Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Sesuai Kebenaran Kita
    2 Samuel 22:21-29, “TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, sebab aku tetap mengikut jalan TUHAN dan tidak menjauhkan diri dari Allahku sebagai orang fasik. Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan dari ketetapan-Nya aku tidak menyimpang; aku berlaku tidak bercela kepada-Nya dan menjaga diri terhadap kesalahan. Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucianku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit. Bangsa yang tertindas Engkau selamatkan, tetapi mata-Mu melawan orang-orang yang tinggi hati, supaya mereka Kau rendahkan. Karena Engkaulah pelitaku, ya Yahweh, dan Yahweh menyinari kegelapanku.” 
    Ada hal penting yang kita harus pahami, yaitu Allah tidak berubah. Kalau di Perjanjian Baru kita menangkap kesan atau pesan seakan-akan Allah berubah, itu salah. Pemahaman salah ini memang sudah terjadi sejak abad ke-2. Juga akibat dari filosofi Yunani di mana mereka mengenal Allah yang baik dan Allah yang jahat. Allah Perjanjian Lama bagi orang Kristen yang telah tersesat pikirannya dipandang sebagai Allah yang kurang baik. Tetapi Allah Perjanjian Baru adalah Allah yang baik. Allah yang baik, yang bisa dipandang lebih tinggi. Pemahaman seperti itu salah. Allah Perjanjian Lama adalah Allah pekerja, Allah yang martabat-Nya lebih rendah. Yang benar, Allah Perjanjian Lama juga Allah Perjanjian Baru; Allah yang sama, yang hakikat dan sifat-Nya tidak berubah. Jadi, jangan sampai kuasa kegelapan menipu kita. 
    Allah tidak pernah berubah; dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Allah Perjanjian Lama—yaitu Elohim Yahweh—sama dengan Allah Perjanjian Baru yang kita panggil Bapa. Maka kita bisa menyebut Bapa Yahweh; Elohim Yahweh, sama. Dari ayat yang kita baca di atas, konsekuensinya kita berurusan dengan Elohim Yahweh; “TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku.” Dan itu konsekuensi yang tidak bisa dihindari, karena kita diciptakan oleh Dia. Jadi, jangan melawan Tuhan. Jangan bersikap tidak patut kepada-Nya. Ini konsekuensinya: “TUHAN, Yahweh membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucianku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang suci Engkau berlaku suci, terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.” 
    Mungkin ada yang berkilah, mencoba mendebat atau berargumentasi, “Firman Tuhan di Perjanjian Baru mengatakan, walaupun kita tidak setia, Dia tetap setia.” Benar, itu berlaku selama kita masih hidup. Sebab kalau sekali kita tidak setia atau berbuat dosa, lalu Allah tidak setia, mati kita! Jadi, walaupun kita tidak setia, Dia tetap setia. Tetapi kalau terus-menerus tidak setia, akhirnya berarti kita menyangkal Dia. Maka, Dia menyangkal kita juga. Jadi kalau kita sampai akhirnya tidak setia, maka Dia tetap tidak setia juga. Ini kebenaran yang mestinya menggetarkan kita. Jangan melawan Tuhan, sebab TUHAN membalas kepada kita sesuai dengan kebenaran kita. Ini adalah dinamika hidup yang harus kita pahami. Allah tidak berubah.
    Berharga sekali kebenaran ini, dan berbahagia bagi kita yang mendengar dan mengerti. Tetapi berbahaya bagi yang tidak mengerti, tidak mau mengerti, dan tidak melakukan. Tidak mungkin Tuhan tidak bertindak. Kalau kita sekarang misalnya berbuat kesalahan dan tetap hidup dalam kesalahan itu, bahaya. Jangan berbuat dosa, jangan melakukan kesalahan. Orang yang hidup di dalam kebenaran, tidak memiliki rasa takut sama sekali terhadap kematian. Bahkan, sangat merindukan kedatangan Tuhan dan perhitungan-Nya di hadapan takhta pengadilan. Dan orang yang hidup dalam kebenaran, pasti tidak egois. Dia akan berbuah selama hidup di dunia, membimbing orang supaya jangan orang ikut terbawa ke ...
    9 min
  • Impartasi Spirit
    Bapa di surga ingin agar hubungan kita dengan Tuhan makin hari makin eksklusif. Eksklusif artinya hubungan yang istimewa, yang khusus, yang tiada duanya. Kalau ada hubungan dengan seseorang atau sesuatu dalam hidup kita yang lebih eksklusif dari hubungan kita dengan Tuhan, itu berarti ketidaksetiaan; ada yang salah di dalam hidup kita. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan, “Jika kamu tidak membenci ayahmu, ibumu, saudaramu laki-laki dan perempuan, bahkan nyawamu sendiri, kamu tidak layak bagi-Ku” (Luk. 14:26). Apa maksud ayat ini? Di balik pernyataan itu Tuhan mau agar hubungan kita dengan Tuhan merupakan hubungan yang paling eksklusif, paling intim, paling indah, paling lekat, paling dekat. 
    Maksud Tuhan dengan memerintahkan kita untuk ‘membenci ayahmu, ibumu, saudaramu laki-laki dan perempuan’ bukan berarti kita mengupayakan penderitaan, kesulitan atau mendatangkan celaka bagi mereka. Tetapi, maksud Tuhan adalah agar kita memiliki hubungan dengan Tuhan yang melampaui hubungan kita dengan siapa pun, termasuk dengan orang tua, keluarga, saudara-saudara kita di dunia ini. Jika kita melakukan hal ini, sesungguhnya kita benar-benar belajar mencintai orang-orang yang harus kita cintai secara proporsional. Kita harus mengasihi mereka, benar, tetapi secara proporsional. Dan cinta kita kepada keluarga, orang tua, saudara, anak dan lainnya, haruslah merupakan ekspresi dari cinta yang Tuhan taruh di dalam diri kita. 
