Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjadi Berharga
    Mengapa ada banyak orang dari kecil sampai tua Kristen, tetapi tidak bertumbuh? Mungkin dia menjadi lebih bijak, lebih cerdas, lebih cakap, tetapi tidak menjadi rohani. Hal itu terjadi karena dia tidak memiliki hati yang bisa ditaburi firman guna pertumbuhannya. Pikirannya masih memberi ruangan terhadap dunia ini. Maka, firman Tuhan dalam Lukas 16:11 mengatakan, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Dengan kalimat lain, “Kalau kamu masih belum beres, cara pandangmu melihat dunia belum beres, kamu tidak bisa mengerti, menerima, dan memiliki harta yang sesungguhnya.” Harta yang sesungguhnya adalah Tuhan, yang diwakili dengan kata alithenon; the truth, kebenaran, rhema. 
    Mungkin kita agak terlambat, tetapi kita masih punya kesempatan untuk menikmati kekristenan dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dan membuktikan bahwa Dia hidup, Dia menyertai kita. Kalau kita tidak mengalami kehadiran Allah dalam hidup kita setiap hari, apa bedanya kita dengan manusia lain yang tidak memiliki Imanuel? Bukankah kita menerima meterai Roh Kudus? Bahkan tubuh kita diperkenan menjadi bait Roh Kudus. Kalau Roh Kudus hadir di dalam hidup kita, mestinya kita mengalami Allah. Maka jangan anggap enteng hal ini. 
    Kita harus mencari hadirat Tuhan dan mencari wajah-Nya. Kalau kita percaya bahwa Yesus bangkit, Dia bukan Tuhan yang mati, mestinya kita bisa berjalan dengan Tuhan dan mengalami-Nya. Mestinya ketika kita berkata, “Pegang tanganku, Tuhan,” maka kita akan mengalami kehadiran Tuhan di dalam hidup kita; artinya ada campur tangan Tuhan dalam berbagai persoalan hidup yang kita alami. Namun, kita harus sungguh-sungguh, militan, ekstrem, dan fanatik. Tentu ekstrem, fanatik yang positif yang tidak melukai orang lain, tidak menyakiti sesama. Ekstrem di dalam kerinduan, ambisi yang positif untuk mengalami Tuhan.
    Sejatinya, kita adalah manusia yang tidak berharga. Namun, ketika kita mencari Tuhan, kita menjadi berharga karena kita memiliki Dia. Kita bisa tidak memiliki siapa-siapa atau apa-apa, tetapi jangan tidak berjalan dengan Tuhan. Dialah kehidupan. Suatu saat ketika kita di ujung maut, sekarat, ketika harus melepaskan segalanya—bahkan nyawa kita, kita baru tahu ternyata Dia lebih berharga dari nyawa kita dan hanya Dia yang kita butuhkan. Dengan tulus kita katakan, “Izinkan aku selalu ada di hadirat-Mu, Bapa.”
    Tuhan Yesus berkata di Yohanes 4:23-24, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Ada saatnya orang berurusan dengan Allah, bukan dengan media liturgi, seremonial, ritual semata, melainkan berjumpa setiap saat. Ibadah yang tidak dibatasi ruangan dan waktu, tidak diatur sistem dan cara, tetapi kehidupan seorang yang mengenal Allahnya. 
    Mari, temui Tuhan. Kita harus mengalokasi (menyisihkan) waktu ruangan hidup kita dengan serius untuk mencari Tuhan. Roh Kudus akan menolong kita untuk berurusan, berhadapan dengan Tuhan dan mengalami perjumpaan dengan-Nya. Sebenarnya, tanpa disadari banyak di antara kita yang terhilang, yaitu ketika kita tidak menemukan wajah Tuhan serta kehadiran-Nya, dan tidak merasakan hadirat-Nya. Lalu, kita di hadirat siapa? Kita berjalan dengan siapa? Menikmati Tuhan bukanlah di kebaktian, melainkan dalam hidup detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam.
    Ironis, banyak orang Kristen yang belum sampai tahap ini, karena mereka menikmati kekristenannya hanya di gereja. Keluar dari gereja, mereka merasa tidak perlu lagi berurusan dengan Allah secara proporsional. Mereka sibuk dengan segala kegiatan hidup. Bukan berarti tidak boleh sibuk; kita harus sibuk. Orang yang tidak sibuk adalah orang yang malas. Namun,
    10 min
  • Menikmati Kekristenan
    Kekristenan bukanlah agama seremonial atau agama ritual, juga bukan agama liturgi atau tata cara sembahyang. Ini berarti bahwa kekristenan tidak cukup diwakili dengan penyelenggaraan sebuah seremonial, ritual, liturgi, atau tata cara ibadah atau tata cara sembahyang. Kekristenan adalah jalan hidup. Artinya, kekristenan harus dinikmati dalam perjalanan hidup dari jam ke jam, dari menit ke menit. Tentu perjalanan hidup kita bukanlah perjalanan hidup yang dituntun, diatur, dibayang-bayangi, dan ditekan oleh hukum, melainkan jalan hidup yang dituntun, dibayang-bayangi oleh Roh Kudus di mana seseorang diperkenan untuk berjalan bersama dengan Tuhan. 
