Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Memberi Diri Digarap
    Bangsa Israel tidak jarang yang bersungut-sungut dan marah kepada Musa. Mereka membandingkan keadaan mereka ketika masih di Mesir—yang mereka masih bisa mendapat makanan yang layak—dengan perjalanan mereka menuju Kanaan. Walaupun mereka sudah ditolong dengan cara yang ajaib. Mereka dijanjikan suatu tanah yang penuh dengan susu dan madu, tetapi masih saja mereka bersungut-sungut.  Padahal, tidak ada sedikit pun niat jahat dalam diri Allah. Tuhan dianggap main-main. Bukankah sering kali kita juga seperti mereka? 
    Jangan sampai Tuhan memukul kita; sakit. Bersyukur kalau Tuhan masih mau memukul. Kalau Tuhan sudah membiarkan, itu jauh lebih bahaya. Karena setiap kita punya kuota; bisa berupa hari, bisa berupa kesempatan. Kalau kuota kita habis, maka Tuhan tidak tegur lagi. Maka, seharusnya kita takut dan gentar. Jangan main-main. Mencemooh Tuhan bukan hanya dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan. Pada hari-hari di zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsu. Mereka tidak mau tahu bahwa langit dan bumi diciptakan Tuhan, bahwa dulu pernah ada air bah, dan nanti ada api.
    Tidak seorang pun yang tahu kapan hari kematiannya. Jangan anggap remeh peringatan-peringatan Tuhan. Tuhan itu serius. Ironis, orang menganggap sepi seakan-akan Tuhan main-main dengan hidup ini. Ayo, kita berubah. Hidup ini akan berlalu. Hidup ini singkat. Apa ruginya kalau kita berhenti berbuat dosa? Tuhan ada tatanan dan kita serius. Di sisa umur hidup kita, selagi kuota kesempatan, kuota hari yang Tuhan berikan masih ada, mari kita berubah. Nanti kita bisa mengerti bahwa kesucian itu sebuah keniscayaan.
    Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Tuhan tidak akan memberikan hukum, perintah yang tidak bisa kita lakukan kalau kita mau berlatih; asalkan kita mau belajar, bisa. Harus melangkah. Jangan seperti orang mau belajar berenang, tetapi tidak mau masuk air. Kita mau hidup suci, tetapi tidak berubah, maka tidak pernah bisa hidup suci. Atau jawaban yang paling aman, “proses.” Sampai di ruang ICU, dalam keadaan sekarat pun masih “proses.” Suatu hari, kita ada di langit baru bumi baru dan di sana kita akan tahu bahwa keputusan kita untuk sungguh-sungguh hidup suci, tidak sia-sia. 
    Maka jangan setengah-setengah. Sebenarnya kita mau serius tidak masuk Rumah Bapa? Kalau ya, seberapa kita serius? Tuhan berkata, “Aku mati di kayu salib untuk menyelamatkan kamu dari api kekal. Aku serius menyelamatkan kamu. Kamu serius, tidak mau pulang ke Rumah Bapa?” Bangsa Israel tidak serius, mereka kurang percaya bahwa Yahweh setia, dan akan membawa mereka ke negeri yang berlimpah susu dan madu. Jadi, mereka bersungut-sungut, mereka mengingini hal-hal yang jahat, dan mereka ditewaskan di padang gurun. Mereka tidak layak masuk tanah Kanaan.
    Mari, kita hidup suci dan bertobat. Selagi masih ada kesempatan, masih ada waktu. Tuhan membuat kita mampu. Kita akan bertemu nanti di langit baru bumi baru, dan itu satu kepastian, bukan dongeng, bukan mitos. Kita akan mati, dunia akan berakhir. Kesulitan hidup kita belum apa-apa dibanding dengan kekekalan. Bertahanlah dan kuat, kita akan melihat Tuhan memberi jalan keluar di setiap kesulitan. Kalau surga disediakan, apalah artinya dengan makan dan minum kita hari ini? Ia tidak akan pernah mempermalukan kita. Allah presisi, tepat dalam menggarap, memelihara kita. 
    Jangan ingini niat jahat dan jangan berbuat dosa. Hari ini kita mau berkomitmen hidup suci. Ingat, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang-orang yang menganggapnya sebagai kelalaian. Tetapi Tuhan sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Tuhan menghendaki pertobatan, dan pertobatan itu harus kita lakukan setiap saat. Setiap hari Tuhan akan mengupas kulit-kulit dosa di dalam diri kita. Kulit-kulit dosa yang masih membelenggu, dilepaskan; kedagingan kita diluruhkan. 
    10 min
  • Jangan Anggap Remeh
    Tuhan memperingatkan kita untuk satu hal yang benar-benar harus kita perhatikan, yaitu mengenai kegagalan dari bangsa Israel yang telah dientaskan Tuhan dari tanah perbudakan. Semestinya, mereka sampai ke Tanah Kanaan; negeri yang dijanjikan oleh Allah. Tanah yang berlimpah susu dan madu. Susu, bicara mengenai kemakmuran peternakan. Madu, bicara mengenai kemakmuran pertanian. Jadi, bicara mengenai susu dan madu, itu bicara mengenai kelimpahan hidup. Sangat jauh berbeda dengan keadaan mereka pada waktu di Mesir sebagai budak, tidak ada kemerdekaan; tertindas. Waktu, hidup, tenaga mereka dikuasai, dimiliki oleh bangsa Mesir. 
    Allah melepaskan mereka dengan 10 tulah. Hal yang tidak pernah terjadi dalam sejarah kehidupan. Tidak heran kalau bangsa-bangsa Kanaan menjadi takut jika mereka mendengar bahwa Allah yang orang-orang Kanaan kenal sebagai dewa orang Israel itu kuat. Di depan mata mereka, Allah menunjukkan keperkasaan-Nya, pembelaan-Nya, kesetiaan-Nya. Selanjutnya, Tuhan juga membuat laut Teberau terbelah. Mereka menyaksikan bagaimana Tuhan mengadakan keajaiban. Lengan perkasa-Nya yang bisa membelah laut atau mengeringkan laut. 
