Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Yang Terpenting
    Suatu hari nanti banyak orang sangat menyesal. Penyesalan yang tidak bisa digambarkan atau dilukiskan dengan kata-kata. Alkitab mencoba melukiskan penyesalan itu dengan ratap, tangis dan kertak gigi. Penyesalan yang juga bisa merupakan kemarahan. Sulit untuk marah kepada Tuhan. Tetapi kemungkinan marah kepada diri sendiri. Mengapa? Ketika manusia melihat realitas kekekalan yang dahsyat, maka 70-80 tahun umur hidup manusia itu lebih kecil dari setitik air di lautan. Lebih kecil dari 1 butir debu atau 1 butir pasir di laut. Kekekalan itu dahsyat sekali. Itulah sebabnya, Tuhan berfirman di Injil Matius 16, “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” 
    “Segenap” bukan hanya menjadi konglomerat. Bukan hanya memiliki kekayaan suatu kota atau suatu negeri. Seluruh kekayaan dunia tidak ada artinya dibanding dengan kemuliaan hidup di dalam Kerajaan Surga; di langit baru bumi baru. Banyak orang yang mata hatinya tertutup atau buta terhadap realitas kekekalan. Bahkan tidak jarang pendeta yang mendengar kalimat “langit baru bumi baru” menertawakannya. Tetapi tidak perlu pusing dan tidak perlu peduli dengan respons orang terhadap kita. Kita harus terus memancangkan perhatian kita pada realitas kekekalan.
    Jangan sampai kita menjadi salah satu orang yang terbuang dan menghadapi keadaan tragis, terpisah dari hadirat Allah selamanya dalam ratapan, tangisan, dan kertak gigi. Oleh sebab itu, kita harus terus mengingat dan memerintahkan seluruh saraf kita. Sampai jiwa kita dicengkeram oleh kebenaran, bahwa hidup di bumi ini bukan satu-satunya kesempatan hidup. Jangan berpikir setelah kematian, tidak ada kehidupan. Justru kehidupan yang sesungguhnya, yang dirancang oleh Allah setelah manusia jatuh dalam dosa adalah kehidupan di balik kubur. 
    Karena Allah adalah Allah yang kekal, Allah tidak merancang kematian. Allah yang kekal merancang manusia untuk terus-menerus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Memang, kita tidak bisa menghindari kematian fisik. Kehidupan di balik kubur itulah kehidupan yang dirancang Allah dimana tidak ada kematian. Tentu tidak ada sakit-penyakit, bencana, krisis, kemiskinan, dan berbagai penderitaan, seperti yang dialami di bumi.
    Mestinya, hidup kita sekarang hanya untuk persiapan bagi kehidupan yang akan datang. Kita harus sungguh-sungguh memberikan kesempatan untuk membangun dan mempersiapkan diri untuk masuk dunia yang akan datang. Orang-orang seperti ini barulah bisa mewujudkan yang Alkitab katakan, “Baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.”
    Setiap kali Tuhan memberikan kita kesempatan untuk berurusan dengan Tuhan, gunakanlah kesempatan itu. Jangan seperti orang-orang yang berpikir, bahwa seakan-akan kesempatan hidup hanya sekarang ini di bumi. Akhinya, Saudara akan berfilosofi atau berprinsip seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 15:32, “… marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Pada umumnya orang tidak mengatakan begitu, tetapi dari gaya hidup dan cara berpikirnya, jelas menunjukkan filosofi hidup tersebut.
    Harus ada bagian yang cukup untuk bergaul dengan Allah; lewat doa, mendengarkan khotbah. Kalau kita berkata “sibuk” sehingga tidak menyediakan waktu untuk Tuhan, kita akan terus terbawa dalam irama hidup yang tidak haus akan Allah. Sampai suatu saat, kita tidak bisa haus lagi akan Tuhan, karena cita rasa jiwa kita hanya nikmat dengan berbagai kesibukan, kerja dan hobi. Jadi, jangan menunda. Setiap hari kita harus memiliki proyeksi; bagaimana menggunakan dan menghargai kesempatan. 
    Pertemuan dengan orang-orang yang membuat kita tidak kudus, itu tidak perlu. Kegiatan-kegiatan hidup yang membuat kita tidak bertumbuh, harus ditinggalkan. Kita tidak tahu kapan meninggal dunia, kapan kesempatan kita berakhir, dan Tuhan tidak memberitahu. Kalau Tuhan memberitahu, maka pertobatan kita tidak natural, tidak tulus. Pertobatan seperti ini adalah pertobatan yang tidak menyenangk...
    9 min
  • Yang Bernilai
    Tuhan Yesus menuntun setiap individu, bagaimana mereka bisa memiliki karakter-Nya; karakter Tuhan Yesus, yang dikenakan dalam personality masing-masing pribadi. Sebenarnya kita tidak punya waktu banyak. Orang yang mengarahkan fokusnya saja, belum tentu bisa mencapainya dengan mudah. Apalagi kalau kita mengisi waktu untuk hal sia-sia, tentu saja kita tidak akan bisa mencapainya. Perjumpaan dengan Tuhan itu mutlak. Bagi yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan melalui seminar, khotbah, atau pendidikan formal perguruan tinggi keagamaan Kristen seperti STT, seminari, jangan merasa kita sudah mengenal Dia karena memiliki pengetahuan tentang Dia. Kita harus mengalami Tuhan, berjumpa dengan Tuhan. Kita harus mencari wajah-Nya setiap hari. 
    Kalau kita tidak memiliki perjumpaan dengan Tuhan secara memadai, maka kita gagal menemukan potret Anak Allah yang mestinya kita kenakan; karakter anak Allah yang kita kenakan dalam personality masing-masing kita yang khas; “Mengenal Dia, dan kuasa kebangkitan-Nya.” Jika kita sudah mengenal Dia dan mengalami Tuhan yang hidup, maka kita baru masuk dalam persekutuan dalam penderitaan-Nya. Orang Kristen yang benar tidak mungkin tidak menderita untuk Tuhan. Maka, jangan melihat standar hidup manusia pada umumnya. Sebab kita tidak akan pernah mengenal Tuhan dengan benar. 
