Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Lukisan Indah Kehidupan
    Bagaimana kualitas hidup kita, tergantung kita masing-masing. Hidup bagai sebuah lukisan, dan seberapa indahnya lukisan hidup kita, tergantung kita. Namun yang tidak disadari oleh banyak orang adalah bahwa melukis keindahan membutuhkan kerja keras. Kita tidak bisa hidup suka-suka kita sendiri. Lalu dengan sendirinya nanti terlukis, tergambar, pemandangan yang indah di dalam hidup kita. Melukis keindahan itu perlu pertaruhan yang mahal. Di dalam pertaruhan itu kita harus berani membuang segala hal yang membuat lukisan kita tidak indah. 
    Lukisan hidup yang indah di hadapan Allah terlahir dari kehidupan yang selalu ada di hadapan Allah. Kalau kita mempertahankan hidup di hadapan Allah, selalu di dalam hadirat Tuhan, berarti kita harus terus menjaga kekudusan dan tidak melakukan hal-hal yang Tuhan tidak ikut menikmatinya; maka lukisan akan tergambar indah dengan sendirinya. Jadi kerja keras kita adalah bagaimana kita selalu menghayati bahwa kita ada di hadapan Allah. Kalau kita ada di hadapan Allah, jangan coba-coba hidup sembarangan. Kita harus hidup dalam kesantunan ilahi. Kesantunan ilahi artinya kesantunan sebagai anak-anak Allah yang berkodrat ilahi, yang harus selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.  
    Jadi jelas, bagaimana kita merajut keindahan lukisan kita, yaitu kita hidup di hadirat Allah. Seperti Daud yang berkenan di hadapan Allah adalah karena ia hidup di hadapan Allah. Daud memiliki hati yang berkenan. Berkali-kali di Alkitab dikatakan bahwa seseorang itu berkenan kepada Allah karena ia hidup di hadapan Allah. Inilah yang kita harus terus kembangkan. Dua puluh empat jam di hadirat Allah, tiada henti, terus-menerus di hadapan Allah. Ini yang Allah kehendaki di dalam hidup kita. Kita hayati kehidupan di hadapan Allah. Kita berhati-hati dalam segala sesuatu yang kita lakukan. 
    Dan tanpa kita sadari, kita sedang merajut lukisan yang indah. Lukisan hidup seseorang yang ada di hadapan Allah, pasti indah. Lukisan yang indah dalam hidup seseorang harus berlangsung setiap saat, bukan hanya sesekali; tetapi setiap saat. Ibarat naik taksi argonya sudah jalan, entah jalannya ngebut atau tidak ngebut, argo taksi tetap jalan. Tentu kalau jalannya ngebut, argonya juga lebih cepat. Jadi setiap saat kita merajut lukisan yang indah dalam hidup kita, setiap saat. Tidak ada saat di mana kita tidak merajut lukisan di hadapan Allah. Tidak ada saat di mana kita tidak merajut, tidak ada waktu di mana kita tidak melukis; setiap saat kita melukis. 
    Karenanya kita harus benar-benar berhati-hati atas segala sesuatu yang kita lakukan, kita pikirkan, kita ucapkan, di setiap waktu. Sekarang tergantung seberapa kuat minat kita untuk memiliki lukisan yang indah. Ibarat sebuah kompetisi, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan setiap kesempatan, setiap waktu yang ada. Suatu hari nanti lukisan hidup setiap orang akan terpampang dan semua orang akan melihatnya. Pada waktu itulah orang akan mendapatkan pujian dari Tuhan. 
    Pada umumnya, orang mencari pujian dan kehormatan dari manusia. Namun, kita mau belajar mencari pujian dari Allah. Walau tidak ada manusia yang memuji dan menghormati kita, jangan jadikan itu masalah. Bahkan mungkin kita dipandang rendah, tidak bermartabat, tidak mulia, tidak memiliki nilai di mata manusia, tidak apa-apa. Tetapi kita terus berjuang, terus bergumul untuk memiliki nilai di hadapan Allah. Tuhan akan menolong kita. Karena Bapa memang menghendaki agar kita menjadi orang-orang yang unggul, yang mulia, yang berharga. 
    Itulah sebabnya Roh Kudus dimeteraikan di dalam diri kita untuk menuntun kita kepada seluruh kebenaran, yang sama artinya menuntun kita agar kita menjadi manusia yang luar biasa. Ini yang Allah kehendaki, sehingga kita menjadi manusia yang bernilai. Hanya mereka yang lukisan hidupnya indah yang akan dilestarikan di kekekalan. Ini dahsyat dan menggetarkan. 
    Maka kalau seseorang sembarangan hidup, tidak melukis lukisan indah di mata Allah,
    9 min
  • Tidak Ada Pilihan Lain
    Kita harus sungguh-sungguh memisahkan diri dari dunia. Dalam hal ini, kita tidak memiliki pilihan lain. Ini tidak membuat kita menjadi konyol. Kita hadir di tengah-tengah dunia untuk menjadi terang dan garam, menjadi saksi Tuhan, saksi Kristus, di mana hidup kita menjadi sarana Tuhan untuk menjamah orang di sekitar kita. Jadi, kalau kita ada di tengah-tengah dunia, di mana kita bersentuhan dengan orang, kita hadir untuk menjadi saksi, menjadi saluran berkat. Kita tidak boleh sama dengan dunia. Mau tidak mau, kita memang harus bergaul di tengah-tengah masyarakat, keluarga besar, pekerjaan, kampus, tetapi ingat bahwa kita hadir untuk menjadi saksi. Karena kita adalah utusan Tuhan.
