Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Nyaris
    Kita harus berani keluar dari cara berpikir kita yang orientasinya hanya pemenuhan kebutuhan jasmani. Percayalah, Allah itu hidup. Masalah apa pun yang kita hadapi, pasti Allah berkenan tolong. Paling parahnya, kita hanya  nyaris hancur, nyaris gagal. Dan Tuhan sering membawa kita dalam keadaan “nyaris,” supaya kita memandang Tuhan dan mencari Dia. Keadaan “nyaris, nyaris, nyaris,” inilah yang di Mazmur 73 membawa seseorang kepada kesadaran, bahwa hanya Allah yang dia butuhkan.  Pemazmur mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di surga, selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Maka, jangan kita hidup tanpa perubahan. Milikilah komitmen atau tekad, “Aku makhluk yang memiliki pikiran dan perasaan, berarti aku makhluk kekal.” 
    Kematian fisik tidak menghentikan kesadaran. Kematian fisik hanya fisik yang berkalang tanah, yang dikubur. Tetapi jiwa, roh seseorang abadi dalam kesadaran. Kita sadari itu, “Aku harus berpikir dengan cara pandang kekekalan.” Sebab kalau tidak, maka kualitas hidup kita tidak jauh dari hewan. Hanya bedanya, kita makhluk cerdas yang bisa membuat penemuan, inovasi-inovasi, yang bisa memiliki kemampuan menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Binatang tidak bisa. Dari dulu, monyet hanya dari dahan ke dahan. Manusia hari ini, bukan hanya bisa punya gerobak seperti beberapa puluh abad yang lalu. Manusia bisa memiliki jet supersonik, pesawat yang menembus ruang angkasa yang jauh. 
    Manusia adalah makhluk yang harus bertanggung jawab kepada Tuhan yang memberikan pikiran dan perasaan. Kalau kita memiliki cara pandang kekekalan, pasti kita mulai menghitung apa yang kita lakukan sejak kita hidup sekarang ini di bumi. Sebab kalau orang tidak memiliki cara pandang kekekalan, dia menjadi sembrono, ceroboh. Filosofi hidupnya yang nampak dari perilakunya adalah “Mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati.”  Pertanyaannya, apakah kita sudah mengalami perubahan? Sejujurnya, sering orang tidak berani menembus batas dan keluar dari cara pandang yang salah itu. 
    Memang, sulit sekali keluar dari cara berpikir ini, meskipun bagi seorang pendeta. Kita harus berjuang untuk keluar dari cara pandang yang salah ini; nekat, keras dengan diri sendiri. Sebab kalau kita tidak keras dengan diri sendiri, dunia akan keras kepada kita. Kita harus punya kecepatan tinggi supaya dunia tidak bisa meraih kita, setan tidak bisa meraih kita. Dengan cara apa? Kita harus banyak mendengar firman Tuhan dan berdoa; siapkan waktu tiap hari duduk diam di kaki Tuhan.  Tentu tidak mengurangi tanggung jawab dalam kehidupan kita. Tanggung jawab di kantor, di pekerjaan, di rumah tangga. Untuk itu, kita harus sangat serius supaya kita tidak bisa ditangkap oleh dunia; oleh pengaruh dunia yang luar biasa kuat dan jahatnya. 
    Jangan kita dalam keadaan tenang, lalu tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Ibarat berenang di sungai yang tenang, jangan kita berkata, “Mengalir saja.” Kita tidak akan mengalir, karena ada banyak buaya. Kita akan dimakan oleh dunia ini dengan cara berpikir anak-anak dunia yang tidak kita sadari. Kita harus berenang. Firman Tuhan berkata, “Keluarlah kamu dari antara mereka.” Dalam Kitab Wahyu, “Larilah kamu.” Kita yang mesti lari. Setiap kita punya persoalan, tetapi jangan hanyut di dalam persoalan. Kita harus lari. Perbanyak doa. Kita mau finishing well. Kita harus melihat Allah sebagai Bapa yang memiliki rencana; ada tujuan nilai yang harus kita tangkap sebagai manusia yang memiliki pikiran dan perasaan. 
    Pikiran, perasaan kita harus diisi oleh Firman, dituntun Roh Kudus supaya membuahkan kehendak-kehendak, niat-niat, maksud-maksud yang sesuai dengan kehendak Allah agar sinkron dengan rencana-Nya, dengan tujuan ilahi. Jangan seperti orang beragama yang berurusan dengan Tuhan hanya pada waktu mempunyai masalah. Atau kita mau transaksional dengan Tuhan. Kita tidak usah minta perlindungan Tuhan dan berkat Tuhan. Itu hak kita, asalkan kita memenuhi kewajiban kita.
    9 min
  • Menghidupkan Allah

    Untuk memiliki hati yang tidak bisa dibahagiakan oleh dunia, bukanlah perkara sederhana, bukan hal yang mudah. Maka kita harus menggumuli ini, jangan sampai ada yang kita nantikan selain hal ini. Sebab itu berarti kita sedang mengkhianati Tuhan. Tetapi siapa yang tahu hati manusia? Alkitab mengatakan, “Hati manusia licik, lebih licik dari segala sesuatu.” Kita bisa menipu diri kita sendiri. Maka kita harus duduk diam di kaki Tuhan, kita berkata, “Selidiki aku, Tuhan, kalau-kalau jalanku salah.” Tuhan mengajar kita untuk haus akan Dia. Sebab kalau kita tidak haus akan Allah, kita membahayakan diri kita dan sesama kita. Sebaliknya, kalau kita haus akan Tuhan, maka kita tidak membahayakan siapa pun. Misalnya seseorang yang serakah, dia membahayakan orang lain dengan memeras, menindas orang tersebut. Dengan begitu dia membahayakan dirinya sendiri; dia membawa dirinya ke api kekal. Maka, latih diri kita untuk tidak memberikan pangkalan untuk kuasa kegelapan.