    Standar hidup manusia pada umumnya itu salah. Kehidupan Yesus, yang pastinya memikul salib; kita mungkin belum sampai tingkat punya salib. Kalau fokusnya hanya bagaimana hidup nyaman, tidak memiliki persoalan, punya keturunan, punya pasangan yang baik, membangun rumah tangga, punya berbagai fasilitas dan menikmatinya, kita sesat. Itu gaya hidup atau cara hidup manusia pada umumnya. Sedangkan anak-anak Allah itu, selain memiliki karakter Kristus dalam personality masing-masing yang khas, pasti memiliki tempat di mana kita harus memikul salib. 
    “Persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Inilah cara memandang hidup yang benar itu: kehidupan Yesus. Paulus berusaha untuk memiliki cara hidup tersebut. Untuk itu, ini adalah perjuangan yang berat karena harus menanggalkan apa yang kita pandang sebagai sesuatu yang bernilai. Kalau kita memandang yang bernilai itu kedudukan, pangkat, uang, harta; maka kita tidak bisa ikut Tuhan Yesus. Ini cara pandang yang salah. Memang, tidak keliru memiliki gelar, pangkat, kedudukan, uang, harta; tetapi harus kita ingat bahwa kita telah ditebus oleh Tuhan Yesus, dan kita bukan milik kita sendiri. Apa pun yang kita lakukan harus untuk kemuliaan Tuhan. 
    Yang bernilai itu adalah mengenal Dia. Untuk mengenal Dia, “Segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Yesuslah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Artinya kalau kita memperoleh Kristus, berarti memiliki spirit, gairah, cara hidup, cara berpikir, gaya hidup yang dimiliki juga oleh Yesus. Yesus; proper name, nama diri Anak Allah. “Kristus” artinya “yang diurapi.” Maka, “Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus.” 
    Betapa kita harus berjuang melepaskan diri dari lilitan, belenggu yang sudah membelenggu kita selama bukan saja belasan tahun, bisa puluhan tahun. Bagi kita yang sudah di atas 30, 40 tahun, banyak yang cara pandangnya sudah salah, sudah keliru. Cara dan gaya hidup Tuhan Yesus adalah cara dan gaya hidup Anak Allah yang bukan berasal dari dunia. Dalam Yohanes 17:16, beberapa kali diulang, “Aku bukan dari dunia. Kamu bukan dari dunia.” Di Filipi 3:20 dikatakan oleh Paulus, “Kewargaan kita adalah di dalam surga, dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” 
    Kalau orang masih memandang harta, kekayaan itu bernilai, pasti dia tidak bisa menghayati bahwa dia bukan berasal dari dunia ini. Cara pandang hidupnya salah, rusak, kacau. Mestinya tidak berlebihan kalau kita mendengar atau menangkap yang dikatakan Tuhan Yesus,
    9 min
  • Mengubah Rutinitas
    Harus selalu kita ingat, bahwa kitalah yang menentukan nasib kita sendiri. Kitalah yang menentukan diri kita sendiri, apakah kita dapat menjadi dewasa sesuai dengan usia rohani kita, atau tidak. Kita yang menentukan apakah kita mau menjadi orang saleh atau orang suci sesuai dengan standar Allah, atau tidak. Apakah kita mau hidup tidak bercacat, tidak bercela atau tidak; kita yang harus menentukannya. Allah menyediakan sarana untuk pertumbuhan dan pendewasaan. Tetapi apa yang Allah sediakan dapat menjadi sia-sia jika kita tidak memiliki respons, reaksi, dan langkah yang benar dan tepat. Inilah yang harus kita hayati dengan benar. 
    Ibrani 12:16, “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Inti dari pembacaan ayat ini adalah Esau yang kehilangan kesempatan. Setan itu licik. Ia menggunakan irama hidup kita yang salah untuk menghambat pertumbuhan rohani kita agar kita tidak mencapai puncak, agar rohani kita tidak bertumbuh normal. 
    Kalau kita membaca firman Tuhan di Roma 8:28-29, “Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.” Kata “segala sesuatu,” itu menunjukkan bahwa tidak ada momentum yang sia-sia. Momentum yang Tuhan berikan kepada kita, pasti momentum yang bisa berguna atau berfaedah bagi pertumbuhan iman kita. Tetapi Iblis menggunakan irama hidup kita yang salah agar kita terhambat bertumbuh; tidak bertumbuh secara normal. Kadang-kadang juga mengacau dengan pemikiran yang sesat, seakan-akan pertumbuhan mental itu sama dengan pertumbuhan rohani. Rohani yang bertumbuh, pasti mental bertumbuh. Tetapi mental yang bertumbuh, belum tentu rohani bertumbuh. Sebab, pertumbuhan mental di mana orang menjadi makin dewasa, makin bijak, makin arif secara umum, itu juga bisa dimiliki oleh semua orang seiring bertambahnya usia.
    Tetapi menjadi makin rohani, artinya makin sepikiran dan seperasaan dengan Allah. Ini bicara mengenai kecerdasan untuk mengerti kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Ini bisa bersifat transenden; melampaui akal. Tetapi kalau hanya arif dan bijaksana, ini hanya imanen. Melalui fakta-fakta empiris yang pada umumnya manusia alami, itu bisa membuat manusia menjadi dewasa mental. Tetapi Allah bekerja dalam segala sesuatu. Transenden, artinya melampaui akal. Allah akan berkarya di situ, supaya anak-anak Allah yang terpilih ini menjadi dewasa, sempurna seperti Bapa. Maka, kita harus memperhatikan setiap momentum yang Tuhan izinkan kita alami dan lewati, yang di dalamnya pasti ada manfaat bagi pertumbuhan rohani kita. 
