Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Keberanian Melangkah
    Sadarkah kita bahwa Iblis memberi ketakutan di dalam diri kita? Dan sebagian kita dapat menyadari adanya ketakutan atau kurang berani untuk mengikut Tuhan dengan segenap hati, tidak berani berkomitmen untuk hidup suci, tidak berani untuk mengambil keputusan tidak mencintai dunia lagi dan tidak berani mengambil keputusan untuk percaya sepenuh kepada Allah yang tidak kelihatan. Kita harus belajar untuk menaklukkan perasaan dan pikiran seperti itu, karena kitalah yang harus menaklukannya. Tuhan tidak menaklukkan, sebab jika Tuhan menaklukkan, maka Tuhan melanggar hakikat-Nya yang telah diberikan kepada manusia, bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk mengambil keputusan dan bertindak. Ini kunci penting dalam hidup kekristenan yaitu keberanian melangkah. 
    Ketika kita mengambil keputusan untuk melangkah, pasti kita kemudian termotivasi untuk datang ke gereja, berdoa, puasa, mendengar Firman. Tidak bisa tidak, ketika kita membunuh, mematikan, membuang, memadamkan, membungkam perasaan takut tersebut, maka akan muncul keberanian melangkah. Kita harus dapat menguasai wilayah hidup kita sendiri; pikiran, perasaan, jiwa kita semua ada di dalam kendali kita. Tetapi kalau kita ada di dalam perasaan takut, maka kita akan selalu takut. Setan akan meracuni pikiran kita dengan perkataan, “Engkau tidak akan bisa. Nanti saja. Bukan bermaksud mau mengkhianati Tuhan, tetapi tunda saja. Tunggu waktu yang baik.” Itu perkataan dari setan yang mau menipu kita.
    Setiap waktu adalah baik, karena Tuhan yang memberi waktu itu baik adanya. Menjadi baik atau tidak, tergantung bagaimana kita memaknai dan mengisinya. Maka mengungkapkan janji suci, meninggalkan percintaan dunia menjadi bukan sesuatu yang luar biasa, hebat atau dahsyat, karena itu adalah standar hidup kekristenan yang normal dan benar di mata Allah. Dan kita jadi mengerti bahwa itu satu-satunya pilihan untuk menghindarkan kita dari api kekal, dari kehidupan yang mendukakan hati Allah. Jadi, kalau kita menganggap berjanji hidup suci, meninggalkan percintaan dunia, berjanji untuk percaya sebagai suatu yang luar biasa berarti kita belum mengambil keputusan atau keberanian melangkah dengan benar. 
    Maka, ketika kita punya komitmen untuk sungguh-sungguh di dalam Tuhan, apa pun yang Tuhan kehendaki, kita pasti mau lakukan dan apa pun yang Tuhan perintahkan, kita mau untuk memenuhinya. Mari, kita hidup suci, tak bercacat tak bercela, meninggalkan percintaan dunia, mengambil keputusan berani percaya kepada Allah, fokus kepada Kerajaan Surga (Langit Baru dan Bumi Baru), memandang Tuhan. Ditambah lagi dengan menikmati hadirat-Nya setiap hari, dan kekaguman kita akan kebenaran-kebenaran yang Tuhan berikan. Oleh sebab itu, salah satu cara untuk kita bisa mewujudkan komitmen atau tekad itu adalah coba kita pikirkan bahwa kita sudah meninggal dunia lalu ada di hadapan Tuhan. Apakah masih ada sisa dosa yang kita lakukan? Apakah masih ada bagian hati kita yang tidak kita persembahkan bagi Tuhan? Apakah ada ruangan hati kita yang diisi oleh dunia, kesenangan kita atau sesuatu?
    Sering kali orang tidak mau serius membuka hatinya di hadapan Tuhan untuk diperiksa dan kesediaan untuk mengosongkan hati dari segala kesenangan dunia untuk dapat diisi hanya oleh Tuhan dan Roh Kudus. Orang seperti ini tidak berani habis-habisan untuk Tuhan, ini masalahnya. Dia masih punya dunia lain. Mestinya, Tuhan itu menjadi satu-satunya dunia kita. Tidak ada dunia lain, hanya Tuhan saja. Percayalah, kalau kita mengikuti kebenaran ini, suatu hari kita akan tahu betapa beruntungnya kita. Jadi, bukan tanpa alasan kalau kitab suci berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.”
    Jangan coba-coba kalau ada hal yang kurang benar atau melanggar kesucian, pasti Tuhan akan singkirkan. Kita semua harus berkomitmen untuk sungguh-sungguh mau hidup takut akan Allah. Zaman sekarang ini, kita berada dalam suasana krisis. Dunia sedang menuju kegelapan.
    9 min
  • Argo Hidup
    Segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada perhitungannya. Jadi, begitu kita terlahir di bumi, argo hidup kita sudah jalan. Argo seperti taksi, kalau kita naik taksi yang menggunakan argometer. Ada dua jenis argo di dalam hidup kita. Argo yang warnanya gelap dan yang warnanya putih. Argo gelap atau argo hitam menunjukkan perbuatan jahat, yang tidak sesuai kehendak Tuhan. Jadi kalau orang berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, argo hitamnya jalan, bertambah. Tetapi kalau orang hidup sesuai dengan kehendak Allah, menuruti kehendak Allah, taat kepada Tuhan, melakukan kehendak Tuhan, argo yang putih yang jalan. 
