Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Hidup di Dalam Pemerintahan Allah
    Di dalam kehidupan kita setiap hari, kita harus bisa menghadirkan Kerajaan Surga. “Menghadirkan Kerajaan Surga” adalah satu hal yang mutlak, lebih mutlak dari apa pun. Namun sayangnya, dalam kehidupan manusia pada umumnya, mereka justru mau menghadirkan “kerajaan manusia,” kerajaan dunia; kerajaan yang bukan dari Allah. Dengan menghadirkan kerajaan sendiri, manusia berharap bisa menikmati kebahagiaan di bumi yang diharapkan dapat dimiliki dengan mencapai satu suasana hidup, misalnya dengan studi untuk mencapai gelar tertentu. Dari gelar itu, dia bisa mengaktualisasi diri, mendapat pekerjaan, mendapat nafkah, terhormat, memiliki derajat dan martabat. Inilah yang menjadi “kerajaan” dalam hidupnya.
    Seorang pebisnis, mengharapkan mendapatkan keuntungan, yaitu uang. Dengan uang, dia bisa memperbesar usahanya agar semakin banyak pula keuntungannya. Lalu, ia bisa membeli semua fasilitas yang dibutuhkan manusia pada umumnya seperti rumah, mobil, dan jika memungkinkan, memiliki mobil mewah, kapal pesiar, pesawat pribadi, dan deposito. Dengan uang, dia merasa aman seandainya jatuh sakit, ia juga bisa bebas berwisata. Itulah “kerajaan.” Setiap orang bercita-cita untuk mencapai satu suasana kebahagiaan hidup. Maka, mereka harus menghadirkan “kerajaan” yang difasilitasi uang, gelar, dan lain sebagainya. 
    Bagi wanita, mungkin tidak muluk-muluk memiliki rumah mewah, kapal pesiar atau gelar, tetapi cukup memiliki suami yang berpenghasilan dan bisa menafkahi keluarga. Itu sudah merupakan “kerajaan” baginya. Intinya, setiap orang memiliki konsep kebahagiaan untuk dapat menghadirkan “kerajaan” dalam hidupnya. Dan di dalam suatu kerajaan, pasti ada yang mengontrol; mengendalikan, mendominasi, menguasai atau memerintah. Kalau orang berpikir bahwa uang dapat menciptakan kebahagiaan, maka kerajaan yang dimilikinya adalah kerajaan yang didominasi (diperintah) oleh uang. Kalau seseorang berpikir bahwa gelar, pangkat, atau kedudukan dapat menghadirkan kebahagiaan, maka kerajaan itu diperintah oleh kekuatan gelar, pangkat, dan kekuasaan. 
    Ini adalah konsep-konsep manusia pada umumnya, di mana pun. Hampir semua manusia memiliki konsep ini.  Tanpa disadari, kita juga telah mewarisi konsep itu dari orang tua dan lingkungan kita. Apalagi kalau seorang hamba Tuhan atau pendeta yang tidak mengenal kebenaran dan tidak mengalami perubahan, dia bisa menjadikan gereja dan pelayanannya sebagai “kerajaannya.” Di dalam kerajaan tersebut, bukan Tuhan yang berkuasa, melainkan dirinya. Atau faktor lain, ambisinya atau bahkan uang. Kalau pelayanan dijadikan sarana memperoleh keuntungan, maka jelas uanglah yang mengatur atau memerintah. Mengerikan sekali. 
    Tuhan menebus kita dengan darah-Nya dari cara hidup yang sia-sia yang kita warisi dari nenek moyang. 1 Petrus 1:18-19 mengatakan, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Maukah kita keluar dari cara hidup yang salah ini? Pasti banyak di antara kita yang menderita karena gagal mencapai kebahagiaan, gagal menghadirkan kerajaan itu. Hidup ini memang tragis. Apa pun keadaan kita, khususnya yang merasa gagal dan tidak memiliki kerajaan apa pun, masih ada Kerajaan yang bisa kita hadirkan. Dan memang Tuhan menghendaki kita menghadirkan Kerajaan itu. Tuhan mengajarkan kita doa “Datanglah Kerajaan-Mu” di Matius 6:10. Inilah yang membuat kita memiliki Kerajaan yang tak tertandingi oleh kerajaan apa pun dan siapa pun.
    Mari kita menghadirkan Kerajaan Allah. Bagaimana caranya? Roh Kudus sebagai hukumnya, alat ukur etika dan moralnya. Kita harus mengerti Firman, belajar Firman. Kita harus memiliki jam doa pribadi maupun doa bersama. Dari hal itu, kita memiliki kepekaan untuk bisa mengerti kehendak Allah. Di situlah hukum,
    10 min
  • Kesenangan di Luar Tuhan
    Kalau orang melakukan hukum berdasarkan budaya, baik yang tertulis maupun tidak, ada formatnya. Misalnya menolong orang miskin, membela orang lemah, ada formatnya. Kalau kita, formatnya bukan tertulis, bukan juga budaya, melainkan pikiran dan perasaan Allah yang kita kenakan. Kalau kita mengaku Yesus sebagai Raja, kita taat kepada Yesus, kita mengenakan pikiran dan perasaan-Nya, serta menerjemahkannya dalam perilaku dan kehidupan yang ditujukan untuk orang lain. Kalau raja pada umumnya, mau dipuaskan keinginannya, dituruti, semua dikerjakan untuk dirinya sendiri, tetapi Tuhan tidak. Tuhan mau kita melakukannya untuk orang lain. 
