Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tidak Bisa Mendadak
    Tidak ada sesuatu yang dadakan dalam berurusan dengan Tuhan. Tuhan sangat ketat dalam menegakkan hukum dan tatanan-Nya, yaitu lewat proses. Dalam penciptaan alam semesta, tampak Tuhan menunjukkan tatanan-Nya; hukum dari apa yang Allah tetapkan. Allah menciptakan alam semesta dalam beberapa hari secara bertahap dan sistematis. Dalam sejarah Kerajaan Allah yang ditulis di dalam Alkitab, kita menemukan proses-proses kehidupan yang dijalani oleh kekasih-kekasih Tuhan, baik itu oleh Yusuf, Abraham, Musa, Daud, dan lain sebagainya. Ketika Yesus berkata di Matius 6:19-21, “kumpulkan harta di surga,” itu secara tidak langsung hendak menunjukkan adanya proses, yaitu proses pengumpulan, penumpukan, atau akumulasi. 
    Roma 12:2 mengatakan, “berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Ada satu kata dalam bahasa Inggris, transformation; yang di dalam bahasa Yunaninya metamorphoste, yang kemudian di dalam bahasa Indonesia kita mengenal satu kata: metamorfosa. Artinya, sebuah proses perubahan. Jadi, tidak ada yang sifatnya ‘dadakan.’ Kita tidak bisa secara mendadak masuk surga. Kita bisa masuk surga dan layak di hadapan Allah, harus melalui proses. Memang ada satu fragmen di dalam Injil yang sering dipahami salah, yaitu ketika Yesus di kayu salib. Yesus berkata kepada salah satu penjahat yang membela Yesus, “Hari ini engkau bersama dengan Aku di Firdaus.” Ayat ini dipelintir oleh Iblis dan melalui mulut banyak orang yang tidak mengenal kebenaran, seakan-akan orang bisa masuk surga secara mendadak. 
    Penjahat itu bukanlah pria sembarangan. Buktinya, ia mengerti bahwa Yesus akan datang sebagai Raja. Dia tidak minta seperti penjahat yang satunya, agar ia diturunkan dari salib. Bahkan, ia membela Yesus. Murid-murid Yesus sendiri lari tunggang-langgang meninggalkan Yesus. Tetapi pria ini berkata, “Orang ini tidak salah.” Sementara ratusan bahkan ribuan orang, bisa belasan ribu, berkata, “salibkan Dia!” Atau dengan kata lain: “Dia salah!” Tetapi dia seorang diri mengatakan: “Orang ini tidak bersalah.” Betapa beraninya, dia. Dia tidak mendadak bisa mengenal Yesus sebagai yang akan datang sebagai Raja, nanti. Dia berkata, “ingat aku kalau Engkau datang sebagai Raja.” 
    Oleh sebab itu, kita harus mengevaluasi diri setiap hari atau kita bisa mengukur, kita ini layak tidak, masuk Kerajaan Surga? Tidak bisa tidak, setiap hari kita harus menghadap Tuhan. Menghadap Tuhan untuk dievaluasi oleh Tuhan, dan kita juga mengevaluasi diri. Allah yang Mahakudus adalah Bapa yang mendidik, Guru yang mengajar, maka Ia tidak mungkin tidak berbicara. Kita bodoh atau pintar; cakap atau tidak; layak atau tidak; kudus atau tidak, bagaimanapun keberadaan kita, sesungguhnya tidak mungkin Tuhan tidak berbicara. Bahkan kalau kita ingin tahu sedetil-detilnya atau sekecil-kecilnya, Dia juga pasti berbicara. Kalau kita tidak pernah mengenal diri kita dengan benar, itu memang karena kita tidak serius berurusan dengan Allah. 
    Kita lebih serius berurusan dengan dunia. Ada banyak fokus di dalam diri kita. Ini sebenarnya akibat dari kuasa gelap yang menyesatkan banyak orang. Mestinya, setiap hari kita menghadap Tuhan, dan kita bisa melihat, mengerti kepantasan kita di hadapan Allah, kelayakan kita di hadapan Tuhan. Tuhan itu bukan sederetan doktrin dan ajaran. Walaupun Tuhan bisa disusun dalam doktrin dan ajaran, tetapi sesungguhnya Dia adalah Allah yang hidup. Allah yang hidup dan nyata, yang dengan Dia, kita harus berurusan secara real, secara nyata. Banyak orang belajar—yang disebut teologi—dan merasa sudah berurusan dengan Allah. Mereka berurusan dengan ilmu tentang Tuhan, tapi tidak berurusan dengan Tuhan. Dan konyolnya, banyak orang merasa sudah berurusan dengan ilmu tentang Tuhan, merasa sudah berurusan dengan Tuhan. Padahal, mereka orang yang berdiri di mimbar-mimbar menjadi penganjur umat, pembicara, mentor, konselor. Betapa mengerikan masa depan kekristenan. Itu semua adalah tipu muslihat Iblis yang harus kita akhiri.
    10 min
  • Membersihkan Semua Unsur Dosa
    Yesus, Anak Allah, adalah standar dalam dinamika hidup bergaul dengan Allah. Dan kita dimungkinkan juga untuk bisa memiliki dinamika hidup bergaul dengan Allah. Dan inilah yang sekarang semua kita harus gumuli. Maka, kita harus berani berkata, “berapa pun harganya.” Apa? Apa pun yang harus dikorbankan. Berapa pun harganya, apa pun yang harus dikorbankan, demi dinamika itu. Kita akan sangat menyesal ketika meninggal dunia, kita tidak pernah memiliki dinamika hidup dalam berinteraksi dengan Allah. Jadi, jangan berkata seperti kebanyakan orang berkata, “kita masih menginjak di bumi, belum menginjak surga. Berpikirlah realistis, jangan terlalu ekstrem.” Itu perkataan sesat dan jahat. Kita memang masih menginjak bumi, tapi ingat, yang kita injak ini akan menentukan kekekalan kita. Kita memang masih di bumi, tapi ingat, apa yang kita pikirkan, menentukan kekekalan kita di langit baru bumi baru. 
