Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Melepaskan Apa pun
    Hampir semua kita telah mendengar kisah Zakheus. Ia naik ke pohon ara, kemudian Tuhan Yesus memanggilnya untuk turun. Tuhan mengatakan bahwa Ia akan menumpang; akan tinggal di rumah Zakheus atau bertamu di rumah Zakheus. Kata “menumpang” bisa berarti menginap. Jadi, bukan hanya bertamu satu, dua jam saja. Lukas 19:8-9 tertulis, “Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ‘Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat. Kata Yesus kepadanya: ‘Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” 
    Kita pernah membaca di dalam Alkitab atau mendengar khotbah tentang orang-orang Yahudi mengaku sebagai anak Abraham. Tetapi Yesus berkata, “Kalau kamu anak Abraham, kamu akan melakukan apa yang Abraham lakukan. Tetapi kamu tidak melakukan apa yang Abraham lakukan. Jadi, kamu bukan anak Abraham.” Abraham disebut “bapak orang percaya,” artinya orang-orang yang memiliki percaya atau iman bisa digolongkan sebagai anak Abraham. Orang-orang Yahudi jelas mengaku dan merasa sebagai anak-anak Abraham, karena mereka memiliki garis keturunan secara darah dari Abraham. 
    Namun Alkitab juga mencatat bahwa orang yang percaya kepada Yesus, yang memiliki iman kepada Allah melalui Yesus, juga anak-anak Abraham. Jadi, kita adalah anak-anak Abraham oleh iman. Persoalannya, iman yang bagaimana yang harus kita miliki, supaya kita dapat digolongkan sebagai anak Abraham? Kalau orang Yahudi merasa dan mengaku anak Abraham, Tuhan mengoreksi: “Kamu bukan anak Abraham. Kalau kamu anak Abraham, kamu melakukan apa yang Abraham lakukan.” Kita yang mengaku dan merasa anak-anak Abraham oleh iman, harus mempersoalkan apakah kita melakukan apa yang Abraham lakukan. Apakah kita memiliki iman seperti iman yang dimiliki Abraham? Ternyata untuk digolongkan sebagai orang beriman, anak Abraham, itu berat. 
    Di Yakobus 2:19 tertulis, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Kalau iman kita tidak seperti iman Abraham, maka kita masih berpotensi melakukan tindakan seperti setan; atau bisa kerasukan setan. Harus ada perbuatan yang menunjukkan iman. Masalahnya, iman itu apa? Paulus mengatakan, “Lihatlah, Abraham dibenarkan karena iman.” Iman yang dimaksud oleh Paulus tentu bukan sekadar keyakinan di dalam pikiran atau pengaminan akali. Sebab apa yang dilakukan oleh Abraham itulah perwujudan dari imannya. 
    Abraham dibenarkan karena iman. Iman Abraham bukan hanya keyakinan di dalam pikiran, melainkan tindakan. Yakobus menyingkapkan kebenaran bagaimana memiliki iman yang benar. “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” Iman harus disertai perbuatan, bukan hanya keyakinan di dalam pikiran; keyakinan harus disertai dengan tindakan. Di dalam kitab Roma, ketika Paulus menulis mengenai iman, Paulus tidak bermaksud menjelaskan ekspresi dari tindakan iman. Dia sedang berhadapan dengan orang Yahudi dengan segala kesombongannya, yang memandang bahwa dengan melakukan hukum Taurat, bisa selamat. Maka, Paulus mengatakan tidak ada orang yang bisa dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena iman. Maksud “iman” adalah keyakinan kepada Yesus. Jadi, iman dalam keyakinan pikiran itu tidak cukup, tetapi harus disertai dengan perbuatan. 
    Kita percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, entah kita dari kecil Kristen atau menikah dengan orang Kristen, lalu jadi Kristen. Keyakinan ini menjadi sempurna, menjadi benar, imannya diterima, kalau disertai perbuatan. Dengan perbuatan, iman menjadi sempurna. Kita harus melihat Abraham. “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya?” Kapan? Ketika ia mempersembahkan, Ishak, anaknya di atas mezbah. Iman yang benar, yang dicontohkan oleh Abraham adalah tindakan melepaskan apa pun,
    9 min
  • Suatu Kehormatan
    Dalam kenyataan yang kita dapat temukan, banyak orang percaya yang tidak mengutamakan bagaimana menjadi manusia yang layak sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah, dan memikirkan apa yang dirancang Allah dalam hidup untuk masuk proyek Tuhan; termasuk di dalamnya para pendeta dan aktivis. Kalau bangsa Israel, mereka tidak pernah mau tahu rencana Allah dalam hidup mereka untuk orang lain, karena mereka hanya peduli rencana Allah untuk hidup mereka sendiri. Padahal, kita tidak akan pernah kecukupan dengan memikirkan diri sendiri, dan masalah kita tidak pernah selesai. Sampai mati, kita akan terus punya masalah. Kita menjadi orang yang tidak layak ditolong Tuhan, tidak layak diberkati Tuhan, karena kita hanya memikirkan diri kita sendiri. 
    Sekarang, kesempatan ini terbuka untuk kita. Dan kita akan sangat menyesal kalau kita pulang dengan tangan kosong, seperti yang dikatakan dalam Lukas 12 tentang orang kaya yang pikirannya hanya: “bagaimana aku menambah jumlah lumbungku untuk menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku, supaya aku bisa berkata: jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya. Beristirahatlah, makanlah dan minumlah, dan bersenang-senanglah.” Orang kaya ini bodoh, bahkan gila. Perut diisi gandum, kenyang. Jiwa diisi gandum, tidak kenyang, bukan? Ironis, hari ini banyak orang yang seperti itu. Sirkuitnya dipaksa sehingga jadi rusak.
