Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengatur Suasana
    Sedikit sekali orang yang memiliki kecemasan yang tinggi mengenai atau terhadap gelombang besar manusia yang sedang menuju ke dalam kegelapan abadi. Tidak sedikit orang rajin ke gereja, aktif dalam kegiatan pelayanan, bahkan menjadi pendeta. Tetapi, sedikit orang yang memiliki kecemasan atau perasaan krisis yang tinggi terhadap atau mengenai gelombang besar orang yang sedang menuju kegelapan. Sebagian besar orang hanya mendengar dan bisa saja setuju dengan hal ini, tetapi tidak merespons secara benar dengan tindakan konkret membangun perasaan krisis atau perasaan cemas terhadap atau mengenai gelombang besar orang yang menuju kegelapan. 
    Ironis sekali. Mungkin orang yang ada di dalam kegiatan pelayanan juga memiliki perasaan krisis, tetapi krisis karena jumlah jemaatnya berkurang, krisis karena kontrak tempat yang dipakai untuk pertemuan atau ibadah mulai habis, krisis karena kolekte atau persembahan jemaat makin berkurang; bukan karena keselamatan jiwa-jiwa. Mereka pasti berdoa, mungkin juga berpuasa. Tetapi, pokok doa dan pergumulannya bukanlah pokok pergumulan yang seharusnya dia gumuli bersama Tuhan. Dan biasanya orang-orang seperti ini, tidak hanyut di dalam pertumbuhan iman. Fokusnya ke arah yang tidak tepat.
    Mestinya fokus kita adalah bagaimana mengalami proses pendewasaan, bagaimana benar-benar mengalami proses kesempurnaan; makin sempurna seperti Bapa, makin serupa dengan Yesus. Makin menguasai pikiran, perasaan, dan mengenakan pikiran, perasaan Kristus. Makin mengendalikan mulut, perkataan, mengendalikan seluruh kehidupan kita. Kalau fokusnya di situ, dia akan akhirnya nanti memiliki krisis; perasaan krisis dan cemas yang benar, yaitu keselamatan orang lain. 
    Kalau orang tidak serius mengalami perasaan krisis terhadap dirinya sendiri—bagaimana menyelamatkan diri dari api kekal, bagaimana supaya hidupnya tetap ada di hadirat Tuhan dan tidak terpisah—maka tidak mungkin ia memiliki perasaan krisis terhadap keselamatan orang lain. Pertanyaannya, apakah kita memiliki perasaan krisis atau cemas seperti ini? Orang yang tidak hidup di hadirat Allah sejak di bumi ini, tidak mungkin hidup di hadirat Tuhan di kekekalan. Tidak mungkin. Tetapi Tuhan dalam kesabaran-Nya memberikan kita kesempatan untuk berubah. Pasti kita akan mendengar peringatan Tuhan, pasti. Tidak ada orang yang mendadak bisa pindah frekuensi, dari frekuensi dunia lalu masuk frekuensi Tuhan, tidak mungkin. Kita harus memiliki perasaan krisis dan cemas terhadap keadaan hidup dan keadaan rohani kita sendiri. 
    Untuk hidup di hadirat Tuhan, tentu kita harus hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kita tidak boleh menolerir sedikit pun celah dosa, sekecil apa pun, sehalus apa pun. Tuhan pasti memberi tahu kepada kita hal-hal yang Tuhan tidak nyaman. Dan itu bertahap. Apa yang dulu kita pandang bukan kesalahan, kita masih menikmatinya, suatu saat kita akan tahu bahwa itu tidak patut kita lakukan. Walaupun orang tidak tahu, sekecil apa pun itu di dalam hati kita; kesombongan, kesewenang-wenangan terhadap orang, sikap menindas walaupun tidak nampak, dan lain sebagainya. Di dalam kebesaran hati Bapa, Bapa mau mer dan terus membersihkan kita dari unsur-unsur kekafiran, unsur-unsur kedagingan. Kita harus mengalami perasaan krisis, perasaan cemas bahwa masih ada unsur-unsur kedagingan di dalam diri kita. 
    Sejujurnya, masih ada orang-orang yang hidup dalam pola pikir anak dunia—bukan orang jahat yang melanggar moral umum—bahkan orang-orang yang ada di tengah-tengah pelayanan, tetapi dia tidak atau belum fokus ke Tuhan secara benar. Mereka tidak mungkin punya perasaan krisis yang sepantasnya atau kecemasan mengenai jiwa-jiwa yang akan terhilang. Kita juga belum sempurna. Unsur-unsur kedagingan yang tidak kudus, masih melekat. Dan itu digugurkan, diluruhkan melalui pergaulan dengan Tuhan dan hidup dalam doa. Orang yang terus-menerus hidup dalam doa, tidak mungkin hidupnya tidak bisa menjadi bersih. Tentu disertai pengertian kebenaran,
    9 min
  • Mengubah Sesama
    Kalau kita bisa menghargai diri kita, mengasihi diri sendiri dengan benar, maka kita akan bisa mengasihi orang lain dengan benar pula. Di Matius 22:37-40 Tuhan Yesus berkata, “Kasihilah sesama manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” Bagi orang di luar Kristen, ini bisa dilakukan. Mereka mengasihi sesama, seperti mereka mengasihi diri mereka sendiri. Jangan kita berpikir orang di luar Kristen tidak bisa lakukan ini. Bahkan mereka juga bisa menyerahkan nyawa untuk orang lain. Mereka memiliki standar mengasihi diri sendiri, dan standar itu juga dijadikan ukuran bagaimana mereka mengasihi orang lain. 