    Mereka juga menyaksikan bagaimana Allah hadir di Sinai dengan guruh, halilintar yang mengerikan, sehingga mereka semua gemetar. “Tetapi sungguh pun demikian,” kata firman Tuhan, “Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka.” Artinya, sebagian besar mereka ternyata dinilai Tuhan tidak berkenan. Karenanya, mereka ditewaskan di padang gurun sebagai konsekuensinya. Betapa sayangnya Tuhan kepada mereka. Tuhan hadir dalam keperkasaan yang begitu hebat, menyayangi bangsa itu. Tidak diragukan, kasih kesetiaan Tuhan kepada umat Israel. Seperti firman Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak menghendaki seorang pun binasa (2 Ptr. 3). Tentu Allah tidak menghendaki seorang pun dari bangsa Israel yang tidak menjangkau Kanaan. 
    Namun, Tuhan menewaskan mereka di padang gurun. Tetapi sungguh pun demikian—maksudnya, walau mereka telah menyaksikan perbuatan tangan Tuhan yang perkasa membela mereka, mereka mengalami dan merasakan kasih Tuhan—mereka tidak berkenan karena mereka tidak dengar-dengaran. Tidak tahu diri, tidak tahu budi, tidak tahu berterima kasih, dan memberontak. Semua ini telah terjadi, bukan dongeng, bukan cerita fiksi. Semua ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita, untuk memperingatkan kita supaya kita jangan menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang mereka telah perbuat. Jangan anggap remeh bahwa kejahatan kita itu tidak membahayakan. Setan menipu kita. 
    Jangan berpikir kejahatan kita tidak akan membuahkan sesuatu yang mencelakai kita. Di ayat 11 kembali ditulis, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh yang dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita, yang hidup pada waktu di mana zaman akhir ini telah tiba.” Luar biasa pesan ini. Sejujurnya, sebagian kita masih melakukan kejahatan di mata Tuhan. Tuhan memang belum mendatangkan celaka, karena Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk bertobat. Maka, jangan terus-menerus begitu. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, tetapi Tuhan juga tidak akan mengubah tatanan-Nya. Kalau kita taat, maka berkat, rahmat. Kita tidak taat, maka laknat. 
    Kalau sekarang kita merasa seakan-akan keadaan aman-aman saja, firman Tuhan mengatakan memang ada orang yang menganggap sebagai kelalaian. Mereka juga menganggap Tuhan seperti main-main dengan menciptakan kehidupan ini. Seperti di Mazmur 73, dikatakan bahwa orang jahat, orang fasik malah gemuk, sehat, senang selamanya, artinya tidak pernah mengalami kesulitan. “Selamanya” dalam arti waktu di bumi atau sementara waktu, tetapi pemazmur yang memperhatikan firman dan sungguh-sungguh, seperti kena tulah. Seperti kena hukuman, mendapat pukulan. Tuhan tidak main-main. Semua di dalam kontrol Tuhan, semua dalam tatanan Allah. Semua ada perhitungannya. 
    Jangan kita anggap Tuhan itu main-main. Mengerikan! Sudah saatnya firman Tuhan disampaikan kepada orang-orang ...
    9 min
  • Tragis
    Mari kita terus mengingat bahwa hidup ini tragis. Tidak mungkin tidak tragis. Sebab, kehidupan ini merupakan produk yang sudah dirusak; produk yang digagalkan oleh manusia sendiri. Kehidupan seperti yang kita miliki hari ini sebenarnya bukan kehidupan yang dirancang Tuhan. Ini adalah kehidupan yang sudah merosot nilainya, tidak sesuai dengan maksud dan tujuan Allah menciptakan kehidupan. Apa ada tenangnya hidup ini? Yang ditunggu manusia itu satu, masalah; dua, menjadi tua dan sakit; tiga, mati. Terkesan fatalistik, tapi memang hidup ini fatalistik. 
    Tuhan sudah memperingati, “Sebab pada hari manusia makan buah itu, manusia mati,” artinya manusia terpisah dari hadirat Allah, bumi terkutuk. Oleh kurban Yesus Kristus, manusia dapat diperdamaikan kembali dengan Allah, tetapi bukan berarti kutukan atas bumi ini diangkat. Bumi tetap menjadi planet yang terkutuk, terhukum. Menimbulkan onak dan duri, yang akhirnya nanti pasti akan menjadi lautan api. Lalu manusia, walaupun dia orang Kristen, tidak lolos dari masalah. Manusia sekitarnya bermasalah, dunia bermasalah, dunia krisis, maka orang Kristen juga kena krisis. Tidak bisa tidak. Tetapi ini luar biasa, krisis yang kita alami bisa menjadi sarana Allah mendewasakan kita. 
    Orang lain mengalami krisis, kita juga bisa mengalaminya. Namun, yang membedakannya adalah lewat krisis tersebut, kita didewasakan. Jadi, naif kalau ada orang Kristen berkata, “Puji Tuhan saya menjadi Kristen. Sejak jadi Kristen, saya tidak punya masalah. Kalau ada masalah, cepat selesai, Tuhan buka jalan. Doa-doa saya selalu dijawab.” Mungkin benar, untuk sementara waktu, ketika seseorang jadi Kristen baru, tetapi setelah dewasa, pasti Tuhan proses. Jadi, jangan mimpi karena menjadi orang Kristen, kita bebas dari masalah. Tidak mungkin. Di dalam 1 Korintus 10:13 dikatakan bahwa pencobaan-pecobaan yang kita alami adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Kalau dikatakan “kekuatan manusia,” artinya bukan hanya orang Kristen, melainkan semua manusia. 