    Sebagian kita itu masih punya unsur-unsur kerusakan ini. Bukan tidak boleh memiliki ini dan itu atau berekreasi ke mana pun. Tuhan akan memberi kita kesempatan untuk menikmati pemandangan alam, berlibur dengan keluarga, bersantai dengan sahabat, tapi jangan kita hanyut, tenggelam dalam kesenangan-kesenangan tersebut. Betapa bedanya kita dengan bangsa Israel. Tapi kita melihat banyak gereja, banyak pendeta mengimitasi diri sebagai umat seperti bangsa Israel. Dan tidak melihat perbedaan ini, sehingga tidak menemukan mandat yang Tuhan berikan kepada kita, yaitu: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” 
    Jadi, masuk Perjanjian Baru, kita menjadi anak-anak Allah yang berarti sepenanggungan dengan Yesus yang adalah Anak Tunggal-Nya. Dan polanya adalah kehidupan Yesus. Bahwa Dia benar-benar dalam segala disamakan dengan kita, titik. Jangan ditambah-tambahi. Bahwa Dia dalam perjuangan-Nya benar-benar bergantung kepada Bapa, bukan karena ada kekuatan istimewa di dalam diri-Nya. Karenanya, sebelum memilih murid-murid-Nya, Dia berdoa semalam-malaman. Dia harus berdoa guna mendapatkan kekuatan. Itulah sebabnya juga Dia menangis. Bahkan dikatakan di dalam kitab Ibrani, “dengan keluhan dan tangisan.” Bahkan Dia sendiri yang mengatakan, “mau mati rasanya, hati-Ku sedih.” Itu kemanusiaan yang sempurna. 
    Dengan kemanusiaan Yesus yang sempurna, kita bisa optimis bahwa kita juga bisa berbuat seperti yang Dia perbuat. Namun kita harus menghidupkan Yesus di zaman kita, di dalam diri kita. Sampai kita bisa berkata, “ikuti teladanku seperti aku ikut teladan Kristus.” Jadi setelah masuk zaman Perjanjian Baru, semua kita menjadi imam. Tidak ada istilah “ini imam, ini awam.” 1 Petrus 2:9 mengatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” 
    Kita adalah jemaat yang harus dewasa untuk menjadi perwira tinggi Kerajaan Surga. Kita ini istimewa. Namun tentu untuk menjadi istimewa secara de facto, kita harus berjuang, bertumbuh di dalam Tuhan. Jangan kita tenggelam dengan masalah. Bahkan yang sudah berusia pun jangan menjadi kecil hati dan berkata, “Saya tua, tidak berdaya.” Secara umur memang kita sudah tua, tapi kalau kita duduk diam di kaki Tuhan, terus bertanya, “Apa yang harus saya lakukan, Tuhan? Apa bagian pekerjaan-Mu yang menjadi bagianku? Aku mau menyelesaikannya.” Maka Tuhan pasti akan menunjukkan apa yang harus kita lakukan.
    10 min
  • Mengasihi Jiwa dengan Benar
    Semua kita tahu bahwa bangsa Israel adalah umat pilihan, dari atau secara darah daging, karena mereka keturunan Abraham. Sedangkan kita adalah umat pilihan secara iman. Betapa jauh berbedanya umat pilihan secara darah daging, dengan kita umat pilihan secara iman. Bangsa Israel adalah umat yang berpusat kepada diri mereka sebagai bangsa yang mereka banggakan sebagai umat pilihan. Tentu mereka berpusat pula pada negeri yang Allah janjikan, yaitu tanah Kanaan. Mereka masih “egosentris.” Mereka tidak memedulikan bangsa lain, kecuali kalau ada orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, mereka harus terima sesuai dengan Taurat yang tertulis di dalam Kitab Taurat mereka. Walaupun ada desain, ada rencana Allah di balik pemilihan mereka sebagai umat pilihan tersebut, yaitu dari bangsa itu akan dilahirkan Mesias. 
    Berbeda dengan kita yang berprinsip Teosentris. Kita tidak mengenal tanah perjanjian di bumi ini. Kita tidak perlu bangga sebagai orang Kristen, karena kita bukan “akusentris” yang berpusat pada nation, tetapi berpusat pada Kristus Tuhan, dan Allah Bapa sebagai pusat kita. Kita harus memikirkan bangsa-bangsa lain. Kita tidak pernah bangga bahwa kita adalah umat pilihan, sehingga kita berpusat pada diri sendiri. Kita berpusat pada Kristus; teosentris. Berpusat pada Allah, yang memikirkan bangsa-bangsa lain. Itulah sebabnya di dalam Amanat Agung Tuhan Yesus di Matius 28:18-20, Tuhan memberikan Amanat Agung, “Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku.” Dan juga dalam Kisah Para Rasul 1:8, “Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku sampai ke ujung bumi.” 
    Kalau bangsa Israel berpusat pada tanah Kanaan, kepada kita dikenakan status “Kamu bukan berasal dari dunia ini.” Berarti, kita tidak memiliki proyeksi atas dunia ini sama sekali. Ini yang akan sulit diterima oleh orang Kristen yang duniawi. Ingat, apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ketika ada orang berkata, “Tuhan, aku akan ikut Engkau ke mana pun Kau pergi,” Tuhan Yesus berkata kepada orang itu di dalam Lukas 9:58, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Pernyataan Tuhan Yesus ini sebagai reaksi dari apa yang dikatakan oleh seseorang yang menyatakan mau ikut Tuhan. Tuhan Yesus tidak berkata “boleh” atau “tidak boleh.” 
