Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kesombongan
    Adalah kesombongan kalau kita mencari Tuhan hanya pada waktu kita membutuhkan pertolongan-Nya. Namun ironisnya, itu sudah menjadi irama hidup banyak orang beragama. Kalau di dalam agama-agama suku, dan kepercayaan-kepercayaan di luar agama samawi khususnya, orang datang ke tempat keramat—pohon atau batu yang dianggap keramat atau tempat keramat lainnya—karena membutuhkan sesuatu. Biasanya juga membawa korban tertentu, di situlah terjadi transaksional. Sejatinya, hubungan kita dengan Allah tidak boleh dalam mekanisme transaksional. Kita harus mengenal benar siapa yang kita sembah. Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan manusia, dan menghendaki kita ini ada. Ia tidak membutuhkan apa-apa sebenarnya, dan bisa tidak membutuhkan siapa-siapa. 
    Dengan menciptakan manusia, sebenarnya Allah masuk dalam satu “risiko.” Sebab manusia yang diciptakan memiliki kehendak bebas; free will. Dalam istilah Latin, liberum arbitrium. Manusia diberi pikiran dan perasaan, seperti komponen yang ada pada diri Allah, pasti makhluk kekal. Binatang mau secerdas apa pun, tidak memiliki komponen seperti yang manusia miliki. Karenanya, ketika binatang mati, maka ia diakhiri. Dengan pikiran dan perasaan, maka manusia dapat menciptakan kehendak. 
    “Kehendak” bukanlah Allah yang mengatur (mendesain), melainkan manusia itu sendiri yang menciptakan kehendak. Allah tidak menciptakan kejahatan. Tetapi manusia memiliki pikiran dan perasaan sehingga dapat memproduksi kehendak yang positif atau negatif; menyukakan Allah atau menyakiti hati-Nya. Manusia sebagai makhluk yang dipercayai Tuhan memiliki pikiran dan perasaan adalah makhluk yang berisiko tinggi, karena apa yang kita tabur akan kita tuai. Tuaian itu bukan hanya sementara kita ada di dunia. Tetapi sampai di keabadian. Banyak orang tidak berpikir dari perspektif kekekalan. Inilah cara kuasa kegelapan menyesatkan manusia. 
    Kalau kita makhluk kekal—karena memiliki pikiran dan perasaan yang bisa menciptakan kehendak—maka kita harus berpikir dengan perspektif kekekalan. Sejujurnya, banyak di antara kita yang belum memiliki perspektif kekekalan, karena mewarisi apa yang orang tua lakukan; apa yang nenek moyang kita lakukan. Kita melihat model dari kehidupan, gaya dari kehidupan manusia yang perspektifnya kefanaan. Tentu tidak semua keluarga demikian, tetapi pada umumnya demikianlah orang-orang Kristen, mereka yang rajin ke gereja, aktivis, dan yang menyedihkan, bahkan pendeta. 
    Seseorang bisa ambil bagian dalam pelayanan gereja sebagai rohaniwan atau pendeta, tetapi tidak memiliki cara pandang kekekalan. Sehingga pelayanannya pasti hanya berorientasi pada hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Dan itu penyesatan. Ketika jemaat datang ke gereja dan merasa bahwa gerejalah sebagai agen Tuhan yang bisa memberikan nasihat dan tuntunan guna menjalani hidup, lalu gereja hanya memberikan khotbah-khotbah yang tidak membuka wawasan untuk menembus batas, gereja hanya bicara mengenai berkat jasmani, pertolongan Tuhan sekitar masalah-masalah fana, maka jemaat telah terkungkung, terbelenggu oleh pola berpikir yang salah. Bahkan kita yang sering berbicara mengenai langit baru dan bumi baru, belum tentu sudah keluar dari cara berpikir yang salah; belum tentu sudah menembus batas. Belum tentu sudah terbang seperti rajawali. 
    Banyak orang berurusan dengan Tuhan hanya pada waktu memiliki masalah-masalah berat. Atau berurusan dengan intensif, hanya pada waktu punya masalah, lalu transaksional. Mereka datang ke gereja, memuji dan menyembah Tuhan, supaya Tuhan berkati. Mereka memberikan persembahan dan berharap Tuhan gantikan lipat kali ganda. Dia adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi. Yang menciptakan manusia dengan divine purpose; ada tujuan ilahi. Tujuan ilahi ini pasti berelasi dengan kekekalan. Mari kita lepas landas untuk membuka pikiran, agar tidak terkungkung dengan cara berpikir manusia di sekitar kita yang wawasannya hanya sebatas kubur,
    10 min
  • Memperlakukan Tuhan Secara Benar
    Hal utama yang harus kita terima dan yakini dengan segenap hati adalah bahwa Tuhan merupakan Pribadi yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak. Kita harus memahami bahwa Allah memiliki kehendak yang harus dilakukan setiap saat dan dalam segala hal.  Selain itu, Allah juga memiliki rencana. Rencana itu bisa meliputi dua area. Pertama, rencana Allah secara umum, yaitu rencana Allah sejak semula untuk membangun Kerajaan dan keluarga Allah. Artinya, setiap anak-anak Allah harus terlibat di dalam rencana besar Allah. Kedua, rencana Allah secara khusus, yaitu rencana atas setiap individu orang percaya yang sangat spesifik. Dalam hal ini setiap orang menanggung rencana Allah yang khusus dan istimewa. Tidak ada orang yang memiliki rencana khusus yang sama.  
     
