Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pasivitas
    Setan mengondisi manusia berkeadaan menyerah pada keadaan; pasif. Sejak kecil, sibuk dengan mainan dan sekolah. Dewasa, sibuk dengan kuliah, cari jodoh, berkeluarga, dan karier. Mereka jadi orang baik, bukan jadi orang bejat; rajin ke gereja, bahkan menjadi aktivis atau pendeta. Tapi mereka tidak mengerti proses memberi diri diselamatkan. Ini terjadi karena gereja tidak memiliki pengajaran yang tepat untuk mengimplikasikan proses keselamatan itu. Dulu pada umumnya, kita pasti memahami keselamatan sekadar terhindar dari neraka. Percaya Yesus, selamat. Padahal, keselamatan adalah jalan hidup lewat proses. Proses dari meleset, meleset, meleset, makin tepat, makin tepat, makin tepat, sampai tidak bisa meleset. Kita belajar untuk mengendalikan diri, menguasai diri. Proses, sehingga punya ketepatan. Dan itu bukan proses satu hari; proses panjang dalam kehidupan. 
    Banyak orang Kristen dari kecil dikondisikan untuk menyerah pada keadaan. Dan tanpa disadari, kuasa gelap menggiringnya pada kegelapan abadi. Ini adalah keadaan yang mengerikan. Rata-rata kita masih begitu. Buktinya, gairah materialisme mengikat hidup. Dan banyak orang yang sampai tingkat tidak bisa diperbaiki lagi. Dalam 2 Korintus 5:10 dikatakan, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Memberi diri diperdamaikan artinya bahwa kita tidak otomatis berdamai dengan Tuhan; harus lewat proses. Dan ini penting sekali, ini bukan sesuatu yang sederhana melainkan lewat sebuah proses yang berat. Karena kita biasa hidup menurut daging, namun sekarang harus hidup menurut Roh. 
    Kalau orang menyerah kepada keadaan, ia dapat binasa. Kita tak dapat menyelamatkan diri kita sendiri, tetapi kita bisa membinasakan diri kita. Namun oleh karya salib Tuhan, terbuka kemungkinan kita untuk diselamatkan. Dengan kematian Yesus di kayu salib, mengampuni dosa kita atau menebus semua dosa kita, membawa diri kita dibenarkan di hadapan Allah, walau belum benar. Maka kita harus memberi diri untuk diselamatkan; sama dengan memberi diri untuk diperdamaikan. Kita mau diperdamaikan dengan Allah, tapi belum hidup dalam perdamaian yang benar. Lalu bagaimana itu implikasi konkretnya? Ironisnya, karena tidak jelas bagaimana kehidupan Kristen yang harus dijalani, maka mereka menyerah pada keadaan. Padahal, dunia ini menggiring orang kepada kegelapan abadi. Tidak ada anjuran yang jelas “berilah dirimu untuk diselamatkan.” 
    Sekarang, karena kita diberi Tuhan pengertian yang tepat, marilah kita memberi diri diselamatkan. Menjadi orang percaya berarti kita harus menceburkan diri pada proses dikembalikan hidup kita ke rancangan Allah semula. Maka, tidak bisa tidak, kita harus menanggalkan semua ikatan-ikatan dunia. Dan itu bukan Tuhan yang melepaskannya. Kita yang harus melepaskan diri kita sendiri, supaya kita memberi diri untuk diselamatkan. Lukas 16:11 mengatakan, “jadi jikalau kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur—artinya jika kamu masih materialistis—siapakah yang akan memercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Teks aslinya bukan “harta yang sesungguhnya” melainkan “kebenaran; alitheia. Jadi, karena materialisme, maka anugerah untuk membawa kita kepada ketepatan bertindak—fasilitas untuk mengubah kita dari hukum dosa menjadi seorang yang berkodrat Ilahi—tidak bisa berlangsung. 
    Ketika kita dengan kesungguhan melepaskan ikatan materialisme, dari percintaan dunia, pikiran kita menjadi begitu terang dan jernih. Kita bisa memahami ayat-ayat Alkitab dengan benar. Kita bisa begitu betah duduk diam di kaki Tuhan. Hati kita bisa terarah ke Kerajaan Surga, yang mana itu tidak bisa kita lakukan dulu ketika kita masih ingin punya uang dan fasilitas. Bukan salah punya uang atau fasilitas, tapi tujuan hidup kita bukanlah uang dan fasilitas tersebut. Tujuan hidup kita itu Tuhan. Makanya Tuhan Yesus berkata,
    10 min
  • Dosa Materialisme
    Tanpa disadari, ada satu pengajaran yang membuat banyak orang Kristen tidak bersiap-siap menyambut Tuhan atau tidak berjaga-jaga menyambut kematiannya. Ajaran itu ialah mengenai antikris. Pada umumnya, ketika berbicara mengenai antikris, mereka selalu memandangnya dari perspektif futuris bahwa antikris akan datang nanti. Memang Alkitab berkata: “nanti akan datang.” Tetapi ketika ditulis “nanti akan datang,” itu sekitar tahun 60 Masehi; sudah 1900 tahun yang lalu. Jadi, “antikris akan datang nanti” tidak boleh diukur dari waktu kita sekarang, tapi harus diukur dari waktu ketika firman Tuhan itu ditulis. Pada intinya, memandang tokoh atau sosok antikris itu tidak boleh hanya secara futuris, tetapi juga harus dilihat secara historis. Karena kesalahan ini, banyak orang Kristen tidak berjaga-jaga secara benar atau secara proporsional. Mereka memandang bahwa antikris belum datang, sehingga tidak bersiap-siap menyongsong kedatangan Tuhan, atau tidak berjaga-jaga menghadapi kematiannya. Dan tanpa disadari, ini menyesatkan. 