    Itulah arti Yesus adalah Sang Imanuel, berarti Allah beserta kita. Dengan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, kematian-Nya yang menebus dosa manusia dan membenarkan manusia di hadapan Allah, dan kebangkitan-Nya yang menunjukkan kemenangan bahwa Dia taat sampai mati bahkan mati di kayu salib, maka tirai bait Allah terbelah. Batas yang selama ini menghalangi hubungan antara Allah dan manusia, dirobek. Manusia bisa bersekutu dengan Allah. Dahulu sebelum ada penebusan oleh darah Yesus, hanya imam besar yang bisa bertemu dengan Allah, itu pun satu tahun sekali. 
    Dengan dirobeknya tirai yang membatasi antara Ruang Suci dan Ruang Maha Suci yang mengisyaratkan bahwa Allah berkenan hadir—Imanuel dalam kehidupan manusia—maka manusia bisa berjalan dengan Tuhan. Ini kabar baik. Kita harus menyambut kabar baik ini dan menerima, sehingga kita benar-benar mengalami. Bukan sekadar teori atau sebuah penjelasan format sistematika teologi yang mengisi pikiran, melainkan sebuah kenyataan yang dialami oleh setiap individu. Inilah yang menjadi pergumulan hidup kita dan sekaligus menjadi kesukaan kita. Jangan menikmati kekristenan hanya di acara kebaktian atau pada waktu kita menyelenggarakan dan mengikuti liturgi. Namun, nikmati kekristenan dengan berjalan dan bersekutu dengan Tuhan dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari. 
    Kalau kita mengingat perjalanan hidup yang telah kita jalani dalam tahun-tahun panjang dahulu, mungkin ada penyesalan mengapa kita tidak sungguh-sungguh, tidak benar-benar berjalan dengan Tuhan. Kekristenan dipahami di dalam nalar, dirumuskan di dalam kognitif rasio, dan kita menikmati kekristenan di dalam kebaktian karena ada banyak kepentingan atau ada kepentingan kita di dalamnya. Sekarang, seiring berjalannya waktu, lalu proses kehidupan yang Allah berkenan kita jalani, dan oleh belas kasihan-Nya, maka kita mengerti bahwa Allah yang hidup, Allah yang Maha Kudus, Allah yang Maha Tinggi, Allah yang Maha Suci di terang yang tak terhampiri berkenan hadir di dalam kehidupan umat manusia di dalam dan melalui Roh Kudus untuk berjalan bersama dengan kita. 
    Namun, kita harus memaksa diri untuk mengalami bagaimana berjalan dengan Tuhan setiap hari, bagaimana bisa hidup di hadirat Tuhan setiap hari. Kalau Henokh bisa dikatakan berjalan dengan Allah—yang di dalam bahasa aslinya halak; berjalan, artinya hidup bersama—maka, kita sebagai umat pilihan Perjanjian Baru yang menerima meterai Roh Kudus mestinya bisa lebih dari Henokh. Kita akan sangat menyesal kalau menyia-nyiakan kesempatan ini. Memang mencari Tuhan seperti mencari dan menemukan jarum di antara tumpukan jerami, tetapi percayalah, sesuai yang dijanjikan Tuhan dan Dia tidak berdusta, Dia pasti penuhi, yaitu “Carilah Aku, maka Aku akan membuat engkau menemukan Aku. Carilah Aku, maka kamu akan mendapatkan.” 
    Maka, mari mulai saat ini, kita berkomitmen untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh sampai kita bisa menghayati bahwa ternyata Dia kita butuhkan lebih dari napas dan lebih dari darah yang mengalir di tubuh kita. Ternyata Dia lebih berharga dari nyawa kita. Sebab apa gunanya orang memperoleh seluruh dunia kalau jiwanya binasa? Ingat, jiwa kita berharga lebih dari seluruh kekayaan dunia ini. Jika kita menghayati hal itu, maka kita juga bisa mengerti betapa berharganya T...
    8 min
  • Tengadah ke Atas
    Mazmur 90:12 mengatakan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Kata “menghitung” itu bisa berarti menomori, menandai. Berasal dari kata manah (Ibr. מָנָה); menandai, to weight out; mengukur beratnya. Jadi, setiap hari Tuhan menyediakan berkat kekal-Nya untuk kita. Kita bukan makhluk sementara, kita adalah makhluk kekal. Allah menyediakan berkat, bukan hanya berkat jasmani untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, terlebih lagi Allah juga menyediakan berkat-berkat rohani, yaitu berkat untuk persiapan kekekalan kita. Mestinya standar orang percaya adalah pikirkan perkara yang di atas, bukan di bumi. Kita bersyukur bahwa kita diproses Tuhan melalui segala penderitaan, kekecewaan, kepahitan. Sehingga kita sadar bahwa dulu kita salah.
    Yesus berkata dalam Matius 4:4, “Manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi juga dari setiap rhema;” rhema itu firman terkait dengan pekerjaan Roh Kudus yang mendidik, yaitu Roh Kudus yang berbicara kepada seseorang. Bukan berlebihan kalau Paulus berkata, “Baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Menikah atau tidak, punya anak atau tidak, apa pun yang kita lakukan, semua untuk kemuliaan Allah karena hidup kita adalah milik Tuhan, hanya untuk kesenangan Allah. Kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar. Kalau seseorang fokusnya hanya pemenuhan kebutuhan jasmani, dia pasti melewati dan kehilangan berkat-berkat kekal. Itu celaka. 
    Allah memiliki tatanan, seperti dalam firman-Nya: “Yang najis tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Allah tidak bisa “tidak apa-apa;” maka Allah berfirman, “Keluar kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis. Maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan.” Kita harus berhenti berbuat dosa. Kesucian itu sebuah keniscayaan. Kalau kita berlatih setiap hari, pasti kita tahu bahwa kesucian itu bisa kita capai. Jaga mulut, mata, telinga, perilaku, dan pikiran. Tuhan akan mendidik kita melalui Roh Kudus.