    Terkait dengan kehidupan orang percaya sebagai anak-anak Bapa yang dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah dan mewujudkan kehendak-Nya dalam hidup ini, Tuhan sangat reaktif dan responsif terhadap segala sesuatu yang kita lakukan, yaitu semua yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. Reaksi dan respons Tuhan terhadap kehidupan umat pilihan berbeda dengan kehidupan mereka yang bukan umat pilihan.  Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu: pertama, karena kita anak-anak Allah, kedua karena kita harus menghadirkan Kerajaan Allah dan mewujudkan kehendak-Nya. Dalam hal ini kehidupan orang percaya tidaklah diatur oleh hukum-hukum yang tertulis seperti agama pada umumnya. Tetapi diatur oleh kehendak Allah.
     
    Memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup dan berperasaan sekilas kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya sangat kompleks, sebab orang percaya tidak boleh memiliki wilayah sendiri. Semua wilayah adalah wilayah di mana umat pilihan Allah berurusan dengan Allah. Roma 8:28 mengindikasikan hal ini dengan sangat jelas, bahwa Allah berurusan dengan orang percaya dalam segala hal. Kenyataan yang tidak bisa dibantah bahwa Tuhan tidak kelihatan, sering seperti tidak ada, seakan-akan Ia ada di tempat yang tidak dapat disentuh dan dijangkau. Mengapa banyak orang tidak menangkap reaksi dan respons Tuhan atas segala sesuatu yang kita lakukan? Karena tidak memiliki kepekaan menangkapnya. Hal ini disebabkan ketertarikan seseorang terhadap sesuatu atau seseorang lebih besar dari ketertarikan terhadap Tuhan dan Kerajaan-Nya. Untuk bisa menangkap kehadiran Allah secara maksimal, seseorang harus hanya memiliki satu dunia; Tuhan dan Kerajaan-Nya. Tuhan absolut, kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.  
     
    Sesungguhnya, mengakui bahwa Tuhan itu ada dan hidup serta memperlakukan Dia sebagai Pribadi yang hidup, yang berperasaan, reaktif dan responsif bukanlah sesuatu yang mudah. Pada kenyataannya, banyak orang yang tidak memperlakukan Dia secara benar. Banyak orang menggerakkan hidupnya dari apa yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan seakan-akan Tuhan tidak ada. Hal ini disebabkan ia tidak mengerti maksud “mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.” Bagi orang-orang Kristen yang aktif bergereja, aktivis bahkan pendeta, Tuhan hanya menjadi wacana percakapan, tetapi tidak menjadi Pribadi yang hidup yang mencengkeram hidupnya. Hal ini tidak berbeda dengan banyak orang beragama lain. 
     
    Tanpa disadari, Tuhan menjadi seperti sebuah sistem yang hanya dipercakapkan, tetapi tidak dihadapi dan diperlakukan secara riil. Bagi orang beragama, sistem yang dimaksud adalah hukum-hukum agamanya. Sebab bagi mereka, yang penting sudah melakukannya; di luar itu Tuhan tidak ada urusan lagi. Berbeda dengan orang percaya yang harus berurusan dengan Tuhan dalam segala hal. Dalam hal ini, tidak ada wilayah kehidupan yang bebas dari sorotan Tuhan. Tidak ada satu hal pun yang Tuhan tidak ikut mempersoalkannya. Maka, kita harus mau mengerti bagaimana memperlakukan Tuhan secara benar. 
     
    Ketika seseorang menjadi umat pilihan, maka ia harus terus belajar menempatkan Tuhan sebagai pusat, artinya: pertama,
    10 min
  • Menghormati Tuhan
    Hampir semua manusia tidak menghormati Tuhan secara patut. Walaupun beragama, walaupun melakukan kegiatan agama, tetapi mereka tidak menghormati Tuhan secara patut. Dan ini benar-benar mengerikan. Bukan hanya menyedihkan, mengerikan! Kalau suatu hari seseorang menghadap Allah yang Maha Terhormat, Maha Agung dengan segala kemuliaan-Nya dan ia telah memperlakukan Allah secara tidak patut, betapa mengerikan keadaan orang seperti ini. Kita saja yang berjuang dan berusaha untuk menghormati Tuhan secara patut, belum tentu dengan mudah dapat menghormati Tuhan secara patut! Karena Allah tidak kelihatan. 
    Dan manusia pada umumnya memiliki kebiasaan melakukan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaan Allah. Biasa buat ini buat itu, pergi ke sana pergi ke sini, beli ini beli itu, punya rencana ini dan itu tanpa mempertimbangkan perasaan Allah; apakah Allah berkenan atau tidak. Itu adalah irama hidup manusia pada umumnya; termasuk irama hidup kita. Dan ketika kita sadar, kita telah hidup tidak senonoh di hadapan Allah—dimana Allah adalah Tuan rumah jagad raya ini—baru kita sadar dan kita mau berusaha untuk menempatkan diri kita secara benar, proporsional dan patut di hadapan Allah. Tapi karena irama hidup kita yang sudah salah begitu lama, betapa sulitnya merubahnya.
    Tetapi mari kita berjuang, bagaimana bisa menghayati Allah sebagai Pribadi yang hidup, yang nyata, yang Mahahadir di dalam hidup kita. Dan kita selalu mempertimbangkan segala sesuatu dengan mengkaitkan dengan perasaan Bapa. Namun sedikit sekali orang yang memiliki prinsip hidup seperti ini. Amati bagaimana orang dalam percakapan, bercanda, menulis sesuatu di media sosial; semua dilakukan tanpa mempertimbangkan apakah ucapannya, tindakannya, perilakunya, tulisannya itu benar-benar menyenangkan Tuhan atau tidak. Orang merasa berhak berbuat apa pun. 
    Tapi, mari kita bertobat! Ayo, kita berhenti hidup sembarangan, berhenti hidup suka-suka sendiri! Segala sesuatu yang kita lakukan harus kita pertimbangkan dengan mengaitkan dengan perasaan Bapa. Ini tidak mudah! Tetapi kalau kita membiasakan terus, maka kita akan secara otomatis dalam melakukan segala sesuatu mempertimbangkan perasaan Bapa. Inilah yang dimaksud dengan hidup di hadapan Allah. Hidup di hadirat Tuhan. Hidup yang menghormati Allah. Yang berjuang saja belum tentu dengan mudah dapat hidup secara benar di hadapan Allah, apalagi kalau orang tidak sungguh-sungguh berjuang. 
    Kita bertekad untuk bisa memiliki hati yang mengasihi, menghormati dan takut akan Dia sebagaimana sepatutnya. Dan kita membayangkan betapa indahnya! Dan memang indah, kalau kita menjadi manusia yang menghormati Allah secara patut, mencintai Allah secara patut dan takut akan Allah secara patut; pasti kita menjadi orang saleh Tuhan. Dan hidup kita pasti bisa dinikmati oleh Tuhan. Apa pun dan bagaimana pun keadaan masa lalu kita, jangan hal itu mengikat kita! Tuhan melupakan dosa-dosa kita dan tidak mengingatnya, jika kita sungguh-sungguh bertobat dan mau berubah. Tuhan berurusan dengan kita hari ini! Bukan kita 2, 3 tahun yang lalu, apalagi 10,15 tahun yang lalu! Bahkan Tuhan tidak berurusan dengan kita kemarin! Ingat! Tuhan berurusan dengan kita hari ini dan bisa menjadi apa kita nanti. 
    Kita mau kita naik kelas, masuk kawasan baru dalam kemuliaan Tuhan; makin dekat, makin melekat dengan Tuhan. Sehingga hati kita makin tawar melihat keindahan dunia. Mata hati kita makin terarah ke langit baru bumi baru. Dan kita benar-benar merindukan Tuhan Yesus. Dan itu harus kita paksa. Artinya kita memaksa diri kita sendiri. Kita keras terhadap diri kita sendiri. Kita yang bisa mengendalikan diri kita. Kendalikan kehidupan kita. Tuhan telah memberikan kepada kita kehendak bebas, sehingga bukan Tuhan yang mengendalikan hidup kita. Kita yang harus mengendalikan! Kita minta pertolongan Tuhan untuk menuntun kita, mengendalikan hidup kita. Kita kendalikan hidup kita hanya untuk terarah kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya saja.
    8 min
  • Menjaga Hati

