Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Proses yang Bermanfaat
    Orang bijak, orang cerdas, siapapun dia; baik orang yang beragama maupun tidak, orang yang percaya Tuhan Allah maupun ateis, kalau ia mengerti bagaimana memanfaatkan kesempatan, maka ia adalah orang yang beruntung. Kesempatan itu adalah harta, atau sebagai tangga untuk meraih harta, kekayaan, kemuliaan. Tentu harta, kekayaan, kemuliaan yang sesuai dengan konsep setiap orang. Tetapi bagaimanapun, orang yang bisa menggunakan kesempatan adalah orang yang beruntung. Orang yang kaya; bisa kaya akan hikmat, pengetahuan, juga bisa kekayaan materi.
    Dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen; kekayaan dunia, kehormatan manusia atau kemuliaan duniawi bukanlah tujuan. Tujuan kita yang benar haruslah hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya. Untuk bisa mencapainya, hidup kita tentu harus diubah. Hidup kita harus diubah menjadi manusia sesuai dengan kehendak Allah. Manusia sesuai dengan kehendak Allah, standarnya adalah Tuhan Yesus. Sebagaimana yang tertulis dalam Roma 8:29, “Supaya Yesus, Anak-Nya, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” 
    Yesus sudah memulai perjuangan untuk menjadi manusia yang segambar, serupa dengan Allah Bapa. Adam pertama gagal, tetapi Adam terakhir—Yesus—berhasil menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah Bapa. Dialah model manusia yang Allah kehendaki. Bagi orang percaya, tujuan hidupnya haruslah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Maka, kita harus mencapai kehidupan yang segambar dan serupa dengan Allah. Yesus menjadi yang sulung, Dia telah memulai dan berhasil. Allah memakai setiap kejadian dalam hidup untuk membentuk atau mendewasakan, supaya kita menjadi serupa dengan Yesus. 
    Tidak ada kejadian yang tidak memiliki manfaat di dalam hidup kita, terkait dengan proses agar kita menjadi serupa dengan Yesus. Tidak ada peristiwa hidup, baik yang kita dengar, kita lihat, apalagi yang kita alami yang tidak bermakna. Semuanya bisa menjadi sarana Tuhan untuk mengubah kita. Masalahnya, apakah hal-hal atau kejadian-kejadian tersebut, baik yang kita lihat, kita dengar, apalagi yang dialami, diterima sebagai kesempatan untuk berubah? Faktanya, banyak orang Kristen yang menganggap sepele atau remeh kejadian-kejadian yang dialami. Kita pun cenderung demikian. Saat melihat sesuatu, mendengar sesuatu tanpa mau berusaha untuk menemukan pelajaran apa yang bisa atau harus kita peroleh, dari apa yang kita dengar dan yang kita lihat. 
    Banyak kesempatan berharga yang berlalu sia-sia. Apa yang kita dengar, kita lihat, kita renungkan, jika dikaitkan dengan hal-hal rohani, pasti ada pelajaran rohaninya karena ada nasihat atau arahan Tuhan, artinya ada mentoring Tuhan. Apalagi dari yang kita alami. Itu pasti lebih kuat mengubah kita, baik itu hal-hal kecil, hal-hal sederhana, sampai kepada hal-hal yang besar. Kejadian atau peristiwa yang bisa menyita pikiran, perasaan, atau yang dianggap sebagai hal yang besar, pasti dampaknya juga besar. 
    Kesalahan banyak orang dan kesalahan banyak dari kita juga, adalah ketika berada di dalam suatu masalah, kita hanyut dan tenggelam dalam masalah tersebut. Apakah itu sesuatu yang merugikan atau yang menguntungkan; apakah itu sesuatu yang membuat kita berduka atau sukacita? Kalau hal itu membuat kita dukacita, kita merasa dirugikan, dan sering kita hanyut di dalam perasaan dukacita. Biasanya bagi orang Kristen, saat berurusan dengan Tuhan hanya karena mau menyelesaikan masalah, tetapi tidak mempersoalkan apa nasihat Tuhan, mentoring Tuhan, dan arahan Tuhan melalui persoalan tersebut. Kita menjadi lupa, apalagi kalau hal itu melukai atau menyakiti kita. 
    Hal-hal besar seperti dikhianati pasangan hidup, dapat membuat mereka yang mengalaminya menjadi tenggelam di dalam masalah-masalah itu. Seharusnya setiap individu menemukan apa arahan Tuhan melalui persoalan. Tepatnya, bagian apa dalam hidup kita yang mau diubah Tuhan? Kalau masalah itu berat sekali, sebenarnya dampaknya juga akan menjadi jauh lebih besar. Maksudnya, dampak positifnya.
    10 min
  • Persoalan sebagai Anugerah
    Dalam hidup ini tidak ada orang yang tidak pernah punya masalah. Setiap orang pasti akan menghadapi masalah. Ada tiga hal yang pasti dialami manusia, yang pertama: masalah, yang kedua: sakit, lalu yang ketiga: proses penuaan, menjadi mati atau meninggal dunia. Kita tidak bisa menghindarinya. Demikianlah fakta kehidupan yang kita bersama alami dalam hidup ini. Jadi, jangan kita berpikir bisa hidup tanpa masalah; jangan berpikir bahwa kita bisa menjalani hidup tanpa persoalan-persoalan yang rumit. Kita harus menyiapkan diri kita untuk menerima keadaan yang bermasalah. Kita harus siap menghadapi situasi yang sukar di dalam hidup ini. 