    Untuk bisa sepikiran dan seperasaan dengan Allah, tentu sangat mahal harganya. Kalau Allah, Pencipta langit dan bumi, memilih kita menjadi umat pilihan, menjadi anak-anak-Nya, seperti yang dikatakan di Ibrani 12: “Bapak di dunia ini tahu mendidik anak-anaknya dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang dipandang baik oleh Bapak atau orang tua di dunia. Demikian juga, Bapa di surga menghajar orang-orang yang dikasihi-Nya supaya hidup (Yun. Zoe) dan mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.” Ini perlu tindakan Allah; transenden. Transenden itu artinya melampaui akal. Tetapi kalau yang tidak melampaui akal, namanya imanen. Memang fakta-fakta empiris, pengalaman-pengalaman hidup yang dialami manusia bisa menjadi pelajaran, sehingga manusia bisa menjadi bijak, arif, dan mencapai kedewasaan mental. 
    Tetapi anak-anak Allah akan mengalami dan menerima penggarapan Allah, kalau ia memanfaatkan momentum; ia harus mengerti momentum yang diberikan kepadanya dan memanfaatkannya dengan tepat. Irama hidup yang salah yang sudah kita warisi sejak dulu dan juga berbagai pengaruh hidup dari manusia di sekitar kita,
    9 min
  • Pilihan yang Tidak Normal
    Kita harus menjaga hadirat Tuhan di mana pun kita berada dan di sepanjang waktu hidup kita dengan setiap kata, perbuatan, renungan hati, dan pikiran kita. Kita sering mendengar orang berkata, “Hidup ini adalah pilihan,” dan itu benar. Bahkan, kita sendiri ikut mengucapkannya. Tetapi masalahnya, apa yang kita pilih? Kalau hanya soal memilih jodoh, pendidikan, pekerjaan, itu belumlah pemilihan yang berisiko tinggi, walaupun tentu cukup berisiko. Tetapi, bagi mereka yang memiliki martabat tinggi—martabat anak-anak Allah—pilihannya hanyalah satu, menjadi anak-anak Allah yang berstandar Allah atau bukan. 
    Kalau kita memperhatikan tokoh-tokoh iman di dalam Alkitab yang disebut sebagai sahabat-sahabat Yahweh, yang juga menjadi kekasih-kekasih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang ‘tidak normal.’ Apakah Abraham hidupnya normal? Dia sudah ada di satu wilayah, yang pada zamannya merupakan kota metropolis dan maju di lembah Sumeria. Tetapi ia meninggalkan kampung halaman, negeri, dan sanak familinya demi menuruti keinginan Elohim Yahweh yang tidak dikenal oleh banyak orang. Ia pergi ke negeri yang Yahweh akan tunjukkan. Bahkan, sampai mati Abraham tidak melihat negeri tersebut. Ternyata negeri itu seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:9-14; Kanaan surgaw; langit baru bumi baru. Abraham pun menapaki hari, minggu, bulan, tahun-tahun hidupnya selama seperempat abad, seakan-akan sia-sia dalam penantian akan penggenapan janji anak yang akan meneruskan garis keturunannya. 
    Apakah normal bagi Musa yang sudah menjadi anak bangsawan, bisa dikatakan calon pewaris dari takhta Firaun, meninggalkan kegemerlapan istana, kenyamanan, keagungan, kemuliaan istana, lalu memilih untuk menjadi seorang pelarian? Apakah normal bagi Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, yang bisa hidup sebagai anak-anak bangsawan, diistimewakan dari orang-orang buangan lain, bisa melayani raja, tetapi mereka memilih untuk tetap dalam integritasnya, tidak menajiskan diri dengan makanan yang dihidangkan untuk mereka, demi kesucian hidup, sebagai anak-anak Israel yang menyembah Elohim Yahweh. 
    Apakah normal sementara orang bisa nyaman dan menikmati kehidupan, jika menyembah patung yang dibangun Nebukadnezar di lembah Dura, tetapi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih untuk tidak menyembah walaupun mereka diancam dengan hukuman dibakar di dapur perapian yang dinyalakan tujuh kali lipat panasnya? Apakah normal bagi Daniel yang mestinya sudah menikmati kedudukan sebagai salah satu hulubalang, pejabat kerajaan, namun ketika dilarang untuk berdoa, Daniel tetap sembahyang dan berkiblat ke Yerusalem? Dia juga harus mempertaruhkan nyawa dan kenyamanan hidupnya.
    Yang terlebih lagi adalah Tuhan Yesus, yang harus meninggalkan kemuliaan-Nya, menjadi manusia yang dalam segala hal disamakan dengan kita, apakah normal? Demikian juga Paulus yang mencontoh kehidupan Yesus. Paulus masih bisa menjadi seorang yang terhormat di tengah-tengah anggota Sanhedrin, tetapi perjumpaan dengan Yesus membuat ia rela meninggalkan semuanya. Dalam kesaksiannya di Filipi 3:7-9 ia berkata, “Segala sesuatu yang dulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalanku akan Kristus Yesus lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah, aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”
    Semua yang kita baca itu tidak wajar dan tidak normal. Kita bisa pergi berlibur, tetapi kita memilih duduk di gereja, ini juga agak tidak normal. Doa bisa di rumah, ada streaming online, tetapi kita memilih hadir, itu pun tidak normal. Banyak alasan bisa kita utarakan; tetapi hanya menunggu waktu, seseorang yang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan, makin hari pasti makin lumpuh. Sebagai seorang hamba Tuhan, dia bisa berkhotbah, tetapi pasti lumpuh; rohnya lemah dan tunggu waktu, jemaat akan meninggalkan karena tidak merasa ada urapan dan hadirat Tuhan.
    8 min
  • Kemuliaan di atas Segala Kemuliaan
    Ada sebuah hukum atau tatanan yang tidak bisa diubah, dikurangi atau direduksi, yaitu kalau kita mau memiliki Tuhan seutuhnya, maka kita tidak boleh memiliki apa pun dan siapapun. Bukan berarti lalu kita tidak memiliki rumah, mobil, atau fasilitas lainnya, tapi kita tidak memperhitungkannya sebagai harta. Di dalam Filipi 3:7-9, Rasul Paulus mengatakan: “Aku melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Memperoleh Kristus bukan hanya memiliki Yesus, melainkan juga memiliki spirit dan gairah-Nya.

