Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pertaruhan
    Mengikut Tuhan bukan hal yang mudah atau gratis, karena mengikut Tuhan berarti kita memberikan pertaruhan. Memang keselamatan dimulai dari karya Yesus di kayu salib dan itu adalah pemberian cuma-cuma. Namun, setelah kita mendengar Injil dan kita memutuskan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan ikut Tuhan, pertaruhannya adalah segenap hidup kita. Hal ini mutlak atau absolut. Maka, kita harus menanggalkan diri kita atau sama dengan menyangkal diri atau mengosongkan diri, supaya kita bisa mengenakan hidup-Nya, yaitu pikiran dan perasaan Tuhan Yesus Kristus ketika menjadi manusia, yang itu adalah kepenuhan Allah, di mana Firman memenuhi Yesus; apa yang Dia lakukan, apa yang Yesus lakukan, ucapkan, semua merupakan peragaan Firman itu. 
    Demikian pula kita. Kalau Alkitab berkata bahwa kita menjadi surat yang terbuka, itu bukan menunjuk surat kita sendiri atau surat siapa-siapa, melainkan surat Tuhan. Maka, kalau kita menjadi surat Tuhan, berarti kita hidup hanya untuk melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki. Kita hanya mau—dan mestinya—menyelenggarakan hidup-Nya Tuhan. Kesucian Allah yang tidak dapat dilihat oleh mata dan tidak dikenali manusia pada umumnya, itu yang kita peragakan. Itulah sebabnya Yesus disebut sebagai “Saksi yang setia,” sebab Yesus membuktikan atau menunjukkan siapa Allah yang benar. Allah yang benar adalah Allah Israel, Elohim Yahweh (Why. 1:5; 2:13; 3:14). Yesus menjadi Saksi yang setia bagi Allah Bapa, dan kita menjadi saksi yang setia untuk Tuhan Yesus.
    Di dalam Wahyu 1:5 tertulis, “Dan dari Yesus Kristus Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja di bumi. Bagi Dia yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.” Jadi di dalam Alkitab, kita menemukan pernyataan bahwa Yesus adalah Saksi yang setia. Juga di dalam Wahyu 3:14, kita disebut oleh Yesus sebagai saksi yang setia; artinya kita memperagakan kehidupan Bapa; kekudusan, kesucian, keagungan dan kemuliaan-Nya. Kalau bangsa Israel menjadi saksi untuk membuktikan atau menunjukkan siapa Allah yang benar, maka sebagai orang percaya, kita menunjukkan dan membuktikan bagaimana Allah yang benar itu. 
    Yang pertama diperagakan oleh Yesus Kristus sebagai Saksi yang setia, lalu kita yang harus menjadi saksi yang setia. Itulah pertaruhannya. Jadi, kalau Yang Mulia Tuhan kita Yesus Kristus berkata dalam Matius 16:24, “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.’” Menyangkal diri bukan hanya menolak tindakan yang bertentangan dengan hukum. Menyangkal diri artinya benar-benar mengosongkan diri. Cara berpikir dan filosofi dunia, harus kita buang dan kita mengenakan cara hidup dan cara berpikir Tuhan. Sehingga kita juga mengalami kepenuhan Allah, seperti Yesus juga mengalami kepenuhan Allah. 
    Kita harus sangat berambisi untuk dipenuhi oleh Allah, sehingga sebutan Bait Roh Kudus di dalam hidup kita itu bukan omong kosong, melainkan nyata. Firman Tuhan mengatakan, “Kamu bait Roh Kudus. Roh Allah yang diam di dalam kamu” (1Kor. 6:19).  Roh Allah diam dalam diri kita, bukan untuk kita dukakan, melainkan kita mau menyukakan hati Allah. Firman Tuhan mengatakan, “Jangan mendukakan Roh Allah.” Di ayat lain dikatakan, “Jangan memadamkan Roh Allah.” Dan yang terakhir, “Jangan sampai menghujat Roh Kudus.”  
    Menghujat Roh Kudus artinya tidak lagi bisa menerima karya Roh Kudus karena pikirannya dipenuhi oleh konsep-konsep yang bukan dari Allah. Ini bukan hanya untuk orang-orang di luar Kristen, tetapi juga yang di dalam gereja, termasuk para teolog yang merasa diri hebat dan cakap, merasa dirinya tahu. Kita bisa membedakan apakah seorang hamba Tuhan benar-benar dipenuhi konsep yang benar, kebenaran yang murni dari Allah atau tidak adalah dari perbuatannya; “Dari buahnya kamu mengenal dia.” Dari perkataan seseorang, nampak kualitasnya.
    8 min
  • Pemenuhan Janji Tuhan
    Banyak mahasiswa sekolah Alkitab berdoa: “Tuhan, pakailah aku,” sambil melirik pendeta besar yang punya gedung gereja besar. “Tuhan, pakailah aku,” sambil melirik pendeta yang mobilnya bagus. “Tuhan, pakailah aku,” sambil melihat pendeta yang khotbah di gedung-gedung besar dan dielu-elukan. Dasarnya karena apa? Karena dia mau menjadi orang yang terkemuka. Matius 20:26 berkata, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
    Orang yang sudah bertumbuh dewasa, yang sudah mengalahkan kedagingan, mengalahkan egoisme, maka dia masuk tahap berpihak pada Tuhan. Di tingkat ini baru Tuhan lengkapi dia dengan apa pun. Ini tingkat orang yang berpihak pada Tuhan; jangankan uangnya, nyawanya pun dia persembahkan. Namun ironis, jangankan nyawanya, perasaannya pun dia tidak mau persembahkan. Makanya kalau kita diproses dari menit ke menit, dari jam ke jam, terimalah proses itu karena merupakan bagian dari jalan untuk menjadi orang yang dipercayai Tuhan. 