    Dalam hidup ini, kita juga akan menghadapi masalah-masalah yang besar, masalah-masalah yang rumit, yang Tuhan izinkan itu berlangsung dalam kurun waktu yang lama; tidak dalam waktu yang pendek, dan rasanya kita tidak sanggup menyelesaikannya. Setiap kita akan menghadapi persoalan seperti ini; persoalan berat yang kita tidak sanggup menyelesaikannya. Kita sudah putus asa, rasanya. Masalah itu bisa tidak selesai dalam waktu yang singkat, tetapi akan selesai dalam waktu yang panjang dan Tuhan membiarkan atau mengizinkan hal itu terjadi kepada kita. Pertanyaannya, mengapa Tuhan mengizinkan hal itu terjadi? 
    Ada masalah berat, yang kita tidak sanggup menanggulanginya, dan tidak selesai dalam waktu yang singkat, harus melalui perjalanan yang panjang. Bukan tidak mungkin, saat ini kita juga sedang menghadapi masalah berat atau masalah sukar yang kita tidak tahu bagaimana jalan keluarnya. Hal ini bisa merupakan masalah yang panjang dan Tuhan mengizinkan hal itu terjadi dalam hidup kita. Dalam hidup ini, ada orang-orang yang diistimewakan Tuhan; orang-orang yang dikhususkan Tuhan untuk mengalami hal-hal seperti ini. Ketika kita menghadapi masalah rumit, sulit, berat, yang kita tidak mampu menyelesaikannya dan itu harus dijalani, dialami, dihadapi dalam waktu yang panjang, Tuhan mengajarkan kepada kita untuk bergantung kepada Tuhan. 
    Kalau tidak mengalami keadaan seperti itu, sering orang menjadi sombong. Setiap masalah yang dialami, dihadapi, dia dapat menyelesaikannya dengan mudah. Apalagi kalau dia punya uang, punya relasi pejabat. Lalu dengan uang serta relasi pejabat itu, dia bisa menyelesaikan, menanggulangi masalah-masalah yang ada. Lalu apa yang terjadi? Dia menjadi sombong. Hal ini berbahaya. Mengapa? Karena firman Tuhan mengatakan, “Allah menentang orang sombong, Allah melawan orang sombong. Tetapi, Ia memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati.” Jadi jangan sampai kita menjadi sombong, lalu Allah melawan kita. Kesombongan itu bukan hanya di mulut. 
    Jangan merasa kita tidak sombong karena mulut kita tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang bernada atau berisi kesombongan. Jangan merasa rendah hati kalau mulut kita tidak mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kesombongan. Jangan merasa rendah hati kalau kita tidak menunjukkan sikap, perbuatan yang meninggikan diri. Ternyata, dalam hati juga bisa ada kesombongan, ketika merasa bisa hidup tanpa Tuhan. Ini hal yang berbahaya. Persoalan berat yang tidak bisa kita atasi, sebenarnya dapat memicu dan membuka mata rohani kita untuk menyadari bahwa kita tidak berdaya. Ada orang-orang yang sukar bertobat karena merasa dirinya punya potensi; mampu menghadapi segala keadaan. Maka tidak heran, Tuhan pun seperti tidak dibutuhkan. Hal ini mengerikan sekali. 
    Kita tidak harus mengalami persoalan berat dan sukar, baru kita menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan. Kalau ada orang yang diberi Tuhan karunia; kesempatan untuk mengalami persoalan-persoalan berat yang dia sendiri tidak mampu mengatasinya, itu anugerah. Itu berkat, supaya dia disadarkan bahwa hanya Tuhan yang dapat menolongnya dalam setiap persoalan.
    Tetapi, kita tidak harus mengalami keadaan-keadaan yang sulit, yang sukar, baru menyadari bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Tuhan. Sekarang ini, kita mulai berkata, “Tuhan, aku tak dapat jalan sendiri.
    8 min
  • Ketertarikan untuk Berkodrat Ilahi
    Allah itu besar, maka kita pun harus berpikir dalam skala besar. Skala besar kita haruslah berorientasi pada dua hal. Yang pertama, kesucian. Yang kedua, pengorbanan tanpa batas seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Allah Bapa itu kudus dan suci, maka yang menjadi kawan sekerja Allah atau menjadi utusan dari Allah, juga harus suci. Secara estafet, Bapa mengutus Yesus; lalu Tuhan Yesus mengutus kita. Tuhan Yesus itu berkodrat ilahi. Dia bisa menjadi kawan sekerja Bapa untuk melakukan dan melaksanakan rencana Bapa. Maka, kalau kita mau menjadi pelayan-pelayan Tuhan, kita pun harus berskala besar, yaitu memiliki kesucian seperti Bapa. 
    Hal yang Bapa inginkan yaitu manusia menjadi ciptaan yang sesuai rancangan-Nya. Ini perkara besar. Jangan anggap remeh hal ini. Jika proses ini berlangsung sampai seseorang mengalami perubahan kodrat, yaitu segambar dan serupa dengan Allah dimana Yesus menjadi modelnya, ia pasti memiliki kesucian. Allah yang Mahabesar, dalam kekudusan-Nya hanya dapat berjalan dengan orang-orang yang kudus, yang bisa menjadi alat dalam tangan-Nya, menjadi utusan Allah.
    Kalau di Perjanjian Lama, Allah bisa memakai siapa saja dan apa saja; keledai pun bisa dipakai berbicara. Tetapi, Allah hari ini tidak bekerja dengan cara seperti Perjanjian Lama, karena di Perjanjian Lama proyeksinya hanya sekadar manusia taat menuruti hukum, menyembah Yahweh, maka binatang atau siapa pun bisa dipakai. Tetapi tujuan pelayanan bukanlah sekadar manusia menjadi orang baik, melakukan hukum, menyembah Yahweh, melainkan agar manusia menjadi segambar dan serupa dengan Allah. 
