Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menaklukkan Keadaan
    Sejujurnya, kita bisa mengakui ada saat-saat dimana kita meragukan atau agak meragukan penyertaan Tuhan di dalam hidup kita, terutama pada saat dimana kita mengalami kesulitan bertubi-tubi; persoalan satu belum selesai, muncul persoalan yang lain. Persoalan kedua belum selesai, muncul persoalan ketiga. Kita sudah berdoa, kita sudah berusaha mendekat kepada Tuhan, tetapi kita tidak melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan dan tanda-tanda pertolongan-Nya. Pasti kita pernah mengalami keadaan itu, atau mungkin sekarang ini kita sedang mengalami keadaan tersebut. Dan sangat besar kemungkinan di waktu mendatang, kita juga akan mengalami keadaan tersebut. Situasi seperti itu, membuat kita sebagai orang percaya, tertekan. Untuk itu, kita dapat mengelompokkannya dalam 3 kelompok:

    Yang petama, orang di luar orang beriman. Ketika mereka menghadapi persoalan bertubi-tubi, mereka bisa marah terhadap keadaan. Dan tentu mereka memiliki banyak alasan untuk mempersalahkan siapa saja yang dipandang menjadi penyebab persoalan itu. Mereka tidak peduli Tuhan karena memang dia tidak berurusan dengan Tuhan. Ia tidak membenarkan Tuhan, dia juga tidak mempersalahkan Tuhan, karena memandang Tuhan tidak ada atau tidak perlu ada. Kelompok ini jelas kurang ajar. Bersungut-sungut dan marah. Seperti Kain yang membunuh adiknya, Habel, karena tidak bahagia dengan situasi hidupnya. Menyalahkan orang, lalu melampiaskan kemarahannya dengan tindakan yang salah.

    Yang kedua, orang percaya yang selama ini berurusan dengan Tuhan, rajin datang ke gereja, taat berpuasa dan berdoa. Tetapi ketika mereka menghadapi masalah tersebut, mereka mempersoalkannya dengan Tuhan namun kalau jujur mereka pun berkata, “Mengapa, Tuhan? Mengapa?” Mereka marah, tapi terselubung. Dengan satu tuduhan terselubung kepada Tuhan, “Engkau mencelakai aku. Engkau membuat aku sulit, Engkau membuat aku susah.” Memang tidak diucapkan. Tetapi ada orang-orang Kristen yang tidak marah terhadap Tuhan semacam itu, dia hanya diam. Diam bingung, dan tentu tidak bisa bersyukur. Dia juga bertanya, “Mengapa?” Dia tidak mempersalahkan Tuhan, dia bingung. Namun dia juga tidak bisa mengucap syukur. Kelompok ini adalah orang Kristen yang bersikap kekanak-kanakan, tidak dewasa. Jadi pada waktu mendapat berkat, waktu memiliki keadaan yang baik-baik, kita mengatakan “Allah baik” dengan nilai 100. Tetapi dalam situasi dimana kita mengalami kesulitan bertubi-tubi, kita bisa juga mengatakan “Allah itu baik,” tapi tidak 100. Kabur, angka 100 nya. Kalau jujur, mungkin 60.

    Yang ketiga, orang percaya yang tahu dan yakin bahwa Allah sempurna dalam segala keputusan dan tindakan-Nya. Kita bukan hanya bisa berkata bahwa Allah itu baik, tetapi memercayai-Nya bahwa Dia baik. Bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, tidak mungkin tidak mendatangkan kebaikan. Mungkin kita bisa tidak mengerti mengapa hal itu terjadi, tetapi kita bisa percaya. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa percaya? Sejatinya, kita harus tetap bersukacita di dalam Tuhan. Seperti yang dikatakan di dalam firman Tuhan, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita,” Efesus 5:20. Kita mesti bersikap dengan benar.

    Ini sangat sulit. Menyampaikan khotbah seperti ini tentu lebih mudah dibanding ketika kita menghadapi langsung masalah bertubi-tubi, seakan-akan masalah itu memaksa kita untuk marah terhadap Tuhan atau membawa kita di situasi bingung. Tetapi, kita harus termasuk di dalam kelompok ketiga ini. “Aku percaya kepada-Mu, walau ku tak mengerti.” Masalahnya adalah bagaimana bisa memiliki percaya dalam situasi seperti itu? Ini yang menjadi pergumulan hidup kita. Bagaimana kita tidak mencurigai Tuhan, melainkan tetap memandang bahwa Tuhan itu baik. Maka ketika kita menghadapi keadaan itu, kita tetap memuliakan Allah. Keadaan yang memaksa kita marah, keadaan yang memaksa kita menjadi bingung, tetapi kita tidak mau ditaklukkan oleh keadaan.
    10 min
  • Bisa Dilewati
    Fokus hidup kita bukan terkait dengan masalah-masalah fana. Coba renungkan, betapa tidak berkualitasnya jika Allah berurusan dengan umat, karena hanya mau menyelesaikan masalah-masalah hidip, kebutuhan-kebutuhan fana. Sehingga hidup bisa dijalani dengan nyaman, masalah bisa dilewati dengan aman, hidup bisa indah, tapi terpisah dari Allah. Apa itu yang Tuhan kehendaki? Bukan. Tuhan mau keadaan kita baik-baik. Tuhan tidak ingin kita berkedaan buruk, tapi baik-baik, dalam persekutuan dengan Allah. Sebab bagaimana pun dan apa pun keadaan kita, Tuhan cakap menopang kita, sehingga kita selalu bisa berkata “bisa dilewati.” Yang akhirnya, kita sampai di Kerajaan Surga. 
