Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjadi Keharuman Tuhan
    Kalau kita mengasihi Tuhan atau menjadi kekasih Tuhan, maka Tuhan juga mengasihi orang-orang yang kita kasihi. Kita bisa melihat—dan mengalami—kenyataan bahwa orang yang benar-benar mengasihi dan menghormati Tuhan, anak cucunya tidak dipermalukan. Dari kisah mengenai Lot, ketika Allah mau menghancurkan Sodom dan Gomora, Allah mengingat Abraham, yang karenanya Allah menolong Lot. Harus kita akui bahwa kita tidak akan pernah bisa menjaga orang yang kita kasihi selama 24 jam. Ingat, kemampuan dan kekuatan kita terbatas. Apalagi kalau mereka berada di luar kota, di luar negeri, artinya jauh dari jangkauan kita. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, kita percaya tangan Allah yang kuat pasti bisa melindungi keluarga dan orang-orang yang kita kasihi. 
    Menjadi kekasih Tuhan itu sangat indah dan luar biasa, karena kita akan pasti dikasihi Tuhan dan diistimewakan. Bahkan, orang-orang yang kita kasihi juga akan diperlakukan istimewa dan khusus. Namun, tidak mudah bagi kita untuk menjadi kekasih Tuhan. Sebenarnya banyak orang Kristen—pendeta, aktivis, pelayan—yang belum tentu menjadi kekasih Tuhan. Lalu, bagaimana kita bisa menjadi kekasih Tuhan? Yang pertama, kita harus hidup sekudus-kudusnya. Yang kedua, jangan terikat dengan dunia. Memang hal itu tidak mudah, karena kita menghadapi pengaruh dunia yang jahat di sekitar kita. Lalu kita juga harus menghadapi kedagingan atau manusia lama kita yang tidak mau tunduk dan diatur oleh siapa pun. 
    Maka, kita harus sungguh-sungguh menggerakkan hidup kita untuk hidup di dalam kekudusan dari menit ke menit, dari jam ke jam. Selanjutnya, kita juga harus mengoreksi diri kita, kalau-kalau ada sesuatu di dalam diri kita yang kita cintai melebihi kecintaan kita kepada Tuhan. Waspadalah, itu artinya berhala dan kita dapat gagal menjadi kekasih Tuhan. Dinamika hidup kita pasti akan berubah, waktu kita mau menjadi kekasih Tuhan. Banyak orang bisa berkata, “Yesus, Engkaulah kekasih jiwaku,” tetapi apakah Tuhan mengakuinya sebagai kekasih? Itu masalahnya. Banyak orang merasa sudah menjadikan Tuhan kekasihnya, padahal itu di dalam fantasi. 
    Menjadi kekasih Tuhan itu bukan dinamika di dalam pikiran semata-mata, atau di dalam liturgi, melainkan dinamika hidup dari detik ke detik, bagaimana kita hidup di dalam kehendak Allah. Ini indah sekali. Kalau kita berkomitmen untuk melangkah menjadi kekasih Tuhan dengan benar, tidak ada yang bisa lawan kita. Orang bisa menindas, mem-bully, menekan kita, tetapi itu hanya sementara waktu. Ingat, Tuhan akan membela, akan berdiri di pihak kita. Tidak bisa dilawan. Tuhan berkata, “Semua akan ditambahkan kepadamu,” maksudnya adalah apa pun yang berguna untuk kita bisa mendahulukan Kerajaan Allah, Tuhan berikan. Jadi, jangan kita ragu dan tidak percaya bahwa kalau kita sungguh-sungguh menjadi kekasih Tuhan, Tuhan bukan hanya mengasihi kita, melainkan juga mengasihi orang-orang yang kita kasihi; pasangan hidup, anak, menantu, cicit, dan keturunan kita. 
    Di alam semesta ini ada Penciptanya, dan Sang Pencipta sekaligus menjadi tuan rumah jagat raya ini. Sadarilah, Dia akan selalu mau berurusan dengan kita. Tidak ada daerah netral di mana orang bisa atau boleh suka-suka sendiri. Di semua tempat di mana pun dan kapan pun, kita ada di dalam cengkeraman kehadiran Allah. Kehidupan kita tidak bisa dibangun hanya dengan berdoa atau ke gereja, tetapi harus dalam kehidupan yang setiap hari, menit ke menit, jam ke jam dalam persekutuan dengan Tuhan. Kita berharap, kita berlindung kepada Tuhan. Oleh karena itu, kita harus hidup sesuai kehendak Allah. Sebab ada orang-orang yang tidak layak dilindungi, karena hidupnya menyimpang. 
    Yesaya 59:1-2 firman Tuhan mengatakan: “Tangan Tuhan tidak kurang panjang, telinga-Nya tidak kurang untuk mendengar. Tetapi yang menjadi pemisah antara kamu dengan Allahmu adalah segala dosamu.” 
    Mari, kita benar-benar hidup di dalam kebenaran Tuhan. Hal ini tidak bisa ditawar, juga tidak bisa dikurangi.
    8 min
  • Menemukan Tuhan
    Salah satu hal yang telah menipu banyak orang Kristen adalah ajaran yang mengatakan bahwa untuk menemukan Tuhan adalah suatu hal yang mudah. Maka, banyak orang yang menunda dan berpikir, “Nanti saja aku sungguh-sungguh mencari Tuhan, mudah kok.” Ini sebenarnya menipu. Firman Tuhan mengatakan, “Carilah Aku, maka kamu akan mendapatkan Aku.” Ayat itu bukan sebuah janji kemudahan untuk mendapatkan atau memperoleh Tuhan. Melainkan janji bahwa pasti kita akan menemukan Tuhan kalau kita sungguh-sungguh mau mencari Dia. Namun, harga yang harus kita bayar atau jalan yang harus kita lalui, itu mahal dan berat. Orang yang sudah melewati tahun-tahun mencari Tuhan, tentu mengerti bagaimana frustrasinya memperoleh atau mendapatkan Tuhan atau mencapai Tuhan. Benar-benar frustrasi. Sampai pada pertanyaan, “Bagaimana ya Tuhan itu, mengapa Dia sulit sekali didapatkan? Saya sudah ke gereja, doa, puasa, tetapi Tuhan seperti tidak keluar dari persembunyian-Nya. Seakan-akan Dia berada di tempat tinggi yang tak terhampiri dan tidak turun.” 
