusia hidup bukan hanya dari roti, melainkan juga dari setiap rhema. Tentu itu artinya kita harus baca Alkitab, mendengar khotbah, membaca buku-buku rohani yang baik. Tetapi semua itu hanya seperti bahan mentah.
    10 min
  • Tanggung Jawab Menata Kekekalan
    Kalau seorang mahasiswa mau lulus ujian, apalagi untuk menjadi juara, maka dia pasti belajar tekun. Apalagi kalau kita mau menjadi orang yang terkemuka di Kerajaan Allah di antara orang-orang yang terkemuka—terkemuka bukan supaya kita mendapat kehormatan dari manusia, tetapi supaya kita dipercayai oleh Allah di dalam Kerajaan kekekalan nanti—maka kita pasti serius. Orang yang serius mau menikmati hari tua tanpa penderitaan, dia sudah mulai merajut dan membangun petanya sejak sekarang dengan pola hidup yang baik, dengan pola makan yang baik. Kalau orang tidak tiap hari memeriksakan diri di hadapan Tuhan, dia tidak peduli pengadilan Tuhan, itu berisiko kematian kekal; terpisahnya manusia dari hadirat Allah. Jelas, orang yang tidak memedulikan pengadilan, pasti tidak mempersiapkan diri di hadapan penghakiman Allah. Kalaupun jadi Kristen lalu mau jadi orang baik, tidak serius memeriksa diri. 
    Semua kita manusia berdosa. Tapi jangan berbuat dosa lagi. Jangan berbuat salah lagi. Orang yang tidak peduli pengadilan Tuhan, berisiko kematian kekal; terpisahnya dari hadirat Allah selamanya. Orang yang tidak peduli pengadilan, pasti tidak mempersiapkan diri di hadapan Allah. Kiranya kita memperhatikan hal ini, menyadari betapa pentingnya memperkarakan hidup kita di hadapan Tuhan setiap hari. Pertanyakan kepada diri kita masing-masing, “Seberapa saya serius dengan Tuhan?” Kalau tidak benar-benar ekstrem serius, bagaimana kita bisa menularkan keseriusan dengan Tuhan kepada sesama; terutama kepada keluarga inti dan keluarga besar. Kita menyongsong kekekalan. Kalau dari muda sudah diajar memperkarakan pengadilan Tuhan, makin hari mereka akan makin kuat. Dan sebaliknya, kalau dari muda sudah tidak pernah memperkarakan pengadilan, mereka jadi rusak. Dan hari ini, hampir semua orang tidak memperkarakan pengadilan Tuhan. Termasuk sebagian besar mereka yang mengaku sebagai anak-anak Allah, karena mereka sudah terpengaruhi dan tergarami dengan penggaraman yang salah dari dunia sekitar. 
    Di dalam pengadilan Tuhan, Allah menuntut pertanggungan jawab setiap individu, apa yang telah dilakukannya dalam mengisi hidupnya di bumi. Ingat, kita tidak dapat menghindarkan diri dari pengadilan di hadapan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan di dalam Ibrani 4:13, “Sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Allah, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Makanya, sebelum kita diperhadapkan di pengadilan Tuhan, kita sudah membuat pengadilan terhadap diri kita sendiri. Dan kalau bersalah, kita merasa terhukum. Kita menghukum diri sendiri. Dan sebenarnya itu otomatis. Orang yang memiliki nurani dan mengembangkannya, maka ketika berbuat salah, ia akan dapat merasakannya.  Dan jangan kita lupa bahwa di dalam pengadilan Tuhan, Tuhan tidak menerima alasan apa pun. Salah adalah salah. Jadi, jangan kita membuat alasan apa pun. 