    Jadi, kalau firman Tuhan mengatakan, “Baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah,” di situ kita memenuhi firman Tuhan tersebut. Kita harus memisahkan diri dari dunia, maka kegiatan-kegiatan yang tidak membuat iman kita bertumbuh, harus kita hindari. Memang kita harus memberi waktu dalam pergaulan, jangan eksklusif sampai orang memandang kita sombong atau kita menjadi batu sandungan. Bergaul, boleh, tetapi ada batas. Pasti Roh Kudus akan menuntun kita.
    Roh Kudus menolong kita bagaimana membentuk hidup kita dengan pola kehidupan Yesus yang pernah Yesus jalani 2000 tahun yang lalu. Bagaimana kehidupan Yesus diselenggarakan di dalam hidup kita, dan setiap orang pasti khusus, tidak ada yang sama. Jika proses itu berlangsung dengan benar, maka kita baru bisa mengalami apa yang disebut kelahiran baru. Sebab kelahiran baru bukan sesuatu yang sederhana atau mudah seperti yang selama ini dirumuskan: “percaya Yesus, pasti selamat.” Percaya itu apa?
    Kalau kita menengok kembali kehidupan iman orang Kristen di abad mula-mula, kehidupan mereka tidak nyaman sama sekali. Mereka mengalami aniaya, pedang, ketelanjangan, dan berbagai aniaya lain. Mereka harus mempertaruhkan harta, keluarga, bahkan nyawa demi percayanya kepada Yesus. Percayanya orang Roma waktu itu, bukan percayanya orang Kristen hari ini. Kalau firman Tuhan mengatakan, “Kamu lebih dari pemenang,” artinya kita harus lebih dari orang-orang yang menang secara ekonomi, politik, dan lain-lain. Mengapa? Karena tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
    Sejatinya, banyak di antara orang percaya yang ekonominya lemah, pendidikannya rendah, penampilan tidak menarik, secara lahiriah kalah dengan anak dunia. Namun, firman Tuhan mengatakan bahwa kita lebih dari orang-orang menang. Kenapa? Karena Roh Kudus menggarap kita untuk mengenakan hidup Yesus. Untuk itu, mari kita menikmati dinamika hidup berjalan dengan Roh Kudus. Masalahnya, betapa situasionalnya kita di gereja, begitu bersemangat. Lalu begitu kita keluar dari ruang gereja, semua lenyap. Renungkan bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih Tuhan, dipersiapkan untuk masuk istana Allah Bapa, dipersiapkan mewarisi kemuliaan bersama dengan Tuhan. 
    Betapa hebat panggilan ini! Jadi, kita harus terus ada di dalam kesadaran bahwa kita adalah orang-orang yang memang dipersiapkan untuk dimuliakan. Maka kita harus memaksa diri untuk berubah. Kita harus sudah melihat hamparan padang hijau yang tak bertepi dan sudah membayangkan bagaimana istana indah yang di luar pengertian kita hari ini. Makanya, hidup kita harus benar-benar benar. Ayo, kita keluar dari Mesir dunia ini dan menuju Kanaan surgawi! Hidup ini tragis. 
    Seandainya kita punya gelar sarjana, bekerja dengan gaji sangat besar, pasangan yang baik, anak-anak yang pandai dan sehat, tetapi semua itu tidak membuat kita bahagia, kenapa? Karena kita tidak akan pernah puas dengan gelar, jumlah gaji, keluarga bahagia, apa pun. Kebahagiaan kita hanya Tuhan, entah nanti apa yang terjadi, kita hadapi. Yang penting dari hari ke hari, kita belajar dari Roh Kudus untuk mengenakan hidup-Nya Yesus. Menatap hari esok, kadang-kadang hati menjadi kecut, karena berat beban yang kita pikul,
    9 min
  • Semua Akan Berakhir
    Kita mengerti betapa malang keadaan yang dialami orang yang teraniaya, yang difitnah, yang diperlakukan tidak adil, dari kacamata dunia. Namun, jika kita melihat dari kacamata kekekalan, keadaan itu sangat kondusif untuk bisa membuat mereka menjadi patah hati dengan dunia. Dan kalau sudah begitu, baru mereka mulai memikirkan kehidupan kekal. Namun, kalau keadaan serba baik, semua serba lancar, mereka bisa saja tidak akan memikirkan kekekalan. Padahal kita diciptakan bukan untuk kehidupan sementara, melainkan untuk kehidupan kekal.
    Maka, kita harus serius mengarahkan diri kepada Tuhan. Supaya kita mengambil hikmah dari keadaan hidup ini, guna memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Dan ini akan membuat kita—yang mengalami penderitaan—untuk serius memikirkan kekekalan. Allah itu baik. Dia ingin keadaan kita baik-baik, tetapi tentu harus baik dari sudut pandang Tuhan, bukan dari pandangan kita. Itulah sebabnya kita harus mendengar suara Tuhan yang murni supaya kita menjadi cerdas; cerdas secara rohani. Biarpun kita tidak berpendidikan tinggi, tetapi kalau kita mencari Tuhan setiap hari, maka kita akan memiliki divine thought; pikiran ilahi.
    Jadi, jangan kita terkubur dalam penderitaan, lalu kita menjadi menjadi orang yang memanjakan perasaan. Sehingga kita menjadi gampang tersinggung, lebih mudah menyalahkan orang lain. Memang, kita bisa menderita karena orang lain, tetapi kita tidak perlu menuntut pembalasan. Kita serahkan pembalasan ke dalam tangan Tuhan. Jangan berpikir agar mereka celaka. Itu urusan mereka dengan Tuhan secara pribadi. Urusan kita adalah dengan Tuhan yaitu bagaimana memiliki hati yang bersih tanpa dendam, tanpa kebencian, memiliki kemurnian pikiran dan perasaan Kristus. 