    Hal ini tidak bermaksud membuat kita menjadi ber-mental block dan berkata, “Ya sudah, kalau begitu tidak usah mencari Tuhan.” Namun, hal ini supaya kita tahu, betapa berharganya Tuhan itu. Sebab kita tidak bisa menggapai, mendapatkan Tuhan, sementara kita masih membagi hati kita kepada dunia. Kita tidak bisa berjalan dengan Tuhan, sementara kita masih hidup di dalam dosa atau ada hal-hal yang Tuhan tidak berkenan. Jadi, masalahnya bukan terletak pada Tuhan yang bersembunyi, melainkan terletak pada kita yang tidak layak memperoleh atau mendapatkan Dia. 
    Tuhan berfirman dalam 2 Korintus 6:17-18, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Juga di Yesaya 59:1-2 dikatakan, “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”
    Masalahnya bukan terletak pada Tuhan, melainkan pada kita. Ini yang harus kita ingat! Sering hati kita belum bulat. Kita masih menyukai hal-hal yang tidak patut di hadapan Allah dengan segala bentuk. Sebenarnya kita belum sungguh-sungguh mencari Tuhan. Ketika kita berharap masih memiliki atau bisa memiliki kesenangan-kesenangan di luar Tuhan, berarti kita belum segenap hati untuk menemukan dan mengalami Tuhan. Padahal, ukuran yang harus kita kenakan adalah “Jika kamu tidak membenci ayah, ibu, saudaramu laki-laki dan saudaramu perempuan, bahkan nyawamu sendiri, kamu tidak layak bagi-Ku.” Seakan-akan kita tidak punya dunia lagi. Sebab harganya yaitu seluruh hidup kita tanpa batas. Sampai kita dapat berkata, “Kulepaskan semuanya dan kuanggap sampah supaya aku memperoleh Kristus.”
    Bukan bermaksud menzalimi orang-orang yang ada di Sekolah Tinggi Teologi, tetapi ironis, justru orang-orang yang ada di Sekolah Tinggi Teologi yang mengisyaratkan bahwa mengenal Allah atau enemukan Allah itu gampang. Itu yang kemudian menipu jemaat. Seakan-akan pengetahuan tentang Allah yang dicapai itu sama dengan mencapai Allah. Padahal, ciri orang yang mencapai Tuhan, hanya satu saja, yaitu ‘seperti Tuhan;’ berkarakter Tuhan Yesus. Penuh belas kasihan, penuh kasih terhadap sesamanya, rendah hati, tidak melukai, tidak berduri. 
    Bahkan di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi, di lingkungan gereja, ternyata masih penuh dengan ambisi di mana orang mau memperoleh sesuatu yang dapat memuaskan dan menyenangkan dirinya dengan berbagai fasilitas. Bayangkan, jadi apa jemaat?
    8 min
  • Tidak Menyentuh Dosa
    Bahaya dalam hidup kekristenan adalah hidup di dalam kewajaran, hidup seperti manusia pada umumnya hidup, dengan gaya dan cara hidupnya. Maka, kita harus berjuang untuk menemukan gaya dan cara hidup anak-anak Allah, sesuai dengan standar yang Allah kehendaki. Kita harus memiliki habitat yang baru, habituasi yang baru dan terus dibarui. Hal ini tidak mudah, benar-benar tidak mudah. Karena kita sudah terbiasa dengan pola dan gaya hidup yang kita jalani seperti yang orang lain jalani selama belasan bahkan puluhan tahun. Gaya dan cara hidup itu, kebiasaan hidup atau habituasi kehidupan seperti itu, sudah menyatu di dalam jiwa. Kalau keadaan ini terus berlanjut, pasti seseorang gagal untuk menjadi anak-anak Allah yang berkenan di hadapan-Nya.
    Mari kita serius untuk memperkarakan, bagaimana seandainya Yesus hidup di zaman kita sekarang? Bagaimana Yesus berdiskusi, mengucapkan kalimat, menghadapi lawan jenis, mengisi media sosial, dalam bekerja, berkarier? Apa yang kira-kira Dia lakukan? Bagaimana cara dan gaya hidup-Nya? Seandainya Yesus hadir menjadi seorang pendeta, gembala jemaat, ketua sinode, bagaimana gaya dan cara hidup Tuhan Yesus? Bagaimana reaksi Tuhan Yesus ketika Ia di-bully, difitnah? Itu yang kita harus perkarakan dengan serius. Masing-masing kita memang memiliki keadaan yang berbeda, tetapi kita bisa mengenakan kehidupan Yesus di dalam hidup kita masing-masing.
    Dunia kita hari ini sudah begitu jahat, sangat jahat, tetapi kita tidak boleh terbawa dalam arus dunia ini. Ingat, arus dunia ini kuat sekali, besar sekali dan hampir semua orang terbawa. Kita juga melihat bahwa kejahatan manusia hari-hari ini begitu hebat. Bukan hanya di luar lingkungan gereja, melainkan juga di dalam gereja, di tengah-tengah perhimpunan orang-orang yang mestinya menjadi orang saleh. Di lingkungan para pendeta saja, kita dapat melihat pertikaian dan perpecahan yang terjadi. Sekarang dunia bertambah jahat sekali, tetapi kita jangan sampai terbawa oleh arus dunia ini. Ingat, kita bukan manusia yang kebal dosa. Kita bukan manusia yang memiliki anti dosa. Kita bisa berbuat dosa dan ada kemungkinan kita bisa terbawa. Kita yang harus membangun kekokohan iman, integritas sampai itu menjadi anti dosa, sehingga kita tidak akan menyentuh dosa. 
