Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Jangan Ketinggalan
    Satu hal yang kita harus ingat, bahwa pada intinya Tuhan mau menyeberangkan kita dari dunia ini ke tanah perjanjian, seperti bangsa Israel yang harus keluar dari Mesir karena itu bukan tanah perjanjian. Tanah perjanjian itu adalah Kanaan. Maka, mereka harus keluar dari Mesir menuju Kanaan. Dan ini analogi dengan kita, bahwa dunia bukan rumah kita. Tuhan Yesus berkata: “you are not of the world, we are not of the world;” kita bukan dari dunia ini. Tuhan Yesus mengatakan di depan Pilatus secara tegas: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” 
    Jangan berkhianat kepada Tuhan dengan sikap feel at home; dengan sikap merasa betah di bumi ini, sebab dunia bukan rumah kita. Tuhan mau menyeberangkan kita, dan sebenarnya sedang menyeberangkan kita dari dunia ini ke tanah perjanjian. Tanah perjanjian kita itu Yerusalem Baru, yang untuk hal ini, Tuhan berkata di Injil Yohanes 14, “Aku pergi menyediakan tempat bagimu.” Jangan sampai Tuhan Yesus sudah lelah-lelah mempersiapkan tempat bagi kita dengan pengorbanan-Nya, namun kita tidak seiring dengan Tuhan, yang mau membawa kita ke tanah perjanjian itu. Maka, kita harus senantiasa mengingat bahwa dunia bukan rumah kita. 
    Kalau orang bukan umat pilihan, mereka disibukkan bagaimana membuat hidupnya berbunga-bunga menikmati dunia ini. Sementara, kita harus belajar melepaskan segala keterikatan dengan dunia. Firman Tuhan mengingatkan kita di Ibrani 4:1, “sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” “Masih berlaku,” artinya kita harus memperhatikan sungguh-sungguh, dengan benar-benar serius. 
    Perhatikan kalimat ini: “jangan ada seorang di antara kamu yang ketinggalan.” Jadi, ada kemungkinan bisa ketinggalan. Dan kemungkinan besar, itu terjadi kepada kita. Atau kalau kita gunakan kata yang lebih sejuk, “kemungkinan kecil.” Namun, tetap kemungkinan itu ada. Jadi, kita harus mempertimbangkan ini dengan serius. Kita harus selalu alert; waspada, karena kemungkinan ketinggalan itu bisa terjadi atas hidup kita. Jangan sampai kita ketinggalan. 
    Ketika masih dalam keadaan tubuh sehat, tidak dalam keadaan sekarat, tidak dalam bahaya maut atau tidak ada dalam ancaman kematian, mungkin kita menganggap remeh kalimat ini. Tetapi kalau kita ada di ujung maut, dalam kondisi sekarat atau nyawa kita terancam, kita akan lebih memperhatikan apa yang firman Tuhan katakan tersebut. Tetapi, jangan menunggu kita sekarat atau dalam keadaan terancam dulu, baru kita memperhatikan hal ini dengan serius. Sejak sekarang, mari kita memperhatikan hal ini. 
    “Jangan ada di antara kamu yang dianggap ketinggalan.” Maka dikatakan di kalimat sebelumnya di Ibrani 4:1 ini, “baiklah kita waspada.” Kita pasti punya kewaspadaan untuk banyak hal; demi usaha tidak bangkrut, demi tubuh sehat, demi anak-anak aman. Supaya tidak ada pencuri masuk ke dalam rumah, maka pagar ditinggikan dan diberi duri atau pecahan kaca. Supaya anak-anak bisa sekolah, kita mengambil asuransi pendidikan. Supaya kalau sakit ada yang menanggung biaya rumah sakit, kita ikut asuransi. Itu namanya kita waspada, dan itu sesuatu yang bagus karena itu sikap berjaga-jaga. 
    Tetapi untuk kekekalan, apakah kita juga cukup waspada? Mestinya kewaspadaan kita lebih besar, atau bahkan mestinya ini satu-satunya kewaspadaan yang kita miliki. Pasti sebagian kita ada yang tidak alert; tidak waspada untuk hal ini, sehingga dalam keadaan ketinggalan. Kalau hari ini Tuhan mengingatkan kita, mari kita bangkit dan menjadi waspada. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Ingat, sebagian dari kita, selama ini ada yang tidak waspada secara proporsional. Untuk yang lain, memiliki sikap waspada tinggi. Tapi untuk hal kekekalan ini, waspada kita rendah atau bahkan tidak waspada sama sekali. Mari, kita bertobat. 
    “Jangan ada di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.
    10 min
  • Perhentian Jiwa
    Di dalam Ibrani pasal 11, kita membaca pernyataan Alkitab mengenai Abraham. Kita membaca bagaimana Abraham telah melihat kota itu, walaupun dia belum mati. Ibrani 11:9, “karena iman, Abraham diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing,” Abraham tidak feel at home di tanah di mana dia berdiam. Itu tanah Kanaan, sebenarnya. Tanah Kanaan adalah tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham untuk keturunannya secara darah daging, yaitu bangsa Israel atau orang Yahudi. Ia tinggal di situ seolah-olah sebagai orang asing. Ia tinggal di kemah, ia tidak membuat rumah permanen seperti yang pernah dimilikinya di Ur-Kasdim, Lembah Sumeria yang subur dan sudah modern atau maju pada zamannya.
    “Ia tinggal di situ bersama dengan Ishak dan Yakub yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.” “Janji yang satu itu,” maksudnya kota yang mempunyai dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. “Dalam iman, mereka semua telah mati, sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan.” Jadi, bukan tanah Kanaan yang dijanjikan Allah kepada Abraham. Yang dijanjikan, sebenarnya adalah Yerusalem Baru, yang sekarang menjadi tujuan perjalanan kita. “Tetapi yang hanya dari jauh Abraham melihatnya dan melambai-lambai kepadanya, dan yang mengakui bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi.” Memang, betapa sulit memiliki penghayatan bahwa dunia bukan rumah kita, bahwa kita sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem Baru. 
