Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Autorefleks
    Dalam Matius 9:12-13 dikatakan, “Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Pasti semua kita pernah meminta sesuatu kepada Tuhan; baik itu menyangkut masalah kesehatan, keuangan, rumah tangga dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah kita sungguh-sungguh memohon belas kasihan Tuhan untuk kesembuhan jiwa kita?  
    Mengatakan hal ini, bukan berarti kita sakit jiwa seperti orang gila, yang sekarang dirawat di rumah sakit gila. Tetapi sejatinya, jiwa kita belum utuh, karakter kita belum sesuai dengan kehendak Allah, dan patut kita mempersoalkan hal ini dengan sungguh-sungguh. Bagaimana tahu bahwa kita masih sakit jiwa? Coba teliti, ada autorefleks yang kita miliki, yang memang tidak dipersiapkan tetapi sudah menjadi karakter yang mendarah daging. Auto berarti otomatis dari diri sendiri; refleks berarti tidak disengaja. 
    Misalnya dalam percakapan, kita mau menunjukkan keberhasilan dalam bisnis, kekayaan, merek arloji, pengalaman pernah pergi ke mana-mana. Saat berkendaraan, mobil kita dipotong, maka secara autorefleks marah. Ketika mendengar sesuatu tentang kita atau orang mengucapkan kalimat yang melukai kita, autorefleks tersinggung, sakit hati. Masing-masing kita berbeda, karena kelemahan masing-masing orang juga berbeda. Tetapi kita harus menyadari keberadaan tersebut. Sehingga, autorefleks dari hal yang negatif berubah menjadi hal yang positif. 
    Saat ditabrak orang, kita tidak marah lagi, melainkan bertanya, “Ada apa ya? Mungkin perlu ditolong?” autorefleks–nya positif. Ketika dilukai orang, autorefleksnya adalah “Tuhan mendewasakan aku. Terimakasih Tuhan.” Kita harus menyadari, bahwa inilah yang harus dibereskan lebih dari masalah ekonomi, masalah kesehatan fisik bahkan lebih dari segala sesuatu.
    Maka, sejak sekarang kita harus mulai menggumuli hal ini. Mengapa Tuhan izinkan kita mengalami berbagai persoalan-persoalan hidup? Supaya autorefleks bisa kita kenali; kalau tidak ada masalah, kita tidak tahu di mana kelemahan kita. Dan kalau jiwa kita masih belum utuh, kita tidak layak menjadi mempelai Tuhan. Kita memiliki cacat karakter yang kita miliki dari: yang pertama, gen. Kalau orangtuanya memang orang yang suka tersinggung, mudah sakit hati anaknya juga. Kalau dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah ‘kromosom,’ yang memberi watak karakter kita. 
    Yang kedua, lingkungan. Jika waktu kecil sering diperlakukan tidak adil, maka ketika seseorang membuang muka, kita merasa direndahkan. Padahal belum tentu dia merendahkan, mungkin saja dia tidak melihat keberadaan kita. 
    Iblis melihat di mana cacat karakter kita, maka Iblis akan menyediakan umpan sesuai dengan kelemahan kita supaya sakit jiwa kita bertambah, cacat karakter kita semakin akut, semakin parah sampai tidak bisa diperbaiki, dan tidak pernah merindukan Kerajaan Surga.  
    Contoh sederhana, kalau kita disakiti orang, autorefleks kita marah. Tetapi kita berkata, “Tidak apa-apa,” walau masih terpaksa, masih belum tulus. Namun lambat-laun temperamen gampang marah, gampang tersinggung akan makin pudar sampai akhirnya mati. Allah mengizinkan. Bagi Iblis umpan itu membuat sesorang tambah rusak, tetapi Tuhan pakai untuk menyembuhkan. Jadi, kesempatan berbuat dosa sebenarnya juga kesempatan untuk menyenangkan Tuhan, kalau kita tidak melakukan dosa itu. Kita bahkan bisa dibawa kepada satu situasi yang sulit sekali, tidak ada jalan keluar, tetapi itu sebenarnya menyembuhkan sakit jiwa kita.
    Menjadi Kristen itu sekolah, dalam persoalan hidup itulah proses belajar dan sekaligus proses perubahan.  Kita harus mengerti dan menjadi cerdas. Semakin besar masalah yang kita hadapi, sebenarnya sebuah proses pemulihan yang diharapkan lebih cepat, supaya kita juga cepat dipulihkan.
    11 min
  • Sandera Iblis
    Dulu waktu kita masih suka nonton film, sering atau kadang-kadang, atau tidak sedikit film yang menggambarkan tentang penyanderaan. Mungkin kita pernah menyaksikan film mengenai atau bertemakan tentang penyanderaan. Apakah yang disandera itu sebuah pesawat terbang dengan banyak penumpang, atau yang disandera itu seseorang, biasanya anak orang kaya. Lalu, penyandera minta uang tebusan; ransom, begitu dalam bahasa Inggrisnya. 
    Kita menyaksikan film mengenai penyanderaan, kita bisa sedikit menghayati atau banyak menghayati kegelisahan orangtua yang anaknya disandera. Tapi seberat-beratnya mata memandang, begitu peribahasa, lebih berat bahu memikul. Kita bisa menyaksikan kisah penyanderaan, kita bisa sedikit atau banyak menghayati. Tetapi kalau kita sendiri menjadi korban; orangtua yang anak kesayangan, anak kecintaan, atau cucu kesayangan atau cucu kecintaan disandera, berapapun kita berani bayar. Kita pasti berani bayar. Uang, harta menjadi tidak bernilai, menjadi tidak berharga.
