Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Lawan dengan Kesucian
    Allah kita kuat. Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub itu kuat. Bagaimana Allah Abraham mengobrak-abrik Mesir, ketika istri Abraham, Sarah, mau diambil Firaun. Juga Raja Gerar yang mau mengambil Sara sebagai istrinya. Tuhan mengobrak-abrik dengan perkasa-Nya. Mesir diobrak-abrik dengan 10 tulah. Israel dilepaskan, Kolsom dibelah. Allah kita perkasa. Masalahnya adalah kalau Allah tidak bertindak menolong kita, yang seakan-akan Allah tidak ada atau tidak peduli terhadap masalah yang kita hadapi, kesulitan yang kita hadapi. Padahal sejatinya, masalah-masalah itu mendewasakan, menyelamatkan kita. Menyelamatkan dari api kekal. 
    Misalnya ibu-ibu memiliki suami yang jahat, menyiksa, memperlakukan tidak adil. Lalu melawan suami dengan apa? Lawanlah dengan kehidupan yang bergaul dengan Allah; artinya lawanlah suami dengan kesucian. Dia kasar, KDRT, menyakiti; lawanlah dengan kesucian. Kita sebagai bawahan di kantor, lalu ditekan atasan; mau disingkirkan oleh kolega, oleh teman kerja karena cemburu atau karena memang orang lain jahat. Jangan lawan dengan kekuatan manusia. Ingat, firman Tuhan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia.”
    Sedangkan di Yeremia 17:7 dikatakan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan.” Jangan lawan orang yang menyakiti kita, mengupayakan kejatuhan dan kehancuran kita. Jangan lawan dengan perkataan atau dengan kekuatan fisik. Jangan lawan dengan apa-apa, tetapi dengan satu: kesucian. Kesucian membuat kita menjadi umat Allah, kekasih Allah, dan sahabat Allah. Kesucian bukanlah hanya tidak berbuat dosa, tetapi kesediaan melakukan apa pun yang Allah perintahkan. Bukan hanya tidak melanggar hukum, tetapi apa pun yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, rencana-Nya untuk dipenuhi, kita penuhi. 
    Sekarang kita sudah memiliki kiat yang hebat bagaimana menaklukkan pasangan yang kejam. Menaklukkan pasangan yang jahat, yaitu: lawan dengan kesucian. Jangan pakai tangan, pakai kekerasan, nanti malah KDRT. Bisa masuk penjara 2-4 tahun, sampai 5 tahun. Bagaimana melawan orang-orang yang menjahati, mem-bully kita, mengupayakan kejatuhan dan kehancuran kita? Lawan dengan kesucian! Jangan lawan dengan perkataan atau dengan perdebatan. Diam, karena itu menunjukkan martabat kita sebagai anak-anak Allah yang mengandalkan Allah dan berharap pertolongan-Nya. 
    Hal ini akan membuat kita tangguh menghadapi segala keadaan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok. Tetapi kita percaya, apa pun yang terjadi di depan, kalau Allah yang membela kita, tidak ada lawan. Sementara kita menghadapi orang-orang yang menjahati kita, kita memandang ke atas. Kita berkata, “Ya, Tuhan, ajar aku tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Tolong aku Tuhan, tidak menggunakan kekuatanku sendiri menghadapi masalah ini, tetapi aku menyerahkan ke dalam tangan-Mu.” Kita akan melihat kemuliaan Tuhan. Tetapi, jangan membuat jadwal sendiri. Jangan mengatur Tuhan. Pasti Tuhan menolong pada waktunya. 
    Mari kita memandang Tuhan, dan berharap pertolongan-Nya. Untuk itu, kita harus hidup suci. Harus menjadi sahabat, kekasih Tuhan. Kalau kita menolak atau merasa tidak bisa hidup suci, maka jangan menjadi manusia. Lebih baik jadi binatang, hewan, yang tidak perlu kesucian. Sebab, hewan hari ini hidup, besok mati; selesai. Manusia hari ini hidup, besok mati, masih ada kesadaran. Itu masalahnya. Jangan berkata, “Suci itu tidak bisa, tidak mungkin, mustahil.” Jangan menuduh Tuhan berdusta atau Tuhan berbohong. Jangan menuduh Tuhan sebagai Tuhan yang kejam, yang sewenang-wenang, yang memberikan perintah yang tidak bisa dilakukan. 
    Kapital, modal kita adalah Tuhan. Maka, kita harus menjadi kekasih Tuhan, sahabat Tuhan, umat Tuhan yang benar agar dapat berjalan dengan Tuhan. Untuk berjalan dengan Tuhan, kita harus hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kesannya, kita ini dianggap sombong; tidak apa-apa. Kita akan mati. Nanti di hadapan pengadilan Tuhan, baru tahu, siapa kita masing-masing,
    9 min
  • Tetap Tenang, Apa pun yang Terjadi
    Sering kali ketika kita menghadapi orang-orang yang berniat jahat kepada kita, ada godaan untuk membalas. Ketika kita membalas, artinya kita terbelenggu, terikat oleh kebencian, dendam, dan belenggu permusuhan. Tetapi kalau kita diam, namun dia menyerang terus, dia membuat belenggu sendiri. Itu urusan dia dengan Tuhan. Dia membelenggu dirinya sendiri dengan kebencian, dendam, keinginan, hasrat, nafsu, ambisi untuk menghancurkan kita. Biar dia membelenggu dirinya sendiri, tetapi kita tidak perlu terbelenggu. Masalah itu bisa menjadi belenggu, apalagi kalau sudah menyangkut kebencian, dendam, nafsu balas dendam. 
