Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengubah Wajah Hidup
    Kedatangan Tuhan Yesus adalah untuk membela hidup kekal kita. Artinya, fokus dari keselamatan adalah hidup kekal; yaitu bagaimana kita terhindar dari api kekal, dan kita harus sungguh-sungguh memperhatikan hal ini. Suasana sukacita, suasana euforia di dalam ibadah kiranya tidak mengaburkan dan tidak membutakan mata kita terhadap maksud kedatangan Tuhan Yesus. Ia membela hidup kekal kita. Itulah sebabnya, menjadi satu persoalan penting yang harus benar-benar kita persoalkan bahwa perjalanan hidup ini ada akhirnya. Dan satu hal yang kita minta kepada Bapa adalah berkenan di hadapan-Nya, supaya kalau suatu saat kita meninggal dunia, maka kita benar-benar diterima di dalam Kerajaan Surga. 
    Untuk itu, kita masing-masing harus serius mempersiapkan diri untuk layak masuk ke dalam Rumah Bapa, layak masuk ke dalam Kerajaan kekal Tuhan agar tidak sia-sia apa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Kedatangan-Nya di bumi dan penderitaan-Nya, sampai pada kematian di kayu salib, menjadi tidak sia-sia. Dan suatu saat nanti, dengan bala tentara yang lebih besar, Tuhan Yesus akan datang kembali sebagai Raja. Dan firman Tuhan mengatakan, “Dan mereka yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah kemari, bunuh di depan mataku.” Orang yang tidak mengakui Yesus sebagai Raja, pasti ditolak. 
    Kalau saat ini kita mengaku Yesus sebagai Juruselamat, dan merayakan hari kelahiran-Nya secara besar-besaran, tetapi jangan hanya memberi Dia tempat di hati sebagai “Bayi kecil.” Biarlah Yesus menjadi Tuan, Majikan, Kristus, Seorang yang menguasai hidup kita sebagai Raja. Sebab firman Tuhan mengatakan, “Dia harus bertambah-tambah, dan kita berkurang-kurang.” Sampai kita memiliki pengakuan seperti pengakuan Paulus di dalam Galatia 2:20, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Artinya, Tuhan makin berkuasa mengubah cara berpikir kita, gaya hidup kita, dan manusia batiniah kita. 
    Seperti juga yang dikatakan oleh Paulus di dalam 2 Korintus 4:16, “… meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, …” Makin tua, fisik kita pasti akan makin merosot, tetapi manusia batiniah kita diperbarui. Diperbarui ke mana? Tentu harus ke arah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang bukan hanya lahir, tetapi makin berkuasa dalam hidup kita. Dan pada akhirnya, semua kita mesti berwajah Kristus. Kalau sekarang kita jujur bercermin, wajah siapa yang terpampang di dalam batin kita? Firman Tuhan mengajarkan kepada kita agar kita menyelidiki hati kita dan kita membawanya kepada Tuhan dan berkata, “Selidikilah aku, Tuhan.”
    Setiap hari, mestinya kita datang kepada Tuhan dan berkata, “Selidikilah aku, Tuhan. Ya Bapa, beri aku mengerti keadaanku di mata-Mu. Masihkah ada dosa? Masihkah ada percintaan dunia?” Di situ kita bercermin. Dan Roh Kudus tidak mungkin tidak memberitahu kepada kita. Roh Kudus pasti memberitahukan hal-hal yang harus kita tanggalkan, kita tinggalkan, agar kita dapat mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui. Seperti yang dikatakan di dalam Firman Tuhan Efesus 4:23, “Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
    Kita harus mengalami transformasi supaya kita memiliki wajah Tuhan, serupa dengan Yesus, bukan serupa dengan dunia. Kalau hidup kita masih melakukan apa yang sama dengan anak-anak dunia, pasti hidup kita busuk. Kita harus percaya Tuhan itu ada dan hidup. Maka kita harus periksa diri benar-benar. Kita bisa berubah, makanya kita harus menetapkan hati kita untuk mencintai Tuhan: “Yes, I do!” Di dalam Injil Matius, Tuhan Yesus berkata, “Bukan orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! yang masuk Kerajaan Surga, tetapi yang melakukan kehendak Bapa.” Artinya, “Kamu mengaku percaya bahwa Aku adalah Juruselamat, itu baik. Tetapi, kalau kamu tidak melakukan kehendak Bapa, seperti yang Kulakukan; kalau kamu tidak ‘berwajah’ seperti wajah-Ku, engkau tidak dikenal Tuhan.”
    Jadi,
    8 min
  • Keberuntungan
    Tidak ada sesuatu yang dapat disamakan, disejajarkan atau dipadankan dengan Elohim atau Allah yang menciptakan langit dan bumi. Yang kita tahu dan kita percaya, sesuai Kitab Suci, bahwa Elohim atau Allah yang benar adalah Yahweh. Elohim Yahweh, Elohim Israel; yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub, yang menciptakan langit dan bumi, yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan menuntunnya ke tanah Kanaan dan membangun negeri Kanaan. Di sanalah Daud dilahirkan, Salomo dan nabi-nabi lain. Nabi-nabi ini datang dari Israel, bukan dari bangsa lain. 
    Allah yang disembah oleh mereka—Abraham, Ishak dan Yakub juga yang disembah oleh Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel, Elia, Elisa, Musa—adalah Elohim Yahweh. Tak ada yang dapat disamakan dengan Dia. Kebesaran-Nya melampaui yang dapat dipikirkan oleh siapa pun, Dia Maha Besar, Maha Kuasa. Lebih besar dari jagat raya yang tidak terbatas ini. Betapa mendahsyatkan Pribadi Agung ini. Elohim Yahweh; Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Betapa beruntungnya kita menjadi umat pilihan dan mengenal Allah yang benar ini. Tetapi, keberuntungan kita tidak menjadi keberuntungan, bahkan bisa menjadi malapetaka, kalau kita tidak menempatkan Allah secara benar di dalam hidup ini dan tidak menempatkan hidup kita benar di hadapan-Nya. 