    Satu nyawa dari orang yang kita cintai itu bisa lebih dari semua harta yang kita miliki. Tidak berlebihan, bukan? Ini tidak hiperbola dan tidak lebay. Kalau itu misalnya anak satu-satunya, kita bisa tukar nyawa kita sendiri, demi anak itu. Pernahkah kita berpikir bahwa kita adalah orang yang disandera oleh Iblis, dalam bayang-bayang api kekal, dan terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya? Pernahkah kita berpikir kita adalah orang-orang yang sudah dieksekusi hukuman mati kekal; terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya? 
    Coba, kita sebentar merenungkan hal ini. Jangan cepat-cepat merespons “sudah tahu.” Coba kita tenang, teduh sebentar, dan menghayati hal ini. Kita orang-orang yang disandera, dan tidak ada jalan untuk kelepasan. Tidak ada jalan untuk pembebasan. Tidak ada, kecuali satu korban yang harus dipertaruhkan. Yohanes 3:16, ayat yang sudah sering kita dengar, “Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” His begotten Son; Anak-Nya yang tunggal. Tidak ada cara lain Allah Bapa dapat menyelamatkan kita, kecuali melalui Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus, yang Bapa relakan harus dipertaruhkan demi penebusan, pelepasan, pembebasan kita. Menjadi ransom; tebusan. 
    Kita renungkan kembali hal ini, supaya kita tidak lupa diri, supaya kita tidak menjadi orang yang bisa dianggap tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih. Bapa telah memberikan Putra-Nya yang tunggal. Secara dramatis, bisa dibayangkan ketika Putra Tunggal-Nya harus menjadi manusia, lahir dari dara Maria. Itu menggetarkan jagat raya. Pasti juga menggetarkan hati Bapa ketika harus melepaskan Putra-Nya yang tunggal, kesayangan-Nya ini. Kita harus ingat itu.  
    Kalau Tuhan menebus kita, kita menjadi milik Tuhan. Seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 6:19 dan 20, “tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dengan harga lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Ada satu pernyataan Tuhan Yesus di tengah-tengah orang-orang Yahudi yang menyerang diri-Nya. Ia tunjuk bait Allah, “rubuhkan bait Allah ini, Aku bangkitkan dalam tiga hari.” Pada waktu itu, bait Allah sudah dipugar selama kira-kira 46 tahun sejak tahun 16 sebelum Masehi. 
    Bagaimana mungkin bait Allah yang begitu megah waktu itu, sebelum dihancurkan Jenderal Titus tahun 70 dari Roma, hancur dan dibangun dalam tiga hari? Sekarang memang sudah menjadi puing, dan sedang diupayakan dibangun kembali oleh bangsa Yahudi. Namun, waktu itu masih megah, dan Tuhan Yesus berkata: “rubuhkan. Aku bangun tiga hari.” Maksud Tuhan Yesus sebenarnya adalah tubuh-Nya; itulah bait Allah. “Kamu rubuhkan, kamu bunuh tubuh ini, Aku akan bangkit dalam tiga hari.” 
    Kalau kita benar-benar hidup sebagai manusia yang memberi diri ditebus oleh darah Yesus, kita menjadi milik Tuhan.
    10 min
  • Suasana Duniawi
    “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” kalimat ini sarat dengan kebenaran, atau banyak makna atau banyak pengertian. Tetapi salah satu pengertian yang tidak bisa disangkali,  bahwa kalimat ini memuat kebenaran dimana kita harus bisa menemukan perhentian di dalam Dia sejak kita hidup di bumi. “Datanglah Kerajaan-Mu,” tidak bisa disangkal bahwa Bapa menghendaki suasana Kerajaan Allah sudah kita nikmati sejak kita masih di bumi, walaupun belum penuh. Dan itulah yang Allah Bapa kehendaki menjadi perhentian atau pelabuhan kita. Ini selaras dengan pernyataan Tuhan Yesus, “datanglah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku beri kamu anapauso; perhentian;” sabaton. 
    Inilah yang harus menjadi pergumulan kita, dimana kita yang adalah umat pilihan, anak-anak Allah, yang sekaligus juga memiliki tubuh yang menjadi bait Allah, menemukan perhentian ini. Menemukan suasana Kerajaan Surga, sebelum kita memasuki surga. Ini selaras pula dengan pernyataan Tuhan Yesus: “damai sejahtera yang Kuberikan kepadamu, tidak sama seperti yang diberikan dunia ini.” Jadi, kita memiliki satu atmosfer kehidupan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang bukan umat pilihan; hanya dimiliki oleh umat pilihan yang sungguh-sungguh menghadirkan Kerajaan Allah. 
    “Damai sejahtera yang Kuberikan kepadamu, tidak sama seperti yang diberikan dunia ini;” ada atmosfer damai sejahtera, sukacita yang dimiliki orang percaya; yang tidak dimiliki oleh mereka yang bukan umat pilihan. Jadi kalau Tuhan menghendaki agar kita melepaskan segala sesuatu, artinya melepaskan keterikatan kita dengan dunia, tidak terikat, tidak terkungkung, tidak dibelenggu, tidak dikuasai oleh kesenangan-kesenangan yang ditopang oleh perkara-perkara dunia, Tuhan menggantikan dengan suasana yang lain, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Itu yang dikemukakan oleh Paulus di dalam suratnya. Tuhan bukan membuat hati atau pikiran kita kosong. Kalau Tuhan menghendaki kita melepaskan segala sesuatu; mengikut Yesus, melepaskan diri dari keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup, maka Tuhan menggantikannya dengan damai sejahtera; menggantikannya dengan suasana baru. 
