Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kita Punya Kesempatan
    Pembenaran dimaksudkan agar Allah bisa menaruh Roh-Nya di dalam diri kita; supaya kita bisa diterima Allah, murka Allah bisa disurutkan, keadilan Allah ditegakkan di mana setiap dosa harus mendapat ganjaran. Yesus yang jadi pemikul dosa. Ia menerima ganjarannya. Sudah selesai. Tetapi, keadaan kita yang belum selesai. Dianggap tidak berdosa, tetapi kita masih dalam keadaan berdosa. Maka, keadaan berdosa harus diganti dengan tidak berdosa. Itulah sebabnya kita harus digarap supaya kudus seperti Tuhan kudus. 
    Mau sehebat apa sih kita? Pada akhirnya, semua manusia akan mati juga. Maka, kita harus punya penglihatan beyond the grave, penglihatan kekekalan, sehingga kita sudah bisa mempertimbangkan semua dari sudut pandang kekekalan. Jadi, hidup ini bernilai karena kita punya kesempatan; kesempatan berjalan dengan Tuhan. Di dalam perjalanan itu Tuhan mau mendidik kita. Jadi, kalau Tuhan Yesus berkata, “… jadikanlah semua bangsa murid-Ku,” sejatinya Tuhan Yesus yang mendidik kita masing-masing melalui Roh Kudus. 
    Para hamba Tuhan adalah mentor yang mengarahkan, tetapi tidak bisa mengubah. Jadi kalau orang berkata, “Wah, khotbahnya mengubah saya,” sebenarnya yang mengubah itu Roh Kudus dan orang tersebut meresponi Roh Kudus. Dan hari-hari hidupnya, detik ke detik hidupnya itu yang menentukan. Yang penting kita harus berubah; perubahan kodrat, dari kambing menjadi domba. Itu tidak mudah. Tetapi, hal itu bisa terjadi karena Roh Kudus itu hebat mengubah kita. Kebersamaan dengan Allah itu untuk mengubah kita. Allah tidak bisa mengubah kita tanpa kebersamaan dengan-Nya.
    Herannya, kita malah tidak mau bersama, tetapi justru bergaul dengan banyak hal yang sesuai kemauan kita sendiri; yang bisa mengganggu pendewasaan kita melalui tontonan dan apa yang didengar. Padahal, waktu itu berharga. Kita harus mengejar ketinggalan kita, menebus kesalahan kita. Jadi, setiap pagi kita wajib berdoa yaitu duduk diam di kaki Tuhan. Kita minta petunjuk Tuhan di pagi itu. Dan mestinya kita hidup di hadirat Tuhan setiap hari.
    Dan kita tahu, bagaimana manusia pada umumnya atau hampir semua manusia, memiliki cara berpikir yang sesat dengan beranggapan seakan-akan hidup itu hanya sekali di bumi ini, dan tidak ada kehidupan lain setelah ini. Itu salah. Memang hidup di bumi ini hanya sekali, tetapi ada kehidupan yang akan datang. Ini penting. Banyak orang sesat pikirannya dan itu sudah mencengkeram seluruh syaraf jiwanya. Struktur jiwanya sudah dicengkeram oleh pemikiran, bahwa hidup hanya sekali di bumi ini dan di luar ini tidak ada kehidupan. Mereka telah dibodohi dengan pikiran itu. 
    Tetapi sebaliknya, kita tahu hidup itu memang sekali di bumi ini, tetapi masih ada kehidupan lain yang akan datang setelah kematian. Dan kehidupan yang sekali di bumi ini haruslah kita gunakan dengan benar sebagai persiapan untuk kehidupan yang akan datang. Jadi, kehidupan sekarang ini bukanlah kehidupan yang menjadi tujuan, bukanlah kehidupan yang menjadi pelabuhan terakhir, bukan kehidupan yang menjadi terminal akhir melainkan kehidupan yang menjadi transisi. Ini penting. Namun untuk mengubah cara berpikir ini tidak mudah. Karena dari kecil kita sudah dicengkeram dengan pola pikir yang salah yang kita warisi dari orang tua dan juga kita serap dari lingkungan atau pergaulan kita. Lalu sudah mengkristal di dalam pikiran: Hidup hanya sekali. 
    Maka ada orang yang berkata, “Aji mumpung.” Mumpung masih muda, nanti kalau sudah tua tidak bisa senang-senang lagi. Ketika dewasa muda, mumpung belum tua banget. Setelah tua, mumpung masih hidup sebab kalau sudah sekarat, tidak bisa mumpung lagi. Mari kita ubah cara berpikir kita bahwa hidup yang sesungguhnya itu nanti yaitu setelah kematian. Jika kita bisa menghayati dengan benar, bahwa hidup yang sesungguhnya itu nanti, maka kita tidak akan bisa terikat oleh keindahan dunia yang fana ini. Walaupun kita bisa menggapainya, tetapi kita bisa tidak terikat dengan dunia ini lagi.
    10 min
  • Hidup yang Bernilai
    Hidup itu luar biasa. Kita sudah menjalani hidup selama 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun atau lebih. Karena sudah terbiasa menjalani hidup, kita lupa untuk menghargai dan menilai hidup secara benar. Karena apa yang sudah biasa kita lakukan atau kita miliki, menjadi tidak luar biasa. Ketika seseorang beli mobil mewah, pada hari pertama, betapa dia menghargai mobil itu; mungkin bertahan hingga bulan pertama, atau dua bulan pertama. Mobil itu terasa berharga. Tetapi 5 tahun kemudian tidak bernilai lagi. Dan memang nilai dari mobil itu juga kemudian merosot. 
    Kuasa kegelapan menipu, dia penipu; Satan is a liar. Dia membisikkan kalimat yang kita tidak sadari melalui kejadian, peristiwa, percakapan, film, atau lagu bahwa hidup ini tidak bernilai. Dan sebaliknya, yang bernilai adalah ketika kita punya rumah besar, mobil bagus, popular, cantik, ganteng, terhormat, berpendidikan tinggi, aman, jauh dari ancaman. Dan hampir semua orang tersesat di sini. Bagi pendeta, ia merasa bernilai kalau jadi pendeta besar, gereja besar, pimpinan besar, ketua sinode. Tambah bernilai kalau anggotanya ada pejabat tinggi, anggota DPR, pengacara terkenal, yang bisa disebut-sebut dalam khotbahnya.