    Firman Tuhan mengatakan dalam Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Apakah kita selama ini benar-benar memperhatikan keadaan hati kita dengan benar dalam pimpinan dan tuntunan Roh Kudus? Kalau dari hati terpancar kehidupan, berarti seluruh perilaku hidup kita sangat ditentukan oleh hati kita. Sejujurnya, tidak banyak orang yang sungguh-sungguh menjaga hatinya dengan rajin. Kita menganggap bahwa kita menjalani hidup dengan baik, tetapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh memperhadapkan hati kita di hadapan Tuhan.

    Wahyu 2:23 firman Tuhan mengatakan, “dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.” Ada hubungan (relasi) antara hati dan perbuatan. Apa yang kita baca dalam Kitab Amsal, tepat seperti yang Tuhan Yesus firmankan, bahwa Ia menguji batin dan hati orang. Tuhan akan memperhadapkan setiap perbuatan di hadapan-Nya, yang dikalimatkan “membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”

    Dari hati, terpancar kehidupan. Karenanya, hati harus dijaga. Memang di sini dibutuhkan kejujuran, dan mintalah kepekaan dari Roh Kudus supaya kita bisa mengenali diri kita dengan lebih lengkap, benar, utuh, dan sempurna. Yeremia 17:9, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Ironis, kita sering tidak sadar bahwa kita itu munafik. Sering kali pikiran kita masih menyimpan hal-hal yang tidak patut, dan kita tidak sungguh-sungguh memperkarakan hal ini dengan Tuhan karena kita merasa lolos dari pengamatan mata Tuhan. Ada kebencian-kebencian, kemarahan-kemarahan terselubung, kesenangan-kesenangan dunia yang masih menempati hati kita.

    Kalau Tuhan menerangi hati kita—karena memang kita minta Tuhan meneranginya—maka kita dapat melihat keadaan kita yang sebenarnya. Melihat, bukan berarti seketika bisa baik. Sebab untuk mencabut hal itu, perlu perjalanan waktu, perjalanan hidup, dan proses. Kalau seseorang tidak mengenali keadaan dirinya, tidak mungkin dia mengalami pertumbuhan kedewasaan rohani atau proses pengudusan. Kecuali kita duduk diam di kaki Tuhan, minta penerangan Roh Kudus supaya kita tahu bagaimana keadaan hati kita.

    Hati itu licik. Semakin tua, seseorang akan makin sulit dibentuk; makin tidak bisa mengenali diri dengan utuh, lengkap, atau sempurna, kecuali betul-betul nekat. Kalau kita serius mau digarap oleh Tuhan, Ia akan memberikan rangsang atau impuls. Dan ketika muncul keinginan, gairah, perasaan tertentu, kita harus mengoreksi apakah ini sesuai dengan pikiran, perasaan Tuhan. Jika tidak, kita harus minta ampun dan menanggulanginya. Maka, “Allah turut bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan,” itu cara Allah mengubah kita bukan dengan keajaiban atau mukjizat, melainkan lewat proses natural yang harus kita alami.

    Kita bersyukur Tuhan mengizinkan kejadian-kejadian tertentu terjadi di dalam hidup kita. Tidak sedikit kejadian tersebut menyakitkan dan sangat melukai kita. Tetapi, tidak ada cara lain untuk mengubah kita, kecuali melalui kejadian-kejadian tersebut. Tuhan memerlukan sarana untuk mengubah kita. Sarana itu adalah peristiwa-peristiwa tersebut. Tuhan tidak bisa mengubah kita tanpa sarana, dan perubahan itu maksudnya agar kita serupa dengan Yesus. Serupa, tentu secara batiniah; wajah batiniah atau hati kita. Tuhan yang melihat hati. Jadi, Tuhan tahu peristiwa apa yang harus diadakan atau terjadi, untuk mengangkat kebusukan-kebukan hati kita.