    Selanjutnya, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku lebih mulia, dari segala sesuatu.” Jadi kalau kita masih merasa memiliki sesuatu atau seseorang dan itu membelenggu kita, kita tidak dapat memiliki Kristus sebab kita tidak bisa memiliki gairah-Nya, pikiran dan perasaan-Nya. Ini memang berat, tetapi kalau kita berjuang untuk bisa mencapai hal ini, maka itu akan menjadi kenikmatan tersendiri. Sebab, ada keringanan hidup dan keriangan hidup di dalamnya.

    Bersyukur kita dibawa Tuhan kepada pemahaman ini. Tetapi, jangan berhenti hanya sampai di sini. Mari kita juga mengenakannya. Bagi kita yang sudah mulai berumur, mestinya kita mampu melakukannya. Bagi anak-anak muda, harus mulai berjuang. Kalau anak-anak muda bisa mengenakan kebenaran ini, ibarat lebih dari memiliki harta apa pun. Sebab sesungguhnya, itulah keberhasilan hidup. Tidak ada yang lebih berharga dan yang lebih mulia dalam kenyataan hidup ini selain Tuhan.

    Kalau kita memiliki Tuhan dalam hidup kita, berarti kita memiliki kekayaan di atas segala kekayaan, kemuliaan di atas segala kemuliaan, kehormatan di atas segala kehormatan. Mungkin timbul pertanyaan di hati kita, sebegitu hebatnyakah pengenalan Paulus terhadap Tuhan; atau sebegitu tingginya pengenalan Paulus terhadap Tuhan, sampai dia bisa melakukan hal ini? Ya, Paulus mempertaruhkan hidupnya untuk mengenal Tuhan. Ia meninggalkan jabatannya sebagai salah satu anggota Sanhedrin. Dia juga melepaskan semua fasilitas yang dimiliki sebagai pemimpin agama Yahudi.

    Memang hal ini tidak terjadi dalam satu hari, tetapi melalui proses. Sebab setelah Paulus mengalami perjumpaan dengan Tuhan, dia memisahkan diri dan belajar. Hal ini mengingatkan kita tentang perumpamaan yang Tuhan Yesus kemukakan mengenai seorang peladang yang menemukan harta yang tersembunyi dalam tanah. Harta itu tersimpan di dalam bejana tanah liat; berarti tidak bisa dilihat apa isinya. Peladang itu tidak bermaksud untuk mencari harta, tapi dia menemukan. Ketika dia menemukan harta tersebut, dia menjual segala miliknya untuk membeli ladang itu. Banyak ladang yang lain, tetapi peladang ini begitu ekstrem karena berani menjual semua miliknya demi memperoleh harta yang tersimpan itu.

    Percayakah kita bahwa kemuliaan Tuhan, kekayaan kebenaran, suasana sukacita di hadirat Tuhan itu melampaui yang dapat kita bayangkan dan pikirkan? Ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan dijelaskan kepada orang lain. Orang harus mengalami sendiri mengenai kebenaran. Bagi mereka yang pikirannya tertutup terhadap kebenaran, mereka tidak bisa mengecap kebenaran. Bahkan mungkin mereka akan berkata, “Apa maksudnya?” Atau mungkin mereka menaruh curiga terhadap kebenaran yang kita sampaikan, karena mereka nilai dengan sudut pandang mereka. Mereka bisa tidak mengerti kebenaran, karena tidak mengecap hadirat Tuhan.

    Oleh sebab itu, kita harus setia datang ke gereja, ikut doa, sehingga tahap demi tahap, kita bisa tersentuh oleh kebenaran. Selanjutnya, kita akan menikmati kebenaran itu, sampai kita seperti kecanduan; addict terhadap kebenaran itu. Seperti Firman Tuhan katakan, “Firman Tuhan membangkitkan, menyegarkan tulang-tulangku, sampai menyegarkan tubuh fisik kita.” Itulah membuat kita bisa bersemangat. Apa yang dulu kita anggap bernilai atau memiliki kualitas tinggi,
    10 min
  • Penyesalan di Kekekalan
    Banyak orang Kristen berbicara tentang Tuhan, mengenai Yesus, tetapi tidak pernah menemukan Dia. Mereka hanya merasa bertemu di dalam fantasinya melalui khotbah, buku-buku yang dibaca, atau melalui pendidikan Sekolah Tinggi Teologi. Hal ini sudah menjadi penyakit banyak orang Kristen, aktivis, bahkan pendeta. Temuilah Tuhan secara langsung, karena Allah itu hidup. Perkarakan masalah kita di hadapan Tuhan terus-menerus, sampai kita benar-benar mengerti apa maksud Tuhan di balik semua peristiwa yang kita alami. Jadi jangan kita memaksakan diri atau kehendak kita untuk segera bisa keluar dari masalah. Justru kita harus menemukan hikmat atau pelajaran rohani yang kita bisa timba, boleh kita terima dari persoalan yang dihadapi.