    Hubungan eksklusif dengan Tuhan akan membuahkan impartasi spirit dari Tuhan kepada kita. Itulah sebabnya, mulailah menanggalkan segala kesenangan yang tidak perlu kita miliki. Sejujurnya, pasti kita punya kesenangan-kesenangan, hobi-hobi tertentu yang tidak perlu kita nikmati. Nah, yang tahu hanya kita sendiri. Orang lain—bahkan pasangan—mungkin tidak tahu keadaan kita masing-masing. Tetapi kita pasti akan dipimpin oleh Roh Kudus. Ada hal-hal yang membuat Tuhan cemburu, dan sebenarnya ini bahaya. Tuhan tidak mungkin diam saja, lalu pada saatnya kita dipukul, dihajar, dihukum Tuhan; tidak mungkin Tuhan bertindak demikian. 
    Kalau ada sesuatu yang salah dalam hidup kita, pasti Tuhan tegur, pasti Tuhan ingatkan kepada kita. Sehingga, tidak mungkin nanti di pengadilan Tuhan, seseorang bisa berkata, “Wah, saya tidak tahu kalau ini salah. Wah, saya tidak tahu kalau ini dosa; wah, saya tidak tahu kalau ini menyakitkan hati Tuhan.” Karena Roh Kudus pasti tegur, Roh Kudus pasti mengingatkan kita. Tentu hal ini berlaku dalam konteks hidup orang Kristen atau orang percaya atau umat pilihan; bukan dalam konteks hidup orang di luar umat pilihan. Kepada umat pilihan, Tuhan pasti akan memberikan petunjuk setepat-tepatnya, sedetail-detailnya, selengkap-lengkapnya, agar kita memiliki sikap hati yang benar di hadapan Tuhan. Dan Tuhan sebagai arsitek jiwa, pasti Tuhan tahu dengan tepat bagaimana membentuk jiwa kita menjadi agung dan mulia seperti yang Tuhan rancang. 
    Suatu hari nanti kita akan memandang kemuliaan Tuhan Yesus dan Bapa di surga, kita juga merasakan kemuliaan Tuhan Yesus dan Bapa di surga, di mana pada saat itu Tuhan Yesus dimuliakan sebagai Raja di atas segala raja, maka kita pasti bersyukur karena sejak di bumi kita telah memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, hubungan yang eksklusif dengan Tuhan. Dan betapa celakanya orang yang mengisi hari hidupnya dengan berbagai kesenangan yang Tuhan tidak ikut menikmati di dalamnya, betapa mengerikan. Mereka pasti ingin kembali ke dunia, ingin waktu bisa diputar kembali agar mereka bisa memperbaiki hidupnya, namun tidak bisa! 
    Banyak orang akan menyesal dan banyak orang akan seperti yang Alkitab katakan, “Akan meratap dengan ratap tangis, kertak gigi di api kekal.” Sangat mengerikan! Maka, sejak di bumi kita sudah belajar untuk mencintai Dia, menjadikan Dia termulia dalam hidup ini, menjadikan Tuhan benar-benar istimewa sehingga kita tidak memiliki penyesalan itu. Dan kita pasti diterima di kemah abadi sebagai mem...
    9 min
  • Merdeka dari Diri Sendiri
    Banyak orang Kristen merasa dirinya sudah hidup baru di dalam Tuhan, padahal belum. Pada kehidupan manusia pada umumnya, seseorang bisa mengalami proses perubahan; menjadi lebih sabar, lebih bijaksana, lebih bisa mengerti orang lain, dan lain sebagainya. Tetapi itu bukanlah manusia baru; itu manusia lama yang terdidik oleh lingkungan, pendidikan, agama, pendidikan budi pekerti, dan lain-lain; belum manusia baru. Bagaimana kita bisa membedakan manusia lama dan manusia baru? Tidak mudah. Diri sendiri saja kadang-kadang tidak bisa atau tidak mudah membedakan, apalagi kalau menilai orang lain, pasti lebih sulit. 
    Pada hakikatnya, manusia baru akan ditandai dengan adanya kerinduan akan Allah, di mana ia menjadikan Allah sebagai satu-satunya kerinduan, sehingga makin hari benar-benar makin terlepas dari keinginan-keinginan dunia. Manusia baru akan membawa kita kepada kesucian Allah. Inilah sebabnya kita sendiri sulit membedakan, apalagi orang lain. Dua orang sama-sama jujur, tetapi jujurnya seorang yang belum lahir baru, dengan jujurnya orang yang lahir baru, itu berbeda. Sama-sama mengasihi sesama, tetapi orang yang telah lahir baru, kasihnya kepada sesama itu standar Allah, karena menggunakan pikiran, perasaan Allah. Bukan hanya memiliki kebijaksanaan secara umum, tetapi kebijaksanaan ilahi, supaya berkodrat ilahi, menjadi manusia Allah; man of God. Tetapi, ini hanya berlangsung untuk orang yang mengasihi Tuhan. 
    Kalau seseorang belum mengalami kelahiran baru, dia terdidik lewat pengalaman hidup, lewat sekolah Alkitab, lewat pelayanan, bisa mengonseling orang lain, bisa melayani pekerjaan Tuhan, tetapi tidak bisa melepaskan diri dari uang dan keterikatan dunia. Sehingga, ia tidak bisa memiliki pikiran, perasaan Kristus. Artinya ia belum merdeka dari dirinya sendiri. Ini yang mestinya benar-benar kita takutkan, khawatirkan, cemaskan, yaitu jangan sampai kita menghadap Tuhan dan kita belum merdeka dari diri sendiri. Jangan sampai meninggal dunia, dan kita belum merdeka dari diri sendiri. Merdeka dari diri sendiri artinya ketika terjadi pemisahan antara manusia roh dan manusia daging; yang sama dengan manusia lama dan manusia baru. Kalau cara berpikir seseorang belum diubah oleh kuasa Firman, dia belum merdeka dari diri sendiri.