    Hidup ini bernilai bukan karena hal itu. Hidup ini bernilai kalau kita ada di jalan Tuhan. “Di jalan Tuhan” artinya dalam kebersamaan dengan Tuhan. Kalau bagi umat Perjanjian Lama, “di jalan Tuhan” artinya mengikuti rencana-Nya. Abraham mengikuti rencana Allah. Ia keluar dari Ur-Kasdim, dibawa Tuhan ke negeri yang Tuhan hendak tunjukkan. Tetapi, ternyata sampai mati pun dia tidak pernah menemukan negeri itu, hanya melihat dari jauh, dan negeri itu adalah Langit Baru Bumi Baru (Ibr. 11). Dikatakan berjalan bersama Tuhan selama mereka melakukan hukum (hukum TUHAN) dan mengikuti rencana Allah. 
    Tetapi, bagi umat Perjanjian Baru bukan begitu saja. Tentu kita harus memenuhi rencana Allah. Dikatakan “berjalan bersama dengan Tuhan” kalau Tuhan tinggal di dalam kita, dan kita tinggal di dalam Dia; “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Jadi, kebersamaan dengan Tuhan berarti ada dalam persekutuan. Maksudnya adalah supaya kita mengalami proses perubahan sampai menjadi serupa dengan Tuhan atau berkodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4) atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-11).
    Kebersamaan dengan Tuhan adalah persekutuan dengan Tuhan, agar kita memilki sifat Allah, karakter Allah. Dan itu tujuan dari hidup baru, sehingga hidup jadi berarti. Hidup ini bernilai karena ada kesempatan untuk itu. Bukan kesempatan menikah, punya anak, punya rumah, punya mobil, terhormat. Bukan tidak boleh, tetapi itu semua bukan target atau alasan kita hidup. Jadi, hidup itu bernilai karena ada kesempatan. Bagi kita sebagai umat pilihan, kesempatan untuk bersama dengan Tuhan. Bersama dengan Tuhan bukan berarti Tuhan ada di samping kita, melainkan Ia ada di dalam kita. 
    Kita bersyukur karena Tuhan memiliki toleransi yang sangat panjang. Seperti orang tua, toleransinya panjang untuk anak-anak. Waktu anak masih kecil, ketika ia lapar, ia nangis saja. Tetapi orang tua tidak merasa disusahkan. Malah dianggap menyenangkan. Ketika remaja, kadang-kadang menyakiti orang tua, dan orang tua masih bisa berkata: “It’s ok.” Tetapi orang tua ingin, suatu hari mereka menjadi seperti yang orang tua mau. Jadi, kalau seorang anak ada di satu keluarga, keberhargaannya adalah bagaimana anak itu menjadi seperti filosofi orang tua. Kalau orang tuanya punya filosofi-filosofi hidup yang baik—harus studi, bisa mandiri, bermoral baik—itu adalah kesempatan. 
    Kesempatan kita juga begitu; menjadi umat pilihan yang boleh tinggal di dalam Tuhan. Sebab, tidak ada cara lain untuk menjadi serupa dengan Yesus atau memiliki karakter Allah Bapa, sesuai rancangan Allah semula, segambar dan serupa dengan Dia kecuali Roh-Nya tinggal di dalam kita. Dalam kesabaran yang tinggi, sering kali Tuhan didukakan,
    0 min
  • Benar, Walau Belum Sempurna
    Karena hidup ini singkat, maka kita harus secepat mungkin, sedini mungkin tidak meleset. Jangan menunda. Jika menunda, nanti kita malah membatalkan. Setiap bangun tidur, kita berkata, “Hari ini hari baruku, aku jadi manusia baru.” Jangan dengar intimidasi Iblis yang mengatakan, “Kamu tidak pernah berhasil. Kamu rusak, kamu selalu berbuat dosa. Nanti saja, kamu akan bisa melewati itu,” itu bohong. Kita harus berani setiap hari, “Hari ini aku tidak boleh meleset sama sekali.” Kalau yang kita pikirkan firman Tuhan, seperti Alkitab katakan, “Firman Tuhan siang dan malam kita renungkan,” gairahnya gairah rohani, energinya energi rohani, perilaku kita perilaku rohani. Ini bukan hal sederhana. 
    Kita memang memiliki kekurangan dan kelemahan, tetapi kita harus berani memiliki komitmen, sampai kita berani berkata, “Aku berjanji hidup suci, tak bercacat, tak tercela. Terkutuklah aku kalau aku tidak mengasihi Tuhan.” Terkesan kita ini sombong atau menutupi kesalahan. Tetapi kita serius, mari kita mengucapkan ini setiap hari. Jadi kalau meleset, kita minta ampun. Ada melesetnya, tetapi melesetnya pasti tidak jauh. Tetapi kalau tidak ada komitmen itu, kita sembarangan, maka melesetnya akan terlalu jauh. Oleh sebab itu, setiap hari kita harus berani berkomitmen, “Hari ini aku tidak boleh berbuat salah.” 
    Pertanyaannya, apakah hal ini mungkin? Setan bilang “Tidak mungkin,” tetapi Alkitab berkata, “Pencobaan yang kamu alami, tidak melampaui kekuatanmu.” Jadi, pencobaan itu pasti bisa kita kalahkan dan taklukkan. Kita pasti bisa berhasil dan hidup suci. Jangan mencurigai Tuhan, seakan-akan Tuhan membawa kita kepada satu situasi di mana kita tidak bisa tidak, pasti berdosa. Tidak mungkin. Tuhan tidak akan pernah memojokkan kita di situasi itu. Karena, tidak ada pencobaan melampaui kekuatan kita. Kalau kita berkomitmen untuk hidup suci, itu bisa. Kita harus punya gairah, semangat dan optimisme. Masalahnya, optimisme banyak orang itu diarahkan untuk yang lain, sehingga untuk kesucian hidup menjadi powerless, impoten; tidak kuat, tidak berkuasa. 
