Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Ekstrem Positif
    Kita sudah beberapa kali mendengar firman Tuhan ini, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24). Tetapi pada kenyataannya, kita sering tidak sungguh-sungguh; itu yang sering kita lakukan. Kita menganggap sepi perasaan Tuhan atau kita tidak memedulikan-Nya, padahal Dia Maha Mulia, Maha Agung, Maha Besar. Kita tidak menghormati Allah sebagaimana mestinya. Jangan kita meremehkan Tuhan dengan tidak memberi segenap hidup bagi Dia. “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan,” artinya kita harus menyerahkan segenap hidup kita bagi Tuhan atau tidak usah sama sekali. 
    Ayat ini menempatkan kita menjadi orang yang benar-benar ekstrem dan fanatik untuk Tuhan. Bukan ekstrem dan fanatik buta yang melukai atau menyakiti sesama, melainkan fanatik dan ekstrem yang positif; sangat mencintai Tuhan, sangat menghormati Tuhan, sangat takut akan Tuhan. Hal ini bukan sesuatu yang hanya dipercakapkan. Bukan hanya sesuatu yang hanya ditulis di buku. Melainkan sesuatu yang harus kita lakukan, kita alami, kita jalani dalam hidup ini. Tidak ditulis di atas kertas semata, tetapi ditulis dalam perjalanan hidup, yang tentu itu semua juga tertulis dalam Kerajaan Surga. Sebab semua perbuatan kita menyertai kita. 
    Firman Tuhan mengatakan dalam Wahyu 14:13, “Dan aku mendengar suara dari surga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” Jadi tidak sia-sia. Suatu hari kita akan melihat ekstremnya kemuliaan Allah, ekstremnya keagungan dan kebesaran Allah, dan kita bisa masuk karena kita sudah ekstrem mencintai Dia, ekstrem menghormati Dia, ekstrem takut akan Dia. Kita bisa masuk kabut kemuliaan Allah dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan itu. 
    Bayangkan kalau orang tidak takut akan Allah, tidak menghormati Allah, tidak mencintai Allah secara proporsional atau secara benar, nanti masuk dalam kemuliaan Allah, dia tidak sanggup. Tentu tidak layak dan dia pun tidak akan bisa masuk ke dalam kabut kemuliaan Allah yang dahsyat tersebut. Hari ini, sebelum kita meninggal dunia, sebelum masuk hadirat Allah, masuk kabut kemuliaan Allah yang dahsyat, kita sudah seekstrem-ekstremnya takut akan Allah, menghormati Dia dan mencintai Dia. Jangan sampai kita berkeadaan tidak layak di hadapan Tuhan. 
    Oleh sebab itu, kita harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan” artinya kita tidak dapat mengenakan manusia baru sementara juga masih mengenakan manusia lama. Itu yang sering dan masih kita lakukan, mengenakan manusia baru, tetapi juga masih mengenakan manusia lama. Ini menyedihkan dan mengerikan. 
    Alkitab jelas mengatakan, “Tanggalkan manusia lama dan kenakan manusia baru” (Ef. 4:22-24), sehingga kita terlatih untuk terus mengenakan manusia baru. Ini harus kita usahakan dengan sungguh-sungguh dan Roh Kudus pasti menuntun orang-orang yang benar-benar mau menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Tuhan berjanji, “Siapa yang haus dan lapar akan kebenaran akan dipuaskan” (Mat. 5:6). Kalau kita serius, kita rindu mau mengenakan manusia baru, kita belajar, kita melangkah, Tuhan pasti akan menolong kita.
    Betapa indahnya kehidupan seorang yang mengenakan manusia baru. Ini baru namanya mengalami kelahiran baru. Orang yang mengenakan manusia baru adalah orang yang benar-benar lahir baru. Inilah orang-orang yang bisa berkata, atau patut berkata, “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Orang-orang seperti ini adalah orang yang benar-benar menyukakan, menyenangkan hati Bapa. Orang-orang yang benar-benar menjadi biji mata Allah, permata-permata Tuhan. Inilah kehidupan manusia yang sukses, manusia yang berhasil, yaitu jika seseorang benar-benar mengenakan manusia baru ...
    9 min
  • Bangunlah!
    Jangan main-main dengan hidup. Kita ada dalam perjalanan waktu dan pasti ada ujungnya; dan kita tidak tahu kapan kita akan tiba di ujung hidup kita. Kita tidak tahu ujungnya, maka setiap saat kita harus berjaga-jaga; “Kalau hari ini hari terakhirku, aku sudah siap.” Dulu kita sering ceroboh, karena kita pikir masih ada waktu. Memang waktu masih ada, tetapi kecerobohan-kecerobohan tersebut, ternyata membuat kita tidak bertumbuh dalam kesucian. Kalau kecerobohan itu berlarut-larut, kita tidak akan mencapai tingkat kekudusan yang Allah kehendaki. 
    Kita kelihatan baik-baik, kelihatan rohani, tetapi sejatinya kita belum menyenangkan hati Bapa. Mari kita memperhatikan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan dalam Efesus 5:14, “Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Kita yang harus bangun. Kita tidak bisa hanya berkata, “Tuhan, bangunkan aku.” Kita yang harus berkata, “Tuhan, aku mau bangun.” Bagaimana kita bisa bangun? Ada satu kalimat penting: Ubahlah rutinitas hidupmu!