    Selera kita itu adalah pangkalan. Kita harus ubah selera kita, sampai tidak bisa makan. Ditawari dosa, tidak bisa, karena pangkalannya sudah kita hancurkan menjadi pangkalan Tuhan. Bagaimana itu bisa terjadi? Ingat, orang tidak bisa baik mendadak, namun juga tidak bisa jahat mendadak. Tiap hari mendengarkan firman, ke gereja, berdoa, maka hal itu membuat ia takut berbuat dosa. Semua lewat proses. Selera jiwa kita juga begitu. Kita tidak bisa membutuhkan Tuhan mendadak. Itu harus lahir dari pergaulan kita dengan Tuhan setiap hari; sampai kita bisa berkata, “Jangan tinggalkan aku, Tuhan.” Jangan waktu di dunia kita berkata, “Silakan, Tuhan tinggalkan. Tuhan ada, Tuhan tidak ada, masa bodoh.” Waktu di ujung maut baru kita berkata, “Jangan tinggalkan aku, Tuhan.” Curang! Kurang ajar! Karena dengan begitu kita menganggap murahan Tuhan. Kita tidak menghormati Tuhan.

    Padahal ada proyek besar sekali yang setiap kita harus ikut terlibat, karena ini menyangkut nasib kekal kita masing-masing dan menyangkut nasib banyak orang. Hal ini terkait dengan penggenapan rencana Allah atas dunia ini. Memang, ini harganya sangat mahal, tetapi ini harus dilakukan. Proyek itu adalah menghidupkan Allah dalam hidup kita. Baik secara komunitas maupun secara individu. Secara pribadi, kita menghidupkan Allah dalam hidup kita masing-masing. Secara komunitas, kita menghidupkan Allah dalam hidup bersama, menjadi satu gerakan untuk mengubah; mengubah dunia, mengubah masyarakat. Harganya adalah segenap hidup. Hanya orang yang rela kehilangan seluruh hidupnya yang dapat menghidupkan Allah dalam hidupnya.

    Namun harus jujur kita akui dan tak dapat disangkali, dalam banyak gereja di banyak komunitas Kristen, juga dalam hidup kita, seakan-akan Allah mati. Seakan-akan Allah tidak ada. Apa buktinya? Buktinya, banyak orang takut menghadapi masalah, takut mati dan masih berani berbuat dosa. Bukti lainnya, mereka tidak ikut terlibat dalam menyelamatkan manusia lain atau tidak ikut terlibat dalam pekerjaan Tuhan guna meneruskan karya keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku mengutus kamu.” Sering kita berbicara tentang Tuhan, tetapi Tuhan yang kita tuturkan di mulut, seakan-akan hanya teori.

    Ada satu peragaan dari apa yang dilakukan bangsa Israel pada zaman sebelum pembuangan, yaitu bagaimana imam berdiri di tempat yang tinggi, mengangkat tangan, korban persembahan dibakar, membumbung tinggi asapnya. Lalu, sekelompok suku Lewi menyanyikan pujian sebagai choir. Tidak dapat disangkal, bahwa Elohim YAHWEH Allah yang hidup. Begitu nyata jejak TUHAN di Israel. Alkitab mencatat hal-hal yang terkait dengan tempat, kejadian dan semua ada bukti-bukti nyata kehadiran-Nya. Bukan dongeng. Bukan fantasi. Jadi, mereka mengadakan seremonial kepada Elohim YAHWEH dengan luar biasa. Mereka begitu menghormati Bapa.

    Kadang-kadang kita datang terlambat; pemain musik juga baru latihan bebe...
    10 min
  • Searah dengan Bapa
    Sejujurnya, banyak kehidupan orang Kristen yang jauh dari model Anak Allah, Yesus, dan hal itu sudah menjadi satu hal yang biasa, umum. Bukan sesuatu yang dianggap cela atau di bawah standar. Sejatinya, setelah menjadi anak-anak Allah, kita harus beribadah sebagai anak-anak Allah. Setelah kita diampuni, kita tidak boleh meleset lagi. Betapa sesatnya banyak orang Kristen, yang berpendirian kalau sudah berbuat dosa, mereka akan minta ampun, lalu selesai. Lalu berbuat dosa lagi, lalu minta ampun lagi supaya selesai. Seharusnya kita bukan hanya tidak melakukan pelanggaran umum, namun tidak meleset lagi; tepat seperti apa yang Allah kehendaki. Dan ini sebenarnya yang dirindukan oleh Yang Maha Agung Elohim Yahweh. Tuhan menciptakan manusia yang dalam segala perilakunya searah dengan Bapa. 
    Searah dengan Bapa, searah dengan pikiran dan perasaan Bapa. Dan itu menyenangkan hati Bapa. Banyak orang baik di dunia, bahkan bisa sampai tingkat baik yang menakjubkan di mata manusia. Tetapi orang Kristen bukan hanya mampu berbuat baik, melainkan perilakunya searah dengan Bapa, pikirannya tersambung dengan Tuhan. Sehingga apa yang dilakukan orang percaya, menghibur Allah. Allah tidak butuh apa-apa. Dia Maha Kaya, tetapi Allah bertekad untuk berdinamika dengan menciptakan manusia yang memiliki gambar seperti Diri-Nya; memiliki pikiran dan perasaan. Dengan memiliki pikiran dan perasaan tersebut, manusia bisa memberontak, membenci Allah, atau bisa mengasihi Allah dan mengabdi. 
