Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Jaring Masalah
    Satu hal yang kita pasti tahu, setuju, alami, dan buktikan adalah bahwa kita tidak pernah luput dari masalah. Sejujurnya, di alam bawah sadar, kita memiliki harapan supaya bisa menjalani hidup tanpa masalah. Memang kita tidak ingin atau sengaja membawa diri kita kepada masalah, tetapi jangan berharap kita bisa hidup tanpa masalah. Kita harus mempersiapkan diri untuk selalu mempertimbangkan bahwa masalah pasti ada dan pasti akan kita alami. Mari kita hapus suara harapan itu, karena firman Tuhan jelas mengatakan dalam Matius 6:34, “Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Itu berarti kesusahan adalah bagian hidup yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan setiap manusia.
    Jadi, yang kita harus pahami adalah masalah merupakan bagian dari berkat. Sebagai seorang atlet, di setiap hari ada latihan. Bagaimana seorang petinju bisa tahan pukulan? Tentu ia harus dipukuli sering-sering, supaya ia dapat menjadi kuat dan tahan dalam pertandingan. Tuhan mau kita menjadi orang-orang kuat di dalam Tuhan. Tentu artinya kuat dalam spiritualitas. Hal itu tidak cukup hanya di dalam kamar berdoa, baca Alkitab, dengar khotbah. Berdoa, wajib; membaca Alkitab, mesti; mendengar khotbah harus. Namun, pengalaman atau perjalanan hidup di mana kita mengalami masalah-masalah, adalah dinamika yang pasti kita alami. 
    Firman Tuhan mengatakan, “Hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Yang luar biasa di sini adalah porsi masalah yang diberikan itu, cukup. Kesusahan sehari, cukuplah untuk sehari. Jadi, beban dari masalah, persoalan, kesulitan yang kita hadapi setiap hari itu, cukup. Begitu hebatnya Tuhan semesta alam mengatur semuanya. Itulah sebabnya dalam 1 Korintus 10:13 firman Tuhan mengatakan, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa.” Ingat, masalah adalah hal yang biasa. Kita sering melihat atau kita sendiri mengalami ketika mendapatkan persoalan hidup, lalu kita berkata, “Wah, berat. Luar biasa,” padahal firman Tuhan mengatakan, masalah itu biasa bagi setiap manusia. 
    Pencobaan yang biasa, yang memang diperuntukkan bagi manusia. Tidak ada pencobaan yang melampaui kekuatan manusia. Percayalah, Dia melihat dan memperhatikan hidup kita, artinya Dia tetap dalam kontrol-Nya yang sempurna. Ingat, Allah itu setia. Tuhan pasti memberi jaring-Nya. Setiap kita punya jaring. Jadi, kalau ada batu masalah yang lebih besar dari lubang jaring hidup kita, pasti tidak bisa masuk. Pasti setiap hari ada batu yang dilempar. Sebenarnya, itu adalah batu berkat. Kadang kita mengatakan di dalam kedalaman hati kita, “Aduh, kalau boleh jangan mengalami yang seperti ini.” Manusia lama kita memang sering mengintimidasi kita. 
    Tuhan tidak membuat tembok, tetapi Tuhan hanya membuat jaring. Kalau tembok, itu anti masalah. Jangan kita berpikir Tuhan memberi kita tembok anti masalah. Tuhan memberikan jaring untuk mengukur seberapa besar masalah yang kita bisa pikul. Tuhan pasti melindungi kita dengan jaring, bukan dengan tembok. Ingat, pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa. Jadi kalau kita marah sambil berteriak, “Mengapa, Tuhan?” berarti kita menganggap Tuhan tidak bijaksana. 
    Tuhan memberikan pencobaan yang tidak melampaui kekuatan, tetapi itu bukan berarti terus-menerus pencobaan yang kita alami, ringan. Beratnya persoalan pasti sesuai dengan umur kedewasaan rohani kita masing-masing. Jadi, persoalan itu melatih kita. Bagaimana saat kita direndahkan, dihina, difitnah, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita dilatih. 1 Petrus 1:6 mengatakan, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berduka cita oleh berbagai-bagai pencobaan…” Seketika itu artinya sementara, tidak lama. Jadi, semua pasti ada akhirnya. 
    Tuhan menguji atau mengizinkan pencobaan untuk meningkatkan kualitas iman kita.
    8 min
  • Harapan yang Kudus
    Firman Tuhan mengatakan bahwa harapan itu menguduskan jika kita menaruh harapan pada kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus ketika Tuhan datang yang kedua kali nanti. Harapan seperti itu akan mengondisikan kita untuk hidup lebih berhati-hati, untuk hidup lebih bersungguh-sungguh. Jadi, selain kita terus belajar untuk mengembangkan kehidupan 24 jam di hadirat Tuhan, kita juga menggerakkan hidup suci. Kita harus sangat hati-hati dengan perkataan, sikap, perbuatan dan pikiran kita. Kita angkat hati kita untuk hanya terarah kepada Tuhan dan menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Jangan kita menganggap ada sesuatu yang lebih membahagiakan kita lebih dari perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus. 
    Siapa pun kita, tua muda, pria wanita, kita harus mengembangkan di dalam diri kita cinta yang membara kepada Tuhan Yesus. Banyak orang yang tidak merindukan bertemu dengan Tuhan Yesus karena hati dan pikirannya telah diracuni oleh dunia. Selera jiwanya dipenuhi dengan kesenangan dunia. Mungkin, kita juga pernah melewati tahun-tahun di mana kita tidak sungguh-sungguh rindu bertemu dengan Tuhan Yesus, walaupun kita adalah seorang pendeta, dosen STT, atau aktivis. Sekarang pun, kita belum sempurna, tetapi kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan mulai bersemi di hati kita. Ingatlah bahwa pengharapan kebahagiaan kita hanya itu.