    Kita tidak akan pernah bangun—dalam arti rohani—kalau kita tidak mengubah rutinitas hidup. Kita terjebak dengan siklus hidup setiap hari. Bangun pagi, kerja, bangun pagi begini, lalu begitu. Tidak salah, jika itu memang tanggung jawab yang harus dipenuhi, tetapi ada hal-hal yang harus kita ubah. Bangun pagi, berdoa dulu sebentar, karena harus dikejar waktu, mempersiapkan makan keluarga dan lain-lain. Tetapi ada waktu-waktu yang tadinya untuk nonton, jalan-jalan, atau hobi, sekarang kita pakai untuk duduk diam di kaki Tuhan. Buat rutinitas yang baru. 
    Mengingat hari hidup kita mungkin tidak lama, maka kita harus mengisi hari hidup kita dengan benar. Tuhan menjadi segalanya bagi kita. Ketika kita menutup mata, kita harus didapati Tuhan tak bercacat tak bercela. Tidak boleh ada sekecil, sehalus apa pun dosa yang masih kita lakukan. Kebahagiaan kita hanya nanti di Langit Baru Bumi Baru. Di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang sejati. Dengan mobil bagus, rumah nyaman, deposito banyak, semua itu tidak bisa membuat kita bahagia. Ternyata hanya Langit Baru Bumi Baru saja. Mari kita serius memerkarakan hidup kita kepada Tuhan. Kita ada dalam perjalanan waktu. Setiap saat kita bisa diperintahkan pulang dan tidak seorang pun bisa menahan kita.
    Suatu hari, kalau dunia ini sudah berakhir atau kita pulang satu per satu, kita dapat berjumpa kembali di Langit Baru Bumi Baru. Kita yang masih hidup harus benar-benar mempersiapkan diri. Satu per satu kita pasti meninggal. Jangan keras kepala. Jangan main-main. Kita harus serius untuk hidup berurusan dengan Allah Yang Hidup. Dia sungguh hidup, maka kita dapat dicengkeram oleh kehadiran Tuhan. Itu yang memampukan kita untuk menghindarkan diri dari dosa. Begitu banyak kemungkinan dan kesempatan kita berbuat dosa, tetapi kita memilih Tuhan. Jujur dalam segala hal, suci dari pikiran dan perkataan; dan hal inilah yang membuat kita layak masuk Langit Baru dan Bumi Baru. 
    Kata berikutnya adalah bangkit; “Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Kita harus bangkit untuk memetakan hidup kita. Bangun pagi, kerja, ada jam berlutut, berlutut. Petakan hidup kita, karena hidup kita milik kita. Jangan masuk dalam perangkap pasivitas; pasivitas rohani. Rohani kita tidak bertumbuh walaupun kita rajin ke gereja, aktif pelayanan. Iblis sering membuat keadaan seperti itu. Seakan-akan kita maju, padahal tidak maju/bertumbuh. Kita bukan saja pasif, bahkan mati. Jadi, harus benar-benar ada pertumbuhan dalam rohani, pertumbuhan iman dalam perjumpaan dengan Tuhan setiap hari. 
    “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif…” “Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,” dalam bahasa Yunani adalah pos peripateite, yang artinya,
    10 min
  • Perjalanan Waktu
    Satu hal yang harus terus kita renungkan, kita hayati, yang hal itu akan membawa dampak di dalam hidup kita yaitu perjalanan waktu. Mungkin kita sudah lupa karena kesibukan hidup dari hari ke hari dan segala kegiatan yang telah membelenggu hidup kita, dan kita telah terperangkap dalam siklus kegiatan hidup, serta segala tanggung jawab yang ada di dalamnya. Kita lupa, kita kurang menghayati, bahkan mungkin juga tidak menghayati sama sekali, bahwa kita ada di dalam perjalanan waktu. Perjalanan waktu ini gagah, kokoh dan sebenarnya juga bisa mengerikan, kadang-kadang laksana sombong. 
    Setiap detik waktu berdetak seiring detak janjung kita, konstan. Kita berhenti, dia tetap jalan. Kita lari, dia tetap jalan. Kita jalan, dia juga jalan. Tidak ada yang bisa menghentikan perjalanan waktu ini kecuali Tuhan. Sekali lagi, hanya Tuhan. Jadi, betapa hebat perjalanan waktu ini. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan. Sekarang, bagaimana kita memiliki hati yang bijaksana dalam menyikapi, merespons perjalanan waktu yang kita ada di dalamnya? 
    Efesus 5:14 mengatakan, “Itulah sebabnya dikatakan: ‘Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.’”
    Kalau Firman Tuhan ini mengatakan, “Janganlah kamu bodoh,” berarti hal ini mengisyaratkan bahwa kita bisa bodoh. Kalau jujur mengakui, kita telah melewati hari-hari yang kita ada dalam kebodohan. Keputusan, pilihan, atau tindakan kita bukan yang bijaksana, melainkan bodoh. Kalau keadaan hidup dalam kebodohan tersebut berlarut-larut kita lakukan, lalu kita merasa aman, betapa berbahayanya dan mengerikannya. Bersyukur kalau Tuhan mengingatkan, menegur kita. Lalu, kita bisa bertobat dan berbalik kepada Tuhan. 
    Namun, kenyataan yang sering dialami, kita sudah sungguh-sungguh dalam bergereja, berdoa,mencari Tuhan, tetapi keadaan kita rasanya tidak beda dengan orang yang tidak mencari Tuhan. Bahkan, tidak jarang keadaan kita lebih terpuruk dari orang yang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Kita melayani Tuhan, sungguh-sungguh melakukan kegiatan pelayanan, tetapi keadaan kita tidak beda dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh. Tahukah kita bahwa hal ini bisa membuat kita bisa menjadi lemah? Lalu kita berkata di dalam hati—tidak terucap—”Percuma, sia-sia aku melakukan semua ini.”
