Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Harga Keberhasilan
    Kalau kita bisa keluar dari belenggu cara berpikir duniawi yang masih memandang hidup dari perspektif kefanaan, sungguh betapa indahnya. Perspektif kefanaan artinya hidup yang hanya diisi dengan keinginan untuk memiliki pemenuhan kebutuhan jasmani, kebutuhan materi, tetapi kalau kita bisa keluar dari belenggu ini, maka kita bisa menembus batas. Bukan berarti hal duniawi itu tidak penting, tetapi orang percaya yang benar pasti dipelihara Tuhan—entah jadi kepala, badan, atau ekor—yang penting kita efektif untuk Kerajaan Surga. Entah kita naik mobil mewah, setengah mewah, motor, atau kendaraan umum, yang penting kita terus disempurnakan untuk menjadi orang yang layak masuk ke dalam Rumah Bapa sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah. Kita tidak sedang berpikir fatalistik, seakan-akan kita tidak butuh dunia ini. 
    Kita harus bekerja keras, hidup bertanggung jawab sesuai dengan pilar ketiga Gereja Suara Kebenaran Injil. Tentu kalau orang bekerja keras dan bertanggung jawab, Tuhan pasti berkati. Jadi sebenarnya ada hukum alam yang sudah merupakan tatanan yang Tuhan buat. Bahwa kalau orang bekerja keras, pasti memperoleh apa yang patut diterimanya. Bukan secara mistik karena memberikan perpuluhan, rajin ke gereja, maka seseorang jadi direktur. Kita tidak ikuti cara-cara berpikir seperti itu. Mari kita berpikir sebagai anak-anak Allah dengan kecerdasan rohani yang proporsional. 
    Mari kita merenung, apa yang bisa paling kita sesali sebelum menutup mata? Sejatinya, yang paling kita sesali adalah ketika kita gagal mencapai hal-hal yang bernilai kekal. Ketika seseorang berada di ujung maut dan dia harus melepaskan segala sesuatu, maka dia sadar bahwa yang dibutuhkan adalah hal-hal kekekalan. Pastinya, yang paling dia sesalkan adalah ketika dia tidak menggunakan waktunya untuk mengumpulkan harta di surga.
    Tuhan ingatkan satu hal, yaitu: kalau kita mau berhasil, lihatlah tokoh-tokoh iman dalam Alkitab, bagaimana dan berapa mereka membayar harga keberhasilannya. Misalnya, Abraham. Ia merupakan sosok manusia yang sukses, sehingga disebut sebagai bapak orang percaya. Ini tidak main-main. Kalau sampai disebut “bapak orang percaya,” itu pasti luar biasa. Artinya, percaya kita harus mengacu pada model percayanya Abraham. Abraham disebut bapak orang percaya, karena tindakannya. Apa yang dilakukan Abraham? Dia rela kehilangan apa pun demi yang dipercayainya. Ini baru percaya yang benar. Bukankah Abraham disebut sebagai sahabat Allah, sebagai orang percaya, ketika ia mempersembahkan anaknya, Ishak? Mari kita renungkan betapa hebat pria satu ini. Pasti tidak ada sesuatu yang lebih disayangi Abraham, selain Ishak. 
    Ketika Allah meminta Abraham untuk mempersembahkan anaknya, Ishak, tidak ada adu argumentasi di situ. Tidak ada tawar-menawar dengan Tuhan. Jawaban Abraham hanya, “ya.” Lalu satu hal yang kemudian kita peroleh adalah kalau kita percaya Tuhan Yesus dengan percaya yang benar, maka kita harus rela kehilangan apa pun. Hal yang paling berat yaitu kehilangan diri kita sendiri; harga diri, perasaan, nafsu, atau ego, tetapi tanpa melakukan hal ini, artinya kita tidak percaya dengan benar kepada Tuhan Yesus. Sebab orang yang percaya dengan benar, haruslah membunuh dirinya dan menghidupkan Yesus di dalam hidupnya. Sungguh, tidak ada hidup sukses yang lebih dari ini. 
    Jadi kalau Alkitab mengatakan, “Kumpulkan harta di surga,” berarti kita mengumpulkan karakter Kristus di dalam diri kita, menghidupkan karakter Kristus. Ingat, karakter Kristus tidak bisa hidup di dalam diri kita, kalau kita masih memiliki karakter kita sendiri. Maka, Tuhan sering mengatasi manusia lama kita dengan pukulan-pukulan, dengan hajaran-hajaran. Ini simultan dengan cara kita memandang segala sesuatu dari sudut kekekalan tadi. Percayalah, oleh pimpinan Roh Kudus, mestinya kita bisa mengukur seberapa kita telah ‘sukses.’ Mestinya kita bisa, karena Roh Kudus pasti beritahu, “Yang ini kamu belum benar. Yang itu bukan karakter Kristus. Yang ini,
    8 min
  • Meraih Sebanyak-banyaknya
    Tidak ada orang tua yang menghendaki anaknya gagal. Orang tua pasti menghendaki anaknya berhasil, sukses, dan dapat mencapai prestasi setinggi-tingginya. Demikian pula dengan Tuhan. Apalagi Tuhan, Ia menghendaki kita mampu mencapai prestasi atau keberhasilan setinggi-tingginya yang dapat kita capai. Tentu saja dalam hal ini yang dimaksud adalah keberhasilan dan sukses yang berkualitas sempurna, sesuai dengan standar Allah Bapa, sesuai dengan standar Tuhan. Maka, dalam hal ini kita harus belajar untuk sungguh-sungguh mengerti apa yang Allah kehendaki; bagaimana versi keberhasilan menurut Tuhan itu. Ingat, kita hanya punya satu kali kesempatan hidup di bumi, yang tidak lebih dari 100 tahun. Tuhan tidak menginginkan kita meraih sebanyak-banyaknya apa yang dapat diraih di bumi ini, tetapi tidak meraih apa yang bernilai kekal. 