    Jangan menantikan sesuatu yang kita anggap dapat membahagiakan. Secara duniawi, mungkin kita bisa menikmati hidup hari ini lebih dari waktu-waktu yang lalu, tetapi kita tidak memilih itu. Kita harus memilih untuk sungguh-sungguh 24 jam di hadirat Tuhan; bagaimana kita bisa menjaga kesucian. Maka, carilah wajah Tuhan sampai benar-benar menemukan Dia. Kalau belum, jangan berhenti—lewat doa, meditasi—sampai kita mendengar suara-Nya. Jangan menjadikan Tuhan sekadar ilmu yang dibicarakan, didebatkan, tetapi harus kita alami dengan nyata.
    Kita harus berani mengatakan kepada Tuhan tentang kerinduan kita untuk mengalami-Nya. Kita dapat melihat betapa jahatnya dunia ini. Gerakan kuasa kegelapan yang mau membungkam gerakan hidup suci, gerakan 24 jam di hadapan Allah. Namun di sisi lain, kita juga dapat melihat hari-hari ke depan, bagaimana Bapa pasti menolong dan melindungi kita. Tidak usah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kita akan buktikan bahwa gerakan 24 jam di hadapan Tuhan bukan gerakan untuk menutup-nutupi dosa, bukan gerakan untuk sengaja kontroversial atau cari perhatian. 
    Maka, kita harus menggandakan pencarian kita akan Allah, supaya kelihatan bahwa ada gerakan orang yang sedang menuju Kanaan Surgawi. Kita harus berani meninggalkan kewajaran hidup. Jangan takut. Kalau kita menaruh pengharapan untuk bertemu Tuhan Yesus, maka ucapan “berkemas-kemas” betul-betul kita wujudkan dalam tindakan, yaitu bahwa kita sedang menuju Langit Baru Bumi Baru. Kita tidak akan pusing nama baik kita dirusak, dengan keadaan apa pun yang kita alami, karena kita merindukan bertemu dengan Tuhan.
    Namun, satu hal harus kita perhatikan, yaitu ketika kita bertemu dengan Tuhan Yesus, pertanyaan Tuhan Yesus kepada kita adalah, “Apakah kamu mengenakan hidup-Ku?” Tuhan pasti yang paling tahu apakah kita sudah mengenakan hidup-Nya atau belum. Betapa takutnya kita jika kita tidak mengenakan hidup-Nya. Tidak ada hal yang lebih memuaskan hati Bapa dan Tuhan Yesus kecuali kita dapat mengenakan hidup-Nya. Ingat,  kalau kita sungguh-sungguh mengenakan hidup Yesus, otomatis kita berkerinduan bertemu dengan Tuhan. Hal itu adalah sikap berkemas-kemas. Jangan bermental blok dengan asumsi bahwa suci itu tidak bisa sempurna, itu tidak mungkin.
    Alkitab yang bicara, “Kamu harus sempurna seperti Bapa,” artinya, segala sesuatu yang kita lakukan tidak meleset, presisi seperti yang Allah kehendaki. Kita benar-benar bisa hidup sesuai dengan keinginan Allah, senekat-nekatnya, tetapi bukan munafik. Melihat dunia yang semakin rusak ini, kita harus memisahkan diri dan meninggalkan kewajaran hidup,
    9 min
  • Kutub Kekudusan
    Kita harus selalu sadar dan ingat bahwa masa penampian sedang berlangsung. Artinya, suatu masa yang mengondisi terpisahnya mereka yang sungguh-sungguh mau hidup kudus dan yang tidak. Dunia akan diguncang dengan berbagai guncangan dan sekarang sedang berguncang. Berguncang dari berbagai aspek kehidupan. Perang di Eropa yang sekarang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina, itu merupakan sinyal yang jelas bagi kita bahwa dunia pasti berakhir. Belum lagi ancaman perang nuklir yang belum reda. Kalau sampai satu kali perang nuklir terjadi, peta kehidupan di bumi berubah total. Tidak terbayangkan. 
    Aspek ekonomi, politik, sosial, moral, semuanya juga selalu bergolak. Juga ekosistem bumi ini. Dengan makin banyaknya gempa bumi, makin banyaknya terjadi pergeseran lempengan di bawah bumi yang menimbulkan tsunami global, global warming dan lain sebagainya. Dari aspek moral, kita melihat kebejatan manusia yang semakin parah. Perilaku manusia yang semena-mena, tidak berbelas kasihan terhadap orang lain. Juga di lingkungan orang-orang Kristen sendiri, yang fasih mengucapkan kata kasih, tetapi di dalam praktiknya jauh dari implementasinya. 
    Kondisi ini akan membawa manusia untuk memilih berada di kutub kekudusan atau kutub kejahatan. Di mana hal ini membuka peluang untuk orang bisa menjadi jahat, sejahat-jahatnya. Bukan hanya di kalangan orang di luar orang beragama, juga di lingkungan orang Kristen yang beragama pun kita dapat melihat kesewenang-wenangan seseorang terhadap sesamanya. Kita dikondisi untuk memilih, mau berada di kutub kejahatan atau kutub kekudusan. Tentu saja kita harus memilih untuk berada di kutub kekudusan. Untuk itu, kita harus berjuang keras, sebab dunia kita hari ini adalah dunia yang rawan terhadap kehidupan iman Kristen. Dari apa yang kita lihat dan dengar, apalagi dalam dunia media sosial, ini menjadi jendela bagi banyak hal; apakah orang mau diracuni oleh dunia atau mau menguduskan diri oleh firman. 