    Orang yang masih punya kesenangan, tidak mungkin meninggalkan dirinya. Semakin tidak punya kesenangan apa pun dalam hidup dan mengarahkan diri kepada Tuhan, cintanya makin bulat. Harus ada tekad atau niat untuk mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Seberapa yang kita mampu lakukan, kasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, kekuatan kita. Nanti Roh Kudus akan menolong kita lewat firman, perjumpaan dengan Tuhan, dan pengalaman hidup. Dari pihak-Nya, Allah memberikan tuntunan Roh Kudus, mendesain keadaan untuk menolong kita merdeka dari diri sendiri. 
    Kalau mindset kita belum diubah, maka kita tidak bisa merdeka dari diri sendiri. Saat perjumpaan dengan Tuhan makin intensif, kecintaan kepada Tuhan juga bertumbuh. Ibaratnya, bejana yang kita punya itu tidak bocor. “Bocor” artinya masih ada kesenangan. Kalau ada kebocoran, kita akan diberitahu Roh Kudus. Kalau kita masih tersinggung, masih sakit hati, masih punya keinginan-keinginan, itu bocor. Dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya, saat kita mendengar firman yang murni, kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam doa, dan Tuhan memproses kita lewat peristiwa-peristiwa hidup, sebenarnya Tuhan mau kita melepaskan manusia lama kita. Kita yang menanggalkan. 
    Tidak ada cara mudah, apalagi otomatis. Kapan, bilamana, bagaimana orang masih mencintai dirinya sendiri? Jika dia membiarkan ada keinginan yang bukan dari Allah di dalam dirinya. Orang yang belum atau tidak melepaskan dirinya dari segala keinginannya, berarti ia tidak bisa merdeka dari dirinya sendiri. Tetapi, kalau kita sungguh-sungguh mau, bisa. Ini anugerah yang besar dari Tuhan, karena kita dituntun Tuhan untuk bisa mencapai ini.
    8 min
  • Diam
    Roma 8:28 adalah ayat favorit bagi banyak orang, “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Di balik ayat ini, ternyata tersirat satu kebenaran bahwa bagaimanapun, kita harus melibatkan Tuhan dalam pergumulan hidup. Jadi, ada persoalan-persoalan yang kita hadapi, yang ada dalam jangkauan kemampuan kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami tidak melampaui kekuatan kita, tetapi bukan berarti semua pencobaan dapat kita atasi sendiri. Ada pencobaan-pencobaan yang di dalamnya kita harus melibatkan Tuhan; tidak mungkin dapat kita selesaikan tanpa melibatkan Tuhan. 
    Kalau misalnya ada 100 pencobaan, mungkin 50, 60, 70 kita kerjakan dalam jangkauan kemampuan kita. Tetapi ada 20,10, atau mungkin 5 yang di luar jangkauan kita, dan kita harus melibatkan Tuhan. Ingatlah di dalam pencobaan, pergumulan hidup, ada yang Tuhan mau ajarkan kepada kita. Maka dikatakan “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan,” artinya Allah harus terlibat, harus hadir untuk mengajarkan apa maksud pencobaan itu diizinkan Tuhan kita alami. Maka, kita harus ada di dalam hadirat Tuhan setiap saat, melibatkan Tuhan dalam segala hal. 
    Melalui semua kejadian hidup, Bapa mau mengajar kita untuk lebih mengenal-Nya. Memercayai Allah hadir dan hidup, sebenarnya tidak mudah. Tidak mungkin seorang bisa menghayati kehadiran Allah hanya dengan mendengar khotbah, membaca buku, menghadiri seminar. Ia harus mengalami Tuhan di dalam persoalan-persoalan hidup. Jangan heran ada masalah-masalah berat yang di luar kemampuan kita, sampai nyaris kita putus asa; artinya Tuhan memberi kita ruangan untuk menjumpai Dia dan melibatkan-Nya; memercayai Tuhan yang hidup. 
    Terkadang, kita kurang memercayai Tuhan. Kita khawatir, cemas; ceroboh mengambil keputusan. Kita bertindak tanpa minta petunjuk, pimpinan Tuhan atau mengandalkan kekuatan di luar Tuhan. Kekuatan di luar Tuhan, bisa kuasa kegelapan. Ini bahaya sekali, sebab kalau seseorang melibatkan kuasa kegelapan misalnya okultisme, dia menjual jiwanya. Pasti binasa. Tidak ke dukun, tetapi mengambil keputusan di luar kehendak atau rencana Allah. Datang kepada manusia, lalu mengandalkan manusia. 
    Tidak salah ditolong oleh seseorang. Tetapi semua harus di dalam pimpinan Tuhan. Terkadang masalah yang kita hadapi itu berat, sulit, dan membingungkan. Tuhan tidak segera menolong, lalu kita menjadi putus asa. Kita yang diproses Tuhan untuk menjadi dewasa, pasti mengalami keadaan-keadaan yang membuat kita bingung, kenapa Tuhan seakan-akan diam. Berdoa juga, tetapi Tuhan seakan-akan tidak ada. Ini bisa terjadi dalam hidup kita. Satu hal yang harus selalu diingat, kita memandang hidup ini harus dari perspektif kekekalan. Semua hal yang terjadi, harus kita pandang dari sudut pandang kekekalan. 