    Kalau kita membaca Lukas 17, dikatakan oleh firman Tuhan, “Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot, mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom, turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit, dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari dimana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.” Kalimat yang penting di ayat 32, “Ingatlah akan istri Lot.” Apa yang diingat oleh istri Lot? Kekayaan yang tertinggal di Sodom dan Gomora. Jadi, di sini tidak ada nuansa penganiayaan yang dilakukan oleh antikris tersebut. 
    Tentu kuasa gelap sudah belajar dari pengalaman. Ternyata penganiayaan fisik tidak memusnahkan orang Kristen, justru malah memurnikan iman Kristen. Penderitaan fisik membuat orang Kristen berhenti berbuat dosa. Dia pikir dengan aniaya itu, Kristen bisa digenosida; bisa dihabisi dan dipunahkan. Tapi, ternyata tidak. Firman Tuhan mengatakan di 1 Petrus 4:1, “barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa.” Jadi, sesungguhnya antikris itu sudah ada, sedang bekerja, dan akan terus bekerja lebih keras ke depan. Kekuatan di luar Injil yang berusaha untuk memadamkan, memunahkan, dan membenci Injil adalah antikris. Agama samawi seperti agama Yahudi yang juga menyembah Allah yang Esa, juga terancam oleh kekristenan waktu itu. Jadi, kekuatan yang merasa terancam karena memiliki kesamaan dalam keyakinan, akan berusaha untuk memunahkan dan menghambat kekristenan. 
    Iblis sudah belajar dari pengalaman bahwa aniaya fisik tidak memadamkan kekristenan, bahkan justru malah memurnikannya. Lalu, apa yang dilakukan oleh Iblis di akhir zaman? Jika kita membaca Kitab Wahyu 17, setelah kuda-kuda lalu sangkakala dan berbagai bencana terjadi, kita menemukan bahwa yang mengerikan itu “adanya perempuan yang memakai kain ungu dan kain kirmizi, dihiasi dengan emas permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan.” Yang paling berbahaya, yang menjadi alat kuasa gelap untuk membinasakan orang Kristen adalah materialisme. Yang dikatakan di ayat ini sebagai sebuah dosa percabulan, dimana para pejabat, pembesar, raja-raja berzina, bercabul dengan perempuan itu. Kita melihat hari ini banyak orang mau menjadi penguasa, memegang tampuk pimpinan karena uang. 
    “Percabulan” di sini bukan percabulan secara seksual, melainkan percabulan rohani; yaitu ketika hati seseorang terikat pada materi. Ingatlah akan istri Lot. Hari ini, orang makan minum, kawin dikawinkan, menanam, membeli, menjual, membangun. Itu adalah sebuah perputaran siklus kehidupan dimana orang menjadi sibuk dengan kehidupan yang langsam seperti itu, sehingga mereka lupa bahwa mereka akan menghadap pengadilan Tuhan.
    13 min
  • Membangun Kualitas Diri
    Sebagai manusia yang bersosialisasi, kita pasti memiliki dan mengalami berbagai dinamika. Dinamika hidup sebagai anak dalam interaksi dengan orangtua; dinamika sebagai suami/istri dengan pasangan hidup; dinamika sebagai orangtua yang berinteraksi dengan anak dan mertua, dinamika sebagai pelajar saat SD, SMP, atau SMA, lalu mengalami dinamika sebagai mahasiswa, bagi yang sedang atau pernah kuliah. Ada orang yang merasa beruntung bisa kuliah dan bersemangat untuk menyelesaikan suatu strata gelar, lalu nantinya mau meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kita juga mengalami dinamika dalam keluarga. Memang, tidak sedikit keluarga yang berantakan, sehingga dinamika hidupnya menyisakan goresan pedih. Misalnya tidak menikmati dinamika yang indah sebagai anak. Dinamika hidup sebagai Ibu, Bapak, atau pasangan, juga kita alami. Dinamika saat mengalami indahnya berpacaran, jatuh cinta, dan membangun hubungan dengan lawan jenis, terutama dinamika cinta pertama. 
    Kalau kita disuruh menyaksikan atau menulis pengalaman atas dinamika hidup sebagai anak-anak Allah, kira-kira apa yang kita saksikan? Apa yang kita kenal mengenai Allah, apa yang kita rasakan tentang Dia, dan apa yang kita kenali di dalam diri kita dalam berinteraksi dengan Allah? Kalau seseorang benar-benar berinteraksi dengan Allah, maka dia akan mengenal dirinya; dari kacamata Allah, dari pandangan Allah, dari perspektif Allah. Kita pasti juga mengenal Allah dalam pengalaman, bukan sekadar dari buku bacaan atau ilmu pengetahuan. Kita harus bisa merasakan, karena Allah kita hidup. Ia berjanji menyertai kita sampai kesudahan zaman. Di dalam Alkitab, kita menemukan bermacam-macam tipe manusia yang sudah berinteraksi dengan Allah, sehingga kita menemukan dinamika hidup dari umat yang berinteraksi dengan Allah yang hidup. 
    Inilah jalan berkat, jalan rahmat yang tidak ternilai. Karena melalui pengalaman-pengalaman tersebut, kita diberi bimbingan dan tuntunan bagaimana kita juga memiliki dinamika hidup dalam berinteraksi dengan Allah. Dinamika hidup dalam berinteraksi dengan Allah ini merupakan proses yang terus bertahap, makin berkualitas tinggi. Sama seperti anak yang masih umur di bawah 10 tahun berinteraksi dengan orangtua, ada dinamikanya. Tapi ketika anak itu bertumbuh dewasa, menjadi anak yang baik, dengar-dengaran, bertanggung jawab, maka dinamika hidup dengan orangtuanya makin berkualitas. Orangtua bisa menikmati anak, anak juga bisa menikmati orangtua. Tapi kalau anak tidak tumbuh dewasa, maka dinamika hidup dalam berinteraksi antara anak dan orangtua jadi tidak berkualitas.