    Ada orang-orang yang memang diizinkan bangkrut. Sebab kalau tidak bangkrut, malah berbahaya. Dia bisa menjadi sombong, sewenang-wenang terhadap orang lain. Jangan sampai kita masuk neraka gara-gara kita tidak pernah bangkrut. Memang idealnya, mestinya kita tidak perlu mengalami kebangkrutan secara bisnis atau keuangan. Kalau kita bisa dinasihati Tuhan dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dibentuk lewat suara Tuhan melalui khotbah, melalui nurani, maka Tuhan tidak perlu “menghajar” kita atau memberi pelajaran kepada kita melalui persoalan hidup yang berat.

    Sebenarnya, banyak kejadian yang menyakitkan itu merupakan peringatan Tuhan bagi kita. Maka ada orang yang berkata begini, “Saya ini tidak punya salah, Pak Pendeta. Dari kecil, saya sudah ke gereja. Saya baik-baik jadi orang Kristen. Anak-anak saya pun juga saya bimbing untuk ke gereja, Pak. Mengapa Tuhan menimpakan persoalan ini?” Tuhan itu tahu. Kita mestinya bertumbuh menjadi manusia yang agung di mata Allah, sesuai rancangan Allah atau sesuai dengan rencana Allah. Kita merasa sudah menjadi Kristen yang baik, tetapi kita tidak bertumbuh sebagaimana mestinya kita bertumbuh.

    Nanti di kekekalan, kalau kita bertemu dengan Tuhan, kita akan sangat menyesal. Sebab kita baru menyadari betapa agung dan mulianya Tuhan. Dan ada orang-orang yang layak dimuliakan bersama dengan Yesus. Ketika kita melihat keagungan Tuhan, kita baru tahu bahwa orang-orang yang layak dimuliakan, haruslah orang-orang yang juga agung. Dalam perjalanan hidup, kita tidak bertumbuh secara normal, tidak growing secara proporsional. Lalu, apa yang terjadi? Kita harus dikejutkan oleh masalah, supaya memandang Tuhan dan menjadikan Dia sebagai tujuan hidup kita.

    Sayangnya, banyak orang Kristen yang kadang-kadang dijelaskan juga tidak mau mengerti, malahan berkata, “Apa salahku sampai aku harus mengalami keadaan ini?” Mungkin memang tidak salah. Tetapi, tidak salah menurut dirinya sendiri. Sedangkan di mata Tuhan, orang itu tidak bertumbuh. Sementara, kesempatan hidup hanya satu kali di dunia ini. Tuhan mau menghindarkan kita dari penyesalan di kekekalan, maka Tuhan mengejutkan kita dengan peristiwa-peristiwa hidup yang mestinya membuat kita sadar. Tetapi banyak orang Kristen yang tidak mau mengerti. Ia tenggelam dalam masalah dan kalaupun berurusan dengan Allah, hanya karena mau dibebaskan, dilepaskan dari masalah yang dihadapi.

    Padahal, masalah yang terbesar itu bukan masalah itu sendiri. Masalah terbesarnya yaitu di kekekalan. Semua kita adalah pewaris-pewaris Kerajaan Surga. Bersyukur kalau Tuhan memperlakukan kita seperti yang sekarang kita alami. Sekarang mungkin kita merasa kesepian karena belum menikah, atau mungkin merasa kurang normal, tetapi kalau kita hidup benar-benar melakukan Firman Tuhan, kita akan merasa bahwa tidak menikah itu, tidak menjadi masalah. Bukan masalah sama sekali. Bahkan sebenarnya lebih baik tidak menikah, daripada menikah lalu bertemu orang yang salah. Sebab itu hanya akan berakhir dengan penyesalan dan penderitaan.

    Kita akan “diperbudak” oleh pasangan, dikuasai kuasa gelap, sehingga kita justru terhanyut dalam kehidupan yang merenggut kemanusiaan kita.
    8 min
  • Berkat Rohani
    Tidak ada satu hari pun dimana Tuhan tidak memberi berkat. Setiap hari, Tuhan pasti memberi berkat untuk pemenuhan kebutuhan fisik kita, tapi terutama untuk kebutuhan rohani. Kita pasti telah membuktikan bagaimana Tuhan memelihara dan mencukupi. Walaupun mungkin tidak berlimpah atau tidak selimpah orang lain, tetapi kita sudah bisa melewati dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, sehingga kita ada sebagaimana kita ada hari ini. Asumsi banyak orang percaya tentang berkat Tuhan, selalu dikaitkan dengan berkat jasmani. Tetapi seiring berjalannya waktu, kita mengerti bahwa berkat jasmani Tuhan pasti berikan. Namun, apalah artinya berkat jasmani jika dibanding dengan berkat rohani.

    Paulus mengingatkan kita di dalam 2 Korintus 4, “Manusia lahiriah kami semakin merosot.” Itu fakta yang tidak bisa dibantah, “namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Ayat firman Tuhan ini secara implisit hendak menunjukkan kepada kita bahwa ada berkat, baik jasmani maupun rohani, namun yang terutama adalah berkat rohani. Berkat yang membuat manusia batiniah kita dibaharui dari sehari ke sehari. Pernahkah kita menghitung berkat—berkat rohani? Kalau anak dalam masa pertumbuhan, biasanya ditimbang berat badannya. Apabila ia bertambah berat, orangtua menjadi senang. Bagaimana dengan kita, apakah kita menimbang berat kita di hadapan Allah?