    Lalu kita menyimpang, membuat selingan-selingan untuk bisa menyenangkan hati, memuaskan daging dan berkata, “Aman-aman saja.” Kalau penyimpangan itu terus menerus dilakukan, maka selera jiwa kita menjadi rusak. Itu seperti candu yang membelenggu hidup dan membawa kita kepada kebinasaan. Sementara waktu berjalan terus, kita menjadi tua, dan semakin tua kita semakin sulit berubah. Kalau orang muda, apalagi kanak-kanak, lebih mudah berubah. Maka, Tuhan Yesus berkata, “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kamu tidak akan masuk Kerajaan Surga.” Itu adalah anak usia 7-14 tahun; paedion. Dengan kata lain, “Kalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak usia 7-14 tahun (paedion), usia efektif dididik/dibentuk, kamu tidak akan masuk Kerajaan Surga.”
    Jadi, di sini dibutuhkan ketekunan. Ketekunan untuk mengikut Tuhan Yesus, tetap berjalan di dalam kekudusan, tetap mengarahkan hati kita di Langit Baru Bumi Baru, dan hidup bertanggung jawab. Yang penting, kita bisa melewati dari hari ke hari. Tidak mimpi punya rumah mewah atau mobil mewah, tidak mimpi bisa jalan-jalan ke tempat jauh. Kalau Tuhan berkati, kita bisa beli barang bagus yang harga mahal, bisa wisata di tempat yang jauh. Kalau tidak pun, tidak apa-apa. Itu yang Tuhan katakan, “Asal ada makanan, pakaian, cukup.” Sederhana, tetapi ini prinsip hidup kekristenan, yaitu: 
    Yang pertama,
    8 min
  • Imanuel
    Kita harus mengalami perjumpaan dengan Allah yang tidak kelihatan, perjumpaan yang benar-benar kita rasakan, kita alami secara konkret dan nyata, sampai kita tidak bisa tidak percaya adanya Tuhan, sebab hidup kita dilingkupi oleh kehadiran-Nya. Dalam doa Bapa kami, Tuhan Yesus mengajarkan kita kalimat, “Datanglah Kerajaan-Mu.” Maka kita harus bertumbuh dewasa terus sampai kita benar-benar menghadirkan Kerajaan Allah di dalam hidup kita. Penghayatan akan Allah yang hidup dari pengalaman konkret, bukan hanya penghayatan di dalam pikiran. Pikiran tidak bisa menghayati secara penuh, tetapi perasaan kita—bahkan fisik kita—karena Allah itu nyata dan hidup.
    Seluruh indra kita pasti juga bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup ini. Tentu saja kita tidak mengandalkan pengalaman indra jasmani untuk merasakan dan mengalami Tuhan, tetapi bisa kita alami; panca indra kita ini bisa berinteraksi dengan Allah. Tetapi bukan itu yang utama, karena Tuhan mengajarkan kepada kita untuk percaya walau tidak melihat. Betapa ingin hati Bapa di surga melingkupi kita dengan kehadiran-Nya. Ia sayang kepada kita, sangat sayang. Oleh sebab itu, hal-hal fana yang melingkupi diri kita harus kita buang; apakah itu tontonan, hiburan, hobi atau kesenangan apa pun harus kita buang. Sebab kalau kita tidak membuang hal-hal tersebut, maka Allah tak dapat melingkupi kita. 
    Terang tidak bisa bercampur dengan gelap. Tuhan juga berkata di Matius 6:24, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Kita harus mengabdi kepada Tuhan, titik! Tidak ada bagian sekecil apa pun untuk yang lain. Dan Tuhan menghendaki demikian; “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Maka, jangan beri ruangan sejengkal pun untuk yang lain. Kalau kita menyembah Elohim Yahweh, Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, kita hanya menyembah Dia. Kita tidak menyembah siapa pun. Artinya kita hanya memberi nilai tinggi Tuhan, kita mengagungkan Dia lebih dari kita menghargai apa pun dan siapa pun. 
    Bahkan pada akhirnya, penghargaan kita kepada seseorang atau sesuatu, itu pun karena Tuhan; “Jadi, baik kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, kita lakukan semua untuk kemuliaan Allah. Bapa ingin kehadiran-Nya kita rasakan, sungguh. Bapa ingin kita berjalan bersama-Nya. Bukan hanya pada waktu kita di gereja atau pada waktu kita berdoa kita tercengkerami oleh kehadiran-Nya, tetapi di setiap waktu di mana pun kita berada. Sebab tubuh kita menjadi bait Roh Kudus. Kalau tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka ada ruang Maha Kudus di dalamnya. Artinya, ada perjumpaan antara kita dengan Allah secara terus-menerus. 
    Kalau dulu kita tidak sungguh-sungguh, ada wilayah-wilayah—ibarat handphone, ada wilayah blankspot, tidak ada sinyal, tidak tersambung—tetapi sekarang kita tidak boleh ada area blankspot. Di mana pun kita berada, kita harus selalu terhubung dengan Tuhan. Sebab Tuhan sendiri yang berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa.” Tidak ada tempat di mana Allah tidak hadir dan tidak ada waktu di mana Allah tidak menyertai kita. Ia selalu menyertai kita. Karenanya Ia disebut sebagai Imanuel. Orang yang bersama dengan Allah senantiasa setiap waktu dan setiap saat adalah orang-orang yang layak masuk Kerajaan Surga. 