    Oleh karena keadaan dunia begitu rupa, pengaruh dunia begitu jahat, maka kita harus membentengi diri dengan usaha yang lebih serius. Kita harus memultiplikasi, kita gandakan doa-doa dan pencarian kita akan kebenaran firman. Kita minta Tuhan untuk memberi penyingkapan-penyingkapan baru dari Alkitab yang membuahkan ajaran yang bisa kita pakai sebagai pedang Roh untuk menghadapi pengaruh dunia yang benar-benar jahat dan kuat ini. Memang orang-orang yang memilih kutub kekudusan, sangat sedikit karena hal ini tidak populer. Namun, kita tetap memilih untuk berada di kutub kekudusan. 
    Salah satu gerakan yang kita lakukan dan terus kita lakukan sampai dunia berakhir atau sampai kita meninggal adalah 24 jam di hadapan Allah. Selalu menghayati bahwa kita hidup di hadirat Allah. Sementara kita bekerja, kita melakukan segala kesibukan, kita selalu dalam kesadaran bahwa kita ada di hadapan Allah dan sekaligus di situ kita menjaga kekudusan. Memang kita masih berkarakter buruk, bahkan sangat buruk, tetapi kita minta pertolongan Roh Kudus agar kita bisa mewujudkan kehidupan yang tak bercacat tak bercela. Mari gandakan, multiplikasikan usaha kita mencari Tuhan. Kita harus makin serius mencari Tuhan. 
    Untuk berada di kutub kekudusan memang tidak mudah. Kita akan menghadapi kuasa kegelapan yang terus akan meneror, mengintimidasi. Kuasa kegelapan yang mau merangsang manusia lama kita dibangkitkan, sementara dunia akan gencar memengaruhi kita agar suasana jiwa kita keruh, sehingga kita bisa memiliki kesenangan-kesenangan dunia lagi; yang berarti menoleh ke belakang. Mengerikan. Sebaliknya, kalau kita menjadi orang Kristen “biasa-biasa saja,” setan tidak perlu menyerang secara hebat, tidak perlu mendesak, dan memusuhi secara tajam.
    Kuasa kegelapan akan memakai, bukan hanya orang-orang yang tidak beragama, bahkan orang-orang beragama, teolog, dan pendeta bisa dipakai untuk menghalangi lajunya gerakan hidup suci, gerakan 24 jam di hadapan Allah. Ini bisa terjadi, tetapi kita memandang Tuhan terus.
    9 min
  • 24 Jam
    Setelah sekian lama kita doa pagi, doa puasa, maka sudah saatnya kita benar-benar mau mengambil sikap dan menempatkan diri pada posisi yang benar dan permanen atau positioning.  Kalau kita tidak sungguh-sungguh menetapkan hati, kita bisa terbawa arus kembali, lalu kegiatan yang kita lakukan selama ini menjadi sia-sia. Kembali lagi ke siklus kehidupan seperti sebelum kita mencari Tuhan melalui doa pagi dan semua kegiatan rohani. Jadi, pada hari ini kita mau menentukan positioning yang jelas. Yang pertama, hidup 24 jam di hadirat Allah. Artinya kita selalu berjaga-jaga, selalu menghayati bahwa kita hidup di hadapan Allah, supaya kita tidak ceroboh dengan apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan. 
    Memang tidak mudah menjaga kekudusan hidup, tetapi ini adalah inti kehidupan Kristen kita. Jadi, kita jangan mencoba untuk menghindarkan diri dari hal ini. Setiap kita memang punya kelemahan dan kekurangan. Kelemahan-kelemahan yang sering masih menyeret kita pada perbuatan-perbuatan yang tidak patut, tetapi jangan berhenti, jangan putus asa, kita harus terus berjuang supaya kita mencapai kehidupan seperti yang Tuhan kehendaki. Kita tetapkan hati kita untuk benar-benar menjadi umat pilihan Allah yang berkenan kepada-Nya. 24 jam di hadirat Allah. Kita mau menghayati terus bahwa kita ada di hadirat Allah. Karenanya kita menjaga diri dari hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki.  
    Kita masuk dalam gerakan 24 jam di hadirat Allah dan kita benar-benar memasuki kehidupan yang tidak bercacat tidak bercela, gerakan hidup kudus. Kita harus menempatkan diri di kutub yang bertentangan dengan kutub dunia. Karenanya, kita terus belajar firman, memperbarui pikiran supaya kita tidak serupa dengan dunia. Kita harus memosisikan diri berada di kutub kekudusan, kutub percintaan dengan Tuhan; bukan kutub hidup dalam percintaan dunia. Kita harus se-ekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya, walau tentu tidak kita ucapkan. Kita tetap hidup wajar seperti manusia lain secara lahiriah—secara pandang mata, kita berumahtangga, bekerja, mencari nafkah—melakukan berbagai kegiatan lain yang tidak menyalahi etika kekudusan Allah. 
    Kita tidak boleh menunda besok, apalagi lusa, untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Hari ini—saat ini—kita menetapkan hati untuk benar-benar hidup tak bercacat tak bercela, hidup dalam kekudusan, yang di dalam segala hal kita menyenangkan hati Bapa di surga. Untuk itu, mari pisahkan diri kita dari dunia. Jangan lakukan apa yang orang lain lakukan. Kita harus melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Bapa. Untuk itu, kita memang harus berjuang dengan sungguh-sungguh, karena ini bukan sesuatu yang mudah, apalagi sudah menjadi irama hidup yang melekat di dalam diri kita. Maka, manusia lama, kodrat dosa harus terus-menerus kita matikan, supaya Kristus hidup di dalam diri kita, semangat, gairah Yesus, kekudusan Yesus, membara di dalam hidup kita.