    Transisi atau konversi dari kehidupan yang ditopang oleh fasilitas dunia, suasana sukacita, damai, kesenangan yang ditopang oleh fasilitas dunia ini, beralih kepada suasana Kerajaan Surga, ini bukan sesuatu yang mudah. Sebenarnya di sini juga termuat maksud Tuhan, bahwa kita harus menyangkal diri. Jadi, naluri kemanusiaan kita yang sudah bisa belasan, bahkan puluhan tahun terkungkung oleh suasana dunia, sekarang kita dibawa kepada suasana Kerajaan Surga. Ini tidak mudah. Transisi atau konversi ini, tidak banyak orang yang mengalaminya. 
    Jangan berpikir dengan rajin ke gereja, kita otomatis mengalami terobosan ini. Banyak orang yang sejak muda aktif dalam kegiatan gereja, ternyata sampai usianya matang pun, belum mengalami terobosan ini. Begitu pula dengan orang-orang yang lulus dari perguruan tinggi keagamaan, belum tentu mengalami terobosan ini. Tentu yang paling dapat kita amati dan paling jujur menjadi eksperimen, adalah diri kita sendiri. Mungkin kita sedari kecil sudah Kristen, aktif dalam kegiatan pelayanan, menjadi teolog, tetapi dalam mengalami terobosan ini pun, perjuangannya tetap tidak mudah. 
    Ibrani 4:1, “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” Coba kita pikirkan dan renungkan dengan baik. Ikan yang hidup di air tawar, dimasukkan di air laut, pasti akan mati. Ikan air laut, dimasukkan di air tawar, sama juga akan mati. Ikan tersebut harus berubah dulu, baru bisa hidup di air yang berbeda. Ini menjadi ilustrasi yang sangat tepat. Bagaimana kita yang masih manusia duniawi, yang hidup secara duniawi di dunia yang duniawi ini, lalu dimasukkan ke dalam Kerajaan Surga,
    9 min
  • Terseret Umpan
    Dunia dan pengaruhnya yang begitu jahat telah menarik banyak orang masuk dalam persekutuan dengan kuasa gelap. Namun sayangnya, banyak orang tidak menyadari keadaan tersebut. Hal yang dijadikan umpan oleh kuasa gelap untuk menyeret manusia adalah materi, kehormatan, sanjungan, kepuasan daging, sehingga mereka terjebak dan terlena dalam keindahan, kenikmatan dunia, serta keinginan daging yang menuntut untuk selalu dipuaskan. Sebagai hasilnya, mereka menjadi terhilang. Hal ini terjadi pada sebagian besar manusia, atau dapat dikatakan bahwa hampir semua manusia berkeadaan demikian. 
    Umpan yang digunakan oleh kuasa gelap memang memiliki daya tarik yang begitu kuat sampai-sampai bisa menyeret kita juga, umat pilihan, yang sebenarnya mau sungguh-sungguh mencari Tuhan. Kalau kita tidak militan, tidak ekstrem dan fanatik positif kepada Tuhan, kita akan terbawa dan menjadi bagian dari manusia yang terhilang. Kita tidak bisa dalam keadaan netral. Kita harus menentukan posisi (positioning) kepada satu hal saja: memilih Tuhan. Kita harus berkomitmen untuk tidak mengharapkan kebahagiaan dari apa pun dan siapa pun, selain Tuhan. Sukacita kita hanya Tuhan. Dengan demikian, gairah hidup kita adalah gairah untuk menyenangkan hati Allah. Jika kita memilih dan berkomitmen seperti ini, Allah akan menjadi hidup dan nyata. 
    Sebaliknya, orang yang tidak punya komitmen sungguh-sungguh untuk hidup menyukakan hati Allah, maka baginya Allah seakan-akan mati dan tidak nyata, sehingga mereka tidak sanggup menghayati kehadiran Allah dalam kehidupan ini. Benar-benar celaka keadaan orang-orang seperti itu. Kita tidak mau celaka seperti mereka. Kalau kita tidak militan, tidak ekstrem dan fanatik positif kepada Tuhan, kita akan terseret umpan Iblis. Kalau menggunakan istilah yang agak kasar, kita harus “gila-gilaan” untuk Tuhan; hidup sepenuhnya untuk Tuhan. Kita harus addict; kecanduan berat terhadap Tuhan, sehingga kita tidak memiliki kebahagiaan apa pun kecuali Tuhan. Tuhan menjadi kesukaan, kebahagiaan, dan tujuan hidup kita.  
    Hendaknya, kita jangan tertarik lagi pada dunia dan segala keindahannya. Kita bisa memiliki pakaian, kendaraan, rumah, fasilitas, dan lainnya, namun semua itu hanya sarana bagi kita dalam menjalani hidup, bukan sebagai kesukaan, kebahagiaan, apalagi sebagai tujuan hidup. Kita mau bertumbuh dewasa, sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Tidak ada pilihan lain dalam hidup ini jika kita mau diterima dalam kekekalan bersama dengan Tuhan. Pilihan kita hanya: Tuhan, Tuhan dan Tuhan! 
