Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Terpapar Dunia
    Hidup di dunia ini singkat. Ketika kita lupa diri, lalu kita menikmati hidup dalam kenyamanan, maka kita menjadi tidak waspada, sehingga Iblis akan membelenggu, mengikat pikiran kita. Kemudian, tanpa sadar kita akan menjadi orang yang memiliki standar seperti manusia lain. Di dalam hati kita, ada banyak ikatan yang tidak sesuai kehendak Allah. Ikatan-ikatan dunia; percintaan dunia, kesombongan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Semua kita harus bertobat, selagi masih memiliki kesempatan. Kalau nanti kita menutup mata, maka sudah tidak ada kesempatan lagi. Aspek lain yang kita harus tahu yaitu dunia bertambah jahat. Di luar negeri, dalam negeri, di mana pun. Dunia tidak bertambah semakin baik. Sebaliknya, semakin mengerikan dan berbahaya.
    Kalau seseorang tidak segera mengubah diri, tidak segera memberi diri untuk diubah, maka ia bisa menjadi manusia yang tidak akan berubah sampai selamanya. Karena dunia makin jahat, maka tarikannya makin kuat, dan suasananya pun makin pekat. Orang bisa terbelenggu, terikat dengan gaya, cara hidup, pola berpikir, filosofi dunia. Semakin lama ikatannya maka semakin lama orang terpapar oleh cara berpikir, filosofi, prinsip hidup manusia di sekitarnya, maka semakin sulit diubah. Makin tua, pasti makin sulit diubah, sampai tidak bisa diubah. 
    Suasana dunia kita hari ini adalah suasana yang mencenderungkan orang menjadi rusak. Sejak kanak-kanak, kita sudah terpapar dengan pengaruh dunia yang jahat. Kalau orang tua di rumah tidak bisa menjadi teladan, bahkan memberi pandangan, contoh, potret hidup yang buruk, maka akan semakin merusak anak-anak. Merusak hari esok atau masa depannya. Mari kita mempersiapkan diri untuk masuk langit baru bumi baru. Suami istri yang rukun, saling mencintai, akan menghadirkan Firdaus di dalam rumah tangga, sehingga anak-anak masuk ke dalamnya, dan anak-anak mendapat warisan yang tak ternilai, yaitu pengenalan akan Allah. 
    Warisan ini adalah warisan yang lebih mahal; lebih berharga dari harta, pendidikan apa pun yang orang tua bisa wariskan. Warisan kekal, warisan abadi yang menyelamatkan anak-anak kita atau generasi berikut adalah pengenalan akan Allah dan takut akan Allah. Anak-anak melihat model dari kehidupan anak Allah yang tidak egois, tidak menang sendiri, suka mengalah, mengasihi musuh. Model ini yang harus ditularkan ke anak-anak agar mereka bisa menjadi manusia yang permanen dalam takut akan Allah, sehingga dunia tidak bisa memengaruhinya lagi. Generasi ini adalah generasi yang mengerikan. Lihatlah keadaan dunia yang begitu jahat, begitu pula dengan pengaruhnya yang juga begitu jahat. Baik lewat gadget, pergaulan, semuanya berusaha untuk merusak. 
    Kita harus menjaga hidup kita sendiri, menjagai anak-anak kita. Lalu, kita bisa menjadi berkat bagi orang lain untuk menunjukkan model dari manusia yang Allah kehendaki itu apa dan bagaimana. Sementara dunia makin jahat, kita makin suci. Kita harus punya pilihan dan menentukan positioning; posisi. Orang yang mengalir saja adalah orang yang terbawa ke dalam kegelapan abadi. Orang yang menganggap sepele kuasa kegelapan, pasti ada dalam bahaya. Banyak orang menganggap sepele karena menganggap setan tidak kelihatan, Tuhan juga tidak kelihatan. Ingat, setan bermanuver dengan giatnya untuk bisa menyeret sebanyak mungkin orang masuk dalam dunia kegelapan. 
    Dunia dikondisi oleh Iblis menjadi dunia yang egois, mau menang sendiri, tidak mau mengalah, dan lain sebagainya, seperti yang tercatat dalam 2 Timotius 3 dari ayat 1. Kalau kita lihat cucu-cucu kita hari ini, akan jadi apa mereka di hari esok dengan kondisi dunia yang jahat seperti hari ini? Sungguh memprihatinkan. Tetapi kita percaya bahwa Yahweh; Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah yang menciptakan langit dan bumi, Yahweh yang berkuasa menyelamatkan kita, juga menyelamatkan orang-orang yang pasti bisa diselamatkan. Kita bersyukur kita mendapatkan peringatan ini. Peringatan yang membuat kita disadarkan bahwa kita hidup di dunia yang sangat...
    9 min
  • Saleh atau Salah
    Keselamatan dalam Yesus Kristus bukan hanya menghindarkan kita dari api kekal, bukan hanya menyelamatkan jiwa kita dari api kekal, tetapi juga menyelamatkan karakter kita. Justru karakter yang diselamatkan, karakter yang diubah, inilah yang membuat seseorang layak masuk Kerajaan Surga. Bersyukur kita masih menyadari hal ini. Mata pengertian kita dibuka melihat realitas ini. Maka, yang sekarang kita lakukan adalah bagaimana kita bebenah diri untuk tidak ikut tercemari oleh cara berpikir, gaya hidup, filosofi dunia yang egois (mau menang sendiri), hanya memperhatikan kepentingan sendiri, dan tidak memiliki belas kasihan. 