    Jadi, kita harus berani memfokuskan diri kita kepada Tuhan, berapa pun harganya, apa pun yang harus dikorbankan atau apa pun yang harus dipertaruhkan, demi menemukan dinamika ini, yaitu sampai kepada Bapa. Karena, Allahlah Bapa kita. Itu inti kekristenan. Di dalam Yohanes 14, ketika murid-murid-Nya bertanya “siapa Bapa itu dan bagaimana kami bisa mencapai Bapa itu,” Yesus berkata, “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku.” Banyak orang salah, dan ini bisa menjadi menyimpang atau meleset atau sesat ketika mereka menyamakan “sampai kepada Bapa” itu sama dengan “masuk surga.” Memang firman Tuhan mengatakan bahwa di kolong langit ini tidak ada nama yang diberikan kepada manusia yang di dalamnya manusia beroleh keselamatan. Itu berarti memang Yesus satu-satunya jalan keselamatan. Di luar Kristus, tidak ada keselamatan. Itu harga mati bagi orang Kristen. 
    Tetapi jangan disamakan dengan pengertian “sampai kepada Bapa.” “Sampai kepada Bapa” adalah hubungan eksklusif; dinamika yang bisa dialami umat pilihan, yang tidak semua orang bisa. Jadi, orang-orang yang hidup di luar berita Injil, tidak mendengar Injil, salah mendengar Injil; zaman Perjanjian Lama, yang akan dihakimi menurut perbuatan, itu mereka bisa masuk dunia yang akan datang, asal mereka mengasihi sesama seperti diri sendiri atau tidak menjadi ancaman bagi sesama. Karena dosa mereka pun dipikul Yesus di kayu salib, maka mereka bisa dihakimi. Kalau dosa mereka tidak dipikul, sebaik apa pun manusia, termasuk orang Kristen, semua masuk neraka. Kristus memikul semua dosa manusia, maka ada pengadilan (Rm. 2:12-16). Jadi, “sampai kepada Bapa” itu tidak hanya sekadar masuk dunia akan datang, tetapi menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang sejak di bumi memiliki dinamika hubungan dengan Allah Bapa seperti Yesus. 
    Itu yang kita harus cari dan gumuli, berapa pun harganya, apa pun yang harus dipertaruhkan. Dan memang hanya untuk itu kita hidup. “Sampai kepada Bapa,” adalah penggenapan di dalam Yohanes 17:20-21, “Engkau tinggal dalam Aku, Aku dalam Engkau.” Tetapi kemudian, “dan mereka tinggal di dalam Kita.” Sebab kekristenan itu jalan hidup; hidup-Nya Yesus. Dan sejak di bumi, dinamika hidup kita sudah kelihatan. Jadi, keselamatan itu bukan sekadar keyakinan melainkan pengalaman. Sehingga, orang tahu dia akan selamat, bukan dia yakin saja akan selamat. Makanya Tuhan berkata, “banyak orang dipanggil, sedikit yang dipilih,” karena memang tidak mudah. Ini sangat eksklusif; hanya untuk orang-orang tertentu saja yang dipilih. Seperti perumpamaan mengenai raja yang mengadakan pesta, dia memberikan undangan untuk hadir di pesta, tapi tidak disertai dengan pemberian baju pesta. Baju pestanya harus kita yang siapkan. 
    Tuhan mengampuni dosa-dosa kita, tetapi karakter dosa itu urusan kita dengan Roh Kudus. Kalau kita tidak menggarapnya, kita tidak bisa kudus. Dosa-dosamu, apa pun yang kita lakukan dulu, sekarang, mungkin ke depan, bisa diselesaikan. Tapi kodrat dosa kita juga harus diselesaikan.
    9 min
  • Melepaskan Kasut
    Kita harus serius berurusan dengan Tuhan, dan keseriusan kita harus kita tunjukkan dengan tindakan, langkah-langkah konkret. Bukan hanya ke gereja, ikut doa puasa, tidak cukup hanya dengan itu. Doa dan puasa kita mestinya memberikan kita dorongan, spirit, gairah untuk meninggalkan semua yang harus kita tinggalkan. Jangan kita berdoa berpuasa, tetapi di lain pihak, kita masih mempertahankan kesenangan-kesenangan dunia. Tidak bisa, kita harus benar-benar ekstrem. Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita harus menunjukkan kasih kita, cinta kita, hormat kita kepada Tuhan dengan tindakan konkret. Kebiasaan-kebiasaan yang jahat, tanggalkan itu. Kita harus menghadap Tuhan, dan Tuhan akan melihat kasut-kasut apa yang masih kita kenakan, yang itu membuat kita tidak layak menghampiri Dia. 
    Banyak di antara kita yang masih buta, sehingga tidak tahu kasut apa yang membuat kita tidak layak menghampiri Dia. Telinga kita juga menjadi tuli, sehingga kita tidak mendengar suara Tuhan. Dengan mulut yang sama, kita gunakan untuk kejahatan, kenajisan, tapi juga untuk kekudusan. Kita semua harus bertobat. Banyak kelakuan-kelakuan kita yang masih tidak benar. Masih berjudi, masih mabuk, suka membicarakan orang di belakang, menyebarkan gosip, dan sebagainya. Itu adalah perbuatan-perbuatan yang najis di hadapan Allah. Selagi Allah masih membuka hati untuk menerima kita, sekalipun dosa kita merah seperti kirmizi, dijadikan putih seperti salju. Walaupun hitam seperti kesumba, dijadikan putih seperti bulu domba. Namun jika kita tidak radikal keluar dari keadaan ini, kita tidak akan pernah mengerti apa artinya pertobatan. Itu berarti kita tidak akan pernah mengerti kasih Allah yang besar kepada kita, dan pengurbanan Yesus di kayu salib 
    Kita merasa bertobat dengan ukuran pertobatan yang tidak tepat. Banyak kasut yang kita kenakan, tapi kita merasa sudah benar. Itu karena kita tidak pernah berurusan dengan Tuhan. Karena kita tidak pernah berurusan dengan Tuhan, kita tidak tahu ada kasut-kasut yang melukai dan menyakiti hati-Nya dan yang membuat kita tidak layak menginjak Kerajaan Surga, yang harus kita lepaskan. Kita semua punya persoalan, tapi persoalan tersebut jangan menenggelamkan hidup kita. Setan berusaha membuat kita gagal fokus. Apakah itu dengan kesukaran, apakah itu dengan masalah, atau kelimpahan uang, dan segala kesenangan. Hari ini, yang kita harus lakukan adalah datang kepada Tuhan, buka kasut kita. Sebab, tempat di mana kita berdiri itu kudus. 
