Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Belajar Menghargai Tuhan
    Mata Tuhan melihat apa pun yang kita perbuat. Baik yang baik, baik yang jahat. Di mana pun kita berada, kita harus berhati-hati gunakan mata kita, hati-hati gunakan mulut kita, hati-hati gunakan tangan kita, hati-hati gunakan kaki kita karena Tuhan melihat. Ini rahasia kehidupan. Berbahagialah orang yang tidak melawan Tuhan, tetapi betapa celakanya orang yang melawan Tuhan. Kalau kita tidak melawan Tuhan, pasti kita terberkati. Kebenaran ini jangan kita anggap remeh atau ringan. Maka, renungkan kehadiran Tuhan. Di mana pun kita berada, Allah itu Mahahadir. Harus selalu kita ingat, ada CCTV Tuhan. Kalau kita melakukan sesuatu yang busuk, yang buruk, maka Tuhan berduka. Dia dapat meneropong pikiran dan hati kita. Dia melihat apa yang kita lakukan dan tidak ada suatu hal yang tersembunyi di hadapan-Nya. 
    Alih-alih dari melakukan perbuatan yang mendukakan Tuhan, hendaknya kita melakukan hal yang menyenangkan hati-Nya. Mata Tuhan melihat. Jadi di mana pun kita berada, kita menaruh Tuhan di mata kita. Untuk menjaga perasaan Tuhan, memang harus demikian. Kita harus serius menghayati kehadiran Tuhan. Di mana pun kita berada, Dia hadir. Dengan demikian, kita seperti diawasi. Nanti kalau sudah dewasa, kita tidak perlu diawasi. Dan tentunya dengan usia yang cukup, seseorang tidak perlu harus ada pengawasan. Kalau misalnya kita tengah malam berada di lampu merah, tidak ada polisi. Lampu menunjukkan merah, berarti kita tidak boleh jalan terus. Kira-kira, apakah kita tetap diam? Atau melaju terus? Walau memang situasi tampak aman, kita tidak akan berani melaju. Hati kita pasti tertuduh. Walaupun tidak ada orang melihat, tidak ada polisi, tetapi kita pasti akan tertuduh kalau kita melanggar lampu lalu lintas. 
    Di luar negeri, di beberapa negara meskipun tidak semua negara tentunya, masyarakatnya patuh hukum. Di tempat penyeberangan orang lewat, jika lampu lalu lintasnya merah, walaupun tidak ada orang melintas, masyarakatnya tetap patuh, diam. Jadi, kita tidak perlu diawasi siapa-siapa, kita diawasi oleh diri kita sendiri. Jangan seperti asisten atau pembantu rumah tangga yang kalau ada tuan dan nyonya, maka dia bekerja keras, dia tampak rajin. Tetapi kalau tuan dan nyonyanya tidak ada, dia tidak bekerja rajin. Seperti pegawai yang kalau ada majikan, maka dia tampak sibuk, aktif. Tetapi kalau majikannya tidak ada, maka dia berperilaku sembarangan saja. Jangan seperti itu. Harus ada polisi di hati kita. Maka, kita harus belajar untuk menaruh Tuhan di mata kita. Kita harus berkomitmen untuk menjaga diri sendiri agar tidak berbuat salah dalam pikiran, perasaan dan perbuatan kita.
    Kita mesti punya “polisi” di dalam diri kita. Kita yang menaruh polisi dalam diri kita sendiri, sehingga kita jadi polisi untuk diri kita sendiri. Coba kita belajar itu. Jadi, kita harus belajar menghargai Tuhan dengan menaruh Tuhan di mata kita. Itu bukan berarti secara harfiah, Tuhan kita taruh. Siapa kita, bisa taruh Tuhan? Kita menjadikan diri kita polisi bagi diri kita. Kita yang menegur, kita yang mengingatkan diri sendiri, kita yang menasihati diri kita sendiri, sehingga Tuhan disenangkan. Kalau sampai kita bisa menyenangkan Tuhan, luar biasa. 
    Sering kita merasa “Mengapa Tuhan tidak perhatikan saya? Mengapa Tuhan tidak tolong saya dari masalah ini? Mengapa Tuhan seakan-akan diam?” Mata Tuhan tidak kurang tajam melihat kita. Tangan Tuhan bukan pendek, bukan kurang panjang. Tetapi yang membuat kita terpisah dari Dia adalah dosa kita. Jadi, jangan melukai hati Tuhan. Langkah untuk memiliki hubungan yang eksklusif dengan Tuhan, dekat dengan Tuhan adalah menjaga perasaan-Nya. Kita mulai belajar menjadi polisi bagi diri kita sendiri, sampai kita menjadi polisi yang cerdas, yang tajam, yang peka, dan kita bisa menjaga diri kita sendiri. 
    Kalau kita berkata, “Tuhan, jagaku dalam kebenaran.” Tuhan berkata, “Pasti. Tetapi Aku tidak bisa menjaga kamu, kalau kamu tidak menjaga dirimu sendiri.” Kita tidak bisa menang atas pencobaan,
    9 min
  • Allah Tidak Berubah
    Hal penting yang kita harus pahami: Allah tidak berubah. Kalau di Perjanjian Baru kita menangkap kesan atau pesan seakan-akan Allah berubah, itu salah. Pemahaman salah ini memang sudah terjadi sejak abad ke-2. Ada saja pemahaman yang keliru mengenai Allah, yang juga akibat dari filosofi Yunani. Filosofi Yunani itu mengenal Allah yang baik dan Allah yang jahat. Allah Perjanjian Lama bagi orang Kristen yang telah tersesat pikirannya, itu dipandang sebagai Allah yang kurang baik. Tetapi Allah Perjanjian Baru, itu Allah yang baik, yang bisa dipandang lebih tinggi. Pemahaman seperti itu salah. 
