Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kesalahan Ada pada Kita
    Allah Yang Mahakudus, Mahamulia, hanya bisa berjalan dengan orang-orang yang berkodrat ilahi, yaitu orang-orang yang hidupnya benar-benar bersih secara natural tanpa dipaksa, yang benar-benar hidup tak bercacat tak bercela di hadapan Bapa. Bukan karena terpaksa, tetapi sudah menjadi irama hidup, kodrat hidup. Inilah yang menjadi kerinduan kita. Maka kita harus berambisi kuat! Jangan sampai kerinduan kita menjadi kendor karena ketertarikan kepada objek lain. Untuk itu, jangan hidup wajar seperti manusia lain yang bukan umat pilihan. Jangan terbawa oleh orang-orang Kristen yang telah teracuni oleh cara berpikir anak-anak dunia, sehingga gaya hidup mereka tidak berbeda dengan anak-anak dunia.
    Tujuan hidup kita hanya Tuhan; bagaimana berbuat segala sesuatu untuk kepentingan Kerajaan Surga. Masing-masing kita pasti memiliki tempat; diarahkan oleh Tuhan dalam tempat atau proyek khusus di pelayanan pekerjaan Tuhan. Memang tidak selalu di gereja, mungkin di tempat pekerjaan, lingkungan pendidikan, lingkungan pengacara, lingkungan pemerintah dan lainnya. Itu merupakan proyek kita masing-masing secara individu. Lalu, kita menularkan ini ke anak-anak kita dan orang lain. Hidup kita harus istimewa.  Allah sudah mengistimewakan kita, dengan memberikan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus; dengan memelihara dan memberkati hidup kita, bahkan “bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi kita.” Allah mengistimewakan kita! Jangan ragukan itu! Berkat perlindungan dan pemeliharaan-Nya pasti sempurna. 
    Tetapi, apakah kita mengistimewakan Tuhan? Kita harus berdoa, sehingga nanti Tuhan akan memberi hikmat, bagaimana bisa mengistimewakan Tuhan. Masalahnya pada kita, kita sering kurang atau tidak memiliki kerinduan yang kuat untuk berkodrat ilahi. Kita merasa bahwa hal itu tidak dapat dicapai atau menganggapnya bukan hal yang penting. Kalau kita mau pergi ke luar kota apalagi ke luar negeri, beberapa hari bahkan beberapa minggu, kita harus melakukan persiapan, bukan? Semakin lama dan semakin jauh kita pergi, maka persiapannya semakin banyak. Bayangkan kalau mau pergi ke luar negeri dalam waktu yang lama dan jauh, namun hanya diberi waktu satu jam persiapan. Akhirnya, persiapan kita juga apa adanya. 
    Ke surga itu jauh, dan kekal di sana. Tidak bisa persiapannya dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun. Kita harus jauh-jauh hari persiapan. Kira-kira, persiapan apa yang kita lakukan? Kalau orang terbiasa sembarangan hidup, bisakah dalam waktu satu minggu hidup suci? Tidak bisa! Padahal, ia mungkin meninggal bukan minggu depan, jangan-jangan besok sore. Kenapa kita tidak takut akan hal itu? Dalam hal ini, berarti kita meremehkan Tuhan dan merendahkan nilai kekekalan. Kita mengolok-olok Tuhan dengan sikap seakan-akan surga tidak ada, atau seakan-akan Tuhan tidak datang; sekalipun kita rajin ke gereja dan aktif dalam pelayanan, bahkan menjadi pendeta. 
    Kalau kita tahu bahwa kita bisa dipanggil pulang Tuhan setiap saat, maka kita benar-benar mohon Tuhan melawat kita saat ini, bukan nanti. Karena nanti tidak ada lagi kesempatan. Jangan hanya senang mendengar khotbah dan mengaminkannya. Tetapi, kita harus melangkah, supaya “lipatan” hidup kita bisa dihilangkan dan membuat lipatan baru; lipatan hidup anak-anak Allah: gaya hidup dan cara berpikir anak-anak Allah. Jangan menunda! Tidak cukup, jika hari ini kita menangis, lalu menyatakan mau berubah. Kita harus bertindak, melangkah. Karena ternyata masalahnya ada pada kita, yaitu karena kita tidak serius dan menunda.
    Surga itu jauh, di seberang kehidupan fana di bumi, dan kekal. Persiapannya sepanjang umur hidup kita. Mari pertanyakan, mengapa orang lain bisa berubah, sedangkan kita tidak? Karena mereka punya jam doa dan tekad mengasihi Tuhan, maka Tuhan menggarap mereka. Persoalan-persoalan berat yang kita hadapi kiranya memaksa kita untuk melakukan finishing well. Kadang tanpa persoalan berat, tidak bisa terjadi finishing well.
    10 min
  • Berdamai dengan Pemilik Kehidupan
    Bapa di surga hadir bersama dengan kita di dalam seluruh perjalanan hidup kita setiap saat, di mana pun. Maka, pertama, kita tidak boleh mengucapkan kata-kata yang sembarangan, apalagi bagi seorang pengkhotbah. Dalam canda, keramahtamahan, apa pun yang diucapkan harus dalam perkenanan Tuhan. Sebab menjadi juru bicara Tuhan di mimbar harus dimulai dari menjadi juru bicara Tuhan setiap hari. Sebelum berbicara kepada jemaat, dia harus berbicara kepada istri, anak-anak, orangtua, tetangga, famili, dan Roh Kudus pasti menuntunnya untuk berbicara. Roh Kudus menuntun dalam segala hal, sehingga kita mengerti apa yang patut diucapkan dan apa yang tidak patut diucapkan. Kedua, segala sesuatu kita lakukan untuk Tuhan.