    Firman Tuhan mengatakan, “Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi,” artinya kita harus memberi diri dibentuk Tuhan. Dikatakan dalam firman Tuhan, “Ajar aku menghitung hari;” ajar aku menandai, mengukur beratnya setiap hari. Setiap hari ada berkat kekal-Nya. Umur kita singkat hanya 70 tahun, biar kita menghitung, menandai, mengerti berkat yang Tuhan sediakan bagi kita setiap hari. Berapa banyak di antara kita yang setiap bangun pagi, mulai berdoa mempersiapkan diri untuk menerima berkat yang Tuhan akan berikan bagi kita hari itu?
    Apabila setiap pagi kita menghadap Tuhan, hal itu akan merangsang kita untuk berurusan dengan Tuhan. Jangan sampai suatu hari ketika kita melihat kemuliaan Allah, kita baru menyesal karena kita tidak mencari Tuhan setiap hari. Ketika itu kita baru mengerti betapa tak bernilai, betapa berharganya, tak dapat diukur berkat kekal itu dan ternyata kita telah sia-siakan. Betapa menyesalnya. Allah hadir dalam hidup kita. Kita memandang Allah Maha Murah, tetapi kita membuat Dia murahan, sehingga kita tidak mengalami Allah yang hidup.
    Kalau Tuhan ingatkan kita dengan berbagai persoalan, pergumulan hidup yang berat, jawabannya adalah supaya kita tengadah ke atas. Sebab fokus kita ukurannya hanya “hari ini.” Itu sudah terformat sejak kecil. Memikirkan perkara-perkara yang di bumi, bukan yang di atas. Pemazmur mengatakan, “Ajar aku menghitung hari;” menandai, melihat, mengukur beratnya hari; berarti hari itu ada beratnya, ada berkatnya. Ini terkait dengan apa yang dikatakan di dalam ayat itu bahwa hidup manusia hanya 70 tahun, berlalunya buru-buru. Jangan main-main. Tuhan berurusan dengan setiap orang. Orang itu mau berurusan atau tidak, Tuhan tetap berurusan dengan dia. Ingat, Allah mempersiapkan kekekalan kita. 
    Kita harus memaksimalkan semua potensi, bekerja sebaik-baiknya, mencari nafkah segiat-giatnya. Namun, bukan itu tujuan hidup kita.
    10 min
  • Singkatnya Hari Hidup
    Orang yang tidak menghayati dengan benar singkatnya hidup ini, bahwa ia ada di dalam perjalanan waktu yang pasti ada ujungnya dan tidak tahu kapan ujungnya, adalah orang yang pasti: Pertama, tidak memiliki sikap berjaga-jaga yang proporsional. Kedua, tidak menghargai kesempatan-kesempatan yang tidak ternilai, yang Allah berikan untuk mempersiapkan diri bagi hidup kekalnya. Buktinya, banyak orang yang angkuh dan sombong di hadapan Tuhan, terutama mereka yang memiliki kedudukan dan kekuasaan. Apalagi kalau orang tersebut juga sukses dalam hal materi. Pada umumnya mereka tidak mempersoalkan kekekalan. Dari pernyataan-pernyataannya, dia tidak punya kegentaran terhadap hal-hal kekekalan. Dia pikir dirinya itu makhluk yang hari ini mati, besok dikubur, selesai. Dia lupa kalau dirinya adalah makhluk kekal yang harus mempertanggungjawabkan, bukan hanya perbuatan, melainkan juga setiap kata yang diucapkan. 
    Semua kita harus menghadap takhta pengadilan Allah. Kalau Tuhan Yesus berkata, “Setiap kata yang diucapkan seseorang, harus dipertanggungjawabkan,” maka betapa kita tidak boleh sembarangan hidup. Kalau kita tidak sungguh-sungguh mengelola hidup ini terkait dengan singkatnya waktu hidup dan kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan untuk mengalami proses perubahan, maka kita pasti akan gemetar di hadapan pengadilan Tuhan. Kuasa gelap akan membuat kita memiliki damai semu, ketenangan semu. Apalagi kalau kita sudah biasa menyelesaikan masalah dengan baik; masalah hukum, masalah yang terkait aparat keamanan, masalah perusahaan, masalah keluarga dan lain-lain. Tanpa sadar kita bisa menjadi tinggi hati dan merasa semua bisa dilewati dengan mudah.
    Memang kita bisa melewati semua masalah dalam hidup ini, tetapi kalau di hadapan pengadilan Tuhan, kita tidak bisa sembarangan. Jangan lawan Tuhan! Orang mau sombong apa? Walaupun dia cantik dan ganteng, kaya, kuat, tetapi semua akan berakhir. Sampai akhirnya dikubur, jadi tengkorak, tinggal tulang-belulang. Namun, bagi mereka yang tidak kaya, tidak berkedudukan, tidak punya nilai lebih di mata manusia, itu pun bisa sombong. Mungkin tidak sombong di hadapan manusia terang-terangan, tetapi ketika seseorang tidak merendahkan diri di hadapan Tuhan, tidak merasa membutuhkan Tuhan, sejatinya ia sombong. Maka, kita harus bertumbuh terus dalam penghayatan terhadap betapa singkatnya hidup kita di bumi ini.