    Tentu Allah menghendaki manusia bisa berperilaku bukan seperti robot dalam kehendak bebasnya. Jadi, manusia bisa berperilaku selalu sesuai dengan kehendak-Nya. Ini adalah kehidupan yang jarang dimiliki orang. Sedikit sekali. Bahkan orang-orang Kristen yang mestinya memiliki kemungkinan mencapai hal ini, tidak memanfaatkan anugerah yang begitu besar yang memungkinkannya memiliki keadaan seperti itu; yaitu keadaan agar seseorang memiliki kemuliaan Allah. Kalau manusia bisa tersambung dengan pikiran dan perasaan Allah, dan segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan pikiran, perasaan Allah itu yang dimaksud dengan memiliki kemuliaan Allah. 
    Tetapi kenyataannya, kita melihat kekristenan yang telah merosot di seluruh dunia, dan kita mewarisi kekristenan yang merosot ini seakan-akan boleh ditawar. Padahal dalam Roma 12:2 firman Tuhan jelas mengatakan, “Jangan serupa dengan dunia.” Kalau Allah berkata “jangan,” berarti kita tidak boleh main-main. Sebagai orang tua atau pimpinan, kadang kita memerintahkan anak atau bawahan untuk tidak melakukan sesuatu hal; “jangan begitu.” Dan ketika hal itu dilanggar, berarti mereka melukai, melecehkan, dan meremehkan kita. 
    Karena standar yang sudah jatuh, kita kompromi. Sikap mengizinkan, permissible, lalu semua kita rusak. Dalam keadaan rusak, dalam keadaan tidak mencapai target, namun kita merasa nyaman-nyaman dan aman-aman saja, padahal bahaya sekali keadaannya. Keadaan seperti ini adalah keadaan yang nanti suatu hari akan ditelanjangi Tuhan. Dan Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu.” Kita tidak boleh kompromi. Kegagalan hidup kita sebagai anak-anak Allah adalah ketika kita tidak serupa dengan Yesus. 
    Keadaan kita yang miskin, gagal karier, gagal berumah tangga, tidak menikah, tidak punya keturunan atau apa pun, bukanlah sesuatu yang boleh dianggap bencana atau kegagalan. Sebab sejak Kerajaan Allah diberitakan, semuanya turun dari takhtanya. Hanya ada satu yang tidak turun: Allah. Dia tidak turun, Dia harus ditinggikan. Hidup meninggikan Tuhan berarti hidup di dalam penghormatan kepada-Nya dengan menjadi anak kesukaan Dia; ibarat lagu, menjadi lagu kesukaan. Jadi setiap hari kalau kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, itu menyenangkan Tuhan. Setelah mencapai kesempurnaan-Nya, kata firman Tuhan, Yesus menjadi aitios; pokok keselamatan. 
    Di Kejadian 6 dikatakan, “Perbuatan manusia jahat semata-mata,” dan itu menyedihkan hati Tuhan. Tetapi,
    9 min
  • Korban yang Berkenan
    Tanpa disadari, banyak orang Kristen memperlakukan Allah belum sepantasnya. Hal ini bisa disebabkan, yang pertama karena pengaruh dunia sekitar kita, bagaimana orang-orang beragama memperlakukan ilah, allah, atau keyakinan-keyakinan dari agama-agama suku memperlakukan ilah atau dewa-dewanya. Akibat dari pola sikap dan perilaku orang di sekitar kita terhadap ilah, allah, atau dewanya, kita tergarami atau terpengaruhi. Hal tersebut bisa membangun cara berpikir yang kemudian terkristal dalam sikap terhadap sesembahan. Dan sikap itulah yang kita kenakan dalam berhubungan dengan Allah semesta alam, Elohim Yahweh, Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 
    Yang kedua, karena pengajaran yang tidak lengkap dari mereka yang mengaku sebagai hamba Tuhan, sebagai jurubicara Tuhan, dan sekaligus sikap hidupnya. Baik sikap keseharian atau pada waktu ia di mimbar, menyanyi, dan berdoa. Ingat, kita berurusan dengan Pribadi Agung yang kebesaran-Nya tiada tara. Yesaya 40:12 mengungkapkan betapa dahsyat Allah yang kita sembah. Pengertian “dahsyat” jangan diukur dari cara orang beragama di sekitar kita memperlakukan allah atau ilahnya. Banyak orang Kristen yang belum dewasa, bicara mengenai kedahsyatan Allah hanya selalu dikaitkan dengan kuasa-Nya, mukjizat-Nya. Padahal, mestinya tidak sedangkal itu. 
    Di dalam Yesaya 40:12 tertulis, “Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?” Kalau kita melihat laut pada waktu naik kapal atau kita sedang naik pesawat, betapa luasnya. Allah lebih luas dari lautan, bahkan dengan tangan-Nya, Ia mampu menakar air laut dengan lekuk tangan-Nya. Ia dapat mengukur langit dengan jengkal. “Siapa yang dapat mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” Kita sering mendengar orang berdoa dan meminta, dengan berunsur mengatur Allah, menasihati Allah dalam permintaannya; “Tuhan, aku mau begini supaya begini. Kalau Engkau kabulkan doaku demikian, maka aku demikian.” 
    Jangan mengecilkan arti Allah. Itu dilakukan oleh orang-orang terhadap dewa-dewanya. Di antaranya, sikap unsur transaksional dalam berinteraksi dengan Allah. Jangan memperlakukan Allah seperti itu. Ironis, justru hal ini terjadi pada orang Kristen, khususnya mereka yang bisa berbicara cakap mengenai Allah, bertindak seakan-akan itu kehendak Allah atau dalam persetujuan dengan Tuhan. Secara tidak langsung dia mau mengatur, menasihati Tuhan dengan tindakan tersebut. Ayat selanjutnya, “Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca. Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya. Libanon tidak mencukupi bagi kayu api dan margasatwanya tidak mencukupi bagi korban bakaran.” Jangan merasa dengan nyanyian, musik, dinamika suara vokal sehebat apa pun berarti kita sudah memberikan persembahan yang menyenangkan Tuhan. 