    Di balik kata “boleh” atau perkenanan Tuhan bagi orang itu dalam mengikuti Yesus, orang itu harus mengerti bahwa mengikut Yesus berarti harus mengenakan cara hidup-Nya yang berprinsip: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Banyak orang sudah telanjur menyerap dan mengenakan cara hidup manusia di sekitarnya. Namun, di dalam kemurahan Tuhan yang begitu besar dan kesabaran Tuhan yang begitu tinggi, Tuhan masih memberi kita kesempatan. Memang ada ketakutan juga di dalam hati kita, apakah orang bisa mengikuti jalan ini? Tetapi kita tidak perlu dan tidak boleh peduli orang mau ikut atau tidak; yang penting kita ikut Tuhan, ikut jalan-Nya. 
    Kita sebagai umat pilihan, sentralnya adalah Tuhan, maka seluruh cara hidup kita haruslah cara hidup yang Tuhan Yesus telah kenakan. Betapa sulitnya untuk bisa menemukan inti, jiwa, nafas, esensi dari hidup Tuhan Yesus di dalam hidup kita, dalam pergumulan konkret kita hari ini. Tetapi pasti Roh Kudus akan menuntun bagaimana kita dapat mengenakan nafas, jiwa dari kehidupan Yesus. Sehingga kita memenuhi yang dikatakan firman Tuhan, “Hidup yang kuhidupi di dalam daging, adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi aku, dan telah menyerahkan diri-Nya untuk aku.” 
    Kita harus mengerti maksud dan jalan Tuhan, yaitu kita harus membawa jiwa-jiwa ke dalam Kerajaan-Nya. Tidak boleh pergi sendiri. Walaupun sebagian besar kita belum bisa diajak memikirkan orang lain, karena masih selalu memikirkan diri sendiri. Di sini Iblis sering mencoba untuk membuat kita gagal fokus.
    8 min
  • Itu Cukup
    Suatu hari nanti banyak orang akan menyesal ketika mereka ternyata dipandang Tuhan sebagai sahabat-sahabat dunia ini. Orang-orang yang tidak memisahkan diri dari dunia, tidak layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, marilah kita tidak bersahabat dengan dunia. Seperti yang dikatakan di dalam firman Tuhan bahwa, “Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang-orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1Yoh. 2:17). Karenanya kita harus berani memisahkan diri dari dunia ini. Ini sulit, sukar dan berat, tetapi Tuhan menghendaki demikian. Jangan kita mengharapkan ada kebahagiaan dari dunia ini. Tidak ada lagi yang kita nantikan, tidak ada lagi yang kita harapkan. 
    Jangan pernah berpikir bahwa bila kita memiliki sesuatu atau mencapai sesuatu, kita akan merasa lebih bahagia, lebih lengkap, lebih utuh, lebih aman dan lebih nyaman. Sebab kebahagiaan kita hanya Tuhan, titik! Kehormatan dan kemuliaan kita hanya Tuhan, cukup! Kita jalani hari ke hari, kita lewati hari ke hari dengan sukacita di dalam Tuhan. Selama kita bersama dengan Tuhan, itu cukup bagi kita. Kita tidak menantikan sesuatu yang dapat membahagiakan kita. Apa pun. Sukacita kita hanyalah ketika kita bisa membahagiakan hati Tuhan. 
    Itulah sebabnya dari hari ke hari dengan teliti kita mau melakukan apa yang Tuhan kehendaki dan memenuhi apa yang Dia rencanakan. Dan kita harus serius melakukan hal ini. Jangan terikat dengan dengan hiburan-hiburan dunia, jangan ada unsur-unsur kafir yang menyusup dalam pikiran dan jiwa kita. Hati kita harus benar-benar terarah hanya kepada Tuhan. Tuhan tahu, Tuhan menandai orang-orang yang sungguh-sungguh hanya menanti-nantikan Tuhan, yang kebahagiaannya, sukacitanya hanya di dalam Tuhan. Dunia makin cantik menarik, tetapi kita memandang Tuhan lebih indah dari segala sesuatu. 
    Dunia menawarkan berbagai kesenangan dan menyimpangkan kita dari fokus yang benar ke arah fokus yang salah; melalui gadget dan media sosial di tangan kita. Pikiran kita menjadi rusak, fokus kita menjadi kacau, menjadi bias, men-distract, merusak pikiran kita. Namun kita harus teguh, terus mengarahkan diri kita kepada Tuhan. Kita mau sepenuhnya hanya mengarahkan diri kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Di situ kita belajar melakukan kehendak Allah dalam segala hal. Dari perkara-perkara sederhana sampai hal-hal besar, kita selalu mau melakukan kehendak Allah. Apa yang Dia kehendaki untuk kita lakukan. Pekerjaan-Nya, rencana-Nya, yang harus kita penuhi di dalam hidup ini. 
    Jika kita melakukan ini dengan benar, maka kita akan memiliki kerinduan bertemu dengan Tuhan. Kita memiliki kerinduan pulang ke surga bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus. Kita bisa berkata kepada Tuhan, “Tuhan, tidak ada lagi yang kusisakan. Aku tidak memiliki apa-apa lagi. Aku hanya memiliki Engkau, Tuhan. Aku merindukan Engkau. Aku merindukan Kerajaan-Mu, ya Tuhan.” Inilah yang menjadi kehendak Tuhan untuk kita lakukan. Memang di mata dunia, ini tidak dikenal. Mereka tidak akan bisa melakukannya, karena memang tidak mau melakukannya. Mereka menganggap ini konyol. Sesungguhnya inilah kehidupan yang sejati, kehidupan yang diarahkan kepada Tuhan. Mencari kehormatan, kemuliaan di kekekalan, bukan di bumi ini. 