    Maka, untuk orang Kristen yang belum dewasa, kita bertanya, “Apakah Anda percaya Tuhan? Apakah Anda percaya Yesus menderita untuk keselamatan manusia?” Namun, kalau sudah dewasa pertanyaannya begini, “Apakah Anda bisa dipercayai Tuhan? Apakah Anda sudah menderita untuk Dia?” Tuhan tahu kedalaman hati kita. Kalau kita tidak dewasa, maka jika kita diberkati, kita sombong, menindas orang. Bersyukur kalau kita menghadapi kesulitan daripada tidak punya kesulitan—tubuh sehat, uang banyak berlimpah, keluarga sejahtera—tetapi kita  bablas masuk neraka. 
    Kalau kita memusingkan pekerjaan Tuhan, kita tidak perlu pusing dengan diri sendiri. Allah yang akan menggarap dan mengurus hidup kita. Sekecil apa pun, Tuhan bisa menjadikan kita sebagai alat di dalam tangan Tuhan. Tidak ada yang dibuat sia-sia. Kita tidak akan pernah pensiun sampai jantung kita berhenti berdetak. Selama kita masih punya nafas, kita harus berguna untuk pekerjaan Tuhan. Maka karakter kita harus diperbaiki terus. Tuhan mau menjadikan kita instrumen-Nya, kalau kita memiliki keagungan karakter, keagungan mental seperti Yesus, sehingga bisa dipercayai Tuhan. 
    Apa pun yang kita miliki harus memberkati pekerjaan Tuhan. Sampai hidup kita menjadi pekerjaan Tuhan. Baru kita menjadi perwira tinggi Kerajaan Allah. Tuhan siapkan porsi kemuliaan itu tiada tara, tetapi juga porsi penderitaan. Namun, porsi penderitaan ini tidak bisa kita pikul kalau tidak dewasa. Menyangkal diri, memikul salib, itu mutlak. Memikul salib adalah penderitaan yang kita pikul demi pekerjaan Tuhan. Maka jangan kita jadi orang miskin di kekekalan. Karena kita tidak membawa persembahan apa pun. Kita tidak berguna untuk pekerjaan Tuhan kalau kita masih sibuk dengan diri sendiri. 
    Kita harus terus berubah. Jadi langkah pertama, pagi bangun, berdoa. Karena di situ Tuhan akan koreksi, memeriksa kita. Tetapi heran, orang sibuk dengan persoalan-persoalan yang sebenarnya tidak perlu jadi persoalan. Periksa hidup kita, mulut kita, perkataan kita, sikap dan perbuatan kita, itu dulu. Tidak usah muluk-muluk. Setiap kita punya persoalan. Tetapi percayalah, Tuhan pasti tolong! Kalau kita punya hati benar, kedewasaan rohani kita bertambah, Tuhan pasti tolong supaya kita berguna. Jangan ragukan Tuhan. Kita bersyukur karena Tuhan masih berbelas kasihan memberi kita kesempatan bertobat dan berubah. Maka, sekarang kita berusaha untuk menyelesaikan apa yang harus kita selesaikan. 
    Tuhan tidak mungkin tidak memakai kita kalau hidup kita lurus. Jangan jahat. Ampunilah orang yang bersalah, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Bermurah hatilah terhadap orang susah. Pikullah beban atas orang-orang yang memang dipercayakan untuk kita pikul bebannya.
    8 min
  • Alat yang Berguna
    Setiap anak-anak Allah diharapkan menjadi instrumen atau alat di dalam tangan Bapa. Tidak ada anak-anak Allah yang tidak dirancang untuk suatu pekerjaan bagi Bapa di surga. Jadi, semua kita ini mestinya berguna bagi kerajaan Allah. Tidak mungkin orang yang tidak berguna bagi Kerajaan Allah akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Maka, bukalah hati untuk mengerti ini, agar kita jangan kehilangan kesempatan untuk menjadi instrumen atau alat di dalam tangan Tuhan bagi Kerajaan-Nya. Roma 8:17 firman Tuhan mengatakan bahwa jika kita menderita bersama-sama dengan Yesus, kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Yesus, ini bukan penderitaan karena kesalahan kita. Seperti Yesus menderita, itu bukan karena kesalahan-Nya. Dia menderita bagi orang lain. 
    Di dalam Matius 20:28, Yang Mulia Tuhan kita Yesus Kristus berkata, “Sama seperti Anak Manusia,” artinya Yesus “datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Jadi penderitaan yang dimaksud di dalam Roma 8:17 adalah penderitaan bagi orang lain, bagi keselamatan jiwa orang lain; yang sama dengan bagi Kerajaan Surga. Bukankah kita semua harus mengikut jejak Tuhan Yesus? Sampai di mana jejak-Nya kita ikuti? Tentu sampai Golgota. Bukan hanya sampai di pintu gerbang Yerusalem, ketika orang mengelu-elukan Dia dan berkata, “Hosana! Hosana!” Namun, juga harus bersama dengan Yesus pada waktu berjalan di jalan Via Dolorosa sampai ke kayu salib. 
    Banyak orang tidak sampai Golgota, mereka hanya sampai pintu gerbang Yerusalem. Belum sampai masuk Taman Getsemani juga. Mengapa? Karena tidak dewasa, egois, hanya melihat kepentingan diri sendiri. Belum matang, belum utuh jiwanya; masih mudah tersinggung, gila hormat, apalagi masih memuaskan daging. Itu tidak bisa diperhitungkan untuk menjadi sahabat Yesus. Hal inilah yang tidak dipahami oleh banyak orang atau tidak dimengerti atau tidak mau dimengerti, bahwa semua anak-anak Allah harus menjadi alat yang berguna bagi Kerajaan Surga. 
