Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Setengah Kudus
    Pengajaran atau doktrin yang mengatakan, “Allah sudah membenarkan kita, Allah melihat darah Yesus yang membungkus, jadi kita sudah masuk surga, jangan pakai usaha sendiri karena keselamatan itu anugerah” adalah kalimat yang menyesatkan. Benar-benar menyesatkan! Allah benar-benar telah membenarkan kita oleh darah Yesus, betul. Tetapi, Allah tidak hanya melihat bungkus darah Yesus yang melingkupi kita. Allah juga mau inward, inner man kita yang harus diubah, memiliki pikiran, perasaan Kristus. Bukan hanya darah Yesus yang membungkus, tetapi manusia batiniah kita harus memiliki pikiran, perasaan Kristus. 
    Penyesatan ini sudah berlangsung berabad-abad. Banyak doktrin yang mengisyaratkan demikian. Hal ini harus diperbaiki, diluruskan, direvisi, dikritisi. Kata lain yang mungkin lebih tegas “digugat” karena pernyataan tersebut salah. Sebenarnya, harus ada perjuangan yang memadai untuk bisa memiliki kehidupan yang tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah. Seiring kita menghayati hidup ini tragis, kita bisa mendengar Bapa bicara, “Aku ingin kamu di tempat-Ku. Betapa Aku ingin kamu di tempat-Ku. Tetapi sekarang belum bisa, karena keadaanmu belum bisa masuk di tempat-Ku.” 
    Allah memiliki integritas dan tatanan yang sempurna. Maka, kita harus berubah. Maka firman Tuhan mengatakan di 1 Petrus 1:16, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Jangan setengah-setengah untuk hidup kudus. Jangan main-main lagi, bagi para pendeta, hamba Tuhan, aktivis, jemaat, usahakan jangan menyentuh apa yang najis. Buang semua pikiran kotor, kesombongan, ketidaktulusan! 
    Ada satu yang kita harus takuti. Kalau selevel kita seperti hari ini berani berbuat salah, maka pukulan keras Tuhan akan luar biasa. Jadi, jangan coba-coba berbuat salah. Sudah jalan sejauh ini, jika kita berbuat salah, sungguh itu mengerikan sekali! Kalau dulu kita berbuat salah, kita masih dijewer, lalu merah kuping kita. Tetapi kalau sekarang kita berbuat salah, kita digampar, bisa putus kepala kita. Jangan main-main dengan Tuhan! Maka, kita harus berbuah-buah. Kita adalah manusia yang rentan. Tidak perlu menunggu jatuh dari pesawat terbang. Misalnya, kita terpeleset dari tangga saja, bisa mati. Kalau sudah mati, kita bisa apa? Biar pangkat kita tinggi, biar gelar kita banyak, biar uang kita “segudang”, semua itu tidak akan ada artinya. Kita tetap manusia yang terbatas, yang hanya setingkat lebih tinggi dari hewan. 
    Tetapi kalau kita menjadi anak-anak Allah, maka kita menjadi mulia dalam pemandangan mata Allah Yang Maha Besar. Jangan sia-siakan kesempatan untuk bertobat. Sayangnya, tidak banyak orang yang masih memiliki kesadaran untuk mengerti hal ini, mau merespons kebenaran, dan berubah. Banyak sekali orang Kristen di dunia ini, tetapi yang benar-benar layak masuk Rumah Bapa, sedikit. Bahkan di akhir zaman ini, seperti yang dikemukakan Tuhan kita, Yesus Kristus, “Kalau Anak Manusia datang, apakah Dia mendapati iman di bumi?” Artinya tidak banyak orang yang beriman kepada Yesus secara benar. Banyak orang beragama Kristen, tetapi di dalam pandangan mata Allah, tidak beriman. Bukan orang yang beriman, artinya bukan orang yang layak menerima keselamatan. 
    “Diselamatkan oleh iman.” Iman itu bukan hanya keyakinan pikiran atau pengaminan akali, bukan hanya persetujuan akal pikiran kita melainkan tindakan. Siapa yang berani percaya bahwa ada surga? Abraham, bapa orang percaya, memberi contoh. Ia pertaruhkan semuanya demi negeri itu. Maka, Abraham disebut sebagai sahabat Allah. Abraham itu percaya penuh kepada Bapa. Kalau kita percaya Tuhan Yesus, maka kita harus mengikut jejak-Nya. Tetapi, sedikit sekali yang berani bertaruh untuk sungguh mengikut Yesus dan meneladani gaya hidup-Nya.
    Kalau kita membaca dalam Alkitab, adanya pesta perkawinan Anak Domba, itu bukan perkawinan dalam arti seks, melainkan perjumpaan antara Yesus, Putra Tunggal kesayangan Yahweh, dengan anak-anak Allah yang berkeadaan sama dengan Dia, yang layak mendampingi Dia.
    10 min
  • Meningkatkan Kesucian Hidup
    Setiap orang pasti berusaha bagaimana hidupnya meningkat atau mengalami pertumbuhan. Dan masing-masing orang memiliki konsep, filosofi, pandangan yang berbeda mengenai apa yang harus ditingkatkan di dalam hidupnya. Kalau ada orang yang tidak memiliki gairah meningkatkan sesuatu dalam hidupnya, orang itu pasti menjadi manusia yang tidak bersemangat atau bisa sakit mental. Setiap orang pasti memiliki ‘sesuatu’ yang hendak ditingkatkan dalam hidupnya. 
    Kalau seorang Ibu ingin anaknya lebih kuat, lebih bertumbuh, ia tidak memikirkan peningkatan yang lain kecuali anaknya bertumbuh normal. Kalau anaknya terlahir cacat, ia berusaha untuk mencari kesembuhan atau pemulihan atas keadaan anaknya. Kalau anaknya sakit, ia berusaha mencari obat, merawat, supaya ada kesembuhan. Banyak Ibu yang ketika anaknya sakit, fokusnya hanya ke anak, bagaimana anak menjadi lebih sehat. Ada yang tadinya bekerja, sampai berhenti bekerja karena ingin fokus merawat anak. 
