Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kehausan Akan Allah
    Kalau kita mengatakan bahwa hanya Tuhan yang bisa mengisi kekosongan jiwa, hanya Tuhan yang bisa menjadi kebahagiaan hidup satu-satunya, kita menjadi kekasih Tuhan. Kalau kita menjadi kekasih Tuhan, kita tidak usah minta perlindungan Tuhan, karena Tuhan pasti sudah melindungi kita. Tidak usah minta berkat Tuhan, karena Tuhan tahu apa yang kita perlukan. Ini akan membuat kehausan jiwa kita makin merekah, dan Tuhan akan menjawab kehausan itu. Kalau kita sekarang ada dalam pergumulan tertentu dan rasanya Tuhan tidak memedulikan, tidak menjawab, tidak menolong, seakan-akan Tuhan tidak membela, jangan kecewa. 
    Persoalan masih ada, tetapi jawaban yang kita butuhkan bukanlah jalan keluar dari persoalan itu. Yang kita butuhkan adalah Tuhan sendiri yang mengisi kekosongan jiwa kita. Kalau kita berkata, “kuperlu Kau, Tuhan,” bukan karena membutuhkan uang, pembelaan Tuhan atau karena mau sembuh, tetapi karena kita membutuhkan Pribadi-Nya. Semakin kita bisa meninggalkan ikatan dengan dunia ini, semakin kita merasakan kehausan akan Allah. Sebagaimana pemazmur mengatakan, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selamanya,” artinya walaupun pada kenyataannya keadaanku tidak baik, tetapi aku menikmati Tuhan sebagai kebahagiaanku. Ini akan menjadi kekuatan, dan kita akan menjadi orang yang unggul. 
    Kita pasti punya persoalan yang kadang membuat kita merasa tertekan, menjadi sulit tidur, stres. Tetapi, Tuhan mengajar kita untuk bisa menjadikan Tuhan sebagai kesukaan, kebahagiaan di tengah-tengah situasi itu. Kalau tidak ada keadaan yang sulit, tidak ada pergumulan, kita belum teruji. Justru di tengah-tengah keadaan yang sulit, kita tetap menikmati Tuhan dan menjadikan Dia segalanya di dalam hidup kita, maka kita menjadi manusia unggul. Kalau kita sampai pada tingkat yang lebih dewasa, kita membawa persoalan kita kepada Tuhan tanpa mengatur Tuhan. Sampai kita bisa berkata, “Ini persoalanku, Tuhan. Berat menghadapi ini dan itu. Kebutuhan ini dan itu, aku serahkan dalam tangan-Mu. Apa jadinya nanti, terserah Engkau, Tuhan. Aku hanya mau Engkau menjadi kesukaan dan kebahagiaanku.” Ini luar biasa. 
    Selama seseorang belum sampai pada kehausan yang kudus seperti ini, dia akan mencari pelabuhan di mana dia mendapatkan perhentian. Kita mau mendapatkan perhentian hanya di dalam Tuhan saja. Kita tahu bahwa Tuhan yang hidup, Tuhan yang pasti akan kita alami secara riil. Sebagaimana kita punya orangtua, saudara, atau sahabat, kita bisa berinteraksi dengan mereka, kita juga bisa berinteraksi dengan Tuhan. Kita bisa mengalami Tuhan itu hidup, nyata. 
    Kita memerlukan Tuhan karena Tuhan sendiri, Pribadi-Nya. Kita tidak mau akal-akalan, merasa perlu Tuhan padahal yang kita butuhkan bukan Tuhan, tetapi hanya berkat-Nya, kuasa-Nya. Kalau kita punya masalah, kita tergoda untuk bisa lepas dari masalah itu, dan kita membayangkan kalau masalah berlalu, “betapa senangnya aku.” Itu berarti kita memberhalakan masalah, seakan-akan masalah itu menjadi penghalang kebahagiaan kita. Kebahagiaan kita bukan karena masalah kita diangkat atau bukan karena kita tidak punya masalah. Kebahagiaan kita itu karena Tuhan; Tuhan saja. Kita harus fanatik dalam hal ini. Tuhan tahu kita benar-benar membutuhkan Dia secara pribadi dan menjadikan Dia kebahagiaan kita, atau kita hanya mau memanfaatkan kuasa-Nya. 
    Orang yang haus akan Allah akan mencintai Allah, karena Allahlah objek cinta satu-satunya. Tidak ada yang dapat membahagiakan dirinya kecuali Allah. Inilah yang mestinya kita bangun. Mengapa tidak bisa? Karena kita tidak melepaskan diri dari ikatan percintaan dunia. Coba kita belajar seperti pemazmur, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Maka, jangan merasa malang kalau kita tidak punya pasangan atau pasangan mengkhianati kita. Jangan merasa malang karena tidak punya keturunan atau tidak punya apa-apa dan siapa-siapa.
    10 min
  • 24/7
    Menjadi masalah besar bagi kita semua kalau kita meninggal dunia nanti, ternyata kita belum memiliki Tuhan. Jadi, jangan merasa sudah menjadi Kristen berarti sudah memiliki Tuhan; sudah ke gereja berarti sudah memiliki Tuhan. Belum tentu. Orang yang memiliki Tuhan pasti memiliki sifat-sifat-Nya. Jadi kalau kita belum memiliki sifat-sifat Tuhan—yang penuh belas kasihan terhadap sesama, yang menjauhi segala bentuk perbuatan yang melanggar kekudusan Allah—berarti kita belum memiliki Tuhan. Maka seharusnya ini yang menjadi target, proyeksi, tujuan hidup kita; dan kita harus serius memperjuangkannya. Sebab kalau kita tidak memiliki perjumpaan dengan Tuhan, tidak mungkin kita memiliki hati yang takut akan Allah. Dengan demikian, kita pun tidak benar-benar bisa hidup benar. 