    Semua penderitaan dan masalah kita akan berakhir. Percayalah, tidak mungkin Tuhan tidak menolong kita. Tuhan yang hidup, Tuhan yang berkuasa, Tuhan yang pasti memberikan jalan keluar. Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan dan tidak akan mengecewakan kita. Kalau kita jujur mengingat masa lalu, kita bisa melihat bagaimana Tuhan melewatkan kita dari kesulitan-kesulitan. Itu bukan hanya dahsyat, melainkan dahsyat sekali! Bagaimana Tuhan memberikan jalan keluar dari pergumulan-pergumulan yang sulit, yang kita sendiri berpikir bahwa kita akan hancur. Namun, kita melihat bagaimana kasih Tuhan itu menolong dari keadaan yang betul-betul terpuruk, lalu Tuhan mengangkat kita. 
    Jadi kalau hari ini kita ada sebagaimana ada, kita tahu ini semua karena kemurahan Tuhan yang tiada tara. Tidak ada sesuatu dalam diri kita yang dapat kita banggakan, tidak ada. Tidak ada sesuatu yang membuat kita bisa menepuk dada dan berkata, “Aku hebat. Semua karena aku.” Tidak, tidak ada. Ingat, hanya Tuhan yang menolong kita dari segala persoalan hidup. Oleh sebab itu, mari sekarang kita mengarahkan hidup kita untuk berlindung kepada Tuhan. Jangan membiarkan diri kita tenggelam dalam penderitaan, tetapi kita harus berlindung kepada Tuhan. Minta hikmat dan ma’rifat kepada Tuhan untuk apa yang harus kita lakukan dan untuk mengerti apa maksud Tuhan di balik semua masalah tersebut. 
    Banyak orang nanti akan menyesal, ketika melewati jalan panjang hari hidupnya, karena jalan yang telah dilaluinya adalah jalan hidup tanpa tujuan. Tujuan hidup kita harus Tuhan; Tuhan saja. Kita bersyukur memiliki Tuhan yang hidup, Allah yang hidup. Dia akan melindungi dan menyertai kita. Allah yang baik, dan Dia ingin keadaan kita baik-baik. Jadi kalau sekarang kita merasa keadaan kita tidak baik-baik, itu salah, karena itu adalah keadaan baik yang Tuhan izinkan demi kekekalan kita. Kiranya Tuhan membuka mata pengertian kita untuk memahami apa yang terbaik, apa yang terutama, yang Allah berikan kepada kita.
     
    Jangan membiarkan diri kita tenggelam dalam penderitaan. Percayalah, semua penderitaan dan masalah kita akan berakhir.
    8 min
  • Untuk Kekekalan
    Sejatinya, Tuhan sungguh menginginkan agar keadaan kita baik-baik, karena Allah adalah Allah yang baik dan Dia menghendaki supaya keadaan kita baik-baik. Namun, kita juga harus mau memahami dan mengerti, apa dan bagaimana baik menurut pandangan Tuhan. Kadang dari sudut pandang kita, Tuhan itu seakan-akan berubah, tetapi sebenarnya tidak. Seperti seorang anak kecil yang memandang bahwa yang baik itu gulali, permen, coklat, dan mainan. Pasti orang tua akan memberikan apa yang anak-anak pandang baik dan yang dirasa sebagai kebutuhan yang dapat menyenangkan hatinya. Namun, orang tua yang baik, tentu tidak akan bersikap terus-menerus begitu. 
    Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia anak, maka orang tua bisa mulai berubah. Di sini bukan berarti orang tua tidak konsisten, tetapi orang tua pasti memiliki tatanan dan kebijaksanaan. Sebenarnya, perubahan orang tua itu demi kebaikan anak, bukan demi selera orang tua. Lalu, kalau anak itu sudah mulai usia remaja, orang tua bisa berubah lagi. Yang tadinya boleh main-main, sekarang tidak boleh main-main dengan sesuka hatinya. Apalagi kalau orang tua memiliki bisnis atau usaha yang anak-anak harus terlibat, maka anak-anak tentu harus mulai membantu orang tua. 
    Demikian pula dengan kehidupan kita dalam kekristenan. Ketika seseorang baru menjadi Kristen, bicaranya selalu mukjizat, keajaiban-keajaiban Tuhan, serta pertolongan Tuhan dalam hidupnya yang menakjubkan, dan mereka menilai kebaikan Tuhan dari pengalaman hidup itu. Namun, setelah dipandang Tuhan harus akil balik, Tuhan tidak akan dengan mudah menjawab doa. Kadang-kadang Tuhan membiarkan orang Kristen tersebut berlarut-larut dalam persoalan hidup, dalam pergumulan, dalam kebutuhan. Ketika mereka berdoa, Tuhan juga tidak kunjung menjawab. Tuhan mulai membawa orang Kristen tersebut kepada keadaan hidup di mana dia harus melewati hari-hari yang tidak menyenangkan, keadaan yang tidak nyaman, bahkan penderitaan. 