    Hidup di bumi ini singkat sekali dan akan berakhir, tetapi kita tidak tahu kapan berakhirnya. Masalah sebesar apa pun, pasti berakhir; ada ujungnya. Kita harus memandang hidup dari perspektif kekekalan. Ini akan membuat kita kuat. Ketika kita menghadapi masalah yang membuat kita bingung, kita diam.  Seni diam ini tidak mudah, karena sering kali kita bingung, hilang keseimbangan, akhirnya cepat-cepat mengambil keputusan dan bertindak. Kita tidak berani atau kurang berani untuk duduk diam di kaki Tuhan, menanti pertolongan-Nya. Mestinya kita berani, menanti pertolongan Tuhan, karena pertolongan Tuhan pasti datang. Tuhan tidak mungkin tidak menolong kita. Saat kita menghadapi masalah berat yang membingungkan, kita belajar diam; jangan bertindak apa-apa sampai Tuhan memberi petunjuk. 
    Semua kita punya masalah. Tetapi Tuhan mengajarkan untuk diam menantikan Tuhan. Kalau kita mengalami keadaan seperti ini, kita bersyukur karena kita dipandang Tuhan istimewa untuk bisa melewati keadaan seperti itu. Tuhan memandang kita istimewa,
    4 min
  • Ada Pukulan
    Dalam 2 Korintus 5:17 firman Tuhan berkata, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Kita kadang-kadang mendengar orang berkata, “Kami sudah hidup baru,” tetapi apa ukuran “hidup baru” sebenarnya? Ini terkait juga dengan klaim banyak orang bahwa dirinya sudah mengalami kelahiran baru. Apa parameternya, kalau seseorang benar-benar telah mengalami kelahiran baru? 
    Ini penting dan prinsip, karena kita dipanggil menjadi umat pilihan, bukan hanya mengaku sebagai anak Allah dan merasa telah memiliki status anak Allah, melainkan benar-benar berkeberadaan sebagai anak Allah. Ciptaan baru adalah manusia yang benar-benar telah mengenakan kodrat baru. Kita memiliki kodrat lama atau manusia lama. Manusia lama ini sering kali masih melekat di dalam diri kita, dan kita toleransi untuk menghidupinya. Tuhan yang panjang sabar, memberi kita kesempatan. Sejak kita bertobat, kita diproses untuk menjadi dewasa. Kata “dewasa” berarti semakin menanggalkan manusia lama dan benar-benar menjadi manusia baru. 
    Profil manusia baru itu tidak bisa kita bayangkan atau mengerti sampai kita benar-benar mengalaminya. Kekristenan itu luar biasa, bukan agama yang hanya mengajar orang untuk berbuat baik, bermoral, berbudi pekerti yang luhur, beretika yang baik, melainkan juga menjadi manusia baru. Untuk menjadi ciptaan baru, manusia lama kita benar-benar harus ditanggalkan. Kalau kita tidak mulai atau tidak sungguh-sungguh berproses, maka kita tidak bisa mendeteksi bahwa yang kita kenakan itu manusia lama yang tidak berkenan kepada Tuhan. Mau didandani bagaimanapun, kasihnya tidak mungkin murni, atau berkualitas rendah. 
    Kalau kita melihat orang di luar umat pilihan yang tidak digarap oleh Roh Kudus bisa rendah hati, tulus, murah hati, tetapi kemurniannya pasti tidak seperti kalau seorang Kristen mengalami proses pendewasaan yang mengenakan manusia baru. Ironis, kadang-kadang orang Kristen lebih buruk dari orang non-Kristen. Padahal, mestinya berproses untuk mengenakan manusia baru, yang kemurniannya adalah kemurnian standar Allah. Bukan tidak membenci, tetapi tidak bisa membenci. Penuh kemurahan, ketulusan, kemurnian yang luar biasa. 
    Kadang-kadang orang yang bukan umat pilihan lebih murah hati, tidak pelit, lebih sabar, dan seterusnya. Tetapi, orang percaya yang benar, menerima proses pembentukan, maka akan benar-benar bertumbuh menjadi manusia baru. Sebenarnya, inti pelayanan adalah membuat umat pilihan benar-benar menjadi manusia baru dengan profil yang sesuai dengan kehendak Allah. Ini baru namanya dikembalikan ke rancangan semula. Tetapi yang lulus sampai tingkat ini, sedikit; “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.” 
    Firman Tuhan mengatakan dalam Efesus pasal 4:22, “Bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu harus menanggalkan manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu.” Yang menanggalkan manusia lama itu kita, bukan Tuhan. Tuhan memberikan kita Firman, Roh Kudus pasti menuntun. Luar biasanya, Tuhan menggarap kita. Pukulan demi pukulan dapat merontokkan manusia lama kita. Tuhan melihat manusia lama kita yang masih melekat, lalu Tuhan menggarap kita. Tuhan memberikan sarana untuk penanggalannya, tetapi apakah kita mau menanggalkan manusia lama kita atau tidak, itu tergantung diri kita sendiri. Kalau kita tidak mau menanggalkan, Tuhan tidak paksa. 
    Alkitab mengatakan, “Kerajaan Allah bukan soal makan dan minum, tetapi kebenaran, damai sejahtera, sukacita oleh Roh Kudus,” jadi tidak ada bagian manusia lama kita yang diperkenan masuk Kerajaan Surga sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah. Manusia lama kita itu harus digugurkan, diluruhkan. Kita menjadi manusia baru dengan profil sesuai dengan kehendak Allah. Kalau kita melewatkan kesempatan demi kesempatan yang Tuhan berikan dengan menikmati kesenangan dunia, hidup suka-suka sendiri,
    9 min
  • Iman yang Bernilai
    Dalam perjalanan hidup kita ini, pasti ada masa-masa di mana Tuhan seakan-akan tidak hadir, seakan-akan Tuhan tidak nyata. Sementara keadaan kita tidak berbeda dengan orang-orang di luar Tuhan. Itulah sebabnya ada orang-orang Kristen ‘terpaksa’ menjual imannya dengan bergabung dengan mereka yang memiliki kesenangan-kesenangan hidup yang rasanya itu adalah hal yang membahagiakan. Ketika kita dalam keadaan seakan-akan Tuhan meninggalkan kita, di situ kita belajar untuk percaya, di situlah kita diberi Tuhan kesempatan Tuhan untuk belajar percaya. 