    Berbagai dinamika dalam hidup ini—disadari atau tidak disadari—membentuk, membangun keberadaan kita; keberadaan batin kita, bahkan juga keberadaan fisik. Karena, batin tidak bisa dipisahkan dari fisik. Jadi, keberadaan kita ini sangat dipengaruhi oleh dinamika hidup yang kita jalani. Misalnya kalau berteman dengan orang yang suka begadang, pasti kita memiliki tubuh tidak atau kurang baik, artinya hubungan tersebut memberi pengaruh buruk. Ada satu dinamika hidup yang terindah, yang Allah tawarkan dan berperan dalam menentukan nasib kekal kita, yaitu dinamika bergaul dengan Allah. 
    Seperti agama Yahudi yang memiliki seremonial sehingga kehidupan umatnya dikondisi untuk menghayati Allah, misalnya doa sekian kali dalam satu hari dan berkiblat ke Yerusalem; Hukum Taurat pun mengatur bagaimana cara berpakaian, mengatur apa yang dimakan (halal atau haram), dan lain-lain, apakah kita memiliki dinamika dalam bergaul dengan Allah sampai membentuk hidup kita? Yaitu sesuai dengan maksud keselamatan diberikan, sampai mengalami apa yang dikatakan dalam Yohanes 17, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku.” Maka Yesus mengatakan di dalam Injil Yohanes 15, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.
    10 min
  • Dialog Tiada Henti
    Gairah yang paling merusak hidup orang Kristen hari ini adalah matrealistis atau materialisme, sehingga mengondisi orang tidak menjadi satu roh. Jangan berpikir belum ada antikris, apalagi kalau konsep antikris nanti memaksa orang tidak beragama. Pasti bukan hanya orang Kristen yang melawan; orang beragama lain pun ramai-ramai melawan. Setan itu cerdas. Dia membuat orang Kristen tidak menyembah Allah lain, tidak menyembah dewa-dewa, tapi terikat dengan materi atau materialism itu. Hal ini sama juga dengan menyembah Iblis. Di Lukas 4:5-8, Iblis menunjukkan kepada Yesus keindahan dunia, lalu Iblis berkata: “kalau Kamu menyembah aku, kuberikan dunia ini kepada-Mu.” Jadi, Iblis mensubkan dirinya diwakili oleh keindahan dunia; siapa yang mengingini dunia—memiliki gairah menikmati dunia—berarti ia menyembah Iblis. 
    Sejatinya, gairah hidup kita rata-rata demikian; kita telah teracuni. Sekarang, bagaimana kita didetoks oleh Firman dan melakukan pertobatan setiap hari. Pada intinya, jika kita merasa ‘nyaman’ dengan barang, kedudukan, jumlah uang yang kita miliki, hal ini bisa diartikan bahwa kita menyembah Iblis. Namun, Tuhan dalam kesabaran-Nya yang tinggi masih memberi kesempatan kita untuk ‘pulang,’ seperti kisah anak terhilang. Banyak kita temukan, demi materi, orang bisa membunuh dan menghalalkan segala cara. Ini disebabkan oleh anggapan bahwa materi adalah nilai tertinggi. Bukan tidak boleh jadi seorang yang memiliki uang banyak, berkedudukan tinggi, atau punya gelar. Tapi untuk apa dan untuk siapa semua itu? Mestinya prinsip kita adalah, “Baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah,” karena nilai tertinggi kita adalah Tuhan. Namun, hampir-hampir tidak kita temukan orang yang seperti itu. 
    Semetara, Iblis menggelontori berkat materi untuk menyandera kita dalam pola hidup dan gaya hidup yang salah tersebut. Bukan tidak boleh menjadi kaya, tetapi jangan kita terikat oleh kekayaan tersebut. Siapa mengikatkan dirinya dengan Allah, menjadi satu roh. Sesuai dengan doa Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17:20-21, “Engkau dalam Aku, Aku dalam Engkau, ya Bapa. Ya Bapa,” kata Tuhan Yesus, “dan mereka dalam Kita.” Kita membutuhkan materi, benar. Karenanya kita studi, kuliah, kerja, cari nafkah. Tapi jangan kemudian kita menjadikan materi sebagai tujuan. Paulus sudah mengingatkan kita dalam 1 Korintus 6:12, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.” Apa salahnya buat ini atau itu? Tidak salah, tapi: pertama, apakah itu berguna? Pertimbangkan, berguna untuk apa dan untuk siapa? Kedua, apakah kita diperhamba tidak oleh hal tersebut? 
    Ironis, jarang orang sampai taraf berani menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Belum sampai, karena tidak berani all-out untuk Tuhan. Selain Tuhan tidak kelihatan, kita juga punya citarasa yang sudah terlanjur salah. Kalau kita mau menjadi warga Kerajaan Surga, “citarasa” kita harus diubah. Kita harus mengalami proses perubahan; didetoks oleh Firman. Mengikatkan diri dengan Allah, menjadi satu roh, kalau selera kita sama dengan Allah. Kalau firman Tuhan mengatakan dalam Filipi 2:5-7, “hendaknya dalam hidupmu kamu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus,” supaya kita memiliki selera yang sama. Biar kita tidak cantik di mata dunia, tapi kita harus punya citarasa rohani, sebab itu yang membuat Tuhan senang. Sebaliknya, walaupun kita cantik seperti Miss Universe, tapi kalau tidak punya selera seperti Tuhan, kita akan dibuang ke neraka. 