    Pengadilan di hadapan Tuhan itu harus dihadapi oleh setiap individu, dan kita tidak tahu kapan terjadi hari itu. Harus selalu diingat bahwa hukuman kematian atas manusia bisa terjadi kapan saja. Makanya jauh-jauh hari kita sudah berkata, “Aku memerlukan-Mu, Tuhan. Hanya Engkau yang kuperlu. Ubah hidupku agar aku memberkati orang-orang yang kucintai.” Setiap hari kita harus memperhatikan hidup kita di hadapan Allah, seakan-akan ada di hadapan pengadilan-Nya. Dan seiring berjalannya waktu pada saat kita membereskan diri di hadapan Tuhan, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: yang pertama, ada pencobaan. Yang kedua, Tuhan mau kita bertumbuh. Jadi di hadapan pengadilan Tuhan, Tuhan bukan hanya memperkarakan kita berbuat dosa atau tidak, tetapi apakah kita bertumbuh atau tidak. Apakah umur rohani kita sesuai dengan kedewasaan umur biologis kita? Sebab kalau kita masih punya perjalanan waktu, berarti harus belajar, bertumbuh dewasa, makin sempurna. Supaya ketika bertemu dengan Tuhan, Tuhan menemukan wajah Yesus di dalam hidup kita. 
    Dalam perjalanan waktu,
    12 min
  • Kualitas Batin
    Ketika keadaan nyaman, keadaan semua serba running well, banyak orang tidak mencari Tuhan. Tapi akan berbeda ceritanya kalau dunia dalam keadaan resesi. Orang saling berkelahi, tega memukul orang lain, dan cenderung bersikap egois. Bisa terjadi, masyarakat saling berebut makanan di supermarket. Bisa saja ada yang nekat sampai mengeluarkan senjata, mengancam orang lain untuk tidak menghalangi atau mempersulit keadaannya. Bagaimana dengan orang percaya? Tentu saja harus berbuat sebaliknya; mengalah kepada orang lain, rela berkorban, karena kita memiliki Allah yang kita sembah, yang mengajari kita untuk berbuat demikian. Ini membuat kita tidak berani berbuat dosa, tidak menginginkan dunia. 
    Dan lebih dahsyatnya lagi, ini yang membuat kita menginginkan pulang ke Rumah Bapa. Tapi kita tidak segera ingin pulang. Kenapa? Karena ada orang-orang yang harus kita topang untuk kita hantar ke langit baru bumi baru; ada tugas yang belum selesai kita tunaikan. Kalau kita mau pulang lebih dulu lalu kita membiarkan yang lain, kita jadi egois. Ketika kondisi hidup atau dunia sudah lebih parah dari yang sekarang, baru kita bisa mengetahui seberapa kita punya ketahanan. Orang dapat menjadi histeris, ketakutan sampai menjerit, tapi reaksi kita hanya: “Ya, Tuhan.” Kita tetap bersikap teduh dan merasa lebih kokoh. 
    Seperti ketika orang tidak pernah berjaga-jaga, lalu tiba-tiba dia di ujung maut, dia pasti merasakan ketakutan yang luar biasa. Jadi, masalah-masalah yang tidak perlu kita bicarakan, jangan bicarakan. Baiklah kita bicarakan hal-hal yang menguatkan iman, yang membuat kita lebih benar di hadapan Allah saja. Mestinya banyak hal yang harus bisa kita anggap tidak penting dan harus disingkirkan, untuk menyongsong hari esok yang tidak menentu dan tidak jelas. Karenanya, kita harus mempersiapkan diri mulai sekarang untuk menemukan Tuhan. 
    Kemampuan seorang hamba Tuhan untuk bisa berkhotbah, berbicara tentang Tuhan, bisa saja dimanipulasi oleh apa yang disebut brain power. Otak kita ini memang punya power, tapi sering mendahului pekerjaan Roh Kudus. Jadi, kita dikendalikan oleh logika yang tidak dipimpin Roh Kudus. Padahal, kalau bicara iman, kita harus percaya apa yang tidak kelihatan. Seperti 2 Korintus 5:7, not by sight, but by faith. Apakah ini mudah untuk dilakukan? Tidak. Kalau kita berkata, “Bapa kami yang di surga,” kita harus terlatih meyakini apa yang tidak kelihatan. Kalau menggunakan brainpower, kita jadi pusing. Lalu kita menghiasi doa dengan kata-kata, kalimat yang bagus-bagus. Makanya teolog-teolog hebat dalam berdoa, tak meleset kata-katanya. Tapi itu di dalam wilayah logika, bukan iman. Saat dia mendoakan orang sakit, mengusir setan, menghadapi kesulitan, apakah bisa tetap teduh dan tenang? Tidak akan. Jadi orang makin berteologi tinggi dan makin yakin dirinya pintar, justru malah semakin tidak beriman. 