    Kalau ada istri yang suaminya sakit, ia bisa berhenti bekerja untuk bisa merawat suami, atau sebaliknya. Ada orang yang hendak meningkatkan ekonominya. Bagaimana penghasilannya bertambah, bagaimana lebih banyak rezeki atau uangnya. Biasanya kalau finansialnya banyak, dia mulai berpikir bagaimana rumahnya diperluas. Kalau tidak bisa diperluas, mencari tanah yang lebih luas. Tadinya tidak ada kolam renang, berpikir bagaimana membangun kolam renang. 
    Kalau siswa atau mahasiswa, belajar untuk meningkatkan grade. Bagi anak atau mahasiswa tertentu, mereka bergiat meningkatkan ranking; misalnya urutan 9 dari 10 besar, maka dia berusaha untuk menjadi urutan ke-4 di 5 besar. Bahkan, kalau bisa menjadi juara. Mereka yang ada di partai di pemerintahan, berusaha untuk meningkatkan kariernya, jabatannya, pangkatnya. Kalau akademisi, yang ditingkatkan adalah gelarnya. Orang berusaha meningkatkan sesuatu yang dipandangnya berharga dan bernilai. Pada umumnya, orang berusaha untuk itu.
    Ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan di luar rumah, hanya menjadi ibu rumah tangga, pasti punya harapan; anaknya bisa lulus sekolah, suami penghasilannya lebih banyak. Bisa juga dia mencari kesibukan-kesibukan untuk meningkatkan kebahagiaannya. Manusia terus hidup dalam putaran untuk meningkatkan apa yang dipandangnya sebagai bernilai atau baik. Bangun tidur, lalu bekerja. Pulang malam, lalu tidur. Besok paginya seperti itu kembali. 
    Paling tidak, kalau tidak ada peningkatan yang diharapkan, mereka bisa bertahan di situasi yang ada. Di sini kita melihat betapa tragisnya hidup manusia. Ada orang-orang yang memang sudah seperti terbelenggu dalam satu keadaan, sehingga mereka tidak bisa meningkat. Mungkin kondisinya sudah terpaku demikian. Mereka tidak bisa meningkat, dan terhenti pada tingkat survive saja. Tetapi kalau sudah bisa survive, biasanya orang mau meningkat. 
    Kalau orang yang hidup hanya untuk survive, untuk bertahan, biasanya ini adalah orang-orang yang ada di dalam kelompok kaum marginal; kaum ekonominya lemah. Penghasilannya tidak bertambah; itu-itu saja. Sering kali gali lubang, tutup lubang. Itu adalah cara untuk survive. Paling tidak, keinginannya untuk meningkat adalah tidak gali lubang tutup lubang lagi. Tragisnya manusia, dalam pergumulan untuk memenuhi kebutuhan hidup, harus gali lubang tutup lubang, dan yang penting bisa bertahan, hanya menunggu kematian. 
    Hidup di bumi sudah tidak ada senangnya, lalu mati, dan setelah mati, ada di dalam bayang-bayang maut. Ini menyedihkan sekali. Mereka yang sukses dalam studi, karier, bisnis, rumah tangga, atau apa pun yang dicapai dan dimiliki, suatu kali juga harus lenyap. Lenyap dalam sekejap. Mari renungkan itu! Mestinya keinginan atau kerinduan kita meningkatkan sesuatu itu adalah kerinduan atau keinginan untuk semakin berkenan di hadapan Allah. Ini yang harusnya menjadi fokus satu-satunya. Untuk berkenan di hadapan Allah, maka kita harus meningkatkan kesucian hidup.
    Bagi anak-anak muda yang sekolah,
    9 min
  • Meningkat dalam Keberkenanan
    Di dalam Injil Matius 6:33 tertulis, “Carilah dahulu Kerajaan Allah,” artinya utamakan bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang baik. “Yang baik,” tentu yang berkenan kepada Allah. Yang berkenan kepada Allah modelnya adalah Tuhan Yesus, yang prinsip-Nya adalah “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Sampai pada tingkat ekstrem, misalnya Ibu-ibu yang menghadapi perlakuan tidak adil dari suami, perlakuan kasar, siksaan, atau penganiayaan. Bahkan Ibu ini tidak memandang jika suami bertobat, jadi orang baik, dan membangun rumah tangga yang bahagia sebagai hal yang utama. 
    Hal yang terutama adalah bagaimana kita menjadi seorang yang berkenan kepada Allah. Orientasi kita seharusnya bagaimana kita berkenan kepada Allah. Hal ini yang tersulit atau terberat di dalam hidup. Lebih berat dari mencari uang, berkarier, atau apa pun. Tetapi yang termahal, terutama dan harganya tidak ternilai adalah berkenan kepada Tuhan. Sering ketika menghadapi masalah, kita berdoa agar masalah kita dapat segera selesai. Kita minta peningkatan dalam bentuk masalah kita selesai atau berkurang, sampai kita lebih mengutamakan hal tersebut daripada Tuhan. Ini sungguh kesalahan.
    Mestinya kita berjuang bagaimana dapat berkenan kepada Allah. Benar-benar menyenangkan hati Allah dan menjadi keharuman di mata Allah. Mengenai masalah itu, kita serahkan dalam tangan Tuhan. Kita harus bertanggung jawab menghadapinya, tetapi jangan sampai membelenggu pikiran dan jiwa sehingga menjadi berhala. Mestinya kita memandang bahwa satu-satunya yang terpenting adalah berkenan kepada Tuhan. Kita harus berusaha melakukan peningkatan menjadi anak Allah yang berkenan. Maka, semua usaha kita benar-benar harus diarahkan untuk hal ini. 