    Firman Tuhan mengatakan, “Ia tidak menghendaki seorangpun binasa.” Perasaan itu mestinya kita miliki dalam kadar yang tepat, yang diterjemahkan oleh Tuhan Yesus dalam perilaku-Nya. Selama 33,5 tahun ada di bumi, Dia menerjemahkan perasaan Bapa. Kita sebagai utusan Tuhan Yesus, memperagakan perasaan yang sama. Betapa Tuhan dipuaskan kalau ada orang-orang yang memiliki perasaan itu. Tuhan mau memperhatikan semua orang yang Ia kehendaki, tetapi Tuhan tidak turun dengan tangan dan kaki-Nya. Dia turun melalui tangan dan kaki kita. Kalau Firman Tuhan mengatakan Dia tidak menginginkan seorangpun binasa, maka kita harus punya beban itu. Kalau Yesus membayar harga keselamatan manusia dengan darah dan nyawa-Nya, kita pun harus berani mempertaruhkan apa pun demi keselamatan orang lain. 
    Sayangnya, kita sering menjadikan diri kita raja. “Apa yang kuingini, harus kucapai. Apa yang memuaskan diriku, harus kulakukan.” Orang seperti ini belum menjadikan Yesus sebagai Raja. Agama lain juga mengajarkan, orang di luar Kristen juga bisa berbuat kebaikan berdasarkan format-format, baik tertulis maupun tidak. Sedangkan kita, berdasarkan pikiran dan perasaan Tuhan. Jadi kalau untuk orang di luar umat pilihan, “Apa yang kau perbuat untuk saudaramu yang membutuhkan,” itu maksudnya “perbuatanmu kepada-Ku.” Tetapi orang Kristen, “Kamu memperagakan pikiran, perasaan-Ku. Apa pun yang kau lakukan, sangat memuaskan hati-Ku.” Maka, orang harus bertumbuh dewasa. Bukan sekadar mengerti tatanan hukum mengasihi, menolong orang miskin.
    Dan ini harus dimulai dari kedewasaan rohani. Dimulai dari kecerdasan roh, ketika bertumbuh memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga hidup kita memperagakan pikiran dan perasaan-Nya. Tuhan senang kita menolong orang miskin. Tuhan memang menghendaki kita menolong orang lemah. Tetapi, Tuhan lebih menghendaki kita melakukan segala sesuatu karena pikiran dan perasaan-Nya. Dan pasti sesama kita diberkati, karena Tuhan Yesus bukan Raja yang mau disenangkan untuk kepentingan-Nya. Kedengarannya berlebihan, tetapi itulah standar yang Allah Bapa kehendaki. Kita harus menerimanya sebagai kehormatan. Kalau kita benar-benar menerima Yesus sebagai Tuhan, artinya Tuan, Majikan, maka kita harus menundukkan diri di hadapan Tuhan, segenap hidup sepenuhnya. Tidak ada bagian untuk hidup kita sendiri. Semua kita lakukan untuk Dia. 
    Oleh sebab itu, kalau seseorang masih merasa memiliki sesuatu, masih berhak memiliki sesuatu, apakah materi maupun non materi, masih merasa punya kesenangan, tidak mungkin dia bisa memperagakan kehidupan Yesus. Kita bisa mengerti mengapa Tuhan mengatakan, “Barangsiapa mengikut Aku, dia harus menyangkal diri dan memikul salib.” Menyangkal diri bukan hanya tindakan berkata “tidak” untuk dosa, tetapi berani membunuh seluruh naluriah manusiawinya supaya bisa mengenakan karakter Kristus. Ini bukan Kristen aneh; ini standar. Itulah sebabnya tanpa ragu-ragu Paulus mengatakan, “Aku mengenakan kehidupan Yesus.” Sebelum kita meninggal dunia, matikan manusia lama kita oleh pertolongan Roh Kudus, supaya Yesus hidup di dalam kita. 
    Jika kita bertekad seperti ini, maka kalau ada tindakan-tindakan kita yang kurang tepat, kita akan merasa gelisah luar biasa. Tidak perlu sampai melakukan pelanggaran moral. Ketidaktepatan kita bertindak, sudah mendukakan hati Tuhan,
    9 min
  • Terpelihara Sempurna
    Orang yang paling beruntung dan paling sukses di dalam hidup adalah orang yang diakui oleh Allah sebagai anak-anak-Nya. Kalau Allah mengakui seseorang sebagai anak, sebagai milik-Nya, orang itu pasti terpelihara sempurna. Pasti diberkati, dijagai Tuhan selama hidup di dunia. Bahkan, segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya pasti mendatangkan kebaikan, tidak menjadi kecelakaan. Kalau Elohim Yahweh yang menciptakan langit dan bumi mengakui kita sebagai anak, pasti Dia akan membimbing kita terus sampai ke surga. 
    Berkat-berkat jasmani, bukanlah berkat utama. Tetapi, pasti Bapa perhatikan. Burung di udara, Dia pelihara. Bunga di padang, Dia dandani. Apalagi kita. Yang ini tidak boleh diragukan sama sekali. Bekerjalah dan carilah nafkah dengan baik. Dia selalu memberi jalan keluar. Masalahnya, apakah Allah mengaku kita sebagai anak-Nya? Memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, artinya kita berpotensi menjadi anak Allah yang baik. Tetapi, kalau kita tidak memberi diri dimuridkan, didewasakan, suatu hari kita tidak akan diakui sebagai anak. Tidak heran tertulis di Alkitab bahwa orang yang menyebut Yesus “Tuhan, Tuhan,” tidak dikenal dan dibuang (Mat. 7:21-23). 