    Bagaimana untuk mencapai hidup yang berhasil? Jawabnya sederhana: berdamailah dengan Pemilik Kehidupan. Segala sesuatu yang kita lakukan, harus benar-benar untuk Tuhan. Kita tidak bisa mengekspresikan perasaan Tuhan di pelayanan, kalau kita tidak mengekspresikan perasaan Tuhan setiap hari. Hal itu harus terus kita latih agar kita bisa melakukannya. Semua yang kita latih, pasti bisa. Inilah cara mencapai sukses dalam melayani Tuhan. Bukan menjadi pendeta yang terkenal atau yang jemaatnya banyak. Itu bukan ukuran sukses! Ukurannya yaitu kita bisa mengekspresikan perasaan Tuhan dalam kehidupan setiap hari, juga di pelayanan gerejawi.
    Hidup kita bisa sukses—dalam perspektif Tuhan—yang akurasi atau ketepatannya sempurna, kalau kita berdamai dengan Pemilik Kehidupan. Tidak mudah berdamai dengan Pemilik Kehidupan, karena Allah tidak kelihatan. Kehendak-Nya memiliki standar yang sangat tinggi; standar kekudusan yang sangat tinggi. Sementara kita adalah manusia yang hidup di bawah hukum dosa. Bukan sekadar hukuman dosa; melainkan hukum dosa, yaitu kecenderungan tidak melakukan kehendak Allah atau kemelesetan, ketidakmungkinan untuk bisa tepat. Tidak mudah, tetapi semua yang kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh, kita latih, itu bisa. Sama seperti orang yang belajar musik, naik sepeda, mengendarai mobil, semua dimulai dari kesulitan. Tetapi lambat laun, akan menjadi mudah.
    Allah memungkinkan kita untuk hidup dalam perdamaian dengan Dia. Jangan hanya teori secara sistematika teologi yang mengatakan, “Yesus mati di kayu salib, mendamaikan kita dengan Allah.” Lalu kalau orang mengerti dan memercayai, otomatis telah berdamai. Setan telah merusak kekristenan yang sejati! Hal ini ada dalam kehidupan banyak orang, termasuk para teolog. Mengaku percaya bahwa Allah telah mengutus Putra-Nya, darah-Nya telah ditumpahkan untuk mendamaikan Allah dan manusia; dengan mengerti dan memercayai hal itu, sudah dinilai berdamai. Seperti kalau seseorang mengerti Yesus Tuhan dan Juruselamat, lalu mengakui dan memercayai, apakah berarti sudah selamat? 
    Itu adalah penipuan dan penyesatan!  Kekristenan bukan di atas kertas atau sekadar di dalam alam pikiran dan keyakinan, melainkan dalam pengalaman hidup, perilaku, dan perjumpaan dengan Tuhan secara konkrit. Sekolah Alkitab bisa membuat orang memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi belum tentu membawa seseorang memiliki pengalaman dengan Allah. Pengalaman dengan Allah, perjumpaan dengan Allah, berbeda sekali dengan pengetahuan tentang Allah. Maka, kalau kita berdamai dengan Allah, Pemilik Kehidupan, kita menjadi istimewa di mata Tuhan. Apalah artinya yang lain? Tetapi kita harus berjuang. Berjuang mengenal Allah, bertemu dengan Dia dalam doa, hidup dalam doa dan puasa. 
    Untuk berdamai dengan Allah, tentu kita harus membunuh keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak diperkenan Allah. Mungkin kita hampir terlambat, tetapi tidak perlu malu. Itulah fakta kehidupan di mana kita terus dalam proses belajar. Sekarang kita harus melihat apa yang Tuhan kehendaki. Apa yang menurut Tuhan senang, kita lakukan. Apa yang Tuhan kehendaki untuk kita ucapkan, kita ucapkan. Apa yang Tuhan tidak kehendaki kita ucapkan,
    9 min
  • Versi Hidup-Nya
    Jelas Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Inilah rancangan Allah yang semula. Allah menghendaki makhluk yang diakui sebagai anak bagi Allah, dimana makhluk ini bukan hanya segambar dengan Allah melainkan juga serupa. Kesegambaran dengan Allah, itu modal yang Allah berikan. Tapi keserupaan, adalah sesuatu yang harus diusahakan sendiri oleh manusia. Adam dan Hawa gagal. Adam pertama, gagal. Tetapi Adam kedua yaitu Yesus, berhasil. Maka Adam kedua, Yesus, menjadi pokok keselamatan; penggubah bagi kita. Kalau kita mau beruntung hidup dan tidak pernah ada penyesalan di kekekalan nanti, jadikan Tuhan satu-satunya tujuan hidup. 
    Tujuan hidup kita seharusnya bukan menikah, bukan mempunyai keturunan, bukan memiliki fasilitas A, B, C, atau apa pun. Kalaupun kita mengupayakan segala sesuatu atau mengerjakan segala sesuatu, kita mengerjakannya untuk Tuhan. Seperti yang dikatakan Tuhan, “baik kau makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Itulah sebabnya Tuhan membeli kita, yaitu supaya kita dimiliki oleh-Nya. Dan kalau kita dimiliki-Nya, Sang Penjunan berhak membentuk kita sesuka hati-Nya. Namun, sayangnya banyak orang Kristen tidak mengerti atau tidak mau mengerti hal ini. Mereka merasa berhak memiliki dirinya dan keinginan-keinginan atau kesenangan-kesenangan. Mereka memilih untuk menikmati dunia yang sudah terhukum ini, yang sebenarnya tidak bisa dinikmati secara maksimal karena hubungan dengan Tuhan yang belum harmoni. 
    Karakter manusia rata-rata juga masih belum sempurna. Belum lagi, hubungan antarsesama yang tidak harmoni juga. Oleh sebab itu, hendaknya kita jangan mengharapkan kebahagiaan di bumi. Kebahagiaan yang sempurna hanya ada dalam Tuhan. Sejatinya, sukacita dan damai sejahtera orang percaya itu melampaui segala akal. Itu pasti kita akan alami, nikmati, dan miliki kalau kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan hidup kita. Memang kalimat ini mudah diucapkan, tetapi sukar sekali melakukannya. Namun demikian, kalau kita mengusahakannya dengan sungguh-sungguh, pasti bisa. Pelayanan pun sering kita lakukan tanpa sadar bukan untuk Tuhan, melainkan sebagai karier kita. Percayakah kita betapa Tuhan senang dengan orang-orang yang memiliki prinsip seperti ini? 