    Memang, akan lebih sulit bagi orang-orang muda untuk memiliki prinsip ini, karena dunia telah meracuni pikiran dan jiwa mereka. Sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Anak muda harus berani menentukan dan memilih Tuhan saja, artinya meninggalkan dunia; lari sejauh-jauhnya dari dunia. Pilihlah teman yang baik, yang membawa kita mendekat dengan Tuhan dalam bergaul. Hindari berbagi perasaan, mengakrabkan diri dengan orang yang tidak seiman agar kita tidak tergarami dengan penggaraman yang menuju kebinasaan. Terbataslah dalam berteman, arahkan pikiran hanya kepada Tuhan, dan carilah kehendak serta rencana-Nya. Hendaknya dalam keseharian, jangan tenggelam dengan bermain game, sehingga waktu terbuang dengan sia-sia. Manfaatkanlah waktu lebih baik dengan mencari Tuhan. Jangan lupa membaca Alkitab, mendengarkan khotbah, menyediakan waktu untuk duduk diam di kaki Tuhan, memuji dan menyembah Tuhan. 
    Kita harus menentukan positioning kita sejak sekarang. Positioning artinya kita memilih lokasi untuk menempatkan diri. Positioning yang benar adalah kita menempatkan diri di dalam Tuhan. Mari, kita berjuang untuk memiliki kehidupan yang benar-benar tak bercacat, tak bercela, serta berjuang untuk dapat hidup kudus. Selanjutnya, kita benar-benar mau memperkarakan apa kehendak Tuhan dalam hidup kita yang menjadi tugas dan pekerjaan kita. Apa rencana Tuhan yang Ia bebankan, yang dipercayakan kepada kita untuk kita penuhi sehingga hidup ...
    9 min
  • Manusia untuk Allah
    Filipi 2:5-7 mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba.” Ia melepaskan hak. Sekecil apa pun, Dia tidak minta. Makanya, Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, bisa mengatakan: “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa.” Mari kita menghayati siapa diri kita. 
    Di mata manusia pada umumnya, kita seperti orang konyol. Sangat konservatif atau sangat fundamentalis. Tapi memang inilah yang benar, bahwa Allah menciptakan manusia itu untuk diri-Nya, bukan untuk diri manusia itu. Tetapi ketika manusia hidup untuk Allah, bukan untuk dirinya sendiri, maka semua yang Allah sediakan bagi manusia, bisa dimiliki dan dinikmati. Sekarang kita ada di dunia yang sudah jatuh. Kuasa gelap merajalela, daging kita juga sudah mewarisi kodrat dosa, ini berbahaya. Hanya bisa kita lawan dengan satu langkah: melepaskan hak. Yang bisa membuat kita menang hanya melepaskan hak. 
    Kita kembali kepada kebenaran yang mungkin dianggap sangat fundamental, konservatif, dan itu ditinggalkan. Mari kita kembali kepada basic: Allah menciptakan manusia untuk diri-Nya, untuk Allah. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia. Ini kalimat mudah diucapkan, tetapi kalau dilakukan, itu merenggut hidup kita tanpa batas; habis. Tapi di situlah keindahan hidup itu. Di situ keelokannya. Jadi, jangan berbantah-bantah, jangan banyak bicara, jangan banyak berteori, jangan berfantasi. Ayo, kita menerima kebenaran ini dengan rendah hati. Allah menciptakan manusia untuk diri-Nya, bukan untuk manusia itu sendiri. Tetapi ketika manusia mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan, maka ia akan menikmati segala sesuatu yang Allah sediakan, sebab Allah tidak butuh apa-apa. 
    Ketika manusia menempatkan diri di tempat yang benar di mata Allah, maka manusia memiliki dan menikmati segala sesuatu yang Allah ciptakan untuk manusia itu. Mudah sekali mengucapkan kalimat ini, dan betapa sulit melakukannya karena hidup kita akan direnggut. Alkitab sebenarnya sudah jelas mengatakan itu di 2 Korintus 5:14 dan 15, “sebab kasih Kristus yang menguasai kami,” jadi mengerti kasih Kristus yang begitu besar, yang menembus diri kita, “karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang;” Yesus maksudnya, “sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.” 
    “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Praktis, tidak perlu ditafsirkan atau dijabarkan macam-macam. Sudah jelas. Kalau kita mencintai Tuhan secara benar, kita akan mengikut jejak-Nya. Prinsip hidup kita sama dengan prinsip hidup Tuhan Yesus: “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Maka, kita bersedia menjadi peraga Tuhan. “Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku. Jadikan tanganku sebagai tangan-Mu, jadikan mataku sebagai mata-Mu.” 
    Tetapi kalau orang masih merasa memiliki hak, tidak bisa. Pasti ada korupsinya, pasti ada yang dicuri. Kita harus benar-benar jujur memperkarakan ini di hadapan Tuhan. Kalau masih ada sesuatu yang kita anggap besar, apakah itu masalah, kesenangan atau apa pun, selain melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, ada yang salah dalam hidup kita. Lihat prinsip hidup Rasul Paulus yang berkata di dalam suratnya, “Ikutilah teladanku. Ikut aku seperti aku ikut Kristus. Bagiku hidup adalah Kristus.” Kalimat itu biasa diucapkan, dan kita juga sudah sering mendengar. Tapi bagaimana menerapkan, mengamalkan kalimat itu dalam hidup kita? “Bagiku hidup adalah Kristus,” bukan “sebagian hidupku.” Kalau “bagiku hidup adalah Kristus,” berarti memang tidak ada bagian untuk yang lain. 