    Rata-rata, kita belum memiliki selera Tuhan karena sudah terpapar oleh dunia, sehingga terlanjur menjadi rusak. Mari mulai hari ini kita bertobat, mengikatkan diri dengan Allah. Kita buang semua gairah yang bukan dari Allah. Kalau kita tidak mau bertobat dan menyia-nyiakan kesempatan ini, maka ketika kita nanti melihat keagungan Tuhan,
    9 min
  • Membangun Persahabatan dengan Allah
    Sejatinya, kita harus mengakui bahwa kebanyakan dari kita belum mempunyai dinamika yang benar dengan Allah, karena pengaruh dunia sudah begitu kuat. Maka, kita harus berjuang terus. Apalagi dengan adanya teknologi yang canggih, misalnya gadget yang kita miliki, yang isinya bermacam-macam. Sebagai seorang hamba Tuhan yang baik dan benar dan mau diurapi Tuhan, kita tidak akan membuka tontonan apa pun kecuali khotbah yang di mana di situ Tuhan berbicara. Maka, mari kita berdinamika dalam interaksi dengan Allah secara benar, sehingga Tuhan bisa menikmati kita. Sejatinya, Allah tidak bisa disenangkan dengan apa pun, karena Allah bisa berbuat apa saja. Tetapi kalau ada makhluk ciptaan yang memiliki kehendak bebas—dimana dia bisa taat, tapi juga dia bisa tidak taat; dia bisa mengabdi, tapi dia juga bisa memberontak—namun ia memilih taat dan mengabdi dan mencintai Allah serta menghormati Dia, maka hal ini akan membahagiakan hati Tuhan; menjadi kesukaan hati Tuhan.
    Dinamika hidup dalam bergaul dengan Allah, jika sampai terbangun, maka kita bisa merasa tidak membutuhkan apa pun. Kita bisa menjadi orang yang tahan menghadapi segala keadaan, sehingga kita menjadi kuat. Kita akan memiliki sukacita yang tidak bisa dimengerti orang. Namun, biasanya keluarga dekat dan sahabat yang tidak takut akan Allah bisa men-distract kita. Maka, kita harus duduk diam di kaki Tuhan untuk membenahi hidup kita. Khususnya bagi para hamba Tuhan, kita harus punya waktu untuk duduk diam di kaki-Nya, sehingga bisa menerima pesan-pesan dari Tuhan. Kita bisa belajar bagaimana seorang Henokh bergaul dengan Allah, sehingga Allah tidak mau berpisah dengan pribadi atau sosok ini. Pada zaman sekarang, di tengah-tengah dunia yang sudah rusak dan bejat, dimana semua diarahkan untuk berdinamika dengan dunia, kita memilih sebaliknya, yaitu berdinamika dengan Allah. Betapa berharganya dan bernilainya kita.
    Di dalam Alkitab, kita menemukan orang-orang yang menarik hati Allah, seperti misalnya Daud. Walaupun Daud juga tidak luput dari kesalahan, tetapi hatinya mengasihi Allah. Nuh juga mendapat kasih karunia. Dia benar di mata Allah karena menjauhi kejahatan. Karena keadaan itulah dia bisa bergaul dengan Allah. Tentu Nuh orang yang takut akan Allah, sehingga perjanjian-Nya diberitahukan kepadanya. Jadi, apa pun kebutuhan dan masalah hidup kita, masalah utama kita adalah membangun persahabatan dengan Allah. Maka berapa pun harganya, harus kita penuhi. Jangan sampai kita berbuat salah. Jangan kita terikat dengan dunia dan kesenangan-kesenangannya. Hanya orang yang berjalan dengan Allah, yang benar-benar merindukan Allah, dirindukan oleh Allah juga.
    Maka, jangan kita mempunyai prioritas lain. Satu-satunya dunia kita hanyalah Tuhan. Kalau seseorang sejak muda memiliki dinamika bergaul dengan Allah, pasti hidupnya akan luar biasa. Dia tidak akan berbicara soal jodoh, uang, rumah, karena itu bukan hal yang prioritas. Jangan mengotori pikiran kita. Jangan melihat apa yang tidak patut dilihat, dan jangan mendengar yang tidak perlu didengar, termasuk percakapan yang sia-sia. Kita harus tegas untuk menjaga hidup kita. Sebab kalau pikiran kita rusak, Setan akan mudah memengaruhi kita. Maka perhatikan dengan saksama cara kita menggunakan media sosial, tentu kita harus berhati-hati. Media sosial bisa dipakai Tuhan, tetapi sekarang ini justru lebih banyak dipakai Setan. Kalau kita ceroboh dalam menggunakannya, kita akan merusak dinamika hidup kita dalam bergaul dengan Allah. 
    Isi jiwa kita dengan kebenaran yang murni, sebab kalau jiwa kita lengkap oleh kebenaran-kebenaran Firman, kita baru bisa berkata: “Hanya Tuhan yang kubutuhkan.” Tetapi kalau jiwa kita belum lengkap, belum utuh, belum dewasa karena belum banyak mengonsumsi kebenaran sehingga belum terbangun sirkuit pengertian yang benar dalam nalar pikiran kita, maka kita masih merasa membutuhkan yang lain. Seharusnya, berapa pun harganya, kita harus bertekad untuk memiliki dinamika hidup bergaul dengan Allah....