    Mari kita belajar dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, menjaga perkataan kita. Jangan ucapkan kata yang Tuhan tidak kehendaki kita ucapkan. Kita juga menjaga jemari kita, jangan menulis sesuatu di media sosial yang Tuhan tidak kehendaki kita tulis. Jangankan sebuah narasi, sebuah kalimat pun tidak. Jangankan sebuah kalimat, satu kata pun tidak. Belajarlah mengampuni orang-orang di sekitar kita; yang melukai, merendahkan, memfitnah, dan yang menghancurkan nama baik kita. Jangan ada dendam, kebencian, lalu timbul harapan agar orang-orang yang melukai kita mengalami malapetaka dan bencana. Jangan kita lakukan hal itu. Mari kita kuduskan pikiran kita dari hal-hal yang tidak patut, mata kita dari hal-hal yang tidak patut, dan itu harus sungguh-sungguh kita perjuangkan.
    Yesus, jelas berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa” (Mat. 5:48). Pasti ini kehendak Allah untuk kita lakukan di bumi, bukan di alam lain atau di dunia lain, tetapi sejak di bumi. Ingat, Bapa di surga berkata dalam 1 Petrus 1:16, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Di dalam 2 Korintus 6:17-18 firman Tuhan mengatakan jelas sekali, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Maha Kuasa.” 
    Keluar dari antara mereka, sejak kapan? Tentu sejak kita masih hidup di dunia ini. Jangan menyentuh apa yang najis artinya kita harus menjadi suci di dalam seluruh kehidupan kita. Kenyataan yang kita dapati,
    9 min
  • Habituasi
    Kita harus membangun kebiasaan atau habituasi dalam kehidupan yang bersentuhan dengan Allah setiap saat. Kita harus berhenti beragama yang hanya melaksanakan keberagamaan itu dengan ritual atau seremonial, di mana sebagai orang percaya ia pergi ke gereja, lalu merasa cukup sudah memenuhi tugas sebagai orang beragama. Sejatinya, tidak demikian. Kita harus membuat atau membangun habituasi atau kebiasaan hidup keberagamaan yang baru, yang benar. Kita harus berhenti beragama dengan pola keberagamaan yang dangkal, miskin, bahkan ke arah palsu. Hal ini bukan berarti kita anti agama, melainkan membangun habituasi (kebiasaan) beragama yang berkualitas. 
    Tentu sebagai orang yang ber-Tuhan, maka seseorang akan beriman dan berakhlak baik, sesuai dengan hukum di dalam agama itu. Sebagai orang Kristen, kita harus berinteraksi dengan Allah di setiap saat, sehingga kita selalu ada di dalam penghayatan bahwa kita hidup di hadirat Allah dan kita harus berakhlak baik. Adapun ukuran baik di sini adalah akhlak atau moral-Nya Tuhan Yesus. Yesuslah Tuhan kita, Yesuslah yang menjadi manusia yang memberi teladan bagaimana menjadi manusia yang sempurna sesuai dengan kehendak Bapa. Yesuslah Juruselamat yang mengubah hidup kita dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi oleh pertolongan Roh Allah atau Roh Kudus. 
    Hal ini akan menyita seluruh kehidupan kita, tetapi kita akan mulai memiliki keasyikan yang belum pernah kita alami dan jalani sebelumnya. Kita menjadi orang yang mungkin dipandang ekstrem, fanatik, aneh. Namun, kita tidak menjadi “nyentrik” dan memiliki kehidupan yang menjadi batu sandungan. Mari, kita mulai membangun habitat baru kekristenan yang sejati, di mana kita semua berusaha untuk menghidupkan Yesus di dalam hidup kita, sampai itu menjadi habituasi kita setiap hari. Kita tidak boleh berhenti belajar, tetapi kita selalu harus merasa haus dan lapar akan kebenaran. Artinya, kita harus selalu merasa kurang karena kita belum mencapai apa yang sebenarnya Allah kehendaki. 
    Kekudusan Allah itu tidak terbatas. Karenanya, selama kita hidup, yaitu di sepanjang jalan hidup kita, kita harus terus bertumbuh dan tidak pernah berhenti. Sehingga, kalau kita menoleh ke belakang, kita dapat berkata, “Keadaanku hari ini lebih baik dari kemarin dan aku harus menjadi lebih baik besok, lebih dari hari ini.” Hal ini harus kita jadikan tujuan hidup kita satu-satunya. Percuma kita ikut doa puasa, atau mendengarkan khotbah-khotbah kalau kita tidak mengalami perubahan yang signifikan; yaitu perubahan hidup untuk sungguh-sungguh menghidupkan Yesus di dalam hidup kita. Percuma kita beragama Kristen, kalau kita tidak serupa dengan Yesus.
    Memang, bicara soal bagaimana serupa dengan Yesus itu abstrak. Sebab masing-masing kita punya karakteristik yang berbeda. Namun, pada intinya, serupa dengan Yesus adalah melakukan segala sesuatu yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian kita menyenangkan hati Tuhan. Roh Kudus pasti menolong kita. Selagi kita masih bisa melihat matahari di ufuk timur, kita masih memiliki jantung yang berdetak, nadi yang berdenyut dan napas yang berkembang di paru-paru kita berarti kita masih memiliki kesempatan untuk mengalami perubahan. Kita adalah organisme yang hidup. Kita jangan puas dengan ada di dalam organisasi gereja, tetapi kita harus menjadi organisme yang hidup di mana Roh Kudus bekerja di dalam diri kita dan membuat kita makin hari makin sempurna.