    Betapa tidak berartinya manusia dengan 70-80 tahun masa hidup. Lalu, setelah itu lenyap, seperti uap, demikian firman Tuhan. Kiranya kesadaran ini membuat kita bisa berkata, “Aku memerlukan Engkau, Tuhan, lebih dari napas dan darah di dalam tubuhku, aku membutuhkan Engkau, Tuhan. Apa artinya aku memiliki semuanya,tetapi tidak memiliki Engkau, Tuhan.” Setan akan mencoba mengusahakan kita untuk selalu menunda pertobatan, yang akhirnya kita membatalkan pertobatan untuk selamanya. Setan bisa saja menyuntikkan ide dengan pikiran, “Masih ada waktu untuk berubah.” Begitu kita punya kebiasaan menunda, maka kita tidak akan sanggup untuk bertobat karena kita tidak punya irama pertobatan yang benar sejak muda.
    Setan membuat kita memiliki hati yang makin hari makin tidak lentur. Jangan kita berpikir bahwa bertobat hari ini sama dengan 5 tahun ke depan. Pasti itu berbeda. Apalagi kita hidup di dunia dengan segala pengaruh jahatnya. Seseorang akan sampai pada tingkat point of no return; titik tidak balik. Itu waktu yang ditunggu setan, titik di mana kita tidak bisa berubah. Terlalu duniawi, terlalu materialistis, serta keinginan-keinginan daging yang kuat. Kalau seseorang sudah punya irama yang salah, hari tuanya dia akan tetap di irama itu. Apalagi kalau soal konsep berpikir yang terkait dengan selera jiwa, pastinya tidak akan mudah berubah. Selera rohaninya lemah karena yang dia pikir hanya tentang kenikmatan hidup, entah itu kedudukan, entah itu uang, entah itu kehormatan, apa pun. Maka, ia sampai tidak bisa lepas dari itu; point of no return. 
    10 min
  • Bisa Kita Nikmati
    Kalau Allah benar-benar ada dan hidup, pasti Dia memenuhi apa yang dijanjikan bahwa Dia menyertai kita sampai kesudahan zaman. Dia beserta kita, maka mestinya Dia bisa kita nikmati dan keadaan kita mestinya baik-baik. Walaupun tentu ada pergumulan, persoalan, kesulitan, atau masalah, tetapi mestinya jiwa kita tetap teduh, tetap tenang, dan menikmati apa yang juga dijanjikan oleh Tuhan Yesus, bahwa damai sejahtera yang diberikan Tuhan kepada kita tidak sama dengan damai sejahtera yang diberikan dunia. Artinya, damai sejahtera atau suasana nyaman, teduh, tenang, bahagia, tanpa dipengaruhi oleh situasi lingkungan di sekitar kita. Dengan kalimat lain, Allah ingin bisa kita nikmati dan tentu saja Allah ingin bisa menikmati kita.
    Orang tua yang baik, pada akhirnya, tidak mengingini apa-apa kecuali melihat anaknya dewasa, mandiri, bahagia, sukses. Tuhan lebih dari itu. Seberapa kita memercayai Tuhan bahwa Tuhan itu baik? Tuhan tidak memanipulasi, memanfaatkan dan mengintimidasi kita. Jangan membayangkan Tuhan seperti ilah banyak dewa dalam banyak agama. Allah kita adalah pencipta langit dan bumi. Kasih adanya; Maha Kasih, Maha Baik. Dia hanya ingin kita berkeadaan baik-baik. Tanpa menuntut apa-apa, sebenarnya. Dia menciptakan kita bukan untuk mengintimidasi, memanfaatkan, mengeksploitasi, mengisap kita. Tetapi ada hukum yang tidak bisa dilanggar dan tidak bisa dibatalkan, ditolak, atau diganti, bahwa keadaan umat ciptaan akan baik-baik kalau di dalam persekutuan yang benar dengan Khaliknya. 
    Manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Manusia itu makhluk sosial; tidak bisa hidup sendiri, berarti membutuhkan orang lain untuk bersosialisasi, berinteraksi, ber-fellowship. Allah juga ternyata Pribadi yang mau ber-fellowship. Dia punya anak-anak, malaikat-malaikat; ada makhluk-makhluk surgawi. Dengan mereka, Allah ber-fellowship. Allah menciptakan manusia—anak istimewa yang ditaruh di bumi, yang diciptakan sungguh amat baik—supaya Allah bisa ber-fellowship. Itulah sebabnya dikatakan di dalam firman Tuhan, “Tuhan Allah berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk.” Jadi, Tuhan juga hadir di Taman Eden untuk ber-fellowship. Tuhan mau kita ber-fellowship dengan Dia. Masalahnya, apakah fellowship kita dengan Dia sudah benar? 
    Tuhan mau keadaan kita baik-baik. Walaupun banyak masalah, tetap kita baik-baik. Bahkan ketika masalah yang kita hadapi itu akibat kesalahan, keputusan yang keliru, keserakahan, atau liarnya pikiran yang kita lakukan tanpa minta petunjuk-Nya, Tuhan tetap mau bersama dengan kita, memberikan kekuatan dan penghiburan. Mulai hari ini mari kita benar-benar mempersoalkan apakah fellowship kita dengan Tuhan itu sudah benar atau belum? 2 Korintus 6:17, “Sebab itu: keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan, Yang Maha Kuasa.”  