    Kita harus menyadari bahwa memiliki Tuhan itu menuntut kesungguhan kita. Dari pihak Tuhan, Tuhan menyediakan Firman, memberikan Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran dan segala kejadian yang membentuk kita. Tetapi dari pihak kita, dibutuhkan respons. Kalau kita tidak mengalami sebuah kontak dengan Tuhan, maka kita pasti tidak punya frekuensi yang nyambung dengan Tuhan. Di sini letak masalahnya, banyak orang percaya yang kurang serius atau tidak serius dengan Tuhan. 24 jam setiap hari 7 hari dalam seminggu kita seharusnya menyediakan waktu dengan sungguh-sungguh, sehingga kita dapat menghayati Allah yang hidup. 
    Kita bisa melihat, orang-orang yang menghayati Allahnya. Jangan coba-coba menyinggung, mencederai nama Allah atau kitabnya. Nyawa mereka pertaruhkan. Begitu hormatnya mereka akan allahnya, begitu menjunjung tinggi. Tentu bukan berarti kalau nama Yesus dicela lalu kita marah; tidak perlu begitu. Tuhan kita bisa dan sanggup membela diri-Nya sendiri. Sebaiknya kita diam saja, tidak perlu marah, karena kita mau menjadi orang-orang yang beradab di tengah-tengah polarisasi kemajemukan manusia. 
    Maka jangan sampai kita meninggal dunia, kita tidak diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Jangan anggap ringan atau sepele, jangan main-main. Kita pasti suatu hari akan menghadap takhta pengadilan Tuhan di mana keadaan kita akan dibuka; tidak ada yang dapat kita tutup-tutupi. Karenanya kita mutlak setiap hari menghadap Tuhan. Bayangkan kita sudah ada di hadapan Tuhan, kira-kita bagaimana perasaan kita? Kalau kita belum sungguh-sungguh memiliki Tuhan, pasti kita akan gemetar, tidak tahan berdiri di hadapan Allah. Memiliki Tuhan membutuhkan kesungguhan kita, tidak bisa singkat. Jadi mestinya dalam hidup ini, kita hanya memiliki satu ruangan; ruangan Tuhan. 
    Pada umumnya orang mempunyai banyak ruangan. Ruangan bisnis, keluarga, hobi, karier, studi dan lain sebagainya. Sementara ruangan Tuhan ada di pojok, yang hanya dimasuki ketika kita ke gereja. Padahal firman Tuhan mengatakan, “Baik kamu makan atau minum, atau melakukan segala sesuatu, lakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Jadi ruangan itu hanya ruangan Tuhan. Tidak ada yang kita kerjakan tanpa ada kaitan dengan Allah. Kalau kita studi dan berprestasi, hal itu supaya kita memiliki keahlian sehingga mendapat pekerjaan. Dengan bekerja, kita punya uang untuk membalas kebaikan orangtua, menolong sesama dan mendukung pekerjaan Tuhan. Kalau ruangan kita hanya untuk Tuhan, kita akan jauh dari perbuatan salah dan perbuatan yang melanggar kesucian Tuhan. Jadi, kita harus sungguh-sungguh berurusan dengan Tuhan sebagai sesuatu yang kita pandang segalanya. Sejatinya, hidup ini memang hanya untuk berurusan dengan Tuhan. 
    Waktu hidup kita yang hanya 70-80 tahun ini hanyalah persiapan untuk kekekalan. Sedangkan hidup yang sesungguhnya yaitu nanti di belakang langit biru; dan inilah yang harus kita usahakan. Seperti yang dikatakan dalam 2 Korintus 11, bahwa setiap individu harus menjadi perawan suci bagi Tuhan Yesus. Sehingga Paulus juga mengatakan, “… aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi.” Bukan cemburu dalam arti atau pengertian umum.
    9 min
  • Bisa Dilewati vs Bisa Dihindari
    Sebenarnya banyak orang Kristen yang hidup di dalam pergumulan yang belum selesai. Mereka hidup dalam kebutuhan yang belum terpenuhi, termasuk sebagian besar kita. Bahkan tidak sedikit orang Kristen yang merasa kurang bahagia dalam menjalani hidup, karena berbagai persoalan yang membelit hidup mereka. Banyak orang Kristen hidup dalam penantian; penantian memperoleh jalan keluar dari persoalan dan masalah hidup, penantian untuk pemenuhan kebutuhan yang mereka pandang sebagai kebutuhan. Ironis, banyak orang Kristen yang tidak realistis, mereka berpedoman hidup harus terlihat luar biasa—dalam ukuran umum. Hal ini sebenarnya membuat mereka tidak menyikapi hidup dengan benar. Terus terang, orang yang tidak menyikapi hidup dengan benar sulit diajar kebenaran dan memikirkan kekekalan. Biasanya ukuran “dahsyat” dan “luar biasa” yang dilontarkan banyak orang adalah berdasarkan ukuran manusia; berangkat dari cara pandang atau perspektif umum, perspektif kefanaan, bukan cara pandang kekekalan. 
    Sejatinya, kita harus berkata, “bisa dilewati.” Kata “bisa dilewati” bukan berarti selalu mendapat jalan keluar dari persoalan-persoalan hidup yang dihadapi. “Bisa dilewati” bukan berarti apa yang kita anggap sebagai kebutuhan dan keinginan sudah terpenuhi atau terjawab. “Bisa dilewati” bukan berarti kita menjalani hidup tanpa masalah atau persoalan berat. Kalaupun kita mengalami persoalan-persoalan berat yang tidak mudah diselesaikan, tetapi kita mampu bertahan dalam keadaan itu. Jadi “bisa dilewati” berarti kita mampu bertahan dalam keadaan kita sekarang—walaupun dalam persoalan atau masalah berat, kebutuhan belum terpenuhi, doa yang belum terjawab—dan kita tetap setia kepada Tuhan. Kita tidak mencurigai Dia. Tidak bersungut-sungut, dan kita tahu bahwa Tuhan sedang menuntun kita kepada kekekalan, sebab masalah ini menyempurnakan dan mendewasakan. Tentu dengan landasan berpikir bahwa persoalan-persoalan kita memang diizinkan Tuhan. Memang hal itu mendewasakan, menyempurnakan kita sebagai persiapan yang melayakkan kita menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. 