    Bukan berarti hal itu tidak menyenangkan Tuhan, tetapi ada yang lebih harus kita tahu dan lakukan. Apa yang kita lakukan dalam ibadah, seharusnya mewakili kehidupan kita setiap hari. Jika tidak, berarti kita menipu Tuhan. Tidak cukup persembahan-persembahan atau ritual dengan tari-tarian; bukan tidak boleh melakukan pujian, penyembahan kepada Tuhan dengan nyanyian, tarian, banner, dan lainnya, namun jangan merasa itu sudah cukup. “Segala bangsa seperti tidak ada di hadapan-Nya. Mereka dianggap-Nya hampa dan sia-sia saja.” Ini bangsa, komunitas. Apalagi individu. Bumi kita itu seperti debu, sebab ada planet yang besarnya hampir 200.000 kali dari besarnya bumi. Betapa kecilnya bumi ini, seperti debu. Apalagi kita, debu di dalam debu. Jadi, siapakah kita ini? 
    Ayat 25, “Dengan siapa hendak kau samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.” Allah bukan patung, dewa-dewi atau ilah-ilah yang diciptakan manusia. “Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa y...
    11 min
  • Menghargai Pengurbanan-Nya
    Mungkin karena kita sudah terlalu fasih dan terbiasa mengucapkan kalimat: “Tuhan mengampuni dosaku,” sampai kita kurang lagi menghargai betapa hebat proses terjadinya pengampunan itu. Sejatinya, pengampunan dosa tidak diberikan secara murahan. Pengampunan dosa tidak diberikan tanpa alasan atau landasan. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa di Eden—Adam pertama—tidak ada pengampunan. Tidak bisa ada pengampunan, sebab setiap dosa harus ada ganjarannya dan pengampunan harus ada dasar atau alasannya. Di dalam kebijaksanaan dan asas keadilan Allah Bapa, harus ada yang memikul akibat dosa yang dilakukan manusia. Maka, Bapa mengutus Putra Kesayangan-Nya. Kita yang memiliki anak pasti bisa mengerti bahwa anak itu seperti nyawa kita sendiri. Anak itu seperti mutiara. 
    Bapa di surga memberikan Anak Kesayangan-Nya untuk kita. Ini sebuah dinamika ilahi yang sulit untuk dipahami, tetapi telah terjadi. Allah memiliki banyak hal, banyak kekayaan, tetapi tidak ada yang lebih berharga dari Yesus, Anak Tunggal-Nya. Ini pengorbanan yang luar biasa dari Bapa. Dan ketika Yesus diutus untuk menjadi manusia yang dalam segala hal disamakan dengan kita, Dia harus memiliki hidup yang pantas untuk menjadi kurban. Ia harus memiliki hidup sebagai Imam Besar yang berkualitas sebagai Imam Besar di kekekalan, yaitu tidak bercacat dan tidak bercela. Itulah sebabnya, Yesus harus berkurban. Dia berjuang, sampai kematian-Nya di kayu salib. Hidup-Nya begitu berkualitas, sehingga layak menjadi kurban penghapus dosa. Sama seperti domba yang dikurbankan untuk menghapus dosa, harus darah dari domba yang tidak bercacat dan tidak bercela. 
    Jadi, bukan sekadar nyawa yang dipersembahkan untuk menggantikan kita, tapi nyawa dari Pribadi yang Agung, yang Mulia. Di dunia ini ada orang yang rela menyerahkan nyawanya untuk orang lain. Tetapi, kita tidak perlu memperhatikan bagaimana kualitas hidup orang tersebut. Sedangkan Yesus memberikan nyawa-Nya dengan kualitas yang sempurna. Maka barulah bisa terjadi penebusan dosa. Lebih mahal, lebih agung dari apa yang kita duga. Mari kita memikirkan hal ini, bahwa pengampunan dosa yang disediakan Allah Bapa bagi kita melalui kurban Tuhan Yesus, mahal; sangat mahal. Dari pihak Bapa, Dia kehilangan Anak Kesayangan-Nya waktu mengutus Yesus menjadi manusia. Dari pihak Yesus, Ia harus berjuang memiliki hidup, sampai pada kesempurnaan (Ibr. 5:7-9), baru Dia bisa menjadi kurban, bagai anak domba yang tidak bercacat dan tidak bercela. 
    Kita harus menghargai hal ini. Jangan karena kita sudah terlalu fasih, terlalu akrab di bibir kita dan telinga kita mengenai pengampunan, penghapusan dosa, sampai kita tidak menghayati lagi betapa mahal harga pengurbanan Yesus ini sebenarnya. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Tuhan Yesus menghendaki Perjamuan Kudus terus dilakukan, karena ini adalah inti dari keselamatan. Kita harus selalu mengingat kurban Tuhan Yesus. “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum anggur ini,” kata Tuhan, “kamu mengingat pengorbanan-Ku.” Kalau kita menganggap murahan hal pengampunan dosa ini, berarti kita tidak akan memberikan respons yang sepatutnya terhadap Allah yang hidup; kita tidak menghormati Allah. Kita tidak memperlakukan Allah secara patut, dan tidak memedulikan perasaan-Nya. Tetapi, kalau kita menghargai kurban Tuhan Yesus Kristus, dan menghayati terus-menerus betapa mahalnya harga pengurbanan itu, maka kita akan bersikap pantas kepada Tuhan, kita menghormati-Nya. Kita memedulikan perasaan-Nya; perasaan Bapa yang memberikan Putra Tunggal Kesayangan-Nya, yang tak ternilai. 