    Ini sudah menjadi kejahatan di dalam batin, yang pasti membuat orang tidak berkenan kepada Tuhan. Masalah apa pun yang terjadi, kita tidak boleh kehilangan ketenangan, tidak boleh kehilangan damai sejahtera. Apa pun yang terjadi di dalam hidup kita, kita tidak boleh kehilangan ketenangan. Firman Tuhan mengatakan, “kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” Memang biasanya kalau orang ada persoalan, dia datang ke Tuhan. Apalagi kalau persoalannya sudah tidak bisa dia tanggulangi, tidak bisa diatasi, dia sudah putus asa; dia biasanya datang ke Tuhan. Tidak salah, memang. Tetapi kalau kita datang ke Tuhan hanya membicarakan masalah itu terus, artinya kita memberhalakan masalah. 
    Kita bisa menyerahkan masalah kepada Tuhan, dan percaya bahwa Tuhan Mahakuasa. Percaya bahwa Tuhan peduli, bahwa Tuhan campur tangan, Tuhan pasti menolong pada waktu-Nya, membuka jalan pada waktunya. Serahkan dalam tangan Tuhan. Mungkin kita pernah bertanya-tanya, apakah kita harus tetap mendoakan masalah yang kita hadapi? Misalnya suami pergi yang belum pulang, atau anak yang berbuat sesuatu yang menyakiti orang tua. Boleh, mendoakan. Tetapi jangan terus-menerus. Sekali, dua kali, tiga kali, serahkan dalam tangan Tuhan. Jangan coba-coba mengatur Tuhan. 
    Sering kali orang terus mempersoalkan masalahnya di hadapan Tuhan, memperkarakan masalahnya di hadapan Tuhan. Tentu dengan tujuan agar Tuhan mengabulkan doanya. Padahal, Tuhan memiliki kebijaksanaan untuk menyelesaikan masalah. Didoakan boleh, tetapi jangan terus membicarakan hal itu dalam doa. Kalau kita misalnya tergerak untuk membicarakannya, maka kita minta hikmat Tuhan, “Bagaimana sikapku terhadap hal ini, Tuhan?” Karena kasus itu memang bisa berubah. Dan seiring dengan berubahnya kasus tersebut, kita minta petunjuk, bimbingan Tuhan, “Apa yang harus saya lakukan dengan kondisi ini, Tuhan?” 
    Jangan terus mendesak Tuhan untuk segera menyelesaikan masalah tersebut. Setiap kali datang dalam doa, dia meratapi masalah itu. Dengan skenario di dalam pikiran agar Tuhan memenuhi, mengabulkan keinginan yang ada dalam pikirannya. Ini sudah bentuk sikap mengatur Tuhan. Tidak boleh, itu berarti memberhalakan masalah. Mestinya kalau kita bertumbuh dewasa, kita berkata, “Apa pun yang terjadi, Tuhan, aku kehilangan apa pun, aku mengasihi Engkau. Aku mencintai Engkau. Cintaku tidak kurang kepada-Mu, bahkan bertambah-tambah. Apa pun yang terjadi, Tuhan, aku tidak kehilangan keselamatan. Proses keselamatan tetap berlangsung dalam hidupku. Aku makin hari makin sempurna, makin hari makin kudus, makin hari makin tidak bercacat tidak bercela, makin hari makin berkenan di hadapan Tuhan.” 
    Jadi, dengan sikap itu kita tidak memberhalakan masalah. Sampai pada titik tertentu, kita tidak minta Tuhan menyelesaikan masalah kita. Kita hanya berkata, “Jadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku. Apakah masalah ini akan terus berlangsung terus atau berhenti; akan surut atau tambah besar, terserah Tuhan yang Mahakuasa. Tetapi beri aku sikap yang benar dalam menghadapi masalah ini, agar cintaku kepada Tuhan tidak kurang, tetapi bertambah. Agar proses keselamatan dalam diriku tidak gagal, tidak terganggu, tetapi aku dibentuk agar makin sempurna.” 
    Orang-orang Kristen yang dewasa, akan sampai pada satu titik berkata, “tidak ada yang kuingini, Tuhan, selain Engkau saja.
    9 min
  • Tindakan Tuhan
    Allah memperkenalkan diri-Nya, menunjukkan kehadiran-Nya di dalam hidup kita lewat peristiwa-peristiwa kehidupan. Peristiwa-peristiwa kehidupan itu membuktikan kehadiran Allah. Biasanya, orang membuktikan kehadiran Allah saat doanya dijawab. Itu juga bisa dan itu mengagumkan. Kita punya kebutuhan, kita berdoa, lalu Tuhan buka jalan. Itu juga ajaib, seperti Tuhan mengirim burung gagak kepada Elia. Tetapi, jangan terjebak hanya dalam mukjizat atau hal-hal yang menyenangkan. Tindakan Tuhan dalam hidup kita mestinya lebih kita tangkap ketika Dia menyempurnakan karakter kita; sebab itu adalah berkat kekal. Kita melihat bukti kehadiran Allah lewat persoalan, lewat mukjizat. Tetapi, mestinya bukan hanya melalui mukjizat yang menurut kita menguntungkan, melainkan kehadiran Tuhan melalui peristiwa-peristiwa hidup yang menyempurnakan karakter. Kalau kita menemukan Tuhan, hidup kita pasti luar biasa. 
    Allah itu sangat detail. Setiap peristiwa, pasti ada berkatnya. Kita perkarakan saat berdoa, atau ketika tidak mendapat jawaban doa, kita diam, merenung, pasti Tuhan bicara. Dalam diri kita ada banyak “sampah” yang tidak kita sadari belum terbuang. Ketika kita mengucapkan kata yang salah, hal itu bisa cepat kita sadari. Tetapi kalau kesombongan dari hati, itu licik sekali. Sering kita tidak tahu bahwa itu adalah kesombongan. Tuhan mengubah kita melalui peristiwa-peristiwa yang detail sekali. Kita bisa kagum terhadap cara Allah mendidik, merawat kita dengan peristiwa-peristiwa yang detail. Maka, kita pasti luar biasa. 