    Kita harus berani berbeda dengan dunia. Roh Kudus pasti akan menolong kita bagaimana memisahkan diri dari dunia, untuk belajar terus supaya tidak serupa dengan dunia ini. Maka, komitmen dan tekad ini harus kita miliki dulu; mau hidup tak bercacat tak bercela, melayani Tuhan dengan perbuatan-perbuatan yang selalu sesuai dengan kehendak Allah. Jadikanlah ini satu-satunya dunia kita, satu-satunya kehidupan kita. Tahap demi tahap kita akan bisa menghayati bagaimana kehidupan yang berbeda dengan dunia ini. Kita harus melangkah. Kalau tidak, berarti kita hanya berfantasi saja. Doa-doa yang kita ucapkan untuk berkenan di hadapan Tuhan, hidup benar-benar tak bercacat tak bercela hanya fantasi. Sebab dalam kenyataan, kita tidak hidup di dalamnya. 
    Ingat, tidak cukup hanya pada waktu kita berdoa kita mengucapkan doa-doa semacam ini, namun justru ketika kita dalam perjalanan hidup setiap hari, di situlah kita menerapkan secara konkret kehidupan yang tak bercacat tak bercela. Maka, kehidupan yang berbeda akan kita alami tahap demi tahap. Kita harus melangkah.
    8 min
  • Ketekunan
    Pertumbuhan rohani merupakan proses yang berlangsung secara bertahap, yaitu bertahap ketat. Sebagaimana tubuh manusia yang bertumbuh secara ketat. Artinya, ada pertumbuhan yang berlangsung, tetapi nyaris tidak terdeteksi. Setiap hari ada sel-sel tubuh kita yang mati, tetapi ada sel-sel baru yang dilahirkan atau diciptakan. Kehidupan rohani kita juga bertumbuh bertahap secara ketat. Masalahnya, yang sering dipikirkan oleh banyak orang adalah pertumbuhan itu harus radikal sesuai dengan versinya. Ketika ia tidak melihat perubahan yang radikal, maka timbul keraguan, apakah ada proses pertumbuhan di dalam hidup rohaninya? Salah satu kebodohan orang percaya adalah mendengar suara Iblis yang berkata, “Kamu berdoa atau tidak berdoa, tidak ada bedanya. Nanti saja doanya, nanti saja sungguh-sungguh belajar firmannya. Kamu sudah setahun beribadah, ikut doa puasa, lalu apa perubahanmu? Tidak ada, kan? Sementara kamu lihat temanmu yang tidak ke gereja, tidak ikut doa puasa, keadaan mereka baik-baik saja.” 
    Itu adalah tipuan Iblis. Lalu ada orang-orang yang mulai tidak setia, tidak tekun lagi. Kalau orang seperti ini kemudian meninggalkan persekutuan, meninggalkan jam doa, dan meninggalkan ketekunan belajar firman, maka 5, 10 tahun kita jumpai, orang itu tetap kerdil rohaninya. Namun, bagi orang yang mau bertekun, 5-10 tahun kita jumpai, pasti kita bisa rasakan perubahannya. Mungkin ada di antara kita yang baru belajar berdoa dan mengeluh sering sulit konsentrasi atau pikiran mengembara. Maka, kita harus belajar berdoa dengan tekun. Sampai suatu hari, kita bisa berdoa di satu kawasan di mana pikiran kita tidak bisa mengembara lagi. Hal ini tidak bisa dibagikan, tetapi kita harus mengalaminya sendiri. 
    Ini juga berlaku untuk hal kekudusan. Dulu, kita mudah berbuat salah atau menggampangkan sesuatu. Kita biarkan perasaan kita menjadi liar. Namun, kalau kita tekun, maka kita akan sampai pada tahap tertentu di mana kita tidak bisa liar lagi, tidak bisa menyentuh dosa lagi. Kita berusaha untuk mencintai Tuhan dan kita berkata, “Aku cinta pada-Mu, Tuhan.” Tetapi kenyataannya, kita masih punya banyak hal yang menarik perhatian, yang memikat hati. Kalau kita mau bertekun dan belajar terus, maka kita akan tiba di suatu level di mana kita tidak bisa menarik cinta kita kepada-Nya. Kita belum terlelap tidur, peluk guling, kita bisa berkata dengan air mata: “Aku cinta Engkau, Tuhan.” Mengapa bisa begini? Ternyata itu adalah proses bertahap ketat yang kita jalani. 
    Karenanya, kita tidak boleh meninggalkan persekutuan dengan Tuhan. Setiap hari kita harus datang kepada Tuhan. Jadi, proses bertahap ini harus kita jalani dan satu kata yang sangat penting adalah “ketekunan.” Kalau seseorang bisa dewasa rohani, suci, dekat dengan Tuhan dengan mudah, maka ia tidak menghargai nilai-nilai rohani. Sama seperti kalau seseorang mendapatkan mutiara dengan mudah, maka menjadi tidak berharga mutiara itu. Namun, akan berbeda ketika dia harus menyelam di kedalaman sekian meter dengan pertaruhan nyawa, maka mutiara itu menjadi sangat berharga.  Ingat, Tuhan punya tatanan; “Carilah Aku selama berkenan ditemui;” “Bertekunlah.” Semua itu mengisyaratkan harus ada usaha dari kita yang mau sungguh-sungguh dan pasti membutuhkan ketekunan. 
    Sebenarnya, semua masalah kita itu hanya ada satu penyelesaiannya, yaitu Tuhan. Kita mau belajar untuk hidup dalam kekudusan, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan sampai kita dapat mengerti kehendak Tuhan; apa yang Dia rencanakan dalam hidup untuk kita penuhi. Tuhan tidak membuat hidup kita menjadi rumit. Sejatinya, Tuhan mau menjadikan kita sebagai kawan sekerja-Nya untuk melayani dan mengabdi kepada Dia. Maka, proses pertumbuhan bertahap ini harus kita alami secara nyata dalam kehidupan kita. Masalahnya, sering kita tidak mengenali diri, mengapa Tuhan izinkan kita mengalami hal-hal yang menyakitkan. Ternyata, jawabannya adalah karena masih ada “penyakit-penyakit” dalam jiwa yang tidak kita kenali. 