    Orang yang setengah-setengah—yang muncul tenggelam muncul tenggelam, orang yang tidak tetap tinggal di dalam Tuhan—tidak mungkin dilayakkan oleh Tuhan tinggal bersama dengan Dia. Apalagi mereka yang tidak hidup di hadirat Allah. Setelah meninggal dunia, baru mereka tahu betapa pentingnya, betapa berharganya berjalan bersama Tuhan, betapa bernilainya hidup di hadirat Allah. Kalau pada saat itu ia kemudian berkata, “Perkenankan aku berjalan bersama-Mu, perkenankan aku hidup di hadirat-Mu, Tuhan,” tidak ada lagi waktu, tidak ada lagi kesempatan untuk itu.
    Jadi, selagi kita hidup di dunia ini, kita serius benar-benar membangun relasi atau hubungan dengan Tuhan.
    8 min
  • Pasti Diberkati
    Orang yang setia, pasti diberkati Tuhan. Maka, jangan melawan Tuhan. Kelihatannya, ketika kita melawan Tuhan, keadaan kita baik-baik saja. Tetapi suatu hari, cepat atau lambat kita harus menuai apa yang kita tabur. Sebaliknya, kalau kita tidak melawan Tuhan, walau kelihatannya Tuhan tidak menghargai sikap dan perbuatan baik kita, tetapi suatu hari, cepat atau lambat, kita akan mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan. Dengan cara apa seseorang melawan Tuhan? Yaitu ketika dia berbuat sesuka hatinya sendiri. Tidak menjaga perasaan orang, tidak peduli apakah orang rugi, sakit hati, kecewa atau luka. Yang penting dia puas. 
    Jangan kita berpikir salah tentang Tuhan. Banyak agama memandang allah, ilah, dewa-dewi mereka seakan-akan membutuhkan sesuatu dari umatnya. Sehingga mereka bersikap demikian kepada dewa-dewi, ilah dan allah mereka. Umat dituntut untuk mengadakan seremonial, ritual, sesajen dan lain sebagainya. Pemikiran orang beragama seperti ini tidak boleh ada di pikiran kita, sehingga kita bersikap demikian kepada Allah kita. Allah kita adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi. Yang menyebut diri sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub atau Elohim YAHWEH. Allah tidak membutuhkan apa-apa dari kita. Dia memiliki segala kekayaan. Tidak perlu sesajen atau sesuatu, sehingga Allah perlu menuntut kita. 
    Dia Allah yang juga menjadi Bapa kita. Allah hanya ingin kita berkeadaan baik-baik; itu saja. Tetapi kita tidak bisa berkeadaan baik-baik, kalau kita tidak hidup menurut tatanan-Nya. Jadi, kalau kita tidak hidup dalam tatanan-Nya, yang sama dengan melawan Tuhan, kita celaka. Itu tatanan di dalam diri Allah. Yang Allah sendiri tidak bisa sangkali, tidak bisa dibujuk, tidak bisa dipengaruhi. Allah kokoh, tidak bisa berubah; dulu, sekarang sampai selama-lamanya. Perhatikan bagaimana umat Perjanjian Lama berhubungan dengan Tuhan. Orang yang tidak melawan Tuhan keadaannya pasti baik-baik. 
    Walaupun, kadang-kadang harus mengalami masa-masa susah terlebih dahulu, namun itu hanya sementara. Abraham tidak punya anak, namun akhirnya punya. Hidupnya tidak pernah kekurangan, tidak dipermalukan. Sampai masyarakat Kanaan memanggil Abraham dengan sebutan ‘tuan,’ seperti bangsawan. Walaupun ia bukan raja, bukan seorang yang memiliki kekuasaan, dia hanya seorang pengembara. Tetapi orang hormat padanya dan Abraham terlindungi. Ketika istrinya mau diambil Firaun, Tuhan hajar Firaun dan negerinya. 
    Perhatikan, Yusuf dari muda adalah seorang yang taat. Untuk sementara waktu dia menderita masuk sumur, jadi budak, difitnah, masuk penjara. Tetapi kemudian, dia menjadi kaisar kedua. Namun bukan berarti kita juga pasti menjadi kaya secara materi, dan terhormat di mata manusia. Tidak selalu begitu. Tetapi orang yang benar-benar mengerti tatanan Tuhan, hidupnya dilindungi, dan diberkati. Bahkan anak cucunya tidak dipermalukan. Dan nanti ia masuk surga. Itulah sebabnya kunci berkat, kunci perlindungan hanya satu, yaitu kesucian. 
    Hidup dalam kesucian, tidak akan menahan berkat Tuhan, Allah melimpahi apa yang baik untuk kita. Tanpa kita minta, tanpa menuntut, karena Tuhan ingin keadaan kita baik-baik saja. Tuhan tidak menuntut apa-apa dari kita. Allah yang menciptakan langit dan bumi. Ini yang membuat seseorang menjadi kuat dalam menghadapi setiap situasi. Kalau ada salah, akui, bereskan dan tinggalkan. Kita harus berpikir, seakan-akan kita ada di hadapan pengadilan Tuhan. Tidak boleh ada dosa sekecil apa pun, sehalus apa pun atau percintaan dunia. 
    Jadi, berkat-kutuk kita, keadaan baik-buruk kita, tergantung sikap kita terhadap Tuhan. Ini urusannya ke atas. Kalau urusan ke atas beres, keadaan kita baik-baik. Kalau urusan kita dengan Tuhan tidak beres, jangan harap keadaan kita baik-baik. Karena berarti kita melawan Tuhan. Maka, jangan menunda pertobatan, jangan menunda untuk hidup suci. Kalau penundaan-penundaan itu berlangsung terus-menerus, akhirnya kita membatalkan. Batal hidup suci, tidak pernah hidup suci.