    Sering manusia dalam memecahkan masalah-masalahnya dengan menggunakan kemampuan brain-nya. Ia memang dipandu oleh ayat-ayat Alkitab, tapi karya Roh Kudus tidak ada di situ. Kita harus memiliki kualitas batin yang mampu melahirkan apa yang menyenangkan hati Allah. Dalam percakapan, setiap kata yang kita ucapkan, dalam keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan, kita bisa memproduksi tindakan, keputusan, renungan hati, pikiran yang menyenangkan hati Allah. Kalau semua pakai brain, kita tidak akan bisa melakukannya. Harus ada peran Roh Kudus yang memimpin kita.  
    Tidak harus bersekolah teologi, kecuali yang memang dipanggil khusus untuk itu. Roh Kudus bisa memberi kita kecerdasan. Kalau dulu kita berkata, “Bapa kami,” kita lebih memakai brain. Sekarang, kita bisa dengan penghayatan dari hati. Kita tutup mata, katakan “Bapa…” Ini tidak bisa dijelaskan. Kita harus mengalami bahwa Allah yang kita sembah itu hidup dan nyata. Dalam kondisi-kondisi yang terancam dan kritis, kita sudah terbiasa ada di hadirat Allah, meyakini Allah. Kita sudah belajar melompat setinggi-tingginya.
    8 min
  • Wajah Batin
    Kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus datang, sama dengan kita juga tidak tahu kapan kita menjumpai ajal kita. Itu adalah keadaan yang benar-benar dahsyat. Kita tidak boleh anggap ringan dan remeh hal tersebut. Ketika seseorang ada di ujung maut, ia baru bisa mengerti bahwa semua persoalan hidup yang dialaminya ternyata kecil, tidak ada artinya. Apalagi kalau sudah ada di hadapan pengadilan Tuhan. Orang yang mampu mengerti atau menghayati hal ini adalah orang yang sungguh-sungguh telah memperkarakan kekekalannya. Ditambah lagi dengan pengalaman hidup dimana seseorang berkali-kali melihat orang ada di ujung maut, atau dirinya sendiri ada di ujung maut. Baru dia bisa mengerti bahwa ketika seseorang di ujung maut mendekati ajal, itu adalah situasi atau suasana yang sangat dahsyat dan mencekam. 
    Lebih-lebih lagi kalau kemudian ada di hadapan takhta pengadilan Allah. Bahwa ternyata segala yang dilakukan selama hidup di dunia ini, diperhitungkan. Tetapi bersyukur bagi orang yang sudah jauh-jauh hari panik, dan mempersiapkan diri menghadapi keadaan itu, yaitu dengan berusaha untuk benar-benar hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kata “suci,” kata “kudus” bukan menjadi sesuatu yang asing baginya, bukan pula sesuatu yang jauh, yang dipandang terlalu sakral sampai tidak tersentuh. Kata “suci,” kata “kudus” menjadi sesuatu yang sudah menyatu di dalam hidupnya. Memang sangat sakral, tapi tidak jauh. Itulah hidup hari-harinya. Ditambah lagi dengan keterlepasannya dari ikatan-ikatan dunia atau kesenangan-kesenangan dunia, membuat seseorang ketika ada di dalam kondisi sangat mencekam itu, dia tidak merasa itu sebagai situasi yang mencekam. 