    9 min
  • Bahagianya Hidup
    Kita tentu menyadari betapa masih jauh perjalanan banyak orang Kristen, termasuk setiap kita, tetapi kita harus jalan terus. Sampai suatu saat kita bisa merasakan betapa membahagiakan pengharapan masuk Rumah Bapa. Namun, sejak sekarang kita sudah mulai bisa merasakan kebahagiaan Rumah Bapa. Sampai nanti pada waktunya kita masuk Rumah Bapa, diakui sebagai anak-anak Allah, pangeran-pangeran Kerajaan Surga, putri-putri Kerajaan Surga, betapa itu membahagiakan. Kita harus dapat merasakan hal itu. Kalau kita belum merasakan, berarti kehidupan rohani kita belum matang. Memang, kita semua masih terus di dalam proses, tetapi sejatinya kita sudah mulai bisa merasakan betapa bahagianya masuk Rumah Bapa, dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kebahagiaan itu sudah ada di dalam hati kita. 
    Mari kita melihat dengan jujur, betapa tragisnya hidup ini. Mungkin hidup kita secara pribadi tidak tragis, ekonomi kita baik, rumah tangga kita juga tidak bermasalah, tetapi melihat kehidupan manusia di sekitar kita, betapa tragisnya. Betapa membahayakannya dunia hari Ini. Karenanya, kita yang menghayati tragisnya hidup, kita berusaha menangkap sebanyak mungkin orang masuk Kerajaan Surga. Bukan masuk denominasi gereja atau supaya dapat uang atau mendapat nama besar. Bukan itu, tetapi kita memikirkan bagaimana orang-orang bisa diselamatkan. 
    Maka, semua kita harus jadi saksi. Tidak melalui perkataan yang menghasilkan perdebatan, tetapi melalui perbuatan. Mulut tidak usah banyak bicara. Di media sosial tentu juga tidak perlu berkoar-koar, tetapi diam dan senyap seperti Allah kita juga senyap (The Silent God). Namun, perbuatan kita tidak senyap, kita bergerak terus untuk bisa menyelamatkan sebanyak mungkin orang masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kita pikirkan bagaimana anak-anak mulai mengenal Tuhan sejak dini. Kita perhatikan Sekolah Minggu dan pendidikan umum yang bisa kita capai. Kita persiapkan orang-orang muda untuk menjadi pelayan-pelayan Tuhan. Berapa pun harganya, seberapa pun susah dan beratnya kita lakukan. 
    Hal ini yang akan membuat kita bisa melihat kemuliaan Allah di dalam batin kita. Kita bisa menembus batas kehidupan yang belum pernah kita tembus, yaitu kebahagiaan ketika kita mengingat kemuliaan bersama Tuhan di Kerajaan Surga. Tentu jika kita memilih hal ini, kita tidak boleh menyentuh dosa, sekecil apa pun, sehalus apa pun. Orang boleh mengatai kita apa pun, kita tidak boleh terganggu. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan kebencian yang terpendam pun tidak. Sebab masing-masing orang akan bertanggung jawab kepada Tuhan, tidak bertanggung jawab kepada manusia mana pun, termasuk terhadap kita. 
    Bahkan ketika kita disakiti, dilukai atau ditindas, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, karena Tuhan yang berhak membalas, Tuhan yang menjadi Hakim. Kekudusan, kesucian, harus kita perjuangkan dari detik ke detik, dari menit ke menit. Kita harus serius menjalani hidup, serius untuk mengikat mulut, tidak mengucapkan kata yang tidak patut, atau jari-jari kita tidak menulis apa yang tidak patut di media sosial. Ingat, pikiran kita harus terus kita bersihkan dari hal-hal yang najis; dari kebencian, dendam, perzinaan, percabulan atau keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, semua harus kita jaga. Kita yang menjagainya, bukan Tuhan. Tuhan melengkapi kita dengan firman dan Roh Kudus yang menuntun kita, tetapi kita sendiri yang harus menjagai pikiran kita. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus. 
    Kita bukan hanya tidak melakukan dosa-dosa secara fisik, tetapi juga taman hati kita harus kita jaga. Hal itu menjadi keasyikan, kalau kita sudah menjalaninya. Lalu nanti berkembang dengan adanya kerinduan kita untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, artinya supaya jiwa-jiwa juga melakukan hal yang sama yang kita lakukan; menjaga kekudusan untuk mempersiapkan diri menghadap takhta pengadilan Tuhan. Kita bisa melihat surga di dalam batin kita. Kita bisa merasakan kebahagiaan. Ingat,
    8 min
  • Sudah Dewasa
    Sulit dibantah kenyataan bahwa ketika Tuhan membawa kita kepada persoalan-persoalan berat, itu karena Tuhan mau kita mengalami Dia. Kalau tidak ada masalah-masalah berat, sering kita kurang melibatkan Tuhan karena kita merasa tidak membutuhkan Dia. Tentu ini untuk mereka yang belum benar-benar matang atau belum benar-benar dewasa. Tuhan bisa mengizinkan seseorang mengalami persoalan-persoalan yang besar, yang berat, supaya melibatkan Tuhan, dan di situ mereka mengalami Tuhan. Tetapi kalau kita sudah dewasa, kita dipandang Tuhan sudah matang, maka sejatinya kita tidak harus mengalami persoalan berat untuk selalu melibatkan Tuhan. Tetapi kita membawa diri kepada suatu situasi, di mana Tuhan pasti terlibat di dalamnya. Jadi, ketika kita belum matang, belum dewasa, Tuhan mengajar kita untuk melibatkan Tuhan di dalam kehidupan agar kita mengalami Tuhan, yaitu lewat persoalan-persoalan besar, berat, rumit dan sukar. Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang menerima anugerah. 