    10 min
  • Tidak Spekulatif
    Banyak di antara kita yang memiliki konsep hidup yang salah, tepatnya sesat. Hidup ini seakan-akan penuh dengan spekulasi atau untung-untungan, seakan-akan ada takdir-takdir misteri, takdir-takdir rahasia yang kita tidak tahu, yang suatu hari akan menjebak kita. Kalau itu takdir positif—keberuntungan, hoki—kita senang. Tetapi kalau itu kerugian, penderitaan, kecelakaan, kesialan, sakit, kecelakaan, itu yang menjadi masalah. Itulah sebabnya banyak orang yang menjalani hidup dengan keragu-raguan. Maka, tidak jarang supaya ia memiliki kepastian, ia mau punya ‘pegangan.’ Dan ada orang tua yang mempersiapkan anaknya dengan ‘pegangan;’ apakah berupa jimat di sakunya, atau batu dibungkus sapu tangan, atau dimandikan dengan bunga 7 rupa, atau disuruh minum minuman yang sudah diberi mantra. 
    Semua itu tidak akan mendatangkan berkat, tetapi laknat. Karena hal itu bertentangan dengan kehendak Allah. Itu yang namanya perzinaan rohani. Orang yang mencoba menggantungkan nasibnya kepada kekuatan di luar Tuhan, berarti ia menjual diri. Ia akan langsung dibeli, dimiliki oleh kuasa kegelapan. Jadi, celakalah orang yang mengandalkan manusia. Yeremia 17:5, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan.” Terkutuk artinya terhukum. Lalu bagaimana kita harus menyikapi hidup ini yang penuh dengan spekulasi, seakan-akan ada takdir di depan hidup kita yang penuh misteri, yang bisa menjebak setiap saat?
    Kalau hidup manusia bersifat spekulatif, berarti Allah yang tidak cerdas. Menciptakan kehidupan dengan unsur-unsur spekulatif, sehingga manusia untung-untungan. Tuhan bukanlah Tuhan yang menciptakan kehidupan dengan spekulatif atau untung-untungan. Tuhan menciptakan kehidupan dengan kepastian. Makanya Tuhan memberikan tatanan, di antara tatanan Tuhan itu adalah: yang kamu tabur, kamu tuai. Itu tatanan. Orang tidak mungkin mengalami sesuatu, tanpa ada kaitannya dengan kehidupan yang pernah dia jalani atau kehidupan yang akan dia jalani. Hebat sekali Tuhan. Jadi, kita harus memahami hidup ini dengan benar, karena ada tatanan. 
    Tuhan menciptakan kehidupan dengan kepastian, tidak dengan spekulatif itu. Ulangan 28:1-2 mengatakan, “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.” Ayat 15, “Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara Tuhan, Allahmu itu, tidak mendengarkan Dia, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau.” 
    Tidak ada kata “berkat, rahmat, bahagia, sejahtera” dalam kamus hidup orang yang tidak taat kepada Tuhan; yang hatinya bengkok, yang tidak lurus, yang tidak jujur, yang tidak mengasihi sesama, yang sewenang-wenang terhadap orang lain. Yang ada adalah celaka, celaka, celaka, dan ujungnya neraka. Walaupun sementara di dunia sepertinya beruntung; uang banyak, terhormat. Tetapi itu justru lebih memperdalam kejatuhannya nanti (Mzm. 73). Jangan pikir itu berkat, itu adalah laknat yang dibungkus dengan kemanisan hidup. Tetapi kalau kita hidup menaati Tuhan, tidak melakukan sesuatu yang menyakiti hati Tuhan, maka Tuhan pasti memberkati. Jadi kalau orang benar-benar mau hidup menaati firman, betul-betul menjauhi kejahatan—setiap salah, menyadarinya, minta ampun, dan serius mau mengubah diri—pasti diberkati. Ini adalah rahasia kehidupan. 
    Tuhan juga tidak menuntut kita seketika bisa sempurna. Jadi, kalau kita memilih taat, hidup suci, tidak melukai orang, tidak menyakiti sesama, suka menolong orang, walau kita kelihatannya susah hari ini, sebenarnya itu adalah berkat yang dibungkus dengan kabut kesusahan. Tetapi dalamnya, berkat.
    9 min
  • Kegagalan
    Manusia hidup membutuhkan makan dan minum, itu mutlak. Tuhan pun kebutuhan mutlak. Jadi, kalau sampai orang tidak merasa lapar dan haus akan Tuhan, maka ia bukan manusia normal dan bukan manusia sehat. Tetapi, karena standar manusia pada umumnya tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, Tuhan tidak dipandang sebagai “segalanya,” sehingga standar yang benar telah mengalami kemerosotan. Maka, jarang orang yang sungguh-sungguh memiliki lapar dan haus yang benar akan Tuhan. Dan kalau ada orang yang memiliki lapar dan haus akan Tuhan secara proporsional, maka dipandang aneh, fanatik, ekstrem. Dan banyak orang, tidak mau dipandang ekstrem; “Wajar-wajar sajalah.” Apalagi kalau orang itu hidup dalam serba kecukupan, maka Tuhan bisa tidak dibutuhkan. 
    Memang kadang-kadang Tuhan bisa mengizinkan kita berada dalam situasi sulit di mana seakan-akan tidak ada jalan keluar, semua pintu tertutup, kita tidak berdaya untuk menghadapi masalah itu, atau menyelesaikannya. Tuhan mengizinkan supaya kita berpaling ke Tuhan. Entah sakit parah, sekarat di ujung maut, jatuh miskin dan lain sebagainya, baru mencari Tuhan. Tetapi sebenarnya, bukan Tuhan yang menjadi tujuannya. Tuhan hanya dijadikan alat, sedangkan tujuannya adalah penyelesaian dari masalah-masalah yang dihadapi. Dalam kasih dan kesabaran-Nya, hal itu tetap bisa menjadi sarana Tuhan untuk menarik manusia datang kepada-Nya. 