    Tetapi, orang Kristen mengasihi diri sendiri dengan standar yang berbeda; harus seperti Allah, berkarakter seperti Tuhan. Kalau kita melihat hidup kita yang masih berantakan, kita meratapi diri kita. Menjadi anak-anak Allah berarti kita harus berstandar seperti Yesus atau serupa dengan Yesus. Dan supaya layak menjadi mempelai bagi Yesus. Betapa sulitnya standar itu. Kita berjuang dari hari ke hari, kita ratapi diri kita. Jadi pelayanan kita bukan hanya menolong orang yang tidak makan, bisa makan; tidak berpakaian, bisa berpakaian; rumah tangga yang kacau, bisa dirukunkan; yang menganggur, bisa diberi pekerjaan. Bukan hanya itu, tetapi bagaimana setiap jemaat menjadi mempelai Tuhan. 
    Setiap kita pasti punya masalah dan kebutuhan. Namun, semua itu tidak ada artinya dibanding dengan kelayakan menjadi mempelai Tuhan. Yang satu ini—hal kesucian hidup—harus kita ratapi lebih dari meratapi apa pun. Kita akan mengerti lebih sempurna, ketika kita melihat kemuliaan Allah, ketika Tuhan Yesus turun dari surga menjemput orang percaya dengan berjuta malaikat. Kita baru tahu, betapa benarnya kebenaran ini. Betapa kita harus mempersiapkan diri dengan benar. Kalau kesucian hidup kita tidak sekuat yang Allah inginkan, kita tidak bisa mengubah sesama. 
    Bagaimana orang bisa ikut kita kalau perilaku kita tidak indah; gampang tersinggung, gampang marah, lalu sering menunjukkan kekuasaan? Hidup kita tidak memukau mereka. Pernahkah kita membayangkan, betapa indahnya menjadi orang yang mencapai puncak kesalehan, yang bisa dicapai oleh seseorang? Setiap orang punya puncak yang berbeda. Bagaimana bisa mencapai puncak kesucian yang bisa dicapai seseorang, sampai memukau dan memikat hati Tuhan, menjadi keharuman di hadapan Tuhan. Memancarkan keharuman di hadapan Allah setiap saat, dan Bapa bisa mengatakan, “Ini kesukaan-Ku.”  Kita punya banyak cita-cita, tetapi apakah kita bercita-cita menjadi seorang yang saleh di mata Tuhan? Yesus mencari mempelai-mempelai yang layak bagi-Nya. 
    Betapa kecewanya ketika Dia menemukan banyak orang Kristen yang tidak layak menjadi mempelai-Nya, sebagaimana Dia mengatakan di Lukas 18:8, “Kalau Anak Manusia datang, apakah Dia mendapati iman di bumi?” Apa pun kebesaran yang kita miliki—kekayaan, keindahan, keelokan—tetapi kalau Tuhan tidak memandang kita layak menjadi mempelai-Nya, celaka! Jangan main-main untuk hal ini. Pernahkah kita bercita-cita mencapai puncak kesucian, sehingga Tuhan benar-benar terpikat? Cita-citakan itu, mimpikan itu. Kita harus melihat ini sebagai keindahan di atas segala keindahan. Kalau kita memandang ada yang lebih indah dari ini, kita mengkhianati Tuhan. 
    Waktu ini sangat berharga. Kita bisa berkata, “Time is grace”’ waktu adalah anugerah. Anugerah untuk apa? Untuk berjuang menjadi kekasih Tuhan; dan itu harus kita perjuangkan tanpa batas. Baru itu menjadi waktu yang bernilai. Mungkin hari ini kita adalah orang miskin, wajah kita tidak cantik atau ganteng, tidak punya pasangan hidup, tidak punya anak, terbuang, terhina; ketahuilah, semua itu tidak masalah. Namun, jangan sampai kita terbuang dari hadirat Allah. 
    Pelayanan yang sesungguhnya berangkat dari pengalaman pribadi dalam hubungan dengan Tuhan. Kita menyenangkan Tuhan dalam segala hal yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan. Kalau gagal, kita menangisi, meratapi diri sendiri.
    9 min
  • Menangisi Diri Sendiri
    Seberapa pun yang dapat diperoleh oleh seseorang dalam hidup ini, hanya bisa dinikmati sesaat waktu ia hidup. Dan belum tentu juga ia dapat menikmatinya dengan baik. Tidak jarang keuntungan materi justru menghancurkan dan menenggelamkan hidup seseorang dalam penderitaan yang jauh lebih besar dari uang atau keuntungan perolehan tersebut. Lalu, pernahkah kita berpikir kalau kita bisa menawarkan jalan keselamatan kepada seseorang—jalan keselamatan yang benar, yang membuat seseorang berhenti dari kepemilikan Iblis atas dirinya—betapa besar keuntungan itu? Tidak ternilai. 
    Tuhan Yesus berkata di Matius 16:26, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Jadi, satu jiwa nilainya lebih dari semua harta di dunia ini, jika dikumpulkan. Tahukah kita bahwa mestinya setiap kita melakukan pekerjaan ini? Baik secara langsung atau tidak. Ayat berikutnya, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya, pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Perbuatan yang kita lakukan untuk keselamatan jiwa sesama, pasti akan diperhitungkan Tuhan. 
    Maka mari kita pikirkan, betapa malangnya orang yang tidak diperkenan masuk dalam himpunan orang-orang percaya yang memuji-muji Allah di dalam Kerajaan Surga nanti. Betapa malangnya. Dan mereka tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri untuk dilayakkan masuk himpunan tersebut. Betapa mengerikan dan celakanya. Ketika Anak Manusia datang dalam kemuliaan Bapa diiringi malaikat-malaikat-Nya, hanya orang-orang yang setia sampai akhir yang akan diangkat bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam kemuliaan Bapa. Pasti mereka adalah orang-orang yang sudah menyelamatkan sesamanya, yang akan terangkat bersama dengan orang-orang yang telah mereka selamatkan tersebut. 