    “Sampah” yang dimaksud adalah unsur-unsur daging yang tidak rohani, yang bertentangan dengan kehendak Allah di dalam diri kita. Dan Tuhan tidak bisa mengubah secara sulapan atau ajaib. Tuhan terikat dengan tatanan-Nya, yaitu proses. Ayat yang mengatakan, “Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan,” secara implisit nampak tatanan Tuhan bahwa Dia tidak bisa mengubah kita tanpa peristiwa kehidupan. Tuhan pasti akan membuat peristiwa-peristiwa hidup untuk mengubah kita. Tetapi, jangan kita membuat peristiwa sendiri. Di dalam segala hal, Allah mau membentuk kita. Waktu orang tidak punya uang, kelihatan rendah hati. Begitu punya uang, berubah. Waktu belum jadi pemimpin, kelihatan baik. Begitu jadi pemimpin, punya kekuasaan, berubah. 
    Bagaimana Allah bisa memercayakan pekerjaan yang besar kepada kita, kalau kita masih punya unsur-unsur duniawi (kedagingan) yang tidak sesuai kehendak Allah? Kalau kita mendapatkan kesaksian ajaib, mukjizat, kesembuhan, tetapi karakter tidak berubah, artinya kita belum kuat mengakui kehadiran Allah dalam hidup kita. Tetapi kalau dari perkara kecil, detail, day by day, kita akan tahu bahwa Allah hidup dan hadir di hidup kita. Orang yang berurusan dengan Tuhan, tidak boleh membuka diri terhadap urusan yang lain. Kalau Alkitab berkata, “Baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah,” jadi tidak ada urusan yang Tuhan tidak dimuliakan. Tidak ada urusan di mana Tuhan boleh diasingkan. Dunia dan urusan kita hanya satu: Tuhan. Kepentingan kita hanya satu: Tuhan. Tuhan berkata, “Kepentingan-Ku juga hanya satu: kamu,” kepada setiap individu. 
    Allah itu detail sekali, bagaimana menjadikan kita cemerlang, dari perkara-perkara kecil setiap hari. Kalau kita detail menghubungkan setiap peristiwa hidup dengan Tuhan, maka kita menemukan tindakan-tindakan Tuhan. Kalau kita mengalami, kita akan tahu bahwa Allah itu hidup dan aktif sekali. Roh Kudus dimeteraikan dalam diri kita, membentuk kita, itu luar biasa. Sukses kita dalam hidup ini hanya satu: kesucian. Kesucian itu teknis praktis, tetapi tentu batiniah. Kata “kesucian” memuat pengertian potensi melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Bagaimana itu bisa terwujud? Harus ada perubahan terus, ada daya lenting, fleksibilitas untuk menurut terhadap kehendak Tuhan. Kalau daya lenting kita rendah, tidak punya fleksibilitas untuk Tuhan,
    8 min
  • Kesempatan untuk Meraih Dia
    Kita melihat dunia ini makin hari makin banyak bahaya dari berbagai aspek hidup. Kita melihat adanya obat-obatan yang ternyata bisa merusak organ tubuh yang vital, dan baru ditemukan baru-baru ini, dimana sudah ada korban. Sementara pandemi COVID juga belum tuntas habis dan masih menjadi ancaman. Munculnya varian baru di Singapura yang ditengarai sudah sampai di Indonesia. Semua ini merupakan fakta kehidupan yang terjadi di lingkungan kita. Belum lagi kejahatan manusia yang makin memuncak. Orang yang semakin nekat merampok, mengambil milik orang lain, membunuh. Pendeknya, bahaya ada di mana-mana. 
    Tetapi, ada satu hal yang harus kita ingat selalu, bahwa Tuhan tidak berubah. Kuasa-Nya tidak berubah, kasih setia-Nya tidak berubah. Di tengah-tengah situasi dunia seperti ini, yang harus dilakukan adalah kita harus sungguh-sungguh memercayai Pribadi-Nya. Ini bukan satu hal yang mudah, karena Allah tidak kelihatan. Allah bukan saja tidak kelihatan, tetapi Allah seperti kadang-kadang tidak ada. Dalam pengalaman hidup, ada orang yang sudah berdoa, tetapi Tuhan juga tidak atau belum menjawab doanya. Ada orang yang sudah meminta sesuatu dengan sungguh-sungguh, tetapi Tuhan tidak mengabulkan. Hal itu sebenarnya bisa menimbulkan semacam kemarahan di dalam hati, walaupun sering tidak diungkapkan. 
    Kalau kita peka, di dalam diri kita ada perasaan-perasaan yang cenderung memberontak daripada menyerah dan mengucap syukur. Tetapi, mari kita belajar untuk mengenal Allah dengan benar, dan menerima keberadaan-Nya dengan segenap hati. Tidak ada jalan lain kecuali kita benar-benar menginvestasikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menemukan Allah. Bicara “menemukan Allah” seakan-akan Allah hilang atau tidak ada. Allah tidak pernah tidak ada, karena Allah Mahahadir. Allah ada di tengah-tengah kita. Allah meliputi jagat raya. Allah yang mengatur tatanan jagat raya dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. 
    Tetapi, kita yang tidak mampu menyentuh Allah. Bukan karena Allah tidak mau disentuh, tetapi karena manusia berkeberadaan tidak bisa dan tidak mampu menyentuh Allah. Kalau seseorang mau menggapai sesuatu di ketinggian 2 meter misalnya, dia tidak sanggup melompat. Atau di ketinggian 5 meter, ia tidak sanggup meraih. Allah ada di ketinggian tertentu atau kawasan tertentu, yang hanya bisa digapai oleh orang-orang tertentu. Tidak semua orang bisa. Ini bukan karena Allah menentukan siapa yang bisa dan yang tidak bisa menggapai Dia. Bukan karena Allah telah mendekritkan, mempredestinasikan, menentukan siapa yang bisa meraih Allah dan yang tidak bisa meraih Allah. Allah tidak menentukan demikian. Semua orang diberi kesempatan untuk meraih Dia, tidak terkecuali. 