    Oleh sebab itu, mari kita memilih Tuhan. Artinya, kita mau melepaskan, menanggalkan, meninggalkan apa pun, yang dapat menghalangi hubungan persekutuan kita dengan Dia. Hal ini harus kita lakukan tanpa batas. Sungguh, ini adalah keberuntungan di atas segala keberuntungan, yaitu kita mengenal Allah yang benar dan kita mau memiliki Dia dan Dia memiliki kita. Kita mau meninggalkan, menanggalkan, melepaskan segala sesuatu yang dapat menghalangi, merusak hubungan harmonisasi atau hubungan ideal kita dengan Tuhan. Tentu yang merusak hubungan kita dengan Tuhan adalah dosa. Maka, kita harus meninggalkan semua dosa; sekecil, sehalus apa pun. 
    Ini yang pertama, kesucian hidup. Dahulu, kita adalah orang-orang rusak, tetapi Tuhan mau mengampuni, melupakan dosa-dosa kita dan jangan dilakukan lagi. Sekecil apa pun dosa itu. Kebencian, dendam, pikiran kotor, perzinaan, ketidakjujuran, semua harus dibuang. Kita harus hidup di dalam kesucian Tuhan. Sebab dengan kekudusan dan kesucian itulah kita dapat bersekutu dengan Tuhan secara benar. Kepada orang-orang muda, kalian harus mau belajar hidup suci. Jangan berpacaran sebelum waktunya. Pikirkan hal-hal yang kudus. Jangan sekali-kali berpacaran dengan orang yang tidak seiman, karena itu pengkhianatan terhadap Tuhan dan kalian akan celaka!
    Yang kedua, jangan memiliki kesenangan selain Tuhan. Ini memang berat. Karena irama jiwa kita pada umumnya sudah terikat dengan hiburan, tontonan, uang, harta, kebanggaan, kehormatan, senang dipuji, dan lain sebagainya. Tidak salah punya uang, harta, jadi pemimpin, terhormat, dipuji orang; tidak salah. Tetapi jangan menjadikan semua itu kebahagiaan kita. Terutama hobi-hobi yang mencuri perhatian kita, yang membuat uang kita terbuang sia-sia. 
    Jangan menganggap Tuhan itu murahan! Kalau kita memilih Tuhan, maka kita harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Orang kaya, sukar masuk surga.” Karena hatinya terikat dengan kekayaan dan segala kesenangan. Dengan banyak uang, orang punya sayap lebar. Dia bisa terbang ke mana saja, bisa beli apa saja, bisa lakukan apa saja. Dan itu yang membuat seseorang sukar masuk surga. Sukar bukan berarti tidak bisa. Orang yang miskin secara materi pun akan sukar masuk surga kalau hatinya juga terikat dengan kekayaan dunia dan harapan-harapan; harapan untuk memperoleh kebahagiaan, kenyamanan, keamanan, dan ketenangan dari dunia ini dengan segala fasilitasnya.
    Yang ketiga, percaya. Bulatkan hati, percaya bahwa Allah itu hidup, Allah itu ada, Allah itu eksis. Kita harus menghayati terus kehadiran Tuhan setiap saat. Kita hayati terus keberadaan Allah yang hidup.
    9 min
  • Menghidupkan Waktu
    Ingat peristiwa Lot, bagaimana Lot berlama-lama. Dia tidak segera menuruti apa yang utusan Yahweh perintahkan, untuk segera keluar dari Sodom dan Gomora, sehingga malaikat harus memaksanya keluar dari Sodom. Dan itu masih dalam radius di mana istrinya bisa menoleh dan akhirnya binasa. Belajar dari peristiwa Lot, kita dapati bahwa kalau kita tidak berkemas-kemas dengan benar, kita akan gagal fokus, sehingga kita gagal menyelamatkan diri dan gagal menyelamatkan orang lain. Kalau kita selalu memetakan hidup kita—hari ini mau ke mana, melakukan apa, dengan siapa—berarti kita sedang belajar untuk tenggelam di hadirat Tuhan. 
    Kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi jurubicara Tuhan, untuk tenggelam di hadirat Tuhan, tidak boleh melakukan hal yang tidak perlu kita lakukan. Supaya di mana pun kita berada, kita bisa menghadirkan hadirat Tuhan. Maka, kita harus memetakan waktu saya dengan baik, memetakan hidup saya dengan baik. Terlebih bagi para hamba Tuhan yang melayani mimbar. Jangan lakukan hal-hal yang tidak membuat kita ada di hadirat Allah, jangan menunda, jangan berlama-lama hidup dalam sikap yang tidak berjaga-jaga dan tidak berkemas-kemas. 
    Kita harus berani pamit dari teman-teman dan sahabat-sahabat yang tidak takut Tuhan. Mungkin tidak kita ucapkan, tapi hati kita yang pamitan. Pamit terhadap tontonan-tontonan yang tidak perlu kita tonton. Pamit terhadap semua hal yang menyita waktu kita. Jangan sampai kita melakukan tindakan hanya karena kita mau mengisi waktu. Sebab sejatinya yang kita lakukan itu sebenarnya membunuh kita sendiri. Kita tidak boleh ‘membunuh waktu’ dengan pekerjaan yang sia-sia, tapi kita harus ‘menghidupkan waktu’ dengan mencari hadirat Tuhan. Memiliki perasaan krisis terhadap diri sendiri, bagaimana mengalami perubahan. Kita harus memetakan hari hidup kita untuk hal yang benar-benar membangun iman.