    Harus selalu kita ingat, dunia yang sudah jatuh ini bukan tempat ideal sebagai hunian. Kesulitan-kesulitan adalah bagian hidup yang tidak bisa tidak, harus kita jalani. Firman Tuhan mengatakan, “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian… Bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus. Supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan diri” (1Ptr. 4:12-13).  Berarti kita memang harus menghadapi kesulitan; bahkan penderitaan. Harus kita renungkan, pengertian antara “bisa dilewati” dan “bisa dihindari,” karena ini memiliki perbedaan yang besar. Ironis, orang yang mudah berkata “hidup ini dahsyat, luar biasa,” artinya “mereka bisa menghindari masalah.” Ingat, bukan dihindari, tetapi bisa dilewati. Tetapi banyak orang yang senangnya menghindari. 
    Tuhan Yesus pada puncak penderitaan-Nya di taman Getsemani, sempat meminta: “Jika boleh cawan ini boleh lalu…” Dihindari. Tetapi Bapa di surga berkata: “tidak,” walaupun tidak tertulis. Tetapi faktanya memang Bapa di surga berkata “tidak.” Dan Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, berkata: “Bukan kehendak-Ku yang jadi, Bapa, kehendak-Mulah.” Bukan dihindari, tetapi harus dijalani. “Bisa dilewati” artinya kita harus menjalani sebuah keadaan, harus mengalami suatu keadaan yang berlangsung, bukan menghindarinya. Jadi ketika kita berkata “bisa dilewati,” di balik pernyataan itu kita memiliki pengakuan bahwa memang kita harus menghadapi kesulitan di dalam hidup ini. Hal ini berarti kita menerima realitas keadaan hidup yang tidak ideal di bumi. Tentu sikap ini membuat kita tidak manja. Kalau kita berkata “ikut Yesus”, berarti kita harus mengalami apa yang Tuhan Yesus alami pada waktu Ia menjadi manusia seperti kita hari ini.
    11 min
  • Makna Setiap Kejadian Hidup
    Sejujurnya, sedikit sekali orang Kristen atau manusia pada umumnya yang benar-benar mengalami Tuhan secara proporsional, sesuai dengan maksud keselamatan itu diberikan; tepatnya, sangat sedikit. Keselamatan diberikan agar manusia dapat memiliki hubungan kembali dengan Allah. Sering juga dikatakan sebagai diperdamaikan dengan Allah. Pertanyaannya, seberapa kita mengalami Tuhan? Kalau aktivis gereja, pelayan jemaat atau pendeta, sering memaknai suatu peristiwa atau mengartikan suatu peristiwa sebagai tindakan Tuhan di dalam hidupnya, dan dia mengakui bahwa dia mengalami Tuhan. Padahal seringkali hal itu sangat subjektif, bukan pengalaman yang sungguh, pseudo atau palsu. Memang bebas dan sah saja orang mau memaknai terhadap suatu peristiwa atau kejadian yang dialami sebagai tindakan Tuhan atau bentuk pergaulan dengan Allah. 
    Biasanya pendeta-pendeta aliran Karismatik, atau Pentakosta berani memaknai kejadian-kejadian di dalam hidupnya sebagai kehadiran Allah, campur tangan Allah, bentuk perjumpaannya dengan Allah. Tetapi pendeta-pendeta dari aliran non Karismatik, biasanya menjauhi hal-hal yang bersifat subjektif. Memang, dalam semua kejadian Allah campur tangan. Tetapi maksud Tuhan atau makna yang terkandung di kejadian itu, seringkali tidak seperti yang dimaksud pendeta tersebut. Misalnya, seseorang sakit, ia pergi ke dokter dan minum obat, sembuh. Hal itu dimaknai sebagai mukjizat. Kita tidak boleh mengatakan itu bukan merupakan tindakan Tuhan. Tuhan bisa bertindak lewat obat. Tetapi jangan dilebih-lebihkan seakan-akan spektakuler. Orang di luar Tuhan pun minum obat, sembuh. Hal seperti itu bisa terjadi. 
    Kita percaya bahwa segala kejadian ada dalam kendali Tuhan, sepengetahuan Tuhan, seizin Tuhan dan selalu ada maksud. Tetapi ada banyak orang Kristen yang tidak berani memaknainya. Setiap kejadian hidup pasti ada maknanya. Tetapi seringkali orang memaknai salah. Bagi seorang pendeta yang tidak bisa tidak harus bicara mengenai Tuhan, maka ia akan merasa lebih ‘berkualitas’ kalau memiliki kesaksian pengalaman bersama Tuhan yang bersifat ajaib atau spektakuler. Ironisnya, itu seringkali menjadi semacam “barang dagangan.” Tetapi pada umumnya, jemaat kurang atau miskin dengan pengalaman seperti itu, dan itu menyedihkan. Yang satu berfantasi, yang satu fantasi pun tidak punya. Padahal Tuhan hadir di dalam hidup kita. Tidak sedetik pun Allah meninggalkan kita. Tetapi kita tidak mampu menangkap maksud Tuhan di balik semua kejadian yang kita alami. Bahkan, banyak orang yang masih meragukan, apakah Allah sungguh Mahahadir? 
