Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengalami Perjumpaan dengan Tuhan
    Seorang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan, pasti menemukan Tuhan. Standar “menemukan Tuhan” harus dipahami dengan benar. Menemukan Tuhan berarti mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara riil, bukan fantasi. Bukan hanya suatu kejadian yang dimaknai sebagai perjumpaan dengan Allah, melainkan seluruh jiwa raganya benar-benar mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Tuhan berfirman, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku. Apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.” (Yeremia 29:13)
    Sering kali apa yang kita pahami sebagai perjumpaan dengan Tuhan, ternyata hanya fantasi yang kita akui sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Atau suatu kejadian yang dimaknai sebagai perjumpaan dengan Tuhan, tetapi kita tidak yakin bahwa itu benar-benar suatu perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan juga bisa bertahap. Dari tipis, halus, sampai tebal dan kuat. Menemukan Tuhan adalah mengalami Tuhan secara riil, sehingga seluruh jiwa raga kita mengakui bahwa itu perjumpaan dengan Allah. Orang seperti ini pasti memiliki kesaksian di dalam pribadinya mengenai perjumpaan dengan Allah. Belum tentu harus dijelaskan kepada orang lain, tetapi dia tahu dia mengalami nyata perjumpaan dengan Allah dan pasti hidupnya tidak sama dengan orang lain. 
    Banyak orang sebenarnya belum menemukan Allah, tetapi tidak berusaha untuk menemukan Allah. Kalaupun berusaha menemukan Allah, dianggap usaha menemukan Allah, dia pun tidak memenuhi yang dikatakan di dalam firman Tuhan: segenap hati. Allah tidak bisa dianggap murahan. Ketika seseorang memandang Tuhan murahan, Tuhan bisa diam. Tentu Tuhan akan menasihati, mengingatkan. Tetapi, kalau orang tersebut tetap tidak mau mengerti, Tuhan bisa membiarkan. Sebagai akibatnya, tidak menemukan Tuhan. Coba kita melihat bagaimana tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama yang juga bisa menjadi model kehidupan iman kita. Tentu episentrumnya; pusat kebenarannya pada diri Yesus. 
    Henokh, Abraham, Musa, Ayub bergaul dengan Allah. Ada perjumpaan, interaksi dengan Allah dan hidup mereka berbeda dengan orang lain. Contohnya Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Elia, Elisa, Yusuf. Benar-benar Allah hidup dalam hidup mereka. Kita tidak membaca detail kehidupan Yusuf. Dari hari ke hari tidak ada data detailnya. Tetapi ketika dia bisa menafsirkan mimpi, dia bisa mengambil keputusan yang begitu cerdas untuk menyelamatkan Mesir dari kekeringan, menunjukkan bahwa dia luar biasa. Dan itu pasti karena perjumpaannya dengan Tuhan. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, tidak mungkin tidak luar biasa. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, pasti luar biasa. 
    Tetapi, banyak orang masih merasa aman, tenang, damai padahal belum mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kalaupun dia merasa mengalami perjumpaan dengan Tuhan, dia hanya memaknai hal-hal tertentu dari pengalaman hidupnya sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Itu memang bisa merupakan perjumpaan dengan Tuhan, tetapi masih tipis, belum kuat. Tuhan menyediakan diri untuk dikenal, dan orang percaya dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang kuat, yang tebal. Bagi yang memiliki pengetahuan teologi, sering mereka cenderung puas dengan pengetahuan teologi yang dimiliki, apa yang dia pahami tentang Tuhan. 
    Konyolnya, di Sekolah Tinggi Teologi yang lebih mengedepankan rasio, pengalaman dengan Tuhan dipandang sebagai subjektivitas yang membahayakan, tidak valid, tidak sah, tidak tepat dalam berurusan dengan Allah. Bayangkan kalau seorang pembicara sudah demikian, bagaimana dengan jemaat? Kita harus dengan segenap hati mencari Tuhan. Tidak boleh merasa puas dengan pengalaman yang kita miliki, yang selama ini dimaknai sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Itu bisa fantasi. Memang bisa merupakan perjumpaan dengan Allah, tetapi masih tipis. Kalau masih tipis, masih belum berkualitas tinggi, maka tidak akan memberi dampak yang kuat di dalam hidup. Perjumpaan dengan Allah pasti membuat seseorang luar biasa; tidak mungkin biasa-biasa saja. 
    10 min
  • Memenuhi Hidup yang Allah Kehendaki
    Semakin kita menghayati kekristenan dengan belajar kebenaran dan berjalan dengan Tuhan setiap hari, maka kita semakin menemukan kekristenan yang sejati; pengiringan kepada Yesus yang sejati, menjadi anak Allah yang seharusnya, menjadi pengikut Yesus yang orisinal, yang Allah kehendaki untuk dijalani anak-anak Allah. Tentu kita setuju dan kita sering mendengar atau bahkan mengucapkan, bahwa standar hidup orang Kristen adalah Yesus. Makin mengerti kebenaran dan menghayati kekristenan melalui kebenaran Alkitab serta berjalan dengan Tuhan, kita semakin memahami kekristenan yang sejati. Maka, kita harus berpikir bahwa sangat sedikit orang yang sungguh-sungguh memiliki kekristenan yang sejati. Kalau sungguh-sungguh hal itu diajarkan di zaman kita hari ini, maka bisa saja kita dicap sebagai sekte, bidat, kekristenan yang tidak wajar. Karena, kekristenan yang sejati telah bergeser dari tempatnya terlalu jauh. 