    Tidak berlebihan, justru itu adalah momentum atau saat yang dinanti; saat yang ditunggu-tunggu. Jika kita belum mencapai tahap seperti itu, berarti ada sesuatu yang masih salah atau belum tepat di dalam hidup kita. Ketika kita ada di pembaringan terakhir, seharusnya itulah saat yang kita tunggu-tunggu, karena pada saat itu Tuhan pasti akan mengutus malaikat-Nya menjemput kita. Dan ketika kita ada di hadapan pengadilan Allah, itu juga merupakan saat yang kita tunggu, sebab kita bisa melihat keadaan hidup yang sesungguhnya, yaitu jerih lelah perjuangan kita selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, kita harus jauh-jauh hari memiliki perasaan panik dan krisis ini. Supaya kita tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun atau sehalus apa pun. 
    Kita harus memiliki kegentaran yang benar dan tulus kepada Allah. Sehingga, bisa melihat hati kita seperti berkaca; bukan seperti kaca yang rusak atau berkabut, melainkan kaca yang bening. Kita bisa melihat seberapa wajah kita memiliki keelokan atau kecantikan. Kalau kita berusaha hidup sebersih-bersihnya, sesuci-sucinya, maka kita akan bisa melihat wajah batin kita jernih dan bersih. Dan ini harus terus diimbangi dengan perasaan takut akan Allah. Kalau melakukan kesalahan, kita akan sangat menyesal seakan-akan bisa merasakan luka dan sakit hati-Nya Tuhan. Coba kita jujur terhadap diri sendiri, apakah ada sesuatu di dalam hidup yang kita rasa bisa membahagiakan atau menyenangkan kita? Yang benar adalah bahwa hanya Tuhan yang menjadi kebahagiaan kita. 
    Dan kalau Tuhan menjadi satu-satunya kebahagiaan kita, maka Tuhan akan membukakan mata pengertian kita untuk lebih mengerti apa yang bisa membahagiakan Dia. Kalau kita makin mengerti apa yang bisa membahagiakan hati Tuhan, kita akan diajar untuk berpikir seperti Dia berpikir. Tidak ada yang kita pikirkan yang bukan Allah pikirkan. Tidak ada proyek-proyek di dalam hidup kita selain pekerjaan Tuhan yang kita harus tunaikan. Tentu kita harus bekerja, mengurus rumah tangga, dan menunaikan semua tugas dan tanggung jawab hidup. Tetapi itu pun semua kita lakukan dalam rangka kita menyenangkan Tuhan. Dan bagaimana kita bisa menjalani hidup ini dengan segala kesibukannya, dan menjadikan semua kesibukan itu kesukaan hati Tuhan. 
    Tentu kita tidak bisa menyukakan hati Tuhan di dalam kamar,
    9 min
  • Jaga Dirimu
    Kita harus menjaga diri secara benar, yang memang itu menjadi bagian kita. Ini terkait dengan keselamatan kekal. Tuhan tidak menghindarkan kita dari hal-hal yang dapat menggagalkan kita sampai ke Kerajaan Surga, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Hal ini sama dengan Allah tidak menghindarkan bangsa Israel dari berbagai halangan dan rintangan dalam perjalanan mereka dari Mesir ke Kanaan. 1 Korintus 10:6 mengatakan, “Semua itu ditulis sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita mengingini hal-hal jahat seperti yang telah mereka perbuat.” 1 Korintus 10:11, “semua ini telah menimpa mereka sebagai contoh. Dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu dimana zaman akhir telah tiba.” 
    Allah tidak melarang ular yang adalah personifikasi dari Iblis, ada di taman Eden. Allah juga yang memberikan ‘lisensi’ kepada setan untuk mencobai Ayub. Bapa juga tidak menghindarkan Yesus dari pencobaan, sampai di kayu salib. Tuhan tidak menutup pintu Iblis berbisik dan merasuk ke Yudas. Bahkan, Iblis tidak dilarang oleh Tuhan untuk menampi Petrus. Ini ada semacam hukum atau tatanan yang Allah tidak bisa batalkan, dan harus ditegakkan. Iblis mendapat bagian untuk mencobai, guna menggagalkan keselamatan dalam hidup seseorang. Ingat, hal ini juga terjadi dalam pelayanan Yesus. Dalam Injil dikatakan, “Roh membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai.” Namun Yesus menang. Bagaimana dengan kita supaya tidak kalah? Jaga dirimu! 
