Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Patah Hati terhadap Dunia
    Kita harus terus mengembangkan cara pandang yang benar yaitu cara berpikir dimensi kekekalan. Tidak banyak orang yang sudah menembus batas ini. Pada umumnya penglihatan atau pandangan manusia, hanya sampai pada apa yang ada di bumi ini. Karena memang sejak kita kanak-kanak, kita sudah dipengaruhi oleh dunia, terpapar oleh cara pikir dunia, yaitu dimensi berpikir fana. Semua hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan itu mencengkeram, membelenggu jiwa kita selama bertahun-tahun, belasan tahun, bahkan sampai puluhan tahun. Maka, kita sudah terbiasa menikmati hidup dengan dimensi ini. Sehingga aktivitas dan kegiatan-kegiatan hidup kita hanya tertuju pada pemenuhan kebutuhan jasmani; di dalamnya termasuk harga diri, martabat, prestise, kehormatan, yang ada di dalam lingkungan orientasi dunia fana ini. 
    Tuhan selalu mengarahkan kita untuk berpikir dengan dimensi kekekalan. Itulah sebabnya Tuhan kita Yang Mulia Yesus Kristus, di Matius 6:19-21 berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” 
    Jadi, kalau kita berkarier, mencari nafkah, itu dasarnya bukan karena kita sedang mencari pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan supaya kita bisa melewati hidup guna fokus kehidupan yang akan datang. Memang, betapa sulitnya memindahkan hati di dalam Kerajaan Surga, tetapi kalau kita berkomitmen sungguh-sungguh mau dan kita berdoa, kita mohon pertolongan Tuhan untuk itu, pasti Tuhan akan menolong kita. Tuhan akan membuat suasana hidup di mana kita sampai pada titik patah hati terhadap dunia. Kalau kita belum patah hati terhadap dunia, kita belum bisa memindahkan hati kita di Kerajaan Surga. Artinya, tidak ada lagi yang kita harapkan dari dunia ini. 
    Kita harus bisa menghayati tragisnya hidup; dalam hidup kita sendiri maupun hidup orang lain. Apalagi kalau kita dibawa Tuhan ke situasi di mana kita benar-benar berada di titik terendah. Di situ kita sungguh bisa merasakan patah hati terhadap dunia. Jadi di dalam proses pendewasaan, proses penyempurnaan, yang Tuhan kerjakan, kita dipaksa Tuhan untuk melihat ke depan. Namun, kalau keadaan sudah baik, sudah nyaman, bisa ada kecenderungan kita menoleh lagi ke belakang. Menikmati lagi apa yang bisa dinikmati dari dunia. 
    Kekecewaan terhadap dunia dimulai dalam bentuk kekecewaan terhadap manusia, dan keadaan—misalnya, kemiskinan yang berkepanjangan, sakit yang tidak sembuh, dikhianati oleh orang yang kita percayai. Sebenarnya itu adalah potensi kita untuk mengalami patah hati terhadap dunia. Namun, keadaan-keadaan seperti itu juga belum tentu membuat seseorang patah hati, kecuali dia mendengar firman Tuhan yang benar. Sehingga dia bertumbuh dalam pengertian tentang kesementaraan hidup dan mengenai kekekalan; hal itu akan pasti mengantar kita kepada keadaan patah hati. Ditambah lagi kalau kita memiliki kesempatan melayani pekerjaan Tuhan dan menyaksikan penderitaan banyak orang; di situ kita patah hati. Sampai kita bisa berkata, “Mari aku tunjukkan tempat di mana kamu tidak mengalami penderitaan, tidak ada air mata dukacita, tidak ada kematian, tidak ada perpisahan.” 
    Tuhan akan mengantar kita untuk bisa melihat kekekalan dan memindahkan hati di kekekalan. Kita berharap bisa menembus batas tanpa harus mengalami kekecewaan dan penderitaan. Kalau kita sudah melintasi batas, rumah kita besar atau kecil sudah tidak terpengaruhi. Sadarilah bahwa semuanya harus untuk kepentingan Tuhan.
    Ingat! Kesenangan sesaat, jangan merusak kenikmatan kekal. Maka, kita bersyukur kalau Tuhan membawa kita kepada perjalanan hidup yang makin berat. Tetapi inilah cara finishing well; kita mau diakhiri dengan baik. Jadi apa pun keadaan kita hari ini, kita bersyukur. Mengapa? Kalau bukan karena Tuhan,
    9 min
  • Menikmati Tuhan
    Hal-hal kecil dan sederhana, pasti Roh Kudus beritahu kita, kalau hal itu tidak membuat hati Tuhan nyaman. Kita mengakui kesalahan dan minta ampun. Selanjutnya, kita jalani hidup. Nanti akan ada pilihan-pilihan lagi. Kita harus serius menjaga perasaan, jangan ada benci dan dendam, jangan mengucapkan kata-kata yang tidak perlu. Di situ cinta kita kepada Tuhan meningkat, bertambah. Seiring dengan cinta kita yang meningkat, selera kita akan Tuhan juga meningkat. Kita bisa menikmati Tuhan. Jika demikian, barulah kita memberi nilai tinggi Tuhan. Sampai kita berkata, “Aku tidak bisa hidup tanpa Engkau, Tuhan. Kuperlu Kau lebih dari napas dan darah di dalam tubuhku.” 
    Selanjutnya, kita akan memiliki api penyembahan. Api penyembahan kita akan menyala karena cinta kita kepada Tuhan. Apabila selera kita ditujukan kepada Dia, maka kita menjadikan Tuhan bernilai tinggi. Di dalam perjalanan hidup, jika kita memiliki hati seperti ini, maka kita pasti memiliki pengalaman riil dengan Allah. Tidak mungkin kita tidak ada pengalaman dengan Tuhan. “Pengalaman” di sini bukan hanya masalah kesembuhan, masalah ekonomi dipulihkan, tetapi bagaimana Tuhan mengubah karakter kita. Lalu kita juga akan melihat bagaimana tangan pemeliharaan Tuhan atas hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi. 
