Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Altar
    Jujur saja, terkadang kita mengatakan percaya, tetapi hati kita kecut karena kita tidak memiliki “altar” di dalam hidup kita. Banyak orang mengaku percaya kepada Tuhan dengan mulutnya, tetapi apakah pernah bertemu dengan-Nya? Apakah menunggu dapat penglihatan dulu baru kita percaya? Perjumpaan dengan Tuhan adalah sesuatu yang natural, yang mestinya tidak dipandang sebagai supranatural atau “mistik.” Perjumpaan itu harus dialami oleh setiap orang yang mengaku percaya. 
    Allah bukanlah ilmu yang masuk di pikiran semata. Ia adalah Pribadi yang hidup yang harus ditemui. Salah satu ciri orang yang tidak pernah atau belum pernah bertemu dengan Tuhan adalah dia tidak tahan berdoa. Dia bisa berdoa dengan kalimat-kalimat doa, tetapi tidak bisa duduk diam di kaki Tuhan 1 jam saja. Bagi orang yang mengalami Tuhan, doa itu bukan kewajiban, melainkan kebutuhan. Sudah berapa tahun kita menjadi Kristen namun tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan?
    Kalau mau bertemu pejabat untuk suatu kepentingan, kita datang ke kantornya dan sering kali harus menunggu lama, bahkan tidak jarang diminta datang kembali nanti. Kita tidak sakit hati; pulang, besok datang lagi. Kita melakukannya karena kita punya kepentingan. Untuk pejabat saja kita bisa rendah hati, rela begitu. Mengapa untuk Tuhan, satu jam, dua jam, tiga jam saja kita tidak bisa duduk diam menantikan Dia? Sampai kita punya pengalaman pribadi; personal experience. Jangan bicara tentang Tuhan kalau tidak pernah bertemu Dia. 
    Sampai kita tidak akan mudah berbuat dosa, tidak akan mudah mengalah dengan keadaan. Ironis, sebagian orang mungkin belum bertemu Tuhan, tetapi puas dengan pengetahuan tentang Tuhan. Pengalaman itu hanya pengalaman keberagamaan, pengalaman liturgi, belum pengalaman langsung muka dengan muka dengan Tuhan dalam personal experience. 
    Kita tidak tahu apa yang dilakukan Abraham dengan altar, tetapi dia memiliki fokus kepada Tuhan. Dia memiliki kegentaran, hormat akan Allah, ketidakcurigaan akan Allah. Perjumpaan yang membuat seseorang menghormati Allah, tidak mencurigai; memercayai Pribadi-Nya. Tuhan itu agung, mulia. Jika kita bisa menjumpai Allah, itu luar biasa! Orang yang boleh masuk ke Rumah Bapa adalah ia yang bertemu dengan Tuhan. 
    Kalau Abraham membangun altar bagi Yahweh di mana dia mendirikan kemah, tetapi kita membangun altar di hati. Firman Tuhan mengatakan di 1 Korintus 6:19-20; 3:16, bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Ada altar di hati kita. Tetapi mungkin altar kita berdebu, sudah seperti hutan belantara yang ditumbuhi semak duri. Altar kita harus serius disediakan. Bukan kalau lagi mau doa, kita berdoa. Nanti kalau lagi senang, berlutut. Sudah bosan, kita sudahi. Sering kita tidak menghormati Tuhan dengan cara seperti itu. Kalau kita benar menghormati Tuhan, kita pasti membangun altar yang hidup.
    Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan, “Allah Mahadir.” Bagaimana bisa? Ada Bapa di surga. Tetap ada tempat yang mahasuci di tempat mahatinggi, di terang yang tidak terhampiri. Tetapi Roh-Nya, pancaran-Nya itu memenuhi jagat raya. Kehadiran Allah di dalam Roh-Nya. Roh Kudus yaitu cara berada Allah memenuhi jagat raya. Di mana pun, itu akan menghantar suara kita sampai takhta Allah. Kalau kita berkata, “Bapa kami yang di surga,” tetap terarahkan ke atas. Hal ini akan tercipta di dalam hidup altar kita kalau kita melatihnya setiap hari. 
    Sebenarnya belajar berdoa itu tidak mudah. Kita bisa membaca buku tentang bagaimana berdoa, tetapi berdoa yang merupakan dialog, perjumpaan dengan Allah, itu tidak mudah. Harus lewat pengalaman, perjuangan, mengalahkan kejenuhan, menghilangkan keinginan-keinginan lain, supaya bisa terfokus kepada Tuhan. Tidak heran kalau Abraham memiliki karakter Allah, yang kemudian hari diperagakan oleh Yesus. Ternyata, Abraham sudah diimpartasi karakter itu dari perjumpaan demi perjumpaannya dengan Yahweh. 
    Orang yang bertemu dengan Tuhan secara nyata,
    9 min
  • Jejak Hidup
    Nebukadnezar mengakui Allahnya Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego lebih dari semua dewa. Ia bisa melihat jejak Allah yang sangat hidup dan nyata di dalam hidup mereka. Mereka tetap teguh pada integritas percayanya kepada Tuhan, walaupun mereka dapat mengalami kematian. Tentu akhirnya, Tuhan yang menolong mereka selamat dari dapur api. Sungguh kesaksian hidup yang tak terbantahkan, luar biasa penyertaan Tuhan! Kalau kisah hidup kita ditulis, apakah ada jejak Tuhan di situ? Atau jejak yang lain? Orang yang jejak rekam hidupnya tidak disertai Tuhan, tidak mungkin masuk surga. Ketika kita berkomitmen mencari Tuhan lewat khotbah, doa bersama, doa pagi, selalu merenungkan dan menghayati Tuhan, kita tidak mungkin tidak bertumbuh untuk lebih berkenan. Kita tidak mungkin tidak menunaikan pekerjaan Allah. 