    Jelas Yesus berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu,” Yohanes 20:21. Tuhan Yesus tidak mengutus siapa-siapa. Tuhan Yesus mengutus kita. Semua orang percaya mestinya menjadi utusan, mewakili Tuhan Yesus. Maka, tidak ada alasan yang bisa diterima ketika orang berkata, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk-Mu, Tuhan.” Bukan “tidak bisa” berbuat apa-apa, melainkan dia “tidak mau.” Tidak dewasa, egois, egosentris, maka tidak bisa dipakai. Jangan berkata, “Aku miskin, aku sudah tua.” Itu cara Iblis membelenggu kita dalam kebodohan, sehingga kesempatan emas yang Tuhan berikan tidak kita gunakan dengan sungguh-sungguh. 
    Kalau kita masih egois, masih mencari kesenangan diri sendiri, uang kita pasti kita belanjakan bukan untuk Tuhan, tetapi untuk diri sendiri. Pasti kita boros untuk diri sendiri, tetapi tidak boros untuk Tuhan. Suatu hari kita akan menyesal sekali, ketika kita melihat kemuliaan Allah dan kita baru tahu betapa bermartabatnya bisa berbuat sesuatu untuk Tuhan. Betapa agungnya bisa berbuat sesuatu untuk Kerajaan-Nya. Setan merusak pekerjaan Tuhan melalui orang-orang yang membuat kepercayaan jemaat kepada gereja jadi rusak. Ketika pendeta memperkaya diri, atau hanya sibuk membangun gedung, fasilitas, yang semua itu untuk kemegahan, kebesaran seorang pendeta, jemaat bisa kehilangan kepercayaan. 
    Tuhan sering membawa seseorang kepada persoalan-persoalan sulit dan rumit—apakah itu kemiskinan, ketertindasan, ketertolakan, dan lain sebagainya—yang semua itu ternyata menjadi alat Tuhan untuk mendewasakan. Setelah dewasa, baru Tuhan percayai. Jadi kita sekarang bisa bersyukur kalau kita ditindas dengan masalah, dengan keadaan sulit, ekonomi sulit, dan lain-lain karena berarti kita sedang didewasakan. Jadi ketika kita diproses, berubahlah. Jangan kita pikir Tuhan senang membuat kita menderita, miskin, terlunta-lunta, terinjak-injak. Itu semua merupakan cara Tuhan untuk membuat kita dewasa.
    10 min
  • Kehilangan
    Tuhan Yesus berkata di Yohanes 14:1-3, “Percayalah pada-Ku. Di Rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.” Namun, banyak orang Kristen yang tidak tertarik dengan rumah tinggal itu. Mereka tidak mengerti bahwa kekayaan dunia itu sementara. Ngengat dan karat bisa merusak, pencuri bisa mencuri dan membongkarnya. Ironisnya, mereka merasa bahwa harta dunia itu membahagiakan. Lebih bernilai dari apa pun. Sedangkan kekayaan di balik langit biru, tidak jelas, tidak meyakinkan, sehingga tidak tertarik dengan apa yang Allah janjikan di langit baru bumi baru. Banyak orang Kristen yang tidak bertumbuh dalam keyakinannya terhadap Allah, sehingga tidak mau menuruti apa yang Tuhan kehendaki. 
    Allah menghendaki kita hidup dalam kekudusan dan kesucian, tetapi dengan banyak alasan, orang tidak mau menjalaninya. Banyak orang Kristen berkata, “Hal itu tidak mungkin. Itu mustahil. Itu berat. Jangan sekarang, nanti saja. Saya tidak bisa. Situasiku memaksaku untuk tidak bisa hidup kudus,” atau apa pun alasannya. Maka, minat kita dengan minat Allah, tidak bertemu atau tersambung. Apalagi anak-anak muda. Mungkin mereka merasa belum waktunya bicara soal kekekalan, soal surga. Apalagi kalau mereka mendengar suara Iblis yang dengan licik mengatakan, “Belum waktunya bicara soal kekekalan, soal surga,” maka pasti mereka menunda hidup kudus. 
    Padahal menunda hidup kudus itu akan sangat merugikan. Karena setiap fase usia, seseorang harus mencapai kesucian dalam tingkat-tingkat tertentu. Ada semacam kuota yang harus dipenuhi. Dengan menunda, maka pada waktunya kita tidak bisa mengejarnya. Banyak orang anggap sepele hal ini. Mari kita mengejar ketinggalan sebelum waktu kita usai, habis. Allah mau memberikan kasih-Nya dan setiap hari Allah menerjemahkan, mengekspresikan kasih-Nya dalam pemberian-pemberian. Namun, jika setiap momentum yang Allah sediakan, kita gantikan dengan hal lain, kita kehilangan berkat kekal. Padahal, Allah memberikan berkat-Nya tanpa batas. 
    Kita harus selalu bertanya, “Apa yang harus aku dengar, Tuhan? Apa yang harus aku pahami? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Itu pun Bapa masih tanya, “Kamu serius?” Kadang-kadang yang kita ucapkan, tidak sama dengan hati ini. Kalau jujur, kita kurang serius sebenarnya. Ada basa-basi, ada unsur retorika doa di situ. Petunjuk Tuhan adalah berkat kekal-Nya. Ingat, kita punya kesempatan terbatas untuk memiliki Dia, artinya untuk belajar mengenal Dia, memahami kehendak-Nya untuk kita lakukan. Penghayatan betapa berharganya Allah dalam hidup kita, sampai kita bisa mengerti bahwa Dia lebih dari nafas dan darah di tubuh kita. 
    Hal itu sebuah realitas. Artinya, perasaan kita benar-benar menghayati hal itu. Jika kita sampai pada penghayatan ini, kita baru bisa merasakan kebaikan Tuhan atau kasih Tuhan yang dicurahkan kepada kita. Kita baru bisa mengerti betapa berharganya setiap kebenaran yang kita pahami, betapa berharganya hadirat Allah yang kita alami pada waktu kita berdoa. Kita harus merasa membutuhkan Tuhan, karena kesempatan mengenal Allah itu terbatas. Tuhan sendiri yang bicara, “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui.” Jadi, ada saat di mana Allah tidak dapat ditemui. Selagi Tuhan masih memberi kesempatan untuk ditemui, kita menemui Dia. 