    Jangan ikut terpapar oleh virus dunia yang membinasakan. Kita harus membawa diri kepada Tuhan yang bisa menyelamatkan kita. Bukan hanya membawa diri menjadi orang Kristen dan pergi ke gereja saja. Banyak orang Kristen pergi ke gereja, tetapi tetap terpapar oleh virus dunia dan menjadi anak-anak dunia yang sebenarnya tidak layak masuk Rumah Bapa. Firman Tuhan mengatakan di Roma 12:2, “Janganlah serupa dengan dunia ini.” Artinya kita jangan terpapar oleh virus cara berpikir, prinsip, filosofi hidup manusia di sekitar kita yang egois, berpusat pada diri sendiri, tidak mau mengalah, tidak melihat kepentingan orang lain, tetapi hanya melihat kepentingan diri sendiri. 
    Kita harus melarikan diri dari keadaan ini. Sekarang yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita tidak bergaul dengan orang yang bisa menularkan gairah, filosofi, dan prinsip-prinsip hidup yang tidak sesuai dengan kekudusan Allah. Kita punya banyak teman, kolega bisnis; tentu boleh bertemu sesekali atau tetap berinteraksi dalam berbagai kepentingan untuk bisnis atau kerja. Tetapi kalau bersahabat menyatu hati, jangan! Kita akan terpapar. Hindari pergaulan-pergaulan yang merusak. 
    Kumpul-kumpul dengan orang yang tidak takut Tuhan, yang pikirannya materialistis, membuat kita juga materialistis, termasuk reuni-reuni, harus dijauhi! Kita harus menjauhi dunia. Tontonan juga dijauhi! Tidak usah nonton yang tidak perlu. Kasus A, kasus B, merusak, men-distract pikiran kita. Tidak usah, tidak perlu. Ingat, menjauhi dunia bukan berarti secara fisik kita tidak bergaul sama sekali dengan masyarakat. Bukan berarti kita mau menyepi ke tempat sepi, di mana tidak ada manusia. Bukan begitu. Tetapi jangan tenggelam dan jangan terwarnai, terpapar, tertular cara berpikir dunia yang makin rusak. Sementara itu, kita harus mengisi waktu bertemu Tuhan. 
    Jadi, ada masa pemisahan. Seperti padi yang dipanen, lalu harus diolah agar memisahkan padi dari kulitnya. Gandum juga begitu, dipisahkan. Kalau dulu ada masa penuaian, sekarang masa penampian. Ditampi, digoyang. Kulit sekamnya ditiup. Kalau ibu-ibu mau membuat berasnya bersih, sudah beli beras saja, masih ditampi, diangkat. Apalagi yang masih ditutup sama kulitnya. Kulitnya, gabah, yang digebuk, ditumbuk, terus diayak, ditampi, terus diangkat. Ditiup kulitnya, padinya jatuh, kulitnya keluar. Ini sudah masa penampian. Yang jahat, akan tambah jahat; yang kudus, tambah kudus. Jadi dunia kita ke depan, tidak bisa orang bersikap netral. Dia harus menentukan sikap. Dia harus bertindak, apakah dia menjadi anak Allah yang baik atau tidak sama sekali. Tidak bisa setengah baik. 
    Keadaan dunia akan mengondisi manusia tidak bisa netral, tidak bisa suam-suam. Mau panas, panas sekalian; mau dingin, dingin sekalian. Kita yang sekarang harus mempersiapkan diri, mempersiapkan anak-anak kita dan orang-orang yang kita kasihi, agar suatu hari nanti kita semua diperkenan masuk Kerajaan Surga. Allah menghendaki kita dapat melarikan diri dari dunia. Di masa penampian ini, kita harus sungguh-sungguh meninggalkan pergaulan yang buruk, tontonan yang buruk, dan segala pengaruh dunia. Supaya kita benar-benar dikhususkan menjadi orang-orang saleh Tuhan. Ini pilihan. Kita harus mengambil keputusan atau pilihan. Kita tidak bisa berkata, “Mengalir saja.” Kita harus mengambil keputusan: menjadi orang saleh Tuhan atau orang ...
    9 min
  • Berjuang Agar Tidak Terbawa Dunia
    Jika kita mengamati perubahan-perubahan yang terjadi dewasa ini, pasti kita menemukan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia, dalam budaya, sosial, interaksi antarmanusia, bukan bertambah menjadi baik. Misalnya dulu kita mengenal prinsip gotong royong, dan itu menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Tetapi, apakah filosofi gotong royong masih seperti 50 tahun yang lalu? Faktanya, kita melihat manusia menjadi semakin egois (mementingkan diri sendiri). 
    Jangankan mendukung, bukan gotong royong, tetapi justru merongrong. Bagaimana dirinya untung, senang, dan tidak memperhitungkan kerugian orang lain. Kalau dulu ada filsafat mengalah, “wes, mengalah saja.” Tetapi sekarang prinsipnya “Sebelum dia menerkam aku, aku terkam dulu. Sebelum dia mencakar aku, aku cakar dulu.” Kita melihat dunia demikian jahatnya dan sebenarnya semua ini sudah dinubuatkan oleh Alkitab. Dalam 2 Timotius 3:1-5, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri.” Manusia menjadi egois. Dari kecil saja, anak-anak sudah terbiasa dengan atmosfer egois. 
    Kalau di luar negeri, kita kenal istilah “individualis;” orang tidak mau mengurusi orang lain, mengurusi dirinya sendiri. Khususnya di Barat, orang menghargai privasi; hal yang bersifat pribadi dalam hidup orang. Kita tidak boleh ikut campur. Di Indonesia, unsur individualis ini mulai muncul. “Lu, lu; gua, gua; kamu, kamu; aku, aku.” Kalau di Barat ada suasana humanis individual, yaitu menghargai hak orang lain. Tetapi di masyarakat kita sebagian, bukan hanya individual, tetapi juga mengurusi orang lain. Bukan mengurusi untuk membantu, melainkan mengurusi untuk membuat keruh dan gaduh. 