    Yang benar, Allah Perjanjian Lama juga Allah Perjanjian Baru; Allah yang sama, yang hakikat dan sifat-Nya tidak berubah. Jangan sampai kuasa kegelapan menipu kita. Allah tidak pernah berubah: dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Allah Perjanjian Lama yaitu Yahweh atau Elohim Yahweh, itu sama dengan Allah Perjanjian Baru yang kita panggil Bapa. Maka, kita bisa menyebut Bapa Yahweh; Elohim Yahweh, sama. Yang juga dipanggil oleh Tuhan Yesus sebagai Bapa. Kalau kita mengatakan, “Bapa dari Tuhan Yesus,” itu Bapa-Nya Tuhan Yesus. Allah tidak berubah dan itu konsekuensi yang tidak bisa dihindari, karena kita diciptakan oleh Dia. 
    Jangan melawan Tuhan. Jangan bersikap tidak patut kepada-Nya. Ini konsekuensinya. “TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucianku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang suci Engkau berlaku suci, terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.” Mungkin ada yang mencoba mendebat atau berargumentasi, “Firman Tuhan mengatakan di Perjanjian Baru, walaupun kita tidak setia, Dia tetap setia.” Benar, selama kita masih hidup. Walaupun kita tidak setia, Dia tetap setia. Tetapi, kalau terus-menerus tidak setia, akhirnya kita menyangkal Dia. Dia menyangkal kita juga. Kalau kita sampai akhirnya tidak setia, maka Dia tidak setia juga.
    Ini kebenaran yang mestinya menggetarkan kita. “TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku.” Ini dinamika hidup yang harus dipahami. Allah tidak berubah. Berharga sekali kebenaran ini. Berbahagia kita yang mendengar dan mengerti, tetapi berbahaya bagi yang tidak mengerti, tidak mau mengerti, dan tidak melakukan. Tidak mungkin Tuhan tidak bertindak. Kalau kita misalnya berbuat kesalahan dan tetap hidup dalam kesalahan, maka itu berbahaya. 
    Jangan berbuat dosa, jangan melakukan kesalahan. Orang yang hidup di dalam kebenaran tidak memiliki rasa takut sama sekali terhadap kematian. Bahkan, sangat merindukan kedatangan Tuhan dan perhitungan-Nya di hadapan takhta pengadilan. Tetapi, orang yang hidup dalam kebenaran, tidak egois. Dia harus berbuah selama hidup di dunia, membimbing orang supaya jangan ikut terbawa ke dalam kegelapan. Tidak mungkin mentang-mentang sudah benar, lalu dia tidak peduli terhadap nasib orang. “Karena TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucianku di depan mata-Nya.” Kesucian di depan mata-Nya, kesucian standarnya Tuhan. 
    Mari renungkan kebenaran ini, kita hayati, serap dengan baik, dan mau berubah. Hidup akan dapat dijalani dengan baik kalau kita mengerti kebenaran dan melakukannya. Kebenarannya yaitu Tuhan membalas kepada kita sesuai dengan kebenaran kita. Kalau kita ikuti jalan hidup pemazmur ini, “Sebab aku tetap mengikut jalan Tuhan, tidak menjauhkan diri dari Allahku sebagai orang fasik, sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan dari ketetapan-Nya aku tidak menyimpang. Aku berlaku tidak bercela kepada-Nya dan menjaga diri terhadap kesalahan,” maka kita barulah pantas berkata “Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku.” 
    “Aku tidak berjalan di dalam kegelapan. Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung kepada-Nya,” (ayat 31). Apa sulitnya, beratnya, ruginya hidup suci, hidup benar? Tidak ada kehidupan yang lebih indah selain hidup ...
    9 min
  • Kompleksitas
    Matius 11:28-29 mengatakan, “Datanglah kepada-Ku yang letih lesu dan beban berat, Aku beri kelegaan kepadamu.” Letih lesu dan berbeban berat ini jangan dipahami sebagai masalah-masalah hidup yang dialami orang pada umumnya, yang disebabkan memang karena kesulitan-kesulitan yang tidak bisa dihindari, yang dialami manusia pada umumnya. Letih lesu dan berbeban berat itu kompleksitas; kehidupan yang rumit, kerumitan. Maka kalimat “Datanglah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat” berarti datanglah kepada-Ku kamu yang hidupnya rumit, yang kompleks. Aku akan memberikan kepadamu perhentian.” 
    Selanjutnya dikatakan, “Pikullah kuk yang Kupasang, belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Pada teks aslinya digunakan kata anapauso. Kata anapauso dapat berarti “kelegaan” dan “ketenangan.” Jadi, kelegaan itu tidak diberikan secara otomatis dan tidak diberikan secara mudah. Harus belajar dulu. Dan Tuhan sabar mendidik kita yang keras kepala, yang tegar tengkuk seperti bangsa Israel. Tapi Tuhan Yesus lemah lembut dan rendah hati, Dia akan membimbing kita sampai kita mengalami anapauso atau kelegaan itu. 
    Hidup ini kompleks. Rumit. Yang dibahasahkan dengan “letih lesu dan berbeban berat.” Tapi kalau kita datang kepada Tuhan Yesus, kita akan diberi kelegaan atau perhentian. Bagaimana bisa mengalami perhentian itu? Jika kita belajar dari Dia. “Belajar pada-Ku supaya kamu tidak mengalami kompleksitas lagi.” Dulu kita memahami kata “letih lesu dan berbeban berat” itu kalau orang belum menikah, belum punya anak, maka mereka datang kepada Tuhan untuk mendapat jodoh dan memiliki anak. Itu konsep yang salah. Hidup manusia tidak pernah tidak mengalami kompleksitas. Tidak pernah. Sampai kapanpun, artinya sebelum kubur, manusia akan selalu mengalami kompleksitas. Jadi kalau kita datang kepada Tuhan, bukan supaya kompleksitas hidup kita dapat diurai atau diselesaikan.