    Dan kalau Paulus berkata, “bagiku hidup adalah Kristus,
    8 min
  • Legalitas Warga Kerajaan Surga
    Kalau suatu saat Tuhan datang kembali, dunia kiamat, atau kita meninggal dunia, baru kita menyadari pentingnya berwarganegara Kerajaan Surga. Sederhana saja, kalau kita pergi ke luar negeri lalu paspor terselip entah di mana, kita pasti merasa panik, karena tanpa identitas, kita akan mengalami kesulitan dan masalah. Terlebih lagi, betapa mengerikan keadaan seseorang yang tidak memiliki legalitas warga Kerajaan Surga. Hari ini, orang tidak peduli dan cenderung meremehkan, serta tidak sungguh-sungguh mempersoalkan apakah dirinya warga Kerajaan Surga atau tidak. Karena hal ini dianggap tidak penting. Ini adalah penyesatan yang berhasil dilakukan oleh kuasa gelap kepada banyak orang yang prinsipnya: “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.”
    Rasul Paulus mengatakan, “Kalau berdasar pertimbangan manusia, aku sudah melakukan banyak hal, yang seperti dilakukan orang lain.” Orang yang tidak menyadari bahwa manusia itu adalah makhluk kekal yang membutuhkan domisili kekal atau domisili abadi, pasti akan terbawa dengan suasana atau kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Tuhan sangat peduli akan hal ini. Itulah sebabnya, Yesus berkata di dalam Yohanes 14:1-3, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ayat ini berlaku bagi kita yang gelisah. Yang tidak gelisah, maaf, tidak berhak punya ayat ini dan tidak perlu memperhatikannya. Ini hanya untuk orang yang gelisah; orang yang memperkarakan nasib kekalnya. 
    Sayangnya, banyak orang tidak gelisah untuk hal ini. Yang digelisahkan adalah hal-hal lain yang tidak pokok; gelisah belum menikah, belum punya anak, belum punya rumah pribadi, penghasilannya kurang banyak, dalam ancaman, dan karena berbagai penyebab lainnya. Mereka gelisah karena penghidupan, tetapi tidak peduli dengan realitas kekekalan. Dan jika Tuhan berkenan memberikan kita kasih karunia-Nya, kiranya Tuhan memberikan kita kegelisahan ini. Ini kegelisahan yang kudus, kegelisahan yang positif. 
    “Apa yang akan terjadi dalam hidupku ketika aku menutup mata?” Kalau dunia mengatakan, “Berpikirlah realistis. Kamu masih menginjak bumi. Jadi jangan pikirkan soal nanti. Kamu belum di surga, kamu masih di bumi. Jangan berpikir tentang surga, sebab itu kehidupan yang akan datang nanti,” justru itu tidak realistis. Yang realistis adalah orang yang memikirkan nasib kekalnya. Sebab, kita bukan monyet, kucing, babi, kodok, sapi, anjing, kucing; kita bukan hewan. Kita adalah manusia yang memiliki keberadaan kekal, dan ini harus disuarakan. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak peduli lagi. Terutama mereka yang hidup nyaman, ekonomi baik, memiliki berbagai fasilitas, relasi dengan pejabat, sehingga ia menjadi sombong sampai tidak memikirkan lagi kekekalan dan menganggap bahwa kekekalan itu hanya dipikirkan oleh orang-orang konyol yang tidak memiliki kesibukan hidup, serta dianggap tidak wajar. 
    Maka, kita harus mempersoalkan apakah kita benar-benar sudah memiliki legalitas sebagai warga Kerajaan Surga. Kita bisa berkata, “Aku percaya aku anak Allah, dan jika mati masuk surga,” boleh, silakan. Tetapi nanti bisa berbeda keadaannya atau kenyataannya. Sebab di Alkitab, ada orang-orang yang yakin dikenal Allah dan mengenal Allah, namun Tuhan berkata kepada orang-orang ini, “Aku tidak kenal kamu,” ini mengerikan. Itulah sebabnya kita semua harus bisa diungsikan, migrasi ke rumah kita. Bukan rumah kedua, melainkan rumah kita satu-satunya. Di bumi ini, kita hanya musafir.
    Kalau kita membaca ayat-ayat berikutnya, ini adalah kegelisahan yang dirasakan murid-murid yang hendak ditinggalkan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menyatakan diri akan mati, tetapi bangkit dan naik ke surga. Murid-murid-Nya pun gelisah dan bertanya-tanya: “Lalu, bagaimana nasib kita nanti?” Yesus menenangkan dengan berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Selanjutnya, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.” Artinya luas,
    8 min
  • Visi Pelayanan
    Banyak orang—termasuk mereka yang aktif dalam pelayanan atau kegiatan gereja—yang tidak bisa membedakan dan juga tidak menyadari bahwa apa yang dikerjakan itu tidak memuat visi Tuhan. Jika tidak memuat visi Tuhan, maka kegiatan pelayanan atau kegiatan gereja tersebut pasti menguntungkan individu manusia atau institusi; lembaga gereja. Yang dirugikan, tentu diri mereka sendiri yang melayani atau yang melakukan kegiatan pelayanan itu, sebab pada akhirnya mereka pasti ditolak oleh Tuhan. Kepada mereka Tuhan akan berkata, “Aku tidak kenal kamu.” Dan yang dirugikan lainnya adalah jemaat, orang Kristen atau orang percaya yang menaruh kepercayaan kepada lembaga gereja secara institusi dan individu-individu pelayanan. 