    Indonesia yang dulu dikenal sebagai punya pengertian terhadap orang lain, yang orang Jawa bilang tepo seliro; mengerti orang lain, namun sekarang keadaannya jauh dari itu. Potretnya jelas, melalui media sosial. Senang mem-bully orang lain. Senang berkomentar, dan komentarnya bukan membangun, malah menjatuhkan, merusak nama baik. Inilah kenyataan di Indonesia. 
    Kearifan lokal yang dulu dimiliki oleh masyarakat bangsa kita, seperti gotong royong, mengalah, tepo seliro artinya mengerti orang lain, makin pudar, makin tipis. Hal ini memang sudah dinubuatkan Alkitab, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri, menjadi pemfitnah, memberontak kepada orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat,” dan lain sebagainya. Jadi kita tidak heran, karena faktanya memang begitu. Tuhan Yesus juga menubuatkan di Matius 24:12, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Kejahatan bertambah-tambah, sehingga kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin atau tawar. 
    Kalau kasih kebanyakan orang menjadi dingin atau menjadi tawar, maka orang menjadi egois; tidak ada kasih. Tega terhadap sesamanya. Manusia yang mestinya memiliki hukum Tuhan, tatanan Tuhan, justru menjadi memiliki hukum rimba. Hukum ada, tetapi hukum bisa ditarik ke kanan, ke kiri, seperti karet, dan akhirnya uang yang berbicara. “Maju tak gentar, membela yang bayar.” Dunia sudah begitu rusak. Dari anak-anak, kita sudah melihat atmosfer ketidakadilan itu. Atmosfer egoisme, individualisme, plus ketegaan terhadap orang lain. Ini menggarami, seperti virus. Banyak orang terpapar. Kalau virus, masuk di fisik, di tubuh. Tetapi kalau cara berpikir, filosofi, ini masuk ke dalam jiwa dari kanak-kanak. Nanti masuk remaja, pemuda, makin jadi kacau. 
    Kita melihat kenyataan orang-orang menjadi egois. Inilah yang kemudian membuat banyak orang tidak menjadi dewasa. Pada waktu berpacaran, kelihatannya tidak egois. Kelihatannya sayang, cinta, ke pacarnya karena sedang hanyut dan tenggelam dalam percintaan; dibumbui dengan nafsu, libido, atau erotis sehingga orang bisa seakan-akan memedulikan orang lain. Orang bisa berkata, “Aku untukmu. Engkau dilahirkan untukku.
    9 min
  • Ber-Tuhan dengan Benar
    Orang yang ber-Tuhan tidak mungkin tidak membaca Alkitab. Tidak bisa tidak, dia pasti membaca Alkitab. Berikutnya, orang yang ber-Tuhan itu pasti ke gereja. Jika sudah landai pandemi COVID, dia pasti datang dan hadir beribadah di gereja. Ada orang-orang yang tidak bisa onsite, kita maklum, karena satu dan lain hal sehingga tidak bisa meninggalkan tugas atau meninggalkan rumah. Tetapi kalau bisa onsite, mengapa tidak datang? Di dalam pertemuan bersama, itu beda. Fokus kita untuk mendengar firman lebih baik. Kalau di rumah, banyak distract; banyak yang mengganggu. 
    Kalau ada orang bisa ke gereja tetapi tidak ke gereja, berarti ada yang salah. Bisa dia atau gerejanya yang salah. Memang, ada orang yang di gereja merasa tidak mendapat berkat rohani. Pemberitaan firmannya tidak memberkati, suasana gereja tidak kondusif membangun iman, sehingga tidak ke gereja. Ini juga harus kita koreksi. Kalaupun gereja kita tidak memberkati, kita ke gereja bukan untuk mencari berkat melainkan memberi berkat. Tetapi kalau kita di tempat di mana tidak ada gereja, kita bisa ikut ibadah secara online. 
    Orang yang ber-Tuhan itu pasti berdoa, pasti ke gereja, pasti memperhatikan setiap peristiwa hidup. Sebab melalui peristiwa-peristiwa hidup tersebut, sejatinya Allah mau berbicara kepada kita. Setiap peristiwa itu pasti memuat, mengandung pelajaran rohani yang Tuhan mau berikan. “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.” Bergaul dengan Allah bukan hanya di ruang doa, bukan hanya waktu di gereja, tetapi juga melalui setiap kejadian, setiap peristiwa yang kita lihat, kita dengar, apalagi kita alami. 
    Justru bersentuhan dengan Tuhan yang berdampak kuat adalah ketika seseorang dalam persoalan. Ketika kita menghadapi persoalan dan kita memperkarakan di hadapan Tuhan apa maksud Tuhan di balik persoalan tersebut, maka itu akan berdampak. Misalnya kita diperlakukan sewenang-wenang, kita disakiti, dilukai, dikhianati. Kita harus memperhatikan, apa maksud Tuhan di balik peristiwa ini? Ternyata Tuhan mau mengajar kita untuk sabar, mengasihi musuh. Tuhan berperkara dengan kita melalui peristiwa-peristiwa. Orang ber-Tuhan akan selalu memperkarakan setiap peristiwa yang dia dengar, dia lihat, apalagi yang dia alami dengan Tuhan. “Apa maksud-Mu di balik semua ini, Tuhan?” Karena Tuhan mau mendidik kita melalui pengalaman-pengalaman hidup, melalui persoalan-persoalan hidup yang kita alami. Luar biasa!