    Harus diingat, kita adalah makhluk kekal. Maka, kita harus melihat segala sesuatu dari sudut pandang kekekalan. Tidak banyak orang yang sudah bisa menyeberang, melintasi batas. Maksudnya “melintas batas” ini adalah tidak lagi memiliki sudut pandang kefanaan, tetapi memandang segala sesuatu selalu dengan sudut pandang kekekalan. Hal ini hanya bisa dialami oleh orang yang mau belajar kebenaran firman Tuhan dengan benar dan bergaul dengan Tuhan, sehingga mengalami perjumpaan yang nyata dengan Tuhan. Memang hal ini perlu waktu dan melewati sebuah proses. Sebenarnya ketika Tuhan Yesus berkata di Injil Matius 6:19-21, Tuhan Yesus mengarahkan kita untuk memiliki sudut pandang atau cara pandang kekekalan. “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Lalu diakhiri di ayat 21 dalam konteks ini, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Di Kolose 3 Rasul Paulus menulis, “Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” 
    Kalau jujur kita akui, bertahun-tahun menjadi orang Kristen, berbicara mengenai surga, atau mendengar mengenai hal ini, tetapi hati kita masih sulit kita pindahkan ke Kerajaan Surga. Hal itu terjadi karena kita masih punya banyak kegemaran dan kesukaan dari fasilitas dan hiburan dunia ini. Mungkin bagi banyak orang percaya, hal ini terkesan berlebihan, munafik, dan tidak realistis. Namun, kita tetap harus berkomitmen memaksakan diri. Kalau kita masih mengikuti keinginan daging, keinginan jiwa dengan seleranya yang terbentuk sejak kanak-kanak, maka kita tidak akan bisa menembus batas. Namun, kita harus mencoba untuk mengarahkan hati kepada Tuhan, lalu kita membuat komitmen-komitmen, janji-janji, sumpah atau perjanjian dengan Tuhan. Selanjutnya, kita akan menemukan satu hal dalam hidup ini, bahwa orang yang serius mengadakan perjanjian dengan Tuhan, maka Tuhan akan menolongnya untuk bisa memenuhinya. 
    Walaupun kita tidak akan sanggup memenuhinya, tetapi kita harus berniat dan bertekad. Terkesan ada unsur munafik, tetapi kita serius mau mencapai apa yang Tuhan kehendaki, lalu apa yang terjadi? Tuhan mengguncang hidup kita dengan banyak persoalan, dengan banyak pergumulan, kepedihan hidup. Semakin kita bisa memenuhi apa yang kita komitmenkan, kita janjikan kepada Tuhan, proses inilah yang membuat kita bisa melintasi batas. Walaupun tentu sekarang kita belum sempurna, tetapi kerinduan kita akan Tuhan akan menjadi semakin kuat. Keberanian kita untuk dijemput pulang Tuhan ke Rumah Bapa pun bertambah pasti. Percayalah, Tuhan menilai baik dan menghargai kenekatan kita. 
    Memang harus didorong oleh hati yang mencintai Tuhan dan memiliki pikiran realistis rohani. Realistis rohani, bukan realistis duniawi. Sebab kalau kita bicara soal langit baru bumi baru, surga, kekekalan, itu dianggap mimpi; tidak realistis. Namun, kalau kita belajar kebenaran, maka kita pasti berhitung di mana hidup kita di bumi ini paling lama hanya 100 tahun dan sungguh menghayati manusia sebagai makhluk kekal. Maka, adalah realistis kalau kita memilih kehidupan di balik kubur yang kekal itu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kekekalan. Salah satu ciri dari orang yang sudah bisa melihat segala sesuatu denga...
    7 min
  • Pemetaan Hidup
    Setiap orang memiliki keunikan, kekhasan dalam bersekutu dengan Tuhan. Yang penting di sini adalah seberapa bulat, utuh dan kuat kita mau mencari Tuhan. Ada bagian yang harus kita penuhi untuk membulatkan, membuat utuh pencarian kita akan Allah. Itu bagian kita yang Tuhan tidak akan kerjakan di dalam diri kita. Kita yang harus membuatnya sendiri. Ketika kita mengambil keputusan untuk meninggalkan semua kesenangan dunia—semua hal yang dulu menyenangkan, membahagiakan kita, yang sekarang pada umumnya orang memandang itu sebagai kebahagiaan atau kesenangan—itu sepenuhnya bagian kita. 
    Kita harus dengan sadar, rela, memiliki prinsip bahwa hanya Tuhan yang kita butuhkan. Memang mungkin kita belum merasa penuh, tetapi harus berani mengambil keputusan dulu, karena kita belajar dari firman Tuhan, bahwa Tuhan adalah air kehidupan. Hanya Tuhan kita butuhkan. Sebagaimana ditulis dalam Mazmur 73, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Juga di Mazmur 42, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku merindukan Engkau.” Tentu banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa Tuhan adalah kebutuhan utama dan satu-satunya. 