    Pasti kita pernah menjalani hidup di mana argo hitam atau argo gelap di dalam hidup kita lebih dominan, terus bertambah angka, nilainya, jumlahnya. Dan sebaliknya, argo putih lambat. Ini kenyataan yang kita jumpai dalam hidup banyak orang, juga dalam hidup kita. Dan tahukah kita bahwa argo tersebut sangat menentukan karakter kita? Jadi kalau argo hitam yang terus naik, itu karakter buruk. Jadi karakter seseorang menunjukkan jumlah argonya; karakter buruk menunjukkan jumlah argo hitamnya banyak, tetapi karakter yang baik menunjukkan jumlah argo putihnya banyak. 
    Dulu kita tidak peduli apa yang kita mau ucapkan, apa yang kita lakukan. Seakan-akan semua tidak ada perhitungannya. Ini salah! Iblis menipu banyak orang dengan pengertian ini. Seakan-akan apa yang dilakukan itu tidak memiliki dampak atau akibat. Keadaan ini mengerikan! Banyak orang sembarangan berbicara, sembarangan berperilaku. Dan mereka merasa bahwa itu semua tidak memiliki dampak. Padahal itu ada dampaknya; dampak kekal. Karena membentuk karakter. Jadi, argo hidup seseorang menentukan karakter. Akumulasi dari argo hitam atau argo gelap, melahirkan karakter buruk. Tetapi akumulasi dari argo putih, membentuk karakter baik. 
    Kalau di lingkungan orang-orang di luar Kristen, mereka juga bisa memiliki argo putih, dalam versinya. Yang membuat mereka bisa memiliki karakter yang baik, agung, bahkan mulia. Jadi jangan berpikir picik, bahwa hanya orang Kristen yang bisa baik. Banyak orang non-Kristen berperilaku baik, karena argo putihnya dia isi terus. Dan agama mengarahkan seseorang tidak mengisi argo gelap atau argo hitamnya. Tetapi bagi orang percaya, argo putih kita itu tidaklah ditentukan oleh hukum-hukum yang kita lakukan. Karena kekristenan hukumnya itu kasih. Dan Allah itu kasih adanya. Segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, itu membuat argo putih kita bergerak. Bergerak secara baik, secara pantas. Karena memang Tuhan menghendaki argo ini, argo yang benar. Yang harus diisi dengan perbuatan baik. Bukan hanya sekadar melakukan hukum, tetapi melakukan apa pun yang Allah kehendaki, yang dipikirkan oleh Allah. 
    Dan di sini kita harus hidup di tengah-tengah masyarakat, hidup dalam berbagai masalah. Sebab problem dan masalah itulah yang menentukan bagaimana respons, reaksi, sikap kita dalam menghadapi masalah-masalah tersebut; jika kita bersikap atau merespons seperti atau sesuai dengan pikiran, perasaan Allah, maka argo putih kita naik. Jadi, kalau argo putih kita naik, argo hitam akan mulai turun. Karakter kristiani, sifat-sifat Allah, sifat-sifat Kristus, kita kenakan, maka karakter dosa kita akan makin turun dan tentu diharapkan makin lenyap. Sampai kita pada puncak dan mengatakan atau memiliki kesaksian, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” 
    Pasti sudah banyak tabungan dari argo hitam kita. Sudah banyak yang membentuk karakter kita; gampang tersinggung, gampang marah, nafsu-nafsu jahat. Karena dipupuk terus. Tetapi setelah kita mengerti kebenaran, kita sadar, kita berbalik kepada Tuhan; kita berbuat kebaikan, sampai kemudian kita bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Argo putih kita naik, karakter ilahi terbentuk, kodrat ilahi terbangun, maka karakter dosa akan turun, seiring dengan argo hitamnya turun. 
    8 min
  • Serius dengan Tuhan
    Bicara mengenai “serius” bisa relatif. Tingkat seriusnya A berbeda dengan seriusnya B. Tetapi bicara mengenai serius dengan Tuhan, artinya kita harus memperkarakan apakah serius kita ini sudah serius yang benar atau belum. Roh Kudus pasti berbicara. Jadi kalau orang tidak sadar sebenarnya dia belum serius, tetapi merasa aman-aman saja, ini bebal. Sampai suatu saat nanti, ia tidak bisa ditegur lagi. Roh Kudus tidak bisa berbicara, dan itu tingkat yang namanya menghujat Roh Kudus. Artinya tidak mampu lagi menerima penggarapan Roh Kudus, karena berulang-ulang menolak peringatan-Nya. Setiap kali seseorang tidak memperhatikan peringatan Roh Kudus, Roh Kudus didukakan. Tetapi Roh Kudus Pejuang hebat. Dia akan memberi peringatan berikut, kesempatan berikut. 
    Allah Mahasabar, hanya panjang, bukan tanpa batas, sebab ada saatnya tidak ada lagi kesempatan. Maka Alkitab berkata, ”Selagi hari siang, sebelum datang malam,” artinya ada titik di mana Tuhan akan tidak lagi memberi kesempatan. Alkitab mengatakan Dia panjang sabar, tetapi sekali-kali Ia tidak akan membebaskan orang yang berdosa. Menghujat Roh adalah dosa yang tidak diampuni. Artinya, tidak bisa lagi mengalami perubahan; tidak bisa diampuni karena tidak bisa menyelesaikan dosa. Dosa di sini maksudnya adalah kodrat dosa dalam dirinya, yang merupakan tanggung jawab individu. Jadi kalau Roh Kudus tegur atau ingatkan, maka kita harus merespons, memperhatikan. Memperhatikan dalam standar yang benar.
