Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengenal Diri dengan Benar
    Tuhan tidak berurusan dengan kita di waktu yang lalu; Tuhan tidak berurusan dengan kita 10 tahun, 5 tahun, 3 tahun, 2 tahun yang lalu, bahkan Tuhan tidak berurusan dengan kita kemarin. Tuhan berurusan dengan kita hari ini, bagaimana keadaan kita sekarang, dan bisa menjadi apa kita nanti. Namun, kalimat ini sebenarnya belum selesai. Ada implikasi yang penting di balik kalimat ini. Tuhan berurusan dengan kita hari ini berarti kita harus berkeadaan tidak melukai hati Tuhan saat ini. Tuhan mengampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan di masa-masa yang lalu dan Tuhan bisa melupakannya. Bahkan Tuhan menganggapnya tidak pernah terjadi, Tuhan tidak mengingatnya. Tetapi itu tidak cukup.
    Namun ironis, sedikit sekali orang yang serius memerhatikan perasaan Tuhan. Sejatinya, hampir setiap kita pernah berkeadaan seperti itu. Namun, setelah melalui proses hidup, kita melangkah untuk memperkarakan, mempersoalkan, memerhatikan perasaan Tuhan terhadap diri kita saat ini. Tuhan bersedia mengampuni dosa-dosa, kesalahan yang telah kita lakukan, melupakan dan tidak mengingatnya lagi. Namun, apakah kita sekarang ini dalam keadaan masih berdosa? Atau walaupun tidak melakukan dosa atau kesalahan yang telah kita lakukan, apakah kita memiliki tekad dan komitmen untuk tidak melakukan kesalahan yang sama? Apakah kita bersedia untuk tidak memiliki sikap hati yang bisa melukai Tuhan?
    Apakah kita sungguh-sungguh mengenali diri kita dengan benar? Mungkin masih ada sikap hati kita, belum perbuatan, yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Maka firman Tuhan mengatakan, “Jika engkau mendengar suara Tuhan, Allahmu, pada hari ini …” berarti sekarang Tuhan mau berurusan dengan kita. Kesadaran ini harus kita miliki sebagai sikap hormat kita kepada Tuhan, dan sekaligus hati yang mengasihi Dia. Mestinya kalau kita sungguh-sungguh serius mau berurusan dengan Tuhan, kita berani berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Bahkan kita mau hidup dalam kesucian. Saat ini juga kita harus memeriksa adakah sikap hati kita yang tidak berkenan di hadapan Allah. Walaupun itu belum menjadi tindakan, masih di dalam pikiran.
    Kita mau benar-benar bersih di hadapan Tuhan, yang karenanya seperti pemazmur berkata, “Selidiki aku, Tuhan, kenalilah aku, apakah jalanku serong.” Menyimpang sedikit atau meleset sedikit saja, Tuhan tidak berkenan. Sebagaimana kalau kita menghormati dan mengasihi seseorang, tentu kita tidak ingin sedikit pun melukai dan menyakiti hatinya. Demikian pula terhadap Tuhan. Namun, sedikit sekali orang yang sungguh-sungguh memerhatikan perasaan Tuhan, karena banyak orang lebih memerhatikan perasaannya sendiri. Menghitung untung rugi dari perspektif atau sudut pandangnya, bukan melihat Tuhan.
    Hari ini kita mau berubah. Jangan sampai kita terus ada dalam keadaan tidak terbiasa memerhatikan perasaan Tuhan, sampai suatu saat kita tidak sanggup memerhatikan perasaan Tuhan. Kita menjadi buta dan tuli. Di Wahyu 2:23, dikatakan, “Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.” Maka, kalau kita tidak terbiasa dengan jujur memeriksa batin kita, maka kita tidak akan pernah mengenal diri sendiri dengan benar dan tidak akan pernah memiliki kecerdasan rohani mengenali diri dengan benar. Sampai pada titik di mana kita tidak tahu kalau kita tidak tahu. Kita merasa tahu, tetapi sebenarnya kita tidak tahu. 
    Ingat, Tuhan tidak memaksa seseorang untuk mengoreksi dirinya. Maka, untuk dapat mengenali diri dengan benar, kita harus bekerjasama dengan Roh Kudus. Jika kita tidak pernah bekerja sama dengan Roh Kudus, maka kita bisa sampai pada tingkat menghujat Roh. Menghujat roh artinya tidak lagi mampu menerima pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita. Jadi, menghujat Roh tidak menunjuk satu jenis perbuatan, tetapi satu tingkat keadaan ketika seseorang tidak lagi mampu bekerja sama dengan Roh Kudus. Dan kalau sampai orang tidak dipimpin Roh Kudus, seperti yang Tuhan Yesus katakan,
    9 min
  • Tempat Kediaman Roh Kudus
    Roh jahat memang diprogram oleh kuasa gelap untuk menempati manusia. Dan pasti dirancang dengan kecerdasan atau kecerdikannya. Jadi, jangan kita lengah. Ada kuasa kegelapan yang memang dikirim untuk merusak hidup kita. Roh jahat bisa masuk kalau tempat itu tidak diisi. Kalau dia masuki lagi, ada bantuan 7 roh lain masuk. Jadi, dia lebih jahat keadaannya. Mungkin sekarang kita tidak sadar bahwa kita sedang menuju lebih jahat. Belum kelihatan, tetapi bisa dalam kondisi bahaya. Apalagi setan bisa memakai seorang pendeta yang bisa pintar bicara, dan juga media sosial, maka dampaknya itu besar. Tentu Iblis mengerti bagaimana memakai seseorang yang memiliki tempat strategis. 
