Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menempatkan Tuhan di Depan Mata
    Tuhan menghendaki agar kita selalu ada ikatan dengan Dia. Seperti orang tua menginginkan ada ikatan hati dengan anaknya. Di mana pun orang tua berada, anak seperti selalu ada di matanya dan ada di dalam hatinya. Tentu orang tua menginginkan agar anak-anak juga menempatkan orang tua di dalam hatinya dan seakan-akan orang tua selalu di depan matanya. Jika demikian yang diharapkan, anak-anak selain memiliki ikatan hati dengan orang tua, tetapi anak-anak juga bisa selalu melakukan apa yang orang tua inginkan, apa yang orang tua kehendaki. Kalau anak-anak meletakkan orang tua di depan matanya dan di mana pun dia berada selalu menempatkan orang tua di hatinya, maka anak-anak akan mengerti, dan selalu ingat apa yang diinginkan orang tua untuk dilakukan dan hal-hal yang tidak patut untuk dilakukan.
    Begitu pula kita dengan Tuhan. Banyak hal dalam hidup ini yang bisa memikat hati kita dan kita bisa menempatkan hal-hal itu di depan mata kita dan di hati kita. Jika demikian, hubungan kita dengan Tuhan pasti tidak harmoni, tidak ideal. Orang yang tidak menempatkan Tuhan di depan matanya, yang tidak menaruh Tuhan di dalam hatinya, pasti hidup ceroboh. Pasti tidak memperhatikan perasaan Allah. Sama seperti anak-anak yang tidak meletakkan orang tua di depan matanya, yang tidak menaruh orang tua di dalam hatinya, maka dia tidak akan ingat apa yang orang tua inginkan untuk dia lakukan. 
    Kalau kita meletakkan Allah di depan mata kita dan menempatkan Allah di dalam hati kita, maka kita akan berusaha melakukan apa yang Allah kehendaki. Ingat, keputusan kita yang menentukan. Jadi, apakah seseorang memutuskan tidak menempatkan Tuhan di depan matanya, tidak menempatkan Tuhan di hatinya, Allah tidak memaksa. Dan orang-orang seperti ini pasti hidup ceroboh, tidak memiliki hubungan dengan Allah secara baik atau secara benar. Jadi kalau orang memang tidak menempatkan Tuhan di depan matanya, tidak menaruh Tuhan di hatinya, Roh Kudus tidak bisa pimpin. Dan orang-orang seperti ini pasti meluncur menuju api kekal. Itu mengerikan sekali.
    Namun, kalau seseorang menempatkan Tuhan di depan matanya dan dengan sengaja menempatkan Tuhan di dalam hatinya, maka Roh Kudus pasti memimpin orang ini. Roh Kudus akan mengingatkan kepada kita segala sesuatu yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dan juga mengingatkan kita apa yang tidak patut kita lakukan, yaitu yang Tuhan tidak kehendaki. Selanjutnya, Tuhan pasti akan memberi kita kepekaan untuk mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Roh Kudus akan memberikan kepada kita gairah untuk melakukan kehendak Allah. Roh Kudus juga akan membuka mata pengertian kita untuk memahami, mengerti apa yang Allah kehendaki, guna kita lakukan. 
    Jadi, ini berita baik untuk kita semua bahwa menjadi orang kudus, orang saleh, orang yang tidak bercacat tidak bercela, peka mendengar suara Tuhan, mengerti kehendak dan rencana Tuhan untuk kita lakukan dan penuhi, semua itu tergantung kita. Jadi bukan spekulasi, bukan gambling, seakan-akan itu karunia dan tergantung sepenuhnya pada Allah. Itu adalah kepastian dan tergantung dari tekad dan usaha setiap kita. Apakah kita sungguh-sungguh mau menempatkan Tuhan di mata kita dan menempatkan atau menaruh Tuhan di hati kita? 