    Dan jika kita melakukan hal itu, maka kita benar-benar akan memiliki perasaan cemas, perasaan krisis terhadap gelombang besar orang yang menuju kegelapan. Jika tidak, kita menyia-nyiakan kehidupan kita. Kita harus berani berbeda, nekat senekat-nekatnya, tanpa batas. Dan ini adalah persiapan untuk kita pulang ke surga. Kalau kita hidup di hadirat Allah, kita tidak takut menghadapi apa pun, termasuk kematian. Kita harus segera memiliki langkah-langkah konkret, merespons dengan benar nasihat Tuhan ini. Jangan hanya “setuju, iya,” tapi kita tidak melakukan apa-apa. Kita harus menemukan sukacita di hadirat Allah. 
    Setelah kita menyelesaikan suatu kegiatan, kalau kita melihat ada waktu kosong untuk bertemu Tuhan, betapa menyenangkan waktu itu. Dan betapa menyenangkannya hari-hari dimana kita bisa berdoa dan berpuasa. Mari kita hidup di hadirat Tuhan. Kita akan sangat menyesal ketika menutup mata, ternyata ada di luar hadirat Tuhan. Dan tidak mungkin dadakan kita lalu bisa pindah masuk ke hadirat Allah, tidak bisa. Kalau kita ada di luar hadirat Allah ketika masih hidup di bumi—padahal kita punya kesempatan untuk ada di hadirat Allah, namun kita tidak melakukan—kita mati, kita tidak mungkin ada di hadirat Tuhan. Ini kesempatan yang sangat berharga. Orang bisa beli tiket mahal untuk sebuah menonton sebuah pertunjukan, bisa berharga puluhan juta, bahkan sampai ke luar negeri untuk menyaksikan pertunjukan itu. 
    Berada di hadirat Tuhan, harganya darah Yesus. Lalu mengapa kita tidak melakukannya? Kalau kita hidup di hadirat Allah, kita adalah manusia yang mulia; lebih dari orang kaya, orang terkenal, orang hebat manapun. Usahakan diri kita untuk selalu hidup di dalam kekudusan dan ada di hadirat Allah, sampai kita bisa menikmati kebahagiaan hidup di hadirat Allah itu. Dan ini bukan fantasi. Memang banyak Kristen fantasi, Tuhan difantasikan. Tetapi, kita mengalami. Memang untuk menembus batas sampai kita mengalami bahwa Tuhan itu hidup dan nyata, perlu waktu, perjuangan, kesabaran, kesetiaan, ketekunan tanpa batas. Tapi Dia Allah yang hidup. Dia ada. Dan kalau kita yakin Dia ada,
    9 min
  • Tanpa Batas
    Kita pasti setuju bahwa hidup ini adalah pilihan. Artinya, bagaimana keadaan kita sekarang, nanti, bahkan selamanya, tergantung dari pilihan kita. Kita bukanlah makhluk yang hidup di bawah takdir; di mana segala sesuatu ditentukan oleh Tuhan. Allah memiliki tatanan dan menentukan kita menjadi makhluk sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Ada takdir mati, di mana memang kita tidak bisa mengubah diri menjadi manusia berjenis kelamin laki-laki atau wanita; lahir sebagai orang Asia; memiliki orang tua Bapak A dan Ibu B. Tetapi, ada takdir hidup, artinya masing-masing orang dapat menentukan keadaan atau nasibnya di kemudian hari, bahkan di kekekalan.
    Kita bersyukur mengenal Pencipta langit dan bumi, Allah yang benar sesuai yang ditulis di dalam Alkitab; yang kita panggil Bapa, yaitu Elohim Yahweh. Alkitab benar-benar Kitab Suci yang memuat wahyu Allah, yang di dalamnya kita dapat menemukan rahasia keberadaan Allah. Dikatakan rahasia karena kebenaran-kebenaran itu dapat dipahami kalau Roh Kudus memimpin kita. Dan kita memilih, apakah sungguh-sungguh mau mengenal Allah yang benar atau tidak. Allah tidak terbatas, Allah Maha Besar, Allah Maha Mulia, Allah Maha Agung. Itulah sebabnya tenaga, pikiran, waktu yang kita sediakan, kita pertaruhkan untuk mengenal Allah juga tidak boleh terbatas. Untuk yang lain, kita terbatas. Tetapi, untuk Tuhan, tidak boleh terbatas. Sebab tujuan hidup yang benar hanyalah Tuhan. 
    Apa pun yang kita lakukan hanya sebagai dukungan untuk menemukan Allah di dalam hidup kita. Artinya, kita menyediakan diri, menyediakan hidup tanpa batas untuk menemukan Allah. Menemukan Allah artinya mengenal Dia dengan benar. Mencintai Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan tanpa batas artinya kesediaan untuk mempersembahkan hidup dan diri kita bagi kesukaan Tuhan tanpa batas. Maka, kita harus mengenal Allah dengan benar. Apa yang Allah sukai dalam hidup kita untuk dilakukan, apa rencana-rencana Allah dalam hidup kita untuk dipenuhi, harus kita sungguh-sungguh sediakan diri. Pilihan kita adalah surga atau dunia; Tuhan atau musuh-Nya; kesucian atau dosa. 
    Kalau kita memilih Tuhan, maka kita tidak boleh memberi bagian sekecil apa pun untuk yang lain. Kalau memilih Kerajaan Surga, maka hati kita harus dipindahkan ke surga. Sesuai dengan Matius 6:21, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Ini hal yang mustahil dilakukan tanpa pertolongan Roh Kudus. Tetapi, Roh Kudus tidak bisa menolong orang yang tidak memiliki pilihan. Kita harus memiliki pilihan, tekad, dan komitmen sekuat-kuatnya. Hanya Roh Kudus yang bisa menolong kita. Tetapi, kita tidak bisa ditolong Roh Kudus kalau kita tidak menolong diri sendiri. Contohnya, bangun pagi saja kalau tidak niat, kita tidak mau bangun. Kalau kita niati, minati; itu menjadi irama hidup kita. Maka, bangun pagi bukan kewajiban, melainkan kebutuhan. Kita memilih menjumpai Tuhan, menikmati hadirat-Nya. 