    Mungkin kita pernah berdoa satu jam, satu hari, seminggu, dua minggu, seakan-akan Allah tidak ada. Jangan kita menjadi tawar hati. Duduk diam, terus berdoa. Jadi kalau kita berkata, “Bapa kami yang di surga,” kita yakin Dia langsung mendengar. Dia tidak berkhianat kepada kita. Dia setia. Jadi, jangan mendengar fitnah dari manusia lama kita: “Dia tidak mendengar” atau “Ini bukan waktunya. Tunda saja, nanti.” Setan itu banyak alasan membuat kita berhenti berdoa, tetapi kita berdoa terus. Dia tidak pernah menolak. Dia mau melihat keseriusan kita. Sebab standar untuk Allah adalah segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan. Dia mengasihi kita. Dia mau mencurahkan kasih-Nya tanpa batas dan tiada henti. 
    Namun,
    10 min
  • Menikmati Kasih Allah
    Tentu semua kita sudah sangat hafal dengan pernyataan bahwa Allah itu kasih (1 Yoh. 4:8). Namun, pernahkah kita merenungkan bagaimana Allah menunjukkan dan melimpahkan kasih-Nya kepada kita setiap hari? Allah menginginkan kita menikmati kasih-Nya secara limpah, tetapi berapa banyak kita yang sungguh-sungguh menghayati dan mengalami kasih Allah itu? Ironis sekali, jika kita berkata “Allah itu kasih,” tetapi kita tidak menikmati limpah kasih-Nya. Bahkan tidak jarang di antara kita yang merasa ada tembok yang memisahkan dirinya dengan Allah. Kita memang bisa mengatakan bahwa Allah itu kasih dan menunjukkan kasih-Nya dengan memberikan Putra Tunggal-Nya, seakan-akan kasih Tuhan itu seperti sebuah titik. Padahal, Allah itu hidup, hadir menyertai kita, bersama kita. Kasih Allah bukan seperti satu titik, tetapi seperti garis panjang. 
    Allah Bapa menginginkan kita menikmati kasih-Nya yang terus mengalir dengan limpah setiap hari. Contoh sederhana yang kita pasti bisa mengerti dan alami dan rasakan: kasih orang tua terhadap anak. Sebagai orang tua, kita ingin mewujudkan, menerjemahkan kasih kita kepada anak dalam bentuk menyiapkan makanan, membelikan barang, dan tiada henti. Bukan seperti titik, tetapi seperti garis panjang. Sebagai anak, kita mengerti dan mengalami bagaimana orang tua melimpahkan kasihnya kepada kita. 
    Betapa jahat Iblis yang merusak gambar Allah di dalam pikiran manusia. Hal itu berhasil dilakukan atas banyak orang. Gambar Allah yang salah di dalam pikiran kita bisa disebabkan oleh banyak faktor. Mungkin karena sejak kecil kita tidak pernah merasakan kasih orang tua. Kalau yang punya Ayah dan merasakan kasih Ayah, dia bisa memiliki gambar diri Ayah. Waktu kita disakiti orang di sekolah, Ayah datang melabrak anak yang menyakiti kita. Kita punya gambar diri Ayah. Namun, ada orang yang tidak memiliki gambar diri orang tua. Ayah yang berkhianat, yang meninggalkan anak, yang memukul Ibu di depan anak. 
    Jadi, sejujurnya, banyak orang Kristen yang tidak memiliki gambar Allah yang benar di benaknya. Mereka mengatakan, “Allah itu baik,” tetapi mereka sebenarnya tidak bisa menghayati kebaikan Allah itu. Apalagi mereka yang didera masalah. Dari waktu ke waktu mereka sudah berdoa, juga minta didoakan pendeta, tetapi mereka tidak melihat jalan keluar. Apalagi peristiwa-peristiwa yang menyakitkan. Anak yang mereka kasihi meninggal dunia, atau orang yang mereka kasihi meninggal dunia. Mereka bisa marah terhadap Tuhan. Bahkan mungkin juga dendam. Hanya tidak berani menyatakan itu di dalam perkataan, tetapi dendam. “Mengapa, Tuhan? Mengapa?” Jadi kalau ke gereja, orang menyanyi “Allah baik,” mungkin dia ikut menyanyi, tetapi ada kemarahan di dalam hatinya. Lalu, bisa terjadi konflik batin antara apa yang didengar dan diucapkan, berbeda dengan apa yang dia rasakan. 
    Allah itu seperti Bapa yang mengasihi kita tiada batas dan tiada henti. Bukan hanya memberikan Putra Tunggal-Nya di kayu salib untuk menebus dosa kita, melainkan apa pun Dia bisa berikan. Alkitab menulis kalau Anak-Nya Yang Tunggal dianugerahkan, maka apalah artinya yang lain? Pasti Bapa bisa berikan. Kasih Allah bukan seperti titik, tetapi garis panjang. Nanti makin dewasa rohani, kita akan semakin tidak memiliki kecurigaan terhadap Allah. Sama sekali tidak ada kecurigaan, karena Allah memang tidak patut dicurigai. Allah bukan hanya baik, melainkan sangat baik. 