    Allah Bapa terus menggarap kita melalui setiap peristiwa, segala keadaan, sehingga kita bisa menjadi man of God (manusia Allah). Ini menjadi kesukacitaan kita. Inilah Injil itu. Hanya melalui Yesus Kristus, keselamatan dapat terwujud. Ingat, keselamatan bukan hanya masuk surga dan terhindar dari neraka. Keselamatan artinya dikembalikan ke rancangan Allah semula, menjadi sempurna seperti Bapa. Inilah kabar baik dan berkat bekal dari Allah yang menjadi Bapa kita, diberikan kepada kita setiap hari.
    8 min
  • Frekuensi yang Benar
    Kita masing-masing secara individu harus benar-benar mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kita harus serius mencari Tuhan, mengalami Tuhan secara riil, bukan hanya karena kita membaca Alkitab, mendengar khotbah atau kesaksian orang, melainkan karena kita benar-benar membutuhkan Dia sehingga kita benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan demi perjumpaan, pasti membangun keintiman, kedekatan, kelekatan dengan Tuhan. Tahukah kita bahwa Tuhan memberi diri bagi kita? Tuhan tidak membatasi diri-Nya. Seberapa banyak kita mau, Tuhan beri. Seberapa kita mau dekat, seberapa kita mau lekat, Tuhan sediakan. Tetapi masalahnya ada pada kita. 
    Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mempersoalkan atau memperkarakan mengenai keberadaan Allah. Kalau di sekolah teologi atau di sekolah Alkitab, mereka mempersoalkan ilmu tentang Tuhan; bagaimana bisa memiliki pemahaman secara rasio, secara pikiran di dalam nalar, hal-hal mengenai Tuhan, hal-hal mengenai Allah yang ditulis di Alkitab. Lalu merumuskan menjadi ajaran, doktrin, buku karya ilmiah, di mana itu juga bisa mengangkat derajat karena seseorang yang belajar di sekolah tinggi teologi memiliki gelar, dan gelar pasti memberi nilai di dalam kehidupan di masyarakat gereja. 
    Mereka puas dengan pengetahuan mengenai Allah, tetapi kurang sungguh-sungguh untuk mencari Tuhan dan mengalami perjumpaan dengan Allah. Sebab Indeks Prestasi atau nilai yang mereka peroleh dari kegiatan akademis, itulah yang akan menentukan kelulusan mereka, keberhasilan mereka dalam meraih gelar kesarjanaan. Namun, tidak dinilai seberapa mahasiswa tersebut mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Jika kita melihat dengan lensa mata rohani, betapa jauh dari standar. Jadi bisa dimengerti mengapa jemaat dibawa kepada kondisi di mana tidak merasa perlu ada perjumpaan dengan Allah. Karena apa yang dilakukan di dalam gereja, di dalam liturgi, sudah dirasa cukup menjadi media bertemu dengan Tuhan. Liturgi itu sudah menjadi sarana mereka bertemu dengan Tuhan. 
    Semua serba formalitas, sehingga hal itu tanpa disadari telah membuat gambaran bagaimana hubungan antara umat dan Allah yang begitu formal. Namun, perjumpaan demi perjumpaan dengan Tuhan setiap hari akan membangun keintiman dan kita dapat menemukan frekuensi yang benar. Kapan menangis, kapan tidak. Tuhan menikmati ketulusan itu. Sebab kalau frekuensi palsu, itu munafik. Ini juga termasuk waktu kita menyanyi. Hati dan gerakan tubuh kita harus seimbang. Jangan jadi orang yang memainkan peranan. Ketika mau berdoa, kita berperan sebagai pendoa. Padahal doa itu dialog. Kita harus memiliki perjumpaan dengan Tuhan setiap hari, memiliki dialog dengan Tuhan, sehingga kita menemukan bahasa perjumpaan itu, yang masing-masing individu pasti khas, tidak ada yang sama. 
    Kita akan menyesal kalau tidak pernah menemukan frekuensi yang pas. Berarti hubungan kita tidak benar dan kita tidak layak bertemu Dia, itu masalahnya. Orang yang tidak memiliki frekuensi yang pas, pasti munafik. Kalau kita dengan tulus mengatakan, “aku mau menyenangkan-Mu, Tuhan,” Tuhan menikmati. Sebaliknya, kalau orang pura-pura dan tidak ada ketulusan, Tuhan tidak merasakan. Tidak mungkin dia diperkenankan masuk surga. Tidak harus menangis, tetapi tangisan itu bahasa keintiman. Seperti ketika kita bertemu sahabat yang sudah 20 tahun tidak ketemu, kita bisa menangis, tetapi kalau bertemu orang yang tidak intim, walau kita sudah tidak bertemu 30-40 tahun, maka kita tidak akan menangis. 
    Air mata adalah bahasa emosi. Emosi tidak kelihatan, tetapi air mata menunjukkan emosi kita. Kita berurusan dengan Allah, kita menyentuh Allah dengan segenap tubuh, jiwa, dan roh. Sebagai orang kharismatik pada umumnya berpendapat kalau tidak menangis, berarti tidak ada urapan. Jadi, kita memancing urapan dengan menangis. Kalau itu kanak-kanak, masih Kristen baru, Tuhan maklum. Namun, kalau sudah dewasa rohani, mestinya sudah tidak lagi. Tangisan kita harus lahir dari hati dan memiliki frekuensi yang ...