    Maksud kata “ketinggalan” yang Alkitab kemukakan dalam Ibrani 4:1 adalah keyakinan akan langit baru bumi baru, janji Allah tentang perhentian, tentang Yerusalem, itu seiring dengan perubahan karakter dan kodrat kita. Tidak mungkin orang bisa menghayati perhentian jiwa jika karakternya masih berantakan. Jadi, seiring dengan kesucian hidup, kehidupan yang tak bercacat, tak bercela, terlepasnya dari ikatan percintaan dunia, seiring itu pula pengharapan kita akan dunia yang akan datang. Hendaknya, itu mengkristal, menguat dalam diri kita. 
    Jika kita bisa demikian, kita menjadi tidak takut mati sama sekali. Sama sekali tidak takut menghadapi kematian. Tapi, “yang ketinggalan,” pasti merasa bingung. “Kok bisa ya, tidak takut mati?” Mereka tidak akan memahami, karena kesucian hidupnya tidak bertumbuh, dan keterikatannya dengan dunia juga masih banyak.  Mereka tidak yakin Allah menyediakan perhentian, tidak yakin bahwa Allah menyediakan langit baru bumi baru. Walaupun mulut mereka berbicara “percaya,” namun sebenarnya hati mereka tidak yakin penuh. Banyak orang di bawah bayang-bayang binasa, terpisah dari Allah selama-lamanya, tetapi mereka bisa hidup dalam ketenangan. Ini membuktikan bahwa jiwa mereka sudah sakit, sudah rusak. Tanpa disadari, mereka telah menjadi sesat. Suatu saat, mereka akan ditolak oleh Tuhan.
    Oleh sebab itu, jangan sampai kita ketinggalan. Ini akan terjadi dalam hidup seseorang, tapi jangan terjadi dalam hidup kita. Ketika orang menjadi semakin tua,  semakin pula mendekati kematian, biasanya tidak bisa yakin ada surga. Sudah jelas mau mati, tapi ia tidak yakin. Tidak bisa yakin bahwa ada langit baru bumi baru yang menantikan dia. Mau mati saja, yang dipikirkan bagaimana masih punya barang tertentu, “Sebelum mati, aku ingin ke sana. Sebelum mati, aku mau memiliki barang itu..” Sebelum mati, sudah sibuk memikirkan bagaimana petinya atau kuburannya. Bukan tidak boleh. Memang, sebaiknya sebelum mati, kita hendaknya bisa mempersiapkan semua itu supaya yang hidup tidak direpotkan. Tapi, jangan hanya sibuk memikirkan peti. Peti itu hanya tempat untuk tulang-belulang. Yang lebih penting dan utama, pikirkan rumah kekalmu. Jika ajal sudah menjemput, sudah terlambat, sudah tidak bisa. 
    Banyak orang ketinggalan, tapi mereka merasa biasa saja dan santai saja menjalani kehidupan. Kita harus berusaha agar kita tidak menjadi salah satu dari mereka. Jangan merasa tenang-tenang saja dalam menjalani hidup. Dunia akan berakhir, umur kita akan selesai,
    10 min
  • Tempat di Hadirat Allah
    Ada satu hal yang sungguh-sungguh kita khawatirkan, yang juga menjadi suatu ketakutan. Kalau jemaat yang dilayani tidak memiliki kerinduan untuk memiliki tempat di hadirat Allah. Salah satu buktinya, tidak sanggup berdoa lebih dari 10 menit, tidak mampu berdoa lebih dari 15 menit. Sepertinya, tidak membutuhkan Dia. Kalaupun berdoa, ke gereja, ikut doa puasa dan lain-lain, yang dibutuhkan itu bukan Tuhan sendiri, melainkan pertolongan-Nya. Tipis memang bedanya, antara Tuhan dan berkat-Nya; antara Tuhan pribadi dan kuasa-Nya. 
    Kita harus merasa membutuhkan Tuhan, Tuhan sendiri. Ini sebuah fakta, dimana kalau seseorang jatuh cinta kepada orang lain atau sosok, misalnya seorang wanita mencintai pria, dia ingin punya tempat. Tapi, pria itu belum tentu merespons dengan baik, sehingga seperti bertepuk sebelah tangan. Dia ingin berbalas; sang pria menyambut tepukannya, tapi pria itu belum tentu mau menyambutnya. Dan kalau boleh dibahasakan, wanita ini berkata kepada pria itu: “beri aku tempat di hatimu.” 
    Atau pria jatuh cinta kepada wanita, dan dia tidak bisa tertarik pada wanita lain karena dia merasa wanita ini paling cantik, paling memikat hatinya, dan seakan-akan dia berkata: “beri aku tempat di hatimu. Aku membutuhkan engkau.” Jadi, jangan heran kalau orang bisa bunuh diri ketika cintanya ditolak. Mengapa kepada Tuhan, kita tidak seperti itu? “Beri aku tempat, Tuhan.” Jangan menganggap Tuhan itu begitu murahnya, lalu kita menggampangkan. Kita lupa, Dia punya karakteristik. Dia punya hakikat. Tuhan tidak bisa diatur oleh siapa pun dan apa pun. Dia mengatur diri-Nya sendiri. 
    Apa artinya ini? Ketika kita berkata “beri aku tempat di hadirat-Mu,” yang kita persoalkan hakikat-Nya. Yang kita persoalkan karakteristik-Nya, bagaimana kita bisa memiliki tempat di hadirat Allah. Tapi kalau kita sudah tidak memiliki niat untuk memiliki tempat di hadirat Allah, kita tidak akan mempersoalkan karakteristik dan hakikat Allah. Kita tidak peduli mau jadi apa. Bagaimana perasaan Allah terhadap kita, tidak kita pedulikan. Dan kita tidak akan selamat. Jangan menganggap dengan percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, otomatis kita masuk surga. Itu salah. Allah punya karakteristik. Kalau itu cukup membuat orang selamat, maka tidak perlu ada Alkitab. 