    Kalimat “keluarlah kamu dari antara mereka” bisa berarti secara fisik agar kita jangan dekat bergaul dengan orang yang meracuni pikiran, dan memengaruhi gaya hidup kita. Walau tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari pertemanan dengan orang-orang di sekitar kita. Namun, jangan hidup sama seperti mereka yang tidak atau bukan umat pilihan. Itulah sebabnya menjadi hal yang sangat penting, untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita untuk kita lakukan setiap saat. Penting untuk memperkarakan hidup kita di hadapan Tuhan, apakah jalan kita sudah diperkenan Dia atau tidak. Masing-masing kita punya usia rohani yang berbeda. Tentu apa yang dikehendaki oleh Allah dalam hidup kita masing-masing pun berbeda. Namun, prinsipnya yaitu jangan serupa dengan dunia ini supaya kita mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). 
    “Yang baik” tentu ini ukuran secara umum.
    9 min
  • God is Silent
    It is good to silently wait for God’s help, though difficult. When serious or unsolved problems hit us, the threats against us get stronger and more threatening, then doubts can arise against God. Almost all Christians who God processes experience times like that. Disbelief arises towards God’s faithfulness, whether He exists, lives, and cares about us.
    We talk about God, who is Almighty, while we experience unresolved problems, either economic, family, or work. Sometimes we feel God is too late to help us, but God is never late. However, God is also in no hurry, for He is on time to help us. God will surely help. Remember what happened in John 11 about Lazarus, who was sick? God was told that Lazarus was ill; God did not come soon. Finally, Lazarus died. God seemed to buy time until Lazarus died. Martha told Jesus, “Lord if you had been here, my brother would not have died.” God was blamed because Martha demanded God act according to her way and schedule.
    Don’t we also often act like Martha? Maybe we have such a state and ask God, “Lord, why did you make this situation drag on like this? I am adrift in uncertainty.” God seems silent, but it does not mean He does not care because He works accurately. He wasn’t in a rush, nor was He slow. Suppose we see God as slow because we are not smart. On the other hand, it’s rare when someone has a problem, and God helps; then they say, “God, You help me so quickly, even though I’m still patiently waiting.” Never. What often happens is, “God, why is Your help slow?” People want God’s help as soon as possible, even though He has a schedule in our life struggles and plans to change us.
    One important sentence we must understand is that if the circumstances around us do not change—such as living situations, economy, household, spouse, parents, children, boss, subordinates, friends, colleagues, or anyone who disturbs our lives— we must change first. Don’t demand that our circumstances and environment change; don’t demand that others change while we haven’t changed ourselves. If God allows a situation to happen, He wants to process us. So, we must understand what God wants in our lives through that struggle. We should not rush to force God to change our circumstances. What we have to do is change ourselves.
    If our physical lungs have problems, we can have problems breathing and even die suddenly. However, if our spiritual lungs are damaged, we can appear to be in good health and still live life, and everything can run well, though, in fact, terrible. What good is it if our physical lungs are healthy but our spiritual lungs are sick? The breath of our spiritual life is incorrect, so we ask God not to call us home before we truly experience spiritual healing. Often when we are in serious trouble, we want it to pass quickly while the problem is allowed to happen to heal our spiritual life. We must have the courage to say, “Lord, don’t take this issue before I become more righteous and holier, and love You more, fear You, and become perfect in You.”
    We must dare to say so. If we now face serious problems, that seem to take away happiness and the joy of life, we understand that God allows these things to happen for our eternal destiny. So, if we claim to believe in God, we must also acknowledge and believe in His wisdom. What God allows us to experience brings goodness. We shouldn’t pretend to know, be smart, or be wise. We must believe what God is doing is good.
    Suppose we see Joseph’s story, how his brothers almost killed him. He was thrown into a well, then lifted from the well; instead of being helped, he was sold as a enslaved person. The life of Joseph was destroyed. He was separated from his parents, from Jacob, who loved him very much. Joseph became enslaved. Then at Potiphar’s house,
    10 min
  • Allah Diam
    Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan, tetapi ini tidak mudah. Ketika kita dilanda persoalan atau masalah berat yang tidak kunjung selesai, lalu ancaman terhadap kita semakin kuat, semakin mengancam, maka timbul keraguan terhadap Tuhan. Timbul ketidakpercayaan terhadap kesetiaan Allah, apakah Allah benar-benar ada, hidup, dan memedulikan kita. Hampir semua orang Kristen yang diproses Tuhan, mengalami masa-masa seperti itu. 
    Bicara mengenai Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Kuat, tetapi kita sendiri mengalami masalah yang tidak kunjung selesai. Masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan. Kadang kita merasa Tuhan terlambat menolong kita, tetapi sejatinya Tuhan tidak pernah terlambat. Namun, Tuhan juga tidak buru-buru. Tuhan tepat waktu menolong kita. Tuhan pasti menolong. Ingat, yang terjadi di Yohanes 11 mengenai Lazarus yang sakit? Tuhan diberitahu bahwa Lazarus sakit, Tuhan tidak segera datang. Akhirnya, Lazarus meninggal. Tuhan seperti mengulur waktu sampai Lazarus meninggal. Marta berkata kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Tuhan dipersalahkan. Marta menuntut Tuhan agar Tuhan bertindak sesuai dengan cara dan jadwalnya. 