    Di dalam perjalanan hidup kita dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari waktu ke waktu, kita bisa memilih hidup dalam kesucian, kekudusan. Kita bisa memilih perkataan yang diucapkan, dan yang tidak perlu diucapkan. Kita bisa memilih, apa yang perlu kita renungkan, pikirkan, dan apa yang tidak perlu kita renungkan dan pikirkan. Pilihan itu bukan hanya sesaat, melainkan setiap waktu, sampai pilihan itu menjadi kehidupan kita. Memilih Tuhan artinya kita mau berkenan kepada-Nya. Kita mau menyenangkan hati-Nya; maka kehidupan menyenangkan hati Allah akan terwujud di dalam hidup kita. 
    Pilihan kita harus disertai dengan tekad kuat untuk mencapai apa yang kita pilih. Memilih Tuhan berarti kita ingin benar-benar mengalami perjumpaan dengan Tuhan setiap hari. Kalau kita memilih berkenan kepada Tuhan, maka kita benar-benar bertekad mencapai kesucian dan kesalehan setinggi-tingginya, kekudusan setinggi-tingginya agar menjadi keharuman di hadapan Tuhan. Pilihan harus membuat kita bergairah, bukan terpaksa.
    8 min
  • Usia Rohani
    Kesucian harus dibangun sejak muda. Kalaupun kita sudah cukup berumur dan sering gagal, tetap masih bisa diperbaiki. Di-reset, di-redefine, di-recode; diformat kembali. Terhadap orang yang berlaku suci, Allah berlaku suci; suci menurut standar Allah. Kalau kita mengasihi Tuhan, Tuhan juga mengasihi kita. Kalau di kalangan orang Kristen, kalimat itu bisa dianggap berbahaya atau melanggar kebenaran. “Pada waktu kita berdosa, Tuhan sudah mati bagi kita, mengasihi kita. Apalagi sekarang.” Memang ada ayat firman Tuhan itu. “Apalagi sekarang” yaitu “sekarang” kalau kita hidup di dalam kebenaran-Nya. Kita harus membaca seluruh konteksnya, jangan hanya satu ayat.
    Kalau anak kita umur 2 tahun, belum mengasihi kita, tetapi kita mengasihi dia. Anak umur 4-5 tahun, kadang-kadang juga belum bisa mengasihi kita, tetapi tetap kita kasihi. Anak remaja, bukan main bisa nakal. Lihat para orang tua yang kewalahan menghadapi anak-anak remajanya. Tetapi, mereka tetap mengasihi. Meskipun tertangkap kasus narkoba, masuk kantor polisi, orang tua bisa rela membayar polisi supaya berita perkaranya diubah. Tentu tidak semua polisi berbuat begitu, tetapi bisa berbuat begitu. Di ujung dunia mana pun, selalu ada orang tua yang membela anaknya. Orang tua, biasanya begitu. Meskipun anaknya nakal, tetapi masih sayang. 
    Tetapi kalau anaknya sudah berumur 41 tahun, masih pakai narkoba, apakah orang tua akan berkata demikian? Bisa sebaliknya, mereka memberikan konsekuensi atas tindakan sang anak. Jadi, jangan kita berkata, “Walaupun kita tidak mengasihi Dia, Allah mengasihi kita.” Hati-hati, kita harus mengerti kebenaran dengan lengkap. Ada juga orang tua yang ketika anaknya terkena narkoba sebagai pengguna, masuk penjara, mereka membiarkan dengan harapan sang anak belajar menderita sehingga tidak mengulangi perbuatannya. Tetapi, jika setelah ditolong dan berhasil keluar penjara, masih melakukan lagi; maka orang tua bisa bertindak lebih tegas. Misalnya, sang anak tidak diakui lagi sebagai anak mereka. Maka, mendidik anak itu bukan mulai sejak remaja, melainkan sejak Sekolah Minggu. 
    Makin tua umur kita, cinta kita kepada Tuhan juga harus makin kuat, seimbang dengan kedewasaan rohani kita. Memang dulu waktu masih remaja, cinta kita kepada Tuhan yang porsinya demikian itu, aman. Tetapi tidak akan aman setelah umur kita berjalan terus. Waktu kita remaja, porsi kecil masih cukup. Tetapi setelah umur 50 tahun misalnya, porsi “segitu” tidak cukup, harus “segini.” Seiring dengan kebaikan yang Tuhan berikan kepada kita, mestinya seiring dengan usia rohani kita, kita mencapai puncak yaitu titik kecintaan kepada Tuhan. Kalau sudah menjelang senja, maka kita harus sudah menanggalkan semua hal yang mengikat hati. 
    Tidak ada cara lain untuk menghadirkan hadirat Allah, kuasa Allah, kecuali dengan kekudusan dan kesucian hidup. Dalam 2 Korintus 11 dikatakan, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi, karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci.” Kita harus jadi perawan suci. Kalau ada orang berkata, “Tuhan mengasihi kita, walaupun kita tidak mengasihi Dia.” Nanti dulu, itu waktu umur rohani kita berapa? Di ayat lain dikatakan, “Walau kita tidak setia, Dia tetap setia.” Berapa kali kita memberontak dan melakukan tindakan tidak setia? “Keselamatan karena anugerah. Apa pun sampai ujungnya, kalau memang ditetapkan selamat, tetap selamat,” itu pemahaman yang salah. 