    Dan kita akan menjunjung tinggi apa yang dikatakan Tuhan, “Jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang.” Seperti perempuan yang didapati berzina di Yohanes 8:1-11, di mana orang-orang mau melempari dia dengan batu. Namun, Yesus berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Kalau kita bayangkan menjadi wanita ini,
    10 min
  • Merasa Puas
    Kalimat “sudah selesai” juga berarti bahwa setiap hari tugas yang Tuhan berikan, kita penuhi. Pasti ada tugas, ada bagian. Memang ada rancangan Allah yang harus dipenuhi dalam jangka panjang, tetapi ada rencana jangka pendek, dan sangat pendek yang harus selesai day by day. Itu adalah tindakan menghormati Tuhan. Banyak orang terbalik. Ini karena penyesatan dan penipuan dari kuasa gelap. Masih merasa menggantung (belum selesai) karena belum punya jodoh, belum punya anak, utang belum terbayar, masih bingung dengan rencana mau menikah, atau mau pindah rumah. Rasanya itu hal yang mutlak harus selesai. Kalau itu sudah selesai, barulah ia merasa puas. Sejatinya, orang seperti ini tidak menghormati Tuhan. 
    Mestinya seseorang merasa puas, kalau dia sudah selesai dengan Tuhan. Yang lain belum selesai, tidak masalah. Sebab tidak ada yang mutlak, kecuali Tuhan. Tetapi yang harus selesai, urusan kita dengan Tuhan. Seperti seorang pasien, tidak akan pernah mengalami perubahan, kalau ia tidak berperan mematuhi anjuran dokter. Dikasih obat, harus diminum tiga kali sehari, dia minum tiga kali sebulan. Tidak boleh makan lemak, masih makan lemak. Disuruh olah raga 30 menit jalan kaki supaya tidak stroke, tidak dilakukannya. Maka jangan berharap bisa sembuh, membaik saja tidak. Demikian juga dengan kita. Disuruh berdoa, tidak berdoa. 
    Tidak ada yang mutlak selain Tuhan. Yang lain masih mengganjal, tidak masalah. Namun bukan berarti kita boleh lari dari tanggung jawab. Biasanya malam hari sebelum tidur, kita selesaikan dengan Tuhan.  Tetapi lambat laun nanti, setiap saat kita sudah selesai. Saat kita berbuat salah, kita minta ampun. Selesai. Jadi kalau meninggal di saat itu, kita sudah siap. Kita tidak bisa bilang kepada Tuhan, “Ya, Tuhan, tolong jangan aku meninggal dunia hari ini. Besok pagi saja, atau nanti malam setelah saya berdoa, baru Tuhan cabut nyawaku,” tidak bisa. Maka kita harus selesai dengan Tuhan. 
    Pengampunan yang Tuhan berikan harus membuat kita takut akan Allah jika melakukan kesalahan itu lagi. Maka, kita harus memiliki pemahaman bahwa pengampunan diberikan agar kita mengalami perubahan, bukan sekadar menghapus dosa. Kesucian itu bukan hanya berarti bersih; kesucian memuat pengertian potensi untuk bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Mestinya permintaan ampun yang kita sampaikan kepada Tuhan, dan pengampunan dosa yang Tuhan berikan, itu menjadi beban. Beban untuk tidak melakukan hal yang sama yang melukai hati-Nya. Kalau pengampunan yang kita minta kepada Tuhan tidak disertai dengan sikap meninggalkan dosa berarti kita melecehkan, merendahkan, dan tidak menghormati kesucian-Nya. 
    Banyak orang Kristen yang kalau ke gereja lalu ada liturgi pengakuan dosa, hanya mengikuti pendeta yang mengatakan, “Kami telah berbuat dosa dan melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan firman-Mu. Kami mengaku.” Tanpa ada penjelasan dosa yang mana. Lalu setelah itu, “berita pengampunan dosa.” Pendeta berkata, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan dijadikan putih seperti salju. Hitam seperti kesumba, dijadikan putih seperti bulu domba.” Disambut oleh jemaat dengan, “Amin… amin…” Selesai, sudah diampuni. Padahal hari Senin, dia mabuk lagi, judi lagi, berulang lagi kejahatannya. Jadi, permintaan ampun pun tidak spesifik mempersoalkan kesalahan apa yang dilakukan. 
    Konsep teologi yang salah bahwa “Yesus mengambil dosa kita dan membenarkan kita.” Kalimat itu sebenarnya tidak salah, tetapi pengertiannya yang salah. Lalu, “Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik,”sudah. Lengkaplah sudah kebodohan itu. Setiap kesalahan, sekecil apa pun, kita harus sebutkan. Memang unik juga, kita seperti kanak-kanak. Tidak bisa dijelaskan ke orang, hanya bisa dijelaskan kepada Tuhan. Sampai hal kecil (detail) kita akui, “Tuhan, mestinya aku belum perlu beli barang ini.” Atau “Mestinya aku menyediakan waktu untuk berdoa, bukan untuk itu. Tadi aku kebablasan nonton. Ampuni aku, Tuhan.”
    9 min
  • Sudah Selesai
    Ada pernyataan Tuhan Yesus di kayu salib, sebelum Tuhan Yesus menghembuskan nafas dan menyerahkan nyawa kepada Bapa, “Sudah selesai.” Tuhan menghendaki agar kita setiap hari menyelesaikan hari hidup kita dengan kalimat: “sudah selesai.” Untuk itu, kita harus memiliki sikap berjaga-jaga. Kalimat “sudah selesai” yang kita sampaikan kepada Allah, juga kita katakan kepada diri sendiri, adalah pernyataan yang lahir dari sikap berjaga-jaga. Kebiasaan yang dulu kita lakukan adalah ketika kita menyisakan masalah kita dengan Tuhan. Setiap hari, kita harus menyelesaikan masalah kita dengan Tuhan, sehingga kita bisa berkata “sudah selesai,” lalu kita menutup mata pada malam hari, dan kita akhiri dengan kalimat “ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku.” Selesai sudah hari itu. 