    Kita bisa memiliki prinsip seperti ini, walaupun kalau kita mencoba mengenakannya sekarang, rasanya seperti kewalahan. Itu karena kita telah terbiasa mengenakan jubah atau pakaian dunia. Tapi sekarang kita mau mengenakan pakaian kebenaran, dan ini harus kita biasakan. Kalau untuk hal-hal sulit dalam kehidupan fana di bumi ini orang bisa berusaha memaksimalkan potensi dan mengorbankan apa pun, mengapa untuk mencapai kesucian sesuai dengan keinginan Tuhan atau standar Tuhan; hidup yang tak bercacat cela di hadapan-Nya, kita tidak usahakan secara maksimal juga? Pada kenyataannya, hal ini sering dianggap bukan sebagai hal utama. Kita lebih mengutamakan hal yang lain. Kita menganggap bahwa itu bisa dicapai nanti seiring dengan berjalannya waktu, walaupun tidak maksimal untuk itu. 
    Betapa licik dan cerdiknya Iblis yang telah menipu banyak orang. Ini adalah bahaya besar yang tidak disadari oleh banyak orang Kristen, yaitu kewajaran hidup. Sebenarnya orang-orang seperti ini memiliki dua dunia atau dualisme, tidak memfokuskan semua ke Tuhan. Ironisnya, itu bukan hanya terjadi dalam kehidupan jemaat yang berkegiatan di luar gereja, melainkan juga dalam kehidupan para pelayan jemaat atau pendeta. 
    Ada satu penyesatan pikiran yang sering tidak kita sadari. Pertama, kita memandang Yesus sebagai manusia lain, dan kita membuat jarak sejauh-jauhnya dengan Tuhan. Padahal, Alkitab berkata, “Dalam segala hal, Ia disamakan dengan kita.” Yang kedua, Alkitab jelas mengatakan bahwa kita harus serupa dengan Dia; sepikiran, seperasaan dengan Dia. Kita harus mengikuti jejak-Nya. Selama ini kita memandang Yesus memiliki versi hidup yang tidak bisa kita kenakan. Padahal,
    11 min
  • Krisis yang Benar
    Tidak ada orang yang ingin hidup dalam masalah. Itulah sebabnya setiap orang berusaha menjauhi atau menghindari segala sesuatu yang bisa mendatangkan masalah. Sebaliknya, orang akan mencari hidup dalam kebahagiaan dan ketenangan.  Kebahagiaan dan ketenangan tersebut ditandai dengan kehidupan yang tidak bermasalah. Semua orang berharap segala sesuatu berjalan lancar, sehingga mereka bisa menikmati apa yang dipandang sebagai kebahagiaan. Terkait dengan hal ini, banyak orang beragama atau bertuhan, dengan maksud menghindarkan diri dari masalah. Termasuk di dalamnya orang Kristen. 
    Seharusnya, kalau kita mencari Tuhan, itu bukan dalam rangka menghindarkan diri dari masalah, melainkan agar bisa mengenal, mengalami dan melakukan kehendak serta rencana-Nya. Selanjutnya, bisa menikmati damai sejahtera Tuhan. Menikmati damai sejahtera Tuhan sama dengan menikmati Tuhan sendiri, bukan berkat jasmani-Nya. Ujian yang terberat adalah ketika kita ada dalam bahaya, ancaman, kesakitan, penderitaan, kesulitan ekonomi, tindasan, fitnah, perlakuan tidak adil, dan lain sebagainya, dan Tuhan bersikap seakan-akan tidak peduli terhadap kita. Tuhan sepertinya meninggalkan kita. Ia tidak menyatakan kuasa-Nya, bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran-Nya.
    Dalam kisah Lazarus (Yoh. 11:1-32), kita mendapat satu pelajaran penting. Bukan hanya demonstrasi kuasa Tuhan yang dapat membangkitkan Lazarus yang sudah 4 hari meninggal, tapi kisah ini juga menjadi sangat menarik apabila kita menempatkan diri sebagai Marta dan Maria yang kehilangan Lazarus. Sejak Lazarus sakit, mereka sudah berkirim kabar kepada Yesus. Mereka berharap Yesus dapat datang dan menyembuhkan Lazarus. Suatu harapan yang “wajar,” mengingat mereka adalah keluarga yang dikasihi oleh Yesus. Tetapi yang terjadi adalah Yesus tidak datang sampai Lazarus meninggal. Dan Yesus baru tiba setelah Lazarus meninggal 4 hari lamanya. 
    Bisa kita bayangkan betapa berduka dan kecewanya Marta dan Maria, bukan? Sampai-sampai ketika Yesus datang menemui mereka, mereka mempersalahkan Yesus. Bahkan ketika Yesus berkata bahwa Lazarus akan bangkit, Marta menyanggah. Karena secara logika, tidak mungkin jasad yang sudah mulai membusuk dapat hidup kembali. Dari perikop ini kita dapati dua kesalahan yang dilakukan Marta dan Maria, yaitu: pertama, mereka tidak sabar menunggu waktu-Nya Tuhan. Ini dibuktikan dengan persungutan mereka ketika akhirnya Tuhan datang. Kedua, mereka membatasi kuasa Tuhan dengan logika mereka sendiri. Marta percaya kebangkitan pada akhir zaman nanti, tapi bukan pada jasad yang sudah membusuk.