    Jangan sombong, sebab kita bukan siapa-siapa. Allah mau kita berubah. Sebesar apa pun kesalahan kita, sekotor apa pun diri kita, Dia bisa membasuh dengan darah-Nya, dan Dia akan memberi kekuatan, kesanggupan bagi kita melepaskan kasut-kasut dosa; kasut-kasut kebiasaan yang Tuhan tidak kehendaki. Melepaskan kasut itu tidak enak, kadang-kadang sakit sekali. Kasut kebiasaan, kasut kesenangan di dalam jiwa dan daging kita, itu sakit sekali. Tuhan tidak menuntut apa-apa. Dia sudah mati di kayu salib bagi kita. Dia hanya ingin kau melepaskan kasutmu, supaya engkau bisa menyenangkan hati Bapa di surga. 
    Yesus telah membahagiakan hati Bapa sehingga Bapa berkata, “Ini Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” Dan ketika kita menyenangkan nanti Bapa, Yesus dipuaskan karena kita ikut Yesus. Yesus bisa berkata, “Aku senang karena engkau telah ikut jejak-Ku. Aku bisa memuaskan hati Bapa di surga.” Yesus punya perasaan, dan kita mau menyenangkan perasaan-Nya dengan menanggalkan kasut-kasut yang Tuhan tidak berkenan. Jangan pernah merasa puas telah menanggalkan 1-2 kasut. Semua kasut-kasut yang kita kenakan, harus kita tanggalkan agar kita menyenangkan hati-Nya! Tapi mungkin ada di antara kita yang tidak pernah mengerti hal ini, “menyenangkan Tuhan apa?” Sebab yang dia ketahui selama ini Tuhan itu ajaib, Tuhan itu baik, Tuhan itu luar biasa, Tuhan itu mau memberkati, lalu ia hanya mau diberi tapi tidak pernah peduli perasaan Tuhan. 
    10 min
  • Kemuliaan dalam Kesulitan
    Di Perjanjian Lama, kita menemukan orang-orang yang diproses, sebelum diangkat Tuhan, untuk menerima kepercayaan; seperti Yusuf, Daud, dan tentu banyak lagi mereka yang pasti melalui proses, termasuk Musa. Dia seorang pangeran yang cakap, tetapi untuk menjadi pemimpin umat Allah, dia harus sekolah di padang Median selama 40 tahun. Itulah proses yang harus Musa jalani. Jadi dengan keadaan yang kita alami hari ini, kita harus menerima ini sebagai sekolah Tuhan. Kalau Tuhan seakan-akan tidak di pihak kita, Tuhan membiarkan keadaan berlarut-larut, makin hari sepertinya kita makin terpuruk, itu sebenarnya proses supaya iman kita teruji dan meningkat kualitasnya. Itu berarti kita ini orang istimewa di mata Allah, karena kita dipandang bisa melewati semua itu, dan kita dipandang memiliki kualitas emas. Emas itu dimurnikan untuk berkadar, berkarat lebih tinggi lagi. 
    Sekarang kita bisa mengerti mengapa firman Tuhan mengatakan “bersukacitalah senantiasa.” Jadi bukan hanya dalam keadaan yang kita pandang baik, menyenangkan, semua smooth and running well, tapi juga dalam situasi-situasi yang berat kita bisa mengatakan, “Terima kasih, Tuhan. Karena dalam keadaan-keadaan ini, ternyata Tuhan, Engkau mengerjakan sesuatu yang luar biasa di dalam hidupku.” Kita bersyukur, karena melalui kejadian-kejadian yang kita alami di dalam hidup, kita menjadi orang-orang yang luar biasa, diperhatikan Tuhan, menjadi karunia Tuhan. 
    Ketika Tuhan memberikan kita keadaan-keadaan yang menurut kita sebuah kecelakaan, keadaan yang menurut kita sebuah malapetaka atau musibah, ternyata itu berkat. Karenanya, kita harus memperhatikan dengan kacamata kekekalan. Allah bekerja dalam segala hal, pasti kita tahu. Tetapi Tuhan bekerja bukan hanya melalui perkara-perkara yang besar, melainkan juga melalui tekanan, tindisan, hal-hal yang bisa merenggut dan memengaruhi perasaan serta emosi kita. Dari hal-hal kecil, hal-hal detil, bukan hanya masalah besar yang mudah kita sadari.
    Karenanya dalam satu Alkitab terjemahan bahasa Inggris, ditulis: “That’s why we can be so sure, that every detail in our lives of love, for God is work into something good.” Jadi di dalam kehidupan kita, every detail in our lives of love for God is work into something good; dari perkara kecil, dari setiap hal yang detil dalam kehidupan kita yang mengasihi Allah, Allah bekerja untuk sesuatu yang baik. Makanya kita bersyukur, kita harus memperhatikan proses itu dari hal-hal kecil. Jangan hanya melihat hal-hal besar, tapi mulailah perhatikan setiap peristiwa dan makna kejadian dari hal-hal kecil. Tentu yang terkait dengan perkara-perkara besar yang sedang kita alami juga. Sebab Allah men-setting kita supaya kita ini menjadi seorang yang layak, satu garis, satu line dengan hidup Anak-Nya. 