    Kalau kita mengajak orang ke gereja, pakai iming-iming, maka ketika apa yang dia harapkan terpenuhi—misalnya jodoh—maka berhenti dia mencari Tuhan. Memang, ia bisa saja ke gereja lalu dapat jodoh, namun ternyata bukan karena Tuhan. Kuasa kegelapan juga bisa ada di dalam gereja. Jangan kita pikir di dalam gereja itu tidak ada kuasa gelapnya, bisa ada. Atau masalah ekonomi, bangkrut. Lalu setelah didoakan, dipulihkan ekonominya. Dia bersaksi, “Allah itu ajaib, luar biasa. Dia memulihkan ekonomi saya. Sekarang saya ke gereja, hidup baru dalam Tuhan.” Apa standar hidup barunya? Dan sering kali gereja yang tidak mengerti kebenaran, menstempel itu sebagai kebenaran. Ironis. 
    Maka, kalau kita percaya ada Entitas yang menciptakan langit dan bumi, memiliki segala kuasa, kemuliaan, dan kerajaan, yang kepada-Nya kita akan memperharapkan diri untuk dihakimi dan menentukan kita diperkenankan masuk dunia akan datang atau tidak, kita pasti menjadikan Dia segalanya. Sehingga kita bisa berkata, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selamanya. Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” 
    Ingat! Yang kita butuhkan hanya satu: Tuhan. Mungkin hari ini kita tidak punya persoalan, namun ketahuilah, dunia ini tidak jelas apa yang akan terjadi di depan. Kita tidak tahu. Tuhan itu harus menjadi segalanya dalam hidup kita. Bukan sekadar supaya nanti kita bisa menghadapi situasi chaos karena ekonomi atau karena bencana atau karena perang. Bukan sekadar itu. Karena memang hanya Dia yang kita butuhkan, Tuhan. Hanya Dia segalanya dalam hidup ini. 
    Maka, camkan ini. Untuk memiliki lapar dan haus akan kebenaran, itu tidak mudah. Pengaruh dunia telah begitu jahat merusak selera jiwa kita, selera hidup kita. Sebenarnya Tuhan menciptakan manusia dengan rongga kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun dan apa pun, kecuali Tuhan. Hal ini sudah pasti, sudah mutlak. Manusia telah dikunci dengan keadaan ini. Tidak mungkin tidak. Jika manusia bisa hidup tanpa Tuhan, maka manusia tidak akan pernah bisa menghormati Tuhan secara patut. 
    Tidak mudah untuk memiliki kehausan dan kelaparan yang benar seperti ini, karena manusia sudah jatuh dalam dosa. Kita mewarisi gen manusia yang sudah rusak. Belum lagi pengaruh dunia sekitar kita. Setiap kita punya personality atau kepribadian yang berbeda. Tetapi bagaimana Roh Kudus menggarap setiap individu dengan kepribadian yang berbeda-beda menjadi sosok pribadi yang agung, dan itu hanya Roh Kudus yang bisa mengerjakan.
    8 min
  • Lebih Mudah
    Kalau kita benar-benar percaya ada Entitas yang Maha Kuasa, Maha Besar, yang menciptakan langit dan bumi yang Alkitab mencatat jejak dan langkah-Nya, yaitu Elohim Yahweh, Allah semesta alam, maka, kita juga mengakui bahwa orang paling kaya, paling beruntung, paling aman adalah orang yang memiliki dan mengalami Tuhan. Mari kita periksa, berapa banyak orang yang sungguh-sungguh mempertaruhkan apa pun yang ada padanya untuk memiliki dan mengalami Tuhan? Umumnya, orang menjadikan Tuhan itu sekadar tambahan. Memang tidak dibuang dan orang tidak berkata bahwa mereka tidak memerlukan Tuhan. Memerlukan juga, tetapi tidak menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup. 
    Fakta yang kita lihat, tidak banyak orang yang menghayati pentingnya Allah dalam hidup ini; penting secara proporsional. Orang bisa mengatakan bahwa Tuhan itu diperlukan atau Tuhan itu penting, tetapi kepentingannya tidak proporsional. Memang untuk menjadikan Tuhan segalanya itu tidak mudah. Selain karena pengaruh dunia sekitar yang telah mencemari kita, kita juga terpapar oleh pola hidup dan gaya hidup manusia di sekitar kita. 
    Sebagai manusia berdosa, jiwa kita sudah tidak memiliki kehausan yang benar terhadap Allah. Oleh karenanya, kita jangan terpapar terus oleh pengaruh dunia, walaupun kita sudah terinfeksi. Kita harus sungguh-sungguh berjuang untuk bisa memiliki kehausan akan Allah, sehingga kita bisa berkata seperti di Mazmur 73:25-26, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Mari kita berpikir realistis, yang di mata dunia, tidak realistis. Sebab bicara mengenai Allah, selalu diasumsikan sebagai supranatural, great mystic. Bicara mengenai Allah selalu dipandang sebagai sesuatu yang adikodrati; di luar kodrat. 