    Sejatinya, waktu kita dalam keadaan sulit dan tidak mengalami sesuatu yang “ajaib” atau di saat kita sedang tidak merasakan kehadiran Tuhan, justru di saat itulah Tuhan sebenarnya sedang memercayai kita untuk tetap percaya. Kita dipercaya sudah bisa diajak sepenanggungan dengan-Nya. Di situlah kita harus belajar percaya walau tidak melihat. Kita harus proaktif untuk mencari dan menemukan Tuhan. Dan kita pasti menemukan Tuhan. Ternyata “keterlambatan kedatangan” Tuhan di keluarga Marta dan Maria memiliki maksud yang sangat indah. Dalam Yohanes 11:15 dikatakan, “tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya.” Yesus mau mengajar Marta dan Maria—dan juga kita—untuk tetap percaya walau kehadiran dan kuasa-Nya seakan-akan tidak ada. Sayangnya, banyak orang yang tidak sabar dan ingin mencari kemapanan di bumi. 
    Setidaknya ada empat ciri, yaitu: Pertama, ia tidak menghayati bahwa dunia bukan rumah orang percaya. Mereka tidak dapat menghayati hidup sebagai musafir di bumi. Tuhan sendiri yang berkata: “kamu bukan berasal dari dunia ini.” Kedua, ia tidak menjadikan Tuhan sebagai sumber satu-satunya kebahagiaan. Padahal, Tuhan mengajarkan kita bahwa Dialah sumber kebahagiaan satu-satunya. Kalau tidak, berarti kita “berzina rohani.” Pemazmur juga mengajarkan satu hal: “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain E...
    8 min
  • Perubahan Zaman
    Kalau kita melihat dunia hari ini, kita melihat perubahan yang memiliki kecepatan yang sangat tinggi dibanding dengan zaman sebelumnya. Kalau di abad-abad pertengahan, perubahan dunia itu lambat karena ilmu pengetahuan dan teknologi, baik di bidang transformasi, komunikasi, dan  multimedia belum secanggih hari ini. Tapi sedihnya, perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia di sektor atau di bidang moral justru menuju keadaan atau situasi yang negatif. Artinya, manusia menjadi jahat dalam kecepatan yang tinggi. Ini perubahan yang makin tidak terkendali. Seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan bahwa kehidupan manusia di akhir zaman mengalami keadaan makin bertambah durhaka dan kasih kebanyakan orang menjadi dingin (Mat. 24). 
    Kesantunan dan kearifan lokal yang dimiliki banyak suku bangsa—di Indonesia khususnya—makin hari makin pudar. Tentu karena pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dimana dunia yang satu memengaruhi dunia lain dengan cepat. Nilai-nilai agama makin pudar. Namun temtu hal ini tidak terjadi kepada semua orang. Masih ada kelompok orang yang mempertahankan nilai-nilai keagamaan. Bahkan ada yang semakin fanatik, semakin ekstrem. Tetapi pada umumnya, dunia dibawa kepada suasana kejahatan manusia yang bertambah-tambah, dengan laju pertambahan yang cepat. Keadaan ini harus membuat kita sebagai orang percaya memiliki kesiapan dalam menanggulangi atau berantisipasi terhadap perubahan zaman, khususnya di sektor moral. Langkah yang harus kita ambil adalah:
    Yang pertama, kita jangan terpengaruhi oleh dunia. Kita harus memiliki sikap berjaga-jaga yang kuat. Hubungan kita dengan Tuhan harus benar-benar melekat. Sementara dunia bertambah jahat, kita harus bertambah ekstrem dalam kesucian. Kita tidak bisa ada di posisi netral atau mediokritas. Kita harus ada di posisi ekstrem. Kalau dulu doanya 30 menit, mestinya sekarang satu jam. Kalau dulu memiliki hobi bermacam-macam, sekarang hobinya harus mulai ditinggalkan supaya kita bisa fokus mencari Tuhan. Kalau dulu jalan-jalan seminggu lima kali, empat kali, sekarang dua minggu sekali cukup. Belanja secukupnya, supaya waktu jangan dihabiskan untuk jalan-jalan saja. Fokus kita harus Tuhan. 
    Banyak masalah yang bisa mencuri perhatian kita. Tetapi kita jangan tenggelam dengan persoalan-persoalan yang kita hadapi dan memberhalakan persoalan tersebut karena mencuri perhatian dan perasaan kita. Akhirnya, kita tidak dapat bertumbuh di dalam kekudusan, dan mudah sekali menjadi mangsa empuk kuasa kegelapan. Iblis akan mengguncang banyak orang Kristen lewat persoalan-persoalan yang ada. Jangan sampai kita ikut terguncang. Maka kita harus melekat dengan Tuhan, memberi waktu untuk berdialog dengan Tuhan, percaya bahwa Tuhan tidak berubah, takhta-Nya tetap untuk selama-lamanya. Kita percaya bahwa Tuhan itu hidup, dan Tuhan hadir di dalam pergumulan kita, dan pasti menolong. Jangan menyimpan dendam. Semua kejadian yang kita alami—termasuk segala pergumulan, persoalan, kebutuhan, dan ancaman-ancaman—ada di dalam pengetahuan Tuhan, Saudara. Tuhan mengontrol dan mengendalikan semuanya. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi di mata Allah. Jadi kita percaya, semua bisa kita tanggulangi. Sebab Tuhan pasti menolong kita. 
    Kedua, ketika ada kesempatan berbuat dosa, kita harus jadikan itu kesempatan untuk menyenangkan Tuhan; yaitu ketika kita menolak. Akan ada banyak kesempatan untuk berbuat dosa. Tetapi Iblis memang mau supaya orang percaya tidak lulus. Di sini kita mengambil posisi atau positioning. Posisi kita adalah kesucian, bukan terbawa oleh dunia. Sementara dunia akan tampak lebih mempesona, kemilaunya lebih tinggi. Kita harus memilih memandang Tuhan dan Kerajaan-Nya. 
    Ketiga, kita harus menggandakan waktu kita mencari Tuhan. Buang semua yang tidak perlu kita lakukan, supaya kita jangan kehilangan fokus kepada Tuhan. Persoalan-persoalan jangan kita berhalakan, tidak boleh menenggelamkan. Dunia yang makin gemerlap dan memikat harus berani kita tinggalka...