    Kalau Tuhan masih memberi kita hari yang baru, maka jangan menyentuh sesuatu yang melukai Tuhan. Sekecil atau sehalus apa pun kesalahan itu. Kita bisa membuat suasana surga berubah, karena kesucian akan memberi warna dan memancarkan warna yang indah di hadapan Tuhan. Ibarat fragrance; aroma, itu memancarkan wewangian. Tuhan akan menandai kita yang membawa keharuman di hadirat-Nya. Hal ini begitu indah, lantas kenapa kita tidak mau melakukannya? Mari kita menjadi pedupaan yang berbau harum. 
    Karena hidup ini singkat, maka kita harus meraih sebanyak-banyaknya proyek yang dapat dilakukan untuk kepentingan Tuhan. Kita harus mencari penderitaan. Roma 8:17 mengatakan, hanya orang yang menderita bersama Tuhan Yesus yang dimuliakan. Kita pasti takut meninggal, kalau belum pernah menderita bagi Tuhan. Menderita tidak harus fisik. Kita bisa mengorbankan waktu, pikiran, menolong orang, mempersembahkan uang. Uang itu sulit mencarinya, tetapi kita rela persembahkan untuk Tuhan. Memang terasa sakit; itulah penderitaan. 
    Banyak orang tidak mau memberi uang, karena terasa sakit. Pokoknya kalau belum sampai sakit, itu belum persembahan. Kalau berdoa belum “berdarah-darah,” itu belum berdoa. Kalau kita melayani belum sampai “berdarah-darah,” itu belum pelayanan. Kalau dalam mencapai kesucian belum sampai “berdarah-darah,” itu belum mencapai kesucian. Harus sampai “berdarah-darah,” karena standarnya selalu segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Mestinya kita bertanya, “Apa lagi Tuhan yang harus kulakukan? Apa lagi yang harus kuperbuat, Tuhan?” 
    Bagi anak muda, ada proyek-proyek kecil di sekitar kita, baik dalam studi, dalam pertemanan. Minimal bisa berdoa untuk orang tua, untuk pendeta di tempat kita. Itu semua proyek-proyek yang harus kita temukan. Jangan sampai kita sudah berumur, tetapi tidak pernah punya pengorbanan dan pengabdian bagi Tuhan. Ketika kita mati,
    8 min
  • Kesempatan Bicara
    Haus dan lapar akan kebenaran, artinya bukan hanya senang dengan khotbah, tetapi bagaimana berkeadaan hidup sesuai dengan yang Allah inginkan, yaitu kesucian hidup. Segala hal yang kita lakukan, sesuai apa yang Allah ingini. Selanjutnya, memenangkan jiwa-jiwa, karena itu yang memuaskan hati Allah dan sesuai dengan kehendak Allah. Allah tidak menghendaki seorang pun binasa. Kalau kita sampai punya kerinduan yang begitu dalam kepada Tuhan seperti ini, maka kita menjadi kekasih-Nya. Apa yang membuat kita tidak bisa remuk hati? Karena kita remuk untuk yang lain. Kesenangan-kesenangan dunia bisa meremukkan kita. 
    “Kapan punya rumah; kapan punya jodoh; kapan sembuh dari sakit; kapan punya kedudukan itu?” Kita remuk untuk yang lain. Mestinya tidak ada yang kita ingini kecuali Tuhan. Jangan sibuk memikirkan atau ribut dengan hal yang lain. Hanya Tuhan yang kita ingini. Untuk itu, kita mau hidup hanya untuk menyenangkan Dia. Setiap kata yang kita ucapkan, harus benar. Setiap kata di media sosial kita harus benar dipertanyakan, “Tuhan senang, tidak?” Bukan “Yang penting aku senang, aku puas,” tidak bisa. 
    Ketika seseorang tidak memiliki peluang memiliki apa-apa, brokenness-nya (remuk hati) itu mudah. Waktu dia tertindas, dilukai habis-habisan oleh orang, brokenness-nya mudah. Tetapi kalau seorang punya kesempatan terhormat, kesempatan punya harta, kesempatan menikmati hidup, maka dia tidak bisa punya brokenness. Lebih konyol lagi, sudah tidak punya kesempatan untuk menikmati hidup, tetapi tidak brokenness; mati rohaninya. Ini tidak menutup kemungkinan bagi kita yang secara finansial cukup, fisik sehat, relasi pejabat, relasi banyak. Tidak menutup kemungkinan kita punya brokenness. Asal, kita tidak menjadikan itu kebahagiaan. Kalau kita bahagia, orang lain tidak bahagia, kita tidak bisa bahagia, bukan? Apalagi nanti kalau kita sudah mulai diajak sepikiran, seperasaan dengan Allah, brokenness itu lebih dalam lagi. Lebih meningkat. 
    Haus dan lapar akan kebenaran itu sampai tingkat kita remuk, stres. Kalau fisik lapar, haus tidak diisi, bisa stres. Masalahnya, jiwa kita stres. Kita tidak bisa paksa diri brokenness. Kita harus tanggalkan semua. Jika kita sungguh-sungguh, kita akan mencapainya. Banyak orang tidak mau berjuang hidup suci, karena tidak merasa yakin bisa mencapainya. Kita merasa kadang-kadang “Tidak akan mungkin ini,” setan itu menipu. Satu hal yang kita harus tahu, di dalam diri kita ada pangkalan yang kalau kita tidak hati-hati, Iblis masuk. Di dalam diri kita ini ada manusia lama; ada “setannya.”
    Kita mestinya percaya, tetapi setan menghalangi untuk percaya. Kalau kita berdoa, dia mengganggu. Waktu kita mau mengampuni orang, dia berkata, “Tidak perlu, tidak bisa itu.” Waktu kita mau mematikan keinginan daging, dia bicara, “Wajarlah, jangan berlebihan.” Waktu mau berdoa, “Coba ke situ dulu. Coba kamu lihat itu ada apa. Coba kamu lihat TV, 2 menit saja.” Karena ada setannya di pikiran kita. Tetapi semakin hari, kita makin tahu, makin kita kenali suara itu. Belum lagi kalau keinginan dosa bisa ditimbulkan. Kalau setan seperti itu diberi kesempatan bicara terus, Roh Kudus tidak bisa bicara. 