    Seseorang yang berinteraksi dengan Allah, tidak mungkin tidak bertambah lebih kudus. Sebab kalau ia setiap hari berdoa, sulit baginya untuk berbuat dosa. Bisa, tetapi sulit. Orang yang tiap hari datang menyembah Tuhan, berdoa, tidak mungkin dia bisa hidup dalam dosa. Itu tidak mungkin. Orang ini, tidak mungkin tidak bertambah berkenan. Satu hal lagi, tidak mungkin ia tidak dibela oleh Tuhan. 
    Ketika seorang pendeta atau siapa pun mengesankan seakan-akan dia punya eksklusivitas, keistimewaan di hadapan Allah sehingga dia bisa mengalami Allah, maka jemaat menjadi “mental blok” dan berkata, “Saya tidak bisa. Kalau dia, bisa. Memang dia istimewa.” Jangan berpikir dangkal! Berinteraksi dengan Allah, mengalami Allah itu bukan karunia. Itu hak setiap orang percaya. Allah membuka tangan-Nya, seakan-akan Allah berkata, “Siapa yang mau berjalan bersama-Ku?” Tetapi Allah punya integritas. Orang itu harus memenuhi firman-Nya, “Haus dan lapar akan kebenaran.” Kerinduan kita kepada Tuhan sampai harus menyentuh-Nya. Kita pikirkan Tuhan siang dan malam. 
    Pasti kalau kita berurusan dengan Tuhan, Tuhan membawa kita ke standar-Nya. Memang bisa membuat kita frustasi, sebab kita tahu apa yang baik, tetapi daging kita sering kali masih menarik-narik kita melakukan apa yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Itulah pergumulan, dan itu indah. Mestinya standar hidup yang benar adalah kita hidup hanya untuk menemukan Tuhan. Kita harus seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya. 
    Sebesar apa masalah kita? Serumit apa problem yang kita hadapi? Kalau Allah yang besar di pihak kita, karena kita di pihak Dia, apa masalah besar yang tidak bisa diselesaikan oleh Allah? Sejatinya, persoalan apa pun bisa kita selesaikan dengan syarat: berjalan dengan Tuhan. Segala kuasa, kerajaan, dan kemuliaan di dalam tangan Allah yang besar. Kalau kita percaya Allah itu hidup, Allah hadir, Allah nyata, kita harus berusaha menemukan Dia, berinteraksi, berjalan bersama Tuhan. Kita tidak perlu membujuk-bujuk Tuhan, berteriak-teriak minta tolong. Tuhan pasti menolong. 
    Jadi, apa pun masalah kita, apa pun kebutuhan kita, jawabannya adalah Tuhan. Tuhan punya banyak jalan untuk memberikan kita pertolongan. Tuhan punya banyak cara untuk meloloskan kita dari bahaya. Akhirnya kita tahu betapa Tuhan itu nyata menolong kita. Mungkin kita pernah bimbang atau bingung karena Allah tidak kelihatan dengan kasat mata. Tetapi ingat! Agama lain juga punya dewa dan ilah, yang tidak nyata juga, namun mereka setia. Mereka bisa menunjukkan kesetiaan mereka dengan tetap memercayai ilah, dewa, atau allahnya dan melakukan kewajiban agama mereka. 
    Allah kita adalah Allah yang menginginkan kita percaya walau tidak melihat. Ini mengasyikkan, di mana Allah seakan-akan memperlakukan kita seperti memperlakukan orang lain yang tidak sungguh-sungguh mencari-Nya. Sejatinya, pasti beda, tidak akan sama. Nanti kita akan melihat tindakan-tindakan Tuhan yang membedakan kita dengan mereka. Cerdas sekali Tuhan menyatakan kehadiran-Nya di dalam hidup kita. Pasti Tuhan membedakan. Tuhan pasti nanti akan bertindak. Tindakan Tuhan itu seperti tidak terbaca orang.
    9 min
  • Terang yang Menakjubkan
    Kita harus sungguh-sungguh bertanya kepada diri kita sendiri dan mempertimbangkan apa penilaian orang lain terhadap kita; penilaian dari pasangan, anak, saudara, tetangga dan lainnya. Memang kita tidak boleh bergantung pada penilaian orang, sebab orang bisa suka-suka sendiri menilai kita. Memang faktanya, tidak jarang orang lain yang membuat warna atau cerita sendiri mengenai kita. Tetapi kita juga harus serius mempertimbangkan, “Mengapa orang bersikap demikian terhadap saya? Mengapa anak-anakku tidak berubah?” Kita harus mempertimbangkan hal ini dengan serius. Kalau kita percaya Allah itu hidup, Allah itu nyata, maka kita harus sungguh-sungguh berjuang untuk benar-benar bersentuhan dengan Allah dan mengalami perjumpaan dengan Allah. 
    Setiap orang pasti memiliki pengalaman pribadi yang khas, unik, dan tidak ada duanya. Faktanya, tidak ada dua orang yang karakternya sama persis, dan tidak ada dua orang yang memiliki pengalaman hidup yang sama, maka setiap orang punya karakter, karakteristik yang unik, yang tidak ada duanya, dan memiliki pengalaman yang berbeda dalam menjalani hidup. Di dalam setiap pribadi, Allah mau berurusan dengan masing-masing individu itu. Maka, kita harus serius untuk benar-benar mengalami Allah. Kita harus ke gereja untuk mendengar tuntunan, bimbingan dari hamba Tuhan yang sudah mengalami Tuhan. Bukan sekadar memiliki gelar, lalu memindahkan isi buku, isi literatur dalam khotbahnya. 