    Jangan kita merasa sebagai orang Kristen, kita bisa bebas dari masalah. Itu penipuan. Kalau sampai ada hamba Tuhan yang berkhotbah bahwa menjadi orang Kristen artinya jadi pemenang, selalu bisa tidak punya masalah atau terhindar dari masalah atau kalau punya masalah, cepat dapat menyelesaikannya, itu bohong. Pasti salah. Tuhan berkata, “Allah bekerja dalam segala sesuatu,” dengan kata lain “Allah bekerja dalam segala masalah.” Di dalam masalah, Allah bekerja. Berarti ada masalah dan berarti Allah memakai masalah untuk mendewasakan kita agar kita serupa dengan Yesus. Ayat yang lain mengatakan juga, “Ucapkan syukur dalam segala hal.”  Berarti kita pasti punya masalah, persoalan, tetapi kita harus tetap mengucap syukur. 
    Selanjutnya dalam 1 Petrus 1:6 dikatakan, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” Jadi, pasti ada masalah. Jangan berpikir kita tidak akan punya masalah atau kita adalah orang paling malang karena kita punya masalah, sementara orang lain tidak punya masalah. Sejujurnya, kita tidak tahu hidup orang itu, bukan? Mungkin saat ini dia juga punya masalah, hanya tidak dia ungkapkan atau orang tidak tahu. Mungkin saat ini dia tidak punya masalah, tetapi dia baru saja melewati masalah atau akan sedang menghadapi masalah. Hidup ini tragis. 
    Mungkin tanpa sadar orang percaya berurusan dengan Tuhan karena berharap hidupnya akan running well, lebih smooth, tanpa masalah. Ini salah. Masalah itu harus kita anggap sebagai nutrisi. Kalau seorang anak diberi nutrisi yang baik, ia akan bertumbuh sehat dan kuat. Kita kalau diberi masalah—yang adalah nutrisi iman—maka rohani kita akan bertumbuh dewasa atau menjadi berkenan kepada Tuhan. Ayo, coba kita teduh dulu. Masalah apa yang kita hadapi saat ini yang membuat kita merasa ‘hidup segan mati tak mau’? Jadi sekarang, mari kita melihat hidup ini dengan kacamata yang jujur.
    8 min
  • Perubahan Karakter
    Perubahan karakter menjadi ciri atau tanda kepastian keselamatan. Kepastian keselamatan bukan karena keyakinan secara mental bahwa dia akan masuk surga karena percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi keselamatan itu proses perubahan yang dialami seseorang, sampai orang mengagumi betapa hebat pekerjaan Roh Kudus. Seharusnya seseorang tahu dan mesti merasakan perubahan itu. Sehingga, masuk surga akhirnya bukan sekadar keyakinan, tetapi tahu bahwa manusia seperti ini layak bersama dengan Allah. 
    Namun, setan itu cerdik. Ia memberikan doktrin-doktrin yang hanya memformat pikiran secara sistematis teologis. Semua diselesaikan di atas kertas, di atas tulisan dalam format definisi “Percaya Yesus, selamat.” Ada lagi yang mengatakan, “Kamu ditentukan untuk selamat, pasti selamat. Kalau kamu ditentukan selamat, kamu tidak bisa menolak keselamatan. Namun, yang tidak ditentukan selamat, tidak akan bisa menerima keselamatan.” Semua hanya diformatkan dalam tulisan. Mestinya kekristenan tidak boleh diselesaikan di atas kertas. Namun, bukan berarti kita tidak setuju teologi, tetapi Allah yang hidup harus dialami. Perubahan bukan di atas kertas, dimasukkan dalam pikiran atau rasio, melainkan dalam perjalanan hidup konkret di mana seseorang diubahkan.
    Keselamatan itu mengagumkan. Bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga, tetapi perubahan; yaitu perubahan karakter kita. Maka, kita dibuat kagum oleh perubahan-perubahan tersebut, sampai akhirnya kita bukan hanya percaya kalau kita selamat, melainkan kita tahu kita selamat. Pada akhirnya, orang seperti ini sama sekali tidak takut mati. Seperti Paulus berkata, “Kalau aku disuruh memilih hidup atau mati, aku pilih bersama Tuhan.”  Bukan spekulasi; bukan untung-untungan, bukan “mudah-mudahan diterima di sisi Tuhan,” bukan. Semua ada tatanannya. Kalau kita mengikuti tatanan itu, ada kepastian. Alkitab menunjukkan kepastian ini. Filipi 2:12 mengatakan, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Artinya, kita harus merespons keselamatan yang Tuhan berikan untuk memasuki pengalaman penggarapan Tuhan atas diri kita, atas karakter kita, di dalam dan melalui Roh Kudus. Itu luar biasa. 
    Para pendeta—khususnya—punya potensi untuk stagnan, berhenti, karena sudah punya pengetahuan, sudah memiliki pengetahuan teologi yang cukup, punya posisi di dalam gereja, mendapatkan legitimasi dari jemaat bahwa ini pendeta; wakil Tuhan, orang baik, rohaniwan. Dia lupa bahwa dia tidak boleh berhenti berubah. Perubahan akan berhenti waktu kita menutup mata. Kita tidak boleh berhenti berubah. Kita berhenti berubah, berarti mati. Bukan berlebihan kalau kita selalu memikirkan hal ini, karena pemazmur juga mengajarkannya. Kalau kita menunda, akhirnya kita membatalkan. 