    Maka, orang-orang yang dipakai oleh Allah secara ideal dan benar harus segambar dan serupa dengan Allah dulu supaya dia tahu apa yang harus dilakukan dalam pelayanan. Tujuannya pun harus jelas, jangan digantikan dengan kegiatan aktivitas pelayanan. Misalnya, yang dianggap penting ialah seseorang yang memiliki keahlian di bidang tertentu, apalagi punya jabatan di masyarakat, berpendidikan tinggi, dan beruang kemudian dianggap layak melayani. Hal ini sungguh merusak!
    Lebih menyedihkan lagi, jangan digantikan dengan gelar. Gelar teologi bukanlah jaminan seseorang mengalami perubahan kodrat ilahi. Kecuali Sekolah Teologi itu benar-benar mengarahkan mahasiswanya untuk mengalami proses perubahan gambar diri untuk serupa dengan Yesus atau mengalami kodrat ilahi. Kesalahan ini sudah terjadi dan berlangsung selama berabad-abad. Mengerikan sekali! Sejujurnya, kita semua termasuk korban dan terbawa arus ini. 
    Di Perjanjian Lama, binatang seperti keledai bisa dipakai, karena memang proyeksinya, tujuannya hanya pada tataran umat menjadi baik menurut hukum atau tetap menyembah Elohim Yahweh, dan itu sudah cukup. Tetapi dalam Perjanjian Baru pelayanan berproyeksi atau bertujuan mengubah manusia untuk mengalami perubahan kodrat. Maka, orang-orang yang dipakai Allah menjadi utusan Allah—estafetnya Bapa mengutus Yesus, Yesus mengutus kita—harus berkeadaan seperti Yesus. Jangan digantikan dengan sekadar cakap dalam kegiatan pelayanan, atau lulus Sekolah Tinggi Teologi dan memiliki gelar kesarjanaan. 
    Kita harus serius mengevaluasi diri setiap hari, unsur-unsur apa yang masih bernuansa atau berbau manusia lama yang masih melekat di dalam diri kita. Ini perkara besar, lebih besar dari masalah menikah, punya anak, dan lain-lain. Kalau kita mau berpikir dalam skala besar, mulailah dari hal ini dulu. Nanti, baru kita akan masuk dalam pelayanan, berpikir dalam skala besar di mana kita akan mempersembahkan bukan hanya uang, tenaga, melainkan juga darah, tetesan keringat, bahkan nyawa kita, dan seluruh hidup kita tanpa dipaksa; karena memang sudah menjadi irama, sehingga itu terjadi secara otomatis. 
    Jika kita berproses seperti ini, maka kita bisa berpikir dalam skala besar; dimulai dari keluarga inti, keluarga besar, masyarakat sekitar, negara, sampai dunia. Tidak akan terbendung, karena Allah memiliki rancangan yang besar yaitu tidak seorang pun ...
    10 min
  • Berpikir dalam Skala Besar
    Karena kita adalah anak-anak Allah yang hendak Bapa libatkan dalam rencana-rencana-Nya, maka kita harus berpikir dalam skala yang besar. Sangat sedikit orang yang berpikir dalam skala besar untuk bisa berjalan dengan Allah dan mengimbangi skala berpikir Allah. Mungkin juga hampir-hampir tidak ditemukan, karena sangat sedikit orang-orang seperti ini. Tetapi hendaknya kita dapat menjadi bagian dari yang sedikit itu, untuk bisa berpikir dalam skala yang besar. Oleh sebab itu, coba kita renungkan baik-baik, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Elohim atau Allah semesta alam Yang Mahabesar, yang sudah ada dari kekal? Dia ada atau eksis bukan karena diciptakan atau diperanakkan. Dia sudah ada karena Dia ada, dari kekal sampai kekal. 
    Allah atau Elohim itu besar, lebih besar dari segala sesuatu, bahkan lebih besar dari jagat raya yang tidak terbatas ini. Tidak bisa kita pikirkan, tidak bisa kita bayangkan kebesaran Allah, kedahsyatan, dan kemuliaan-Nya. Allah yang Mahabesar, Elohim yang Mahabesar ini sebenarnya mau apa? Apa yang Ia kehendaki? Jangan kita setengah-setengah tahu atau setengah-setengah percaya. Kita harus benar-benar tahu dan kita harus benar-benar percaya, dan menerima apa yang Alkitab tunjukkan kepada kita, bahwa Allah menghendaki makhluk ciptaan yang elok, yang luar biasa, yang Allah sendiri tidak segan-segan menyebutnya sebagai anak-Nya, yaitu kita.
    Allah menaruh gambar-Nya di dalam diri manusia. Manusia diberi kemampuan “seperti” Allah. “Seperti” belum tentu atau bukan berarti pasti sama. Manusia diberi keberadaan yang luar biasa, memiliki gambar Allah. Maka, Allah menghendaki manusia yang memiliki gambar seperti diri-Nya untuk bertanggung jawab mengelola dan mengembangkan gambar dirinya tersebut agar menjadi serupa dengan Dia. Hal ini penting sekali dan harus benar-benar kita pahami. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia kehilangan atau kurang kemuliaan Allah. Manusia tidak dapat mencapai keserupaan dengan Allah (Rm. 3:23). Bukan hanya manusia tidak bisa serupa dengan Allah karena kejatuhan manusia pertama tersebut, tetapi manusia juga hidup di bawah bayang-bayang maut yaitu terpisah dari Bapa selama-lamanya. 
    Itulah sebabnya, Allah Bapa mengutus Putra-Nya menjadi Adam kedua atau Adam terakhir agar melalui keselamatan yang diberikan melalui karya pengorbanan Putra Tunggal-Nya yaitu Tuhan Yesus Kristus, kita dapat menjadi manusia yang sesuai dengan apa yang Allah kehendaki atau Allah inginkan, yaitu berkeadaan segambar dan serupa dengan Allah. Yesus, adalah model dari manusia yang Allah inginkan. Keselamatan itu dimaksudkan agar manusia dapat berkeadaan serupa dengan Yesus, yang adalah model dari manusia yang Allah inginkan. Dialah manusia yang berkodrat ilahi, sehingga segala sesuatu yang dilakukan, selalu sesuai dengan kehendak Bapa. 