    Sekarang kita harus memeriksa diri sendiri. Roh yang ada pada kita, apakah Roh Allah atau bukan. Di sisi lain, Roh Kudus mencari tempat kediaman yang di dalamnya Roh Kudus nyaman. Roh Kudus mau memakai orang itu menjadi alat kemuliaan bagi nama-Nya. Untuk itu, kita harus sungguh-sungguh bersiaga supaya tidak jatuh dalam dosa, tidak mata duitan, tidak mata keranjang, supaya bisa menguasai diri, lemah lembut, supaya bisa menjadi teladan. Karena kita adalah manusia yang tidak diberi imunitas. Yesus pun tidak punya imunitas. Maka, Iblis mencobai Dia, supaya bisa menjatuhkan. Namun, Yesus memakai senjata firman. Dengan firman, Yesus bisa mengalahkan kuasa gelap. 
    Cerdiknya kuasa kegelapan, membuat banyak orang tidak menjadi jahat secara moral umum. Ia membuat orang baik-baik, santun, tetapi tidak sampai pada standar yang Allah kehendaki; yaitu sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Yang dikehendaki Allah itu kudus, tak bercacat tak bercela (1 Ptr. 1:16). Tuhan menghendaki kita kudus dengan standar kekudusan Allah. Iblis bisa merasuki hidup seseorang, tetapi tidak membuat orang itu jadi biadab atau bejat, cukup membuat dia puas dengan keadaan hidupnya yang tidak bertumbuh, tidak mencapai maksud keselamatan yang diberikan Tuhan.
    Yang mengerikan, pendeta atau hamba Tuhan. Pendeta itu baik, bukan pendeta bejat. Dia tidak berzina, jujur, tetapi dia masih mau menikmati hidup, mempunyai kewajaran. Dia tidak membawa jemaat kepada kesempurnaan. Maka, kalau kita tidak bertemu Tuhan langsung, kita tidak menemukan atmosfer itu. Maka, sediakanlah waktu minimal 30 menit setiap hari. Kita pasti akan punya pengalaman yang adikodrati; melampaui akal. Kita akan memiliki kesaksian dalam batin, punya kepekaan, dan kita akan menemukan atmosfer Kerajaan Surga. Baru kita bisa membedakan pendeta benar atau tidak. 
    Kalau untuk hal ekonomi atau untuk yang lain, bolehlah apa adanya. Namun, kalau kesucian, kekudusan, keberkenanan, kita harus sampai puncak. Hidup kita singkat. Seberapa puasnya punya rumah besar, mobil mewah, vila di Bali, atau deposito dalam jumlah besar? Namun, kekekalan—waktu yang tidak berakhir, di mana ada padang hijau yang tidak bertepi—betapa indahnya. Di sana kita akan bertemu orang tua, anak-anak, keluarga, pasangan hidup, sahabat kita tanpa penderitaan, tanpa perang. Tidak ada kemiskinan dan sakit-penyakit. Kita mau ke sana. Maka, jaga diri. Jangan salah, jangan jatuh dalam dosa. Kita harus serius bergumul. 
    Roma 3:23, “Karena semua manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan.” Tuhan mau kita punya kemuliaan Allah. Bagaimana agar kita bisa punya kemuliaan Allah? Kalau kita punya moralitas Allah, punya kesucian Allah. Bagaimana kita bisa punya kesucian Allah? Kalau Allah memenuhi kita. Bagaimana kita bisa dipenuhi Allah? Kalau firman memenuhi kita. Bagaimana firman bisa memenuhi kita? Kalau suara Roh kita dengar tiap hari; menjadi rhema. Firman Tuhan mengatakan, “Manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (rhema).” Lalu, bagaimana kita bisa mendengar rhema? Temui Tuhan. Rasakan dan belajar dari Tuhan. 
    Setan tidak takut teologi. Namun, kalau setiap hari kita mendengar suara Allah dan kita turuti, maka setan takut. Domba yang baik mendengar suara gembalanya.
    10 min
  • Terbuka Dimasuki Roh Jahat
    Bagaimanapun pada akhirnya kita akan jatuh di salah satu pihak; kita harus memilih di pihak mana, di kutub mana kita berada. Di dalam Injil Matius 12:43-45, firman Tuhan mengatakan, “Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.” 
    Kesimpulan dari ayat di atas dengan jelas adalah roh jahat membutuhkan tempat tinggal; tempat untuk berdiam. Pertanyaannya, rumah hidup kita ini didiami roh jahat atau Roh Allah? Jangan kita pikir kalau seseorang berbicara tentang Tuhan, berarti Roh Tuhan yang ada pada orang itu. Belum tentu. Ingat, pencobaan yang dialami Yesus seperti di Lukas 4, Iblis juga menggunakan ayat firman Tuhan, ia juga bisa berteologi. Kita juga bisa menyaksikan orang-orang bengis, orang-orang jahat, orang-orang yang tidak jujur memakai nama Tuhan untuk mengangkat diri, untuk beraktualisasi diri. Kalau seorang teolog, seorang pelayan Tuhan, seperti Yudas yang dekat dengan Yesus bisa kerasukan Iblis, maka setiap kita juga berpotensi kerasukan Iblis. 
    Gejala seseorang kerasukan Iblis tidak harus dengan mendelik-mendelik, berteriak-teriak histeris, membuka baju bertelanjang, atau dengan tindakan dan sikap ekstrem. Seorang yang memakai dasi, jas, tampil sebagai orang terhormat, belum tentu tidak kerasukan roh jahat. Roh jahat itu cerdas sekali. Pengalamannya bisa miliar dan triliun tahun. Ia benar-benar nekat, buktinya ia berani melawan Allah semesta alam. Betapa cerdasnya, dari pengalaman yang dia jalani, dari pengetahuan teologi yang dimilikinya. Jadi, kalau ada orang pintar berbicara tentang Tuhan, itu tidak jaminan roh jahat jauh dari dia. 