    Namun, ternyata itu yang baik. Sebab Tuhan memberikan yang baik kepada orang-orang yang dikasihi-Nya dari perspektif Allah, bukan dari perspektif kita. Maka, kita harus memahami hal itu dengan benar. Kita tidak boleh memandang satu kasus dari perspektif kita; harus dari perspektif Tuhan. Kita harus mengerti apa yang dipandang baik menurut Tuhan, bukan menurut kita. Firman Tuhan mengatakan, “Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” 
    Percayalah, Tuhan tidak pernah bertindak tanpa rencana, sebaliknya, Ia bertindak dengan suatu maksud; ada tujuan ilahi. Kita bersyukur memiliki Allah seperti ini. Ini sebenarnya luar biasa. Kalau kita melihat penyembahan dalam agama-agama primitif, yang mereka persoalkan adalah jalan keluar dari persoalan hidup yang mereka hadapi sekarang ini di bumi. Sakit, lalu datang kepada sesembahannya minta kesembuhan. Mengalami paceklik, tidak ada hujan panjang, minta kepada sesembahannya agar hujan panjang dan panen yang baik. Bangsa Israel pun masih memiliki pola mirip itu. Sebab, mereka memiliki orientasi berpikir masih kepada berkat jasmani atau berkat fisik. Namun, bagi umat Perjanjian Baru adalah umat yang memang didesain untuk mewarisi dunia yang akan datang; langit baru bumi baru. 
    Allah merancang keadaan baik untuk kekekalan, bukan hanya sekadar hari ini, kebutuhan terpenuhi, dan tubuh sehat. Namun, bagaimana umat pilihan yang sangat dikasihi oleh Tuhan itu memiliki masa depan yang penuh harapan. Jadi apa yang kita alami, itu bukan sesuatu yang tidak bernilai, karena di sana pasti ada rancangan ilahi. Ingat, tidak ada sesuatu yang terjadi di luar rancangan Allah, bagi orang yang mengasihi Tuhan. Memang, di sini kita melihat kenyataan adanya orang-orang Kristen yang mengalami keadaan sulit dan menilainya sebagai sebuah kecelakaan. Padahal itu pasti ada di dalam bingkai Allah,
    9 min
  • Proses Tuhan
    Kita hidup di telaga, di mana banyak persoalan dan pergumulan. Dunia ini adalah telaga kehidupan; bukan Firdaus, bukan Eden, bukan taman tanpa persoalan. Yang ditunggu manusia itu hanya tiga hal. Yang pertama, persoalan. Yang kedua, sakit. Yang ketiga, proses penuaan dan meninggal dunia. Sungguh, inilah realitas hidup dan ini juga yang membuat kita dapat menyimpulkan bahwa hidup ini tragis. Jadi, kalau sekarang kita memiliki persoalan, itu adalah hal yang tidak bisa tidak harus kita alami. Itu adalah bagian integral dalam hidup kita; bagian yang tidak terpisahkan. 
    Kalau kita melengkapi diri kita dengan pemahaman ini, maka ketika kita menghadapi masalah, kita menjadi lebih kuat dan tabah. Celakalah orang yang mengajarkan orang lain bahwa menjalani hidup itu bisa tanpa persoalan. Tidak mungkin. Bahkan kalau kita tidak memiliki persoalan pribadi, kita harus mempermasalahkan persoalan orang lain. Banyak orang yang ketika hidup tanpa persoalan, mereka jadi tidak merasa membutuhkan siapa-siapa, bahkan tidak merasa membutuhkan Tuhan. Kalaupun ke gereja, dasarnya bukan karena mau membutuhkan Tuhan, tetapi karena menjadi kewajiban manusia ber-Tuhan. Biasanya orang-orang seperti ini memanfaatkan gereja juga untuk kesenangan, kepentingan dan pemuasan diri sendiri. 
    Banyak orang merenggut, meraih apa pun yang ada pada dirinya untuk kesenangan sendiri, tanpa mempertanyakan kepada Tuhan apa yang harus dia lakukan sebagai seorang yang diberkati. Ironis, banyak orang tidak mengerti atau tidak memahami hal ini. Namun, yang penting kita harus menyadari bahwa dalam hidup pasti ada masalah. Memang besar kecilnya masalah itu relatif, tetapi yang pasti, tidak ada pencobaan yang melampaui kekuatan kita. Kalau sekarang kita ada dalam persoalan berat, jangan menyalahkan Tuhan. 
    Jangan kita berkata, “Tuhan itu ada tidak, sih?” Ini adalah bahasa orang yang tidak mengenal Tuhan. Mestinya kita yakin bahwa Allah itu ada. Lalu, dengan otomatis kita memiliki irama yang memercayai Dia. Kita pasti punya persoalan. Kalau orang tidak memiliki persoalan, maka dia harus memperhatikan dua hal. Yang pertama, persoalan kekudusan atau kesucian. Yang kedua, persoalan orang lain. Kita selalu punya dua persoalan ini. Sampai menutup mata, persoalan kita adalah bagaimana hidup dalam kekudusan dan bagaimana memikul beban orang lain atau memikul salib. 
    Jika Tuhan berkata, “Semua ditambahkan kepadamu kalau kamu mendahulukan Kerajaan Allah,” artinya Tuhan tidak akan membuat kita sulit terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani kalau kita sungguh-sungguh mendahulukan Kerajaan Allah. Hal itu dimaksudkan oleh Tuhan supaya fokus pencarian kita adalah harta di surga. Penambahan yang Tuhan janjikan itu bukan supaya kita bisa menikmati hidup nyaman di bumi seperti versi manusia di luar umat pilihan, tetapi supaya kita: yang pertama, mempersoalkan kesucian hidup. Yang kedua, memperkarakan orang lain. 
    Penting sekali untuk kita pahami bahwa Tuhan tidak bisa menyempurnakan dan mengubah orang tanpa masalah. Ternyata, masalah adalah media Tuhan untuk menyempurnakan kita; fasilitas Tuhan untuk memberikan berkat kekal. Artinya, mendewasakan kita. Ironis, banyak orang ketika menghadapi persoalan, dia merasa langit hidupnya rubuh. Dia merasa bahwa hidupnya sudah selesai di situ. Kita tidak boleh merasa hidup kita sudah berakhir. Tuhan punya banyak cara untuk menolong kita.