    Jangan sampai kita menjadi orang munafik. Kita punya unsur kemunafikan, karena dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang biasa berdiplomasi. Kita harus mengikis terus sifat munafik tersebut. Supaya kita menjadi manusia yang tulus, natural, apa adanya. Apalagi munafik di hadapan Tuhan. Ketika menyanyi: “Perubahan ajaib terjadi padaku sejak kuterima Yesus….” apakah benar ada perubahan ajaib terjadi dalam hidupnya? Jangan bohong! Menerima Yesus bukan hanya mengakui Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, melainkan menerima hikmat-Nya yang diajarkan dan diperagakan-Nya, lalu kita melakukannya. Maka pasti ada perubahan ajaib kalau kita menerima Yesus seperti itu. Karena setiap hari pasti ada berkat Tuhan. Tuhan pasti mengizinkan adanya kesempatan untuk berbuat dosa. Tetapi kiranya kesempatan itu tidak kita gunakan sehingga Tuhan disenangkan. Kalau tidak ada kesempatan berbuat dosa, kita tidak punya kesempatan untuk membuktikan cinta kita kepada Tuhan. 
    Matius 6:24 mengatakan, “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Artinya, kita tidak bisa memberi ruangan kepada siapa pun, kecuali kepada Tuhan. Sedangkan di Matius 22:37-40 dikatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, segenap jiwa, akal budi, kekuatan.” Jadi kalau kita berurusan dengan Tuhan harus dengan segenap hati. Memang kita tidak langsung bisa segenap hati; sesuai dengan usia rohani (tahun kapan dia mengenal Tuhan) atau kalau d...
    8 min
  • Menghayati yang Tidak Kelihatan
    Tidak ada kebanggaan apa pun dalam hidup ini jika dibanding dengan kemuliaan bersama dengan Kristus. Masalahnya, orang percaya tidak, akan hal itu? Ini bukan hal abstrak, tetapi memang bisa menjadi fantasi. Tetapi kalau kita percaya Tuhan, itu realitas dan memang realitas. Makanya Rasul Paulus berkata di 2 Korintus 4:18, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Belajarlah menghayati yang tidak kelihatan, dan memfokuskan diri pada apa yang tidak kelihatan.
    Kita ingin bersentuhan dengan Tuhan; encounter with God. Kita mau bersentuhan dengan Tuhan, mengalami Tuhan. Jangan berharap melihat Tuhan dengan mata jasmani. Jangan berharap menyentuh Tuhan dengan fisik karena Dia roh. Kalau kita berkata, “Bapa kami yang di surga,” kita berlatih untuk memercayai yang tidak kelihatan dan tidak berharap melihat, tidak berharap merasakan sesuatu secara fisik; merinding lalu merasa ada sentuhan fisik. Kita akan tidak pernah mengalami Tuhan jika demikian. 
    Berikutnya, jangan membakar emosi sampai tidak bisa membedakan antara sentuhan Roh Kudus yang membuat hati kita pecah, atau manipulasi yang kita lakukan dalam diri sendiri. Orang kalau sudah lama tersesat di dalam manipulasi, susah kembali. Kita sering manipulatif karena kita tidak pernah naik ke level roh. Semua di level fisik. Kita harus keluar dari level ini, lalu masuk alam roh. Pendeta atau jemaat yang belajar tentang Tuhan tetapi tidak pernah mencari wajah Tuhan, pasti memiliki Tuhan dalam fantasinya. Biasanya cakap sekali kalau berdoa. Dia mencari pengetahuan tentang Tuhan di sekolah teologi atau di gereja mendengar khotbah, namun tidak bersentuhan dengan Tuhan. 
    Tuhan yang dia kenal hanya di dalam pengetahuan saja. Saat berdoa pun, ia berdoa kepada Tuhan di dalam pikirannya, tidak menyentuh Tuhan. Tetapi, Tuhan begitu sabar meskipun diperlakukan demikian. Ketika berdoa, bidikan kita harus lebih tepat sebab kita sudah biasa ke level roh; frekuensinya yaitu frekuensi alam roh. Karena, kita biasa meyakini yang tidak kelihatan. Dampaknya kita akan memercayai surga dan kemuliaan bersama Kristus. Sebab, kita biasa memperhatikan apa yang tidak kelihatan. Itu memerlukan pelajaran melalui sekolah kehidupan setiap hari. Dua orang bisa berkata, “Tuhan, aku datang kepada-Mu.” Yang satu, masih di dalam pengetahuan tentang Tuhan yang kepada–Nya dia berdoa tetapi yang satu lagi, sudah selalu mencari wajah Tuhan dan menemukan Tuhan. 
    Kalau orang tidak bertumbuh, tidak dewasa, dia tidak bisa membedakan sehingga dianggapnya sama. Jadi, janganlah sombong. Yang pintar berdoa, belum tentu berdoa kepada Tuhan. Mungkin hanya berdoa kepada Tuhan di pikiran, bukan Tuhan secara pribadi. Kalau kita yakin Allah ada, kita temui Dia. Kalau kita berdoa lalu Tuhan seakan-akan tidak ada, “Dia layak ku percayai walaupu seakan-akan tidak ada. Kutunggu. Kutunggu, tetap di sini.” Jika mau menemui seorang pejabat namun dia mengacuhkan kita, tetap kita tidak tersinggung, bukan? Sebab kita merasa membutuhkan dia. Apalagi Tuhan. 
    Kalau sudah biasa memasuki alam roh dan frekuensi Tuhan, hati kita tidak bisa tidak pecah. Kita mau mencari apa kalau bukan mencari wajah Tuhan? Orang tidak mungkin memiliki pengharapan perkara-perkara yang di atas atau kemuliaan bersama Kristus kalau menghayati Allah saja gagal. Kebenaran itu berkaitan satu dengan yang lain. Jujur saja, banyak orang tidak mampu memercayai adanya kemuliaan bersama Yesus. Buktinya apa? Tidak berani berkorban untuk Tuhan. Pengorbanan pertama, kesucian hidup. Menyembelih daging, membuang semua hobi kesenangan-kesenangan dunia, sehingga memiliki kehausan akan Allah; merindukan Tuhan saja, mencintai Tuhan. 