    9 min
  • Memiliki Perjumpaan dengan Tuhan
    Di dalam agama-agama samawi—agama yang juga memercayai ada Allah Yang Mahakuasa, yang memberikan Wahyu dalam kitab suci yang diyakini sebagai firman Allah; yang percaya bahwa Allah akan membawa setiap orang kepada pertanggungan jawab—mereka memiliki seremonial. Melalui seremonial itu, mereka menghayati Allah; atau umat dikondisi untuk menghayati Allah. Misalnya, doa sekian kali dalam satu hari, ada hari-hari suci tertentu yang mereka harus rayakan. Setiap setahun sekali, mereka harus berziarah. Ada hukum yang mengatur bagaimana cara berpakaian, mengatur apa yang dimakan, artinya yang boleh dimakan; yang halal, dan yang tidak boleh dimakan; yang dianggap haram. Jadi perjalanan hidup mereka setiap hari itu dikondisi untuk menghayati Allah, dan di situlah ada dinamika hidup. Dinamika hidup ber-Tuhan, versinya. 
    Bagaimana dengan kita? Apa yang kita lakukan untuk menghayati keberadaan Allah? Apa dan bagaimana dinamika hidup kita sebagai “orang beragama Kristen,” tepatnya orang percaya atau umat pilihan Allah? Kita tidak bisa membantah kenyataan kekristenan sering dianggap atau diperlakukan seperti agama. Kalau agama-agama samawi, mereka memiliki hukum, tata cara kehidupan sesuai dengan hukum, syariat yang mengondisi mereka, memiliki dinamika tertentu dalam beragama. Lalu, Kristen memiliki apa? Apakah hanya “haleluya?” “Darah Yesus” bagi mereka yang beraliran gereja tertentu. Atau mau makan, berdoa; mau tidur, berdoa. Datang ke gereja hari Minggu. Cukupkah itu? Kalau kita melihat hidup kita sebagai orang Kristen, apakah dinamika hidup yang kita miliki sebagai “orang beragama Kristen” atau sebagai orang percaya atau sebagai umat pilihan sudah sesuai dengan dinamika yang Allah kehendaki? Pernahkah kita mempersoalkan, “Tuhan, dinamika hidupku ini sudah benar, belum?” 
    Ada hal yang harus kita pelajari yaitu: reset; diatur ulang. Tuhan me-reset kita melalui pengalaman-pengalaman hidup, terutama yang mengguncangkan perasaan dan hidup kita. Seharusnya satu-satunya hal yang kita mau capai dalam hidup ini adalah berkodrat ilahi. Seorang pelayan Tuhan yang mengalami perubahan secara terus-menerus, hidupnya pasti mengubah orang. Tidak mungkin khotbahnya stagnan. Kalimat “nyanyikan nyanyian baru,” artinya bukan syairnya baru, tetapi pengalaman baru yang melahirkan syair baru. Lagu-lagu yang ditulis oleh orang yang mengalami proses pertumbuhan dengan Tuhan, kualitas kedalaman kata-katanya pasti lebih. Sebelum berdiri di depan takhta pengadilan Allah, kita harus belajar untuk menghadap Tuhan setiap hari agar kondisi batin kita diperiksa dengan benar. Pasti kita akan memiliki pengalaman-pengalaman yang tidak bisa diungkapkan kepada orang lain. Perjumpaan dengan Tuhan dalam doa, itu mahal sekali. Dari perjumpaan dengan Tuhan di jam doa itu, kita akan bisa mengenali diri sendiri, bagaimana keadaan kita di hadapan Tuhan.
    Orang yang tidak memiliki perjumpaan dengan Tuhan, tidak mungkin memiliki takut akan Allah. Takut akan Allah tidak bisa diformatkan dengan kalimat, tetapi harus dialami. Herannya, makin sekolah teologi, makin tidak berdoa. Kalau Sekolah Tinggi Teologi hanya untuk mencari hidup, mencari uang, itu jahat. Kita harus “tenggelam” terus dengan kebenaran. Sebab, ilmu bisa dibaca melalui buku. Kita boleh sibuk, tapi duduk diam di kaki Tuhan itu mutlak. Pasti berdampak, sehingga mengalami dinamika hidup bergaul dengan Allah. Setan itu lebih licik dan lebih jahat dari yang kita duga. Evil, wicked, cruel; jahat! Kita tidak bisa bergaul dengan Allah, sementara kita masih memberi ruangan bergaul dengan dunia. Maka. Jangan mendengar, berdialog, terlibat percakapan yang tidak perlu dan tidak melahirkan Firman. Karena, “iman datang dari pendengaran. Pendengaran oleh rhema,” bukan logos. 
    Kita harus berusaha agar “Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus.” Sudahkah kita berbuah seperti yang Allah kehendaki? Yang pertama dalam berdinamika dengan Allah yaitu pertemuan dengan Allah. Yang kedua, apa prioritas kita?
    8 min
  • Tidak Menaruh Curiga
    Kita sering kali merasa bingung dan ragu ketika Tuhan seakan-akan membuat kita di pihak yang kalah. Ketika kita dijahati orang, dimusuhi orang, ditindas, direndahkan, dikhianati, difitnah, lalu Tuhan membiarkan keadaan itu dalam beberapa waktu. Kita tidak melihat cahaya pertolongan Tuhan, kita tidak melihat pintu yang terbuka dimana kita dapat meloloskan diri. Kita seakan-akan dipojokkan di satu situasi di mana kita seperti dieksekusi atau dihukum mati. Kita bingung, mengapa demikian? Pasti kita pernah mengalami ini, atau jangan-jangan sekarang sedang mengalami hal ini. 