    Pertama, ia harus benar-benar menyampaikan suara Tuhan. Dan yang kedua, pasti ada spirit dari hamba Tuhan itu yang akan memengaruhi pendengarnya; ada impartasi spirit. Terlebih lagi, kalau hamba Tuhan tersebut berinteraksi dengan Allah, maka dia pasti membawa kehadiran Tuhan; shekinah glory. Sesungguhnya, hal ini yang seharusnya menjadi persoalan dan tanggung jawab berat bagi para hamba Tuhan. Bagaimana kehadirannya menjadi kehadiran Tuhan, menjadi jurubicara Tuhan. Jadi kalau pemberitaan Firman hanya menyampaikan apa yang ada di buku, maka hal itu tidak menggerakkan jemaat untuk mencari Allah dan berinteraksi dengan Allah, sehingga jemaat hanya memiliki pengalaman keagamaan, pengalaman liturgi, tetapi tidak ada pengalaman dengan Tuhan. 
    1 Petrus 2:9 mengatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Terang dalam bahasa Yunaninya adalah phos thaumaston (Ingg. marvelous light). Masalahnya, bagaimana kita dapat memancarkan terang Tuhan? 
    Kita tidak perlu mencari situasi, atau menskenario keadaan supaya terang kita dapat dilihat orang. Karena firman Tuhan mengatakan Tuhan tidak akan menaruh pelita di bawah gantang atau mangkuk besar. Tetapi akan ditaruh di tengah rumah untuk menerangi sekitarnya. Jadi sebenarnya kita cukup berkata, “Pakailah aku, Tuhan.” Tuhan pasti lebih bersemangat, lebih bergairah, lebih antusias dari kita untuk memakai kita. Masalahnya, apakah kita bisa ditampilkan? 
    Maka, yang kita lakukan sekarang adalah bagaimana kita benar-benar mencari Tuhan. Mendengar Firman yang baik, yang menggerakkan kita, mendorong kita untuk berinteraksi dengan Allah dalam hari-hari hidup kita. Sebab teologi yang benar akan memaksa orang untuk mengimplikasikan pengajaran itu. Jadi bukan hanya menjadi khasanah dalam kognitif pikiran kita, tetapi menggerakkan kita dalam perbuatan yang nyata.
    Ketika Musa turun dari Sinai, wajahnya bercahaya sampai orang Israel tidak sanggup melihat wajahnya, dan mereka menutupi mata mereka. Begitu terangnya cahaya itu. Orang yang berinteraksi dengan Allah, pasti memiliki terang yang menakjubkan. Sehingga, orang bisa mengatakan, “Sungguh Allah nyata di dalam hidupmu.” Tentu orang-orang yang memang layak diberkati. Tetapi pasti juga ada orang-orang yang memandang bukan Allah yang menyertai kita, melainkan setan; karena mereka memandang secara negatif.
    9 min
  • Hidup yang Memancarkan Kemuliaan
    Kalau kita benar-benar memercayai bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup, yang nyata, dan Mahahadir, maka keyakinan tersebut pasti akan terpancar nyata dalam hidup; yang bisa dilihat dan dirasakan orang di sekitar kita. Sejujurnya, ada orang-orang yang bingung dan bisa frustrasi. Baik orang di luar gereja, maupun orang di dalam gereja, ketika melihat orang Kristen yang kelihatannya aktif dalam kegiatan pelayanan—apakah dia seorang jemaat yang rajin ke gereja, apalagi kalau menjadi aktivis, terlebih lagi kalau menjadi rohaniwan atau pendeta—tetapi tidak memancarkan kehidupan yang membuktikan bahwa Allah ada dalam hidupnya. Kehidupan mereka tidak memancarkan bahwa Allah itu hidup, nyata, dan hadir dalam hidup mereka.
    Orang bisa menjadi bingung dan bertanya-tanya, “Tuhan macam apa yang dimiliki orang ini, sehingga keyakinan yang dimilikinya tidak berdampak?” Memang ada orang-orang yang tidak bingung—khususnya orang di luar gereja—dan bisa berkata, “Masa bodoh, itu bukan urusanku.” Apalagi ketika mereka juga memiliki keyakinan dan memandang agama Kristen itu sesat, agama yang salah. Mereka bisa malah senang melihat realitas itu. Sebab mereka bisa memiliki semacam verifikasi, penegasan, pembuktian bahwa memang Allahnya orang Kristen itu salah, agama Kristen itu keliru. Yang akan lebih bingung dan bisa frustrasi adalah jemaat yang melihat orang rajin ke gereja—apalagi menjadi aktivis, atau pendeta—tetapi hidupnya tidak memancarkan kehidupan yang membuktikan bahwa Allah itu ada. 
    Tentu ada juga orang-orang Kristen yang tidak frustrasi, karena mereka tidak memiliki standar. Kalaupun mereka menghormati pendeta, aktivis atau orang Kristen yang rajin ke gereja, penghargaannya itu didasarkan pada aktivitas, kegiatan gerejani semata. Tetapi orang-orang Kristen yang belajar untuk hidup benar, sungguh-sungguh mencari Tuhan dan mau hidup berkenan di hadapan Tuhan, mereka bingung. Bahkan bisa frustrasi. Mereka bertanya-tanya, “Apa yang dapat kuperoleh dari orang-orang yang mestinya menjadi teladan, contoh, memancarkan kemuliaan Allah, memancarkan kehadiran Tuhan?” Sampai-sampai mereka berkata, “Omong kosong semua ini.” 
    Lebih frustrasi lagi kalau papa mamanya aktif di gereja, apalagi sebagai pendeta atau Gembala Sidang. Kefrustrasian tersebut bisa diwujudkan dengan hidup sembarangan. Maka tidak heran jika anak aktivis, anak pendeta mengonsumsi narkoba, hidup dalam pergaulan bebas, dan lain sebagainya. Hal itu karena mereka tidak “tergarami.” Kiranya ini menjadi peringatan untuk kita semua. Terutama untuk para rohaniwan—apalagi sebagai Gembala Sidang—ada harga yang harus dibayar dan mahal sekali. Kita harus menjaga kehidupan agar tidak menjadi batu sandungan. 