    Jadi kalau sekarang kita dalam pergumulan, mestinya, yang pertama, kita menerima kenyataan itu. Lalu yang kedua, kita harus menemukan bagian mana dalam hidup kita yang sedang diproses oleh Tuhan. Tuhan tahu bagaimana menghancurkan kesombongan kita, merusak kebiasaan kita menipu dan berbohong, atau dosa-dosa lain yang sebenarnya harus kita tanggalkan. Ternyata, melalui kejadian-kejadian itu, Tuhan mau membuat kita bertumbuh dan dewasa di dalam Tuhan. Ada berkat di dalamnya.
    Masalahnya, sering kali kita merasa Tuhan itu meninggalkan kita. Mengapa? Karena situasi berlarut-larut,
    8 min
  • Memancarkan Kemuliaan
    Percintaan dengan dunia atau hal-hal yang menurut kita menarik, itu yang akan memberi nilai di dalam hidup kita. Dosa adalah ikatan dengan daging kita ini. Kita harus berjuang untuk menanggalkan itu. Roh Kudus pasti menolong kita untuk menanggalkan itu. Roh Kudus akan menunjukkan ketika kita punya kecenderungan. Belum sampai berbuat salah, tetapi sudah ada kecenderungan. Kita harus menanggalkan beban dan dosa dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Mengapa? Karena Yesus adalah model kehidupan yang harus kita miliki; “yang memimpin kita dalam iman, dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.” Jadi, kalau mau memiliki iman, kita harus melihat kehidupan Yesus, karena itu adalah kehidupan keberimanan yang ideal, yang sempurna, dan kita harus mencapai kehidupan seperti itu. 
    Kalau kita benar-benar mau mengikuti jejak Yesus, pasti orang melihat kita aneh. Banyak orang yang mengaku percaya terlalu kompromi dengan dunia. Tidak berani sewarna dengan Yesus; masih mau sewarna dengan dunia. Bahaya atau ancaman yang tidak disadari oleh banyak orang Kristen adalah kewajaran hidup. Sejatinya, kita masih punya kecenderungan untuk berbuat dosa, untuk memuaskan hawa nafsu daging. Namun, kita mau belajar untuk ikut jejak Tuhan Yesus. Kita mungkin jadi terlihat “aneh” bagi orang lain, tetapi tidak konyol. Bagi orang yang belajar kebenaran, ia justru akan melihat bahwa sosok orang yang mengikuti jejak Yesus itu memiliki keagungan. 
    Jadi, selama kita masih punya ikatan dunia, masih melakukan perbuatan-perbuatan yang Tuhan tidak kehendaki, pasti kemuliaan Allah tidak bisa memancar dari hidup kita. Mungkin kita bisa berlaku jadi orang saleh, atau jadi rohaniwan, tetapi tetap tidak akan merekah. Selama kita masih ada ikatan dengan percintaan dunia, kita tidak bisa serupa dengan Yesus. Kita tidak akan bisa memancarkan kemuliaan Allah. Kita tidak bisa menjadi utusan Kristus. Padahal seharusnya, di mana kita hadir, di situ Allah hadir. Di mana kita berada, di situ Tuhan menyatakan diri-Nya. 
    Oleh sebab itu, pemberitaan firman Tuhan harus selalu mencerahi pikiran. Hal itu mungkin terjadi kalau firman yang disampaikan merupakan firman dari hati Tuhan, dan disertai Roh Kudus. Sehingga kita bisa berkata, “Aku berubah.” Namun, kalau hanya ilmu teologi yang dipaparkan, tentu saja tidak akan membuat orang berubah. Dari perubahan pikiran, terjadi pertobatan atau metanoia, sampai menjadi paranoia. Paranoia artinya penyimpangan pikiran; paranoid. Istilah paranoid terkesan negatif, tetapi tidak dalam kekristenan. Kita harus sampai ke level penyimpangan pikiran, karena kita tidak sama dengan dunia.
    Namun, banyak di antara kita yang gangguan mentalnya masih rendah. Padahal seharusnya kita punya gangguan mental yang tinggi. Karena kita bukan dari dunia ini, maka kita mesti punya karakteristik yang tidak sama dengan dunia. Ingat, untuk memiliki karakteristik yang tidak sama, perlu proses; metanoia. Dari miring, kita mau diluruskan. Setelah lurus, justru orang melihat kita miring. Kita harus mengalami gangguan mental, menurut dunia, tetapi menjadi waras di mata Tuhan. Tentu standarnya harus seperti yang Allah kehendaki. Ini perlu usaha yang sungguh-sungguh. Memang ini jalan sempit dan kita harus berjuang. Perjuangan demi perjuangan itulah yang membuat kita mengalami perubahan. 
    Jadi, perubahan itu membutuhkan perjuangan. Kalau perjuangan kita rendah, maka tingkat perubahannya juga rendah; dan sebaliknya. Sebenarnya hal ini juga terkait dengan komitmen seseorang. Jadi kalau kita memang tidak mau berubah, Allah tidak memaksa. Namun, kalau kita punya komitmen kuat untuk berubah, Tuhan akan buat sesuatu. Kita harus semakin berbeda dengan dunia, karena dunia itu menipu. Kita harus berani untuk mengikuti jalan Tuhan Yesus. Kita dianggap sebagai punya kelainan mental, tidak apa-apa. Penyimpangan pikiran, tidak apa-apa. 