    Bukankah kita juga sering bertindak seperti Marta? Mungkin kita mengalami keadaan seperti ini? Kita bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau membuat keadaan ini berlarut-larut demikian? Aku terkatung-katung dalam ketidakpastian.” Tuhan seperti diam; seperti The Silent God. Allah diam, bukan berarti Allah tidak peduli, melainkan karena Allah bekerja dalam ketepatan. Dia tidak buru-buru, juga tidak lambat. Kalau kita memandang Tuhan itu lambat, karena kita tidak cerdas. Sebaliknya, jarang ketika seseorang punya masalah, lalu Tuhan tolong, dia berkata, “Tuhan, cepat sekali menolong saya, padahal saya masih sabar menunggu.” Tidak pernah. Yang ada, “Tuhan kok lambat, ya?” Orang mau ditolong Tuhan secepat-cepatnya, padahal Tuhan memiliki jadwal dalam pergumulan hidup yang kita hadapi. Tuhan punya rancangan-rancangan untuk mengubah kita. 
    Satu kalimat penting yang harus kita tangkap, yaitu kalau keadaan sekitar kita tidak berubah—situasi hidup, situasi ekonomi, situasi rumah tangga, pasangan hidup, orang tua, anak, bos, bawahan, teman, kolega, atau siapa pun yang mengganggu hidup kita—maka kita yang berubah dulu. Jangan menuntut keadaan dan lingkungan kita berubah, jangan menuntut orang lain berubah, sementara kita sendiri belum berubah. Kalau Tuhan mengizinkan satu keadaan terjadi di dalam hidup kita, Tuhan mau proses kita. Maka, kita harus mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita melalui pergumulan itu. Mestinya kita tidak buru-buru memaksa Tuhan mengubah keadaan kita. Yang kita harus lakukan adalah mengubah diri kita. 
    Kalau paru-paru jasmani kita bermasalah, kita bisa terengah-engah, bahkan bisa mati mendadak. Namun, kalau paru-paru rohani kita yang rusak, kita kelihatannya sehat-sehat saja. Bisa tetap menjalani hidup, semua bisa running well. Padahal, mengerikan. Untuk apa paru-paru jasmani kita sehat, tetapi paru-paru rohani kita sakit? Nafas hidup rohani kita tidak benar. Kita minta kepada Tuhan agar jangan memanggil kita pulang sebelum kita benar-benar mengalami kesembuhan secara rohani. Sering kali kita itu dalam persoalan berat, mau cepat-cepat persoalan itu berlalu atau lewat. Padahal, persoalan itu diizinkan terjadi untuk menyembuhkan kehidupan rohani kita. Kita harus berani berkata, “Tuhan, jangan angkat masalah ini sebelum saya menjadi lebih benar, sebelum saya menjadi lebih kudus, sebelum saya menjadi makin mengasihi Engkau, takut akan Engkau, dan sempurna di dalam Engkau.” 
    Kita harus berani mengatakan begitu. Kalau sekarang kita menghadapi masalah-masalah berat, yang sepertinya menyita kebahagiaan dan merenggut sukacita hidup, kita mengerti bahwa demi nasib kekal kitalah Tuhan mengizinkan kejadian itu terjadi. Jadi kalau kita mengaku percaya Tuhan, itu berarti kita juga mengakui, memercayai kebijaksanaan-Nya.
    10 min
  • Menciptakan Kontras
    Ada tugas besar yang sangat mulia yang harus kita lakukan di ujung akhir zaman ini, yaitu menjadi saksi kebenaran. Bagaimana kita dapat menjadi saksi kebenaran? Yaitu dengan menampilkan atau memperagakan kebenaran di dalam hidup kita. Kita bersyukur karena Tuhan membukakan kebenaran-Nya terus-menerus kepada kita, yang akhirnya, kita dipaksa untuk terus menggali kebenaran yang Tuhan telah berikan. Tentu kita juga dipaksa untuk mengenakan atau melakukan kebenaran tersebut. Di ujung akhir zaman sebelum Tuhan datang kembali, Tuhan mau menunjukkan kekristenan yang sejati, kekristenan yang benar. Sekaligus mengarahkan kehidupan kita ke Kerajaan Surga. 
    Jadi, kita jangan puas bicara mengenai kebenaran, karena kita ada di lingkungan Suara Kebenaran, tetapi kita harus benar-benar memperagakan kebenaran tersebut dan menciptakan kontras. Tidak bisa tidak, harus ada kontras yang kita ciptakan, kita bangun. Kalau kita menjadi Kristen dengan standar yang rendah—yang sama artinya dengan Kristen palsu, tidak original, kekristenan agamawi, bukan kekristenan yang murni—maka berarti kita tidak menciptakan kontras. Setan itu cerdik, bagaimana membuat kekristenan tidak nampak palsu, tidak hitam, tetapi juga tidak putih; abu-abu. Kristen abu-abu ini tidak menciptakan atau tidak mengakibatkan kontras. Kalau kita mengenakan kebenaran yang murni, menghidupi kebenaran itu di dalam diri kita, dan mengenakan kekudusan Allah dengan prinsip-prinsip kebenaran, maka lahirlah kontras. 
    Apa ciri seseorang yang hidupnya melahirkan kontras? Kesucian yang tajam, tidak mencintai dunia, tekun mencari Allah, ratapan terhadap Tuhan, kesediaan mempersembahkan hidup tanpa batas, tidak memikirkan diri sendiri, memikirkan orang lain dan jiwa-jiwa yang diselamatkan. Bukan hanya sekadar membuat misi-misi penginjilan, tetapi dengan ratapan terhadap jiwa-jiwa itu. Ini akan menimbulkan kontras. Kita percaya, ini menjadi peringatan bagi dunia dan khususnya bagi umat Kristen, yang suatu hari orang-orang Kristen tidak bisa berdalih: “Saya tidak tahu.” Mestinya tahu. Terlebih dengan dihadirkannya orang-orang Kristen yang secara konsisten dan konsekuen mengenakan kebenaran itu. 
