Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tingkat Keseriusan
    Dalam kesesakan, ketika tidak ada yang bisa kita harapkan lagi, kita berseru: “Tiada yang kunanti lagi, apa pun di bumi ini.” Apakah benar demikian? Benarkah kita memproyeksikan, mengarahkan, memfokuskan hidup kita pada satu ini, yang kita anggap sebagai keperluan? Atau ternyata masih banyak keperluan lain? Ini malah sebenarnya bukan sesuatu yang dipandang perlu. Kalau kita mengutarakan atau menyatakan itu kepada Tuhan, sedangkan keadaan kita tidak sesuai dengan muatan kalimat dalam doa kita, berarti kita munafik.
    Tetapi doa ini juga bisa menjadi “jebakan yang positif” dimana dengan mengutarakan hal itu, maka kita diarahkan dan dikondisikan untuk memiliki tujuan hidup yang benar, untuk memiliki warna hidup yang benar. Hal ini terkait dengan seberapa tinggi tingkat keseriusan kita berurusan dengan Allah. Kita memiliki perjalanan hidup, pengalaman dengan berbagai objek dan kegiatan. Maka tentu kita mengerti bagaimana serius dalam studi, karier, bisnis, menggalang hubungan dengan relasi bisnis, dan lain sebagainya. Masalahnya, Tuhan itu seakan-akan diam. Kalau seseorang menganggap sepi Tuhan, maka sepilah Tuhan untuknya. Kalau kita menganggap Tuhan itu hidup, nyata, berpribadi, dan kita sungguh-sungguh memperlakukan Dia sebagai pribadi yang hidup, maka menjadi hiduplah Allah bagi kita. 
    Seorang pengusaha, demi keuntungan uang untuk hidup pribadinya, keluarga, dan berbagai cita-cita lain, dia bekerja dengan serius. Karenanya, dia selalu melihat saldo bank yang dimiliki, neraca dagang bisnisnya, untung atau rugi. Dia menggeliat terus, bagaimana mengembangkan bisnisnya supaya tidak mundur, apalagi rugi. Tetapi pernahkah kita serius mempersoalkan rekening kekekalan kita? Sudah seberapa banyak harta yang kita miliki di kekekalan? Kalau nanti kita berjumpa dengan Tuhan, seberapa puas Tuhan melihat kita? 
    Selagi kita masih memiliki kesempatan hidup, yaitu ketika jantung kita masih berdetak, nadi kita masih berdenyut, nafas di paru-paru kita mengembang, berarti kita masih memiliki kesempatan untuk memperkarakan hal ini. Jika kita ternyata kurang berkenan di hadapan Allah, kita masih memiliki kesempatan untuk berdamai, berekonsiliasi. Jangan kita menjadi miskin di kekekalan. Kita harus memiliki prinsip: “hanya Tuhan segalanya dalam hidup kita.” Seberapa kita merasa perlu Tuhan? Karena tingkat kesadaran kita dalam memerlukan Allah menentukan tingkat keseriusan kita dengan Dia. Dan tingkat keseriusan itu paralel dengan tingkat kesadaran perlunya kita akan Allah. Banyak orang tidak merasa memerlukan Allah, kecuali dalam kondisi kepepet, dalam kondisi krisis. Orang-orang seperti ini curang. 
    Ironis, kita sering memperlakukan Tuhan secara sembarangan, kita anggap remeh, dan Tuhan diam. Ini justru mengerikan. Karenanya, kita harus memiliki kesadaran dan membangkitkan gairah kita untuk merasa perlu Tuhan. Mengapa kita tidak memandang Tuhan sebagai satu-satunya yang kita perlukan lebih dari siapa pun dan apa pun? Kalau seseorang menabur kehidupan yang memerlukan Tuhan dan serius berurusan dengan Tuhan, barulah ia bisa menyanjung Tuhan, dan berkata, “Lord, I adore You.” Dia peduli bukan hanya sakit jantung, ginjal, kanker, paru-paru, bahkan selembar rambut kita pun diperhatikan-Nya. Jangan meragukan kasih Tuhan. 
    Bagaimana kita bisa serius dengan Tuhan, tergantung seberapa kita mengobarkan cinta kita kepada Tuhan. Bukan seberapa besar masalah kita, sehingga kita baru serius dengan Tuhan. Bukan seberapa tinggi cita-cita kita, sehingga kita melibatkan Tuhan dan serius dengan Dia. Tapi seberapa kita mencintai Tuhan. 
    Allah memberi kita kebebasan untuk mengelola dan mengarahkan hati kita; apakah kita mencintai Tuhan atau tidak. Dan kalau kita mencintai Tuhan, seberapa besar bara cinta kita kepada Tuhan, itu tergantung kita. Kita yang harus menetapkan hati “aku mencintai Tuhan.” Jangan sampai kita tidak pernah menemukan cinta itu. Tuhan itu mencintai kita, Tuhan itu mengasihi kita.
    8 min
  • Berkarya Bagi Dia
    Di dalam kekristenan tidak ada standar ganda. Kita hanya memiliki satu standar, yaitu kehidupan Yesus—cara berpikir dan gaya hidup-Nya—yang harus dikenakan oleh semua orang Kristen. Apakah dia seorang jemaat, aktivis gereja atau seorang yang memiliki jabatan sinode, hanya ada satu standar, yaitu kehidupan Yesus. Dan semua orang percaya adalah murid-murid Yesus. Sebagai murid, dalam hal ini kita tidak dibatasi oleh pendidikan teologi atau jabatan ternentu. Semua harus memasuki dan mengalami proses pendewasaan rohani untuk menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, mengambil bagian dalam kekudusan Allah dan mengenakan kodrat ilahi. Standarnya sama. Jangan membuat aturan yang tidak Alkitabiah. 