    Kekristenan yang dikenakan banyak orang hari ini, sejatinya bukanlah kekristenan yang Tuhan kehendaki. Kehidupan orang-orang Kristen yang mengaku anak Allah, sesungguhnya belumlah berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Hal ini akan kita pahami, jika kita bertumbuh terus dalam kedewasaan rohani, dalam kebenaran, dan berjalan dengan Tuhan setiap hari. Kita melihat betapa jauhnya pergeseran yang sudah terjadi dalam kehidupan orang percaya. Tentu kita mau menjadi orang Kristen yang sejati dan ingin suatu hari kalau diperhadapkan di hadapan pengadilan takhta Kristus, kita dinilai berkenan; telah menjalankan hidup sebagai orang percaya yang benar, sebagai pengikut Kristus yang sejati, berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yang benar di mata Allah. 
    Mari kita serius memperkarakan hal ini, bahwa standar kekristenan yang sejati adalah Yesus. Apa yang dilakukan oleh Yesus yang belum kita lakukan, itu yang kita persoalkan. Bagaimana gaya hidup-Nya yang belum kita kenakan. Jangan melihat orang Kristen, aktivis, bahkan pendeta. Tentu Tuhan masih menyisakan pendeta, aktivis, atau orang Kristen yang menampilkan kehidupan Kristen yang sejati. Tetapi, ini pun biasanya Iblis berusaha untuk menenggelamkannya. Oleh sebab itu, mari kita memperkarakan: gaya hidup dan cara berpikir Tuhan Yesus, yang belum kita kenakan. Mestinya setiap kita mempertanyakan hal itu kepada Tuhan, sebab hanya Tuhan yang bisa menjawab. 
    Kalimat narasi pendeta atau manusia mana pun, tidak akan cukup mampu membuka pikiran dan wawasan rohani kita untuk memahami keadaan kita yang sesungguhnya di hadapan Allah. Kita harus sungguh-sungguh memperkarakan ini di hadapan Tuhan, apakah kehidupan Yesus; gaya hidup-Nya, cara berpikir-Nya, prinsip-prinsip-Nya telah benar-benar kita kenakan? Sebab kurang dari itu, bukanlah standar yang Allah kehendaki. Tuhan itu Tuhan yang absolut, Tuhan yang kehendak-Nya mutlak harus dipatuhi dan tidak dikurangi. Seperti kalau Tuhan berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” berarti harus salah satu. Seperti misalnya terang atau gelap; tidak ada remang-remang. Kalau tidak gelap, ya terang. Kalau tidak terang, ya gelap. 
    Kita harus memperkarakan sungguh-sungguh di hadapan Bapa di surga dalam percakapan dengan Tuhan Yesus setiap hari, apakah kita sudah memenuhi kehidupan seperti yang Allah kehendaki. Maka, fokus kita tidak boleh terpecah, terbagi sedikit pun. Waktu masih kanak-kanak rohani, belum dewasa, pada level di mana masih ada beberapa kesenangan yang kita miliki, kita masih bisa bertumbuh. Tetapi, pada level tertentu, untuk bisa naik, kita harus betul-betul tidak boleh membagi perhatian kepada apa pun dan siapa pun. Itulah ukuran standar yang Allah berikan. 
    Tuhan Yesus melepaskan segala sesuatu demi tugas penyelamatan yang Bapa percayakan kepada-Nya. Tuhan Yesus berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu.” Siapa yang layak menjadi utusan Tuhan? Tentu mereka yang telah atau berani melepaskan segala sesuatu seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Utusan Tuhan itu tidak ditandai dengan gelar kesarjanaa...
    8 min
  • Brokenness
    Kita telah belajar banyak kebenaran, dan itu suatu hal yang bagus. Banyak di antara kita yang berkata, “Hidupku diubahkan oleh khotbah Suara Kebenaran.” Bukan bermaksud mau membanggakan diri, tetapi kita pasti pernah mendengar atau mungkin kita sendiri mengalaminya. Tetapi jangan berhenti berubah. Pada waktu 4 tahun, 5 tahun yang lalu, kita berubah karena Suara Kebenaran, Tuhan senang. Tetapi setelah 5 tahun, perubahan kita harus lebih. Kalau tidak, Tuhan tidak disenangkan. Kita harus terus bertumbuh di dalam kebenaran. 
    Ketika kita mendengar Suara Kebenaran, hidup kita diubah dan membuat kita lebih rohani. Kita berubah, dan itu menyenangkan Tuhan. Tetapi kebenaran harus bertumbuh, dan kualitas diri kita juga harus berubah. 5 tahun yang lalu, benar Tuhan dipuaskan, disenangkan oleh kita. Tetapi sekarang—ini jebakan yang terjadi dalam hidup banyak orang Kristen di sekitar kita—jadi sombong rohani. Kita memang akan secara otomatis memiliki roh yang membedakan; logika rohani, kecerdasan roh yang membedakan. Seorang ahli parfum akan bisa mencium dan mengenali parfum dari merk apa; ibu-ibu bisa tahu berbagai wangi bunga, “Ini melati, ini mawar,” belum tentu yang lain bisa. Kita bisa, karena sudah terbiasa melatih maka jadi otomatis. 
    Seorang montir mobil yang canggih suka diajak orang sebelum ia membeli mobil, untuk memeriksa kondisi mobil tersebut. Kita tidak tahu, tetapi dia tahu. “Ini tidak sehat, mobilnya.” Seorang ahli, akan otomatis tahu. Tetapi, jangan menghakimi orang, “Ini salah, ini benar.” Setelah cerdas dalam mempelajari Suara Kebenaran, pintar menganalisis, lalu menghakimi, dan bisa menyakitkan. Dia bisa jatuh karena tidak menggumuli keadaan dirinya. Lupa, seakan-akan Suara Kebenaran yang dia pelajari, otomatis menjadikan dia berkualitas. 
    Coba kita tanya Tuhan, hidup kita berkualitas tidak? Yang menyedihkan, kalau tidak berdoa. Bisa mendengarkan Suara Kebenaran berjam-jam, tetapi tidak berdoa. Bukan tidak boleh mendengarkan Suara Kebenaran berjam-jam. Idealnya begitu, tetapi bertemu Tuhan secara pribadi, harus. Seberapa hebat khotbah Suara Kebenaran? Memang pada mulanya bisa mengubah kita, tetapi ada tahapan di mana kita harus bertemu Tuhan secara langsung. Kalau sampai kita tidak betah berdoa lebih dari 30 menit, maka ada yang salah dalam hidup kita. 