    Lalu, mengapa orang tidak dapat menikmati kasih Allah? Karena ia tidak mengenal Allah, sehingga ia tidak bisa memahami karakter, sifat, kehendak, dan rencana Allah. Sebagaimana seorang anak yang tidak bertumbuh dewasa dalam karakter, dia tidak akan pernah bisa memahami orang tua. Ketika dewasa dia mengonsumsi narkoba. Apa yang orang tua mau beri, anak tidak suka, karena selera anak dan orang tua tidak sama. Tahukah kita, apa yang Allah ingini? Yang Allah ingini di dalam hidup kita itu keselamatan kekal. Allah tentu tertarik melindungi ekonomi kita, kesehatan kita, keluarga kita,
    8 min
  • Segenapnya Kita
    Jika suatu barang dipandang tidak bernilai, maka tidak usah mahal, murah pun tidak dibeli. Tidak usah murah, diberi gratis pun tidak diterima. Namun masalahnya, Tuhan atau perkara rohani pun sering diperlakukan seperti itu. Buktinya? Kita sering tidak memperlakukan Tuhan secara tidak patut. Bisnis segiat-giatnya, kerja sekeras-kerasnya, harus. Mengurus rumah tangga, harus. Namun selebihnya, semua untuk kegiatan rohani. Bahkan, mestinya rumah tangga dan bisnis kita urus, itu pun semua untuk Tuhan. Bagaimana itu bisa? Lewat penggarapan. Bagi orang Kristen yang masih baru, sulit mengerti hal ini, tetapi nanti mereka akan tahu bahwa Tuhan itu gairah hidupnya. Jadi, dunia kita satu-satunya itu Tuhan. Kita harus berubah dan yang mengubah diri kita itu, kita sendiri. 
    Kalau dulu kita menanti lawatan Tuhan. Sejatinya, Tuhan sudah menyediakan lawatan-Nya. Kita yang tidak menerima lawatan itu. Kita menanti hari baik, padahal setiap hari adalah hari baik. Yang menjadikan hari tersebut baik atau tidak, tergantung kita. Kita harus mengambil keputusan. Kita tidak berubah karena kita tidak memiliki niat, tekad. Kita tidak membuat hati kita membara. Kita yang harus membuat diri kita membara. Kalau kita serius, maka pagi, siang, sore atau malam, seberapa banyak waktu yang tersedia, kita mencari Tuhan. Itu pun tidak membuat kita dengan mudah menjadi rohani atau mudah menemukan Tuhan. Tuhan itu tidak murahan. 
    Dia Elohim Yahweh, Allah Israel, yang benar-benar pernah membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Dia benar-benar pernah membelah Laut Kolsom. Dia merobohkan tembok Yerikho. Dia Allah yang sama yang kita sembah. Jadi, harganya Tuhan itu segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan kita. Setiap orang harus dan pasti bisa menemukan segenapnya itu. Roh Kudus pasti memimpin. Kita akan sangat menyesal nanti kalau kita melihat kemuliaan Allah, betapa agungnya, betapa mulia-Nya Tuhan. Jika sekarang kita memberikan porsi yang sangat terbatas untuk Dia, maka betapa menyesalnya kita. Bersyukur kita mendengar peringatan-peringatan seperti hari ini, karena ini akan menstimulasi kita. Namun, kalau kita tidak membuat diri kita membara, tidak mengobarkan semangat, tidak akan bisa. 
    Tuhan berkata, “Kasihilah Tuhan Allahmu …” berarti kita yang harus membuat diri kita mengasihi Tuhan. “… dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan.” Jadi, ini masalahnya: banyak orang menganggap Tuhan itu murah, sehingga mereka memberikan porsi yang sangat terbatas. Padahal, “segenapnya kita” adalah harga yang harus kita bayar untuk mencapai Allah. Jadi, ketika kita menjalani hidup, kita menyelesaikan masalah-masalah yang kita harus hadapi, di situ sering seakan-akan Tuhan tidak hadir. Hal itu yang akan membuat kita mencoba untuk mengisi hari kita dengan tidak menujukannya bagi Tuhan. Apalagi dalam menghadapi masalah-masalah yang tidak mudah kita urai. Kadang-kadang kita sudah begitu lelah dan Tuhan seperti membiarkan orang yang mengkhianati kita malah menang. Kita juga merasa seakan-akan tidak dibela Tuhan. Sejatinya, di situ kita belajar memercayai Allah, tidak mencurigai Dia, dan tetap mengarahkan diri kita kepada Tuhan. 
    Banyak orang bingung, tidak bisa menjawab, “Mengapa Tuhan seakan-akan mati untukku? Tuhan begitu nyata dan hidup untuk orang lain, tetapi untukku mati.” Mungkin ada di antara kita yang merasakan seperti itu. Walaupun kita berusaha semurni-murninya melayani Tuhan, setulus-tulusnya, berkorban segalanya, mengalahkan kepentingan sendiri, tetapi kadang-kadang kita merasa Tuhan seperti tidak membela. Kita diam, tetapi ada sedikit kemarahan. Tidak jujur, memang, tetapi ada sedikit kemarahan. Baru di kemudian hari kita mengerti, Tuhan mengajari kita untuk setia. Dalam situasi seperti itu, kita harus tetap percaya Tuhan. 
    Kalau kita mau mencapai Tuhan, rasanya sudah terlalu tinggi, tidak akan sampai. Lalu dengan liciknya Iblis berbisik, “Apa sih untungnya dekat Tuhan?
    9 min
  • Berani Mempertaruhkan Seluruh Hidup
    Allah semesta alam itu lebih dari segala nilai. Menemukan Allah itu lebih dari segala prestasi. Tidak ada cara mudah untuk mengalami Tuhan. Sering kali kita tertipu dengan kata “anugerah,” tertipu dengan kata “kasih karunia.” Kata “anugerah, kasih karunia” sering dikesankan bahkan dijelaskan sebagai sesuatu yang membuat seseorang mudah mencapai hal yang bernilai, dalam hal ini keselamatan; dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula; atau Allah sendiri. Seakan-akan keselamatan itu mudah dicapai, karena anugerah atau kasih karunia. Anugerah tidak membuat kita otomatis mencapai maksud keselamatan diberikan. Anugerah tidak mengubah kita. Yang diubah adalah hubungan kita dengan Allah. Keadaan kita belum berubah, masih mengenakan manusia lama, masih berkodrat dosa, tetapi diterima oleh Allah. 