    Malah sering Tuhan tidak mengambil masalah yang membuat kita mengalami kompleksitas, tapi Tuhan mengubah cara berpikir kita. Tuhan mengubah sikap hati kita, supaya kondisi yang dulu kita anggap kompleks, menjadi tidak kompleks. Sebab kompleksitas itu kita ciptakan sendiri dari sikap hati dan cara berpikir kita. Tidak punya anak, kesepian. Lihat keluarga yang punya anak, rasa sakit di hati. Ketika kita menengok masa lalu, kita memandang ulang perjalanan hidup yang telah saya jalani, kita menyadari betapa kompleksnya hidup kita. Bukan karena masalah-masalah, tapi karena kita bodoh; dimana kitaa belum memahami kebenaran seperti hari ini.
    Seharusnya, dari kompleksitas yang kita alami karena keinginan kita, masuk kepada kompleksitas karena pekerjaan Tuhan, dan itu beda. Rata-rata kita ada di tataran kompleksitas karena diri sendiri.
    Padahal hidup ini harus simple. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “asal ada makanan, pakaian, cukup.” Itu simple. Kita mau apa lagi? Kita bisa hidup hari ini tidak telanjang, cukup. Tuhan pegang masa depan. Kita tidak tahu hari esok bagaimana. Simple saja, jalani hari ke hari, lewati hari ke hari. Yang bikin rumit kita adalah kalau kita tidak puas dengan apa yang kita miliki. Maka kalau kita belajar kepada Tuhan Yesus, Tuhan akan mengajar “serigala punya liang, burung punya sarang. Anak Manusia tidak punya tempat meletakkan kepala-Nya.” Jadi, keadaan kita sekarang adalah keadaan yang terbaik. Jangan ingini apa yang bukan bagian kita, dan jangan ingini milik orang lain atau yang belum waktunya kita miliki. Kita bisa berpikir simple, kalau kita percaya Allah mengontrol semua.
    Kita pasti tahu bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan. Jadi apa pun keadaan kita hari ini, keadaan yang sempurna untuk kita. Jangan berkata, “sempurna kok begini?” Kita jangan pakai ukuran pikiran kita sendiri. Tuhan itu Maha Bijaksana dan Mahacerdas. Ada seorang kaya, orang Kristen, mengalami kecelakaan sampai tidak bisa bangun. Wajahnya ganteng,
    9 min
  • Tegar Bersama Tuhan
    Ada penderitaan yang harus kita hadapi bukan karena kesalahan kita, dan bukan juga karena problem-problem umum, melainkan karena pekerjaan Tuhan. Hidup kita harus rela disita oleh kekristenan kita. Dengan demikian, baru kita bisa mengerti hidup yang sederhana itu bagaimana. Tentu pergumulan dalam keluarga, dan pekerjaan, itu pun pergumulan yang di dalamnya Allah bekerja mendewasakan kita; sebagaimana dikatakan dalam Roma 8:28, “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” Sejatinya, waktu kita harus kita alokasikan hanya untuk mencari Tuhan. Kalau kita memiliki banyak kegiatan lain, yang sebenarnya tidak berguna untuk pertumbuhan iman, maka Allah tidak bisa bekerja dalam segala sesuatu secara optimal untuk mendewasakan kita.
    Jadi kalau kita membuang waktu untuk hal yang tidak perlu dilakukan, maka Allah tidak bisa mendewasakan kita secara optimal. Allah bisa bekerja dalam segala sesuatu, tetapi sebagai pukulan, peringatan; bukan mendewasakan. Maka, berbahagialah orang yang cari masalah. Maksudnya, ketika dia berkata, “Apa yang harus kulakukan Tuhan?” Tuhan akan memberikan kita proyek. Lalu mengapa kita tidak mau mencapai setinggi-tingginya kesucian hidup? Setinggi-tingginya perkenanan di hadapan Tuhan? Seluas-luasnya jangkauan pelayanan? Ini yang membuat kita jadi picik, naif, bodoh dan miskin. 
    Jangan berpikir kita tidak bisa buat apa-apa. Kita itu istimewa, dan setiap orang punya keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tidak ada orang yang tidak berguna. Tuhan bisa buat setiap kita punya peran di dalam Kerajaan Surga. Makanya, harus sesuci-sucinya, sekudus-kudusnya, jangan terikat dunia. Tuhan akan membekali kita dengan semua yang berguna untuk hidup kita pribadi, dan hidup orang yang kita layani. Kita mau jadi saluran berkat, bukan? Tapi kalau kita diberkati hanya untuk diri sendiri—bagaimana memperluas rumah, memperbanyak mobil—kita tidak bisa melayani sesama. Dan ngerinya kalau hal itu dibiarkan, kita bisa sampai level tidak mencintai Tuhan. 
    Suatu hari kita akan melihat blueprint Tuhan mengapa kita jadi laki-laki? Kenapa lahir sebagai orang Tionghoa? Kenapa kita tinggal di sini? Kita didesain Tuhan untuk maksud tertentu. Dan kita harus menemukannya. Tapi kalau orang hanya mau cari senang sendiri, ia tidak akan pernah menemukan. Camkan ini! Orang yang melayani Tuhan di bumi, melayani Tuhan selamanya di surga. Sebaliknya, orang yang tidak melayani Tuhan di bumi, tidak akan pernah masuk Kerajaan Surga. 
    Persoalan-persoalan umum—masalah ekonomi, sakit penyakit dan lain-lain—harus kita hadapi dengan tegar. Kenapa tegar? Karena selama kita hidup di bumi, kita harus mengalaminya. Tapi Tuhan tidak mungkin tidak tolong kita. Karena hidup kita adalah pekerjaan Tuhan. Ketika orang Kristen dianiaya, Tuhan berkata, “Saulus, Saulus, mengapa kamu menganiaya Aku?” Maka motif hidup kita harus lurus. Walau kita ini seringkali seperti yoyo naik-turun. Jantung kita harus kuat, tapi kalau tidak begitu kita tidak terlatih. Jadi kalau kita capek itu karena pikul salib, berat. Bukan karena masalah-masalah dunia fana. Jadi, masalah-masalah ini harus bisa kita lewati. Sebab Tuhan pasti tolong, bahkan rambut di kepala pun terhitung. Artinya, Tuhan pasti pelihara. Percayai Allah. Jangan ragukan Dia. Walaupun sering kita dalam kondisi yang tidak tahu mau buat apa. 