    Kalau kita punya masalah seakan-akan Tuhan tidak menolong, tetaplah memercayai Dia. Memercayai yang tidak kelihatan: Tuhan. Temukan dan alami Tuhan di dalam hidup ini,
    10 min
  • Membuat Tuhan Nyaman
    Kalau boleh jujur, berapa banyak di antara kita yang bisa mengatakan, “aku bahagia dengan hidupku. Aku bahagia dengan rumah tanggaku, aku bahagia dengan pekerjaanku. Aku bahagia dengan ekonomiku?” Tidak banyak juga. Tetapi apa pun keadaan kita, siapa pun dan bagaimanapun pasangan hidup kita, keadaan ekonomi, pekerjaan atau apa pun, jangan itu mengganggu kita. Tidak sedikit wanita berkata, “saya pikir dia pendekar, ternyata penjahat.” “Saya pikir dia bidadari, ternyata bukan,” ini kata sang pria. Ada yang makin hari, makin tidak harmonis dalam berumah tangga. 
    Materi tidak bisa membunuh kita, tetapi bisa menguasai kita. Akhirnya, kita terbunuh karenanya. Oleh sebab itu, kita harus “membunuh” materi. Alkitab mengatakan: “ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon.” Bukan “bersahabat dengan mamon,” tetapi mempergunakan mamon. Kuasai mamon, perbudaklah mamon untuk menjadi alat kita bersahabat dengan Tuhan. Hidup tidak pernah nyaman. Hidup ini tragis. Sejak manusia jatuh dalam dosa kemudian bumi terhukum, menumbuhkan onak dan duri, manusia dengan jerih lelah akan mencari nafkah, dan akhirnya kembali kepada debu. 
    Hidup ini tragis, dan ujungnya akan berakhir dengan kematian. Selama kita hidup, yang ditunggu hanya masalah, makin tua, sakit, lalu mati. Walaupun hidup ini tragis, tetapi kita harus berpikir optimis. Optimis kita bukan di dunia tetapi di balik langit biru. Selama hidup di dunia, manusia tidak akan pernah nyaman dan puas. Kita bisa memperhatikan, orang-orang yang bercerai memiliki 1001 alasan. Istri tidak bisa melayani, suami bersikap kasar, dan lain sebagainya. 
    Manusia tidak akan pernah merasa nyaman, karena kekosongan jiwa kita tidak bisa diisi oleh siapapun dan apa pun selain Tuhan. Jangan sampai setan menipu kita. Setan membuat kita tidak nyaman dengan berbagai penipuan dalam pikiran kita dan pengaruh dunia sekitar kita. Apa pun keadaan kita hari ini, siapa pun dan bagaimanapun pasanganmu, cintai dan kasihanilah dia. Kalau sudah tidak bisa mencintai secara libido, kita bisa mengasihani, berbelaskasihan, dan itu lebih dari cinta secara seks. 
    Mungkin pasangan sudah tidak bisa melayani secara seks, tetapi kalau berbelaskasihan, kita bisa menerima dia, dan tetap bisa berkata: “aku tidak bisa hidup tanpamu.” Kita harus memiliki sikap dan cara berpikir yang benar. Dalam hidup ini, tidak ada kenyamanan. Yang bisa membahagiakan kita sesungguhnya hanya Tuhan. Ini prinsip penting. Tetapi berapa banyak orang yang betul-betul tune dengan Tuhan; memiliki hubungan dengan Tuhan? Orang Kristen harus punya frekuensi yang berbeda dengan orang di luar Kristen, karena kita adalah anak-anak Allah yang bisa bersekutu dengan-Nya; Allah diam di dalam kita, kita diam di dalam Dia. 
    Ini luar biasa dan harus kita cari. Bukan hanya orang-orang tua yang serius akan hal ini. Orang-orang muda pun juga harus serius. Kalau tidak, dunia akan menggilas, mencengkeram, dan membuat kita terhilang selamanya. Kita persoalkan sekarang, apa Tuhan nyaman di dalam kita? Waktu dilukai orang, kita berkata: “ya, tidak apa-apa. Mungkin dia tidak tahu apa yang dia perbuat,” maka Tuhan merasa nyaman. Tetapi kalau kita bereaksi dengan perkataan kasar, Tuhan tidak nyaman. 
    Kebencian dalam pikiran harus ditanggalkan. Kita mau membuat Roh Kudus nyaman di dalam diri kita. Jaga perkataan dan pikiran kita karena Tuhan mau bersama kita. Hanya orang-orang yang membuat Tuhan nyaman, akan dibawa ke Kerajaan Surga. Kita rugi apa menuruti Firman ini? Tidak ada ruginya. Bahkan ekstremnya, seandainya Tuhan tidak ada, surga tidak ada, kita menjadi orang baik, apa ruginya? Tetapi kita akan bertemu Tuhan karena Tuhan pasti ada; surga, neraka juga ada. Kalau tidak menjaga kesucian hidup, kita celaka.
    Kita harus serius sejak hidup di dunia ini, yaitu takut akan Allah. Jaga perasaan Tuhan. Kita bisa menjaga perasaan tamu, orang terhormat dengan menjaga perkataan. Kita bisa menghormati orang, lalu kenapa untuk Tuhan,
    10 min
  • Berurusan dengan Tuhan
    Kalau kita berurusan dengan Allah, maka kita harus tahu apa main atau core bisnis-Nya Tuhan. Ketika Tuhan dibawa kepada urusan-urusan yang tidak penting, secara tidak langsung berarti kita menganggap sesuatu lebih berharga dari Tuhan. Gereja tidak boleh hanya mengarahkan jemaat kepada perkara-perkara fana, hal ini bukan berarti tidak boleh ada berkat jasmani yang berlimpah atau kesembuhan, itu juga digumuli. Pasti Tuhan akan mengadakan mukjizat, memberi jalan keluar. Pasti kita dibedakan oleh Allah, lalu melihat bagaimana Tuhan menolong kita. Kita nyaris jatuh, kita tidak akan jatuh, hanya “nyaris.” Nyaris terpeleset, tetapi tidak terpeleset. Itulah hebatnya Tuhan. Berurusanlah dengan Tuhan dalam urusan yang Allah menghendaki kita harus berurusan dengan-Nya. 