    Tentu saja dengan keadaan kita yang masih berkodrat dosa, belum dewasa, hubungan kita dengan Allah belum hubungan yang dewasa atau ideal, tetapi walaupun demikian, Allah menerima kita. Sama seperti anak usia 5 bulan, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, sempurna sebagai anak, bagi orang tua. Umur 5-6 tahun, orang tua memiliki relasi dengan anak, kesayangan. Namun, belum relasi yang matang atau dewasa. Anugerah, mengubah relasi kita dengan Allah, kita diterima Allah; kita dibenarkan atau dianggap benar, walau keadaan kita belum benar-benar benar. 
    Sejak itu, justru kita masuk proses untuk menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah bukan hanya secara status; bukan saja secara de jure, tetapi juga secara de facto. Justru perjalanan hidup kita menjadi sulit, menjadi berat, sebab bagi kita, target yang harus kita capai itu dikembalikannya kita ke rancangan Allah semula, sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, mengenakan kodrat ilahi. Tentu seiring dengan pertumbuhan kedewasaan kita, kita memiliki hubungan dengan Allah makin ideal, makin matang, makin harmoni. Ini perjalanan hidup yang berat, sebab kalau kita menjadi umat pilihan, kita dipilih. 
    Bukan dipilih untuk pasti bisa masuk surga; dipilih untuk menjadi anak-anak Allah dan ditetapkan. Yang ditetapkan itu standarnya: kudus, tak bercela (Ef. 1:4-5). Justru perjalanan kita menjadi lebih berat dari orang yang bukan umat pilihan. Kalau bukan umat pilihan, cukup menjadi baik dan mereka bisa saja masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat Kerajaan Surga. Namun, kita harus sempurna dan kita diproyeksikan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Jadi, kita tidak bisa lagi hidup wajar seperti manusia lain. Banyak orang Kristen atau sebagian besar orang Kristen, tidak mengerti hal ini. 
    Maka, bukan tanpa alasan kalau Tuhan Yesus Kristus, berkata: Jjalan yang kalian tempuh itu jalan sempit.” Ketika orang bertanya dalam konteks keselamatan dalam Yesus Kristus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Keselamatan bukan hanya menjadi anggota masyarakat, tetapi menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. “Berjuanglah untuk masuk jalan atau pintu yang sesak itu,” Lukas 13:24. “Banyak orang berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.” Untuk mencapai sebuah prestasi tinggi, kita harus kerja keras. Keahlian, harus diusahakan dengan sangat-sangat serius. Berapa banyak investasi yang kita berikan untuk menemukan Allah? Setan membuat kita tumpul dengan memenuhi banyak kesibukan yang tidak mengarah kepada Kerajaan Surga, kekekalan, dan Tuhan Yesus. 
    Hidup kita harus menjadi pekerjaan Allah. Banyak orang Kristen yang sebenarnya masih memperlakukan Tuhan seperti barang murah. Jam-jam hidup kita isi untuk hal yang membuat kita tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, tidak makin dekat. Hobi-hobi, banyak menonton yang tidak perlu, mengopi dan kumpul dengan orang yang tidak membuat kita bertumbuh dalam iman, jangan lakukan. Kecuali bertemu orang-orang yang memang bisa bicara tentang firman. Atau karena harus mengunjungi keluarga, mengunjungi orang tua, menguatkan saudara yang lemah,
    8 min
  • Seperjuangan
    Mengapa orang tidak rindu bertemu dengan Tuhan Yesus? Karena tidak seperjuangan dengan Tuhan. Sungguh, tidak seperjuangan dengan Tuhan. Mengapa orang tidak seperjuangan dengan Tuhan? Karena umumnya mereka punya perjuangan sendiri. Kenapa orang punya perjuangan sendiri? Karena dia hanya memikirkan apa yang manusia pikirkan, bukan yang Tuhan pikirkan. Jadi, bukan hanya waktu di gereja, kita memikirkan firman Tuhan—bagi para pendeta, bukan hanya pada waktu di dalam persiapan khotbah—namun setiap saat. Seharusnya, ketika kita keluar dari gereja, kita pun tetap harus memperhitungkan: “Ini pikiran Allah atau bukan? Keputusan ini sesuai dengan Tuhan atau tidak?” Dalam segala hal. Memang tidak mudah bagi kita dan hal itu harus dilatih. 
    Sepikiran dengan Tuhan, membuat kita seperjuangan dengan Tuhan. Sepikiran dengan Tuhan, membuat kita tidak punya perjuangan sendiri. Kita tidak punya bisnis sendiri. Bukankah kita yang ditebus oleh darah Yesus, mestinya kita dimiliki Tuhan, dan kita hidup untuk Dia yang sudah mati bagi kita? Namun, standar ini sudah dianggap tidak ada. Dia sudah mati untuk kita, artinya kita semua sudah mati. Dan kalau kita hidup, kita hidup untuk Dia yang sudah mati untuk kita. Mestinya begitulah cara kita menjalani hidup ini, tetapi hal ini sudah tidak menjadi standar bagi banyak orang. Bahkan orang yang menjadi pendeta pun, yang mengaku full timer, dia juga bisa punya bisnis sendiri di dalam gereja. 