    Dia hidup, Dia masih hidup dan tetap hidup. Dia Allah yang nyata, Dia realitas. Jangan kita fokus kepada dunia yang fana ini. Kehidupan ini sementara, dan kehidupan sesungguhnya nanti di belakang langit biru. Sekarang masalah kita hari ini adalah bagaimana kita memiliki tempat untuk menjadi pelayan Tuhan. Pelayan Tuhan tidak harus di gereja. Kita diberi Tuhan kesempatan menolong ipar, besan, mertua, tetangga; dan itu adalah pekerjaan Tuhan. 
    Pasti ada kesempatan untuk kita menolong orang. Tapi mesti dari keluarga dulu; topang keluarga, sayangi pasanganmu, beri contoh kepada anak-anakmu perilaku yang baik,
    9 min
  • Harus Dihadapi
    Dalam hidup ini, kita dapati ada 2 jenis masalah, yaitu: pertama, masalah yang menyangkut hal-hal fana; seperti kebutuhan jasmani. Kedua, masalah yang membawa kita kepada kesempurnaan. Dua ini tidak bisa dipisahkan. Tapi orang yang masih tenggelam dalam masalah-masalah yang menyangkut hidup fana, biasanya belum dewasa. Agama-agama di dunia mengajarkan ketegaran dalam menyelesaikan masalah jenis pertama ini. Setelah melewati kawasan pertama, kita masuk ke dalam kawasan kedua, dimana lewat ketegaran kita dibentuk Tuhan menjadi sempurna. Masalah tetap Tuhan izinkan karena ini menjadi katup pengaman; khususnya bagi orang-orang tertentu. Dimana kalau tidak ada masalah sama sekali, bisa bablas. 
    Tegar artinya kuat, kokoh, tahan menghadapi badai; dalam hal ini persoalan hidup. Kita hidup di dunia yang sudah jatuh, dunia yang sebenarnya tidak ideal lagi untuk dihuni. Dan hidup seperti yang kita jalani hari ini, sebenarnya bukanlah hidup yang Allah kehendaki. Jadi jangan kita berharap memiliki kebagiaan yang ideal di bumi ini; tidak akan pernah. Orang yang memaksa untuk bisa memiliki kebahagiaan yang ideal merupakan mangsa empuk kuasa kegelapan. Seperti ikan yang sudah siap untuk dijaring atau dipancing. Jadi, jangan sampai kita terjebak oleh pemikiran yang keliru ini. 
    Kita tidak mungkin tidak punya persoalan. Jadi kalau kita ikut Tuhan Yesus supaya bebas dari masalah; kita salah, kita keliru, dan kita pasti menjadi rapuh. Masalah tidak mungkin tidak kita alami. Tapi Allah itu mengatur semua dengan sempurna, apalagi untuk anak-anak-Nya. Maka jangan lawan Dia. Dia sediakan yang terbaik untuk kita. Kok kita marah? Mungkin kita pernah dengar orang berkata—atau kita yang mengucapkan—”Tuhan jahat!” Pasti ada masalah, tapi Tuhan kontrol semua. Dan pencobaan tidak melebihi kekuatan manusia; bukan kekuatan anak Tuhan. Jadi manusia manapun sebenarnya ditopang, dilindungi oleh Tuhan, karena Tuhan itu Allah atas semua makhluk manusia. Tuhan menopang. 
    Jadi kita harus mempersenjatai diri dengan pikiran: masalah harus dihadapi. Memang ada ayat yang mengatakan, “Tuhan berperang ganti kita.” Kalau bangsa Israel begitu. Yang dilawan itu manusia. Israel lemah, Tuhan turun. Tapi itu pun tidak selalu. Nah, kalau Kristen yang dilawan adalah daging kita sendiri. Bagaimana cara Allah berperang ganti kita? Kita yang mesti mematikan diri kita sendiri. Ada setan di pikiran yang harus kita matikan. Kalau tidak dimatikan, dia bisa berbisik; “Maka berbisiklah Iblis kepada Yudas…” Kalau orang setiap hari bersekutu dengan setan, yang didengar adalah suara setan. 
    Sebaliknya, kalau setiap hari bergaul dengan Roh Kudus, dengan Firman Tuhan, maka Roh Kudus yang ditaruh dalam diri kita akan mendewasakan lewat setiap kejadian dan masalah. Ini prinsip penting, fundamental. Jadi kita persenjatai diri dengan pengertian bahwa kita hidup di dunia sudah jatuh, tidak ideal. Jangan harapkan kebahagiaan di bumi ini. Tapi ajaibnya Tuhan, persoalan diberikan supaya kita diubah, karena Allah bisa mengubah kita lewat persoalan. Bagaimana kita bisa tegar kalau kita tidak punya pengertian yang benar? Seperti seseorang yang mau sembuh tanpa pengobatan; mau dapat ijazah tanpa sekolah; tidak bisa! 
    Jadi bagi kita, masalah harus dihadapi. Tidak usah minta tolong pun, Tuhan pasti tolong. Namun masalahnya adalah bagaimana masalah ini melahirkan kedewasaan. Ketika seorang Kristen baru mendapat masalah, Tuhan segera tolong, karena Tuhan mau menunjukkan, “Aku ada, Aku hidup.” Kadang-kadang, malah belum jadi Kristen dikasih masalah, lalu diberi mukjizat. Dari mukjizat tersebut, dia mengenal ada Allah yang hidup. Jadi, tujuan Tuhan mengizinkan masalah dalam hidup kita adalah: Pertama, mendewasakan mental. Kedua, membuktikan bahwa Allah itu hidup. Ketiga, supaya kita memiliki empati kepada orang lain. Keempat, supaya tahu bahwa dunia ini bukan tempat yang ideal untuk dihuni. 