    “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi,” segenap itu bisa relatif. Segenapnya si A dengan segenapnya si B, itu bisa beda. Tetapi kita tidak boleh menakar “segenap” kita dengan ukuran kita sendiri atau ukuran orang. Kita harus bertanya kepada Bapa, apakah kita sudah mengasihi Dia dengan segenap, sehingga Bapa di surga benar-benar merasakan kasih kita? Ini ukuran segenap yang benar. Jika kita mempersoalkan, memperkarakan hal ini, pasti Roh Kudus akan menuntun kita. Dan ingat, kesempatan ini terbatas! Ada waktu di mana kesempatan ini akan berlalu. Jangan sombong. 
    Kita harus serius berurusan dengan Tuhan. Doa pagi, doa pribadi, mendengarkan CD khotbah, membuat telinga kita terbuka, mata kita melihat, bagaimana manuver Roh Kudus mengingatkan kita. Kalau tidak, kita tidak akan merasa ada Tuhan. Kita tidak akan merasa ada Allah yang hidup, dan kita tidak pernah tahu ada Roh Kudus yang sebenarnya dimeteraikan di dalam diri kita dan berbicara setiap saat. Sementara setan berbisik lagi, “Yang mendengar suara Roh Kudus itu hanya orang-orang tertentu. Pendeta atau orang-orang tertentu.” Kita dibodohi setan.
    Allah tidak menghendaki kita binasa, karena binasa itu mengerikan, terpisah dari Allah selama-lamanya. Maka Dia pasti berbicara. Lalu kita berkata, “Saya tidak pernah dengar suara Roh Kudus,” berarti kita nyaris tuli. “Saya tidak melihat ada peringatan Tuhan,” berarti kita nyaris buta. Dan kalau terus-menerus begini, kita tidak akan pernah mendengar suara Roh Kudus dan tidak pernah mengerti peringatan Tuhan, dan kita sampai pada tingkat menghujat Roh Kudus. Kita mendukakan terus-menerus, lalu memadamkan Roh, lalu menghujat. Maka, jangan main-main, jangan lawan Tuhan. Semua urusan hidup bisa kita selesaikan dengan uang, relasi pejabat, dan lain sebagainya, tetapi urusan dengan Tuhan, kita tidak bisa selesaikan, kecuali dengan kerendahan hati untuk bertobat. Kita tidak akan bisa menghindari hukuman Tuhan, kalau kita melawan Tuhan. 
    Tuhan memberi peringatan dalam banyak hal, namun kita tidak mendengarnya, karena kita tidak peka. Peringatan Tuhan lewat khotbah, lewat nurani, lewat peristiwa hidup. Kita tidak melihat dengan mata rohani, tidak mendengar dengan telinga rohani. Hati-hati! Kita baca kisah raja-raja Israel dan Yehuda yang tidak dengar-dengaran, maka mereka ditaklukkan, ditelanjangi, diarak di depan masyarakat. Ibrani 2:3, “Bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu,
    9 min
  • Jangan Anggap Remeh Peringatan Tuhan
    Di dalam Ibrani 2:1-4, ada peringatan Tuhan yang sangat penting untuk kita dengar di dunia kita hari ini, “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaksetiaan mendapat balasan yang setimpal, bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.” 
    Kalau kita merenungkan kisah mengenai Nuh, kita bisa membayangkan orang-orang yang menolak pemberitaan Nuh; tidak mau mendengar apa yang disampaikan Nuh kepada mereka. Mereka anggap Nuh itu berolok-olok. Mereka tidak bisa mengerti, karena mereka telah membiasakan diri dengan cara berpikir yang salah. Di dalam Perjanjian Baru, dikatakan Nuh adalah seorang pemberita kebenaran. Tetapi, orang-orang sezamannya tidak mau mendengarnya. Apa yang disampaikan Nuh itu bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang sezamannya. Bisa dibayangkan ketika ternyata hujan turun makin lebat. Seperti dicurahkan dari langit, air yang tak terkira besarnya atau banyaknya. Sementara dari bumi, juga keluar air. 
    Betapa mengerikan keadaan itu. Barangkali mereka mencoba untuk menyelamatkan diri dengan segala cara. Tetapi kalau hukuman Tuhan dijatuhkan, tidak seorangpun dapat menghindari, maka kita jangan anggap remeh peringatan Tuhan. Ketika kita mendengar peringatan Tuhan, lalu kita melihat hidup yang kita jalani masih berjalan lancar, Iblis berbisik di telinga jiwa kita dan berkata, “Semua akan aman-aman saja.” Sejatinya, kita ada dalam bahaya. Tetapi hampir semua manusia hari ini tidak memedulikan kenyataan yang terjadi bahwa bumi ini terpelihara untuk hukuman akhir, ketika murka Allah dicurahkan (2 Ptr. 3). Tidak lagi dengan air bah, tetapi dengan api. Unsur-unsur di udara akan terbakar dalam nyala api, dan bumi ini akan menjadi lautan api. 
    Jangan anggap remeh peringatan Tuhan yang kita pasti dengar, baik melalui pemberitaan Firman di mimbar, melalui nurani kita ketika Roh Kudus berbicara, atau melalui peristiwa-peristiwa hidup yang terjadi. “Jangan hanyut dibawa arus,” demikian firman Tuhan. Jangan anggap remeh arus dunia ini. Karena Iblis dengan kecerdasan dan kecerdikannya, mendesain begitu rupa keadaan yang membuat kita memiliki cara berpikir yang tidak akan bertemu dengan berita kebenaran dan peringatan Tuhan, atau membuat kita tidak mampu menangkap peringatan Tuhan. Tidak sanggup memahami, sehingga menolak. 