    Yang pertama, yang kita selesaikan adalah apakah ada hal-hal yang kita lakukan hari ini yang tidak berkenan di hadapan Tuhan? Kita bukan hanya minta ampun atas kesalahan yang kita lakukan, tetapi juga komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Sehingga kita bukan hanya mendapat pengampunan dari Tuhan, tetapi juga mengalami pembaruan. Dan keberadaan kita menjadi lebih baik besok. Kita harus minta ampun, selain atas kesalahan yang kita lakukan, juga atas keberadaan kita yang belum sesuai dengan kehendak Allah. Seperti seorang murid yang minta maaf atas nilai buruk, dan juga sekaligus kapasitas diri yang belum sesuai dengan apa yang guru inginkan. 
    Banyak orang tidak mau menyelesaikan hal itu. Jadi, masih menggantung. Ini yang menjadi masalah. Celakanya, banyak orang tidak merasa terganggu dengan keadaan seperti itu; merasa aman-aman saja. Dan ini bisa terjadi karena dia masih keberatan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dosa yang dia lakukan, karena nikmat. Dagingnya atau jiwanya tidak rela kehilangan kenikmatan tersebut. Jadi, ia tidak memiliki komitmen yang utuh untuk meninggalkan dosa. Tidak punya komitmen untuk meninggalkan kebiasaan yang dapat bukan saja membuat hati Tuhan tidak nyaman, tetapi juga bisa melukai hati Tuhan, menyakiti hati Tuhan. 
    Perbuatan salah kita bisa diselesaikan karena Yesus telah mati di kayu salib. Maka firman Tuhan mengatakan, “Kalau ada di antara kamu yang berbuat dosa, datanglah kepada Tuhan yang mengampuni dosamu dan melupakan kesalahanmu.” Milikilah keberanian untuk datang mengakui kesalahan. Jika kita mengakui suatu kesalahan, harus disertai komitmen untuk meninggalkan kesalahan itu. Seperti perempuan yang berbuat dosa, yang Tuhan ampuni. Tuhan bebaskan dia dari hukum rajam batu orang-orang Yahudi. Tuhan Yesus berkata, “Aku juga tidak menghukum kamu. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” 
    Mulai saat ini kita harus melakukannya. Sebab kalau tidak mulai saat ini, kita tidak akan bertumbuh dengan baik, tidak akan pernah memiliki kesucian hidup, karena kesucian hidup tidak bisa diraih dalam satu hari, satu minggu atau satu bulan. Keadaan kodrat dosa kita ini seperti berlapis-lapis. Lapis pertama diselesaikan, yang karena ada impuls atau rangsang sehingga dia berbuat salah. Lalu ada pencobaan lain atau rangsang lain di dalam lapisan berikut. Diselesaikan, lalu berikut. Idealnya, tidak berbuat salah. Jadi, kalau malam ini adalah malam terakhir bagi kita, dan besok ketika kita membuka mata ternyata sudah ada di Firdaus, puji Tuhan karena kita sudah menyelesaikannya.
    Inilah yang dimaksud bahwa kita dalam keadaan siaga. Maka kalimat “sudah selesai” yang kita pinjam dari pernyataan Tuhan adalah buah dari sikap berjaga-jaga, seperti yang ditulis dalam Matius 25:13, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Jadi, setiap hari kita harus menyelesaikan persoalan kita dengan Tuhan. Persoalan utang belum terbayar, belum punya jodoh, diputuskan pacar, belum punya anak, belum punya rumah, rencana mau menikah, mau pindah rumah, itu semua tidak perlu harus selesai pada hari itu juga, tetapi hal urusan dengan Tuhan, harus sudah selesai. Kita harus membiasakannya.
    9 min
  • Di Ujung Maut
    Suatu saat, orang dibawa kepada suatu keadaan bahwa tidak ada yang dia butuhkan kecuali Tuhan, dan pada saat itu dia akan berkata, “Aku membutuhkan Engkau, Tuhan.” Jika seseorang sadar bahwa ia membutuhkan Tuhan hanya ketika ada di ujung maut, sejatinya ia tidak akan pernah memiliki Tuhan. Suatu saat nanti orang akan menyadari bahwa ternyata yang dibutuhkan hanya Tuhan. Ia tidak membutuhkan siapa pun dan tidak membutuhkan apa pun, dia hanya membutuhkan Tuhan. Seperti orang kaya di Lukas 16, yang Alkitab katakan setiap hari dia berpesta, berpakaian jubah ungu dan kain halus, bersuka ria dalam kemewahan. Suatu saat, dia menyadari bahwa tidak ada yang dia butuhkan kecuali air yang dapat memuaskan dahaga jiwanya. Dan ternyata air itu, bukan air mineral. Yang dibutuhkannya adalah Tuhan; air kehidupan. Kalau pemazmur mengatakan di Mazmur 42, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair,” maksudnya dirinya seperti rusa, dan sungai yang berair itu adalah Tuhan.
    Tentu dalam konteks Perjanjian Lama, maksudnya adalah Elohim Yahweh. Bagi rusa, air bukan suplemen atau tambahan. Bagi rusa, air adalah seluruh kehidupannya; nyawanya. Mestinya orang menyadari hal itu sejak hidup, sebab kalau menyadari atau sadar setelah di ujung maut artinya dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk rekonsiliasi dengan Tuhan. Sejatinya, orang-orang seperti ini licik, curang. Pada waktu memiliki kesempatan, ia tidak sungguh-sungguh menghargai dan menghormati Tuhan. Dia lebih menghargai dan menghormati yang lain. Kalaupun berurusan dengan Tuhan, maka Tuhan hanya menjadi alat untuk meraih apa yang dia pandang menjadi kesukaan dan kebahagiaan. Tuhan bukannya menjadi Tuan dan Majikan; Tuhan dijadikan alat untuk meraih apa yang menjadi kesenangannya. 