    Namun, kalau kita sudah mulai dewasa, tidak perlu lagi kita dibawa ke dalam persoalan berat untuk kita melibatkan Tuhan dan mengalami-Nya. Kita yang membawa diri kita masuk dalam pergumulan di mana Tuhan pasti terlibat di dalamnya, yaitu pelayanan pekerjaan Tuhan. Kalau tadi kita tidak mencari masalah, Tuhan izinkan kita mengalami masalah. Sekarang kita yang cari masalah, yaitu pelayanan. Kita memikirkan bagaimana jiwa-jiwa diselamatkan, bagaimana anak-anak mengenal Tuhan, bagaimana remaja-remaja bisa mengenal Tuhan, bagaimana pemuda-pemuda dipersiapkan menjadi manusia-manusia yang unggul, yang baik di masa depan. Di sini kita terlibat dalam persoalan dan pasti Tuhan terlibat di dalamnya, karena ini pekerjaan Tuhan. 
    Tentu saja kita harus bertanya kepada Tuhan dengan benar dan serius, apa yang kita harus lakukan? Jangan sembarangan membuat proyek-proyek pelayanan tanpa rekomendasi dari Tuhan, tanpa konfirmasi dari Tuhan, tanpa persetujuan dari Tuhan. Orang-orang yang melibatkan diri dalam masalah-masalah rohani, masalah pelayanan atau masalah Tuhan haruslah orang-orang yang sudah dewasa, yang sudah tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, tetapi memikirkan orang lain. Namun, jangan heran jika orang-orang seperti ini akan mendapatkan serangan yang hebat dari kuasa kegelapan. Kuasa kegelapan akan membangkitkan orang-orang yang akan menyerang, menghancurkan hidupnya. Orang-orang itu benar-benar dipakai oleh kuasa kegelapan untuk menghancurkan orang-orang yang sedang melibatkan diri dalam persoalan Tuhan atau pelayanan. 
    Namun jangan takut, tetaplah fokus pada pelayanan agar jangan sampai terganggu. Seperti Nehemia yang membangun tembok Yerusalem yang rusak, dia menghadapi musuh Tobias, Sanballat dan teman-temannya. Ia tetap bekerja, sementara ia menghadapi orang-orang Yahudi, pemuka-pemuka Yahudi yang tidak loyal, tidak setia, sibuk mengurusi dirinya sendiri, bahkan melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum Tuhan. Nehemia tetap kokoh memandang Tuhan, dan Tuhan menyertai dia. 
    Level hidup kerohanian kita tentu berbeda. Tetapi sudah saatnya kita masuk dalam persoalan atau masalah, di mana Tuhan pasti terlibat di dalamnya, yaitu pelayanan pekerjaan Tuhan. Masing-masing kita harus bertanya kepada Tuhan, apa yang Tuhan mau kita harus lakukan? Kita harus sungguh-sungguh menggumuli hal ini agar kita menemukan proyek yang dari Tuhan sendiri. Jangan membuat proyek sendiri, jangan mengarang-ngarang pekerjaan Tuhan dalam pikiran kita. Biar Tuhan yang menyatakan, apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Proyek apa yang masing-masing kita bisa dipercayai oleh Tuhan guna kita tunaikan. Jangan sampai kita meninggal dunia dalam keadaan yang tidak tahu apa yang mestinya kita lakukan selama kita hidup di dunia. 
    Setiap orang pasti memiliki rencana Allah. Rencana yang pertama adalah setiap kita harus harus bertumbuh sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, hidup sesuai dengan kehendak Allah, itu pasti mutlak demikian.
    9 min
  • Prestasi di Kekekalan
    Seorang pedagang yang ulet akan tetap melayani pelanggan yang datang walau jam buka toko sudah hampir selesai. Tidak jarang, apabila toko telanjur tutup, maka pelanggan dapat dilayani di rumah. Pertanyaan bagi setiap kita, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama untuk Tuhan? Kita harus memiliki gairah atau ambisi untuk menjadi perwira tinggi Kerajaan Surga. Sehingga pada waktu nanti di pengadilan Tuhan, ketika nama kita dipanggil, Tuhan akan memberikan ‘reward’ atau kehormatan kepada kita sebagai orang ‘yang terkemuka.’ Dalam hal ini, kita bukan gila hormat, atau gila pangkat, tetapi kita mau menjadi kesukaan Bapa. Karena Bapa akan sangat bangga kalau kita—anak-anak-Nya—berprestasi. Berprestasi di dalam kekekalan. Jika kita sungguh-sungguh berambisi berprestasi dalam kekekalan, maka kita pasti sungguh-sungguh menjaga kekudusan hidup. Lalu, apa pun yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan, kita lakukan. Kita tidak akan pernah menyesal melakukan hal ini.
    Sebab, ketika orang di ujung maut dan tahu bahwa yang dibutuhkan hanya Tuhan, dia akan menyesal kenapa tidak mencari Tuhan sungguh-sungguh. Ironis, banyak orang menganggap Tuhan itu murahan. Maka mereka sembarangan mengucapkan kalimat, kata, atau menuliskan sesuatu di media sosial, sembarangan bertindak, tidak punya nurani. Mari, kita berambisi menjadi orang terkemuka di dalam Kerajaan Surga. Sehingga kita sudah bisa membayangkan dan menghayati sejak sekarang, karena memang ini bukan fantasi. Kemuliaan bersama Tuhan itu nyata dan pasti. Di mana ada kemeriahan pesta Anak Domba Allah, yaitu perjumpaan Yesus dengan orang percaya yang setia di dalam Kerajaan Bapa di surga. 