    Dalam salah satu terjemahan bahasa Inggris, juga diterjemahkan begini: “God knew what He was doing from the very beginning. He decided from the outside to save the lives of those of who love Him, along the same line as the life of His Son.” Jadi Tuhan mau kita ini dalam perjalanan hidup itu, kita satu jalur dengan Putra Tunggal-Nya. Kalau Putra Tunggal-Nya mendapat perlakuan seperti itu; diperlakukan tidak adil, ditekan, dan lain-lain, kita juga memiliki line yang sama. Dan ternyata melalui jalur itu, kita ini mau disempurnakan oleh Allah. Puji Tuhan. Kita bersyukur, karena kita menjadi anak-anak Allah yang dibawa Tuhan ke jalur dimana Allah juga mengalaminya. 
    Kalau dikatakan “Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara,” jangan hanya melihat kesulungan Yesus, tapi juga lihat perjalanan hidup-Nya yang karenanya, Dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Perjalanan hidup Yesus yang penuh dengan pergumulan, jalan terjal. Jalan yang berat dan sukar. Kalau kita mau satu line dengan Tuhan Yesus, kita juga harus sungguh-sungguh, mengikuti apa yang Tuhan Yesus alami. Yesus juga menjalani itu, dan bersikap seperti yang seharusnya Ia lakukan.
    11 min
  • Cara Memandang Masalah
    Hidup ini bisa kita pandang dan kita jalani secara rumit dan kompleks, tetapi juga bisa kita pandang secara sederhana. Karenanya, satu hal yang memang harus menjadi prinsip hidup kita, yaitu kita harus memandang bahwa hidup ini memang tragis. Bagaimana pun hidup di dunia tidak bisa membuat kita bahagia, lengkap, dan utuh. Kita hidup di dunia yang sudah jatuh. Ibarat produk, ini produk yang gagal atau produk yang rusak. Bukan karena Tuhan tidak mampu membuat hidup ini menjadi lengkap, sempurna, atau utuh, melainkan dosa manusia dan pemberontakannya kepada Allah yang membuat hidup ini menjadi tragis. Sehingga, pertama, kita selalu menghadapi problem. Yang kedua, makin hari makin tua dan ada sakit penyakit; Yang ketiga, kematian. 
    Realitas ini, kalau sudah kita bisa terima dengan lapang, paling tidak 50% dari kerumitan, kompleksitas hidup kita sudah tertanggulangi. Jangan mimpi hidup tanpa masalah. Sebab kalau kita berharap hidup ini tanpa masalah, maka ketika tiba-tiba ada masalah, jiwa kita pasti terguncang, damai sejahtera kita pun hilang. Tetapi, kalau kita sudah menerima realitas bahwa hidup ini memang pasti ada masalah, maka ketika kita menghadapi masalah, kita bisa tenang dan kita percaya pada Firman Tuhan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Persoalan yang kita hadapi pasti bisa kita tanggulangi walaupun memerlukan waktu. Dan persoalan ini tidak akan melampaui kekuatan kita, serta pasti selesai pada waktunya. Jadi jangan berpikir bodoh, kanak-kanak, dan tidak dewasa. 
    Waktu masalah datang menghampiri, jangan terguncang, tetapi terimalah. Dan ingat, bahwa masalah hidup itu membuat kita menjadi dewasa. Pasti ada hal di dalam kekurangan kita yang Tuhan mau perbaiki lewat masalah, dan paling tidak, masalah itu akan membuat kita mengingat bahwa dunia bukan rumah kita supaya kita bisa memindahkan hati kita di Kerajaan Surga. Sebaliknya, jika kita khawatir dan takut, masalah itu akan menenggelamkan hidup kita. Dan sejatinya, kita tidak menghormati Tuhan, meremehkan, dan melecehkan Tuhan. Sebab, pertama, Dia berjanji setia menyertai kita. Kedua, pencobaan tidak melampaui kekuatan kita. Ketiga, pasti selesai pada waktunya. Keempat, persoalan itu mendewasakan kita. Semua ini supaya kita mempersiapkan diri menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. 
    Firman Tuhan mengatakan dalam Matius 6:32-33, bahwa setiap hari selalu ada masalah, maka cari dulu Kerajaan Allah. Maka, masalah hidup jangan membuat kita berbuat dosa, tenggelam, jadi takut dan khawatir, kecewa, apalagi membuat kita jadi meremehkan dan melecehkan Tuhan. Tentu kita harus berpikir dan berusaha bagaimana menyelesaikan masalah ini, di samping kita juga berdoa minta pertimbangan dan pertolongan Tuhan. Kita harus memandang masalah dengan cara pandang yang benar supaya hidup kita tidak menjadi kompleks. Apa pun yang akan terjadi dan mungkin sedang terjadi, berpikirlah sederhana: memang harus dihadapi. Kita harus punya sikap tanggung jawab dalam menghadapinya. Memang terkadang Tuhan tidak segera menolong kita karena Tuhan membiarkan masalah itu untuk mendewasakan kita, sehingga kita juga memikirkan perkara-perkara yang di atas. Tuhan pasti menolong pada waktu-Nya sesuai jadwal-Nya. Ingat bagaimana Abraham dijanjikan punya anak banyak, tetapi dia harus menunggu selama 25 tahun seakan-akan Allah lupa janji-Nya. Demikian juga Yusuf.