    Mengapa orang tidak bisa tahan berdoa? Kalau lidahnya masih terikat mengecap sesuatu yang enak, selera mata, selera telinga, hobi, atau kesenangan tertentu, maka tidak bisa berdoa lama. Suara Kebenaran didengar, bagus. Tetapi duduk diam di kaki Tuhan, itu mutlak. Jangan melarikan diri hanya karena mau punya pengetahuan. Kita harus punya waktu duduk diam di kaki Tuhan. Bagaimana firman itu dihidupkan di dalam hidup kita, supaya bisa menemukan diri kita oleh pertolongan Roh Kudus. Apakah Tuhan senang dengan keadaan kita? Apa keadaan kita sesuai dengan apa yang Allah kehendaki? Maka, kita harus belajar “mengikat” tubuh kita di hadirat Allah. “Aku ikat tubuhku di hadirat-Mu, Tuhan. Satu jam setengah, satu jam ini.” Ikat jiwa, pikiran dan perasaan kita untuk duduk diam. Harus sering diikat. Kita harus berurusan dengan Tuhan atau berdoa secara individu, karena Tuhan ingin berurusan dengan kita secara pribadi. Jika tidak, nanti kita jadi sok pintar, sok tahu. Merasa sudah kaya dengan pengertian kebenaran, jadi sok pintar. 
    Tidak boleh ada kesenangan apa pun selain Tuhan. Apalagi nonton gadget, sehingga tenggelam dalam perasaan senang dan asyik yang bisa merusak pikiran kita; tidak boleh! Kita harus duduk diam, lalu mengikat tubuh, jiwa, pikiran, dan perasaan kita. Memang kita membutuhkan khotbah, tetapi lebih dari itu, bagaimana kehidupan kita sesuai dengan kehendak Allah sehingga bisa dikecap Tuhan, menyenangkan Tuhan. Kita harus berubah terus secara bertahap. Menyenangkan Tuhan lebih tinggi, lebih berkualitas. 
    Haus dan lapar akan kebenaran itu seberapa? Itu masalahnya. Sering kita makan dalam keadaan tidak lapar, betul.
    9 min
  • Melekat pada Tuhan
    Sudah terlalu lama orang-orang Kristen diikat dengan berbagai kesenangan dan berbagai kemelesetan. Kemelesetan itu dosa; (Yun.) hamartia. Memang kita mungkin tidak terikat dengan dosa-dosa moral, tetapi meleset; tindakannya tidak tepat seperti yang Allah kehendaki, tidak sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. Dalam hal ini, musuh yang paling berat adalah kewajaran hidup. Bicara sembarangan, memarahi orang sembarangan, membeli barang ini, barang itu, pergi ke sana atau ke situ, kita merasa berhak melakukannya. Padahal, mestinya kita tidak berhak lagi atas diri kita. Tetapi, luar biasanya dan sekaligus mengerikannya, Tuhan tidak memaksa kita melakukan apa yang tepat seperti yang Ia kehendaki. Ia tidak memaksa, walaupun Ia menghendaki demikian. Ini yang harus menjadi kegentaran kita. 
    Jadi, kita sudah harus mulai hari ini melepaskan segala sesuatu, kalau kita mau menjadi murid-Nya. Artinya, kalau kita mau menjadi serupa dengan Yesus; kalau mau menjadi utusan Tuhan, kalau mau dimuliakan bersama Yesus, diperkenan masuk ke dalam Rumah Bapa. Jangan merasa berhak memiliki sesuatu, termasuk kesenangan. Mari menjadikan Tuhan satu-satunya kesenangan dan kebahagiaan kita. Kalau kita menjadikan Tuhan satu-satunya kesenangan dan kebahagiaan kita, maka kita berusaha melakukan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dalam segala hal dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Pekerjaan Allah yang dipercayakan kepada masing-masing kita tentu memiliki tugas yang berbeda. 
    Kristen yang sejati itu mestinya berbeda sekali dengan anak dunia. Karena kita tidak berbeda secara benar, tidak tajam perbedaannya, makanya anak-anak kita ikut terbawa; kompromi, konformistis. Setan itu licik dan harus dikatakan “luar biasa,” walaupun Tuhan tentu lebih luar biasa. Setan akan mengemas doktrin, pengajaran, wawasan-wawasan melalui teolog-teolog dan penulis-penulis Kristen, yang semua itu mengurangi dosis kekristenan yang seharusnya kita kenakan. Selalu saja orang punya alasan: “Jangan berlebihan, jangan keterlaluan, tidak usah ekstrem-ekstrem. Jangan terlalu fanatik, sebab kita hidup di tengah-tengah masyarakat.” “Cerdik seperti ular tulus seperti merpati” diartikan salah. Cerdik seperti ular, tetapi kompromi. Tulusnya bukan tulus seperti Tuhan Yesus; tulus lain, tulus di dalam nalar, bukan dari impartasi spirit Roh Kudus, spirit Allah. 
    Ayo, kita memperkarakan hal ini, sebelum kita menghadap takhta pengadilan Kristus. Kita akan sangat menyesal kalau suatu hari bertemu Tuhan, tetapi kita tidak melepaskan segala sesuatu. Kesenangan-kesenangan dunia harus kita lepaskan. Tinggalkan hobi-hobi yang tidak perlu, jika tidak mendatangkan keuntungan untuk pekerjaan Tuhan. Hobi yang menguntungkan, yang mendatangkan uang sehingga uangnya bisa kita gunakan untuk menolong sesama, menghidupi keluarga, membalas kebaikan orang tua, bagus. Tetapi, kalau hanya untuk senang-senang saja, harus kita tinggalkan karena dunia akan segera berakhir.