    Kita juga melihat ada kondisi-kondisi yang harus dijauhi, sebab kondisi-kondisi itu akan membuat kita tidak berkenan kepada Allah. Seperti Ibu-ibu kumpul, lalu mengadakan arisan, orang-orang yang hanya mau membuat gosip, mau pamer perhiasan, mau pamer pakaian, mau pamer tas yang dikenakan atau sepatu. Jangan ada di dalam kumpulan itu! Kita akan terkondisi menjadi tidak bertumbuh. Mungkin rasanya memang menyenangkan saat berkumpul seperti itu, tetapi kita tidak bertumbuh. Bergaullah dengan komunitas yang takut akan Allah, yang mengajak berdoa, memuji, menyembah Tuhan, dan orientasi berpikirnya langit baru bumi baru. 
    Kalau hanya kumpul-kumpul dengan teman waktu SMA, atau pertemuan reuni sampai membuat acara, sementara sebagian besar atau bisa semua mereka orang-orang fasik; orang-orang yang tidak peduli Tuhan dan tidak takut akan Allah, maka harus dihindari, dijauhi sejauh-jauhnya. Peningkatan kehidupan untuk semakin berkenan, inilah yang harus menjadi satu-satunya tujuan kita. Allah akan tersanjung kalau kita memperkarakan ini. Jiwa kita tercengkeram oleh kerinduan ini, dan bisa menyingkirkan semua masalah kita. 
    Pasti ada istri-istri yang kecewa terhadap suami, atau suami-suami yang kecewa terhadap istri. Jangan sampai kepahitan dan kekecewaan itu membuat kita tidak memiliki gairah yang penuh untuk menjadi anak-anak Allah yang meningkat terus keberkenanannya di hadapan Tuhan. Orang tua-orang tua yang kecewa dan pahit terhadap anak, jangan memberhalakan kepahitan itu, sehingga kita tidak fokus bagaimana bertumbuh menjadi anak Allah yang tiap hari, semakin hari semakin meningkat. 
    Kekecewaan dan kepahitan hidup jangan sampai menjadi halangan yang besar, sehingga kita tidak dapat meningkat dalam keberkenanan di hadapan Allah. Masalah kecewa kepada pendeta, ini juga masalah yang tidak ringan. Sampai tidak mau ke gereja. Jujurnya, protes kepada Tuhan sampai-sampai tidak mau ke gereja, atau bahkan tidak jarang yang bisa menjadi ateis dan bisa juga pindah agama. Tuhan Yesus memiliki 12 murid. Salah satu dari 12 murid itu berkhianat. Itu sudah hampir 10%. 
    Kalau dunia kita makin jahat, mungkin hamba-hamba Tuhan yang tidak benar bukan lagi 10%, tetapi bisa sampai lebih.
    9 min
  • Mengondisi Diri Bertumbuh
    Kita tahu bahwa kita tidak bisa menghindari apa yang disebut sebagai “proses bertahap” di dalam kehidupan. Dalam berbagai aspek, selalu ada unsur ini, dan selalu ada tatanan. Kita melempar biji mangga, besok tidak langsung bisa dipetik buahnya. Perlu waktu; bukan beberapa bulan, tetapi bisa sampai bertahun-tahun. Demikian, sewajarnya. Seorang anak bayi lahir, tidak seketika bisa berjalan. Melalui proses pertumbuhan, ia baru bisa merangkak, berdiri, berjalan tertatih-tatih, lalu bisa berjalan dengan baik, bahkan kemudian bisa berlari. Semua perlu proses. 
    Demikian pula di dalam kehidupan rohani. Pengenalan kita akan Allah, pertumbuhan kedewasaan, pertumbuhan kesucian kita; semua juga perlu proses. Oleh sebab itu, kita harus memperhatikan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk menjalani proses pertumbuhan. Jangan sampai kita mengalihkan perhatian kepada sesuatu, sehingga proses pengenalan kita akan Allah tidak bertumbuh secara wajar, normal, atau proporsional. Kita harus memperhatikan bahwa setiap hari proses itu masih dan sedang berlangsung. 
    Kita tidak bisa mengharapkan hari esok kita menjadi dewasa rohani, bisa hidup suci, hidup tak bercacat, tak bercela seiring dengan berjalannya waktu. Waktu yang tidak digunakan dengan baik, pasti menjadi sia-sia. Bahkan, tidak jarang seseorang menjadi makin rusak, makin negatif. Tanpa disadari banyak orang, mereka memang tidak bermaksud mau jahat, mau masuk neraka, mau melawan Allah, ingin tidak bertumbuh di dalam Tuhan, atau mau hidup di dalam dosa; tetapi karena hanya berharap atau berpikir bahwa suatu hari ia akan menjadi lebih baik, lebih suci, lebih mengenal Allah, serta diperkenan masuk surga, maka dia tidak memperhatikan proses yang berlangsung yang seharusnya dijalani dan dialami setiap hari. 
    Tuhan masih memberi kita waktu. Hari ini Tuhan memberi kita lembar hari yang baru, dan besok kita memiliki hari yang baru lagi, sampai waktu hidup kita selesai. Kita harus memperhatikan proses itu. Kita harus menyediakan diri untuk masuk dalam proses perubahan bertahap. Semakin mengenal Allah, semakin suci, semakin berkenan di hadapan Allah, semakin tak bercacat tak bercela, makin serupa dengan Yesus, makin sempurna seperti Bapa, semakin mengenakan kodrat ilahi. 
    Kita harus menyediakan diri untuk itu. Caranya, dengan membawa diri kita kepada situasi-situasi dimana iman kita bertumbuh. Kita harus mengondisi hidup kita untuk mengalami pertumbuhan iman. Sebaliknya, ada orang yang hanya mau jalan-jalan, nonton film, hanya bersenang-senang, sehingga hidupnya dikondisikan menjadi duniawi. Lalu, masuk dalam pergaulan orang-orang yang tidak takut Tuhan, yang ucapan dan perkataannya tidak membawa kepada kekudusan, sehingga ia mengondisi dirinya tidak bertumbuh dalam Tuhan, dan semakin serupa dengan dunia.