    Jujur saja, jiwa kita sudah banyak yang sesat. Sebagian besar orang percaya, jiwanya sudah sesat. Kehausannya tidak pada Tuhan secara penuh. Mereka bisa berkata, “Seperti rusa merindukan sungai yang mengalir atau sungai yang berair,” tetapi sebenarnya jiwanya belum sungguh-sungguh haus. Memang manuver kuasa kegelapan kadang-kadang membuat kita mengingini, haus kepada sesuatu yang bukan Tuhan. Dan itu adalah gejala kita mengkhianati Tuhan. Bersyukur kita menyadari pada waktu kita sedang diarahkan kuasa kegelapan untuk haus dan mengingini yang lain tersebut. Sadari bahwa selera jiwa kita sudah rusak. Terbentuk dari kecil, terbentuk dari kanak-kanak, untuk mengingini dunia. Syukur kalau kita memberi diri diproses oleh Tuhan, seperti pemazmur di Mazmur 73, bagaimana dia mengalami kehidupan yang begitu menderita. 
    Tetapi di akhir pasal itu, pemazmur mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Kalau bisa diuraikan, pemazmur mengatakan bahwa “Pada akhirnya, tidak ada yang dapat kumiliki selain Tuhan. Maka, sejak di bumi aku belajar untuk melepaskan semuanya dan memiliki Tuhan.” Memang, orang tak dapat memiliki Tuhan kalau ia tidak melepaskan semuanya. Melepaskan semuanya bukan berarti memberikan semua uang untuk gereja atau yayasan sosial. Malah itu bisa salah. Tetapi kita bisa mengerti, dan mengakui bahwa seluruh harta, seluruh milik kita itu milik Tuhan. Kita tidak berharap apa yang ada pada kita bisa membahagiakan kita, kecuali Tuhan menjadi kebahagiaan kita. Lalu apa pun yang kita miliki, bisa membahagiakan kita. Kalau kita memiliki Tuhan dan tidak mengharapkan kebahagiaan pada apa pun dan siapa pun selain Tuhan, maka apa pun yang ada pada kita, seberapa pun—akan membuat kita merasa cukup. 
    Ketika selera jiwa kita tertumpu pada dunia, berarti kita sakit. Salahnya bukan pada mobil, tas mahal, rumah, melainkan pada sikap hati. Orang yang tidak mengingini Tuhan sejak hidup di bumi, tidak akan pernah diperkenan mengingini Tuhan di kekekalan. Kalau sejak di bumi kita mengingini Tuhan, kita merindukan Tuhan, kita haus akan Dia, maka waktu kita menutup mata, Tuhan menyambut kita. Jangan curang; kalau lagi banyak masalah, mencari Tuhan.
    8 min
  • Setiap Menit
    Walaupun kita datang ke gereja setiap hari, kualitas hidup kita tidak ditentukan oleh kedatangan tersebut. Kualitas rohani kita ditentukan oleh setiap menit perjalanan hidup kita. Kalau kita tidak serius memperkarakannya, celaka nanti. Sebab ketika sudah meninggal dunia, tidak bisa lagi diperbaiki. Contoh sederhana, misalnya, sengaja datang terlambat untuk ibadah, doa pagi, atau pertemuan. Orang seperti ini adalah orang yang tidak menghormati Tuhan. Apalagi yang tidak ibadah atau doa sama sekali. 
    Jangan fokus untuk hal-hal tidak perlu. Fokus hidup kita harus hanya Kerajaan Surga. Jangan sampai jam doa kita sedikit, karena ada pertandingan sepak bola, misalnya. Memang untuk yang belum bertumbuh dewasa, mereka tidak akan memusingkannya. Mereka pikir, ini hanya untuk para pendeta; jemaat tidak perlu memperkarakannya. Ingat, tidak ada standar ganda. Semua harus seperti Yesus.
    Jika orang tua fokus untuk hal-hal yang tidak perlu, maka anak-anak melihat, dan mereka tidak merasakan atmosfer Kerajaan Surga di dalam hidup orang tua karena mereka tidak menghadirkan Kerajaan Allah. Mari kita periksa, apakah relasi kita baik dengan Tuhan? Kita harus memperjuangkan relasi itu. Maka, tidak ada hari tanpa menghadap Tuhan dan tanpa koreksi diri. Kalau kita berbuat salah, minta ampun. Permintaan ampun berarti komitmen, janji, tekad, sumpah, nazar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
    Kalau kita punya komitmen, tekad, sumpah untuk untuk hidup dalam kekudusan maka kita akan memiliki relasi yang baik dengan Tuhan, kita tidak akan terus berbuat kesalahan yang sama. Kita akan bertumbuh dewasa. Relasi kita dengan Bapa menjadi proporsional dan ideal jika kita makin serupa dengan Yesus. Jika cara berpikir kita masih duniawi, pasti kita tidak bisa tune dengan Tuhan. Orang yang memiliki relasi yang benar dengan Tuhan, tanpa minta pertolongan Tuhan dalam persoalan, pergumulan, kebutuhan, Tuhan pasti menolong. Tanpa minta damai sejahtera Allah, Allah memberi damai sejahtera. Karakter kita akan semakin terus menuju kesempurnaan. 
    Masalahnya, apakah kita telah memiliki relasi yang benar dengan Tuhan atau belum? Bukan hanya waktu di gereja saat hamba Tuhan bisa mengajak kita sesaat berdoa, koreksi diri, dan menantang siapa yang mau bertobat. Tetapi kita akan mudah kembali kepada cara hidup, gaya hidup, kebiasaan yang tidak berjalan dengan Tuhan; tidak membangun relasi dengan Tuhan. Kalau kita benar-benar punya tekad, maka kita akan memiliki hubungan yang terus-menerus dengan Tuhan dan tidak pernah putus. Tuhan menghendaki kita selalu konek dengan-Nya. Walaupun kita belum sempurna, Bapa mengerti. 