    Kita harus menjadi perawan suci. “Perawan” di sini bukan berarti tidak pernah melakukan hubungan seks. Bukan dalam pengertian umum, melainkan tidak terikat dengan percintaan dunia. Kalau kita tidak menjadi perawan suci, maka kita tidak akan menjadi mempelai di kekekalan. Paulus berkata, “Tetapi aku takut kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus.” Siapa yang disesatkan? Manusia; orang Kristen. Siapa yang menyesatkan? Iblis. Bukan Tuhan yang menyesatkan. “Engkau ditentukan selamat,
    9 min
  • Titik Jenuh
    Apa pun dalam hidup ini yang kita kerjakan, bisa membawa kita kepada satu titik: titik jenuh. Bagi seseorang yang telah dihinggapi atau dipenuhi oleh kuasa kegelapan, maka ia akan terus mau meraih sebanyak-banyaknya yang dapat diraih dalam dunia ini. Atau menjadi serakah, sehingga mungkin nyaris tidak ada titik jenuhnya, walaupun kemungkinan titik jenuh selalu ada. Berbeda dengan seseorang yang berinteraksi dengan Allah, sungguh-sungguh melakukan apa yang dikatakan di dalam firman Tuhan: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” Kalau kita sungguh-sungguh menggumuli kehidupan rohani; menggumuli bagaimana menjadi semakin dewasa, semakin berkenan kepada Tuhan, tidak akan pernah mengalami titik jenuh. 
    Namun, seandainya kita mengalami titik jenuh dalam pergumulan rohani, maka itu berarti isyarat agar kita bergerak ke level yang lebih tinggi; artinya seseorang berjalan di tempat. Kalau seorang Kristen yang benar berinteraksi dengan Allah, mendahulukan Kerajaan Allah, benar-benar bertumbuh untuk semakin dewasa rohani, semakin berkenan di hadapan Tuhan, semakin hidup suci, semakin tidak bercacat tidak bercela, maka dia tidak mungkin mengalami titik jenuh. Namun, kalau sampai ada titik jenuh, itu berarti isyarat bahwa dia harus bergerak ke level yang lebih tinggi. Atau ia harus mempercepat speed pertumbuhan rohaninya. 
    Hal ini tidak bisa diurai dengan kata-kata secara lengkap. Sehebat apa pun penjabarannya, tidak akan memuaskan. Dalam pertumbuhan rohani, dalam pergumulan mendahulukan Kerajaan Allah, tidak ada titik jenuh. Tetapi dalam kehidupan di luar itu, ada titik jenuh. Setelah mencapai apa yang dicita-citakan, dia mengalami titik jenuh. Sebenarnya, titik jenuh manusia itu sebuah peringatan dari Tuhan bahwa ada rongga kosong dalam jiwanya yang tidak bisa diisi oleh siapa pun dan apa pun, kecuali Tuhan. Ini dalam konteks hidup orang percaya yang telah memiliki Roh Kudus atau Roh Kudus memimpin. 
    Ketika dia mengalami titik jenuh dalam kehidupan di luar pergumulan, pertumbuhan kedewasaan rohani, itu sebenarnya isyarat bahwa ada kekosongan jiwa yang hanya bisa diisi oleh Tuhan. Syukur kalau orang-orang seperti ini mulai berpaling kepada Tuhan dan meninggalkan dunia. Tetapi pada umumnya setan menipu, dan banyak orang tertipu. Kenapa kita jenuh? “Sebab rumahmu belum besar.” “Coba perhatikan taman depan rumahmu, taman itu mesti diperbarui, land scaping-nya diperbarui, nanti kamu akan lihat asri, hijau-hijau depan rumahmu.” Jadi dibuat taman yang bagus. Setelah taman bagus, dia nikmati 5-6 bulan, dia main-main. Tiap hari dia menyiangi pohon. Asyik juga, tetapi ada titik jenuh lagi. Lalu Iblis berkata, “Coba kamu lihat tetanggamu punya ikan koi. Kalau sebelah sana bikin kolam ikan koi, kamu sambil pagi-pagi minum teh, kamu lihat ikan koi,” dan seterusnya. 
    Yang satu, di luar pertumbuhan dalam iman, semakin terikat, tertarik pada dunia kegelapan, pemuasan daging, ambisi, sampai tidak bisa diselamatkan. Tetapi yang satu, akan terus bertumbuh sampai titik tidak bisa balik. Hal ini tergantung pada pilihan kita. Pada umumnya, keberagamaan itu melengkapi hidup. Di mana-mana begitu. Seperti bangsa Israel juga, Yudaisme atau agama Musa, itu melengkapi hidup. Tanpa agama, tanpa Tuhan, tanpa Yahweh, tanpa hukum, mereka menderita. Tuhan memang menunjukkan ketegasan-Nya. Kalau mereka salah, Tuhan pukul, tetapi kalau taat, Tuhan berkati. Mereka masih hidup dalam kepentingan-kepentingan pemenuhan kebutuhan jasmani. Tuhan yang mem-back up. Tuhan melindungi, Tuhan menjaga. 
    Bagi umat Perjanjian Baru, kekristenan itu bukan pelengkap. Kekristenan itu menyita, mengambil, merampas segenap hidup. Ini yang banyak orang Kristen tidak mengerti atau tidak mau menerima. Kekristenan itu merampas hidup kita. Kekristenan yang benar, tentu standarnya adalah Yesus, maka hidup seseorang yang percaya kepada Tuhan Yesus itu, dirampas. Tentu Yesus adalah Tuhan, kita manusia.
    9 min
  • Selalu Menyenangkan Allah
    Sebenarnya, menjadi anak-anak Allah itu luar biasa, karena kita bisa hidup di hadirat Allah setiap saat. Betapa indahnya kehidupan di hadirat Allah setiap saat. Dan itu bisa terjadi, bisa dialami, kalau kita menjaga diri. Sayangnya, banyak orang tidak menjaga dirinya dengan baik. Bagaimana kita menjaga diri kita dengan baik, supaya tidak melakukan sesuatu yang mendukakan Allah? Jangan melihat apa yang tidak patut dilihat. Misalnya, berita-berita yang menyita pikiran kita, tontonan atau film-film yang tidak membawa kita kepada pikiran yang bersih. Termasuk film-film yang baik menurut kacamata umum, tetapi tidak menguduskan pikiran kita, tidak perlu mengotori pikiran kita. Tentu tidak semua film itu tidak boleh ditonton. Ada film yang baik, terserah Roh Kudus memimpin kita. 