    Hal seperti ini bukan hal yang luar biasa dalam kehidupan orang Kristen. Itu hal yang bisa terjadi, dan itu bagian hidup kita yang tidak terpisahkan. Tuhan Yesus mengatakan kalau kita memanggil Dia ‘Tuhan’ dan ‘Guru,’ maka kita juga mengalami apa yang Dia alami. Dan tentu kita juga harus melakukan apa yang Ia lakukan. Mungkin kita seorang pegawai yang ditindas, ditekan oleh atasan, dan diperlakukan tidak adil oleh rekan kerja. Kita mungkin seorang menantu yang ditindas, ditekan, dianiaya oleh mertua. Atau bahkan mungkin pasangan kita sendiri yang sekarang sedang melakukan penganiayaan kepadamu. Baik penganiayaan fisik, maupun verbal. Dengan ucapan-ucapan, menekan dan menyakiti hati kita. 
    Hal itu sangat bisa terjadi di dalam hidup kita. Jadi, jangan kita heran akan hal-hal tersebut. Mungkin kita seorang pendeta atau hamba Tuhan yang ditekan oleh pimpinan di atas. Atau kita sedang disakiti oleh anak-anak rohani atau orang-orang yang pernah kita bimbing dan pimpin. Dan keadaan itu seakan-akan dibiarkan Tuhan. 
    Kita melihat kenyataan yang dihadapi oleh Tuhan Yesus. Pada waktu Ia ada di dalam penderitaan, sejak keluar dari Taman Getsemani, Ia diseret oleh pemuka-pemuka agama Yahudi dan penguasa Roma. Ia dianiaya, disiksa, direndahkan, dihina, sampai Dia disalib. Ketika di salib, Tuhan Yesus mengucapkan kalimat yang menunjukkan bahwa benar-benar Ia merasa ditinggalkan. Ia berkata kepada Bapa di surga, “Eloi, Eloi, lama sabachthani; Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” 
    Jika kita dalam keadaan seperti ini, satu kalimat yang harus kita dengar dari Tuhan: jangan mencurigai Allah. Tuhan seakan-akan berkata, “Jangan mencurigai Aku. Tetaplah percaya.” Justru situasi-situasi semacam itulah sebagai ujian apakah kita memercayai Dia, sebab kalau keadaan serba enak, menyenangkan, tidak ada situasi-situasi seperti itu, iman kita tidak teruji. Iman kita tidak menjadi berkualitas. Tetapi ketika kita di dalam situasi yang terpuruk, tertindas, dan seakan-akan Tuhan tidak di pihak kita, kita tetap memercayai Allah, kita tidak menaruh curiga kepada Allah, di situlah iman kita murni. Kepercayaan kita kepada Tuhan itu tulus, dan itu sikap memuja Allah. Memuja yang berkualitas, mengasihi yang berkualitas. 
    Dan kalau kita tetap hidup dalam kesucian, dalam kekudusan, dan ketaatan, itu ketaatan yang unconditional; ketaatan yang tidak bersyarat. Orang-orang Kristen seperti ini atau orang-orang percaya seperti ini adalah orang-orang percaya yang benar-benar pantas menjadi kekasih Tuhan. Bersyukur kalau kita dibawa ke dalam situasi seperti itu. Berarti kita istimewa di mata Allah, karena kita teruji dan mau ditingkatkan kualitas imannya. 
    1 Petrus 1 mengatakan, “Yaitu kamu yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu, sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurniaan imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api. Sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” 
    Jadi kalau kita diizinkan Tuhan dalam situasi terpuruk, tertindas, terpojokkan, teraniaya, dan Tuhan seakan-akan tidak di pihak kita,
    11 min
  • Sudah Selesai
    Setiap langkah kita adalah langkah iman. Iman artinya tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah. Setiap langkah kita, jika kita lakukan dengan baik, maka ketika kita sampai pada titik dimana kita harus meninggal dunia, barulah kita bisa berkata “sudah selesai.” Jadi selama Tuhan masih memberi waktu, belum selesai. Belum selesainya bukan karena kita belum mencapai apa yang kita mau capai, melainkan karena Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk menyenangkan Dia, yang nanti akan berlanjut di kekekalan. Misalnya jika kita seorang mahasiswa, bagaimana cara kita melakukan kehendak Allah? Salah satunya, dengan menjadi seorang mahasiswa yang belajar dengan tekun dan baik. Dan sementara belajar, kita juga harus menjaga mulut. Jangan berpacaran sebelum waktunya, juga jangan bergaul dengan orang yang salah. Setelah bangun tidur, mulailah datang menghadap Tuhan, sebab Ia memberi hari baru dengan segala penugasan-Nya untuk kita kerjakan sepanjang hari. Jika kita sebagai pedagang, baiklah kita pergi ke tempat kita berdagang untuk memenuhi penugasan dari Tuhan sebagai pedagang. 
    Tetapi bagaimana menyelenggarakan kegiatan perdagangan atau bisnis kita agar tetap dalam kebenaran dan kesucian Allah? Mintalah nasihat Tuhan. Tuhan pasti berbicara. Dan percayalah, Tuhan tidak pernah berhenti berbicara karena Dia tinggal di dalam kita. Dia pasti terus berbicara dalam segala keadaan yang kita alami. Oleh sebab itu, komitmen dan tekad kita haruslah hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Hingga ketika kita menutup mata di pembaringan, kita dapat berkata “sudah selesai.” Tapi kalau seseorang terikat dengan berbagai kesenangan, ia tidak pernah berkata “sudah selesai.” Di ujung maut pun, tetap belum selesai. Belum selesai di hadapan Tuhan karena belum melakukan apa yang Allah kehendaki, dan belum selesai dengan keinginan-keinginan yang belum tercapai. 
    Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus berpadan dengan apa yang ada. Bukan hanya sekadar hidup sederhana, melainkan merasa puas dan bersyukur dengan apa yang kita miliki hari ini, sebab kita bersama dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada yang mengeluh karena banyak masalah. Perlu kita ingat bahwa yang pertama, hidup tidak mungkin tidak bermasalah. Dalam hidup, pasti selalu ada masalah. Jadi kalau kita menghadapi suatu masalah, kita harus menerima hal tersebut sebagai realita yang memang tidak bisa dibantah. Tidak terkecuali masalah-masalah atau kesukaran-kesukaran yang besar. Yang kedua, jangan berhenti bertanya “mengapa.” Jadi kalau kita menghadapi persoalan, kita bertanya, “mengapa, Tuhan?” Itu manusiawi, tapi jangan memaksa mendapat jawaban buru-buru. Karena, persoalan-persoalan itu merupakan pendandanan Tuhan; kosmetik abadi untuk manusia batiniah kita. Pasti Tuhan memiliki rancangan, karena semua di dalam kendali Tuhan, dalam kontrol Tuhan. Tidak ada yang terjadi tanpa kendali Allah. 
    Karena kita adalah anak-anak Allah, maka Allah pasti kendalikan dan mengontrol kehidupan kita dengan sempurna. Lebih dari berkat jasmani dan kenyamanan yang Allah bisa berikan dalam hidup kita, Allah menghendaki kita dipersiapkan untuk menghadap Tuhan dan menikmati hidup yang sesungguhnya, nanti di balik kubur. Kalau kita sekarang menjalani hidup, kita bisa merasa cukup; tidak ada yang kita rasa “harus” capai. Ingat, “baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Harus kita persoalkan, apa yang kita inginkan itu merupakan kebutuhan atau keinginan? Kebutuhan pun harus dibawa kepada Tuhan, “ini kebutuhan Tuhan, atau kebutuhanku?” 
    Melakukan kehendak Allah harus dimulai dari hari ke hari. Setiap kita membuka mata pada pagi hari, kita sudah mulai menghadap Allah. Kita harus mempertajam kepekaan kita dalam mendengar suara Tuhan, untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan di tempat kita masing-masing; baik sebagai mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha, praktisi hukum, tenaga medis, dan lain sebagainya.
    13 min
  • Merdeka
    Ada satu kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus di kayu salib yang memuaskan hati Allah Bapa, yaitu “sudah selesai; tetelestai.” Tidak ada orang yang lebih merdeka dari orang yang sudah sampai pada tingkat “sudah selesai.” Manusia pada umumnya—atau hampir semua manusia—bergerak, melakukan berbagai kegiatan hidup untuk mencapai apa yang dia pikir belum dicapainya, meraih apa yang dia pikir belum diraih, dan menurutnya harus diraih. Itulah sebabnya, orang terus menggeliat untuk meraih atau mencapai apa yang dia pandang belum dia raih dan capai, dan itu berarti hidupnya belum terasa lengkap; hidupnya belum terasa utuh. Ia tidak bisa berkata “sudah selesai,” tetapi dia akan selalu berkata “belum selesai.” Hidup manusia dihabiskan untuk hal-hal demikian. Dan sebenarnya, tanpa disadari, manusia menjadi terbelenggu, terikat. 
    Bagi kita, ada satu hal yang harus kita genapi yang pada akhirnya kita juga bisa berkata, “sudah selesai.” Masing-masing orang memiliki konsep—pemahaman dan pengertian—yang berbeda mengenai hal ini. Kalau anak kecil melihat temannya punya gadget, ia merasa kalau ia belum punya gadget, maka dia belum happy. Ia akan meminta kepada orangtuanya untuk dibelikan gadget. Mulai besar sedikit, ia lihat temannya punya sepeda, dia merasa belum lengkap kalau belum punya sepeda. Ketika masuk remaja, dia lihat temannya punya motor, dia merasa belum lengkap kalau belum punya motor. Yang lain punya pacar, dia belum punya pacar. Maka, ia merasa hidupnya tidak lengkap atau belum lengkap. Ketika sudah mennikah, melihat yang lain punya anak sementara dia belum punya anak, dia juga merasa hidupnya belum lengkap, dan seterusnya. 
    Kalau pendeta, mungkin agak sedikit kelihatan rohani. Gedung gereja yang digunakan bukan merupalkan milik pribadi atau masih mengontrak, ia berusaha berpikir bagaimana caranya supaya bisa memiliki gedung atau tempat sendiri. Sesudah punya gedung gereja sendiri, kembali berpikir bagaimana menambah luas lahan untuk parkir. Sudah punya halaman luas untuk parkir, ia berpikir lagi bagaimana membuat universitas atau proyek lainnya. Bukan tidak boleh. Semua keinginan tersebut akhirnya membuat Tuhan tidak menjadi tujuan. Dan inilah yang sekarang sedang membelenggu hampir semua manusia. Betapa sulit dan nyaris mustahil untuk mewujudkan gaya hidup orang Kristen yang ideal, bagi orang yang sudah terbiasa atau terlalu lama memiliki filosofi duniawi pada umumnya. Tetapi kalau kita sudah terpanggil, terpilih sebagai umat pilihan, tidak bisa tidak, kita harus mengenakan gaya hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Kita tidak bisa menghindari itu. 