    Betapa mengerikan, betapa celaka orang-orang yang tidak mendapat kesempatan. Orang itu bisa diri kita sendiri atau orang-orang yang kita kasihi. Orang yang kita jagai sejak di dunia. Kalau itu anak, kita sekolahkan, kuliahkan, perhatikan. Dia bisa sukses dalam studi, karier, rumah tangga. Tetapi, kalau sampai tidak layak menjadi mempelai bagi Kristus, betapa mengerikan. Karena mereka tidak sungguh-sungguh bertobat setiap hari, tidak sungguh-sungguh membenahi diri setiap hari. Mereka anggap remeh tentang perkara-perkara rohani, sembarangan dengan apa yang mereka lihat, sembarangan dengan apa yang mereka dengar, sembarangan dengan siapa mereka bergaul, sembarangan dengan apa yang mereka ucapkan. Sembarangan dengan apa yang mereka pikirkan, apalagi sembarangan dengan perilaku. 
    Kalau hari ini kita merasa aman-aman, semua baik-baik dan akan baik-baik, sebenarnya itu adalah tipuan dari setan. Kita tidak akan baik-baik, kalau kita tidak bertobat sungguh-sungguh. Sebaliknya, kalau kita sungguh-sungguh bertobat setiap hari, membenahi diri, bertumbuh dalam kesempurnaan, maka tidak mungkin kita tidak menangisi jiwa-jiwa. Kita tidak bisa menangisi jiwa-jiwa, kalau kita pun tidak menangisi diri kita sendiri. Tetapi, kalau kita berusaha sungguh-sungguh mau membenahi diri bertumbuh di dalam kedewasaan rohani yang benar, semakin mengenal kebenaran, maka kita semakin melihat betapa dahsyat dan mengerikan kalau seorang terpisah dari Allah. Di pihak lain, kita akan menghayati betapa indahnya Kerajaan Surga, sehingga kita tidak akan terikat dengan keindahan dunia ini. 
    Setiap hari ada tuntutannya, dan kita harus penuhi hal itu. Sehingga setiap hari kita harus bisa berkata, “Sudah selesai.” Baik itu perbuatan, tugas maupun dosa; harus diselesaikan dengan Tuhan. Jangan menunda. Karena belum pernah bertemu dan menghayati kemuliaan Allah, orang bisa anggap itu hal yang remeh. Coba kalau kita sediakan waktu bertemu Tuhan dan menghayati kemuliaan-Nya, pasti kita akan merasa takut dan gentar terhadap Dia. Kalau kita masih mempunyai saldo dosa, kita akan merasa takut.
    9 min
  • Allah Penolong
    Menjadi konsep manusia beragama di mana pun—apakah itu agama samawi maupun agama-agama yang lahir dari budaya, agama-agama purba, agama-agama suku—di mana allah atau sesembahannya dipandang sebagai penolong, pemelihara, penjaga, atau pelindung. Cara berpikir seperti ini juga ada di dalam kehidupan banyak orang Kristen, bahkan sebagian besar orang Kristen. Sebagian kita juga masih memiliki alam berpikir seperti ini, yang karenanya kita pergi ke gereja, karena kita membutuhkan Tuhan sebagai Penolong, Pelindung, Pemelihara, atau Penjaga. Tetapi, sebenarnya banyak orang Kristen yang belum tepat benar dalam memperlakukan Allah. 
    Satu-satunya Allah yang benar adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dan manusia. Allah yang memiliki kehendak, juga Allah yang memiliki rancangan. Semua ini diciptakan sesuai dengan rencana-Nya; dengan tujuan ilahi.  Dan hal ini penting sekali, walaupun kedengarannya sudah biasa dan sederhana. Dialah Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak, dan Yakub, yang memanggil Abraham keluar dari negerinya. Allah yang benar menyatakan diri sebagai Elohim Yahweh. Dialah satu-satunya Allah yang benar. Tidak ada Allah selain Dia. Dan ini harga mati. Tidak boleh dikurangi dengan apa pun.
    Tentu kita harus tetap menghargai keyakinan, agama, kepercayaan orang lain, dan kita tidak mengganggu dan tidak boleh mengganggu, sebagai manusia yang beradab di tengah-tengah masyarakat yang majemuk, yang plural, punya polarisasi. Kita juga tidak boleh menyerang, dan kita juga tidak perlu membanding-bandingkan ajaran kita dengan ajaran mereka. Tetapi, keyakinan bahwa satu-satunya Allah yang benar adalah Elohim Yahweh, Dialah Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus, itu harga mati. Itu tidak bisa ditawar. 
    Tentu Dia bisa menjadi Pelindung. Dan memang hanya Dialah satu-satunya Pelindung, satu-satunya Pemelihara, satu-satunya Penolong. Bagi kita orang percaya, kita tidak boleh melirik siapa pun dan apa pun untuk menjadi penolong, dalam keadaan bagaimanapun. Kalau Tuhan memakai manusia atau seseorang menolong dan membantu kita, bisa. Tetapi, hati kita harus terarah kepada Tuhan. Kita tidak boleh bergantung kepada manusia. Jadi, kalau Tuhan menggerakkan kita menceritakan masalah kita kepada seseorang, tentu hal itu tidak salah, karena memang kita harus saling menopang dan saling menguatkan. Tetapi, semua hal yang kita lakukan harus dalam pimpinan Tuhan, Pemilik hidup kita. Kalau kita berurusan dengan Allah, karena kita membutuhkan Penolong, Penjaga, Pemelihara. Namun, tidak boleh kita lepaskan dari maksud penciptaan. 