    Kita yang harus memetakan hidup kita. Kita harus memilih apakah mau mengarahkan hidup ini kepada Tuhan atau dunia; menuju Kerajaan Surga atau api neraka. Kalau seseorang tidak waspada, tidak berjaga-jaga—istilah yang sering kita dengar, “Yang penting mengalir saja—maka kita pasti menuju kegelapan abadi. Sebab untuk menuju ke kegelapan abadi itu mudah, bahkan bisa otomatis. Dunia akan mengarahkan orang menuju kegelapan abadi. Namun, kalau kita mau mengarahkan hidup kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka kita harus melakukannya dengan sadar dan sengaja. Kita harus memetakan waktu kita untuk bersekutu dengan Allah. Mengisi pikiran kita dengan firman, tidak pergi ke tempat yang tidak patut kita pergi,
    8 min
  • Layak Dibela
    Tidak semua orang layak dibela Tuhan, ada syaratnya, yaitu: pertama, orang yang membela Tuhan. Tuhan membela orang yang membela diri-Nya. Bagaimana mungkin orang yang hidup untuk diri sendiri, egois, kejam, lalu minta dibela oleh Tuhan? Sebab, berarti ia menguasai Tuhan, seakan-akan Tuhan yang melayani dia. Pertanyaannya, orang seperti itu hidup untuk siapa? Tuhan tidak menghendaki hal itu terjadi dalam hidup kita. Maka, kita harus sungguh-sungguh mau melayani Tuhan. Hanya orang yang membela Tuhan, yang dibela oleh Tuhan. Sebaliknya, orang yang tidak membela Tuhan, pasti tidak layak dibela oleh Tuhan. 
    Kalau kita membawa masalah hidup kita kepada Tuhan, pasti Tuhan membela, asalkan kita tidak hidup untuk diri sendiri, dan kesenangan diri sendiri. Namun, bagi orang Kristen baru yang belum mengerti, Tuhan masih bisa toleransi. Tetapi kalau orang Kristen yang sudah dewasa, sudah sekian belas bahkan berpuluh tahun menjadi Kristen, maka tidak bisa lagi kita memanfaatkan Tuhan untuk membela kita. Kita yang harus membela Tuhan, maka Tuhan membela Kita. Ini rahasia penting yang harus diketahui oleh orang percaya. Karena banyak orang tidak tahu bagaimana mestinya hidup di dalam pembelaan Tuhan itu. Mereka hidup suka-suka, lalu ketika ada masalah datang, barulah mereka berseru kepada Tuhan, “Tolonglah, Tuhan, belalah aku.” 
    Bagaimana cara kita membela Tuhan? Caranya adalah dengan menyelamatkan jiwa-jiwa yang Tuhan kasihi. Sebab kalau kita melihat hari ini, kuasa kegelapan bermanuver begitu hebat memengaruhi dunia yang membuatnya jadi jahat luar biasa. Sangat mengerikan. Manusia dikondisi tidak percaya akan Allah, lalu bertubi-tubi menghadapi masalah, lalu merasa Tuhan tidak adil, sehingga mereka kecewa, lalu meninggalkan Tuhan. Maka kalau hari ini kita melihat ada orang-orang yang tidak mau ke gereja, itu bisa di antaranya adalah mereka yang unjuk perasaan; “Tidak mau ke gereja, percuma. Tuhan jahat!” Padahal justru di sini Tuhan mau mengajar kita untuk belajar memiliki hidup yang benar. 
    Yang kedua, menyenangkan Dia dalam segala perbuatan yang kita lakukan. Malah sebenarnya kita tidak perlu minta tolong Tuhan, karena Tuhan tidak pernah membiarkan kita. Sebagaimana orang tua yang mengetahui masalah yang dihadapi oleh anaknya, belum cerita pun orang tua sudah menawarkan bantuan. Jadi masalahnya, apakah hidup kita sudah menyenangkan Dia? Kalau hidup kita menyenangkan Tuhan, maka tidak mungkin tidak Tuhan bela kita. Ingat, orang-orang Kristen yang dianiaya Saulus. Ketika Saulus pergi ke kota Damsyik, dia hendak membantai orang percaya yang ada di sana, tetapi di tengah jalan Tuhan datang, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”
    Saulus bertanya, “Siapa Engkau?” Maka Yesus menjawab, “Aku, Yesus, yang kau aniaya.” Jadi menganiaya orang percaya sama seperti menganiaya Tuhan. Itu merupakan bentuk pembelaan Tuhan bagi orang percaya. Maka jangan berhenti berseru kepada Tuhan. 