    Kita harus memperhatikan faktor-faktor yang membuat kita bertumbuh di dalam iman, yaitu pengenalan kita akan Allah, kesucian, keserupaan dengan Yesus, dan kesempurnaan serupa seperti Bapa. Sebaliknya, kita juga perlu melihat faktor-faktor yang menghambat, menghalangi, dan bisa menggagalkan pertumbuhan iman, yang tentu harus dijauhi dan dibuang. Maka, kita diperhadapkan kepada pilihan. Kehendak bebas kita “bermain” di sini. 
    Apakah kita memilih A atau B? A mengondisi kita tidak takut akan Allah, menjadi tidak rohani. Tetapi B mengondisi kita takut akan Allah, mengenal Allah. Memilih teman, pacar, apalagi jodoh. Hal itu mengondisi hidup kita. Apakah kita membawa diri ke langit baru bumi baru bersama Tuhan, atau ke api kekal? Siapa yang kita jadikan teman, itu akan mengondisi hidup kita. Apa yang kita lihat dan dengar, di mana kita berada; akan mengondisi kita untuk menjadi anak-anak Allah atau anak-anak dunia. 
    Memang kita harus hidup di tengah-tengah dunia. Kita tidak boleh menghindarinya, lalu pergi ke tempat-tempat sepi; artinya tidak hidup di tengah-tengah pergaulan masyarakat. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat karena kita harus bekerja,
    8 min
  • Menggandakan Usaha
    Kalau kita memperhatikan perkembangan zaman, kita melihat roda perubahan makin cepat. Penemuan-penemuan baru, kalau dulu hanya beberapa dekade baru muncul, 1-2-3-4 dasawarsa baru muncul, atau 20-30-40 tahun baru muncul; sekarang terus muncul hal-hal baru. Inilah yang dikatakan oleh Firman Tuhan bahwa di akhir zaman “pengetahuan akan bertambah-tambah.” Alkitab sudah mencatat dengan jelas adanya perkembangan itu. Adanya peningkatan pengetahuan dari manusia. 
    Tetapi di lain pihak, Tuhan juga membuka pikiran banyak orang atau orang tertentu untuk menerima hikmat Allah guna menghadapi dunia yang gelap. Kalau kita menghadapi gelapnya dunia hanya dengan pengetahuan mengenai Allah yang telah tersusun dalam doktrin di atas kertas, kita pasti tidak akan sanggup. Dunia kita yang gelap, yang rusak dengan tarikannya yang begitu kuat, tidak bisa dihadapi dengan pengetahuan doktrin dan teologi yang telah tersusun di atas kertas; walaupun sangat sistematis dan sangat argumentatif. 
    “Sistematis” artinya tertulis dengan sangat bagus; “argumentatif” artinya kokoh dalam alasan-alasan dan landasan-landasannya. Itu sudah beratus-ratus tahun dimiliki orang Kristen. Tetapi kita melihat grafik kehidupan kekristenan, makin hari makin merosot. Potret atau peta yang dapat disaksikan dengan jelas adalah Eropa; negara-negara Kristen yang hari ini seakan-akan tidak pernah mengenal Injil. Gereja-gereja ditinggalkan menjadi kosong. Manusia lebih memberi nilai tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan atau humanisme, tetapi mengeliminasi atau memisahkan Allah. Ini kejahatan. 
    Ketika seseorang tidak membutuhkan Allah, atau tidak merasa perlu Allah dan menjalani hidup dengan memisahkan diri dari Allah atau Allah dieliminasi atau Allah disisihkan, itu adalah kejahatan. Inilah yang membawa banyak orang masuk ke dalam api kekal. Mengerikan! Karenanya, kita harus mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, melipatgandakan waktu, usaha, dan mempertaruhkan segenap tenaga, pikiran hidup kita untuk mengenal Allah secara langsung. 
    Hamba-hamba Tuhan harus menerima wahyu-wahyu kebenaran Firman Tuhan yang efektif, berdaya guna untuk menghadapi dunia yang gelap. Hamba-hamba Tuhan harus benar-benar mencari Tuhan untuk menyampaikan apa yang Tuhan kehendaki; isi hati Tuhan yang Tuhan mau sampaikan kepada umat. Tidak terjebak dalam pembahasan teologi atau doktrin semata-mata. Pembahasan teologi tidak salah, tetapi jangan terjebak hanya membahas doktrin pengajaran dan asyik dalam menalar Allah, seakan-akan itu sudah merupakan hal yang cukup bagi Tuhan. 
    Yang penting, mestinya setiap individu menemukan Firman Tuhan, suara Tuhan yang berdaya guna dan efektif membuat seseorang bisa menjalani hidup di dalam kekudusan dan kesucian Allah. Kebenaran Injil akan terus menggiring orang percaya ke dalam Kerajaan Surga dan terlepas dari ikatan belenggu dunia. Maka dibutuhkan Firman yang murni, yang keluar dari hati Allah. Kekristenan tidak bisa dipertahankan, ditopang oleh doktrin-doktrin sesistematis apa pun, seargumentatif apa pun, karena itu adalah huruf-huruf mati dan bisa malah membunuh, memadamkan iman. Tetapi, Roh akan menghidupkan. 
    Kita melihat nuansa di tengah-tengah para hamba Tuhan dimana mereka hanya sibuk dengan pengetahuan tentang Allah. Mereka berharap dengan doktrin dan pengajaran yang dilestarikan gereja, mereka bisa melestarikan iman Kristen. Ternyata, semua hanya teori. Kenyataannya, banyak orang Kristen yang wajar seperti anak dunia dan serupa dengan dunia. Ini merupakan isyarat yang membahayakan. Kita harus menemukan suara Tuhan. Doktrin tidak dibuang, tetapi ada yang mesti direvisi.
    Alkitab berkata jelas di Matius 24, “Kejahatan akan bertambah-tambah. Karena kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang menjadi dingin.” Juga 2 Timotius 3:1-5, menunjukkan keadaan dunia yang jahat, dan keadaan dunia seperti ini tidak bisa dihadapi dengan kekristenan yang biasa-biasa saja. Tidak bisa dihadapi dengan kekristenan yang sekad...