    Jadi kalau Firman Tuhan mengatakan: “hendaklah kamu dalam hidupmu memiliki pikiran dan perasaan Kristus,” artinya serupa dengan Dia. Itu artinya kita harus memperjuangkan bagaimana kita dapat memiliki keserupaan dengan Yesus, agar kita benar-benar menjadi manusia seperti yang memang Allah inginkan, Allah kehendaki. Sungguh, ini hal yang luar biasa dan tidak boleh kita pandang sederhana atau remeh. Dimulai dari pengertian kita mengenai hal ini, kita bisa berpikir dalam skala besar. Kalau kita fokus pada kebenaran ini, kita mengerti kebenaran ini, dan kita menerimanya, maka secara individu kita akan memperjuangkan bagaimana untuk mencapai keadaan diri serupa dengan Yesus. 
    Mari kita berpikir dalam skala besar. Sebab, kalau kita benar-benar serius memasuki proses itu, kita pasti akan terbeban terhadap keselamatan orang lain, bagaimana orang lain juga dapat mengalami proses seperti yang kita alami atau kita jalani. Keterlibatan kita untuk membuat orang bisa mengalami dan menjalani proses keselamatan atau proses menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula, itulah inti dari pelayanan. Inti dari pelayanan adalah bagaimana kita membantu,
    8 min
  • Tuhan Membiarkan
    Kalau orang tidak mengerti, maka mereka akan berpikir atau berpandangan bahwa Allah di Perjanjian Lama dan Allah di Perjanjian Baru adalah Allah yang berbeda. Memang pada abad mula-mula, ada ajaran “Marsion” yang mengajarkan bahwa Allah Perjanjian Lama tidak sama dengan Allah Perjanjian Baru. Allah Perjanjian Lama adalah Allah yang kejam, tidak berbelas kasihan seperti Allah Perjanjian Baru. Pandangan ini tentu salah; sesat. Allah Perjanjian Lama sama dengan Allah Perjanjian Baru, Elohim Yahweh. Kita percaya bahwa Elohim atau Allah Yahweh adalah satu-satunya Allah yang Esa. Dia adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang perbuatan-Nya, jejak-jejak-Nya ditulis di Perjanjian Lama. 
    Allah inilah, Yahweh, yang mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus menjadi manusia yang dalam segala hal disamakan dengan manusia. Jadi, Allah Perjanjian Lama adalah Elohim Yahweh dan Allah Perjanjian Baru adalah Elohim Yahweh juga yang mengutus Putra-Nya, Yesus. Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan sering Tuhan Yesus memanggil Elohim Yahweh sebagai Bapa. Dia mengajari kita memanggil Elohim Yahweh juga Bapa. Hal ini sebenarnya luar biasa. Anugerah yang besar ketika kita dapat memanggil Yang Mahaagung, Pencipta langit dan bumi, yang ada dari kekal sampai kekal sebagai Bapa, itu luar biasa.
    Kalau kita bisa menghayati ini, kita menjadi: yang pertama, sangat kuat. Hati kita teguh dan kuat menghadapi segala keadaan karena Allah yang kita sembah itu kuat, Mahakuasa. Dampak kedua kalau kita menghayati benar keberadaan Elohim Yahweh, kita menjadi takut akan Dia, takut yang kudus. Hal ini akan membuat kita menjadi orang-orang yang hidup tak bercacat tak bercela di hadapan-Nya, dengan rela karena menghormati dan mencintai Pencipta langit dan bumi, yang kepada-Nya kita berutang kehidupan dan kebaikan. Tetapi mengapa di Perjanjian Lama, Allah terkesan kejam? Bagaimana Allah memperlakukan orang-orang berdosa di Perjanjian Lama begitu tegas. Salah, dihukum dengan tegas. 
    Tetapi di Perjanjian Baru, Sosok ini seperti menghilang, seperti tidak muncul, lalu membiarkan orang-orang berdosa tidak dihukum. Di sini kita harus mengerti. Di Perjanjian Lama, Allah bertindak tegas dengan hukuman fisik kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran atau kesalahan. Tetapi di Perjanjian Baru—kadang-kadang memang Allah juga bisa memberikan hukuman fisik—tetapi Allah menyimpan murka-Nya untuk hari Tuhan. Hal ini mengerikan. Mestinya kita memahami bahwa Allah menyimpan murka-Nya untuk orang-orang berdosa yang akan ditentukan apakah masuk kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. 
    Dalam 2 Petrus 3 tertulis, “Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu, aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.” 
    Gambaran keadaan ini persis seperti yang terjadi di Sodom dan Gomora. Bahkan, manusia akhir zaman ini lebih jahat. Kejahatan manusia dimatangkan, disempurnakan. Allah seperti membiarkan kalau seseorang itu berlaku jahat terhadap orang lain. Orang-orang yang memiliki ketegaan, kesewenang-wenangan terhadap sesamanya.  Sejatinya, pasti Tuhan berbicara atau menegur. Tetapi, ketika berulang-ulang Tuhan menegur dan seseorang tidak mengindahkan teguran Tuhan, maka Tuhan membiarkan. Sampai kejahatan orang itu matang, dan nanti Tuhan akan bertindak untuk orang-orang seperti itu. 