    Kita jangan terjebak melakukan aktivitas pelayanan atau kegiatan gereja ini hanya secara teknis, tetapi tidak memiliki visi, spirit atau gairah Tuhan. pasti semua itu dikerjakan tidak di dalam pimpinan Roh Kudus. Yang kita harus mengerti, Roh Kudus itu lembut. Ia pasti berbicara dan menegur. Tetapi kalau pelayan Tuhan atau aktivis tidak peka, maka akan dibiarkan. Saatnya nanti Tuhan akan berkata, “Aku tidak kenal kamu.” Jadi kalau kita tidak sungguh-sungguh peka dengan suara Roh Kudus, tidak membuka diri untuk dikoreksi Tuhan, tidak sungguh-sungguh berinteraksi dan berdialog dengan Allah, kita tidak akan pernah mengenali dengan benar apakah aktivitas pelayanan kita benar-benar memuat visi Tuhan atau tidak. 
    Hati manusia itu licik. Kita sering tanpa sadar meliciki diri sendiri. Dalam kegiatan pelayanan kita meliciki diri sendiri, dan tanpa sadar, kita meliciki Tuhan. Menggunakan kegiatan pelayanan sebenarnya untuk kepentingan pribadi. Kalau bukan karena uang, mereka membuka pelayanan, persekutuan doa, misi penginjilan atau apa pun, tapi tidak digerakkan oleh api Roh Kudus. Perlu kita ketahui bahwa Tuhan tidak mencari pahlawan, Tuhan mencari orang yang rendah hati, yang mau mengalir dengan Tuhan setiap hari, dengar-dengaran kepada Tuhan, dan menyenangkan hati Bapa dalam segala hal, barulah kemudian melakukan kegiatan pelayanan. 
    Makanya, walaupun kita memberi persembahan uang sebanyak apa pun, tapi kalau hati kita bengkok, itu tidak menyenangkan hati Tuhan. Dan jangan terburu-buru membuat pelayanan A, pelayanan B, membuka jemaat, dll. Bukan tidak boleh. Bagus, jika memang bisa demikian. Tetapi yang pertama yang kita harus lakukan adalah bagaimana kita berjalan dengan Tuhan setiap hari, menyenangkan hati Tuhan, melakukan kehendak-Nya dari hal kecil sampai hal besar, benar-benar tune dengan Tuhan, hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Kita bisa mendengar suara Tuhan dan mengerti kehendak-Nya, supaya kegiatan gereja atau aktivitas pelayanan jangan jadi ‘permainan’ kita. Dalam menyelenggarakan pelayanan, kita sharus membawa visi Tuhan. Dan visi Tuhan itu terfokus pada manusia, yaitu bagaimana manusia itu diubah. 
    Jadi, kita bisa mengerti kalau Paulus mengatakan bahwa “baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tapi dengan keyakinan kekuatan Roh. Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tapi pada kekuatan Allah” (1Kor. 2:4-5). Aktivitas pelayanan dan kegiatan gereja harus punya visi mengubah manusia, supaya iman manusia bergantung pada kekuatan Allah. Dalam kegiatan gereja atau aktivitas pelayanan, harus memuat misi Tuhan, rencana Tuhan, dan sekali lagi, visi Tuhan adalah mengubah manusia. Kalau hanya secara teknis, manusia tidak akan berubah sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Maka, pemberitaan Firman Tuhan harus disampaikan dengan keyakinan akan kekuatan Roh. Dan untuk kekuatan Roh ini, seorang hamba Tuhan harus hidup di dalam pengurapan Tuhan setiap hari. Ia tidak boleh hanya penuh Roh Kudus pada waktu mau berkhotbah. Dia harus penuh Roh Kudus setiap hari, dan hidup di dalam pengurapan.  “Oleh kekuatan Roh,” dan ini tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Jadi, sementara dunia sedang menarik orang sebanyak-banyaknya menjadi rusa...
    8 min
  • Umat Pilihan yang Luar Biasa
    Kalau kita membaca Efesus 1:4, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, …” Jadi kita itu ditentukan: terlahir jadi orang Kristen, entah menikah dengan orang Kristen, entah karena satu dan lain hal menjadi Kristen. Itu ditentukan Tuhan. Tapi jangan berpikir ‘ditentukan’ ini berarti pasti masuk surga. “… Supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Yang ditentukan itu bukan manusianya, yang ditetapkan itu standarnya. Jangan dicampur aduk. “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, …” Jadi, Allah memilih kita. Ini luar biasa. Dari sekian miliar manusia yang hidup, sejak Adam sampai manusia terakhir nanti. Tidak kebetulan, you are the chosen people; kita adalah orang terpilih.
    Ayo, kita kembali memandang kata ‘anak Allah’ dengan kacamata yang original, kacamata asli, kacamata yang benar. ‘Yesus, Anak Allah,’ itu jelas. ‘Kita, anak Allah,’ sudah jelas, belum? Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, yang menyebut diri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Yang juga memperkenalkan diri sebagai Allah Israel, yang Alkitab sebut sebagai YAHWEH Elohim (artinya Allah, Allah YAHWEH), berkenan menjadi Bapa bagi kita. Luar biasa. Kita diadopsi secara legal oleh seorang bangsawan saja, sudah luar biasa. Kita diadopsi oleh Allah secara legal, secara de jure, secara hukum legal karena Yesus mati di kayu salib menebus dosa kita. Sungguh luar biasa.