    Jangan berpikir karena sudah menjadi Kristen, ke gereja, berarti kita sudah dengar-dengaran kepada Tuhan. Ini juga bagian atau bentuk dari penipuan kuasa kegelapan. Kalau kita ke gereja, duduk mendengar khotbah, pulang, lalu kita merasa bahwa kita sudah berurusan dengan benar dengan Allah, itu penyesatan. Mestinya, kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, lalu kita aplikasikan secara konkret di dalam kehidupan, sehingga hidup kita berubah dari peringatan-peringatan itu. Tetapi ironis, bahwa yang didengar itu hanya disambut sesaat. Seperti benih yang ditabur di pinggir jalan, di tanah berbatu yang hanya tumbuh sesaat, atau di tanah yang tidak bisa menumbuhkan benih itu. 
    Mestinya kalau dari dulu serius “memperhatikan,” dan membiasakan diri merespons kebenaran, merespons peringatan Tuhan, maka hati seseorang menjadi tanah yang subur untuk tumbuhnya benih kebenaran. Tetapi ke gereja sering hanya menjadi syarat beragama. Dari perilaku kita yang tidak berubah secara proporsional, secara benar, dari pengetahuan kita tentang kebenaran yang tidak bertumbuh, dari cara kita berdoa yang begitu dingin,
    9 min
  • Kesepian yang Kudus
    Ketika kita fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya dengan sungguh-sungguh, maka ada saat-saat di mana kita mengalami kesepian. Dan itu sebenarnya indikator atau petunjuk di mana kita mulai dipisahkan dari dunia. Kita makin tidak memiliki banyak teman, bukan karena kita melakukan dosa atau kejahatan, bukan karena kita suka menyakiti orang, melainkan kita merasa tidak memiliki banyak teman lagi. Walaupun kita masih bersosial, punya banyak orang di sekitar kita, kita masih hidup di tengah-tengah masyarakat, tetapi kita makin jarang menemukan orang-orang yang sepikiran dan seperasaan dengan kita. Artinya, makin sulit menemukan orang yang memiliki prinsip-prinsip hidup seperti yang kita jalani. 
    Prinsip hidup kita adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Fokus kita hanyalah bagaimana setiap hari dalam segala hal, kita benar-benar melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Bapa. Kita benar-benar sibuk dengan pergumulan menemukan apa yang Allah kehendaki untuk kita kerjakan dan kita tunaikan sebelum menutup mata. Dunia berusaha menawarkan kesenangan-kesenangan dan hampir semua orang hidup hanya untuk mencari kesenangannya sendiri, menyelesaikan pekerjaan mereka yang ujung-ujungnya adalah uang, kehormatan, pujian, sanjungan. Tetapi, kita mau mencari apa yang Allah kehendaki untuk kita selesaikan, sebelum kita meninggal dunia. 
    Pada intinya, yang kita lakukan adalah bagaimana membawa sebanyak mungkin orang masuk ke dalam Rumah Bapa. Yaitu bagaimana kita menjadi berkat, mengubah orang lain untuk layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Perasaan kesepian akan membuat kita makin kuat menghayati bahwa dunia ini bukan rumah kita. Kita menatap langit dan berpikir jauh bahwa di sana rumah kita, Rumah Bapa, tempat yang disediakan Tuhan Yesus untuk orang percaya yang setia. Dan ini bukan fantasi, ini adalah kebenaran yang akan diwujudkan. Karenanya kita harus sempurna, harus percaya dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus di Injil Yohanes 14:1-3 bahwa, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” 
    Kita harus yakin dan mata hati kita diarahkan kepada hal itu. Ketika kita merasa kesepian, itu juga merupakan tanda bahwa tidak ada lagi kesenangan dunia yang kita rindukan. Kalau kita tidak merasa kesepian yang kudus seperti ini, maka ada yang salah. Banyak hal yang kita nikmati, tetapi kita tidak menikmati Tuhan dengan benar. Perasaan kesepian di mana kita merasa bahwa kita masih jauh dari Rumah Bapa, seperti seorang yang merantau, di situlah kita menghayati kemusafiran kita. Kesepian ini menjadi indikator atau petunjuk bahwa kita benar-benar adalah musafir, orang yang menumpang di bumi. 
    Kita tidak perlu bingung ketika merasa kesepian. Kesepian yang kudus ini akan mendorong kita untuk duduk diam di kaki Tuhan. Karena kesepian kita akan terobati oleh kehadiran Tuhan di dalam hidup kita dan kita benar-benar baru bisa merasakan kehadiran Tuhan. Tetapi, kalau seseorang merasa memiliki banyak kesenangan yang dinantikan, sehingga ia punya begitu banyak kesenangan yang memenuhi pikirannya, sulit dia bisa menikmati Tuhan. Hanya orang-orang yang telah mengosongkan dirinya dari segala keinginan, nafsu dan cita-cita pribadi, yang kemudian menjadi kesepian yang akan dipenuhi oleh Tuhan dengan kehadiran-Nya.
    Dengan demikian, percayalah, sukacita dan damai sejahtera Allah yang murni, baru bisa mengalir di dalam hidup kita. Kesepian yang kudus ini memberikan kita ruangan seluas-luasnya untuk kita menikmati damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Jadi, kalau kita merasa kesepian berarti kita sedang dibawa ke ujung perjalanan hidup k...
    9 min
  • Yang Terbaik
    Tuhan tidak pernah memberi yang tidak terbaik. Tuhan selalu memberi yang terbaik. Sejatinya, yang terbaik adalah perubahan karakter, supaya bisa masuk Langit Baru Bumi Baru. Itu yang terbaik. Yang lain, “bisa dilewati.” Jadi tidak perlu memaksa harus banyak uang, harus punya ini itu. Tuhan memberi yang terbaik untuk kita, yaitu karakter dan watak kita diubah supaya bisa masuk Langit Baru Bumi Baru. Sederhana, tetapi orang di luar kebenaran (biarpun orang Kristen), mereka tidak sederhana. Kita akan melihat nanti di kekekalan, di pengadilan Tuhan, apa yang kita lakukan selama di dunia semua tercatat, semua tersurat. 