    Ada orang-orang yang doanya katanya luar biasa, berjam-jam di ruang doa, berjam-jam di menara doa. Hal itu bagus, tetapi jangan kita pikir Tuhan itu bergerak hanya di ruang doa. Tuhan justru bergerak dan bersentuhan dengan anak-anak-Nya di dalam kesibukan, dalam aktivitas hidup. Di situ sebenarnya Tuhan mau mengajar banyak hal. Ketika di kantor mendapat kesempatan korupsi, bagaimana kita bersikap terhadap kesempatan mengambil uang perusahaan atau uang negara? Di situ kita berinteraksi dengan Allah. Kita memiliki kesempatan dengan teman-teman pergi ke tempat yang tidak patut, di situ ada godaan untuk memuaskan nafsu, apa reaksi kita? Di situ Tuhan pasti berbicara. Di dalam peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian hidup, Tuhan efektif membentuk kita, dan kita efektif dibentuk Tuhan kalau kita mau memberi diri. Hidup kita pasti diubah, tidak mungkin sama dengan dunia.
    Orang yang ber-Tuhan yaitu orang yang melakukan pekerjaan Tuhan. Melakukan pekerjaan Tuhan tidak harus menjadi pendeta, tidak harus menjadi aktivis jemaat. Orang yang ber-Tuhan itu pasti menemukan tempat di hadapan Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya. Pasti ada tempat di mana dia bisa mengabdi kepada Tuhan. Setiap orang pasti memiliki tempat masing-masing yang berbeda. Kita ada di lingkungan kantor, itu pekerjaan Tuhan. Banyak orang yang kita harus sentuh. Banyak orang yang kepada mereka, kita harus bersaksi. Tidak harus dengan kata-kata, justru dapat lebih efektif dengan perbuatan. 
     
    7 min
  • Beragama VS Ber-Tuhan
    D Indonesia, kita masih melihat kegiatan orang ber-Tuhan atau beragama. Tentu saja ber-Tuhan dan beragama itu tidak sama persis. Orang ber-Tuhan pasti beragama, tetapi orang beragama belum tentu ber-Tuhan. Kita masih melihat aktivitas orang yang ber-Tuhan atau beragama di sini. Tetapi kalau di negara-negara tertentu seperti Eropa, suasana orang beragama atau ber-Tuhan sangat tipis, bahkan nyaris tidak ada. Itulah sebabnya gereja-gereja sepi pengunjung. Kalaupun ada pengunjung, mereka datang untuk berwisata, melihat artistik gedung gereja dan sejarah masa lalu kekristenan. 
    Sementara di negara-negara non-Kristen, tampak sekali geliat dan aktivitas orang beragama. Seperti di suatu kota atau suatu negara, pagi-pagi sebelum orang-orang pergi bekerja, mereka ke kuil. Mereka memberikan penyembahan kepada dewa atau allah yang mereka sembah, setelah itu baru pergi bekerja. Negara yang tidak bernuansa Kristen, seperti itu pola hidupnya. Tetapi negara yang bernuansa Kristen seperti beberapa negara Barat, suasana keberagamaannya begitu tipis, bahkan nyaris tidak ada. 
    Kalau di Indonesia, kita masih melihat geliat orang yang beragama yang melakukan kegiatan agamanya. Dalam konteks Kristen, pergi ke gereja, memakai kalung salib, sebelum makan berdoa, hari raya seperti Paskah dan Natal pasti ke gereja. Tetapi, belum tentu mereka benar-benar ber-Tuhan. Ber-Tuhan artinya berinteraksi dengan Tuhan, bergaul dengan Tuhan, kehidupan yang berjalan dengan Tuhan. Ini kehidupan yang sebenarnya luar biasa. Dikatakan “sebenarnya” karena banyak orang tidak memercayai. Mereka memberikan porsi yang sangat terbatas untuk Tuhan, sehingga Tuhan hanya menjadi objek keberagamaan dalam bentuk seremonial atau liturgi. 
    Orang yang ber-Tuhan, harus menjadikan Tuhan itu segalanya dalam hidup. Jadi kalau orang tidak menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup, dia belum ber-Tuhan (ini dalam konteks Kristen). Standar ber-Tuhan dalam kekristenan, seperti tertulis di Matius 22:37-40, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. “Segenap” ini dibahasakan Paulus di Filipi 1:21, “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Ini standar ber-Tuhan. Tetapi kalau orang tidak percaya Tuhan, maka dia tidak berani mempertaruhkan, menginvestasikan hidupnya untuk Tuhan tanpa batas.
    Maka, tidak banyak orang yang ber-Tuhan. Karena dia tidak yakin dengan menginvestasikan perhatian, waktu, tenaga, pikiran untuk berinteraksi dengan Allah atau menjadikan Tuhan segalanya sebagai sesuatu yang menguntungkan atau berharga. Jadi, potret hidup manusia di sekitarnya itu menjadi standar. Kalimat mereka kira-kira seperti ini: “Beragama ya, beragama. Ber-Tuhan, ya bolehlah percaya Tuhan. Tetapi jangan ekstrem, jangan fanatik. Jangan berlebihan.” 
    Hal ini mesti kita pahami. Perilaku orang di sekitar kita memang memberikan porsi yang sangat terbatas untuk Tuhan. Karena tidak berlebihan, maka mereka menjadikan Tuhan itu sekadar tambahan. Kalau ada orang yang menjadikan Tuhan segalanya, maka dianggap sudah melampaui batas, ekstrem, berlebihan, fanatik. Ini penyesatan yang terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen, sehingga banyak orang Kristen pada dasarnya tidak ber-Tuhan. Mereka hanya beragama, memenuhi apa yang dipandang sebagai tugas umat kepada Tuhannya dengan ke gereja pada hari Minggu, berdoa sebelum makan, atau berdoa sebelum tidur. Orang-orang seperti ini sebenarnya tidak dikenal oleh Tuhan; tidak diperhitungkan. 