    Di situlah timbul kekaguman kita akan Dia. Kebenaran-kebenaran yang Tuhan berikan itu sangat menakjubkan. Karakter yang diubah, tangan pemeliharaan Tuhan atas kita dan orang-orang yang kita kasihi, begitu sempurna. Selanjutnya, firman yang mencerahi pikiran kita. Jika hal itu terus bertumbuh di dalam hidup kita, di mana bejana hati kita akan hanya diisi oleh Tuhan, maka keindahan dunia menjadi pudar di mata kita. Memang sulit bagi orang-orang muda yang mungkin belum menjalani hidup panjang, apalagi kalau dari muda dipengaruhi oleh lingkungan yang materialistis. Namun, nanti kalau mereka sudah dewasa rohani, mereka akan tahu bahwa yang kita butuhkan hanya Tuhan. 
    Ingat! Jangan lagi kita menoleh ke belakang, dan jangan sampai ada sesuatu yang kita ingini. Sebab kalau ada sesuatu yang menarik hati kita, lalu kita mengingininya, maka mata kita menjadi tidak tajam melihat Tuhan, dan telinga kita menjadi tidak tajam mendengar suara-Nya. Mari kita berambisi untuk benar-benar memiliki hati yang menyembah, yang bisa dirasakan oleh Allah. Sebagaimana kita juga bisa merasa kalau ada orang yang mencintai, menghormati, menghargai kita. Walaupun kadang-kadang manusia bisa munafik. Pura-pura menghormati, padahal tidak. Kita bisa saja tertipu, tetapi Tuhan tidak akan bisa tertipu. Tuhan bisa merasakan bahwa kita mencintai Dia atau tidak. Tuhan bisa merasakan bahwa kita menjadikan Dia kesukaan, kebahagiaan kita. Tuhan tahu, Tuhan merasa kalau kita menyanjung dan mengagumi Dia. 
    Hal itu harus berlangsung di setiap saat, di mana ada api penyembahan yang menyala karena kita cinta Tuhan, ada kerinduan akan Allah, dan Tuhan menjadi gairah kita. Apalagi kalau sudah makin tua, yang kita punya pengalaman banyak bersama Tuhan; membentuk karakter, memberikan tangan pemeliharaan, dan memberikan firman yang membuat kita mengagumi Tuhan. Ini bukan karunia khusus untuk orang-orang tertentu. Ini adalah kepercayaan, sekaligus tanggung jawab. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mengisi hati dan perasaan kita dengan hal-hal yang tidak patut. 
    Kita bisa mulai sekarang. Jangan tunggu besok atau nanti. Saat ini, kita sudah bisa membuka hati kita, meremukkan dan memecahkannya untuk Tuhan, dan mengatakan: “Aku mencintai Engkau, Tuhan.” Kita tidak akan pernah menyesal. Mari kita tetapkan hati kita untuk mencintai Tuhan. Tidak mungkin Tuhan tidak menolong. Bayangkan, betapa indahnya menjadi kekasih Tuhan. Kita membayangkan kalau kita bisa menjadi orang yang benar-benar tidak bercacat dan tidak bercela, betapa indahnya. Lalu kita menjadi kekasih Tuhan. Tuhan bisa menikmati hidup kita setiap saat. 
    Maka, kita harus berlatih, bagaimana frekuensi perasaan yang ada pada waktu...
    9 min
  • Belenggu Perasaan
    Di dalam hidup, kita tidak mungkin tidak menghadapi masalah. Di dalam masalah, perasaan kita bisa terganggu. Jangan berharap hidup di dunia dengan keadaan yang menyenangkan selalu. Pasti kita akan menghadapi situasi-situasi di mana perasaan kita terganggu yang bisa memunculkan kebencian, kemarahan, dendam, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, atau rasa tidak nyaman lain. Yang jika itu tidak ditanggulangi, maka itu akan bisa menjadi penyakit di dalam jiwa kita. Tidak sedikit orang yang hidupnya menjadi terbelenggu atau terkungkung oleh dirinya sendiri, yaitu oleh keadaan perasaan yang membuat ia tidak bahagia, yang membuat ia merasa tidak nyaman. Banyak perasaan negatif yang membelenggu hidupnya. 
    Sampai pada tingkat seseorang menjadi stres bahkan depresi, bahkan bukan tidak mungkin menjadi benar-benar sakit jiwa tingkat akut atau menjadi gila. Ketika kita menghadapi masalah yang mengganggu perasaan, memang dapat membuat kita tidak tidur nyenyak, bahkan tidak bisa tidur, tidak enak makan, sampai tidak bisa makan sama sekali. Lalu, bagaimana kita dapat lepas dari berbagai belenggu yang menyangkut perasaan kita? Caranya adalah menyusun cara berpikir yang benar, memiliki cara pandang yang benar terhadap hidup ini. Kedengarannya hal ini filosofis, tetapi ini akan kuat sekali kalau dituruti. 
    Dari kecil, mestinya anak-anak sudah diajar bagaimana memandang hidup dengan benar. Orang tua harus meletakkan landasan berpikir yang benar pada anak-anak. Sehingga ketika mereka di usia remaja atau pemuda menghadapi guncangan, mereka memiliki ketahanan. Cara berpikir yang harus dibangun sejak dini adalah cara memandang hidup yang benar, yaitu bahwa hidup ini tidak bisa dipisahkan dari Tuhan. Tuhan harus menjadi segalanya di dalam hidup kita, dan ini harus dikenakan, diperagakan, diterjemahkan di dalam kehidupan konkret para orang tua. Oleh sebab itu, mutlak anak-anak harus dapat mencium kehadiran Tuhan di dalam hidup dan juga perilaku orang tua. Hal ini yang dimaksud cara meletakkan landasan bangunan berpikir.