    Maka, jangan berurusan dengan Allah dalam orientasi manusia yang sempit, dangkal, dan fana. Pada umumnya, begitulah orang memiliki sesembahan, karena mau mendapat pertolongan dari berbagai masalah fana, yang tidak terkait dengan maksud tujuan Allah menciptakan manusia. Jadi, kalau kita berurusan dengan Tuhan hanya karena untuk masalah ekonomi, kesehatan, keluarga; dunia bisa menjawab. Agama-agama sangat bisa menjawab, termasuk kalau kita mau memiliki budi pekerti yang baik. Dunia bisa menjawab. Maka, kalau kita berurusan dengan Tuhan, kita mau melihat maksud atau tujuan ilahi. Jangan masuk ke wilayah Tuhan untuk memperkarakan hal-hal yang tidak menjadi urusan Tuhan. Seperti di Lukas 12:13-15, ketika seseorang berkata, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku. Tetapi Yesus berkata kepadanya: Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” 
    Jawaban Yesus mengesankan bahwa Yesus bukan hakim. Yesus itu Hakim di atas segala hakim. Tetapi, bukan hakim yang diangkat manusia dan bukan hakim versi manusia. Dia Penolong, tetapi bukan penolong yang diangkat manusia dan penolong versi manusia. Dia Pemelihara dan Penjaga, tetapi bukan pemelihara dan penjaga versi manusia, dan tidak diangkat oleh manusia. Dia mengangkat diri-Nya sendiri karena Dia Allah. Kalau Yesus sebagai Penolong, Pemelihara, Penjaga menurut versi manusia,
    8 min
  • Tangga Anugerah
    Semua kita tahu bahwa segala sesuatu yang kita peroleh dari dunia ini, suatu hari harus kita lepaskan, pasti kita tinggalkan atau meninggalkan kita. Hanya satu yang akan menjadi milik kita, yaitu Tuhan sendiri. Seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” kita setuju. Tetapi, berapa banyak kita yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan? Seberapa banyak yang telah memiliki Tuhan di dalam hidup kita? Seberapa hidup kerohanian kita bertumbuh? Seberapa tinggi kualitas kesucian hidup kita? Seberapa kuat iman keyakinan kita terhadap Allah bahwa Dia Allah yang hidup, dan kita berani menghadapi segala keadaan, bahkan kematian? 
    Seberapa yakin bahwa kalau kita meninggal dunia, pasti diterima di Kemah Abadi, di Rumah Bapa sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah? Sejujurnya, masih cukup banyak yang bertanya-tanya dalam hati, tetapi hanya sekilas, kemudian mereka memadamkan atau membungkam suara itu. Suara yang bernada pertanyaan “Mengapa aku tidak kunjung menjadi rohani? Mengapa aku belum hidup kudus? Bagaimana kalau aku mati setiap saat, apakah aku sudah berkenan di hadapan Tuhan? Siapa Allah itu sebenarnya? Bagaimana sebenarnya Dia? Apa benar keselamatan hanya dalam Yesus Kristus?” 
    Mungkin kita juga pernah bertanya dengan naif, “Apakah benar Laut Kolsom pernah terbelah? Apakah benar Bumi ini pernah dibanjiri dengan air bah? Apakah benar dunia akan kiamat? Kapan itu? Apakah benar bumi akan menjadi lautan api, dan ada realitas kekekalan surga dan neraka?” Tetapi, pertanyaan-pertanyaan seperti ini terbungkam oleh pertanyaan lain, “Kapan utangku terbayar? Kapan aku punya rumah? Kapan anakku menikah? Kapan anakku punya anak, sehingga aku punya cucu dan garis keturunanku diteruskan? Kapan masalah ini selesai? Kapan sakitku sembuh? Kapan aku bisa jalan-jalan ke tempat itu, ke tempat ini?” Banyak hal. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat prinsip yang harus kita tindak lanjuti dengan tindakan-tindakan konkret, tidak kita tindak lanjuti. 
    Pertanyaan seperti “Kapan aku punya rumah?” lebih kita gumuli, dan ditindaklanjuti dengan berbagai aktivitas. Hal-hal yang mestinya prinsip, mengandung unsur kekekalan yang tidak ternilai, digantikan hal-hal yang tidak prinsip, yang relatif, yang bukan hanya kurang bernilai, bahkan bisa tidak bernilai sama sekali jika dibanding dengan kekekalan. Mari kita berpikir serius hari ini. Jangan berkata bahwa surga itu mustahil dicapai, lalu kita tidak pernah ada upaya mencapai surga. Surga memang mustahil dicapai, tetapi Tuhan menyediakan tangga. Tangga itu anugerah. Tetapi, untuk sampai surga, kita harus melangkah. Jangan berkata, “Saya ini pedagang, tidak punya waktu untuk menjadi rohani.” 
    Kalau untuk uang atau mungkin juga hobi dan yang lain kita punya waktu, mengapa untuk Tuhan, kita tidak punya waktu? Kalau kita tidak lakukan, berarti memang kita tidak membutuhkan Tuhan. Kita memberi kuota Tuhan hanya kebaktian hari Minggu, satu setengah jam. Itupun datang terlambat. Banyak hal kita berikan dengan porsi yang tidak terbatas. Tetapi untuk Tuhan kita beri porsi yang terbatas. Menikah, tidak menikah, itu bukan wajib; tidak mutlak. Punya anak, tidak punya anak, itu tidak mutlak; relatif. Yang tidak relatif, hanya Tuhan. Dan yang relatif itu akan lenyap. Seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan, “Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap habis oleh karena kedahsyatan.” Lenyapnya semua yang kita pegang, itu kedahsyatan. 