    Kalau kita sungguh-sungguh bersedia untuk itu, Roh Kudus pasti menolong dan menuntun kita dari tahap ke tahap sampai kita sungguh-sungguh dapat memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Allah, yang berbau harum di hadapan Tuhan. Sangat sedikit orang yang memiliki iman yang benar seperti ini. Namun, orang yang mau mempersembahkan hidup tanpa batas kepada Tuhan; hampir tidak ada lagi, sedikit sekali. Tetapi kita mau mengambil keputusan untuk setia mengikut Tuhan Yesus. Hidup dengan cara hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Apa yang dikenakan oleh Tuhan Yesus? Dia hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. 
    Yesus berkata,
    10 min
  • Membuktikan Allah Benar
    Allah yang tidak terbatas, Allah yang besar dan dahsyat harus diperlakukan pantas oleh seorang yang memperagakan sifat dan karakter-Nya. Kurang dari itu, sehebat dan sebanyak apa pun persembahan kita, tidak cukup. Galatia 2:19 menuliskan, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat.” Kalau dulu manusia sibuk bagaimana mengenakan hukum supaya jadi manusia baik, itu belum memenuhi standar. Orang beragama bisa begitu; memberikan persembahan kepada ilah, dewanya dengan melakukan hukum-hukum yang diberikan. Bagus, dalam standar orang beragama. Tetapi tidak dengan kekristenan. Sebab kita berprinsip, “Aku telah mati untuk kelas hukum. Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” 
    Kalau Kristus hidup di dalam kita, bukan berarti kita punya dua pribadi; pribadi kita, juga pribadi Yesus. Melainkan di dalam diri kita ada gairah-Nya, semangat-Nya, pikiran-Nya, dan perasaan-Nya yang merupakan model manusia yang Allah kehendaki. Itulah artinya menjadi umat pilihan. Bukan sekadar menjadi orang beragama Kristen. Bahkan sekalipun kita adalah orang-orang yang menjabat sebagai hamba Tuhan, tidak cukup. Apakah kita seorang pendeta, ketua sinode, ketua STT, tetaoiapi kalau nanti menghadap Tuhan, Tuhan akan persoalkan: “Apakah kamu sudah melakukan kehendak-Ku, kehendak Bapa?” 
    Firman Tuhan dalam Matius 7:21 mengatakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Kehendak Bapa itu apa? Bukan melakukan hukum semata-mata. Namun bagaimana Kristus hidup di dalam diri kita; bagaimana sifat, karakter Allah hidup dalam diri kita. Barulah kita pantas menjadi orang berharga di mata Allah. Kurang dari itu, biarpun semua margasatwa disembelih dan kayu bakar dari semua hutan di Libanon digunakan, tidak cukup. Walaupun kita memberikan seluruh harta, tanpa kasih, sia-sia. Kasih itu apa? Sifat Allah. Allah adalah kasih adanya. Lebih dari sekadar Maha Pengasih, diri-Nya itu adalah kasih. 
    Dan kita harus mengenakan karakter itu. Kalau kita mengenakan karakter itu, tidak mungkin kita melukai orang, sekalipun orang melukai kita. Tidak mungkin kita berbuat jahat, sekalipun orang menjahati kita. Dan itu baru bisa memuaskan hati Tuhan. Namun ironis, banyak orang merasa tenang-tenang saja walau tidak melakukan kehendak Bapa. Kehendak Bapa adalah kita berperilaku seperti perilaku Yesus. Sudahkah kita melakukannya? Bagaimana kita bisa tenang? Makanya setiap hari harus menjadi hari baru yang kita pakai untuk berubah. Dan kita mau merajut kesucian dari hal-hal sederhana sampai hal-hal besar. 
    Jadi, tidak berlebihan kalau kita berkata dan memang seharusnya berkata, “Kalau Yesus hidup pada zaman sekarang, Dia seperti aku. Bukan Yesus lebih buruk dari aku dan Yesus perlu mencontoh aku, tetapi aku harus mencontoh Dia dan mewakili Dia hidup di zaman sekarang.” Itu baru namanya menjadi saksi. Bahwa Dia pernah ada. Dia mati di kayu salib. Dia yang memungkinkan kita menerima Roh Kudus dan dibenarkan di hadapan Bapa. Dan Bapa membentuk kita lewat setiap peristiwa sehingga kita menjadi seperti Dia. Dengan kita menjadi seperti Yesus, kita membuktikan bahwa Dia benar. 
    Bagaimana orang mau ikut Yesus kalau tidak ada contoh? Tidak cukup kalau hanya mulut bicara teori, khotbah, buku, tulisan, perdebatan, argumentasi, apologetika. Harus ada contoh. Tidak ada pilihan. Kita mau suatu hari di hadapan Tuhan, kita berkenan. Dokter yang baik punya beban. Bukan sembarangan buru-buru lihat rontgennya, lalu sembarangan berkata, “Mesti dioperasi ini,” padahal tidak perlu dioperasi. Dokter yang baik akan bertanggung jawab. Tetapi jangan lupa, pasien juga harus berperan. Dia harus menaati semua peraturan dokter; tentang cara minum obat, makanan, olah raga dan lain sebagainya.
    Mari kita belajar hidup suci. Hidup suci itu indah.
    9 min
  • Person to Person
    Dalam perjalanan hidup ini, pada akhirnya kita akan sampai pada satu pengalaman yang hebat dan luar biasa dengan Tuhan, di mana kita berhadapan dengan Tuhan sebagai person to person, man to man. Allah adalah Pribadi yang hidup, Dia bukan manusia. Masalahnya, bagaimana Allah yang kita percayai sebagai Pribadi yang menciptakan langit dan bumi menjadi nyata di dalam hidup kita, bukan menjadi fantasi di dalam pikiran; tetapi menjadi pengalaman nyata yang bersentuhan dengan batin atau dengan perasaan kita? Banyak orang bersentuhan dengan Allah dalam pikirannya dan fantasinya semata-mata. 