    Memang benar, ada hal-hal yang supranatural di dalam diri Allah, yang tidak bisa dipahami dengan pikiran umum. Kita percaya dan menerima adanya fakta di luar kodrat atau adikodrati di dalam diri Allah. Tetapi Allah menyatakan Diri dalam kehidupan manusia, pasti Allah masuk ke dalam wilayah-wilayah kodrati, yang natural, yang bisa kita tangkap dengan indra kita. Walaupun, kita percaya kepada Allah bukan karena kita mengalami terlebih dulu. Bukan karena kita tahu, maka kita percaya; melainkan kita percaya, walau kita tidak tahu sebelumnya. Walaupun panca indra kita tidak bersentuhan pada mulanya, tetapi kita percaya Dia adalah Entitas yang hidup, realitas yang hidup. Kita bisa mengalami Dia dengan seluruh panca indra. 
    Di dalam Injil Matius 5:6 dikatakan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” “Kebenaran” di sini menunjuk Tuhan atau hal-hal rohani, yang bersangkut paut dengan kesucian. Sebagaimana Tuhan berkata, “I am the way, the truth, and the life; Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Lapar dan haus menunjukkan kebutuhan yang harus terpenuhi. Ini kebutuhan primer; pangan. Manusia bisa hidup tanpa hiburan, tanpa fasilitas lain apa pun, tetapi manusia tidak bisa tidak makan dan tidak minum. Kita harus sampai pada tingkat kebutuhan yang mendesak akan Allah. 
    Yang lain bisa dianggap tidak penting, bisa dikatakan sekunder, tetapi Tuhan itu selalu primer. Tuhan itu selalu menjadi kebutuhan yang penting, yang utama, dan mendesak. Ada kebutuhan yang penting, tetapi tidak mendesak. Ada kebutuhan yang mendesak, tetapi sebenarnya tidak penting. Tetapi, Tuhan selalu menjadi kebutuhan yang penting dan mendesak. Faktanya, tidak banyak orang sampai pada tingkat ini, walaupun orang Kristen, aktivis bahkan pendeta. Sampai ada istilah, “Mencari Tuhan itu seperti mencari jarum yang jatuh di jerami.” Tidak mudah. Ketika kita menganggap mencari Tuhan lebih mudah daripada mencari yang lain, berarti ada yang salah dalam hidup kita. Berarti kita belum mengenal Tuhan. 
    Tuhan bukan jual mahal. Tuhan memang murah hati,
    9 min
  • Menghambat
    Camkan hal ini! Ketika seseorang memiliki banyak kesenangan dalam hidup, dia tidak memiliki perasaan krisis terhadap fakta kekekalan. Ia tidak memiliki perasaan krisis terhadap fakta “terpisahnya manusia dari hadirat Allah.” Orang-orang seperti ini pasti tidak menghargai atau kurang menghargai nilai-nilai rohani. Dan sudah pasti tidak memiliki keterbebanan yang dalam terhadap keselamatan jiwanya, juga keselamatan jiwa orang lain. Karena tidak memiliki perasaan krisis, tidak memiliki kegentaran terhadap realitas kekekalan, maka ia tidak serius memeriksa diri apakah ia berkeadaan berkenan di hadapan Tuhan atau tidak. 
    Sebaliknya, kalau seseorang berkomitmen untuk meninggalkan kesenangan-kesenangan dunia dan menjadikan Tuhan sebagai kesukaan atau kebahagiaannya, ia akan memiliki perasaan krisis yang kuat, kegentaran yang kuat terhadap realitas kekekalan; realitas terpisahnya seseorang dari hadirat Allah. Ia bisa merasakan kengerian itu, sehingga hal itu membangkitkan kegentaran akan Allah. Orang-orang seperti ini akan memeriksa diri dengan sangat serius, bagaimana keadaan dirinya di hadapan Allah. Apa penilaian Allah terhadap dirinya. Ia akan menghargai nilai-nilai rohani, ia akan sangat memedulikan keselamatan jiwanya, dan tentu keselamatan jiwa orang lain. 
    Anugerah tidak menghilangkan pilihan. Seberapa seseorang mau bertumbuh di dalam Tuhan, tergantung masing-masing, tidak tergantung Tuhan. Tuhan memberikan sarana untuk mengalami pertumbuhan. Adapun seberapa kecepatan pertumbuhan rohani seseorang, tergantung masing-masing individu. Kesenangan-kesenangan dunia akan menghambat pertumbuhan rohani kita. Dan yang menghambat percepatan pertumbuhan rohani adalah ketika kita bergaul dengan orang yang salah. Sebab ia pasti tertular, terpapar spirit duniawi; tidak mendengarkan firman Tuhan dengan baik, tidak punya waktu duduk diam di kaki Tuhan, dan lainnya. Dulu kita menganggap sebagai manusia kita berhak punya kesenangan. Kita lupa bahwa kita adalah manusia istimewa. Mata, pikiran banyak orang tertutup. Tertutup terhadap betapa mulianya orang yang terpilih. 
    Efesus 1:4-5 mengatakan, “Kita dipilih sebelum dunia dijadikan.” Kita orang yang ditunjuk untuk diberi kesempatan mengalami proses pertumbuhan, agar kita sempurna seperti Bapa, hidup sebagai anak-anak Allah. Ini pilihan yang luar biasa. Tidak semua orang menjadi umat yang terpilih. Tidak banyak orang yang terpilih. Kita adalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk memasuki perlombaan yang diwajibkan, yaitu iman yang sempurna seperti Yesus, ketaatan yang sempurna seperti Yesus, agar kita bisa dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya. Ini sangat luar biasa. 
    Anugerah itu membawa kita kepada pintu atau gerbang untuk memasuki perlombaan. Anugerah memberi kita kesempatan cuma-cuma untuk bertumbuh menjadi manusia unggul seperti rancangan Allah semula, dan tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini. Tuhan Yesus mati untuk semua orang, termasuk untuk kita, orang Kristen. Tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan memperoleh anugerah untuk masuk dalam perlombaan ini. Kita adalah orang-orang istimewa. 