    Tetapi ini tergantung kepada masing-masing individu, apakah mau sungguh-sungguh menggapai atau mencapai Allah atau tidak? Jadi, jangan berpikir bahwa kita tidak memiliki karunia khusus untuk menemukan Allah, karena kita tidak diberi karunia untuk itu. Itu penipuan dari Iblis, penipuan dari kuasa kegelapan. Orang-orang yang tertipu oleh kuasa kegelapan yang merasa dirinya tidak bisa mencapai atau menggapai Allah karena ketidakberdayaannya, dan dia merasa bahwa dia tidak akan pernah berdaya, akan selalu berada dalam ketidakberdayaan. Dan lebih konyol lagi, kalau sampai orang berpikir bahwa hanya orang-orang tertentu yang mampu mencapai Allah, karena Allah yang menentukan. Itu salah, itu keliru. 
    Allah memiliki tatanan. Allah tidak bisa digapai atau dicapai oleh sembarang orang. Tatanannya apa? Tatanannya adalah Dia kudus, dan yang mencapai Dia, tentu harus orang yang hidupnya kudus. Yesaya 59:2 mengatakan, “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Jadi, bukan karena Tuhan tidak punya telinga untuk mendengar, atau karena tangan-Nya terlalu pendek, melainkan karena dosa dan kejahatan yang umat lakukan. Jadi,
    9 min
  • Mendidik dan Mengubah
    Allah hadir di dalam hidup kita sebagai Bapa yang mendidik. Kita melihat, banyak orang Kristen yakin tidak yakin bahwa Allah itu ada. Buktinya, mereka takut menghadapi masalah, masih berani berbuat dosa, takut mati, dan sebagainya. Itu adalah ciri-ciri orang yang belum berjumpa dengan Tuhan; tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara benar, pasti juga tidak mengalami proses. Perjumpaan dengan Tuhan pasti mempunyai maksud. Kalau hanya mukjizat, kita tidak mengalami perubahan. Bukan itu maksud kebersamaan Tuhan dengan kita. Kebersamaan Tuhan dengan kita adalah kebersamaan Bapa yang mendidik. Allah mencukupi, Bapa di surga tahu apa yang kita butuhkan. Kebersamaan dengan Allah di dalam Roh Kudus adalah kebersamaan yang mendidik. 
    Kita harus mengerti bahwa hidup kita sekarang ini adalah persiapan untuk kehidupan yang akan datang (kekekalan), tidak ada tujuan lain. Hidup ini sekolah, yang tujuannya agar kita layak dimuliakan bersama dengan Tuhan. Maka, Allah hadir untuk mendidik kita. Bagaimana seseorang bisa mengalami perubahan secara benar, signifikan, dan berarti, kalau dia tidak melihat maksud Tuhan di balik semua peristiwa? Padahal, peristiwa-peristiwa hidup yang Tuhan sediakan merupakan berkat bagi kita, namun tidak kita tangkap. Karena pikiran kita tidak mengaitkan itu dengan Tuhan dan maksud-maksud-Nya mendewasakan kita. 
    Tujuan hidup kita hanya mau berkenan kepada Allah; sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Layak dimuliakan bersama Yesus, menjadi mempelai Tuhan. Kalau tidak begitu, kekristenan kita lumpuh, bohong. Bukan kekristenan yang benar; itu palsu, gadungan. Fokus kita tidak boleh terbagi untuk yang lain. Fokus kita harus Tuhan. Dunia kita hanya Tuhan dan apa yang Dia kehendaki dalam hidup kita. Kita mau menjadi manusia seperti yang Dia inginkan. Seperti seorang di tangan Sang Pemahat, kita dipahat menjadi patung atau bejana yang bagus, tetapi kita harus menurut. Hal itu memuaskan hati Allah. 
    Sejatinya, mencari Tuhan itu lebih sulit dari mencari apa pun. Tetapi ada orang yang berkata, “Mencari Tuhan itu mudah. Yang sulit itu bisnis, banyak masalahnya; ada kompetitor, dan lain sebagainya. Kalau ketemu Tuhan, mudah. Pakai gitar, nyanyi, bisa bertemu.” Apakah Tuhan bertemu kita, hanya untuk dipuji? Ia adalah Bapa yang mendidik. Perjumpaan itu mestinya setiap saat, lewat setiap peristiwa hidup. Ibrani 12:4 mengatakan, “Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah,” artinya kita belum sampai habis-habisan, belum segenap hati. Kalau kita membaca ayat yang kedua, mestinya targetnya yaitu memiliki iman yang sempurna seperti Yesus; penurutan, ketaatan kepada Bapa seperti cara hidup Tuhan Yesus.
    Dalam ayat 5 dikatakan, “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.” Di balik kalimat ini, ada satu kebenaran bahwa urusan Tuhan untuk kita adalah mendidik dan mengubah. Pasti Tuhan mencukupi kebutuhan jasmani kita. Tetapi yang luar biasa adalah ketika kita merasakan, mengalami kehadiran Allah yang mendidik. Lanjut, ayat 6 mengatakan, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak;” menyesah artinya memukul berulang-ulang. Tiada henti Tuhan mendidik kita. 
    Ibrani 12:7, “Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak tetapi anak-anak gampang.” Pendidikan memang menyakitkan, tetapi kalau sampai kita merasakan sakitnya didikan dan mengerti maksudnya, artinya kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Entah pendidikan itu mau membuat kita rendah hati, lebih jujur, dan lain-lain, kita mengalami Tuhan di situ. 
    Ayat ke-8, “Selanjutnya dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganj...
    9 min
  • Mengarahkan pada Kekekalan
    Bahaya atau masalah yang Tuhan izinkan terjadi di sekitar kita atau ada di sekitar kita, seharusnya menarik kita untuk mencari perlindungan yang teguh dan sempurna. Ketika kita mencari Tuhan untuk masalah-masalah hidup di mana kita merasa terancam, sejatinya Tuhan mengarahkan kita kepada kekekalan. Kalau hanya masalah kesehatan, Tuhan bisa jawab. Itu kecil bagi Tuhan. Kalau hanya masalah kebangkrutan, Tuhan bisa pulihkan. Kalau hanya masalah rumah tangga, Tuhan bisa selesaikan juga. Kalau hanya masalah mandul, tidak punya jodoh, Allah mudah memberi jalan. 