    Ketika Tuhan memberikan rangsang atau impuls, kita mestinya sudah waspada. Kita harus bisa menyangkal diri. Menyangkal diri bukan hanya tindakan yang menolak perbuatan melanggar hukum. Menyangkal diri itu sikap yang menolak semua unsur manusiawi, supaya diganti rohani atau surgawi atau ilahi.
    8 min
  • Kekuatan Doa

    Ber-Tuhan itu bukan saja “mengasyikkan,” namun “sangat mengasyikkan,” indah, dan mulia. Mengenal Allah harus melalui perjumpaan secara langsung. Itulah sebabnya mengapa berinteraksi dengan Allah itu mengasyikkan. Berinteraksi lewat doa, Firman, dan tentu lewat pengalaman hidup sehari-hari. Kalau ada orang yang tidak berniat berinteraksi atau tidak mau berurusan dengan Tuhan, tidak menjadikan Tuhan sebagai pilihan, itu bukan saja keputusan yang salah, melainkan keputusan yang mencelakakan. Apa pun masalah hidup yang kita hadapi, seberat apa pun beban yang sekarang kita sedang pikul, penderitaan seberat apa pun yang kita sedang alami, kesulitan, kesukaran apa pun yang kita sedang jalani, jangan berhenti memilih Tuhan untuk menjadi satu-satunya pilihan hidup. Jangan berhenti mencari Tuhan, berinteraksi dengan Tuhan, supaya kita bisa benar-benar mengalami bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang hidup. 

    Percaya kepada Allah sebagai Pribadi yang hidup dan nyata, bukan sesuatu yang mudah. Kalau orang terlahir dalam lingkungan masyarakat beragama, percaya kepada Tuhan itu mudah. Tetapi, untuk benar-benar percaya karena mengalami percaya tersebut dan menghayati secara benar dari pengalaman, tidaklah mudah. Kenyataannya, tidak banyak yang bisa sampai pada taraf itu. Buktinya, lihat perilaku masyarakat dan individu. Ada masyarakat yang secara pandangan mata, secara lahiriah, agama begitu dominan, tetapi perilakunya buruk. Sering terjadi pencurian, tawuran, konflik horizontal, daerahnya tidak aman, masyarakatnya tidak ramah, sehingga orang asing yang datang pun tidak merasa nyaman. Ini masyarakat yang secara lahiriah ber-Tuhan, agama sepertinya dominan, namun perilakunya tidak menunjukkan bahwa mereka percaya Allah ada.

    Kalau mereka percaya Allah ada, pasti masyarakat tersebut menjadi masyarakat yang nyaman dan sejahtera; tidak ada pencurian atau konflik. Kalau ada orang asing hadir di tengah-tengah mereka, orang asing tersebut bisa merasa nyaman. Dalam hal ini, kepercayaan masyarakat kepada agama, belumlah kepercayaan yang benar. Sebaliknya, budaya yang baik dalam satu masyarakat, lebih dari keberagamaan orang-orang yang percayanya tidak berkualitas itu. Ada satu masyarakat yang agamanya dianggap tidak dominan atau dianggap tidak memercayai Allah yang benar, tetapi berperilaku baik. Budayalah yang membuat mereka berkeadaan seperti itu. Jadi, budayanya lebih baik dari keyakinan keberagamaan masyarakat tersebut. Ini fakta-fakta yang ada di masyarakat dalam kehidupan di dunia ini.

    Kalau secara individu, orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan dari pengalaman hidup di mana dia bisa berinteraksi dengan Allah, itu luar biasa. Individu itu pasti menjadi individu yang tidak berduri; tidak menyakiti sesama. Pasti ia berperilaku bukan saja baik, sebab orang tidak ber-Tuhan pun bisa baik; ia bisa menjadi sangat baik. Hidupnya akan memberkati orang lain; membuat orang lain sejahtera, teduh, damai, tertolong. Kalau orang benar-benar mengalami Tuhan, ia menjadi helpful terhadap sesama. Pasti memiliki perasaan kasih sayang yang dalam terhadap sesama. Orang yang berinteraksi dengan Tuhan, pasti memiliki keberanian menghadapi berbagai persoalan hidup, karena meyakini bahwa Allah yang dia sembah, Allah yang hidup, Allah yang nyata, Allah yang hadir, Allah yang berkuasa. Ia tidak akan mengandalkan kekuatan diri sendiri, tetapi mengandalkan kekuatan Allah.

    Oleh sebab itu, apa pun keadaan kita hari ini; apa pun masalah yang kita hadapi, jangan membuat kita kendur di dalam mencari Tuhan. Kita harus terus mencari Tuhan. Bagaimana mencari Tuhan itu? Kita harus praktik: berdoa. Berdoa bukan hal yang mudah. Kadang-kadang atau pada umumnya, berdoa 10 menit itu begitu sulit, terasa panjang, dan lama. Apalagi 30 menit, apalagi 1 jam. Sehingga, tidak banyak orang yang sanggup melakukannya. Tetapi, kita harus mengambil keputusan memberi ruangan hidup, menyediakan waktu,
    9 min
  • Mengubah Perkataan

    Kalau kita nanti melihat kemuliaan Allah Bapa yang nampak dari wajah Tuhan Yesus Kristus yang duduk di takhta dan merasakan kemuliaan Allah yang memenuhi Kerajaan Surga, maka kita baru mengerti bahwa apa pun yang kita persembahkan untuk Tuhan—pengabdian, dedikasi—belumlah memadai, belumlah mengimbangi kebesaran Tuhan Yesus Kristus. Sejatinya memang tidak akan bisa memadai, mengimbangi kemuliaan Kerajaan Surga. Jadi, kalau kita sekarang masih menahan apa yang harusnya kita serahkan kepada-Nya, kita akan sangat menyesal. Sebab kita harus hidup sungguh-sungguh hanya untuk Tuhan.