    Banyak orang berpikir bahwa selalu ada waktu untuk berubah, selalu ada waktu untuk bertobat. Mereka lupa bahwa dalam perjalanan hidup, ketika kesempatan demi kesempatan yang Tuhan berikan tidak digunakan, hati seseorang mengeras, sampai dia tidak bisa bertobat. Kalau kita tidak belajar menjumpai Tuhan dalam doa dan perjumpaan konkret, akhirnya kita tidak sanggup percaya. Nanti di ujung maut, kita mencoba untuk mencari, meraih Tuhan, tetapi kita tidak mampu. Sekarang kita masih bisa berkata “percaya Tuhan.” Bersyukur Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk memiliki pengalaman dengan Tuhan melalui doa, pengalaman hidup setiap hari. Perjumpaan dengan Tuhan lewat doa itu menstimulasi roh kita. Kita harus mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui peristiwa-peristiwa hidup di mana kita melihat kehadiran Tuhan, manuver Tuhan. 
    Dia menyertai bukan hanya karena mau melindungi, menjaga kita. Dia Bapa yang mendidik, Guru yang mengajar. Kita kagum terhadap hikmat kebijaksanaan Allah yang mengubah kita lewat berbagai peristiwa. Kalau orang Kristen baru memuji Tuhan, mengagumi Tuhan karena kuasa-Nya, keajaiban-Nya di mana Dia mendengar doa, mengabulkan permintaan, menyembuhkan sakit, memulihkan ekonomi,
    10 min
  • Hati yang Bijaksana
    Kalimat “sampai menutup mata” memberi pesan dan mengingatkan kita bahwa suatu saat nanti kita pasti menutup mata. Kedengarannya hal ini sederhana dan tidak penting, tetapi pemazmur mengajari kita. Di dalam tulisannya, pemazmur mengatakan, “Ajar aku menghitung hari-hari, supaya aku beroleh hati yang bijaksana, karena hari-hariku berlalu cepat.” Orang yang menyadari pasti ada akhir dari perjalanan hidupnya, akan memiliki hati yang bijaksana. Sebab, ia pasti tidak hidup ceroboh. Kedengarannya hal ini biasa atau bahkan mungkin dianggap tidak penting. Tetapi sejatinya, orang yang tidak memikirkan realita bahwa ia ada dalam perjalanan waktu dan pasti ada ujung dari perjalanan itu, orang yang tidak mengerti tidak mau mengerti dan tidak menghayati hal ini, ia tidak memiliki hati yang bijaksana; berarti ceroboh. 
    Ironis, di tengah-tengah dunia yang makin gelap, makin fasik, manusia semakin tidak memercayai keberadaan Allah. Walaupun mulutnya mengaku percaya ada Tuhan, tetapi sesungguhnya dia belum percaya dengan benar. Ia tidak mengakui di dalam perbuatannya bahwa Allah itu eksis, bahwa Allah itu ada. Dan orang yang tidak memiliki percaya yang benar ini, pasti tidak memikirkan kekekalan. Dan kalau orang tidak memikirkan kekekalan, pasti tidak serius merenungkan realita adanya perjalanan waktu, di dalam hal ini ada ujungnya. Itulah sebabnya filosofi hidup manusia di sekitar kita pada umumnya adalah, “mari kita makan dan minum sebab besok kita mati.” Tetapi kalimat: “besok kita mati,” tidak dipikirkan. Mereka hanya fokus pada: “Mari kita makan minum.” 
    Maka, mari kita menggoreskan, menorehkan di dalam hati kita bahwa kita ada dalam perjalanan waktu yang pasti ada ujungnya, dan pasti kita akan menutup mata. Jika kita tidak sungguh-sungguh merenungkan realita adanya perjalanan waktu dan ada ujungnya di mana suatu saat kita menutup mata—sekalipun sebagai rohaniwan atau sebagai pendeta—maka pasti hidup kita mulai tidak hati-hati atau mulai ceroboh. Hampir semua kita sudah tahu akan realita ini, tetapi seberapa dalam kita merenungkan, menghayati hal ini dan menerima realita ini? Dan setelah kita menghadapi “menutup mata,” kita menyongsong kekekalan. Jangan anggap remeh hal ini. 
    Kalau kita bicara mengenai kematian dan langit baru dan bumi baru, kita dianggap lucu, aneh, dan bisa menjadi bahan olok-olokan. Tapi tidak menjadi masalah. Kita tetap pada track ini; kita menghayati realitas kefanaan hidup di bumi dan realitas kekekalan nanti di balik kubur kita. Karena keselamatan dalam Yesus Kristus itu diproyeksikan untuk kehidupan yang akan datang, bukan kehidupan hari ini. Tetapi setan begitu licik memutarbalikkan kebenaran. Bicara “keselamatan” hanya dipahami terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Lalu orang Kristen ‘disuntikkan’ ajaran yang sebenarnya tidak sesuai dengan Alkitab. Orang Kristen digiring untuk meyakini saja bahwa dirinya sudah selamat dan nanti kalau mati, masuk surga. 
    Sejatinya, menjadi orang Kristen itu makin hari, makin mengagumi keselamatan. Jadi bukan statis, dari dulu percaya Yesus Tuhan dan Juruselamat, yakin kalau mati masuk surga. Lalu menjalani hidup seperti hidup yang dijalani oleh orang yang bukan umat pilihan, yang tidak memiliki keselamatan. Setan begitu licik menipu banyak orang Kristen. Jadi kalau mereka bicara tentang keselamatan, hal itu hanya diyakini bahwa nanti kalau mati masuk surga, lalu menjalani hidup seperti orang-orang yang bukan umat pilihan menjalani hidup. Biasanya, orang-orang seperti ini takut mati. Dia boleh berkata yakin masuk surga, tapi tidak ingin mati karena takut mati. Ini ada yang salah.
    Mestinya orang Kristen yang benar, semakin hari semakin mengagumi keselamatan. Dan memandang keselamatan begitu berharga, begitu bernilai. Karena di dalam keselamatan itu ada pengalaman, perubahan hidup. Bagaimana Roh Kudus menuntun hidup kita. Karena dia mengalami dinamika hidup. Dinamika hidup seorang yang dipimpin Roh Kudus.