    Tuhan tidak menyuntik kita dengan suntikan imun bebas dari kuasa gelap. Selalu ada potensi kerasukan kuasa gelap, kecuali kita berjaga-jaga. Karenanya firman Tuhan berkata: “Lihat, ingat, waspada, berjagalah. Iblis, musuhmu, seperti singa yang mengaum. Kamu bisa diterkam, karena kamu tidak dibuat imun. Kamu yang harus berjaga-jaga.” Ini sama dengan tubuh kita yang tidak imun terhadap suatu jenis penyakit atau tidak imun terhadap satu virus. Maka, yang kita lakukan adalah mencegah virus itu masuk dengan cara menjauhi virus itu. Apabila kita mendekat, mati kita. Jadi ingat, pendeta tidak imun terhadap roh jahat. Teolog tidak imun terhadap roh jahat. 
    Jadi, siapa pun terbuka dimasuki kuasa gelap. Itulah sebabnya kita harus bergaul dengan Tuhan, harus bertemu dengan Tuhan. Supaya kita bisa membedakan pendeta yang benar dan yang tidak benar. Kita bisa mengetahui ajaran yang sesat dan yang tidak sesat. Kalau kita percaya Roh Kudus itu ada, benar memang ada, kalau kita percaya Allah hidup dan berjanji menyertai kita, maka Allah pasti berbicara, pasti menuntun. Karena Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus mengatakan bahwa Roh Penghiburan, Roh Pendamping (parakletos); Roh Penghibur akan menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Sehebat-hebatnya seorang teolog memberikan mentoring, tetap tidak ada artinya dibanding Roh Kudus. Jadi, mutlak setiap hari kita harus bertemu dengan Tuhan. Kita jangan mengultuskan pendeta atau hamba Tuhan mana pun.
    Kita harus ketemu Tuhan, supaya bisa menemukan atmosfer yang murni. Ada Roh Allah atau tidak; ada roh jahat atau Roh Allah dalam diri kita, harus kita periksa. Hal itu harus serius kita lakukan. Dalam orientasi pergumulan, mungkin masih Tuhan beri kesempatan, sampai permanen. Kalau orang yang membiarkan dirinya ada di tempat kotor, lama-lama dia permanen. Roh jahat permanen di situ. Karena roh jahat ini butuh tempat. Jadi,
    9 min
  • Kepentingan Diri Sendiri
    Kita harus berani untuk meletakkan seluruh kepentingan kita pribadi dan memandang Tuhan dan bertanya: “Apa yang Engkau kehendaki untuk kulakukan, Tuhan?” Suatu hari nanti kita harus melepaskan segala sesuatu, apa pun di bumi ini. Bahkan kita tidak berkuasa mempertahankan tubuh kita sendiri. Apalagi tubuh orang lain, apakah itu keluarga kita, orang-orang dekat kita. Kita harus melepaskan semua harta, semua pencapaian yang kita telah susah payah gumuli sejak muda, gelar, pangkat, kedudukan dan lain sebagainya. Kita akan menghadap Tuhan semesta alam, Allah yang memiliki segala kuasa, Kerajaan dan kemuliaan.
    Pada waktu itu barulah banyak orang menyadari bahwa memang kita ini tercipta hanya untuk Dia. Kita bukan ada dengan sendirinya. Kita ada di bumi ini karena ada yang menghendaki-Nya. Setiap orang ketika dihadirkan, dilahirkan di bumi ini oleh Allah, di dalamnya juga termuat rencana-rencana Allah; tentu rencana damai sejahtera. Namun, manusia telah sesat memilih jalannya sendiri. Manusia tidak menyadari dan tidak mau mengakui bahwa dia hadir karena ada yang menghadirkan dan dia ada karena ada yang mengadakan. Sehingga hampir semua orang hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri.
    Bahkan ketika menjadi seorang rohaniwan, atau orang yang aktif dalam kegiatan pelayanan gereja atau pelayanan pekerjaan Tuhan, di dalamnya dia masih ada dalam belenggu cara berpikir yang salah, yaitu hidup untuk kepentingan dirinya. Kita melihat kenyataan bagaimana gereja menjadi sarana orang untuk memperoleh keuntungan. Pelayanan pekerjaan Tuhan yang seharusnya benar-benar menjadi media dan sarana untuk membawa orang masuk ke dalam Kerajaan Surga—yaitu dengan terus mengajar agar jemaat mengalami perubahan sampai pada keadaan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah—berubah menjadi liturgi, menjadi cara hidup orang beragama, bukan cara hidup anggota keluarga Kerajaan Allah. 
    Hal itu terjadi karena pelayanan menjadi sarana orang mencari kepentingan sendiri. Karena gereja menjadi tempat di mana orang sekadar mencari nafkah, orang yang ‘menjual’ Tuhan dengan khotbah atau seminar, mempelajari tentang Tuhan untuk bisa diutarakan, bicara mengenai sejarah yang terkait dengan Tuhan, teologi dan lain sebagainya yang itu semua menjadi bahan jualan. Memang hal itu adalah fakta. Tentu tidak semua rohaniwan atau pendeta berbuat demikian. Tetapi, sejujurnya, kita melihat kenyataan seperti ini. Sehingga jemaat tidak diarahkan untuk hidup di dalam kekudusan, memikirkan langit baru bumi baru dan bertanggung jawab memaksimalkan potensi untuk hidup bagi kepentingan Allah saja.
    Banyak jemaat hanya diisi pikirannya dengan pengetahuan. Pengetahuan teologi, pengetahuan sejarah yang terkait dengan gereja dan terkait dengan hal-hal yang menyangkut kerohanian dan doktrin. Hal itu memang tidak salah, sebenarnya itu adalah hal-hal penting yang harus dipahami. Tetapi harus ada tujuan yang jelas, mengapa kita melakukan pelayanan tersebut. Kita harus melihat tujuan keselamatan, yaitu bagaimana manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula, bagaimana jemaat benar-benar diubahkan, untuk bisa mencapai kehidupan yang serupa dengan Yesus.