    Selembar kertas dengan tulisan “Percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, engkau selamat,” selesai. Tidak perlu ada kalimat: “Jadikan semua bangsa murid-Ku, bertumbuhlah, jadilah sempurna,” dan lain sebagainya. Dunia telah mencuri hati banyak orang. Benar kata Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, di Injil Yohanes pasal 10, “pencuri datang untuk mencuri dan membunuh.” Dia mencuri hati, sehingga kita tidak punya kerinduan ada di hadapan Allah. 
    Ada banyak kerinduan, keinginan, hasrat, ada desakan banyak kebutuhan, tapi bukan di hadirat Allah. Memercayai Allah ada saja, rasanya sulit. Kita tidak mampu menjangkau keberadaan Allah. Itu yang kita khawatirkan dan takuti. Mengapa? Karena itu sudah terjadi dalam hidup kita. Itu terjadi dalam hidup seorang teolog, dosen, pendeta, yang tidak membara untuk mencari tempat di hadirat Allah. Orang-orang yang hari ini tidak merasa membutuhkan tempat di hadirat Allah, jangan harap dia punya tempat di kekekalan nanti. Allah bukan Allah yang murahan. Dia terikat dengan karakteristik-Nya, Dia punya hakikat. 
    Coba, anak-anak yang tidak mengenal orangtua. Tahunya hanya mainan, manisan, balon, jalan-jalan, dia tidak pernah mengerti dan belum mengerti memang, papanya punya perusahaan multinasional.  Yang dia lihat hanya manisan, gulali, balon, mobil-mobilan. Mari kita melihat Allah yang besar, yang dahsyat, dari kekal sampai kekal. Dan kita boleh menjadi anak-anak Allah. Kalau kita mengerti hal ini, perburuan kita akan Tuhan adalah hal utama dan satu-satunya dalam hidup. Tuhan akan menandai orang-orang yang sungguh-sungguh. 
    Yang masih muda-muda, bersyukurlah karena di usia muda,
    9 min
  • Mengalami Suasana Kerajaan Surga
    Sebenarnya Kerajaan Allah sudah hadir, tapi karena kita belum mengalami perubahan, kita tidak memiliki kemampuan untuk menembus batas. Ada kekhawatiran, karena kita menyadari betapa sulitnya memiliki kesediaan untuk benar-benar memindahkan hati kita di Kerajaan Surga. Kalau bangsa Israel mengalami perjalanan dari Mesir ke Kanaan, itu perjalanan jarak. Tapi kalau orang Kristen menuju Kanaan surgawi; itu bukan jarak, melainkan perubahan. Banyak perubahan, sampai kita layak menjadi mempelai Tuhan, menjadi perawan suci. 
    Yang kita khawatirkan, banyak orang tidak sanggup. Banyak orang tidak mau; tidak tekun, tidak sanggup, tidak mampu, karena kita tahu dan mengalami sendiri, betapa sulitnya hal ini. Tetapi kalau kita sudah bisa melangkah, pasti bisa. Sekarang, apa yang kita pandang dalam kehidupan sehari-hari sulit dilakukan? Misalnya, orang yang tidak bisa berenang, kagum kepada orang yang bisa berenang. Main piano, main saxofon, atau main flute, kita rasa sulit. Tapi kalau kita mau melangkah belajar, nanti tahap demi tahap, kita pasti bisa. Kalau mau masuk, mau belajar, lama-lama pasti bisa. 
    Ini sebuah keniscayaan, artinya sesuatu yang mungkin dan bisa kita lakukan. Jadi, perhentian itu tidak dimulai nanti setelah kita mati. Perhentian itu sudah kita mulai sejak kita di bumi. “Datanglah Kerajaan-Mu;” sebelum kita masuki Kerajaan Surga itu, sudah kita rasakan suasananya sejak di bumi ini. Oleh sebab itu, proses yang harus berlangsung dan kita alami dalam hidup adalah proses perubahan dari kodrat manusia—yang suasana dan selera jiwanya ditopang oleh hal-hal duniawi—menjadi seorang yang rohani (berkodrat ilahi), dimana sukacita kita adalah sukacita di dalam Roh Kudus. 
    Ini yang akan mengubah kita. Kekristenan baru benar-benar menjadi jalan hidup, ketika kita sungguh-sungguh mengalami ini. Firman Tuhan mengatakan: “Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman,” ini hal yang bersifat duniawi, fisik, “tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.” Orang Kristen yang bertumbuh dengan benar dan mengalami perubahan kodrat, selain perilakunya akan benar-benar menjadi istimewa, suasana jiwanya pun tidak ditentukan oleh dunia ini. Ini orang-orang yang memiliki Kerajaan Allah. Bukan saja nanti setelah mati boleh masuk surga, tapi juga sejak sekarang sudah memiliki Kerajaan itu. 
    Maka Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “jangan kuatir, hai kawanan kecil, karena Bapamu berkenan memberikan kerajaan ini kepadamu.” Sejak kapan? Ya, sejak sekarang, suasana Kerajaan Allah sudah kita alami. Ingat, ikan air asin atau laut tidak bisa dimasukkan ke dalam air tawar. Sebaliknya, juga pasti jika ikan air tawar dimasukkan ke air laut, mati. Tidak mungkin kalau kita masih yang berkodrat duniawi, masuk surga. Makanya hal masuk surga atau masuk neraka itu bukan sekadar sebuah keyakinan, melainkan sebuah pengertian, pengalaman yang konkrit kita alami, kepastian yang kita miliki. 