    Bagi orang Kristen baru yang punya masalah, kita tidak bisa berkata,
    8 min
  • Setia Sampai Akhir
    Ada tiga ciri kesetiaan yang diajarkan Alkitab, yaitu: Pertama, dimulai dari perkara-perkara kecil (Luk. 16:10). Seseorang tidak akan setia dalam perkara besar kalau ia tidak setia dalam perkara kecil. Sebenarnya yang dimaksud dengan perkara kecil di sini adalah uang atau harta kita. Kalau seseorang masih materialistis, cinta akan uang atau masih mencintai dunia, maka tidak mungkin ia dapat memiliki kesetiaan kepada Allah dengan benar. Tidak mungkin orang yang masih mencintai dunia dapat menyerahkan nyawanya untuk Tuhan. Oleh sebab itu menjadi hal yang mutlak bahwa orang percaya tidak boleh memiliki ikatan dengan dunia atau ikatan dengan kesenangan-kesenangan dunia, hiburan dan segala hobi yang tidak memuliakan Allah. Orang percaya harus berani menjadikan Tuhan dan Kerajaan Surga sebagai satu-satunya kebahagiaannya.
    Kedua, tidak bersyarat. Kesetiaan tidak bersyarat artinya tetap setia kepada Tuhan apa pun yang harus dialami atau dijalani. Kesetiaan tidak bersyarat adalah kesediaan untuk berkorban apa pun demi pekerjaan Tuhan. Orang percaya yang memiliki kesetiaan tidak bersyarat pasti bersedia melakukan apa pun tanpa menuntut upah. Walaupun ia tahu bahwa ia akan memiliki upah, namun upah itu akan diperolehnya nanti di langit baru dan bumi baru; bukan di dunia ini. Hamba Tuhan atau orang Kristen yang memiliki kesetiaan seperti ini akan bersedia melayani tanpa menuntut upah dari manusia.
    Jadi, kalau kita setia kepada Tuhan, hal itu bukan sekadar karena kita mau memperoleh upah dari kesetiaan tersebut bagi diri kita. Kesetiaan kita harus berangkat dari hati yang mengasihi Tuhan; tentu dengan kesadaran bahwa Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita, bahwa kita berutang kehidupan dan kebaikan kepada Tuhan. Oleh sebab itu, patutlah kita bersikap setia kepada Tuhan sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan serta sebagai usaha untuk membalas kebaikan-Nya.
    Ketiga, kesetiaan sampai akhir (Why. 2:10). Kita harus mengerti bahwa bukan hanya awal perjalanan kekristenan yang menentukan, tetapi juga pertengahan—artinya sepanjang jalan hidup ini—dan akhir dari perjalanan hidup kita. Tuhan menghendaki sampai kita menutup mata, kita dijumpai Tuhan setia kepada-Nya. Tanpa kesetiaan percumalah pengiringan kita kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Dalam Wahyu 2:10 ditunjukkan kepada kita bahwa sekalipun aniaya dan penderitaan menimpa kita, tetapi kita harus tetap setia kepada Tuhan sampai mati atau sampai akhir
    Adapun jenis-jenis kesetiaan adalah: Pertama, kesetiaan sebagai umat kepada Allah. Kesetiaan ini berkaitan dengan ibadah kepada Tuhan. Kalau seseorang menjadi umat Allah, maka ia dituntut untuk setia kepada Allahnya dalam beribadah. Ini berarti orang percaya harus tetap memuji, menyembah dan memuja Allah bukan hanya dalam kebaktian, melainkan harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang berharga dalam hidup ini (Mzm. 73:25-26). 
    Dalam Ulangan 5:7-9—yang merupakan perintah pertama dalam Dasa Titah—Tuhan tidak mengizinkan umat-Nya memiliki allah lain atau datang kepada dewa-dewa. Ini berarti apa pun yang terjadi kita tidak boleh meminta pertolongan kepada sumber lain selain Tuhan atau berhubungan dengan kuasa di luar Tuhan. Kesetiaan inilah yang disebut sebagai kesetiaan beribadah. Kalau seseorang menjadi umat Allah, ia dituntut untuk setia kepada Allahnya dalam beribadah. 
    Kedua, kesetiaan seorang anak kepada Bapa. Kesetiaan di sini adalah kesetiaan yang berkaitan dengan kepatuhan kita secara mutlak dengan penuh hormat seperti yang dilakukan Yesus kepada Bapa-Nya. Seorang Kristen tidak bisa berkata bahwa dirinya setia kepada Tuhan kalau ternyata hidupnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Kesetiaan di sini merupakan kesetiaan yang berkaitan dengan kepatuhan melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. 
    Ketidaktaatan kepada Tuhan merupakan pengkhianatan kepada-Nya, sebab ketidaktaatan kepada Firman dan hukum-hukum Tuhan sama artinya dengan persekongkolan dengan Iblis atau kuasa gelap.
    10 min
  • Kawan Sekerja Allah
    Dalam Injil Matius 1:24-25, firman Tuhan tertulis, “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.” Sulit dibayangkan betapa kecewanya Yusuf ketika melihat Maria, tunangannya hamil. Pasti dia merasa telah dikhianati. Oleh sebab itu ia bermaksud dengan diam-diam mau meninggalkan Maria. Ketika Yusuf mempertimbangkan untuk meninggalkan Maria, malaikat Tuhan datang kepadanya memberitahukan bahwa kehamilan Maria oleh Roh Kudus. Yusuf mengurungkan niatnya meninggalkan Maria. 