    Orang-orang seperti ini keadaannya tidak lebih dari orang-orang yang tidak beragama. Banyak orang tidak beragama, perilakunya juga baik. Tidak heran ada orang-orang non-Kristen atau orang Kristen yang tidak lagi mencari Tuhan berkata, “Saya tidak ke gereja, lebih baik dari orang yang ke gereja. Untuk apa ke gereja? Yang ke gereja saja begitu modelnya.” Bahkan, nanti orang di luar Kristen, tidak akan pernah menjadi Kristen karena melihat orang-orang Kristen yang standarnya masih beragama Kristen,
    9 min
  • Implementasi Tulisan Rasul Paulus
    Bagi orang zaman sekarang, mengenakan kehidupan seperti kehidupan yang dilakukan Paulus menjadi mustahil. Sulit sekali, bahkan mustahil. Tetapi kita percaya apa yang difirmankan Tuhan di Matius 19, “Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.” Mari kita melihat beberapa contoh pernyataan Paulus, misalnya Filipi 1:21, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Ayat itu sudah mengisyaratkan bahwa orang percaya tidak punya bagian apa-apa lagi untuk dirinya; semua untuk Tuhan. Jadi, kita tidak boleh membuat persentase; berapa persen untuk Tuhan, berapa persen untuk yang lain. Semua milik Tuhan. “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” 
    Misalnya ayat yang lain, 2 Korintus 5:14 dan 15, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Ayat ini jelas menunjukkan bahwa kita tidak memiliki bagian apa pun lagi dalam hidup ini. Semua harus dipersembahkan untuk Tuhan. Jadi, tidak heran kalau Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 6:19 dan 20, “Kamu bukan milik kamu sendiri. Muliakanlah Allah di dalam tubuhmu atau dengan tubuhmu.” 
    Pertanyaannya, kita sudah memberikan berapa persen untuk Tuhan? Ini bukan jumlah uang, juga bukan jumlah waktu. Hitungannya bukan ada di waktu atau uang, melainkan hati kita. Ini standar, tetapi sudah mulai dibeda-bedakan. Yang fulltime, itu segenap hidup, jadi pendeta, rohaniwan. Kalau jemaat, tidak fulltime, terserah berapa, serelanya. Kurang ajar, ini sebenarnya. Tidak diukur oleh waktu, berapa banyak. Bukan diukur oleh uang, berapa jumlahnya. Juga bukan diukur oleh status, apakah pendeta, fulltimer, atau bukan. Tetapi hati.
    Makanya kita harus mendengar firman Tuhan setiap hari. Mendapat pencerahan, sehingga bisa mengurai apa yang kusut atau abstrak. Apa yang kusut dan abstrak, yaitu segenap hidup bagi Tuhan. Itu abstrak dan perlu diurai. Masing-masing orang memiliki persoalan sendiri. Masing-masing harus mengurai, karena masing-masing individu memiliki kekhasan atau kekhususan. “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang ini di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Kalau tulisan Paulus disorot dari kacamata dogmatika, lalu diurai dengan kalimat, tidak ada habis-habisnya sampai sekarang. 
    Tetapi kalau dari perspektif implementasinya, kemudian diurai setiap individu dan diperagakan di dalam hidup, akan menjadi catatan abadi di Kerajaan Surga. Kalimat seperti ini, “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku,” bagaimana mengurai kalimat ini? Setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda, tetapi Roh Kudus akan menolong. Filipi 3:7-9, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalanku akan Kristus Yesus. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semua dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” 
    Paulus sudah punya gelar, dia pernah sekolah menurut tradisi School of Hilal di sekolah teolog-teolog Yahudi pada zamannya. Tetapi pada zaman itu, perdebatan doktrin berbuntut pada penganiayaan; yang salah dianggap sesat, dibuang, dibunuh, ada yang dibakar hidup-hidup. Apakah Tuhan mengajarkan hal itu? Lihat perdebatan-perdebatan di media sosial. Kata-kata yang tidak senonoh diucapkan. Kalau memahami kalimat “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup dalam aku,” tidak mungkin Yesus bermartabat seperti orang-orang Kristen dan pendeta-pendeta yang berdebat di media sosial. Tidak jarang jemaat biasa yang tadinya rendah hati, duduk mendengar khotbah, bawa Alkitab.
    9 min
  • Perspektif Lain
    Ada satu hal yang bisa kita temukan dari tulisan Paulus yang begitu kaya dengan hikmat Allah, yang selama ini dilihat hanya dari perspektif dogmatis sehingga dilahirkannya doktrin teologi sistematika yang membangun teologia di dalam pikiran atau nalar. Memang bisa menjadi satu keasyikan, menyenangkan untuk dibahas, kemudian dikhotbahkan, diseminarkan, dijadikan buku, kemudian juga menjadi kurikulum dalam salah satu mata kuliah di perguruan tinggi keagamaan Kristen atau STT. Para sarjana di bidang teologi pun tidak habis-habisnya menggali tulisan Rasul Paulus dari perspektif dogmatis. 
    Tetapi setelah melewati tahun panjang melayani Tuhan, melihat dan mengalami realitas hidup, juga realitas dalam hidup orang-orang Kristen di lingkungan gereja, realitas hidup para pelayan jemaat atau pejabat gereja, dan realitas hidup para dosen dan pengajar Sekolah Tinggi Teologi, kita bisa menemukan bahwa mestinya tulisan Paulus tidak hanya dilihat dari perspektif dogmatis, tetapi juga harus dilihat dari perspektif lain. 