    Tidak sedikit orang berkata “saya masih duniawi.” Dengan berkata begitu, dia pikir dia sudah jujur, lalu Tuhan menerima keadaannya. Mungkin kalau dia masih baru menjadi Kristen, Tuhan bisa menolerir. Tapi kalau sudah sekian puluh tahun menjadi orang Kristen lalu berkata: “terus terang, saya masih duniawi,” pasti akan dipertanyakan, kenapa tidak keluar dari keadaan tersebut? Tidak mungkin Roh Kudus tidak memberitahu kekurangan apa yang ada pada kita, yang itu mendukakan hati Allah. Kebiasaan bicara, perilaku, sikap hati yang tidak berkenan di hadapan Allah, pasti Roh Kudus memberitahu, tidak mungkin menjadi teka-teki silang yang sulit dijawab. Roh Kudus pasti berbicara kepada kita. 
    Lagipula kalau Firman Tuhan mengatakan atau mengajarkan kita agar kita membuka diri diperiksa oleh Tuhan, “kenali aku,” pasti Tuhan akan memberitahu. Demikian pula mengenai suasana perasaan kita, pasti Tuhan memberitahu. Jika kita masih terikat dengan perkara-perkara dunia yang membelenggu kita sehingga kita tidak bisa menembus batas,
    11 min
  • Memiliki Perasaan Tuhan
    Kalau kita benar-benar bisa mewujudkan apa yang kita nyatakan dalam syair lagu: “setiap tarikan nafasku, setiap detak jantungku, setiap denyutan nadi” benar-benar untuk Tuhan, kita menjadi seperti instrumen musik yang benar-benar menyenangkan hati Tuhan, menjadi penghiburan bagi Tuhan. Seperti Ayub di tengah-tengah manusia yang jahat pada zaman purba yang segala perbuatannya memilukan hati Allah, tetapi ada orang seperti Ayub yang menjadi keharuman di hadapan Tuhan. Demikian pula kita, di tengah-tengah dunia yang jahat. Di antara manusia yang jahat, masih ditemukan orang-orang yang setiap tarikan nafas, detak jantung, dan denyut nadinya benar-benar bisa dipersembahkan untuk Tuhan, melakukan kehendak Tuhan. 
    Kalau setiap hari hidup kita melakukan kehendak Bapa, itu menjadi keharuman di hadapan Allah, simfoni yang indah, dan menjadi penghiburan bagi Tuhan. Ayub disebut anak penghiburan. Ternyata, bukan hanya penghiburan untuk manusia saja, tetapi juga untuk Allah. Tuhan memberi kita kesempatan; diizinkan-Nya kesempatan atau dibiarkan-Nya kesempatan kita berbuat salah. Ada peluang-peluang dimana kita bisa memuaskan keinginan, ambisi dan nafsu-nafsu kita. Ada peluang, kesempatan, dan sarana untuk itu. Itu kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk menyenangkan Dia. Untuk membuktikan bahwa kita mencintai Tuhan. 
    Ketika kita menolak perbuatan-perbuatan yang Tuhan tidak kehendaki, satu kali, dua kali, tiga kali, maka kita membunuh kodrat dosa. Dan kita menghidupkan kodrat ilahi, menghidupkan karakter Allah. Jadi kelemahan kita apa, di situ Tuhan memberi peluang untuk dipuaskan. Jadi, jangan berharap kita tidak memiliki kesempatan berbuat dosa. Tuhan yang memberi kesempatan, mengizinkan atau membiarkan. Kita tidak bisa berkata: “Aku sebenarnya mau sabar, tetapi orang di sekitarku yang membuatku marah.” Justru memang orang di sekitar kita yang membuat kita marah. Kalau kita tidak marah, kita bisa mengendalikan emosi. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam kali, maka kita membunuh karakter dosa dan menghidupkan karakter ilahi. Kita memiliki kesempatan untuk berbuat dosa, dan biasanya setan akan berkata: “kali ini, kali ini saja, ini yang terakhir.” 
    Jangan sekali-kali bicara “ini yang terakhir,” karena tidak pernah menjadi yang terakhir. Kita harus berkata “tidak.” Hal ini membuat kita bisa memberikan korban yang berbau harum. Ketika daging, nafsu, ambisi dan ego kita disalibkan, itu membawa keharuman di hadapan Allah. Kita harus merindukan kehidupan yang berbau harum. Banyak masalah yang belum selesai, banyak kebutuhan yang belum terpenuhi tetapi jangan terjebak di dalam persoalan-persoalan yang memang tidak akan pernah habis. 
    Kebutuhan juga tidak akan pernah habis; selalu ada yang dirasa sebagai kebutuhan. Tetapi kita harus bisa mengatakan “Yesus cukup bagiku. Yang penting bagaimana aku menjadi keharuman bagi Dia, menjadi simfoni yang indah.” Yang kedua, kita akan diberi kesempatan Tuhan untuk menolong Lazarus-Lazarus. Pasti ada Lazarus-Lazarus yang Tuhan kirim. Belas kasihan seperti ini harus kita miliki; belas kasihan Tuhan. Maka kita bisa minta hati seperti hati yang dimiliki oleh Tuhan. 
    Tuhan akan memberi kita kesempatan bertemu dengan Lazarus-Lazarus yang mengganggu hidup kita, yang merepotkan kita. Lazarus-Lazarus adalah kesempatan kita mengumpulkan harta di surga untuk berprestasi di kekekalan. Di Matius pasal 25, Tuhan Yesus berkata bahwa apa yang kita lakukan untuk saudara kita yang membutuhkan pertolongan, itu diperhitungkan sebagai tindakan kita untuk Tuhan sendiri. Hati kita akan dipuaskan ketika mengulurkan tangan untuk Lazarus. Kalau dulu kita merasa diganggu, direpotkan, tetapi suatu saat sampai tingkat tertentu, kita merasa puas, sukacita dan bahagia, ketika mengulurkan tangan untuk Lazarus-Lazarus yang Tuhan kirim. 