    Betapa hal itu tidak terbayangkan keindahannya. Keagungan pejabat tinggi dan keagungan bangsawan dunia hari ini, tidak ada artinya. Namun, orang-orang sederhana yang mungkin tidak dikenal oleh manusia lain, tidak terhormat dan tidak berharga di mata manusia, ternyata menjadi orang-orang terhormat dan terkemuka di Kerajaan Surga. Sesuatu yang pasti, bukan spekulasi, pasti; adanya kehidupan yang akan datang, adanya Kerajaan Surga. Karenanya, pertama, kita harus benar-benar menjaga kehidupan. Dan yang kedua, kita harus sungguh-sungguh hidup dalam pengorbanan bagi Tuhan. Ingat, “Karena hanya orang yang menderita bersama Tuhan Yesus yang dimuliakan” (Rm. 8:17).
    Mungkin saat ini kita melayani Tuhan karena masih ikut-ikutan, terbawa. Dan kita belum memiliki kemurnian hati, karena belum dewasa atau belum matang. Karakter atau sifat lama juga belum hilang. Bisa juga karena bapaknya pendeta, anaknya ikut melayani, terbawa. Bahkan jadi pengganti bapaknya sebagai gembala. Tapi belum tentu dia melayani dengan sungguh-sungguh. Di Kerajaan Surga nanti, orang seperti ini tidak akan menjadi yang terkemuka. Kalau keadaan kita hari ini masih seperti itu, mari kita berubah. Sekarang kita harus belajar untuk tidak punya naluri manusia lama lagi.
    Naluri kita harus naluri rohani. Kita harus berambisi. Jadi kalau kita sekarang berada di tengah-tengah keluarga, dan ditindas, dihina, diinjak-injak, nama kita rusak di tengah keluarga besar, hal itu sebenarnya bisa menjadi bahan bakar untuk terbang tinggi. Jangan membalas, tunggu sampai kita semua menghadap pengadilan Tuhan. Tapi kalau sekarang kita adalah orang terhormat, disanjung, diagungkan, terkemuka di mata manusia, mungkin kita malah akan melempem. Lalu mengapa kita tidak berambisi menjadi orang terkemuka di Kerajaan Surga? 
    Jadi bersyukur kalau saat ini kita teraniaya, tertindas, miskin, tidak punya apa-apa, tidak terhormat, tidak dikenal siapa-siapa, asalkan kita hidup dalam kekudusan, kesucian maka pasti ada tempat di mana kita mengabdi kepada Tuhan, dan kita diangkat Tuhan di situ. Tidak mungkin tidak ada kesempatan melayani Tuhan. Tidak mungkin tidak punya kesempatan memikul salib, tidak mungkin! Orang yang sudah hidup nyaman, bisa tidak memikul salib. Kelihatannya pikul banyak beban, tetapi beban itu dipikulnya karena ia mau punya prestise,
    9 min
  • Melipatgandakan Pencarian akan Tuhan
    Tingkat keseriusan seseorang dengan Tuhan itu bisa sangat relatif. Sebab setiap orang memiliki keseriusan yang berbeda, tergantung dari umur rohani, atau usia kedewasaan rohani masing-masing, artinya setiap individu mengalami proses pertumbuhan kedewasaan rohani, sehingga tingkat keseriusannya juga terus berkembang, berdinamika. Namun, yang kita harus persoalkan adalah apakah kita benar-benar memiliki keseriusan yang berkenan di hadapan Tuhan? Tentu sesuai dengan usia rohani seseorang. Maka, di sini kita harus serius untuk mengoreksi diri, dan membawanya ke hadapan Bapa, memohon untuk diperiksa dan dikoreksi; apakah keseriusan kita dalam berurusan dengan Tuhan itu sudah berkenan di hadapan-Nya?
    Banyak hal yang bisa membuat kita menjadi kurang serius, bahkan tidak serius. Kuasa kegelapan akan berusaha untuk merusak, men-distract pikiran kita supaya kita tidak fokus kepada Tuhan, tetapi kepada banyak hal lain. Apalagi kalau kita hidup dalam dosa, pasti keseriusannya tidak kokoh, tidak bulat, tidak utuh, bahkan hancur. Maka, kita harus menjaga pikiran dan hati kita dengan sungguh-sungguh. Sebab kalau kita membiarkan ada ‘binatang-binatang najis’ masuk di dalam pikiran, maka dapat hancur berkeping-keping keseriusan kita. Hal-hal najis yang muncul, harus kita halau; apakah itu kebencian, dendam, pikiran zina, gila hormat. 
    Sebagaimana 1 Yohanes 2:16 katakan, “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” Maka, keinginan untuk memiliki sesuatu barang yang mana jika Tuhan tidak kehendaki, jangan diingini. Seharusnya, barang yang kita ingini itu pun harus kita gunakan untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk sekadar kesenangan kita, apalagi untuk harga diri. Sudah saatnya kita tidak mengingini sesuatu untuk kesenangan hati kita. Setiap kita punya fasilitas dan porsi berkat yang berbeda pula. Kalau seseorang naik kendaraan roda dua, tidak bisa semena-mena mengatakan mereka yang naik roda empat sebagai mewah dan berdosa. Setiap orang punya pergumulan dan persoalannya sendiri yang tidak bisa kita nilai. Namun, yang penting, jangan kita mengingini barang hanya untuk kesenangan kita, apalagi untuk prestise.