    Jangan memasukkan dalam pikiran kita sesuatu yang buruk atau busuk, karena akan berbuah kebusukan. Berbuah kebusukan di pikiran, ucapan, atau perbuatan. Kalau kita berkata, “Jagaku Tuhan, dalam kebenaran,” berarti kita yang harus menjaga diri. Caranya, jangan memasukkan di dalam pikiran, hati kita sesuatu yang buruk. Roh Kudus pasti memimpin kita untuk itu. Sebaliknya, kita harus memasukkan sesuatu yang baik di pikiran kita. Firman Tuhan, mendengarkan khotbah; khotbah yang membangun iman. Memiliki waktu untuk duduk diam di kaki Tuhan, berdoa bersama. Itu masukan yang positif. Kita di-charge; disuplai kekuatan dari Tuhan untuk bisa melakukan apa yang kudus. Berpikir yang kudus, merenungkan yang kudus, mengucapkan kata-kata yang baik, dan berperilaku baik. 
    Kita tidak bisa menjadi “polisi” yang baik bagi diri sendiri, kalau kita tidak meng-input kebenaran di dalam pikiran kita, kalau membuka diri terhadap masukan-masukan yang salah artinya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Oleh sebab itu, dengan kebenaran ini, hendaknya kita mau berubah. Jangan melawan Tuhan, artinya jangan semena-mena terhadap perasaan Tuhan. Kita mungkin berkata, “Saya tidak melawan Tuhan,” tetapi kalau kita tidak hidup seturut dengan kehendak Tuhan, kita tidak menjaga perasaan, pikiran, perbuatan, dan ucapan maka kita sembarangan, artinya kita melawan Tuhan. Jadi, pelayanan yang sesungguhnya itu menjaga perasaan Tuhan. Segala sesuatu yang kita lakukan, dari perkara sekecil apa pun sampai perkara-perkara besar, harus bisa menyenangkan hati Allah. 
    Kita pasti bisa melakukannya, kalau kita mendapat input; masukan yang baik, bukan masukan yang jahat. Dengan masukan-masukan yang baik dari Roh Kudus, yaitu pemberitaan firman dan doa persekutuan dengan Tuhan, maka kita menjadi “polisi” yang baik bagi diri kita sendiri. Kita yang akan berkata “tidak, jangan” untuk hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, dan kita mendorong diri kita untuk melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Di sini, rohani kita menjadi dewasa. Kalau kita melayani perasaan Bapa, kita akan menjadi terhormat; dihormati, menerima hormat dari Tuhan bukan hormat dari manusia. Mendapat pujian bukan dari manusia, tetapi dari Tuhan. 
    Kalau kita melayani perasaan Allah, menjaga perasaan Allah, menjaga pikiran, hati, mulut, ucapan, perbuatan, maka kita tidak perlu berteriak-teriak minta tolong Tuhan, Tuhan akan tolong kita. Tuhan memandang kita layak dilindungi, dihormati dan dijagai. Bahkan dihormati di depan malaikat-malaikat. Kelihatannya sederhana, tetapi ini sangat prinsip. Jadi mari kita sungguh-sungguh menghormati Tuhan dengan menjaga perasaan Tuhan; tidak melakukan sesuatu yang melukai Dia dari yang kita pikirkan, ucapkan, lakukan. Mari kita berubah. Mari memiliki komitmen untuk melayani perasaan Allah. 
    Bagi jemaat yang tidak memiliki jabatan dalam gereja, kalau kita betul-betul melayani perasaan Allah, perasaan Bapa, kita terhormat. Kita terhormat, kita tidak kalah dari pendeta besar di mata manusia. Tidak kalah dengan aktivis, majelis yang terhormat di mata manusia. Kita terhormat di mata Tuhan. Walaupun di mata manusia kita bukan siapa-siapa, tidak terpandang, tidak dihargai,
    7 min
  • Percaya yang Salah
    Ada hal yang kedengarannya sederhana, tetapi prinsip. Kita semua merasa sudah percaya kepada Tuhan, bukan? Tetapi sejatinya, seberapa percaya kita itu kepada-Nya? Percaya kepada Tuhan itu tidak mudah. Dan harus kita ketahui bahwa percaya kita kepada Tuhan itu berproses, artinya harus lebih meningkat; lebih tinggi kualitasnya, lebih tepat, lebih benar, lebih berkenan di hadapan Tuhan. Sampai sungguh-sungguh percaya kita itu percaya yang memuliakan Allah. Dan Allah merasa bahwa diri-Nya dimuliakan oleh percaya seseorang. Jadi, percaya itu tidak mudah. Harus terus kita bangun karena mengalami progresivitas atau perkembangan. 
    Jadi, Allah dapat menikmati percaya kita itu dan Allah merasa bahwa percaya kita kepada-Nya itu memuliakan Dia. Kalau kita percaya kepada Tuhan, hidup kita 100% akan direnggut, disita oleh percaya kita kepada Tuhan itu. Kalimat yang kita harus serius perhatikan dalam Galatia 2:20, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang ini di dalam daging adalah hidup oleh percaya, oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” 
    Percaya yang benar terus mengalami pertumbuhan, perubahan, progresivitas akan merenggut atau menyita seluruh hidup kita. Sampai kita bisa berkata seperti Paulus berkata, “Hidupku bukan aku lagi. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Pada dasarnya, percaya kepada Tuhan Yesus berarti bersedia harus serupa dengan Dia; berkarakter kristiani. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ikutlah Aku;” yang berarti harus hidup seperti Dia hidup, dan itu bersifat progresif. 