    Tentu saja setan atau kuasa kegelapan mengerti bagaimana seseorang dijadikan batu sandungan. Misalnya warna kita putih, tetapi dihembuskan warnanya merah. Ini yang namanya character assassination; pembunuhan karakter. Seorang hamba Tuhan tidak boleh takut sama sekali terhadap character assassination. Yang penting, dia benar. Makin benar, pasti makin dibela Tuhan, dan akan dibimbing untuk hidup lebih benar. Hal itu adalah berkat. Waktu akan membuktikannya. 
    Maka, kalau kita ingin anak-anak kita menjadi rohani, takut akan Allah, kita harus memancarkan kehadiran Allah dalam hidup kita. Anak bisa menjadi peta atau potret dari kehidupan orang tuanya. Tahukah kita bahwa bulan itu sebenarnya tidak memiliki cahaya? Kalau kita melihat bulan bercahaya, itu hanya memancarkan terang yang diterima dari matahari. Seseorang yang benar-benar berinteraksi dengan Allah, maka dia akan memancarkan terang Allah. Kita mewarisi kekristenan yang meleset, karena tidak serius memperkarakan apakah hidup kita telah memancarkan terangnya Tuhan atau tidak. 
    Sebaliknya, manusia yang serupa dengan dunia ini akan memancarkan warna dunia. Dari penampilan, sikap, perkataan, apa yang dikenakan, gaya hidup, dan perilaku. Firman Tuhan mengatakan di dalam Roma 12:2 agar kita...
    8 min
  • Situasi Pahit yang Menyelamatkan
    Kalau keadaan kita hari ini seperti terpuruk, sebenarnya kita bukan sedang berada di bawah. Kita harus melihat dari perspektif atau kacamata iman. Dulu kita memiliki rumah besar, tetapi sekarang rumah kita kecil. Apakah berarti kita sedang terpuruk? Tidak. Justru ketika rumah kita kecil, kita menjadi rendah hati, kita mencari Tuhan. Lebih dahsyat lagi, kita jadi merindukan langit baru bumi baru. Kita jadi punya kualitas yang lebih baik. Ibarat roda berputar dalam kehidupan, kita bukan sedang berada di bawah. Memang kalau dilihat dari kacamata umum, bisa dikatakan demikian. Tetapi dalam kekristenan, itu tidak tepat. “Hidup itu seperti roda yang berputar,” mungkin secara ekonomi, bisa. Dulu kaya, sekarang jadi miskin, nanti kaya lagi, bisa. Jangan melihat hidup dari sudut pandang yang salah. Kita harus selalu memandang hidup dari sudut pandang kekekalan. 
    Jangan membandingkan keadaan kita dengan keadaan dulu yang kita pandang lebih baik. Waktu punya rumah misalnya 2000 meter, penghasilan per bulan bisa sampai 200 juta. Tetapi, sekarang hanya 20 juta. Waktu itu kita belum dewasa dan juga sedang menuju kegelapan abadi, yaitu api kekal. Tuhan membawa kita ke situasi seperti hari ini, sehingga kita menjadi lebih rendah hati, memperkarakan hidup ini dengan Tuhan, kita mau mendengar firman Tuhan. Kita diarahkan ke langit baru bumi baru. Apakah itu berarti nasib kita malang? Tidak. 
    Pemberitaan firman seperti ini sering lebih mendarat di hati orang-orang yang menderita. Orang yang gagal, jatuh miskin, di ujung maut, terbuang, terkhianati, dan tidak dihargai oleh sesamanya. Orang-orang yang “patah hati dengan dunia.” Jadi ketika kita makmur secara ekonomi, terhormat, di mata manusia kita beruntung, waktu itu kita menjadi manusia celaka sebenarnya. Kita tidak mengenal kebenaran dan ini berbahaya. Kita tidak mengharapkan dunia lain; langit baru bumi baru. Kekekalan tidak masuk di pikiran kita. Pasti kita tidak bisa mendengar firman Tuhan yang mengarahkan kita ke langit baru bumi baru. 
    Dengan kondisi yang terpuruk, kita bisa merenungkan hidup. Mestinya, sebisa-bisanya kita tidak feel at home di dunia ini; tidak merasa betah di dunia ini. Kalau kondisi terpuruk membuat kita menyadari arti hidup, bisa dibimbing kepada kebenaran, bisa tertuntun ke langit baru bumi baru, itu baru bagus. Kita mungkin dikhianati pasangan, dikhianati anak, terpuruk masalah ekonomi, jangan kita mengingat kemakmuran yang pernah kita miliki di masa lalu. Karena waktu kondisi ekonomi kita baik, kondisi kesehatan baik, kondisi sosial dengan lingkungan baik, tetapi sebenarnya kita sedang terancam ke dalam api kekal. Sungguh mengerikan!
    Dengan kondisi yang kurang baik, kita justru dapat sungguh-sungguh mencari Tuhan, mau bangun pagi berdoa, mendengarkan khotbah, ikut berpuasa, dan digiring ke dalam Kerajaan Terang. Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Bersyukurlah dengan keadaan ini, karena kita jadi terbimbing ke dalam Kerajaan Surga. “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.” 
    Melalui semua itu, sesungguhnya Tuhan sedang membela kita. Jangan merasa tidak dibela Tuhan dengan kondisi yang kita jalani sekarang. Mengapa? Karena justru itulah bentuk pembelaan Tuhan. Orang-orang Kristen abad mula-mula dimasukkan Tuhan kepada aniaya. Penganiayaan itu ternyata merupakan cara Allah untuk menyempurnakan gereja-Nya, memurnikan gereja-Nya atau mendewasakan. Kekristenan masih baru atau baby. Kalau diberi kenyamanan, kekristenan hari ini pasti punah. Tuhan membela kekristenan, membela kebenaran, membela Injil dengan penderitaan. Kalau Tuhan membawa kita kepada situasi-situasi yang pahit, yang pedih, ternyata Tuhan mau kita diselamatkan. 