    Yusuf mengenali bahwa apa yang terjadi dalam hidup Maria dan di dalam hidupnya adalah perkara yang sangat besar. Mereka hendak dilibatkan dalam rencana Allah yang besar, yaitu keselamatan umat manusia. Menyadari hal ini Yusuf lebih tunduk kepada kehendak Allah. Ia mengambil Maria sebagai istri dan tidak bersetubuh dengan Maria sampai Maria melahirkan anak laki-laki dan menamai dia Yesus, sesuai dengan titah Tuhan. Pelajaran mahal yang dapat kita peroleh dari potongan kisah sekitar Natal ini adalah kesetiaan Yusuf sampai akhir dalam mewujudkan kedatangan Juruselamat. Firman Tuhan mengatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Maria melahirkan Yesus. Yusuf rela kehilangan masa indah bulan madunya demi supaya rencana Allah digenapi, yaitu kelahiran Mesias. Yusuf adalah seorang yang benar-benar beruntung; di satu pihak Allah memercayai dia menjadi ayah dari Yesus, tetapi pihak lain Yusuf adalah seorang yang rela membayar harga untuk memenuhi kesetiaannya kepada Tuhan. 
    Orang yang rela kehilangan segala sesuatu untuk memenuhi rencana Allah adalah orang-orang yang dapat dipercayai sebagai kawan sekerja Allah. Pertanyaan penting dan besar bagi kita adalah: 

    Apakah kita menyadari betapa besar kasih karunia Allah bagi kita untuk menjadi umat pilihan yang diperkenankan bertumbuh dewasa sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus, yang juga diperkenankan untuk mengambil bagian dalam menggenapi rencana Allah yaitu keselamatan atas dunia ini? 
    Apakah kita menyadari harga kesetiaan yang harus kita penuhi guna rencana Allah dapat berlangsung? 
    Dalam hal ini relakah kita melepaskan segala kesenangan kita demi digenapinya rencana Allah, yaitu keselamatan atas manusia di sekitar kita? 

    Untuk ini kita harus memiliki kesetiaan yang benar, kesetiaan yang sejati sampai akhir.
    Pengertian kata ‘setia’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tetap dan teguh hati. Sebenarnya definisi ini tidak cukup menampung pengertian kata ‘setia’ dalam pengertian Kristen. Sebab di dalam kata setia—dalam konteks Kristen—terkandung pengertian suatu kegiatan atau sikap yang berkesinambungan terus menerus sampai dipenuhi atau digenapinya rencana Allah, yaitu menjadi umat pilihan yang bertumbuh dewasa sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus, dan mengambil bagian dalam menggenapi rencana Allah yaitu keselamatan atas dunia ini. Kesetiaan sebagai orang percaya bukan hanya ditunjukkan dengan kesetiaan sebagai anggota gereja atau tetap menjadi orang Kristen, melainkan harus terus-menerus mengalami proses perubahan, yaitu pendewasaan sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus dan akhirnya hidup di dalam perjuangan untuk pekerjaan Tuhan. 
    Memang Tuhan sering mengizinkan kita menghadapi berbagai persoalan berat sebagai ujian apakah kita benar-benar setia kepada Tuhan atau tidak. Segala sesuatu harus teruji. Jadi sebelum seseorang menghadap Tuhan setelah kematian, Tuhan akan menguji apakah orang tersebut setia kepada-Nya. Hal ini sangatlah logis sebab Tuhan tidak menghendaki memiliki umat yang tidak teruji kesetiaannya. Dalam Perjanjian Lama juga ditunjukkan bahwa Tuhan menghendaki kesetiaan umat-Nya (Mzm. 37:3). Dalam Wahyu 2:10 tersebut ditunjukkan bahwa hanya orang yang setia yang menerima mahkota di Kerajaan Tuhan. 
    10 min
  • Allah Bisa Membedakan
    Kalau seseorang berkata, “Mencari Tuhan itu mudah, mencari duit itu sulit,” maka dapat dipastikan bahwa ia adalah orang yang serakah. Karena ia tidak pernah puas dengan sejumlah uang. Sukar, karena ia mau banyak. Sudah punya 5 mau 10, sudah 10 mau 15, sudah punya 15 mau 30, sudah mau 30 mau 50. Jadi sukar. Tapi kalau prinsipnya, “Asal ada makanan pakaian, cukup,” jadi tidak sukar. Kalau kita memahami bahwa mencari Tuhan hanya ke gereja, berdoa dan kita percaya Tuhan mendengar doa kita, maka pertanyaannya: “Apakah Tuhan merasa bahwa kita menghormati Tuhan dengan mau mengerti rencana-Nya untuk kita penuhi dalam hidup?” Jangan anggap sepele hal ini. Kita tidak mengerti kehendak Tuhan dan tidak melakukan-Nya, berarti kita melawan Tuhan. 
    Kemudian, jika kita tidak mengerti apa yang Allah rencanakan, sehingga kita hanya hidup untuk memenuhi rencana kita sendiri, itu juga berarti kita melawan Tuhan. Oleh sebab itu, dengan kegentaran kita mau datang kepada Tuhan dan kita berkata: “Tuhan, mumpung aku masih hidup, aku mau melakukan kehendak-Mu sesuci-sucinya, sekudus-kudusnya, tak bercacat tak bercela.” Setelah itu, baru kita akan naik ke tingkat berikut. Memahami atau mengerti apa yang Allah rencanakan dalam hidup kita untuk kita penuhi. Memenuhi rencana Allah jangan dibayangkan harus menjadi pendeta atau aktivis. Tapi melalui hal-hal sederhana yang mungkin dipandang sepele oleh orang lain, tetapi itu berarti bagi Tuhan. Ada orang yang harus kita lawat, bukan harus memberi uang melainkan sepatah dua patah kata yang kita harus ucapkan. 
    Memberikan perhatian kepada orang lain, di mana kita bisa menyaksikan kehidupan sebagai anak-anak Allah yang bisa mengubah orang itu. Kesempatan-kesempatan itu Tuhan sediakan. Tapi kalau kita egois, kita pura-pura sembunyi. Tuhan Yesus mempertaruhkan segalanya; tenaga, hidup, nyawa, harga diri di kayu salib. Begitu kita bisa memenuhi rencana Tuhan untuk hal sederhana, kita naik terus, kita efektif untuk Tuhan, memberkati lebih banyak orang. Jangan lawan Tuhan. Lekatkan diri kita pada perasaan Tuhan. Pahami perasaan-Nya. Lakukan apa yang menyenangkan hati Tuhan. Jangan melukai hati Tuhan. Bahkan, jangan sampai membuat hati Tuhan tidak nyaman. 