    Yang ketiga, menjadikan Tuhan kebahagiaan kita satu-satunya. Sampai kita berani berkata, “Tuhan, kalaupun masalahku tetap seperti ini, aku tetap mencintai Engkau dan aku tetap menghormati-Mu.” Kalau sampai begini, Tuhan tidak mungkin tidak campur tangan, dan turun dalam hidup kita. Tidak mungkin. Jadi ketika kita menjadi kekasih Tuhan, Tuhan pasti melindungi kita secara istimewa. Ketika Tuhan kita hormati, kita hargai, kita cintai, Ia pasti mencintai kita. Menjadi kekasih Tuhan itu luar biasa. Tidak ada yang perlu kita takutkan. Jadi sekarang kalau kita menghadapi masalah-masalah besar atau orang yang memusuhi kita jauh lebih kuat, percayalah Tuhan lebih besar dari segala-galanya. Dia lebih kuat dari segala-galanya. Jadi kita jangan takut. 
    Ketika kita menjadi kekasih Tuhan, Tuhan pasti membela kita. Tidak mungkin Tuhan membiarkan kita dipermalukan. Mari kita merasakan bagaimana pertolongan Tuhan yang luar biasa. Jadi sekarang kita harus belajar bergantung ke Tuhan. Doa pribadi itu penting sekali,
    9 min
  • Sang Pembela
    Mazmur 22:1-4, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru pada waktu siang, tapi Engkau tidak menjawab. Dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. Padahal, Engkaulah yang kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” 
    Pasti setiap orang punya masalah. Dan biasanya, ketika kita menghadapi masalah, kita membutuhkan pembela, apalagi kalau kita ada di pihak yang lemah. Tahukah kita bahwa Tuhan pasti membela kalau kita meminta pembelaan-Nya? Masalahnya, banyak orang tidak berani percaya ada Allah yang hidup, Allah yang bisa membela dan tidak tahu bagaimana memenuhi kondisi di mana seseorang layak dibela Tuhan. Namun, memang ada saat di mana kita seakan-akan tidak dipedulikan Tuhan, seakan-akan Tuhan meninggalkan kita. Keadaan seperti ini pasti dialami oleh setiap orang. Pada saat-saat seperti itu, sering kita merasa tidak memiliki siapa-siapa, dan kita merasa Tuhan tidak membela kita juga. 
    Sebenarnya, saat-saat seperti itu justru saat yang tepat untuk kita belajar menaruh percaya kita kepada Tuhan. Justru saat-saat di mana kita merasa Tuhan tidak di pihak kita, Tuhan tidak membela kita, bahkan meninggalkan kita, itulah saatnya kita belajar memercayai Allah yang tidak kelihatan. Pasti ada di antara kita yang sekarang ini ada di lembah kekelaman. KIta bertanya-tanya, mengapa Tuhan seakan-akan tidak peduli? Kita sudah berdoa, datang ke gereja, mungkin juga sampai puasa, tetapi Tuhan seakan-akan tidak peduli. Percayalah bahwa Tuhan yang hidup, Tuhan yang pasti menolong. Namun, jangan berhenti berharap kepada Tuhan. 
    Mazmur 22:4-5, “Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka. Kepada-Mu mereka berseru-seru dan mereka terluput. Kepada-Mu mereka percaya dan mereka tidak mendapat malu, yaitu nenek moyang kami yang percaya.” Pemazmur sudah melihat bagaimana nenek moyang bangsa Israel mengalami pertolongan Tuhan, sehingga tidak dipermalukan. Tetapi pemazmur merasa diperlakukan berbeda. Ini adalah gambaran dari pengalaman hidup. Jadi kalau saat ini kita sedang menghadapi keadaan terjepit seperti pemazmur, mari kita tetap berseru kepada Tuhan. Pemazmur menunjukkan keadaannya yang begitu parah yang dia gambarkan seperti air yang tercurah, dan segala tulangnya terlepas dari persendiannya. 