    Di dalam 1 Korintus 6:19-20 firman Tuhan mengatakan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait h Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Semua orang percaya adalah hamba-hamba Tuhan. Jangan membuat aturan dan ukuran baru, seakan-akan ada orang-orang yang lebih sah disebut “hamba Tuhan” dan yang lain kurang. Standar ganda seperti itu seolah-olah membagi kekristenan dalam beberapa kasta, dan itu salah. Itu keliru. Ketika Tuhan berkata, “kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16), standar kekudusan ini untuk semua orang percaya, sama. 
    Masalahnya, banyak orang Kristen masih tidur—karena merasa bukan hamba Tuhan atau utusan Tuhan—padahal di luar sana sedang berkecamuk perang besar antara kuasa kegelapan dengan antek-anteknya, dan Kerajaan Terang dengan hamba-hamba Tuhan yang dikatakan oleh Alkitab sebagai “orang-orang yang tidak menyayangkan nyawanya.” Tidak mengancam atau menakut-nakuti, kalau kita tidak melayani Tuhan, maka suatu kali kita akan gemetar. Kita tidak berguna di Kerajaan Surga atau di kekekalan. Sebab kalau kita di bumi tidak berguna, tidak mungkin berguna di surga. Jangan anggap murah dan remeh Tuhan. Kalau di bumi tidak menyenangkan Tuhan dengan mengabdi dan melayani Tuhan, di surga kita tidak bisa mendadak menyenangkan Tuhan. 
    Irama hidup orang seperti itu bukan irama menyenangkan Tuhan, melainkan irama menyenangkan diri sendiri, dan ia pasti mengabdi kepada tuan lain. Ini kebodohan yang disuntikkan oleh Iblis. Iblis itu memang penipu. Ia mengembuskan suara-suara yang memenuhi jiwa dan pikiran banyak orang Kristen. Setan itu pintar membuat yang namanya “penghalusan.” Dan penghalusan yang paling mengerikan adalah mencintai dunia. Padahal orang percaya harus menjadi pejuang, the true soldier. Jangan sampai kita meninggal, kita tidak dipandang atau belum dipandang sebagai laskar. Jangan kita ini mestinya jadi laskar, tapi di tengah-tengah kesibukan perang malah merepotkan. Makanya kita mesti dewasa; as a soldier must be mature. 
    Ingat, hanya orang yang bertumbuh dewasa yang bisa menderita; yang merasakan sakitnya menyangkal diri, meninggalkan kesenangan dunia, menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah, belajar menyangkal diri, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, meninggalkan nafsu-nafsu daging, tidak mengucapkan kata-kata sembarangan. Kalau kita bisa sampaidi tingkat menderita ini, pasti kita dimuliakan bersama dengan Yesus. Namun, tidak banyak orang Kristen yang sampai di tingkat bisa menderita. Jadi, sebelum terlambat, mari kita bertobat dan mengejar ketinggalan kita untuk memenuhi apa yang menjadi bagian kita. Semua kita adalah laskar. 
    Coba kita renungkan, betapa banyak orang yang hidupnya susah, ekonominya susah, makan pun susah. Banyak orang menderita. Dan yang paling mengerikan, mereka tergiring menuju kegelapan abadi. Lalu, apa yang harus kita perbuat? Tentu kita tidak bisa menolong semua orang, tetapi kita bisa berkarya untuk membuat sebanyak mungkin orang terhindar dari api kekal. Inilah beban Tuhan Yesus. Kalau kita belum punya beban,
    7 min
  • Mengondisi Hidup
    Pada waktu Nuh membuat bahtera, ia seperti orang yang mengalami kejiwaan yang tidak wajar. Sama dengan Lot, yang memercayai dua tamu yang baru datang. Ketika semua orang tidak boleh berdoa, Daniel tetap berdoa, padahal yang dihadapinya adalah seorang raja yang kuat. Sadrakh, Mesakh, Abednego pun tidak mau ikut menyembah patung yang didirikan di Lembah Dura oleh Nebukadnezar, mereka tetap nekat hanya menyembah Allah, Elohim Yahweh. Abraham harus meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk ke negeri yang akan ditunjukkan oleh Allah, Elohim Yahweh. Paulus memiliki kehidupan yang tidak wajar di mata orang pada zamannya. 
    Mereka adalah orang-orang yang bergaul dengan Tuhan dan berjalan di dalam rencana Tuhan. Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang beruntung, karena mereka memilih jalan yang benar, pilihan mereka tepat. Bagaimana dengan kita hari ini? Sudahkan kita meninggalkan kewajaran hidup? Tapi makin hari makin kita menyadari bahwa pada umumnya kita belum hidup tidak wajar, makin mengerti betapa kita telah jauh dari standar seorang yang berjalan dengan Tuhan dan hidup di dalam kehendak dan rencana-Nya. Masalahnya, kalau kita mengikuti terus jalan ini, mau jadi apa kita ke depan? Jadi manusia macam apa kita? 
    Di sisi lain, ada sedikit ketakutan juga, kalau kita hidup makin tidak wajar, nanti kita akan dijuluki aneh dan dijauhi kerabat. Sejujurnya, tidak mudah untuk melangkah, mengambil tindakan berjalan dengan Tuhan, hidup di dalam kehendak dan rencana-Nya di tengah-tengah dunia yang sangat fasik ini. Sementara masih ada kekeruhan di dalam jiwa kita, masih ada nafsu di daging kita—karena rekaman dari masa lalu dan hidup kedagingan kita—tapi kita memilih untuk benar-benar hidup suci, tak bercacat tak bercela, meninggalkan dunia. Untuk itu, dibutuhkan keberanian dan kita harus bisa mengkondisi hidup kita sendiri. Sebab kalau kita tidak menkondisi hidup kita untuk bisa berjalan dengan Tuhan, hidup di dalam kehendak dan rencana-Nya, dunia mengkondisi kita dan kita akan terbawa oleh suasana dunia ini. 