    Jadi, standarnya itu Tuhan Yesus. Tetapi, Paulus pun juga istimewa seperti Gurunya atau Tuhannya. Pernyataan-pernyataan Paulus jangan hanya diucapkan, seperti di Filipi 1:21, “Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Sampai pada tingkat di mana kematian menguntungkan. Ini bukan omong kosong, tetapi harus benar-benar kita alami, kita hayati. Dengan cara ini, kita menyelamatkan manusia. Orang-orang yang sudah lama hidup dalam ownership; dalam pemilikan terhadap dirinya sendiri, betapa sulitnya melepaskan segala sesuatu dan mengarahkan diri kepada Tuhan. Tuhan bisa membaca, apakah kita masih melekat dengan apa yang ada pada kita, atau hanya melekat kepada Tuhan. 
    “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” jangan hanya menjadi slogan saja. Sampai level ini, kita baru bisa menghayati dunia bukan rumah kita. Kehidupan Rasul Paulus itu berstandar Yesus. Maka, dia berani berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.
    9 min
  • Bersatu dengan Tuhan
    Kalau kita jujur, banyak orang di lingkungan Kristen yang merasa bahwa hidupnya belum menyatu dengan Allah; masih terpisah dari Allah. Sayangnya, banyak orang tidak jujur; merasa sudah percaya kepada Tuhan, percaya Tuhan menyertainya, dan puas dengan pengalaman rohani yang sudah dijalani. Yang penting sudah ke gereja, berdoa sebelum tidur, sebelum makan, atau mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja sebagai aktivis, apalagi sebagai pendeta. Tetapi, di dalam kedalaman hatinya, jika ia jujur, hidupnya masih belum “nge-blend” dengan Tuhan; belum bercampur, belum menyatu dengan Tuhan. Ironisnya, banyak orang tidak mengubah situasi hidupnya yang seperti itu. 
    Hal ini juga terjadi pada kita. Ada saat di mana kita merasa belum “nge-blend” dengan Tuhan; belum menyatu dengan Dia. Dan itu bisa berlangsung selama bertahun-tahun, sampai suatu saat ketika kita dalam keadaan terjepit, dalam keadaan bahaya, memiliki kebutuhan mendesak, baru kita merasa membutuhkan Tuhan. Pada waktu itulah kita berusaha untuk “nge-blend” dengan Tuhan. Kita datang kepada Tuhan, minta pertolongan-Nya, lalu menantikan pertolongan Tuhan atas masalah yang dihadapi, atau kebutuhan yang belum terpenuhi. Dari keadaan tersebut, Tuhan mengajar supaya kita selalu “nge-blend” dengan-Nya; bercampur, menyatu dengan Tuhan. 
    Mestinya, kedekatan kita dengan Allah lebih dari itu. Jangan hanya ketika merasa membutuhkan sesuatu, baru kita mencari Tuhan. Tetapi karena kita memiliki banyak fokus, apalagi memiliki banyak kesenangan, maka kita merasa bahwa standar “nge-blend” dengan Tuhan itu sudah cukup, meskipun belum menyatu dengan benar. Itu kesalahan yang bisa terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen. Karena semua baik-baik, berjalan dengan baik, running well, kita tidak merasa ada yang kurang atau salah. Padahal, sebenarnya hubungan kita dengan Tuhan belum intim secara benar. 
    Sebenarnya, kalau keadaan ini dibiarkan terus-menerus, kita akan menuju keterpisahan dengan Allah. Kedekatan kita dengan Allah harus terus meningkat. Kalau orang merasa sudah cukup di satu level dan membiarkan keadaan itu terus-menerus, pasti suatu kali akan hancur. Kita harus jujur melihat diri sendiri. Seberapa kita sudah benar-benar “nge-blend;” menyatu dengan Tuhan. Kalau belum “krek” kita harus mencari Tuhan terus melalui doa, Firman, perenungan akan Tuhan, pertobatan dari setiap dosa, melepaskan semua keinginan dunia, sampai kita benar-benar “krek” dengan Tuhan atau “nge-blend” dengan Tuhan karena Tuhan membuka diri-Nya tanpa batas. 
    Sungguh berita baik, berita sukacita, bahwa kita memiliki Allah yang berkenan untuk bersatu, “nge-blend” dengan kita, “krek” dengan kita tanpa batas. Tetapi, kalau kita menganggap ini bukan sesuatu yang membahagiakan, pasti kita sedang terikat oleh suatu kesenangan. Harusnya ada sukacita dalam hati kita bahwa kita memiliki Allah yang membuka diri untuk bersatu dengan kita. Seperti pernyataan Tuhan Yesus di Yohanes 17:20 dan 21, “Bapa tinggal dalam Yesus, dan Yesus tinggal di dalam Bapa, dan orang percaya tinggal di dalam Bapa dan Anak.” Luar biasa. 
    Pertanyaannya, bagaimana bisa hal itu kita rindukan atau ingini? Jujurnya, kita tidak mengingininya. Selain kurang percaya, tidak percaya, juga tidak mengingini. Hal ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata; karena harus dialami secara langsung. Kalau kita mendengar kisah tentang lezatnya satu jenis masakan, mau secakap apa pun orang menjelaskannya, kita tidak akan bisa mengerti sebelum mengecap sendiri masakan tersebut. Demikian pula, kita tidak bisa menjelaskan kepada orang betapa indahnya “nge-blend” dengan Tuhan kecuali mereka mengalaminya langsung. Sayangnya, tidak banyak orang yang berkerinduan untuk “nge-blend” dengan Tuhan, contohnya orang yang rajin ke gereja setiap Minggu, aktivis, bahkan pendeta, juga orang yang ada di sekitar lingkungan gereja. Seakan-akan dirinya terpisah dari Allah, tereliminasi dari Allah atau Allah yang tereliminasi dari dirinya.