    10 min
  • Terkoyak
    Salah satu hal yang membuat kita benar-benar menjadi serius berurusan dengan Tuhan atau sekaligus menjadi tanda bahwa kita serius dengan Tuhan adalah bahwa kita benar-benar siap ada di hadapan takhta pengadilan Tuhan. Kuasa kegelapan sering membisikkan satu kata yang membuat kita tidak serius berurusan dengan Tuhan. Kata itu adalah: “Nanti!” Sebenarnya, inilah yang membuat banyak orang menunda, membuat orang tidak 100% serius dengan Allah. Oleh sebab itu, kita bukan hanya berpikir ‘mungkin hari ini adalah hari terakhirku’—yang mana ini pun belum tentu orang mau merenung dan memikirkannya—melainkan kita harus memiliki waktu mengadakan perjumpaan dengan Tuhan, lalu benar-benar membayangkan dan merenungkan seakan-akan kita sudah ada di hadapan takhta pengadilan Kristus. 
    Pada saat itu, kita akan benar-benar terkoreksi; apa-apa yang masih ada dalam kehidupan kita, yang Tuhan tidak berkenan. Sekecil apa pun dosa dan kesalahan, sehalus apa pun itu, bisa terkoreksi. Tentu tergantung seberapa kita benar-benar serius memperhadapkan diri di hadapan Tuhan dan membuka diri untuk diperiksa, diteliti. Roh Kudus tidak mungkin tidak memberitahu kalau ada sesuatu di dalam hidup kita yang Bapa tidak berkenan, sehingga tidak ada orang yang nanti di hadapan Allah dapat berkata, “Saya tidak tahu ada kesalahan ini. Saya tidak tahu ternyata ini hal yang Engkau tidak berkenan.” Tuhan pasti memberitahu kepada kita. Sampai nanti kita akan bisa merasakan hal-hal yang bisa mengoyak kesucian kita. 
    Ketika kita minta ampun atas dosa dan kesalahan kita, Tuhan ampuni, Tuhan lupakan. Maka hati kita bisa robek atau terkoyak pada waktu kita berbuat dosa lagi; apakah itu mengucapkan kata yang tidak patut, memikirkan apa yang tidak patut, apalagi bertindak sesuatu yang tidak patut. Tetapi kadang, memang ada perbuatan-perbuatan yang tidak berkategori dosa, tetapi sudah cukup membuat kesucian kita bisa rentan. Kalau kita sampai membiarkan perbuatan itu kita lakukan, nanti lahir perbuatan lain, pasti jadi robek. Kita harus melatih diri untuk memiliki kebiasaan tidak menyentuh hal-hal yang bisa membuat kesucian kita terkoyak. 
    Manusia lama kita itu licik. Ia bisa membawa kita ke tahap-tahap yang membuat kita berbuat dosa. Jadi kalimat: “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskan kami daripada yang jahat,” maksudnya kita harus menjauhi hal-hal yang bisa membawa kita ke dalam perbuatan dosa. Ini hal yang sangat penting untuk kita perhatikan dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana kita bisa memiliki kepekaan itu? Yaitu ketika kita membawa diri kita pada penghayatan, perenungan seakan-akan kita sudah ada di hadirat Allah. Bukan nanti, melainkan saat ini. Bukan hanya “mungkin hari ini hari terakhirku,” bukan hanya itu, melainkan di saat ini kalau aku di hadapan Tuhan—dan memang kita harus selalu ada di hadapan Tuhan—apa yang salah dalam hidupku? Kita akan bahagia sekali ketika kita membuka diri dan tidak didapati salah. Atau kalau ada salah, kita harus segera minta ampun kepada Tuhan dan berkomitmen untuk serius bertobat. 
    Manusia lama kita masih kuat dan itu menuntut. Manusia lama kita bisa menjadi pangkalan Iblis. Jadi, waktu kita membuka diri di hadapan Tuhan, Tuhan periksa, kita bisa melihat adanya pangkalan. Mungkin pangkalan nafsu, materialisme, senang hormat dan disanjung. Kalau kita bisa menghancurkan pangkalan itu, setan tidak punya tempat berpijak. Dia tidak bisa bermanuver di dalam diri kita. Hal ini memang tidak mudah, karena matinya selera-selera tadi, harus lewat pergumulan berat dan panjang. Hal itu yidak bisa lenyap secara otomatis. 
    Jika kita masih senang dihormati, maka harus ada pergumulan di mana kita mendapat kesempatan dihormati, tetapi kita tidak mengambil kesempatan itu. Dari hal itu, kita bisa menghancurkan pangkalan itu. Hal itu memang berat. Apalagi kalau kita menunda pertobatan, menunda hidup suci, maka selamanya kita tidak pernah hidup suci. Harus secepatnya. Hati-hati,
    7 min
  • Respons
    Mengamati kisah mengenai Lot, yaitu mengenai dua utusan Allah di mana kedua utusan ini sudah mendesak Lot untuk segera meninggalkan rumah. Namun, kalau kita teliti, kedua utusan ini tidak memaksa, pada mulanya, tetapi ketika keadaan mendesak, maka kedua utusan itu memaksa Lot untuk segera meninggalkan Sodom. Akhirnya, memang Lot dengan dua anak gadisnya dan istrinya meninggalkan Sodom Gomora. Tetapi kita mengetahui kisah Lot ini, bagaimana istri Lot akhirnya menjadi tiang garam. Seandainya Lot sejak semalam ketika diberitahu—kedua tamu itu masuk rumah Lot ketika hari sudah menjelang malam—Lot sudah pergi dari rumah itu, maka tidak akan pernah terjadi bencana atas keluarga Lot; istrinya menjadi tiang garam dan terjadi hubungan yang tidak patut antara Lot dan dua anak gadisnya. 