    9 min
  • Mengobarkan Gairah Kesucian
    Hidup ini singkat. Tetapi, Tuhan dengan kebaikan-Nya menyediakan berkat yang tidak terbatas. Tuhan memberikan sarana supaya kita bertumbuh menjadi sempurna, tetapi apakah kita memanfaatkan momentum itu? Begitu di ujung maut, sekarat, baru kita tahu betapa berharganya waktu yang kita miliki. Bukan hanya satu jam, tetapi satu menit saja, berharga sekali. Jangan gunakan waktu untuk hal yang sia-sia. Seorang hamba Tuhan yang dipakai Tuhan, diurapi Tuhan dan berdampak, harus betul-betul mempersiapkan diri. Waktu yang akan menjawab nanti. Tidak perlu banyak bicara, sebab waktu yang akan menjawab di pengadilan Tuhan. 
    Memang banyak tontonan yang menarik, lagu yang menarik, film yang menarik. Memang tidak melanggar moral umum, jika kita menonton film atau menyanyikan lagu itu. Tetapi dengan melakukannya, kita kehilangan momentum, kehilangan kesempatan. Oleh sebab itu, kita harus mengobarkan gairah untuk mencapai kesempurnaan setinggi-tingginya, gairah untuk mencapai kesucian setinggi-tingginya, gairah untuk menjadi anak Allah yang berkenan setinggi-tingginya. Gairah itu harus kita kobarkan di dalam diri kita, sebab itu adalah pilihan. Dunia tidak bisa melarang kita, kalau sudah memilih ini. Setan tidak bisa melarang kita, kalau kita memilih untuk menjadi manusia atau anak-anak Allah yang berkenan. Dia bisa mengganggu, tetapi tidak bisa membatalkan kalau kita serius. 
    Sebaliknya, Tuhan juga tidak akan menghalangi. Kalaupun ada intervensi dari Tuhan, hanya sekadar mengingatkan agar kita tidak memilih dunia. Ingat, Adam tidak dicegah memetik buah yang terlarang. Tentu Allah sudah memberi peringatan, tetapi Ia tidak mencegah Adam. Maka, jika kita berada di depan layar monitor, searching mau lihat apa saja, Allah tidak mencegah. Itu keputusan dan pilihan kita. Maka, kita seharusnya bisa mengobarkan gairah untuk mencapai tingkat setinggi-tingginya dalam kesucian, berkenan seharum-harumnya di hadapan Tuhan, menjadi simfoni yang indah. Mulut ini bisa kita cegah untuk mengucapkan hal yang tidak patut atau kita biarkan mengucapkan, itu pilihan kita. 
    Jadi, kita bisa mengobarkan gairah kita. Tetapi, jangan kobarkan untuk yang lain. Mengingini barang, atau kita membakar gairah seks, libido. Pikirannya ke seks, tontonan film-film yang tidak patut, membayangkan hal-hal yang tidak senonoh. Kita menjadi rusak. Kita tidak bisa melarang burung terbang di atas kepala, tetapi kita bisa menghalau kalau dia mau membuat sarang. Ketika kita bangun tidur, rasanya tidak ingin berdoa. Kita kembali tidur saja, dan Tuhan tidak mencegah. Tetapi kalau kita bisa dan tidak melakukannya, kita kehilangan momentum. 
    Oleh sebab itu, ada langkah yang kita harus lakukan. Jangan keluar dari hadirat Tuhan. Kita harus terbiasa berdoa di hadirat Tuhan. Habis berdoa, tetap kita merasa di hadirat-Nya. Memang kalau tidak biasa, maka akan meleset. Kita akan “dibasahi” dengan hadirat Tuhan. Kalau kita dibasahi hadirat Tuhan, kalau kita menyanyi, kita memimpin puji-pujian, berkhotbah, maka suasananya akan “basah” dengan hadirat Tuhan. Ketika kita mengusir setan, kita jadi tidak takut. Baru mau berdoa, kalau memang benar ada setan, langsung bereaksi dia. Bahkan kita baru datang saja di tempat di mana ada kuasa gelap, setannya langsung bereaksi. Di mana kita berada, akan pekat dengan kabut kemuliaan Allah. 
    Banyak orang Kristen beragama, tetapi tidak ber-Tuhan. Apa cirinya orang ber-Tuhan? Satu, dia pasti punya jam doa. Bukan hanya mau tidur, doa; bukan hanya mau makan, berdoa. Dia harus punya waktu bertemu dengan Tuhan. Allah itu hidup, dan kita harus punya waktu berjumpa dengan Tuhan. Teolog bisa berjam-jam di ruang perpustakaan, tetapi jika disuruh 30 menit berdoa, tidak sanggup. Kalau kita berurusan dengan Tuhan, kita harus berdoa, bertemu Tuhan. Doa bukan hanya mau makan. Kalau kita ber-Tuhan, kita mesti siapkan waktu untuk bertemu Tuhan. Dua, kita akan mencari Firman. Tiga, kalau kita ber-Tuhan, kita pasti akan memperhatikan setiap peristiwa hidu...
    9 min
  • Membunuh Karakter Dosa
    Banyak orang berjuang untuk hal-hal yang sifatnya fana. Banyak orang berani mempertaruhkan waktu, tenaga, uang, demi martabat dan harga diri. Entah dalam bentuk perhiasan, pakaian, rumah, mobil, arloji, dan lain sebagainya. Tetapi, mereka tidak mengusahakan dengan serius bagaimana bisa mengalami perubahan untuk memiliki karakter Allah, sehingga berkodrat ilahi, mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau menjadi man of God; manusia Allah. Ini yang menjadi tantangan kita. 