    Kita sedang mendekati dunia yang akan hancur. Dunia yang akan makin kacau dalam segala aspek. Kita sedang berkejar-kejaran dengan waktu, membenahi diri untuk bisa berkeadaan berkenan di hadapan Allah. Dan membawa sebanyak mungkin orang bertobat, benar-benar bertobat, hidup suci, hidup kudus tak bercacat tak bercela. Dan tentu untuk ini harus ada kebenaran yang murni dari Tuhan. Kita tidak bisa berpijak pada doktrin-doktrin warisan, yang ternyata tidak mengubah hidup manusia. Jangan kita seperti Eropa atau negara-negara Barat, di mana kekristenan benar-benar telah bangkrut. Manusia menjadi seakan-akan tidak pernah mengerti ada Tuhan. Poin utamanya, mereka memang tidak mau mengerti ada Tuhan. Kebanyakan menjadi free thinker, karena Tuhan telah dieliminir, dibuang. 
    Kita bersyukur, kita berada di Indonesia, yang masih ada dalam suasana keberagamaan yang kental dan kita tergiring untuk ke gereja, untuk mencari Tuhan. Maka, mari kita lipatgandakan pencarian kita akan Tuhan, pencarian kita akan hadirat Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus sangat serius. Jangan sampai kita tidak memiliki jam doa, termasuk juga dalam beribadah. Sebab hal ini dapat menunjukkan tingkat keseriusan kita. Memang tidak ada yang mengabsen dan kelihatannya semua tenang-tenang dan aman-aman saja. Namun, kalau kita serius dan mau berkomitmen mencari Tuhan, pasti kita harus serius menyediakan waktu kita. 
    Jadi, kalau Tuhan memberikan kita kesempatan untuk mencari Tuhan, jangan sampai kita sia-siakan kesempatan ini. Kita harus sungguh memperkarakan seberapa kita serius dengan Tuhan. Percayalah, Roh Kudus pasti menuntun kita seberapa kita benar-benar serius dalam berinteraksi, dalam berurusan dengan Tuhan.
    8 min
  • Seberapa Kesungguhan Kita?
    Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kita benar-benar yakin bahwa Allah itu ada? Apakah segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi kita benar-benar memercayai bahwa Allah itu ada? Firman Tuhan mengatakan, “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibr. 11:6).  Maka pertanyaan yang berikutnya adalah apakah kita sudah sungguh-sungguh mencari Dia? Sebagai orang tua, kita pasti bisa merasakan ketika anak kita mencari dan merindukan kita. Apalagi, Tuhan.
    Tuhan yang Maha Tahu pasti dapat membaca dan mengenali hati kita. Tentu Tuhan juga dapat merasakan, apakah kita sungguh-sungguh memercayai bahwa Dia ada, dan hidup. Dia juga mengerti, apakah kita sungguh-sungguh membutuhkan Dia, mencintai, menghormati, dan sungguh-sungguh takut akan Dia. Kalau kita hanya mengaku bahwa Tuhan itu ada, maka banyak orang yang bisa melakukannya. Tetapi masalahnya, apakah setelah kita mengakui keberadaan-Nya, kita juga sungguh-sungguh mencari Dia? Ini yang harus benar-benar kita periksa dalam hidup kita. Seberapa tekun kita mencari Dia? Firman Tuhan mengatakan, “Mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (2 Taw. 16:9).  
    Percayalah, suatu hari, semua makhluk di muka bumi akan mengerti dan mengenal dengan sempurna betapa dahsyat dan mulia Allah yang menciptakan langit dan bumi ini. Yang sekarang ini seakan-akan tidak ada atau tersembunyi. Sejatinya, hal ini tergantung dari tekad dan niat masing-masing individu, yaitu seberapa berani ia memercayai Allah dan menginvestasikan waktu, pikiran, tenaga dan apa pun yang ada padanya, untuk sungguh-sungguh mencari Tuhan. Sejujurnya, tidak semua orang yang datang ke gereja itu sungguh-sungguh mencari Tuhan. Sebab, kesungguhan kita mencari Tuhan terbukti atau nyata dalam kehidupan kita setiap hari. Yaitu bagaimana kita dapat menempatkan Tuhan secara benar dalam setiap aspek kehidupan kita.
    Seharusnya, tidak ada kepentingan lain dalam hidup ini selain Tuhan. Bagaimana kita mengenal Tuhan dan bagaimana kita benar-benar bisa menyenangkan hati-Nya, harus menjadi ambisi yang paling kuat dan satu-satunya dalam hidup. Dari 8 miliar manusia di muka bumi, dan dari 270 juta manusia di Indonesia, kita dapat mempesona Allah. Tuhan pasti mencari orang-orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Ingat, dalam percakapan TUHAN dengan Iblis yang terdapat dalam Ayub 1:7-9 tertulis, “Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” 
    Lalu, satu hal yang kita bisa baca di dalam ayat ke-8b, adalah bagaimana TUHAN memuji Ayub. Ini berarti, Ayub ditandai oleh TUHAN dan TUHAN menyebutnya dengan panggilan, “hamba-Ku.” Berarti, walaupun Ayub banyak harta, hidupnya juga limpah, tetapi Ayub tidak menjadi “hamba dunia.” Ia tidak terikat dengan dunia atau keluarga. Juga dikatakan bahwa: “Sebab, tiada seorang pun di bumi seperti dia.” Ingat, TUHAN menilai dan TUHAN membuat perbandingan. Paulus juga menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet. Ia bukan pelari yang tidak ada tujuan. Ia tahu dengan jelas di mana tujuannya. Kalau hanya  demi mendapatkan mahkota fana, orang bisa berlari sedemikian rupa, maka Paulus menasihati, “Demi mahkota kekal, larilah secepat-cepatnya.”
    “Mata TUHAN menjelajah” untuk mencari, apakah ada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Dan mata TUHAN tertuju kepada Ayub. Ternyata, Ayub seorang yang patut mendapatkan pujian dari TUHAN. Pertanyaan kepada setiap kita, apakah kita termasuk orang percaya yang layak mendapat puji...
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…