    Jadi, kita harus sungguh dapat mengenali suara yang bukan dari Allah. Kalau gembala yang baik berkata bahwa “Domba yang baik mendengar suara gembala,” yang bicara Gembala yang baik, yaitu Tuhan Yesus; mendengar suara-Nya tentu di dalam hati kita, bukan di telinga secara audible. Kita mau hidup suci, tetapi ada suara, “Tidak bisa. Tidak mungkin. Nanti saja. Kamu setia, tidak berkhianat kepada Tuhanmu. Kamu orang baik. Nanti sajalah kalau hidup suci.” Ada suara seperti itu. Dan itu yang membuat kita tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Yang sungguh-sungguh saja, harus meratapi. Memang tidak mudah, maka kita harus serius dalam perjuangan. Apalagi yang tidak sungguh-sungguh. 
    Jangan sombong. Lihat diri kita, kira-kira hidup kita sudah sesuai dengan kehendak Allah atau tidak? Jangan banyak bicara,
    9 min
  • Menjaga Perasaan Tuhan
    Tuhan kita adalah Tuhan yang berperasaan. Dia adalah Pribadi. Disebut “pribadi,” artinya memiliki pikiran dan perasaan. Kita harus selalu mengingat bahwa kita tidak bisa hidup tanpa berinteraksi dengan Allah yang hidup. Maka, kita harus benar-benar mempertimbangkan perasaan Allah. Oleh sebab itu, jangan kita melawan Tuhan. Melawan Tuhan itu mengerikan. Hampir semua orang Kristen—walaupun tentu tidak semua—atau mungkin juga orang beragama mengatakan, “Kami tidak melawan Allah. Siapa yang berani melawan Allah?” Tetapi kenyataannya, tanpa kita sadari, banyak orang melawan Allah. Kita juga tanpa sadar melawan Allah; melawan Allah dalam atau melalui sikap hidup, dimana kita tidak mempertimbangkan perasaan-Nya. Dan ini sudah menjadi irama hidup banyak orang.
    Orang yang tidak memperhatikan perasaan Allah biasanya hanyut memperhatikan perasaannya sendiri. Tidak mau disakiti, tidak mau dirugikan, tidak mau diperlakukan tidak adil, mau dianggap terhormat, berharga, dan untuk itulah seseorang menggelar dan menyelenggarakan hidupnya. Ia mau mencapai apa yang menurut pertimbangannya membahagiakan, menyenangkan, mengangkat harkat, martabat, harga diri, prestise, nilai dirinya. Orang seperti ini sebenarnya tidak ber-Tuhan, sebab yang menjadi Tuhan adalah dirinya sendiri. Segala sesuatu yang diupayakan, berpusat pada dirinya sendiri. Bagaimana ia dapat membahagiakan dirinya, memuaskan dirinya, atau diringkas dengan kalimat “memanjakan perasaan.” 
    Orang seperti ini tanpa sadar melawan Tuhan. Ia tidak akan mempertimbangkan perasaan Allah. Yang dipertimbangkan itu perasaannya sendiri. Orang-orang seperti ini biasanya menjadi egois. Ia tidak peduli perasaan orang lain. Kalau perasaan Tuhan saja dia tidak pedulikan, perasaan manusia lain juga dia tidak pedulikan. Itu sudah menjadi irama semua orang. Sadar atau tidak, itu juga irama kita. Tetapi, setelah kita ditebus oleh darah Tuhan Yesus, kita bukan milik kita sendiri; kita adalah milik Tuhan, seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 6:19 dan 20. Kita milik Tuhan, kita hidup hanya untuk melayani Tuhan. 
    Melayani Tuhan jangan hanya dipahami sekadar aktif dalam kegiatan gereja, menjadi aktivis, majelis, atau pendeta. Kalau pelayanan kepada Tuhan hanya ditandai hal-hal tersebut, maka mereka yang tidak mengambil bagian dalam kegiatan rohani di lingkungan gereja, tentu tidak bisa dikatakan sebagai pelayan Tuhan. Kalau tidak menjadi pelayan Tuhan, pelayan siapa? Semua kita melayani Tuhan. Pelayanan bagi Tuhan yang sejati adalah melayani perasaan-Nya. Percuma menjadi pendeta, aktivis atau majelis, kalau tidak memperhatikan dan menjaga perasaan Tuhan. 
    Mestinya yang kita lakukan adalah menjaga perasaan Tuhan. Apa pun yang kita lakukan, baik yang kita pikirkan, ucapkan dan perbuat secara fisik, harus selalu dipertimbangkan apakah menyenangkan Tuhan atau tidak. Ini rahasia hidup. Kalau kita melakukan hal ini, kita akan dibela Tuhan. Kita bisa menjadi kekasih Tuhan. Jadi, kita harus serius memperhatikan hal ini. Celaka, jika kita menjadi manusia yang tidak mempertimbangkan perasaan Tuhan. 
    Sayangnya, kita telah melewati tahun-tahun dimana kita tidak serius mempertimbangkan perasaan Tuhan dalam perilaku kita. Kalau mengingat hal itu, kita sedih, menyesal. Puji Tuhan kalau Tuhan tegur kita, peringatkan kita, pukul kita, mendisiplin kita, sehingga kita sadar bahwa kita sudah dibeli oleh darah Yesus, menjadi milik Allah. Kita adalah milik Tuhan. Kalau kita adalah milik Tuhan, kita harus melayani Tuhan. Melayani Tuhan artinya melayani perasaan-Nya. Jangan kita tidak berubah. Nanti kita akan terus dalam lipatan. Ibarat kertas, kita kembali kepada lipatan yang sama. Mendengar khotbah, terbuka sedikit. Selesai mendengar khotbah, tertutup lagi ke lipatan yang sama. Itu mengerikan. Orang-orang yang tiap hari mendengar khotbah, tetapi tidak berubah lipatannya, itu karena mereka tidak mau sungguh-sungguh memeriksa diri dan mengubah diri. 