    Mengapa bisa dibuang, padahal mereka sudah mengaku Yesus Tuhan? Tuhan berkata: “Aku tidak kenal kamu,” artinya “Kamu bukan anak Bapa. Kamu bukan saudara-Ku,” karena Yesus tidak menjadi yang sulung bagi mereka. Yang disebut anak Allah dan diakui Allah sebagai anak, adalah orang yang melakukan kehendak Bapa. Mungkin ada yang berkata bahwa melakukan kehendak Bapa itu sulit dan berat sekali. Sebenarnya bukan “berat,” melainkan “mustahil.” Karena standar melakukan kehendak Bapa adalah teladan kehidupan Tuhan Yesus. Memang mustahil, tetapi “Yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.” (Mat. 19:26). 
    Kalau kita belum melakukan kehendak Bapa, mungkin Bapa masih toleransi. Seperti anak berumur satu hari, belum bisa berbuat apa-apa untuk orang tua, bahkan hanya merepotkan. Tetapi, orang tua menerimanya sebagai anak. Sempurna; perfect sebagai anak. Umur 3 tahun, maunya main-main, menuntut orang tua ini dan itu. Tetap dia sempurna sebagai anak. Umur 5-6 tahun, masih nakal, belum bisa membantu orang tua. Maunya jalan-jalan, main di tempat wisata atau minta dibelikan mainan. Masih wajar sebagai anak. Tetapi, tidak boleh terus-menerus begitu, bukan? 
    Dia harus belajar. Memasuki masa remaja, bersekolah, nanti kuliah, nanti berkarier, mengikuti petunjuk dan nasihat orang tua. Yang suatu hari kalau anak ini baik, dewasa, maka harta orang tua akan diberikan kepadanya. Waktu masih kecil, ia hanya diberikan coklat, gulali, balon. Tetapi, kalau anak ini sudah dewasa, semua warisan orang tua diberikan. Coba bayangkan kalau anak ini tidak menurut? Mencuri, terlibat narkoba, menyusahkan orang tua, berani melawan orang tua bahkan memukul orang tua, mengancam orang tua. Orang tua bisa membuat surat pernyataan secara hukum untuk memutuskan hubungan orang tua dan anak. Akhirnya, ia tidak jadi anak lagi. Orang tua pun tidak akan rela memberikan hartanya kepada anak yang memberontak. 
    Bapa di surga bisa menolak kita sebagai anak; karenaketika kita diberi kesempatan untuk bertumbuh agar serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa, tetapi kita tidak mau melakukannya. Proses pemuridan atau pendewasaan bertujuan agar kita berkodrat ilahi. Sebab, anak-anak Allah harus berkodrat Allah atau berkodrat ilahi. Berkodrat ilahi; sifat dan karakter kita seperti Bapa. Kalau kita berkata, “Engkau Maha Pengasih, Bapa, penuh belas kasihan,” kita juga harus penuh belas kasihan. “Engkau Allah yang baik, Engkau yang jujur, Engkau penuhi janji-Mu,” kita juga jadi orang yang memenuhi janji. 
    Allah tidak pernah mencelakai orang sedikit pun. Kita pun sedikit pun tidak boleh melukai orang. Allah bukan pribadi yang senang membuat orang marah, tersinggung, membuat orang rugi, terluka, terhina. Allah tidak punya sifat itu. Maka, kita harus punya sifat seperti Allah.
    9 min
  • Perubahan
    Setiap kali orang merayakan Natal, mereka berpikir sedang merayakan hari kelahiran Yesus. Mirip seperti kalau seseorang merayakan hari ulang tahun. Maka, dalam merayakan Natal, yang ditekankan adalah kemeriahan atau suasana sukacita. Tentu hal ini tidak salah. Kemeriahan merayakan Natal, menghadirkan sukacita dalam perayaan Natal, bukan sesuatu yang keliru. Tetapi tanpa disadari, penekanan yang berlebihan pada kemeriahan, membuat makna Natal yang seharusnya direnungkan, dihayati, menjadi tersingkirkan. Ini terjadi di banyak tempat dan dalam waktu yang sudah lama. Tidak jarang Natal menjadi kesempatan untuk show bagi mereka yang tampil, menjadi kebanggaan bagi pendeta yang bisa menghadirkan banyak orang dalam acaranya. Banyak lagi agenda pribadi dalam perayaan dan acara Natal. 
    Tentu hal ini mendukakan hati Tuhan. Harus diingat, bahwa tanggal 25 Desember belum tentu tepat hari kelahiran Yesus. Sebagian orang Kristen menganggap bahwa kelahiran Tuhan Yesus tanggal 24 Desember pkl.24.00. Yang harus dipersoalkan adalah bagaimana kita benar-benar memaknai Natal, supaya saat merayakan Natal, kita merayakannya dengan tindakan, sikap, perbuatan, dan aktivitas yang sungguh menyenangkan hati Tuhan. Jadi, yang penting dalam merayakan Natal, pertama, kita mengingat kedatangan Tuhan Yesus. Yang kedua, kita menyatakan secara terbuka fakta Anak Allah menjadi manusia. Hal ini mengingatkan masalah besar yang dialami manusia. Manusia yang telah jatuh dalam dosa, sesuai Roma 3:23 “kehilangan kemuliaan Allah;” atau tidak mencapai, tidak memenuhi kemuliaan Allah, maka harus diubah. 
    Penyelamatan adalah perubahan. Bukan seperti yang dibayangkan banyak orang Kristen, dengan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, siapa yang memercayai fakta sejarah bahwa anak Allah mengenakan tubuh daging, masuk surga. Banyak orang Kristen berpikir dengan memercayai fakta kelahiran Tuhan Yesus, maka mereka terhindar dari neraka, masuk surga. Orang-orang Kristen seperti ini pasti tidak memahami maksud keselamatan itu adalah perubahan; perubahan atas karakter, keberadaan, dan kodrat manusia. Keselamatan bukan sekadar perubahan status; dimana dengan perubahan status tersebut, seseorang dengan mudahnya masuk surga. Dari status bukan anak-anak Allah, lalu karena memercayai fakta kelahiran Yesus bahwa Ia Juruselamat, statusnya berubah jadi anak-anak Allah, dan sudah merupakan jaminan masuk surga. 