    Itulah sebabnya di dalam Matius 6 firman Tuhan mengatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, semua ditambahkan kepadamu.” Urusan kita harus Kerajaan Allah, maksudnya bagaimana menjadi warga Kerajaan Surga yang baik, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang baik, “supaya engkau bersama-sama dengan Aku.” Tuhan sayang kita lebih dari yang kita bayangkan. Renungkanlah kalau kita punya anak, bisa merasakan sayang kepada anak. Tuhan pasti lebih dari itu. Kita sering tidak mau memercayai Tuhan. Alkitab mengatakan, “rambut kepalamu pun terhitung.” 
    Kalau kita merasakan sayang kepada anak-anak sebegitu rupa, sayang Tuhan kepada kita lebih dari sayang kita kepada anak-anak. Jangan menganggap murah dan remeh Tuhan. Jangan menarik-narik Tuhan untuk urusan yang bukan urusan utama. Hal yang menyesatkan, seringkali pembicara, pengkhotbah yang mengarahkan jemaat kepada kemakmuran jasmani, sukses duniawi, kejayaan lahiriah, kemuliaan fana. Tetapi, mari kita utamakan Tuhan, belajar untuk mengutamakan Kerajaan Surga. Setiap kita punya masalah atau kebutuhan yang mendesak. Kita terancam oleh keadaan yang bisa mempermalukan hidup dan keluarga kita. Mungkin tidak ada yang bisa membantu atau menolong karena tangan manusia yang terbatas. Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi yang memiliki segala kuasa, pasti menolong selama kita mau berurusan dengan Tuhan secara benar. 
    Allah akan menggaransi dan membuktikan kebenaran-Nya. Allah akan menyatakan Dia hidup dan berkuasa. Jangan menarik-narik Tuhan untuk urusan yang bukan urusan yang Tuhan mau kita berurusan di dalamnya. Yesus berkata, “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan. Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaan itu.” Tuhan ingin mengatakan bahwa kelimpahan itu hanya di dalam Tuhan. Betapa bangganya dan tersanjungnya hati Allah Bapa kalau melihat kita yang secara ekonomi miskin, tetapi merasa kaya di dalam Tuhan. Kita dipandang hina di mata manusia, tetapi merasa mulia karena Tuhan; pasti Allah tersanjung. 
    Mulailah berpikir dengan orientasi berpikir kekekalan. Ingat, jalan ini ada ujungnya, pasti semua akan berakhir. Ujung akhir jalan ini tidak pernah kita tahu kapan. Berpikirlah seperti yang Tuhan Yesus katakan, kita adalah manusia yang fana. Bumi bukan rumah kita. Bersyukur kalau kita percaya Tuhan Yesus, Tuhan menyatakan kita bukan berasal dari dunia tetapi dari surga. Kita dihisabkan, digolongkan bukan berasal dari dunia berarti Allah rela menyediakan tempat bagi kita di Kerajaan-Nya. 
    Tidak berlebihan yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati, dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Ini ayat-ayat standar yang dihindari oleh banyak orang Kristen hari ini karena dianggap sudah tidak up to date, tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Tetapi, kebenaran itu kekal nilainya. 
    Kesempatan untuk menyatakan diri bersama-sama dengan Yesus adalah hari ini. Kita mau memfokuskan orientasi berpikir kepada kekekalan.
    9 min
  • Belajar Memercayai Dia
    Tuhan mau hubungan antara Elohim Allah dengan umat pilihan terjalin dengan harmonis. Allah patut dan layak dipercayai, walaupun keadaan kita kalang kabut, kacau, seakan-akan Dia meninggalkan kita, seakan-akan Tuhan tidak ada, seakan-akan Tuhan diam ketika kita punya masalah, Dia layak tetap untuk selalu dipercayai. Sejatinya, di situ Tuhan menguji seberapa kita sungguh-sungguh menghormati Dia. Bangsa Israel tidak menghormati Allah dengan memandang rendah Tuhan, karena mereka menilai Allah tidak setia. “Apa tidak ada kuburan di Mesir, kau mau membunuh kami?” jerit mereka kepada Musa.
    Demikian juga dalam kehidupan kita hari ini. Seringkali kita menjerit pada keadaan atau orang sekitar—karena tidak berani secara terang-terangan mempersalahkan Tuhan–mengapa ini harus terjadi? Jika keadaan demikian menghimpit, goreskan di hati: Allah tidak pernah memberi yang tidak terbaik; Ia selalu memberi yang terbaik. Walaupun menurut kita itu sial, kecelakaan, tetapi Allah sangat cerdas dan bijaksana. Sebab, itu semua merupakan cara Allah untuk menyempurnakan dan mendewasakan kita. 
    Di 1 Korintus 10 dikatakan tidak semua bangsa Israel yang dibawa keluar dari Mesir sampai ke tanah Kanaan. Salah satu ranjau yang menggagalkan mereka adalah bersungut-sungut. Hati-hati ini tidak mudah. Sebelum Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya, kisah diawali dengan pencobaan dan diakhiri dengan pencobaan yang sama. Ketika disalib di antara langit dan bumi, Ia tergantung dengan tubuh telanjang atau setengah telanjang, Dia berseru: “Eloi, Eloi, lama sabachthani; Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?”  Ia bisa meragukan Bapa, tetapi Dia tetap memercayai Bapa-Nya, walaupun benar-benar Ia bisa ditinggalkan saat itu. Karena mestinya kita yang ditinggalkan, tetapi Yesus menggantikan tempat kita. 