    10 min
  • Kehilangan Damai Sejahtera
    Umat Perjanjian Lama memiliki kesibukan hidup, yang fokusnya hanya makan-minum, negeri yang jaya dan makmur. Tetapi bagi umat Perjanjian Baru, negerinya adalah langit baru bumi baru. Asal ada makanan, pakaian, cukup. Orientasinya benar-benar rohani. Umat Perjanjian Lama, hukumnya 10 Perintah Allah; Dekalog. Tetapi kita, hukumnya Tuhan sendiri; perasaan Tuhan, pikiran Tuhan. Makanya kita harus memiliki pikiran dan perasaan Allah. 
    Banyak orang Kristen yang masih hidup dalam suasana Perjanjian Lama, seperti bangsa Israel. Tidak heran, banyak khotbah yang dikutip dari Perjanjian Lama, seakan-akan kita bisa berimitasi dengan umat Perjanjian Lama. Kita bisa mengambil banyak pelajaran rohani dari umat Perjanjian Lama, tetapi puncak, pusat, episentrumnya yaitu Perjanjian Baru. Kemudian akan terarah pada diri Yesus sebagai teladan dan tujuan hidup kita. Serupa dengan Yesus itu bukan karunia, melainkan perjuangan. 
    Banyak orang Kristen bisa diibaratkan seperti kontraktor yang jahat. Seorang kontraktor yang jahat, menerima uang pembayaran untuk membangun suatu rumah atau gedung tetapi tidak mengerjakan tugasnya. Yesus sudah mati di kayu salib, kita diberi Roh Kudus, dosa kita diampuni, kita telah ditebus. Ini bisa dianggap sebagai modal untuk menjadi serupa Yesus, tetapi kita tidak mengerjakan apa-apa. Sebenarnya Tuhan membekali kita dengan kuasa dan pengampunan dosa. Itu mahal sekali harganya. 
    Maka adalah jahat jika Roh Kudus dimeteraikan dalam diri kita dan Yesus mengajarkan Injil, namun kita tidak menggunakan semua itu untuk membangun diri. Seperti kontraktor yang jahat tadi, kita menerima semua anugerah itu tetapi tidak mengerjakan bagian kita. Tuhan Yesus telah memberikan modal kepada kita semua: penebusan, Roh Kudus, dan firman. Lalu apa dampaknya untuk kita? Kita berlatih tidak untuk serupa Yesus? 
    Kalau menjadi orang beragama seperti agama Yahudi, tidak perlu perjuangan. Kalaupun ada perjuangan, tidak terlalu berat. Kalau terlahir dari keluarga Yahudi, dari kecil sudah tertata untuk hidup menurut hukum, dan terjadi secara natural. Mereka bisa menyuruh orang-orang saleh dalam standar hukum. Tetapi orang Kristen atau terlahir sebagai orang Kristen, tidak natural bisa menjadi orang Kristen karena setiap individu harus berjuang untuk serupa dengan Yesus, lalu harus menaklukkan kodrat dosa dalam dirinya. 
    Umat pilihan Perjanjian Lama, fokusnya itu separuh kehidupan di dunia, lalu separuh nanti tidak jelas. Mereka tentu tidak ingin masuk neraka, tetapi tidak diajarkan bagaimana langit baru bumi baru karena negeri mereka itu Kanaan duniawi. Umat Perjanjian Lama diatur oleh hukum Taurat. Dasa titah; Dekalog; atau Aseret Hadevarim; 10 Perintah Allah, tetapi kita diatur oleh Roh Kudus. Hukum kita yaitu kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. 
    Kalau seorang anak terlahir dari keluarga Yahudi atau dibesarkan dalam lingkungan orang beragama Yahudi, secara natural mereka tertata bermoral Yahudi, bermoral hukum Allah sesuai dengan Dekalog. Orang Kristen, tidak bisa. Dia harus memerangi kodrat dosa. Kodrat dosa itu masih bisa diatur oleh hukum. Hukum masih bisa membuat orang tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina, tidak melawan orangtua. Hukum bisa mengatur itu. Tetapi kalau mengerti pikiran, perasaan Allah, itu tidak bisa diatur secara natural. 
    Setiap individu harus berjuang dan harus membiasakan diri. Dari kecil memasuki masa remaja, memasuki masa pemuda, harus berlatih. Sampai akhirnya benar-benar mengalami perubahan kodrat. Oleh sebab itu, bagi orang Kristen berlaku: “kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Tidak salah kalau jadi kaya. Idealnya, kalau Tuhan berkenan kita jadi kaya, supaya kita bisa menolong orang, memikul pekerjaan Tuhan. Tetapi kaya bukan sebagai tujuan. “Asal ada makanan, pakaian, cukup. Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” 
    Jadi, kita harus tahu, negeri kita yaitu langit baru bumi baru.
    9 min
  • Menghujat Roh Kudus
    Dalam agama-agama atau kepercayaan-kepercayaan pada umumnya, orang merasa sudah berurusan dengan allah, dewa, atau tuhan yang disembah, kalau datang ke tempat-tempat yang disebut rumah ibadah. Setelah pulang dari rumah ibadah, mereka menjalani hidup seperti umumnya orang lain menjalani hidup. Tetapi, kekristenan tidaklah demikian. Kekristenan itu seluruh hidup kita. Ibadah kita bukan di gereja. Gereja hanyalah ruang pertemuan. Kita mesti mengingatnya, dan jangan sampai terhapus dari pikiran kita. Ibadah di gereja hanyalah meeting together, yang dalam bahasa Yunaninya episunagogen. Sayangnya, di Alkitab diterjemahkan “pertemuan ibadah.” Padahal teks aslinya yaitu “pertemuan bersama; meeting together.” 
    Kebaktian kita yaitu seluruh hidup kita. Liturgi kita adalah seluruh waktu kita, di mana pun kita berada. Berurusan dengan Tuhan bukan hanya pada waktu kita berlutut berdoa atau datang ke gereja, tetapi setiap saat. Tidak ada waktu di mana kita tidak berurusan dengan Tuhan. Kebatinan Jawa bisa berprinsip manunggaling kawulo Gusti, artinya menyatu dengan Allah. Kekristenan berabad-abad sebelumnya sudah mengajarkan Allah yang disembah tinggal di dalam kita; kita tinggal di dalam Dia. 