    Tetapi yang sulit adalah hal kekekalan, yaitu ketika karakter kita tidak baik, tidak menghormati Tuhan dan hidup sembarangan. Maka, kira-kira Tuhan mau berkata, “Capai Aku, raih Aku, dan Aku akan memberikan kamu perhatian khusus. Kalau engkau menghargai Aku, Aku akan menghargai kamu, dan engkau akan menjadi orang istimewa bagi-Ku. Engkau bukan saja Kulindungi dalam hidupmu selama di dunia, tetapi yang penting di kekekalan.” Dunia ini akan berguncang lebih hebat, perang Ukraina saja sudah menegangkan, apalagi bagi orang Eropa. Kalau sampai perang pecah, senjata pemusnah massal digunakan, sekejap Eropa menjadi padang gurun. Lalu minta tolong kepada siapa? Kekuatan apa yang bisa menolong manusia? Mereka mulai memandang Tuhan. Mestinya demikian, tetapi kalau mereka memandang Tuhan, masalahnya bukan sekadar lolos dari nuklir, tetapi lolos dari api kekal. 
    Jadi kita harus hidup suci untuk melawan persoalan-persoalan hidup. Pasti kita dapat menyelesaikan dan menang menghadapi berbagai persoalan hidup dan segala kebutuhan yang menekan hidup kita. Lawan dengan kesucian, pasti Tuhan akan memberi jalan keluar. Kita pasti memperoleh kemenangan. Sesungguhnya, target kita bukanlah masalah-masalah fana. Kebangkrutan misalnya, jika kita hidup suci, Tuhan bisa pulihkan. Masalah sakit, cacat; jika kita hidup suci, Tuhan bisa pulihkan. Tetapi, akhirnya bukan masalah sakit atau masalah ekonomi, karena kekekalanlah yang dikehendaki Tuhan menjadi target. Maka, di akhir zaman, Tuhan mengizinkan akan ada banyak bahaya. Perang, gempa bumi, kelaparan, konflik antarmanusia yang namanya konflik horizontal, krisis ekonomi seperti dinubuatkan oleh Alkitab. Semua ini menjadi peringatan terakhir bagi dunia dan manusia agar memandang Tuhan, lalu melihat apa yang lebih indah, lebih baik dari apa pun yang ada di dunia ini. 
    Pelayan Tuhan seharusnya tidak hanya mengurusi mengenai masalah-masalah fana, apakah itu masalah kesehatan, atau masalah ekonomi. Bukan hanya itu. Tentu para hamba Tuhan harus peduli. Tetapi lebih dari masalah kesehatan, masalah ekonomi, dan masalah-masalah lainnya, para hamba Tuhan juga harus mengajak umatnya untuk memberikan fokus kepada masalah kekekalan. Kalau kita bisa mengerti masalah kekekalan, maka masalah-masalah yang kita hadapi menjadi tidak berarti. Menjadi kecil. Contoh sederhana, kalau ada tsunami setinggi 50 meter menerpa kota kita misalnya, maka masalah rumah tangga kita jadi kecil, bukan? Masalah ekonomi kita jadi kecil. 
    Coba kalau terjadi perang. Perang yang menggunakan senjata pemusnah massal seperti nuklir. Semua masalah kita jadi kecil. Kita dihina orang, diinjak-injak orang, jadi bukan masalah lagi. Itu baru bencana di bumi. Apalagi bencana di kekekalan. Kalau kita melihat kekekalan yang dahsyat, maka masalah kita hari ini tidak ada artinya. Apakah kita tidak punya rumah, belum punya jodoh, tertindas, menderita sakit, memiliki cacat; semua tidak ada artinya, jika dibanding dengan dahsyatnya kekekalan, dahsyatnya api kekal, ketika seseorang terpisah dari Allah. Makanya bahaya-bahaya kecil yang Tuhan izinkan terjadi sekarang, idealnya harus membuka mata kita untuk melihat bahaya yang lebih besar. Kalau Tuhan izinkan kita mengalami masalah, banyak ancaman, maka harus kita memandang Tuhan, karena Tuhan mau memedulikan kita. Capailah Tuhan dengan kekudusan. Lawan masalah kita, kebutuhan kita dengan kekudusan. Allah pasti pedulikan. 
    8 min
  • Maksud Penyertaan Tuhan
    Ketika kita menghadapi masalah besar yang mustahil terselesaikan, mari lawan dengan kesucian, hadapi dengan kekudusan, yaitu menjaga perasaan Tuhan. Orang-orang yang menjaga perasaan Tuhan ini akan dihargai oleh Allah. Kalau sampai seseorang dihargai oleh Allah, dia akan dilindungi Tuhan secara khusus. Memang, ketika kita mulai hidup suci, mau menjaga perasaan Tuhan, dan mulai mempertimbangkan setiap kata yang mau diucapkan, setiap tindakan, perbuatan kita, keadaan seakan-akan sama saja. Lalu ada suara yang jahat di dalam hati, “Apa bedanya kamu dengan mereka? Kamu sudah hidup benar, kamu sudah hidup suci, tetapi lihat keadaanmu tidak berubah, bahkan kadang-kadang seperti terpuruk.” Sampai suara jahat itu berkata, “Tuhan tidak ada.” Saat-saat seperti itu, kita harus ingat bahwa Tuhan menguji setiap kita. Seberapa kita sungguh-sungguh memercayai Dia? 
    Kalau dengan mudah kita melihat kemuliaan Allah, dengan mudah kita mendapatkan jalan keluar dari masalah, kalau dengan mudah Tuhan memberi pertolongan, maka kita tidak dapat bertumbuh secara dewasa. Sebab, pada intinya maksud penyertaan Tuhan dan kehadiran-Nya di dalam hidup kita, bukan sekadar masalah-masalah kita dapat diselesaikan. Tetapi agar kita bisa berjalan dengan Tuhan, dan inilah yang membawa kita kepada kehidupan kekal, kehidupan yang terindah di dalam Kerajaan Surga. 
