Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tidak Berdaya
    Bukan tanpa alasan Allah menciptakan benda-benda penerang; Kejadian 1:14, “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun.’” Dalam ayat tersebut, Alkitab mencatat adanya benda-benda penerang yang diciptakan Tuhan untuk memisahkan siang dari malam juga menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun. Ini berarti manusia dimasukkan ke dalam kotak yang namanya “perjalanan waktu.” Melihat matahari dan bulan, orang percaya memperoleh pengertian adanya peringatan akan kenyataan perjalanan waktu kehidupan yang mengungkung manusia. Manusia harus tunduk, sehebat apa pun manusia itu. Terhadap perjalanan waktu saja manusia tidak berdaya, apalagi terhadap Dia yang menciptakan perjalanan waktu.
    Tanpa disadari banyak orang yang terjebak dalam pola kehidupan seakan-akan perjalanan hidup ini tidak ada akhirnya. Inilah yang mengikat kehidupan banyak orang, juga sebagian besar orang Kristen. Ini adalah sebuah penyesatan dari Iblis yang sukses.  Ironis, banyak manusia yang menolak kenyataan bahwa jalan hidupnya ada ujungnya, dan tidak seorang pun tahu (Yak. 4:13-17). Iblis akan berusaha menenangkan banyak jiwa manusia seakan-akan hidup ini tidak ada bahaya. Tanpa disadari mereka dibawa ke dalam siksaan kekal. Keadaan ini tidak membuat mereka waspada adanya kesempatan terakhir yang seharusnya tidak disia-siakan. Maka kalau setiap pagi kita masih dapat melihat fajar, kita bersyukur sebab berarti masih memiliki kesempatan untuk lebih menghormati dan mengasihi Bapa serta menyenangkan hati-Nya. Hari yang baru adalah hari untuk belajar bagaimana menghormati satu-satunya Pribadi yang pantas dihormati. Inilah letak mahalnya waktu yang disediakan bagi makhluk manusia yang akan kembali ke dalam tanah. 
    Satu hari harganya tidak ternilai, sebab satu hari yang dimiliki seorang anak manusia memiliki dampak di keabadian yang tiada tara. Kemuliaan menjadi anak Allah bersama dengan Bapa di Kerajaan-Nya adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Hanya anugerah dalam Tuhan Yesus Kristus yang membuka kemungkinan untuk itu. Oleh sebab itu, kita harus menjadikan kemungkinan tersebut sebagai suatu kepastian dengan meresponi anugerah Tuhan, yaitu belajar mengasihi dan menghormati Dia. Sebaliknya, satu hari menjadi tidak berharga bahkan bencana kalau tidak digunakan untuk belajar menghormati dan mengasihi Bapa, karena satu hari yang disia-siakan akan mengakibatkan keterpisahan dengan Bapa selamanya. Kita harus “mempergunakan waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat,” artinya hari yang tidak digunakan untuk belajar menghormati dan mengasihi Bapa adalah hari-hari yang membawa kebinasaan, maka disebut jahat (Yun. poneros πονηρός). 
    Perjalanan waktu juga mengisyaratkan adanya batas waktu yang disediakan untuk suatu tugas tertentu. Hal ini dikemukakan oleh Pengkhotbah dengan kalimat “segala sesuatu ada masanya” (Pkh. 3:1). Namun banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang atau telah menyia-nyiakan kesempatan dan meremehkan perjalanan waktu. Mereka berpikir bahwa mereka tidak berniat untuk mengkhianati Tuhan dan nanti selalu ada waktu untuk mencari dan menemukan Tuhan dengan sungguh-sungguh. Seharusnya mereka berpikir bahwa nanti akan tidak ada kesempatan dan waktu lagi untuk mencari dan menemukan Tuhan. Dengan berpikir bahwa selalu ada kesempatan dan waktu untuk bertobat, mereka merasa aman dan damai, sejatinya mereka sedang menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan.
    Sejatinya, perasaan aman dan damai yang mereka rasakan adalah semu dan menyesatkan. Kalau seseorang sudah tidak bersungguh-sungguh mulai sekarang atau sejak dini, maka ia tidak akan pernah bisa bersungguh-sungguh nanti. Ini berarti ia masuk perangkap abadi yang membinasakan. Sementara hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun,
    11 min
  • Tidak Berguna
    Sesungguhnya keterikatan adalah suatu perhambaan; artinya kepada siapa hati seseorang terikat kepadanya ia mengabdikan dirinya. Dalam 1 Korintus 6:12, Paulus menyatakan: “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.” Paulus tidak mau terikat dengan apa pun, tetapi hanya mengikatkan diri dengan Tuhan. Sesuatu yang dipandang tidak salah atau tidak melanggar norma atau halal bukan berarti boleh dilakukan. Yang halal pun bisa menjadi ikatan yang akhirnya membelenggu hidup. Kata halal dalam teks aslinya adalah exesti (ἔξεστι), yang artinya lawfull, tidak melanggar hukum atau sah. Sedangkan kata berguna dalam teks aslinya adalah sumphero (συμφέρω), yang juga memiliki pengertian membawa bersama atau mendukung.