    Dan Tuhan Yesus mengakhiri dengan doa: “Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Kalau kita menghormati Allah, kita belajar memercayai Dia. Apa pun keadaan yang kita alami saat ini, percayalah kita bisa melewatinya. Sering Tuhan membawa kita ke jalan yang tidak jelas. Kita pasti terperosok, kita pasti jatuh dan pasti hancur. Tetapi jalan terus, kita pasti bisa melewatinya. Hanya, jangan bersungut-sungut. Hormati Tuhan. Tentu menghormati Tuhan bukan hanya dengan tidak bersungut-sungut, tetapi juga hidup di dalam kebenaran, kesucian, kekudusan. Jaga hati dan pikiran kita dari apa yang tidak patut, dan Tuhan pasti akan menolong kita.  
    Allah itu kuat. Walau kadang-kadang Dia seperti tidak hadir dan membiarkan kita dalam keadaan terpuruk, terpuruk, terpuruk, dan makin terpuruk, namun kita pasti tidak akan jatuh tergeletak. Tuhan pasti mengangkat kita. Tetapi jangan hidup suka-suka sendiri. Hormati Tuhan dalam seluruh perilaku kita. Nanti kita bisa melewatinya. Waktu akan membuktikan, apakah kita takut dan hormat Tuhan atau tidak. Belum sampai kekekalan, di bumi ini pun akan nampak orang yang disertai Tuhan dan yang tidak disertai Tuhan. 
    Percayalah, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kita menghormati Tuhan dengan memercayai kehadiran, penyertaan, dan pemeliharaan-Nya. Jadi kalau kita mulai kecut hati, kecil hati, mulai khawatir, berdialoglah dengan diri kita sendiri dan perintahkan untuk tidak berbuat salah kepada Tuhan. Allah yang kita sembah adalah Allah yang tidak berubah. Dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Jadi kalau Tuhan memerintahkan bangsa Israel berjalan dari tempat persinggahan satu ke persinggahan lain, kemudian berkemah di Rafidim, maka Allah pasti menyediakan apa yang mereka butuhkan; Jehovah Jireh. 
    Mari kita ikut Tuhan terus. Minggu ke gereja, pagi bangun berdoa, mendengarkan khotbah, pergi bekerja, jaga mulut, jaga sikap hati. Allah menyertai kita, Allah pasti tidak akan mempermalukan. Sejarah membuktikan bahwa orang yang takut akan Tuhan, yang menyediakan dirinya untuk serius mencari Tuhan, hari ini anak cucunya diberkati Tuhan. Kita bukan orang sempurna, tetapi Tuhan pasti menuntun.
    11 min
  • Kristen Manja
    Banyak kali kita menemui orang percaya yang ketika sedang terhimpit masalah, mereka datang kepada seorang hamba Tuhan, namun walaupun sudah dibimbing, tetap rentan. Akhirnya, bergantung kepada sang hamba Tuhan tersebut. Dalam hal ini, pasti ada sesuatu yang salah. Memang bisa, hamba Tuhan tersebut tidak mengarahkan dengan benar, tetapi mengikat. Memang dapat dimengerti bahwa pembinaan, konseling, mentoring bisa menjadi pertemuan secara berkala beberapa kali. Tetapi yang menjadi tujuan akhir, konseli atau orang yang dibimbing tersebut harus mandiri. Dia harus independen, menjadi kuat, dan tidak bergantung kepada sang hamba Tuhan. Sebab, pada akhirnya setiap individu harus mengalami perjumpaan dengan Tuhan, menaruh percaya kepada Tuhan, mengenal Tuhan, dan bergantung kepada-Nya, bukan bergantung kepada manusia. 
    Oleh sebab itu, kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang manja. Kita harus bertumbuh di dalam Tuhan, mengalami perjumpaan dengan Tuhan, mengenal Tuhan, lalu bergantung kepada-Nya. Kalau tidak begitu kita akan menjadi orang Kristen yang selalu kerdil, lemah. Mestinya yang selalu dicari dan dinantikan yaitu Tuhan. Oleh sebab itu, supaya jangan menjadi manusia yang rentan, yang pertama, kita harus tahu bahwa di dalam Kekristenan tidak ada strata atau kelas. Jangan berpikir ada kelas khusus, kelas imam dan kelas awam. Harus tahu bahwa semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kita adalah hamba-hamba Tuhan, anak-anak Tuhan yang memiliki hak yang sama sebagai pewaris-pewaris Kerajaan Surga. Jangan berpikir kalau pendeta itu doanya lebih didengar oleh Tuhan, pengetahuannya tentang Tuhan pasti lebih banyak. Tetapi mereka yang termasuk kelas awam, dianggap kurang bisa berdoa, kurang bisa mengerti Firman, harus bergantung kepada mereka yang memiliki kasta yang lebih tinggi. Hal ini akan membunuh iman kita. Semua kita adalah anak-anak Allah yang memiliki hak yang sama untuk menikmati Tuhan dan mengalami Tuhan. 
    Apalagi kalau kita sudah menjadi Kristen cukup lama, tidak usah harus mencari pendeta. Justru kita yang menyediakan diri menjadi konselor. Tuhan akan pimpin dan mempertemukan kita dengan orang-orang yang kita akan layani. Namun banyak orang Kristen yang rentan, ringkih, lemah, sehingga selalu bergantung kepada manusia lain. Saatnya kita bergantung kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Di dalam 1 Petrus 2:9 Firman Tuhan mengatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.” Tidak ada strata, semua imamat yang rajani. Memang, panggilan kita masing-masing berbeda, misalnya menjadi pedagang, dokter, insinyur, aparat keamanan, pejabat pemerintah, pendeta, pemain musik di gereja dan lainnya. 
    Yang kedua, Tuhan bisa berbicara kepada semua orang. Bukan hanya kepada pendeta, konselor, mentor. Tuhan pasti bisa berbicara kepada kita. Luar biasa, Tuhan kalau sudah bicara, tidak ada yang bisa mencegah. Memang Tuhan bisa bicara lewat manusia lain—pendeta, konselor, mentor—tetapi itu bagi mereka yang tidak atau belum dewasa. Bagi orang Kristen yang dewasa, mestinya dia berusaha untuk bisa mendengar suara Tuhan sendiri. Dia harus berjuang untuk bisa mendengar suara Tuhan. Kalau sampai kita menemui Tuhan, pasti jawaban-jawaban yang Tuhan berikan adalah jawaban-jawaban yang sempurna. 