    Bagi kita yang merasa telah menjadi orang yang gagal, yang merasa hancur karena satu dan lain hal, ingat! kita belum gagal. Kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang ditolak oleh Allah. Ketika Allah berkata, “Aku tidak kenal kamu,” itu kegagalan. Sekaya apa pun, setinggi apa pun pendidikannya, seluas apa pun kekuasaannya, secantik apa pun parasnya, habis. “Enyah, kamu dari hadapan-Ku!” begitu Tuhan berkata. Kita mungkin ditindas oleh pasangan, bukan hanya dikata-katai tetapi mungkin juga dianiaya. Tetapi di tengah-tengah pergumulan tersebut, justru kita sedang membangun karakter Allah. 
    Bagaimana kita bisa membunuh hasrat untuk dihormati manusia? Ini berkat rohani yang besar dan penting: jangan memberi makan, jangan mengumpani hasrat itu. Misalnya kita berpikir, “Wah, kalau saya naik mobil merk ini, keren.” Kalau kita mengusahakan mobil tersebut demi harga diri atau martabat, kita mengumpani, memberi makan hasrat dosa atau karakter dosa. Dan itu akan semakin kuat, semakin mencengkeram. Misalnya, “Wah, kalau saya jadi pimpinan di tempat ini, saya terhormat.” Bukan tidak boleh menjadi pimpinan. Boleh, tidak salah. Tetapi tunggu waktu Tuhan, biar Tuhan yang mengatur. 
    Tetapi kita tidak sabar. Kita berusaha melakukan tindakan-tindakan untuk mengudeta pemimpin kita dengan segala cara. Berarti kita sedang memberi makan hasrat untuk terhormat. Kalau kita berhasil, lain kali kita akan berusaha juga mendapat kehormatan yang lebih tinggi. Kalau di gereja, misalnya berhasil mengudeta pendeta lokal, nanti mengudeta ketua wilayah, persekutuan gereja-gereja di wilayah. Setelah berhasil jadi ketua wilayah, berpikir lagi bagaimana jadi ketua sinode. Terus akan berlanjut dan meningkat. Jadi, jangan memberi makan hasrat!
    Sama dengan dosa-dosa dalam diri kita. Ada hasrat-hasrat di dalam diri kita yang jika kita umpani, diberi makan, maka dia tambah kuat dan menuntut terus. Ini yang Tuhan ajarkan kepada kita, bagaimana cara membunuh kodrat dosa. Jangan memberi makan hasrat atau keinginan yang tidak sesuai kehendak Allah. Kita bisa mengenakan kodrat ilahi atau memiliki sifat-sifat atau karakter Allah, karena itu kehormatan kita. Dengan cara apa? Membunuh kodrat dosa, karakter dosa, karakter manusia, supaya karakter Allah bisa mencengkeram dan menguasai kita. Cara kita untuk bisa memiliki karakter Allah, yaitu dengan membunuh karakter dosa di dalam diri kita. Cara membunuh karakter dosa kita adalah jangan memberi makan. 
    Tuhan akan mengizinkan kejadian-kejadian yang memancing kita untuk bisa memiliki kepuasan daging. Banyak kesempatan berbuat dosa, kesempatan terhormat, dipuji, jangan digunakan. Orang memuji kita, tidak salah, tetapi jangan bermaksud mencari pujian. Kalau mau beli barang dan memang dibutuhkan, beli saja. Tetapi jangan membangun pikiran “kalau pakai barang ini, aku lebih dinilai baik.” Tidak salah jadi pemimpin, jadi pejabat, tidak keliru memiliki pangkat dan gelar. Memang, sebaiknya kita memiliki semua itu untuk kepentingan Kerajaan Allah. Tetapi jangan kita mengingini jabatan, kedudukan, pendidikan, gelar, demi memiliki kewenangan untuk dinaikkan. Itu sikap yang salah. 
    Kita akan memiliki kesempatan-kesempatan di mana kita dapat meninggikan diri. Kesempatan itu jangan kita gunakan. Bahkan situasi-situasi ekstrem yang memancing kita untuk bertindak. Ingat yang harus kita lakukan. Yang pertama, diam. Yang kedua, diam. Ketiga, diam lagi. Itu akan sangat mengondisi kita membunuh karakter dosa. Dalam hal ini,
    9 min
  • Kenikmatan yang Mengganggu
    Paulus berkata, “Aku takut kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular dengan kelicikannya.” Tuhan membuat analogi atau sebuah bentuk paralel antara ketidaksetiaan kepada Kristus dengan ketidaksetiaan Adam Hawa kepada Allah, dengan makan buah. Dari ayat ini, kita menangkap satu hal bahwa kita tidak boleh memetik sesuatu apa pun yang kita merasa nikmat. Banyak hal yang bisa kita petik, yang darinya kita merasa nikmat. 
    Seharusnya yang kita nikmati hanya satu: kehadiran Tuhan. Di luar itu, tidak ada. Tetapi kita masih bisa menikmati apa pun dalam arti tidak terikat. Coba kita bergumul terus, sehingga kita bisa tidur nyenyak di atas dipan, papan keras, atau springbed. Makan apa pun juga enak. Tetapi kalau sampai terikat di hati, tidak boleh selain Tuhan dan kehadiran-Nya. Tuhan tidak menghendaki ada seseorang atau sesuatu yang kita nikmati yang mengganggu keintiman kita dengan Tuhan. 
    Jadi, kita mengerti mengapa Tuhan berkata, “Kalau kamu tidak membenci ayahmu, ibumu, saudaramu laki-laki, perempuan, kamu tidak layak bagi-Ku.” Kelihatannya, ini berlebihan. Tetapi, kalau kita masuk dalam pergumulan pertumbuhan iman, pertumbuhan mengenal kebenaran, pertumbuhan perubahan kodrat, kita tidak menganggap ini berlebihan. 