    Kalau keadaan serba baik, mukjizat nyata, Allah hadir menyatakan kemuliaan-Nya dalam berbagai karunia-karunia Roh, maka mudah sekali seseorang menaruh kepercayaan kepada Tuhan. Tetapi kalau dalam situasi di mana seakan-akan Tuhan meninggalkan kita—apalagi kita yang sungguh-sungguh mencari Tuhan—dan keadaan kita tidak berbeda dengan mereka—bahkan mungkin keadaan lebih terpuruk, lebih susah dibanding mereka—sejatinya, di sini Tuhan menguji keteguhan hati kita, kesetiaan iman kita kepada Tuhan. Jangan menjadi kendor, jangan menjadi lemah, tetapi kita harus tetap kuat di dalam Tuhan. Dengan kekuatan dari Tuhan, kita pasti sanggup melewati berbagai pergumulan hidup yang harus kita lalui.
    Di situ ada banyak pelajaran rohani yang kita dapat. Jadi ketika kita dalam satu keadaan di mana seakan-seakan Tuhan meninggalkan kita, tetapi kita harus tetap menaruh percaya kita kepada Tuhan. Kita menjalani hidup, kita menjalani tanggung jawab, seakan-seakan Tuhan tidak campur tangan, Tuhan tidak menolong. Ada saja hal yang harus kita alami, kesulitan demi kesulitan, ada saja yang harus kita alami. Tetapi itu tidak menjadi masalah, kita tetap bertekun di dalam Tuhan dan menantikan Tuhan. Itulah artinya menantikan Tuhan; “Tuhan, aku menanti-nantikan Engkau, dalam kasus rumah tanggaku, dalam kasus ekonomi, dalam kasus kesehatan keluarga kami, aku bergantung kepada-Mu. Aku perlu Engkau Tuhan, hanya Engkau yang kuperlu.”
    Kita belajar bertahan di tengah-tengah keadaan yang sulit. Tuhan pasti akan menunjukkan kemuliaan-Nya. Hal itu akhirnya mendidik kita untuk memercayai Allah bukan hanya pada saat situasi mendukung—seperti adanya Kebangunan Rohani Kesembuhan dan mukjizat lain—melainkan dalam segala situasi di mana tidak ada mukjizat, tidak ada hal yang spektakuler terjadi di gereja, namun kita tetap percaya bahwa Tuhan beserta kita, Tuhan bersama kita. Jangan hanya pada waktu ada mukjizat KKR lalu ada pernyataan kuasa Roh Allah baru kita berkata, “Allah ada di sini.”
    Justru iman kita menjadi bernilai ketika kita beriman kepada Tuhan dalam situasi yang sulit untuk memercayai bahwa Tuhan itu ada. Kita justru dilatih memiliki iman di tempat di mana orang menolak iman, menolak Yesus; kita di situ justru bersaksi. Orang boleh pakai cara hidup bagaimanapun, nyaman dan bahagia dengan cara hidup apa pun, tetapi kita tidak boleh terbawa oleh cara dan gaya hidup mereka. Kita memiliki cara dan gaya hidup sebagai anak-anak Allah yang berbeda, yang tidak sama. Dan kita tetap bertahan dalam cara dan gaya hidup anak-anak Allah, walaupun kelihatannya sama dengan mereka. Bahkan mereka bisa lebih sukses, lebih maju, lebih berhasil. Tetapi kita tetap percaya kepada Tuhan. 
    Situasi-situasi yang sulit untuk memercayai bahwa Allah itu ada dan hidup, justru kita kenakan untuk menjadi pelatih kita dalam beriman kepada Tuhan. Sebab kita percaya pasti nanti di akhir pergumulan hidup kita, kita pasti melihat kemuliaan Allah. Tidak mungkin tidak ada kemuliaan Allah. Waktu demi waktu yang kita habiskan untuk mencari Tuhan, pasti membuahkan buah yang luar biasa. Jadi yang kurang serius, ayo kita mulai serius. Tuhan melihat, menandai sebeberapa kita serius atau tidak. Ibarat ikan, kita harus serius sedang menuju satu tujuan; jangan menyimpang ke kanan ke kiri, walau penuh dengan arus, kita tetap melawan arus. Ayo, kita menuju satu tujuan, tujuan kita adalah Rumah Bapa,
    8 min
  • Tidak Gagal
    Dalam mengiring Tuhan, pasti kita masih jatuh bangun. Namun, kalaupun kita mengalami jatuh bangun, kita tidak gagal. Karena kejatuhan pun dijadikan Tuhan sebagai proses untuk penyempurnaan. Tidak pernah ada orang yang berjanji mengikut Tuhan Yesus dengan segenap hidupnya, dengan seluruh pertaruhannya, gagal. Tidak pernah. Mungkin muncul pertanyaan dalam hati, “Bagaimana dengan Yudas?” Jangan salah, Yudas memang dari semula mata duitan, benar? Berbeda dengan Petrus yang mengatakan, “Aku akan ikut Engkau, Tuhan, ke mana Engkau pergi.” Sekalipun dia punya kegagalan, Tuhan tidak pernah membuat dia gagal total. Dia bisa dipulihkan. 