    Maksud pernyataan Paulus bahwa segala sesuatu halal baginya tetapi tidak semua berguna, artinya ia bisa berbuat segala sesuatu tetapi tidak semua yang boleh dilakukan itu berguna bagi dirinya.  Berguna di sini berkenaan dengan kesucian hidup; mengacu pada ayat sebelumnya (1Kor. 6:11). Jadi, kalau Paulus menyatakan tidak semua berguna maksudnya adalah tidak berguna atau tidak mendukung untuk membangun kesucian hidup. Melakukan sesuatu yang tidak berguna bisa mengganggu pertumbuhan kesucian hidup dan bisa menjadi belenggu. Semua yang tidak berguna untuk membangun kesucian hidup harus dipandang sebagai ikatan yang harus dilepaskan. 
    Paulus juga menyatakan bahwa segala sesuatu halal baginya, tetapi ia tidak membiarkan dirinya diperhamba oleh suatu apa-pun. Ini berarti sesuatu yang tidak salah dilakukan bukan berarti boleh dilakukan. Kalau hal itu menjadi ikatan atau memperhamba, maka harus dijauhi. Kalimat “diperhamba oleh sesuatu” dalam teks aslinya adalah exousiasthesomai hupo tinos (ἐξουσιασθήσομαι ὑπό τινος), artinya di bawah kekuasaan sesuatu. Dalam hal ini, orang percaya tidak boleh ada dalam kekuasaan sesuatu atau ada sesuatu yang berhak menguasai atau memiliki kehidupannya. Seperti misalnya jodoh. Tidak salah kalau seseorang memiliki jodoh, tetapi kalau dijadikan keharusan, maka jodoh menjadi ikatan.
    Dari penjelasan ini dapatlah dimengerti bahwa untuk tidak terikat dengan sesuatu atau seseorang, orang percaya harus berjuang, sebab selama ini sudah menjadi irama hidup bahwa yang halal boleh dilakukan. Banyak orang menjalani hidup tanpa memiliki kewaspadaan terhadap gerak manuver kuasa kegelapan yang berusaha untuk membelenggu kehidupan mereka. Kuasa kegelapan berusaha agar orang Kristen tidak terbelenggu oleh Tuhan, tetapi terbelenggu oleh yang lain. “Yang lain” ini bisa apa pun yang secara moral umum tidak salah untuk diingini atau dilakukan. Tetapi ketika Tuhan tidak menjadi satu-satunya yang membahagiakan hidup, maka pasti ada berhala atau ikatan dalam kehidupan seseorang. Di sini nyata betapa berat menjadi anak Tuhan yang harus mengikatkan diri dengan Tuhan. Namun, bagaimanapun berat dan sulitnya, Tuhan melalui Roh-Nya akan menuntun orang percaya sehingga dapat hidup tidak bercacat dan tidak bercela. 
    Keterikatan dengan Tuhan haruslah keterikatan yang permanen. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya dalam segala keadaan, di segala tempat dan waktu ada dalam keterikatan dengan Tuhan. Jadi, tidak ada tempat dan waktu di mana orang percaya tidak melekat dengan Tuhan. Akhirnya keterikatan ini menjadi keterikatan abadi. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai “covenant” (perjanjian) antara umat dan Allah. Orang percaya tidak boleh terikat dengan Tuhan hanya pada waktu di gereja demikian pula hendaknya kita tidak merasa tidak terikat dengan dunia hanya pada waktu di kebaktian. Untuk tidak terikat dengan dunia, seseorang tidak harus meninggalkan kesibukan di luar gereja, menyingkir ke tempat sunyi agar bisa bersatu dengan Tuhan. Lalu mereka merasa diri sebagai orang yang lebih suci dibandingkan dengan orang-orang yang sibuk dalam kegiatan di luar gereja.
    8 min
  • Kebutuhan
    Matius 22:11-13 mengatakan, “Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, raja itu melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Raja itu berkata kepada orang yang tidak berpakaian pesta itu, ‘Hai, Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?’ Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya, ‘ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.’” Seorang pelayan Tuhan itu sama seperti perawat. Tanggung jawabnya bukan hanya memutar roda organisasi gereja; bukan hanya menolong para janda-janda, yatim piatu, walaupun itu tentu mutlak harus dilakukan. Tetapi seorang pelayan Tuhan harus melayani jemaat agar setiap individu bisa mengenakan pakaian pesta. Jelas di dalam perumpamaan ini, seseorang yang tidak mengenakan pakaian pesta, dibuang. Undangan untuk datang ke pesta adalah anugerah. Bukan karena mereka telah berbuat baik dan layak menerima undangan. 
    Siapapun mendapat undangan. Tidak dinilai baik atau buruk atau bagaimana keadaannya. Tetapi menyambut anugerah, ada tanggung jawab: harus mengenakan pakaian pesta agar layak masuk ke dalam pesta perjamuan kawin. Ini yang tidak disadari oleh banyak orang Kristen. Banyak ajaran dan doktrin—baik secara eksplisit atau implisit—membangun persepsi bahwa anugerah itu segalanya. Artinya, setelah merasa menerima anugerah dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang telah mati di kayu salib, maka kalau meninggal dunia pasti masuk surga. Ini berbahaya. Jelas Tuhan Yesus mengatakan, “Bukan orang yang berseru kepada-Ku ‘Tuhan, Tuhan’ yang masuk ke dalam Kerajaan Surga, tetapi orang yang melakukan kehendak Bapa.” Melakukan kehendak Bapa, tentu bukan karena bayang-bayang tekanan hukum. Ini bukan agama hukum. Kekristenan itu jalan hidup; jalan hidup-Nya Yesus. 