    Ini kisah di Alkitab yang benar-benar sangat tragis. Lot memang bukan orang jahat. Di antara orang-orang di kota Sodom Gomora, Lot orang baik. Dapat dibuktikan dengan dua utusan yang datang ke tempat mereka, tidak ada seorang pun yang memedulikan, tetapi Lot tunduk. Dikatakan di dalam Alkitab, bahwa Lot sujud dan mengajak kedua tamu tersebut masuk ke dalam rumahnya. Dalam hal ini, Lot juga mempertaruhkan nyawanya. Namun, sikap lambat, tidak respons cepat terhadap ajakan atau panggilan Tuhan itu, harus Lot bayar dengan harga yang mahal. Hal ini harus kita perhatikan dengan sangat serius. 
    Kita sudah tahu bahwa kita hidup di perjalanan waktu. Kita juga sudah tahu bahwa kematian adalah satu hal yang pasti akan terjadi dan bisa datang setiap saat. Ingat, hal kematian tidak bisa diprediksi. Kita juga tahu bahwa setelah kematian, setiap kita harus menghadap takhta pengadilan Allah, seluruh isi kehidupan kita akan dibuka dan kita diadili (2 Kor. 5:9-10). Bahkan, satu kata yang kita ucapkan, harus kita pertanggungjawabkan. Jadi, tidak ada sesuatu yang gratis dalam hidup ini. Kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, baik atau jahat. Namun, seberapa banyak di antara kita yang betul-betul memperhatikan fakta itu, betul-betul responsif dan reaktif? 
    Respons kita sangat menunjukkan atau membuktikan seberapa kita menghormati Tuhan. Hal ini sama dengan seberapa kita memercayai perkataan-Nya. Kalau kita tidak memercayai perkataan Tuhan, itu sama saja dengan tidak menghormati Tuhan. Sikap menunda, tidak responsif, tidak reaktif terhadap firman Tuhan, terhadap kehendak Tuhan yang harus kita lakukan, sebenarnya merupakan sikap tidak atau kurang menghormati Allah. Padahal, kita mau supaya dikembalikan ke rancangan Allah semula, menjadi manusia sesuai kehendak Allah, diperkenan menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Di mana keagungan dan kemuliaannya tidak dapat kita bayangkan saat ini. Namun, juga kita tidak akan bisa membayangkan betapa ngerinya kekekalan seseorang yang terpisah dari hadirat Allah selamanya.
    Ingat, waktu ini akan berjalan terus dan suatu kali akan berhenti. Kita tidak akan bisa menambah sehasta saja waktu umur hidup kita. Itu kengeriannya luar biasa, saat kita tidak bisa menambah sehasta saja umur hidup kita. Hal itu mengerikan sekali. Namun, masalahnya, kepada siapa kita percaya? Jaminannya apa kalau Tuhan itu benar? Kalau kita sungguh-sungguh mau responsif kepada firman Tuhan, maka kelakuan kita pasti akan berubah, ditandai dengan ikatan kita kepada hal-hal dunia semakin jauh. Yesus mengajar kita harus sempurna seperti Bapa. Sebenarnya surga itu buahnya, bukan dalam arti tujuan secara fisik. Tujuan kita itu pada mulanya adalah hidup kita diubah. Dengan hidup kita diubah, maka kita layak untuk bersama Tuhan. Masalahnya, mengubah hidup ini memang tidak mudah. Yesus berkata, “Kalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kamu tidak masuk surga,” (Matius 18:3). 
    Bertobat, artinya berbalik (Ibr. shub; Yun. Metanoia), artinya perubahan pikiran. Maka, kata “anak” di dalam teks itu adalah paidion, artinya anak usia 7-14 tahun, usia yang efektif untuk dididik. Jadi ada satu periode,
    9 min
  • Pilihan Utama
    Kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada kita adalah anugerah, sekaligus kehormatan. Tentu anugerah yang di dalamnya termuat tanggung jawab. Dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita diberikan Tuhan opsi atau pilihan. Di situlah letaknya kita harus bertanggung jawab. Di dalam keputusan-keputusan yang kita ambil, di situ kita mengarahkan hidup dan kita menentukan “nasib” kita. Kita menentukan “keadaan kekal” kita dan itu harus selalu kita ingat. Dalam kisah Adam dan Hawa, sepertinya Allah membiarkan Adam dan Hawa memetik buah yang dilarang dikonsumsi, tetapi Allah sudah menasehati lebih dahulu. Ingat, Allah sudah memberi peringatan. Selanjutnya, Allah memberi kebebasan dan sebenarnya itu kehormatan. 
    Masalahnya, apakah kita menggunakan kehendak bebas kita untuk menjadi manusia yang terhormat atau terhina? Kuasa kegelapan berusaha membuat orang tidak memperhatikan hal ini dengan serius. Kita juga sering dibawa dalam keadaan pasif, artinya pasivitas. Kepasifan itu sebenarnya juga pilihan. Ketika seseorang tidak bermaksud memilih—sejatinya itu pun pilihan—pasti ia terhanyut oleh dunia. Ingat, kita tidak bisa netral, maka kita harus memilih hal yang benar dan sesuai kehendak Tuhan. Orang yang pasif atau netral artinya seperti tidak menghargai kehormatan yang diberikan oleh Tuhan dan sekaligus dia tidak bertanggung jawab atas kehendak bebas yang dimilikinya. 
    Ironis, banyak orang dalam keadaan pasif tanpa dia sadari. Maka, kita harus memilih. Masalahnya, apa pilihan dalam kita menggunakan kehendak bebas? Kalau pilihan studi, pekerjaan, tempat tinggal, bahkan jodoh, itu sebenarnya masih opsi yang tidak berisiko tinggi. Namun, opsi atau pilihan utama yang kita harus pilih, dan mengarahkan diri pada opsi itu adalah kekekalan dalam kemuliaan atau kekekalan dalam kehinaaan. Memang, tidak ada seorang pun yang bermaksud untuk masuk ke dalam kehinaan yang kekal, tetapi ketika seseorang bersikap pasif, sebenarnya ia membawa diri, tergiring, terkondisi atau terhanyut ke dalam kekekalan yang menuju kehinaan. Kuasa gelap dengan sangat cerdik dapat membuat seseorang lupa opsi yang terpenting ini yaitu opsi utama ini dengan berbagai kesibukan yang dijalani setiap orang. 