    Karena orang belum mengalami, maka ia tidak percaya. Dunia ini menipu. Yang kita lihat, cara hidup, filosofi hidup manusia di sekitar kita ini, menipu. Memang tidak bersuara, tetapi lebih kuat dari suara di mimbar. Ketika mereka berkata, “Tenang, tidak apa-apa. Jangan ekstrem; jalani hidup seperti yang lain.” Kalau gereja tidak bersuara keras seperti memukul pentongan kebakaran, bahaya. Jemaat tidak sadar, semua merasa baik-baik saja.
    10 min
  • Sediakan Waktu Bertemu
    Banyak orang Kristen tersandera dalam kebodohan, hanya percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan itu pun hanya status saja, tetapi tidak berurusan dengan Dia. Percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, itu tidak signifikan. Walaupun tentu berarti, sebab kita menjadi umat pilihan Allah. Namun, kalau kita tidak berurusan, tidak berinteraksi secara riil dengan Dia, tidak ada artinya. Akhirnya Tuhan Yesus akan berkata kepada kita, “Enyah kamu, karena kamu tidak melakukan kehendak Bapa!”
    Banyak orang Kristen yang Kristen fantasi, tidak pernah berinteraksi dengan Tuhan. Mungkin kepada Tuhan pun setengah yakin. Tidak heran kalau mereka tidak merasa beruntung (merasakan sesuatu yang berharga), karena memandang agama hanya berkontribusi guna pemenuhan kebutuhan jasmani. Firman Tuhan mengatakan, “Manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi dari setiap rhema,” dan Tuhan Yesus yang bisa membuat kita memiliki rhema. Kalau kita memiliki rhema, baru kita memiliki roti kehidupan. 
    Masalahnya, kita tidak memenuhi kuota yang harus dipenuhi guna bersentuhan (berinteraksi) dengan Tuhan; tidak berani tanpa batas. Kita menganggap bukan keberuntungan menjadi orang percaya. Sebaliknya, kita terfokus kepada banyak hal sia-sia. Kita harus bertobat, karena jika cara hidup kita masih salah, maka kita akan binasa dan sangat menyesal. Kalau kita mengenal seseorang dan orang itu bisa memberi pertolongan yang berarti, kita tahu betapa beruntungnya berinteraksi, bergaul dekat dengan orang tersebut, maka kita akan mendekat kepadanya. Apa pun kita lakukan, yang penting, bagaimana bisa dekat dengannya. 
    Mengapa kita tidak melakukan itu untuk Tuhan? Sejujurnya, karena kita memandang Yesus kurang bernilai. Orang bisa memberi upeti dan perhatian untuk pejabat, tetapi tidak menghargai Tuhan sepantasnya. Kita diberi waktu panjang untuk banyak hal, tetapi sepuluh menit pun tidak pernah berjumpa dengan Tuhan. Tuhan sayang kita. Dia datang ke dunia mengurbankan diri-Nya, supaya kita memiliki keberuntungan. “Dia yang kaya menjadi miskin, supaya kamu yang miskin bisa menjadi kaya di dalam Dia.” Kita harus serius menjumpai Tuhan tiap hari. Kalau masih tenang-tenang saja, kita tidak akan dikenal. Kita boleh menyanyi, ke gereja, kasih persembahan, mau seberapapun besarnya, kita tetap ditolak kalau tidak melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). 
    Kalau kita tidak melakukan kehendak Bapa, kita akan terbuang, menjadi sampah abadi. Sulitnya hidup itu hanya bagaimana hidup suci. Soal ekonomi, kesehatan, pekerjaan, keluarga, nanti bisa dilewati. Tentu harus dengan tanggung jawab dan kerja keras. Kalau kita hidup suci, kita menjadi kekasih Tuhan, Dia Maha Kuasa. Siapa yang bisa lawan kita kalau kita di pihak Tuhan dan  Tuhan di pihak kita? Tidak mungkin Tuhan tidak ada. Langit dengan berjuta planet yang begitu teratur, yang setiap planet memiliki magnet tertentu sehingga tidak bertabrakan, tidak mungkin tidak didesain oleh satu Pribadi yang cerdas. 
    Metabolisme tubuh kita yang sempurna, diciptakan oleh the invisible hand; tangan yang tidak kelihatan, dan punya tatanan. Tuhan hanya ingin kita berkeadaan baik-baik. Tuhan tidak cari keuntungan. Tetapi, kita tidak bisa berkeadaan baik-baik kalau kita tidak baik, tidak dengar-dengaran, tidak taat. Kita bahkan tidak perlu minta pembelaan Tuhan, Tuhan pasti membela dan menjagai kita. Tetapi, kita tidak akan bisa berjalan dengan Tuhan kalau “bau busuk;” mulut kita bau, otak kita bau, kelakuan kita bau. Tuhan mau kita harum. Kita beruntung menjadi umat pilihan. Dan firman diberikan oleh Tuhan Yesus, Injil dan Roh Kudus menuntun kita mengerti Firman itu. 
    Kalau kita mengerti betapa beruntungnya menjadi umat pilihan, kita pasti sediakan waktu untuk bertemu dengan Tuhan, karena kita membutuhkan Dia. Kalau kita tidak memiliki jam bertemu dengan Tuhan, ada yang salah dalam hidup kita. Kita tidak memandang Dia yang terutama di dalam hidup kita. Padahal tanpa Dia, kita binasa masuk neraka.