    Kita tidak mungkin masuk Kerajaan Surga, masuk Rumah Bapa, kalau kita memiliki perasaan tidak patut kepada Allah. Apa? Mencurigai Dia. Jadi kita harus memercayai Dia, apa pun keadaan yang sedang terjadi atau berlangsung di dalam hidup kita, dan itu adalah bentuk sikap hormat kita kepada Tuhan. Maka kalau kita menyatu dengan Tuhan, kita tidak bisa meragukan, tidak bisa mencurigai Dia. Kita yakin kita ada dalam perlindungan Tuhan, bahkan tanpa kita minta. Karena di dalam persekutuan dengan Tuhan, kita bisa merasakan betapa agung Pribadi-Nya, betapa bisa dipercayai-Nya Dia, Allah yang baik. 
    Masalah yang datang dalam hidup kita mungkin bertubi-tubi. Dan sering kita tidak melihat kehadiran Tuhan dalam persoalan-persoalan kita, sepertinya Tuhan membiarkan. Sejatinya, Tuhan sedang melatih kita. Jangan sampai kita mencurigai Tuhan; sebab ketika kita mencurigai Tuhan berarti kita tidak menghormati Dia. Maka, kalau kita hidup di dalam kesucian Tuhan, wah betapa agung-Nya Tuhan. Tidak mungkin Dia mengkhianati kita, tidak mungkin Dia melupakan kita. Kita dapat merasakan keagungan pribadi Tuhan, sehingga pada waktu kita menyembah Dia, kita bisa menyembah dengan kekaguman yang benar. 
    Mulailah dari kehidupan yang bersih; sebersih-bersihnya, sekudus-kudusnya. Jaga mulut, mata, telinga, pikiran, dan perbuatan kita. Dengan cara ini, kita bisa menyatu dengan Tuhan. Kita bisa merasakan keagungan pribadi-Nya, mengerti keagungan pribadi-Nya, sehingga kita tidak mencurigai Dia. Yesus memulai pelayanan dengan percaya kepada Bapa, dan Ia juga mengakhiri pelayanan-Nya dengan tetap memercayai Allah, Bapa-Nya. Di kayu salib Ia berkata, “Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” 
    Coba kita teduh dan jujur. Ketika kita menghadapi persoalan bertubi-tubi, masalah-masalah berat, dan kita tidak melihat kehadiran Tuhan, kita bisa mendengar daging kita marah. Ada bagian dalam diri kita—sekecil apa pun itu—yang marah dan memberontak. Kita doa puasa, doa berjam-jam, tetapi ketika masalah datang, kita merasa seperti tidak disertai Tuhan. Ketika kita menghadapi masalah bertubi-tubi, kita tahu teorinya: jangan membalas kejahatan dengan kejahatan terhadap orang, jangan menyalahkan orang, kita harus bersyukur, tapi ada kemarahan, ada perasaan khawatir. 
    Kondisi seperti itu, jangan kita diamkan, harus dibereskan. Karena dia bisa menguasai kita. Harus kita padamkan. Kita bisa memadamkan itu dengan cara berdoa, menyembah Tuhan. “Engkau agung, Tuhan. Kau mulia. Engkau tidak bercela. Apa yang Kau lakukan sempurna. Aku tidak mengerti, tapi aku percaya Engkau baik. Tidak ada yang lebih baik dari Engkau.” Matikan suara itu. Kita pasti bisa melihat, mendengar kemarahan itu. Atau dalam situasi tertentu, “percaya Tuhan menyertai” tapi ada suara “matilah kau.” Ada kekhawatiran. Selesaikan itu; kekhawatiran, kemarahan, nafsu-nafsu yang jahat. 
    Kalau kita banyak berdoa, duduk diam di kaki Tuhan, kita bisa merasakan suara jiwa yang keruh, dan suara roh yang dipimpin oleh Roh Kudus. Misalnya pada waktu kita ribut dengan seseorang, lalu disuruh damai. Kita berdamai, namun sejujurnya, ada kemarahan di balik “perdamaian” tersebut. Itu yang harus dimatikan. Dan kalau itu tidak kita matikan, kita bisa tidak menghormati Tuhan. Kalau kita bergumul demikian di setiap hari,
    11 min
  • Bertahan Sampai Kesudahan
    Matius 24:13 mengatakan, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Ayat ini didahului dengan kalimat, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Ayat ini menunjukkan bahwa dunia di mana Tuhan akan datang kembali—zaman kita sekarang ini—adalah zaman yang benar-benar jahat. “Tetapi orang yang bertahan …” artinya orang yang bertekun; ibarat ada di tengah badai, dia bertahan, dia tidak terbawa badai dia bertahan. Dia maju langkah demi langkah. Walau makin hari badainya tambah besar, tapi kalau kita tetap bertahan sampai kesudahannya—melawan arus, melawan badai—maka kita semakin kuat dan sanggup menghadapi badai sampai kita lulus. 
    Memang, ketika kita bertekun mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, terasa keadaan kita seakan-akan sama dengan mereka yang tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dan ini bisa melemahkan iman kita, berpotensi membuat kita tawar hati. Perhatikan dua keadaan ini, yang pertama, kita menghadapi badai yang lebih keras, tapi kalau kita bertahan dan tetap maju langkah demi langkah, kita terlatih menjadi kuat. Yang kedua, banyak orang yang tidak bertekun mencari Tuhan namun seakan-akan keadaannya baik-baik saja. Sedangkan kita yang sungguh-sungguh mencari Tuhan, seakan-akan tidak beda. 
    Sehingga menimbulkan pertanyaan, “Untuk apa seekstrem ini? Orang lain yang tidak ekstrem, aman-aman saja.” Sejatinya, di sinilah kesetiaan seseorang diuji. Ketika kita bertekun dan ternyata cepat-cepat mendapatkan upah, justru kita tidak teruji. Tetapi ketika kita bertekun, kita memperoleh satu upah/reward yang terselubung dan tersembunyi—yaitu kita menjadi semakin kuat menghadapi pengaruh dunia yang jahat. Di sini yang dibutuhkan adalah ketekunan ekstra, ketekunan super, ketekunan lebih. Tidak bisa tekun biasa-biasa saja. 