    Kalau suatu hari, seandainya, Tuhan dihakimi, maka Tuhan tidak bisa didapati salah mengapa Allah bertindak demikian terhadap orang-orang itu. Karena Tuhan sudah menegur mereka berulang kali,
    10 min
  • Suci Hati
    Bagi orang yang tidak memercayai Allah, Ia seakan-akan mati, seakan-akan tidak ada. Orang yang demikian, tidak akan sanggup memercayai Allah. Bahkan sampai pada tingkat usia tertentu, tidak mampu lagi memercayai bahwa Allah itu ada. Tetapi bagi orang yang terus mengembangkan keyakinannya akan Allah bahwa Allah itu hidup, Allah itu hadir, Allah itu nyata, Allah itu ada, ia akan ada dalam atmosfer kehadiran Allah. Hal ini harus kita kembangkan dalam diri kita. Kalau kita mau mendengar suara Tuhan, tidak bisa tidak, hati kita harus bersih. Allah tidak bisa menyangkali hakikat dan kodrat-Nya, serta tatanan yang dibangun dan ditentukan oleh Ia sendiri. Terang tidak bisa bersekutu dengan gelap. Kalau Tuhan berkata: “kuduslah kamu sebab Aku kudus,” di balik pernyataan itu seakan-akan bermakna demikian: “kalau kamu tidak kudus, Aku tidak bisa bersekutu dengan kamu.” 
    Hal yang dapat memisahkan antara Allah dan umat-Nya adalah dosa. Sebenarnya telinga Tuhan tidak kurang tajam mendengar, dan tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menolong. Tetapi yang menjadi pemisah antara kita dengan Allah adalah segala dosa kita. Jadi, hidup kita harus bersih. Sehingga kita bisa menyadari bahwa kesucian adalah segalanya bagi orang percaya. Tidak ada sesuatu yang bisa menaklukkan atau mengalahkan orang yang suci hatinya. Lawanlah segala masalah yang kita miliki, segala ketidakadilan, segala fitnah, aniaya yang kita terima saat ini dengan kesucian. Dengan demikian, niscaya kita akan menang. 
    Ketika kita menghadapi orang-orang yang bermaksud untuk menghancurkan hidup kita, menghancurkan pelayanan kita, ada satu cara yang paling efektif untuk melawannya: kesucian. Diam, jangan kita banyak bicara, bahkan tidak berbicara sama sekali, tidak membela diri. Diam saja apa pun keadaannya; apakah kita sebenarnya benar atau tidak benar; salah atau tidak salah, diam saja. Lalu, kita berserah dan mengandalkan Tuhan. Lawan semua itu dengan kesucian. Masalah hidup kita itu sebenarnya bisa diselesaikan dengan kesucian. Di dalam kesucian maka seseorang bisa mendengar suara Tuhan. 
    Tuhan tidak akan berbicara kepada orang yang hatinya kotor dan najis. Tuhan tidak bisa bersekutu dengan orang-orang seperti itu, sebab Ia memiliki tatanan. Tuhan dalam integritas-Nya yang sempurna, pasti Ia memenuhi tatanan tersebut. Sehingga tidak bisa tidak, kita harus hidup di dalam tatanan Tuhan, yaitu kesucian. “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena ia akan melihat Allah,” begitu dikatakan di dalam firman Tuhan. Maksud “suci hati” di situ adalah kehidupan yang bersih di hadapan Allah, sehingga kesucian hidup itu membuat seseorang mampu melihat Allah. Dalam bahasa aslinya, “melihat” di situ adalah opsontai (ὄψονται); melihat dengan mata hati, bukan dengan mata jasmani. Orang yang suci hatinya akan peka mendengar suara Tuhan. 
    Hati yang kotor, tidak bisa menangkap suara Tuhan, tidak bisa menangkap kehadiran Tuhan. Jadi kalau kita mau mendengar suara Tuhan, maka percayai bahwa Allah Mahahadir, dan seluruh jiwa kita dicengkeram oleh kehadiran-Nya. Berikutnya, jagalah kesucian hati kita. Jangan sampai ada dosa, jangan juga ada kesalahan. Terutama bagi para pelayan Tuhan, hal kesucian ini menjadi sangat mutlak, sebab terutama para hamba Tuhan yang berdiri di mimbar, akan menyampaikan firman Tuhan. Jemaat berdoa dan berharap bahwa apa yang disampaikan oleh pembicara tersebut benar-benar dari Tuhan. 
    Jika hamba Tuhan tersebut tidak bersih hidupnya dan dia hanya menyampaikan pengetahuan tentang Tuhan yang diperoleh melalui bangku Sekolah Tinggi Teologi, pendidikan formal, membaca buku, atau kata orang, dan dia tidak mendengar sendiri suara Tuhan, betapa berbahayanya pembicara seperti ini. Diyakini sebagai wakil Tuhan untuk menjadi jurubicara Tuhan, namun ia sebenarnya berbicara dari dirinya sendiri karena tidak mendengar suara Tuhan. Selain meyakini, menghayati kehadiran Allah, suci hati, serta bersih hati, inilah yang harus diajarkan kepada semua mahasiswa S...
    10 min
  • Cara Allah Mendewasakan
    Tuhan memberkati kita lewat keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan. Keadaan tersebut sebenarnya merupakan berkat bagi kita. Jadi sejatinya, kita harus berkata, “Aku tidak mengerti, Tuhan, tetapi aku percaya.” Maka kita harus memiliki cara pandang yang berbeda dengan anak dunia. Perspektif kita harus berbeda dengan anak dunia. Ingat, Tuhan tidak pernah memberi yang tidak terbaik, berarti Tuhan selalu memberi yang terbaik. Jadi keadaan yang kita alami, yang menurut kita tidak baik, ternyata baik. Kita harus melihat kehidupan ini dari sudut pandang kekekalan. Kalau kita tidak memandangnya dari sudut pandang kekekalan, maka kita tidak akan pernah bisa berjalan dengan Tuhan. 