    Maka kita harus benar-benar mau mengubah cara berpikir dan rutinitas hidup kita, sebab kalau kita mau benar-benar berubah dan mau mengkondisi hidup kita supaya terpacu untuk berjalan dengan Allah hidup dalam kehendak dan rencana-Nya, kita harus berani meninggalkan rutinitas. Rutinitas membuat kita tidak bisa berubah. Memang ada hal-hal yang tidak boleh kita tinggalkan dan tidak bisa—hal-hal yang merupakan tanggung jawab kita—tetapi ada hal-hal lain yang mesti kita tinggalkan; seperti tontonan, lagu, hobi, pertemuan yang tidak perlu. Kita tidak bisa berubah kalau kita tidak mengkondisi hidup kita. 
    Roh Kudus pasti akan menolong kita, maka perlu ada waktu duduk diam di kaki Tuhan, di situ Roh Kudus akan pasti berbicara dan memimpin Saudara. Sampai begitu jelas perbedaan kita dibanding anak dunia. Harus makin jelas perbedaannya. Tidak perlu pusing apa penilaian orang terhadap kita. Kita harus bangga menjadi “orang aneh.” Bukan aneh yang membuat orang terluka atau tersandung, tapi pasti kita memiliki keadaan yang tidak sama dengan orang lain. Hal itu akan dipandang oleh setan sebagai membahayakan. Maka sering orang-orang yang berniat untuk mengkondisi dirinya menjadi anak-anak Allah yang baik, yang mau berjalan dengan Tuhan di dalam kehendak dan rencana Allah, serangannya pasti banyak. 
    Jangan berharap perubahan itu terjadi secara drastis, radikal. Yang penting, harus dimulai, jangan menunda. Tidak mudah, tapi kalau kita berani mengkondisi hidup dan pikiran kita, ada kalanya kita masih terganggu oleh orang-orang di sekitar kita yang membangkitkan kebencian, dendam, kemarahan. Tapi kita tetap harus mengendalikan diri, karena kita yang menguasai diri kita. Kita harus menjadi orang yang benar-benar seperti bangsa Israel yang berkemas-kemas keluar dari Mesir menuju Kanaan. Seberapa kita betul-betul berkemas-kemas dan serius untuk mengalami perubahan, tergantung seberapa kita berani mengkondisi hidup k...
    8 min
  • Berkhianat
    Ambil keputusan untuk menghormati Allah dengan kapasitas, intensitas, porsi yang tidak terbatas. Itu tergantung kita. Jangan ditipu oleh suara-suara salah di sekitar yang ingin menjebak dan membodohi kita. Ironis, kita merasa sudah menghormati Tuhan, padahal belum sepatutnya menghormati Dia. Kita merasa sudah mencintai Tuhan, padahal kita belum mencintai Tuhan sebagaimana seharusnya. Atau sebenarnya kita belum takut akan Allah sebagaimana mestinya. Yang sungguh-sungguh mau menghormati dan mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, yang sungguh-sungguh minta agar memiliki hati yang takut akan Allah, pun tidak mudah meraihnya. Apalagi kalau kita tidak menganggap itu berharga. 
    Kalau kita menganggap hal bersekutu dengan Allah, hal perkara rohani adalah hal yang mahal, maka apa pun kita lakukan. Mungkin pada mulanya kita tidak suka dan berat. Tapi lama-lama, tentu tidak. Karena semua yang biasa kita lakukan, akan menjadi ringan dan menjadi kesukaan. Allah memberi begitu limpah hadirat-Nya. Allah pasti menjumpai kita. Tapi, kita yang tidak menjumpai Tuhan. Padahal indahnya hidup ini, berharganya hidup ini adalah kalau kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan.
    Mestinya, semua menjadi tidak berarti asal kita bisa memiliki Tuhan dan bersekutu dengan Dia. Tuhan harus menjadi segalanya, Tuhan adalah jawaban seluruh kehidupan kita. Maka kalau firman Tuhan mengatakan “sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selamanya,” artinya kalau aku sudah bisa memiliki Tuhan, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, yang lain tidak menjadi masalah; apa pun yang terjadi. Jangan setengah-setengah dalam memercayai Tuhan.
    Ingat, jangan hanya bicara: “hidup adalah pilihan,” tapi sejatinya kita tidak memilih. Kalau di lingkungan orang Kristen, tidak ada orang yang mau tidak ber-Tuhan. Tapi juga tidak berani mengambil posisi yang jelas. Iblis membuat kita berputar-putar, dan menanamkan pikiran bahwa kita tidak akan berkhianat kepada Tuhan. Padahal ketika kita tidak sungguh-sungguh ada di pihak Tuhan, itu berarti kita sedang membangun arah tidak setia dan berkhianat. Kalau kita serius, Tuhan tidak permalukan hidup kita. Namun segala sesuatu itu ada tatanannya. Orang yang mendahulukan Kerajaan Allah, kepadanya pasti Allah tambahkan. 
    Jadi kalau kita masih membawa cara hidup yang salah yang telah kita jalani di waktu-waktu yang lalu, maka kita tidak akan pernah bisa menjadi seorang yang benar-benar mengalami Tuhan. Mungkin kita telah doa berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, tapi Tuhan seakan-akan tidak ada, itu. Tuhan seakan-akan tidak membela pekerjaan-Nya. Tapi kita harus tetap memilih percaya. Ingat bagaimana Abraham selama 25 tahun menunggu anaknya lahir. Juga Daud yang harus pura-pura gila, lari ke negeri musuh sebelum jadi raja, walaupun sudah diurapi. Tapi Dia yang berjanji, itu setia. Maka Dia layak kita percayai walaupun tidak ada tanda-tanda kesetiaan Allah atau kehadiran-Nya. Kalau kita tetap percaya kepada-Nya, maka suatu saat kita bisa membuktikan bahwa Dia bisa dipercayai dan ternyata Dia hadir. Melewati keadaan berat, kita harus berani untuk mengambil keputusan memercayai Allah yang hidup. Ini yang seharusnya membuat kita gentar. 