    Jangan kita menunggu jadi ekstrem, fanatik, sungguh-sungguh, menyala-nyala di dalam Tuhan. Jika kita hanya menunggu hal itu, selamanya kita tidak akan pernah mengalami. Memang, kadang-kadang Tuhan memberikan kejutan. Entah firman Tuhan yang menyentuh kita, mukjizat yang kita lihat atau alami, lalu mendorong kita untuk mencari Tuhan. Memang bisa, tetapi tidak selalu begitu. Yang pasti, kita yang harus membuat diri kita membara mencari Tuhan. Kita yang harus membuat diri kita ekstrem dan fanatik, yaitu dengan menanggalkan semua yang menurut konsep umum membahagiakan. Kita tanggalkan dan berkata, “Hanya Engkau, Tuhan, yang kuperlukan.” 
    Saat kita masuk ke wilayah itu, kita bisa merasa terus bertumbuh dan membuktikan ternyata Dia kita butuhkan lebih dari nafas dan darah kita. Jangan terlambat, sebab kalau sampai terlambat, hati kita sudah biasa terbagi dengan dunia, kita tidak bisa mencintai Tuhan lagi. Jadi, jangan pikir bertobat hari ini dengan minggu depan, bulan depan, atau tahun depan, sama. Tidak sama. Semakin cepat kita bertobat, semakin dini kita melepaskan percintaan dunia, maka semakin cepat pula kita membangun diri. 
    Jangan menunggu waktu itu, tetapi kita yang harus menciptakannya. Itulah sebabnya Tuhan memberi kehendak bebas atas kita. Supaya dengan kehendak bebas itu, kita memetakan hidup kita. Bukan Tuhan yang memetakan hidup kita. Memang Tuhan memiliki rancangan-rancangan yang indah, menyediakan peta-peta kehidupan yang indah, tetapi kita yang harus menentukan; apakah kita menerima pemetaan Tuhan atau membuat pemetaan sendiri. Betapa luar biasa, indah, dan hebatnya kalau kita berani mengambil keputusan: “Hanya Engkau, Tuhan, yang kubutuhkan. Tidak ada yang lain.” 
    Kita akan bisa mengecap Tuhan, mengalami Tuhan, bahwa Dia hidup, Dia hadir. Sampai terjadi perjumpaan antara perasaan kita dengan perasaan Tuhan. Ada perjumpaan antara pikiran kita dengan pikiran Tuhan, ketika kita menemukan apa yang Allah rancang di dalam hidup kita. Betapa indahnya hidup seperti ini. Kita bisa mengalami kemuliaan Tuhan, bahwa Allah itu dahsyat. Tidak usah menunggu kita meninggal dunia, sekarang pun kita sudah bisa melihat dan mengalami kemuliaan Allah dan gemetar. Waktu kita doa menghadap Tuhan, kita gemetar. Allah itu dahsyat. Seharusnya, itu bukan satu pengalaman yang istimewa, melainkan suatu hal standar bahwa Allah yang hidup dan hadir, bisa menyentuh kita. Itulah sebabnya kita harus sungguh-sungguh mencari Tuhan. 
    Sediakanlah waktu setiap hari 1 jam, 30 menit paling sedikit, duduk diam di hadapan Tuhan. Pikirkan Tuhan siang dan malam. Kita bekerja atau melakukan segala sesuatu, kita lakukan untuk Tuhan. Meyakini Dia Allah yang hidup dan nyata. Meyakini bahwa kita akan menemukan Dia.
    10 min
  • Perjumpaan dalam Pikiran dan Perasaan
    Yeremia 29:13-14, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati. Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.” 
    Ini adalah dua ayat dari sekian ayat lain yang menunjukkan bahwa Tuhan pasti dapat ditemukan oleh orang-orang yang mencari Tuhan dengan segenap hati. Kiranya Tuhan memberikan kepada kita gairah, semangat untuk mencari Tuhan sampai kita benar-benar menemukan Tuhan. Kita tidak mungkin bisa hidup suci dan meninggalkan percintaan dunia, kalau kita tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Sebanyak apa pun ilmu tentang Tuhan yang dimiliki seseorang, atau sebanyak apa pun teologi yang dimiliki seseorang, tidak akan cukup membuat orang itu menghormati Tuhan secara patut, tidak cukup membuat orang itu takut akan Allah secara benar. 
    Ini adalah kunci penting dalam hidup kekristenan. Namun sayangnya, hal ini telah ditinggalkan oleh banyak orang; ditinggalkan oleh para teolog, para pemimpin gereja. Karenanya, gereja mengalami degradasi atau kemerosotan selama berabad-abad. Kalimat “Cari Aku, kamu akan menemukan Aku,” hal ini tidak boleh hanya dipahami belajar tentang Tuhan atau belajar ilmu teologi. Mencari Tuhan haruslah usaha yang konkret untuk menjumpai Dia, sehingga ada keterlibatan seluruh komponen diri kita, baik tubuh, jiwa, dan roh. Karena Allah memiliki pikiran dan perasaan, maka mestinya perjumpaan dengan Allah merupakan perjumpaan di dalam pikiran dan perasaan. 
    Perjumpaan dalam perasaan, artinya kita merasakan apa yang dirasakan Tuhan; perjumpaan dalam pikiran, artinya kita bisa mengerti apa yang Dia ingini, Dia kehendaki di dalam hidup kita untuk kita lakukan. Rencana-rencana Allah untuk kita penuhi di dalam hidup ini. Hal ini tidak bisa ditemukan melalui buku literatur, tidak bisa. Tidak akan cukup hanya mendengarkan orang berkhotbah, tidak bisa. Harus ada perjumpaan langsung dengan Dia. Kalau firman Tuhan mengatakan “Kecaplah,” berarti ada sesuatu yang kita rasakan, baik tubuh, jiwa, dan roh kita. 