    Namun, orang lain akan merasakan satu hal: kita tidak menyakiti mereka, tidak mengancam,
    10 min
  • Merenggut Hidup
    Kalau kita melihat tokoh-tokoh iman di dalam Alkitab, mereka terlihat seperti orang-orang yang memiliki gangguan mental. Bagi kita hari ini, tentu mereka orang baik-baik. Namun, pada zamannya, mereka seperti orang yang terkena schizophrenia; orang yang kena gangguan mental berat yang memengaruhi perilaku, memengaruhi emosi dan komunikasi, lalu mereka dianggap memiliki halusinasi, delusi, kekacauan berpikir dan perubahan perilaku. 
    Misalnya, Nuh. Nuh mendapat perintah dari Tuhan untuk membuat bahtera. Bukan di pinggir pantai, melainkan di daratan. Nuh tentu menyampaikan pesan Tuhan kepada orang sezamannya, yang di dalam Kitab Yudas dikatakan bahwa Nuh adalah pemberita kebenaran. Nuh memberitakan apa yang tidak bisa dimengerti oleh orang-orang sezamannya. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana bisa ada air bah menjangkau daratan sampai membuat bahtera itu terapung. Jadi, Nuh seperti orang yang memiliki gangguan mental. 
    Kalau kita melihat sejarah hidup Abraham, juga begitu. Sudah nyaman hidup di tengah-tengah lingkungan keluarga, masyarakat di lembah Sumeria yang subur dan maju. Kemudian meninggalkan wilayah Ur itu untuk pergi ke negeri yang Tuhan akan tunjukkan. Abraham meninggalkan wilayah Ur dengan harapan akan memiliki negeri yang lebih baik. Abraham taat dan percaya saja kepada Elohim Yahweh yang memanggilnya keluar. Bukan tidak mungkin Abraham juga mendapat hambatan dari keluarga besar mereka. 
    Sadrakh, Mesakh, Abednego ketika disuruh menyembah patung di lembah Dura, tetapi mereka menolak. Sampai raja memberi kesempatan untuk kedua kali, mereka tetap menolak. Bahkan mereka mengatakan, “Kalaupun Allah yang kami sembah tidak menolong, kami tetap tidak menyembah patung itu.” Demikian juga Daniel. Dalam beberapa waktu, tidak boleh ada orang yang menyembah allah lain, selain allah yang ditentukan oleh raja. Namun, Daniel tetap berkiblat ke kota suci dan berdoa. Akhirnya ia dimasukkan ke dalam gua singa. 
    Hal Ini memberi pelajaran bagi kita yang tentu kita bisa menimba, meneguk kebenaran yang terdapat di dalam hidup mereka. Apa yang kita teguk? Satu kalimat: mereka adalah orang-orang yang asyik dengan Tuhan. Keasyikan itu betul-betul merenggut hidup mereka. Ini satu hal yang pasti tidak akan bisa dimengerti oleh kebanyakan orang. Hari ini, kita terlalu kompromi dengan dunia sekitar. Kita sering melakukan konformisme; penyesuaian. Maka, kita tidak berjuang untuk mempertahankan iman. Bicara soal iman, maksudnya adalah bicara mengenai kesungguhan kita dalam menaati Bapa di surga. 
    Yudas 1:3b, “Supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” Mempertahankan iman. Namun, kita harus memahami bahwa yang dimaksud iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Jangan diberi pengertian yang lain. Sebab, setan itu dengan cerdiknya mengartikan iman itu hanya sekadar keyakinan, padahal tidak sama. Iman juga bukan sekadar persetujuan pikiran. Iman juga bukan sekadar pengaminan akali. Di dalam Lukas 18:8, firman Tuhan mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Yesus, Anak Manusia, akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia, Yesus, itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” 
    Kalau hanya keyakinan, persetujuan pikiran, atau pengaminan akali, tentu semua orang Kristen memilikinya. Ini membuat kita harus serius memeriksa diri. Apakah iman yang kita miliki itu adalah iman yang dimaksud oleh Tuhan? Dalam kisah Nuh tadi, kalau kita membaca secara detail di dalam kitab Kejadian 6-7, Nuh harus membuat bahtera sesuai dengan desain Tuhan. Sebab kalau tidak, ketika air bah datang, kapal itu akan hancur. Kapal itu pasti tidak akan sanggup melewati gelombang ombak. Demikian juga dengan iman yang kita miliki, itu harus iman yang sesuai dengan desain Allah. 
    Ibrani 12:1, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita,
    9 min
  • Kehidupan yang Berbuah
    Yohanes 15:5, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak. Sebab di luar Aku, kamu tak dapat berbuat apa-apa.” 
    Urusan kita dengan Tuhan bukan pada hari Minggu saja, itu pun hanya dua jam di gereja. Urusan kita dengan Tuhan itu per detik, per menit hidup kita. Menempel pada pokok anggur, berarti kita selalu bersekutu dengan Tuhan. Sementara kita melakukan berbagai pekerjaan dan kegiatan, kita selalu dalam penghayatan kita ada di hadapan Allah; bahwa kita sedang melekat pada pokok anggur. Supaya, setiap hal yang kita lakukan, harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Sementara itu, kuasa gelap sering kali mencoba mau menyeret kita keluar dari hadirat Allah, dengan memberikan kesenangan-kesenangan, hobi-hobi, dan kegiatan-kegiatan yang tidak membuat kita bertumbuh dalam Tuhan. Selalu saja ada tawaran seperti itu. Jadi, tidak kebetulan kalau pada suatu kali kita mendapat kesempatan untuk melakukan satu kesenangan guna memperoleh kepuasan. Hati-hati!  