    Pada zaman penganiayaan di gereja mula-mula, Yesus seakan-akan kalah terhadap dewa Zeus. Tapi lihat bagaimana kesetiaan mereka. Digoreng hidup-hidup, dipancung, dibakar hidup-hidup, namun mereka tetap memercayai Tuhan. Ini luar biasa. Sekarang kita tidak menghadapi penganiayaan. Kita menghadapi dunia yang jahat seperti hari ini, beranikah kita mempertahankan kesucian? Kalau dulu yang dihadapi adalah penganiayaan fisik, sekarang kita menghadapi penganiayaan batin. Bisa lebih berat. Tapi kalau kita memercayai Allah, kita menghormati Dia, apa pun kita lakukan. 
    Dengar firman setiap Minggu, ada di gereja, tapi kenapa ada orang tidak bisa all out untuk Tuhan? Hal itu karena dia membiarkan dirinya ada dalam keadaan ketidakpastian.
    8 min
  • Posisi yang Jelas

    Kalau kita sungguh-sungguh percaya bahwa Allah itu ada, kita percaya bahwa ada kekekalan—surga kekal, neraka kekal—dan bahwa manusia adalah makhluk kekal—artinya kematian tidak menghilangkan kesadaran karena manusia memang diciptakan sebagai makhluk kekal yang dirancang untuk segambar dan serupa dengan Allah—dan kalau kita percaya bahwa manusia akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah, dan pasti kita akan sampai di ujung perjalanan hidup kita, maka pasti kita menyerahkan hidup kita seluruhnya tanpa ragu-ragu atas apa yang kita percayai itu. Jangan membuka peluang untuk menjadi ragu-ragu. Jangan memberi ruangan untuk kita menjadi kurang percaya, kemudian kita tidak memiliki posisi yang jelas. Kuasa kegelapan berusaha kita tidak ada di posisi yang jelas.

    Kita jangan diperbodoh atau dibodohi oleh kuasa kegelapan. Ingat, bahwa manusia menentukan nasibnya sendiri. Allah memberikan tatanan, tetapi Allah tidak menentukan apakah seseorang mau taat atau tidak taat, tetapi manusia itu sendiri yang menentukannya. Allah tidak memaksa. Allah adalah Pribadi yang agung. Tentu Ia tidak memaksa orang untuk mencintai diri-Nya. Allah tentu memiliki keagungan harga diri, nilai diri, martabat yang agung. Tidak memaksa manusia atau makhluk ciptaan untuk mencintai Dia, walaupun tentu Allah menghendaki dan Allah mau menikmati cinta manusia itu. Jadi, mari kita berpikir teduh. Jangan kita terdistrak oleh berbagai masalah yang terjadi di dalam hidup sekitar kita ini, yang menyita pikiran dan perhatian kita, apa pun masalah itu.

    Kita tetapkan hati kita untuk mengambil keputusan pada posisi yang jelas. Kalau percaya bahwa Allah itu ada, percaya saja. Allah itu bukan hanya baik, tapi sangat baik. Dia bukan hanya setia; melainkan sangat setia. Dia sangat mencintai kita. Jadi kalau kita datang kepada Tuhan, Tuhan pasti menyambut kita. Serusak apa pun kita, kalau masih mau diperbaiki, artinya mau minta ampun, Tuhan pasti mengampuni. Kita percaya ada Allah yang hidup. Tidak ada pilihan untuk tidak percaya. Dan ingat, tidak ada yang melarang kita percaya kepada Allah. Tidak ada yang bisa mencegah kita memercayai Allah, apalagi menghalangi Allah hadir dalam hidup kita.

    Jangan memberi ruangan manusia lama yang dihinggapi oleh kuasa kegelapan untuk menipu atau mengganggu kita. Ini bukan hal sederhana, ini pergumulan. Dan kita harus menang terhadap pergumulan itu. Sehingga kita tidak lagi percaya dengan perasaan, tapi dengan iman. Jangan mengharapkan ada sesuatu yang spektakuler, percaya saja.

    Prinsip-prinsip begitu harus kita pahami, dan kita serahkan hidup kita sepenuhnya. Hal itu harus setiap hari di-update. Tidak memberi ruangan dunia untuk kita. Kita berprinsip bahwa Allah yang menciptakan kita dan Ia menghendaki kita segambar dan serupa dengan Dia. Keselamatan dalam Yesus Kristus adalah proses untuk menjadi segambar, serupa dengan Allah, berkodrat ilahi. Kita akan menghadap takhta pengadilan Allah. Yang kita hadapi kekekalan yang dahsyat; surga kekal atau neraka kekal. Hal itu sudah menyatu di dalam diri kita. Menyatu permanen, mencengkeram jiwa hidup kita. Mewarnai hidup kita, menggerakkan hidup kita. Dan kita tetapkan posisi kita, bahwa kita ada di pihak Tuhan.

    Seperti yang dikatakan di dalam Yosua 24, “tetapi aku dan keluargaku akan mengabdi kepada Tuhan.” Ini satu keputusan. Sejujurnya, banyak orang percaya yang belum punya posisi yang kokoh, termasuk para pendeta dan aktivis. Kalau kita belum memiliki posisi yang kokoh, kita pasti memberi ruangan pada dunia. Karena kita tidak yakin bahwa di dalam Tuhan itu ada kehidupan. Tidak sepenuh hati memercayai bahwa di dalam Tuhan itu ada sukacita, damai sejahtera, kehidupan, semua yang baik. Kita masih bisa ditipu oleh dunia.