    Alkitab mengajarkan dalam 1 Korintus 6:19 dan 20; 3:16, bahwa tubuh kita adalah bait-Nya. Rumah ibadah yaitu kita, jangan diganti dengan gereja. Gereja adalah ruang pertemuan. Sedangkan pertemuan dengan Allah, yaitu tubuh kita menjadi tubuh-Nya; tempat Allah berdiam. Kalau tubuh kita menjadi bait Roh Kudus, maka pasti ada Ruang Mahakudus di dalamnya. Ini menjadi tantangan buat kita. Kita tidak boleh lupa bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Sering kita lupa ada Roh Allah yang Mahakudus tinggal dalam diri kita. Jika tidak demikian, itu bukan Kekristenan. Kita harus serius menghadapi hidup yang semakin rusak dan jahat ini, karena dunia akan menarik kita untuk hidup dengan cara dan pola hidupnya. 
    Kita mau menjadi orang-orang yang dipersiapkan Tuhan dalam menghadapi keadaan dunia yang memburuk di depan. Kita tidak bisa melindungi anak-anak kita, dengan kekuatan apa pun. Kita yang punya uang banyak, memiliki relasi pejabat tinggi, hendaknya jangan merasa sombong. Pejabat bisa naik turun, hidup kita juga seperti roda, bisa berputar. Tetapi kalau ada tangan yang menciptakan langit dan bumi, yaitu Allah semesta alam yang mengutus Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus, mati di kayu salib untuk menebus dan mengampuni dosa kita, serta berkenan menjadikan tubuh kita bait-Nya, ini anugerah. 
    Sederhana, simpel, tetapi sulit karena memang tidak mudah. Kita sering kali memberontak, kita reject, resist, refuse; kita menolak menjadikan tubuh kita sebagai bait Roh Kudus. Apalagi kalau orang sudah terbiasa jorok hidupnya, pasti dia tidak mau menjadikan tubuhnya bait Roh Kudus. Jangan sampai kita rusak sehingga tidak bisa diperbaiki lagi, yang namanya “titik tidak balik” atau dalam bahasa Inggrisnya point of no return. Ini mengerikan. Seperti yang terjadi pada Esau, di mana ia tidak lagi memiliki kesempatan. Jadi, kita harus berjuang untuk menguduskan diri agar layak menjadi bait Roh Kudus. 
    Jangan berpikir kalau Tuhan Yesus sudah mati di kayu salib, menebus dosa kita, lalu secara otomatis tubuh kita bisa menjadi bait Roh Kudus secara permanen. Benar, Yesus mati di kayu salib menebus dosa kita; kita dibenarkan atau dianggap benar. Kita menerima Roh Kudus; Roh Kudus dimeteraikan di dalam diri kita. Roh Kudus menuntun untuk mengubah karakter kita, watak kita; mengubah kita dari kodrat manusia, kodrat dosa, untuk bisa menjadi seorang yang berkodrat ilahi supaya Roh Kudus bisa tertanam dalam diri kita secara abadi. Kalau orang tidak mau menguduskan diri; bicara sembarangan, melihat sembarangan, berperilaku sembarangan, Roh Kudus didukakan.
    Roh Kudus itu luar biasa, tetapi ada batas waktu. Kalau seseorang mendukakan Roh Kudus terus-menerus, maka ia akan memadamkan Roh. Sesudah memadamkan, dia akan menghujat Roh Kudus.
    9 min
  • Iblis dalam Pikiran
    Ada satu pengertian yang salah dan harus diluruskan. Banyak orang berpikir bahwa yang namanya kerasukan setan itu kalau manifestasinya selalu ekstrem seperti mendelik, berteriak-teriak, lalu menjadi abnormal. Misalnya bertelanjang diri, sehingga jadi seperti orang dengan gangguan jiwa. Tetapi di Injil Matius 16, ketika Simon Petrus menyatakan sesuatu yang bukan dari Allah, Tuhan mengatakan: “Enyahlah, Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku. Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi yang dipikirkan manusia,” (Mat. 16:23). Tuhan sebenarnya tidak peduli apa yang dipikirkan oleh Iblis. Tetapi menjadi sebuah masalah yang penting jika apa yang dipikirkan Iblis, juga merupakan sesuatu yang kita pikirkan. 
    Ketika Tuhan berkata, “Enyahlah, Iblis,” Dia menunjuk ke arah Simon Petrus. Jadi, Iblisnya ada di dalam Simon Petrus. Tidak menunjuk ke batu atau objek benda lainnya, melainkan ke Simon Petrus. “Enyahlah, Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku,” artinya “kau menghalangi Aku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Bukan apa yang dipikirkan Iblis. Tuhan tidak peduli apa yang dipikirkan Iblis selama itu tidak menjadi pikiran kita. Jadi, kita tidak boleh memikirkan apa yang tidak dipikirkan Allah, karena itu berarti pikiran Iblis. 
    Kita harus teliti dan memeriksa diri, apakah yang kita pikirkan itu benar-benar pikiran Allah atau pikiran manusia? Maka, jangan menonton tontonan yang tidak perlu, film-film yang tidak perlu. Acara hiburan yang tidak mendidik, tayangan yang tidak berguna, berita-berita yang tidak penting. Jangan dilihat, sebab itu bisa membangun pikiran Iblis di dalam kita. Terlalu sering atau banyak melihat iklan, kita bisa terpengaruhi. Apalagi kalau memang tidak punya dana untuk membeli sesuatu, tidak perlu melihat iklan produk yang bisa membuat kita mengingini barang tersebut. 