    Maka, jangan menikmati apa pun yang Tuhan tidak bersama-sama kita ikut menikmatinya. Apa pun itu; tontonan, makanan, apa yang kita dengar, kita lihat. Sejujurnya, kita masih banyak gagal. Tetapi, kita mau belajar bangkit dari setiap kegagalan, ketidaktepatan atau dosa (hamartia) kita. Kalau kita benar-benar menyerahkan hidup kita untuk Tuhan, maka kita tidak akan mengucapkan satu kata pun yang tidak dikehendaki oleh Allah kita ucapkan. Sering kita merasa memiliki mulut dan mengucapkan apa saja yang kita mau ucapkan. Kita sering merasa bahwa Tuhan tidak terganggu oleh apa yang kita ucapkan.

    Firman Tuhan mengatakan bahwa siapa yang bisa mengendalikan lidah, dia menjadi sempurna. Maka, kalau kita bisa mengubah perkataan kita, kita mengubah hidup kita. Kita mempersembahkan setiap perkataan kita. Kita sering minta ampun untuk kesalahan satu ini, yang masih saja sering gagal. Tetapi, seperti dulu belajar ilmu ukur, aljabar, matematika kalau sekarang. Gagal, kita coba lagi. Sampai akhirnya, kita bisa mengerjakan soal-soal yang sulit bagaimanapun. Demikian pula dengan kegagalan kita dalam menggunakan waktu, harta, apa pun.

    Kita harus berani menjadi manusia yang benar-benar berbeda dari dunia. Seekstrem-ekstremnya kita hidup untuk Tuhan dalam kekudusan, tanpa batas. Dan sepeka-pekanya kita mendengar suara Tuhan. Khususnya untuk para hamba Tuhan, kita harus bisa berdoa sampai mencucurkan darah. Bukan hanya mencucurkan air mata dan keringat, melainkan darah. Kita harus belajar untuk menutup mata, telinga, jiwa dari dosa. Supaya telinga rohani dan mata rohani kita dibuka, sehingga kita bisa mendengar Tuhan berbicara. Tuhan itu hidup, Tuhan itu hadir, suara-Nya pasti kita dengar.

    Telinga kita harus bersih dari suara yang tidak patut kita dengar. Mata kita harus bersih dari hal yang tidak patut dilihat. Kalau kita berdoa, kita bisa tutup mata, kita bisa berpindah masuk di kawasan hadirat Tuhan. Kalau sudah sampai di kawasan itu, kita tidak akan jenuh. Kesucian yang sempurna adalah hati yang tidak digembirakan oleh apa pun, tidak menantikan apa pun yang bisa membuat hidup kita aman, nyaman, tenang. Sehingga kita tidak akan takut berjanji untuk hidup suci, menyerahkan milik kita bagi Tuhan; mengapa? Karena memang hanya itulah kehidupan, di luar kesucian adalah kematian. Di luar persekutuan dengan Tuhan itu kebinasaan, hidup yang tidak bernilai.

    Mungkin 40 tahun lagi, belum tentu dunia masih eksis. Belum tentu, bisa ya bisa tidak, tetapi belum tentu. Mungkin ada situasi chaos, bencana, perang dan lain-lain. Jadi, kita harus benar-benar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya dunia kita. Jangan punya kesibukan yang lain. Jangan punya hobi apa pun. Maka, kita akan dibawa Tuhan kepada pengalaman-pengalaman rohani yang lebih ekstrem dari apa yang sudah kita jalani. Kita mau menjadi orang yang dipisahkan dari dunia. Supaya ketika Tuhan Yesus datang yang kedua nanti dan bertanya, “Apakah kalau Anak Manusia datang, Ia mendapati iman di bumi?” Kita yang akan merespons dengan berkata, “Ada, Tuhan; saya, Tuhan.”