    Apa yang ditulis oleh Rasul Paulus harus dilihat dari perspektif lain, yaitu bagaimana menemukan implementasi konkret dalam kehidupan, sehingga apa yang dialami Paulus, juga kita alami. Paulus adalah model atau potret dari standar orang percaya. Tidak diragukan, Paulus mengikuti jejak Gurunya, sehingga ia bisa berkata, “Ikutilah teladanku seperti aku mengikuti teladan Kristus. Ikutlah aku seperti aku ikut Kristus.” Kita harus bisa mengambil inti dari tulisan Paulus dan menerapkannya di dalam kehidupan kita, sehingga menjadi gerak hidup yang menyenangkan Tuhan. 
    Setiap perilaku dari hidup manusia—dalam konteks ini orang percaya—tercatat. Tentu yang tercatat bukan sesuatu yang buruk, sebab sesuatu yang buruk akan dibuang ke dalam api kekal. Hidup kita harus bisa ditorehkan dengan tinta emas, sebab perilaku kita yang agung yaitu perilaku yang juga dikenakan oleh Yesus, akan mengikuti kehidupan orang yang percaya. Seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan, “Berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” Perilaku orang ini—yaitu orang yang mati dalam Tuhan—ditoreh dengan tinta emas karena membahagiakan dan menyukakan hati Bapa di surga. 
    Perpustakaan secara harfiah yang memuat buku-buku dan data-data tertulis, akan lenyap. Sehebat apa pun doktrin, sistematika teologi yang ditulis, akan lenyap. Tetapi perilaku kehidupan seseorang, buah dari pengertian atas kebenaran yang ditulis oleh Paulus, akan menjadi dokumen kekal di dalam Kerajaan Surga. Bagaimana kita bisa menangkap nafas dan jiwa kebenaran yang termuat dalam tulisan Paulus? Tentu bukan hanya diutak-atik dalam nalar, tetapi harus mengubah, mewarnai manusia batiniah kita. Semakin kita mempelajari tulisan Paulus dari sudut pandang atau perspektif ini, maka kita menemukan bahwa apa yang dikatakan Tuhan Yesus benar sekali. 
    Ketika orang bertanya, “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus menjawab, “Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Berjuanglah untuk masuk melalui pintu sesak itu. Sebab Aku berkata kepadamu: banyak orang berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” Kehidupan Paulus itu standar; standar hidup orang percaya. Sebab, Paulus benar-benar menjadi pengikut Kristus, mengikut jejak-Nya. Yesus adalah Anak Allah yang menjadi manusia dan juga disebut Anak Manusia. Dia telah menunjukkan model dari hidup yang harus dimiliki oleh anak-anak Allah yang taat kepada Bapa. Paulus adalah model dari pengikut Yesus; anak manusia yang dilahirkan dalam darah dan daging seperti kita, yang berhasil, yang berprestasi meneladani Tuhan Yesus. Maka, dia yakin bahwa mahkota kebenaran tersedia baginya. 
    Mari kita melihat tulisan Paulus dari perspektif yang lain, yaitu bagaimana kita bisa menangkap nafas, jiwa kebenaran yang akan mendesak kita untuk memperagakan atau melakukannya.
    9 min
  • Tidak Bercacat Cela
    Tidak ada orang yang lebih beruntung daripada orang yang hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Momentum terindah dalam hidup ini adalah saat seseorang bisa mencapai kesucian sesuai standar Allah. Orang-orang yang hidup tidak bercacat, tidak bercela di hadapan Allah, orang-orang yang hidup kudus adalah orang-orang yang tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun. Jangankan manusia, setan dan kuasa gelap yang terkuat pun, tidak dapat menaklukkan atau mengalahkannya. Tidak ada yang dapat mengganggu dan merusak hidup orang-orang yang benar-benar tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah. Kalaupun orang-orang yang hidup kudus di hadapan Allah; hidup tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah—misalnya seperti terkena musibah, bencana, memiliki persoalan, pergumulan, dan tekanan, maka Allah menjadikan semua itu sebagai sarana untuk memberkatinya; blessing in disguise; berkat di tengah-tengah kesulitan. 
    Orang-orang yang hidup kudus; hidup tak bercacat tak bercela di hadapan Allah, adalah kekasih-kekasih Tuhan. Mereka pasti dilindungi Tuhan dengan perlindungan yang khusus dan istimewa. Sebab, orang yang mengistimewakan Tuhan adalah orang yang pasti diistimewakan Tuhan. Mengistimewakan Tuhan tidak cukup dengan datang ke gereja setiap M atau datang ke persekutuan doa setiap pertengahan minggu. Tidak cukup hanya menjadi aktivis, bahkan menjadi seorang rohaniwan atau pendeta. Mengistimewakan Tuhan adalah di setiap saat seseorang melakukan apa yang menyenangkan hati Allah. Setiap saat melakukan apa yang berkenan di hadapan Tuhan. Hal ini urusan besar, bahkan sekalipun yang sedang dihadapi atau digumuli adalah hal-hal sepele. Tetapi kalau itu menyenangkan hati Allah, itu hal besar. 
    Jadi, bukan soal kasusnya besar atau kecil. Masalahnya terletak pada apakah dengan melakukan sesuatu itu, hati Tuhan disenangkan atau tidak? Orang yang mengistimewakan Tuhan adalah orang yang menjaga perasaan Allah. Orang yang menjaga perasaan Allah tentu juga orang yang dijagai perasaannya oleh Tuhan. Tidak mungkin orang yang menjaga perasaan Allah, lalu Allah tidak memedulikan perasaannya. Kalau kita sungguh-sungguh menjaga perasaan Allah setiap saat, artinya selalu melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya, itu berarti mengistimewakan Allah. Orang-orang seperti ini yaitu orang-orang yang sungguh-sungguh menjadi berharga dan bernilai di hadapan Allah. 