    10 min
  • Merasa Kurang Beruntung
    Kalau orang tidak merasa beruntung dengan memiliki iman kepada Tuhan Yesus Kristus; merasa kurang beruntung atau tidak beruntung dengan menjadi umat pilihan, pasti ada sesuatu yang salah di dalam hidupnya. Kalau sampai meninggal dunia, dan ia tidak merasa beruntung secara benar, pasti dia tidak layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Firman Tuhan mengatakan di 1 Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah  sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” 
    Tidak semua orang diberi kesempatan menjadi umat pilihan. Jadi, kalau kita menjadi umat pilihan, ini sesuatu yang benar-benar luar biasa. “Imamat yang rajani” artinya pelayan-pelayan raja. “Bangsa yang kudus” artinya orang yang dipisahkan. Kata “kudus” dalam bahasa Ibraninya hados, artinya separate from common condition and used; dipisahkan dari yang lain untuk digunakan. “Umat kepunyaan Allah sendiri” adalah keberadaan yang luar biasa. Kalau seseorang tidak merasa beruntung, artinya tidak merasa memiliki sesuatu yang berharga dengan menjadi umat pilihan, dengan menjadi anak-anak Allah, maka dia tidak mengenal kasih karunia di dalam Yesus Kristus yang disediakan bagi umat pilihan. 
    Orang-orang seperti ini pasti masih memiliki cara pandang anak dunia yang masih terikat dengan perkara-perkara dunia. Orang-orang yang masih di wilayah mortality, artinya orang-orang yang masih di wilayah kefanaan, kematian. Kalau seseorang belajar kebenaran Firman, pikirannya dibuka oleh Roh Kudus, maka dia pasti melihat kehidupan dari cara pandang yang benar sesuai dengan keberadaannya sebagai makhluk kekal. Manusia itu makhluk kekal, dan Iblis berusaha terus menutupi kesadaran ini, supaya manusia tidak menyadari dirinya adalah makhluk kekal. Ironis, banyak orang termasuk sebagian kita, tidak hidup dalam penghayatan bahwa kita adalah makhluk kekal. 
    Lebih baik tidak pernah jadi manusia kalau kita tidak menyadari dan tidak menghayati bahwa kita adalah makhluk kekal. Manusia bukanlah seperti hewan yang hidup hanya sebatas umurnya di bumi dan memenuhi kebutuhan jasmani. Kalau Tuhan Yesus berkata, “Manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi juga dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah,” secara implisit, Tuhan Yesus hendak mengatakan, “Kamu bukan seperti hewan yang hanya membutuhkan makanan untuk pemenuhan kebutuhan fisiknya, tetapi kamu makhluk kekal yang karenanya jiwa, rohmu membutuhkan makanan untuk hidup kekal.” 
    Di dalam Yohanes 6:27-29 Tuhan Yesus berkata, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Pekerjaan itu adalah percayalah kepada Dia yang diutus Allah. Tentu kita tahu, yang diutus itu Tuhan Yesus. Untuk memiliki roti yang tak dapat binasa, kita harus percaya kepada Tuhan Yesus. 
    Jadi, kalau kita bisa mengenal Tuhan Yesus, artinya menjadi umat pilihan, kita beruntung. Kita memiliki kesempatan untuk memperoleh kehidupan di kekekalan. Kiranya kita bisa menghayati betapa malangnya orang yang hidup hanya untuk mati. Setelah itu, ada di bawah bayang-bayang maut, terpisah dari Allah selamanya; masuk ke dalam api kekal. Betapa malangnya, lahir untuk mati dan tidak tahu berapa lama kesempatan hidup di bumi ini. Kita memiliki kesempatan hidup di dunia yang akan datang. Ini keberuntungan. Iblis menutup mata banyak orang Kristen atau umat pilihan agar tidak melihat kesempatan besar ini.
    9 min
  • Hidup dalam Rencana Tuhan
    Sejujurnya, Allah yang begitu nyata di dalam Alkitab, sekarang seperti mati dalam kehidupan banyak orang. Termasuk orang-orang Kristen, orang-orang yang rajin ke gereja, para aktivis, juga para pendeta. Ciri dan gejala dari kenyataan bahwa Allah seakan-akan mati dalam hidup orang-orang ini nampak dari perilakunya. Kita sudah mewarisi kekristenan yang palsu, kosong. Ibarat handphone, itu terbuat dari plastik. Mirip aslinya, tetapi tidak ada komponen-komponen yang bisa digunakan untuk komunikasi. Tidak semua orang kekristenannya palsu. Tetapi, fakta menunjukkan bahwa kita mewarisi kekristenan yang palsu. 
    Kita tidak boleh merasa sejahtera dengan keadaan di mana kita belum mengalami Allah secara nyata. Kita harus menjadi galau, upset, cemas, takut, khawatir kalau belum benar-benar mengalami Tuhan. Di daerah-daerah tertentu, seseorang yang mau mencari kesaktian, kanuragan, mau mencari wahyu (wangsit), maka ia pergi ke tempat-tempat keramat, ke dalam gua-gua gelap di tengah hutan, di kuburan-kuburan. Mereka yakin ada oknum yang bisa ditemui. Ada kuasa yang mereka bisa alami, dan faktanya ada orang-orang yang memiliki “kesaktian, kanuragan;” kekuatan supranatural. 
    Seberapa kita yakin bahwa Allah yang kita sembah yang ditulis di dalam Alkitab begitu nyata, Allah yang benar-benar ada, yang bisa dialami di dalam jiwa, di dalam manusia batiniah kita, juga dalam fisik kita? Alkitab jelas menunjukkan bahwa Allah itu dapat dialami. Tubuh, jiwa, roh kita bisa mengalami Tuhan. Namun, terus terang, pertaruhan yang kita miliki, terlalu kecil. Harga yang kita berani bayar, terlalu kecil. Kuota yang mestinya kita penuhi, terlalu kurang. Kita menganggap Tuhan itu murahan, padahal berurusan dengan Tuhan itu selalu dengan “segenap, segenap, segenap,” tanpa batas. 