    Memang menyedihkan sekali kalau di lingkungan Sekolah-sekolah Tinggi Teologi, hal yang bersifat supranatural yang tidak bisa dibuktikan atau diverifikasi ala sains dianggap nonsens dan dipandang membahayakan. Jadi, kita bisa melihat orang-orang yang belajar teologi, makin tinggi semesternya, semakin tinggi stratanya—sarjana S1, magister S2; doktor S3—makin menjauhi pengalaman-pengalaman riil dengan Tuhan. Mereka makin menjauhi apa yang dipandang sebagai subjektivitas. Padahal, Allah itu pribadi. Perjumpaan dengan Allah selalu subjektif; tetapi subjektif juga tidak selalu salah. Memang pengalaman seseorang tidak boleh dipaksakan dikenakan ke orang lain, tetapi bisa menjadi pertimbangan. Subjektivitas setiap orang menjadi dasar orang itu bertumbuh. Betapa merosotnya nilai-nilai kekristenan ketika pengetahuan tentang Tuhan atau teologi yang diperoleh di bangku Sekolah Tinggi Teologi atau dari jurnal-jurnal ilmiah teologi dianggap sebagai penemuan dengan Tuhan. Hanya melibatkan rasio atau pikiran. Jika demikian, orang yang tidak beragama Kristen pun juga bisa membuat jurnal-jurnal teologi semacam itu. 
    Yohanes 21:25 tertulis, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” Apa yang dikatakan Tuhan memiliki banyak dimensi yang bisa tidak terbatas. Setiap orang harus dapat menemukan dimensi itu, sesuai dengan pengalaman hidup yang dia alami. Setiap orang menemukan kekayaan perkataan Tuhan; kekayaan firman Tuhan dia alami. Kalau satu miliar orang? 10 miliar orang? Kekayaan firman Tuhan tidak terbatas,
    9 min
  • Yang Terhilang
    Ciri atau standar dari orang yang terhilang, bukan hanya tidak ke gereja atau hidup dalam perbuatan-perbuatan yang melanggar moral. Sebenarnya, standar yang benar atas orang yang terhilang adalah ketika orang tersebut tidak hidup menurut kehendak Allah. Maka, di dalam konteks Kristen, konteks anak-anak Allah, walaupun dia orang yang bermartabat baik, santun, tetapi kalau dia tidak berjalan sepikiran dan seperasaan dengan Tuhan, berarti dia terhilang. Sebab, standarnya adalah sepikiran dan seperasaan dengan Tuhan. Ini tidak berlebihan, karena Tuhan Yesus berbicara kepada kita: “Kamu harus sempurna seperti Bapa.” Jadi, tidak boleh meleset. 
    Sempurna seperti Bapa bukan bermaksud kita mau menyaingi Bapa yang adalah Allah, tetapi segala sesuatu yang kita pikirkan, renungkan, ucapkan, dan putuskan harus selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan kalimat lain, kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus, seperti yang dikatakan dalam Filipi 2:5-7, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Ingat, ciri orang yang tidak terhilang adalah dia tahu ke mana dia pulang dan merindukan rumah. Ironis, sedikit sekali orang Kristen yang bergumul untuk memiliki kehidupan yang sepikiran dan seperasaan dengan Allah, karena menganggap itu bukan hal penting; dianggap murahan atau dianggap sukar. 
    Siapa yang mau mengikuti hal ini? Seperti barang; sudah mahal, tidak jelas kegunaannya, maka pasti tidak akan diminati. Namun, kalau barang itu dipandang berguna dan berharga, mahal pun dibeli. Apa pun dipertaruhkan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kesehatan adalah harta termahal. Maka, berapa pun anggaran yang harus dianggarkan—biaya menjauhi kematian—orang berani pertaruhkan. Berbeda halnya kalau sesuatu sudah tidak dipandang berharga, murah pun tidak dibeli; bahkan diberi gratis pun tidak diterima. Apalagi mahal. 
    Pertanyaannya, “Hidup sepikiran dan seperasaan dengan Allah, sempurna seperti Bapa, hidup dalam kekudusan dan kesucian,” apakah kita pandang berharga? Apakah kita pandang penting? Kalau kita pandang penting dan berharga, maka seharusnya berapa pun kita bayar, bagaimana pun kita usahakan. Sadarkah kita bahwa ketika kita memandang kesucian bukan hal yang berharga, sejatinya kita melecehkan dan merendahkan Allah? Kesucian itu martabat Tuhan. Jadi, kalau kita tidak memandang kesucian itu berharga dan mahal, berarti kita tidak menghormati Tuhan. Jadi, jangan berharap dihormati Tuhan, kalau kita tidak menghormati Dia. 
    Orang yang tidak menghormati Tuhan akan dibuang menjadi sampah abadi, jadi kayu di api kekal. Sebagian kita adalah orang-orang yang hidupnya tidak bersih, tetapi merasa aman dan nyaman. Walaupun rajin ke gereja setiap hari, tetapi kalau hidup kita tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, kita terhilang. Kalau kita tidak hidup dalam kekudusan Allah, kita terhilang dan bukan orang terhormat. Kalau sekarang masih dipandang terhormat, karena masih ada kesempatan bagi kita untuk jadi terhormat. Ciri dari orang terhilang sangat jelas, yaitu ia tidak tahu pulang ke mana. Gejala orang yang tidak tahu pulang ke mana adalah tidak ingin pulang. 