    Sekarang, bagaimana kita dapat memurnikan motivasi atau memikirkan apa yang Allah pikirkan? Itulah sebabnya kita ada di tengah-tengah dunia dengan 1001 masalah. Karena masalah-masalah itu adalah media di mana kita harus memilih antara apa yang dipikirkan Allah dan apa yang dipikirkan manusia. Kalau kita hanya di ruangan gelap, meditasi di tengah hutan, maka kita tidak punya persoalan, tidak punya pilihan. Tidak teruji, apakah kita mengikuti pikiran Allah atau pikiran manusia. Dan itu dimulai dari soal kecil yang anak dunia atau orang dunia pun dapat punya etika. Apa yang dipikirkan Allah dan manusia, itu jelas berbeda. Pertimbangan kita harus sesuai dengan pertimbangan Tuhan. Tentu, medianya adalah pengalaman hidup, perjalanan hidup kita setiap hari. 
    “Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya. Memikul salibnya dan mengikut Aku.” Menyangkal diri itu bukan sikap menolak perbuatan melanggar hukum. Menyangkal diri itu sama dengan menanggalkan pikiran manusia. Untuk kemudian, kita harus mengenakan pikiran Allah setiap hari; dari satu pilihan ke pilihan lainnya, dari satu keputusan ke keputusan lainnya. “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawa, ia akan kehilangan nyawa. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawa karena Aku, ia akan memperolehnya.” Nyawa di sini adalah psuke; kesenangan, selera duniawi kita. Hal ini yang harus ditanggalkan. Lalu kita berjuang untuk dapat mengenakan manusia baru, sehingga suatu saat kita bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus.” 
    Ayat lain mengatakan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” Kerajaan Surga adalah tempat di mana kita memiliki dinamika; pikiran dan perasaan kita masih eksis. Kita masih bisa menikmati makan, minum, seni budaya, keindahan alam. Kita punya hidup, punya nyawa. Tetapi kalau di neraka, tidak ada dinamika itu. Di neraka, orang kehilangan nyawa. Orang bisa punya uang, harta, mau pergi ke mana saja, mau beli apa saja, bisa. Namun, kalau suatu hari dia tidak punya dinamika hidup, masuk api kekal, mengerikan. Hari ini mungkin kita tidak bisa pergi ke mana kita mau, tidak pernah melihat yang namanya Eropa atau Amerika, apalagi Alaska, tetapi ketika kita mati, kita melihat kemuliaan Allah dan masuk Kerajaan Surga. 
    Jangan sombong! Milikilah perasaan beban dan krisis, dan mari kita berlatih terus. Kita harus berjuang terus. Kita berjuang untuk memikirkan apa yang Allah pikirkan, supaya kita jangan kehilangan pengharapan abadi di kekekalan. 
     
    8 min
  • Ditarget Iblis
    Iblis berusaha untuk menghambat, menjadi batu sandungan supaya kita tidak mengarahkan diri pada tujuan, maksud-maksud Allah di dalam hidup kita, yaitu agar kita menjadi anak-anak Allah yang layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Surga bukan perkara murahan. Ada ajaran-ajaran yang membuat orang berasumsi bahwa anugerah itu membuat surga menjadi mudah dicapai. Ini menyesatkan. Ajaran-ajaran yang menguasai gereja-gereja besar dan yang sudah berumur ratusan tahun, bahkan ribuan tahun. Seakan-akan surga itu mudah dicapai, karena kematian Yesus di kayu salib. 
    Kematian Yesus di kayu salib tidak memudahkan orang masuk surga, tetapi membuka pintu. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, pintu tertutup; tidak ada kesempatan untuk masuk surga sama sekali. Tetapi dengan kematian Yesus di kayu salib, maka surga bisa diraih, surga bisa dicapai. Pintu surga terbuka, tetapi bukan mempermudah. Orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Lama sebelum zaman Yesus, jika mereka melakukan hukum Taurat dengan baik, walaupun tidak seorangpun bisa melakukan hukum Taurat dengan baik, tetapi Tuhan memberikan solusi: dosa mereka ditimpakan pada domba yang disembelih. Itu solusinya. 
    Jadi, ada pengampunan juga. Jangan berpikir di Perjanjian Lama tidak ada pengampunan. Tuhan yang mengadakan pendamaian, penghapusan dosa lewat darah domba. Namun, darah domba itu sebenarnya hanya voucher. Sejatinya, yang bisa menghapus dosa, darah Yesus. Maka jangan heran ketika Yesus mati di kayu salib lalu bangkit, kebangkitan-Nya membawa orang-orang saleh naik ke surga. Sebab kalau Yesus tidak turun ke kerajaan maut, orang-orang saleh semua ditawan. Yang tidak hanya Henokh, Musa, dan Elia. Maka Alkitab mengatakan, “Ia membawa tawanan-tawanan naik.” 
    Jadi, kematian Yesus tidak mempermudah orang masuk surga, tetapi membuka pintu yang tadinya tertutup sama sekali, sehingga orang tidak mungkin mencapai surga. Umat Perjanjian Lama yang melakukan hukum dengan baik, jika gagal, ada darah domba yang menyelesaikan. Kita hidup di Perjanjian Baru, sekarang. Ada dua kelompok manusia. Yang dipilih dan yang bukan umat pilihan Dipilih itu bukan dipilih masuk surga. Dipilih untuk mengerti maksud keselamatan. Dipilih untuk memenuhi rencana Allah semula, yaitu menjadikan manusia segambar dan serupa dengan Allah. 
    Tidak semua orang dipilih. Ada orang-orang tertentu yang dipilih; mereka adalah orang-orang yang memang ditetapkan standarnya serupa dengan Anak Allah. Ditetapkan standarnya untuk sempurna seperti Bapa. Umat yang tidak dipilih, bukan berarti lalu masuk neraka. Mereka akan dihakimi menurut perbuatan. Jika mengasihi sama seperti diri sendiri, mereka juga bisa masuk surga sebagai anggota masyarakat. Sama-sama sulit. Orang harus berbuat baik, dihakimi menurut perbuatan. Yesus mati bagi semua orang, termasuk untuk orang yang tidak terpilih. Dosa mereka juga dipikul Yesus di kayu salib. Bukan berarti lalu bisa masuk surga dengan mudah; tetapi dihakimi menurut perbuatan. 