    Maka, jangan kita mendengar suara Iblis yang mengatakan, “Hati-hati dengan janji ini. Kalau kamu tidak penuhi, kamu celaka.” Benar, kalau kita tidak penuhi, kita celaka. Tetapi Tuhan akan membuat kita bisa memenuhinya. Tuhan menghargai ketika kita berkata, “Tuhan, aku akan ikut Engkau ke mana pun Engkau pergi,” walaupun kita ketika mengucapkan itu, tidak akan bisa membayarnya. Tetapi, di kemudian hari, Tuhan akan menolong kita untuk bisa memenuhinya. Tuhan menghargai ketika kita memercayai Dia dalam kekurangan, kelemahan, dan kebodohan kita. 
    Tuhan menghargai kepercayaan itu, dan Tuhan menghargai kecintaan kita. Kita tidak sempurna—belum sempurna—tetapi kita tetap bisa mengasihi Tuhan. Jangan mengandalkan kuat dan gagah kita. Tuhan hanya mau mendengar kita mau. Kalau kita menghitung kemampuan kita, maka pasti kita tidak akan berani mengucapkan janji itu. Tetapi, kalau kita percaya bahwa tidak ada kehidupan di luar Tuhan, bahwa hanya Dia kehidupan kita, maka tidak ada celah yang kita buka untuk siapa pun. Kita memercayai Tuhan dan kita berani mengucapkan janji. 
    Dan Tuhan akan memberikan kita pertolongan, Tuhan akan memberi kemampuan. Jangan takut nekat, nanti kita pasti bisa. Pada akhirnya kita lihat, bisa. Banyak orang yang tidak berani mengambil keputusan, sampai pada suatu saat mereka tidak pernah mengambil keputusan yang besar ini. Mereka tidak mampu, karena mereka tidak percaya Tuhan dan tidak mencintai Dia. Maka, selagi masih punya kesempatan untuk memercayai Tuhan dan mencintai Tuhan, ambil keputusan ini. Kita akan melihat kemuliaan Allah dan kita akan mengalami kehadiran Tuhan. 
    Tuhan tidak mau berurusan dengan orang yang setengah hati. Dan firman Tuhan mengatakan, “Orang yang mendua hati, tidak memperoleh apa-apa.” 100% memercayai Tuhan, atau tidak usah sama sekali. Memang, pasti ada orang yang mencemooh ketika kita membuat perjanjian karena mereka menilai kita seperti mau bangga diri, mau sombong, atau dianggap menutupi dosa atau apa pun, jangan pedulikan! Kita semua akan meninggal dunia. Dan kitab kehidupan akan dibuka. Setiap orang akan memperoleh apa yang patut diterimanya. 
    Ketika kita tidak membuat perjanjian dengan Tuhan, kita merasa tidak membuat perjanjian dengan dunia, tetapi itulah langkah-langkah membuat perjanjian dengan dunia. Sebab, tidak ada subjek dan objek lain; Tuhan atau setan. Jadi ketika kita tidak melakukan perjanjian dengan Tuhan, sejatinya kita membuat perjanjian dengan dunia, dengan kuasa gelap. Kita membawa diri kita kepada kegelapan. Dan kita tidak akan pernah menduga betapa hebatnya kalau kita berani membuat perjanjian dengan Tuhan. Tetapi kalau tidak, betapa jahatnya. 
    Jangan sampai Iblis memakai gairah dan keberanian kita untuk kejahatan. Sebaliknya, pakai gairah dan keberanian kita untuk Tuhan. Percayalah, kita tidak akan pernah menyesal mengambil keputusan ini. Namun kita harus dengan kerelaan melakukan hal ini. Kalau bukan Tuhan, kita tidak ada seperti sekarang ini.  Jadi, jangan takut membuat perjanjian dengan Tuhan. Kita harus berani hidup dalam ketidakwajaran. Tuhan akan membimbing kita, sifat karakter kita akan diubah. Sebab pada dasarnya, perjanjian kita dengan Tuhan harganya adalah seluruh hidup kita, nyawa kita. Karena kalau kita tidak kehilangan nyawa, kita tidak beroleh nyawa. Nyawa manusia lama kita mati,
    9 min
  • Tanpa Syarat
    Mari kita berpikir dengan jujur, realistis, dan cerdas. Ketika seseorang berani mengambil dan menerima pasangannya menjadi suami atau istri, dia harus yakin bahwa pasangan ini dapat diajak untuk membangun rumah tangga yang baik dan bahagia. Mungkin dari 100 orang, ada satu yang ragu-ragu. Atau mungkin dari 1000 orang, ada 5 yang ragu-ragu. Tetapi umumnya, kalau seorang pria berani mengambil seorang wanita sebagai istri atau sebaliknya, dan membawa diri mereka di pelaminan kudus untuk diberkati dan diteguhkan, mereka sudah yakin sepenuhnya bahwa pasangan yang dipilihnya itu pasangan yang tepat. Maka, seseorang berani mengangkat sumpah untuk menerima pasangannya tersebut dalam suka dan duka, dalam masa kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sehat atau sakit. Maka ia tidak membuka celah terhadap yang lain.
    Di dalam Efesus 5, hal ini dikatakan sebagai rahasia besar, “Tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Pertanyaannya, seberapa kita memiliki kepercayaan sekaligus kecintaan kepada Tuhan yang memang menghendaki agar kita mencintai Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Mat. 22:37-40)? Seberapa kita berani memberikan cinta kita kepada Tuhan? Seberapa kita berani memberikan kepercayaan kita kepada Tuhan bahwa Dia satu-satunya yang dapat membahagiakan kita? Bahwa Dia satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita? Bahwa tidak ada yang lain, kita tidak membuka celah terhadap ilah, allah, dewa, atau kuasa lain? 