    Gadget, tontonan yang tidak memiliki manfaaat kedewasaan rohani, hobi-hobi yang tidak membuat kita bertumbuh dalam iman, sebenarnya semua hal itu dapat membuat kita menjadi pasif. Belum lagi, masalah-masalah yang menguras perhatian, yang menusuk tajam perasaan, yang membuat gelora emosi, maka kita dibuat hanyut dan pasif. Ingat, setan selalu membuat gerakan-gerakan yang membuat kita lupa bahwa kita ada di dalam persimpangan opsi kekekalan; dalam kemuliaan atau dalam kehinaan. Karenanya, kita harus memetakan hidup kita. Bukan hanya 24 jam 1 hari, melainkan dari menit ke menit, dari detik ke detik kita mengarahkan hidup kita. Jadi, begitu kita buka mata pada pagi hari, sejatinya kita sudah dibawa ke medan pemilihan itu. 
    Doa itu penting, ke gereja itu penting, membaca Alkitab itu penting, mendengar khotbah itu penting. Kita harus dengan serius memetakan waktu kita. Maka sekarang yang harus kita lakukan adalah membuat hati kita membara untuk mencintai Tuhan. Jangan menunda untuk menjadi seorang yang berkenan di hadapan Tuhan. Jangan tunggu nanti. Dalam doa kita berkata, “Tidak ada hal besar dalam hidupku kecuali Engkau, Tuhan; kecuali berkenan di hadapan-Mu, menyenangkan Engkau, memuaskan Engkau. Satu-satunya hal besarku, hanya Engkau, Tuhan.” Jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang sangat berharga ini. Kita harus sangat serius agar kita punya akselerasi menuju kekekalan kemuliaan itu cepat. 
    Kita tidak boleh tenggelam, bukan hanya ketika kita berada di dalam masalah, tetapi juga ketika kita sedang kelimpahan harta, terhormat, naik pangkat, itu pun kita tidak boleh tenggelam. Roh Kudus pasti akan menolong kita. Waktu kita pasif, Tuhan bisa tegur kita. Namun, kadang kita tidak mau dengar ‘alarm’ Tuhan, maka kita digebuk lewat masalah.
    8 min
  • Mengosongkan Bejana
    Sejarah gereja menunjukkan penyimpangan orang-orang Kristen yang dimotori oleh tokoh-tokoh gereja. Ironis, lambat laun wilayah-wilayah Kristen tidak lagi menjadi wilayah Kristen. Bahkan pusat gereja timur, Bizantium di mana terdapat gereja yang paling megah di dunia, yaitu gereja Hagia Sophia, telah berubah menjadi tempat ibadah agama lain. Sejujurnya, kehidupan kita pun tidak beda dengan masyarakat lain yang beragama non-Kristen, karena kita tidak menemukan makna dari hidup ini. Padahal, kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengarahkan kita untuk menemukan makna hidup. Ingat, makna hidup itu hanya satu, yaitu Tuhan. Ketika seseorang memiliki hubungan atau relasi dengan Allah, itulah makna hidup. Kurang dari itu, kita tidak menemukan makna hidup yang benar. 
    Bersyukur, dengan seiring berjalannya waktu di mana kita semakin tua, Tuhan terkadang dapat menyadarkan kita lewat proses yang menyakitkan, tetapi pada akhirnya kita menemukan bahwa makna hidup adalah perjumpaan dengan Tuhan. Berarti, Dia mau mengakui kita sebagai anak-anak-Nya dan bersedia dipanggil Bapa. Ingat, kita harus bertemu dengan Dia secara pribadi; bukan dari apa kata pendeta, dokrtin teolog mana pun, buku apa, atau literatur yang mana. Jadi, kita tidak perlu malu untuk mengakui bahwa ilmu teologi ternyata tidak membuat kita bertemu Tuhan. 
    Sebagai orang tua, kalau kita mencintai Tuhan dengan begitu kuat dan menjadi model dari seorang yang berjumpa dengan Allah, maka anak cucu kita akan terimpartasi. Namun, kalau cinta kita tipis, maka anak cucu kita tidak mendapatkan pesan, artinya tidak terimpartasi. Maka, kita harus mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara nyata. Betapa malangnya kalau suatu hari kita meninggal dunia dan tidak dikenal oleh Tuhan. Sebab sejak hidup kita sekarang ini kita tidak berinteraksi dengan baik kepada Tuhan. Keintiman itu tidak mungkin mendadak. Ingat, kita tidak bisa sok akrab, sok kenal dengan Tuhan. Allah itu hidup dan nyata, maka kita harus berinteraksi dengan-Nya secara nyata dalam menjalani hidup ini.
    Maka semakin tua, sebenarnya bejana hidup kita harus sudah dikosongkan dari hobi, nafsu, dan ambisi yang salah. Supaya hanya Tuhan yang mengisi bejana kita. Kalau kita tidak segera mengosongkan, maka bejana hati kita akan dipenuhi dengan berbagai hal yang tidak bisa kita lepaskan lagi. Itu masalahnya. Kalau kita tidak nekat, maka kita tidak akan pernah bisa menjadi teladan bagi keluarga dan kerabat kita; maka entah siapa yang akan menjadi teladan mereka. Manusia itu kecil, tidak ada artinya. Misalnya, ketika orang terkena bencana, maka ia tidak ingat lagi materi yang dimilikinya ataupun jabatan yang membanggakannya. Karena semuanya itu menjadi tidak ada artinya lagi. Ingat, kita tidak takut mati, kalau kita sudah mengosongkan bejana hati kita. Jangan sampai kita meninggal, tetapi masih menggenggam sesuatu. 