    Yesus melakukan kehendak Bapa, bukan karena ada bayang-bayang hukum yang mengontrol, mengendalikan, dan menakut-nakuti, serta mengancam-Nya. Tetapi dengan kerelaan, sehingga Yesus berkata, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa.” Melakukan kehendak Bapa adalah kebutuhan, dan harus menjadi irama. Dengan kalimat yang sama seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 1:3-4, berkodrat ilahi. Jadi pakaian pesta ini menunjuk kebenaran, kesucian hidup, bukan karena didorong oleh hukum atau di bawah bayang-bayang peraturan dan ancaman, tapi sudah menjadi irama hidup dan kodratnya. Masalahnya, pertanyaannya “apakah kita sudah berkodrat ilahi?” Harus jujur. Ada hukum saja, belum tentu dilakukan. Sudah tahu salah saja, tetap diterjang. Kita jauh dari standar yang mestinya kita miliki, yaitu berkodrat ilahi. Dan kita harus ingat bahwa proses perubahan itu membutuhkan waktu dan kerja keras. 
    Tentu dari pihak Allah, Allah aktif. Allah menyediakan semua sarana secara maksimal. Jangan ragukan. Tetapi dari pihak manusia, apakah ada respons yang maksimal? Jangan menjadi tumpul, bias, gamang karena banyak keinginan dan kesibukan yang tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, yang tidak mendukung terbangunnya kodrat ilahi dalam hidup kita. Kalau sebagai hamba Tuhan hanya menyediakan fasilitas kebaktian, lalu menolong jemaat yang sedang ribut, rumah tangga berantakan, membantu yang punya masalah ekonomi supaya bisa perpanjang kontrak rumah, lalu bisa punya usaha atau membantu anak sekolah, maka orang-orang di luar gereja juga melakukannya dan bisa lebih baik. Kita tidak bisa mendandani orang kalau kita tidak bisa mendandani diri kita sendiri. Kita harus mengalami perubahan, sehingga Allah menganggap kita layak menjadi kawan sekerja-Nya, dan yang kita ucapkan diurapi sehingga menembus setiap hati, menempelak setiap dosa. Untuk apa Sekolah Tinggi Teologi, kalau hanya meluluskan orang bergelar sarjana? Kalau hanya membuat orang bisa khotbah? Kalau hanya membuat orang bisa memutar roda organisasi. 
    Dan kita semua sudah menjadi korban dari sebuah budaya gereja dari tahun ke ...
    9 min
  • Merajut Pakaian Pesta
    Kalau di lingkungan kita dijelek-jelekan, justru itu sebenarnya kesempatan bagi kita untuk mendandani diri. Kita lihat nanti di pengadilan. Jangan takut berubah, jangan malu, karena keselamatan kita tergantung diri kita sendiri. Dan jangan sombong! Kekayaan, penampilan dan gelar kita tidak ada nilainya di hadapan Allah, kecuali kita memiliki pakaian pesta; yaitu kodrat ilahi yang membangun kesucian hidup sebagai irama. Jadilah militan, ekstrem, radikal. Sungguh-sungguh fanatik positif kepada Tuhan Yesus, ekstrem untuk hidup dalam kesucian, mengikut jejak Tuhan Yesus. Maka para hamba Tuhan, harus menyampaikan Firman yang benar. Bukan hanya memindahkan isi buku di mulut, tetapi menangkap pesan-pesan Tuhan di dalam hidup ini, dan menyampaikan suara Tuhan lewat mulut kita. Tetapi harus dengan pimpinan Roh Kudus, supaya kita menjadi seperti orang-orang pada zaman Yesus yang mengatakan, “Orang ini mengajar berbeda dari ahli Taurat dan orang Farisi, teolog-teolog Yahudi.” 
    Dan marilah kita menjadikan hal berkenan kepada Allah bukan saja prioritas, tapi jadikan ini sebagai satu-satunya proyek hidup kita. Karena tidak semua orang menjadi umat pilihan. Umat pilihan adalah orang-orang yang dirancang menjadi manusia Allah; man of God. Jadi, kita memang tidak boleh mengenakan ukuran baju kita ke orang lain. Itulah sebabnya, kita tidak boleh menilai agama lain. Jangan menilai agama lain dan membanding-bandingkan dengan kekristenan. Kita mengkhianati diri kita sendiri, kita mengkhianati keimanan kita, kita mencederai agama lain. Masing-masing orang punya keyakinan. Jadilah seperti yang mereka yakini, dan masing-masing orang akan bertanggung jawab. Karena Alkitab jelas berkata bahwa memang ada orang-orang yang ditarik Bapa; kalau tidak, tidak bisa. Ditarik Bapa, bukan berarti pasti masuk surga. 
    Dalam Yohanes 6:44 dikatakan, “Tidak seorang pun datang kepada-Ku kalau tidak ditarik Bapa.” Jangan diartikan pasti masuk surga. Di ayat lain dikatakan, “banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.” Yang dipilih, siapa? Yang pakai pakaian pesta. Lalu pakaian pesta, siapa yang membuatnya? Mesti masing-masing individu. Undangan itu tidak berikut satu bungkus baju pesta. Baju pesta, kita urus sendiri. Jelas ada perjuangan individu untuk bisa ikut pesta itu. Kita adalah orang yang diundang, yang dipilih Tuhan; artinya tidak untuk semua orang. Dan kalau kita dipilih Tuhan, kita dirancang untuk serupa dengan Yesus. Maka dikatakan di dalam Roma 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya.” “Yang dipilih” itu orangnya; sedangkan “yang ditentukan” adalah standarnya. Kita dipilih, ditentukan untuk serupa; bukan ditentukan untuk selamat. Jadi kita tidak bisa hidup suka-suka. 