    Sehingga setiap jemaat dapat berkata, “Hidupku bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Di dalam seluruh perilakunya, mereka dapat memancarkan kemuliaan Allah, mewakili Tuhan di tengah-tengah masyarakat dan dunia dengan keagungan dan perilaku yang mulia, sebagaimana seharusnya seorang anak Allah mewakili Bapa dan mewakili Tuhan Yesus. Yang pada akhirnya kalau sungguh-sungguh seseorang terus diubahkan dan mengenakan Kristus di dalam hidupnya, maka hal itu benar-benar menyenangkan Tuhan. Karena orang-orang seperti ini pasti hidup hanya untuk kepentingan Tuhan.
    Dalam prinsip seperti yang diucapkan Tuhan Yesus, “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”  Tidak ada tujuan lain dalam hidup ini, kecuali untuk kepentingan Tuhan.
    8 min
  • Padang Hijau Tak Bertepi
    Tidak mudah memercayai Allah yang tidak kelihatan dan kadang seakan tidak ada. Bukan hanya pada zaman sekarang, rupanya sejak zaman Musa pun demikian. Ini sebuah warisan yang luar biasa dari jejak Allah yang luar biasa. Pada waktu itu, Firaun sendiri yang sudah menyaksikan tangan perkasa Elohim YAHWEH. Namun, tidak dipedulikan apalagi dipercayai oleh Firaun, karena Firaun punya urusan. Dia mau berjaya, negerinya mau besar, maka bangsa Israel diperbudak. Nyata-nyata tulah demi tulah diturunkan, tetapi Firaun masih menentang dan menantang Allah.
    Seandainya Firaun punya nurani yang baik dan berkata, “Musa, engkau benar, Allahmu lebih dari semua allah di Mesir. Saya mau ikut menyembah Allahmu. Bawalah umat Israel, umat Allahmu ini ke Sinai untuk beribadah lalu lanjutkanlah perjalanan ke Kanaan, negeri yang Allahmu Elohim YAHWEH telah janjikan,” maka kisahnya menjadi berbeda. Firaun dan anak-anaknya serta seluruh tentara Mesir akan selamat. Namun, ia bisa begitu jahat, begitu bengis, dan tidak percaya. 
    Namun, rupanya bukan hanya Firaun, bangsa Israel pun pernah meragukan Allah. Pada waktu itu mereka ada di tepi Laut Teberau atau Laut Kolsom dan mereka sudah menyaksikan bagaimana Allah hadir, tangan-Nya turun yang membuat mereka bisa keluar berjaya dari bangsa Mesir. Bahkan mereka diberi bekal emas, perhiasan dari masyarakat Mesir. Namun, mereka masih tidak percaya, malah mereka mempersalahkan Musa. Bukan hanya saat itu, tetapi berkali-kali mereka mencobai Tuhan, artinya tidak memercayai kasih dan kehadiran Allah. Bahkan sempat mereka bertengkar dengan Musa dan berkata, “Apakah tidak ada kuburan di Mesir, sehingga kami harus terkubur di padang gurun?” Padahal mereka menyaksikan dan menikmati manna, burung puyuh dan daging yang diberikan untuk makanan mereka. Bukankah hal ini sama dengan kita hari ini?
    Sebagai orang baik, kita di-bully atau dijahati, maka orang yang menjahati kita tidak bisa tidak akan kena celaka. Bukan kita mengharapkan mereka celaka, tentu tidak. Allah adalah Hakim dan Tuhan berkata, “Pembalasan adalah hak-Ku.” Allah yang hidup tidak menghendaki kita berbuat sesuatu yang melukai orang. Biar Tuhan yang menjadi Hakim untuk menghukum dan melukai dia, kalau Tuhan mau melukai. Kadang-kadang di media sosial kita melihat maling yang tertangkap, lalu dipukuli sampai berdarah-darah. Ada pula yang sampai dibakar, motornya dibakar. Apakah orang yang membakar itu akan aman, bebas dari hukuman? Mungkin polisi tidak bisa menangkap karena tidak jelas siapa yang membakar, tetapi Tuhan tahu satu per satu, dan Tuhan akan membuat perhitungan. 
    Ternyata orang-orang baik pun bisa tidak memercayai Allah. Termasuk sebagian dari kita. Buktinya apa? Yang pertama, kita tidak militan hidup suci. Kedua, tidak tekun mencari Tuhan. Mestinya kita melaju dengan kecepatan penuh, tetapi kita tidak lakukan, yang berarti kita sedang tidak percaya. Tuhan tidak mau kita setengah percaya. Ketiga, pelit. Membangun rumah besar bisa, tetapi tidak memikirkan pekerjaan Tuhan. Barang mau selalu yang branded. Bukan tidak boleh, boleh kalau itu bagian kita, tetapi pikirkan orang lain juga; tetangga, saudara, keluarga atau siapa pun yang Tuhan kirimkan untuk kita tolong. Percayalah, kalau kita memikirkan pekerjaan Tuhan, kita tidak akan jadi miskin.
    Tuhan sering tidak kelihatan walaupun kita sudah buat segalanya—hidup suci, berkorban, kerja keras—tetapi Tuhan seperti bayang-bayang. Kita tentu ingin Tuhan itu nyata, senyata pasangan yang hidup serumah, supaya kita lebih kuat, tetapi tidak demikian. Kita juga bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak kunjung menolong? Itu adalah fakta-fakta hidup yang hampir setiap kita mengalaminya. Namun, kita tetap memilih Tuhan. Kalau kita terus setia memercayai Dia, menjaga kesucian, kita selalu mencari Dia dalam doa, puasa, mendengarkan firman, lalu kita melayani Tuhan, maka kita akan melihat padang hijau tak bertepi. 
    Kita punya pengharapan.