    Hati-hati dengan apa yang kita pikirkan.
    9 min
  • Keterlibatan Tuhan
    Banyak orang sebenarnya belum menemukan Tuhan secara benar. Memang ada tahapan-tahapan, tetapi mestinya kita mengalami Tuhan dalam perjumpaan riil yang semakin kuat. Dalam perjumpaan dengan Tuhan dan kehidupan yang berjalan dengan Tuhan, maka seseorang akan menerima impartasi; impartasi pikiran, perasaan Allah, dan juga berkat-berkat-Nya; berkat jasmani, berkat rohani. Bukan berarti bahwa orang miskin tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Tidak, belum tentu. Kadang-kadang keadaan miskin atau kesulitan ekonomi menjadi cara Tuhan untuk mendewasakan kita. Tetapi kalau sampai berlarut-larut lalu menjadi beban bagi orang lain, kita mesti periksa, hidup kita benar, tidak? Sebab kalau seseorang berjalan dengan Tuhan, pasti memancar, pasti jadi berkat. 
    Karenanya, kita harus mencari Tuhan. Kita harus berpikir, harus berani berprinsip. Walaupun kelihatannya tidak berhubungan antara menemukan Tuhan dengan tubuh sehat; menemukan Tuhan dengan ekonomi yang membaik; menemukan Tuhan dengan karakter kita yang cemerlang. Memang tidak bisa dijelaskan koneksitasnya, harus kita alami sendiri. Betapa besar dampak seorang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Apa dan bagaimana mencari Tuhan dan mengalami perjumpaan itu? Tentu bisa kita lakukan, berjam-jam duduk diam di kaki Tuhan. Kalau Tuhan hidup, Dia nyata, maka Dia bisa “menyentuh” kita. Seperti memberikan aliran, arus bagi jiwa, bahkan fisik kita. 
    Kalau Allah itu hidup, maka kita punya pengalaman-pengalaman yang adikodrati saat berdoa. Ada kawasan ilahi yang tidak mudah orang menyentuh, kecuali jika habis-habisan untuk Tuhan, maka dia bisa “naik.” Ini bukan teori. Pengalaman-pengalaman adikodrati itu bagian dari perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah juga bisa melalui perenungan akan Tuhan siang dan malam. Segala sesuatu harus dikaitkan dengan Tuhan. Apa pun yang kita lihat atau dengar. Apalagi kejadian yang memengaruhi pikiran dan perasaan kita. Pasti Allah bermanuver di situ. Tidak ada kejadian yang Tuhan tidak ikut terlibat. Tuhan tidak pernah “cuci tangan.” Firman Tuhan mengatakan, “Allah bekerja dalam segala sesuatu.” Dalam teks bahasa Indonesia, ada kata “turut,” tetapi dalam teks aslinya, tidak ada. 
    Dalam segala hal ada kehadiran Tuhan. Masalahnya, kita serius tidak, untuk menghubungkan setiap peristiwa dengan Tuhan? Kita harus terus mempersenjatai diri dengan serius. Jangan hanya doa 15-30 menit duduk diam di kaki Tuhan. Tuhan lebih menghargai lagi kalau kita punya tempat khusus, jam khusus. Kita merancangkan, “Hari ini jam 10 sampai jam 11, saya mau bertemu Tuhan.” Itu berarti kita serius memperlakukan Dia sebagai Allah yang hidup. Bukan hanya lagi senang berdoa, maka kita berdoa. Sedangkan jika sedang tidak senang berdoa, kita tidak berdoa. Tidak bisa seperti itu. 
    Perjumpaan dengan Tuhan harus dipandang secara nyata dan penting. Tidak mungkin ada kejadian yang Tuhan tidak ikut terlibat dan tidak ada maksud Tuhan di situ. Waktu kita bertemu dengan Tuhan di dalam doa, kita membuat persoalan, kita tanyakan, “Tuhan, mengapa begini, mengapa begitu?” Tuhan tidak mungkin tidak menjawab. Tuhan tidak mungkin membuat teka-teki. Tuhan pasti bicara kepada kita. Jadi, urusan kita sebenarnya hanya satu: Tuhan. Tidak ada urusan lain dalam hidup ini. “Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan,” tidak ada suatu pun kejadian dalam hidup kita yang Tuhan tidak bekerja di dalamnya. 
    Memang ada kejadian-kejadian yang diizinkan Tuhan, dirancang Tuhan, dan Allah mau menunjukkan karya-Nya di situ. Dan itu menguntungkan, nilainya plus. Tetapi, kita tidak bisa suka-suka sendiri, lalu mengharapkan Tuhan bekerja. Misalnya, Tuhan menghendaki kita pergi ke tempat A, tetapi kita ke B. Tetap Allah ikut bekerja, tetapi tidak optimal karena kita tidak menemukan apa yang baik yang Allah sediakan bagi kita. Mestinya kita ke gereja, banyak hal yang bisa kita dapat, tetapi kita malah menonton film. Apakah Allah ikut bekerja di gedung bioskop? Bisa saja.
    9 min
  • Bisnis Kekekalan
    Ketika kita menutup mata, kita baru sadar betapa singkatnya hidup ini. Lebih singkat dari yang kita duga dan bayangkan. Kalau sekarang kita bisa mengatakan, “Hidup ini singkat, betapa singkatnya hari,” tetapi sejatinya kita belum menghayati sepenuhnya singkatnya hari itu. Ketika mata pengertian kita terbuka terhadap realitas ini, pasti ada kegentaran yang luar biasa; kegentaran terhadap kedaulatan Allah. Sepanjang berapa pun umur manusia, ia ditentukan mati. Jangan sampai ketika di ujung hidup kita baru menyadari betapa hebat, betapa dahsyat kedaulatan Allah. Ketika tidak ada satu hari pun tersisa, pada waktu itu kita baru menghayati kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah yang menentukan durasi waktu hidup manusia. Kemudian, akan disusul dengan kegentaran di hadapan takhta pengadilan Tuhan. 