    Di ayat 14-15, pemazmur lanjut mengeluh, “Hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh dalam dadaku. Kekuatanku kering seperti beling. Lidahku melekat pada langit-langit mulutku, dan dalam debu maut Kau letakkan aku.” Dapat kita bayangkan betapa pedihnya pengalaman hidup seperti itu. Jelas bahwa orang yang percaya kepada Tuhan tidak selalu mengalami keadaan baik. Lalu pemazmur berkata di ayat 20-21, “Tetapi Engkau, Tuhan, janganlah jauh. Ya, kekuatanku, segeralah menolong aku. lepaskan aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing. Selamatkan aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku.” Ada saat di mana Tuhan seperti membuang, tidak peduli, dan tidak membela kita, tetapi jangan berhenti berseru kepada Tuhan. Namun, pada akhirnya kita baca kalimat yang luar biasa: “Engkau telah menjawab aku.” Tuhan pasti menolong orang yang berseru-seru kepada-Nya. 
    Bagi kita yang sekarang ini dalam keadaan seperti pemazmur, benar-benar kecewa terhadap keadaan, dan biasanya merembet menjadi kecewa kepada Tuhan, maka kita harus selalu ingat ternyata kita tidak sendirian yang mengalami kondisi seperti itu. Abraham harus keluar dari Ur-Kasdim untuk masuk ke negeri yang Allah tunjukkan. Namun, Abraham tidak pernah melihat negeri itu sampai meninggal dunia. Ternyata negeri itu adalah langit baru bumi baru. Tapi apakah Abraham menjadi kecewa? Tidak pernah ditulis kalau percayanya surut dan ia menjadi kecewa kepada Tuhan
    Demikian juga tentang janji keturunan yang harus ditunggunya selama seperempat abad. Keadaan yang menurut perhitungan manusia tidak mungkin bisa ...
    9 min
  • Membangun Keintiman
    Dalam kehidupan di masyarakat, kita kadang-kadang bahkan sering mendengar orang berkata, “Orang tuaku cerewet.” Lalu itu dipahami oleh orang-orang muda sebagai suatu hal yang negatif. Padahal mereka belum pernah menjadi orang tua. Suatu hari, ketika mereka menjadi orang tua, barulah mereka dapat mengerti alasan perasaan cemas dan khawatir orang tua. Orang tua yang cerewet harus dimengerti sebagai orang tua yang bertanggung jawab, yang peduli, yang sungguh-sungguh menginginkan anaknya dapat terhindar dari berbagai malapetaka, baik dalam pergaulan, maupun dalam hal-hal lain, serta memiliki masa depan yang baik. 
    Demikian pula dengan gereja yang berfungsi sebagai sarana Tuhan. Gereja harus terus mengganggu ketenangan hidup duniawi kita, sebab hal ini bukan hanya menyangkut keadaan kita sementara di bumi, melainkan juga di kekekalan. Kalau kita masih hidup secara duniawi padahal Tuhan sudah tegur beberapa kali, namun kita mengeraskan hati, maka kita akan dibiarkan. Tanpa kita sadari, sejatinya kita sudah menjual diri kepada kuasa kegelapan. Kita dimeteraikan menjadi milik Iblis, dan pasti terbuang dari hadirat Allah. Tetapi kalau kita mau belajar hidup di dalam kebenaran Tuhan, kita mungkin menghadapi beberapa masalah hidup, tapi sebenarnya hal itu membuat kita mengangkat hati, mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan. 
    Kalau seseorang terbiasa mengangkat hati ke Tuhan, maka keyakinannya akan keberadaan Allah semakin hari semakin kuat atau makin besar. Jika tidak, maka Tuhan itu menjadi fantasi. Dan ini yang terjadi selama berabad-abad. Bahkan di lingkungan kita juga, bukan hanya belasan tahun, tetapi puluhan tahun, gereja hanya menyediakan jasa liturgi, jasa berdoa untuk orang sakit atau orang yang bermasalah karena gereja dipandang sebagai dealer dari kuasa Tuhan atau tangan Tuhan untuk terulur dan menjamah jemaat yang membutuhkan pertolongan. Kegiatan keagamaan ini bergulir terus dari waktu ke waktu sampai menjadi profesi bagi pendeta. Akhirnya, kebiasaan ini menjadi tempat berlabuh bagi jemaat yang mau beragama dan merasa ber-Tuhan.