    Apalagi kalau lihat film-film yang tidak patut; film porno, film-film yang adegan seronok, beradegan seks, berciuman, dan sebagainya. Itu akan membangun pikiran Iblis. Anak muda misalnya menyaksikan film-film yang ada adegan berciuman, berhubungan badan, itu bisa membuat pikirannya menjadi kotor dan terisi dengan imajinasi yang tidak kudus, sehingga memunculkan hasrat dan keinginan untuk berbuat apa yang dilihat. 
    Kaum wanita, biasanya melihat model-model baju. Bukan tidak boleh, melihat model baju yang unik dan menarik. Tetapi, nanti akhirnya hanya meratapi diri, “kenapa aku tidak secantik dia? Kenapa bajuku tidak sebagus itu?” Tuhan mau kita mendengar, melihat, menyerap apa yang baik. Makanya Tuhan berkata, “pikirkan apa yang baik, yang kudus, sehingga mendatangkan pujian.” Jangan memasukkan sesuatu yang dipikirkan manusia, yang berasal dari Iblis. Kalau yang dipikirkan manusia pada umumnya yaitu filosofi dari kuasa kegelapan. Bagi anak Allah, tidak boleh. Ini dalam konteks anak-anak Allah, bukan dalam konteks orang-orang non-Kristen. 
    Kita harus menjadi bejana Tuhan, sebab tuntutan untuk orang percaya itu sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Standar orang Kristen yaitu “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Itu baru namanya rohani. “Lalu bagaimana dengan orang di luar Kristen?” Itu bukan urusan kita dan tidak perlu dibahas. Kita hanya membahas diri kita yang telah dibeli oleh Tuhan Yesus dengan harga yang lunas dibayar. Kepada kita Tuhan berkata: “kamu bukan milik kamu sendiri. Kamu harus menjadi bait Roh Kudus.” Kalau kita menjadi bait Roh Kudus, artinya seluruh hidup kita harus dipenuhi oleh Roh itu. Bukan hanya tangan, kaki, mata, tetapi juga jiwa, pikiran, hati kita yang dipenuhi Roh Kudus. 
    Kita sering berkata: “Tuhan, penuhi aku dengan Roh Kudus,” lalu kita bingung, mengapa rasanya tidak penuh-penuh? Masalahnya bukan terletak pada Roh Kudus. Masalahnya ada pada kita. Sebab, kita tidak mau mengosongkan bejana hati. Kita tetap saja memasukkan apa yang bukan dari Allah.
    10 min
  • Suara yang Menyesatkan
    Kita akan melihat, menemui, menjumpai banyak pilihan di dalam hidup. Manusia selalu dibawa atau diperhadapkan kepada banyak pilihan. Hampir semua manusia terseret pada kesibukan untuk memilih dari satu pilihan ke pilihan yang lain. Di dalam pilihan tersebut, ada kesibukan dan pertaruhan. Kita mau jalan-jalan keluar kota atau keluar negeri, tentu harga dan pertaruhannya berbeda. Kita mau beli barang harga di bawah satu juta atau di atas 10 juta, juga berbeda pertaruhannya. Selalu saja ada pilihan-pilihan itu. 
    Manusia dibuat sibuk dengan pilihan-pilihan setiap hari. Tetapi ada satu yang Iblis hindarkan kita masuk di situ. Banyak pilihan disodorkan, tetapi pilihan yang satu ini, kuasa kegelapan sebisa mungkin menjauhkan dari diri kita. Kalau pilihan barang, merek ini atau merek itu; jalan-jalan ke mana, keluar kota, kota mana; keluar negeri, negeri mana, banyak pilihan. Pekerjaan, sekolah, tempat tinggal, makan apa, banyak pilihan. Tetapi yang satu ini dihindarkan oleh kuasa kegelapan, dan banyak orang tidak memikirkannya karena merasa tidak perlu sungguh-sungguh untuk memikirkannya. Pilihannya adalah apakah kita mau bersama dengan Tuhan atau tidak; masuk surga atau masuk neraka. 
    Memang tidak ada orang yang mau masuk neraka. Jelas, kalau orang disuruh memilih surga atau neraka, orang pasti memilih surga. Kalau kita disuruh memilih bersama dengan Tuhan atau tidak bersama dengan Tuhan, pasti kita memilih bersama dengan Tuhan. Tetapi Iblis membuat kita untuk tidak memilih dulu. Kita dibuat mengambang, bias, seakan-akan itu bukan pilihan. Karena tidak ada orang yang mau masuk neraka, tidak ada orang yang mau terpisah dari Allah, tetapi tidak menjadi pilihan. Bayangkan betapa jahat dan berbahayanya. Sehingga perhatian, fokus, pertaruhan kita tidak ditujukan untuk hal ini, tetapi ditujukan untuk banyak hal.  
    Berapa banyak dari kita yang sudah membawa diri kepada pilihan ini? Tentu kalau seseorang sudah mengambil keputusan memilih salah satu, maka ia harus mulai membayar harganya; mulai mempertimbangkan dan menggumuli pertaruhannya. Tetapi kalau seseorang tidak memilih, dia tidak perlu menggumuli. Banyak orang sibuk dengan pilihan-pilihan yang tidak menyangkut kekekalan sehingga tidak mulai mengarahkan diri kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. 
    Coba kita renungkan. Hidup kita diseret dalam kesibukan pilihan demi pilihan yang tidak menyangkut kekekalan. Cerdiknya setan, bukan hanya menipu jemaat tetapi juga menipu aktivis gereja, pelayan, bahkan pendeta. Suara yang menyesatkan kita atau banyak orang Kristen adalah suara yang mengatakan bahwa kita sudah memilih. Dalam hal ini, soal kekekalan. Kita merasa sudah memilih. Bisa orang berkata, “kalau saya tidak memilih Tuhan, saya tidak ke gereja. Kalau saya tidak memilih Yesus Kristus, saya tidak menjadi orang Kristen. Saya tidak ke gereja. Saya tidak aktif dalam pelayanan jemaat. Saya tidak menjadi pendeta, kalau saya tidak memilih Tuhan.” 