    Kita bisa menerima perlakuan tidak adil, dijahati, tapi kita jangan membalas. Justru Tuhan mau kita dewasa dengan belajar mengampuni, rendah hati, dan berdiam. Tuhan akan ubahkan semua yang menimpa kita itu agar jadi berkat untuk kita. Daging kita berkata, “Kalau kita diam terus dia tambah kurang ajar. Jadi pertahanan yang baik itu menyerang,” tapi itu filosofi dunia. Sebagai anak Tuhan, pertahanan yang baik adalah diam. Karena dengan kita diam, Allah akan bertindak. Hanya, kita perlu sabar menunggu waktu dan cara pertolongan Tuhan. Jangan berpikir melewatinya dengan mudah. Kita sering terengah-engah,
    10 min
  • Kejutan
    Kita harus menyadari bahwa banyak hal bisa terjadi di luar prediksi kita; sebuah kejutan. Bersyukur kita yang pernah mengalami kejutan-kejutan seperti ini dalam hidup kita. Tidak bisa disangkali, hidup ini memang banyak kejutan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Datang ke dokter, niatnya hanya mau periksa rutin, tapi malah divonis mengidap satu jenis penyakit yang sudah parah. Satu hal yang kita harus ingat, bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Jadi, jangan kita sombong. Jangan sampai kita dihajar masalah berat, baru berurusan dengan Tuhan. Ini orang-orang yang sombong dan sekaligus licik. Kalau keadaan aman, orang merasa tidak memerlukan Tuhan. Tetapi kalau keadaan kritis dan krisis, baru mencari Tuhan. 
    Mari kita bertobat. Mari kita sadar. Jangan menunggu tiba-tiba ada perang dunia gempa yang membelah pulau Jawa, atau anak gunung Krakatau meletus, baru kemudian kita mencari Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Ketika keadaan baik; smooth, running well, tidak ada masalah, kita tetap berkata, “Ku perlu Kau, Tuhan. Hanya Kau yang kuperlu.” Itu baru rendah hati. Rendah hati dan tulus, bukan sombong dan licik. Kita harus menyadari bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, sehingga kita selalu berkata, “Aku perlu Engkau, Tuhan.” 
    Banyak orang ketika memiliki uang banyak, relasi pejabat, merasa kuat dan aman, tubuh sehat, maka mereka cenderung menjadi sombong. Ia tidak merasa membutuhkan Tuhan. Tuhan bisa menyayangi orang-orang seperti ini dengan memberi masalah. Kena suatu penyakit, misalnya. Atau orang yang dikasihinya yang sakit. Atau kena masalah sehingga harus berurusan dengan polisi atau pengadilan. Setelah itu, baru dia mencari Tuhan. Dan Tuhan memakai persoalan-persoalan itu untuk membawa dia pulang; membawa dia balik kepada Tuhan. Tuhan tarik dia datang kepada Tuhan. 
    Tetapi setelah Tuhan tolong—pasti biasanya Tuhan tolong—dia sombong lagi. Mungkin Tuhan beri masalah kedua, atau bisa juga tidak. Justru lebih mengerikan kalau kemudian Tuhan biarkan. Orang seperti ini hatinya dikeraskan. Tetapi kalau kita, walaupun tidak ada masalah, tetap berlindung kepada Tuhan, bergantung kepada Tuhan. Dan ketika Tuhan memberi masalah dan pasti Tuhan memberi masalah, masalah itu digunakan Tuhan untuk mendewasakan kita. Jadi kalau orang merasa tidak membutuhkan Tuhan, sombong dan licik, Tuhan menggunakan masalah untuk menarik dia datang. Tetapi orang yang membutuhkan Tuhan, orang yang rendah hati dan tulus, pasti ada masalah juga, hanya saja bedanya masalah yang menimpanya tersebut akan menggiring orang ini ke dalam Kerajaan Surga.
    Masalah-masalah itu menyempurnakan kesuciannya, menyempurnakan kekudusannya. Apakah punya masalah, apakah dijahati orang atau didzolimi orang, itu menyempurnakan kesucian. Reaksi-reaksi yang dilakukan berdasarkan firman yang pasti dia terima, karena orang yang membutuhkan Tuhan, tidak bisa tidak, pasti mendekat kepada Tuhan. Dan kalau mendekat kepada Tuhan, Tuhan pasti memberikan firman-Nya, Tuhan pasti memberikan tuntunan-Nya. Tuntunan dan bimbingan Tuhan itu akan menjadi sesuatu yang melekat di dalam dirinya dan mendewasakan ketika dia menghadapi masalah. Tidak mungkin orang dewasa tanpa masalah.
    Ketika seseorang yang sombong dan licik tapi Tuhan sayangi dia, Tuhan panggil dia untuk datang kepada Tuhan. Jika dia menerima panggilan itu, dia datang. Setelah dia ditolong Tuhan, alu kemudian dia jadi sombong lagi, angkuh lagi, kalau itu terjadi, maka hatinya jadi keras. Nanti ada situasi dimana kejahatannya disempurnakan. Sebab, orang yang kuat secara ekonomi, kuat secara relasi, senang kalau ada orang bikin gara-gara atau mencari masalah dengannya, karena dia mau menunjukkan kekuatannya. Itu memberikan kepuasan secara pribadi baginya. Keangkuhan hidup itu kodrat dosa. Itu sinful nature kita. Sinful nature; kodrat dosa. Keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup. Orang yang kuat secara ekonomi,
    8 min
  • Pengakuan dari Bapa
    Kita harus terus mengobarkan gairah bagaimana menjadi anak manusia yang benar-benar menyukakan hati Allah, menjadi penghiburan di hati Allah, di tengah-tengah angkatan yang bengkok ini; di tengah-tengah kejahatan manusia. Ibarat simfoni, kita harus menjadi simfoni yang indah, merdu didengar oleh Allah; ibarat bunga, kita harus jadi bunga yang wangi, menjadi keharuman. Dan inilah kehormatan kita. Inilah nilai, kemuliaan kita. Tidak ada kehormatan, kemuliaan, dan nilai lebih dari ini kalau kita percaya Tuhan, kita percaya Firman-Nya, dan kita mengikuti Firman-Nya. Tidak ada hal yang lebih mulia pada hidup seseorang selain pengakuan dari Bapa bahwa ia adalah seorang yang berkenan kepada Allah, menjadi kesukaan hati Allah. Hidup kita menjadi seperti pedupaan yang terus menyala, dimana asapnya membumbung sampai ke takhta Bapa. Dari setiap renungan hati, apa yang kita katakan, segala hal yang kita lakukan, semuanya menciptakan keharuman. Dan kita menikmati kebahagiaan dari hal itu. Sampai kita benar-benar menjadi kecanduan; kecanduan untuk berbuat segala sesuatu yang menyenangkan hati Allah. 