    Betapa beruntungnya kalau kita bisa menyatu dengan Tuhan sehingga kita tahu apa yang dapat melukai hati Tuhan dan apa yang tidak melukai hati-Nya. Maka, dalam hidup keseharian kita, ada kata yang tidak patut kita ucapkan, jangan ucapkan. Ini pilihan. Kita tidak boleh mengalir saja dengan keadaan; tidak boleh. Kita harus memutuskan, untuk tidak melawan Tuhan atau tidak melawan Tuhan. Harus diputuskan, dan keputusan ini harus disertai dengan tindakan konkret. Ubahlah rutinitas hidup kita. Kalau biasa bangun siang, bangunlah pagi, berdoa. Biasa, lihat-lihat film tontonan yang mestinya tidak perlu kita lihat, jangan lihat lagi. Jangan bergaul dengan orang yang membuat kita rusak; orang-orang yang tidak takut Tuhan. 
    Begitu kita mengambil keputusan untuk tidak melawan Tuhan, maka kita akan dibimbing Tuhan; bagaimana makin melekat dengan Tuhan, mengerti pikiran dan perasaan Tuhan. Hidup kita akan diubah. Ke depan kita yakin, apa pun yang terjadi kita aman di dalam tangan Tuhan; apa pun yang terjadi jangan lawan Tuhan. Sekarang, hidup kita harus kita penuhi untuk mencari Tuhan, seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya. Jangan mendengar apa yang tidak perlu kita dengar. Jangan lihat apa yang tidak perlu kita lihat. Dengar firman Tuhan, datang ke gereja, ikut doa. Seakan-akan, kita sudah mau mati minggu depan atau besok. 
    Lakukan itu supaya hati kita makin melekat dengan Tuhan, dan kita mengerti perasaan-Nya. Apalagi kalau kita sudah usia di atas 50 tahun, tuntutan Tuhan untuk kita, tentu jauh lebih lebih tinggi, dibanding tuntutan Tuhan kepada orang-orang Kristen yang masih baru. Atau dalam usia biologisnya masih muda. Jangan kita sudah berumur 50-60 tahun, tapi standarnya masih 15-20 tahun. Jangan anggap sepele dan membiarkan ini lalu ber...
    9 min
  • Jangan Melawan Tuhan
    Semua kita pasti mengalami persoalan atau masalah. Tidak ada kita yang tidak memiliki masalah; mungkin juga sedang berada dalam masalah. Masalah di sini maksudnya adalah hal-hal yang tidak mengenakan, yang menekan, yang mencemaskan, yang mengkhawatirkan hidup. Ke depan kita tidak tahu apa yang akan terjadi; atas diri kita, atas orang-orang yang kita kasihi dari keluarga sendiri, keluarga besar, sahabat, handai taulan dan lainnya. Tetapi pasti ada persoalan yang mencemaskan, mengkhawatirkan, mengancam, bahkan bisa merenggut ketenangan kita. Bagaimana kita dapat melewati semua itu? 
    Seperti yang kita tahu, sesuai dengan Roma 8:28-29, masalah bisa mendewasakan kita, mempersiapkan kita untuk dilayakkan masuk Kerajaan Allah, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Lalu apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa lewati bebagai masalah hidup? Satu ini jawabannya, yaitu jangan melawan Tuhan. Ini bukan kalimat sederhana. Semua kisah yang tertulis dalam Alkitab akan membuktikan kebenaran ini; siapa yang lawan Tuhan, akan hancur, dipermalukan, binasa. Mungkin pada awal-awal orang melawan Tuhan kelihatannya aman dan tidak masalah. Itu karena Tuhan dalam kesabaran-Nya memberi kesempatan seseorang bertobat, untuk berubah. Jadi sejatinya, bukan aman. 
    Ke depan kita akan menghadapi berbagai persoalan hidup, namun pasti kita bisa melewatinya asal kita tidak melawan Tuhan. Jangan sombong. Apa yang dimaksud dengan melawan Tuhan itu? Orang yang melawan Tuhan adalah orang yang tidak peduli perasaan Tuhan. Bagaimana kita bisa menjaga perasaan Tuhan? Ini tidak mudah. Sejatinya, mencari uang lebih gampang dari mencari Tuhan. Walaupun harus diakui bahwa mencari uang itu sulit karena persaingan banyak, ruang kesempatan pekerjaan makin sempit. Yang punya modal saja belum tentu bisa menjalankan uang apalagi tidak punya modal. Di mana pun, di ujung langit mana pun, banyak orang tidak bertuhan pun hidup. Karena Tuhan memelihara semua makhluk dengan cara yang ajaib. 
    Tetapi mencari Tuhan bukan hanya berarti kita datang ke gereja lalu otomatis menemukan Tuhan. Orang yang menemukan Tuhan adalah orang yang mengerti dan melakukan kehendak-Nya. Yang di dalam kesempatan ini, menjaga perasaan Allah. Mudah kalau hanya beragama. Tetapi bagaimana kita bisa memiliki hubungan dengan Tuhan, sehingga perasaan kita nyambung dengan perasaan Tuhan dan kita mengerti apa yang Allah tidak sukai dan apa yang Allah sukai. Kalau hidup bersama dengan seseorang—misalnya, suami istri—masing-masing semakin tahu apa yang pasangannya sukai dan apa yang dia tidak sukai. Dan tentu, sebagai manusia yang baik, ia akan berusaha melakukan apa yang pasangannya sukai dan tidak melakukan apa yang membuat dia tersinggung.