    Untuk itu, tidak bisa tidak, kita harus serupa dengan Tuhan Yesus. Itu berat. Tetapi kalau dibanding dengan kemuliaan yang kita akan peroleh nanti, tidak ada artinya. Yang dikatakan oleh Paulus dalam Roma 8:18, “Penderitaan kita zaman sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang kita akan dapat.” Di ayat 17 dikatakan bahwa kita yang menjadi anak-anak Allah itu, menjadi ahli waris. Namun tidak mungkin Allah mewariskan kemuliaan kepada orang yang tidak mulia keberadaannya. Jadi, memang menjadi Kristen itu bukan berat, melainkan berat sekali; bahkan “mustahil.” Tapi “yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.” Tidak ada strata pendeta dan strata jemaat. Semua kita imamat-imamat, seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 2:9, semua kita imamat-imamat, hulubalang-hulubalang.
    Tuhan pasti membentuk kita, mendewasakan kita supaya kita layak mewarisi kemuliaan bersama Tuhan Yesus. Kalau di dalam Roma 8:29 dikatakan bahwa Dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara, ini kalimat luar biasa. Karena di balik pernyataan tersebut, kita disejajarkan dengan Yesus dalam kata “saudara.” Artinya, bahwa kita bisa menjadi serupa dengan Dia. Dan kita memang dipanggil untuk itu.  Tuhan Yesus berkata,
    8 min
  • Hidup yang Indah
    Tentu semua orang yang sehat pikirannya atau orang yang normal, menghendaki hari yang menyenangkan dan indah di setiap harinya. Karenanya, mereka melakukan berbagai kegiatan setiap harinya, agar dengan kegiatan-kegiatan tersebut, mereka memiliki hidup atau hari yang indah. Namun kenyataannya, kita melihat manusia tidak pernah puas dengan hari hidup yang dimilikinya. Kalau ia sudah bisa mencapai sesuatu yang dia pikirkan akan bisa membahagiakan dirinya, menjadikan hidup dan harinya indah, ternyata belum atau tidak. Maka, ia melakukan kegiatan lagi yang dia pikir dapat meningkatkan kualitas hidup guna mencapai hidup dan hari yang indah. Dan manusia terus terperangkap dalam obsesinya, cita-cita dan keinginan tersebut, sampai tubuh menjadi rentan, tua, tidak mampu melakukan kegiatan apa-apa, kemudian berakhir pada kematian. 
    Demikianlah pada umumnya orang mengisi hari hidupnya. Kita semua tanpa kita sadari, atau banyak orang tanpa mereka sadari, terjebak pula dengan penyelenggaraan hidup seperti ini; termasuk para hamba Tuhan. Hanya bedanya terletak pada jenis kegiatannya saja. Yang lain, menjadi pedagang, praktisi hukum, tenaga medis, pengajar di pendidikan umum. Sedangkan kelompok orang yang merasa melayani Tuhan, ada di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi, di lingkungan pendeta atau kantor sinode. Namun esensinya dan substansinya sama. Lalu bagaimana agar kita bisa memiliki hari atau hidup yang indah? Hidup yang indah tercipta kalau kita bisa menyenangkan atau menyukakan hati Allah; melakukan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Karena hakikat Allah—yaitu tidak memaksa—maka Allah memberi kebebasan kepada individu, maka Allah menghendaki agar kita dengan rela menyelenggarakan hidup, melakukan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Di situlah keindahan hidup. Dan akan semakin indah, ketika akurasi atau ketepatan kita bertindak itu semakin tinggi. 
    Entah kita adalah pria atau wanita, menikah atau tidak, punya anak atau tidak, kaya atau miskin, berkedudukan tinggi di mata manusia atau tidak, apa pun tidak menjadi masalah, namun kita harus berani mengambil langkah ini, bahwa keindahan hidupku, hari baikku adalah ketika aku melakukan apa yang Bapa kehendaki. Kita melakukannya dengan rela, bukan paksaan. Dan tentu ini perlu proses sinkronisasi, penyesuaian; kita mensinkronkan kehendak kita pada kehendak Allah. Bukan Allah yang menyesuaikan diri kepada kita. Ini adalah tanggung jawab yang harus kita penuhi. Ini tidak bisa terjadi atau berlangsung secara otomatis. Hal ini harus diupayakan atau harus kita kondisikan. Sebagaimana tertulis dalam Efesus 2:10, “karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.” 
    “Ia mau supaya kita hidup di dalamnya,” kalimat ini menunjukkan bahwa kita tidak otomatis menjadi seseorang yang melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Maka kita harus mengupayakan bagaimana menjadi buatan Allah—yang diciptakan dalam Kristus Yesus—untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Jadi ada standar pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Allah memiliki suatu standar; “Standar Kerajaan Allah.” Jadi, apa yang mesti kita lakukan? Kalau kita membaca ayat-ayat sebelumnya—dan kita lepaskan dari ayat ini—maka terkesan bahwa kasih karunia yang diberikan itu sudah otomatis membuat kita menjadi orang baik, lalu selamat. Ayat 1, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” “Mati” di sini artinya adalah keadaan di mana seseorang tidak mampu mencapai standar Kerajaan Allah. 