    Hal ini harus benar-benar menjadi realitas hidup kita, yang kita hayati dan alami. Maka kita akan sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Mungkin dalam pergumulan hidup kita muncul satu pertanyaan yang terdengar konyol, begini: “Kalau Engkau benar-benar Allah yang hidup, bahwa apa yang tertulis di Alkitab itu bukan dongeng, aku mau mengalami Engkau ya, Allah.” Dan itu dijawab Tuhan dengan berbagai persoalan berat dan rumit. Dimana di dalam persoalan-persoalan itu, kita tidak mampu menjawabnya kecuali dengan campur tangan Allah. Ada persoalan-persoalan yang terjadi dalam hidup karena kesalahan kita, tetapi ada yang bukan karena kesalahan kita, dan itu bisa membuat kita putus asa, kecewa, atau bereaksi negatif, sehingga kita jatuh dalam dosa. Yang kedua ini, pasti berasal dari kuasa kegelapan yang mau menghancurkan hidup kita, menghentikan perjalanan pertumbuhan iman Kristen kita untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, sekaligus menghentikan pelayanan kita. Kita harus kokoh, tabah, dan kuat. Dari situ, kita bisa terstimulasi untuk mengalami Tuhan. 
    Tetapi yang lebih dari itu, atau mungkin bisa sejajar, yaitu ketika kita benar-benar berusaha dalam segala hal tidak melakukan kesalahan. Ini tentu terkait dengan pergumulan hidup yang kita hadapi. Kesempatan untuk tidak jujur, mengangkat diri menjadi sombong, dan berbagai dosa yang bisa kita lakukan. Namun kita memilih taat. Karena kita ingin benar-benar menyenangkan hati Allah, membuat Tuhan tersenyum. Kalau kita sudah menggumuli hal ini dengan serius lalu ada kesalahan yang kita lakukan, akan muncul perasaan duka dan luka, yang dalam sekali. Sampai kita bisa menjadi benar-benar trauma terhadap kesalahan. Kalau dulu, kita melakukan kesalahan tanpa merasa terganggu, dan kita masih menikmatinya lagi. Tapi kemudian kita bertumbuh. Setiap kali melakukan kesalahan, kita berduka. Dan di dalam pertumbuhan berikut, menjadi luka. Sampai belum melakukan kesalahan, kita sudah resisten, menolak. Dan kita memandang kesenangan-kesenangan yang dulu kita nikmati, itu seperti racun. 
    Dan ini sebenarnya adalah gejala dimana kita mulai menyenangkan hati Allah. Tentu membutuhkan perjuangan berat dan melewati perjalanan waktu. Karenanya sebelum kesempatan yang Tuhan berikan berlalu, mari kita berjuang. Ingat, kesempatan itu tidak bisa kita beli. Kesempatan adalah anugerah. Kata firman Tuhan, kita tidak bisa menambah sehasta pun umur hidup kita. Satu jam pun, kita tidak bisa. Jadi kalau kita membuka mata di pagi hari, artinya Tuhan masih memberikan kita hari yang baru, kita bersyukur. Itu adalah kesempatan kita untuk meningkatkan kualitas hidup rohani agar kita bisa lebih berkenan di hadapan Allah, menyenangkan hati Tuhan melalui segala kejadian dan peristiwa hidup yang kita alami pada hari itu. Maka harus ada ‘ambisi’ yang kuat. Harus ada tekad, kerinduan, hasrat yang kuat.
    9 min
  • Menjadi Kesukaan Allah
    Terbuka peluang bagi kita untuk bertumbuh menjadi manusia yang menyukakan dan menghibur hati Allah. Yesus telah naik ke surga, tetapi di bumi ini ada orang-orang yang dikatakan sebagai saudara-saudara bagi Yesus. Mestinya kerinduan, keinginan, cita-cita, obsesi dan ambisi kita adalah bagaimana kita menjadi seorang yang benar-benar menyukakan dan menghibur bagi Allah. Orang-orang seperti ini adalah mereka yang telah berhenti dalam mencari kesukaan bagi diri sendiri. Yesus sudah di surga, tapi di bumi ada orang-orang yang telah menemukan jejak Tuhan dan mestinya mengikuti jejak Tuhan tersebut. Dan kita adalah manusia yang masih berkesempatan untuk diubahkan. Maka, jangan sampai kita kehilangan kesempatan berharga ini, agar kita tidak menyesal. Karena jika suatu saat kita ingin mengembalikan waktu untuk kembali ke bumi, kita tidak bisa. Sekarang inilah waktunya! Kiranya Tuhan menyalakan gairah itu di dalam hati kita; gairah bagaimana menjadi manusia yang menjadi kesukaan hati Allah. 
    Dari sekian ratus juta manusia di Indonesia, dari sekian milyar manusia di muka bumi, kiranya Ia menemukan orang-orang yang bercahaya seperti bintang-bintang di cakrawala, dan yang menarik hati Tuhan. Kecantikan, kekayaan, gelar, kedudukan, kehormatan, keelokan, atau nilai lebih apa pun yang kita miliki, tidak ada artinya jika kita tidak menjadi kesukaan hati Allah dan tidak menjadi penghiburan bagi hati-Nya. Jangan sampai suatu hari nanti kita baru menyesal, bahwa ternyata semua keberhasilan, kemegahan, kebahagiaan di bumi hanyalah mimpi buruk yang kekal, karena tidak mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Sebab kita hanya menikmati semua keberhasilan, kekayaan, kelimpahan, dan semua nilai lebih yang kita miliki hanya untuk kesenangan diri kita sendiri. 