    Ironis, ajaran yang salah ini mendarah daging di banyak orang Kristen. Keselamatan dalam Tuhan Yesus merupakan satu proses perubahan, dimana seseorang yang sungguh-sungguh memercayai Yesus sebagai Juruselamat, akan mengalami perubahan. Perubahan itu bukan tanpa perjuangan. Perubahan tersebut terjadi melalui perjuangan. Dalam kisah Natal, orang-orang yang mendengar berita Natal atau tahu adanya Raja orang Yahudi yang lahir, tetapi tidak semua dari mereka diubahkan. Herodes tahu bahwa Raja orang Yahudi lahir. Dalam Matius 2, imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, tahu di mana Yesus lahir, tetapi tidak menerima berkat Natal. Mereka tetap tinggal di Yerusalem, walaupun memberitahu Herodes bahwa bayi itu lahir di Betlehem, di tanah Yudea. 
    Imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi lebih menyelamatkan nyawa mereka, kehidupan mereka di bumi, daripada bertemu dengan Raja orang Yahudi yang juga adalah Mesias. Mereka tidak butuh Mesias atau Juruselamat. Berbeda dengan orang-orang Majus yang datang dari Timur. Tentu mereka menempuh perjalanan, mempertaruhkan nyawa, lalu menganggarkan biaya perjalanan. Demikian pula gembala-gembala di padang Efrata, sesuai Lukas 2. Ketika mereka mendengar berita dari para malaikat, mereka segera beranjak ke Betlehem. Tidak semua orang yang mendengar berita Natal, menjumpai Tuhan Yesus yang adalah berkat Natal itu sendiri. 
    Ini bisa menjadi ilustrasi dari kenyataan hidup. Banyak orang Kristen yang merayakan Natal, tetapi tidak semua berjumpa dengan Tuhan Yesus. Alkitab mengatakan, “Banyak yang dipanggil, sedikit yang terpilih.
    9 min
  • Dinamika Perasaan Allah
    Tuhan mau mengajarkan kita satu hal yang luar biasa, yaitu bagaimana menjadikan Yesus sebagai Raja di dalam hidup kita. Hal ini pasti akan mengubah hidup kita, kalau kita bisa mengerti, memahami, dan melakukannya. Kalau raja pada umumnya mau dilayani, keinginannya dituruti, hatinya dipuaskan, dan umat serta pelayan-pelayannya harus melakukan segala sesuatu untuk kepentingan raja itu sendiri. Berbeda dengan Tuhan Yesus. Dalam Matius pasal 25, Tuhan Yesus berkata kepada sekelompok orang, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Kalau kita bertanya kepada Tuhan Yesus hari ini, “Bagaimana aku menjadikan Engkau sebagai Raja dalam hidupku?” Jawaban Tuhan pasti: “Kenakan hidup-Ku, kenakan perasaan-Ku, kenakan pikiran-Ku.” 
    Di dalam penghakiman nanti, orang-orang dari agama mana pun, manusia siapa pun yang berbuat sesuatu untuk orang lain dalam kasih, maka hal itu diperhitungkan sebagai perbuatannya untuk Tuhan, walaupun dia bukan orang Kristen. Mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, itu diperhitungkan oleh Tuhan dan dihargai. Maka dikatakan di dalam Matius 22:37-40, “Dan hukum yang sama seperti itu, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, kekuatan,” tentu ini berlaku bagi orang yang memiliki dan mengenal Allah yang benar. Tetapi, bagi yang tidak mengenal Allah dengan benar, tidak bisa. Namun ada hukum yang sama seperti itu, “Kasihi sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” 
    Orang-orang di luar Kristen, jika mengasihi sesama seperti diri sendiri, maka itu dihargai Tuhan. Jangan heran kalau nanti ada orang-orang yang masuk surga, mereka yang mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kalau bagi bangsa Yahudi, bagi bangsa Israel, umat Perjanjian Lama, umat pilihan secara darah daging, mereka harus mengasihi Elohim Yahweh dengan segenap hati, jiwa, akal budi, kekuatan, yaitu dengan melakukan hukum Taurat. Jika mereka melakukan itu, tidak bisa tidak, mereka juga pasti bisa mengasihi sesama seperti diri sendiri. Sebab dari 10 Hukum Allah, hukum pertama sampai keempat, itu mengatur hubungan antara Allah dan umat. Tetapi dari hukum kelima sampai terakhir, itu mengatur hubungan horizontal antarmanusia. 
    Jadi, kalau hukum yang pertama sampai keempat dipenuhi, hukum yang kelima sampai kesepuluh, pasti dipenuhi juga. Itu bagi umat pilihan Perjanjian Lama. Lalu bagaimana kita, umat Perjanjian Baru? Apa bedanya? Hukum ini tidak ditiadakan, tetap berlaku. Tetapi dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, mengasihi Tuhan dengan segenap hati, akal budi, kekuatan, tidak cukup dengan melakukan hukum-hukum tersebut secara harfiah. Kita yang memang didesain, diproyeksikan, direncanakan untuk kembali segambar dan serupa dengan Allah, harus sempurna seperti Bapa, memiliki pikiran, perasaan Kristus, memenuhi hukum itu. 