    Kita sudah berjalan jauh; sudah berani berjanji, bertekad, bersumpah tidak main-main. Maka, orang akan menuntut kita, apakah kita sudah membuktikannya? Sementara kuasa kegelapan membuat banyak cerita untuk menjatuhkan kita. Tetapi, kita tidak takut, karena kita bersama Tuhan.
    9 min
  • Tidak Terikat Sistem
    Orang-orang yang belajar teologi dan memiliki banyak pengetahuan tentang Tuhan melalui studi, literatur, atau melalui bangku kuliah, biasanya merasa telah menemukan Tuhan dan cukup berilmu. Kalaupun meneruskan studinya dari S1, S2, dan seterusnya, itu bukan karena mau menemukan Tuhan, melainkan untuk memiliki gelar dan menambah pengetahuan saja. Standar menemukan Tuhan seperti itu sudah biasa di lembaga-lembaga pendidikan teologi atau seminari. Dan ini adalah penipuan dan pembodohan dari kuasa gelap. Mereka merasa sudah menemukan Tuhan, sehingga berhenti mencari Tuhan. 
    Sebaliknya, jemaat tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan, karena merasa Tuhan menyimpan berjuta misteri yang tidak mudah dipahami atau dipandang mustahil untuk ditemukan. Tuhan memang menyimpan berjuta misteri, tetapiTuhan menyediakan porsi mengenai diri-Nya yang bisa dikenal oleh siapa pun yang mencari Dia. Tuhan tidak akan memberi diri-Nya dibelenggu oleh sistem-sistem tertentu; misalnya harus sekolah teologi dulu, baru bisa mengenal Tuhan. Banyak orang Kristen yang tidak pernah menyentuh bangku sekolah teologi. Apakah berarti mereka tidak mengenal Tuhan?
    Tuhan bisa ditemukan oleh siapa pun yang mencari Dia, dan Tuhan tidak terikat dengan sistem. Jadi, jangan meremehkan, melecehkan, membelenggu Tuhan dengan sistem “harus melalui pendidikan teologi.” Memang ada baiknya belajar mengenal Tuhan dari aspek akademis; belajar bahasa asli, latar belakang Alkitab, supaya menemukan akurasi; ketepatan memahami isi Alkitab. Tetapi, harus di dalam pimpinan Roh Kudus. Seseorang harus serius memenuhi apa yang Tuhan tetapkan, guna menemukan Dia.
    Menemukan pengetahuan tentang Tuhan tidak sama dengan menemukan Tuhan secara pribadi. Tak peduli berapa banyak buku yang kita baca, kalau kita tidak mencari Tuhan sesuai standar yang Allah kehendaki, maka kita tidak akan pernah menemukan Tuhan. Kalau orang merasa bahwa menemukan Tuhan harus melalui satu sistem, seperti pendidikan teologi, maka ia tidak pernah menemukan Tuhan. Maka, banyak orang yang bergelar tinggi secara akademis; masuk STT atau seminari, tetapi tidak mengubah orang lain. Ia bisa mengisi kekosongan kebutuhan rohaniwan yang pekerjaannya khotbah, memberi seminar, memimpin sakramen, tetapi tidak mengubah manusia karena dia tidak menemukan Tuhan. Dia menemukan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi tidak menemukan Tuhan.
    Menemukan pengetahuan tentang Tuhan, tidak sama dengan menemukan Tuhan. Tuhan itu lebih besar dari jagat raya ini; dalam dan tinggi-Nya tidak terukur. Betul, menyimpan berjuta misteri. Tetapi, Tuhan pasti menyediakan porsi untuk dikenal manusia dan setiap orang memiliki porsi yang berbeda. Tuhan pasti menyediakan porsi pengenalan akan Tuhan bagi setiap individu dan tidak terikat sistem. Secara umum, Allah menyediakan porsi diri-Nya agar manusia dapat mengenal Dia dan berinteraksi secara harmoni dengan-Nya sebagai Bapa. Porsi yang cukup membuat seseorang dapat berjalan dengan Tuhan, menemukan tempat di hadapan Allah untuk bersekutu dengan-Nya.
    Kita tidak boleh merasa cukup puas dengan pengenalan akan Tuhan yang telah kita miliki. Kalau orang merasa sudah cukup mengenal Allah, maka dia akan menggunakan waktu, perhatian, dan potensi untuk hal lain, bukan mencari Tuhan. Dan porsi atau kuota yang dia sediakan, terbatas. Kalau kita tidak merasa sudah cukup mengenal Dia, itu indah. Kita memiliki kehausan dan kelaparan akan Dia. Firman Tuhan mengatakan, “Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, karena ia akan dipuaskan.” Kita pasti menemukan Tuhan, sebab porsi itu sudah disediakan Tuhan. Tuhan menghendaki kita untuk menghormati Dia. Di dunia yang fasik dan jahat hari ini, Allah ditinggalkan. Banyak orang membelakangi Allah, karena memandang-Nya tidak menguntungkan; nothing, wasting time, useless. Tuhan diam. Tuhan memberi peringatan, tentunya. Kalau diperingatkan tetap keras kepala, maka Tuhan biarkan.
    Kita bersyukur masih memiliki kehausan akan Dia,
    9 min
  • Menemukan Kehidupan
    Ada sebuah pertanyaan sederhana, tetapi bisa dianggap mengada-ada; sebuah pertanyaan yang bersifat filosofis, bersifat pemikiran atau perenungan: “Apakah sekarang kita masih memiliki kehidupan?” Kehidupan yang dimaksud bukan hanya sekadar tubuh kita yang bergerak, mulut kita yang masih terbuka dan bisa menikmati makanan, nafas yang masih berkembang di dada, nadi dan jantung yang masih berdenyut dan berdetak. Kehidupan yang dimaksud menyangkut seluruh keberadaan kita, baik jasmani dan juga rohani. Rohani, artinya apakah kita menikmati ketenangan dan kedamaian? Atau justru kita merasa tertekan dan tertindas? Mungkin juga kesenangan atau kebahagiaan? Tetapi kesenangan dan kebahagiaan yang sebenarnya membawa kita kepada kebinasaan, bukanlah kehidupan. 
    Sekarang ini, sebenarnya banyak orang yang telah kehilangan kehidupan. Misalnya seorang wanita yang menikah dengan pria yang bengis, kejam, dan pelit. Wanita ini dulu pernah kuliah, bekerja, punya sahabat-sahabat dan teman-teman, menikmati kebersamaan dengan sahabat-sahabatnya. Tetapi, begitu menikah, dia tidak punya uang sendiri, karena suaminya tidak memberi uang dengan cukup. Suaminya juga kasar, dan melakukan KDRT. Ini adalah salah satu contoh dari kisah seorang wanita yang kehilangan kehidupannya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dalam memilih teman hidup. Lebih baik tidak menikah daripada menikah namun kita kehilangan kehidupan. 