    Masalahnya adalah bagaimana dan apa itu “memilih Tuhan?” Kita ke gereja, belum tentu memilih Tuhan secara benar. Menjadi aktivis, menjadi pendeta, belum tentu sudah memilih Tuhan secara benar. Orang yang memilih Tuhan itu harus menjadikan Dia segalanya dalam hidup. Orang yang memilih Tuhan, harus menjadikan Tuhan itu segalanya. Tidak boleh menjadikan Tuhan itu tambahan, apalagi sambilan. 
    Kalau orang Yahudi memiliki 10 Perintah Allah, hidup mereka harus diatur oleh hukum, tidak boleh meleset dari hukum itu. Hukum Taurat yang mereka miliki bisa dikenakan, sementara mereka menginjak bumi dan menapaki hari hidup seperti manusia lain, di mana fokusnya pemenuhan kebutuhan jasmani. Tentu hukum mengawal mereka. Ibadah kepada Yahweh mengawal mereka, tetapi mereka masih bisa hidup wajar seperti manusia lain yang bukan bangsa Israel. Tetapi kalau umat Perjanjian baru, hukumnya adalah Allah sendiri; pikiran, perasaan Tuhan yang menjadi standar hukum, standar kesucian, standar moralnya, yaitu mengerti apa yang baik, yang berkenan,
    8 min
  • Arti Sesat Sesungguhnya
    Kalau seseorang sejak lahir sudah melihat gaya hidup, pola hidup tertentu, maka dia mendengar suara gembala yang salah. Pada umumnya demikian. Mendengar suara gembala berarti mengerti apa kehidupan itu sesuai dengan kebenaran sang gembala. Tetapi, dunia ini ada banyak gembala; gembala-gembala palsu, yang tentu di atasnya ada gembala besar yang sesat yaitu Iblis, setan. Setan. Ingat, di dalam Injil Matius pasal 16, ketika Yesus berkata kepada Petrus: “enyahlah, Iblis!” Iblis di dalam diri Petrus. Petrus memiliki cara berpikir yang salah, dan itu dibangun dari kecil. Dia terlahir di kalangan orang Yahudi yang memimpikan seorang mesias atau juruselamat. Orang-orang Yahudi itu memimpikan, mengharapkan seorang mesias atau juruselamat, tetapi mesias atau juruselamat versi mereka, bukan versi Allah. 
    Jadi, tidak heran jika orang-orang Yahudi tidak bisa menerima Juruselamat versi yang diajarkan Tuhan Yesus. Karena, mereka ingin sang Juruselamat itu profilnya seperti Daud yang menggulingkan Goliat, lalu membawa bangsa Israel kepada zaman kejayaan atau zaman keemasan. Cara berpikir yang salah, itulah takhta Iblis. Kalau seseorang dari kecil dibesarkan dalam lingkungan yang salah, melihat gaya, cara hidup orangtua, sementara orangtua-orangtua ini melihat juga orangtuanya terdahulu, dan seterusnya. 
    Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, maka yang diwariskan yaitu model hidup yang benar. Tetapi, ini sudah sesat. Belum sampai ribuan tahun, manusia sudah rusak sampai memilukan hati Allah. Begitu membuka mata, anak-anak melihat gaya hidup orangtua, cara hidup orangtua, dan dibimbing oleh gembala yang salah. Alkitab mengatakan semua kita telah sesat, memilih jalan kita sendiri. Yahweh mengutus Putra-Nya, dan menimpakan kejahatan kepada Putra-Nya. Yesus datang bukan hanya menjadi Penebus dosa, tetapi juga Gembala. 
    Masalahnya adalah bagaimana umat yang ditebus ini mengenal Gembalanya? Sebab, sudah punya gembala-gembala yang salah, di atas gembala yang salah yaitu setan atau Iblis. Jadi cara berpikir yang salah itu yang dibangun dari kecil, yang ada di dalam pikiran Petrus, dihardik oleh Yesus: “Enyah, Iblis!” Ini pikiran Iblis yaitu cara berpikir Iblis. Petrus memiliki cara pandang hidup yang salah. Kalau cara pandang hidupnya sudah salah, itu sesat namanya sehingga dia tidak akan bisa mendengar suara gembalanya, sebab cara hidupnya sudah sesat. Yesus di depan mata, sudah mengajarkan kebenaran, namun Petrus masih belum mengerti. Tetapi puji Tuhan, akhirnya Petrus mengerti. 
    Masalahnya, dari kecil sudah diajarkan keliru dengan cara berpikir yang salah, prinsip-prinsip hidup yang salah, filosofi-filosofi dunia, sehingga memandang cara hidup ini salah. Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, benar. Tetapi Dia memberikan kepada kita Injil. Dia memberikan kebenaran kepada umat pilihan. Maka mandat-Nya kepada murid-murid: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Ajar mereka,” apa ajaran yang murni dari Injil? Itu masalahnya. Karena masing-masing gereja punya pandangan dan doktrin yang diklaim sebagai ajaran yang paling benar. Di luar ajaran yang mereka yakini benar, itu dianggap sesat. 
    Jadi sesat atau tidaknya hanya dilihat dari perspektif atau sudut pandang doktrin. Padahal, mestinya sesat adalah tidak mengenal suara gembala. Lalu, bagaimana kita bisa mengenali? Bagaimana kita bisa mengenali ajaran yang benar, yang membuat kita bisa memiliki cara pandang hidup yang benar? Ajaran yang benar akan membuat seseorang mengenal suara Gembala. Hal ini tidak bisa dialami oleh orang-orang yang tidak mencari Tuhan dan tidak bisa dimiliki orang-orang yang tidak haus dan lapar akan kebenaran. 
    Setiap orang pasti mendapat kesempatan untuk mencari Tuhan. Suatu hari nanti, baru akan dibuka oleh Tuhan, bahwa Tuhan pernah mengingatkan orang itu, menyadarkan orang itu akan adanya kehausan di dalam dirinya. Mestinya, waktu itu dia mulai mencari Tuhan. Orang yang mencari Tuhan, pasti menemukan Tuhan.
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…