    Tuhan itu core business-Nya, urusan utama-Nya, mau menyelamatkan hidup kekal kita. Maka jangan terpaku pada masalah fana yang di depan mata. Tuhan mau menolong kita dari persoalan sakit-penyakit, ekonomi, persoalan rumah tangga, dan masalah-masalah lainnya, namun apalah artinya mendapat jalan keluar dari masalah-masalah fana, tetapi terhilang di kekekalan? Maka, cara pandang kita harus cara pandang kekekalan, segala sesuatu harus dikaitkan dengan kekekalan. Sebab, kita ini makhluk kekal yang memiliki keberadaan kekal. Tubuh kita bisa binasa atau mati, tetapi jiwa dan roh kita itu kekal, yang akan mendapatkan tubuh baru di kekekalan. 
    Cara pandang yang benar adalah hidup yang sesungguhnya itu di kekekalan. Sekarang ini hanya persiapan untuk kekekalan. Kalau berpikir dengan cara yang benar, masalah apa pun yang kita hadapi harus dikaitkan dengan proses pembentukan Tuhan, yaitu pendewasaan. Kita menjadi lebih kokoh dan lebih kuat menghadapi setiap keadaan dan kejadian yang terjadi. Inilah rahasianya. Kita harus memiliki sudut pandang yang benar. Dari apa yang kita dengar dan lihat, ada suara Tuhan, nasihat Tuhan, mentoring Tuhan. Apalagi dari kejadian-kejadian yang dialami, pembentukan Allah dalam hidup kita sungguh nyata. 
    Kalau dari aspek kesenangan hidup, kita bisa lupa diri ketika menerima banyak berkat jasmani; naik pangkat, gaji yang lebih besar, sukses dalam karier atau bisnis.  Hal-hal tersebut dapat dengan mudah membuat kita lupa, sehingga kita tenggelam di dalam kesenangan-kesenangan. Padahal, kejadian itu bisa mengandung dan pasti memiliki pelajaran rohani. Jadi, kalau penderitaan bisa menjadi sarana Allah mengubah kehidupan rohani, hal yang bukan penderitaan juga semestinya bisa menjadi cara Allah mengubah kita. Ironisnya, justru keadaan yang baik sering membuat orang Kristen terlena. 
    Jika kita tidak punya masalah, semua serba baik, running well, kita cenderung lupa diri. Maka, tidak heran Tuhan bisa mengizinkan peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan untuk kita alami. Ingat, ketika kita dihujani dengan berkat jasmani—tidak ada masalah fisik, sehat, semua serba lancar—kita tetap mencari Tuhan, bahkan lebih giat dalam mencari Tuhan. Jika ini kita praktikkan, maka Tuhan akan memercayakan kepada kita pekerjaan-pekerjaan-Nya dan kebenaran-kebenaran-Nya. 
    Harus dipahami, bahwa pencobaan itu bukan pada waktu kita dihina saja. Waktu kita dipuji-puji, itu juga merupakan pencobaan yang besar, bahkan bisa lebih besar. Pencobaan itu bukan hanya pada waktu kita dikhianati, tetapi pada waktu kita tidak dikhianati orang, keadaan kita serba baik, itu pun keadaan yang membahayakan. Itu pun pencobaan yang tidak kalah bahayanya. Bukan hanya pada waktu miskin, kita diproses menjadi dewasa. Kekayaan yang berlimpah pun bisa menjadi pencobaan yang lebih berat. Jadi, segala hal bisa menjadi cara Allah memproses kita untuk menjadi dewasa. 
    Ketika dalam keadaan yang menurut kita negatif, misalnya masalah rumah tangga, ekonomi berantakan, dikhianati, dihina orang, dan lain-lain, itu memang cara Allah mendewasakan kita. Tetapi saat kita dipuji, disanjung, banyak uang, naik pangkat, itu pun cara Allah mendewasakan dan harus kita temukan juga pelajaran rohani di balik semua itu. Jadi kita jangan sampai terhanyut,
    8 min
  • Mengalami Konversi
    Damai sejahtera Allah tidak bisa dilepaskan dari karakter. Kalau karakter orang buruk, hatinya busuk, tidak mungkin bisa menikmati damai sejahtera Tuhan. Kita sudah menikmati damai sejahtera Allah, belum? Ayo, kita sama-sama menembus batas. Memang tidak mudah, tapi Roh Kudus akan menuntun kita yang benar-benar serius, yang benar-benar tekun dan mau belajar. “Datang kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku beri kamu perhentian.” “Kelegaan” di situ dalam teks aslinya adalah “perhentian.” 
    “Pikul kuk yang Kupasang, belajar pada-Ku, maka kamu akan beroleh perhentian. Jiwamu mendapat ketenangan,” itu teks aslinya sama: perhentian. Sama dengan kata “sabat; sabaton, anapauso;” perhentian. “Letih lesu dan berbeban berat” itu bukan letih lesu karena sakit yang tidak kunjung sembuh; lajang belum menikah; sudah menikah tapi tidak punya anak. “Letih lesu” di situ bukan berarti banyak utang, belum punya rumah, belum cukup fasilitas. “Letih lesu” di sini tidak terkait langsung mengenai pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan orang yang tidak berhenti memiliki keinginan, hasrat, dan cita-cita, akan dilelahkan oleh hal itu. 
    Tuhan berkata: “belajar pada-Ku.” Tentu Tuhan tidak berbicara mengenai harta bendani. “Belajar pada-Ku,” belajar apanya dari Tuhan? Lihat, Tuhan Yesus yang mengatakan: “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Dengar Tuhan Yesus yang berkata: “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” “Belajar pada-Ku; jangan memiliki hasrat, niat, keinginan yang bertentangan dengan apa yang Allah kehendaki.” Ini terkait dengan mematikan hasrat, keinginan, minat, cita-cita dari diri sendiri. 