    Kita adalah atlet, kita adalah orang-orang yang dipilih dengan standar sempurna seperti Bapa. Tidak ada kemudahan. Kita adalah orang-orang yang membahayakan bagi kerajaan kegelapan. Kita ditarget Iblis yang berusaha untuk menghalangi. Bagaimana cara menghalanginya? Kalau kita membaca Matius 16 tadi, dengan cara membuat cara berpikir atau sudut pandang kita salah. Sebagai contoh, Petrus tidak tahu arah mana yang harus dituju. Bahkan Petrus berpikir Yesus memiliki konsep yang salah. 
    Betapa jauhnya standar yang seharusnya kita pahami dan kita jalani dibanding dengan kekristenan yang kita kenal hari ini. Hal ini juga karena kita sudah terbiasa dengan menu palsu. Manusia dirusak. Setiap hari kita melihat film, media sosial, mendengar syair lagu, yang semua menjadi batu sandungan untuk kita bisa melihat kemuliaan Tuhan. Selera kita terus dirusak oleh tontonan, barang branded, dan berbagai kesenangan, sehingga kita tidak memiliki tujuan. Puji Tuhan,
    9 min
  • Harus Sesuai
    Pelatih sebuah cabang olahraga atau pelatih atlet yang baik, akan merasakan beban dan perasaan krisis jika hendak menghantar atletnya ke medan laga. Biasanya pelatih yang baik, sesuai dengan tuntutan pemerintah, menarget atletnya untuk berprestasi. Tentu prestasi tertinggi adalah meraih medali emas. Karenanya ia mengusahakan agar atletnya berlatih sungguh-sungguh untuk bisa mencapai prestasi yang baik, prestasi yang setinggi-tingginya. Pelayan Tuhan yang baik, harus juga memiliki perasaan krisis dan beban, bagaimana supaya jemaat bisa mencapai prestasi setinggi-tingginya. Prestasi yang harus dicapai oleh jemaat adalah berkenan kepada Tuhan. Hal ini juga akan memotivasi para pelayan Tuhan atau hamba Tuhan, untuk benar-benar mencapai kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. 
    Di dalam suratnya, Paulus mengatakan, “Aku bukan pelari tanpa tujuan dan petinju yang sembarangan saja memukul.” Ada tujuan yang harus dicapai; ada target yang harus diraih. Seiring dengan bergulirnya waktu, bertumbuhnya kehidupan iman kita, dan semakin banyaknya penggarapan Tuhan di dalam hidup, kita semakin mengerti target yang harus kita raih. Sebagaimana seorang hamba Tuhan yang berkhotbah hanya dari buku yang dibaca, dari apa yang didengar orang lain, tetapi tidak mendengar apa yang Tuhan mau sampaikan, maka jemaat tidak berubah. Sehebat dan selengkap apa pun materi yang disampaikan oleh seorang pembicara, jika tidak berasal dari hati Tuhan dan tidak disertai kuasa Roh Kudus, tidak akan mengubah. 
    Sulitnya berkhotbah itu bukan bagaimana menyusun bahan khotbah dan menyampaikannya dengan metode homiletik atau metode ilmu bicara. Sulitnya berkhotbah bukan pada waktu di mimbar waktu menyampaikan khotbah. Namun, sulitnya berkhotbah adalah bagaimana hidup setiap hari berjalan dengan Tuhan, benar-benar memiliki perjumpaan dengan Tuhan dan mengalami Tuhan, sehingga ia menerima impartasi atau penularan sifat-sifat karakter Allah di dalam hidupnya. Kita pasti dapat menemukan target yang harus diraih; sasaran yang harus dicapai, dan berjuang untuk hal itu. Dengan demikian, kita memiliki beban dan perasaan krisis bagaimana kita dapat mencapai prestasi rohani. Maka, kita harus serius mengisi hari hidup dalam mengikut Tuhan dan memiliki tujuan yang jelas. 
    Seperti yang Paulus kemukakan, “Aku bukan petinju yang sembarangan memukul, bukan pelari yang tidak tahu di mana garis akhirnya.”  Namun, rata-rata orang tidak tahu di mana garis akhirnya. Rata-rata orang bergerak dari satu kesenangan ke kesenangan berikut, dari satu mimpi atau cita-cita atau keinginan ke mimpinya yang berikut. Seakan-akan jalan hidupnya tidak berujung. Padahal, ada ujungnya. Mari kita sadar. Masalahnya, seberapa kita serius berurusan dengan Allah? Tujuan hidup kita itu Tuhan, mestinya. Apakah kita memiliki keseriusan yang benar dalam berurusan dengan Tuhan? 
    Kalau mau mencapai target tinggi, prestasi tinggi, harus serius. Serius berlatih, serius mempersiapkan diri dalam gelanggang. Banyak orang, pada umumnya, tidak memiliki tujuan hidup, tetapi kita memiliki proyeksi. Hidup kita bukan untuk di bumi ini, melainkan untuk di langit baru bumi baru. Untuk mencapai kehidupan yang dilayakkan, masuk Rumah Bapa atau dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, kita harus memiliki kualitas sebagai anak-anak Allah. 
    Di Matius 16:21, Tuhan mengatakan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Itu adalah tujuan atau maksud Bapa mengutus Putra-Nya. Iblis sudah beberapa kali menghalangi Yesus agar tidak sampai pada puncak karya-Nya, yaitu mati di kayu salib dan dibangkitkan. Yesus menyatakan ini kepada murid-murid-Nya. “Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping.” Kata “tetapi” menunjukkan kebalikan. Jadi, Petrus tidak seiring dengan Yesus. “… dan menegur Dia…” Petrus mempersalahkan Yesus, seakan-akan Yesus perlu diluruskan.
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…