    Namun sesungguhnya, mereka belum berurusan dengan Tuhan dan belum mengalami Tuhan. Pribadi ke pribadi sebagaimana kita berinteraksi dengan manusia di sekitar kita—dengan orang tua, pasangan hidup, saudara, anak, atau teman—begitulah seharusnya kita bisa berinteraksi dengan Allah; person to person. Dan inilah yang harus benar-benar kita capai dalam perjalanan hidup ini. Banyak orang tidak sampai pada level ini; level person to person. Apalagi di dunia kita yang fasik, dunia yang semakin tidak memercayai keberadaan Allah. Allah dianggap tidak ada atau tidak perlu ada. Dan pengaruh dunia seperti ini kuat, jahat, mencengkeram banyak orang dan juga bisa mempengaruhi kita. Tetapi kita harus berani memilih Tuhan. 
    Kalau kita memilih Tuhan, berarti kita memberi waktu, ruangan, kesempatan, dan usaha yang sungguh-sungguh untuk berurusan atau berinteraksi dengan Dia. Bagi banyak orang, bangun pagi lalu berdoa mungkin dipandang konyol (walau tidak terucap, hanya dalam hati). Mereka memandang ekstrem, berlebihan, tidak proporsional. Mereka mungkin berkata, “Biasa-biasa sajalah berurusan dengan Tuhan, jangan sampai begitu amat.” Mereka telah disesatkan oleh dunia. Padahal apa yang kita lakukan itu semata-mata karena kita mau mencari wajah Tuhan. Kita rindu untuk mengalami Tuhan yang hidup. Di tengah-tengah pikiran manusia yang liar mengembara, tetapi pikiran kita tertuju kepada Tuhan. Namun kita tetap bekerja, mencari nafkah, belajar dan mengurus rumah tangga dengan baik. Kita tidak mau membuat pikiran kita liar mengembara dengan segala nafsu, keinginan dan ambisinya. 
    Prinsip “Asal ada makanan dan pakaian, cukup” harus menjadi prinsip hidup kita, di mana lebih dari makan dan pakai, semua kita persembahkan untuk Tuhan. Namun ingat, kalau kita persembahkan ‘semua‘ untuk Tuhan bukan berarti kita memberikan apa pun ke gereja; kita persembahkan hidup kita untuk Tuhan artinya kita harus membalas kebaikan orang tua, hidup mandiri tidak menjadi beban bagi orang lain, menolong keluarga besar, menjadi berkat bagi masyarakat sekitar, tentu akhirnya kita juga mendukung pekerjaan Tuhan di gereja. 
    Pikiran kita tidak boleh mengembara dengan segala keinginannya. Karena kalau pikiran dibuat mengembara liar tak terbatas, akhirnya membuat kita makin jauh dari Kerajaan Surga dan mendekat ke api kekal. Pikiran kita harus kita tujukan kepada Tuhan. Sebab Tuhan satu-satunya tujuan hidup kita, satu-satunya alasan kita hidup. Kita bertujuan hidup berkenan di hadapan Allah, melakukan kehendak Tuhan, benar-benar kita mau menjadi anak kesukaan Tuhan. Dan perilaku hidup kita setiap hari menjadi simfoni yang indah didengar, menjadi keindahan di hadapan Allah yang hidup. Dan itu kita lakukan sebagai usaha kita untuk terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, bertumbuh di dalam pengalaman berinteraksi dengan Allah sampai kita mengalami yang namanya person to person. Dia hidup, Dia nyata.
    Jika kita sampai level Itu, dengan sendirinya kita takut akan Allah, kita gentar kepada Tuhan sebagaimana seharusnya. Dan kalau kita gentar akan Allah, maka kita tidak akan berbuat dosa. Kita hidup suci bukan karena kita mau dilihat orang, bukan sekadar supaya kita tidak malu, melainkan menjadi kebutuhan. Sebab kalau kita berhadapan dengan Tuhan (person to person) Allah yang kudus, pasti itu  menggetarkan kita.
    8 min
  • Kaya di Dalam Tuhan
    Ciri dari orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan adalah merasa kaya di dalam Tuhan. Ini bukan fantasi, sebab Allah bukan fantasi, tetapi realitas. Allah lebih kuat dari nuklir, Dia lebih berkuasa dari pejabat atau raja mana pun di bumi ini. Dia memiliki segala kekayaan yang tidak ternilai. Jadi, kalau seseorang benar-benar percaya kepada Tuhan itu ditandai dengan merasa kaya di dalam Tuhan. Orang seperti ini, tidak akan minder ketika bertemu dengan orang kaya. Kalau dia melayani pekerjaan Tuhan, dia tidak akan mencari kekayaan, dia akan terus melayani dengan sungguh-sungguh sebagai kehormatan. Tentu percaya di sini haruslah percaya yang benar; artinya menyerahkan diri kepada Tuhan.
    Penyerahan diri harus dimengerti dengan benar. Faktanya, banyak orang tidak tahu apa yang dimaksud dengan menyerahkan diri kepada Tuhan. Ketika seseorang di dalam kesulitan atau dalam ketidakberdayaan, ia berkata “Aku berserah kepada-Mu,” sebenarnya dia belum berserah. Dia hanya minta campur tangan Tuhan. Kata berserah itu sebenarnya sebagai semacam intimidasi terhadap Tuhan; “Aku menyerahkan persoalan ini kepada-Mu, Tuhan dan Engkau harus tolong aku.” Orang yang berserah kepada Tuhan, tidak akan memaksa Tuhan untuk bertindak sesuai dengan apa yang diingininya. Sekalipun Tuhan tidak bertindak apa-apa, dia harus tetap bersyukur, sebab ia tidak boleh mengatur Tuhan. 