    Ketika kita berani memilih untuk berada di posisi Kerajaan Terang, maka kesucian kita tidak setengah-setengah, pembelaan kita untuk Tuhan tidak setengah-setengah,
    9 min
  • Ada Dalam Kekuasaan Kita

    Kita sering tergoda untuk bermesraan secara fantasi dan emosional dengan Tuhan. Pada waktu kita di gereja, kita menyanyi dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, disertai derai air mata, sambil berkata, “Aku mencintai Engkau,” tetapi setelah itu kita tidak menghayatinya dalam perjalanan hidup. Manusia lama kita sering menipu diri kita dan itu memang licik. Suasana jiwa yang kita miliki, tidak konstan atau tidak punya stabilitas. Kalau Alkitab berkata, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, akal budi,” artinya kita harus siapkan dengan serius. Begitu kita bangun tidur pada pagi hari, kita yang harus terus menjaga stabilitas cinta kita. Kita bisa lupa, karena sibuk dengan segala kegiatan rutinitas. Firman Tuhan juga berkata, “Siapkanlah akal budimu,” berarti kita serius memperhatikan keberadaan kita di hadapan Tuhan.

    Ketika kita melihat dunia dengan mata jasmani, kita tidak bisa menyangkal, indah. Namun, dengan mata rohani, kita tidak lagi menilainya indah. Kita melihat apa yang tidak terlihat. Ini lebih fanatik lagi, lebih ekstrem. Kita yang harus mengelola perasaan dan pikiran kita. Ini anugerah yang besar. Yaitu, pertama, tanpa kasih karunia, tanpa anugerah yang diselesaikan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib, pintu ini tidak terbuka. Kedua, tidak semua orang menjadi umat pilihan. Di mana kita dapat mengenal satu-satunya Allah yang benar, Elohim Yahweh, dan satu-satunya Tuhan, Majikan, Raja kita, Yesus Kristus.

    Betapa luar biasa. Jadi kalau orang menyia-nyiakan kesempatan ini, tidak bisa tidak, ratap dan kertak gigilah penyesalannya. Jangan anggap remeh. Kita tidak bertepuk sebelah tangan. Kalau kita serius mengelola pikiran dan perasaan kita untuk mencintai Tuhan, pasti Tuhan menyambut. Ingat, ini bukan fantasi. Kita bisa merasakan detak cinta Tuhan di dalam hati. Ketika kita bangun pagi hari, mata kita tetap tertuju kepada Tuhan. Tidak memikirkan apa yang Allah tidak kehendaki kita pikirkan. Tidak merenungkan apa yang tidak boleh kita renungkan. Jangan mengucapkan kata, kalimat yang tidak boleh kita ucapkan. Apalagi mengingini sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki atau berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Dengan serius kita kelola itu dari menit ke menit.

    Masalahnya, tidak sedikit orang Kristen yang tidak punya rasa sama sekali terhadap Tuhan. Karena hatinya diisi dengan banyak keinginan, seleranya dirusak oleh berbagai nafsu duniawi. Mari kita sungguh-sungguh mengubah arah hati kita. Jangan ke arah siapa pun dan apa pun. Kita arahkan ke Tuhan. Jangan memberhalakan apa pun dan siapa pun. Pasti Tuhan menjagai kita, kalau kita mengarahkan hati kepada Tuhan. Ia tidak akan mempermalukan kita. Walaupun sering sementara waktu kita seperti kalah, dipermalukan, dan tertindas, tetapi kita mau tetap setia dan membuktikan kesetiaan kita.

    Ingat ini temporal. Ada saatnya kita tidak akan punya kesempatan lagi; kita hanya punya satu kali kesempatan dan terbatas. Mungkin bagi anak-anak muda, belum sanggup memenuhinya, tetapi kalau kalian mau, Roh Kudus akan tolong. Tuhan mau hati kita sampai memiliki cinta yang abadi dengan Tuhan. Percayalah kalau nanti kita pulang ke surga, Tuhan akan menyambut karena kita adalah kekasih-Nya. Jangan tidak mengambil keputusan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan kita.

    Seiring dengan bertambahnya pengenalan kita akan Tuhan, semakin lekatnya keintiman kita dengan Allah, maka kita merasakan detak dan cinta Tuhan di dalam diri kita. Sehingga kita bisa memiliki kesaksian di dalam batin bahwa Allah itu hidup dan nyata. Banyak orang Kristen hanya beragama. Berapa banyak mereka yang benar-benar mengalami bahwa Allah itu ada? Mereka bisa saja berkata yakin bahwa Allah itu ada. Namun, dari perbuatannya, dari sikap hatinya, tidak menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa Allah itu ada. Buktinya? Mereka takut, khawatir,
    8 min
  • Sebanyak-banyaknya
    Matius 22:37 berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” 
    Kalimat-kalimat di dalam pernyataan Tuhan ini sangat penting, karena ini adalah hukum yang terutama. Di balik kalimat ini, sebenarnya Tuhan membuka ruangan yang tidak terbatas di mana kita bisa masuk ke dalamnya dan menemukan kekayaan Allah yang tidak terbatas. Coba kita renungkan bahwa Allah sebenarnya tidak membutuhkan apa-apa dan siapa-siapa, karena Allah memiliki segala sesuatu. Tentu kekayaan Allah melampaui apa yang dapat kita pikirkan, tetapi kalau Allah membuka diri untuk mau menikmati kita, ini berarti Allah mau, Allah berkenan, “seakan-akan” membutuhkan sesuatu, dan sesuatu itu adalah cinta kita, kasih kita. 