    Jujur saja, kita pasti mengalami yang namanya kejenuhan hidup. Bukan hanya orang di luar gereja, tetapi orang-orang Kristen. Bahkan pendeta, jenuh. Sampai mencari-cari, apa yang harus dilakukan. Bahkan kita yang belajar bergumul dengan Tuhan, ada jenuhnya juga. Berdoa itu ada jenuhnya juga. Kebaktian tiap hari itu bisa ada jenuhnya. Kita ini manusia. Ketika kita merasa jenuh, dan kita mencoba mencari kesibukan untuk mengisi hidup, itu isyarat bahwa kita telah gagal menghayati singkatnya hidup. Kenapa orang bisa bertahan doa berjam-jam? Ada beberapa faktor yang membuat ia sanggup duduk diam di kaki Tuhan. Faktor yang paling dominan, dia tidak punya kesenangan apa pun di luar Tuhan. Tidak ada kesenangan. Mau nonton, mau lihat gadget, walaupun kita minum kopi juga, bisa ketemu teman, tetapi itu tidak menuntut untuk kita lakukan. Kalaupun kita melakukan, pasti ada maksud rohani, maksud Tuhan di situ. 
    Mengapa kita bisa duduk diam di kaki Tuhan, bisa tidak jenuh ke gereja, puasa, doa? Karena tidak punya kesenangan. Selain itu, kita belajar menghayati betapa singkatnya hidup ini. Semakin orang mengenal kebenaran, semakin orang melihat dahsyatnya keadaan terpisah dari Allah. Makin menghayati betapa mengerikannya keadaan itu. Seiring dengan ini, dia akan melihat betapa tragisnya hidup. Hidup yang hanya singkat, penuh penderitaan, dan tidak jarang orang masuk neraka. Kalau bisa, kita menangkap sebanyak mungkin orang agar tidak masuk neraka. Sebab, betapa mengerikannya api kekal itu. Tetapi di lain pihak, semakin mengerti kebenaran, kita semakin melihat indahnya Kerajaan Surga. Kita bukan terobsesi bodoh, bukan fantasi, tetapi kita memiliki penghayatan yang benar dan tentu disertai dengan satu penghayatan bahwa dunia bukan rumah kita. 
    Semakin mengerti firman Tuhan, satu aspek, kita melihat dahsyatnya terpisah dari Allah; aspek yang lain, betapa indahnya surga dan menghayati dunia bukan rumah kita. Maka, kita akan menggunakan waktu yang Tuhan berikan yang singkat ini, untuk mengisi perjalanan hidup kita demi kekekalan. Tidak ada yang kita kerjakan di luar hal ini. Tidak boleh dan tidak ada yang kita lakukan di luar bisnis kekekalan. Mungkin untuk orang-orang muda, ini sulit. Tetapi jika yang muda-muda, mau, pasti bisa. Bagi yang sudah berumur, mungkin lebih sulit karena sudah terbiasa dengan pola pikir yang fokusnya earthly; duniawi. 
    Untuk mengubah fokus, itu tidak mudah. Tetapi kalau mau, bisa. Kalau terkait dengan pendewasaan rohani, pertumbuhan iman, pengharapan langit baru bumi baru, itu tidak ada karunia khusus. Itu dibangun oleh masing-masing individu. Jadi kalau kita melihat orang bisa menghayati bahwa dunia bukan rumahnya, itu bukan karena dia punya karunia khusus, tetapi karena dia memang mengisi hari hidupnya dengan benar. Hidup adalah pertaruhan. Apa yang kita pertaruhkan, itu yang akan kita tuai. Kalau ayat Alkitabnya: “Siapa yang menabur di dalam Roh, menuai kehidupan kekal. Tetapi yang menabur dalam daging, menuai kebinasaan.” Hidup ini pertaruhan. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, kita menabur. 
    Kita sadari atau tidak, kita menabur. Taburan kita ini,
    9 min
  • Kehidupan yang Menarik
    Kesempatan berbuat dosa adalah kesempatan menyenangkan Tuhan, yaitu jika kita tidak melakukan dosa atau hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ini kehidupan yang menyita. Kekristenan itu menyita seluruh hidup kita. Standarnya memang demikian. Jadi, kita mengerti pernyataan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah.” Itu standarnya. “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” itu standar. Semua pendeta bisa mengkhotbahkan ini. Tetapi masalahnya apakah kita mengalaminya? Ini tidak bisa diuraikan dengan kata-kata, tetapi harus dialami. Kalau hidup kita disita oleh kekristenan atau perjuangan kita menjadi sempurna—dewasa, kudus, tak bercacat, tak bercela—maka hidup ini tidak menjenuhkan, karena itu menarik. 
    Kekosongan dalam jiwa kita diisi. Jadi, kita tidak akan merasa jenuh. Kalau ada rasa jenuh, berarti kita harus bergerak ke level yang lebih tinggi, atau kecepatan kita harus ditingkatkan. Umur 30 tahun, Tuhan Yesus sudah sampai pada level “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Kita harus belajar berkata dengan tulus: “apa pun Tuhan, yang menyenangkan Engkau.” Mengapa gereja mula-mula harus teraniaya? Karena mereka gereja baru, orang Kristen baru. Orang Kristen atau gereja yang masih baby. Tetapi ironisnya, mereka harus mengalami aniaya. Sebab jika tidak, mereka akan terjebak dalam pola keberagamaan yang mereka telah pernah jalani, yaitu hidup keberagamaan orang Yahudi.
    Mereka menjalani hidup seperti “hewan,” yang hidupnya untuk pemenuhan kebutuhan fisik, dari lahir sampai tua. Makin tua, pikun, renta, mati. Lalu dalam perjalanannya perlu penunjang; support, yaitu Tuhan. Kalau mereka baik-baik, diberkati. Kalau tidak baik-baik, tidak diberkati. Tidak diberkati itu dalam bentuk kalah melawan musuh, panen gagal, bencana, epidemi penyakit, dan lainnya. Ini fisik. Tetapi setelah menjadi Kristen, berlaku Firman yang dikatakan Tuhan Yesus di Lukas 14:33, “Harus melepaskan diri dari segala milik.”