    Kalau kita masih menggenggam sesuatu, maka kita tidak akan menjadi mempelai Tuhan, artinya kita berkhianat. Tuhan mau hati kita sepenuhnya diberikan hanya bagi Dia atau tidak usah sama sekali, karena kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kiranya kita diberi pencerahan oleh Tuhan, jika ada hal-hal yang tidak patut di dalam diri kita yang mengganggu perasaan Tuhan. Kita mau berkomitmen untuk harus kudus di dalam segala hal, sekudus-kudusnya, supaya semakin berumur, kita semakin tidak bisa berbuat dosa. Maka, memang diperlukan latihan terus agar kita dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan, sehingga kita dapat memiliki relasi yang eksklusif dengan Tuhan; itulah arti makna hidup yang sejati.
    Tuhan tidak bisa ‘merasuki’ orang yang hatinya kotor dan punya percintaan dunia. Maka, kalau kita masih ingin begini, ingin begitu; mau begini, mau begitu, belum lagi ingin dapat kehormatan, pujian, sanjungan, maka kita jadi rusak. Apa sebenarnya yang kita cari lagi? Berbagai kesenangan dan kepuasan dunia tidak akan memuaskan, malah membelenggu. Maka, kosongkan bejana hati kita untuk pulang ke surga.
    7 min
  • Makna Hidup
    Setelah melewati tahun-tahun panjang perjalanan hidup, mestinya seorang anak manusia dapat menemukan makna hidup. Pertanyaan “Apa alasan aku hidup?” ditemukan. Namun ironis, banyak orang tidak menemukan. Dunia semakin menuju kehancuran, tidak bisa tidak. Dari peta kemakmuran hidup, dari peta kenyamanan hidup, jelas dunia tidak semakin baik. Ketegangan dan krisis dan berbagai persoalan hidup manusia, terus naik, bereskalasi. Apa yang terjadi di dunia kita hari ini, mestinya memberikan kepada kita isyarat atau sinyal bahwa apa yang difirmankan Tuhan, pasti digenapi. Itu berarti dunia pasti akan sampai akhir dari kehidupan.
    Melihat bukti-bukti penggenapan nubuatan firman Tuhan, maka pada akhirnya, kehancuran dunia juga pasti terjadi, tetapi manusia di dunia ini tidak waspada. Sebaliknya, manusia malah bertambah menjadi jahat. Ironis, tetapi inilah faktanya. Mestinya, manusia makin sadar bahwa dunia akan berakhir. Tuhan memberikan isyarat, seperti yang dikatakan di dalam Wahyu 3:20, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk. Jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” 
    Biasanya ayat ini disampaikan pada waktu KKR atau kebaktian penyegaran iman, yang pada intinya mengundang orang untuk membuka hati, menerima Tuhan masuk di dalam hatinya. Melihat konteks dari ayat ini, sebenarnya ayat ini bukan untuk individu, dan bukan hati manusia. Jemaat Laodikia, yang menerima surat dari Tuhan ini adalah jemaat terakhir. Ini peringatan untuk jemaat akhir zaman; juga untuk kita. “Pintu” dalam ayat ini juga bukan menunjuk pintu hati, melainkan pintu dunia. Tuhan sudah berdiri di muka pintu, Ia akan segera datang. Ini sama seperti yang dikatakan di dalam Injil Matius 25, mengenai gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. Ini adalah pasal-pasal terakhir di Injil Matius, yang juga berbicara mengenai akhir zaman. 
    Lima gadis bijaksana menunjuk orang-orang Kristen yang nanti layak masuk ke dalam Kerajaan Surga.  Lima gadis bodoh juga menunjuk orang-orang Kristen yang ikut di dalam komunitas, tetapi tidak memiliki persediaan minyak sehingga mereka tidak akan pernah masuk ke dalam pesta perjamuan. Di dalam perumpamaan ini, sebelum mempelai itu datang, ada suara; “Waktu tengah malam, terdengarlah suara orang berseru: mempelai datang, songsonglah dia! Mempelai datang, songsonglah dia!” Ini adalah peringatan. Ingat apa yang dikatakan Tuhan bahwa kedatangan Tuhan seperti pencuri. Dari dulu sampai sekarang, sama. Pada umumnya, pencuri datang pada malam hari. 
    Mestinya dengan isyarat yang Tuhan berikan, kita sadar, tetapi dunia makin tidak sadar. Dunia makin jahat. Prinsip-prinsip hidup duniawi makin mencengkeram manusia. Filosofi materialisme mencengkeram hidup manusia, sehingga manusia tidak mampu memiliki nurani yang baik untuk berinteraksi atau berurusan dengan Allah. Hubungan dengan Allah putus, walaupun mereka rajin ke gereja, tetapi tidak memiliki hubungan dengan Allah. Tuhan memberikan peringatan, tetapi manusia tidak menyadari peringatan itu. Mestinya dunia bisa menangkap peringatan itu, lalu belajar bagaimana menemukan makna hidup. Namun, dunia sudah makin jauh dari kebenaran dan makin terhilang. 
    Jadi, mestinya kita mulai bertanya, “Apakah hidupku hanya seperti ini saja?” Hidup yang Tuhan ciptakan itu sebenarnya luar biasa, indah sekali. Ironis, karena dunia yang sudah jatuh, maka dunia yang tidak bisa membawa manusia kepada kenikmatan puncak, tidak menjadi tempat hunian yang ideal; bahkan menjadi lembah air mata. Kita tidak menjadi pesimis melihat hidup ini, tetapi justru kita realistis melihat hidup. Kecepatan kejahatan melampaui yang kita duga. Bagi orang muda, kalau sejak muda tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan dan menemukan makna hidup, kalian tidak akan pernah menemukan sampai selama-lamanya. 
    Waktu hidup kita hanya sepotong,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…