    Dan ketika kita bertumbuh di dalam perasaan Tuhan seperti itu, perasaan Tuhan akan tersentuh. “Siapa yang memakai perasaan-Ku ini?” Ternyata kita. Percayalah,
    9 min
  • Bukan Pengharapan
    Banyak orang yang sebenarnya hidup tanpa pengharapan. Kalaupun mereka merasa memiliki atau ada sesuatu yang diharapkan, sebenarnya itu adalah sesuatu yang bukan atau tidak pantas menjadi harapan. Tetapi manusia digerakkan oleh harapan-harapan yang sebenarnya tidak menjanjikan dan bukan pengharapan. Memang, kalau seseorang memiliki suatu pengharapan, hidupnya itu bisa menjadi energik, bergairah, bersemangat oleh karena pengharapan itu. Seorang yang berkarier, dia bekerja keras dengan harapan nanti mendapat promosi jabatan atau kenaikan gaji. Pengharapanlah yang menggerakkan manusia pada umumnya, menggelar dan menapaki hari-hari hidupnya. Tetapi pengharapan semacam itu hanya sementara, sebab: 
    Yang pertama, belum tentu bisa meraih apa yang dicita-citakan. Seperti seorang pengayuh becak yang selalu membeli lotere dengan harapan akan menang, padahal belum pernah ia menang, tetapi masih saja dia main lotere. Yang kedua, kalaupun tercapai, belum tentu dapat dinikmati. Tidak jarang apa yang dicita-citakan, yang dicapai itu malah menghancurkan hidupnya. Setelah berhasil menjadi orang kaya, misalnya, rumah tangganya menjadi tidak harmonis. Lalu yang terakhir, apa pun yang bisa diraih manusia di dunia ini bersifat sementara. Ini semua fakta, bukan mengada-ada. 
    Di dalam Roma 8:24 dikatakan, “sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Jadi, orang percaya yang benar pasti berjuang mengalami proses untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, yang sama dengan dikembalikan ke rancangan Allah semula. Dimana nanti kita akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Inilah maksud kalimat: “sebab kita diselamatkan dalam pengharapan.” 
    Kita memiliki pengharapan adanya kehidupan dimana tidak ada sakit-penyakit, krisis ekonomi, bencana, perang, dan kematian. Jadi keselamatan yang kita miliki hari ini, buahnya secara sempurna, secara lengkap belum terwujud. Nanti waktu kaki kita menginjak langit baru bumi baru, kita masuk Rumah Bapa, itu barulah keselamatan dipenuhi secara sempurna. Hal itu yang mestinya menggerakkan hidup kita hari ini. Memang tidak terlihat, tetapi itu yang menjadi pengharapan kita, yang menggerakkan kita menjalani hidup. 
    Jadi kalau kita harus mengalami keadaan-keadaan yang menurut pandangan mata manusia tidak baik, sebuah musibah, kecelakaan atau kesialan, tetapi Allah demi keselamatan kekal dan kehidupan kekal kita, mengizinkan semua itu terjadi. Supaya kita tidak menaruh pengharapan apa pun untuk kehidupan di bumi ini. Pengharapan kita harus hanya ada di dalam Kerajaan Surga. Sebab dengan demikian, yang pertama, hidup kita akan terpacu lebih benar. Terpacu hidup kudus; tak bercacat, tak bercela. Yang kedua, kita menjadi kokoh, kuat dalam menghadapi segala situasi. Tidak menjadi rentan, lemah, mudah putus asa, karena pengharapan kita ada di belakang langit biru. Pengharapan kita ada di dalam surga, bukan di dalam dunia ini. 
    Kita harus berani memindahkan pengharapan hidup kita; bukan sekadar “nanti mudah-mudahan aku dapat jodoh,” setelah dapat jodoh, “nanti mudah-mudahan aku punya anak,” setelah punya anak, “mudah-mudahan nanti anakku sempurna, sukses. Suamiku atau istriku adalah pasangan yang ideal dan sempurna. Nanti punya menantu yang baik, bisa menyaksikan cucu-cucu dan melihat mereka semua berhasil dalam studi, kariernya.” Pengharapan yang sesungguhnya itu di kekekalan. Kalau sesuatu dijadikan pengharapan tetapi tidak memenuhi rencana Allah di dalamnya dan tidak mendukung kehidupan kita agar layak masuk ke dalam Rumah Bapa menjadi anggota keluarga Kerajaan-Nya, itu bukanlah pengharapan. Itu bisa menjadi racun,
    10 min
  • Bisa Dilewati
    Kita sering sibuk dengan banyak hal. Kalau Tuhan berkata, ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,” artinya sibuklah dengan hal ini. Tetapi, banyak orang sudah terbiasa sibuk dengan banyak hal, seperti orang lain; sibuk karier, rumah tangga, bisnis, hobi, itu yang merenggut, menyita waktu, dan perhatian. Apa tidak boleh? Kalau kita mau hidup wajar seperti orang dunia, kita tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Jika dipertanyakan apakah hal tersebut salah, untuk kita, itu salah. 
    Kalau kita nanti mati, melihat kemuliaan Allah di pengadilan Tuhan, kita akan berkata: “kalau tahu begini, aku tidak nikah; aku tidak punya anak; aku tidak punya hobi; aku tidak punya cita-cita apa pun.” Kita baru tahu bahwa apa yang dimaksud Paulus menguntungkan dalam ucapannya, “baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah,” itu benar demikian. Jadi, sekarang setelah kita makin mengerti kebenaran ini, kita betul-betul meronta, menggeliat untuk keluar dari kebiasaan hidup lama kita. Satu per satu hasrat, niat, keinginan, cita-cita, hobi ditanggalkan, menjadi tidak wajar di mata manusia. 