    Kekristenan itu tidak boleh dan mestinya tidak bisa menjadi sambilan. Itulah seluruh hidup kita. Namun, irama kita sudah telanjur salah; irama orang beragama. Lalu, mulai muncul konsep-konsep yang sesat (salah). Yang seluruh hidup untuk Tuhan, itu pendeta. Kalau bukan pendeta, tidak seluruh hidup untuk Tuhan. Yang sering dikenal sebagai full time. Telah terjadi kemerosotan atau degradasi. Kita harus melepaskan segala milik. Seluruhnya untuk Tuhan. Konsep-konsep yang dipahami oleh banyak orang merupakan kemerosotan dari kekristenan yang orisinil; contohnya, melepaskan segala sesuatu, itu pendeta, yang tidak melakukan pekerjaan sekuler, tidak memiliki profesi seperti orang-orang pada umumnya, atau tidak mengikuti pendidikan formal umum, tetapi pendidikan teologi. Tidak bekerja dengan gaji seperti seorang karyawan, tetapi di gereja. Di gereja, hidup dari kolekte. Konyolnya, kalau sampai seorang pendeta merasa bahwa itu miliknya atau berhak dipakai suka-suka. Justru dia tidak full time, karena memperdaya jemaat. Bukan berarti salah kalau seorang hamba Tuhan hidup dari pelayanan dan uang kolekte. 
    Kalau kita berjuang untuk makin hidup berkenan di hadapan Tuhan—makin suci, makin tidak bercacat tidak bercela, mendahulukan Kerajaan Allah—maka nanti kita sampai pada satu titik pemahaman dan penyerahan diri, “aku ciptaan untuk kesenangan Tuhan.” Kita adalah ciptaan; creature. Kita ini untuk God’s pleasure; kenikmatan Tuhan. Jadi apa pun yang kita kerjakan, itu adalah sarana kita membahagiakan Tuhan. Harus kita berani klaim, itu pekerjaan Tuhan. Apakah kita seorang driver; driver aplikasi online; seorang pendidik, seorang tenaga medis, seorang pengusaha, aparat sipil negara, atau apa pun. Di situlah kita benar-benar melayani Tuhan. Ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak, itu pekerjaan Tuhan. Kita harus benar-benar mengerti dan menerima, bahwa kekristenan itu menyita seluruh hidup kita....
    8 min
  • Jangan Sombong
    Di dalam Matius 5:6, Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Kita pasti percaya dan menerima bahwa Allah Mahatahu. Di dalam kemahatahuan Allah, Allah tahu apa yang ada di kedalaman hati kita dan keadaan kita seutuhnya, sesempurna-sempurnanya. Allah bisa dan memang mengenal kita, lebih dari kita mengenal diri kita sendiri. Tuhan melihat seberapa kita memiliki kehausan, lapar akan kebenaran. Tentu “kebenaran” ini jangan dipahami sebagai “pengetahuan” yang distempel atau diberi label sebagai kebenaran. 
    Kita yang selama bertahun-tahun mengaku sebagai pecinta Suara Kebenaran, kita tanpa sadar sering merasa telah mengetahui dan memiliki banyak kebenaran, merasa memiliki kebenaran lebih dari orang lain. Memang bisa saja begitu, tetapi apakah benar kita memahami maksud kebenaran? Bukan sekadar pengetahuan mengenai hal-hal yang termuat dalam Alkitab, yaitu pengertian-pengertian rohani dari Alkitab yang kita beri label “kebenaran.” Kebenaran harus kita pahami sebagai keadaan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.
    Meskipun mengerti banyak kebenaran, belum tentu kita berkeadaan sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Ini penting untuk semua, juga untuk para hamba Tuhan. Kiranya Tuhan mencerahi pikiran kita untuk mengerti benar keadaan diri atau keadaan hidup kita sesuai dengan kehendak Allah. Tentu keadaan masing-masing kita berbeda, dan Tuhan juga tidak akan menuntut apa yang kita tidak bisa lakukan. Tetapi sesuai dengan usia rohani kita, hendaknya kita memenuhi standar yang Allah inginkan, sehingga keadaan itu memuaskan hati Allah. 
    Anak umur 1 tahun bisa memanggil orang tuanya “Papa,” itu memuaskan. Tetapi kalau sudah umur 5-6 tahun, panggil “Papa” tidak bisa, ini mendukakan. Usia 2 tahun berlari menabrak ke sana-sini, lari ke sana-sini; tidak fokus, sangat dimaklumi karena biasanya baru bisa lari. Tetapi kalau sudah umur 7-8 tahun seperti itu, biasanya ada yang tidak beres dengan perkembangan mentalnya. Keadaan kita harus sesuai dengan apa yang Allah inginkan, dan harus bisa memuaskan hati-Nya. 
    Allah Bapa tidak membutuhkan apa pun dan tidak perlu siapa pun, sebenarnya. Tetapi kalau Allah berkehendak menciptakan manusia yang diangkat, diakui sebagai anak, berkeadaan segambar, serupa dengan diri-Nya, lalu bisa melakukan apa yang Bapa kehendaki, itu yang menyenangkan Dia. Itu rezekinya Allah, itu makanan, hidangan, santapan. Kalau musik, itu musik indah yang enak didengar. Kalau penciuman, itu keharuman yang dicium. 
    Allah tidak menuntut seseorang melampaui kekuatan orang itu, tetapi harus terus progresif sesuai dengan umur atau usia rohani orang tersebut. Siapa yang bisa tahu ini? Tuhan. Kita tidak bisa menilai orang lain. Maju atau mundur, tidak bisa. Masing-masing orang memiliki pergumulan hidup dengan Tuhan secara spesifik dan khusus. Kita harus benar-benar memeriksa diri kita sendiri, apakah kita telah berkeadaan sesuai dengan yang Allah kehendaki dari waktu ke waktu dan bertahap? Seiring dengan perjalanan waktu dan pertumbuhan rohani, maka Bapa disenangkan. 