    Ibrani 11:6 Firman Tuhan mengatakan, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Bagaimana kita bisa mencari Allah kalau kita gagal menghayati kehadiran-Nya? Seakan-akan Allah tidak ada. Lalu kita sembarangan bicara, sembarangan melakukan segala sesuatu. Kita harus menghayati Allah itu ada. Firman Tuhan mengatakan, “Allah memelihara kesetiaan-Nya. Ia tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Allah yang menciptakan, Allah yang hadir, Allah yang mengatur, menegakkan tatanan.” 
    Banyak hukum alam yang Allah ciptakan, yang membuat alam semesta bisa harmoni. Walaupun manusia sudah berbuat dosa dan bumi terkutuk, tetapi Tuhan tetap menjaga, memelihara kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya, dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Kita harus meteraikan di dalam hati bahwa Allah itu hidup; melatih diri untuk menghayati Allah. Allah itu hidup, Dia hadir. Kita harus memiliki waktu untuk berdoa. Itu meditasi yang luar biasa kuat sekali, membuat kita bisa menghayati Tuhan. 
    Gereja yang sehat dan benar adalah gereja yang berdoa. Satu ini kalau Saudara berhasil lakukan, hidup kita akan berubah. Tentang Tuhan, tetapi hal menghayati keberadaan Allah di setiap saat bukanlah satu hal yang mudah. Maka kita harus melatih diri, menghayati Allah itu ada. Waktu mengobrol di meja makan, Allah ada di situ. Maka, jaga mulut kita. Sering kali kita melakukan sesuatu yang tidak senonoh. Lalu kita tidak peduli ada Tuhan yang hadir. Marah, tidak jujur, membicarakan orang dan lain sebagainya. Tanpa mempertimbangkan Allah ada di situ. Satu kali, bumi akan jadi lautan api. Tetapi apa yang pernah kita buat di bumi akan diingat Tuhan. 
    Kita tidak ada di daerah netral, kita ada di daerah yang bertuan. Siapa Tuannya? Tuhan. Jadi kita terus menghayati Allah itu hidup, ada, beserta. Kita harus menghormati Dia dengan setulus hati. Tentu mengormati Allah tidak cukup karena takut dihukum. Tidak boleh juga karena kita takut dikutuk atau tidak diberkati. Kita takut kepada Dia, kita menghormati Dia karena kita mengasihi, mencintai Dia. Maka kita perlu mendengar Firman agar kita mengerti dan percaya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Dia. Allah itu sudah ada dari kekal. Bumi kita ini seperti debu jika dibanding jagat raya yang tidak terbatas. Ada planet yang besarnya hampir 200.000 kali bumi. 
    Kita ini debu di dalam debu. Tetapi Allah semesta alam yang sudah ada dari kekal memperhatikan kita. Ia rela memberikan Putra Tunggal-Nya menebus dosa kita. Kita berutang kehidupan, berutang kebaikan yang tidak pernah bisa dibalas dengan apa pun. Karenanya, kita mencintai Dia. Dia yang lebih dahulu mencintai kita. Jadi kalau kita menghormati Tuhan, kita takut akan Tuhan karena kita mengasihi Dia. Kita harus menghayati, jika bukan Tuhan yang memelihara kita, yang menolong, yang membela kita, kita tidak seperti saat ini. Kita ada sebagaimana kita ada, karena kebaikan Tuhan. 
    Karenanya patut kita mencintai Tuhan, mengasihi Tuhan lebih dari apa pun dan siapa pun. Kalau kita mengasihi Tuhan, maka kita membangun hormat dan takut akan Allah. Hanya orang-orang yang mencintai Tuhan yang layak dilindungi Tuhan. Hanya orang-orang yang mengasihi Tuhan dan memba...
    10 min
  • Istimewa di Mata Allah
    Di dalam Yohanes 4:24 Alkitab berkata, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Roh itu tidak terlihat dan tidak bisa dijamah. Jadi, jangan berharap kita dapat melihat Tuhan dengan mata jasmani atau dapat menyentuh Tuhan dengan fisik. Tuhan bisa hadir lalu menyentuh kita yang membuat kita gemetar atau kita mendapatkan penglihatan. Allah itu Roh, maka jangan berusaha untuk melihat dan menyentuh Dia. Kalau selama ini kita tidak pernah melihat Tuhan, tidak pernah menyentuh Tuhan atau mungkin tidak pernah merasakan sesuatu secara fisik, jangan merasa kecil hati seakan-akan kita tidak istimewa di mata Allah. Tuhan mengajar kita untuk memercayai Dia walaupun Dia tidak kelihatan. Firman Tuhan mengatakan, “Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat.” 
    Jangan mendengar bisikan Iblis yang membuat kita ragu, “Kamu belum pernah melihat Tuhan, kan? Kamu belum pernah menyentuh Dia, kan? Kamu pun belum pernah disentuh.” Itu bukan suara Tuhan. Itu suara Iblis yang memfitnah Tuhan. Lanjut dia berkata, “Kamu tidak istimewa di mata Allah. Hanya orang yang punya karunia-karunia khusus yang bisa mengalami Tuhan dan diperhatikan Tuhan. Kamu tidak istimewa. Kamu tidak pernah punya pengalaman yang istimewa, yang spektakuler dengan Tuhan.” Jika kita izinkan suara-suara itu terus bergema di pikiran kita, akibatnya kita menjadi tidak percaya dengan benar kepada Tuhan. Lalu, kita tidak memiliki gairah yang kuat untuk berurusan dengan Allah, karena kita merasa sebagai orang yang tidak diistimewakan oleh Allah, merasa tidak berkarunia khusus untuk mengalami Tuhan. 