    Bandingkan dengan Paulus yang mengatakan, “Mati adalah keuntungan. Kalau aku disuruh memilih, aku memilih bersama Tuhan.” Kematian seharusnya menjadi momentum yang ditunggu, tetapi dalam kehidupan manusia pada umumnya, itu justru merupakan hantu yang menakutkan. Termasuk bagi orang-orang Kristen yang terhilang. Kalau kita bicara mengenai hari depan, itu adalah hari depan di balik kubur; after the grave, bukan before the grave. Jangan sampai kita ditipu manusia lama kita yang di dalamnya Iblis berpangkalan. Jadi, setelah membaca renungan ini, kita bisa berkata, “Benar juga, ya.” Tetapi besok, lenyap. Atmosfer dari kebenaran yang menusuk hati, hilang. Kita kembali kepada tekukan, kebiasaan lama, karena kita tidak menyimpannya dalam hati. 
    Jadi, kalau Tuhan berkata,
    9 min
  • Hidup yang Bermartabat
    Tidak ada hidup yang bermartabat kecuali sepenanggungan dengan Tuhan. Orang yang memiliki perasaan sepenanggungan dengan Tuhan adalah orang yang sungguh-sungguh bermartabat. Bermartabat tinggi, mulia. Lebih dari manusia mana pun di bumi ini, yang martabatnya dibangun oleh gelar, pendidikan, ekonomi, pangkat, kekuasaan, penampilan, dan lain sebagainya. Selagi kita masih memiliki kesempatan hidup dan mencapai kehidupan yang bermartabat tinggi, mari kita usahakan itu. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan. Hidup yang bermartabat tinggi adalah hidup sepenanggungan dengan Tuhan. Sepenanggungan, artinya ikut merasakan apa yang Tuhan rasakan; memikul beban seperti yang Tuhan pikul. Ini adalah sesuatu yang istimewa dan bisa kita capai, asal kita sungguh-sungguh berusaha dengan usaha yang benar, proporsional, dan maksimal. 
    Lukas 22:28-30, “Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” 
    Kita nyaris tidak percaya bahwa orang percaya diperkenankan duduk semeja dengan Tuhan, artinya menjadi tamu-tamu kehormatan. Bahkan akan duduk di atas takhta. Kalau kita membaca dalam kitab Wahyu, ada takhta-takhta. Tentu selain takhta Bapa dan Tuhan Yesus yang menjadi objek penyembahan kita, ada takhta-takhta orang-orang yang menjadi penguasa, raja-raja; “r” kecil. Namun, apakah kita yakin akan hal ini, seberapa kita percaya akan hal ini, bahwa ada kehidupan yang akan datang di mana ada pemerintahan Allah? Tentu Yesus Kristus yang akan menjadi Raja, menerima segala kuasa di surga dan di bumi dari Allah Bapa, yang akan memegang pucuk pimpinan Kerajaan Allah. 
    Kita adalah raja-raja kecil, penguasa-penguasa yang dipercayai untuk mengatur masyarakat. Ini martabat yang tinggi, yang bisa diperoleh seseorang di dalam kekekalan. Seseorang bisa bermartabat tinggi di mata manusia hari ini karena kekayaan, kedudukan, gelar dari pendidikan, pangkat, dan lain sebagainya, tetapi itu tidak lama. Semua pasti berakhir. Namun, menjadi orang yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, itu kekal. Bersyukur, kita mendapat kesempatan untuk itu. Umat pilihan adalah umat yang dipersiapkan, jika mau, untuk menerima kemuliaan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, tetapi seberapa kita percaya akan hal ini dan seberapa kita bersedia menginvestasikan hidup, waktu, tenaga, pikiran untuk ini? 
    Ini bukan omong kosong. Ini adalah perkataan Tuhan yang pasti akan digenapi. Alkitab mencatat bahwa di akhir zaman akan terjadi kemurtadan besar. Matius 24:12, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Karena kedukaan bertambah-tambah, maka orang yang memberontak kepada Allah juga bertambah. Orang yang berkhianat kepada Allah juga bertambah. Mereka adalah orang-orang Kristen tentunya, yang tidak pindah agama, tetap menjadi Kristen dan ke gereja. Mungkin masih aktif dalam pelayanan, bahkan mungkin jadi pendeta. Tetapi mereka tidak tetap tinggal bersama-sama dengan Tuhan. Artinya, tidak sepenanggungan dengan Tuhan. 
    Setiap kita bisa memilih untuk tidak sepenanggungan dengan Tuhan; memilih hidup nyaman. Tidak usah bertanya kepada Tuhan, “Apa yang harus kulakukan, Tuhan?” Kalau kita bertanya, lalu Tuhan memberikan jawaban dengan menempatkan kita di tugas-tugas tertentu, itu bisa merepotkan hidup dan membuat kita tidak menikmati dunia. Namun, kita tidak memilih itu. Kita mau bertanya, “Apa yang harus kulakukan, untuk-Mu, Tuhan?” Ini adalah pilihan. Ini bukan sesuatu yang bisa terjadi dengan sendirinya. Pertanyaannya, pernahkah kita memilih hidup sepenanggungan dengan Tuhan? Pernahkah kita memperkarakan ini? 
    Ironis, pada umumnya tidak. Pada umumnya, orang sibuk dengan kesenangan dan kepuasannya sendiri. Beli barang-barang,
    9 min
  • Tuhan Menguji Batin
    Yeremia 11:20, “Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.” 
    Yeremia 17:10, “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” 
    Wahyu 2:23, “Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.” 