    7 min
  • Tuhan sebagai Kepuasan
    Tuhan tidak membutuhkan apa-apa, tetapi Tuhan senang melihat hati kita yang kita arahkan kepada Tuhan. Semua yang kita berikan kepada Tuhan, itu terbatas. Namun, yang tidak terbatas itu hati kita. Apa pun yang kita berikan; tenaga, waktu, uang, terbatas. Namun, kalau hati dan cinta kita, kita berikan kepada Tuhan, itu tidak terbatas. Dalam 1 Korintus 10:31 dikatakan, “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 
    Dimulai dari kita yang menikmati apa yang kita lakukan, lalu dilihat oleh orang yang paling dekat—pasangan hidup, anak, orang tua—juga dilihat oleh keluarga besar, tetangga, dan orang jauh. Hidup kita haruslah hidup yang membuat Tuhan dimuliakan. Sebagaimana kita melihat orang terhormat, yang mana setiap kali ada orang bersalaman, menunduk. Setiap kali orang melewatinya, menunduk. Sikap menunduknya orang yang bersalaman atau melewatinya, menunjukkan orang ini mulia. Maka, dari sikap dan perbuatan kita, buatlah orang bisa menemukan dan mengenali bahwa Tuhan kita itu mulia, agung dan terhormat. 
    Kita tidak bisa menikmati Tuhan sebagai kepuasan kalau kita tidak memuliakan Dia. Dari melek mata pagi hari, setiap media yang Tuhan sediakan, jadikanlah sarana untuk memuliakan Dia. Tuhan akan membawa kita ke situasi-situasi yang normal, sampai ke situasi-situasi yang ekstrem. Biasanya situasi-situasi yang ekstrem membuat Tuhan akan nampak lebih jelas. 
    Situasi normal, misalnya: kalau kita ramah terhadap orang, keramahan kita itu cukup membuat Tuhan dimuliakan. Adapun situasi ekstrem, misalnya: ketika kita diludahi, tetapi tetap ramah, maka situasi itu membuat Tuhan lebih dimuliakan. Inilah ciri dari orang-orang yang menyerahkan diri untuk Tuhan. Selama ini kalau bicara soal menyerahkan diri kepada Tuhan, orientasi berpikir kita hanya pada orang yang tidak bekerja secara sekuler, orang yang bekerja secara fulltime dalam gereja. Kalau hanya mereka yang berkategori menyerahkan diri untuk Tuhan, bagaimana nasib orang yang tidak jadi pendeta? Mereka menyerahkan diri kepada siapa? 
    Menyerahkan diri kepada Tuhan artinya merelakan dirinya menjadi alat di dalam tangan Tuhan untuk memuliakan Allah. Menyerahkan diri tidak berarti harus menjadi fulltimer gereja, tetapi setiap peristiwa hidup yang kita jalani, menjadi sarana kita memuliakan Tuhan. Ayo kita mulai hari ini, supaya hidup kita diubahkan. Alkitab berkata, “Dia memancarkan kemuliaan Allah.” Allah yang tidak kelihatan, dipancarkan, diperagakan di dalam hidup Yesus. Ketika Yesus naik ke surga, Ia menyerahkan tugas penyelamatan kepada kita. Sama seperti Yesus menjadi bait Roh Kudus, memancarkan kemuliaan Allah, kita pun juga menjadi bait Roh Kudus yang harus memancarkan kemuliaan Allah. Kita tidak boleh memancarkan yang lain, karena tidak ada yang lain yang berhak dipancarkan dalam hidup kita. 
    Kalau tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka kita tidak boleh mengotori tubuh ini dengan dosa sekecil dan sehalus apa pun. Maka, kita harus berhati-hati dengan yang kita lakukan, ucapkan, segala keputusan dan tindakan kita. Dalam 1 Korintus 6:19 dikatakan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 
    Sebelum waktu kita habis dan kita tidak punya kesempatan lagi untuk memuliakan Allah, kita harus berubah mulai hari ini. Hanya orang yang memuliakan Allah sejak di bumi, yang diperkenan memuliakan Allah di kekekalan. Kalau kita gagal memuliakan Allah di bumi, maka kita tidak akan pernah memuliakan Allah di kekekalan. Tuhan tidak akan membawa masuk orang-orang yang tidak memuliakan Allah, orang yang hanya mencari kesenangan diri sendiri, mencari kepuasan dari dunia. 
    Selanjutnya, 1 Korintus 6:12 berkata,
    9 min
  • Kepuasan Sejati
    Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Samaria di Perigi Yakub dekat kota Sikhar, yang ditulis dalam Injil Yohanes 4, “Jika kamu minum air ini, kamu haus lagi. Tetapi jikalau kamu minum air yang Kuberikan kepadamu, maka air yang kamu minum akan memancar dari hidupmu. Kamu akan memperoleh kepuasan, dan kamu akan memancarkan air kehidupan itu.” 
    Apa pun yang kita nikmati dari apa yang Allah ciptakan, itu terbatas kenikmatannya. Sampai ada satu titik puncak. Tetapi jikalau kita menikmati Yang Menciptakan, yaitu Allah sendiri, maka kita akan menikmati kepuasan yang tiada batas; kepuasan yang sejati. Artinya kita akan menikmati terus-menerus, dan itu menjadi kehidupan kita. Kita harus berani memercayai hal ini bahwa hanya Tuhan yang dapat memuaskan dahaga jiwa kita. Pada umumnya, mata hati dan pengertian manusia sudah buta. Buta oleh cara berpikir, prinsip, dan filosofi hidup yang diserap dari dunia ini. Dengan kalimat lain, pada umumnya manusia telah sesat di dalam pikiran dan selera jiwanya. Sejak kecil, manusia seperti kita telah diasuh oleh dunia ini. 