    Ketika ada seorang berkata kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, aku mau ikut ke mana pun Engkau pergi.” Jawaban Tuhan seperti tidak menjawab pertanyaan dari orang tersebut, dimana sebenarnya Tuhan bisa menjawab “boleh” atau “tidak.” Tuhan menjawab dengan satu pernyataan, “serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seakan-akan Tuhan mau berkata, “Jika kamu ikut Aku, maka tidak ada lagi yang kamu harapkan.” Jadi, apa yang ditarget oleh Tuhan Yesus ini? Yohanes 4:34, “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Kalau dalam teks terjemahan lama dikatakan: “rezeki-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Dari bangun tidur sampai tidur lagi, orang mencari rezeki. Rezekinya tentu uang, biasanya begitu. Tetapi rezeki Tuhan Yesus adalah melakukan kehendak Bapa. Jadi, yang penting adalah bagaimana seseorang melakukan kehendak Bapa. Dan setiap orang, tentu berbeda-beda dalam melaksanakan kehendak Bapa itu. 
    Apa pun dan bagaimanapun, setiap individu harus memperkarakan hal melakukan kehendak Bapa ini. Jadi, memang mutlak. Begitu bangun tidur, seseorang harus menghadap Tuhan yang memberi hari, kehidupan, dan kesempatan, lalu berkata, “apa yang harus aku lakukan, Tuhan?” Apalagi orang percaya yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus dimana kita bukan milik ...
    10 min
  • Tahap Demi Tahap
    Kita datang tidak membawa apa-apa dalam hidup ini, dan kita pun akan pulang tanpa membawa apa-apa. Oleh sebab itu, mari kita tekati. Apa pun yang kita kerjakan, itu hanya untuk Tuhan, supaya kita memperoleh Dia. Apa pun. Olahraga pagi, kerja, bisnis, studi, karier. Kita tidak bisa memiliki Tuhan dengan malas-malasan. Kita tidak bisa memiliki Tuhan dengan kehidupan yang tidak bertanggung jawab. Tetapi terutama, kesucian hidup. Dan kita tidak bisa memiliki Allah sebagai harta kalau merasa memiliki harta yang lain. Kita harus berkata. “Engkau satu-satunya hartaku. Kalau aku punya yang lain, semua itu gunakan untuk menemukan Engkau. Setelah menemukan Engkau, semua kugunakan untuk menyenangkan Engkau.” Di sisi lain, kita berkata kepada harta, “Kamu tidak punya bagian apa-apa dalam hidupku, dan aku tidak punya bagian apa-apa dalam dirimu.” 
    Harta itu bisa barang, bisa uang, atau seseorang. Dan ketika kita bisa berkata, “Tuhan, Engkau satu-satunya hartaku,” baru kita menjadi perawan suci. Sehingga Tuhan pun bisa berkata, “engkau harta-Ku, kekasih-Ku, milik-Ku.” Namun bisa terjadi suatu saat kita kecewa terhadap siapa pun atau apa pun; Tuhan bisa bawa kita kepada situasi itu. Kita bersyukur kalau kita berada di situasi itu; dimana kita merasa sendiri tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa, karena memang “di surga hanya ada Engkau. Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Jadi, bersyukur kalau kita mengalami situasi seperti ini, karena kita dipersiapkan menjadi mempelai Tuhan. Proyek ini mahal sekali; proyek dimana Allah mengubah kita dengan mengadakan banyak kejadian yang membuat kita begitu patah hati dengan dunia. 
    Tetapi kalau kita tidak mengalami ini pun, tidak apa-apa. Tidak harus mengalami. Bagi kita yang sudah mengalaminya, bisa lebih menghayati bahwa satu-satunya yang kita butuhkan itu Allah, sehingga kita bisa berprinsip: “Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Dan selanjutnya kita bisa menyatakan, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Kita tidak bisa ikut Tuhan Yesus kalau kita masih memiliki sesuatu. Kita harus hanya memiliki Bapa. Kesetiaan kita dan kesetiaan Tuhan Yesus berpadu indah. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada orang yang mengikuti Dia, “Jual segala milikmu. Bagaikan kepada orang miskin, datang ke mari ikutlah Aku.” 
    Tuhan tidak akan berjalan dengan orang yang masih cabul, yang melakukan perzinaan. Orang cabul adalah orang yang memiliki ikatan dengan dunia. Orang-orang Kristen seperti ini akan berani bertindak seperti Esau yang menukar hak kesulungan dengan semangkuk kacang merah. Kalau kita mau menghargai hak kesulungan kita—yang adalah orang-orang dikatakan Alkitab memiliki karunia sulung Roh, artinya orang-orang yang dimungkinkan untuk menjadi serupa dengan Yesus—jangan menukar hak kesulungan kita dengan kesenangan-kesenangan dunia. Ini memang berat, sebab cara berpikir dan filosofi hidup seperti ini tidak dikenal oleh dunia. Tetapi bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Orang kaya yang disuruh menjual seluruh hartanya dan membagikan kepada orang miskin lalu ikut Yesus, tidak mau karena hatinya telah terpasung oleh hartanya yang banyak (Mat. 19). Dan murid-murid-Nya mulai guncang, gempar, dan berkata satu dengan yang lain: “Jika demikian, siapa yang bisa diselamatkan?” 
    Tuhan juga menjawab pertanyaan orang, “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Dengan jawaban yang seirama dengan pernyataan Tuhan di Matius 19, “Berjuanglah masuk jalan sempit, karena banyak orang berusaha, tetapi sedikit orang yang masuk. Tetapi yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.” Jangan kekristenan kita luntur, jangan api kecintaan kita kepada Tuhan menjadi pudar dan padam karena masalah hidup. Satu-satunya tujuan hidup kita adalah Tuhan, karena Dia satu-satunya kebutuhan kita. Dan kalau sekarang kita bisa memahami ini bahwa Dia dahsyat karena Dia satu-satunya kebutuhan hidup kita,
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…