    9 min
  • Baik-baik Saja
    Pernahkah kita memperkarakan, apa sebenarnya yang diingini oleh Tuhan bagi kita? Sejatinya, Tuhan bisa tidak membutuhkan kita, karena Ia memiliki segala sesuatu. Tuhan hanya ingin kita baik-baik saja, keadaan kita baik-baik. Tetapi keadaan kita bisa benar-benar baik kalau kita memiliki Tuhan. Bagaimana kita bisa memiliki Tuhan? Kalau kita mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Bagaimana kita bisa mengerti kehendak Tuhan supaya kita bisa melakukannya? Kita harus sungguh-sungguh mengingini untuk mengerti. Sebab tidak mungkin Tuhan tidak menjawab keinginan, kehausan orang untuk mengerti kehendak Tuhan agar bisa melakukannya. 
    Mulut kita bisa menipu manusia, tapi mulut kita tidak bisa menipu Tuhan, karena Tuhan melihat hati. Seberapa kuat keinginan, kerinduan, kehausan untuk mengerti kehendak-Nya guna kita lakukan, Allah tahu. Kita yang harus membuat hati kita membara, sebab Allah tidak bisa membuat hati kita membara, karena itu melanggar kodrat hakekat tatanan Allah. Kitalah yang harus mengobarkan dan membuat membara keinginan, niat, hasrat, tekad untuk mengerti kehendak Allah guna kita lakukan. Di dalam nama Tuhan semesta alam, Elohim YAHWEH, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus Putra Tunggal-Nya, kobarkan di dalam hati kita kerinduan untuk mengerti apa yang Dia kehendaki dalam segala hal, yang kita jalani dalam hidup ini dan kita lakukan. Jangan mengingini keinginan sendiri. Jangan membangun hasrat-hasrat dari diri kita sendiri. 
    Bagaimana kita bisa membuat membara keinginan melakukan kehendak Allah? Kalau kita mematikan dengan sengaja dan sadar keinginan-keinginan dari diri kita sendiri, yang tidak mengarahkan kita kepada Tuhan. Saat-saat seperti ini, ketika kita ada di hadirat Tuhan, kita dapat merasakan kehadiran-Nya. Ada api yang dinyalahkan Roh Kudus di dalam hati kita. Api yang kau kita kobarkan bisa membara, tapi kalau kita matikan akan mati; apa? Api untuk mengasihi Tuhan. Api ini kalau kita buat membara, kita bisa mengasihi Tuhan. Dan kalau kita mengasihi Tuhan, pasti kita ingin mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya. 
    Hanya pada waktu dulu kita sering kompromi, masih menghidupi keinginan-keinginan yang kita anggap itu wajar. Yang kemudian kita tahu, bahwa musuh yang tidak disadari oleh banyak orang adalah kewajaran hidup. Ketika kita mau hidup wajar, kita membahayakan diri kita sendiri. Maka untuk menjadi kekasih Tuhan, kita harus berani hidup tidak wajar, membunuh segala kesenangan. Walaupun kita tentu mustahil melakukannya, tapi kerinduan itu akan disambut oleh Roh Kudus. Roh Kudus menolong kita. Sampai kita membayangkan, kita sudah sampai puncak kesucian, puncak kesalehan, puncak kehidupan. Dimana kita benar-benar tak bercacat tak bercela, hidup kudus di hadapan Tuhan, menurut penilaian Tuhan; betapa indahnya. Kita harus sangat berambisi untuk hal ini. Jangan berambisi untuk hal lain. 
    Bagaimana dalam setiap langkah, kita melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketemu si A, ketemu si B kalau Tuhan tidak menghendaki, tidak usah ketemu; pergi ke tempat sana ke tempat sini, kalau Tuhan tidak menghendaki jangan lakukan; dalam percakapan, atur percakapan apa yang patut kita utaran dan yang tidak perlu kita utarakan. Setiap saat kita melakukan hal itu. Itu berat, tidak mudah, sulit tetapi kalau kita membiasakan diri, Roh Kudus tuntun. Kita akan peka dengan suara Roh. Apalagi pendeta yang harus di mimbar, harus bicara atas nama Tuhan. Seharusnya tidak ada kata yang diucapkan dari pikirannya sendiri. Tapi bagaimana dia bisa mengucapkan kalimat, yang bukan dari pikirannya sendiri kalau tiap hari terbiasa melakukan segala hal sesuai dengan pikirannya. Jadi betapa sulitnya, betapa beratnya hamba Tuhan itu. 
    Setan itu licik dan cerdik. Dia menuntun, mengarahkan orang untuk berjalan meleset! Meleset dari kehendak Tuhan. Makanya, kita harus berjaga-jaga. Tiap hari diisi firman. Jangan lihat apa yang tidak perlu dilihat lagi. Tutup mata dan telingamu dari apa yang dapat merusa...
    9 min
  • Kunci Sukses Kehidupan
    Seiring dengan bertambahnya umur biologis kita, maka seharusnya bertambah pula waktu pengiringan kepada Tuhan, sehingga kita harus semakin memenuhi kesucian yang Allah kehendaki. Kalau dulu kita kurang tulus atau tidak tulus, Tuhan bisa menolerir dan menganggap itu bukan kesalahan, sehingga Ia tidak perlu mendisiplin kita. Tetapi seiring berjalannya waktu dengan penambahan usia biologis dan usia perjalanan mengiring Tuhan, maka kita harus benar-benar memiliki perilaku yang makin sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. Yang tahu itu hanya Tuhan. Tetapi, kita juga bisa mengetahuinya, kalau kita betul-betul mempersoalkannya di hadapan Tuhan. 