    Penyerahan adalah kesediaan untuk mengikut jalan Tuhan; artinya apa pun yang Tuhan perintahkan, kita lakukan dan apa pun yang Tuhan kehendaki, kita terima. Orang yang percaya kepada Tuhan dengan penyerahan yang benar pasti tidak melakukan apa yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kalau orang masih hidup dalam dosa berarti dia tidak percaya. Memang, kita masih bisa meleset (Yun. hamartia), tetapi kita harus menyelesaikan, mengakui dan menyadari masih ada potensi salah di dalam diri kita juga tidak mengulanginya lagi. Meminta ampun bukan hanya atas perbuatan salah yang sudah dilakukan, tetapi juga minta ampun atas potensi atau dorongan dosa yang masih ada. Ini dosa yang mendatangkan maut kalau tidak diselesaikan. 
    Orang yang tidak berurusan dengan Tuhan berarti dia tidak ber-Tuhan, sekalipun dia pergi ke gereja. Karena dia menjadi Kristen hanya saat di gereja dan percaya seperti itu adalah percaya palsu. Sebab orang yang percaya kepada Tuhan itu menyerahkan dirinya, dan di dalam penyerahan diri itu bukan saja menerima apa yang Tuhan izinkan kita alami dalam hidup, melainkan juga menerima kehendak-Nya. Mengikuti yang Tuhan inginkan dan tidak mengikuti apa yang kita inginkan. Ironis, banyak orang yang jangankan melakukan, mau mengerti saja tidak. 
    Sejatinya, Tuhan akan membuat hidup kita “dihabisi” untuk melakukan kehendak Tuhan dan memenuhi rencana-Nya. Jika demikian, barulah orang itu memiliki Tuhan dan bisa berkata “Rinduku pada-Mu dapat memandang wajah-Mu Tuhan. Rinduku ku pulang melayani-Mu selamanya.” Kita harus sudah bisa mengalami hal ini, khususnya kita yang sudah mendekati harus pulang. Kita bisa merindukan Tuhan kalau hidup kita sudah habis, sudah selesai di hadapan Tuhan. Jadi, inilah rahasianya: orang tidak mungkin bisa memercayai Tuhan dengan benar kalau hidupnya tidak benar, karena Tuhan tidak bisa dimanipulasi. 
    Orang yang berlindung atau bergantung kepada Tuhan dengan benar dan memiliki keteduhan di hadapan Allah adalah orang yang hidupnya bersih. Kita harus berani berkata, “Aku memutuskan untuk pulang, sebab dunia bukan rumahku. Walaupun aku masih punya selera di dalam daging, selera dalam jiwaku, namun aku memilih untuk tidak menikmati apa pun selain menikmati Tuhan.” Kita harus berani mengambil keputusan itu. Sebab tidak ada jalan untuk hidup di dalam kelimpahan selain ini. 1 Timotius 6:8, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Kita harus sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Tidak mungkin kita tidak dipelihara Tuhan; dan orang-orang yang kita kasihi.
    Percaya berarti menyerahkan diri; menyerahkan diri berarti hidup di dalam p...
    9 min
  • Secara Istimewa
    Ketika kita mengisi percaya kita dengan mencari Tuhan, maka keyakinan kita akan Allah yang hidup akan makin bertambah. Sampai kita mengalaminya, mendapatkannya. Ibarat orang memancing ikan, ketika ia melempar kail 1 kali, tidak ada; 2 kali, tidak dapat; 3 kali, masih nihil. Seorang pemancing kawakan yang tahu bahwa di situ ada ikannya, dia akan terus mencoba sampai dapat. Spekulatif, untung-untungan; bisa dapat bisa tidak. Tetapi selalu saja ada ikan yang dia dapat, sekecil apa pun. Namun hal mencari Tuhan bukan seperti memancing ikan yang bisa bersifat spekulatif. Kita pasti dapat menemukan Tuhan, pasti dapat mengalami Tuhan. Tetapi masalahnya seberapa tekun kita mencari Tuhan? Sejujurnya, kadang-kadang porsi yang kita berikan untuk itu sangat kecil, sangat minim. 
    Ingat waktu kita sekolah, kita berusaha untuk bisa lulus, dan di antara kita pasti juga ada yang bukan hanya mau lulus, namun mau juga bisa mendapat rangking. Untuk itu kita belajar, belajar dan belajar. Firman Tuhan dalam Yesaya 55:6 mengatakan, “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat.” Allah akan membuat kita menemukan Dia, Ia tidak akan membuat orang yang mencari-Nya sia-sia. Maka, ada dua hal yang harus kita perhatikan. Pertama, seberapa serius kita mencari-Nya? Kedua, kesempatan mencari Tuhan itu terbatas. Seseorang akan sangat menyesal ketika menutup mata, ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menemukan Tuhan. Betapa mengerikannya keadaan itu sebab ia tidak bisa lagi kembali ke bumi, tidak bisa menarik mundur waktu. 
    Mari kita berusaha sungguh-sungguh untuk merenungkan dan menghayati hal itu. Kalau sampai kita meninggal dunia tanpa mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka tentu kita tidak akan dikenal oleh Allah di kekekalan. Maka, kita harus memiliki rasa haus untuk mencari Tuhan. Jadi, jangan lakukan hal yang tidak mendatangkan faedah untuk keselamatan jiwa kita. Setiap kesempatan harus kita gunakan untuk mencari Tuhan. Dan satu kali, kita akan punya pengalaman-pengalaman yang luar biasa. Jadi, jangan merasa bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa mengalami Tuhan. Setiap kita juga bisa. Namun kita harus punya tekad yang kuat, “Aku harus mengalami Tuhan. Aku harus menemukan Dia.”