    Di dalam Kitab Ratapan 3:21 tertulis, “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan. Oleh sebab itu, aku akan berharap. Tak berkesudahan kasih setia Tuhan. Tak habis-habis rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi. Besar kesetiaan-Mu!” Kalau burung pipit, dua ekor seduit—seduit adalah mata uang paling kecil di Israel pada zaman itu—berarti betapa murahnya, tetapi tidak seekor pun jatuh ke tanah di luar kehendak Bapa. Burung pipit saja Allah pelihara. Maka, pasti kita dipelihara lebih dari burung pipit, asal kita bertanggung jawab dan bekerja.

    Yang seharusnya kita persoalkan sekarang adalah apakah kita memperhitungkan berkat rohani yang Allah sediakan? Apakah kita serius juga memperhatikan pemenuhan kebutuhan rohani kita? Sebab Tuhan Yesus berkata, “Manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.” Ketahuilah bahwa kita bukan hanya memiliki manusia jasmaniah, melainkan juga memiliki manusia rohaniah yang juga harus kita usahakan perawatan dan pertumbuhannya. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Yang secara tidak langsung Tuhan menghendaki agar kita memperhatikan apa yang bernilai kekal, yaitu manusia batiniah kita.

    Di ayat yang lain, firman Tuhan berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan kepadamu.” Apakah ini berarti orang percaya yang mengenal Allah tidak mencari materi? Mencari, tetapi itu bukanlah sebagai tujuan utama. Ayat selanjutnya menegaskan, “Itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,” artinya mereka terfokus, terproyeksi kepada hal itu. Sedangkan kita, tidak. Karena, kita lebih mengutamakan pemeliharaan rohani dan pertumbuhannya. Kita harus memperhatikan berkat rohani untuk bisa benar-benar berdampak di dalam hidup kita, sehingga mencapai kehidupan sebagai manusia baru di dalam Tuhan.

    Manusia baru di dalam Tuhan adalah seorang yang berubah kodrat; yang mengalami perubahan kodrat, sehingga hidupnya mengekspresikan pikiran dan perasaan Allah. Bukan hanya dari orang yang tidak bermoral jadi bermoral; atau dari orang non-Kristen menjadi Kristen; bukan hanya dari orang baik-baik menjadi lebih baik, aktif di gereja, bahkan jadi pendeta. Dan untuk mencapai target ini, Allah bekerja. Karenanya, Roh Kudus diberikan untuk bisa mengubah kita menjadi manusia baru. Masalahnya, apakah kita menyerap berkat rohani yang Allah sediakan?