    Tuhan menuntut kita untuk sepikiran, seperasaan dengan Dia. Jika tidak, maka kita menyakiti hati Tuhan. Itu berarti sikap tidak menghormati Dia. Kita tidak boleh masih bercanda sembarangan, bicara sembarangan, bersikap tidak tulus, dan sebagainya.Yang mengetahui hal tersebut hanya Tuhan dan kita sendiri, kalau kita mempersoalkan hal itu sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Kalau kita tidak mempersoalkan, kita tidak akan bertumbuh. Jangan sampai semakin tua, kita malah semakin cakap dalam berdiplomasi, bersikap tidak tulus, dan lain-lain, artinya perbuatan yang tidak berkenan di hadapan-Nya.
    Firman Tuhan mengatakan, “Aku yang menguji batin,” dan batin atau hati manusia itu licik, lebih licik dari segala sesuatu. Jangan sampai kita tidak mengenal diri kita. Kita sebenarnya menyakiti orang, sombong, tidak tulus, tetapi kita tidak menyadari hal tersebut. Kalau masih baru jadi Kristen, mungkin Tuhan mungkin bisa maklum. Tetapi, kalau sudah dipandang Tuhan bahwa kita seharusnya dewasa, maka hal-hal tersebut tidak boleh kita lakukan lagi. Jika kita ada dalam tataran ini, mari kita keluar dari keadaan itu. Kita minta ampun kepada Tuhan dan bertobat. 
    Semakin kita tua, kita harus selalu ada di hadirat-Nya. Jadi, kita ada di hadirat Tuhan setiap saat. Suasana doa waktu kita berhadapan dengan Tuhan, penghayatan kita akan kehadiran Tuhan, kita bawa dalam hidup sehari-hari. Jangan kita tidak melakukan ini. Kita harus selalu di hadirat Tuhan. Jadi, hati-hati dalam bicara dengan orang lain, hati-hati dalam mengambil keputusan dan bertindak. Kalau anak-anak muda, mungkin masih berantakan dan itu agak bisa dimaklumi. Tetapi, kalau sudah berumur tua, sudah mesti dalam kekudusan, baik tutur kata, sikap, perilaku kita. Roh Kudus akan menuntun kita. Waktu Roh Kudus tersinggung dan tidak nyaman karena merasa tidak dihormati oleh kita, Tuhan pasti bicara. Tidak mungkin Ia tidak memberitahu kita. 
    Dan waktu nanti kita berada di hadapan takhta pengadilan Tuhan, tidak mungkin kita bisa berkata “Tidak tahu.” Ia pasti menunjukkan dan mengingatkan kita. Kalau sampai Ia diam, itu karena kita yang tidak mau mendengarkan teguran-Nya. Kunci sukses kehidupan kita adalah menghormati Tuhan. Jadi, hati-hati dengan yang kita ucapkan, pikirkan, bahkan yang kita lihat di gadget kita. Jangan berlama-lama melihat yang tidak perlu, sehingga kita menjadi tenggelam dan asyik di situ, kemudian waktu kita menjadi habis sia-sia. Kita lebih baik menggunakan waktu untuk membaca Alkitab, mendengarkan khotbah yang baik, dan duduk diam di kaki Tuhan. 
    Orang yang takut akan Tuhan hari ini dan menghormati Dia dengan benar, nanti di hadapan Tuhan dalam kemuliaan-Nya, pasti akan takut juga. Tetapi, bukan perasaan takut yang negatif. Sebaliknya, orang yang tidak menghormati Tuhan dengan perbuatannya karena selama hidup ia hanya menyenangkan diri sendiri, dia akan takut yang negatif. Oleh sebab itu, kita harus berusaha supaya di hadapan Tuhan itu bersih sebersih-bersihnya. Jangan sampai ada saldo dosa atau kesenangan dunia yang membuat Tuhan tidak nyaman. Kalau kita menghormati Tuhan, kita akan berusaha supaya kualitas hormat kita kepada Tuhan bertambah. Dan kalau sampai kita meleset, melakukan kesalahan, kita berbuat sesuatu yang tidak sesuai pikiran, perasaan Allah, maka dukacita kita menjadi dalam.
    8 min
  • Jangan Menyimpang
    Iblis akan berusaha untuk menghalangi perjalanan kita menuju Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Seperti ketika Yesus pada awal pelayanan-Nya setelah dibaptis, dibawa ke tempat tinggi lalu kepada-Nya ditunjukkan keindahan dunia. Iblis mencoba untuk menghalangi perjalanan karya keselamatan yang Yesus akan kerjakan atau sedang kerjakan. Ditunjukkan keindahan dunia agar Yesus memilih keindahan dunia dan tidak menyelesaikan pekerjaan Bapa. Namun, Yesus tidak menyimpang, Dia tetap pada tugas penyelamatan yang harus dikerjakan-Nya. Yesus juga pernah hendak dibawa untuk dijadikan raja oleh orang-orang Yahudi, raja versi orang-orang Yahudi. Yesus menolak, Yesus tidak menerima itu. Dalam suasana pengelu-eluan di mana Yesus diangkat-angkat mau dijadikan raja, Yesus tidak hanyut dalam pujian, sanjungan, dan sebaliknya Yesus memilih tetap pada tugas yang Bapa berikan. 
    Petrus sendiri pernah mencegah Yesus ke Yerusalem agar tidak menyelesaikan tugas penyelamatan, tetapi Yesus tetap memilih menyelesaikan tugas penyelamatan. Di Taman Getsemani antara kehendak Yesus sendiri dan kehendak Bapa, Yesus mengakhiri dengan pernyataan, “Bukan kehendak-Ku yang jadi tetapi kehendak-Mulah yang jadi.” Ini teladan dan contoh bagi kita, kehidupan yang tidak menyimpang! Dari perkara-perkara kecil kita harus belajar fokus kepada Tuhan. Banyak hal yang bisa menyimpangkan kita. Kegiatan-kegiatan yang tidak membuat kita bertumbuh dalam iman, pasti kegiatan-kegiatan yang mengarahkan kita kepada arah yang salah. 