    Kalau seseorang masih merasa membutuhkan sesuatu, apa pun itu, berarti dia belum mengenal Allah secara benar. Orang yang mengenal Allah akan menemukan satu titik kehausan, dan ia merasakan bahwa kehausan itu hanya dapat diisi oleh Tuhan. Jadi, bukan omong kosong, bukan sekadar perkataan kalau pemazmur berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Pemazmur pasti sudah sampai kepada titik kehausan dan kesadaran bahwa kehausan itu hanya bisa diisi oleh Tuhan. Maka, pemazmur juga bisa berkata, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku merindukan Engkau.” Kiranya Tuhan menolong kita untuk tidak hanya mengucapkan kalimat ini secara muluk-muluk, melainkan dengan satu penghayatan yang benar, walaupun memang belum sempurna. 
    Sejatinya, demikianlah kebenaran itu bahwa memang ada kehausan dalam jiwa kita yang hanya bisa dipenuhi atau dipuaskan oleh Tuhan. Ingat, orang yang dapat sampai pada kehausan seperti ini adalah orang yang sudah belajar menjalani hidup dengan meneguk berbagai kesenangan, dan yang akhirnya dia bisa berkata, “Hanya Tuhan yang bisa memuaskan jiwaku.” Cinta kita kepada Tuhan tidak akan bertepuk sebelah tangan, karena Tuhan yang membuka diri dan berkata, “Kasihilah Tuhan Allahmu.” Tentu ini bukan sembarangan, karena Tuhan Yesus menyampaikan apa yang Allah kehendaki. 
    Betapa mengerikannya, kalau di 70-80 tahun umur hidup ini, kita dipenuhi dengan berbagai keinginan, membangun berbagai selera sampai tidak memiliki keinginan terhadap Tuhan, tidak mampu mencintai Allah dan kemudian sampai lewat waktu, akhirnya kita kehilangan satu-satunya kesempatan yang sangat berharga ini selama-lamanya. Jangan sampai kita menjadi seperti orang kaya di Lukas 16 yang berkata, “Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.” Ujung jari, setetes, tetapi dia sudah kehilangan kesempatan. Selagi masih hidup di bumi, jangankan setetes, sejatinya, sebanyak apa pun kita bisa meneguk semua yang Allah sediakan. 
    Kekayaan yang bisa kita teguk sebanyak-banyaknya adalah Tuhan sendiri. Kalau kita mengenal Allah yang benar dengan benar, akhirnya ada kehausan dalam jiwa kita. Selanjutnya, kita memiliki kesadaran bahwa yang kita butuhkan ternyata hanya Tuhan. Allah memberi diri-Nya untuk kita nikmati. Kalau Tuhan mengatakan, “Segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi,” itu adalah harga yang harus kita bayar. Itu pertaruhan yang harus kita penuhi. Ingat, pertaruhan itu tidak dipenuhi oleh Allah; tetapi kita yang harus memenuhinya. Demikian juga firman Tuhan mengatakan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” berarti kita harus mencintai Tuhan 100% atau tidak usah sama sekali. Masalahnya, banyak orang Kristen yang tidak serius berkata, “Apa-apaan ini? Masa kita tidak boleh punya kesenangan sebagai manusia? Seekstrem, sefanatik itukah?” Ya, karena Tuhan yang bicara, “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” 
    Pemazmur tidak sekadar omong kosong dan berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau,
    7 min
  • Membagi Damai Sejahtera-Nya
    Ketika kita mau mengambil keputusan, tetapi ada sesuatu yang menggelisahkan, itu bisa menjadi ukuran apakah keputusan itu sesuai kehendak Allah atau tidak. Tentu hal itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang biasa menikmati damai sejahtera Allah. Kalau orang biasa menikmati sukacita dunia—uang, sanjungan, harta, gelar—maka perasaannya tidak bisa jadi ukuran. Namun, kalau kita terbiasa menikmati damai sejahtera Allah dari karakter yang diubahkan terus, maka hal itu akan bisa menjadi indikator apakah yang kita mau lakukan sesuai dengan kehendak Allah atau tidak. 
    Banyak orang memiliki suasana sukacita yang “ditopang” oleh fasilitas dunia, bukan oleh damai sejahtera Allah. Sehingga, ia tidak bisa menjadikan perasaannya sebagai indikator. Kita harus lebih dari sekadar menjadi orang baik-baik yang tidak melanggar hukum, tetapi yang dalam segala hal yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. 
    Salah satu rahasia mengapa kita bisa berdoa dengan fokus, adalah tenggelamkan diri kita dengan satu kasus; misalnya, “Apakah masih ada cacat karakterku?” Masalahnya, kita tertarik dengan hal ini atau tidak? Para wanita bisa melihat cermin lebih dari 30 menit, tetapi kalau bercermin rohani, artinya menghadap Tuhan, baru 3 menit pun sudah hilang fokus. Karena memang dasarnya ia tidak niat. Padahal, kecantikan rohani itu kekal. Lalu, dari kecantikan rohani, kita dapat menikmati damai. Dengan menikmati damai, kita membangun habitat. Jadi kalimat, “Datanglah Kerajaan-Mu,” itulah usaha yang kita harus lakukan; menghadirkan habitat Kerajaan Allah dalam hidup. Ayo, kita mau ratapi keadaan kita karena kita serius mau berubah. 
    Bangunlah habitat kehidupan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Mari kita percantik wajah rohani kita karena itu adalah harta abadi. Kepastian masuk surga dimulai dari membangun habitat ini. Kita tidak bisa membangun habitat Kerajaan Allah tanpa menikmati damai sejahtera-Nya. Yang pertama, kita tidak bisa menikmati damai sejahtera Allah tanpa karakter yang baik. Segala kejadian dalam hidup ini dapat menjadi sarana Allah agar kita dilatih membangun karakter yang sesuai dengan kehendak Allah. Tentu Allah menghendaki kita memiliki respons yang sesuai dengan kehendak-Nya, dimulai dari perkara kecil. Kalau kita sudah mulai berkata, “Aku mau cantik di hadapan-Mu, Tuhan. Aku mau hidup tak bercacat, tak bercela,” maka Roh Kudus akan menuntun hidup kita. 