    Kalau dulu kita doa cukup saat bangun tidur dan sebelum tidur selama 15 menit, sebelum makan plus ada saat teduh, sekarang kita gandakan. Dan Tuhan menandai. Kita harus menggandakan. Dunia yang semakin jahat ini, kita mau kembali kepada kekristenan yang sejati. Kristen yang sejati itu sebenarnya apa? Bagaimana? Kita mau kembali kepada Kekristenan yang sejati, Saudaraku. Di tengah-tengah kondisi dunia yang semakin jahat, kita harus bertekun. Walaupun orang di sekitar kita, yang tidak bertekun seperti kita seakan-akan keadaannya sama, Tuhan menguji kesetian kita. Sampai di mana kita setia di tengah-tengah keadaan yang sulit dan seakan-akan sama. Kita yang harus memerintahkan diri kita sendiri.
    Pada kenyataannya, kita melihat ada orang-orang yang mungkin tidak bisa berubah lagi. Dan jangan sampai kita jadi pendeta yang tidak bisa berubah, tidak bisa dinasehati. Peristiwa kecil pun, bisa menjadi suara Tuhan yang mengubah hidup kita. Jangan tunggu sampai kita digampar. Baru dicubit, kita tahu apa maksud Tuhan dengan kejadian itu. Percayalah, apa yang kita lakukan di dalam Tuhan (ketekunan mencari Tuhan) tidak sia-sia. Namun, tidak jarang, kita yang bertekun tetapi dibuat Tuhan dalam situasi sulit. Dalam hal ini kita harus bergumul bersama Tuhan sampai kita bisa menghayati bahwa kekekalan itu indah luar biasa. Kita bisa membayangkan, betapa indahnya kehidupan tanpa penderitaan, tanpa sakit, tanpa kematian (terpisah orang-orang yang kita kasihi) dan tanpa bencana. Jadi, berbahagialah kita yang masih bisa disadarkan. 
    Sejujurnya, seberapa sih senangnya hidup ini? Mungkin kita yang belum pernah menjadi kaya berpikir: kalau jadi kaya, saya pasti bahagia. Mari kita tanya kepada yang sudah kaya, begitu saja. Mobil bagus, begitu saja. Uang banyak, rumah bagus pun begitu saja. Kalau seseorang sudah tersentuh Firman yang murni, ia tidak tenggelam dengan kekayaannya, karena ia tahu ternyata hanya begitu saja. Tapi banyak orang kaya yang mulai tenggelam, tak bisa balik. Tapi kalau ia masih mau datang ke gereja, berdoa, menyembah—dan tentu berubah—maka ia masih bisa selamat.
    9 min
  • Patah Hati dengan Dunia
    Pandangan kita harus lurus ke depan. Teropongan kita harus jauh. Kita menghadapi krisis ekonomi global, konflik antarbangsa dan berbagai ketegangannya, menghadapi ekosistem bumi yang tidak menjanjikan, kejahatan yang bertambah-tambah. Moral manusia semakin rusak, kehidupan makin tidak ideal. Kita hidup di bumi yang makin tidak menjadi tempat yang baik. Kita menyongsong dunia yang makin parah. Tetapi kita bersyukur, kita memiliki pengharapan: kehidupan di balik kehidupan di bumi.
    Hal ini harus menjadi kekuatan kita. Semua akan berakhir! Kalau melihat masalah pribadi yang kita hadapi sekarang, percayalah semua akan berakhir. Tetapi bukan berarti lalu kita tidak bertanggung jawab. Kita harus menghadapinya dengan tanggung jawab, dan percaya semua akan berakhir. Kalau kita menghadapi guncangan dunia yang hebat ke depan, kita percaya dunia akan berakhir. Ujungnya, pasti kita akan memperoleh berkat, anugerah, rahmat, yaitu kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Karenanya, fokus hidup kita selain jangan pada masalah-masalah hari ini, tetapi juga jangan pada kesenangan-kesenangan dunia. 
    Ada banyak kesenangan yang membuat kita ada di comfort zone; zona nyaman, sehingga kita kurang atau tidak mencari Tuhan dengan serius. Kita harus berpikir seakan-akan hidup kita tinggal satu hari ini. Besok, mungkin tidak ada. Kita harus berpikir bahwa keadaan aman, nyaman itu hanya sekarang. Mungkin beberapa jam mendatang atau besok, keadaan memburuk dan tidak ada jalan keluar, kecuali pulang ke Rumah Bapa. Bayangkan orang-orang yang tidak memiliki pengharapan kekekalan, tidak memiliki pengharapan kehidupan yang baik di balik kuburnya. Betapa mengerikannya!
    Mereka seperti orang-orang yang dieksekusi hukuman mati. Setelahnya, mereka tidak memiliki pengharapan, gelap, tidak tahu yang akan terjadi. Paling-paling mereka menenangkan diri dengan perkataan “Mudah-mudahan diterima di sisi Tuhan, mudah-mudahan masuk surga.” Untuk masalah kekekalan, mengapa spekulasi? Untuk masalah yang tidak bersifat kekal saja, orang tidak spekulasi. Supaya hari esok dapat pekerjaan, sekolah. Supaya dapat pekerjaan dengan mudah, berprestasi. Supaya bisa mencari nafkah, memiliki keahlian tertentu. Hal itu diusahakan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, kekuatan. 
    Untuk yang bersifat sementara, tidak bersifat kekal, orang bisa tidak spekulasi. Orang tidak mau spekulasi; harus pasti. Karenanya, orang memberi diri membeli asuransi. Asuransi pendidikan, asuransi jiwa, dan lain-lain. Kalau nanti sakit, ada yang menjamin, asuransi kesehatan. Apalagi kalau di Barat, tidak punya asuransi, berat. Mahal sekali biaya dokter. Di Indonesia, orang berusaha memiliki BPJS. Yang punya uang, bisa punya asuransi. Misalnya sakit dan dirawat di luar negeri, akan diganti ongkos pembayarannya atau biaya rumah sakitnya. Supaya anak-anak nanti bisa sekolah, dari kecil sudah dimasukkan asuransi pendidikan. Coba lihat orang tua, supaya anaknya nanti tidak menghadapi penyakit A, B, C, maka diberi imunisasi.