    Hal itu bergulir terus. Terjadi penyesatan yang luar biasa hebat, tanpa disadari. Sementara di pihak lain, gereja juga mengadakan pendidikan sekolah tinggi teologi untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin, kader-kader SDM yang akan berkhotbah dan melakukan kegiatan di dalam keagamaan atau di dalam gereja. Tentu nuansa dan atmosfernya sama dengan para pendahulu. Semua berjalan baik-baik saja. Tetapi yang menjadi kegelisahan kita, apakah jemaat benar-benar memiliki masa depan yang baik, masa depan kekekalan? Gereja harus mempersoalkan, lalu menjadi cerewet untuk hal ini. 
    Sejujurnya, kalau kita meninggal dunia hari ini, apakah kita semua yakin masuk surga? Jangan-jangan sebagian besar ditolak oleh Tuhan. Sebab, standar kekristenan yang kita pahami masih sangat rendah. Kita sudah terlalu lama dininabobokkan dengan kehidupan kristiani palsu. Khotbah-khotbah yang kita dengar tidak mengisyaratkan sesuatu yang membahayakan. Lagu-lagu yang kita nyanyikan, tidak mengisyaratkan sesuatu yang mengancam kita. Semua sepertinya baik-baik saja. Tetapi kalau jujur, kita belum melakukan kehendak Bapa. Kita memang orang Kristen yang baik dalam standar umum, tetapi kita tidak akan pernah menemukan dalam Alkitab bahwa orang Kristen itu boleh seperti anak-anak dunia di sekitar kita. 
    Dalam Roma 12:2 jelas dikatakan bahwa kita harus berbeda. Kita harus mengerti kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Kita semua sibuk dan bisa tenggelam di dalam masalah kita. Tetapi, bukan soal kita di mana, sedang mengerjakan apa, sakit atau sehat, kaya atau miskin, tetapi apakah kita ada di dalam kehendak Allah dan rencana-Nya. Jadi, sadarlah; bangun, jangan tertidur. Jangan sampai kita meninggal dunia, kita tidak dipandang, tidak dinilai oleh Allah sudah melakukan kehendak Allah dan memenuhi rencana-Nya. Masalahnya, kehidupan keagamaan yang tidak disertai perjumpaan dengan Allah ...
    9 min
  • Serius Hidup Suci
    2 Timotius 3:1, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” 
    Tentu masa yang sukar di sini ditinjau dari sudut atau perspektif rohani, bukan hanya sukar secara ekonomi, politik atau bidang lainnya. Tentu dalam segala aspek hidup semua bertambah sukar. Tetapi yang dimaksud sukar dalam ayat ini adalah sukar dalam menjalani kehidupan iman yang sesuai dengan kehendak Allah. Ciri pertama dari keadaan ini adalah mencintai diri sendiri. Baru kemudian menjadi hamba uang dan seterusnya. Kita ada dalam suasana dunia yang egois, suasana dunia di mana orang hanya melihat kepentingannya sendiri. Tanpa kita sadari, suasana dunia seperti ini benar-benar meracuni kita.
    Namun, banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa dirinya telah teracuni oleh suasana mencintai diri sendiri ini. Dengan keadaan ini, Roh Allah tidak nyaman tinggal di dalam diri orang Kristen seperti itu. Sebagaimana kalau kita berjalan bersama dengan orang yang perilakunya buruk, yang kita tidak cocok, maka kita tidak akan merasa nyaman. Bahkan kita akan berusaha menjauhi dan menghindari berjalan bersama orang seperti itu. Demikian pula Roh Kudus tidak nyaman tinggal di hati orang-orang yang egois, bengis, tega, dan semena-mena terhadap orang lain. Tuhan tidak disenangkan, tidak dibahagiakan. Ini bukan berarti kita selalu harus memberi uang kepada orang lain, namun belas kasihan kita bisa kita terjemahkan dalam banyak tindakan. 
    Seharusnya, ada perasaan takut yang mendalam ketika kita merenung bahwa suatu hari nanti ketika bertemu dengan Tuhan Yesus, ternyata Yesus hadir di dalam hidup kita yang diwakili oleh orang-orang yang memang membutuhkan uluran tangan kita. Memang, ada orang-orang yang bersifat benalu, yang unsur hidupnya simbiosis parasitisme, parasit. Dan kita harus membatasi bantuan kita untuk orang-orang seperti ini, karena selain merusak karakter dia, bagian yang mestinya kita berikan kepada orang lain, malah kita berikan kepada parasit itu. Tetapi jangan sampai ketika kita bertemu Tuhan nanti, kita melewati orang-orang yang mestinya mendapat uluran tangan kita. Padahal Tuhan ada di situ. Itu menakutkan, mengerikan sekali.