    Menjadi orang yang hidup tidak bercacat, tidak bercela di hadapan Allah atau hidup kudus, itu menyelesaikan semua masalah. Dari masalah di bumi ini, sampai kekekalan. Memang ada masalah-masalah yang tidak segera dapat terselesaikan. Ada kebutuhan-kebutuhan yang tidak segera terpenuhi. Tetapi, ujung-ujungnya akan selesai. Hebatnya, persoalan-persoalan hidup, kesulitan-kesulitan hidup itu menjadi cara Allah mempersiapkan kita menerima berkat kekal atau berkat abadi. 
    Kita semua pasti punya masalah. Selama kita hidup di bumi ini, pasti kita memiliki masalah. Tentu kita harus hadapi dengan tanggung jawab. Kita tidak bisa hanya berdoa, “Tuhan, selesaikan masalah ini,” tidak boleh dan tidak bisa. Kita harus menghadapinya. Tetapi orang yang benar-benar berkomitmen untuk hidup suci, hidup berkenan di hadapan Allah, itu dipimpin Roh Kudus, diberi hikmat. Jika ada hal-hal yang membahayakan diri orang itu, di luar kemampuan dia menyelesaikannya, Tuhan pasti melindungi. 
    Banyak orang Kristen yang membawa persoalannya ke pendeta, minta didoakan. Juga datang ke gereja, berdoa. Datang ke menara doa, doa puasa, tetapi terus gelisah. Dia merasa bahwa persoalan itu terlampau besar baginya. Ketika kita hidup suci, hidup tak bercacat tak bercela, maka kita bisa merasakan bahwa tidak ada persoalan besar yang menenggelamkan kita. Ketika kita hidup suci, hidup tak bercacat tak bercela di hadapan Allah, pasti kita memiliki keyakinan. Ada keyakinan yang tumbuh bahwa Allah itu hidup, Dia hadir. Keyakinan yang tidak bisa diperoleh hanya karena mendengar khotbah atau karena bersekolah di perguruan ti...
    9 min
  • Mengistimewakan
    Kita percaya, Tuhan tidak pernah memberi perintah yang tidak bisa kita lakukan. Roh Kudus pasti akan menolong kita untuk bisa mencapainya. Kesucian jangan dipikir secara mistik, karena nanti jadi kacau, absurd, dan tidak bisa diurai. Kesucian harus dipahami secara praktis dan natural. Waktu kita ada dalam satu keadaan di mana kita rasanya mau mengucapkan kalimat sumpah serapah, tetapi kita tidak mengucapkannya, itu kesucian. Kita diam saja, karena kita mau menjaga perasaan Bapa, menjaga perasaan Tuhan. Walaupun tidak kita ucapkan, Tuhan bisa membaca hati kita. 
    Jadi, jangan ada kata “biadab, persetan,” tidak boleh ada. “Matilah kau,” tidak boleh. Kita harus mengampuni dan biarkan menjadi urusan masing-masing individu dengan Tuhan. Bukan hak kita untuk menghakimi, apalagi menghukum. Serahkan saja di dalam tangan Tuhan. Ini yang kita harus lakukan. Waktu kita memiliki kesempatan untuk tidak jujur, jangan lakukan. Jangan tidak jujur. Waktu kita memiliki kesempatan untuk berbuat dosa, apa pun bentuknya, sekecil, sehalus apa pun dosa itu, jangan lakukan. Di situ Roh Kudus pasti menolong, karena memang mustahil bagi manusia. Tanpa Roh Kudus, mustahil. 
    Kalau hanya melakukan hukum secara moral umum, itu pun juga tidak mudah; tetapi manusia pada umumnya bisa. Tetapi kalau kesucian sampai tingkat batin, ini sudah melampaui kekuatan manusia. Kita harus minta pertolongan Roh Kudus. Harus ada tekad dulu di dalam diri kita, ada komitmen dulu. Kalau sudah ada tekad, ada komitmen, pasti Roh Kudus akan menolong kita. Firman Tuhan mengatakan di Roma 8:28 dan 29, “Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” “Yang mengasihi,” berarti bukan untuk semua orang. 
    Keselamatan dalam Yesus Kristus adalah anugerah keselamatan yang tidak menghilangkan pilihan, apakah orang mau mengasihi Tuhan atau tidak; apakah orang mau hidup suci atau tidak. Jangan heran kalau suatu hari Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu,” walaupun orang itu mengaku sudah percaya kepada Tuhan Yesus, bahkan sudah berprestasi dalam pelayanan. “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.” Tuhan Yesus juga mengerti bahwa setan bisa menampi seseorang, dan gugur imannya. Jadi, kita harus berjuang! Berkali-kali Alkitab berkata bahwa kita harus berjuang. Harus ada tekad dari diri kita untuk hidup suci. Harus ada tekad yang kuat dari diri kita.
    Jadi, kita mengucapkan janji, sumpah, bukan hanya tekad atau komitmen. Kemudian kita minta, “Tolonglah aku ya Tuhan, untuk dapat melakukannya.” Seperti orang yang terkena kanker di dalam dirinya. Dia bertekad, “Aku mau operasi. Aku bersedia dioperasi,” padahal hati kecilnya takut, dan dia tahu bahwa operasi ini operasi besar. Ini juga tidak mudah, sebab bisa mendatangkan sakit. Tetapi kalau memang orang mau sembuh, pasti apa pun dia lakukan. Kita juga harus berpikir logis, bahwa kita pasti mati. Ketika kita mati, kita harus mempertanggungjawabkan keadaan kita di hadapan Tuhan. Kita pasti mati, dan kita tidak tahu kapan deadline hidup kita; kapan hari akhir hidup kita. Kapan detak jantung kita berhenti, kita tidak tahu. 