    Jangan kita membuat manusia berkeadaan fatalistis. Mengambil ayat dalam kitab Yesaya, “semua manusia berdosa, kebaikannya seperti kain kotor.” Jangan ini dikenakan kepada semua orang. Itu dikenakan untuk bangsa Israel yang pada waktu itu memang memberontak, hidup mereka tidak sesuai Taurat.
    9 min
  • Perubahan Pola Berpikir
    Sebelum bertobat, pada dasarnya kita adalah manusia yang tidak ber-Tuhan. Manusia yang sesat yang memilih jalan sendiri. Walaupun kita dinilai baik dan bermoral di mata manusia, tetapi kita tidak menemukan siapa diri kita di hadapan Sang Khalik. Sebagai akibatnya, kita tidak menemukan tempat kita secara benar di hadapan Tuhan dan tidak menempatkan Tuhan di tempat yang benar dalam hidup ini. Setelah mengenal Tuhan, kita harus terus menerus belajar mengenal kebenaran-Nya, agar dapat menempatkan diri dengan benar di hadapan-Nya dan menempatkan Tuhan di tempat yang benar dalam hidup ini. Maka diperlukan adanya perubahan—atau yang kita kenal dengan istilah transformasi—dalam hidup kita.  
    Transformasi adalah perubahan pola berpikir yang mengakibatkan perubahan arah hidup. Perubahan ini menyangkut seluruh filosofinya, ini berarti juga perubahan sikap hati dan seluruh gaya hidup; yang sejajar dengan pertobatan. Transformasi yang terjadi dalam diri seseorang akan membuka pikiran dan kesadarannya, sehingga dapat menghayati dari mana ia datang dan ke mana ia pergi (Yoh. 3:8-11). Bagi orang percaya, transformasi akan menyadarkan bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini. Transformasi akan berlangsung secara terus menerus atau berkesinambungan, bukan sebuah momentum atau peristiwa yang terjadi dalam sekejap. Hal ini terjadi karena hasil kerja keras orang percaya dalam memberitakan Injil dengan mengajarkan kebenaran murni seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tidak dapat dibantah bahwa pikiran seseorang sangat berperan dalam kehidupan. Pikiranlah yang menciptakan atau menetapkan standar hidup, dan seseorang akan terus bergerak sepanjang waktu untuk mencapai standar hidup tersebut. 
    Pada umumnya manusia ingin mencapai apa yang juga dicapai oleh manusia di sekitarnya. Tetapi bagi orang percaya, Firman Tuhan berkata, “Janganlah kamu serupa dengan dunia ini.” Pikiran bisa menjadi tempat di mana Iblis dapat memiliki akses atau jalan untuk menguasai kehidupan seseorang dan melaksanakan kehendaknya. Bila hal ini terjadi, maka kehendak Allah dan rencana-Nya dijauhkan dari kehidupan orang tersebut. Itulah sebabnya Paulus menasihati orang percaya agar tidak memberi “kesempatan” kepada Iblis (Ef. 4:27); artinya agar tidak mengisi pikiran dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan. Tuhan Yesus menebus manusia supaya menjadi umat pilihan-Nya yang meninggalkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang (1Ptr. 1:18-19); yaitu cara hidup yang tidak sesuai dengan cara hidup bangsawan surgawi. 
    Dalam transformasi terdapat sarana yang mengubah hidup seseorang. Sarana tersebut adalah Firman Tuhan; logos maupun rhema. Firman Tuhan adalah sarana transformasi yang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Proses ini berlangsung karena pekerjaan Roh Kudus yang mengilhami orang percaya agar dapat mengerti Firman Tuhan. Untuk itu, orang percaya harus juga berusaha menggali dan menemukan Firman Tuhan yang benar dengan hati yang haus dan lapar.  Dalam tulisannya, Petrus menegaskan agar orang percaya “menyiapkan akal budi” (1Ptr. 1:13). Menyiapkan berasal dari kata gird up (Yun. anazonnumi; ἀναζώννυμι), artinya bersiap-siap untuk bertindak atau menggunakan akal budi dengan saksama. Tentu ada relasi antara menyiapkan akal budi dalam 1 Petrus 1:13 dengan cara hidup nenek moyang yang harus ditinggalkan di ayat 18. 
    Dari hal ini dapatlah diperoleh kesimpulan bahwa langkah meninggalkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang adalah menggunakan pikiran untuk mengenali kebenaran. Dengan mengenali kebenaran inilah seseorang dapat meninggalkan cara hidup orang yang tidak mengenal Tuhan. Dalam dialog antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Yahudi, Ia berkata:  “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:31-32). Jalan memperoleh kemerdekaan adalah tetap dalam Firman, sehingga benar-benar menjadi murid Tuhan,
    9 min
  • Tergiring Untuk Hidup Suci
    Rata-rata manusia—dalam konteks Kristen—matanya sudah buta, mereka tidak mempersoalkan hal kekekalan, pengadilan Allah, dan kemuliaan bersama Tuhan. Sangat sedikit kelompok orang yang sungguh-sungguh serius. Kalau setiap pagi kita doa pagi—juga petang dan malam—hal itu bukan karena kita punya masalah sakit, belum menikah, atau krisis ekonomi. Krisis kita itu bukan krisis yang menyangkut masalah-masalah fana. Krisis kita adalah hal-hal yang menyangkut kekekalan. Kalau kita mencari Tuhan, maka kita harus rela tidak punya apa-apa atau siapa-siapa. Sebab ketika kita menemukan Tuhan dan memiliki persekutuan dengan Tuhan, berarti kita memiliki segala-galanya.