    Sebaliknya, ada juga wanita yang menikah dengan keluarga kaya. Semua serba kecukupan; anak-anak baik, suami baik, mertua sayang kepadanya, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan. Keluarga yang materialistis, sukanya berpesta, wisata, makan-makan. Mungkin juga bergereja, tetapi tidak all out mengikut Tuhan secara benar. Hanya beragama Kristen, tetapi tidak mengikut Tuhan. Bersikap kejam dan bengis terhadap orang lemah. Tentu orang kaya sering tidak takut siapa-siapa, karena merasa punya relasi pejabat tinggi. Kalau bisa, mereka akan mencari musuh untuk menunjukkan kekuatan dan kemampuannya. Orang seperti ini, jangan kita pikir memiliki kehidupan. Dia sedang hidup dalam mimpi; mimpi yang dirasa indah, tetapi sebenarnya akan berakhir.
    Jadi, kita yang sekarang ini dalam keadaan baik-baik, dalam keadaan yang terbilang sukses, diberkati Tuhan, mari kita berhati-hati. Kita bisa saja sebenarnya sedang dibantai oleh kuasa gelap, digiring menuju api kekal. Lalu, bagaimana kita memiliki kehidupan? Apa pun dan bagaimana pun keadaan kita hari ini, kita bisa memiliki kehidupan. Jangan ceroboh, jangan cepat-cepat mengambil keputusan. Walaupun kondisi kita berat, tetap kita harus benar-benar mempertanyakan dan mempersoalkan semua kebutuhan dan keinginan kita dengan Tuhan. 
    Kehidupan hanya ada pada Tuhan; tidak ada pada siapa-siapa. Tanpa Tuhan, kita tidak punya kehidupan. Ada kelompok orang yang tertindas, hidupnya dalam tekanan dan hanyut dalam penderitaan, tidak bisa berdoa, malas ke gereja, dan tidak jarang yang marah terhadap Tuhan. Sementara, di pihak lain, ada orang yang merasa hidupnya diberkati, sukses, tetapi sebenarnya sedang diarahkan dan digiring menuju kegelapan abadi. Kebahagiaan mereka tertumpu pada harta kekayaannya, bukan kepada Tuhan. Mudah bagi mereka untuk ke gereja, mudah bagi mereka menunjukkan seakan-akan mereka peduli pekerjaan Tuhan. Mudah mengundang pendeta hadir di rumahnya dan memuji menyembah Tuhan. Tetapi, kehidupan sehari-harinya tidak sungguh-sungguh menyenangkan hati Tuhan. Ini orang-orang yang tidak memiliki kehidupan. 
    Pada umumnya, hampir semua orang tidak memiliki kehidupan. Tetapi mulai hari ini, kita bisa berubah. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai kehidupan kita, maka kita menemukan kehidupan. Walaupun keadaan kita tidak utuh, tidak lengkap, berada dalam situasi yang membuat kita tidak bisa menikmati kegembiraan dan kebahagiaan dalam hidup, kita masih bisa memiliki kehidupan. Jadikanlah Tuhan sebagai kehidupan, kebahagiaan atau kesenangan kita. Bagaimana hal itu bisa kita peragakan, kita kenakan,
    9 min
  • Ciri Kedewasaan Rohani
    Salah satu ciri dari kedewasaan rohani seseorang adalah menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan dan kesenangan hidup. Hal ini tidak dikenal oleh anak-anak dunia, juga orang-orang Kristen yang belum dewasa. Mereka tidak mengerti bagaimana menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kesenangan atau kebahagiaan. Kalau kita bertumbuh dewasa dan bisa menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, maka kita bisa merasakan kemerdekaan dan kebebasan. Sebab, sesungguhnya yang membelenggu kita adalah kesenangan dunia. Apa pun yang menjadi kesenangan dan kebahagiaan seseorang selain Tuhan, akan membelenggu, menghambat pertumbuhan rohani, bahkan bisa membinasakan. 
    Tuhan menjadi kebahagiaan dan kesenangan, apakah itu bisa? Sangat bisa. Tetapi, memang menuntut tekad yang kuat, yang ekstrem sekali. Jika tidak ekstrem sekali, tidak bisa. Bagaimana supaya itu bisa kita alami? Cara berpikir kita harus diubah dulu. Pertama, kita harus benar-benar berpikir logis dan realistis. Ingat, hidup kita itu singkat, maka kita harus menggunakan waktu yang singkat ini untuk memiliki Tuhan. Orang yang tidak memiliki Tuhan akan binasa selama-lamanya. 70-80 tahun umur kita jika dibanding dengan kekekalan, tidak ada artinya sama sekali. Masalahnya, setan sering kali menipu dengan perkataan, “Mumpung kita masih hidup. Selagi kita masih ada di bumi, nikmati sebanyak-banyaknya yang bisa disediakan dunia.” Dan mereka perjuangkan itu tanpa batas. Filosofinya seperti yang dikatakan di dalam 1 Korintus, “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” 
    Hal ini kebalikan dari cara berpikir yang benar. Orang menganggap kalau kita berpikir hal-hal surgawi, kehidupan yang akan datang, itu sesuatu yang tidak logis dan tidak realistis. Justru inilah yang logis dan realistis. Kita harus mengubah cara berpikir kita. Kalau tidak mengubah cara berpikir, maka kita tidak akan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Jadi, bukan tanpa alasan pemazmur mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi,” sebab ketika seseorang meninggal, seperti bangun tidur, matanya terbuka melihat kekekalan. Begitu melihat kekekalan, hidup itu seperti mimpi, singkat sekali. Syukur kita bisa menyadari hal ini sejak masih di dunia. Itulah pikiran yang logis dan realistis. Kalau kita tidak berpikir demikian, pasti kita duniawi. Berpikirlah betapa singkatnya hari hidup ini. Orang yang berpikir demikian, kata pemazmur, memiliki hati yang bijaksana. 