    Prinsip-prinsip, konsep-konsep, filosofi hidup kita adalah prinsip, filosofi, dan konsep hidup yang kita serap dari lingkungan kita. Sehingga kita berpikir: “Kalau punya ini, aku bahagia. Kalau mengalami ini, aku puas. Kalau mencapai ini, aku akan tenang. Jika aku memiliki ini, aku terjamin.” Hal itu yang menggerakkan hidup kita dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, sampai menutup mata. Gambaran hidup seperti ini ditulis oleh Lukas 12. Jadi ini bukan hanya untuk orang kaya, melainkan juga untuk orang miskin yang tidak memiliki pengertian. 
    Tuhan Yesus berkata, “Waspadalah kamu, berjaga-jaga terhadap segala ketamakan.” Kita mungkin berkata, “Saya tidak tamak.” Mengertikah kita apa artinya tamak dalam konteks ini? Tamak bukan berarti hanya mengingini banyak. Sebab selama ini yang kita pahami, “tamak” adalah kalau kita mengingini banyak, tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki. Di dalam kekristenan, tamak adalah ketika seseorang tidak merasa cukup dengan Tuhan saja. Menikmati Tuhan, itu cukup. Namun, filosofi dan prinsip hidup seperti ini nyaris tidak kita temukan dalam hidup manusia hari ini. Bukan hanya dalam kehidupan jemaat, juga dalam kehidupan hamba Tuhan atau dalam kehidupan pendeta, belum tentu sudah sampai pada tingkat ini. 
    Ini adalah pilihan. Tidak membedakan pendeta atau jemaat, semua kita harus masuk pada kawasan pengalaman hidup ini, yaitu hanya Tuhan yang tidak terbatas, hanya Tuhan yang dapat memuaskan jiwa kita. Kita minum air dunia ini, kita haus lagi, lalu akan mencari yang lain. Namun, kalau kita minum air dari Tuhan, kita tidak haus lagi, bahkan memancarkan pancaran-pancaran ilahi yang memberkati sesama. Maka kita harus berani mengubah cara berpikir, konsep, dan filosofi hidup kita. Oleh sebab itu, yang kita harus lakukan, di setiap pagi hari ketika kita melek mata adalah hanya melayani Tuhan. Melayani Tuhan artinya melalui berbagai peristiwa hidup, kita lakukan segala sesuatu untuk Tuhan. 
    Seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan, “Baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua itu untuk kemuliaan Tuhan.” Jadi walaupun kita tidak memiliki kegiatan di dalam lingkungan gereja—bukan pendeta, bukan aktivis gereja, bukan majelis—tetapi jadikan setiap peristiwa hidup yang kita jalani adalah pelayanan bagi Tuhan. Dan itu kita harus latih. Dari pengalaman hidup yang kita jalani, tentu kita dapat berkaca kepada diri kita sendiri, betapa sulitnya mengenakan kebenaran firman Tuhan yang murni di dalam hidup. Namun, syukur kepada Tuhan, lewat perjalanan waktu, kita seperti “dipaksa” Tuhan untuk masuk dalam proses pendewasaan. 
    Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita di Lukas 12 bahwa hidup manusia tidak bergantung dari kekayaan. Namun, ternyata manusia bergantung kepada materi, bukan bergantung kepada Penciptanya, Sang Khalik.
    9 min
  • Kehausan akan Allah
    Firman Tuhan mengatakan, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia jika jiwa mereka binasa?”Jiwa yang binasa adalah jiwa yang tidak menemukan Allah. Di balik pernyataan Tuhan Yesus tersebut, sebenarnya ada satu hal implisit, yaitu di dalamnya kita dipanggil untuk memilih: jiwa yang binasa—yang sama dengan tidak menemukan Allah, tetapi memperoleh dunia—atau jiwa yang tidak binasa—artinya memperoleh Tuhan, tetapi tidak memiliki dunia. Sejatinya, semakin hari semakin jelas bahwa kita tidak berhak memiliki apa-apa kecuali Tuhan. Hal itu bukan kemalangan, sebaliknya, itulah keberuntungan dan kehormatan. 
    Kalaupun kita memiliki keluarga, anak, harta, pangkat, gelar, kedudukan, maka semua harus dipandang sebagai milik Allah, sebagai persembahan bagi Tuhan. Kesalahan kita, sering merasa berhak memiliki, walaupun itu sepotong kecil. Dan itu sebenarnya ketidakhormatan, ketidaksantunan terhadap Allah. Memang kedengarannya ini berlebihan, tetapi ini standar. Kalaupun kita memiliki banyak di mata manusia, kita harus tidak merasa memiliki. 
    Menemukan Tuhan itu bukan hanya pada waktu kita di gereja, mendengarkan khotbah, dan memiliki pengetahuan tentang Allah. Tentu perlu dan harus kita ke gereja dan mendapatkan tuntunan untuk mendengar firman, siapa, dan bagaimana Allah. Namun, menemukan Tuhan yang permanen, yang sejati, yang merasuk di dalam jiwa dan kehidupan adalah dalam perjalanan hidup setiap hari. Ketika kita memilih: apa yang kita tonton? Apa yang kita lakukan? Apa yang menjadi cita-cita kita? Apa yang menjadi keinginan kita? Sebab semua menentukan apakah kita memilih Tuhan atau bukan. 
    Memang ini merupakan hal yang sangat sulit, khususnya untuk orang muda. Namun, kalau sejak muda kita mengerti prinsip ini dan berjuang menjalaninya, kita pasti akan menemukan Tuhan. Mungkin ada jeritan di dalam hati kita, “Di mana Tuhan? Bagaimana aku menemukan Dia?” Seorang teolog bisa saja memiliki segudang pengetahuan yang dia timba dari pendidikan formal dan perpustakaan, tetapi seorang ibu sederhana yang tidak pernah mengecap bangku Sekolah Tinggi Teologi, tetapi mencari Tuhan dan bertemu dengan Tuhan, sekecil apa pun, seminim apa pun yang dialami, lebih berarti dari segudang pengetahuan yang hanya di pikiran. 