    10 min
  • Tidak Terbatas
    Rata-rata orang merasa berhak punya kesenangan sesuai versinya. Padahal, versinya itu versi dunia. Karena dari kecil sudah dididik, diasuh oleh dunia. Jadi, kalau kita belum memindahkan hati kita di Kerajaan Surga, artinya kita belum rohani. Maka, proses perubahan itu harus berlangsung sejak kita hidup di dunia ini. Hati kita harus sudah di surga sebelum kita menginjak surga. Bangsa Israel itu kalau hatinya di tanah Kanaan, di tanah yang Allah janjikan kepada Abraham, pasti mereka tidak akan mengomel di perjalanan.  Namun, kita dapat melihat di 1 Korintus 10, ternyata mereka mengingini hal-hal yang jahat. Sehingga banyak di antara mereka atau sebagian besar mereka tewas di padang gurun. Mengapa? Karena mereka mengingini hal yang jahat, artinya mengingini apa yang Tuhan tidak kehendaki untuk diingini. Apa pun itu. 
    Semakin hari kita harus semakin ekstrem; ekstrem positif. Memang justru itu yang wajar bagi kita sebagai umat pilihan. Jangan kita melihat sesuatu yang Tuhan tidak ikut menikmatinya. Jangan mengingini sesuatu yang Tuhan tidak suka kita mengingini hal itu. Memang hal ini berat, bahkan sangat berat, terutama bagi kaum muda. Tetapi kalau suatu hari nanti, kita melihat kemuliaan Allah, keagungan Allah, dan keindahan Kerajaan Surga, maka kita tidak akan menyesal melepaskan apa pun dan berapa pun saat kita masih hidup di bumi, karena pasti tak sebanding dengan kemuliaan Tuhan. Jadi, mumpung kita masih hidup, mari kita memindahkan hati di Kerajaan Surga. Sebab kalau sudah mati, sudah tidak ada perhitungan dan perubahan lagi. Maka, selagi kita masih hidup di dunia, kita harus berkomitmen sungguh-sungguh untuk hal itu.
    Alkitab berkata, “Kamu sudah mati, hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Orang Kristen yang benar ditandai dengan tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, tetapi kita tetap bisa menikmatinya. Kalau kita masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, itu gejala kita berkhianat kepada Tuhan. Masih gejala, karena Tuhan masih memberi kesempatan. Maka, berubahlah. Kita tidak akan pernah rohani kalau hati kita tidak kita pindahkan di Kerajaan Surga. Banyak orang perhitungan dengan Tuhan. Mereka tidak berani ‘boros’ untuk Tuhan, tetapi boros untuk diri sendiri. Untuk Tuhan, hanya diberi remah-remah. Orang seperti ini akan sangat menyesal kalau nanti melihat keagungan Tuhan.
    Tidak jarang orang Kristen yang memandang Tuhan itu seperti gembel, seperti pengemis yang diberi satu gepok uang, cukup atau puas dengan sepersepuluh. Padahal, kita memberi 99 % pun kurang. Bahkan seluruh harta kita berikan pun, tetap masih kurang. Uang kita terbatas, harta kita terbatas, tetapi cinta kita kepada Tuhan bisa tidak terbatas. Kalau kita cinta Tuhan, kita bisa berkata, “Apa pun yang Tuhan perintahkan untuk kulakukan, kulakukan. Bahkan apa yang tidak bisa kulakukan, tetap aku lakukan kalau Engkau memerintahkannya, Tuhan.” 
    Kalau dari menit ke menit kita tidak melakukan kehendak Allah—masih melakukan sesuatu yang Tuhan tidak berkenan, mulut bocor, pikiran kotor, sewenang-wenang terhadap orang lain—maka kita tidak akan bisa mengerti rencana Allah dalam hidup kita. Kalau kita masih sibuk dengan perasaan kita yang masih tersinggung, masih pahit, mau balas dendam, melukai orang, maka Tuhan tidak bisa memercayai proyek apa yang seharusnya kita selesaikan. 
    Dunia kita hari ini seperti yang tertulis di dalam 2 Timotius 3:1-4, dunia yang jadi egois dan materialistis. Ini yang membuat orang tidak mudah memindahkan hatinya di Kerajaan Surga, karena terpapar materialisme ini, plus egois. Lengkap sudah kerusakannya. Virus ini lebih jahat dari COVID. Napas rohani kita bisa pendek dan mati. Kita tidak punya sayap untuk terbang menuju kemuliaan-Nya. Dalam Wahyu 17 ditunjukkan bahwa yang paling membahayakan di akhir zaman itu “pelacur-pelacur” di mana raja-raja dan para bangsawan melacurkan diri. Ini bukan bicara pelacur seks; ini perzinaan rohani, yaitu orang terikat dengan dunia,
    9 min
  • Menempuh Perubahan
    Percaya kepada Tuhan dan semua yang difirmankan-Nya adalah mutlak. Tetapi percaya kepada gereja dan pemberitaan firmannya, juga penting. Sebab Alkitab terdiri dari huruf, kata, kalimat yang tidak bisa berbicara sendiri, harus disuarakan, harus diucapkan, harus dibunyikan. Tentu di dalamnya ada proses interpretasi atau penafsiran, ada usaha untuk mengeksegesis Alkitab, yang mana dalam hal ini dibutuhkan hermeneutik; studi memahami ayat Alkitab. Tetapi yang lebih penting lagi, pimpinan Roh Kudus. Apakah gereja tersebut berfungsi sebagai juru bicara-Nya—yaitu pendeta yang berkhotbah betul-betul hidup di dalam pimpinan Roh Kudus—sehingga apa yang dikemukakan benar-benar suara Tuhan? 