    Kalau kita melihat sejarah bangsa Israel keluar dari Mesir ke Kanaan, siapa yang mati? 1 Korintus pasal 10 mengatakan, “mereka di antaranya yang bersungut-sungut.” Mereka mengatakan, “lebih enak dulu, di Mesir. Kita duduk di belanga, ada makanan,” mereka menoleh ke belakang, sampai-sampai Musa dimarahi oleh mereka. Menjadi umat pilihan itu harus rela meninggalkan dunia. Sekalipun kita tidak menjadi orang terhormat di mata manusia, tidak menjadi orang kaya, itu tidak masalah bagi kita. Kalaupun kita punya fasilitas, terhormat, berkedudukan, bergelar tinggi, semua itu bukan sesuatu yang membahagiakan. 
    Kalau kita bisa menikmati kehadiran Tuhan, kita bisa berkata: “Yesus cukup bagiku.” Jadi, sudah jelas kata firman Tuhan bahwa: ”ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka.” Jadi, ada yang masuk tempat perhentian, ada yang tidak masuk tempat perhentian. “Sebab itu pula, Tuhan menetapkan pula suatu hari, yaitu hari ini, ketika Tuhan setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud, seperti dikatakan di atas: pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.” 
    Setiap hari Tuhan menuntun kita, karena proses perubahan dari manusia duniawi menjadi manusia rohani itu tidak mudah. Konversinya ini tidak mudah; menuntut atau membutuhkan waktu. Maka jika Tuhan bicara hari ini, jangan keraskan hati kita. Setiap hari ada Firman, setiap hari ada tuntunan Tuhan. Tidak ada satu hari dimana tidak ada tuntunan Tuhan. Tidak ada satu haripun dimana tidak ada lawatan Tuhan yang mengubah kita. Tidak ada satupun kejadian di dalam hidup kita yang tidak ada faedahnya, yang tidak ada kegunaannya atau tidak ada berkatnya. 
    Bagaimana kita bisa tahu ada faedah, ada kegunaan, ada berkat di situ? Kalau kita melihat segala sesuatu dengan kacamata kekekalan. Karena, ini adalah proyek utama Tuhan yang mau mengantar umat-Nya dari Mesir ke Kanaan. Itu bagi orang Israel. Sedangkan untuk kita, orang percaya, dari Mesir “dunia” ke langit baru bumi baru; Kanaan surgawi. Pasti proyeksinya dan fokusnya pada hal itu. Jadi, tidak ada satupun kejadian dalam hidup kita, yang tidak ada faedah,
    11 min
  • Tidak Otomatis
    Hidup kita akan berubah, jika arah hidup kita dalam arah hidup yang benar. Dan arah hidup kita haruslah satu: Tuhan. Masalahnya, bagaimana kita bisa menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya arah tujuan hidup kita? Yaitu kalau kita benar-benar berniat, berhasrat, berkerinduan untuk menjadi seorang yang kudus dalam standar-Nya. Tidak bercacat, tidak bercela di dalam pemandangan mata-Nya. Sejatinya, ini yang harus benar-benar kita perjuangkan. Kita harus berani berkata—dan memang mestinya demikian—”Apa pun yang terjadi di dalam hidupku, yang penting aku menjadi seorang saleh di mata Allah; menjadi seorang yang kudus menurut ukuran Tuhan. Menjadi manusia yang tidak bercacat, tidak bercela menurut pemandangan-Nya.” 
    Sejujurnya, banyak hal yang sebenarnya sulit kita capai dalam hidup ini. Tetapi karena kita berkerinduan kuat, kita berusaha, maka bisa berhasil. Misalnya dalam bidang studi dimana seorang pemuda yang orangtuanya tidak mampu, berkeinginan kuat untuk kuliah. Maka, apa pun dia kerjakan, sehingga akhirnya bisa berhasil menjadi seorang sarjana. Ada pengusaha yang tidak memiliki modal, tapi ingin memiliki kegiatan bisnis. Apa pun dia lakukan; jual tanah warisan, pinjam uang di bank, berbagai hal dilakukannya. Tidak jarang ada yang berhasil menjadi pebisnis sukses meskipun latar belakangnya demikian. Jadi, ini tergantung masing-masing individu mengusahakan atau mengupayakannya. 
    Masalahnya, banyak orang tidak percaya atau kurang percaya bahwa Allah itu benar-benar hidup, benar-benar ada, bahwa ada kehidupan di balik kehidupan di bumi ini. Kalau dikatakan tidak percaya, biasanya mereka menyangkal dan mengatakan  percaya-percaya saja. Tetapi, percayanya belum cukup mendongkrak hati dan gairah hidupnya untuk benar-benar mengarahkan diri kepada Tuhan. Atau kalaupun percaya bahwa Allah itu ada, mereka tidak mengerti kebenaran. Bersyukur kita mengenal Allah yang benar dan kita percaya Allah itu ada. Kita bukan tidak peduli Tuhan—peduli juga—tetapi seberapa interest atau ketertarikan kita untuk hal ini? 
    Mestinya Tuhan menjadi satu-satunya tujuan hidup. Seandainya Adam dan Hawa tidak jatuh dalam dosa, otomatis semua keturunannya akan memusatkan hidupnya pada Allah. Manusia bisa menikmati ciptaan Allah dengan sempurna, artinya bisa menikmati apa yang Allah ciptakan untuk manusia secara maksimal. Karena selain manusia memiliki persekutuan dengan Allah, karakternya juga tidak rusak, sehingga manusia bisa saling ber-fellowship dan mengasihi. Manusia akan tergiring untuk menjadikan Tuhan segalanya. Tetapi berhubung manusia telah jatuh dalam dosa dan kuasa kegelapan terus bermanuver; berusaha menyeret sebanyak mungkin orang masuk dalam persekutuan dengan kuasa gelap tersebut, maka tidak bisa tidak, kita harus mengarahkan diri kita hanya pada Tuhan, dan ini tidak terjadi secara otomatis.