    Semua dapat berkata, hanya Elohim Yahweh, Allah yang Esa, dan Tuhan Yesus Kristus satu-satunya Tuhan bagi kita, namun berapa persen kita memercayai Tuhan? Sementara standarnya harus segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Berapa persen kita mengasihi Dia? Pada umumnya kita—walau tidak semua—akan menjawab “100%.” Tidak ada kehidupan di luar Tuhan yang Esa, Elohim Yahweh. Tidak ada perlindungan, penjagaan, selain Elohim Yahweh, Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Tidak ada yang setia dan membahagiakan kita selain Dia. Bukan hanya selama di bumi, tetapi di kekekalan. Percayalah bahwa Dialah yang Empunya segala kuasa, kerajaan, dan kemuliaan. 
    Kalau kita percaya kepada-Nya 100%, kita akan berani mengucapkan janji kita. Kita akan berani membuat perjanjian; apa pun syaratnya. Kita seperti menandatangani satu cek blanko kosong, dan kita mempersilakan Tuhan untuk mengisi angka berapa pun; kita tidak membatasinya. Kalau kita benar-benar mencintai Dia dan memercayai Dia, kita tidak akan ragu-ragu membuat perjanjian dan tanpa mempertanyakan syaratnya. “Apa pun syaratnya, Tuhan. Tetapi yang penting, aku dapat memiliki Engkau dan Engkau memiliki aku.” 
    Kalau kita takut, berarti kita belum berani memercayai Dia. Kita adalah manusia yang juga punya pertimbangan, punya mind control yang juga telah rusak dan sesat oleh pengaruh dunia. Tetapi lewat perjalanan waktu, seiring dengan pertumbuhan kedewasaan atau pendewasaan rohani melalui kebenaran firman, kita beranikan diri membuat perjanjian. Tuhan pasti menunjukkan harganya secara bertahap, seiring dengan perubahan karakter kita dan ditanggalkannya kodrat dosa secara bertahap dalam hidup kita. Tetapi yang penting keberanian untuk percaya. 
    Coba kita ingat kembali kisah Rut. Ketika Rut dan Orpa, dua wanita menantu Naomi, mengikuti Naomi yang akan kembali ke Betlehem, Naomi meminta mereka untuk pulang ke rumah orang tua masing-masing; agar mereka dapat menikah kembali. Namun Rut menjawab: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau, dan pulang dengan tidak mengikut engkau. Sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi. Dan di mana engkau bermalam, di situlah juga aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. Di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sana aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain daripada maut.” 
    Rut memilih ikut Naomi sekalipun tanpa jaminan.
    9 min
  • Kebersamaan dengan Tuhan
    Hanya orang yang bersama-sama dengan Tuhan sejak hidup di bumi, akan bersama-sama dengan Tuhan di kekekalan. Kalau kita tidak di dalam kebersamaan dengan Tuhan sejak di bumi ini, jangan berharap kita akan bersama-sama dengan Tuhan di kekekalan. Kehadiran kita di gereja bukanlah jaminan bahwa kita telah bersama-sama dengan Tuhan. Apakah kebersamaan suami istri hanya pada waktu mereka ada di ranjang atau di ruang makan? Tentu kebersamaan mereka adalah kebersamaan sepanjang waktu, bukan hanya secara fisik di satu tempat bersama, tetapi harus sehati, sepikiran, seperasaan, setujuan. Inilah arti sebuah persekutuan. Mungkin kita seorang aktivis bahkan pendeta, mengambil bagian dalam kegiatan gereja. Itu belumlah jaminan bahwa kita ada dalam kebersamaan dengan Tuhan. Jangan menganggap murahan Tuhan. 
    Standarnya firman Tuhan, luar biasa; “Supaya mereka semua menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.” Bayangkan, persekutuan Yesus dengan Bapa menjadi standar persekutuan kita dengan Bapa dan Tuhan Yesus. Mari kita menyadarinya kalau kebersamaan kita dengan Tuhan belum sebagaimana seharusnya. Kita menyadarinya seperti anak terhilang, kita harus kembali datang kepada Bapa dan berkata, “Aku telah berdosa kepada Bapa dan surga.” Orang-orang yang terhilang ini pasti belum menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kenikmatan, dan pasti belum merindukan Kerajaan Surga. Anak bungsu yang terhilang berkata, “Aku telah berdosa kepada Bapa. Aku merasa di luar rumah, aku lebih bahagia. Aku mengkhianati Bapa. Aku berdosa kepada surga, karena aku merasa bahwa ada dunia lain yang lebih baik, atau paling tidak sejajar dengan surga.” 
    Di Perjanjian Lama saja sudah ada satu positioning kehidupan rohani yang luar biasa. Dalam Mazmur 73, pemazmur mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Itu pasti bukan sebuah retorika, melainkan sebuah pengakuan  yang jujur dari hati yang tulus. Di Perjanjian Lama, pemazmur sudah menunjukkan adanya sebuah persekutuan yang begitu eksklusif dengan Allah. “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah; kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana. Bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia mendahului mereka, melangkah ke Rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan?
    Seperti orang baik, kita datang kepada Tuhan dengan sorak-sorai dan nyanyian syukur, karena di situlah sukacita kita. Dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan, kita bukan mau berkompetisi dengan dunia atau mau menjadi lebih hebat, lebih terhormat, lebih kaya, lebih berkuasa, melainkan kita mendahului mereka melangkah ke Rumah Allah. Sejujurnya, sebagian kita telah diracuni oleh dunia, sehingga kita belum benar-benar haus akan Allah seperti yang dikemukakan pemazmur. Bagi seekor rusa, air itu bukan hobi, bukan komplemen, air adalah kehidupan. Kebersamaan dengan Tuhan adalah kehidupan. Kekristenan bukan bagian hidup kita, tetapi seluruh hidup kita. Kita membutuhkan Tuhan lebih dari kita membutuhkan nafas kita, lebih dari kita membutuhkan darah yang mengalir di tubuh kita. 