    Jadi, “Allah turut bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan,” itu benar. Tuhan memberikan kita keadaan sulit sebagai bentuk pembelaan. Tuhan dengan sabar-Nya menuntun kita di jalan-jalan yang terjal. Tetapi,
    10 min
  • Perjuangan
    Kesempatan untuk mengalami perubahan kodrat sungguh hal yang mahal. Hal ini tidak diberikan kepada semua orang, dan Bapa sangat mengingini orang-orang yang menjadi umat pilihan dapat menempuh perubahan kodrat. Bukan perubahan dalam hitungan tahun, namun seharusnya bisa dalam hitungan detik, menit, dan jam di setiap peristiwa kehidupan yang kita jalani. Dulu kita berkata, “Tuhan, bentuk aku Tuhan. Aku mau dewasa, aku mau sempurna, Tuhan.” Kita yakin ada saatnya—nanti, suatu saat—kita akan mencapainya. Tetapi kita tidak serius betul-betul memperhatikan proses-prosesnya. Kalau dulu kita memperhatikan juga, tetapi hitungan tahun, mungkin. Ketika pada akhir tahun kita merayakan tutup tahun, kita baru merefleksi kejadian dalam tahun yang akan segera kita tinggalkan. 
    Sejujurnya, pasti ada—bahkan banyak hal yang terlewat. Sejatinya, kalau kita serius, maka hitungannya sudah bukan lagi tahun, bulan, minggu, ataupun hari, melainkan dari jam ke jam. Kalau kita berusaha untuk meningkatkan sesuatu—kesehatan, ekonomi, kesejahteraan keluarga dan lain sebagainya—mengapa kita tidak meningkatkan kedewasaan rohani kita? Jadi, kita harus meningkatkan kehausan kita akan kebenaran. Hati kita harus dibuat membara kepada Tuhan, dan Tuhan pasti akan merespons kita. Maka, kita harus berkomitmen untuk hidup benar dan sangat serius dalam mengubah diri sesuai tuntunan Roh Kudus.
    Misalnya, kita bisa lari 10 km/jam. Namun Tuhan berkata, “Ayo, lebih cepat lagi. Kamu bisa, 20 km/jam.” Kita masih santai dan berlama-lama, maka Tuhan kembali berkata, “Cepat!” Bahkan, kadang-kadang Tuhan menjatuhkan “bom” agar kita sadar dan mau merespons dengan benar perintah atau kehendak Tuhan tersebut. Allah bekerja dalam segala hal, tetapi respons kita ikut menentukan. Kita sering menghadapi persoalan—yang sejatinya di dalamnya Tuhan mau memproses kita menjadi dewasa—tetapi kita bersungut-sungut dan marah. 
    Memang di satu sisi, kita mengasihi Tuhan juga. Tetapi, karena kita tidak sungguh-sungguh mau bertumbuh, akhirnya kita tidak bertumbuh. Kita harus berubah; cara berpikir kita harus berubah. Allah ingin melahirkan kita, tetapi bukan dengan cara ajaib, melainkan dengan perjuangan. Maka, untuk memiliki gen ilahi, kita harus berjuang menanggalkan manusia lama. Sebenarnya, Tuhan juga sudah mengisyaratkan hal ini: “Berjuanglah! Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.” Hal itu sudah diisyaratkan oleh Tuhan. Apalagi di akhir zaman diingatkan, “Kalau Anak Manusia itu datang, apakah Dia mendapati iman di bumi?”
    Allah tidak menginginkan seorang pun binasa. Apalagi bagi kita yang sudah dipilih sebelum dunia dijadikan. Dipilih, bukan berarti langsung masuk surga. Dipilih menjadi anak-anak Allah, itu hak bebasnya Tuhan. Namun, harus diproses. Maka di Efesus 1:4-5 dikatakan, “Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih, Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” 
    Tuhan memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita menjadi anak-anak Allah. Umat yang dipilih adalah kita, dan yang ditentukan adalah standarnya. Maka di Efesus 4:20-24 dikatakan, “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
    Siapa yang menanggalkan manusia lama? Tentulah kita sendiri. Tuhan pasti akan menolong kita melalui tuntunan Roh Kudus untuk memproses kita. Sehingga pada akhirnya, kesucian itu merupakan kerjasama kita dengan Roh Kudus.
    10 min
  • Tidak Sungguh-sungguh
    Di dalam Injil Yohanes 3:5 Tuhan Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Pernyataan ini mestinya menggetarkan jiwa kita. Tuhan Yesus sendiri yang berbicara. Jadi, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus dilahirkan dari air dan Roh. Perlu kita ketahui bahwa maksud “masuk ke dalam Kerajaan Allah” itu bukan hanya masuk surga. Bicara mengenai masuk surga Perjanjian Lama juga menyinggung hal ini beberapa bagian. 
    Tetapi, bagi umat Perjanjian Baru, Kerajaan Allah berbicara mengenai kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus, karena targetnya demikian. Roma 8:17, “dimuliakan bersama-sama dengan Kristus.” Target umat Perjanjian Baru bukan hanya masuk surga atau diperkenan hidup di dunia yang akan datang, melainkan sampai kepada Bapa. Di ayat lain, Tuhan Yesus berkata, “Akulah jalan (hodos),” berarti sebuah lorong panjang atau jalan panjang di mana seseorang harus melaluinya. “Akulah kebenaran,” dimana orang yang mau sampai kepada Bapa harus memiliki pengetahuan yang benar mengenai isi Alkitab. 