    Namun kita percaya satu hal, dan ini menghibur, bahwa Roh Kudus akan menghindarkan kita dari kesalahan itu. Roh Kudus akan memberi kita kepekaan. Namun di antara kita ada yang sudah lama tidak terlatih. Selalu menggunakan pertimbangan akal yang telah teracuni oleh egoisme. Orang seperti ini merasa sah, aman-aman saja dengan seluruh tindakan hidupnya. Sebenarnya, mereka mengulang perkataan Kain: “Apakah aku penjaga adikku?” Tuhan bisa berkata: “Mestinya, ya.” Tetapi Tuhan begitu lembut dan Dia tidak memaksa orang berbuat sesuatu bagi Tuhan.
    Sebab adalah percuma jika suatu tindakan dilakukan dengan terpaksa. Kita harus melakukannya dengan tulus. Dan waktu kita berbuat kebaikan, menolong orang, membebat orang yang terluka hatinya, mendampingi orang yang putus asa, kita seperti ‘memberi makan’ Tuhan. Ingat, tidak selalu harus uang yang kita berikan. Ada semacam kehausan dan kelaparan di hati Tuhan yang tidak bisa diisi hanya dengan nyanyian pujian seperti yang kita lakukan, belum cukup. Pujian dan penyembahan kita menjadi benar-benar dinikmati oleh Allah kalau setiap saat kita hidup dalam kesucian. Hidup kita dalam penghormatan kepada Tuhan secara benar, mencintai Tuhan secara benar; baru pujian penyembahan kita itu bersih, harum. Sebab kalau tidak, percuma, busuk. 
    Jangan mencoba menipu Tuhan. Maka mengikut Tuhan itu memang harus all out. Dari detik ke detik, menit ke menit. Itu yang nanti akan membimbing, menuntun, membawa kita menjadi orang saleh, orang kudus Tuhan. Dan menjadi riil kehidupan ini, bahwa kita akan bersama-sama dengan Tuhan. Kita bisa melihat surga sebelum kita mati. Bahwa benar ada padang hijau tak bertepi, ada istana Tuhan kita, Yesus Kristus. Dan kita akan mendapatkan takhta-takhta,
    10 min
  • Kejutan Hidup
    Kalau seseorang tidak mengalami guncangan, sering ia tidak mengenali adanya realitas. Apalagi kalau selalu dalam keadaan nyaman, semua aman dan banyak fasilitas yang mendukung, maka ia tidak akan menyadari adanya realitas. Tetapi kalau ia terkena guncangan, misalnya jatuh bangkrut—yang tadinya tinggal di rumah besar, sekarang rumah kontrak kecil, banjir-kebanjiran, makan sehari-hari sulit—barulah ia menyadari adanya realitas. Atau seesorang yang tidak pernah sakit, tiba-tiba dokter mengatakan bahwa ada penyakit kanker atau tumor di stadium akhir, maka baru orang menyadarinya. Atau terlibat masalah hukum di mana ia harus menghadapi tuntutan hukum yang bisa membawanya ke jeruji penjara 10-15-20 tahun, apalagi hukuman mati, maka baru orang menyadari adanya realitas. Kecelakaan sampai kehilangan bagian tubuh. Atau ditinggal orang yang dicintai pada waktu yang tidak diduga. Banyak realitas seperti ini.
    Tetapi mestinya kita tidak usah menunggu adanya realitas atau menghayati realitas hidup, namun kita sudah harus menghayati realitas itu ketika kita memperhadapkan diri kita di hadapan Tuhan. Tuhan adalah realitas yang lebih dahsyat dari segala realitas. Kita perhadapkan diri kita di hadapan Allah, kalau-kalau ada sesuatu yang tidak patut yang masih kita lakukan. Sebab ini yang terjadi, yang pasti akan terjadi dalam hidup manusia, bahwa kita akan menghadap takhta pengadilan Allah. Setelah itu manusia akan menghadapi realitas, neraka kekal terpisah dari Allah atau kemuliaan di dalam Kerajaan Surga. Tentu kemuliaan di dalam Kerajaan Bapa adalah realitas yang indah, yang mestinya menjadi tujuan hidup kita satu-satunya. Sedangkan realitas api kekal terpisah dari hadirat Allah, kehinaan kekal, itu realitas negatif yang mengerikan, dahsyat mengerikan! 