    Dari perkara kecil, dari apa yang kita lihat, kita lakukan. Misalnya, kita ditelepon seorang teman hendak diajak untuk sekadar ngobrol yang tidak jelas, sekadar makan-makan yang tidak jelas; kita harus berkata, “Maaf, aku punya kegiatan.” Kecuali memang kita perlu bertemu untuk bisnis, bertemu untuk menyelamatkan saudara itu; mintalah petunjuk dan pimpinan Tuhan. 24 jam yang Tuhan berikan harus kita gunakan sebaik-baiknya; istirahat, bekerja, bertemu keluarga, kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan iman, seperti berdoa, membaca Alkitab, doa pribadi, penyembahan pribadi; kita harus sudah jadwalkan, kita atur waktu kita. Tidak boleh menyimpang, apalagi kalau itu menyangkut uang besar atau menyangkut waktu yang banyak. 
    Misalnya kita ditawari untuk ikut satu organisasi; kalau organisasi itu hanya sekadar euforia atau kita mau supaya nama kita dikenal, ini menyimpangkan! Bagi di antara kita yang belum punya pacar, sudah berumur, kita pasti bertemu dengan orang-orang yang memberikan tawaran, maka berhati-hatilah! Dalam kesepian, kita bisa lupa bertanya kepada Tuhan lalu mengambil keputusan untuk berjalan dengan seseorang. Seseorang yang tidak takut akan Allah, yang tidak membawa kita kepada kebenaran, dan kalau jadi teman hidup, dia bisa menyeret kita kepada penderitaan sampai ke api kekal. Iblis bisa memakai orang-orang seperti itu untuk menyimpangkan hidup kita. 
    Banyak hal yang bisa menyimpangkan kita, sehingga kita tidak fokus dan tidak melanjutkan perjalanan ke langit baru bumi baru. Kita membutuhkan kepekaan. Karenanya, mutlak setiap hari kita berdoa. Ada waktu di mana kita bisa meditasi, doa pribadi, mengadakan percakapan, mengadakan dialog dengan Tuhan. Percayalah, Tuhan pasti berbicara. Ingat, jangan menyimpang! Dari perkara-perkara kecil sampai perkara-perkara besar. Kalau dari perkara kecil kita meleset, maka dalam perkara besar kita juga pasti meleset. Jadi dari perkara kecil, mari tidak meleset. Dari cara kita menggunakan waktu, dari hal-hal yang kelihatannya sederhana.
    Apa pun yang tidak membuat iman kita bertumbuh, apa pun yang hanya memberikan kesenangan sesaat, harus kita buang. Kita harus selalu mempertimbangkan, apakah kegiatan yang kita lakukan itu benar-benar berkenan kepada Tuhan? Semua yang bisa menumbuhkan iman, membangun cinta, hormat kita kepada Allah, memindahkan hati di Kerajaan Surga; pasti Tuhan berkenan. Tetapi, kalau suatu kegiatan tidak membuat kita mengasihi Tuhan, tidak menambahkan hormat,
    9 min
  • Tantangan

    Ketika kita mencari kehendak Allah untuk kita lakukan, mengerti rencana-Nya untuk kita penuhi, maka ada kebahagiaan yang melampaui segala akal yang Tuhan berikan, yang Paulus katakan sebagai, “Sukacita yang melampaui segala akal dan pikiran.” Namun, banyak orang tidak sampai menembus ke level ini. Bahkan aktivis, juga pendeta, belum sampai menembus level ini. Kegiatannya belum memiliki nafas kebenaran ini. Nyawanya belum nyawa Tuhan atau belum kehidupan Tuhan. Sejatinya, pengurbanan Tuhan Yesus harus mengubah kita, harus membuat kita bisa dinikmati oleh Allah. Maka, harus disadari bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, kita adalah milik Tuhan. Belajarlah mengerti kehendak Tuhan untuk kita lakukan, dan rencana-Nya untuk kita penuhi, dan terus hidup dalam proses perubahan tersebut.

    Bukan Allah yang menyesuaikan diri terhadap kita; melainkan kita yang harus menyesuaikan diri terhadap kehendak-Nya. Memang kalau orang masih baru menjadi Kristen, Tuhan sering toleransi. Bukan kompromi. Tetapi, kalau sudah 15, 20, 30 tahun ikut Tuhan, maka Tuhan tidak mau toleransi lagi. Apalagi kompromi. Jangan membayangkan Tuhan yang penuh anugerah dan belas kasihan dengan prinsip only by grace; sola gratia, lalu Tuhan kompromi; “Tidak apa-apa. Kamu belum suci, tidak apa-apa. Kamu masih duniawi, tidak apa-apa.” Tuhan tidak kompromi. Hari ini kita yang masih merasa kuat, jangan sampai kita tergeletak tidak bisa bangun. Tidak usah sampai jatuh dari ketinggian tiga meter, syaraf belakang terjepit saja, kita tidak bisa bangun. Maka, kita harus serius untuk berubah.

    Kalau Tuhan biarkan kita tetap kuat, tidak ada masalah, nanti ketika kita melihat kemuliaan Allah, kita akan gemetar, dan kita dibuang, artinya kita tidak bisa masuk ke dalam Rumah Bapa. Maka, kita harus seekstrem-ekstremnya untuk ini, sefanatik-fanatiknya. Tidak ada orang yang tiap hari berdoa lalu berdosa terus. Kalaupun bisa, jiwanya pasti akan terganggu. Maka, jangan heran kalau orang masih hidup dalam dosa, dia tidak bisa berdoa. Jangan main-main dengan Tuhan! Seluruh harta di dunia ini dengan triliunan kilo emas, berton-ton di bumi ini dan batu permata, semua dikumpulkan, tidak lebih harganya dari satu jiwa kita.