    Apakah kita diberi 5, 10, 20, atau 100 dalam hal berkat jasmani, itu hal yang tidak penting. Apakah kita difasilitasi Tuhan dengan berkat-berkat materi atau tidak, itu juga tidak penting. Tujuan kita hanyalah Tuhan. Karena, bumi yang terlaknat dan terkutuk ini tidak mungkin kita bisa nikmati secara ideal. Selain persekutuan kita dengan Tuhan belum ideal, karakter kita juga belum sempurna, begitu pula dengan hubungan antarsesama yang pada umumnya rusak. Jadi, kita sejatinya hanya menantikan langit baru bumi baru. Maka, prinsip hidup kita hanya satu, seperti yang dikatakan oleh Paulus: “asal ada makanan dan pakaian, cukup” (1Tim. 6:8). 
    Di ayat sebelumnya dikatakan, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup memberi keuntungan besar.” Kita harus merasa “cukup.” Jadi, tidak ada target. Yang penting, hidup bisa dijalani. “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia. Dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.” Jadi. Tidak ada yang kita bawa waktu kita lahir, dan waktu kita meninggal pun, tidak akan membawa apa-apa dari bumi ini. Asal ada makanan, pakaian, cukup. Ayat-ayat ini mengisyaratkan kebenaran yang diu...
    8 min
  • Perkara yang di Atas
    Pikiran banyak orang telah disesatkan oleh kuasa kegelapan. Kekristenan juga telah terseret dalam kemelesetan atau penyimpangan, sehingga lahirlah perasaan damai yang palsu. Mestinya kita tidak merasa damai kalau merasa bahwa kita belum sungguh-sungguh layak masuk Rumah Bapa. Banyak orang tidak menghormati Tuhan secara penuh karena tidak memberi nilai yang sepatutnya untuk perkara rohani, untuk hal-hal kekekalan. Perasaan takutnya akan Allah tentu tidak utuh juga. Kalau perasaan takut akan Allah tidak utuh, maka dia juga tidak akan bisa menghormati Allah secara utuh; artinya dia tidak bisa mengasihi Allah secara utuh. Kita yang menyadari akan hal ini, pasti akan bergumul hebat. 
    Sebab secara teori atau pengertian nalar kita sudah tahu, tetapi di seluruh kejiwaan kita, kita belum tenggelam, belum hanyut, belum dibenamkan ke dalam suasana takut akan Allah tersebut; belum dalam suasana menghormati Allah secara patut. Dengan kondisi ini, pasti kita belum atau tidak mencintai Allah secara patut. Untuk mendukung supaya ada suasana kondusif untuk menghayati kedahsyatan, kebesaran, kemuliaan Allah, kita bisa membayangkan jagat raya yang tidak terbatas. Tidak usah jauh-jauh, kita juga bisa melihat indahnya Danau Toba yang dikelilingi pegunungan. Kita bisa melihat langit, kalau di luar kota, yang bertebaran bintang-bintang. Apalagi kalau kita bisa mengimajinasi apa yang dikemukakan dalam Kitab Wahyu tentang surga yang begitu mendahsyatkan jiwa kita. 
    Di situ kita bisa lebih menghormati Allah. Hal ini bisa kita gunakan sebagai bantuan. Nanti kita akan menghadap Allah yang Mahadahsyat. Kita baru sadar bahwa kita sudah tidak memperlakukan Dia secara santun, secara sopan, secara pantas selama hidup ini, karena kita tidak bersikap benar terhadap perkara-perkara rohani, tidak bersikap benar terhadap hal-hal kekekalan. Kita semua masih bergumul untuk melepaskan diri dari atmosfer berpikir kita yang masih earthly, worldly; duniawi. Kita belum berpikir perkara-perkara yang di atas, karena kita merasa bahwa kita sudah menjadi Kristen yang benar. 
    Kalau di dalam salah satu terjemahan bahasa Inggris di Kolose 3 dikatakan, “Biarlah kau jagai pikiranmu terus untuk perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi; keep your mind fix on things there, not on things here on earth. For you have died and the life is hidden with Christ in God.” Jadi, harus terus ditaruh di sana. Jarang sekali orang yang sudah sampai tingkat itu. Kita masih sedang belajar, dan kita harus jujur kepada diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita masih belum bersikap benar terhadap perkara-perkara rohani. Di tengah-tengah masyarakat, hendaknya hidup kita memancarkan atmosfer surgawi. Kita tidak perlu terganggu oleh tuduhan dan penilaian orang terhadap kita, dalam arti komunitas atau sebagai individu. 
    Karena ini pekerjaan Tuhan, urusannya dengan Tuhan. Tugas kita semua adalah memancarkan gairah surgawi. Lagu-lagu yang kita sering nyanyikan, hendaknya bisa memotivasi dan mengarahkan kita kepada perkara-perkara surgawi. Jadi, mari kita fokus mengarahkan hati kita pada perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Kita harus melakukannya mulai dari sekarang. Jangan sampai kita tidak melakukannya. Jangan seperti orang yang ikut kursus memasak atau misalnya membuat kue, tetapi selepas dari itu, ia tidak pernah membuat kue. Mungkin sampai mati, ia tidak pernah tahu bagaimana pengalaman membuat kue. 
    Jangan sampai kita tidak mempraktikkan apa yang kita pelajari. Kita harus mengamalkannya, mewujudkannya di dalam hidup ini. “Set your mind on things above, not on earthly things;” bukan pada perkara-perkara dunia. Nanti kita akan mengalami pertumbuhan bagaimana takut akan Allah lebih lagi, menghormati akan Allah lebih lagi. Kita akan merasakan mencintai Tuhan lebih lagi. Kita mulai akan menghayati bahwa dunia bukan rumah kita. Hal itu indah sekali, benar-benar indah. 
    Kita tidak akan menyesal walaupun tidak punya rumah pribadi,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…