    Apalagi kalau kita menghadapi persoalan yang berlarut-larut tidak ada jalan keluar—keadaan ekonomi yang sulit, sakit tidak kunjung sembuh—hal ini bisa menciptakan mental block. Ibarat prajurit yang belum maju berperang, sudah kalah. Setiap kita itu istimewa di mata Allah. Walaupun kita tidak bisa melihat dengan mata jasmani, kita tidak pernah menyentuh Dia, Dia Allah yang hidup. Apa yang dikisahkan di Alkitab itu bukan dongeng, bukan fiksi, bukan cerita yang dikarang. Itu fakta. Coba kita renungkan, jagat raya ini dalam keadaan kacau-balau, kosong. Lalu Allah memisahkan air yang di atas dengan air yang di bawah. Allah menciptakan langit dan bumi. Allah menciptakan terang, cakrawala, daratan dan lautan. Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan, hewan dan menciptakan manusia. Semua ini ada tidak dengan sendirinya.
    Metabolisme tubuh tubuh kita ini, susunan tubuh dengan syaraf-syarafnya, dan kecerdasan fisik kita tidak mungkin ada dengan sendirinya. Sampai hari ini manusia masih menyelidiki, tubuh manusia menyimpan banyak misteri dan rahasia. Ini belum bicara mengenai jagat raya yang tidak terbatas. Ada triliunan planet yang berputar pada orbitnya, tidak tabrakan satu dengan yang lain, karena memiliki orbit sendiri, memiliki kekuatan magnet sendiri. Itu tidak mungkin kebetulan; siklus alam di bumi ini pun sebenarnya juga luar biasa. Semua ini keajaiban, yang bagi banyak orang dianggap biasa. Tetapi para ahli tahu ini luar biasa. 
    Kalau kita membaca kitab Keluaran, ada Allah yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir ke Kanaan, yang membelah laut Kolsom, yang memberi manna secara ajaib. Itu semua menunjukkan Allah itu hidup. Kita menyembah Allah itu. Dialah Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus. Yang mengutus Putera Tunggal-Nya turun ke bumi menjadi manusia seperti kita, mati di kayu salib menebus dosa-dosa kita, mengajarkan kebenaran, memberi teladan. Supaya kita hidup seperti Dia hidup, karena Dialah standar model dari manusia yang Allah kehendaki. 
    Hari ini, kita harus mulai memercayai Allah yang hidup. Jangan hanya memercayai Allah pada waktu kita ada di gereja. Kepercayaan kita bahwa Allah itu hidup harus setiap saat, supaya jiwa kita dicengkeram oleh penghayatan ada Allah yang hidup. Kalau tidak demikian, kita tidak lebih baik dari orang-orang yang tidak beragama.
    8 min
  • Kemerdekaan
    Kalau hati kita pecah mencintai Tuhan, sukses hidup kita. Namun, untuk menjadi kekasih Tuhan, ada satu syarat, yaitu: jangan punya kesenangan apa pun. Apa pun yang kita lakukan harus selalu dikaitkan dengan perasaan-Nya. Bisa dikatakan kita membunuh diri kita sendiri; bunuh diri yang bermartabat, mematikan segala kesenangan. Kata “bunuh diri” memang tidak enak didengar, tetapi Alkitab mengatakan, “Salibkan dagingmu. Matikan dirimu.” Di akhir zaman ini, Tuhan mencari orang-orang seperti ini, yang kesenangannya hanya Tuhan. 
    Umumnya, orang bunuh diri supaya tidak lagi susah atau stress, supaya bisa keluar dari masalah; itu egois. Dia tidak menghormati Tuhan, orang tua yang membesarkan atau orang-orang yang mengasihi dia, menjaga dia, dan masih menunggu dia. Yesus memberi teladan melalui prinsip hidup-Nya: “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Dia mengurung diri dengan prinsip hidup itu. Yesus mengatakan, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 
    Kalau kita sekarang berkeadaan apa pun, jangan merasa kurang, selama kita punya Tuhan. Bapa YAHWEH terlalu besar, terlalu kuat. Walaupun Saudara adalah seorang Ibu sederhana, seorang Bapak tua sederhana atau orang muda yang tidak berpengalaman, tetapi hati kita pecah, maka pujian kita bak desau angin kuat yang menembus pintu surga. Menjadi kekasih Tuhan itu segalanya, sukses. Tingkat yang tinggi selanjutnya kita bisa menghadirkan suasana surga, itu tingkat kemerdekaan. Kita tidak bisa berbuat dosa lagi, tidak menyenangi apa pun. Sebaliknya, kita bisa menjadi berkat, penuh belas kasihan kepada orang, rela berkorban, tidak ingin seorang pun binasa, kita bisa menikmati Kerajaan Surga, di mana pun kita hadir menjadi pembawa damai. 
    Orang pikir, kita mati konyol fatalistik. Tidak, justru kita menemukan cahaya di atas segala cahaya, pengharapan di atas segala pengharapan. Ini yang terindah dalam hidup, yang terbaik. Tidak ada yang lebih indah dari itu. Nurani kita akan berbicara dan kalau kita bergaul dengan Tuhan, kita akan melihat apakah seseorang itu menghadirkan Tuhan atau tidak. Maka, kita harus bersedia berjam-jam untuk berdoa. Apakah tidak bosan atau jenuh? Bisa saja, tetapi kita mau membunuh diri, mengikat daging dan jiwa kita. Kita katakan, “Tidak ada apa-apa di luar. Hanya di sini, ada kebahagiaan di dalam Tuhan.”