    Kalau kita masih terikat dengan kesenangan-kesenangan kita sendiri, maka kita belum mengenakan gairah Yesus. Kita harus berjuang terus agar bisa melakukan gairah Yesus, sehingga bisa berkata: “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Sampai tingkat itu, kita baru bisa mengerti yang dimaksud Paulus dalam Kolose 3:2, “Aku sudah mati, hidupku tersembunyi bersama dengan Allah di dalam Kristus.” Orang-orang seperti ini tidak akan mengingini sesuatu yang jika Yesus hidup di zaman kita sekarang, Dia tidak mengingini itu. Kita harus menyambutnya dan berkata, “Aku mau, Tuhan. Belas kasihani aku. Tolong aku sampai pada tingkat ini.” 
    Jika demikian, baru kita bisa merasakan kerinduan bertemu Tuhan. Sebab kalau tidak, kita tidak akan berani bertemu Tuhan. Kalau hidup kita masih tidak bersih, kita tidak mungkin bisa ada di surga. Ibarat ikan air tawar masuk air laut; atau ikan air laut masuk ke air tawar, tidak mungkin atau tidak bisa karena pasti mati. Kita tidak mungkin merindukan Tuhan, sementara “si aku” dalam diri kita masih belum dimatikan. Jika belum mengenakan gairah Yesus, tidak bisa. Sering kita hanya terlarut dalam perasaan sentimentil semata dan itu sebenarnya menipu.
    Alkitab berkata, “Laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, bersatu dengan istrinya. Mereka menjadi satu daging.” Kalau kita, harus meninggalkan dunia supaya seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 6:17, menjadi satu roh dengan Allah. Tidak meninggalkan dunia, tidak akan bisa satu roh. Padahal, kalau kita meninggalkan percintaan dunia, tidak akan menjadi miskin juga. Tuhan pasti akan memelihara kita, sebab Tuhan yang Empunya langit dan bumi. 
    Tuhan berkata, “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Kalau “dua tuan,” kita akan membahagiakan yang satu dan melupakan yang lain. Artinya hanya Dia yang kita kasihi dan tidak memperdaya (mengeksploitasi) Tuhan. Kita hanya mau menyenangkan Tuhan. Hal ini tidak bisa dibangun dalam satu hari. Maka, kita harus betul-betul serius mendesain waktu, membuat jadwal waktu bertemu Tuhan. Dengan sengaja, sadar, buatlah itu! Jangan lagi menonton yang tidak perlu, tetapi dengarkan khotbah. Jika melihat yang tidak perlu dilihat, kita hanya membuang waktu, dan mengotori pikiran dengan hal-hal yang tidak perlu. Akibatnya, kita menjadi tidak rohani. Sebagus apa pun khotbah yang kita dengar, tidak akan menyentuh hati kita.
    Tuhan mau kita monoteis; hanya Tuhan. Maka, tidak boleh ada sesuatu atau seseorang yang menggantikan tempat Tuhan di dalam diri kita. Hanya Tuhan saja di dalam diri kita. Mudah melakukannya saat merasa hidup kita menderita,
    9 min
  • Kehormatan Manusia
    Kekayaan yang sesungguhnya adalah ketika kita memiliki sifat-sifat Allah atau karakter Allah. Tidak ada orang yang lebih terhormat daripada orang yang memiliki karakter ilahi. Orang yang memiliki karakter ilahi adalah orang yang benar-benar terhormat. Kehormatan yang dimilikinya, itu kehormatan kekal. Kehormatan abadi, bukan kehormatan sementara. Manusia pada umumnya atau hampir semua manusia, berusaha menjadi terhormat di mata manusia lain. Misalnya, seorang istri pasti ingin terhormat di mata suaminya. Coba kalau suaminya menghina dengan kata-kata yang merendahkan, maka istri akan sakit hati, dan tidak jarang memilih cerai daripada direndahkan. Umumnya, manusia tidak mau direndahkan. 
    Pada umumnya, orang mau dihormati. Sederhananya, mau dimanusiakan. Supaya menjadi terhormat, orang berusaha memiliki nilai lebih di mata manusia. Misalnya, menikah dengan orang yang terhormat, memiliki kendaraan yang harganya tinggi, memakai pakaian modis, memakai perhiasan mewah, memakai arloji yang bermerk, memakai tas yang bermerk, padahal KW1, KW2; bukan asli. Karena bergaul di tengah-tengah sosialita yang semua pakai barang mewah, dia juga mau pakai barang mewah.
    Tetapi, karena tidak sanggup beli di plaza-plaza mahal, dia beli di pinggiran kota atau di tempat-tempat tertentu yang jual barang-barang palsu. Itu sebenarnya penipuan terhadap diri sendiri. Jadi, kalau kita membeli barang dengan merk palsu dan itu di luar sepengetahuan kita, tidak masalah. Tetapi ada orang yang beli barang karena merk, padahal itu palsu. Orang-orang seperti ini kasihan. Dia tidak ingin dipandang orang miskin, tidak mau dianggap tidak modis atau kampungan, makanya dia berusaha untuk menyesuaikan diri. 
    Kita adalah anak-anak Allah, warga anggota keluarga Kerajaan Surga. Kita terhormat karena kita menjadi anak-anak Allah. Jangan ikut berkompetisi. Jangan kumpul-kumpul dengan orang-orang seperti itu. Orang-orang yang jor-joran merk tas, jor-joran modis pakaiannya, jor-joran cat rambutnya, jor-joran kosmetiknya. Kehormatan mereka bisa dibayar dengan uang. Barang itu bisa dibeli pakai uang. Jadi, kehormatannya seharga uang. Padahal, manusia ini makhluk yang luar biasa; makhluk yang lebih dari makhluk lain. 
    Hendaknya kita jangan ikut mencari kehormatan dengan cara-cara seperti itu. Kehormatan kita bukan pada penampilan, bukan pada barang. Bahkan bukan juga pada kedudukan atau pangkat. Tidak salah punya barang tertentu, tidak salah memiliki gelar, pangkat, dan sebaiknya punya untuk kepentingan Kerajaan Surga. Tetapi kehormatan kita adalah sebagai anak-anak Allah yang berkarakter seperti Bapa, memiliki sifat-sifat Bapa; memiliki karakter Tuhan Yesus. Itulah kehormatan kita yang sesungguhnya. Dan kehormatan ini abadi, kehormatan ini kekal. Karenanya, kita harus berani membunuh, mematikan semua hasrat, keinginan untuk dihormati. Itu sebenarnya kodrat dosa di dalam diri kita. Hal itulah yang membuat kita mencari kehormatan. Misalnya cara kita berpenampilan; tidak salah kalau kita harus berpenampilan baik, tetapi kalau demi harga diri dan martabat, itu yang salah. 