    2 Petrus 2:3 tertulis, “Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu, akan berusaha mencari untung dari kamu dengan cerita-cerita isapan jempol mereka.” Isapan jempol; khotbah-khotbah yang kelihatannya akademis, tetapi tidak mengubah orang, tidak mengarahkan orang ke langit baru bumi baru, tidak mengarahkan orang meninggalkan percintaan dunia. Itu isapan jempol. “Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.” Ini menjadi perhatian kita, khususnya bagi para pendeta dan pemberita Firman, jangan mengajarkan sesuatu yang tidak prinsip. Jangan menjelaskan sesuatu yang remeh. Namun, kita harus bicara tentang kekekalan, tentang surga neraka, kehidupan di balik kubur. Di luar itu, isapan jempol. Kita harus membuat kontras.
    2 Petrus 2:4, “Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman.” Guru palsu maupun malaikat, tidak disayangkan. Kalau tidak hidup dalam standar Allah, dibuang. Ayat 5, “Dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik.” Ayat ini kita akan pahami kalau kita membaca Kejadian 6:5, “Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi, dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” 
    Kalau kita melihat kehidupan Nuh—sebagaimana yang dikatakan firman Tuhan bahwa Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup ber...
    8 min
  • Tuhan Pegang Hari Esok
    Allah yang Maha Cerdas menciptakan kehidupan dengan tatanan. Di kekekalan pun ada tatanan. Kalau tidak ada tatanan, kehidupan akan seperti bola liar yang menggelinding ke mana pun dia mau, tak terkendali. Betapa kacaunya kalau kehidupan tanpa tatanan. Maka, segala sesuatu itu bisa dipetakan. Keadaan manusia itu bukan berada di bawah takdir yang tidak jelas, tetapi di bawah tatanan. Celaka atau tidak celaka, itu bisa dipetakan. Kalau kita berpikir bahwa hari esok itu seperti sebuah teka-teki, keadaan seseorang ditentukan oleh takdir yang dia sendiri tidak tahu, lalu biasanya untuk menjadi lebih rohani atau lebih menghormati Tuhan, ia berkata, “Ya, terima saja apa yang akan terjadi.” 
    Tuhan kita bukanlah Tuhan yang seperti itu, yang mengendalikan manusia suka-suka sendiri dengan penuh misteri, dan manusia harus menerima apa yang telah digariskan, ditetapkan seperti sebuah skrip, skenario, yang seseorang harus menjalani sesuai dengan skrip itu. Manusia harus menentukan, memetakan takdirnya sendiri. 2 Samuel 22:25 merupakan nyanyian Daud waktu Tuhan melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya, termasuk dari Saul. Tidak diragukan, Daud adalah seorang yang bergaul dengan Allah. Kalau dia tidak bergaul dengan Allah, anak muda yang hanya bergaul dengan domba, tidak mungkin berani berlaga melawan Goliat yang tingginya hampir 3 meter. Sementara sekian ribu tentara Israel, takut. Daud—tanpa pakaian perang, tanpa senjata perang—berani melawan Goliat. 
    Daud berkata, “Kamu datang dengan tombak dan lembing, aku datang dalam nama Tuhan. Kamu punya kesaktian, aku punya kesaktian juga. Ayo, kita adu mana yang lebih sakti,” kira-kira begitu. Daud memang sakti dan kesaktiannya sudah teruji. Yang dihadapi Daud ini bukan kelinci, ular kecil, tikus atau kecoa. Yang dihadapi itu beruang dan singa, waktu dia menggembalakan domba. Singa dan beruang pun takut. Senjatanya bukan M-16, namun semacam ketapel  Kita pasti bisa membayangkan, pada waktu Daud mendekati singa, tidak mungkin dalam jarak 20-30 meter. Dia pasti mencoba sedekat mungkin. Jadi, dia sudah melatih imannya. Di 2 Samuel 22 tertulis, “Tuhan itu pelindungku, kekuatanku.” Jangan berpikir itu iman dadakan. Dia sudah berlatih. Iman itu dilatih. 
    Daud menulis seperti itu karena Daud punya pengalaman. Dia bukan sembarang manusia, dia manusia unggul yang bergaul dengan Allah. Biar anak kampung, tukang angon, tetapi dia manusia unggul. Orang yang bergaul dengan Tuhan pasti unggul. Sebaliknya, orang yang tidak punya jam doa tiap hari, tidak mungkin unggul. Biarpun dia seorang pendeta, teolog yang dari pagi sampai sore ada di perpustakaan, tetapi kalau tidak bertemu dengan Tuhan setiap hari, tidak mungkin unggul dan tidak mungkin rohani. Juga, tidak mungkin hidup suci dalam standar Allah, karena dia tidak bersentuhan dengan Yang Maha Kudus. 
    Kita sering lupa—atau bahkan tidak tahu—bahwa sesungguhnya kita lebih kuat dari apa yang kita duga, kalau Allah ada di dalam kita. Ironis, banyak orang tidak yakin Allah bahwa itu ada. Dari gaya hidupnya, kita bisa membaca bahwa mereka hanya setengah percaya. Kalau seseorang yakin bahwa Allah itu ada, ia pasti berurusan dengan Dia. Mari kita memetakan hidup kita, baik di bumi maupun di kekekalan. Terlebih lagi untuk kekekalan. Di bumi, apa pun yang terjadi tidak masalah. Punya jodoh atau tidak, punya anak atau mandul, kaya atau miskin. Apa pun yang terjadi, tidak masalah. Masalah besar hanya satu, yaitu kalau seseorang terpisah dari hadirat Tuhan. Akhiri jalan hidup kita di hadirat Tuhan.