    Untuk hal kekekalan, mestinya kita tidak boleh spekulasi. Kalau untuk perkara fana saja orang tidak mau spekulasi, mestinya untuk kekekalan, tidak berspekulasi. Memiliki keyakinan, kepastian untuk pasti diterima dalam kemuliaan bersama Yesus. Penderitaan yang kita alami secara pribadi dalam kasus-kasus pribadi, juga nanti guncangan yang akan menimpa bumi, membuat hati kita merindukan Tuhan. Membuat hati kita menantikan dunia yang lebih baik. Bersyukur kalau kita didera oleh berbagai masalah. Rasanya mau mati saja, tetapi tidak berani bunuh diri karena memang tidak boleh bunuh diri. Bunuh diri itu mudah, tetapi setelah bunuh diri, kekekalan mengerikan. 
    Ini terjadi dalam kehidupan banyak orang hari ini. Hidup susah, bunuh diri takut, dan memang tidak boleh. Tetapi semua keadaan sulit ini sebenarnya membuat kita bisa mengalami yang disebut brokenness; hati yang broken, hancur, terluka. Kita patah hati dengan dunia. Tidak ada yang kita nantikan dari dunia agar memba...
    8 min
  • Tenggelam dalam Masalah
    Kita mendengar bahwa prediksi hidup manusia ke depan makin sulit. Dari masalah ekonomi, krisis global akan terus bertahan, bahkan lebih bertambah parah, disebabkan karena perang antara Rusia dan Ukraina. Dengan perang ini, maka kontribusi pemasukan barang terhambat, dan ini menjadi masalah. Ada negara-negara penghasil minyak membatasi ekspor minyaknya, sehingga menyulitkan banyak negara. Ketegangan beberapa negara seperti Korea Utara yang di belakangnya tentu ada RRC terhadap Amerika, Jepang dan Korea; Taiwan yang bersitegang dengan RRC, dan lain sebagainya. Belum masalah teror dari kelompok fanatis beragama di Afrika, juga di beberapa negara Asia. 
    Belum lagi ekosistem bumi dengan adanya erupsi, pergeseran lempengan tanah yang bisa menghasilkan tsunami, hawa panas atau hawa dingin ekstrem, dan lain sebagainya. Dunia menyongsong keadaan yang lebih buruk. Penduduk dunia sedang menghadapi keadaan yang lebih buruk, maka kita juga akan mengalaminya atau berimbas kepada kita. Kita adalah anak-anak dari Elohim Yahweh, Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi. Belum tentu kita terhindar dari masalah ini. Fakta sejarah dunia, ketika dunia dilanda berbagai krisis dan masalah, orang Kristen pun juga mengalami atau paling tidak, berimbas. 
    Jangan berharap kita menjadi orang yang dikhususkan, dieksklusifkan oleh Tuhan; orang lain menghadapi masalah, kita tidak punya masalah. Justru mungkin orang Kristen masalahnya lebih banyak. Selain menghadapi krisis-krisis yang ada, orang Kristen yang sungguh-sungguh akan terus bergumul dan berjuang menjadi orang percaya yang benar-benar berkenan di hadapan Allah. Ini masalahnya: orang percaya harus berjuang untuk sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Di tengah-tengah dunia yang jahat, egois, dan menghalalkan segala cara, harusnya orang percaya tidak boleh egois dan menghalalkan segala cara. 
    Orang Kristen yang baik, umat pilihan yang benar, orang percaya yang sejati pasti memiliki tatanan hidup. Tatanan hidup yang tidak boleh direduksi (dikurangi nilainya). Kita harus berintegritas untuk tetap dalam koridor kesucian Allah. Krisis dunia ke depan dengan berbagai aspeknya, membuat orang jahat bisa bertambah jahat. Orang yang rusak, bertambah rusak. Bagi orang pilihan yang memberi diri dibentuk Tuhan, keadaan dunia ini menjadi pemurnian, sarana Allah memurnikan atau menyempurnakan. 
    Jadi, ke depan kita akan menghadapi masalah yang lebih berat. Jangan berharap kita tidak menghadapi masalah yang lebih berat. Jangan mendengar janji-janji seakan-akan dunia menjadi lebih baik, itu bukan firman Tuhan. Justru firman Tuhan menunjukkan kepada kita seperti 2 Timotius 3:1-5 “Bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” Hal ini juga dikemukakan oleh Tuhan Yesus di Matius 24, “Akan tetapi semua itu barulah permulaan dari penderitaan menjelang zaman baru.” Semua kita hendaknya mempersenjatai, memperlengkapi diri dengan pemahaman atau pengertian bahwa kita menyongsong dunia yang lebih berat, keadaan yang makin sukar. Ini harus ditanamkan dalam hati kita, dimeteraikan dalam loh jiwa kita. Kita menghadapi dunia yang makin berat dan makin sulit. 
    Kita akan menemukan kenyataan bahwa memang dunia bukan hunian yang ideal. Alkitab jelas sekali mengatakannya, dan tidak bisa dibantah. Tidak mungkin tidak terwujud, tidak tergenapi, tidak terpenuhi; karena Alkitab yang berbicara. Ada orang-orang yang menjanjikan bahwa dunia ke depan lebih baik. Akan ada masa transformasi, katanya. Dunia akan membaik, kejahatan akan berkurang, ekonomi akan membaik. Orang akan menari-nari dari rumah ke rumah, dan memang ada lagunya. Sementara Alkitab jelas mengatakan bahwa dunia di mana kita hidup akan menjadi lebih buruk. Tetapi inilah cara Tuhan untuk melakukan yang namanya penampian. Dunia diguncang. Dengan guncangan itu, ditampi. Siapa yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus dan memberi diri dibentuk, akan disempurnakan makin suci.