    Bergaul terus dalam perjalanan waktu yang panjang dan serius, baru kita bisa menemukan perasaan Allah. Kalau hanya kebaktian atau doa, itu mudah. Harus punya tekad yang kuat menyentuh Allah. Dan ternyata untuk menyentuh Dia, kita harus melepaskan semua kesenangan. Sebab, kalau kita masih punya kesenangan berarti kita masih menjaga perasaan kita sendiri, mencari kesenangan kita sendiri, dan pasti kita akan masih mudah tersinggung. Kalau terlukai, kita pasti marah, dendam, karena kita masih egosentris. Tidak melawan Tuhan itu tidak mudah. Dan sesuai dengan umur rohaninya, seseorang dituntut untuk mengerti perasaan Allah dan melakukan apa yang tepat, seperti yang Allah kehendaki. Kalau masih kanak-kanak rohani, Tuhan bisa maklum. 
    Dulu kita maunya Tuhan memberkati kita, keinginan-keinginan kita dituruti, kalau ada masalah cepat selesai. Tapi makin hari, Tuhan membawa kita kepada keadaan-keadaan yang sering kita tidak mengerti. Dan ketika kita mulai dewasa, kita harus mencari wajah Tuhan lewat doa, puasa, mendengarkan Firman Tuhan, ke gereja. Kita melekatkan hati kita dengan Tuhan, dan Roh Kudus pasti menolong kita. Makin dalam kita makin dalam hidup di hadirat Allah, kita makin mengerti apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Bahkan,
    10 min
  • Menyatu dengan Tuhan
    Jangan mau dibohongi oleh setan dengan kalimat: “Kamu masih muda, belum bisa seperti Dia. Nanti saja kalau kamu sudah lebih tua,” atau bagi yang sudah berumur, “Kamu sudah terlanjur salah. Umurmu pun sudah senja. Percuma.” Satan is a liar; dia adalah penipu. Pergumulan demi pergumulan kita alami dan kita bisa melewatinya, kita memiliki kesaksian dengan diri kita sendiri dalam berurusan dengan Tuhan. Di sini kita akan bisa merasakan apa artinya menyatu dengan Tuhan. Dan ini sebenarnya inti dari kekristenan. Inti dari hidup orang ber-Tuhan, menyatu dengan Tuhan. Kalau kita, antara Bapa dan anak, seperti dalam Yohanes 17:20-21. Ini yang harus kita capai. Ini yang harus benar-benar kita alami. Dan setiap kita—tua, muda, besar, kecil, siapa pun—bisa mencapai hal ini; menyatu dengan Tuhan. 
    Ketika kita menyatu dengan Tuhan, kita tidak bisa meragukan Dia. Kita yakin bahwa Dia pasti melindungi kita. Dia pasti menjaga kita, Dia pasti membela kita. Jadi kalau kita berkata, “ku perlu Kau, Tuhan,” itu bukan karena masalah-masalah yang sedang kita hadapi, supaya kita mendapat pertolongan Tuhan dan jalan keluar dari masalah itu, melainkan karena kita ingin memiliki kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela. Kita memerlukan Tuhan karena ada kuasa kegelapan yang melampaui kekuatan kita yang berusaha menarik kita untuk menyatu dengan Allah, supaya kita tidak tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam kita. 
    Dan dalam hal ini, Tuhan tidak menghalangi, karena itu memang sudah menjadi hukum kehidupan. Seperti ketika Iblis menuntut Ayub untuk dicobai, Tuhan mengizinkannya. Dan lihat bagaimana Ayub tidak mencurigai Tuhan. “Dalam kesemuanya itu,” kata firman Tuhan, “Ayub tidak berbuat dosa dengan perkataannya.” Tentu dengan sikap hatinya. Lihat, bagaimana Iblis diwakili istrinya berkata, “Masihkah kamu bertekun kepada Allahmu?” Iblis mau Ayub mencurigai Allah, bahkan menyangkal. Namun Ayub berkata, “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? ” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. 
    Jadi apa yang tidak enak, yang menyakitkan, yang dirasa tidak baik, itu pun tidak membuat Ayub menyalahkan Tuhan. Bahkan dalam keadaan seperti pun ia bisa berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Itu hebat sekali, bukan? Hal seperti ini pasti bisa terjadi dalam hidup kita. Ingat juga peristiwa ketika Yesus dibawa ke atas atap bubungan bait Allah, Ia dicobai untuk menjatuhkan diri. Namun Tuhan Yesus tidak menjawab tantangan Iblis dengan memanggil para malaikat untuk menatang-Nya. Bisa saja Dia mendemonstrasikan di depan banyak orang di bait Allah. Jika Ia melakukannya, pertama, ini di luar rencana Allah. Dan kedua, Yesus bisa melecehkan Firman, karena seakan-akan Firman itu harus dibuktikan dengan cara itu. 
    Kita tidak bisa hidup tanpa Dia, karena Tuhanlah kehidupan. Tuhan tidak mungkin membawa kita ke tempat-tempat di mana kita akan celaka. Kalaupun nampak menyulitkan, sejatinya itu adalah bagian dari sekolah kehidupan yang mendewasakan kita. Jangan mencurigai Tuhan. Dengan kesucian, kita bisa menyatu dengan Allah. Dengan menyatu dengan Allah, kita memercayai Dia. Dan kita percaya Tuhan tidak akan mempermalukan kita. Alkitab berkata, “yang menaruh percaya kepada-Nya, tidak dipermalukan.” Jadi, kita harus menyadari bahwa yang kita butuhkan hanya Tuhan. Dan kita tidak bisa memiliki Tuhan tanpa hidup di dalam kekudusan atau kesucian-Nya. 
    Mungkin kita berkata, “aku berserah, Tuhan.” Namun kalau hidup kita kotor, Tuhan berkata, “Tidak bisa kamu berserah dalam keadaan begini.” Sebab hanya orang yang bersih hidupnya yang pantas berkata, “Kau perlindunganku, Kau pertolonganku.” Banyak orang tidak memikirkannya, mereka tidak peduli bagaimana kualitas hidupnya.
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…