    Kalau kita masih memiliki cara hidup yang salah, sampai mati kita tidak akan pernah menemukan Tuhan dengan benar dan bisa dipastikan kesucian kita rendah. Bahkan, mungkin kita masih terikat dengan dosa-dosa dan percintaan dunia. Kita tidak berpikir mistik, tetapi Allah itu memang supranatural; transenden. Pengertian “mistik” memang tidak bisa dikenakan untuk Tuhan, karena mistik sering terkait dengan okultisme, dan sering penuh dusta. Allah itu supranatural; melampaui akal. Mari tantang diri kita untuk membayar harga yang seharusnya kita bayar, pertaruhkan segenap hidup kita untuk memenuhi kuota mengalami Tuhan; tanpa batas. 
    Sejujurnya, sebagian besar kita memiliki pengalaman dengan Tuhan sangat miskin. Kalau orang Kristen baru atau memang berlama-lama hidup dalam suasana keberagamaan yang didominasi tokoh, masih bisa dimaklumi. Tetapi, bagi kita yang sudah lama mengaku sebagai orang Kristen, kita harus sudah mengalami Tuhan. Tuhan bisa ditemui, benar-benar bisa dialami. Di dalam Alkitab kita menemukan manusia-manusia yang mengalami Tuhan begitu riilnya, kita umat pilihan mesti mengalami Tuhan secara riil juga. Apalagi di Perjanjian Baru, kita diangkat sebagai anak-anak Allah. Kita bisa memiliki hubungan intim dengan Tuhan artinya hubungan yang eksklusif dengan Tuhan. Mari mencari Tuhan sebelum kita meninggal dunia. 
    Salah satu ciri orang yang belum mengalami Tuhan adalah takut mati. Kalau kita takut mati, berarti kita memang belum berjumpa dengan Tuhan. Ciri lainnya adalah khawatir. Ciri yang sangat jelas: hidup dalam dosa. Orang yang berjumpa dengan Tuhan pasti takut berbuat dosa. Dia akan berusaha meninggalkan dosa dan meratapi refleks dosa yang masih dimilikinya. Kita harus membuktikan bahwa Allah itu ada. Kenapa kita tidak berani 1 jam meditasi untuk bertemu Tuhan? Tuhan pasti menandai kita. Kalau kita memaksa diri ada di hadapan Tuhan setiap hari, kita akan bisa mengerti Allah itu hidup. Dan itu tidak bisa dijelaskan, ada kesaksian di dalam batin kita dan tergantung seberapa kita nekat; seberapa kita berani hidup tanpa batas bagi-Nya.
    Bagaimana Allah bisa nyata dalam hidup kita? Yang pertama, orang yang mau berkenan di hadapan Tuhan.
    9 min
  • Metabolisme Hidup Rohani
    Inilah yang Allah rancangkan ketika Ia menciptakan manusia, agar segambar dan serupa dengan Allah. Betapa bahagianya hati Bapa memiliki anak-anak yang segambar dan serupa dengan Diri-Nya. Hanya Tuhan yang bisa mengolah pikiran dan jiwa kita agar melahirkan kehendak-kehendak yang sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Seseorang tidak akan mungkin menikmati damai sejahtera Allah kalau karakternya tidak seperti yang Allah kehendaki. Orang yang karakternya rusak, tidak mungkin bisa menikmati damai sejahtera Allah. Jadi, memang perlu proses pembenahan. Semakin seseorang karakternya baik—karakter yang baik dalam standar Allah—metabolisme kehidupan rohaninya akan semakin baik, semakin sehat. 
    Sehingga ia bisa berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Tidak heran kalau Rasul Paulus menulis dalam kitab Galatia, “Asal ada makanan, pakaian, cukup.” Kebutuhan fisik itu relatif. Fleksibel. Tubuh kita memiliki fleksibilitas yang luar biasa. Bahkan kalau kita memiliki tubuh yang sakit karena pola hidup yang salah, maka ketika kita mulai mengubah dengan pola hidup yang baru, tubuh bisa menyembuhkan diri sendiri. Itu luar biasa. 
    Kalau metabolisme hidup rohani kita baik, maka kita akan semakin mengerti bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini hanya Tuhan. Bagaimana kita bisa memiliki kehidupan rohani yang benar? Tuhan menyediakan sarananya, tetapi kita yang harus memilih. Kita ini pasien dan Tuhan Yesus berkata, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang sakit.” Kita adalah orang sakit, butuh tabib; dan Yesus adalah Tabib kita. Bukan hanya menyembuhkan fisik kita, melainkan juga menyembuhkan jiwa kita. Tetapi, kita harus kooperatif. Gereja, pelayanan gereja harus merupakan penyelenggaraan penyembuhan atas pasien-pasien yang mengalami sakit secara jiwa atau rohani. Gereja itu rumah sakit, bukan showroom. 
    Supaya jiwa seseorang sembuh, yang akhirnya menjadi keindahan di mata Allah, bukan hanya tergantung dokter dan suster, tetapi juga individu masing-masing. Maka, kita harus sadar bahwa kita sakit. Jangan seperti orang-orang Yahudi, khususnya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang merasa dirinya sehat, lalu tidak menghargai Tuhan. Metabolisme kehidupan rohani kita belum baik atau tidak baik. Banyak orang sadar dirinya masih duniawi, masih punya keinginan-keinginan daging, lalu merasa dengan kesadaran itu cukup, seakan-akan Tuhan tidak terganggu dengan keadaan kita, karena kita sadar sebagai orang berdosa. Pengakuan itu seakan-akan sudah menjadi pembenaran, lalu kita hidup wajar seperti manusia lain, dan seakan-akan Tuhan mengizinkan. Yang harus sungguh-sungguh kita sadari adalah kita sakit, supaya kita dirawat. 