    Paulus mengatakan, “kami memperhatikan yang tidak kelihatan.” Banyak orang memperhatikan apa yang kelihatan. Yang tidak kelihatan, tidak diperhatikan.
    10 min
  • Neraca Hidup Setiap Hari
    Setiap kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya kepada Allah. Sesuai Roma 14:12, “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Sebagai bendahara, ia tahu bahwa suatu saat—bahkan bisa setiap saat—dia harus mempertanggungjawabkan uang yang bukan miliknya kepada tuan atau majikan yang memercayakan uang. Dia akan setiap hari berhati-hati dalam penggunaan dan pencatatannya. Apalagi mendekati tanggal tutup buku, dia akan berusaha membuat laporan sebaik dan setepat mungkin. Orang seperti ini akan dipercayai oleh majikannya dan dipertahankan. 
    Dalam 1 Korintus 6:19-20 dikatakan, “kamu bukan milik kamu sendiri. Kamu sudah ditebus dengan harga yang lunas dibayar.” Kita mengelola kehidupan, ini bukan milik kita; tetapi milik Tuhan. Paulus mengatakan, “Hidup yang kuhidupi dalam daging ini adalah hidup anak Allah, bukan hidupku sendiri, bukan hidup orang lain.” Apa pun yang kita miliki, partikel paling kecil pun milik Tuhan. Berarti kita lebih miskin dari orang miskin. Karena semiskin-miskinnya orang, masih punya sesuatu sekecil apa pun atau memiliki hak sekecil apa pun. Tetapi orang percaya itu lebih miskin dari orang miskin. Hal ini bukan berarti kita naik sepeda ontel, tidur di bawah kolong jembatan. Tetapi kita di dalam kesadaran bahwa semuanya adalah milik Tuhan. 
    Walaupun kita naik motor, rumah kontrak, tetapi kalau kita masih merasa memiliki sesuatu—dan terutama memiliki tubuh, pikiran, mulut, mata—maka kita bukan milik Tuhan, berarti kita bohong. Jadi, mata kita harus melihat yang patut, mulut kita mengucapkan yang patut. Pikiran dan renungan hati kita harus bersih. Kita akan rela berbuat apa pun dengan apa yang ada pada kita. Itulah hidup di dalam otoritas Allah. Ini tidak mudah, harus dilatih setiap hari, menaruh Tuhan di depan mata. Tuhan mau kita dimiliki-Nya. Itu dimulai dari penggunaan mata, telinga, mulut, juga pikiran. 
    Bendahara yang baik, teliti dengan penggunaan uang dan pencatatannya, supaya bisa memberi pertanggungan jawab. Tidak perlu menunggu pertanggungan jawab akhir bulan, karena ada pencatatan, laporan setiap hari. Sehingga laporan akhir bulan, akhir tahun jadi mudah. Demikian juga hidup kita. Setiap hari harus teliti apa yang kita ucapkan, pikirkan, lihat, dan dengar. Kita belajar setiap kata yang kita ucapkan; dimulai latihannya dengan pasangan kita. Jangan pikir ini kekanak-kanakan. Kita tidak akan suci kalau tidak dimulai dari perkara kecil. Kalau tidak dari perkara kecil, maka perkara besar pasti salah. 
    Kita rajut, kita tenun kesucian. Setiap hari kita membuat perhitungan, pertanggungjawaban. Kita membuat neraca hidup setiap hari. Hanya orang yang membuat neraca hidup setiap hari yang bisa mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah. Kalau kita tidak serius setiap saat menenun, merajut kesucian, dan membuat perhitungan, pertanggungan jawab setiap hari, tidak mungkin hidup kita bersih. Dengan membuat pertanggungan jawab setiap hari, setiap saat, makin kita resisten terhadap dosa yang sekecil apa pun. Perasaan benci, muak terhadap dosa akan kuat di dalam kita. Roh Kudus pasti akan bicara, mengingatkan kita. 
    Jika tubuh, pikiran, perasaan kita milik Tuhan, maka semuanya harus menjadi bejana Tuhan, yaitu bagaimana Tuhan mengekspresikan perasaan-Nya, bagaimana Tuhan mau menggunakan mulut kita. Di situlah tubuh kita menjadi bait Allah, memperagakan kehidupan Kristus, sehingga kita menjadi surat yang terbuka. Seperti yang dikatakan dalam Kolose 3:4, “Jika Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kita pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia.” Kita harus berjuang bagaimana tubuh, pikiran dan perasaan kita menjadi bejana Tuhan untuk mengekspresikan, mewujudkan perasaan Allah. Ini adalah kehormatan. Tanpa meminta pembelaan, Tuhan pasti membela karena kita serius mau menjadi bejana Tuhan. 
    Banyak peristiwa hidup yang mestinya menjadi peringatan.
    8 min
  • Sesuai Jadwal Tuhan
    Ada situasi tertentu di mana telinga kita lebih terbuka untuk mendengar nasihat Tuhan. Pikiran kita, hati kita, lebih bisa mencerna kebenaran dan bisa menerima kebenaran. Jadi, anggaplah ini sebagai berkat, yaitu ketika kita menghadapi kesulitan yang besar, di mana kita merasa tidak sanggup menyelesaikannya sendiri. Kita datang kepada Tuhan, lalu kita katakan: “lindungi aku, Bapa.” Jangan karena merasa punya relasi pejabat, lalu kita menjadi sombong. Jangan sombong karena memiliki uang banyak, sehingga merasa semua masalah bisa diselesaikan dengan mudah. Jangan sampai suatu kali Tuhan buat kita keok, lalu kita baru sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong kita. 
    Masalah berat dan sukar menjadi sarana Allah mengajarkan kita untuk bergantung sepenuh kepada Tuhan. Hal ini nanti akan berdampak luar biasa. Sebab kalau orang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, percaya sungguh-sungguh, Allah juga akan mengistimewakan orang-orang seperti ini. Lalu yang berikut, Tuhan bisa saja membiarkan persoalan itu panjang dan berlarut-larut. Kalau kita menghadapi masalah yang diizinkan Tuhan panjang dan berlarut-larut, kita harus tanya Tuhan, “Mengapa Engkau izinkan hal ini terjadi?” Pasti ada maksud Tuhan dalam setiap persoalan hidup yang kita hadapi.
    Tuhan bisa menyelesaikan masalah kita dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun. Tetapi bisa juga masalah tersebut berlangsung selama puluhan tahun. Inilah yang Alkitab katakan “duri dalam daging.” Ada sesuatu yang membuat hidup Paulus tidak nyaman; adanya duri dalam daging. Untuk apa Tuhan menaruh thorn in the flesh; duri dalam daging dalam diri Paulus? Supaya dia tidak sombong, supaya dia mengakui keberadaannya hanya karena kemurahan Allah semata-mata. Maka ketika dia minta kepada Bapa untuk mengangkat duri dalam dagingnya itu, Tuhan berkata: “Kasih karunia-Ku cukup bagimu.” Luar biasa sekali, bukan? 