    Firman Tuhan mengatakan dalam 1 Tawarikh 16:11; Mazmur 105:4, “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya …” “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya …” Orang yang menemukan Tuhan ini—tentu selain hidupnya kudus—maka dia juga memiliki ketahanan menghadapi segala keadaan, memiliki perasaan Allah sehingga terbeban untuk menolong orang. Dan Allah menghargai orang-orang seperti ini. Kalau Tuhan menghargai kita, karena kita menghormati Dia, maka kita pasti akan dipelihara Tuhan secara istimewa. Itu modal dan kekuatan hidup kita yang lebih dari apa pun juga. Jadi kita harus yakin Allah itu ada, Allah itu hidup; dan kita harus bertekad dengan sungguh-sungguh untuk menemukan Tuhan, mengalami Dia. 
    Masalahnya, apakah kita mau menyediakan waktu untuk duduk diam di kaki Tuhan dan mencari wajah-Nya, sehingga ada perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan di dalam Roh? Orang yang mencari Tuhan dengan serius, tidak berani berbuat dosa. Dia tidak menghidupi kedagingannya (Ibr. Bâsâr). Sebaliknya, kalau seseorang tidak mencari Tuhan, maka dia menghidupi kedagingannya dan dia menikmati kedagingannya, dan dia merasa nyaman dengan kedagingannya itu. Orang-orang seperti ini pasti tidak memikirkan perkara-perkara yang di atas. Orang yang mencari Tuhan, pasti memikirkan perkara-perkara yang di atas. Setiap kita ini bisa punya imajinasi. Dari imajinasi jadi pemikiran, dari pemikiran membangkitkan emosi, membangkitkan semangat, memberikan energi. Misalnya seseorang sakit hati kepada temannya. Sementara dia berfantasi, sudah sekaligus ada emosi. Lalu dia pikirkan, lalu menimbulkan energi; dia bisa membunuh orang, dia sakiti orang, dia lukai orang dengan berbagai cara. 
    Lalu mengapa kita tidak serius untuk memikirkan Tuhan?
    8 min
  • Hadapi dengan Kekudusan
    Percaya kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan, berlindung kepada Tuhan, tidak bisa dipisahkan dari kehidupan penurutan terhadap kehendak-Nya. Seseorang tidak bisa percaya kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan, bergantung kepada-Nya dan berharap pertolongan-Nya jika, yang pertama, tidak hidup di dalam kesucian Tuhan dan kebenaran-Nya. Yang kedua, masih terikat dengan kesenangan dunia. Dua hal ini sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Kalau orang masih hidup dalam dosa, dia pasti mencintai dunia. Orang yang mencintai dunia pasti tidak hidup di dalam kekudusan. Orang seperti ini tidak bisa percaya kepada Tuhan dengan benar. Sehingga ia tidak bisa, tidak pantas dan tidak layak berlindung kepada Tuhan. 
    Kita harus sampai pada penghayatan sehingga bisa berkata dengan tulus, “Aku perlu Kau, Tuhan.” Kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa hidup dalam kehidupan yang tidak menyenangkan hati Tuhan. Kesadaran itu harus muncul di dalam diri kita. Kita berkata, “Tuhan pegang tanganku. Tuhan lindungi aku. Tuhan aku perlu Engkau.” Maka, kita juga bisa menghayati bahwa kita tidak bisa hidup dalam dosa, tidak bisa hidup dalam percintaan dunia. Penghayatan ini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang hatinya lurus, yang bertumbuh dalam kedewasaan, yang nuraninya bersih, yang hatinya tidak bengkok. 
    Tetapi kalau hatinya bengkok, tidak lurus, tidak dewasa, nuraninya tidak bersih, dia bisa berkata kepada Tuhan, “Lindungi aku, tolonglah aku Tuhan,” sementara dia masih hidup dalam dosa, dalam percintaan dunia. Sebenarnya orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang memperdaya Tuhan. Tentu mereka tidak menghormati Tuhan dan tidak menyembah Tuhan. Ketika kita belum dewasa, kita ada di dalam sikap hati dan sikap hidup seperti itu. Kita begitu manipulatif, memanfaatkan Tuhan. Kita berdoa mohon pertolongan Tuhan sementara kita masih memuaskan keinginan kita sendiri. Kita tidak sungguh-sungguh hidup di dalam kesucian. Kita tidak sungguh-sungguh hidup dalam kecintaan kepada Tuhan, tetapi percintaan dengan dunia. 
    Namun, itu dulu. Kita sadar itu kesalahan, naif, kekanak-kanakan dan tentu itu tidak membuat hati Tuhan disenangkan. Kita terus bertumbuh dewasa. Kita mulai bisa menanggalkan percintaan dunia, melepaskan hobi-hobi, tidak terikat hiburan dunia, kita mulai menjaga pikiran, perkataan dan perbuatan kita untuk hidup dalam kekudusan. Sementara itu, Tuhan perhadapkan kita dengan masalah-masalah yang kadang lebih berat dari masalah-masalah yang pernah kita hadapi sebelumnya. Hal ini Tuhan izinkan supaya kita bergantung dan berlindung kepada Tuhan. Masalah-masalah yang tidak bisa kita selesaikan kecuali oleh pertolongan Tuhan. Dan kita layak menerima pertolongan Tuhan kalau kita hidup di dalam kesucian. 
    Dari pengalaman itu, maka lahirlah kesaksian hidup dan kebenaran, bahwa untuk menyelesaikan masalah-masalah berat, hanya ada satu cara, yaitu kesucian hidup. Mungkin ada yang bertanya, “Apa hubungannya masalah ekonomi, masalah rumah tangga, masalah hukum, masalah polisi, dengan kesucian?” Sepertinya tidak terkait, tetapi sebenarnya sangat berkaitan. Hadapi masalah hidup kita dengan kekudusan! Dan buktikan bagaimana tangan Tuhan yang kuat akan melindungi dan membela kita. Ketika kita masuk pada pengalaman ini, hidup kita akan melimpah dengan kecintaan kepada Tuhan. Dan ketika hati kita melimpah dalam kecintaan dengan Tuhan, kita pasti rela berbuat apa pun untuk Tuhan. 