    Anugerah tidak mengubah hidup, tetapi mengubah hubungan kita dengan Allah. Kita menjadi anak-anak Bapa di surga. Ingat, yang diubah hanya relasinya, bukan keberadaannya. Rata-rata gereja selama berabad-abad meyakini keselamatan dengan mudah. “Hanya oleh kasih karunia kamu diselamatkan,” artinya asal seseorang jadi Kristen, percaya Yesus, pasti masuk surga. Kalimat itu baru benar sebagian. Keselamatan bukan karena perbuatan baik, tentu 100% benar. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, maka mau sebaik apa pun, kita tetap binasa. Namun, kita harus belajar mengerti bahwa kematian Yesus tidak secara otomatis mengubah kodrat kita. Maka, Tuhan berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Sekolah, belajarlah, bertumbuhlah, terima didikan Bapa, supaya kita boleh mengambil bagian dalam kekudusan Allah. 
    Pertanyaannya, berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berurusan dengan Tuhan? Apa cukup dengan seminggu sekali kita pergi ke gereja? Tentu saja hal itu tidak cukup. Seluruh hidup kita harus kita arahkan untuk proses ini. Maka, Tuhan Yesus berkata di Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Sadarkah kita bahwa menjadi umat pilihan itu luar biasa? Tidak semua orang menjadi umat pilihan. Hanya orang-orang yang terpilih. Ajaran salah lainnya adalah ketika diembuskan dari mimbar gereja, “Karena Yesus menang, kita pun ikut menang.” Yesus telah menang untuk diri-Nya, supaya Dia menyelesaikan tugas kemesiasan-Nya dan menjadi jembatan agar kita dapat menemui Bapa. Namun, kita belum menang. Kita baru mendapat berkat dari kemenangan-Nya. 
    Memang ada ayatnya, tertulis di dalam Roma 8:37, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Sebenarnya, ayat itu hanya untuk jemaat Roma yang dianiaya, tetapi tetap percaya kepada Tuhan. Sehingga di ayat 38-39 dikatakan, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Maksud kalimat “lebih dari pemenang” itu siapa? Ingat, kita ini belum menang. Kita harus mengerti bahwa yang telah menang adalah Tuhan Yesus, karena Dia berhasil menyelesaikan tugas-Nya di kayu salib. Dari kemenangan-Nya, kita mendapat fasilitas bertemu Bapa dan bisa dididik. Maka, banyak hal, peristiwa-peristiwa dalam hidup ini yang akan kita alami untuk membuktikan bahwa kita juga dapat menang.
    Kalau firman Tuhan berkata, “Aku menguji batin.” Apakah Tuhan menguji batin nanti waktu kita sudah mati? Pastinya tidak, tetapi di setiap hari, karena Dia setia. Seperti bapak sayang anak-anaknya atau seperti ibu merawat anak-anaknya, setiap hari dirawat. Apakah ibu mendandani anaknya hanya pada waktu mau pergi pesta atau hanya ketika anak mau pergi ke rumah keluarga? Tentu setiap hari dirawat, itulah orang tua. Tuhan pasti lebih dari itu. Dia menguji batin kita setiap hari. Masalahnya, apa kita serius menghadap Dia untuk diuji batin? Tuhan menguji batin kita, bahkan di setiap saat. Di setiap langkah kita yang salah, Tuhan pasti beritahu. 
    Kita harus serius berusaha mencari Tuhan,
    8 min
  • Tidak Ada Hari Depan
    Kita harus menyadari bahwa pekerjaan Tuhan yang ada di pundak kita adalah pekerjaan yang besar, yang pastinya memiliki dampak kekekalan. Ini terkait dengan nasib dan keadaan kekal manusia. Kita harus selalu mengingat ini. Jangan sampai pikiran kita disimpangkan, meleset atau disesatkan, terfokus pada kegiatan organisasi yang dimotivasi kepentingan pribadi; untuk keuntungan uang, materi, kehormatan, kebesaran, atau popularitas. Karenanya, kalau kita komitmen untuk berdoa setiap pagi, doa puasa, menghampiri Tuhan, maka tidak mungkin Tuhan berdiam diri kalau kita salah. Namun masalahnya, apakah kita benar-benar serius mempersiapkan diri bangun pagi untuk menghampiri Tuhan?
    Ini tidak main-main. Kalau gereja hanya menyelenggarakan kegiatan agama, liturgi dengan hingar-bingar, penyelenggaraan pelayanan puji-pujian yang bagus, lalu jemaat merasa puas, minggu depan datang lagi, tetapi mereka tidak menjadi orang Kristen yang berkualitas, maka untuk apa semua itu diadakan? Anugerah yang Tuhan berikan itu tidak mengubah hidup kita, tetapi mengubah hubungan kita dengan Allah. Bohong kalau orang berkata, “Tenang, aman, kamu masuk surga.” Sesat itu. Format-format teologi semacam itu memang ada di pikiran banyak teolog, yang hanya dijawab di atas kertas, tetapi tidak digumuli di dalam kehidupan. Kiranya kita bisa mengerti bahwa anugerah memang mengubah relasi kita dengan Allah, tetapi tidak otomatis mengubah hidup kita. 
    Sudah terlalu rusak dunia ini. Apakah orang yang tidak punya jam doa, mulutnya bocor, matanya genit, tidak jujur, lalu bisa yakin pasti masuk surga? Orang seperti ini sebenarnya menghina Tuhan dan merendahkan surga. Jelas Alkitab berkata bahwa tidak ada yang najis yang dapat masuk ke Yerusalem Baru. Setiap kita pasti punya persoalan, tetapi jangan hanyut dengan permasalahan harian kita sampai tidak memperhatikan berapa nilai diri kita yang sebenarnya di mata Tuhan. Jangan sampai kita lolos dari berbagai persoalan dunia fana, tetapi tidak memikirkan persoalan kekal. Sebab tanpa perjumpaan dengan Tuhan, kita tidak akan bisa berubah. Jangan sombong. Kadang-kadang manusia itu bersikap kurang ajar terhadap Tuhan.