    Suatu hari nanti ketika kita menutup mata, kita juga akan melihat betapa tidak berartinya kesenangan-kesenangan sesaat yang membuat kita kehilangan kesempatan-kesempatan besar untuk bertumbuh. Dengan hanyut dalam kesenangan dunia, kita menahan, mengurangi kecepatan bertumbuh, bahkan bisa menggagalkannya. Untuk itu, mari kita bertekad untuk memiliki satu dunia, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Jangan lupa, hidup kita juga sementara. Kerja keras, boleh. Sibuk bekerja, mesti. Tetapi, jangan terikat dengan kesenangan-kesenangan dunia. Makin kita kurangi kesenangan, makin cepat kita bertumbuh. Kalau kita bisa melepaskan semua kesenangan, kita melesat ke langit baru bumi baru. 
    Masih berapa banyak kesenangan yang kita miliki? Semakin kita menanggalkan semua kesenangan yang tidak membuat kita bertumbuh dalam Tuhan,
    8 min
  • Dipakai Tuhan
    Seseorang tidak akan mungkin menikmati damai sejahtera Allah kalau karakternya tidak seperti yang Allah kehendaki. Dengan kata lain, orang yang karakternya rusak tidak mungkin bisa menikmati damai sejahtera Allah. Jadi, memang perlu proses pembenahan. Semakin seseorang karakternya itu baik—karakter yang baik dalam standar Allah—metabolisme kehidupan rohaninya akan semakin baik, semakin sehat. Orang seperti ini baru bisa berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” 
    Jadi, tidak heran kalau Rasul Paulus menulis dalam kitab Galatia, “Asal ada makanan, pakaian, cukup.” Kebutuhan fisik itu relatif. Kita bisa makan dengan tempe dan sambal terasi, atau makan steak wagyu, atau nasi dengan garam saja. Dan kita tetap bisa hidup. Tubuh kita memiliki fleksibilitas yang luar biasa. Bahkan kalau kita memiliki tubuh yang sakit karena pola hidup yang salah, maka ketika kita mulai mengubah dengan pola hidup yang baru, tubuh bisa menyembuhkan diri sendiri. Itu luar biasa. Jadi, kalau metabolisme hidup rohani kita baik, maka kita makin mengerti bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini hanya Tuhan. 
    Bagaimana kita bisa memiliki metabolisme kehidupan rohani yang benar? Tuhan menyediakan sarananya, tetapi kita yang harus memilih. Analoginya, kalau orang sakit, ia dirawat dokter, dia diawasi suster, disediakan obat, dan tindakan-tindakan medis. Tetapi kalau si pasien tidak mau menuruti nasihat dokter, maka ia tidak akan sembuh. Harus kooperatif, ada kerjasama. Kooperatif, harus. Pernah Saudara dengar ada seorang yang sakit tidak sembuh-sembuh? 
    Kita ini pasien, dan Tuhan Yesus berkata, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang sakit.” Kita adalah orang sakit, kita butuh tabib. Yesus adalah Tabib kita. Bukan hanya menyembuhkan fisik kita, tetapi juga menyembuhkan jiwa kita. Tetapi kita harus kooperatif. Gereja, pelayanan harus merupakan penyelenggaraan penyembuhan atas pasien-pasien yang mengalami sakit jiwa atau rohani. Gereja adalah rumah sakit, bukan showroom. 
    Yang datang ke gereja adalah orang-orang sakit yang harus dipulihkan atau diperbaiki. Tuhanlah Dokternya. Para aktivis dan pendeta adalah para suster. Jadi bagaimana jiwa seseorang sembuh, yang akhirnya menjadi keindahan di mata Allah, bukan hanya tergantung dokter dan suster, tetapi individu kita masing-masing. Maka, yang pertama, kita harus sadar bahwa kita sakit. Jangan seperti orang-orang Yahudi, khususnya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang merasa dirinya sehat. Lalu tidak menghargai Tuhan. 
    Maka kepada mereka, Tuhan berkata, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib atau dokter, tetapi orang sakit.” Jadi kita harus menyadari kita ini sakit. Metabolisme kehidupan rohani kita belum baik atau tidak baik. Banyak orang sadar bahwa dirinya masih duniawi, masih punya keinginan-keinginan daging, namun merasa dengan kesadaran itu cukup. Lalu seakan-akan Tuhan tidak terganggu dengan keadaan tersebut, karena kita sadar sebagai orang berdosa. Pengakuan itu seakan-akan sudah menjadi pembenaran, lalu kita hidup wajar seperti manusia lain, lalu seakan-akan Tuhan mengizinkan; permissible. 
    Khusus untuk para hamba Tuhan, tentu sebagai suster, kita harus memiliki koneksi yang tiada henti dengan Sang Dokter. Apa yang harus kita khotbahkan, lalu bagaimana mengurai hal-hal tersebut. Kita harus menangkap frekuensi Tuhan. Jadi, kita ini selalu ada dalam koneksi dengan Tuhan, setiap saat. Maka, kita tidak boleh melakukan hal-hal yang membuat koneksi kita putus. Kita harus menemukan frekuensi, sehingga kita selalu mendengar suara Tuhan. Jangan menunggu mau khotbah baru berdoa, “Tuhan, bicaralah kepada umat-Mu.” 
    Setiap saat harus ada koneksi tersebut. Maka, jangan sampai koneksi itu rusak. Kapan? Yaitu ketika punya kesenangan yang Allah tidak senang.
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…