    Mestinya kita berani berkata, “terkutuklah aku, kalau aku tidak mengasihi Tuhan.” Itu juga bisa berarti: “terkutuk dan terlaknatlah aku, kalau aku tidak menjadi kesukaan hati Allah.” Kita mau nekat apa? Apa yang kita mau capai? Mestinya tidak ada lagi yang kita mau capai kecuali mengubah hidup kita untuk menjadi seorang yang menyukakan hati Allah dan menjadi penghiburan di hati Tuhan. Dan kemudian, kita mengubah sesama untuk mengalami perubahan seperti yang kita alami. Siapa pun kita—berpendidikan atau tidak, kaya atau miskin, pria atau wanita, tua atau muda—Tuhan bisa mengubah kita, selama kita mau diubah. Dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak mampu, tapi kita cukup berkata, “Aku mau, tolonglah aku, Tuhan.” Yang satu ini, kita mempersoalkan kuasa Allah. Artinya, Dia mampu membuat kita berubah. 
    Kita punya banyak persoalan, kita membutuhkan kekuatan, kekuasaan, mukjizat Tuhan untuk yang mustahil menjadi tidak mustahil. Tetapi lebih dari semua yang kita butuhkan, ketidakmustahilan dari Allah adalah perubahan untuk menjadi manusia yang menyukakan hati Allah. Jadi, persoalan-persoalan lain menjadi tidak ada artinya. Percayalah. Apakah menikah atau tidak, punya anak atau mandul, miskin atau kaya, berkedudukan tinggi atau tidak, terhormat atau tertindas, suatu hari kita akan melihat bahwa semua itu tidak ada artinya. Sebab ternyata yang namanya “bernilai di hadapan Allah” itu hanya mereka yang menjadi kesukaan Allah. Maka, kita jangan sombong. Kita ini nothing, tapi kita menjadi someone kalau kita menjadi penghiburan hati Allah. Dunia telah merusak dan menyesatkan kita. Namun Tuhan begitu lembut, Ia tidak memaksa kita. 
    Kalau kita tidak bertobat, celaka. Jangan sampai kita sudah terlalu rusak sampai tidak sanggup untuk tidak menyenangkan diri sendiri. Sudah jadi addict. Kita tercandu setiap hari untuk mencari kesenangan diri sendiri; dari soal kecil sampai soal besar, sampai kemarahan pun dinikmati. Dan yang mengerikan, kita kelihatan baik-baik, normal, bermartabat di mata manusia, padahal kita tidak melakukan ketepatan bertindak seperti yang Allah kehendaki. Semua kita hanya menunggu waktu; terbujur kaku, lalu menghadap Tuhan. Di situ akan terlihat seberapa kita punya ketepatan...
    8 min
  • Someone Bagi Tuhan
    Kita harus selalu mengingat bahwa manusia bukanlah makhluk gratis. Maksudnya, Allah memberi kehidupan kepada manusia, bukan tanpa alasan. Ingat, bahwa kita itu dari tidak ada menjadi ada. Bisa saja kita tidak diadakan oleh Tuhan, tetapi Allah mengadakan makhluk ini. Allah memiliki alasan. Allah memiliki rancangan. Oleh sebab itu, setiap kita ini sebenarnya someone; someone bagi Tuhan. Tapi bukan someone bagi diri kita sendiri atau siapa pun. Someone artinya seseorang yang tidak dikenal; atau pengertian yang lain dari someone adalah seorang yang penting dan memiliki otoritas. Allah memandang penting sehingga mengadakan kita, dan Allah memberi kita otoritas. Jadi, semua kita harus mengerti bahwa kita ini penting, dan Tuhan memberikan otoritas untuk melakukan sesuatu, memenuhi rencana Allah. 
    Allah memandang kita ini penting. Penting menurut kehendak dan rencana-Nya, bukan kehendak dan rencana kita. Maka kalau orang memandang dirinya someone bagi dirinya sendiri atau someone bagi orang lain yang dia mau, dia pasti seorang pemberontak. Dia berkhianat kepada Allah yang mengadakan dirinya. Allah memberi kehidupan kepada manusia agar manusia melakukan apa yang Allah kehendaki, dan memenuhi dan menggenapi apa yang Allah rencanakan. Maka, makhluk ini luar biasa. Sama seperti orangtua itu memandang anaknya penting. Dan orangtua pasti memberikan otoritas. Dan untuk itu anak-anak diberi pendidikan, diberi kecakapan supaya bisa mandiri. Atau orangtua yang memiliki usaha, bisa dipercayakannya kepada anaknya. 
    Manusia memiliki hak, dan ini anugerah. Hak ini anugerah. Manusia bisa menikmati apa yang Allah ciptakan, tetapi manusia juga diberi tanggung jawab. Dan tanggung jawab ini juga anugerah. Sebab kalau manusia memenuhi apa yang Allah kehendaki, maka dia bisa menikmati semua hak yang diberikan-Nya. Jadi, hak dan kewajiban ini tidak terpisahkan, dan keduanya adalah anugerah. Allah memberi hak, dimana manusia memiliki pikiran dan perasaan. Dan Allah memberi kebebasan manusia untuk menikmati pikiran dan perasaannya. Tetapi manusia juga diberi tanggung jawab untuk menjadi serupa dengan Allah. Sehingga manusia dapat membuahkan keinginan-keinginan yang sesuai dengan kehendak Allah. Dan jika hal itu terwujud, maka manusia menjadi anak-anak Allah. 
    Jadi kalau manusia memenuhi tanggung jawabnya, maka manusia menjadi anak-anak Allah yang menikmati segala apa yang Allah ciptakan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan di dalam kekekalan. Seandainya Adam dan Hawa tidak jatuh dalam dosa, maka Adam dan Hawa memiliki keadaan segambar dan serupa dengan Allah, maka anak cucu Adam dan Hawa semua juga segambaran dan serupa dengan Allah. Jadi idealnya, manusia pertama ini beranak cucu setelah ia segambar dan serupa dengan Allah, agar keturunannya juga dapat segambar dan serupa dengan Allah. Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia harus tetap beranak cucu. Tetapi beranak cucu yang tidak ideal, tidak sesuai rancangan Allah semula.