    Menjadi tantangan bagi kita, apakah hidup kita bisa dinikmati Tuhan atau tidak. Maka, kita harus berusaha untuk hidup benar. Neraka itu mengerikan. Kemuliaan bersama Tuhan, indah. Namun, banyak orang sombong-sombong sekali, padahal mereka tidak tahu tragisnya hidup. Sebentar meninggal dunia juga jadi tengkorak. Jangan kita menjalani hidup seperti itu. Tidak ada yang indah selain berkenan di hadapan Tuhan. Mari renungkan dan bayangkan, ketika kita bertemu dengan Tuhan Yesus, apa reaksi Tuhan terhadap kita? Ketika kita berkata, “Terima kasih, Tuhan, atas kurban-Mu di kayu salib, di mana Tuhan menebus, memikul dosa-dosaku,” apa reaksi Tuhan kira-kira? Puaskah Tuhan dengan ucapan terima kasih yang terlontar dari bibir kita?

    Pasti kita mengucapkan terima kasih tanpa getar air mata, tanpa getar perasaan yang mendalam, kalau hanya berterima kasih karena Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa dalam arti perbuatan salah kita. Tetapi, ketika kita menghayati maksud kurban Yesus di kayu salib, di mana oleh kurban-Nya kita diperkenankan untuk bisa memanggil Allah sebagai Bapa kita, menerima Roh Kudus, didikan dan hajaran Bapa sehingga kita bisa serupa dengan Yesus, kita bisa menjadi orang yang berkenan kepada Allah, maka ucapan terima kasih kita akan sangat dalam, dengan getar perasaan yang mendalam.

    “Terima kasih Tuhan, Engkau telah mati bagiku di kayu salib, dan menjadikan aku ada sebagaimana aku sekarang, yaitu bisa semakin serupa dengan Yesus, bisa menyenangkan hati Allah Bapa, dan itu kehormatan. Oleh kurban Tuhan Yesus di kayu salib, aku menerima pembenaran di mana aku boleh menghampiri Allah dan memanggil Allah sebagai Bapa. Dia memeteraikan Roh Kudus di dalam aku dan menuntun...
    8 min
  • Harus Berusaha
    Sejujurnya, ada di antara kita yang masih merasa asing dengan Tuhan. Itu berarti ada sesuatu yang salah dalam hidup kita dan sejatinya, itu sangat membahayakan. Kita merasa asing walaupun kita sudah memanggil-manggil nama-Nya. Hal itu terjadi karena kita belum memiliki hubungan yang eksklusif, yang intim dengan-Nya. Kita harus sadar akan hal itu. Jangan membiarkan keadaan ini berlarut-larut. Kita harus berusaha untuk bagaimana memiliki hubungan yang intim dengan Allah. Memang semua kita perlu proses. Syukur kemudian kita sadar ini salah, ini munafik. Sehingga akhirnya, kita mau mengubah cara hidup kita agar bisa menyatu dengan Tuhan. 
    Ironis, orang-orang yang hidup sekarang ini tidak eksklusif dengan Tuhan, namun tidak tahu betapa bahayanya keadaannya itu. Ketika suatu hari bertemu dengan Tuhan, baru mereka menyesal. Dia, Bapa, benar-benar mau menjadi Bapa dalam hubungan Bapa dan anak yang harus eksklusif. Jangan hanya menyebut Allah sebagai Bapa tanpa memiliki pengalaman sentuhan sebagai anak dengan Bapa dalam hubungan yang eksklusif. Jangan kita abaikan dan main-main dengan hal ini. Kita harus mencari cara bagaimana kita bisa memiliki hubungan yang eksklusif—bukan hanya ada di dalam pikiran sebagai teori bahwa Bapa itu Allah dan kita adalah anak—melainkan sebagai pengalaman yang benar-benar menyentuh, dan Bapa juga merasakannya. 
    Suatu hari kita akan bertemu dengan Tuhan kita, Yesus Kristus, dan itu pasti. Sebab setiap orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus (2 Kor. 5:9-10). Yesus benar-benar memberi diri untuk menjadi Sahabat yang begitu karib dan akrab, sehingga seperti menjadi mempelai. Begitu yang dikatakan dalam Efesus 5:31, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Jadi, hubungan Kristus dan jemaat itu begitu eksklusif. Sampai tidak ada yang dapat menggambarkan atau menganalogikan kecuali hubungan suami istri. 
    Seorang laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Kita pun harus berani meninggalkan segala sesuatu yang membuat kita terhalang untuk memilki hubungan yang eksklusif dengan Tuhan. Jadi selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk memiliki hubungan eksklusif, kita harus berusaha. Di gereja kita hanya memiliki waktu 45 menit hingga 1 jam untuk mendengarkan Firman Tuhan. Maka, selanjutnya kita sendiri yang harus menggeliat, berusaha dalam menit-menit, jam-jam, hari-hari kita untuk menemukan Tuhan dan memiliki hubungan dengan Dia secara benar. Seperti yang dikatakan Paulus dalam 2 Korintus 11, “Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.”
    “Perawan suci” di sini maksudnya adalah hati yang tidak terikat dengan sesuatu. Tidak terfokus pada sesuatu, sehingga menghalangi atau merusak hubungan eksklusif kita dengan Tuhan. Allah punya banyak anak, tentu. Tetapi ada anak-anak yang tidak memiliki hubungan yang benar dengan Bapa, karena mereka nakal; ikut jalan dunia, bukan ikut jalan Tuhan. Maka, kita harus nekat atau memaksa diri. Kalau kita tidak keras kepada diri kita, maka dunia akan keras memengaruhi kita dan banyak di antara kita yang masih sakit, belum dewasa di mata Tuhan. Ironisnya, banyak orang tidak peduli; apakah dia cantik di hadapan Tuhan atau tidak. 
    Selama kita masih hidup di bumi, mungkin memang tidak ada yang mempersoalkan keadaan kita. Tetapi kalau kita mati, kita akan menghadap takhta pengadilan Kristus dan harus bertanggung jawab bagaimana kita mengisi hari kita. Kita harus mengenali keadaan kita, apakah sudah cantik atau belum di hadapan Tuhan? Manusia lahiriah kita semakin merosot, semakin rentan,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…