    Kita harus mulai menyadari realitas, walau tidak harus mengalami kejutan atau mestinya tidak perlu harus mengalami kejutan hidup. Tetapi kalau kita harus mengalami kejutan dan kejutan itu membuat kita siuman, sadar, puji Tuhan. Tuhan mengizinkan kita dikejutkan oleh masalah-masalah yang membuka mata kita terhadap realitas. Dan itu merupakan pengingat (reminder). Tuhan mengingatkan bahwa ada realitas dalam kehidupan ini. Artinya tidak selalu manusia bisa berkeadaan baik menurut ukuran kita atau ukuran manusia pada umumnya. Tapi kita bisa mengalami keadaan yang buruk, menurut ukuran kita atau ukuran manusia. 
    Namun, seburuk-buruknya keadaan manusia di bumi ini, tidak ada artinya dibanding dengan keadaan terpisah dari Allah, yang terbuang ke dalam api kekal. Realitas itulah yang harus benar-benar kita perhatikan. Namun, kalau kita melihat kehidupan banyak orang Kristen, mereka tidak menyadari hal ini. Bahkan mungkin kita sendiri juga sering tidak menyadari. Hal itu nampak dari sikap hidup, perbuatan, ucapan kita yang tidak menunjukkan hormat kita kepada Tuhan, yang tidak menunjukkan belas kasihan kita kepada orang lain; sebaliknya, yang justru menunjukkan kekejaman, kebencian, dendam. Ini adalah ciri orang-orang yang tidak peduli kekekalan. Tidak peduli kengerian terpisah dari Allah. 
    Kalau kita mendengar, melihat, bagaimana orang-orang berperilaku, tidak menunjukkan mereka takut akan Allah, kita tidak boleh ikut-ikutan yang salah. Kita tetap mau menyediakan waktu kita untuk mencari Tuhan, mengoreksi diri untuk hidup di dalam kebenaran dan kesucian Tuhan. Kita dianggap ekstrem tidak apa-apa. Dan mungkin juga mendapat berbagai celaan, tidak masalah. Kita yang harus mengobarkan gairah untuk mencari Tuhan, hidup dalam kekudusan dan kesucian, keberkenanan di hadapan Allah, sesuai dengan apa yang Alkitab ajarkan. 
    Bagi kita yang rendah hati, yang mau belajar, kita bisa membuktikan bahwa kebenaran-kebenaran yang kita dengar di Truth.id, Doa Pagi, Ibadah Raya, ABAM, Wanita Surgawi, dan lain-lain semua mengarahkan kita kepada perubahan yang positif. Dan ini menjadi kesaksian dari banyak orang yang sudah kita dengar lewat berbagai kesaksian; betapa hidup mereka diubah.
    8 min
  • Intimasi
    2 Tawarikh 16:9a, “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” 
    Kalau sampai kita bisa intim dengan Tuhan, menjadi kekasih Tuhan, apa yang kita takutkan? Kalau kita memiliki intimasi dengan Allah, jadi kekasih Tuhan, pasti Allah akan membela kita. Ingat ketika Abraham masuk Mesir, pada masa paceklik atau kekeringan, satu hal yang menakjubkan, Abraham tidak kembali ke Ur-Kasdim. Dia mengambil risiko untuk masuk Mesir. Ternyata Mesir pada waktu itu diperintah oleh Firaun yang mata keranjang. Dia melihat Sara, dia mau menjadikan Sara sebagai istrinya. Tuhan memperlakukan Abraham istimewa. Tuhan obrak-abrik Firaun dan negeri Mesir. Abraham habis-habisan untuk Tuhan, maka Tuhan pulihkan, karena dia kekasih Tuhan.