    Dan, “Akulah hidup (zoe),” berarti jika mengikuti jalan yang Tuhan tunjukkan di dalam kebenaran-Nya, maka seseorang akan memiliki kehidupan; bukan hanya bernapas dan bergerak. Tetapi memiliki versi hidup, gaya hidup yang baru, yang berbeda dengan mereka yang bukan umat pilihan. Targetnya demikian. Jadi kalau bicara mengenai Kerajaan Allah, itu berarti bicara mengenai dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus sampai kepada Bapa, dalam persekutuan dengan Bapa, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, tinggal di Rumah Bapa. 
    Kerajaan Allah baru dihadirkan atau terbuka pintunya, ketika Yesus datang dan menyelesaikan karya keselamatan-Nya di kayu salib. Ini tidak ada di Perjanjian Lama. Kerajaan Allah ini dihadirkan bersama dengan pemberitaan Injil. Kalau Perjanjian Lama jika ada seseorang taat, takut akan TUHAN (seperti Nuh, Samuel, dan lain-lain) bisa masuk dunia akan datang. Mereka juga orang-orang terhormat. Tetapi bagi kita umat Perjanjan Baru, menjadi anak-anak Allah, berarti akan dimuliakan dan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus. 
    Yang mana kita harus terlebih dahulu mengalami “dilahirkan dari air dan Roh.” Air ini tidak bisa tidak, pasti menunjuk pada baptisan. Karenanya Tuhan berkata, “Baptiskan mereka dalam nama-Ku.” Ini adalah amanat yang Tuhan Yesus berikan kepada murid-murid-Nya. Sedangkan, “Roh” di sini menunjuk kepada pekerjaan Roh Kudus yang mengubah kodrat seseorang.
    Kita harus memiliki rasa khawatir dan takut kalau sampai kita meninggal dunia, ternyata kita belum menjadi anak-anak Allah. Dalam hal ini kita harus berurusan dengan Tuhan, maka kita harus sungguh-sungguh berusaha untuk hidup suci. Kita memang tidak sempuna, tapi kita harus berusaha untuk hidup tidak bercacat tidak bercela. Sebisa-bisanya tidak melakukan kesalahan, sehalus atau sekecil apa pun. Berita-berita yang tidak perlu kita baca atau dengar, hindari. Jangan anggap remeh apa yang dikatakan Tuhan Yesus, “Kamu harus sempurna seperti Bapa.” Tidak ada kompromi. Ini serius. Kalau kita meninggal dunia, apakah kita diakui, dikenal sebagai anak-anak Allah? 
    Tentu kita tahu bahwa standar anak-anak Allah itu seperti Yesus. Dan Tuhan Yesus bersedia menjadi Guru, Mentor, dan Pembimbing kita. Karena Tuhan Yesus sendiri yang berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Jadi, kalau kita betul-betul datang ke Tuhan setiap hari, Tuhan pasti menemui kita. Pasti membimbing kita bagaimana untuk menjadi serupa dengan Yesus, yang sama dengan sempurna seperti Bapa. 
    Kalau kita tidak merasakan kehadiran-Nya, bimbingan-Nya, itu karena Tuhan tidak melihat kita sungguh-sungguh. Dan yang paling merusak adalah doktrin dan ajaran yang menganggap keselamatan itu murahan. Jadi, kalau kita berurusan dengan Tuhan secara serius, Dia akan datang, Dia akan memberitahu bagaimana keadaan kita yang sesungguhnya. Kita harus berjuang.
    8 min
  • Peduli dengan Perasaan Tuhan
    Kita harus memperkarakan, mempersoalkan; apa yang dirasa Bapa mengenai kita. Bapa adalah Pribadi yang hidup, berperasaan, dan pasti merasakan di dalam hati-Nya mengenai keadaan masing-masing anak-anak-Nya. Kalau kita sebagai orang tua yang sudah punya anak, pasti bisa merasakan mengenai masing-masing anak kita. Kita juga bisa merasakan terkait dengan orang di sekitar, saudara atau siapa saja. Mari kita perkarakan, apa yang Bapa rasakan terkait dengan hidup kita? Apakah Dia nyaman? Dia senang? Ataukah Dia tidak nyaman? Dia berduka? Terluka? Coba kita perkarakan! 
    Kita sering tidak peduli dengan perasaan Tuhan karena Tuhan tidak kelihatan. Banyak orang peduli dengan perasaannya sendiri; bagaimana ia bisa memiliki perasaan senang, bahagia, terhormat, dihargai. Tetapi tidak mempersoalkan bagaimana perasaan Tuhan, perasaan Allah Bapa, Elohim Yahweh. Kita tidak mempersoalkan perasaan Tuhan Yesus, terkait dengan hidup kita. Di sini benar-benar dibutuhkan ketulusan hati. Ketulusan hati di hadapan Allah, dan kesediaan kita untuk benar-benar menyenangkan hati Allah. Kita berurusan dengan Allah Bapa bukan sekadar supaya memperoleh berkat, kuasa-Nya, pertolongan, perlindungan-Nya; tetapi kita juga mau melayani Dia karena memang kita diciptakan untuk melayani Dia. 
    Allah tidak butuh apa-apa sebenarnya, dan tidak perlu apa-apa dari kita. Siapa kita? Karena Allah Mahakaya, Mahakuat, Allah memiliki segala-galanya. Tetapi Allah berkenan berurusan, berinteraksi dengan kita. Dia membiarkan diri-Nya dibuat senang atau dibuat susah, dimuliakan atau tidak dimuliakan, dihormati atau tidak dihormati oleh makhluk manusia. Kita harus memilih dan menentukan, apakah kita mau menyenangkan hati Tuhan atau tidak, memuliakan Dia atau tidak, menghormati Dia atau tidak, menuruti kehendak Allah atau tidak. Kita harus serius memperkarakan apa yang dirasakan Allah mengenai kita!