    Kita memiliki karakter yang bisa bertolak belakang dengan karakter Kristus. Bukan hanya berbeda, melainkan bertolak belakang. Kalau Kristus mengasihi musuh, kita bukan hanya membenci musuh melainkan yang bukan musuh pun bisa kita benci kalau kita sedang tidak senang. Ini karakter dosa. Jadi kalau kita ikut Yesus, itu berarti kita ikut cara hidup-Nya, gaya hidup-Nya, maka berproses. Inilah yang dikatakan dalam Ibrani 12:1 sebagai “perlombaan yang diwajibkan,” yaitu agar kita memiliki iman yang sempurna. Jadi mengikut Yesus itu harus memberi diri untuk menjadi serupa dengan Dia, sampai tingkat hidup kita disita, direnggut.
    Selama ini, sebagian besar orang Kristen, seperti kita dulu, merasa sudah percaya. Sejatinya, ini adalah pengaminan akali, persetujuan pikiran. Mereka diparkir di level itu. Akhirnya dunia mewarnai, yang membuat ia tidak serupa dengan Yesus, tapi serupa dengan dunia ini. Namun dia sudah merasa percaya kepada Tuhan Yesus. Padahal percaya itu berarti harus berani memberi diri untuk serupa dengan Yesus. Jadi kalau orang Kristen tidak makin serupa dengan Yesus, pasti percayanya salah. Hidupnya pasti tidak disita oleh percayanya tersebut. Akhirnya, hidupnya akan disita oleh kesenangan-kesenangan dunia dimana dunia menawarkan berbagai kesenangan yang dijadikan target, lalu hidupnya ditujukan untuk mencapai target-target tersebut. 
    Hati-hati untuk para pendeta. Memang target kita kelihatannya bukan target duniawi, tetapi intinya bisa sama: kepuasan dan kehormatan diri di dalam gereja. Sejatinya, ini lebih jahat. Bagi orang di luar gereja, mereka mencari kehormatan, kepuasan daging, di dunia sekuler dengan instrumen dan alat-alatnya. Kalau pendeta, instrumennya adalah pelayanan gereja. Ini mengerikan. Kalau kita percaya dengan benar, kita harus tahu bahwa percaya kita harus bertumbuh. Pertumbuhan percaya kita itu bukan hanya diisi pengetahuan tentang Tuhan atau kegiatan rohani, tetapi dalam hitungan menit kita bergumul untuk terus menyesuaikan apakah kehendak kita ini sesuai dengan kehendak Allah. 
    Per jam, per menit, bahkan per detik apakah kehendak kita selalu sesuai dengan Allah? Bukan hanya kalimat,
    10 min
  • Menjadi Kekasih Allah
    Tuhan itu hidup, Tuhan itu nyata. Perlakukanlah Dia sebagai Pribadi yang hidup. Kita harus sediakan waktu untuk bertemu dengan Tuhan setiap hari. Di tengah kesibukan hidup kita, kita pasti memiliki waktu. Orang sering berkata ada me time; “Itu waktuku untuk rileks.” Me time kita yang benar itu di hadapan Allah. Me time kita bukan untuk nonton film drama, film horor, film thriller. Me time kita itu di hadapan Tuhan. Me time orang percaya yang benar itu di hadapan Tuhan. Kalau tidak di hadapan Tuhan, maka itu bukan me time. 
    Apalagi kalau kita ke tempat yang salah, itu satan time, dark time. Kita mau ada di hadirat Tuhan. Kita mau menjadi kekasih Tuhan, mau menjadi umat pilihan Tuhan. Kita harus punya me time bersama Allah di hadirat Tuhan. Dan me time kita saat kita ada di hadirat Allah, akan menstimulasi, merangsang, menarik kehidupan di hadapan Allah setiap saat. Selanjutnya, selain kita ke gereja on site, berdoa, juga mengisi waktu kita dengan mendengarkan khotbah. Khotbah-khotbah yang tentu mengubah. 
    Banyak pembicara yang dapat didengar di Youtube. Tetapi kita harus selektif. Mintalah petunjuk Tuhan, kepada siapa kita memercayakan pemeliharaan rohani kita. Tentu ke Tuhan, tetapi Tuhan memakai manusia. Kita harus selektif, teliti akan siapa yang kita dengar. Dengarkan khotbah, dengarkan lagu rohani yang baik, yang membangun iman. Jangan dengarkan lagu-lagu yang membuat kita jadi mellow, ingat pacar lama, ingat gebetan waktu masih hidup dalam dosa. Itu akan membangkitkan chemistry dosa di dalam diri kita. 
    Jadi, isi pikiran kita dengan firman, lagu-lagu rohani, bukan dengan “sampah.” Lalu, bergaullah dengan orang yang takut akan Allah. Miliki komunitas orang-orang yang mencari Tuhan, bukan orang-orang yang tidak mencari Tuhan, yang obrolannya macam-macam. Politik, horor, mengenai para artis, mengenai hobi ini, hobi itu; barang ini, barang itu. Semua itu mengotori pikiran kita dan menjadi sampah busuk yang membuat busuk pikiran dan hati kita. Jangan bergaul dengan mereka. Bergaullah dengan orang-orang yang takut akan Allah. Orang yang takut akan Tuhan, yang akan membuat kita tergarami takut akan Tuhan. Tidak semua orang Kristen takut akan Tuhan. Bahkan, tidak semua aktivis atau pendeta takut akan Tuhan.
    Jangan kita pikir karena dia aktivis, pelayan jemaat, atau bahkan pendeta, kita bergaul biar mendapatkan input; masukan yang baik, insight-insight rohani yang membangun, ternyata tidak. Memang asyik kalau sudah kumpul, yang dibicarakan itu kesalahan hamba Tuhan atau kesalahan pendeta. Apalagi kalau pendeta besar. Kalau pendeta dengan umat 10 orang, 15 orang, mungkin asyik juga. Tetapi kalau pendeta yang jumlah jemaatnya banyak, pendeta yang besar, kita seakan-akan bisa menjadi ikut besar, dan itu tipu daya Iblis.