    9 min
  • Didewasakan Lewat Masalah
    Kita menghadapi masalah yang jauh lebih besar ke depan. Yang terbesar adalah ketika kita harus menghadap takhta pengadilan Allah. Betapa mengerikannya hal tersebut. Jangan sampai ada masalah-masalah yang sekarang membuat fokus kita kepada Tuhan menjadi kabur. Memang setan pekerjaannya begitu. Setan berusaha supaya mata pikiran kita tidak tertuju kepada Allah secara benar. Kuasa kegelapan akan bermanuver hebat di dalam kehidupan kita, supaya kita tidak fokus kepada Tuhan dengan tujuan agar kita tidak berinteraksi dengan Tuhan. 
    Ini persiapan untuk dibinasakan; persiapan untuk menuju api kekal, menjadi sahabat dalam persekutuan dengan kuasa kegelapan. Masalah-masalah yang kita hadapi hari ini mestinya justru menjadi sarana kita mencari Tuhan, mendorong kita mencari Tuhan. Bukan mendorong kita kecewa terhadap Tuhan, lalu meninggalkan Tuhan. Justru seharusnya mendorong kita mencari Tuhan. Kita pertanyakan, “Mengapa ini terjadi, Tuhan? Apa yang harus aku lakukan dengan masalah ini, Tuhan?” Ingat, apa yang terjadi dalam hidup kita sekarang ini, merupakan persiapan kekekalan yang Allah kerjakan di dalam dan melalui hidup kita. 
    Tidak ada sesuatu yang kebetulan terjadi. Tidak ada sesuatu yang terjadi seperti accident atau kecelakaan. Semua di dalam desain Allah. Luar biasa, semua di dalam desain Tuhan. Tuhan mendesain keadaan, meng-create keadaan untuk kita bisa memiliki iman yang bertumbuh. Growing to be mature in the Lord; menjadi dewasa di dalam Tuhan. More and more to be like Christ; terus bertumbuh dan makin seperti Kristus. Karenanya, kita harus sungguh-sungguh fokus kepada Tuhan. Jangan sampai menyimpang ke kanan atau ke kiri, karena situasi keadaan hidup kita yang menyakitkan, yang mengecewakan, yang berat. Ingat, nasihat Tuhan kepada Yosua, “Jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, teguhkan hatimu.” 
    Jangan hanyut, jangan tenggelam dengan masalah-masalah kecil yang kita hadapi. Dikatakan “kecil” karena tidak sebanding dengan guncangan dahsyat yang akan terjadi ke depan. Sebesar apa pun masalah kita, tidak ada artinya dibanding guncangan yang akan terjadi ke depan. Apakah bencana alam, apakah perang, apakah pandemi penyakit, atau faktor lain yang dahsyat. Yang penting bagi kita adalah bagaimana mempersiapkan diri agar kita bisa layak menghadap Tuhan. Itu yang penting. Bagaimana kita berjuang menjadi anak-anak Allah yang benar-benar berkenan di hadapan Tuhan, itu yang kita perkarakan, kita persoalkan. 
    Masalah masih ada, problem masih bertumpuk, tetapi kita tidak hanyut. Bahkan, kita harus dapat menimba kebenaran, menimba hikmat dari apa yang terjadi di dalam hidup kita. Karena ternyata kejadian-kejadian yang Tuhan izinkan kita alami itu adalah persiapan untuk menghadapi keadaan yang makin memburuk ke depan. Di sini kita harus memiliki jangkauan pandang yang jauh ke depan. Jadi jangan picik, jangan naif. Jangan terikat, terbelenggu, terpaku oleh masalah-masalah yang terjadi di sekitar kita sekarang. Masalah tidak akan pernah tidak kita alami, selalu saja ada masalah. Tetapi jangan terpaku, jangan terbelenggu oleh masalah-masalah yang terjadi tersebut. 
    Masalah-masalah itu didesain Allah untuk mendewasakan kita. Kalau kita memiliki konsep yang salah di sini, seakan-akan masalah itu menggerogoti kebahagiaan kita, merampas sukacita kita, dan kita merasa malang dengan keadaan kita, maka kita gagal menangkap maksud-maksud Tuhan di balik masalah yang kita hadapi. Kita gagal menangkap apa maksud Tuhan di balik masalah-masalah yang sedang terjadi atau berlangsung di dalam hidup kita. Jadi, mari kita berpikir jauh, untuk menjadi manusia hari esok. 
    Ada manusia hari ini, ada manusia hari esok. Manusia hari ini akan terpaku dengan masalah-masalah hari ini. Pikirannya terkungkung oleh masalah-masalah yang terjadi hari ini, dia tidak melihat kehidupan yang akan datang, yang masih sangat jauh. Terbelenggu oleh masalah-masalah yang terjadi. Orang-orang yang berpikir pendek, orang-orang naif,
    9 min
  • Menghayati Tragisnya Hidup
    Kita bisa membuktikan bahwa salah satu ciri dari orang percaya yang bertumbuh secara benar di dalam Tuhan, akan ditandai dengan kesadarannya dan penghayatannya bahwa hidup di dunia ini tragis. Semakin orang mengenal kebenaran dan bertumbuh dalam kedewasaan rohani, dalam kedewasaan iman yang benar, ia menghayati bahwa hidup ini tragis. Sayangnya, sebagian kita masih belum memiliki penghayatan sampai tingkat ini. Tetapi, kalau kita sudah bertumbuh dalam pengertian akan kebenaran firman, dalam kedewasaan rohani dengan benar, maka kita dapat menghayatinya. Jika kita sampai pada penghayatan ini, maka kita tidak mengharapkan lagi kebahagiaan dari dunia. Apa yang ada, dapat kita nikmati. Apakah tidur di atas papan keras atau di atas springbed empuk; apakah makan dengan lauk yang umumnya lezat atau tidak lezat, tetap bisa kita nikmati. 