    “Tetap tinggal di dalam Aku,” artinya kita tetap fokus kepada Tuhan. Jadi, masalah, yang sedang kita hadapi, kita tidak menganggapnya sebagai suatu kesulitan, sementara kita menghadapinya dengan tanggung jawab. Kita memandang Tuhan dan selalu hidup di dalam kebenaran, hidup di dalam kekudusan. Maka, “lawanlah masalah hidup dengan kekudusan.” Jangan pernah keluar dari hadirat Allah. Tetaplah tinggal di hadirat Allah, walaupun masalah kita bertumpuk-tumpuk, kekecewaan yang menyakitkan, mendapat perlakuan tidak adil, pengkhianatan, dan lain sebagainya. Jangan keluar dari hadirat Allah, tetaplah tinggal di dalam hadirat Tuhan 24/7. 
    Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa kita harus tetap tinggal di dalam Yesus supaya berbuah banyak. Di sini dibutuhkan ketekunan. Banyak tarikan yang membuat kita keluar dari hati dan hadirat Allah. Maka, kita harus tetap di dalam pendirian: “Aku mau ada di hadirat Allah dan tetap ada di hadirat Allah. Aku tidak mau keluar dari hadirat Allah, tetapi tetap tinggal di hadirat Allah.” Kalau seorang tidak menempel pada pokok anggur, ia tidak menghasilkan buah, maka ia akan dipotong. 
    Yohanes 15:6, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” 
    Jika seseorang tidak menghasilkan buah seperti yang Allah kehendaki, berarti dia menghasilkan buah yang lain; yaitu kehidupan yang hanya melakukan keinginannya sendiri. Sedangkan buah yang benar adalah kehidupan yang melakukan kehendak Allah. Ingat Tuhan Yesus berkata, “Bukan orang yang berseru kepada-Ku ‘Tuhan, Tuhan’ yang akan masuk Kerajaan Surga, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah.” Artinya, orang yang menghasilkan buah adalah orang yang melakukan kehendak Allah. Jadi ingat, yang tidak berbuah, akan dibuang. Dicampakkan ke dalam api, lalu dibakar. Mari kita periksa diri kita masing-masing, apakah kita sudah melakukan kehendak Allah atau belum. 
    Kalau belum, kita minta ampun kepada Tuhan dan kita mau berubah. Firman Tuhan mengatakan, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku, firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya.” Ayat ini sering dipungut, lalu orang merasa berhak minta apa saja di dalam nama Yesus, dan Bapa mesti memberi. Sehingga banyak orang berpikir bisa menyandera Allah dengan atau di dalam nama Yesus Kristus. Kita mengusir setan dalam nama Yesus, itu benar, seketika setan bisa keluar. Namun, bukan berarti kita bisa minta apa saja, dan pasti diberikan. Jangan mengancam Tuhan. 
    Ayat yang mengatakan, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya,” tidak boleh dilepaskan dari kalimat sebelumnya: Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Kalau kita tinggal di dalam Tuhan—setia berdoa dan membaca firman—maka kita ...
    9 min
  • Berlatih dan Berjuang
    Yohanes 15:1-4, “Akulah pokok anggur yang benar, dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah dipotong-Nya, dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” 
    Kita adalah umat pilihan. Tidak semua orang menjadi umat pilihan. Di dalam Efesus 1:4-5 tertulis bahwa hanya orang-orang tertentu yang ditentukan menjadi umat pilihan. Ditentukan menjadi umat pilihan bukan berarti ditentukan masuk surga. Ditentukan menjadi umat pilihan, artinya ditentukan untuk memiliki kesempatan guna bertumbuh, dan kesempatan untuk dapat berbuah. Masalahnya, apa maksud “berbuah” di sini? Kita adalah orang-orang yang benar-benar harus bersyukur, karena kita adalah umat pilihan. Ibarat ranting, kita adalah ranting yang ditanam di pokok anggur. Yesuslah pokok anggur itu, dan kita rantingnya. Tidak semua orang memiliki kesempatan atau anugerah ini. 
    Hanya orang-orang yang dikhususkan, dan ini tergantung hak prerogatif Allah. Dikatakan di sini, “Yesuslah pokok anggur yang benar, dan Bapa pengusahanya.” Di sini sebenarnya hendak diberitahukan kepada kita, bahwa ini bisnis milik Bapa, bukan milik siapa-siapa, bahkan bukan milik Yesus sendiri melainkan milik Bapa, dan Yesus adalah pokok anggurnya. Sebagai umat pilihan yang digambarkan sebagai ranting yang menempel pada pokok anggur, kita dituntut untuk berbuah. Tentu buah yang dimaksud haruslah buah sesuai dengan maksud Tuhan; yaitu karakter ilahi, karakter Allah, yaitu sebagai manusia yang berdosa, yang telah kehilangan kemuliaan Allah, diselamatkan oleh darah Yesus Kristus, lalu kita menjadi anak-anak Allah. 
    Supaya kita mengalami terus proses perubahan, guna kita bisa sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Sempurna seperti Bapa, artinya dalam segala sesuatu yang kita lakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kepekaan untuk bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, inilah buah itu. Yesus menjadi model manusia yang Allah kehendaki, yang prinsip-Nya adalah “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Untuk memiliki kehidupan seperti ini, berproses. Seperti ranting tidak bisa berbuah jika tidak menempel pada pokok anggur dan terus menyerap unsur-unsur nutrisi dari pokok anggur tersebut. 
    Demikian juga seorang Kristen tidak akan berbuah, tidak akan memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah, tanpa berlatih dan berjuang setiap hari. Ini anugerah, tetapi anugerah ini memberi kita tanggung jawab. Ironis, banyak orang Kristen tidak memahami ini. Mereka hidup sembarangan, tidak berusaha bagaimana memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah guna dilakukan. Apa pun masalah yang sedang kita hadapi saat ini, kita harus mengambil keputusan yang tepat, yang sesuai dengan kehendak Allah. 