    Kita harus benar-benar tulus! Berurusan dengan Allah bukan hanya karena mau mengeksploitasi, menggali, memanfaatkan tanpa batas kuasa-Nya, kebaikan-Nya. Bukan mengeksploitasi, tetapi karena mau mengabdi, devosi kepada Tuhan karena memang Dia menciptakan kita untuk melayani Dia. Kalau kita dengan tulus benar-benar berurusan dengan Allah, berinteraksi dengan Allah, dengan motif yang benar karena kita mau mengabdi dan melayani Dia; niscaya, kalau ada salah dalam diri kita, ada kekeliruan, ada dosa; Bapa pasti memberitahu. Allah mau berbagi perasaan-Nya kepada kita; apa yang Dia rasa tentang kita, terkait dengan kita. 
    Allah Bapa pasti memberitahu karena Bapa ingin membangun hubungan dengan kita; hubungan kekal, hubungan abadi. Bukan hanya sementara kita hidup di bumi, tetapi sampai kekekalan. Tetapi kalau orang tidak tulus, ber-Tuhan hanya karena mau memanfaatkan Tuhan, hatinya terikat dengan dunia ini, hatinya penuh kebencian, dendam, sakit hati, sehingga mengupayakan penderitaan orang lain; maka Allah tidak perlu berbagi perasaan kepada orang-orang seperti ini. Orang-orang yang tidak layak berjalan dengan Allah! Kita jangan sampai berkeadaan seperti itu. Mengerikan! Sampai orang-orang itu menjadi “buta,” tidak tahu dan tidak mau tahu; bagaimana keadaan dirinya di hadapan Allah dan apa yang dirasa Allah tentang dirinya, tidak peduli. 
    Orang-orang seperti ini pasti egois, antroposentris, akusentris; berpusat pada diri sendiri. Tidak berpusat pada Allah. Kita memilih untuk berpusat pada Allah. Dengan tulus kita berurusan dengan Tuhan, bahwa kita diciptakan Tuhan hanya untuk mengabdi dan melayani Dia. Tuhan akan berbagi perasaan kepada kita. Ayo, kita serius! Kita katakan, “Tuhan, beri aku pengertian untuk mengenal diriku dengan benar. Bagaimana keadaanku di mata-Mu?” Tuhan pasti berbicara kepada kita. “Apa yang Engkau rasakan mengenai aku?” Tuhan pasti memberitahu bagaimana keberadaan kita di mata Allah. 
    Semakin hari, Tuhan akan makin membongkar atau membuka hal-hal yang tidak patut di dalam hidup kita, yang harus dibuang sebelum kita menutup mata mengh...
    9 min
  • Ada di Hati Tuhan
    Keinginan-keinginan apa pun harus bisa kita buang. Ambisi-ambisi apa pun, bisa kita buang. Tetapi, jangan menumpulkan ambisi yang satu ini: “Bawa aku ke puncak, Tuhan, setinggi-tingginya.” Itu berarti menjadi orang sesuci-sucinya, sekudus-kudusnya, benar-benar tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah. Hal itu bisa kita minta, lalu kita gumuli. Nanti berkembang terus, kita bisa menjadi eksklusif dengan Allah. Di mana pun kita berada, kita ada di hadapan Allah. Makanya kita menjaga perkataan, sikap, perbuatan. Apalagi hamba-hamba Tuhan, supaya membawa shekinah glory Allah. Sejujurnya, banyak orang telah menjadi tumpul karena masih menyisakan ambisi-ambisi dan keinginan-keinginan di dalam hatinya.
    Kita tidak bisa ada di hati Tuhan kalau kita masih menyimpan hal lain di hati kita. Kita harus memiliki kenekatan seperti pemazmur, “Tidak ada yang kuingini di bumi.” Tuhan tahu kita membutuhkan jodoh, anak, dan lain-lain. Jika memang bagian kita, Tuhan pasti memberi. Makanya kepada para hamba Tuhan, beranilah untuk tidak punya keinginan apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Sebab ketika kita meninggal dunia, kita juga tidak membawa apa-apa. Bagi yang muda-muda, kematian pun bisa menjemput setiap saat. Makanya Tuhan berkata, “Kamu harus bertobat,” Matius 18:3, “dan menjadi seperti anak kecil.” Bukan kekanak-kanakan, bukan childish. “Seperti anak-anak” dalam bahasa aslinya paidion. Anak usia 7-14 tahun, usia efektif dididik.
    Irama hidup dan selera jiwa kita sudah telanjur salah. Kita punya refleks tersinggung, apalagi yang suka bohong, suka berpolitik, refleks bohongnya cepat sekali. Cerdik kalau berbohong. Tuhan berkata, “Berjuanglah masuk jalan sempit” ini memang tidak mudah. Kita harus fokus ke sini. Tuhan menghendaki kita berjalan dengan Dia, tetapi Tuhan tidak akan berjalan kepada orang yang masih mendua hati. Firman Tuhan mengatakan orang yang mendua hati tidak akan mendapat apa-apa. 
    Sungguh-sungguh mau sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, tidak mudah. Memiliki kerinduan menjadi bulat utuh, tidak mudah. Tetapi kita harus terus menggelorakan, membuat membara kerinduan itu. “Sempurna seperti Bapa,” ini puncak. Semua ambisi, kita arahkan ke sini. Kita hidup sejenak di bumi, sungguh kasihan kalau tidak mencapai tingkat puncak yang mestinya bisa kita capai setinggi-tingginya. Kalau uang, orang mau sebanyak-banyaknya. Tiap hari neracanya dilihat naik turunnya. Kalau seorang mahasiswa, dia perhatikan Indeks Prestasinya. Mimpi jadi sarjana, diwisuda. Mengapa untuk urusan kekekalan kita tidak lebih semangat, lebih bergairah, lebih antusias?