    Matius 22:37-40, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, akal budi;” kita harus mengenakan sifat-sifat dan perasaan Allah. Jadi, kalau kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat—seperti yang dikatakan dalam Yohanes 1:11-13—bukan hanya percaya Dia Tuhan dan Juruselamat, melainkan berarti menerima hidup-Nya, mengenakan cara berpikir-Nya, dan berperilaku seperti Yesus. Hal itu tidak bisa dikurangi, karena memang harus demikian. Jadi, mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, harus ditunjukkan dengan usaha. Usaha segiat-giatnya, sekeras-kerasnya untuk bisa mengenakan kehidupan Yesus di dalam diri kita. 
    Apa bedanya antara kita dengan orang-orang di luar Kristen, yang perbuatan baik mereka pun dihargai oleh Tuhan? “Ketika Aku lapar, kau berikan Aku makan; ketika Aku haus, kau berikan Aku minum. Ketika Aku dalam penjara, engkau melawat Aku.” Kalau orang-orang di luar umat pilihan, melakukan itu sebagai “hukum” yang harfiah, berdasarkan rumusan kalimat. Tetapi, kita yang mengenakan Tuhan Yesus,
    9 min
  • Presisi
    Sebenarnya, banyak kita yang dari hari ke hari masih banyak meleset, tetapi kita tidak peduli kemelesetan itu. Kita ceroboh, tidak benar-benar mempertimbangkan perasaan Tuhan. Semoga dengan firman Tuhan ini, kita bisa disadarkan. Sekecil apa pun tindakan itu, kita harus belajar memperkarakan dengan Tuhan, apakah presisi atau tidak. Kalau kita tidak memedulikannya, maka kita tidak menghargai jiwa kita. Jangan hanya melihat orang jahat di luar gereja yang benar-benar jahat, terverifikasi jahat berdasarkan hukum moral umum, sementara kita sendiri tidak presisi, tetapi tidak menyadari keadaan kita yang meleset.
    Iblis itu licik sekali. Dia bisa membuat pendeta kelihatan kudus, baik, tetapi suatu hari Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu.” Itu mengerikan sekali. Maka, jabatan pendeta bukan sesuatu yang dianggap bernilai tinggi. Yang bernilai tinggi adalah ketepatan kita dalam bertindak dan berperilaku. Pasti kalau kita punya ketepatan dalam bertindak dan berperilaku, kita bisa melayani Tuhan dengan baik. Di lingkungan pelayanan, sering kali ada yang tidak suka dengan orang lain lalu berusaha menyingkirkan. Sehingga, itu menjadi celah, menjadi pintu Iblis masuk. Oleh sebab itu, terhadap siapa pun, kita harus presisi. 
    Kalau kita mengasihi jiwa kita, kita akan berusaha untuk berkenan kepada Tuhan dengan memilih ketepatan dalam bertindak. Karena, kita mau bersama dengan Tuhan di keabadian. Itulah satu-satunya bentuk mengasihi jiwa kita yaitu dengan mengusahakan hidup berkenan di hadapan Tuhan agar layak bersama dengan Dia. Selanjutnya, kita pasti berani mempertaruhkan apa pun untuk keselamatan orang lain. Itu baru real ministry. Bukan hanya mengadakan kebaktian di gereja, orang datang lalu diajak menyanyi, lalu pendeta bisa berdiri di mimbar dan berkhotbah. Itu menjadi panggungnya untuk beraktualisasi diri agar eksis. Itu bukan unsur dari Allah. 
    Kalau kita mengasihi Tuhan, kita tidak akan membiarkan mata kita melihat apa yang tidak patut. Bahkan hal yang bukan melanggar moral, melainkan yang sekadar tidak patut. Jika tidak berguna kita ketahui, lalu untuk apa? Tidak perlu kita lihat dan kita dengar. Juga, jangan membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita harus melihat Tuhan Yesus sebagai standar kekudusan kita. Bapa ingin kita berjalan dengan Dia, karena memang manusia dirancang sejak semula untuk berinteraksi dengan Allah. 
    Orang yang meninggal dunia, tidak bisa memilih surga atau neraka, karena keadaan dirinya ketika hidup, sudah menentukan hal tersebut. Orang berdosa tidak akan bisa masuk surga; orang kudus tidak akan bisa masuk neraka. Ikan air laut tidak bisa masuk air tawar. Setelah meninggal, kita sudah tidak bisa memilih surga atau neraka, sebab kita sudah memilih sejak hidup di dunia. Kalau sekarang kita terus berjuang dan berusaha untuk presisi, artinya kita sedang memilih. Kita memilih bersama dengan Tuhan. Betapa Tuhan ingin kita bersama dengan Dia. Maka, Allah mengusahakan keselamatan itu dengan memberi Putra Tunggal-Nya, memberikan meterai Roh Kudus, Allah menuntun dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. 
    Masalahnya, orang-orang yang diselamatkan ini apakah merespons keselamatan yang Allah berikan? Sekarang, kita harus memilih. Kalau mau “kebakaran jenggot,” jangan nanti waktu mau mati, di ujung maut saat sekarat, baru ketakutan dan kebingungan. Sekarang, setiap kali berbuat salah, kita sudah “kebakaran jenggot.” Seperti kehilangan damai, maka kita harus segera membereskannya di hadapan Tuhan. Jangan merasa tenang dan tidak ada apa-apa. Bagi orang-orang di luar sana atau orang-orang fasik yang tidak takut Tuhan dan hidup dalam dosa, jelas mereka tidak tahu apa yang baik untuk damai sejahtera mereka. Mereka membawa diri mereka kepada kebinasaan, membawa diri ke api kekal dan terpisah dari Allah. 
    Apakah kita mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera kita? Jangan membuat perbandingan dengan mereka.