    Orang yang menjadikan Tuhan sebagai tujuan dan segalanya dalam hidup ini, akan sangat kokoh. Ingat, makin hari, dunia ini makin membuat jiwa kita merasa tidak bahagia. Banyak masalah, banyak tekanan. Maka, mari kita berkomitmen untuk kembali kepada pola hidup yang Allah kehendaki. Pola hidup itu adalah Tuhan. Tidak ada pola hidup yang lain. Seandainya kita memiliki kehidupan yang berlimpah secara harta kekayaan, itu pun belum tentu membuat kita bahagia. Bahkan kenyataannya tidak. 
    Namun, siapa pun dan bagaimanapun keadaan kita hari ini, kalau kita menjadikan Tuhan adalah tujuan hidup, kita akan menjadi orang yang kokoh dan kuat dalam menghadapi masalah-masalah hidup. Percayalah, kita tidak akan mudah terbelenggu oleh perasaan-perasaan negatif. Sebab sampai kapan pun dan di mana pun, kita pasti menghadapi masalah yang dapat mengganggu perasaan kita. Namun, kalau kita memiliki bangunan berpikir yang benar, maka kita dapat dengan mudah terlepas dari segala belenggu yang mengikat kita; belenggu perasaan. 
    Kalau Tuhan menjadi tujuan hidup kita, Tuhan segalanya dalam hidup kita, kita tidak bisa berbuat dosa. Kita bukan hanya kokoh, tetapi kita juga makin benar, makin kudus di hadapan Tuhan. Bahkan bagi kita yang mengalami keadaan yang serba “malang,” selalu menderita, selalu jatuh, selalu tertindas, sejatinya kita lebih berpotensi untuk memikirkan kehidupan yang akan datang. Harus diakui, orang-orang yang mencari Tuhan all-out adalah orang-orang yang patah hati. Tentu saja tidak semua, tetapi hanya bagi orang yang patah hati dengan dunia ini, orang-orang yang berpotensi untuk menjadikan Tuhan segalanya. 
    Tuhan harus menjadi tujuan hidup kita, dan hal ini akan membuat kita menjadi kuat. Percayalah bahwa Tuhan kita, Juruselamat kita, Yesus Kristus, Raja kita, tidak pernah meninggalkan kita, selama kita mau tetap setia dan sungguh-sungguh berjalan dengan Tuhan. Tentu kita harus hidup di dalam kekudusan dan ke...
    9 min
  • Perasaan adalah Anugerah
    Ada satu anugerah yang Tuhan berikan kepada insan manusia, tetapi hal ini tidak disadari oleh banyak orang, yaitu perasaan. Dari perasaan ini, kita bisa mencintai sesuatu atau seseorang, bisa mengagumi sesuatu atau seseorang, dan merasakan sesuatu atau seseorang. Perasaan, Tuhan taruh di dalam hati manusia, supaya manusia dapat menikmati kehidupan. Sebab tanpa perasaan, manusia tidak akan dapat menikmati kehidupan. Banyak orang tidak menghargai anugerah ini, sehingga tidak menggunakan perasaannya secara benar atau secara bijaksana. Kita bersyukur karena kita mengenal Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, yang mengajarkan kepada kita kebenaran dan melengkapi kita dengan Roh Kudus, yang memampukan kita untuk mengenakan atau melakukan kebenaran itu. 
    Lukas 4:8, “Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Kata “menyembah” di dalam Lukas 4:8 ini adalah proskuneo; memberi nilai tinggi. Kata “menyembah” ini terkait dengan perasaan. Seseorang tidak mungkin menghormati dengan benar orang lain yang dianggap lebih tinggi martabatnya atau usianya, tanpa memiliki cinta, tanpa memiliki kasih. Tidak mungkin. Dasar dari penyembahan itu cinta, kasih. Adapun hal mencintai adalah wilayah kedaulatan masing-masing individu. Allah tidak memaksa, Allah tidak mengatur. Manusia itu sendiri yang harus menggerakkan perasaannya. 
    Betapa beruntungnya dan terberkatinya orang yang mencintai Tuhan. Hal ini harus kita upayakan. Kita yang harus menggerakkan hati kita untuk mencintai Dia. Kita yang harus dengan sengaja dan sadar menggerakkan hati kita untuk mencintai Tuhan. Masalahnya, sejak kecil kita ada di lingkungan orang-orang yang sebenarnya tidak mengenal Allah dengan benar. Kita melihat cara hidup orang di sekitar kita, apa yang mereka pandang bahagia, apa yang mereka pandang kehormatan atau menjadi kehormatan, apa yang mereka pandang bernilai. Lalu, sejak kecil kita terbawa membangun nilai-nilai tersebut. Sebab pada dasarnya, hidup ini proses meniru. 
    Tanpa kita sadari, kita juga membangun kecintaan kepada objek-objek tertentu. Dari kecintaan itu terbangun cita rasa atau selera. Sehingga banyak orang telanjur jatuh cinta pada cita rasa dunia dan membangun selera. Cinta dan selera kita terhadap dunia, membangun nilai-nilai di dalam pikiran dan jiwa kita dan itulah yang membuat kita tidak bisa menyembah Tuhan dengan benar. Sejatinya, sebagian besar manusia memperlakukan Tuhan seakan-akan tidak ada. Ber-Tuhan katanya, tetapi hidupnya tidak menunjukkan bahwa dia ber-Tuhan. Beragama, tetapi perilakunya tidak menunjukkan bahwa Tuhan itu ada. 