    Jadi bukan hanya format literal yang sudah baku yang menjadi standar kegiatan gereja. Seorang calon pendeta sekolah teologi belajar teologi. Lalu setelah lulus, dengan pengetahuan teologinya di dalam nalar secara kognitif, ia berkhotbah dari literatur yang dibaca, dari konten yang diterima di ruangan kuliah. Kalau hanya begini, maka ayat-ayat di dalam Alkitab masih menjadi kalimat-kalimat mati yang tidak berkuasa mengubah. Maka, yang penting dan mutlak, adalah pimpinan Roh Kudus. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 6:33, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Yang dimaksud “daging” di sini adalah aktivitas nalar, aktivitas intelek dalam lingkup akademis. 
    Kalau dalam terjemahan bahasa Indonesia dikatakan, “Perkataan-Ku itu Roh dan hidup.” Tetapi dalam terjemahan King James, “Dan mereka itu hidup;” sesuatu yang dinamis, bukan hanya di kepala, tetapi dalam kehidupan. Hal itu bisa terjadi kalau ada karya Roh Kudus. Jadi, ayat Alkitab menjadi suatu benda mati, apabila orang itu tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan; yang tentu dalam hal ini Bapa dan Anak diwakili oleh Roh Kudus dalam karya-Nya. Ingat, untuk bisa berinteraksi dengan Roh Kudus, maka seseorang harus memiliki ruangan perjumpaan; yaitu doa. Bukan hanya waktu mau makan, mau tidur, tetapi ada waktu untuk benar-benar menyediakan ruangan fisik, ruangan waktu, ruangan perhatian untuk bertemu Tuhan. Kalau percaya Allah itu hidup dan Dia berjanji menyertai kita sampai kesudahan zaman, berarti Ia bisa ditemui. Suatu kehormatan untuk bisa menjumpai Tuhan.
    Tanpa doa, tanpa hubungan dengah Roh Kudus, bisa saja seorang pendeta berkhotbah. Dan jemaat bisa menangkap mind to mind, tapi spiritnya tidak diubah. Buktinya, orang yang rajin berdoa sulit berbuat dosa. Bisa, tetapi sulit. Sampai tidak bisa berbuat dosa. Keindahan dunia makin pudar di matanya. Dia akan mengalami Tuhan. Sampai nanti kalau kita bertumbuh dewasa, kita bisa menemukan unsur-unsur duniawi yang masih melekat di dalam diri kita, yang tidak mudah padam. Tetapi kita serius untuk terus memadamkan, sampai waktu menghadap Bapa, kita dijumpai berkenan. Ayat-ayat Alkitab itu menjadi hidup, oleh Roh Kudus yang menjelaskannya. Bahkan bukan tidak mungkin perasaan si penulis atau perasaan aktor, pelaku, pemeran bisa kita rasakan. Roh Kudus yang menolong. 
    Bagaimana ketakutannya Yusuf ketika masuk sumur, namun diangkat naik kembali. Dia pikir selamat, ternyata dibawa ke Potifar. Di sana Yusuf menjadi ketua para pelayan, Yusuf pikir inilah waktunya di mana mimpinya akan terwujud. Namun, tidak lama kemudian dia masuk penjara. Kita bisa ikut merasakan betapa kecewa dan sepinya dia, tetapi ternyata itu adalah tangga menuju puncak. Jadi waktu dia turun, turun, turun, lalu lompat dia, kita bisa menghayatinya. Kalau kita sedang dalam kondisi turun, tenang saja. Ada saatnya kita akan melompat. Tetapi kita harus hidup seperti Yusuf yang takut akan Allah. Sejak muda, dia takut akan Allah. Dia tidak ikut terlibat dengan kejahatan kakak-kakaknya. 
    Hidup harus benar. Firman menjadi hidup waktu kita menikmatinya. Kita bukan hanya menganalisa dengan nalar, dengan eksegesis, hermeneutik melainkan dengan roh yang menghidupkan firman. Maka,
    10 min
  • Mewarnai Hari Hidup
    Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran sejatinya adalah hidup dalam persekutuan dengan Allah tiada henti. Jadi, di dalam praktik hidup keberagamaan—atau kekristenan dalam konteks kita—tidak ada waktu beribadah dan waktu tidak beribadah. Sejatinya, sepanjang waktu dalam hidup kita adalah waktu beribadah. Selama ini banyak orang yang membagi waktu beribadah dan waktu di luar ibadah. Maka, sering dikategorikan bahwa yang namanya ibadah adalah aktivitas liturgi atau aktivitas di dalam rumah ibadah. Sebagai orang Kristen, tentu aktivitas di dalam gereja. Maka, sering kali acara di gereja disebut Ibadah Raya atau kebaktian. Mudah-mudahan itu hanya sekadar istilah saja bagi kita. Sebab sesungguhnya ibadah kita itu setiap saat dalam hidup kita. Raya kita itu setiap saat. Kebaktian kita yang sejati itu setiap saat di dalam hidup kita. Jadi, tidak ada waktu beribadah dan waktu tidak beribadah. 
    Di dalam firman Tuhan oleh ilham Roh Kudus, Paulus berkata, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Jadi, sebenarnya tidak ada hari kebaktian dan yang lain bukan hari kebaktian. Seperti yang kita bisa dengar atau pernah kita dengar bahwa hari Minggu adalah hari kebaktian, hari ibadah. Apakah itu berarti hari yang lain bukan hari ibadah? Maka, ada orang yang mengistilahkan bahwa hari Minggu itu hari-Nya Tuhan. Padahal, sebenarnya setiap hari tentu adalah hari-Nya Tuhan, setiap waktu dalam hidup kita adalah waktu-Nya Tuhan. 
    Kita harus berjuang untuk mewarnai setiap hari kita, setiap waktu kita dengan warna ibadah. Roh Kudus pasti akan menuntun kita, agar mengerti bagaimana dalam segala hal yang kita lakukan, kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan. Maka, di situlah baru kita dapat mengerti apa artinya hidup di dalam Roh. Maka, untuk bisa mewujudkan hal itu, pertama, jangan mengingini apa yang Tuhan tidak kehendaki kita ingini, apa pun juga. Jalani hidup kita—dalam pekerjaan, bisnis, pendidikan atau apa pun—untuk keluarga dan Tuhan. Percayalah, Roh Kudus akan menuntun kita untuk hidup sesuai kehendak Tuhan.