    Sebenarnya, Yesus mati menebus semua manusia. Artinya, bahwa dosa manusia dari Adam sampai manusia terakhir, dipikul oleh Tuhan Yesus. Itulah sebabnya, orang di luar Kristen pun dihakimi. Dalam Roma 2: 12-16, mereka dihakimi menurut perbuatan. Tentu mereka yang mengasihi sesama diri sendiri, yang kepada mereka Tuhan berkata, “ketika Aku lapar, kau berikan Aku makan; ketika Aku haus, kau berikan Aku minum; ketika Aku bertelanjang, kau memberikan Aku pakaian.” Di dunia ini, ada orang-orang seperti ini, dan mereka bisa masuk dunia akan datang, tapi bukan umat pilihan seperti kita. Kalau kita, umat piilihan; mengenal Allah yang benar, sehingga berlaku “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan.”
    Kita bukan hanya ditebus oleh darah Yesus. Kita bukan hanya tahu Yesus mati untuk kita, tapi kita juga tahu apa maksud penebusan itu. Orang di luar orang percaya, orang di luar umat pilihan, mereka tidak tahu dan tidak mengerti. Jadi, kita harus memahami bahwa Yesus tidak mati untuk sebagian orang. Itulah sebabnya Yohanes berkata, “Dialah Anak domba Allah, yang mengangkut dosa dunia.” Bukan “sebagian” dosa dunia. Semua dosa manusia dipikul. Yang oleh karenanya ada pengadilan. Pengadilan juga untuk orang yang bukan umat Kristen. Kalau Yesus mati untuk sebagian orang, tidak  perlu ada pengadilan, semua sudah masuk neraka. Karena Yesus mati untuk semua orang, maka ada pengadilan. 
    Dan mereka yang mengasihi sesama seperti diri sendiri, nanti diperkenankan masuk Kerajaan Allah sebagai anggota masyarakat. Tetapi kita, anak-anak Allah, dimuliakan bersama Yesus, memerintah bersama-sama Yesus. Betapa luar biasanya menjadi umat pilihan. Tetapi, betapa besar juga tanggung jawabnya. “Keluarlah kamu dari antara mereka, janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu seperti anak-Ku laki-laki dan anak-Ku perempuan.” Kalau di dalam Efesus 1 dikatakan, “supaya kamu kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Apakah otomatis? Tidak. Kita yang harus merespons anugerah tersebut, berjuang untuk hidup kudus dan tak bercacat di hadapan Allah. 
    Legalitas jadi anak Allah itu secara de jure disahkan oleh Yesus dengan mati di kayu salib. Kita ditebus oleh darah Yesus dan lunas dibayar. Tetapi setelah kita ditebus, apakah kita mau berubah? Secara de jure kita ditebus, tapi secara de facto, apakah kita mau berubah? Itu masalahnya. Kita ditebus supaya kita jadi manusia yang utuh, dan Yesuslah Modelnya. Bagaimana kita bisa menemukan kekristenan yang luar bia...
    8 min
  • Hidup yang Tersembunyi
    Dalam Kolose 3:3 Rasul Paulus berkata, “sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Kata “tersembunyi” dalam bahasa aslinya adalah krupto (κρύπτω), dan ada pengertian lain yaitu “sesuatu yang disimpan dengan hati-hati, sesuatu yang ditempatkan di tempat tertutup, tetapi dengan hati-hati.” Jadi kalau ada seseorang dikatakan “hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus,” maksudnya adalah hidupnya di tempat yang orang tidak bisa menemukan atau melihat. Ini terkait dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Kalimat ini penting sekali. Kita sudah mati; tidak boleh lagi memiliki diri sendiri, sebab kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar. Kita tidak boleh eksis seperti orang-orang dunia, tetapi eksis kita adalah menampilkan kehidupan Kristus.
    Ini bisa terjadi dalam hidup seseorang kalau orang tersebut memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Maka ayat sebelumnya dikatakan, “karena itu kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus—jadi kita telah mati dan bangkit dalam hidup yang baru—carilah perkara yang di atas di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kalau kita terus mengalami perubahan-perubahan, maka orang bisa mengatakan, “Aku tidak menemukan kamu yang dulu lagi. Kamu berubah.” Ini yang dimaksud Alkitab bahwa kita telah mati dan hidup tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Jadi, kita harus memindahkan hati kita di surga. Kita harus memandang kita telah mati bagi dunia dan hidup bagi Allah. Kita tidak lagi hidup untuk kesenangan-kesenangan seperti orang-orang pada umumnya menikmati kesenangan. Kita tidak lagi hidup dengan cita-cita, ambisi, obsesi seperti orang-orang pada umumnya memiliki cita-cita, ambisi, dan obsesi. 
    Tidak salah memiliki cita-cita jadi dokter, asal sebagai dokter, kita mau melayani Tuhan; bukan karena jabatan profesi dokter itu prestise dan bisa mendatangkan banyak uang. Tidak salah menjadi seorang gubernur. Tetapi masalahnya adalah apakah kita menjadi gubernur karena kita memiliki ambisi supaya terhormat, memiliki uang banyak, atau dengan jabatan itu bisa memanipulasi jabatan dan lain sebagainya, serta bisa mengumpulkan uang banyak? Kalau seperti itu, jelas ini bukan anak Tuhan. Sebagai anak Allah, keinginan untuk menjadi gubernur tidaklah salah, tetapi harus bertujuan bahwa dengan posisi sebagai gubernur, bisa jadi efektif untuk Kerajaan Surga. Jadi, baik kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, kita lakukan semua untuk kemuliaan Allah. 