    Maka Kejadian 5:3 mengatakan, “Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa (tselem) dan gambarnya (demuth), lalu memberi nama Set kepadanya.” Menurut rupa dan gambar siapa? Adam. Tidak ada model manusia segambar dan serupa dengan Allah. Dan anak cucunya semua juga menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Adam. Inilah yang dikatakan dalam Roma 3:23, “semua manusia telah jatuh dalam dosa,” artinya meleset (Yun. Hamartia); tidak presisi, tidak tepat, dan kurang atau kehilangan kemuliaan Allah. Maka kalau kita menerima Dia, bukan hanya mengakui menerima, namun kita harus ‘menelan’ kebenaran, makan buah kehidupan. Supaya kodrat kita diubah, sebab Tuhan pun berkata, “Kamu bukan berasal dari dunia ini.” 
    Di sini setan menyesatkan orang percaya; “Sudah terima Yesus, selamat.” Padahal Alkitab mengatakan, “Pada mulanya Firman; Firman itu menjadi Manusia.” Yang kita terima apa? Firman-Nya. Sementara orang merasa sudah menerima Yesus,
    10 min
  • Tidak Berharga
    Tidak berlebihan kalau kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa betapa jahatnya Iblis atau setan itu; melampaui yang kita duga dan pikirkan. Dia adalah kejahatan itu sendiri. Kejahatan puncak, kejahatan klimaks, kejahatan absolut. Dan tentu kebalikannya, adalah Allah yang Mahabaik, yang kebaikan-Nya tidak terduga; melampaui yang kita duga dan pikirkan. Berbicara mengenai Iblis atau setan yang jahat itu, kita dapat menghubungkannya dengan sikap dari oknum ini yang tidak menghargai manusia. Setan atau Iblis ini tidak menghargai manusia; tidak memandang manusia sebagai berharga. Ini kebalikan dari Allah yang memandang manusia sebagai makhluk yang berharga di mata-Nya. Iblis tidak memandang manusia sebagai makhluk yang berharga, karenanya Iblis berusaha untuk membinasakan. Membinasakan artinya membuat hidup manusia menjadi tidak bernilai. 
    Bicara mengenai hidup kekal, sebenarnya bukan hanya bermaksud mau menunjukkan hidup terus-menerus secara waktu nanti atau mengenai panjangnya hidup, melainkan dalamnya atau kualitas hidup itu. Hidup kekal artinya hidup yang berkualitas atau bermutu. Dan itu dimulai dari sekarang, bukan nanti. Maka, Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, tidak akan mati tetapi beroleh hidup yang kekal.” Artinya bukan hanya secara waktu atau ditinjau dari waktu, nanti mengalami kesadaran terus-menerus, tapi sejak di bumi, kita sudah memiliki hidup kekal itu. Sama seperti keselamatan itu bukan hanya nanti pada waktu kita sudah di surga, keselamatan juga bisa ditinjau dari waktu sekarang. Justru orang yang memiliki keselamatan sejak sekarang ini, maka dia akan mengalami keselamatan kekal. Jika seseorang tidak memiliki hidup yang berkualitas sejak sekarang ini, ia tidak akan memiliki hidup yang berkualitas di dalam kekekalan. 
    Iblis tidak menghargai manusia; ia membuat hidup manusia menjadi tidak bernilai, sejak di bumi ini, sekarang ini. Membuat hidup manusia tidak di dalam persekutuan dengan Allah; dan sebaliknya, supaya hidup manusia itu dalam persekutuan dengan dirinya. Sebab Iblis juga mau menggunakan manusia untuk kemuliaan dirinya. Sebab sebenarnya Iblis itu tidak bermaksud mau masuk neraka. Siapa yang mau masuk neraka? Neraka itu mengerikan. Iblis memang menghendaki surga, namun surga di mana dia menjadi pemimpinnya. Dan itulah sebabnya, ia memberontak kepada Allah. Ia menyeret malaikat-malaikat untuk masuk dalam persekutuan dengan dirinya untuk memuliakan dirinya. Padahal, dia tidak berhak. Dan dia tidak bisa memberikan kehidupan. Dia tidak berhak menerima kemuliaan, dan dia tidak mampu memberi kehidupan.
    Berbeda dengan Allah; Allah menghargai manusia, Allah membimbing manusia untuk memiliki hidup yang berkualitas sejak sekarang ini. Dan sebagai Sang Khalik, Dia layak dimuliakan dan Dia dapat memberi kehidupan kepada manusia. Jadi kalau seseorang mau jadi gubernur, tidak salah. Tapi bukan kedudukan gubernur itu yang mestinya dia bidik, melainkan tanggung jawab yang dia penuhi. Tidak salah menjadi pendeta, gembala sidang, atau ketua sinode. Tapi, jangan karena kedudukan itu, melainkan untuk tanggung jawab dimana ia sebagai pendeta benar-benar bisa membimbing umat kepada jalan kehidupan, jalan kebenaran yang membawa umat kepada kehidupan. Dunia sudah begitu rusak, sehingga orang masuk sekolah teologi, memikul gelar, ia memiliki kehormatan dari gelar itu, lalu ingin menjadi gembala, ketua wilayah, ketua provinsi, atau ketua sinode. Ini adalah karakter dan gairah Lusifer. Dalam kegiatan-kegiatan yang nirlaba, organisasi, yayasan, juga di gelanggang politik, kita melihat itu. 
    Yohanes 1:3-4 mengatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Dia adalah The Owner; Dia Pemiliknya. “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Terang (Yun. phos φῶς) kalau bagi orang Yahudi sebenarnya lambang kebahagiaan. Jadi di dalam kitab Mazmur kita menemukan kalimat,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…