    Kapan kita terakhir menarik nafas, menghembuskan nafas terakhir? Kita tidak tahu. Maka, yang kita harus lakukan sekarang adalah bertekad dengan tekad sekuat-kuatnya untuk hidup suci sampai menjadi janji, nazar kepada Tuhan. Maka, hidup kita akan disibukkan di situ, akan diarahkan untuk mengurusi hal ini. Di situlah kita memenuhi firman Tuhan “Mendahulukan Kerajaan Allah.” Dengan cara demikian, kita sebenarnya memuliakan, menghargai, atau menghormati Tuhan. 
    Bodohnya banyak orang, mereka masih sibuk, ribut dengan masalah-masalah yang dia sendiri juga tidak sanggup hadapi. Kalau kita memiliki masalah, harus kita hadapi dengan tanggung jawab. Tetapi, kita juga memiliki keterbatasan. Kita memiliki keterbatasan yang kita tidak akan bisa menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri. Siapa yang menolong kita kalau bukan Tuhan? Masalahnya, kita layak tidak,
    8 min
  • Meneguk Kehadiran Tuhan
    Kalau kita mau hidup suci, menjadi istimewa di mata Allah, maka kita bisa menjadi biji mata Allah; bukan bermaksud supaya bisa membalas kejahatan orang, bisa memakai kuasa Tuhan untuk mencelakai orang. Tentu bukan itu maksudnya. Tetapi kita membutuhkan proteksi, kita membutuhkan perlindungan Tuhan dari segala hal. Yang kita hadapi yang pertama, kuasa kegelapan. Mengerikan karena melampaui kekuatan kita. Yang kedua, manusia lama; diri kita yang terus mendesak untuk dipuaskan. 
    Yang ketiga, pengaruh jahat di sekitar kita. Yang keempat, malapetaka, bencana yang tidak membuat kita dewasa. Yang kelima, orang-orang yang berniat jahat. Pasti ada saja orang yang berniat jahat kepada kita. Kita minta perlindungan Tuhan, bukan supaya Tuhan menghukum orang yang berniat jahat terhadap kita. Tetapi kita hidup suci, supaya kita sejak di bumi menjadi kekasih, sahabat Tuhan. Sampai di kekekalan, kita pasti mendapat tempat di hadirat Tuhan. 
    Banyak orang yang hidup dalam keadaan terpuruk. Kita dapat merasa hidup ini betul-betul menyakitkan. Pada umumnya juga banyak orang merasa gagal. Coba kita buat angket. Dari 100 orang, berapa orang yang mengatakan “Aku sukses, bahagia. Aku telah mencapai cita-cita?” Rata-rata orang berkata, “Hidup ini berat.” Tidak sedikit dari mereka yang kecewa. Mungkin dari 100, bisa 10 orang, 15 orang sudah berusaha untuk bunuh diri, lebih menyenangi mati daripada hidup. Ketika kita berjalan dengan Tuhan, ada kekuatan supranatural—karena Allah itu supranatural—yang menopang hidup kita, yang memampukan kita untuk bisa melewati semuanya. Sebesar apa pun masalah kita, pasti kita bisa lewati. Maka kalimat “bisa dilewati” itu kalimat ampuh. Kita bisa melewatinya karena Tuhan beserta kita. 
    Kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela, kehidupan yang kudus di hadapan Allah, itu momentum terindah dalam hidup. Tidak ada momentum yang lebih indah selain kehidupan yang kudus, tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah. Seindah apa pun hidup yang bisa diraih seseorang, pasti akan berlalu. Bisa juga tidak mendatangkan berkat, rahmat, anugerah sama sekali. Tetapi kesucian hidup; hidup yang tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah, itu tidak pernah akan berakhir. Keindahan, keagungan dari kehidupan seseorang yang tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah, tidak akan berakhir dan akan berlanjut terus sampai pada kekekalan. 
    Kita harus berjuang untuk memiliki kehidupan yang tak bercacat, tak bercela. Hal yang sering membuat kita atau banyak orang salah adalah perkataan. Perkataan, paling banyak membuat kita bersalah. Jadi kita bisa mengerti mengapa Yakobus berkata, “Orang yang tidak bersalah dalam perkataannya, dia sempurna.” Masalahnya, bagaimana kita bisa menjaga perkataan? Jaga apa yang masuk di dalam pikiran kita. Sebab kalau yang masuk dalam pikiran itu baik, bersih, benar, suci, yang keluar dari mulut kita pun juga begitu. 
    Makanya jangan melihat apa yang tidak perlu kita lihat, jangan bergaul dengan orang yang tidak membawa kita kepada kekudusan atau kesucian; orang-orang yang tidak membuat kita menjadi takut akan Allah. Begitu kita bangun tidur pagi hari, kita mulai dengan berdoa. Karena itu akan memberi kepada kita pengaruh yang kuat sekali untuk kita bisa bergairah hidup suci. Kalau pagi dimulai dengan kopi tanpa doa, “hitam” terus hidup kita. Tidak salah minum kopi, tetapi meneguk” kehadiran Tuhan dalam doa, itu yang pertama dan penting. 
    Jangan bangun pagi yang dipikir “kopi, berita, baca koran.” Bukan tidak boleh baca koran, membaca atau mendengar berita. Tuhan dulu! Bahkan berita-berita yang tidak perlu pun, tidak perlu kita dengar. Jangan bangun pagi yang dilihat gadget, dengan banyak sajian. Pikiran kita jangan diisi oleh hal-hal yang tidak membawa kita kepada kekudusan, jadi rusak hidup kita. Kesucian itu dibangun dari perkara kecil dan praktis. Hal ini harus serius kita harus lakukan, sejak kita membuka mata, bangun tidur. Gairah kita kalau sudah dirusak oleh berita,
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…