    Tuhan menguji seberapa kita setia kepada Pribadi-Nya. Bukan saja percaya kepada berkat-Nya yang kita klaim menjadi milik kita. Tetapi, yang terpenting kita juga memercayai Pribadi-Nya; Pribadi Tuhan. Hendaknya kita selalu mengingat apa yang dialami Abraham. Tuhan menjanjikan bahwa Abraham akan memiliki seorang anak, tetapi selama puluhan tahun ia menunggu dengan sabar, bahkan sudah mendekati seperempat abad, ternyata Abraham tidak kunjung punya anak. Abraham dan Sara tidak punya anak di hari tuanya. Abraham sudah tua dan tidak mempunyai anak. Seperempat abad, mereka harus menantikan kelahiran anaknya. Tetapi itu memang hal yang diizinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan mereka. 
    Jadi, kita harus percaya bahwa Allah pasti menyertai dan menyelesaikan masalah sesuai dengan jadwal-Nya. Jangan memaksakan jadwal kita, dan berkata, “Tuhan, kenapa masalah ini berat?” Serahkan saja pada-Nya, biarlah waktu Tuhan yang jadi. Tuhan memang mengizinkan kejadian, masalah, tekanan, problem berat yang berlarut-larut. Kalau tadi yang pertama, kita menghadapi masalah yang kita tidak sanggup hadapi, itu ternyata ajaran Tuhan; rencana Allah supaya kita tidak menaruh percaya pada diri sendiri, tetapi kita menaruh percaya kepada Tuhan. 
    Lalu yang kedua, Tuhan mengizinkan masalah itu tidak segera selesai. Berlangsung bertahun-tahun. Kenapa Tuhan izinkan itu? Karena Tuhan mau mengajari kita memiliki percaya penuh. Percaya penuh kepada Elohim Yahweh bahwa Dia setia, Dia menyertai kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Lihat bagaimana dahsyatnya Allah kita. Kalau kita menghadapi masalah berat hari ini, datanglah kepada Tuhan dan berkata, “Aku tidak sanggup, Tuhan.” Sementara kita berjuang untuk menyelesaikan masalah kita, tetapi kita berkata: “Tuhan, aku tidak sanggup.” Kita berjuang; apa yang menjadi bagian kita, kita penuhi dengan bertanggung jawab. Di luar bagian kita,  biarkan Tuhan yang akan campur tangan. Luar biasa!
    Kita harus menerima dan mengerti hal ini. Kalau masalah itu berkepanjangan, tetaplah sabar dan percaya. Bahkan Tuhan sering membawa kita kepada keadaan...
    8 min
  • Semua dalam Kontrol Tuhan
    Ketika kita menghadapi masalah yang rumit, berat, dan sulit, yang kita tidak tahu bagaimana menyelesaikannya sehingga berlarut-larut panjang, berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun, kita belajar berharap kepada Tuhan untuk melihat campur tangan-Nya. Jangan mendesain di dalam fantasi kita, bagaimana keadaan nanti. “Aku mau jadi begini, jadi begitu” lalu minta kepada Tuhan. Tidak salah juga, kalau kita belum dewasa. Tetapi kalau kita dewasa, berkatalah kepada Tuhan, “Jadilah kehendak-Mu, Bapa, bukan kehendakku.” 
    Percayalah, Tuhan itu Mahakuasa, Mahabaik, dan Mahamurah. Tuhan tidak pernah mengupayakan kejahatan kepada kita. Apa pun yang terjadi, dikontrol, dikendalikan Tuhan.Di balik setiap kejadian, ada maksud dan rencana Allah yang dahsyat. Percayalah bahwa apa yang dilakukan Tuhan itu baik adanya. Kita tidak boleh marah atau bersungut-sungut. Ini masalah yang dihadapi banyak orang ketika mengalami masalah berat yang berkepanjangan, apalagi berlarut-larut. Orang mulai mencari kambing hitam, siapa yang bisa disalahkan. 
    Kalau bisa menyalahkan orang, hatinya puas. Bisa marah, maki-maki, mengumpat orang, hatinya puas. Padahal, keadaan tetap tidak berubah, tetap sulit. Mengapa kita harus marah dan bersungut-sungut? Tuhan Yesus di taman Getsemani berdoa, “Jika boleh, cawan ini lalu daripada-Ku.” Dia berdoa agar bisa dihindarkan dari penderitaan. Ini saat-saat kritis. Kalau sampai doa itu dikabulkan oleh Allah Bapa, maka tidak ada orang yang selamat. Semua manusia binasa. Mengerikan sekali. Tetapi puji Tuhan, Yesus mengakhiri doa-Nya dengan kalimat: “bukan kehendak-Ku yang jadi, Bapa. Kehendak-Mulah,” yang berarti “Aku bersedia harus mengalami keadaan sulit, Aku terima semua keadaan ini.” Bapa tetap membawa Yesus ke via Dolorosa, sampai ujungnya Golgota. 
    Di kayu salib, Yesus berkata: “Eli, Eli, lama sabakhtani? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Perhatikan penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus. Dia benar-benar mengalami ditinggalkan oleh Allah Bapa. Bapa yang selama ini menyertai Dia, sekarang terasa meninggalkan diri-Nya. Tetapi ingat, betapa hebat Pribadi Tuhan Yesus. Dia berkata, “bukan kehendak-Ku yang jadi, Bapa. Kehendak-Mulah.” Allah Bapa memeteraikan, maka salib terwujud. Keselamatan disediakan atau keselamatan diadakan. 
    Ini pelajaran mahal untuk kita. Yesus itu teladan kita. Tidak ada teladan lain selain Yesus. Dalam keadaan yang begitu terjepit, Dia tetap menyerahkan semua dalam tangan Bapa, dan tetap berkata: “bukan kehendak-Ku yang jadi, Bapa, kehendak-Mulah.” Dahsyat, luar biasa. Dia terima apa pun yang Tuhan mau kerjakan dalam hidup-Nya. Bahkan ketika dalam situasi atau posisi di mana Dia merasa ditinggalkan oleh Allah Bapa, Dia berkata, “dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku, ya Bapa.” Luar biasa, bukan? Itulah teladan kita, “ke dalam tangan-Mu, Bapa, kuserahkan hidupku.” 
    Mungkin ada di antara kita yang mulai mencurigai Tuhan. Mungkin kita tidak marah secara langsung kepada Tuhan, tetapi ketika kita menyalahkan lingkungan, keadaan, mencari kambing hitam yang bisa kita persalahkan, kita sebenarnya sedang mencurigai Tuhan. Semua di dalam kontrol Tuhan, tidak mungkin ada kejadian yang terjadi di luar kendali Tuhan. Jadi kalau hal itu terjadi dalam hidup kita, memang Allah menghendakinya. Belajarlah memercayai Allah yang hidup. Percaya kepada Tuhan, yang pertama bukan percaya kuasa-Nya atau yakin kuasa Tuhan tidak berubah, yakin Allah itu berkuasa. Tetapi percaya juga akan kebaikan Tuhan. 
    Kita percaya akan kuasa Allah, tetapi juga percaya akan Pribadi-Nya, bahwa Allah itu baik. Masalahnya sekarang adalah baik menurut siapa, dan baik yang bagaimana? Itu problem-nya, itu masalahnya. Semua orang bisa berkata: “Allah itu baik” tetapi baik menurut versi siapa? Baik yang bagaimana? Kalau orang Kristen duniawi, memandang Allah itu baik kalau membuat mereka sukses dalam bisnis, kalau mereka itu memiliki usaha yang maju, kalau mereka memiliki tubuh sehat,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…