    Kalau orang di hadapan keagungan, kemuliaan Allah di pengadilan Tuhan nanti, dia baru tahu, “kalau begini, aku tidak nikah. Kalaupun aku nikah, karena Tuhan yang suruh nikah. Kalau tahu begini, aku tidak akan punya anak. Tapi kalaupun aku punya anak, aku persembahkan anak untuk Tuhan. Kalau tahu begini, aku tidak punya kegiatan. Tapi kalaupun aku punya kegiatan, apa pun kegiatan itu, kupersembahkan untuk Tuhan.” Itu baru menjadi alat kemuliaan Allah. 
    Sebelum terlambat, ayo kita kembali kepada kekristenan yang sejati. Kristen yang sejati, standarnya Tuhan Yesus. Berhubung kita tidak tahu berapa ukuran yang harus kita capai; kita tidak tahu bentuk apa yang Tuhan mau dalam hidup kita, masing-masing tidak perlu menilai orang atau menghakimi sesamanya. Uruslah dan perkarakan kelayakan diri kita masing-masing. Sayangnya, sebagian kita ini masih sibuk dengan diri sendiri. Bagi yang masih tidak mau nurut, silakan lanjutkan kesibukanmu. Tapi kalau mau bersama-sama berubah, jangan tenggelam dan hanyut dalam masalah. Sebab, meskipun kita meratap, tenggelam dalam masalah tersebut, keadaan juga mungkin tidak berubah. Hidup akan berakhir. Jadi, fokus saja kepada Tuhan, kita berkemas-kemas. 
    Masalah bisa kita hadapi dengan menggunakan satu jurus: “bisa dilewati.” Bisa dilewati, bukan “bisa dihindari.” Bisa dipikul, ditanggung, dan melaluinya, kita diproses. “Dengan aku bangkrut, tidak ada kegiatan, aku datang ke gereja. Lalu aku mendengar firman Tuhan yang menyuruh agar berkemas-kemas, fokus mencari Tuhan.” Sebenarnya apa yang disampaikan ini juga tidak waras atau tidak normal. Kita masih hidup, tapi pikiran kita sudah ke langit baru bumi baru. Alkitab yang berkata: “Carilah perkara yang di atas, bukan di bumi. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan di bumi. Di mana hartamu, di situ hatimu berada.” 
    Makanya kalau kita mengerti itu, sekarang kita memberi diri dibentuk Tuhan. Diproses menjadi bejana yang indah. Dan bersyukur bagi orang-orang muda yang sejak muda sudah mendengar kebenaran ini. Masih ada waktu panjang untuk mengalami proses, supaya nanti bisa menjadi lebih baik. Sebab, sekarang kita lihat banyak anak-anak muda sesat, mereka tidak memikirkan kekekalan sama sekali. Tidak kenal Allah yang hidup dan Mahahadir. Allah menjadi mati bagi mereka, Allah seakan-akan tidak ada bagi mereka. Mereka jauh dari proses ini, dan tidak bersentuhan dengan Tuhan.
    Tetapi memang Alkitab juga menubuatkan begitu, bahwa di ujung akhir zaman ini kedurhakaan bertambah-tambah, kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Manusia menjadi ateis; tidak percaya Tuhan. Kita yang segelintir ini, mestinya bisa menjadi jurukampanye Tuhan lewat kehidupan kita. Tidak usah arguing; adu argumentasi, berdebat, tidak perlu. Tapi kalau Tuhan suruh kita bicara di media sosial, memang itu harus disampaikan,
    10 min
  • Berbau Harum
    Kalau kita melihat barang atau benda dari seseorang yang sudah meninggal dunia—apakah mereka adalah kakek, nenek, orangtua atau saudara atau siapapun—maka kita bisa menghayati betapa singkatnya hidup ini. Terlebih kalau kita ada di kuburan, lalu kita melihat nisan yang tertulis nama orang yang kita pernah kenal; khususnya orang yang pernah hidup bersama dengan kita. Kita perlu merenungkan dan menghayati hal ini. Manusia itu datang dan pergi. Namun kenyataannya, hampir semua orang lupa. Jangankan orang di luar gereja, aktivis bahkan pendeta pun bisa melupakan hal ini. 
    Jadi, hari ini kita merenungkan dan menggoreskan sedalam-dalamnya di hati kita, sehingga kita tidak melupakannya. Firman Tuhan mengatakan di dalam Yakobus 4:13, “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Ini yang harus kita ingat. Kalau orang melupakan hal ini, maka ia jadi sombong, tidak menjaga perasaan Tuhan; apalagi kalau dia kuat, punya jabatan, kedudukan, kekuasaan, uang atau relasi pejabat. 
    Dan sudah bisa dipastikan, ia tidak peduli perasaan orang lain, apalagi perasaan Tuhan. Ini celaka, laknat, sebab ada perhitungannya. Memang orang-orang seperti ini kelihatannya agung karena mereka kaya, kuat, punya relasi pejabat. Namun sejatinya mereka membangun laknat. Orang-orang seperti ini berbau busuk di hadapan Tuhan. Jangan jadi manusia yang bau, jadilah manusia yang harum. Jadi biarpun kita miskin, di pandangan mata kita manusia bau, tetapi dalam pemandangan Tuhan kita harum. Ayo, kita berubah. Jangan tidak berubah. Sebab:
    Pertama, orang sombong sering kali tidak menyadari bahwa ia memiliki waktu hidup yang singkat atau terbatas. Jadi, jangan kita berpikir seakan-akan kita itu tidak pernah mati, seakan-akan jalan ini tidak ada ujungnya. Ada, ada ujungnya dan kita tidak tahu di mana ujungnya. Nah, kalau sudah bisa menghayati hal ini, kita tidak akan main-main lagi. Sambil membayangkan, kalau nanti kita bertemu Tuhan, bagaimana gentarnya kita. Tapi jangan tunggu nanti ketemu Tuhan baru gentar. 