    Kita harus memeriksa diri sendiri dengan jujur. Kita harus memeriksa diri kita sendiri dengan teliti. Kita harus berterus terang pada diri kita sendiri, apakah kita memiliki niat-niat itu atau tidak. Ingat, berpenampilan baik, itu harus. Memiliki barang ini, barang itu, jika dibutuhkan, tidak salah. Tetapi kalau memiliki sesuatu demi kehormatan, itu yang berdosa. Kehormatan kita tidak pada barang atau penampilan, performance fisik kita. Kehormatan kita adalah ketika kita memiliki karakter ilahi. Karakter ilahi pasti menjadi terhormat di mata Allah, terhormat di mata para malaikat, dan tentu di tengah-tengah orang-orang saleh, kita juga diakui dan diterima sebagai orang terhormat. Tetapi bagi orang-orang fasik, orang-orang jahat, terutama mereka yang dipakai setan untuk merusak pekerjaan Tuhan atau mau menghancurkan hidup kita, mereka tidak melihat kesalehan kita sama sekali.
    8 min
  • Bisnis Tuhan
    Banyak manusia—termasuk orang Kristen—telah terbawa oleh pengaruh dunia. Seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 15, “Mari kita makan minum, sebab besok kita mati.” Seakan-akan hidup itu hanya sekali, yaitu di dunia ini. Setelah mati, bukan kehidupan. Padahal, justru kehidupan yang benar itu nanti di balik kubur. Maka Tuhan Yesus berkata, “kamu bukan berasal dari dunia ini. Dunia bukan rumahmu.” Sekalipun demikian, mereka masih nekat, tidak mau mengerti. Tetapi nanti kalau mati, mau masuk surga 
    Memang, tidak ada orang yang mau masuk neraka, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mau masuk surga. Mereka memandang masuk surga itu gampang karena sudah percaya Yesus. Ini menyesatkan. Seharusnya kita senantiasa bebenah diri yang menimbulkan perasaan krisis positif. “Kalau aku di hadapan Tuhan, apa penilaian Tuhan terhadap diriku?” Teolog bisa menilai Tuhan, menalar Tuhan, melogikakan Tuhan. Tetapi benarkah mereka benar-benar mengerti apa yang dipikirkan Tuhan? 
    Banyak orang beralibi, “Kalau bicara tentang Tuhan, ini hal yang tidak kelihatan.” Coba baca Alkitab, tokoh-tokoh iman yang menjadi potret hidup orang-orang yang layak jadi manusia Allah, mereka berurusan dengan Allah yang tidak kelihatan. Itu bukti nyata. Abraham bisa meninggalkan tanah air, keluarga, kampung halaman, ke negeri yang dia tidak tahu. Padahal, Lembah Sumeria pada zamannya adalah lembah yang paling subur dan metropolis. Di luar itu, padang belantara. Namun, Abraham dapat percaya kepada Yahweh; berurusan dengan yang tidak kelihatan. 
    Contoh yang benar yaitu Tuhan Yesus yang terus bicara mengenai Bapa. Lalu, Paulus yang meneladani hidup Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen yang sebenarnya belum bertemu Tuhan. Setiap kita harus benar-benar menemukan apa penilaian Tuhan terhadap diri kita. Pastikan Tuhan berkata, “Aku berkenan kepadamu.” Kalau tidak, harus dikejar! Milikilah perasaan krisis. Jangan seperti orang-orang yang tidak peduli apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Untuk hal-hal fana saja tidak boleh, apalagi untuk kekekalan.
    Kalau kita berkata, “sikat dulu, urusan belakangan” menyangkut kekekalan, berarti kita sudah mati, dan nanti di hadapan pengadilan Tuhan, kita tidak bisa memperbaiki diri. Jangan anggap remeh hal ini! Kalau kita melamar di suatu kantor, tetapi tidak diterima, masih ada peluang di kantor lain. Tetapi kalau tidak diterima Tuhan, mau ke mana? Tuhan itu Esa. Hanya Tuhan yang bisa menolong kita. Hanya satu Allah yang benar, Elohim Yahweh, dalam Yesus Kristus. 
    Kalau kita sampai tidak memiliki Dia, berarti kita hanya memiliki Iblis dan ia kejam sekali. Iblis sekarang berwajah manis, lewat berbagai kesenangan yang ditawarkan, yang membuat kita memiliki krisis fana; belum punya rumah, belum punya jodoh. Mestinya krisis kita adalah: “Aku belum bersekutu dengan Allah secara benar.” 
    Soal kuat tidak kuat gairah kita mencari Tuhan, itu tergantung kita. Kita yang harus membangkitkan gairah untuk Tuhan. Jangan sampai hidup kita ditenggelamkan, dibelenggu, disandera oleh berbagai krisis. Kita harus membangkitkan perasaan krisis yang benar. Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” Sejatinya, di dalam pernyataan ini Tuhan membangkitkan perasaan krisis. Apa gunanya kamu sukses karier, studi, rumah tangga, tetapi kamu binasa? Atau orang-orang yang kau kasihi dan dirimu terpisah di kekekalan. Apa artinya? 
    Kalau kita masih bersikap kurang ajar terhadap Tuhan, tidak menghargai nilai-nilai kekekalan, dengan berbagai perasaan krisis yang hanya berorientasi kepada hal-hal fana, kita binasa. Tuhan Yesus berkata, “Jangan takut hai, kawanan kecil. Bapamu berkenan memberi kerajaan itu kepadamu.” Diteguhkan lagi oleh Yohanes 14:1-2, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”
    Ironis,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…