    Lukas 21:34, “Jagalah dirimu supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi, dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.” Kalau secara otomatis orang bisa selamat, maka Tuhan tidak perlu berkata “jaga dirimu.” Dan Tuhan tidak berkata, “Kujaga kamu dari hal-hal itu.” Tidak. Berarti kita yang harus menjaga diri kita sendiri. Itu tugas dan tanggung jawab kita. Di luar kesanggupan kita, itu adalah bagian Tuhan. Tapi kamu tidak perlu tahu bagian Allah di mana. Pokoknya, Allah punya bagian. Yang kamu harus tahu, di mana bagianmu dan bagaimana kamu memenuhinya. 
    Pertama, pesta pora; kraipale (κραιπάλῃ). Hal ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang tidak membahayakan. Di dalam bahasa aslinya, pengertian kata itu secara etimologis adalah “sesuatu yang membuat kepala pusing.”  Kata ini sebenarnya lebih terkait dengan “kemabukan oleh anggur.” Kalau zaman dulu, orang pesta pora selalu diwarnai dengan minum anggur sampai mabuk. Apakah salah minum anggur? Tidak. Kalau kita minum untuk mabuk, itu yang salah, apalagi sampai kecanduan. Sebenarnya ini juga bisa menjadi gambaran bagi anak-anak dunia, berbagai kesenangan yang membuat mereka menjadi mabuk. Dalam kacamata orang benar, itu kemabukan. Tapi bagi mereka yang sedang mabuk, itu kesenangan. Jadi, orang mabuk tidak sadar dirinya mabuk. Ataupun kalau dia sadar, itu merupakan kesenangan baginya. Justru itulah dunianya. Dan kalau sudah ada di situ, tidak mau dia keluar dari keadaan itu. Itu kenikmatan. 
    Kedua, kemabukan; methe (μέθῃ), artinya keracunan. Kata methe ini menunjuk pada keadaan yang benar-benar parah ketika seseorang dalam tingkat keracunan. Dunia ini dengan segala suasananya telah meracuni banyak orang, sehingga mereka tidak lagi memiliki kesadaran untuk mengenal perkara-perkara rohani. Pesta pora pasti menunjuk kepada kesenangan-kesenangan dalam menikmati. Lalu methe ini bicara soal kecanduan. Kalau dari minuman keras dan lain-lain, secara harfiah, yang membuat seseorang sampai keracunan. Dan ilustrasi yang paling tepat, kalau orang mengonsumsi narkoba. Keracunan tubuhnya. Kalau dia tidak mengonsumsi, sakit dia. 
    Dunia ini dengan segala suasananya telah meracuni. Tapi banyak orang Kristen yang ke gereja—apalagi aktivis, teolog, bahkan pendeta—tidak merasa keracunan. Ini mengerikan. Ketika seseorang mengingini sesuatu yang Allah tidak kehendaki dia ingini,
    9 min
  • Respons yang Mengubah
    Semua manusia dikatakan Alkitab telah jatuh dalam dosa, kehilangan kemuliaan Allah. Itu artinya semua manusia telah sakit; tidak ada manusia yang sehat menurut ukuran Tuhan. Hal ini simetris dengan keadaan dimana manusia dipandang bercacat dan bercela; telah ada di bawah standar, tidak layak hidup di dalam kekekalan, khususnya menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Keselamatan dimaksudkan agar manusia dapat mengalami kesembuhan; memiliki keadaan yang tidak bercacat, sehingga manusia layak hidup di dalam kekekalan, di Kerajaan Surga. 