    Jadi, kalau dunia dibuat Tuhan atau diizinkan Tuhan mengalami guncangan-guncangan hebat, sebenarnya itu peringatan bagi kita untuk mencari perlindungan yang sempurna. Dan perlindungan yang sempurna itu tak lain dan tak bukan, hanya Tuhan sendiri. Perlindungan dari sakit-penyakit, dari bencana, perlindungan dari segala ancaman dan bahaya di dunia ini, itu belumlah perlindungan yang sempurna. Perlindungan yang sempurna adalah ketika kita meninggal dunia, dan di hadapan pengadilan takhta Kristus kita dijumpai berkenan. 
    Makin banyak bahaya, betul kita membutuhkan perlindungan. Dan perlindungan sempurna itu dari Allah. Tetapi setelah tujuan kita mencapai, menggapai Allah, bukan sekadar kita bebas dari bahaya dan ancaman-ancaman yang terjadi di sekitar kita; sakit-penyakit, bencana, dan lain sebagainya. Tetapi pada akhirnya, golnya adalah bagaimana kita bisa berjalan dengan Tuhan sampai pada kekekalan. Oleh sebab itu, kalau kita mulai hidup suci, meninggalkan dosa, tetapi mengapa keadaan hidup kita seperti tidak berubah? Karena Tuhan mau menguji kita, memiliki kepercayaan kepada pribadi-Nya. 
    Mengapa Abraham memiliki anak setelah usianya hampir saja 100 tahun? 25 tahun kira-kira, Abraham menunggu kelahiran anaknya, padahal Allah sudah berjanji seperempat abad sebelumnya. Karena Abraham diajar untuk memercayai pribadi Allah. Jadi kita bisa mengerti mengapa Tuhan kadang-kadang, atau bagi orang yang dikasihi-Nya, Allah mengizinkan persoalan-persoalan berat terjadi. Mengapa? Karena dari persoalan itu Tuhan mau memanggil, “Ayo, capai Aku. Ayo, gapai Aku.” Dan untuk mencapai Allah, kita harus kudus sebab Allah itu kudus. 
    Persoalan yang diizinkan Tuhan adalah cara Allah untuk menarik kita datang kepada-Nya. Dan kalau dunia ini dibuat Tuhan berguncang hebat dengan adanya ekosistem bumi yang rusak, banyak bencana, perang, berbagai krisis, tentu tujuannya supaya manusia mencari perlindungan yang sempurna. Tetapi perlindungan yang sempurna bukan hanya menyangkut masalah kesehatan, sakit-penyakit, ekonomi, dan lain sebagainya yang sifatnya fana. Perlindungan yang sempurna adalah ketika kita meninggal dunia, lalu kita didapati oleh Tuhan berkenan. Kita mencapai Allah bukan sekadar supaya anak kita lulus sekolah. Kita mencapai Allah bukan sekadar supaya mendapatkan pekerjaan dan uangnya banyak. Kita mencapai Allah bukan sekadar kita dapat terhindar dari berbagai bencana. Apa pun yang terjadi, tidak menjadi masalah kalau kita sudah mencapai Allah. 
    Kalau kita bersama dengan Tuhan, maka kita memiliki kekekalan yang indah. Ada saat-saat di mana kita terpuruk.
    9 min
  • Jangan Memberhalakan Masalah
    Kita mengerti betapa kehidupan kita hari lepas hari makin sulit, makin berat. Apalagi yang sekarang sedang menghadapi persoalan-persoalan berat. Kita merasa jalan hidup begitu berat, sukar, seperti berjalan di jalan yang berlumpur atau seperti mendaki sebuah bukit atau gunung. Ada sebuah kebenaran terkait dengan masalah atau persoalan hidup. Yang namanya “berhala” itu bukan hanya uang. Yang namanya “berhala” bukan hanya satu sesembahan di mana seseorang memberikan penyembahannya atau pengabdiannya. Tetapi yang namanya berhala itu juga adalah sesuatu yang mengikat, membelenggu hati. 
    Firman Tuhan mengatakan, “anak-anak-Ku, waspadalah terhadap segala berhala,” 1 Yohanes 5:21. Berhala bukan hanya jimat; berhala bukan hanya sesuatu yang terkait dengan okultisme; berhala bukan hanya uang, harta, kekayaan, hobi, kesenangan yang mengikat hati dan membuat seseorang tidak mengutamakan Tuhan, sehingga orang mengalahkan kepentingan-kepentingan rohani. Bukan hanya itu. Bukan hanya harta, kesenangan-kesenangan dunia, pangkat, gelar yang memang bisa mengikat atau merenggut hati. Masalah hidup juga bisa menjadi berhala. Masalah hidup juga bisa menjadi ikatan di dalam diri seseorang. 
    Hal ini yang banyak orang tidak tahu. Memang dia tidak memiliki berhala dalam bentuk jimat, dalam bentuk sesembahan terhadap dewa dewi, memang dia tidak terikat dengan uang atau apa pun, tetapi terikat dengan masalah. Sehingga orang bisa berkata, “Yang penting bagi saya, tidak punya masalah. Kalau punya masalah ini, saya tidak bahagia. Selama masih punya masalah ini, hidup saya terancam. Selama masih punya masalah ini, saya tidak merasakan ketenangan.” Banyak orang memberhalakan masalah. Misalnya, seorang istri yang salah memilih jodoh; suaminya jahat, berkhianat, menyiksa, KDRT, tidak bertanggung jawab. Ini masalah. 