    9 min
  • Menu yang Mendewasakan
    Di dalam Injil Yohanes, kita menemukan satu pasal yang sangat populer, dan menampilkan satu pokok pemikiran yang sangat menonjol, yaitu mengenai Allah sebagai Gembala. Sebenarnya ini cerminan dari yang ditulis dalam Mazmur 23, bahwa Allah adalah Gembala yang baik. Dalam Yohanes 10, ditampilkan Tuhan adalah Gembala yang baik, tetapi juga dikemukakan adanya gembala yang jahat. Ada gembala yang baik, ada gembala yang jahat; ada gembala yang menuntun umat kepada kehidupan, tetapi ada gembala yang menuntun manusia kepada kebinasaan.
    Dalam Yohanes 10:4 tertulis, “Jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia (gembala yang baik) berjalan di depan mereka, dan domba-domba itu mengikuti dia, karena domba-domba itu mengenal suaranya. Tetapi seorang asing (gembala yang jahat) tidak mereka ikuti, malah mereka lari daripadanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.” Faktanya, ada gembala yang baik, juga ada gembala yang jahat; tetapi kita juga menemukan ada domba-domba yang baik dan ada domba-domba yang tidak baik. Domba-domba yang baik; domba-domba yang mendengarkan suara gembala dan mengikut gembala yang baik. Tetapi kalau domba yang tidak baik, seperti yang Injil kemukakan mengenai fakta domba yang terhilang, bukan karena tidak digembalakan, tetapi karena mendengar orang asing. 
    Kita tanyakan kepada diri sendiri, kita ini domba yang baik atau tidak? Domba yang baik, mengenal suara gembala dan mengikutinya. Mengenal suaranya berarti mendengar, mengerti suaranya, dan mengikutinya. Tentu domba-domba yang baik juga bisa mengenali adanya suara yang tidak perlu didengar, karena itu suara orang asing. Tidak perlu mengenalinya, apalagi mengikutinya. Frman Tuhan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu. Barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat, dan dia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Pasti gembala yang baik memberikan rumput yang baik; rumput yang menghidupkan. Gembala yang baik, pasti memberikan menu yang menghidupkan; menu yang mendewasakan. 
    Ratapan 3:22 tertulis, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN. Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu. ‘TUHAN adalah bagianku,’ kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.” Gembala yang baik yaitu Tuhan, pasti menyediakan berkat setiap hari. Tentu berkat yang Bapa sediakan memiliki proyeksi kekekalan. Bagi bangsa Israel yang belum memahami anugerah, belum mengerti proyeksi kekekalan, orientasi berpikirnya hanya berkat-berkat jasmani, yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani. Tentu tidak salah untuk ukuran bangsa Israel, umat pilihan darah daging, secara jasmani dari keturunan Abraham. 
    Tetapi kepada kita, Tuhan berfirman, “Carilah perkara-perkara yang di atas, bukan di bumi. Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Bagi umat Perjanjian Baru, Tuhan menyediakan berkat yang proyeksinya, tujuan yang mau dicapainya adalah kekekalan. Adapun mengenai pemenuhan kebutuhan jasmani, standarnya adalah “Asal ada makanan dan pakaian, cukup.” Setiap hari Tuhan pasti memberikan berkat kekal yang bertujuan mengubah kita agar kita menjadi orang yang layak bagi Tuhan. Ibrani 12 mengatakan, “Kita dididik oleh bapak, menurut apa yang bapak kita di bumi ini pandang baik; Bapa di surga mendidik kamu, supaya kamu mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.” 
    Waktu kecil diberi bubur. Besar sedikit, diberi nasi lembut. Berikutnya lagi, nasi keras. Dan terus, bertahap; selalu baru. Allah pun memberikan berkat selalu baru, sesuai dengan umur rohani kita, sesuai dengan karakter kita. Maksudnya, Tuhan menggarap karakter kita; apa-apa yang perlu diubah. Supaya mengubah, perlu Firman apa yang harus didengar dan peristiwa apa yang harus dialami. Ini Gembala yang baik. Tetapi,
    9 min
  • Ketegasan Allah
    Firman Tuhan mengatakan di 2 Petrus 2:6, “… dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian …” Ada pelajaran penting dari ayat itu. Allah tidak menyayangkan orang-orang yang tidak mendengar peringatan-peringatan-Nya. Maka, kita harus terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, sampai kita bisa merasakan kegentaran akan Allah. Allah adalah Allah yang bisa bersikap tegas. Jadi kalau Allah belum bersikap tegas, bukan berarti tidak; “belum” itu bukan “tidak.” Perhatikan juga apa yang dikatakan di dalam 2 Petrus 2:4, “… menyerahkan mereka ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman.” Jadi, ada hari di mana Tuhan akan mendatangkan penghukuman. 
    Allah bersikap tegas kepada mereka yang tidak memperhatikan, tidak menghargai peringatan-peringatan-Nya. Di ayat yang lain, 2 Petrus 3:9, dikatakan, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya…” Di dalam ayat sebelumnya dikatakan orang-orang mengolok, mengejek Tuhan dengan ejekan-ejekan yaitu hidup menuruti hawa nafsu. Mereka berkata, “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu?” Dengan kata lain, “Mana sikap tegas Allah? Mana penghukuman yang katanya akan didatangkan?” Selanjutnya, “… sekalipun ada orang-orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu karena Allah menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Allah akan bersikap tegas pada waktunya. 
    Jangan kita hanya melihat satu aspek—kasih, kesabaran, belas kasihan, kemurahan, dan kebaikan-Nya saja—tetapi juga ketegasan Allah yang akan dinyatakan pada waktunya. Dan itu sungguh-sungguh mengerikan. Kalau malaikat-malaikat yang berbuat dosa Dia lemparkan ke dalam neraka, demikian pula dengan orang-orang yang tidak memperhatikan peringatan-peringatan-Nya. Dan kenyataannya, seperti yang difirmankan Tuhan, kita lihat orang yang mengolok-olok Tuhan dengan tindakan, di dalam 2 Petrus 3:3, “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.” Jadi kalau kita hidup menuruti hawa nafsu, kita termasuk kelompok ini. 