    Yang menentukan segala sesuatu adalah Tuhan karena Dia mempunyai segala kuasa, kerajaan, dan kemuliaan. Dia tidak bertindak tanpa aturan. Di dalam 2 Samuel 22:25 dikatakan, “Karena itu, TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucianku di depan mata-Nya.” Sementara setan bicara, “Ya, mudah-mudahan hari esokmu bagus. Memang hidup ini tidak jelas. Tidak jelas nasibmu bagaimana. Maka, tanya peramal, bintangmu apa,
    10 min
  • Berpikir Sederhana
    Jika kita mau memperhatikan hidup kita dengan teliti, dengan kerinduan hati kepada Tuhan, maka kita akan dapat melihat betapa Tuhan sangat memperhatikan kita dalam segala hal. Dari hal-hal yang mungkin kita pandang sepele, kita anggap sederhana, namun ternyata Allah turut memperhatikan. Sebab jika tidak, bahaya keadaan kita. Yang kedua, kita tidak dapat masuk ke dalam proses untuk bertumbuh dewasa. Misalnya, waktu kita berkendara lalu ada orang yang berlambat-lambat berhenti di depan kita untuk menurunkan penumpang, seakan-akan ia yang memiliki jalan itu. Dengan santai dia juga menurunkan barang, sambil mengobrol dengan orang di sebelahnya. Rasanya kita mau marah karena kesal. Namun, ternyata keterlambatan itu justru menyelamatkan kita. Karena ternyata di depan kita ada satu truk yang remnya blong. Seandainya kita tidak dihambat oleh orang di depan kita itu, maka kita bisa saja mengalami kecelakaan. Ini contoh yang sederhana. Masih banyak hal lain yang Tuhan lakukan di luar pengetahuan kita. 
    Bapa di surga mengendalikan segala sesuatu untuk melindungi kita. Jadi, mestinya tidak ada sesuatu hal apa pun yang membuat kita beralasan untuk berkeluh-kesah, bersungut-sungut, dan mempersalahkan orang lain. Itulah hal yang selama ini sering dilakukan oleh banyak orang. Mari kita sadar dan menerima bahwa Bapa mengizinkan segala sesuatu terjadi untuk kebaikan kita (Rm. 8:28), dengan cara menghindarkan kita dari bahaya, dan juga Dia mendewasakan kita dalam segala hal. Di luar pengertian, di luar pengetahuan kita, di luar kecerdasan dan hikmat manusia, “Allah mengizinkan segala sesuatu terjadi agar kita menjadi dewasa.”
    Oleh sebab itu, kita harus berpikir sederhana. Berpikir sederhana artinya tidak ada yang kita mau capai dalam hidup ini kecuali kita menyenangkan hati Tuhan. Memang hal Ini tidak mudah, karena irama hidup kita banyak yang sudah salah, sudah keliru selama belasan bahkan puluhan tahun. Namun, ketika kita mau belajar sungguh-sungguh hidup hanya untuk menyenangkan Tuhan, maka kita tahu bahwa “tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak Allah.” Jadi, kalau kita bersungut-sungut, marah, mengomel, sejatinya secara tidak langsung kita memarahi keadaan dan memarahi Tuhan; dan itu sebenarnya adalah sikap tidak hormat, dan ironisnya, itu yang sering kita lakukan. 
    Pada hari ini kalau Tuhan bicara kepada kita, mengingatkan kita untuk hal ini, mari kita mau serius untuk bertobat dan kita tidak melakukannya lagi. Tentu kita perlu waktu dan juga berproses, tetapi jangan lama-lama. Tuhan teliti dalam segala hal untuk menghindarkan kita dari kerugian, kecelakaan, malapetaka dan sekaligus mendewasakan kita. Untuk bisa menerima hal ini, maka cara berpikir kita harus teosentris; harus berpusat pada Allah saja, bukan berpusat pada diri sendiri. Kalau kita masih berpusat pada diri sendiri, pasti kita tidak mau mengerti mengapa hal ini terjadi. Kita akan marah, bersungut-sungut, mengomel, kesal, dan itu merusak jiwa kita. 
    Kita harus teosentris dengan satu pernyataan, “Biar kehendak-Mu yang jadi, Bapa. Jadilah seturut apa yang Kau ingini. Walau aku tidak tahu mengapa terjadi hal ini, tetapi aku percaya dan belajar menerima.” Itu teosentris dan memang hal itu tidak mudah kita jalani. Orang yang teosentris, cepat atau lambat dia bisa mulai mengenali antara manusia lama dan manusia baru. Jangan kita anggap ini perkara sederhana. Menemukan manusia baru dan mengenali manusia lama, tidak mudah. Karena kita sudah lama hidup dengan “si aku” kita, sehingga kita tidak bisa membedakan mana manusia baru kita yang berkenan di hadapan Allah, yang menyenangkan hati Allah, dan manusia lama kita yang pasti masih egosentris. 
    Manusia baru pasti teosentris; berpusat pada Allah. Kalau kita belajar untuk berpusat pada Allah, maka prinsip hidup kita adalah: “Kehendak-Mulah yang jadi, Bapa. Walau aku tidak tahu, aku percaya, aku menerima.” Hal ini memang sulit, maka kita harus belajar terus.
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…