    Masalah ini menyakitkan sekali. Pada waktu masih remaja, belum menikah, memimpikan kehidupan yang bahagia. Memimpikan sebuah pernikahan yang bahagia, memimpikan seorang pria yang membuat kewanitaannya berbunga-bunga seindah-indahnya dengan memberikan anak dan rumah tangga yang dia nikmati bak surga. Tetapi, kenyataannya terbalik. Suaminya bukan saja tidak memberi kebahagiaan, tetapi memberi penderitaan. Ini menyakitkan sekali, tetapi Tuhan menghendaki agar hati kita tetap terikat dengan Tuhan, lebih terikat dari apa pun dan siapa pun. 
    Jadi kalau kita menghadapi masalah, kita harus tetap mengikatkan hati dengan Tuhan. Kalau kita tetap mengikatkan hati dengan masalah yang di dalamnya ada kekecewaan, kepahitan, dendam, dan lain sebagainya, ini bisa menjadi kanker, tumor, bisa merusak enzim-enzim positif di dalam diri kita. Bisa membuat kita mati muda. Jadi seharusnya, kita tidak memberhalakan masalah. Karena masalah itu sudah terjadi. Waktu tidak bisa ditarik ke belakang. Kita harus menjalani hidup hari ini. Kita tidak bisa menghindarinya. Marilah kita menjadi dewasa dan matang, menjadi manusia yang bertanggung jawab. Berani mengambil, memikul risiko dari pilihan dan keputusan kita. 
    Jangan menyalahkan Tuhan dengan berkata, “Tuhan, mengapa Engkau berikan aku masalah seperti ini?” Jangan menyalahkan Tuhan, karena itu keputusan dan pilihan kita. Kita yang memilih. Jadi keadaan sudah seperti ini, ayo kita dewasa. Berani bertanggung jawab memikul buah atau hasil dari keputusan dan pilihan kita. Kita tidak bisa menarik mundur waktu. Jadi mari kita menghadapinya. Kita percaya bahwa kita masih sanggup memikul beban ini. Jangan berkata, “aku tidak sanggup, Tuhan.” Kalau kita tidak sanggup, Tuhan akan mendampingi sehingga kita sanggup. 
    Jadi, kita harus menerima realitas. Mungkin kita berkata, “aku seperti hidup di dunia asing. Mengapa terjadi ini?” Jangan berpikir demikian, itu tidak dewasa. Terimalah kenyataan ini dengan ucapan syukur. Artinya, di dalam persoalan pasti ada berkat kekal yang kita terima. Bagaimana kita tidak memberhalakan masalah? Yang pertama, kalau kita mau belajar bertanggung jawab atas setiap keputu...
    8 min
  • Modal
    Kita percaya Allah tidak berubah. Dan memang Allah tidak berubah. Dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Salah satu sifat atau karakter Allah yang tidak berubah adalah kuasa-Nya. Dunia berubah, tetapi bagaimanapun, kuasa Allah tidak berubah. Tetapi bukan hanya kuasa Allah yang tidak berubah. Kasih Allah juga tidak berubah. Kalau kuasa-Nya tetap sama, dulu, sekarang sampai selama-lamanya tetapi kasih-Nya berubah—artinya Allah jadi kurang mengasihi umat pilihan—maka ini berbahaya. Yang benar yaitu Allah adalah Allah yang tidak berubah, di dalam sifat dan hakikat-Nya, yaitu kasih-Nya. 
    Di dalam Alkitab, perhatian Allah kepada umat pilihan atau kekasih-kekasih-Nya, luar biasa, istimewa. Pembelaan Allah kepada orang-orang yang diakui-Nya sebagai umat, sebagai sahabat, kekasih Allah, itu luar biasa menakjubkan. Pemeliharaan Allah bagi umat pilihan, bagi kekasih dan sahabat-sahabat Allah, luar biasa. Itu tidak berubah. Kalau sekarang kita menjadi kekasih Allah, umat pilihan Allah yang benar, pasti kita juga akan diperlakukan Allah secara khusus. Pasti kita mendapat perlakuan istimewa dari Allah. Seperti perlakuan Allah terhadap Abraham, Ishak, Yakub, bangsa Israel, dan lainnya. Oleh sebab itu, yang harus kita usahakan adalah bagaimana menjadi kekasih Allah, sahabat Allah; seperti Abraham. 
    Bagaimana menjadi umat pilihan Allah yang dengar-dengaran, yang taat? Inilah modal atau kapital yang nilainya tidak terhingga. Kapital atau modal pendidikan, warisan kekayaan orang tua, apa pun yang dimiliki seseorang dalam menghadapi hidup, itu semua terbatas. Seberapa tinggi pendidikan seseorang yang dapat menjamin hidup, baik hidupnya maupun hidup keluarganya? Seberapa banyak warisan yang bisa diperoleh seseorang, dapat menjamin hidupnya dan hidup orang-orang yang dikasihinya, yang menjadi tanggung jawabnya? Semuanya terbatas, karena tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pendidikan tinggi atau uang. 
    Dalam sejarah, penguasa-penguasa hebat di masa tertentu, kalau sudah jatuh, dia bisa lebih miskin dan lebih menderita dari orang miskin. Sejarah membuktikan. Maka, Tuhan Yesus berkata di Lukas 12, bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaan, juga tidak bergantung kepada apa pun, karena firman Tuhan mengatakan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang kekuatannya bukan dari Allah.” Modal atau kapital yang tidak terhingga adalah Tuhan. Yeremia 17:5 mengatakan, “terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan.” Terkutuklah, artinya terhukum. Inilah yang harus kita upayakan lebih dari segala upaya untuk menghadapi hidup kita ke depan. Studi, mencari nafkah, menjaga kesehatan dengan pola makan, pola hidup yang baik itu mutlak. 