    Sekalipun kita rajin pergi ke gereja, menjadi aktivis gereja, bahkan menjadi pendeta, namun kalau masih menuruti hawa nafsu, maka kita termasuk kelompok pengejek-pengejek. Sejujurnya, ada di antara kita yang termasuk orang yang menganggap remeh janji Tuhan. Di kedalaman hatinya, ia berkata, “Semua baik-baik saja, tuh. Aman-aman saja.” Jangan main-main. Maka, kalau kita menyadari masih hidup di dalam hawa nafsu, jangan kita teruskan. Kalau kita tetap teruskan, berarti kita melawan Tuhan. Kita ke gereja belumlah sebagai bukti atau pernyataan kalau kita tidak mengejek Tuhan. Daging kita ini harus dimatikan. Jangan pura-pura tidak tahu apalagi tidak peduli. Hawa nafsu daging, ambisi dan segala keinginan dalam jiwa yang tidak sesuai dengan Roh Kudus, harus dimatikan. Maka, kita harus banyak berdoa dan puasa supaya kita peka terhadap kehendak Allah. Kita harus merendahkan diri di kaki Tuhan, seakan-akan kita mau mencium dan menjilat kaki Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu.” 
    Kita mematikan daging kita dengan tekad itu, bisa. Kalau kita mau dan nekat, bisa. Jangan anggap remeh. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. 2 Petrus 3:10-11 mengatakan, “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat, dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.” Memang kita dipanggil untuk suci; kudus, seperti Bapa adalah kudus. Tuhan pasti memberi peringatan-peringatan. Berbahagialah kita yang mendengar dan menuruti peringatan Tuhan ini...
    9 min
  • Mencintai Bapa dengan Benar
    Betapa banyak orang Kristen yang mengobral ucapan, “Aku mencintai-Mu, aku mengasihi-Mu, Bapa” tanpa mengerti bagaimana seharusnya dia mengisi kehidupan yang benar-benar mengasihi atau mencintai Bapa. Kita tidak bisa berkata, “Aku cinta pada-Mu, Bapa” tanpa mencintai kehendak dan rencana-Nya untuk kita penuhi. Seseorang yang menyatakan diri mencintai Bapa, maka dia harus menyukai kehendak Bapa untuk dimengerti, dikenakan dan dilakukan. Dan kita harus mengakui bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik dalam hidup kita. 
    Banyak syair lagu yang memuat kalimat, “Aku mencintai Yesus. Aku menghormati-Mu, Bapa” dan sejenisnya. Kalau kita menyatakan kita mencintai Yesus Tuhan kita, artinya kita harus menyukai karakter-Nya, menyukai cara berpikir-Nya, gaya hidup-Nya dan kita juga mau lakukan dengan hati yang rela dan sukacita. Jadi, kalau kita hanya mengatakan, “Aku cinta pada-Mu” tanpa menyukai kehendak Tuhan untuk kita lakukan, tanpa menyukai rencana Tuhan untuk kita penuhi, itu hampa, tidak ada artinya. Bapa tidak dibahagiakan, Tuhan Yesus tidak disenangkan dengan pernyataan dari orang seperti ini. 
    Sama kalau suami berkata kepada istri, “Ma, aku cinta padamu,” tetapi sang suami tidak melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan hati istrinya, sia-sia pernyataannya tersebut. Bahkan itu malah lebih menyakitkan. Suami yang berkata, “Ma, aku cinta padamu,” tetapi tidak memberi nafkah, KDRT apalagi tidak setia, itu lebih menyakitkan. Bagaimana seseorang bisa berkata, “Aku cinta pada-Mu, Tuhan,” tetapi hatinya menyukai dunia dengan segala hiburannya? Dulu kita begitu. Setelah kita sadar, kita mulai belajar untuk berubah. Dan ternyata memang tidak mudah untuk menjalani proses perubahan, karena selera hati kita sudah banyak teracuni oleh hasrat selera dunia. Jiwa kita sudah telanjur rusak, maka harus diperbaiki.
    Karenanya kita harus terus belajar Firman Tuhan untuk mengubah cara berpikir kita, paradigma kita ini. Changing your mind; cara berpikir dan paradigma kita harus diubah melalui kebenaran Firman Tuhan. Karena hanya Firman Tuhan yang dapat mengubah hidup kita. Dan untuk itu kita harus banyak duduk diam di kaki Tuhan dalam doa. Karena perjumpaan dengan Tuhan dalam doa itu yang dapat mengubah hidup kita. Maka, betapa beruntungnya orang yang mengenal Allah yang benar dan mencintai Dia. Mengenal Allah yang benar, menyukai apa yang dikehendaki Allah untuk dilakukan, menyukai rencana-Nya untuk dipenuhi. 
    Inilah sebenarnya maksud Allah menciptakan manusia sejak semula. Allah menciptakan makhluk yang bisa menjadi sekutu-Nya. Dengan rela—ingat, ada kehendak bebas pada manusia—manusia mencintai Bapa, mencintai Tuhan, sehingga manusia dapat memilih untuk melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya. Di kitab Kejadian, ketika Allah selesai menciptakan manusia, lalu Tuhan memberikan mandat kepada manusia untuk menaklukkan bumi. Jadi, manusia diciptakan bukan untuk menganggur. Manusia diciptakan bukan hanya untuk menikmati berkat dari Allah. ‘Bukan hanya’ artinya memang kita diperkenan menikmati berkat dan keindahan yang diciptakan Allah yang memang diciptakan untuk dinikmati oleh manusia, bukan untuk diri Allah sendiri. Tetapi di dalam kehidupan, di mana manusia menikmati berkat-berkat Tuhan, manusia harus memuliakan Dia. Bagaimana cara agar kita dapat memuliakan Dia? Tentu kita harus memilih untuk melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya. 