    Percayalah, kita akan menemukan kebahagiaan. Itulah bunuh diri yang bermartabat, yang membawa kekekalan. Ketika kita banyak duduk diam berjam-jam di kaki Tuhan, pasti ada banyak hal yang bisa kita alami. Berurusan dengan Tuhan yang kudus tidak perlu diumbar, karena ada orang-orang yang tidak menghargai dan kita harus menjaga martabat harga diri Bapa. Kalau suasana surga hadir dalam hidup kita, di situ benar-benar kita mengalami kemerdekaan. Kematian daging kita dari kefanaan ke kekekalan bukan lompatan jauh. Itulah sebabnya banyak orang takut mati, takut melompat ke kedalaman atau kegelapan yang tidak jelas. Karena selama hidup mereka tidak jaga mulut, pikiran, mata, telinga, dan perbuatan. Kalau kita berjalan dengan Tuhan, mengalami Tuhan, menghayati Kerajaan Surga, maka kematian bukan lompatan yang jauh dan mengerikan karena suasana surga sudah kita alami sejak di bumi. 
    Perjumpaan dengan Tuhan itu luar biasa. Allah itu hidup. Perjumpaan dengan Tuhan, di mana ada pengalaman-pengalaman adi kodrati, menjadi rahasia iman. Ada hal-hal yang pada saatnya harus dikemukakan, tetapi ada saatnya tidak perlu diungkapkan. Itu sebabnya mengapa sampai 14 tahun Paulus menyembunyikan rahasia perjumpaannya dengan Tuhan. Mungkin sebagian kita merasa kurang diperhatikan Tuhan, merasa bukan yang berharga, yang dinantikan Tuhan. Padahal Tuhan begitu mencintai dan menantikan kita, hanya kerusakan gambar diri yang sudah terlalu lama membuat kita sering mencari nilai diri di mata manusia.
    Setan itu kurang ajar,
    10 min
  • Harga Kemuliaan
    Mari kita camkan hal ini! Sebenarnya, banyak orang Kristen yang belum mengerti atau tidak mau mengerti harga kemuliaan, nilai kemuliaan yang Allah miliki. Kemuliaan Allah itu sungguh tak terhingga! Tetapi, banyak orang yang tidak menghargai Allah secara patut. Mungkin juga sebagian kita belum menghargai Allah secara patut. Padahal, Allah itu nilai di atas segala nilai. Bagaimana kita bisa tahu apa indikator, apa petunjuk, seseorang atau kita belum menghargai Tuhan secara patut? Sederhana. Dan ini mutlak benar. Ketika kita tidak berani melepaskan apa pun yang kita miliki—kesenangan, ambisi, nilai diri, harga diri, perasaan—berarti kita belum menghargai Tuhan secara patut. Oleh sebab itu, kita harus bisa hidup setiap saat di hadirat Allah. Jadi, bukan hanya pada waktu kita ada di dalam ruangan doa atau pada waktu kita melakukan kebaktian di ruang ibadah di mana kita begitu menghargai hadirat Tuhan, melainkan seharusnya juga setelah kita keluar dari ruangan ibadah, kita tetap ada di dalam hadirat Tuhan. 
    Jadi, sementara kita melakukan berbagai kesibukan, kita dapat selalu menyatu dengan Tuhan. Dan ini tidak mudah! Kita sering tidak jaga mulut, tidak jaga sikap karena sudah terlalu lama kita liar, yaitu memiliki diri kita sendiri. Apa yang kita pandang menyenangkan, itulah yang terus kita upayakan untuk dicapai. Apa yang kita pandang akan membuat kita terhormat, itulah yang kita usahakan dan perjuangkan. Apa yang membuat diri kita terasa bernilai di mata manusia, itu yang kita perjuangkan. Ini sudah terlalu liar! Dan hidup kita terlalu wajar! Jadi sebenarnya kalau kita bersumpah, berjanji untuk hidup suci, meninggalkan kesenangan dunia, itu sangat standar! Bukan sesuatu yang berlebihan, yang menyakitkan, yang ekstrem, yang fanatik. 
    Apalagi kalau pendeta atau hamba Tuhan yang berkhotbah, dia harus selalu ada di dalam lingkup hadirat Allah, ke mana pun dia berada. Sehingga pada waktu di mimbar, pada waktu memimpin doa, tidak ada keraguan. Tidak ada spekulasi; “Aku mau ngomong apa ya? Ini orang saya doakan sembuh atau tidak ya? Aku perlu doakan orang ini atau tidak?” Itu tidak spekulasi. Dulu kita sering spekulasi. Maka, kita harus melekat dengan Tuhan setiap saat. Melekat! Mungkin tindakan meleset kita bukan meleset dalam hal mencuri, berzina, membunuh orang, tidak. Meleset kita itu karena satu kata yang kita ucapkan, satu tindakan yang kecil, tetapi itu penuh intrik-intrik. Ketidaktulusan. Namun, karena terlalu lama kita liar sampai kita tidak bisa mengenali itu semua, diplomasi, penipuan, ketidaktulusan.
    Kalau kita nanti berhadapan dengan Tuhan semesta alam, kita baru tahu betapa tidak berartinya diri kita. Coba kita lihat alam semesta ini. Lihat jaraknya, besarnya, luasnya, banyaknya planet dan galaksi. Luar biasa! Tidak terbatas. Ada planet yang besarnya hampir 200.000 kali bumi. Coba kita bayangkan! Bumi itu debu! Lalu siapa kita ini dibanding Tuhan semesta alam Yang Mahabesar? Apa alasan kita untuk bisa sombong? Banyak orang terhormat yang lupa ada yang lebih terhormat dari dirinya. Kita pun bisa begitu. Lupa ada yang lebih terhormat dari kita. Kalau kita lebih dari orang lain di sekitar kita, itu potensi kita dapat menjadi lupa diri. Lalu, bagaimana cara kita memperoleh Dia? Mendapatkan Dia? Bersekutu dengan Dia? Hidup di hadirat Allah! 