    Allah memberikan Roh-Nya tanpa batas kepada masing-masing kita. Kita datang kepada Tuhan untuk membawa masalah kita, percakapkanlah dengan Tuhan. Yakin, Tuhan pasti menolong dan membuka jalan. Memang tidak mudah. Supaya kita menjadi orang yang kokoh, tangguh dalam menghadapi berbagai masalah, berpikirlah bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong kita. Ada orang-orang yang berharap ketika dia konseling, konselornya bisa memberi jalan keluar, lalu dia pulang dari konseling itu, sudah bebas merdeka. Ini salah. Tetapi tidak sedikit orang yang mencari konselor atau ke gereja, supaya dia mendapat kelegaan sekejap. Bisa, bukan tidak bisa. Ketika cara berpikirnya diubah,
    8 min
  • Status Khusus
    Kekristenan yang sejati atau kebenaran yang orisinal, jika dipahami dengan benar oleh seseorang, maka dia tidak akan lagi memandang perbedaan antara yang disebut sebagai “imam” dan “awam;” “pendeta” dan “bukan pendeta.” Kalau seseorang mengenal kebenaran yang murni atau kekristenan yang sejati, maka dia mulai tidak membedakan apakah seseorang itu pendeta atau bukan pendeta. Kalau kita jemaat awam, kita akan tetap menghargai hamba Tuhan dan bukan hamba Tuhan, dalam sikap hormat yang pantas. Kalau kita seorang pendeta, kita mulai tidak merasa hebat dengan jabatan kependetaan itu. Kita tidak akan merasa bahwa kita punya strata yang lebih tinggi dari orang yang bukan pendeta. 
    Jadi kalau orang mengerti kebenaran yang sejati, kekristenan yang murni, ia tidak akan melihat strata itu: pendeta, bukan pendeta; imam atau awam. Sebagai jemaat awam, tentu kita tidak akan merasa minder, kecil hati terhadap seorang yang memiliki gelar pendeta atau hamba Tuhan. Kita tidak akan lagi meminta-minta untuk didoakan seakan-akan pendeta memiliki status khusus di hadapan Allah. Status khusus seseorang bukan karena dia pendeta, melainkan karena tinggal di dalam Tuhan, yaitu orang yang benar-benar hidup dalam kesucian dan meninggalkan percintaan dunia. 
    Kalau bagi seorang pendeta, dia tidak akan lagi merasa bahwa jabatan pendeta itu membuat dia memiliki strata atau tingkatan yang lebih tinggi dari jemaat awam. Sebab nilai dirinya bukan pada jabatan pendeta itu, melainkan apakah dia sudah benar-benar tinggal di dalam Tuhan. Tentu orang yang tinggal di dalam Tuhan adalah orang yang hidup di dalam kesucian dan terlepas dari percintaan dunia. Dan tentu seorang pendeta yang tidak lagi menghargai kependetaannya sebagai nilai diri, maka dia akan mengarahkan jemaat kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Ia tidak akan menjual jabatan pendetanya dengan mengesankan bahwa dia lebih tinggi dari jemaat. 
    Memang seorang pendeta harus memiliki kesucian yang lebih dari jemaat yang dipimpinnya. Terlepas dari ikatan dunia dan punya kedekatan yang lebih intim dengan Allah. Mestinya dia seorang yang istimewa dan bisa menjadi pendoa bagi jemaat. Tetapi, ia tidak akan mengesankan bahwa dirinya hebat, bahwa doanya lebih didengar oleh Allah daripada doa jemaat. Tanpa disadari, tidak sedikit pendeta yang “menjual diri” artinya dia menjual jabatan kependetaan dan menipu jemaat. Hal itu memuakkan di hadapan Allah. Kekristenan yang sejati,  kebenaran yang murni, akan membuat seseorang menghargai Tuhan dan nilai-nilai rohani lebih dari perkara-perkara dunia.
    Hal ini tidak bermaksud mau mencederai jabatan pendeta dan juga bukan mau melecehkan para hamba Tuhan, tetapi inilah kebenaran. Kalau kita mengalaminya, kita pasti akan mengaminkan. Karenanya, mari kita masuk kepada Kekristenan yang sejati; kebenaran yang murni. Contohnya mengenai baptisan, itu bukan sekadar karena sudah umur lebih 12 tahun atau dianggap dewasa, lalu kemudian dibaptis. Tetapi kesediaan meninggalkan dunia; mati bagi dunia dan hidup sepenuhnya bagi Allah. 
    Perjamuan kudus bukan sekadar kita mengangkat roti dan anggur dan mengingat kurban Tuhan Yesus, tetapi kita menjadi satu dengan Tuhan dalam penderitaan–Nya. Jadi kalau kita makan roti dan minum anggur perjamuan kudus, berarti masuk dalam persekutuan dengan Allah. Maka, kita tidak boleh menajiskan diri dengan dosa, tetapi harus menderita bersama dengan Tuhan. Itulah kebenaran yang murni, Kekristenan yang sejati. Kesucian hidup kita bukan ditentukan oleh hukum yang mengatur apa yang baik dan yang tidak baik, melainkan berangkat dari pikiran dan perasaan Allah; apa yang Allah kehendaki. Jika kebenaran-kebenaran ini terakumulasi atau menumpuk di dalam hidup kita dalam kuota yang cukup, maka akan mengangkat kita untuk terlepas dari ikatan dunia. Hal ini menjadikan kita sebagai orang Kristen yang sejati. 
    Kita akan bisa memahami dan menghayati yang dikatakan dalam Kolose 3:1, “Karena itu,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…