    Kenikmatan kita akhirnya hanya tertumpu pada kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. Tuhan bukan jual mahal, tetapi Tuhan terikat dengan tatanan-Nya. Ia tidak bisa hadir dalam kehidupan manusia yang pikirannya kotor, memiliki kebencian, menyimpan dendam, apalagi yang mengupayakan penderitaan bagi orang lain. Sebenarnya, semua ini simultan, artinya bergerak bersama. Seiring dengan pengenalan akan kebenaran, pertumbuhan kedewasaan rohani, seiring dengan kesempurnaan; sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, mengalami kodrat ilahi, menikmati kehadiran Allah. 
    Karena kesucian juga bertumbuh, maka kehidupannya semakin suci, tak bercacat cela di hadapan Allah, menikmati kehadiran Tuhan. Kenikmatan hidup orang-orang seperti ini tertumpu pada kehadiran Tuhan. Maka, barulah ia menghayati betapa tragisnya hidup, sehingga tidak ada yang dinantikan lagi. Betapa Tuhan ingin kita ada di tempat yang baik, yang Allah sudah sediakan. Seperti orang tua di dunia ini, ingin anak-anaknya berkeadaan baik dan di tempat yang baik. 
    Dunia yang Allah ciptakan ini adalah dunia yang sudah tidak ideal, rusak oleh perilaku, perbuatan manusia. Maka, bumi tidak bisa dinikmati secara ideal. Selain bumi ini terhukum atau terlaknat, manusianya juga berkarakter rusak. Manusia yang berkarakter rusak, tidak mungkin bisa menikmati ciptaan Allah secara ideal atau maksimal. Manusia sudah tidak bisa lagi memiliki kemampuan menikmati damai sejahtera dan tidak bisa menikmati kenikmatan dari hasil karya Allah karena tidak layak dan tidak pantas. 
    Bapa di surga ingin kita ada di tempat yang baik menurut Bapa. Tuhan Yesus berkata, “Supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Kalau dibahasakan dengan bahasa bebas, “Tahukah kamu, bahwa rumah-Ku atau tempat yang Kusediakan bagimu, itu indah sekali? Aku ingin kamu ada di tempat ini, tempat yang telah Kusediakan bagimu. Tetapi kamu harus melewati perjalanan pertumbuhan, perubahan, supaya kamu bisa menikmati tempat-Ku.” 
    Orang yang tidak mengalami perubahan kodrat, tidak serupa dengan Yesus, tidak sempurna seperti Bapa, hidupnya tidak kudus, maka dia tidak bisa menempati tempat yang Allah sediakan. Kalau bisa, berarti Allah dilecehkan atau diremehkan. Sebaliknya, orang yang mengalami perubahan kodrat, yang hidupnya kudus, suci dalam standar Allah, tidak bercacat, tidak bercela di hadapan Tuhan, hatinya bersih, tidak menyimpan dendam, kebencian terhadap orang lain, maka dia tidak bisa masuk neraka. Tidak sanggup masuk neraka, dan memang tidak akan bisa masuk ke situ. 
    Kalau hamba-hamba Tuhan, hidupnya harus bersih benar supaya kehadirannya juga menjadi kehadiran Allah; membawa hadirat-Nya supaya “shekinah glory” menyertai. Unsur kedagingannya harus semakin tipis. Kasihan jemaat jauh-jauh datang untuk mendengar firman, mendengar suara Tuhan, merasakan kehadiran Tuhan, tetapi yang dirasakan hanya teknik yang disajikan oleh gereja dalam liturgi. Ini harus menjadi tantangan bagi para hamba Tuhan. 
    Kita berpenampilan menarik atau tidak di mata manu...
    9 min
  • Harus Meningkatkan Lagi
    Pernahkah kita merenungkan bahwa apa yang kita lakukan untuk mengalami Tuhan begitu tidak biasa? Tidak banyak orang yang melakukannya. Nanti ketika kita bertemu dengan Allah semesta alam di dalam kemuliaan-Nya, saat kita memandang wajah Tuhan Yesus yang agung dan Kerajaan Tuhan Yesus yang sangat indah, ternyata yang kita lakukan ini belum sepadan dengan keagungan Allah yang dahsyat sekali. Belum seimbang dengan keindahan Kerajaan Surga di mana kita diperkenankan masuk ke dalamnya. Kita yang telah begitu ekstrem dan begitu fanatik mencari Tuhan harus mengerti bahwa yang kita lakukan itu sebenarnya belum sepadan dengan keagungan Allah dan Kerajaan-Nya. 
    Maka, kita jangan merasa puas dengan apa yang kita telah lakukan dalam perburuan kita terhadap Tuhan. Kalau kita bisa meningkatkan, kita harus meningkatkannya lagi. Kita bisa lebih ekstrem lagi, lebih fanatik lagi. Jangan sekali-kali membandingkan cara kita memburu Tuhan dengan orang-orang yang tidak merasa perlu mencari Tuhan. Kalau kita membandingkannya, kita akan merosot, menjadi lemah, lalu mulai mengurangi intensitas kita dalam memburu Tuhan. Kiranya Tuhan membuka mata pengertian kita, sehingga kita bisa merenungkan dan menghayati kedahsyatan dan keagungan Allah. 
    Kalau kita menghayati keagungan dan kedahsyatan Allah, kita seperti orang yang memiliki cek dan berani menandatanganinya tanpa mengisi nominal angkanya. Kita berkata, “Silakan tulis berapa pun yang Anda mau.” Terhadap Tuhan, kita harus berani melakukan itu. Kita tanda tangani lembar kehidupan kita, dan kita mengatakan kepada Tuhan, “Apa yang Kau kehendaki untuk kulakukan, akan kulakukan, Tuhan.” Sebab keagungan, kemuliaan Tuhan itu tidak terhingga. 