    Bagaimana kita bisa tetap hidup di hadirat Allah? Itu bukan masalah Tuhan. Masalahnya ada di diri kita karena kita yang keluar dari hadirat-Nya. Kita yang sembarangan, .karen/a sudah terlalu lama kita itu liar. Ketika kita menonton yang tidak-tidak di gadget kita sebenarnya kita tidak menghormati Tuhan, karena Tuhan ada di situ. Jadi sejatinya, kita harus selalu membawa hadirat Tuhan. Maka jangan ada kebencian, dendam, ketidaksukaan, niat menyingkirkan orang. Harus penuh belas kasihan kepada orang. Kalau kita hidup di hadirat Tuhan, kita tidak akan dibuat tidak berguna, tidak mungkin. Tidak mungkin dipermalukan! 
    Kalau kita pernah berada di lembah kekelaman,
    8 min
  • Keberhasilan Hidup
    Keberhasilan makhluk ciptaan (dalam konteks ini, manusia) hanya satu, yaitu kalau ia berhasil menghidupkan Allah di dalam hidupnya. Apakah Allah tidak hidup, sehingga harus ada kalimat: menghidupkan Allah dalam hidup manusia? Allah adalah Allah yang hidup. Allah benar-benar nyata, ada, hidup. Tetapi kenyataannya, banyak orang yang tidak mengalami Tuhan. Tidak berinteraksi, berhubungan, dengan Allah secara benar. Sehingga karakter, watak, sifat-sifat Allah yang adalah Bapanya, tidak tertular, tidak terimpartasi di dalam hidupnya. Padahal, Bapa di surga sejak semula merancang manusia segambar dan serupa dengan Diri-Nya. 
    Kalau orang tidak menghidupkan Allah dalam hidup, pasti dia menghidupkan yang lain. Siapa? Tak lain dan tak bukan adalah kuasa kegelapan, Iblis atau setan. Ia berinteraksi dengan setan, yaitu dalam bentuk hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, perilaku yang tidak sesuai dengan standar kesucian Tuhan. Kalau itu terjadi selama bertahun-tahun, maka akan membuat seseorang bersifat Iblis, berwatak setan. Itulah kenyataan yang kita lihat dalam hidup banyak orang. Kita dulu juga begitu. Setengah begitu paling tidak. Kita menghidupkan pikiran, perasaan setan di dalam diri kita. 
    Karenanya, ada pikiran-pikiran jahat, dendam, kebencian, pikiran cabul, pikiran pemberontakan terhadap orang tua, ketidakrelaan orang lain terhormat dan berhasil dan lain sebagainya. Itu yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” (Ef. 2:1-2)
    Kalimat “roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka” menunjuk orang-orang yang menghidupkan setan atau Iblis di dalam diri mereka. Dan dunia kita hari ini, lebih banyak orang yang berkeadaan demikian. Mereka menghidupkan setan di dalam dirinya. Dari hal kecil, sederhana, halus, sampai orang-orang tertentu memperagakan kehidupan yang benar-benar jahat. Jangan kita berpikir bahwa hanya orang-orang di luar gereja, yang dikuasai kuasa kegelapan atau menghidupi Iblis di dalam hidupnya. Orang-orang Kristen pun juga bisa menghidupkan Iblis di dalam hidupnya. Bahkan aktivis dan pendeta. Coba kita periksa diri kita, apakah kita sepikiran dengan Tuhan atau tidak? Kalau kita tidak sepikiran, tidak seperasaan dengan Tuhan, berarti kita telah menghidupkan setan di dalam hidup kita. 
    Jadi, apa yang menguasai pikiran seseorang dan kemudian diwujudkan dalam perilaku dan perbuatan, itu yang dihidupinya! Tetapi, kita memilih mau menghidupkan Tuhan di dalam hidup kita. Karenanya, kita harus mendengar Firman Tuhan yang murni. Pikiran kita harus diisi oleh Firman setiap hari. Jangan lagi ada tontonan tertentu yang mengacaukan pikiran kita, yang mempermainkan emosi dan perasaan kita; seperti menonton film yang tidak membawa kepada damai sejahtera. Memang tidak semua film itu buruk, tetapi ada film-film yang hanya mempermainkan emosi dan perasaan, dan itu membuang waktu kita dengan sia-sia. 
    Bukankah lebih bijaksana dan menguntungkan kalau kita mengisi pikiran kita dengan kebenaran-kebenaran, yaitu dengan Firman? Kita masukkan di dalam pikiran kita. Pikiran yang dipenuhi oleh Firman yang murni itu sama artinya dengan dipenuhi oleh Roh Kudus. Kalau dipahami dalam pikiran, Roh Kudus yang mencengkeram, lalu terekspresi dalam tindakan dan perbuatan. Nah, di sinilah seseorang menghidupkan Tuhan di dalam hidupnya. 
    Menghidupkan Tuhan di dalam hidup kita akan makin besar, makin kuat, kalau kita selalu ada di hadapan Tuhan. Seperti Musa turun dari gunung Sinai, gunung Horeb, wajahnya bercahaya. Dia tertular, terimpartasi oleh terang Tuhan. Demikian pula kita, kalau kita selalu duduk diam di kaki Tuhan, kita akan terimpartasi spirit, gairah-Nya. Karenanya, kita harus menyediakan waktu bertemu dengan Tuhan yang ...
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…