    Perasaan kita ini merupakan bentuk kepercayaan Tuhan. Apa isi perasaan kita, diarahkan ke mana, kepada siapa kita mencinta, dan apa yang menjadi selera dari perasaan kita ini, tergantung kita. Jadi, kalau bicara mengenai hati yang menyembah, sebenarnya bukan hanya bicara mengenai waktu kita di gereja menyanyikan lagu rohani atau mengucapkan kalimat-kalimat penyembahan, melainkan kualitas hati atau perasaan kita setiap saat. 
    Suatu hari, ketika kita berhadapan dengan Tuhan, keagungan dan kemuliaan-Nya pasti dahsyat sekali, betapa bersyukurnya kita kalau kita mengisi perasaan kita dengan baik. Kita mencintai Tuhan. Tuhan menjadi selera dan gairah hidup kita. Sebab jikalau kita benar-benar menggerakkan hati kita untuk mencintai Dia dan kita bisa mencicipi Tuhan, menjadi selera perasaan kita, maka kita pasti menghargai Dia secara patut. Mari kita periksa diri kita masing-masing, apa yang menurut kita paling berharga sebenarnya. Kadang-kadang antara mulut dengan perasaan pun tidak sinkron. Mulut mengatakan, “Kukagum, hormat akan Engkau. Aku mencintai Engkau. Aku perlu Engkau. Kuperlu Kau lebih dari nafasku.” Pikiran setuju, tetapi perasaan kita tidak. Sebab, kita memperkarakan hal tersebut hanya pada waktu di gereja. 
    Jujurnya, kita tidak menggumulinya dalam hidup setiap hari,
    10 min
  • Memiliki Kepekaan
    Untuk dapat mengenali suara Gembala, aspek yang kedua, kita harus punya jam doa. Dalam berdoa ada perjumpaan dengan Tuhan, sehingga kita menjadi terbiasa terhadap suara Tuhan. Kehidupan doa itu sungguh luar biasa. Banyak berkat rohani, pengalaman-pengalaman rohani yang tidak terkatakan pada waktu kita berdoa. Yang ketiga, jangan punya kesenangan yang mana Tuhan tidak ikut menikmatinya. Yang keempat, hidup suci; tak bercacat tak bercela. Barulah kita akan memiliki kepekaan untuk bisa menangkap suara Tuhan di dalam kehidupan kita setiap hari. 
    Allah sedang bermanuver, Allah sedang bergerak dalam pengalaman hidup kita, dan kita bisa menimba hikmat yang Tuhan mau berikan. Pasti Tuhan berbicara lewat peristiwa-peristiwa kehidupan. Tangkap itu. Sehingga selanjutnya, kita akan punya kepekaan. Waktu kita mau mengambil keputusan, kita bertindak, kita punya kecerdasan. Kita mengerti apa yang Allah kehendaki; bicara apa, kapan, di mana, apa yang harus kita putuskan, bagaimana pilihan kita, bagaimana kita bertindak. 
    Tentu kita mengakui bahwa tidak semua masalah dapat dengan mudah kita selesaikan. Ada masalah-masalah yang membutuhkan waktu, dan memang kita harus bertahan di dalam masalah tersebut. Tentu kita membutuhkan nasihat Tuhan. Namun, banyak orang mau masalahnya cepat selesai. Tidak bisa begitu. Mengapa? Karena masalah itu mendewasakan kita. Jadi, kalau kita menghadapi masalah, kita harus mendengar suara Tuhan, apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi masalah itu. Sebab di dalam masalah tersebut pasti ada didikan dan pelajaran yang Tuhan berikan. Pasti. 
    Jadi, miliki kepekaan mendengar suara Tuhan, dan nikmati berkat-berkat Tuhan di dalam persoalan-persoalan tersebut. Ada berkat Tuhan yang Tuhan berikan. Justru ini indahnya hidup sebagai orang Kristen. Dalam segala hal, Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan. Maka, pasti ada berkat rohani yang ada di dalamnya. Jika saat ini kita sedang menghadapi masalah-masalah pelik dan rasanya mau berhenti jadi manusia, putus asa, lebih baik mati, kita bodoh sekali. Sebab di dalam masalah itu, pasti ada nasihat Tuhan. Kita harus mendengar suara Tuhan. Apa yang kita harus lakukan dalam kasus pergumulan hidup yang kita hadapi. 
    Kita harus temukan, Tuhan mau bawa kita ke mana, lewat masalah itu. Sebab Gembala yang baik menuntun kita ke rumput yang hijau dan air yang tenang, tetapi itu tidak membuat hidup kita lantas jadi aman, tidak bermasalah. Rumput yang hijau itu bicara soal kebenaran firman. Air yang tenang juga bisa melambangkan kebenaran firman dan Roh Kudus. Kita akan dihantar ke dalam lingkungan, suasana berkat rohani itu. Namun untuk ke arah itu, Tuhan mengizinkan masalah terjadi, supaya kita tergiring ke tempat itu. Karena banyak orang yang kalau hidupnya sudah nyaman, tidak memiliki masalah, sehat jasmani rohani, mereka jadi lupa akan Tuhan. 
    Jadi, Tuhan harus membuat sesuatu supaya perhatian kita terarah kepada Tuhan dan dibawa Tuhan ke arah yang benar. Rumput yang hijau, air yang tenang, itu pasti menunjuk berkat rohani. Pengarahan Tuhan kepada kehidupan kekal yang indah. Jadi, kita harus mendengar suara Tuhan. Ingat, Tuhan pasti berbicara. Tuhan pasti memberitahukan apa yang kita harus lakukan dan Tuhan mengarahkan kita kepada kehidupan kekal yang indah. Sekarang pertanyaannya, apakah kita sudah menjadi domba yang baik? Itu masalahnya. Karena kalau domba yang sesat, ia tidak terberkati, tidak bertumbuh imannya, bahkan tergiring menuju kegelapan abadi. Hal ini yang terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen. 