    Kekristenan yang kita jalani di waktu-waktu yang lalu dan yang dijalani oleh kebanyakan orang, adalah kekristenan yang sebenarnya jauh dari standar; telah terjadi penyimpangan. Bagi banyak orang hari ini, dan telah dilakukan oleh mereka, betapa tidak hormatnya mereka terhadap Allah. Maka, kita jangan terbawa oleh suasana dunia yang semakin hari semakin fasik. Fasik artinya tidak peduli Tuhan, tidak peduli perasaan-Nya. Kita harus memisahkan diri dari dunia, dan memilih untuk berperkara dengan Allah. Kita berikan blanko cek kosong dengan tanda tangan kita, “Silakan, Tuhan, mau isi berapa pun.” Hal ini hanya kita lakukan untuk Tuhan. 
    Karena kemuliaan, keagungan Tuhan itu tiada batas, maka kesucian, kekudusan, keagungan karakter Allah juga tidak terbatas. Ketika pemazmur mengatakan di Mazmur 73, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Untuk memiliki Tuhan, didasarkan pada keinginannya untuk memiliki Tuhan saja, maka seseorang harus berani mempertaruhkan apa pun yang ada padanya. 
    Orang seperti ini pasti hatinya sudah dipindahkan ke dunia yang akan datang, dan tahu yang dia butuhkan hanya Tuhan. Oleh sebab itu, sejak di bumi—bukan nanti setelah mati—ketika sadar bahwa yang dibutuhkan hanya Tuhan, ia bisa berkata: “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Ini fanatik sekali. Jangan menjadi hiasan tertulis di dalam kehidupan kita, tetapi kiranya ini diperagakan dalam hidup kita. Betapa bersyukurnya kita yang selalu mendengar firman yang mengarahkan kita ke langit baru bumi baru. 
    Sampai pada kesadaran penuh bahwa hanya Tuhan yang kita butuhkan. Kita tidak membawa apa-apa. Semua yang kita usahakan dan perjuangkan di bumi ini, akan lenyap seperti uap. Kita harus sampai di level ini, sehingga kita berani mempertaruhkan apa pun demi mencapainya, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” 
    Kiranya kita dapat membayangkan satu fakta yang akan terjadi, bahwa ketika semua orang meninggal dunia dan dibawa ke pengadilan, kita akan melihat orang-orang terhormat di bumi ini, orang-orang yang kaya,
    9 min
  • Tidak Sebanding
    Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang mempunyai segala kuasa, kemuliaan, dan kerajaan, kebesaran-Nya tidak terhingga. Melampaui yang kita pikirkan dan kita duga. Pikiran kita tidak akan sanggup memahami kebesaran Allah. Tidak ada pengalaman yang manusia miliki, bisa menjadi perbandingan dengan-Nya. Allah benar-benar melampaui pengalaman. Bukan saja transenden; melampaui akal, tetapi juga transempiris; melampaui pengalaman siapa pun. 
    Sebenarnya, seindah apa pun lagu yang di dalamnya ada syair yang kita gubah, tidak akan cukup menjadi persembahan yang seimbang atau sebanding dengan kebesaran Allah. Hormat, pujian dan penyembahan kita sebenarnya tidak sebanding dengan kebesaran Allah dan kemuliaan-Nya yang melampaui segala-galanya, yang tidak terduga itu. Peninggian, pemuliaan nama-Nya, pengagungan nama-Nya tidak sebanding dengan kenyataan keberadaan Allah yang melampaui segala-galanya, yang tidak terduga. Jadi, kalau kita menghormati Allah hanya dengan nyanyian, kata-kata pujian, penyembahan, itu belumlah cukup. 
    Walaupun nyanyian yang kita nyanyikan indah syairnya, indah vokalnya, penghormatan kita kepada-Nya setinggi-tingginya, tetapi belumlah sebanding sebenarnya. Allah di dalam kesabaran dan pengertian-Nya menerima persembahan pujian kita. Seiring dengan perjalanan waktu dan bertumbuhnya kedewasaan rohani, dan bertambahnya pengalaman kita menghayati kedahsyatan kebesaran Allah, maka kita akan mengerti bahwa Allah tidak terhingga. Pujian penyembahan kita seindah bagaimanapun, setulus-tulusnya, tidak akan sebanding dengan kebesaran dan keagungan-Nya. 
    Bagaimana kita bisa meningkatkan sikap hormat kita, untuk paling tidak lebih mendekati keagungan dan kebesaran Tuhan, sehingga hal itu benar-benar memuaskan hati Allah dan memenuhi yang dikatakan di dalam Matius 22:37-40, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan.” Kalau kita dengan rendah hati memercayai kebenaran ini dan menerimanya, hidup kita tidak mungkin tidak diubahkan. Hal ini hendaknya tidak menjadi wacana saja di dalam pikiran, atau kata-kata, tetapi juga kita kita jalani, kita pergumulkan. 
    Seperti yang kita semua tahu dan percaya, mestinya juga kita menerima bahwa Allah yang menciptakan kita semua yang menjadikan kita ada, dari tidak ada menjadi ada. Bapa juga yang telah menebus kita dengan darah Putra Tunggal-Nya yang ditumpahkan di Bukit Kalvari. Mestinya kita bukan milik kita sendiri, tetapi milik Tuhan. Bagaimana kita bisa hidup sebagai milik Tuhan dan menempatkan diri secara benar dan memberikan penghormatan kepada Allah secara patut, walaupun itu tidak akan pernah sebanding dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya? Ini yang harus kita lakukan. Sekaligus ini yang membuat kita bisa hidup di hadirat Allah. 
    Allah menghendaki persekutuan dengan diri-Nya. Lebih dari nyanyian, pujian, penyembahan yang kita naikkan kepada-Nya, Allah menghendaki persekutuan dengan diri-Nya. Persekutuan setiap saat. Sehingga di dalam hidup kita, kita hanya memiliki ruangan di mana Tuhan memenuhi ruangan itu. Itu yang dapat kita lakukan. Paling tidak, mendekati keagungan kemuliaan Allah atau makin sebanding dengan kebesaran-Nya. Kita harus memiliki hanya satu dunia, dan dunia itu adalah Tuhan. Sehingga kita hanya memiliki satu ruangan di dalam hidup kita, dan ruangan itu adalah ruangan Tuhan agar bisa bersekutu dengan Tuhan setiap saat, di mana pun dan kapan pun. 