    Lalu apa artinya “harganya segenap hidup kita?” Dulu kita sering menyanyi, “Tubuh, nyawaku, roh, dan jiwaku, ku serahkan pada Tuhan. Hanya ini, Tuhan, persembahanku,” dan seterusnya. Itu artinya kita tidak boleh punya kebahagiaan selain Tuhan. Ini benar-benar konyol. Kita tidak memiliki kebahagiaan selain Tuhan. Kita harus berani berprinsip bahwa Tuhan adalah satu-satunya kebahagiaan kita, tidak ada yang dapat membahagiakan hidup kita selain Tuhan. Hanya Tuhan, bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Tuhan saja. Ini dengan sangat radikal akan membuat kita menjauhi dosa. Kita tidak usah memaksa diri untuk hidup suci, sebab kita dengan sendirinya akan merasa sangat terganggu ketika berbuat dosa. 
    Kita akan tergiring untuk hidup suci. Kalau kita berbuat salah, jiwa kita akan terganggu hebat. Kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki, kita baru bisa mengerti apa artinya “Tuhan kehormatanku, Tuhan kemuliaanku. Aku tidak perlu punya nama baik, nama besar, nama tersohor, nama terkenal. Aku tidak butuh penghormatan, karena Tuhanlah kehormatanku.” Kalau Tuhan menjadi satu-satunya kebahagiaan, maka Tuhan menjadi kehormatan, dan kemuliaan kita. Dan ini luar biasa, Tuhan menjadi harta kita. Ini bukan hanya diucapkan dengan kata-kata, tapi harus dialami. Yang pembuktian dari kebenaran ini tidak lama. Kalau kita nanti berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, baru semua terbuka.
    Kalau Tuhan menjadi satu-satunya kebahagiaan, kita tergiring untuk hidup suci; tak bercacat tak bercela. Tuhan menjadi kehormatan kita, kemuliaan kita. Kita bisa merasa cukup dengan apa pun yang Tuhan telah berikan. Dengan sendirinya, kita akan terlepas dari ikatan-ikatan dunia. Dulu kalau tidak makan ini, tidak enak. Kalau belum pergi ke tempat anu, belum puas. Kalau belum punya barang ini, rasanya belum lengkap. Belum lagi kalau belum menikah, belum merasa lengkap. Belum punya anak, belum merasa bahagia. Kita pasti tidak bisa berkata “Yesus cukup bagiku.” Tapi kalau Tuhan menjadi kebahagiaan satu-satunya, maka kita akan bisa merasa cukup. 
    Dengan menjadikan Tuhan kebahagiaan kita satu-satunya, tanpa kita paksa-paksa, kita memiliki kerinduan akan Tuhan. Dan betapa bahagianya hidup kita, suatu hari nanti kita bertemu dengan Tuhan Yesus, muka dengan muka. Lalu dengan sendirinya kita merasa “dunia bukan rumahku.” Bukan hanya kata-kata, bukan hanya ucapan, tetapi penghayatan hidup. Terlepas dari ikatan dunia, Tuhan menjadi kehormatan kita. Kita merindukan Tuhan. Lalu yang hebat, kita menjadi hartanya Tuhan. Tuhan bisa berkata, “Ini harta-Ku. Ini milik-Ku. Ini kesayangan dan kesukaan-Ku. Inilah kekasih-Ku.” Namun, kita yang harus mengondisi hidup kita. 
    Kita adalah manusia yang diberi Tuhan peluang menjadi pangeran-pangeran, putri-putri Kerajaan kekal yang kebesarannya tak terhingga. Kita adalah orang-orang yang dipilih, dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah; Raja di atas segala raja. Jangan menyesali keadaan kita. Tetapi berjuanglah untuk menemukan Tuhan, untuk mengalami Tuhan dengan harga yang seharusnya; segenap hidup. Dan Tuhan akan memampukan kita untuk membayar atau menyelesaikannya, karena memang Allah ingin kita ini menjadi kekasih-kekasih-Nya. Mestinya kita berpikir bahwa 70, 80, 90 tahun atau mungkin 100 tahun umur hidup kita, semata-mata hanya untuk menemukan kehidupan.
    10 min
  • Berani Barter
    Tidak ada yang lebih menyenangkan, membuat sukacita, dan menghibur hati Allah, selain dari orang-orang yang memiliki kehendak bebas tetapi memilih mencintai Allah dan melakukan apa yang berkenan sesuai kehendak-Nya. Dan kita harus memaksa diri kita sendiri untuk ada di trek ini. “Keselamatan kita bukan karena perbuatan baik,” itu benar. Karena Yesus mati di kayu salib, bukan karena kita telah berbuat baik. Tetapi kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya dimaksudkan agar Dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:29). Yaitu supaya kita mengikuti jejak-Nya. Tuhan Yesus sudah ada di surga, tetapi Dia meninggalkan jejak. Jejak yang diikuti oleh orang-orang yang mengasihi Allah, dan bisa serupa dengan Yesus. Yang Bapa bisa mengevaluasi, menilai, merasakan, dan menyatakan: “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Jangan ada hal yang lebih menarik dari hal ini. Jangan ada yang kita pandang lebih mulia dari hal ini. Kita harus memantapkan tujuan hidup kita, agar hari-hari yang kita jalani, kita isi dengan usaha untuk mencapai tujuan ini, yaitu bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Orang-orang yang menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, pasti orang-orang yang berkualitas seperti Yesus, mulia menurut pandangan Allah. Hanya orang yang mulia, yang menemukan kemuliaan Allah, yang layak dimuliakan. Tentu bersama Yesus. 
    Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan: “Carilah dahulu Kerajaan Allah” (Mat. 6:33). Persoalan yang lain, jangan menjadi prioritas, karena itu yang dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (Mat. 6:32). Ini berarti bahwa lebih dari segala sesuatu, Kerajaan Allah adalah prioritas. Dan kita harus mengalami suasana Kerajaan Allah. Maksudnya adalah agar kita menjadi orang-orang yang hidup dalam ketertundukan mutlak. Dan inilah yang membangun kehidupan yang menyukakan hati Allah. Kita ingat bagaimana pada mulanya, murid-murid Yesus pun berkelahi satu dengan yang lain karena mau menjadi orang yang terkemuka di dalam kerajaan yang mereka bayangkan; kerajaan versi mereka. Tapi Yesus mengatakan di depan Pilatus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Dan Petrus akhirnya bisa mengatakan itu di 1 Petrus 1:4, “… untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” 
    Karenanya kemudian di ayat 12, Petrus juga berkata, “Letakkan seluruh pengharapanmu pada penyataan kedatangan Tuhan.” Ini tidak mudah, apalagi bagi mereka yang punya kedudukan dan uang. Kita harus menjadi orang yang benar-benar realistis. Tetapi ini bertolak belakang dengan pandangan orang yang sudah telanjur rusak oleh filsafat, filosofi, prinsip, dan selera dunia. Mereka pandang kita orang yang utopis, utopia; pemimpi, tidak realistis. Sejatinya, kita adalah orang-orang yang realistis, berakal sehat, karena kita memandang segala sesuatu dari perspektif atau sudut kekekalan. Pasti banyak di antara kita yang merupakan orang yang gagal dalam studi, karier, rumah tangga. Mari, jangan jadikan masalah. Jangan memandang itu sebagai suatu “kecelakaan.” Kalau kelimpahan itu membuat kita masuk neraka, untuk apa? Bahkan itu adalah mimpi buruk.  Jadi jangan kita merasa minder karena rumah tangga kita berantakan, atau berkeadaan tidak baik di mata orang. Lewati saja. Namun kalau kita punya rumah tangga baik, ekonomi baik, puji Tuhan. Tapi gunakan semua untuk kemuliaan Allah. Jangan membuat kita tenggelam. Hidup ini serba tidak menentu. Tapi kalau kita sudah menjadi kesukaan hati Allah, kita menjadi istimewa bagi-Nya. Kita harus terus bertumbuh sampai Kerajaan Surga itu menjadi satu-satunya dunia kita. Dan kita berani transaksi barter. 
    Kebenaran ini ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan mengenai seorang peladang atau petani yang menemukan harta yang tersimpan di dalam tanah. Pada mulanya, dia bertani. Tapi ketika ia menemukan harta yang terpendam, dia menjadi ekstrem.
    9 min
  • Memaksa Diri Berubah
    Setiap kita pasti ingin menjadi orang Kristen yang baik, orang percaya yang berkenan di hadapan Allah. Dan itu juga telah menjadi doa kita selama ini. Juga lagu-lagu yang kita nyanyikan mengandung syair itu. Intinya, kita tidak mau menjadi orang rusak, yang duniawi. Pertanyaannya sekarang, ‘Apakah kita sudah menjadi orang yang berkenan kepada Allah?’ Pada umumnya kita menjawab ‘belum.’ Maka pertanyaan berikutnya: ‘Kapan kita mau menjadi orang Kristen yang berkenan di hadapan Tuhan?’ Pasti jawabnya, ‘nanti’ atau ‘tidak tahu.’ Kenapa nanti? Dunia ini telah merusak karakter kita. Kondisi kita sebagai manusia berdosa dengan kodrat dosa yang kecenderungannya melakukan apa yang tidak tepat seperti yang Allah kehendaki. Kita harus selalu mengingat bahwa tujuan keselamatan itu adalah perubahan hidup; yaitu perubahan karakter, watak, perilaku, manusia batiniah. 
    Soal kesehatan, pemenuhan kebutuhan jasmani itu bukan hal utama. Itu bisa menjadi tambahan yang Allah akan berikan, kalau kita memang benar-benar mengalami perubahan yang benar. Kalau dulu kita adalah anak-anak dunia yang berkodrat dosa, maka sekarang kita mau diproses supaya menjadi anak-anak Allah yang berkodrat ilahi. Sehingga kita bisa berperasaan dan berpikir seperti Tuhan, sehingga seluruh kehendak kita selalu sesuai dengan kehendak Allah. Sampai pada tingkat ini, seseorang baru sah disebut atau berstatus sebagai anak-anak Allah atau anggota keluarga Kerajaan Allah; yaitu seseorang yang secara otomatis berpikir dan berperasaan seperti Allah, dan seluruh kehendaknya selalu sesuai dengan kehendak Allah. Ini memang proses. Tetapi harus dimulai dari memaksa diri dulu.
    Di dalam Lukas 13:23-24 tercatat, “Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” Perhatikan: “Berjuanglah …” orang yang berjuang berarti orang yang menggerakkan dirinya untuk melakukan suatu tindakan. Ada unsur memaksa diri. Kita ingat bagaimana waktu masih sekolah kita harus bangun pagi, belajar, mengerjakan tugas dan lain-lain. Jadi kita harus memaksa diri untuk berubah. Ini kalimat penting. Ini pesan Tuhan untuk kita saat ini: memaksa diri untuk berubah. Kalau kita tidak memaksa diri untuk berubah, maka kita tidak akan berubah sampai selama-lamanya. Pernahkah kita melihat baut yang sudah melekat pada besi dan berkarat? Sulit sekali untuk dibuka, bukan? Makanya harus dipaksa sampai akhirnya baut itu bisa berputar. 