    Jangan menunggu ada persoalan, pergumulan hidup, kebutuhan-kebutuhan yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, baru mencari Tuhan. Dialah kehidupan kita. Kita kaya atau miskin; kita sehat atau sakit; kita terhormat atau tidak; kita sukses dalam studi, karier, atau tidak, bukan masalah. Yang penting kita memiliki Tuhan dalam kebersamaan yang benar. Namun ingat! kita tidak bisa memiliki Tuhan kalau Tuhan tidak bisa memiliki hidup kita. Tuhan tidak bisa memiliki hidup kita kalau kita masih memiliki banyak kesenangan. Apalagi kalau kita masih hidup di dalam dosa. Jangan remehkan Tuhan.
    11 min
  • Hidup dalam Kepastian
    Firman Tuhan mengatakan, “Jadi sekarang hai kamu yang berkata hari ini atau besok kami akan berangkat ke kota anu dan di sana kami akan tinggal setahun, dan berdagang serta mendapat untung.” Ini adalah bahasa orang yang optimis. Pasti bisa berangkat ke kota anu, pasti bisa tinggal setahun, bisa berdagang dan mendapat untung. Tidak salah dengan optimisme, dan bukan berarti kita harus pesimis. Tetapi, mari kita lihat kebenaran firman Tuhan, “Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”
    Seiring perjalanan waktu kita bergaul dengan Tuhan, sejatinya kita makin mengerti kebenaran dan makin cerdas. Kita bisa melihat banyak orang yang semakin kaya semakin memiliki nilai kepastian di dalam dirinya. Dunia pun seperti merestui. Kalau uang banyak, punya banyak relasi penting sehingga ada suara dalam dirinya: “Semua bisa diatur.” Ini membangun optimis yang bisa melupakan Tuhan. Kita harus optimis untuk apa yang harus kita optimis, tetapi kita tidak perlu optimis untuk apa yang tidak perlu kita optimis.
    Dan seoptimis-optimisnya kita hidup, kita selalu harus melandaskan dengan satu pernyataan “jika Tuhan menghendaki.” Tetapi jika orang sudah menjadi kuat—secara materi, kekuasaan, relasi, keamanan, hukum dan lainnya—maka kalimat “Jika Tuhan menghendaki” menjadi tipis, bahkan sangat tipis. Yang membahayakan adalah ketika ia tidak memedulikan kekekalan. Dalam pengalaman hidup, kita tentu pernah bertemu orang yang lemah, yang tidak punya kekuatan. Bahkan kita juga terkadang mengalami kesulitan yang tidak tahu bagaimana jalan keluarnya. Tetapi itu sehat bagi jiwa kita. Sebab Tuhan mengizinkan semua itu terjadi, agar kita tidak mengabaikan prinsip “Jika Tuhan menghendaki.” Sebab ini masalah kekekalan.
    Ketika orang merasa kuat secara ekonomi dan relasi, ia buta atas apa yang dikendaki Tuhan dalam hidupnya dan makin terpicu untuk berbuat ini dan itu. Padahal itulah jebakan kuasa gelap. Ironis, banyak orang tidak menyadarinya. Mungkin kita sedang terjebak di sana. Ketika kita punya relasi orang kuat, diam-diam kita menjadi sombong; kalau ribut dengan seseorang, kita tidak takut karena kita merasa pasti bisa menang. Kita kurang mengandalkan Tuhan, kita jadi mengandalkan manusia. Ini sangat mendukakan Tuhan.
    Terkadang kita mau mengatakan kepada orang yang bermasalah, “Tenang, saya bisa bela kamu. Seberapa kuat lawanmu, saya kerahkan kekuatan saya. Aku punya kekuatan.” Padahal dengan berbuat begitu, kita bisa merusak pembentukan atau rencana Tuhan atas orang itu dan membuat kita menjadi semakin sombong. Jangan coba-coba menggunakan kekuasaan dan kekuatan di luar kehendak Allah. Tidak salah punya relasi pejabat yang bisa mendukung kita, tetapi jangan mengandalkan kekuatannya demi kepastian hidup. 
    Kalau Tuhan mengizinkan kita mengalami keadaan apa pun, bahkan keadaan yang tidak menentu, kita tetap harus berkata, “Jika Tuhan menghendaki” kami akan hidup berbuat ini dan itu. Artinya kita akan menerima apa pun yang akan terjadi. Apa pun keadaan hidup kita, jika itu seizin Allah, pasti itu yang terbaik. Tidak mudah mengubah pola pikir yang sudah tercemar dunia yang jahat. Apalagi kalau melihat surga itu seperti misteri, seperti alam yang berbeda dengan alam kita. Seiring dengan kepastian bahwa Allah adalah satu-satunya kepastian, maka Kerajaan-Nya juga sebuah kepastian.
    Sebaik apa pun yang dimiliki manusia di bumi—tubuh sehat, rumah tangga bahagia dan utuh, ekonomi baik, keadaan nyaman dan aman—itu bukanlah kepastian. Bahkan bisa membahayakan. Kalau kita berprinsip seperti ini, maka pasti ada orang yang menilai kita tidak waras; karena umumnya orang mau mencari kepastian hidup. Tetapi itulah sejatinya kebenaran yang Injil ajarkan, antara lain: dunia bukan rumah kita; serigala punya liang, Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya; asal ada makanan dan pakaian, cukup.
    Ironis,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…