    Inilah yang Allah kehendaki lebih dari kebaktian yang kita lakukan, yang di dalamnya kita bisa memuji, memuliakan, dan menyembah Allah. Persekutuan dengan Allah haruslah persekutuan yang benar-benar menyenangkan hati Allah. Jangan bersekutu, tetapi kita menyakiti Dia. Jangan mempersilakan Tuhan Yesus masuk di hati, tetapi tidak memperhatikan perasaan-Nya. Itu menyakiti Tuhan. Sama seperti seorang pria yang membawa atau meminang seorang wanita menjadi istri, tetapi ternyata setelah menjadi istri justru disiksa dan diperdaya. Faktanya,
    8 min
  • Takut dan Mengasihi Secara Proporsional
    Seorang hamba Tuhan harus ada di hadirat Allah setiap saat, sehingga pada waktu di mimbar, dia membawa hadirat Allah; membawa kebenaran-kebenaran yang mengalir dari takhta Allah, tertuang dari hati Tuhan. Di dalam persekutuan dengan Allah, Allah memang menghendaki demikian. Maka, manusia itu disebut anak Allah. Adam disebut anak Allah. Mestinya Adam menjadi sosok yang bersekutu dengan Tuhan. Setiap saat ber-fellowship. Fellowship itu bukan hanya pada hari pertemuan bersama yang disebut kebaktian. Fellowship dengan Tuhan itu setiap saat, setiap waktu. 
    Pada waktu fellowship, kita memproduksi keinginan, kehendak. Dari hal kecil sampai hal besar yang menyenangkan hati Tuhan. Oleh sebab itu, kalau kita sadar akan hal ini, kita tidak akan mengucapkan kata, satu kata pun yang Allah tidak kehendaki kita ucapkan. Itulah kegagalan kita selama ini. Sampai kemudian beberapa kali Tuhan bicara kepada kita sebagai teguran, “Jangan bicara apa yang Aku tidak ingin kamu bicara.” Tetapi kalau kita tetap mau bicara, bisa. Kita memproduksi pikiran, niat, tekad, keinginan, dan itu bisa terwujud dalam perkataan. 
    Maka sebelum mengucapkan sesuatu, kita harus pertimbangkan dulu, “Tuhan menghendaki kita mengucapkan ini, tidak?” Kalau sejak muda kita mempelajari hal ini, luar biasa! Kita akan terbiasa melakukan apa yang patut di hadapan Allah. Jangan bicara apa yang Tuhan tidak kehendaki kita bicara. Sampai pada “Jangan melihat apa yang Tuhan tidak ingin kamu melihat.” Tetapi kalau kita masih mau melihat, Tuhan tidak melarang atau mencegah. Jangan melihat apa yang Tuhan tidak kehendaki kita melihat. Tetapi kalau kita masih mau melihat, maka Tuhan tidak mencegah. 
    Seperti ketika Adam dan Hawa memetik buah yang dilarang oleh Allah untuk dipetik, Tuhan tidak mencegah. Betapa sembrononya kita selama ini dengan setiap kata yang kita ucapkan, setiap kalimat, juga setiap hal yang kita upload atau tulis di sosial media. Betapa sembarangan dan sembrononya kita. Tetapi dalam kesabaran Tuhan, Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk kemudian sadar terhadap kesalahan. Mestinya, kita sebagai tawanan Roh. Kalau dulu kita hidup dalam tawanan daging, sekarang kita mau hidup dalam tawanan Roh. 
    Kita tidak boleh memberi makan kodrat dosa kita; we don’t feed our sinful nature. Kalau kita marah lalu mengucapkan kata-kata makian, itu berarti kita memberi makan; memuaskan kodrat dosa. Hal itu akan membuat kita menjadi addict; kecanduan. Kalau marah, kita merasa mesti melakukannya. Jangan memberi makan kepada kodrat dosa kita. Mestinya kita ikut apa yang Tuhan Yesus katakan di Yohanes 4:34, “Makanan-Ku melakukan kehendak Allah.” Teks aslinya “rezeki-Ku.” Kita beri makan pikiran Allah; kehendak Roh. Di situ kita menyenangkan hati Tuhan. 
    Kalau kita percaya Allah itu hidup, Allah itu ada, maka kita akan sanggup menantikan Tuhan. Kita sedang berhadapan dengan Tuhan, maka kita beri kesempatan Tuhan bicara. Bukan hanya kita yang bicara terus, tetapi kita juga harus mendengar Dia berbicara. Ironisnya, itu yang kurang diajarkan di Sekolah Tinggi Teologi. Maka, dilahirkanlah mereka yang sombong-sombong, tetapi tidak mengalami Tuhan. Maka kita yang masih bisa diselamatkan, pahami kebenaran ini dan ikutilah. 
    Henokh itu tidak sembarangan hidup. Dia bergaul dengan Allah. Dalam bahasa Ibraninya, halak; berjalan dengan Tuhan. Dia pasti berhati-hati, sangat berhati-hati. Henokh menjaga perilakunya untuk bisa berjalan dengan Tuhan. Bagaimana orang bisa diperkenan masuk Rumah Bapa bersama dengan orang-orang saleh di Ruang Kudus, di mana tidak ada yang najis di situ, sementara hidup hari-hari kita, kita sembarangan dengan apa yang kita ucapkan, pikirkan, renungkan?
    Firman Tuhan mengatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan.” Artinya memang tidak ada yang boleh masuk di dalam hati, pikiran kita, yang tidak membuat kita mengasihi, menghormati Tuhan dan takut akan Dia. Pernahkah kita berpikir bahwa takut kita akan Allah sebenarnya belumlah s...
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…