    Mereka merasa dirinya terberkati dengan kehidupan yang nyaman, jasmani rohaninya sehat, padahal belum tentu rohaninya sehat. Kesehatan jasmani bisa dilihat, bisa diukur. Namun, kesehatan rohani, hanya Tuhan yang tahu. Kalau seseorang tidak sungguh-sungguh mempersoalkannya, ia tidak akan pernah tahu. Oleh sebab itu, percayalah Tuhan itu hidup, Tuhan itu nyata, Ia tidak pernah meninggalkan kita. Dia terus di samping kita,
    8 min
  • Mendengar Suara Gembala
    Yohanes 10:3-4, “Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” 
    Ada satu karakteristik domba yang ada di Israel, yaitu mengenal suara gembalanya. Jadi, kalau ada lima gembala berkumpul, dan domba-domba mereka bercampur, bagaimana untuk memisahkan domba-domba tersebut? Masing-masing gembala memiliki suara yang dikenal oleh domba-dombanya. Tuhan Yesus mengangkat ini sebagai perumpamaan ketika Yesus berbicara mengenai gembala yang baik. Sekarang yang kita persoalkan adalah bagaimana caranya untuk menjadi domba yang baik? Di Yohanes 10:3-4 dikatakan bahwa domba yang baik adalah domba yang mendengar dan mengenal suara gembalanya. 
    Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita bisa memiliki pengalaman mengenal suara Sang Gembala? Bagaimana kita bisa membedakan antara suara Tuhan dan bukan suara Tuhan? Ini pertanyaan yang bagus yang harus serius kita perkarakan, karena kita tidak bisa dan memang tidak boleh berhenti mendengar suara Tuhan. Tuhan menghendaki kita selalu mendengar suara-Nya. Sebab kalau kita tidak mendengar suara-Nya, artinya kita bisa terpisah dari Gembala. Ingat, selain Gembala yang baik, ada gembala yang jahat, yang mau menuntun manusia ke dalam kegelapan abadi; terpisah dari Allah. Ingat, kuasa kegelapan tidak pernah berhenti bekerja. 
    Jadi, bagaimana kita bisa memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan? Hal penting yang harus kita ingat adalah bahwa Tuhan tidak pernah berhenti berbicara. Begitu kita bangun tidur, kita memasuki hari yang baru, kita menjalani persoalan demi persoalan, pergumulan demi pergumulan, pasti ada suara Tuhan yang mesti kita dengar. Suara Tuhan akan menuntun setiap kita bagaimana bertindak dan mengambil keputusan. Memang, sering kali kita gagal, karena kita merasa Tuhan tidak ada, atau Tuhan meninggalkan kita. Hal itu bisa terjadi karena kita tidak memasang telinga rohani kita untuk mendengar apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidup kita. Tentu di sini kita perlu latihan. Kita harus percaya bahwa Tuhan pasti hadir di dalam hidup kita, pasti menyertai kita. Tuhan pasti menuntun kita agar kita tidak salah mengambil keputusan. 
    Bagaimana kita bisa membedakan suara Tuhan dan bukan suara Tuhan? Yang pertama, kita harus memiliki bangunan berpikir yang benar. Untuk memiliki bangunan berpikir yang benar, maka kita harus mendengar firman yang benar sehingga kita memiliki kecerdasan rohani. Bagi para hamba Tuhan, ingat, betapa besar tanggung jawab kita! Kita bukan hanya bisa bicara di mimbar, menyampaikan apa yang menurut kita patut disampaikan, tetapi kita harus mendengar apa yang Tuhan kehendaki untuk kita sampaikan. Seorang pembicara mutlak sekali harus bisa mendengar suara Tuhan, sehingga benar-benar mengerti apa yang harus dikhotbahkan. Maka, setiap hari harus hidup di dalam kekudusan dan kesucian. Supaya jemaat menangkap kebenaran yang benar-benar dari hati Tuhan dan itu mencerdaskan pikiran mereka, membangun kecerdasan rohani atau spiritual quotient.
    Coba kita serius perhatikan, ada orang-orang Kristen yang dari kecil Kristen, bahkan menjadi pendeta, tetapi tidak punya kecerdasan. Bagaimana kita dapat tahu hal itu? Hal itu terlihat dari keputusan-keputusan hidupnya yang menyakiti dan merugikan sesama. Orang seperti ini pasti tidak mendengar suara Gembala. Tindakan yang melukai atau menyakiti sesama merupakan ciri dari orang yang tidak diurapi Roh Kudus. Orang tua yang memiliki kecerdasan, akan menuntun dia bagaimana menasihati anak-anak. Jika jemaat datang ke gereja mendengar firman yang benar, maka akan membangun iman mereka. Bagi kita yang sungguh-sungguh haus dan lapar akan kebenaran, artinya rindu menjadi orang yang berkenan kepada Allah, pasti dipertemukan dengan hamba-hamba Tuhan yang sejati. 
    Jadi,
    9 min
  • Pada Waktu-Nya
    Kita kadang-kadang diizinkan Tuhan mengalami keadaan-keadaan yang sulit. Keadaan itu bisa terjadi secara berlarut-larut atau dalam waktu yang lama. Inilah yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Kita bisa melihat kenyataan banyak orang begitu jahat terhadap sesamanya. Bukan hanya terhadap orang lain, terhadap pasangan sendiri yang dulu dicintai, yang dulu berjanji untuk melindungi, mengasihi, tetapi kemudian dijadikan korban. Keadaan seperti ini membuat seseorang bisa menjadi putus asa dan mulai meragukan apakah Tuhan benar-benar ada, apakah Tuhan benar-benar hidup. Sudah berdoa, sudah minta pertolongan Tuhan, tetapi Tuhan tidak kunjung menolong. 