    Kalau kita tidak sungguh-sungguh mau mencapai puncak, berarti kita kurang menghargai Tuhan secara patut. Kalau kita menghargai Tuhan secara patut, maka kita mencanangkan keinginan untuk mencapai puncak itu. Jangan sampai digantikan dengan jumlah jemaat yang banyak, kita senang. Posisi di gereja atau posisi di perusahaan tidak boleh menjadi berhala. Kalau kita punya persoalan, jangan tenggelam dengan persoalan, seakan-akan puncak kebahagiaan kita adalah kalau masalah kita selesai; kalau sakit sembuh; kalau ekonomi pulih; kalau punya rumah. Kita harus berani seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya dengan Tuhan.
    “Apa pun yang terjadi, aku berkenan kepada-Mu. Aku mencapai puncak kesucian. Aku mencapai puncak keberkenanan di hadapan-Mu.” Puncak, setinggi-tingginya. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap, segenap, segenap.” Dengan melakukan itu, kita membawa diri kita kepada puncak. Sampai Tuhan bisa merasa, sungguh ini luar biasa. Kita ingin jadi orang yang mencintai Tuhan begitu “menggigit” dan Tuhan merasa. Dari sekian milyar manusia, Tuhan melihat kita. Dari sekian juta atau sekian ratus ribu orang yang tinggal di sekitar kita, Tuhan melihat, “Yang ini beda. Memikat hati-Ku.” Kalau sampai kita memikat hati Tuhan, apa saja Tuhan pasti buat untuk kita.
    Mengapa Abraham menjadi sahabat Tuhan? Ishak itu milik kesayangannya.
    8 min
  • Firman yang Mencerdaskan
    Di dalam Roma 7:22, Paulus mengemukakan, “… sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, …” Selanjutnya di ayat 23-24 dikatakan, “… tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Namun di Filipi 3:7-9, tertulis, “Ditinjau dari hukum, aku tidak bercacat. Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” 
    Sepertinya kedua pernyataan Paulus ini saling bertentangan. Tentu tidak! Karena hukum Allah standarnya adalah standar menurut Allah, bukan baik menurut standar Paulus sebelum ia bertobat. Paulus memahami apa yang baik menurut Tuhan, ia melayani hukum Allah, sementara ia masih ada dalam kodrat dosa. Kodrat artinya sifat dasar yang menguasai seseorang, sehingga orang akan berperilaku sesuai dengan sifat dasarnya. Jadi, manusia berdosa hidup di bawah hukum dosa. 
    Hukum dosa berbeda dengan hukuman dosa. Manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah berkeberadaan tidak akan pernah bisa tepat melakukan segala sesuatu sesuai kehendak Allah. Itu yang dimaksud dengan hukum dosa (kodrat dosa). Jangan berpikir, manusia menjadi bejat seperti binatang, tidak! Manusia masih bisa baik secara hukum. Walaupun tentu tidak sempurna. Allah yang bijak, kalau ada kegagalan melakukan hukum, ada binatang yang dikorbankan. Maka, Paulus mengatakan, “Aku tidak bercacat,” bukan berarti ia tidak pernah salah. 
    Kalau salah, dia bisa menyelesaikannya dengan darah domba. Dia tahu apa yang baik menurut Allah, tetapi dia tidak mampu melakukannya, karena hukum dosa di dalam dirinya. “Syukur kepada Kristus…” karena Roh Kudus menuntun. Kita mesti berjuang, menyangkal diri. Daging kita jangan diberi makan. Tentu perlu proses bertahap, karena pergumulan melawan keinginan daging itu berlapis-lapis. Sudah lewat satu, muncul lagi yang lain.
    Kita sudah sabar menghadapi seseorang, nanti bertemu lagi orang jahat. Maka, mesti ada peristiwa hidup supaya kita bisa mengenali diri sendiri. Ibarat berenang, awalnya di kolam renang, lalu di sungai. Lalu, di sungai yang bergelombang. Sampai akhirnya, di laut yang lebih besar gelombangnya. Supaya, kita mengenali seberapa kita mampu.
    Seseorang tidak mencuri, karena belum punya kesempatan, atau karena tidak ada objek yang bisa dicuri. Misalnya 500 ribu, ia tidak mencuri. Tetapi, bagaimana kalau 5 miliar? Ini bisa terjadi pada semua orang, termasuk orang yang mengasihi Tuhan. Namun kalau ia terus bertumbuh, maka dia memiliki haus dan lapar akan kebenaran. Selanjutnya, Tuhan membuka matanya untuk melihat, dan akan memuaskan dia. Sebab standarnya itu sempurna seperti Kristus. Jadi jangan heran, kalau mau disempurnakan Tuhan, kita bisa mengalami hal-hal yang Tuhan Yesus juga alami. 
    Jadi agar kita memiliki gen dari Allah, kita harus belajar Firman; bukan hanya Firman yang bertalian dengan etika—jangan begini jangan begitu—melainkan Firman yang mencerdaskan. Sebab peristiwa-peristiwa hidup itu harus ditangkap oleh kecerdasan rohani sampai kita bisa melihat dan mengenali diri kita. Tuhan akan membawa kita kepada situasi-situasi. Tetapi kita tidak akan bisa mengerti maksud Tuhan di balik situasi itu, kalau kita tidak belajar kebenaran. Jadi, kebenaran Firman itu mencerdaskan.
    Kecerdasan rohani itu bertahap. Hebatnya, Roh Kudus akan menunjukkan kepada kita kisah-kisah di Alkitab, pernyataan-pernyataan Tuhan. Itu membuat kita bisa menangkap maksud Tuhan ketika menghadapi situasi tertentu. Tuhan tidak bisa mengubah orang tanpa masalah atau tanpa kejadian. Ada orang yang tidak bisa berjalan; tubuhnya lemah. Namun bukan karena kakinya lemah, melainkan karena dia sendiri tidak mau bergerak. Ototnya tidak mau digerakkan, sampai akhirnya tidak bisa digerakkan. 
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…