    Jadi kita bisa menemukan orang-orang awam yang santun terhadap sesama, mengasihi sesama, mencintai Tuhan, rela berkorban buat Tuhan. Sebaliknya, seorang teolog, pendeta, malah merasa berhak mendapat uang, berhak memiliki kolekte, berhak dilayani. Betapa celakanya! Ia tentu cakap untuk berbicara dan membela diri. Ayo, kita mau menemukan Tuhan. Kita harus serius memeriksa diri, “Mengapa aku tidak haus akan Tuhan?” Ternyata yang membuat kita tidak haus akan Tuhan itu adalah:
    Pertama, kesenangan atau keinginan yang Tuhan tidak kehendaki. Tanpa kita sadari, itu membunuh, merampas kehausan kita akan Allah. 
    Kedua, ini yang lebih merusak, dosa. Ketika kita hidup dalam dosa, kita pasti tidak haus akan Allah. Sebab dosa itu menuntut. Apakah berbentuk sesuatu yang menjadi kegemaran, dalam wujud benda-benda atau nafsu di dalam daging, apa pun. 
    Kita mau terus berjuang untuk melepaskan segala sesuatu guna menemukan dan memperoleh Tuhan. Jadi, dunia kita hanya Tuhan. Kita bekerja, mengurus rumah tangga, dan beraktivitas yang lain semua untuk Tuhan. Sebaliknya, apa pun yang tidak membuat kita bertumbuh, harus kita buang. Sebab kalau bejana hati kita masih terisi dengan minat dosa, maka pasti tidak ada kehausan akan Allah. Maka, kalau kita benar-benar mencari Tuhan, hidup kita pasti terlihat oleh orang. Keunikan hidup kita pasti terlihat. Memang bagi dunia, kehidupan kita akan terlihat tidak normal karena kita terus dibawa kepada kesempurnaan. Namun, ini yang harus kita lakukan di sisa umur hidup kita, dan secara pasti melihat makin hari kita makin tajam, makin ekstrem.
    Bayangkan, suatu saat hidup kita atau dunia ini akan berakhir. Ini pasti terjadi.
    9 min
  • Menciptakan Kehausan
    Dosa yang kita lakukan, menciptakan kehausan dalam diri kita. Kalau kita biasa menikmati kemarahan, maka kita harus marah setiap hari atau saat-saat tertentu. Kalau dosa itu adalah materialisme, maka pikiran kita tertuju kepada uang. Kita selalu mau menambah jumlah uang. Tidak salah menambah jumlah, tetapi jangan jadi kehausan. Seperti orang biasa minum manis, tidak bisa minum tidak manis. Kebiasaan judi, sampai kita tidak bisa tidak berjudi. Kalau itu melekat di dalam jiwa dan terkait dengan metabolisme tubuh—seperti rokok, narkoba, dan seks—itu lebih berat. Kita akan selalu mencari objek untuk memuaskannya, demi menghilangkan kehausan itu. Maka, kita harus memutuskan siklus dan habitat itu. 
    Sebaliknya, kita harus membangun satu kehausan yang kudus. Kehausan akan Tuhan yang pasti disertai dengan kerinduan untuk hidup suci. Maka, kita harus mengubah habitat hidup kita yang sekarang ini. Kita paksa DNA kita untuk berubah. Roh Kudus pasti menolong kita. Maka, cara berpikir kita harus diubah. Itu yang namanya metamorphoste, yang dikatakan dalam Roma 12:2 sebagai perubahan pikiran. Kita harus meremukkan, merobohkan tembok-tembok di dalam pikiran agar terjadi metamorphoste. Namun, hal ini hanya terjadi bagi mereka yang rendah hati. Kalau kita keras kepala, kita akan tetap kembali di kubangan itu. Ubahlah habitat dan selera kita. 
    Doa pagi merupakan salah satu sarana untuk mengubah habitat. Kita bisa merasakan hadirat Tuhan. Sampai kita tidak bisa hidup di tengah-tengah orang yang bicara kotor, bikin gosip, suka berjudi dan dosa lainnya. Kalaupun karena bisnis, kita hanya sebatas kolega, tetapi tidak bisa jadi sahabat. Jadi, habitat hidup di surga sudah mulai sejak kita di bumi. Maka dikatakan dalam firman Tuhan “Datanglah Kerajaan-Mu.” Menghadirkan suasana atmosfer Kerajaan Surga. Kita yang menghadirkan. Allah yang menyediakan. Kita yang membuka cerobong itu untuk memenuhi rumah hidup kita, rumah hati kita. Kalau kita menutup cerobong itu dengan kabut duniawi, kabut dosa, maka atmosfer Kerajaan Allah tidak bisa hadir. 
    Kita hanya mau dibawa ke tempat yang membuat kita tidak akan pernah menyesal: langit baru bumi baru, Rumah Bapa. Hidup ini tragis. Di dunia ini, kaya pun tragis. Punya pasangan hidup, punya anak yang sempurna, pun tragis. Kita mau senang seberapa? Tidak memandang hidup ini secara pesimis, sebaliknya, kita memandang hidup ini secara optimis karena kita punya kesempatan untuk masuk dunia akan datang yang lebih baik. Maka, jangan sombong. Kita ini debu, pasti mati. Cepat atau lambat, kita pasti mati. Apa yang dibanggakan? Usia akan membuat kita layu. Dari debu kita diambil, dan kita akan kembali kepada debu. Belum lagi sebelum masuk ke dalam debu, mungkin kita harus sakit, masuk ruang ICU.