    Bergaullah dengan orang yang takut akan Allah. Walaupun dia bukan seorang pendeta, bukan seorang aktivis, orang biasa; jemaat awam, bukan orang kaya, tetapi ketulusannya, kemurnian hatinya bisa menulari kita. Kalau kumpul dengan orang-orang hebat karena hartanya banyak, kenalannya pejabat, boleh. Tetapi tidak semua mereka baik-baik. Kalau pengusaha biasa menipu orang, biasa kolusi dengan pejabat, itu artinya bengkok. Memang orang-orang seperti itu biasanya pintar menyembunyikan perasaan, menyembunyikan identitas, diplomasinya tingkat tinggi biasanya. Tetapi, spiritnya itu buruk. Kita mendapat impartasi spirit yang buruk. 
    Senang bergaul dengan pejabat-pejabat, itu bagus. Ada pejabat-pejabat yang baik, yang tulus, yang cinta rakyat, mengabdi kepada bangsa negara dengan baik. Tetapi, tidak sedikit juga yang hatinya jahat. Yang memeras orang, yang menyangkal, mengingkari sumpah jabatannya. Jangan karena dia seorang pejabat tinggi, kita merasa nyaman bergaul dengan mereka. Roh kita rusak, nanti. Bergaullah dengan orang-orang yang membagi karakter ilahi. Kiranya kita juga memiliki karakter ilahi untuk bisa menulari orang-orang lain. 
    8 min
  • Menghormati dan Merindukan Tuhan
    Orang bisa saja mengaku percaya kepada Tuhan Yesus dan merasa yakin masuk surga. Tetapi, kalau ia tidak menghormati Tuhan, ia tidak mungkin masuk Kerajaan Surga. Orang yang tidak menghormati Tuhan, tidak layak dan tidak pantas mendapat perlindungan Tuhan. Ia juga tidak layak menerima berkat, baik berkat rohani maupun berkat jasmani. Tetapi lebih terutama berkat rohani, yaitu pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani. Kapan seseorang tidak menghormati Tuhan? Ketika seseorang melakukan sesuatu untuk memuaskan dirinya sendiri. Memuaskan diri ini bisa menyangkut dua hal: seks dan kuliner, dan juga bisa menyangkut kepuasan jiwa, seperti keangkuhan, dendam, kebencian, dan lainnya. Kalau seseorang masih memuaskan dirinya, ia tidak menghormati Tuhan. Kalau kita menghormati Tuhan, kita pasti merindukan Dia. Semakin kita menghormati Tuhan, kita akan semakin merindukan Tuhan.
    Orang Kristen yang baru tentu tidak bisa dituntut menghormati Tuhan secara proper atau benar, tepat, ideal. Sebab, orang Kristen baru belum mampu menghayati bahwa Allah itu Mahahadir, dan bahwa orang percaya itu dipanggil Tuhan hanya untuk hidup menyenangkan Dia; melayani perasaan Tuhan. Kita sudah melewati tahun-tahun panjang menjadi orang Kristen, berarti kita harus sudah masuk pada sikap hati yang menghormati Allah. Orang yang tidak menghormati Allah, pasti hidup sesuka hatinya sendiri. Ia lebih memedulikan perasaannya daripada perasaan Tuhan. Bersyukur kalau kita diingatkan Tuhan pada kesempatan ini, sehingga kita bisa berhenti dari bersikap, bertindak, berperilaku, memilih, dan mengambil keputusan yang berangkat dari kesenangan diri sendiri. Kita harus mulai bersikap, bertindak, mengambil keputusan, dan memilih, berangkat dari apa yang diinginkan atau dikehendaki Tuhan. 
    Kalau Kristen baru, tidak dituntut untuk demikian. Tetapi, kalau orang Kristen yang sudah dewasa, mestinya kita harus mengerti tuntutan Tuhan untuk menghormati Dia secara patut. Seperti anak usia balita yang belum bisa menghormati orang tua secara patut, maka orang tua bisa mengerti dan toleransi. Tetapi kalau sudah usia 20, 25, 30 tahun, bahkan lebih, harus bisa menempatkan orang tua secara patut. Walaupun orang tua lebih miskin secara ekonomi, lemah secara fisik, rendah secara pangkat derajat, rendah secara akademis, tetapi anak seharusnya tidak kurang menghormati orang tua. Ingat, apa yang terjadi di Bilangan 20. Sebenarnya, Musa memiliki alasan untuk memukul Bukit Batu di Meriba, karena bangsa Israel bertengkar melawan Allah. Mereka bersungut-sungut dan marah karena mereka dibawa ke tempat tidak ada roti, tidak ada makanan seperti yang mereka makan di Mesir, dan tidak ada air. Lalu Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun agar mereka menuju Bukit Batu. Maksud Tuhan menyuruh Musa mengedangkan tangan, agar dari Bukit Batu keluar air. Tetapi, Musa memukul Bukit Batu dengan tongkatnya dua kali. 
    Air memang keluar, tetapi tindakan Musa dipandang Tuhan tidak menghormati Dia. Maka, Tuhan memberi hukuman, disiplin atau sanksi dengan pernyataan: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan kuberikan kepada mereka” (Bil. 20:12). Kalau kita membaca seluruh perikop ini, bangsa Israel sebenarnya bermulut jahat. “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan Tuhan, mengapa kamu membawa jemaat TUHAN kepada gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ?” Musa dituduh membantai bangsa Israel. Musa dituduh menyusahkan dan melakukan pembunuhan massal. Jadi, bisa dimengerti kalau sampai Musa memukul Bukit Batu dua kali. Namun, itu dipandang Tuhan sebagai tindakan tidak menghormati-Nya. 
    Waktu kita masih belum dewasa, kita tanpa sadar bersikap tidak tulus, munafik, menyimpan perasaan tidak suka, dendam, dan lain sebagainya. Tuhan bisa toleransi terhadap hal tersebut. Tetapi kalau hal itu kita lakukan sementara kita mest...
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…