    Pelayanan pekerjaan Tuhan harus memiliki fokus untuk menyembuhkan orang-orang sakit ini. Bukan sakit jasmani, walaupun tentu ada pula kesembuhan secara fisik, melainkan yang terutama yang hendak menjadi fokusnya adalah kesembuhan dari keadaan manusia yang bercacat. Agar manusia bisa disembuhkan; berkeadaan tidak bercacat di hadapan Allah, dan layak masuk ke dalam kehidupan yang akan datang di Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Gereja harus menjadi seperti rumah sakit yang melayani pasien, dan bukannya memanfaatkan pasien. Bisa jadi, tidak dapat disangkal, ada juga dokter atau rumah sakit yang menyelenggarakan perawatan hanya karena uang. Tetapi kita jangan menjadi seperti rumah sakit semacam itu. Pasti banyak rumah sakit yang benar-benar menyelenggarakan pelayanan perawatan, kegiatan medis untuk kesembuhan masyarakat dan tidak bersifat komersial. 
    Betapa besar tanggung jawab gereja—dalam hal ini para pelayan Tuhan di hadapan Allah—yang mengarahkan seluruh jalannya pelayanan. Tidak boleh ada agenda-agenda tersembunyi atau terselubung. Kita bersyukur, memiliki kegiatan doa setiap pagi, dan doa puasa. Tidak mungkin Tuhan tidak berbicara kalau kita salah. Sebegitu giatnya kita mencari Tuhan, pasti Tuhan akan menuntun kita. Jadi, sebenarnya soal berapa jumlah jemaat yang hadir, tidak boleh menjadi prioritas. Seberapa besar ruangan gereja dan fasilitasnya, bukanlah hal yang utama. Bagaimana liturgi gereja, juga bukan hal yang harus difokuskan, walaupun tentu kita harus menyelenggarakan liturgi sebaik-baiknya. Tetapi yang terutama ada perawatan melalui pemberitaan Firman, juga hadirat Allah. 
    Makanya harus diwajibkan setiap worship leader, singer, dan choir harus berdoa. Termasuk pemain musik, supaya bisa benar-benar menghadirkan kemuliaan Allah atau hadirat Allah. Untuk apa musik lengkap, tetapi hanya menjadi hiburan? Harus bisa menarik hadirat Allah. Karena, itu bagian dari proses kesembuhan. Worship leader waktu menyanyi dengan tulus dalam urapan Roh Kudus, itu menyembuhkan. Sebab ketika seseorang berdoa dengan tulus di hadapan Tuhan, hadirat Allah turun, dan itu pasti dirasakan. Pasti akan terimpartasi. Kalau seorang menyanyi dengan penghayatan, kita akan pasti ikut terangkat, dan itu proses kesembuhan. Apalagi khotbah yang disampaikan. Jadi, semua yang dilakukan ini menjadi proses kesembuhan bagi kita. Maka, harus terjadi proses perubahan. 
    Petrus sebelum mengikut Yesus, dengan Petrus setelah mengikuti Yesus, berbeda. Dan memang di dalam Alkitab kita melihat perubahan yang radikal dan drastis itu. Dan untuk perubahan ini, dibutuhkan respons. Kita harus mau berubah. Maka di dalam gereja diajarkan ajaran-ajaran yang membangkitkan gairah rohani, bukan membunuh. Ironis, banyak khotbah yang membangun penalaran doktrinal, tetapi tidak membangun gairah yang berimplikasi. Berimplikasi artinya menuntut untuk diterapkan, untuk dilakukan. Begitu banyak doktrin yang hanya menjadi olah nalar, tapi tidak memiliki implikasi yang kuat. Artinya, tidak menuntut untuk diperagakan. Kalau khotbah hanya mengatakan “kuasa Tuhan ajaib mengubah hidupmu,” itu tidak salah, tetapi penjelasannya tidak cukup hanya begitu. 
    Kuasa Tuhan memberi potensi untuk berubah, tetapi respons individu yang mengubah. Ini harus dijelaskan. Dalam Matius 19:21-23, orang kaya yang mau ikut Yesus, gagal karena hatinya terikat uang. Jadi yang disalahkan siapa? Tuhan? Bukan. Yang disalahkan tentu saja orang itu.
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…