    Yang kedua, jangan menggerakkan perasaan yang di mana Tuhan tidak ikut menikmati atau merasakannya. Jangan sampai perasaan kita hanyut untuk sesuatu yang tidak perlu kita hanyut di situ. Apa pun. Jangan berduka untuk apa yang tidak boleh dan tidak perlu kita berduka. Jangan senang atas apa yang tidak perlu kita senang atau bahagia. Jangan susah atas apa yang tidak perlu kita susah. Kita harus belajar untuk merdeka dan melepaskan diri dari setiap tali ikatan perasaan terhadap sesuatu; apakah sesuatu itu menyenangkan atau sesuatu itu mendukakan. Hati kita harus benar-benar kita ikat dengan Tuhan saja. Maka, kita bisa berjalan dengan Tuhan secara nyata dan menjadikan setiap hari sebagai hari-Nya Tuhan, setiap waktu adalah waktu-Nya Tuhan. 
    Setiap kita pasti punya masalah, mungkin banyak dan berat, tetapi kita tidak boleh hanyut di situ. Kalau itu adalah pekerjaan Tuhan, penderitaan dan beban pikiran akan menjadi kenikmatan bagi kita. Kita seperti sedang dipersembahkan di atas mezbah untuk dipotong, mau dibunuh, mau dibelah-belah lalu dibakar, dan kita harus berani. Seperti Ishak yang mau dipersembahkan, tetapi ia tidak memberontak. Seperti Tuhan Yesus disalib, di mana Ia memberi diri untuk disalib. Maka, kita harus sangat serius dan nekat untuk menyalibkan daging kita, menyalibkan hawa nafsu kita, matikan itu! Sehingga kita pasti melihat ada terang yang makin terbuka, adanya dimensi baru dalam menyembah Tuhan. Selanjutnya, kita makin naik dan akan terus semakin naik. 
    Ingat hal ini, bahwa kesucian hidup tidak bisa ditukar dengan apa pun. Kesucian tidak bisa ditunda. Kesucian kita hari ini pasti tidak sama dengan kesucian 3 hari, 5 hari yang lalu, apalagi sebulan atau dua bulan yang lalu. Hari ini adalah hari ini, dan di setiap detiknya kita harus bertekad untuk menjaga kesucian, dan ini memang berat. Tetapi,
    8 min
  • Hubungan Khusus
    Sebagaimana pengalaman hidup kita dalam berinteraksi dengan sesama, kita menemukan sebuah kekhususan atau kekhasan atau spesifikasi dalam setiap hubungan tersebut. Ketika kita berhubungan dengan orang tua, hubungan itu khusus yang tidak bisa kita bangun dengan orang lain; hanya bisa dibangun dengan orang tua, dan itu pun melalui proses bertahap sesuai dengan umur kita. Ketika masih kanak-kanak, kita memiliki relasi yang belum matang, relasi yang belum dewasa dengan orang tua. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika kita makin dewasa, kita mulai mengenali diri kita dan kemudian kita bisa mengenali orang tua kita dan kita menemukan titik pertemuan, hubungan yang harmoni antara ayah atau ibu dan anak.
    Waktu kanak-kanak, kita tidak tahu bagaimana hubungan yang dewasa, yang matang itu. Biasanya anak hanya mau senang-senang saja. Anak masih bersifat simbiosis parasitisme; mengeksploitasi, menghisap. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika kita dewasa, kita mengenal diri kita dan mengenal orang tua, sampai pada satu titik hubungan yang harmoni. Sebenarnya, hubungan suami isteri juga bisa begitu. Pada waktu pacaran, semua serba indah, hingga akhirnya mereka menikah. Waktu bulan madu, semua juga masih serba indah. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika karakter masing-masing nampak, di situ sering terjadi konflik. Kalau konflik itu dikelola dengan benar, maka mereka akan terus bertumbuh dewasa antara suami-isteri, sampai pada usia tertentu, mereka menemukan titik pertemuan. 
    Sampai suami berkata, “Tidak ada wanita yang pantas di sampingku selain dirimu” atau sebaliknya istri berkata, “Tidak ada pria yang pantas di sampingku selain dirimu.” Walaupun rambut sudah memutih, tubuh sudah rentan, tetapi batiniah mereka semakin terikat, terlekat setelah melewati perjalanan panjang. Ingat, hubungan suami istri itu khas, khusus. Antara Rudi dan Endang, beda dengan Toto dan Lili. Masing-masing punya kekhasan. Maka, betapa rusaknya kalau seorang pria atau seorang wanita yang sudah punya pasangan, lalu menjalin hubungan dengan pria atau wanita lain yang bukan pasangan; itu merusak seluruh struktur bangunan kehidupan rumah tangga. 
    Ini menjadi ilustrasi hubungan kita dengan Tuhan. Hubungan kita dengan Tuhan harus makin dewasa. Waktu kita menjadi Kristen baru, kita hanya bisa meminta, menuntut. Tuhan diposisikan sebagai Penolong, Pemberi saja. Namun, seiring berjalannya waktu, kita mengenal siapa diri kita. Lalu, kita juga akan dituntun Roh Kudus untuk mengenal siapa Allah bagi kita. Setiap orang memiliki hubungan yang khusus dan khas dengan Allah. Siapa Allah bagi si A, si B, si C, berbeda. Tentu prinsipnya sama, karena Allah tidak berubah; tetapi ada kekhasan, kekhususan, yang tidak akan pernah sama. Inilah yang harus kita temukan. 