    Demikian pula kita dalam mengubah diri harus ada usaha yang sungguh-sungguh, supaya manusia lama kita atau kodrat dosa kita dapat dilumpuhkan, dilemahkan, dicabut dan dimatikan, dan diganti dengan kodrat ilahi. Dan ini sangat sulit, seperti pepatah yang mengatakan: menghancurkan batu lebih mudah daripada menghancurkan watak. Batu bisa dihancurkan dengan palu. Tapi watak tidak bisa dipukul dengan palu, harus lewat proses, dan juga harus melalui pemaksaan diri individu. Tapi di Matius 11:28-29 Tuhan Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Seperti seekor sapi supaya dapat didayagunakan, maka ia diberi kuk. Alat ini untuk membatasi gerak, juga agar sapi dapat berjalan sesuai dengan arahan atau keinginan si pemilik sapi, sehingga sapi itu bisa dikendalikan. Kuk itu lambang pendidikan, lambang penjinakan. 
    Manusia juga begitu. Kita adalah orang-orang yang “liar.” Tetapi Allah mau memakai kita untuk menjadi alat di dalam tangan-Nya. Lalu bagaimana? Maka kita harus mau memberi diri untuk dididik. Maka Tuhan Yesus berkata, “Belajar pada-Ku.” Dan Tuhan Yesus berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman.
    12 min
  • Standar Kerajaan Allah
    Kalau di dunia hari ini, kita terseok-seok, teraniaya, terhina, tidak masalah. Karena nanti, Allah Bapa akan menunjukkan kepada orang percaya kekayaan kasih karunia-Nya yang berlimpah-limpah. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah,” (Ef. 2:8-9). Perhatikan kata “oleh iman,” jangan dipahami “oleh keyakinan bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat.” Bukan itu semata. Tapi kesediaan kita memercayai Tuhan dengan benar, yaitu dengan melakukan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Kalimat selanjutnya, “itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Jadi, Allah yang memulai inisiatif untuk membangkitkan kita bersama dengan Kristus. Ini bukan hanya menunjuk kehidupan yang akan datang nanti, tetapi  kita diberi kemungkinan untuk memiliki kehidupan seperti kehidupan Yesus. 
    Selanjutnya dalam Efesus 4:22 dikatakan, “… yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang terdahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” Kita yang harus menanggalkan. Sebab Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. Untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, kita harus memiliki ‘pakaian pesta.’ Undangan diberi, baju pesta kita usahakan sendiri. Makanya kalau kita menjadi umat pilihan, kita harus melepaskan segala sesuatu, tidak boleh ada fokus yang lain kecuali bagaimana menjadi anak-anak Allah yang layak disandingkan bersama dengan Kristus, mewarisi kemuliaan yang Allah berikan. Ironis, sedikit sekali orang yang benar-benar tertarik. Kata “kemuliaan bersama dengan Kristus” bagi orang Kristen sekarang ini, jauh dari naluri dan instingnya. Beda dengan orang-orang Kristen abad mula-mula. Mereka teraniaya, seakan-akan Tuhan Yesus tidak hadir, tidak membela, mereka kehilangan segala sesuatu; tapi mereka bersedia, rela. 
    Sejajar dengan apa yang terdapat dalam 1 Petrus 1:6, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurniaan imanmu…” Harus ada bukti. Namun ini hanya untuk orang-orang yang sungguh-sungguh mau ikut Tuhan. “… yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana yang diuji kemurniannya dengan api, sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” Tidak ada pujian kalau tiada ujian. Jadi orang-orang yang serius ikut Tuhan adalah mereka yang Allah proses dan terus diuji. Banyak orang yang tidak serius, maka tidak perlu diuji. Punya masalah sedikit, mengeluh, menyalahkan Tuhan. Sementara pembaruan roh dan pikiran di dalam hidup kita, bisa terjadi atau berlangsung kalau kita menanggalkan manusia lama. Dan itu tanggung jawab kita. Kita yang mengusahakan dengan serius dari hari ke hari. Dan kita harus bisa melihat bagian-bagian apa dalam hidup kita yang harus kita tanggalkan.
    Jadi, manusia baru itu bukan anugerah yang diberikan Tuhan, tidak. Ingat, kita adalah buatan Allah; yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 2). Ada standar kekudusan umat Perjanjian Lama, tetapi ada standar kekudusan umat Perjanjian Baru yang harus sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Di situ proses penciptaan manusia baru di dalam hidup kita. Diciptakan dalam Kristus Yesus, artinya Yesus menjadi pola untuk kita bisa melakukan pekerjaan baik atau segala sesuatu yang dipersiapkan Allah sebelumnya; “Standar Kerajaan Allah.” Suatu hari kita akan tahu betapa berharganya setiap detik, menit, jam, hari yang Tuhan berikan, karena memuat kesempatan-kesempatan untuk mengalami proses pembaruan roh dan pikiran kita, melalui kesediaan kita menanggalkan manusia lama. 
    Apa standarnya? Standarnya adalah semua yang kita lakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itu yang membuat hari kita baik, dan hidup kita indah. Siapa yang tertarik hal seperti ini? Tidak banyak.
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…