    Seperti seorang anak yang belum sempurna, orang tua mengerti, dan tetap membimbingnya. Dalam kekurangan dan kesalahan, dalam ketidaksempurnaan anak, orang tua tetap membimbing. Dia belum sempurna, tetapi dalam ketidaksempurnaan anak yang belum cukup umur, tetap sempurna sebagai anak. Tetapi, ketidaksempurnaan harus berubah menjadi makin sempurna. Jangan puas dengan keyakinan “Walaupun aku tidak sempurna, Tuhan menerima diriku.” Betul, tetapi sesuai dengan usia biologis, maka usia rohani kita juga harus bertumbuh, sehingga mencapai target-target yang Allah inginkan. 
    Ketika target-target itu kita penuhi, maka kita bisa memiliki relasi dengan Tuhan secara proporsional. Masing-masing orang dituntut berbeda. Bagi si A, dengan usia 50 tahun, Tuhan hanya menuntut 50 poin karena keadaan, dan itu memuaskan hati Allah. Yang lain, si B, usia 50 tahun, dituntut 60 poin. Bagi si C, dengan usia biologis yang sama 50 tahun, ia dituntut mencapai 80 poin. Kalau kita mencapai tingkat itu, Tuhan dipuaskan dan kita bisa menjadi keharuman. Jangan usia 50 tahun, poinnya hanya 15. Maka, kita harus memperkarakan kepada Tuhan. Tuhan pasti memberitahu. 
    Betapa kita mengingini untuk menjadi anak Allah yang berkenan dan memiliki keharuman di hadapan Tuhan. Menjadi anak kesukaan-Nya, artinya kita bisa berjalan dengan Tuhan.
    11 min
  • Kualitas Hubungan dengan Allah
    Mari kita memperkarakan dengan sungguh-sungguh, bagaimana relasi kita dengan Tuhan saat ini. Sejatinya, hal ini harus kita pandang sebagai yang terutama dalam hidup ini. Menjadi suatu kekhawatiran apabila relasi kita dengan Tuhan belumlah relasi yang baik, relasi yang seharusnya kita miliki. Memiliki relasi dengan Tuhan secara benar, secara baik, secara proporsional, sesuai dengan usia rohani kita, bukan sesuatu yang mudah. Dikatakan “sesuai dengan usia rohani,” maksudnya setiap orang dituntut memiliki relasi yang baik, yang ideal, yang proporsional sesuai dengan waktu perjalanan hidup yang dimiliki oleh seseorang. 
    Ingat, “Yang diberi banyak, dituntut banyak.” Kalau seseorang baru menjadi Kristen dua bulan, tentu ia tidak dituntut oleh Tuhan untuk memiliki relasi dengan Dia secara benar seperti mereka yang sudah menjadi Kristen selama 20 tahun. Beda tuntutannya. Sama seperti relasi antara orang tua dan anak, itu harus terus meningkat. Anak usia 3 tahun, memiliki relasi dengan papa mama. Tetapi ketika anak usia 30 tahun, relasi antara anak dan orang tua, mestinya sudah berbeda. Lebih matang, lebih dewasa. Maka, harus benar-benar dipertimbangkan, seberapa yang mestinya kita sudah capai dengan usia rohani kita? 
    Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mempersoalkan seberapa yang mestinya dia harus capai dengan usia biologis dan usia rohani yang dimilikinya. Karena juga tidak pernah memikirkan seberapa yang seharusnya dia sudah capai. Maka, kita harus benar-benar mempersoalkannya dengan Guru Agung, Tuhan Yesus. Harus sungguh-sungguh mempersoalkannya dengan Bapa di surga. Benar-benar mempersoalkannya. 
    Tuhan Yesus berfirman, “Bekerjalah untuk roti yang tidak dapat binasa.” Jangan hanya bekerja untuk roti yang dapat binasa, bekerjalah untuk roti yang tak dapat binasa. Ini bicara mengenai berkat kekal yang kita dapat miliki dan tidak akan pernah dapat diambil oleh siapa pun, tetapi kita miliki di dalam kekekalan. Lalu ketika murid-murid bertanya, “Pekerjaan apakah itu, Tuhan?” Tuhan menjawab, “Percayalah kepada Dia yang diutus oleh Bapa” (Yoh. 6:29). Percayalah; percaya itu bukan sekadar aktivitas pikiran, hanya menyangkut nalar, tetapi percaya itu melibatkan seluruh kehidupan kita. 
    Maka, dikatakan “bekerjalah.” Ini melibatkan seluruh kehidupan kita. Lalu, apa yang harus dilakukan? Percaya. Percaya adalah kegiatan hidup yang harus mewarnai seluruh hidup kita. Semestinya, seluruh kehidupan kita adalah perjalanan percaya. 2 Korintus 5:7 mengatakan, “Hidup kami bukan karena melihat, tetapi karena percaya.” Maka, yang harus menggusarkan kita bukan karena belum menikah, belum punya anak, belum punya fasilitas, atau tidak punya jaminan hari esok di bumi ini. Melainkan mestinya yang menggelisahkan kita adalah keadaan hidup rohani kita. Keadaan hidup rohani kita yang bertalian dengan relasi kita dengan Allah. 
    Jika kita mengerti hal ini, artinya kita benar-benar memfokuskan hidup kita, menjalani percaya kita, kita mengumpulkan harta di surga atau bekerja untuk roti yang tak dapat binasa. Jelas Tuhan Yesus berkata, “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Di dalam Ibrani 5:11-14 firman Tuhan mengatakan, “Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.” 
    Ajakan untuk melepaskan semua kesenangan dan percintaan dunia, hidup suci, jangan berbuat salah sekecil apa pun, dan jangan menyisakan apa pun memang merupakan ajakan yang tidak mudah untuk diterima dan dila...
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…