    Di dalam Mazmur 83:2 tertulis, “Ya Allah, janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah!” Nyanyian ini merupakan seruan dan jeritan, menunjukkan adanya keadaan-keadaan ketika seseorang tertindas, diperlakukan tidak adil, teraniaya, tetapi Tuhan seakan-akan berpangku tangan atau berdiam diri. Keadaan yang seakan-akan Tuhan tidak peduli atau melupakan kita. 
    Seperti yang terjadi dalam kisah Lazarus. Saat itu, Lazarus sakit. Lalu berkirim suratlah Marta, Maria kepada Yesus, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Selanjutnya dalam Yohanes 11:4-6 dikatakan, “Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan. Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada.” Jadi, Yesus seperti sengaja mengulur waktu. Mestinya Yesus bisa segera berangkat ke Betania untuk mendoakan Lazarus, tetapi ternyata dua hari Yesus sengaja menunda.
    Lalu, apa yang terjadi? Lazarus mati. Yesus sendiri berkata dengan terus terang dalam ayat 14-15, “Lazarus sudah mati; tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya.” Keadaan Lazarus meninggal dunia memang diizinkan Tuhan. Jadi, bukan terjadi secara kebetulan. Marta dan Maria secara tidak langsung menyalahkan Yesus, katanya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Namun, Yesus tidak marah. Yesus berkata, “Saudaramu akan bangkit.” Marta berkata kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”  Ia tetap mendebat Tuhan karena ia tidak yakin bahwa Yesus akan membangkitkan.  
    Kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita berada di dalam kontrol Tuhan, pengetahuan Tuhan, dan kendali Tuhan. Namun, untuk mempraktikkannya, tidak mudah. Ketika kita memiliki persoalan, pergumulan berat dan itu menyita pikiran dan perasaan kita, kita juga bisa menjadi kecil hati dan kecut. Lalu kita berkata, “Tuhan, Engkau di mana? Mengapa Engkau biarkan semua ini terjadi?” Kita lupa apa yang dikatakan oleh firman Tuhan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu. Kita tahu dan percaya, tetapi hanya dengan mulut. Sebab faktanya, ketika kita di dalam situasi sulit yang tidak kunjung selesai, lalu makin tidak melihat jalan keluar, kita menjadi kecil hati, seakan-akan Tuhan tidak ada. 
    Sebagaimana kisah bangsa Israel yang dibawa oleh Tuhan dari Mesir ke Kanaan. Mereka berjalan dituntun tiang awan dan tiang api, dan mereka dibawa Tuhan ke pantai laut Teberau. Sementara Firaun dengan algojo-algojonya datang, siap membantai mereka. Mereka bangsa budak yang tidak biasa berperang, sementara Firaun memiliki pasukan berkereta perang, berkuda, dan tentu senjata lengkap. Namun, Tuhan punya banyak cara untuk menolong. Justru keadaan itu merupakan cara Tuhan membuka mata bangsa Israel untuk melihat kebesaran Allah, sebelum mereka melanjutkan perjalanan panjang melewati gurun yang ganas. Akhirnya, mereka betul-betul melihat kemuliaan Allah ketika laut Kolsom terbelah. 
    10 min
  • Menjadi Berkat
    Jangan sampai ada kebahagiaan yang melampaui kebahagiaan kita akan Tuhan. Kalau kita menjadi kekasih Tuhan, kita tidak minta tolong apa-apa pun, Tuhan pasti menolong. Tuhan pasti membela kita karena kita adalah anak kesukaan, anak kesayangan Tuhan. Jadi yang pertama, jangan memberontak kepada Tuhan, yaitu dengan hidup suci. Jaga perkataan, perbuatan, seluruh perilaku hidup kita. Yang kedua, jadikan Tuhan sebagai kebahagiaan hidup satu-satunya. Kebahagiaan yang lebih dari segala kebahagiaan, sehingga kita rela kehilangan siapa pun dan apa pun, asal tidak kehilangan Tuhan. 
    Namun, ini penting untuk kita ketahui bahwa Tuhan bertindak sesuai dengan jadwal-Nya. Jadi, jangan berpikir bahwa kita bisa mengatur Tuhan. Kalau kita sudah berusaha hidup suci dan mencintai Tuhan lebih dari apa pun dan siapa pun, maka Tuhan menggarap kita. Bagaimana menjadikan kita sebagai anak-anak yang berkualitas melalui masalah-masalah hidup yang kita hadapi. Saat ini, pasti ada di antara kita yang punya masalah-masalah berat. Rasanya langit hidup sudah hampir rubuh, bahkan rubuh. Ingat, tidak ada sesuatu yang boleh kita katakan rubuh.
    Selama kita masih bersama dengan Tuhan, kita masih eksis, kita masih hidup. Kita percaya bahwa kita dipelihara Tuhan, dengan pemeliharaan-Nya yang sangat sempurna. Jadi, kalau kita ada dalam keadaan terancam dan rasanya hancur, percayalah itu hanya ‘nyaris.’ Tuhan sering mengizinkan kita dalam keadaan seperti itu. Seperti bangsa Israel yang sengaja dibawa Tuhan di pantai laut Kolsom. Mereka berjalan sesuai dengan petunjuk Tuhan. Namun, tentara Firaun masih bisa mengejar, mereka tidak bisa lari ke kanan atau ke kiri karena perbukitan terjal tinggi, kecuali tenggelam ke laut Teberau.