    Seorang pengusaha yang stres, tidak bisa tidur berhari-hari, karena mau dipanggil KPK. Padahal belum tentu juga nanti masuk penjara. Dipanggil KPK, tidak bisa tidur. Mau dipanggil Tuhan, kok bisa tidur nyenyak? Sadarkah kita bahwa setiap saat kita bisa dipanggil Tuhan? Coba pikirkan baik-baik, ketika kita berbuat dosa, tetapi tidak segera minta ampun dan membereskan dosa tersebut, kok bisa tidur nyenyak? Kalau setiap pagi kita doa, kita minta ampun, doa puasa minta ampun, maka kita bisa tidur nyenyak. Kapan saja Tuhan panggil, kita sudah siap. Ingat, tidak ada hari depan baik di kekekalan kalau kita masih berbuat dosa. 
    Kita memang harus bersedia belajar step by step untuk bisa hidup dalam takut akan Allah. Perjumpaan dengan Tuhan akan membuat kita takut berbuat dosa. Kalau hubungan interaksi antarmanusia, tidak sedikit dan pada umumnya, makin akrab makin kurang hormat. Namun, berbeda kalau hubungan dengan Tuhan. Yang pertama, makin dekat dengan Tuhan, kita makin takut berbuat dosa. Kedua, makin kita dekat dengan Tuhan, makin kita membuktikan bahwa yang kita butuhkan ternyata hanya Tuhan. Ketergantungan jiwa kita hanya terhadap Allah saja. Selanjutnya, pasti orang seperti ini tidak terikat lagi dengan percintaan dunia. 
    Kalau kita dekat melekat dengan Tuhan, makin takut, makin gentar akan Allah, dan kita makin bisa merasakan bahwa hanya Dia yang kita butuhkan, maka tidak mungkin kita berkhianat. Kita harus benar-benar sampai pada kawasan, wilayah perasaan yang disentuh oleh Tuhan. Kita akan menemukan ternyata hanya Dia satu-satunya kekasih jiwa kita. Orang kaya yang ditulis di Lukas 16 berkata, “Aku butuh air,” pastinya ini bukan air mineral. Di sini, air menunjuk Allah sendiri; air kehidupan. Jangan kita menunggu meninggal dunia baru menyadari bahwa hanya Dialah satu-satunya yang kita bu...
    9 min
  • Pemisahan
    “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging melainkan dalam roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, dia bukan milik Kristus.” Milik siapa? Milik dirinya sendiri. Maka, kita harus menguasai pikiran, mata, telinga kita dari prinsip ‘suka-sukaku.’ Memang ada ayat mengatakan, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada dalam Kristus Yesus,” sehingga muncul pernyataan bahwa orang percaya tidak perlu berjuang untuk hidup di dalam Tuhan, karena kita sudah benar di hadapan Allah. Ironis, ini diajarkan dari mimbar-mimbar gereja.
    Apalagi kalau kita sudah menjadi Kristen dari kecil yang sudah teracuni oleh ajaran yang tidak sesuai Alkitab yang murni, maka kita merasa sudah tidak perlu berjuang lagi. Kita merasa puas dengan hidup rohani kita, merasa yakin sudah percaya Yesus Tuhan dan Juruselamat, merasa sudah selamat; ini benar-benar tipuan. Kita harus berjuang. Yesus berjuang untuk kita guna mendamaikan kita dengan Allah. Dia membenarkan kita, tetapi kita belum benar. Harus ada perjuangan. Tahukah kita betapa mahalnya perjuangan ini? Maka, Lukas 14:33 mengatakan, “Kamu harus melepaskan dirimu dari segala milikmu.” 
    Artinya, kalau kita kerja, bisnis, karier, semua hanya untuk Tuhan, demi proses perubahan itu. Ingat, kita adalah manusia masa depan. Masa depan kita bukan di bumi ini, melainkan nanti setelah kubur. “Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah,” jadi kalau masih dipimpin daging, bukan anak-anak Allah. Namun, pada umumnya orang Kristen sudah mengaku sebagai anak-anak Allah. Kalau hanya pikiran kita yang diisi ilmu teologi, kita tetap manusia durhaka di mata Allah. Harus terjadi pemisahan dan harus dimulai dari tekad kita. Sebab, hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran, yang dipuaskan. Maka, kita harus belajar firman, berdoa, baru kita punya kepekaan dan bisa melihat apa yang baik, apa yang jahat—bukan menurut hukum, tetapi menurut pikiran Allah. 
    Dahulu kita merasa punya kebijakan-kebijakan yang kita yakini sebagai hikmat Roh Kudus, padahal kalau jujur, banyak keputusan kita yang penuh dengan niat pribadi. Kiranya kita dibuat mengerti oleh Roh Kudus. Keakuan ternyata masih sangat menguasai diri kita sehingga roh kita mati; bukan berarti mati secara fisik, melainkan naluriah rohani kita tidak berkuasa menguasai. Sebenarnya proses yang harus kita jalani harus sampai kita bisa mengalami pemisahan antara manusia lama dengan manusia baru, sehingga kita bisa mengutip firman yang mengatakan, “Aku sudah mati, hidupku tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” 
    Tanpa kebangkitan Kristus, tidak ada harapan masa depan. Semua masuk neraka. Mau berbuat sebaik apa pun, masuk neraka. Bukan karena perbuatan baik seseorang masuk surga, tetapi dengan menerima Yesus dan percaya pada-Nya, diperdamaikan dengan Allah. Kita bukan hanya diharapkan atau dituntut jadi baik, tetapi harus sempurna. Tetapkan hati dan pikiran kita, bukan pada perkara duniawi; “Sebab kamu telah mati, dan hidupmu sekarang tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” 
    Sekarang sebelum kita diangkat, kita harus sudah diangkat dulu; diangkat dari dunia, terpisah dari manusia daging kita. Jangan menunggu pengangkatan. Kita tidak akan diangkat, sebelum kita mengangkat diri dari daging, dari percintaan dunia. Memang ini mustahil bisa kita lakukan sendiri. Masih banyak yang menyatu, daging dan roh kita. Makanya kita berangasan, tersinggung, masih jatuh dalam dosa dengan mudah. Kalau sudah mulai terpisah, kita tidak bisa menyentuh dosa, bahkan tidak bisa. Dendam juga tidak bisa, tidak sembarangan bicara, tidak mengingini dunia. Ingat! Keindahan, kenyamanan yang kita miliki hari ini, tidak ada artinya dibanding kemuliaan nanti. 