    Ketika kita rela berbuat apa pun untuk Tuhan, Tuhan akan memercayakan proyek-proyek pekerjaan Tuhan. Tuhan mau pekerjaan-Nya dilakukan oleh orang-orang yang betul-betul haus dan rindu menyenangkan hati Tuhan. Orang-orang yang sudah rela melepaskan segala sesuatu yang ada padanya untuk Tuhan. Dalam kehidupan orang percaya yang benar—yang bertumbuh seperti ini, yang bisa menghayati bahwa tanpa kesucian ia tidak layak minta perlindungan Tuhan—adalah orang-orang yang akan terus bertumbuh dalam kecintaan kepada Tuhan.
    10 min
  • Menolong Diri Sendiri
    Kita harus selalu ingat bahwa kita tidak bisa melindungi diri kita sendiri. Kita pun tidak bisa melindungi orang-orang yang kita kasihi selama 24 jam. Terhadap diri sendiri saja, kita belum tentu bisa melindungi. Mengapa? Yang pertama, karena kita terbatas. Kita tidak maha kuasa dan maha tahu. Kita terbatas. Memang, waktu kita sehat, banyak uang, memiliki relasi pejabat dan aparat keamanan, kita merasa ada di atas angin. Namun jangan sombong. Yang kedua, keadaan bisa berubah setiap saat di luar prediksi kita. Beberapa hari yang lalu, ada berita mengenai aktivitas anak gunung Krakatau. Pemerintah mulai melarang berlayar di sekitar anak gunung Krakatau. Anak gunung Krakatau mulai menyemburkan asap hitam. 
    Coba kita ingat lagi, sejarah di mana gunung Krakatau pernah meletus. Yang konon abunya sampai Eropa, pesisir Sumatra bagian selatan, Banten dan Jakarta. Bayangkan! Betapa mengerikan. Tak terhitung jumlah korban, uang dan harta. Itu adalah salah satu contoh keadaan yang tidak terduga dan keadaan bisa berubah setiap saat. Tetapi segala sesuatu bisa terjadi. Karena negara kita ini rawan terhadap erupsi, gempa bumi. Ini belum bicara mengenai krisis. Krisis ekonomi, krisis sosial. Belum lagi mengenai epidemi, pandemi peyakit. Seperti COVID yang mengubah wajah dunia. Keadaan bisa berubah setiap saat. Kecelakaan bisa terjadi setiap saat. Jadi, kita tidak bisa melindungi diri kita sendiri.
    Yang ketiga, karena ada musuh-musuh di sekitar kita. Misalnya, begal, maling, copet atau orang-orang baik di sekitar kita yang jadi jahat mendadak. Orang-orang yang mesti melindungi, malah mengancam. Apakah itu suami, istri, orang tua, mertua, sahabat, atasan, bawahan, bisa kolega bisnis. Siapa saja bisa jadi ancaman. Dan tentu, musuh yang paling mengerikan adalah kuasa kegelapan. Yang keempat, karena kita akan mati dan menghadapi kekekalan. Jangan hanya mendengar khotbah yang mengenakkan telinga. Tetapi mari kita mendengar hal-hal yang realistis. Yang seperti ini tentu bisa tidak menyenangkan, tetapi melengkapi kita untuk menghadapi hari esok dengan baik dan benar. Nah, karena kita tidak bisa melindungi diri kita sendiri, maka kita harus mencari perlindungan. 
    Setiap kita pasti mencari perlindungan dari Tuhan. Benar. Tetapi apakah kita sudah sungguh-sungguh mencari perlindungan dari Tuhan? Itu yang pertama; yang kedua, apakah kita orang yang layak menerima perlindungan Tuhan? Artinya, apa yang harus kita lakukan untuk memiliki payung perlindungan Tuhan? Kenyataannya, banyak orang itu sombong. Kesombongan itu berakar karena ketidakpercayaan. Kalau kita percaya Alkitab adalah Firman Tuhan, maka apa yang ditulis di Alkitab—yaitu langkah jejak Tuhan yang ajaib, yang luar biasa—bisa kita alami sekarang. Sebab Allah yang ditulis di Alkitab adalah sosok yang bukan hanya ada dalam cerita atau ada di Palestina tapi juga di dalam hidup kita. Allah yang harus kita alami atau kita hidupkan di dalam hidup kita. 
    Kita harus menarik pengalaman tokoh-tokoh iman—di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru—ke dalam hidup kita hari ini. Jangan sombong. Hari ini orang lebih merasa aman jika punya uang banyak, memiliki relasi pejabat atau aparat keamanan daripada punya Tuhan. Kenyataannya, orang memburu uang, kekayaan, jabatan lalu mengabaikan dan melupakan Tuhan. Kalau untuk kegiatan-kegiatan lain dia sediakan waktu, tetapi untuk Tuhan, tidak. Lalu ia meminta perlindungan Tuhan. Apa patut itu? Dalam Yakobus 4:6 dikatakan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Orang yang rendah hati adalah orang yang menyadari secara penuh bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Tuhan. 
    Ironis, tanpa sadar, kita telah menjadi sombong. Kita bukan meninggalkan Tuhan sama sekali, kita masih berdoa dan melayani Tuhan, tetapi kita tidak sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Itulah kebodohan kita. Tuhan mau menolong kita. Yang pada akhirnya, kalau kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…