    Dengan mengatakan ini, bukan berarti kita tidak bisa menikmati hidup. Bisa, karena bersama dengan Tuhan, apa pun jadi indah. Kita pun tidak akan dipermalukan, karena Allah yang kita sembah itu hidup. Tidak mungkin alam semesta yang sangat sempurna, ada dengan sendirinya. Ada Allah yang Maha Cerdas yang menciptakannya. Metabolisme tubuh kita yang sempurna ini pun masih misteri bagi ilmuwan, karena yang menciptakan sangat sempurna. Ayo kita mengambil keputusan untuk menaruh percaya kepada Dia. Kita harus membuktikan percaya kita dengan hidup suci. Tidak melukai siapa pun, mencintai orang-orang yang harus kita cintai, karena kita berurusan dengan Sang Khalik. Kita tahu bahwa upah yang akan kita terima tak ternilai. 
    Mari, pikirkan bagaimana mengubah kebiasaan apa yang kita lakukan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Jangan lakukan lagi. Kita dimusuhi orang, dijahati orang, kita tidak membalas. Kita diam, diam, diam. Yang penting, kita menyenangkan hati Allah. Kita punya kesempatan korupsi, tetapi kita tidak korupsi. Kita punya kesempatan membalas dendam, tetapi kita tidak membalas dendam, itu menyenangkan hati Tuhan. Itu caranya merobek kodrat dosa di dalam diri kita.
    9 min
  • Harus Berubah
    Mari kita memperkarakan dengan sungguh-sungguh, jangan sampai kita sudah menjadi orang Kristen yang rajin ke gereja, menjadi aktivis, bahkan pendeta, tetapi akhirnya tidak diterima di Kemah Abadi. Semua kita berpotensi untuk masuk langit baru bumi baru, masuk Rumah Bapa yang maha indah, yang hari ini tidak terbayangkan keindahannya. Namun, kita juga punya potensi untuk tidak sampai ke Rumah Bapa, artinya ditolak. Betapa mengerikan keadaan orang yang tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki diri. Orang-orang yang dikatakan di dalam firman Tuhan sebagai “tidak setia.” Sebab hanya orang yang setia sampai akhir atau setia sampai mati, yang akan dikaruniai mahkota kehidupan. 
    Kita harus melakukan usaha semaksimal mungkin untuk menghindarkan diri dari api kekal atau menghindarkan dari keterpisahan dengan Allah. Caranya bagaimana? Kita harus hidup sesuci-sucinya. Kita harus diurapi Roh Kudus di sepanjang waktu hidup kita. Jangan sembarangan bicara, jangan membuat tema-tema percakapan yang Tuhan tidak bisa menyampaikan pesan-Nya. Percakapan-percakapan kita haruslah percakapan yang Tuhan berkenan, sehingga Tuhan ikut berdialog, ikut berdiskusi, dan Tuhan menyampaikan pesan-pesan-Nya dalam diskusi itu. Hal itu memenuhi yang dikatakan firman Tuhan, Jika dua orang lebih berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir.” 
    Jangan memasukkan di pikiran kita hal-hal yang tidak patut, yang mana itu akan membuat distorsi, sehingga kita tidak bisa menangkap suara Tuhan. Jadi kalau selama ini kita sulit mendengar suara Tuhan, hal itu disebabkan karena pikiran dan hati kita penuh dengan kabut; kabut dunia, kabut ambisi, kabut keinginan, dan semua yang mengotori, menajiskan pikiran sehingga kita tidak bisa menangkap siaran Tuhan. Apalagi kalau kita tidak pernah datang ke markas. Markas besar kita adalah Kerajaan Surga. Khususnya bagi para pendeta dan pemimpin, kita harus menjadi domba yang disembelih di atas mezbah supaya menciptakan pedupaan harum sampai ke takhta Bapa setiap saat supaya Bapa dapat menurunkan berkat-Nya setiap kali kita menyampaikan pemberitaan firman. Juga dalam doa, pelepasan, dalam konseling, Tuhan akan memimpin dan memberi pengurapan. 
    Kita ini hanya alat, Tuhanlah yang melakukannya. Maka, kalau kita menjadi alat, hidup kita harus bersih. Tidak boleh dicemari oleh pikiran dunia, apalagi dosa. Ingat, kita juga tidak tahu sampai berapa umur hidup kita masing-masing dan umur dunia ini. Di antara kita, mungkin ada yang sudah terlena mengisi hari hidupnya secara langsam, teratur, dalam siklus yang tidak berubah, dalam rutinitas yang tidak berubah. Sebenarnya mereka sedang digiring menuju api kekal neraka. Maka, kita harus mengubah rutinitas, siklus hidup, dan habitat hidup kita. Firman Tuhan yang kita baca pada hari ini, merupakan ajakan untuk keluar dari siklus habitat hidup kita di mana Iblis sedang membawa kita ke api kekal. Gereja mana pun tidak dapat menjamin seseorang pasti masuk surga, tetapi gereja bertugas untuk menyampaikan pesan yang membuat kita terhindar dari api kekal. Maka, kita harus selalu dengar-dengaran. 
    Sayangnya Tuhan kepada kita tidak bisa kita bayangkan. Kalimat yang ada di dalam 2 Petrus 3, bahwa Ia tidak menginginkan seorang pun binasa, tidak bisa dibayangkan karena perasaan Allah besar dan kasih-Nya luar biasa. Ia tidak menginginkan seorang pun binasa. Ia tidak menghendaki kita menuju api kekal. Seberapa sukses hidup kita? Seberapa banyak uang kita, seberapa bahagia rumah tangga kita? Semua akan berakhir, dan itu pun pasti tidak sempurna. Sekalipun kita memiliki banyak uang yang bisa kita hamburkan setiap hari, nyatanya kita hanya butuh 3 piring nasi setiap harinya. Kita punya mobil banyak, tetapi hanya satu mobil yang bisa kita kendarai. 
    Kita harus mengalami bahwa Allah Israel, Elohim Yahweh, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah Allah yang hidup, yang benar-benar bisa kita alami dan bisa kita rasakan. Maka, kalau kita sedang susah, menderita, jangan kecewa kepada Tuhan.
    7 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…