    Itulah sebabnya dalam Roma 12:2 firman Tuhan mengatakan agar kita jangan serupa dengan dunia ini. Orang yang telah mati dan hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah, pasti tidak serupa dengan dunia, tapi serupa dengan Yesus. Pasti berkarakter Ilahi, sempurna seperti Bapa, bukan serupa dengan dunia ini. Maka jangan berpikir kita bisa selamat hanya karena mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. “Percaya” itu artinya menyerahkan diri, mengikuti jejak-Nya. Makanya ketika kepada Yesus ditawarkan keindahan dunia, Iblis berkata, “Jika Kamu menyembah aku, kuberikan semua ini kepada-Mu.” Dan Yesus menjawab, “kamu harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia saja kamu berbakti.” Yesus menolak. Ketika Yesus mau diangkat sebagai Raja versi orang Yahudi, Ia pun menolak. Ia memilih mahkota duri dan salib di bukit Golgota. 
    Jadi kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita ikuti jejak-Nya. Memilih Allah Bapa, hidup bagi Allah Bapa, dan tidak hidup bagi dunia. Ini berat dan sukar. Ini juga bisa berarti atau bernilai mustahil. Tetapi apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah. Asal kita berkata, “aku mau, Tuhan,” Tuhan pasti menggarap kita. Tuhan pasti membentuk dan mendidik kita sampai p...
    9 min
  • Memberi Diri Diselamatkan
    Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri, tetapi sebaliknya, kita bisa membinasakan diri kita sendiri. Maksudnya, sebagai keturunan dari Adam dan Hawa yang telah jatuh dalam dosa, kita semua terkurung, terkungkung dalam hukum dosa. Bukan saja hukuman dosa, melainkan juga hukum dosa, dimana kita tidak dapat melakukan apa yang tepat seperti yang Allah kehendaki. Padahal, standar manusia yang diciptakan Allah adalah melakukan tepat seperti yang Allah kehendaki. Keselamatan dalam Yesus Kristus memberikan kita anugerah dimana kita dapat selamat. Allah yang menyelamatkan kita, dan kita harus memberi diri diselamatkan. Dari keadaan tak dapat menyelamatkan diri sendiri, tetapi membinasakan. Ini adalah pilihan. Dalam hal ini, kita tidak boleh menyerah atau pasif. Sebab kalau kita pasif, kita akan tergulung dalam proses kebinasaan yang dikerjakan oleh kuasa kegelapan. Kita harus memberi diri diselamatkan. Ini sama dengan kita harus menyelamatkan diri kita sendiri. 
    Bukan kita “bisa” menyelamatkan diri sendiri. Tidak bisa, karena bagaimanapun keselamatan tetap anugerah. Manusia itu pada dasarnya tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi membinasakan—dalam konteks sebagai manusia keturunan Adam yang telah jatuh di dalam dosa. Tetapi oleh karya salib Tuhan Yesus dimana Tuhan menebus dosa-dosa kita dan membawa kita kepada Bapa dalam keadaan dibenarkan walaupun belum benar, maka kita harus memberi diri diselamatkan. Hanya anugerah Tuhan melalui Roh Kudus yang akan memimpin kita, dan Firman kebenaran yang menuntun kita masuk dalam proses pembentukan Allah dimana Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi kita. 
    Ironis, banyak orang Kristen hanya terperangkap dalam doktrin “kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri, hanya Allah yang menyelamatkan kita oleh anugerah.” Ini menjadi absurd atau kacau. Memang kita tak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Allah yang menyediakan, tetapi kita harus memberi diri diselamatkan; yang sama dengan kita harus menyelamatkan diri kita sendiri. Tapi jangan dibuat kalimat “kita bisa menyelamatkan.” Sampai kapan dan bagaimana pun tidak bisa, karena itu bisa terjadi hanya karena anugerah. 
    Banyak orang tidak memberi diri diselamatkan. Dia menyerah kepada keadaan yang bisa menggulungnya dalam proses pembinasaan oleh kuasa kegelapan. Kita harus keluar dari kubangan proses itu. Sebab, kita ada di dalam hukum dosa, artinya kita tidak bisa tepat melakukan apa yang Allah kehendaki. Padahal standar manusia yang Allah inginkan itu melakukan tepat seperti yang Allah kehendaki. Di sini, Tuhan menyediakan sarana keselamatan: pertama, Roh Kudus. Kedua, Firman yang membawa kita kepada seluruh kebenaran Allah dan memperbaharui cara berpikir kita. Ketiga, proses dimana Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan. Masuk yang namanya sekolah kehidupan, pemuridan, atau proses pendewasaan. Karena tidak diajarkan bahwa kita harus memberi diri diselamatkan, maka banyak orang hanya menyerah kepada keadaan. 
    Dan konsep ini membuat kekristenan tidak ada implikasinya secara proporsional. Semua hanya dalam format definisi. Akhirnya, terjadi pemisahan antara praktik kehidupan dengan doktrin. Maka kita bisa melihat, orang berteologi di dunia teologinya, yang seakan-akan punya kawasan kehidupan rohani di atas, lalu jemaat di kawasan yang lain. Mestinya tidak demikian. Sekolah teologi harus benar-benar menjadi sekolah dimana orang mengalami implementasi dari keselamatan yang dipahami itu, yaitu memberi diri diselamatkan. Ini proses kehidupan, dimana seseorang akan makin serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa. 
    Sekarang, kita harus sadar bahwa kita harus memberi diri untuk diselamatkan. Dan keselamatan itu adalah proses dikembalikannya manusia ke rancangan semula, supaya memiliki ketepatan bertindak. Perubahan dari hukum dosa menjadi seorang yang hidup dalam kodrat ilahi. Keluar dari hukum dosa, dari ketidaktepatan,
    12 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…