    Harus ada pemisahan dengan daging kita. Biasanya Tuhan meremukkan daging kita lewat masalah. Dikhianati suami, anak memberontak,
    10 min
  • Kehidupan Konkret
    Sadarkah kita bahwa wajah kekristenan yang asli telah berubah dari masa ke masa? Kita yang hidup di abad 21, sebenarnya telah mewarisi kekristenan yang telah banyak berubah. Namun, kalau kita sungguh-sungguh mau mencari Tuhan dan mau menemukan wajah asli dari kekristenan, kita pasti menemukannya. Mengenai kembali ke Alkitab atau back to the Bible, itu bukan hanya bicara soal pengajaran yang biasanya standar, ukuran, parameter dari Bible adalah ajaran-ajaran yang telah diakui oleh gereja-gereja sebagai kebenaran yang alkitabiah atau kebenaran yang murni atau asli. Kita mau back to the Bible bukan berdasarkan ajaran yang sudah ada, melainkan kita kembali ke Alkitab sesuai dengan apa yang Alkitab tulis. Kiranya Roh Kudus menolong untuk kita serius mencari Tuhan, Allah yang tidak berubah, Maha Hadir, dan berbicara. Roh Kudus pasti menuntun agar kita kembali kepada wajah kekristenan yang asli. 
    Kurang dari ini, bukanlah kekristenan. Kurang dari ini, palsu. Inilah wajah kekristenan. Jangan digantikan keberagamaan, liturgi, hukum, atau etika budi pekerti yang baik. Sebaik apa pun, itu bukan standar kebenaran. Injil itu kabar baik. Tentu bukan baik menurut siapa pun, melainkan baik menurut Allah. Melalui Injil, manusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula, untuk layak menempati dunia yang akan datang. Anugerah bisa mengubah relasi atau hubungan kita dengan Allah yang tadinya sebagai musuh karena dosa, tetapi oleh kurban Tuhan Yesus, kita menjadi sekutu; diperdamaikan; dibenarkan. Dibenarkan bukan berarti otomatis kita ini benar. 
    Anugerah tidak mengubah kodrat dan karakter kita secara otomatis, tetapi mengubah relasi atau hubungan dengan Allah. Dengan anugerah, kita menjadi anak-anak Allah. Kita menerima meterai Roh Kudus artinya potensi untuk mengalami perubahan supaya kita benar-benar benar, bukan hanya dibenarkan. Selanjutnya, kita bisa berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Bukan hanya status yang kita akui, melainkan berkeberadaan sungguh-sungguh sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Harus berproses. 
    Memang serupa dengan Yesus itu abstrak. Namun, tidak menjadi abstrak ketika proses itu berlangsung dalam setiap individu dan mengalami bagaimana perubahan atau pembaruan hidup. Akhirnya kita bisa memanggil, “Abba, ya Bapa.” Kekristenan harus dirumuskan dalam kehidupan konkret pribadi demi pribadi. Tdak ada yang sama, karena setiap orang memiliki pergumulan yang berbeda-beda. Namun, Roh Kudus yang Maha Kuat, Maha Hadir, yang adalah Roh Allah sendiri, akan menuntun kita kepada kesempurnaan. Ini proses yang harus terjadi atau berlangsung dalam hidup kita. Proses yang membuat seseorang mengalami pemisahan dari manusia lama menjadi manusia baru. Bukan sekadar menjadi lebih baik, lebih bermoral, lebih berbudi pekerti, tidak. Manusia lama benar-benar ditinggalkan. 
    Proses itu dirasakan dan tidak bisa diceritakan, diungkapkan kepada orang lain karena ada karya Roh Kudus yang begitu pribadi sifatnya dan confidential; sangat rahasia dalam hidup seseorang. Sehingga dia menjadi manusia baru. Kalau orang bicara soal kelahiran baru, ada banyak buku atau karya ilmiah menulis tentang hal itu. Namun, itu tidak menjawab keselamatan. Sebab, yang menjawab adalah proses konkret setiap individu, yaitu dia mengalami proses dalam pimpinan Roh Kudus. Jadi, ketika kita percaya Yesus, kita diperdamaikan dengan Allah. Namun, keadaan kita masih manusia lama. 
    Kita harus bisa melihat dua manusia itu di dalam diri kita. Kita harus mengalami proses pertumbuhan sampai terjadi pemisahan. Tentu tidak dalam sekejap, tetapi lewat proses, mulai ada pemisahan. Terus bertumbuh, prosesnya harus semakin berubah, sampai bisa terpisah. Inilah lahir baru yaitu menjadi anak-anak Allah; seperti Paulus yang mengatakan, “Aku telah mati, hidupku tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” 
    11 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…