    Sejak di dunia ini, dengan hati yang rendah dan hormat, kita datang kepada Tuhan lalu memeriksa diri; masih ada dosa atau tidak. Kita akan dibimbing Tuhan; pasti Tuhan pimpin. Karena setiap saat kita bisa mati, kita mesti benar-benar membawa diri kita benar di hadapan Tuhan. Kalau hanya ke gereja seminggu sekali atau seminggu 2 kali, pasti kita masih menjadi manusia asing di hadapan Tuhan. Setiap hari kita harus datang, dan setiap saat kita menghayati bahwa Allah hidup, hadir, menyertaiku. Mata Tuhan melihat. Jangan jadi manusia asing di hadapan Tuhan. 
    Mumpung masih ada kesempatan. Karena hidup kita seperti uap, dan kita tidak tahu kapan berakhir. Kalau kita tidak menemukan tempat di hadapan Tuhan, sejak di bumi ini, jangan harap punya tempat di hadapan Tuhan nanti. Hidup hari ini di bumi yang sudah terkutuk, sangat susah. Makanya kita harus arahkan fokus hidup kita ke Langit Baru Bumi Baru. Ini tidak membuat kita jadi “aneh.” Kita tetap memaksimalkan potensi, kerja keras, bertanggung jawab tapi fokus kita di Langit Baru Bumi Baru. 
    Kedua, orang sombong tidak mau mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya. Maka dikatakan dalam ayat berikutnya, “… kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Seharusnya kamu berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Bukan tidak boleh ini dan itu atau pergi ke kota anu—sebab manusia harus punya aktivitas—melainkan jika Tuhan menghendakinya. Belajar dari pengalaman-pengalaman hidup, mari kita serius menjadi manusia yang berbau harum. 
    Walau pada umumnya manusia itu hidup mau-maunya sendiri—karena merek...
    9 min
  • Mengisi Kesepian
    Sejujurnya, ada saat dimana kita merasa bahwa hidup ini sepi. Setiap kita pasti mengalami saat dan suasana dimana kita merasa kesepian. Pada waktu itu, banyak orang umumnya mencoba melakukan sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hati atau kesepian tersebut. Apakah melakukan ini dan itu; pergi ke tempat anu, ketemu siapa, nonton film, atau melakukan pekerjaan lainnya. Sejatinya, pada waktu seperti itu, Tuhan sedang memanggil kita untuk berurusan dengan Tuhan, yang bisa mengisi kesepian kita. 
    Terutama bagi kita yang mengalami kekecewaan; seperti ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, entah meninggal dunia, entah pergi ke tempat tertentu. Jangan merasa sebagai orang yang ditinggalkan oleh siapa pun, karena ada satu Pribadi yang mau mengisi hidup kita, dan Pribadi itu adalah Tuhan. Saat kita merasa kesepian atau merasa ada sesuatu yang harus dikerjakan untuk membuat hidup seperti berdinamika, kita sebenarnya dipanggil untuk berurusan dengan Tuhan. 
    Manusia harus memiliki dinamika hidup bersama dengan Allah. Pada umumnya, orang memiliki dinamika hidup dengan sesamanya, barang-barang dunia, atau segala kesibukan yang tidak terkait langsung dengan Allah. Manusia sudah biasa memiliki irama hidup seperti itu. Tetapi ada saat dimana kita merasa ada sesuatu yang kurang. Sebenarnya ini panggilan untuk berurusan dengan Tuhan. Apabila kita sedang mengalami kesulitan, tekanan, tindasan, pergumulan berat, berarti kita memang dipanggil untuk berurusan dengan Tuhan. 
    Bukan hanya ke gereja seminggu sekali, atau di pertengahan minggu ikut persekutuan doa, tetapi di setiap saat kita memikirkan Tuhan. Sampai kita benar-benar memiliki pengalaman riil dengan Allah. Caranya dengan mengubah rutinitas hidup kita. Biasanya ketika merasa kesepian, maka kita mencari teman untuk jalan atau kmembentuk komunitas arisan, sekarang kita berurusan dengan Tuhan. Masuk ruang kamar, berdoa kepada Tuhan, mencari Tuhan. Bukan berarti meninggalkan tanggung jawab, tetapi kita mengubah rutinitas dengan rutinitas baru. 
    Kalau seseorang mengisi hari hidupnya hanya dengan makan minum dan pesta pora, pasti tidak ada berkat kekal yang dia terima. Orang-orang seperti ini sampai pada satu titik, ia tidak bisa mengalami Tuhan, tidak mampu menghayati Tuhan. Karena ketika Tuhan memanggil dia melalui perasaan kesepian, ia mengisinya dengan perkara-perkara fana. Jadi, kalau firman Tuhan mengatakan, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui. Berserulah kepada-Nya selama Ia dekat.” berarti kalau kita diberi kesempatan untuk mencari Tuhan lalu tidak mencari Tuhan, maka kita akan kehilangan wajah-Nya untuk selama-lamanya (Yes. 55:6). Sebab ada saat dimana Tuhan tidak bisa ditemui. 
    Persoalan yang sering ada dalam hidup banyak orang—yang juga merupakan kebodohan adalah ketika orang menunda. Menunda apa yang seharusnya dilakukan. Hal ini yang membuat seseorang akan kehilangan kesempatan selama-lamanya. Ini adalah kengerian yang dahsyat, bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Jadi kita harus mengubah rutinitas. Jangan memaksakan diri menemukan Firdaus di bumi yang tragis ini. Kita akan ditipu oleh kuasa kegelapan, lalu saat kita meninggal, kita tidak memiliki apa-apa. Tuhan akan menuntun kita bagaimana memiliki motivasi hidup seperti ini. 