    Tetapi lebih dari semua kegiatan hidup yang kita lakukan guna menempuh hari-hari ke depan, yang terutama adalah hubungan dengan Allah. Bagaimana menjadi kekasih dan sahabat Allah. Jangan mengecilkan Tuhan. Tuhan memang tidak bisa dikecilkan, tetapi kita bisa mengecilkan Tuhan di dalam pikiran, perilaku, dan perlakuan kita terhadap Tuhan. Tuhan seakan-akan tidak ada, tetapi Dia ada. Seakan-akan Tuhan tidak nyata, tetapi sebenarnya Dia lebih nyata dari semua realitas. Seakan-akan Dia tidak riil, tetapi sebenarnya Dia riil. Bagaimana mengalami Allah yang tidak kelihatan, tetapi nyata atau hadir? Bagaimana mengalami Allah yang seakan-akan tidak riil, padahal riil? 
    Kita harus menyediakan perhatian, waktu, dan konsentrasi terbaik untuk mengalami Tuhan. Pergi ke gereja itu mutlak. Tentu selama gereja benar-benar mengajarkan kebenaran yang membuat jemaat bisa benar-benar mengalami Tuhan, dan memiliki perjumpaan dengan Allah. Tentu tidak semua gereja membimbing umat dengan benar. Kalau pendetanya, pelayan gereja atau pelayan jemaat tidak memiliki pergaulan dengan Allah secara benar, maka ia tidak akan bisa membimbing orang lain mengalami perjumpaan dengan Allah. Carilah gereja yang bisa mengubah hidup kita,
    10 min
  • Kekudusan-Nya dan Kekudusan Kita
    Dia Allah yang hidup, Dia Allah yang nyata. Kalau kita memperlakukan Dia dengan benar, Allah akan memperlakukan kita sesuai dengan sikap kita terhadap-Nya. “Dia berlaku suci kepada orang yang suci,” demikian firman Tuhan. “Kepada orang yang bengkok hatinya, Dia berlaku belat-belit.” Jadi, kalau kita memang tidak setia kepada Tuhan lalu hidup suka-suka sendiri, melukai, menyakiti Tuhan semena-mena, bagaimana Tuhan akan memperlakukan kita baik-baik? Kalau Tuhan memperlakukan kita baik-baik sementara kita hidup tidak sesuai dengan kesucian-Nya, maka seakan-akan Tuhan setuju dengan perbuatan kita yang tidak benar. Kalau perbuatan kita tidak benar, pasti kita dipukul, dihajar, didisiplin oleh Allah untuk menunjukkan bahwa Allah tidak setuju dengan keadaan itu. Sekarang, apa pun dan bagaimanapun keadaan kita, mari kita memilih Tuhan. 
    Tentu kata “memilih” artinya tidak cukup dengan kata-kata. Pemilihan kita akan Tuhan, tidak cukup dengan kata-kata, tetapi harus dengan tindakan nyata, perbuatan nyata. Kalau seseorang berkata memilih Tuhan, maka ada langkah-langkah konkret yang menunjukkan pilihannya. Kalau berkata, “Aku memilih Tuhan,” dia harus mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Berarti, dia harus meninggalkan dunia, meninggalkan kesenangan-kesenangan dunia, kebiasaan-kebiasaan di mana dia terikat dengan kesenangan-kesenangan dunia, harus ditinggalkan. 
    Kalau kita memang serius memilih Tuhan, kita mesti, harus, wajib, tidak bisa tidak untuk meninggalkan kesenangan-kesenangan dunia. Roh Kudus pasti memberi tahu apa saja yang Tuhan tidak suka. Sebab, kalau kita berjalan dengan Tuhan, kita harus bersih dari keinginan dunia, percintaan dunia, juga dari segala dosa. Kalau di dalam 1 Petrus 1:16-17 Tuhan berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus,” Tuhan menghubungkan kekudusan-Nya dengan kekudusan kita. Maksudnya jelas bahwa Tuhan menghendaki kesucian kita, karena Tuhan menghendaki persekutuan. “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus,” di balik pernyataan itu, Tuhan berkata, “Aku mau bersekutu denganmu. Aku mau tinggal dalam engkau, engkau dalam Aku. Maka, bersihkan dirimu dari apa yang najis.” 
    Di Perjanjian Lama, berkali-kali dikisahkan setiap kali Allah mau bersekutu dengan umat-Nya, Allah memerintahkan Musa, “Kuduskan umat-Ku, kuduskan mereka.” Lalu mereka boleh mengadakan perayaan penyembahan kepada Elohim Yahweh. Tuhan tidak akan berjalan dengan orang yang tidak kudus. Itulah sebabnya dalam surat Korintus dikatakan: “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan jangan menjamah apa yang najis. Maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan.” (2 Korintus 6:17). Kalau kita masih menerima apa yang najis, berarti kita tidak memilih Dia. Pasti berarti memilih yang lain. Kalau kita ditanya, apakah kita anak-anak Allah, tentu kita akan berkata, “Ya, saya anak Allah.” Tetapi, apakah kita anak-anak Allah yang kudus atau tidak? Kalau tidak kudus, maka tidak bisa bersekutu dengan Allah. Jadi, kalau kita memilih Tuhan, berarti kita tidak memilih kesenangan dunia, percintaan dunia atau perbuatan dosa. 
    Inilah inti, nafas, jiwa dari kekristenan: kekudusan atau kesucian. Kita selamat tidak dimulai dari kita kudus, betul. Kita selamat bukan dimulai dari perbuatan baik kita, benar, tetapi oleh anugerah. Namun harus tahu, kalau orang menerima anugerah, berarti dia harus mau meninggalkan segala sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki. Inilah anugerah yang bertanggung jawab. Jangan berpikir bahwa Allah masih tetap menerima kita sebagai anak-Nya, walaupun dosa kita banyak bagaimana, Tuhan membenarkan. Kalau Tuhan membenarkan hanya supaya kita dianggap benar, maka Tuhan itu jahat. Dalam keadaan tidak benar, kita dibiarkan terus tidak benar, hanya “dianggap benar.” 
    Allah kita kudus, mulia, agung, tidak jahat, Allah kita sempurna. Dia menganggap kita benar, supaya Dia bisa memberikan Roh Kudus dan mendidik kita supaya kita bukan hanya dianggap benar, melainkan benar-benar berkeadaan benar.
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…