    Yang kedua, kita percaya bahwa kehidupan ini sudah rusak. Di dunia ini kita menghadapi keadaan yang sulit dan berat. Jangan berharap kita bisa menikmati kebahagiaan dengan kondisi dunia yang rusak. Tuhan tidak akan memberikan kebahagiaan puncak kepada manusia yang sudah rusak dan bumi yang sudah terlaknat. Percayalah bahwa ada kebahagiaan di kekekalan. Ini perlu kita ketahui, bahwa apa pun yang bisa kita nikmati dalam hidup ini, tidak mungkin klimaks, tidak mungkin puncak. Betapa celakanya kalau sampai kita menikmati hidup tanpa Tuhan beserta. Itu berarti pengkhianatan. Percayalah, dalam persekutuan dengan Tuhan, ketika kita berkomitmen menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan, apa pun yang kita nikmati, yang kita miliki, sesederhana, sekecil apa pun, itu menjadi lengkap dan membahagiakan. 
    Kita menantikan kebahagiaan yang sesungguhnya di langit baru bumi baru. Tetapi selama kita di dunia, ajaibnya, dalam persekutuan dengan Tuhan, segala sesuatu yang diberikan kepada kita, bisa dinikmati. Hidup kita singkat, dan tidak ada kebahagiaan puncak atau klimaks di bumi. Yang penting, bersama Tuhan kita bisa menikmati apa pun yang Tuhan percayakan. Ingat firman Tuhan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukup.” Dengan demikian, kita menjadi kekasih Tuhan. Kalau kita mau diberkati Tuhan, maka kita harus hidup di dalam kelimpahan Tuhan, dan inilah jalannya. Tuhan menjadi kebahagiaan, Tuhan menjadi kesenangan kita. 
    Yang ketiga,
    8 min
  • Mengasihi Jiwa
    Bapa di surga menghargai jiwa kita, lebih dari kita menghargai jiwa kita sendiri; Allah menghargai jiwa manusia lebih dari manusia menghargai jiwanya sendiri. Maksud “menghargai jiwa” adalah mengupayakan bagaimana jiwa tidak binasa di dalam api kekal. Kengerian api kekal itu melampaui yang bisa dipikirkan dan dibayangkan. Kuasa kegelapan berusaha menutupi realitas ini dan memandang remeh keterpisahan dengan Allah, sehingga oleh penyesatan kuasa kegelapan tersebut, banyak orang tidak menghargai jiwanya secara benar. Jangan kita pandang sepele atau remeh hal ini. Mungkin kita merasa telah menghargai jiwa kita secara benar, maka kita mau menjadi orang baik; tidak mau melakukan kejahatan, pergi ke gereja, mengambil bagian dalam aktivitas pelayanan, bahkan menjadi pendeta. Tetapi, belum tentu kita sudah menghargai jiwa kita. 
    Kalau kita bertumbuh di dalam kebenaran, cara berpikir kita diubah, kita memiliki pertemuan dengan Tuhan setiap hari, maka Allah mentransfer atau mengimpartasi perasaan dan pikiran-Nya, barulah kita bisa mengerti betapa berharganya jiwa dan keselamatan. Allah memiliki segala kekayaan, tetapi pasti yang paling disayangi oleh Bapa adalah Yesus. Demi keselamatan manusia, Bapa memberikan Putra Tunggal-Nya. Di sini jelas sekali betapa Allah menghargai jiwa manusia. Tetapi, manusia yang diselamatkan sering tidak menghargai jiwanya sendiri secara benar atau proporsional, sebab Iblis terus bermanuver untuk menyesatkan pikiran. Dengan belajar kebenaran dan mengalami banyak pencerahan, kita bisa mengerti perbandingan antara kekekalan yang indah dengan hidup kita hari ini. 
    Tidak ada artinya kekayaan, kebahagiaan, kehormatan, atau apa pun yang bisa kita raih dalam hidup ini, dibanding dengan kemuliaan kekal nanti. Sangat tidak ada bandingannya. Dan orang yang tidak bertumbuh dalam kebenaran, sama sekali tidak mengerti kemuliaan kekal dan tidak mampu menghayatinya. Fokus perhatian hidupnya tertuju kepada perkara-perkara fana, yang sama sekali tidak ada nilainya dibanding dengan kemuliaan Kerajaan Tuhan. Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia, kalau jiwanya binasa?” Oleh sebab itu, kita harus berusaha bagaimana memiliki keselamatan sebagai milik yang pasti; memiliki hak penuh masuk Kerajaan Surga. Keselamatan bukan sekadar diyakini, melainkan juga benar-benar dialami sejak kita hidup di bumi.
    Menghargai jiwa secara benar akan membuat kita berani mempertaruhkan apa pun—tanpa batas—supaya kita memiliki keberkenanan di hadapan Allah. Orang yang menghargai nilai jiwa seperti Allah menghargai nilai jiwa manusia, akan berusaha menjadikan dirinya berkenan di hadapan Allah. Kita harus berani memperkarakan setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil, setiap perkataan yang kita ucapkan, renungan pikiran hati kita, cita-cita dan keinginan kita, apakah berkenan kepada Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh menghargai jiwa kita dan kita tidak mau terpisah dari Allah, kita mau bersama dengan Tuhan, bersama dengan Allah sejak di bumi ini dan tentu sampai kekekalan nanti, kita harus berani mempertaruhkan apa pun. Yang berharga dalam hidup ini hanya Tuhan. Ketika seseorang menghargai nilai jiwanya secara benar, ia bisa menghayati kasih Allah terhadap dirinya, dan akan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Ia tidak ingin melukai dan menyakiti hati-Nya. 
    Kalau kita melihat orang-orang yang hidup di dalam dosa; orang-orang yang tidak bergereja, orang-orang yang kita pandang fasik, mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum, melanggar moral, dan nyata-nyata dijumpai jahat, kita melihat betapa mereka tidak menghargai jiwa mereka. Sebenarnya mereka sedang mempersiapkan diri masuk kebinasaan atau terhilang dari hadirat Allah selamanya, sampai pada tingkat mereka tidak mengenal diri mereka sendiri. Sama sekali tidak takut Tuhan dan tidak takut neraka. Betapa mengerikannya keadaan ini. 
    Iblis dengan kelicikannya juga bisa membuat kita sebenarnya dalam situasi yang berbahaya,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…