    Kita harus menangkap frekuensi Tuhan, kita harus selalu ada dalam koneksi dengan Tuhan, setiap saat. Maka, kita tidak boleh melakukan hal-hal yang membuat koneksi kita putus. Kita harus menemukan frekuensi, sehingga kita selalu mendengar suara Tuhan. Kalau mau dipakai Tuhan luar biasa, maka kita harus berani menyangkal diri, menanggalkan semua keinginan yang Tuhan tidak kehendaki; tanpa batas. Kita harus makin dewasa rohani. Salah satu ciri kedewasaan rohani adalah hidup suci, tidak punya kesenangan dunia, sehingga koneksi kita akan terus tersambung. Semakin kita memiliki banyak kesenangan, maka semakin kita tidak haus akan Allah. 
    Kalau kita terbiasa belajar memiliki koneksi dengan Tuhan, maka pada waktu koneksi itu putus, kita akan merasakannya. Kita harus membuang kesenangan-kesenangan yang Tuhan tidak menyukainya. Tuhan berkata, “Kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tak dapat jadi murid-Ku.” Mari kita belajar untuk melepaskan semua kesenangan, supaya kita bisa memiliki kehausan akan Allah dan menjadi perawan suci. “Perawan” di sini bukan menunjuk kepada pengertian perawan secara umum; wanita ...
    8 min
  • Meneguk Air Kehidupan
    Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan itu dapat digambarkan seperti air. Di dalam Mazmur 42, firman Tuhan mengatakan, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” Di sini Allah digambarkan sebagai air. Dan di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengemukakan pernyataan yang sering atau pasti pernah kita dengar, “Akulah air kehidupan.” Ini berarti, harus ada realitas yang kita alami dalam hidup, artinya kita bukan saja bersentuhan dengan Allah, mengalami Allah, tetapi juga meneguk sehingga kita dapat menikmati Dia; menikmati Allah. 
    Dalam realitas kehidupan—bukan dalam fantasi—rusa adalah binatang yang lemah dan bagi rusa air bukanlah suplemen, melainkan sumber kehidupan. Mekanisme ini harus kita alami. Bukan hanya menjadi pengetahuan di dalam pikiran, lalu berfantasi bahwa kita seperti rusa yang merindukan sungai yang berair. Kita nyanyikan, berfantasi dalam beragama atau ber-Tuhan. Pada dasarnya, orang yang berfantasi, tidak ber-Tuhan dengan benar. Mari kita benar-benar memperkarakan hal ini. Kita harus memiliki perasaan risau, perasaan galau yang digambarkan dengan kata “haus.” Kata “haus” menunjukkan kefrustrasian fisik. Sebagaimana tubuh kita kalau haus, tubuh kita stres. Kalau tubuh tidak haus atau tidak mau makan sampai tidak bisa makan, berarti orang itu sakit. Ini mekanisme metabolisme tubuh yang baik. 
    Demikian pula kehidupan manusia yang sehat rohaninya, pasti ada sinyal di dalam dirinya untuk menemukan ‘sesuatu’ yang dapat memuaskan dahaga jiwanya. Ini metabolisme kehidupan rohani yang sehat. Jangan seperti kisah di Lukas 12, orang kaya yang melihat hartanya bertambah banyak, lalu dia mau membangun gudang lebih besar supaya dia bisa menyimpan harta bendanya, lalu berkata, “Hai, jiwaku, ada padamu banyak barang. Senangkan dirimu.” Ini sesat. Jiwanya tidak akan dapat diisi oleh barang-barang itu. Jiwa manusia seperti sumur yang tidak memiliki dasar. Yang diisi oleh apa pun, akan selalu kurang. Hanya ada satu yang dapat menjawab kehausan jiwa, yaitu Allah. 
    Pencipta mobil mendesain bahwa mesin kendaraan—dalam hal ini mobil—harus diisi bensin atau solar; tidak didesain diisi air. Kalau diisi air, mesinnya akan rusak, tidak jalan. Jiwa kita tidak bisa diisi oleh apa pun; telah dikunci oleh Sang Khalik, yaitu Tuhan semesta alam, bahwa yang dibutuhkan hanyalah Tuhan. Kalau jujur melihat diri sendiri, apakah kita memiliki kehausan akan Allah? “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup,” bukan Allah yang hanya dibicarakan, bukan difantasikan, tetapi Allah yang dialami. Kalau sekarang ini kita belum memiliki kehausan yang pantas, kita harus segera sadar dan mulai membangun kehausan itu.
    Banyak jiwa yang sudah sesat, yang ditandai dengan kehausan terhadap sesuatu yang dapat disediakan oleh dunia. Kuasa kegelapan pasti berusaha untuk menyesatkan, menunjukkan keindahan dunia sebagai solusi untuk menjawab kehausan jiwa manusia. Seperti dalam Lukas 4, ketika Tuhan Yesus dibawa ke atas tempat yang tinggi dan ditunjukkan kepada-Nya kemuliaan, keindahan dunia. Tetapi tentu Tuhan Yesus tidak mau mengingini dunia. Mengingini dunia sama dengan menyembah Iblis. Kita memiliki jiwa yang sudah telanjur rusak. Tetapi, kalau kita mendengar Firman kebenaran ini dan dengan rendah hati menyambutnya dan mulai membenahi diri, maka Roh Kudus pasti akan menolong untuk kesembuhan jiwa kita. 
    Jangan sampai kita meninggal dunia sebelum meneguk Allah sebagai air kehidupan, karena disesatkan. Seperti yang kita baca kisah orang kaya yang sesat pikirannya, dia pikir jiwanya bisa dipuaskan dengan kekayaan. Lalu firman Tuhan mengatakan, “Ia mati dalam kemiskinan. Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” Kisah lain di Lukas 16 menuliskan, “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus....
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…