    Jangan seperti Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan. Ini adalah pilihan. Oleh sebab itu, peringatan ini harus sungguh-sungguh kita tanggapi dan respons. Jangan anggap sepele. Ingat, kalau kita menyalurkan kesepian kita kepada sesuatu, maka sesuatu itu akan menjadi belenggu atau ikatan. Ikatan itu seperti sarang laba-laba yang makin hari makin kuat, lalu tidak pernah bisa terlepas. Mengerikan sekali. Maka kalau kita mengarahkannya kepada Tuhan, kita mengikatkan diri pada Tuhan dan dibelenggu oleh Tuhan. Berurusan dengan Tuhan itu setiap saat. Sehingga akan menjadi kebiasaan menikmati hadirnya Bapa di dalam kehidupan kita. Dan hidup kita akan berdinamika indah; dinamika hidup sebagai anak-...
    10 min
  • Menjaga Ruang Mahakudus
    Apakah Allah ada di tempat setengah kudus? Pernahkah Allah diam di tempat setengah kudus atau hanya “kudus?” Tentu mahakudus. Kalau Dia bersemayam di hati kita, tempat itu harus menjadi Ruang Mahakudus. Kita sudah terlalu lama hidup sembarangan, sehingga kita tidak menghargai betapa mahal harga ransom; tebusan yang Allah berikan, yaitu darah dan nyawa Putra Tunggal-Nya, agar Dia bisa tinggal di hati kita. Lalu, kita sembarangan dengan hidup ini; kita membiarkan perkataan dan hal-hal najis masuk di dalam hati kita. Kita masih bisa berkata: “tubuhku bait Allah,” masih bisa mengatakan: “Allah diam di dalam aku,” dan Allah seakan-akan diam. Memang Allah sering bersikap seakan-akan Ia diam. Kitalah yang harus proaktif mempertanyakan dan mempersoalkan. 
    Jadi, kita bisa mengerti mengapa firman Tuhan mengatakan: “Keluar kamu dari antara mereka dan jangan menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-Ku perempuan, dan Aku tinggal di dalam kamu.” Untuk satu ini, kita harus bertobat. Mari kita bertobat hari ini. Kita mau serius menjaga Ruang Kudus Allah. Kita minta kepada-Nya, “jaga aku. Jangan sampai aku mengotori hatiku, Tuhan. Lindungi aku, Tuhan. Aku minta lindungi aku, Tuhan.” Ini pesan yang harus kita terima. Bagi yang mau bertobat, ayo bersama, kita bertobat. Yang tidak, risiko ditanggung masing-masing. 
    Apa pun masalah yang kita hadapi, itu bukan masalah besar. Jangan takut. Yang seharusnya menjadi masalah besar bagi kita, apakah kita menjaga Ruang Mahakudus Bapa di hati kita? Yang mau menyombongkan diri, silakan. Tapi bagi yang mau merendahkan hati, mari berkata, “aku orang berdosa. Aku sering mencemari Ruang Mahasuci Allah dengan hal-hal najis; yang kupikirkan, kuucapkan, kulakukan. Tapi hari ini aku mau bertobat.” Hendaknya kita tidak bermain-main dengan kekekalan. 
    Tidak masalah, apa pun keadaan kita. Kalau Roh Allah diam di dalam hati kita, Dia bersemayam, Dia bertakhta, kita menjadi milik-Nya, kita dibela Tuhan. Kalau Tuhan lawan kita, tidak ada yang bisa bela kita. Maka, jangan lawan Tuhan. Kalau Tuhan bersemayam di hati kita, kita harus tetap menjaga kekudusan. Berjuang, walaupun kita mengalami jatuh bangun; kita masih bisa salah, tapi kita minta ampun. Kita selalu bersih-bersih, sehingga kita akan bisa benar-benar menghayati Allah itu hidup, Allah hadir di dalam diri kita. 
    Hendaknya kita menjaga Ruang Kudus-Nya siang dan malam. Biar, kita memang akan terlihat seperti orang yang tidak waras. Tapi kita tahu, suatu hari hanya orang yang menjadikan dirinya bait Allah, yang dijemput Bapa di surga. Meskipun mungkin setelah membaca renungan ini, kita akan kembali dengan cara hidup seperti kemarin; kita hanya tersentuh sesaat, hati kita hanya retak, hanya tergores, dan tidak pecah. Maka, kita tidak pernah jadi rohani; kita tetap duniawi. Kita pikir sudah cukup dengan hanya tergores, dan tidak hancur. Tapi, kita tidak mau setengah-setengah. Hancurkan bejana hidup kita. Jangan takut mengenai apa pun, sebab Dia besar, Dia Allah yang menciptakan langit dan bumi, dari kekal sampai kekal. Kalau Dia bersemayam di hati kita, itu suatu hal yang luar biasa. 
    Mengapa Tuhan membiarkan bait Allah yang begitu disanjung, begitu dipuja, menjadi pusat ibadah dan juga menjadi pusat persatuan bangsa Yahudi, dihancurkan Tuhan? Bahkan Tabut Perjanjian yang dulu begitu sakral, begitu keramat, begitu berkuasa, lenyap, tidak pernah ditemukan. Lost Ark; tidak pernah ditemukan, karena memang tidak perlu ditemukan. Ada orang-orang Kristen yang masih bicara bangga mengenai bait Allah di Yerusalem yang akan dibangun oleh bangsa Yahudi. Kita tidak perlu bangga, karena bukan bait Allah itu yang dikehendaki Allah. Di dalam nama Yesus Kristus, tubuh kita inilah bait Allah itu. 
    Gereja yang sesungguhnya adalah kita, bukan sebuah bangunan gedung. Jadi kita tidak perlu ngotot punya gedung gereja. Kita bisa kontrak tempat, sewa ruangan, sehingga kapan saja bisa pergi dan pulang.
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…