    Jadi, ketika Allah memberikan mandat, “Penuhi bumi. Taklukkanlah!” Itu adalah mandat. Ada mandat prokreasi, ada mandat budaya. Dan ketika manusia melakukannya, manusia berarti benar-benar melakukan kehendak Tuhan dan memenuhi rencana Tuhan. Sekarang kita sebagai umat pilihan, harus mengerti apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Apa yang dikehendaki Tuhan adalah melakukan segala sesuatu dalam kehidupan kita setiap hari dengan tepat seperti apa yang dikehendaki-Nya,
    8 min
  • Potensi Menyimpang
    Kita harus selalu mempertanyakan kepada diri kita, apa yang paling menarik dan memikat hidup kita? Koreksi atau introspeksi ini harus kita lakukan setiap saat, bukan hanya setiap hari. Apa yang menarik hati atau paling memikat hati kita? Apa yang paling mempesona hati kita, seperti magnet yang menarik kita? Mengapa kita harus memperkarakan atau mempersoalkan hal ini? Sebab, cara inilah yang dapat membuat kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan dan membuat kita bisa tetap fokus kepada Tuhan. Sebab, Iblis dalam kelicikannya menawarkan berbagai paket kesenangan atau objek-objek yang dapat memikat atau mempesona hati kita. Kalau kita tidak berhati-hati, tidak waspada, maka kita tidak berjaga-jaga, sehingga kita bisa ditelikung; disesatkan dan dibodohi. Kita bisa gagal fokus dan akhirnya terseret ke dalam jalan kegelapan. 
    Kalau Alkitab berkata, “Sadarlah dan berjaga-jagalah, lawanmu si Iblis berjalan keliling, sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Kesadaran dan sikap berjaga-jaga ini bukan pada waktu-waktu tertentu. Kalau pada waktu-waktu tertentu saja, bisa berbahaya karena Iblis tidak pernah mengenal berhenti, tidak pernah mengenal lelah. 24 jam waktu kita adalah 24 jam perjuangan dalam medan peperangan, melawan kuasa-kuasa gelap yang menawarkan berbagai keindahan. Pada musim tinju, misalnya seseorang bisa fokus hanya kepada tinju. Apalagi kalau sudah mencengkeram jiwa, seseorang bisa tidak ke gereja karena tinju. Memang tidak salah melihat pertandingan tinju, tetapi harus kita pahami kalau hal-hal yang biasa kita sediakan untuk Tuhan lalu kita pakai untuk yang lain, itu adalah bentuk ketidaksetiaan. 
    Orang bisa nonton bola sampai pagi, tetapi berdoa setengah jam saja tidak. Orang bisa tekun melihat pertandingan bola lewat banyak media berjam-jam, tetapi membaca Alkitab, setengah jam saja tidak. Ini menunjukkan bahwa dia tidak menghormati Tuhan. Dia mengesampingkan apa yang mestinya diutamakan. Ini menunjukkan dia tidak tertarik pada hal-hal rohani, tidak tertarik pada Tuhan. Mestinya, makin hari kita makin tidak terikat apa pun. Yang paling memikat, mempesona hati kita, harus hanyalah Tuhan, tidak ada yang lain. 
    Makin hari, kita harus makin mengosongkan bejana hati kita dari segala keinginan, supaya semakin melekat dengan Tuhan. Tidak ada yang memenuhi hati kita, selain Tuhan. Kita harus berani berkata,“Kebutuhanku hanya Tuhan.” Sebenarnya ukuran mana yang boleh, mana yang tidak, itu sederhana. Selama orang hidup menyenangkan hati Tuhan, pasti dia meletakkan segala sesuatu pada proporsinya. Dan ini sebenarnya yang tahu hanya Tuhan dan kita. Kalau kita minta hikmat, maka pengertian kita akan dibukakan oleh Tuhan. 
    Dunia semakin tidak menjanjikan. Kita tidak tahu sampai kapan dunia ini eksis. Bisa musnah, rusak oleh bencana. Entah erupsi, tsunami, gempa, dan lain-lain. Belum lagi kalau ada perang, chaos, dan lain sebagainya. Apalagi kalau kita memiliki penyakit atau sudah berumur, maka bisa kapan saja meninggal. Bukan hanya orang tua yang bisa meninggal, anak-anak muda pun dapat meninggal. Mestinya kita setiap saat mengoreksi, mengevaluasi diri, apa yang paling memikat hidup kita. Awas, hati-hati. Iblis seperti singa yang mengaum, yang berjalan keliling untuk menerkam siapa yang bisa ditelannya. Jadi, tidak ada pengecualian, siapa pun dapat diterkam. Jemaat, aktivis, pendeta, ketua sinode, siapa pun bisa diterkam. Karenanya, kita harus terus mengoreksi, mengevaluasi diri kalau-kalau ada sesuatu yang salah di dalam diri kita, yang mengikat hati kita. 
    Mungkin hal ini dianggap ekstrem. Tetapi, untuk menyelamatkan diri kita, jangan lagi punya hobi-hobi yang tidak terkait dengan iman kristiani, yang tidak membawa kita kepada Tuhan; yang hanya memberikan kesenangan. Kecuali hobi-hobi itu terkait dengan usaha atau bisnis kita. Tetapi kalau tidak, maka tidak perlu. Kita harus melepaskan semua ikatan dunia. Kita harus berani berkata,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…