    Dulu jika kita dijahati orang, masih kesal, tetapi kita tidak membalas dendam. Tuhan senang, masih maklum. Masih kesal, tetapi tidak balas dendam, itu sudah cukup memuaskan hati Allah. Nanti-nanti, tidak kesal dan tidak membalas dendam, tetapi belum bisa mendoakan. Nanti bisa tidak kesal, bisa mendoakan, bahkan bersyukur atas keadaan itu. Suatu hari ketika kita bertemu dengan Tuhan yang Mahaagung dan Mahamulia, kita bisa mengerti betapa indahnya momentum ketika Tuhan bisa tersenyum; Tuhan dipuaskan oleh keadaan kita. Betapa indahnya momentum itu, karena itu menjadi aset kekal, kekayaan abadi kita. 
    Kepada semua pecinta Suara Kebenaran, jangan sombong jika kita bisa bicara mengenai kebenaran, bisa mengoreksi orang, bisa menganalisis kebenaran-kebenaran yang begitu tajam dan dinilai lebih unggul dari paparan teologi atau khotbah orang.
    9 min
  • Memberhalakan Masalah
    Kita pasti pernah menghadapi perlakuan tidak adil dari orang-orang yang bermaksud jahat kepada kita. Jangan takut. Kalau kita sungguh-sungguh bertekad untuk hidup suci, mencintai Tuhan, kita mau bertumbuh terus dalam kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela, kita menyenangkan hati Tuhan, maka Tuhan pasti melindungi kita. Jangan takut sama sekali. Jangan gentar sama sekali, karena Allah yang hidup, pasti Allah yang akan menopang dan melindungi kita. Orang yang memberhalakan masalah adalah orang yang tidak layak dilindungi. Kalau seorang Kristen yang baru Kristen; Kristen yang belum dewasa, punya masalah dan memberhalakan masalah, Tuhan bisa tolong segera menyelesaikan masalah itu. Tetapi masalah itu tidak efektif mendewasakan orang tersebut. 
    Kalau kita sudah Kristen lama, sudah dewasa rohani mestinya, memiliki persoalan lalu memberhalakan masalah, maka hidup kita sengsara. Selain masalah itu tidak mendewasakan, kita juga menyiksa diri. Jangan sampai kita malah menjadi hancur karena masalah tersebut. Jadi kalau kita sudah mestinya dewasa, lalu ketika kita menghadapi masalah maka jangan bersungut-sungut dan marah kepada Tuhan. Bahkan kita jangan memaksa Tuhan menyelesaikan masalah kita, seperti yang ada di dalam skenario hidup kita. Serahkanlah seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Tuhan cakap, dan Tuhan berkuasa untuk menyelesaikan masalah kita dengan sempurna, yang akhirnya mendewasakan kita. 
    Tidak mungkin masalah yang kita hadapi itu tidak ada ujungnya. Kalau kita mau, kita boleh seperti menantang Tuhan, tetapi menantang dalam arti positif, yaitu menantang yang baik. “Tuhan, apa yang Kau kehendaki dalam hidupku, di dalam dan melalui masalah ini? Silakan, Tuhan. Silakan, Tuhan kerjakan. Aku menurut saja apa yang Tuhan kehendaki harus kujalani atau kualami, aku menyerah saja, asal Tuhan senang.” Itu bentuk menantang Tuhan yang positif. “Pokoknya, aku berserah.” Jangan memberhalakan masalah, karena dengan memberhalakan masalah, artinya kita tidak menghormati Tuhan, tidak menghargai Tuhan. Bagaimana kita dapat layak dilindungi Tuhan? Bagi orang Kristen baru, mungkin dia segera akan ditolong Tuhan. Tetapi, masalah itu tidak membuat dia dewasa. Kalau kita sudah menjadi dewasa, lalu punya masalah, tetapi masih saja mengatur Tuhan, memaksa Tuhan, maka apa yang terjadi? Masalah itu tidak membuat kita dewasa, dan masalah itu bisa malah menghancurkan kita, karena kita tidak menghormati Tuhan. 
    Sekarang mungkin kita sedang tidak memiliki masalah, tetapi kita harus tetap berkata, “Tuhan, pegang tanganku. Sertai aku, Tuhan. Kalaupun aku harus menghadapi masalah ke depan, ajar aku untuk bersikap benar.” Jadi apa pun yang terjadi, kita tidak anggap itu sebagai beban yang mencuri pikiran, perasaan, perhatian kita. Sebaliknya, apa pun yang terjadi, itu membuat kita lebih mengasihi Allah. Membuat kita lebih bertumbuh hidup suci, lebih bertumbuh hidup tidak bercacat, tidak bercela. Ini sebenarnya hanya untuk orang Kristen yang dewasa. Kalau tidak dewasa, sulit. Sebab biasanya Tuhan itu menjadi objek, tempat orang memiliki pertolongan, jalan keluar. Tetapi dengan mempelajari kebenaran ini, maka Tuhan menjadi Majikan, menjadi Tuan kita. 
    Kalau kita kedatangan pejabat tinggi, seorang walikota, apalagi gubernur, apalagi jabatan yang lebih tinggi, masalah yang kita miliki menjadi tidak besar. Masalah-masalah menjadi tidak mencuri perhatian kita. Demikian pula kalau kita berurusan dengan Tuhan. Kalau kita berurusan dengan Tuhan, masalah-masalah kita juga menjadi tidak ada artinya sama sekali. Karena Allah yang besar, Allah yang layak kita puji, kita muliakan, kita agungkan. Jadi firman Tuhan yang mengatakan “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku,” di situ termasuk pengertian “Jangan memberhalakan masalah.” 
    Orang yang memberhalakan masalah adalah orang yang tidak bisa memuliakan Tuhan, tidak bisa menyembah Tuhan. Bagaimana orang bisa memuliakan Tuhan atau menyembah Tuhan,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…