    Mengapa Tuhan mengizinkan hal itu? Karena Tuhan mau menunjukkan kemuliaan-Nya. Seperti Tuhan sengaja membawa bangsa Israel ke tempat di mana tidak ada air. Tuhan mau menunjukkan kemuliaan-Nya. Jadi, kalau Tuhan membawa kita ke dalam satu situasi yang kita rasanya akan hancur, itu hanya nyaris. Tuhan pasti akan memedulikan kita. Tidak bisa tidak, Tuhan tidak mungkin tidak membela kita. Tuhan itu bukan saja baik, tetapi sangat baik. Jadi, kalau kita sudah hidup suci, kita mencintai Tuhan dengan benar, jalan saja; kita pasti aman. 
    Tuhan menjadikan keadaan-keadaan yang sulit itu mendewasakan kita. Namun, ingat, jangan memaksakan waktu dan cara yang kita mau. Bagian kita adalah hidup suci dan menjadikan Tuhan kebahagiaan. Di luar itu, biar Tuhan yang beracara; bukan kita. Dua hal ini akan menggiring kita ke Rumah Bapa dan itu adalah nilai yang tinggi sekali, tak bisa diukur oleh apa pun. Lalu kita mau mencintai Tuhan lebih dari mencintai siapa pun dan apa pun. Kita harus terus kembangkan itu dalam diri kita. Nanti Tuhan akan menjadi lebih nyata dalam hidup kita.
    Kalau Tuhan kita rasakan lebih nyata, hati kita semakin kuat. Ketika kita menghadapi persoalan-persoalan berat, ancaman-ancaman yang nyaris membuat kita jatuh, tetapi kita tidak akan jatuh, karena Tuhan genggam tangan kita, Tuhan akan melindungi dan menjagai kita. Percayalah. Satu hal yang indah sekali adalah ketika kita nanti melihat pertolongan Tuhan pada waktunya. Kita akan melihat bukti pertolongan Tuhan, yaitu waktu Tuhan membela kita. Pada saat itu, kita merasa berutang. 
    Kita merasa berutang kebaikan, sampai merasa berutang kehidupan. Kalau sudah merasa berutang, kita tidak lagi berurusan dengan Tuhan hanya untuk meminta berkat, untuk mengeksploitasi Tuhan atau memanfaatkan Tuhan. Sekarang kebalikannya, kita yang mau dimanfaatkan oleh Tuhan. Tadinya kita selalu hanya mengharapkan pembelaan dari Tuhan, tetapi sekarang yang kita lakukan, kita membela Tuhan. Dari menuntut pembelaan Tuhan, sekarang kita memberi pembelaan untuk Tuhan. 
    Sejatinya, Tuhan tidak butuh tenaga kita. Namun, dalam anugerah-Nya, Tuhan berkenan memberikan kepada kita kesempatan untuk melayani dan membela Tuhan. Ini yang luar biasa.
    10 min
  • Hidup Berkenan
    Dalam kehidupan, sering kita merasa atau ada banyak orang merasa Tuhan tidak membela dirinya. Hal itu terjadi ketika kita ada di dalam satu persoalan dan Tuhan tidak kunjung menolong. Kita sudah berdoa, sudah minta tolong kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak kunjung menolong. Apalagi kalau kita menghadapi keadaan yang benar-benar mengancam nyawa dan kehidupan, lalu keadaan itu berlarut-larut. Hal inilah yang membuat kita merasa Tuhan tidak membela kita atau ketika kita diperlakukan tidak adil; orang menjahati diri kita, dirugikan, dilukai, dll. Kita berdoa, tetapi Tuhan seakan-akan tidak bertindak apa-apa. Orang yang menyakiti kita malah kelihatan lebih kuat, lebih dibela orang, dianggap benar oleh orang, sementara kita tersudut atau terpojokkan. 
    Tuhan tidak pernah tidak mendengar doa kita. Tuhan adalah Tuhan yang membelaskasihani orang. Masalahnya, apakah kita layak dibelaskasihani oleh Tuhan? Tuhan bukanlah Pribadi yang bisa diperlakukan suka-suka manusia. Tuhan adalah Pribadi Agung yang memiliki tatanan. Dia tidak bertindak di luar tatanan dan aturan-Nya. Tuhan berfirman dalam Yesaya 59 bahwa yang menjadi pemisah antara Allah dan umat adalah dosa. Jadi, bagaimana kita bisa menerima pembelaan Tuhan kalau kita hidup tidak berkenan di hadapan Tuhan? Kalau orang yang hidup sewenang-wenang dan kejam terhadap sesama, lalu minta perlindungan Tuhan dan dengan mudahnya Tuhan melindungi, berarti Tuhan diperbudak oleh orang-orang ini. Tuhan bisa dibawahi oleh orang-orang jahat ini. Orang-orang jahat ini dikendalikan oleh Iblis. Maka, jelas tidak mungkin.
    Memang ada orang-orang Kristen baru yang karakternya masih buruk, tetapi Tuhan bisa memberikan pembelaan walaupun dia masih tidak dewasa bahkan melakukan kesalahan. Namun, karena ketidakdewasaan. Kalau sudah dianggap mestinya dewasa, tetapi ia masih tidak hidup berkenan kepada Allah, kehidupannya memberontak dan melawan Allah, maka ia tidak layak dilindungi, tidak layak dibela, tidak layak dibelaskasihani. Tuhan tidak bisa dimanfaatkan. Tentu Tuhan lebih dari bermanfaat. Tuhan itu segalanya di dalam hidup kita. Namun, Tuhan tidak bisa dipermainkan atau diperalat. Tuhan punya aturan, punya format baku dalam bertindak. 