    Apa pun yang sedang terjadi dalam hidup kita saat ini, kita harus memperkarakan apa yang harus kita putuskan atau lakukan, dan itu menjadi latihan kita untuk bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Berlatih untuk memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah, membuat kita makin cakap  mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah. Itulah buahnya. Firman Tuhan mengatakan kalau kita sungguh-sungguh berjuang, maka kita akan berbuah, dan Tuhan akan menolong agar kita bisa berbuah lebih lebat. Tuhan akan membersihkan unsur-unsur dosa, unsur-unsur manusia lama di dalam diri kita, agar kita berbuah lebat. 
    Dikatakan di dalam firman Tuhan, “Setiap ranting yang berbuah dibersihkan, supaya lebih banyak berbuah.” Jadi, orang yang berusaha untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah, dia akan berbuah lebih banyak.
    9 min
  • Keputusan yang Salah
    Banyak orang yang salah mengambil keputusan. Sebagai akibatnya, tentu penderitaan. Yang paling banyak dalam hal ini adalah salah mengambil keputusan memilih teman hidup atau jodoh. Banyak wanita salah memilih pria sebagai suami. Juga, tidak sedikit pula yang kesalahannya berulang. Salah memilih jodoh, pertama. Kemudian, ia mengalami penderitaan tentunya. Sehingga terjadi perceraian. Setelah terjadi perceraian, menikah lagi. Malangnya, salah lagi memilih jodoh. Ini harus menjadi pelajaran yang mahal untuk kita. Pilihan dan keputusan yang salah menjadi kerugian di dalam hidup. Jadi, kita harus menjauhkan diri dari keputusan, pilihan dan keputusan yang salah. 
    Keputusan dan pilihan yang salah disebabkan karena seseorang tidak berjalan dengan Tuhan. Roh Kudus akan menuntun seseorang kepada kebenaran. Roh Kudus itu aktif. Tidak ada satu detik pun Ia meninggalkan kita. Dia selalu berbicara dan menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Lalu, mengapa kita tidak berjalan dengan Tuhan atau berjalan dengan Roh Kudus, agar kita tidak mengambil keputusan-keputusan yang salah? Bagaimana kita bisa memiliki keputusan dan pilihan yang benar?
    Yang pertama, kita harus memiliki tujuan hidup yang benar. Kalau tujuan hidup seseorang salah, maka kesalahan itu akan mewarnai seluruh tindakan dan keputusannya. Tujuan hidup kita hanya satu, Tuhan dan Kerajaan-Nya. Itulah fokus kita, itu proyeksi kita. Harus. Jangan kita memiliki tujuan hidup yang lain. Memiliki tujuan hidup yang lain bukan hanya membuat keputusan dan pilihan kita akan salah dalam perjalanan hidup ini, tetapi yang lebih mengerikan adalah tujuan hidup yang salah akan membawa dirinya kepada api kekal. Sebaliknya, tujuan hidup yang benar mengarahkan kita menjadi anak-anak Allah yang berkenan dan dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. 
    Untuk apa menikah kalau kemudian kehidupan kita direnggut? Banyak wanita yang kehilangan kehidupan setelah menikah dengan pria yang salah. Tidak ada kebahagiaan, malah hidupnya terancam terus setiap hari. Hidupnya ditawan oleh suami yang tidak takut akan Allah; ditawan oleh kuasa kegelapan. Namun, kalau ia memiliki tujuan hidup yang benar, maka ia akan melihat apakah yang akan menjadi teman hidupnya itu seorang yang bisa diajak bersama bertumbuh dalam Tuhan, mencapai tingkat kedewasaan rohani, dan menuju Kerajaan-Nya. 
    Dalam mengambil keputusan dan pilihan, harus didasari ini: “Tuhan adalah tujuanku, Kerajaan Surga adalah arah tujuan hidupku.” Kalau tujuan hidup kita adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka kita akan selalu mempertimbangkan keputusan dan pilihan kita berdasarkan perasaan Tuhan; “Apakah dengan keputusan ini aku menyenangkan Tuhan?” Banyak orang bersikap terhadap orang lain, tanpa mempertimbangkan perasaan Allah. Tahu bahwa membenci itu salah, tetapi karena memang tidak menghormati Tuhan dan tidak menjadikan Tuhan sebagai tujuan, maka terus saja dia menaruh kebencian kepada orang tanpa mempertimbangkan bahwa kebencian tersebut akan menyeretnya ke dalam api kekal. Jagalah perasaan Tuhan. Bukan hanya untuk memuaskan perasaan sendiri. Hidup orang-orang seperti ini akan terpelihara oleh Allah secara khusus. Hidup yang diberkati dan terlindungi sampai di kekekalan berlaku bagi orang yang sungguh-sungguh menjaga perasaan Tuhan. 
    Yang kedua, memiliki kepekaan. Caranya? Hiduplah di dalam doa. Perjumpaan dengan Tuhan akan membangun kepekaan atau sensitivitas di dalam diri kita. Orang yang tidak hidup dalam doa, tidak mungkin memiliki kepekaan. Jadi, doa pagi itu harus kita pandang wajib. Berdoa itu tidak ada liburnya karena doa adalah napas orang percaya. Paksalah diri kita dan alami perjumpaan dengan Tuhan yang membuat kita memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan; apa yang harus kita lakukan dalam mengambil keputusan dan pilihan. Selain doa bersama pagi hari, kita juga punya jam doa pribadi. Sediakan waktu untuk berdoa secara pribadi. Karena di situlah kita akan mendapatkan kepekaan mendengar suara Tuhan.
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…