    Yang kedua, kita tidak bisa menikmati damai sejahtera Allah kalau terikat dengan dunia. Firman Tuhan berkata, “Aku Allah yang cemburu;” “Bukan tanpa alasan kalau Kitab Suci berkata: roh yang ditempatkan dalam diri kita diingini-Nya dengan cemburu.” Mengapa demikian? Karena roh kita berasal dari Allah dan Allah ingin roh itu kembali kepada-Nya. Diingini-Nya dengan cemburu, karena apa? Karena Dia sayang kita. 
    Maka, jangan menggantungkan suasana sukacita kita pada barang-barang dunia.  Sukacita kita harus berasal hanya dari Tuhan saja. Kalau kita bisa tutup mata dan telinga terhadap keadaan sekitar yang toxic dan berkata, “Engkau kebahagiaanku, Tuhan”—dan memang kita akan pulang sendiri tanpa suami, anak, atau siapa pun—maka kita menjadi kekasih Tuhan, menjadi hubungan yang eksklusif dengan-Nya. Walaupun kita tidak punya siapa-siapa, tidak punya apa-apa, tetapi kita punya Tuhan sebagai kekasih. Buatlah hubungan yang eksklusif dengan Tuhan, maka Tuhan tidak mungkin tidak membagi sukacita-Nya kepada kita. Namun, kalau kita terbiasa menikmati sukacita dunia, maka Tuhan tidak akan dapat membagi damai sejahtera-Nya. 
    Ketika kita menjadikan Tuhan kebahagiaan kita, bukan karena fasilitas yang lain, pasti Tuhan membagi sukacita-Nya untuk kita. Sebagaimana kalau kita mencintai seseorang dan dicintai seseorang, maka kita akan membagi apa yang kita miliki untuk orang itu, demi kebahagiaan dan sukacitanya. Allah lebih dari itu. Ingat kalimat ini: kalau kita menjadikan Tuhan kebahagiaan,
    9 min
  • Perubahan Karakter
    Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” 
    Ayat ini sangat populer, tetapi kalau kita jujur, tidak banyak orang Kristen yang benar-benar memiliki dan mengalami damai sejahtera yang dimaksud oleh Tuhan ini. Kita percaya Tuhan Yesus pasti memenuhi janji-Nya. Tuhan Yesus tidak mungkin mengingkari janji-Nya. Jadi, mestinya setiap orang percaya bisa menikmati dan memiliki damai sejahtera ini. Namun, kenyataannya—baik sebagai orang Kristen sejak kecil atau sebagai pelayan Tuhan yang belajar mengenal kehidupan—kita melihat bahwa tidak banyak orang yang benar-benar menikmati dan memiliki damai sejahtera ini. Faktanya, sangat sedikit orang yang benar-benar mengalaminya.
    Padahal ini adalah damai sejahtera dari hati Tuhan yang dibagikan-Nya kepada kita. Damai yang dinikmati oleh Allah Bapa, yang dinikmati Tuhan Yesus, yang pasti dinikmati penduduk surga, lalu damai itu juga ditinggalkan dan diberikan bagi kita. Tentunya, orang yang bisa atau boleh menggapai damai sejahtera Tuhan atau yang diperkenan menikmati madu surgawi adalah mereka yang sudah terbiasa menikmati madu Tuhan selama hidup di bumi. Di mana mereka sudah memiliki habitat, lingkungan hidup dengan asupan makanan jiwa yang benar. Sebab ini bukan madu secara fisik. Ingat, tidak mungkin orang yang tidak ada dalam habitat rohani—habitat Kerajaan Surga, yang tidak menikmati damai sejahtera Allah—bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga dan menikmati madu surgawi atau sukacita surgawi yang sempurna. 
    Orang yang pasti masuk surga, dapat dilihat dari habitat atau lingkungan hidupnya selama hidupnya di dunia. Tentu ini bukan lingkungan secara fisik, rumah tangga, atau pergaulan, melainkan lingkungan hidup pribadinya. Apakah dia menikmati hadirat Allah, sukacita, dan damai sejahtera Allah, atau tidak? Jelas kalau orang tidak hidup di dalam habitat yang benar—yaitu di dalam hadirat Allah—dan tidak menikmati hadirat Allah, tidak bisa masuk ke Kerajaan Surga. Sebagaimana ikan air laut tidak bisa hidup di dalam air tawar; dan sebaliknya. Maka, jangan kita berpikir, bisa sembarangan hidup hari ini dengan habitat anak dunia, lalu nanti mati bisa masuk surga. Hal itu tidak mungkin! Kalau ada orang yang berpikir begitu, berarti ia melecehkan Allah dan meremehkan Kerajaan Surga. 
    Yohanes 14:1-3, Tuhan Yesus berkata, “Aku pergi menyediakan tempat bagimu. Kalau Aku sudah pergi menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang, Aku akan menjemput kamu, supaya di mana Aku ada, kamu ada.” 
    Tentu tidak semua orang akan dijemput oleh Tuhan. Tentu yang dijemput Tuhan adalah orang yang serius mempersoalkan damai sejahtera yang Tuhan tinggalkan itu. Orang-orang yang serius berusaha supaya dapat hidup di dalam habitat-Nya; habitat damai sejahtera Allah. Maka, jangan sampai kesibukan pelayanan menjebak kita dalam aktivitas pelayanan sehingga kita tidak menikmati damai sejahtera Tuhan. Damai sejahtera ini bukan sesuatu yang bisa dipercakapkan semata, karena ini bicara mengenai perasaan, maka harus sungguh dialami. 