    Jadi, kalau kita mau dibela oleh Tuhan, maka kita harus hidup benar, hidup berkenan di hadapan Tuhan. Supaya layak diberkati, layak dilindungi, layak dibelaskasihani oleh Tuhan, ingat kalimat ini: Tuhan tidak bisa diperalat. Kita tidak bisa memanfaatkan, mengeksploitasi Tuhan sesuka kita. Namun, kalau kita hidup berkenan di hadapan Tuhan, kita tidak meminta pertolongan pun akan ditolong Tuhan, karena kita adalah kekasih Tuhan. Jadi, jangan memberontak. Jangan berbuat dosa. Kita yang sekarang dalam keadaan terjepit, tersudut dalam persoalan, dalam ancaman, merapatlah kepada Tuhan, dan hiduplah di dalam kekudusan dan kesucian. Selanjutnya, jadikan Tuhan kebahagiaan kita satu-satunya. 
    Kita bersyukur kalau menghadapi masalah, sampai kita dibawa ke situasi yang memang tidak ada jalan keluar, tidak ada kebahagiaan selain Tuhan. Lalu kita merapat kepada Tuhan, dan bisa menikmati Tuhan. Ini adalah berkat, sebenarnya. Ada orang-orang yang harus diperlakukan seperti itu, baru ia bisa menjadikan Tuhan kebahagiaan dan bisa memiliki pengalaman spiritualitas atau pengalaman rohani di mana Tuhan menjadi kebahagiaannya. Ini yang sebenarnya Tuhan kehendaki dalam hidup kita, yaitu Tuhan menjadi kebahagiaan kita. Sebab kalau kebahagiaan kita itu hidup tanpa masalah, hidup dalam ketenangan, hidup dalam kenyamanan di bumi ini, kita bisa masuk neraka. Kalau seseorang tidak merasa Tuhan sebagai kebahagiaannya dan surga sebagai tujuan pengharapan, ia akan memberhalakan sesuatu.
    Suami, bisa jadi berhala. Tidak salah memiliki suami yang baik, yang cinta Tuhan, mencintai keluarga. Namun, kalau dengan keadaan suami yang begitu baik lalu jadi tidak lagi menghargai Tuhan, merasa cukup dengan suami, dan rasanya ingin hidup seribu tahun di bumi dengan suami yang baik sepe...
    10 min
  • Berjanji Setia
    Yohanes 21:15-17, “Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”
    Sebagaimana sepasang kekasih yang mengucapkan janji pernikahan di depan pendeta, dengan lantang ia berkata, “Aku menerima engkau sebagai istriku, baik dalam suka dan duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam keadaan sehat atau sakit, dan setia kepadamu selama aku hidup.” Tidak terbersit pikiran untuk tidak setia. Lalu, pernahkah kita meyakinkan kepada Tuhan bahwa kita sungguh mencintai-Nya dan tetap setia? Jarang ada orang yang masuk di situasi di mana dia mau meyakinkan cintanya kepada Tuhan. Maka, kalau orang benar-benar mencintai Tuhan, pasti ia tidak takut berjanji setia kepada Tuhan.
    Kita punya daging yang bisa berbuat dosa dan masih ada hasrat dosa di dalam hati. Namun, kita tidak mau melukai Tuhan, karena Tuhan adalah kehidupan kita. Kita tidak akan memberi peluang kepada daging untuk berbuat dosa. Jadi, kalau kita masih takut-takut atau ragu-ragu, seakan-akan ada kehidupan di luar Tuhan, ada kebahagiaan di luar Tuhan, maka cinta kita kepada-Nya belumlah cinta yang benar dan pantas. Menjadi anak Allah itu unggul, lebih dari menjadi seorang menteri. Jabatan sebagai seorang menteri hanya 5 tahun, tetapi sebagai anak-anak Allah, itu abadi. 
    Jadi, pilihlah Tuhan, ayo kita pindahkan cinta kita kepada Tuhan. Lalu kita mau berdinamika, mengembangkan cinta itu. Kita mau sungguh-sungguh berjalan bersama Tuhan. Ingat, jangan berbuat dosa. Daging kita memang senang dipuaskan, tetapi kita memilih mematikan daging. Kalau dia mendesak, kita bilang “tidak.” Sebab dosa itu pasti mencandui kita. Maka, jangan sampai kita kecanduan dosa dan berutang kepada daging. Kita berutang kepada roh untuk menyenangkan Tuhan. Sekarang kita mau memikirkan apa yang menjadi kesenangan Tuhan. Orang yang hatinya mencintai Tuhan, pasti semakin hari makin bulat. Semakin matang cinta kita, semakin kita dimiliki Tuhan. Bagaimana Tuhan dapat memiliki kita? Kalau kita menyerahkan hati kita sepenuhnya bagi Tuhan. Sekarang kita harus jujur, masih adakah berhala-berhala di dalam hati kita? 
    Ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku, Petrus?” Tuhan mau ketegasan Petrus terhadap Tuhan dan ketegasan Petrus terhadap dirinya sendiri. Sebelum Yesus disalib, Petrus berkata: “Tuhan, jangankan penjara, mati pun aku bersedia.” Namun, rupanya itu situasional, Petrus belum siap. Tuhan mau Petrus punya ketegasan terhadap Tuhan dan tegas terhadap dirinya sendiri. Begitu Petrus menyatakan ketegasannya, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yoh. 21:18). 
    Kita sudah pernah kecanduan dengan banyak hal yang tidak patut. Terikat dengan banyak hal, yang itu menjadi berhala. Cinta kita tidak utuh. Sejujurnya, kita telah berbuat salah. Sekarang kita mau memindahkan hati dan cinta kita kepada Tuhan. Sampai kita kecanduan untuk melakukan kehendak Bapa. Kalau kita menjadi kekasih Tuhan seperti ini, maka kita akan istimewa di hadapan Allah. Ingat, bagaimana Abraham menjadi kekasih Allah dan bagaimana Allah begitu memperhatikan Abraham. Betapa istimewanya Abraham,
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…