    Kita tidak akan pernah mengenal Allah dengan benar dan memiliki hubungan yang benar dengan Allah tanpa mengenal diri kita sendiri dengan benar. Kalau Pemazmur mengatakan, “Selidiki aku, kenali aku,” ia sedang mengajarkan bahwa kita harus mengenali diri kita; sifat, karakter, kelicikan-kelicikan yang ada pada kita. Ingat, firman Tuhan mengatakan, “Hati lebih licik dari segala sesuatu.” Kita harus mengenali kelicikan kita, ketidaktulusan kita. Maksudnya agar kita membereskannya; jangan tidak tulus, jangan jadi licik. 
    Sejatinya, di dalam diri kita ada pangkalan setan, di mana kalau ada impuls atau rangsang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah, gampang kita meresponnya. Semua pangkalan itu harus dihancurkan dan digantikan pangkalan baru, di mana kita akan tersambung dengan kehendak Allah, sesuai pikiran perasaan Allah. Maka, kita harus bertumbuh dewasa. Seperti ilustrasi hubungan anak dengan orang tua. Kalau anak itu bertumbuh dewasa, dia akan mengenal siapa dirinya dan mengenal siapa orang tuanya, sampai pada titik perjumpaan yang harmoni, tetapi kalau anak ini nakal, bisa tidak ketemu. Maksud orang tua baik,
    9 min
  • Selalu Konek
    Kita, secara pribadi, harus mengalami perjumpaan dengan Allah yang tidak kelihatan, perjumpaan yang benar-benar kita rasakan, kita alami secara konkret dan nyata, sampai kita tidak bisa tidak percaya Tuhan, hidup kita dilingkupi oleh kehadiran-Nya dan itu bisa terjadi. Sebab dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan kita kalimat, “Datanglah Kerajaan-Mu.” Kita harus bertumbuh dewasa terus sampai kita benar-benar menghadirkan Kerajaan Allah di dalam hidup kita. Penghayatan akan Allah yang hidup dari pengalaman konkret, bukan hanya penghayatan di dalam pikiran. Pikiran tidak bisa menghayati secara penuh, tetapi bisa dihayati dalam perasaan bahkan fisik kita, karena Allah itu nyata dan hidup. 
    Seluruh indra kita pasti juga bisa merasakan kehadiran Tuhan. Tentu saja kita tidak mengandalkan pengalaman indra jasmani untuk merasakan dan mengalami Tuhan, tetapi bisa kita alami; maksudnya panca indra kita bisa berinteraksi dengan Allah. Namun, bukan itu yang utama, karena Tuhan mengajarkan kepada kita agar percaya walau tidak melihat. Betapa ingin hati Bapa di surga melingkupi kita dengan kehadiran-Nya. Ia sayang kepada kita, sangat sayang. Oleh sebab itu, hal-hal salah atau tidak berguna yang melingkupi diri kita, harus kita buang; misalnya tontonan, hiburan, hobi atau kesenangan apa pun harus kita buang. Sebab kalau kita tidak membuang hal-hal tersebut, maka Allah tak dapat melingkupi kita. 
    Terang tidak bisa bercampur dengan gelap. Tuhan juga berkata di Matius 6:24, “Kita tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Kita harus mengabdi kepada Tuhan, titik! Tidak ada bagian sekecil apa pun untuk yang lain karena Tuhan menghendaki demikian; “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Jangan beri ruangan sejengkal pun untuk yang lain. Kalau kita menyembah Elohim Yahweh, Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, kita hanya menyembah Dia. Kita tidak menyembah siapa pun. Artinya kita hanya memberi nilai tinggi Tuhan, kita mengagungkan Dia lebih dari kita menghargai apa pun dan siapa pun. Bahkan, penghargaan kita kepada seseorang atau sesuatu itu pun karena Tuhan; sebagaimana ayat yang mengatakan, “Jadi, baik kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, kita lakukan semua untuk kemuliaan Allah.”
    Bapa ingin kehadiran-Nya kita rasakan, sungguh. Bapa ingin kita berjalan bersama-Nya. Bukan hanya pada waktu kita di gereja atau pada waktu berdoa kita tercengkerami oleh kehadiran-Nya, tetapi di setiap waktu, di mana pun kita berada. Sebab tubuh kita menjadi bait Roh Kudus. Kalau tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka ada ruang maha kudus di dalamnya. Artinya, ada perjumpaan antara kita dengan Allah secara terus-menerus. Kalau dulu kita tidak sungguh-sungguh, ada wilayah-wilayah blankspot—tidak ada sinyal, tidak tersambung, tidak ada connecting—tetapi sekarang tidak boleh ada lagi area blankspot. 
    Di mana pun kita berada, kita selalu konek dengan Tuhan. Sebab Tuhan sendiri yang berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa.” Tidak ada tempat di mana Allah tidak hadir dan tidak ada tempat atau waktu di mana Allah tidak menyertai kita. Ia selalu menyertai kita. Karenanya Ia disebut sebagai Imanuel. Orang yang bersama dengan Allah senantiasa setiap waktu adalah orang-orang yang layak masuk Kerajaan Surga. Orang yang setengah-setengah, yang muncul tenggelam muncul tenggelam, orang yang tidak tetap tinggal di dalam Tuhan, tidak mungkin dilayakkan Tuhan tinggal bersama dengan Dia. Apalagi mereka yang tidak hidup di hadirat Allah. Setelah meninggal dunia, mereka baru tahu betapa pentingnya, betapa berharganya berjalan bersama Tuhan, betapa bernilainya hidup di hadirat Allah. 
    Dalam penyesalan, baru kemudian ia berkata, “Perkenankan aku berjalan bersama-Mu, perkenankan aku hidup di hadirat-Mu.” Namun, tidak ada lagi waktu, tidak ada lagi kesempatan untuk itu. Jadi, selagi kita hidup di dunia, kita serius benar-benar membangun relasi atau hubungan deng...
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…