    Mengapa kita tidak bisa menikmati damai sejahtera Allah? Yang pertama, karakter. Karakter yang buruk tidak mungkin bisa menikmati damai sejahtera. Tidak mungkin. Damai sejahtera Allah hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berkarakter benar, artinya baik di mata Allah. Jadi, nikmatnya madu surgawi itu bisa bertahap atau progresif. Seiring dengan perubahan karakter kita, maka bertambah pula damai sejahtera Allah yang kita nikmati. Tentu kebaikan karakter kita standarnya adalah Tuhan Yesus. Semakin kita serupa dengan Yesus, semakin kita memiliki karakteristik seperti Tuhan Yesus, semakin damai sejahtera kita bertambah. Karakter Yesus adalah dalam segala hal yang dilakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. 
    Dengan kata lain, kita bisa menikmati sentuhan damai sejahtera Allah,
    8 min
  • Kunci Kehidupan
    Kalau hati Tuhan dapat disenangkan, dibahagiakan oleh kita, maka kita tidak perlu khawatir akan hal apa pun. Semua persoalan, seberat apa pun, kita lawan dengan kesucian hidup. Hanya kalau seorang hidup benar-benar kudus, tak bercacat, tak bercela, tidak terikat dengan percintaan dunia, makin hari makin kudus, makin tak bercacat, tak bercela, makin tidak terikat dunia, pasti relasi dengan Tuhan akan semakin terbangun dengan benar. Percintaan kita dengan Tuhan akan pasti terbangun. Sampai pada satu titik kita berkata, “Mengapa aku bisa mencintai Tuhan begitu rupa?” Sampai kita juga tidak bisa menarik cinta itu. Artinya, kalau dulu kita punya hobi, kesenangan-kesenangan, tetapi sekarang gairah kita padam terhadap kesenangan-kesenangan tersebut. Hal ini sungguh luar biasa.
    Bayangkan kalau kita dapat memiliki kehidupan seperti ini dan dikasihi oleh Allah, dikasihi oleh Tuhan Yesus; menjadi kekasih Tuhan Yesus, pasti sangat luar biasa. Apa masalah kita yang tidak bisa diselesaikan oleh Allah? Maka, sekarang kita harus bersyukur karena masih diberikan kesempatan melewati masalah-masalah berat, bahkan melewati hal-hal yang tidak mampu kita selesaikan. Namun ajaibnya, kita tetap bisa melewatinya. Maka, hal itu akan membuat kita semakin yakin bahwa menjadi kekasih Tuhan itu benar-benar segalanya di dalam hidup ini. Setiap kita pasti punya masalah. Mungkin kita merasa tidak sanggup lagi, rasanya kita mau angkat tangan saja; give up. Jangan putus asa! Ingat, ada tangan yang kuat yang mampu menopang dan pasti menolong. Namun, masalahnya di sini adalah apakah kita benar-benar layak ditolong, layak dipelihara, layak dijaga oleh Tuhan? 
    Kalau kita melekat dengan Tuhan, walaupun kita jatuh bangun, kita berusaha mengasihi Tuhan, maka Tuhan selalu buka jalan. Kalau kita menjadi kekasih Tuhan, tidak ada persoalan yang tak dapat diselesaikan. Tidak ada kebutuhan yang tidak terpenuhi. Lalu, yang paling dahsyat yaitu kita akan bersama-sama dengan Tuhan di surga, juga akan bersama dengan orang-orang yang kita kasihi. Jadi, menjadi kekasih Tuhan adalah kunci kehidupan. Tuhan akan mengasihi orang-orang yang kita kasihi, melindungi mereka dengan cara-cara Tuhan yang ajaib. Namun ingat, kita harus sungguh-sungguh hidup suci dan tidak terikat dengan dunia. 
    Orang yang sungguh-sungguh menjadi kekasih Tuhan, hatinya akan merekah mencintai Tuhan. Tentu cinta yang merekah ini akan membuahkan perbuatan-perbuatan yang menebar aroma, menyebarkan wewangian di hadapan Allah dan Bapa juga disenangkan. Betapa kita harus rindu mempunyai kehidupan yang seperti ini. Percayalah, tidak ada masalah yang tidak bisa ditaklukkan. Tuhan akan menaklukkan semua masalah hidup kita. Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya di dalam hidup kita. Hal ini harus kita gumuli dengan serius dari menit ke menit, dari jam ke jam, karena hal ini tidak bisa terjadi dalam hidup kita secara kebetulan, tidak bisa. Harus kita perjuangkan!
    Maka, kita harus punya jam doa, membaca firman Tuhan dan mendengarkan khotbah. Ketika cinta kita merekah, tidak disuruh berdoa, kita pasti berdoa. Tidak perlu disuruh membaca Alkitab dan mendengarkan khotbah, pasti akan ada kehausan dalam jiwa kita untuk membaca Alkitab dan mendengarkan khotbah. Itu otomatis. Lalu, yang paling puncak adalah kita akan merindukan bertemu dengan Tuhan. Jadi, kalau sampai kita tidak merindukan bertemu dengan Yesus, berarti ada sesuatu yang salah di dalam hidup kita. Karenanya, kita harus memaksa diri untuk memandang Tuhan, mengutamakan Tuhan. Langkah-langkah ini nanti akan menjadi irama di mana kita tidak perlu memaksa diri berdoa, bekerja untuk Tuhan, tetapi kita akan tergerak untuk berdoa, tergerak mencari Tuhan, dan tergerak melayani Tuhan. 
    Kalau kita menjadi kekasih Tuhan, Tuhan pasti mengimpartasikan, memindahkan, menularkan spirit-Nya di dalam hidup kita. Oleh sebab itu, mari kita menjaga diri kita dari hal-hal yang najis. Mari kita menjaga hati kita untuk tidak terikat dengan percintaan dunia.
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…