    Setiap kita punya masalah, bukan? Dan sering kali kita bersungut-sungut, marah. Mengapa tidak cari Tuhan? Bangun pagi, doa. Kalahkan rasa kantuk, sebab itu salah satu hal untuk kita menunjukkan kesetiaan. Ubah rutinitas, doa, temui Tuhan. Roh Kudus akan menuntun kita bagaimana menemui Tuhan; dalam doa pagi, atau firman yang kita dengar, dan lewat peristiwa hidup yang kita alami. Mata Tuhan menjelajah seluruh bumi, termasuk Jakarta, Bekasi, Tangerang, Medan, Kupang, seluruh Indonesia. Semua Tuhan perhatikan. Tuhan mau melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. 
    2 Tawarikh 16:9b, “Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh! Oleh sebab itu, mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.” Maka, jangan kita melawan Tuhan. Abraham adalah sosok yang tidak melawan Tuhan. Disuruh apa saja, dia lakukan. Dia hidup, Dia nyata. Maka, harus kita temukan rencana Allah dalam hidup kita. Dan rencana Allah itu pasti, pertama, mengarahkan pada perubahan diri kita, perubahan kodrat, dan perubahan orang yang kita layani atau kita pengaruhi. Yang kedua, rencana Allah itu pasti besar. Sampai kita tidak sanggup mengerjakannya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. 
    Seperti Musa yang disuruh ke Mesir membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, itu adalah proyek Allah yang besar. Mustahil bagi Musa, tetapi tidak mustahil bagi Allah. Masalah kita besar, maka serahkan dalam tangan Tuhan. Sebab perusahaan kita, usaha kita adalah milik Tuhan, everything we have belongs to God. Dan kalau itu kita klaim milik Tuhan dan kita memperlakukan itu dengan benar, maka kita tidak perlu minta-minta tolong Tuhan, pasti Tuhan tolong. Kita kerjakan bagian kita dengan sebaik-baiknya. Di luar kemampuan kita, Tuhan yang mengerjakan. Yang penting jangan sampai usaha kita maju, jadi lupa diri, malah masuk neraka. Tuhan sangat tertarik menolong kita, tetapi Ia lebih tertarik menyelamatkan kita di kekekalan.
    Ingat, tidak ada orang yang bisa melarang kita menjadikan Tuhan kebahagiaan kita dan tidak ada orang yang bisa menghalangi kita menjadikan Tuhan satu-satunya harta kita. Maka, di mana pun kita berada—kapan pun, sedang mengerjakan apa, sakit atau sehat, kelimpahan atau kekurangan—kita tetap di hadirat Tuhan. Dan terus menghayati kehadiran Allah, keberadaan Allah yang hidup itu, supaya kita menjaga perasaan-Nya. Salah satu tokoh dalam Alkitab, Yusuf, dia bisa menjadi seorang yang takut akan Allah itu bukan dalam 1, 2, 3 tahun. Sejak muda dia tidak ikut terlibat dengan kejahatan kakak-kakaknya, sehingga dia bisa mengadukan kejahatan yang dilakukan kakak-kakaknya. Maka ketika dia mendapat kesempatan menikmati kepuasan daging, Yusuf berkata, “Bagaimana aku bisa melakukan dosa sebesar ini di hadapan Allahku?” 
    Tuhan memperhitungkan keadaan setiap individu. Maka, di kitab Ayub 1, Allah mengumpulkan beni Elohim—anak-anak Allah, dan Iblis ada di situ—Allah mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub. Dari kisah itu nampak bagaimana Allah menguji setiap individu. Mari kita berambisi untuk ditemukan Tuhan berkenan di antara manusia. Tidak peduli apa kata manusia tentang kita atau terhadap kita, yang penting di mata Tuhan kita berkenan.
    11 min
  • Secara Spesifik
    Sejatinya, setiap orang memiliki teologinya sendiri sesuai dengan pengalaman hidupnya. Teologi artinya studi atau ilmu tentang Tuhan. Ilmu tentang Tuhan dalam hidupnya si A, tentu berbeda dengan si B. Hal ini terkait dengan pergumulan hidup orang itu. Ada spesifikasinya. Allah mau berurusan dengan setiap individu secara spesifik. Sebab Allah membuat kurikulum untuk setiap individu, dan itu unik. Tuhan mau berurusan dengan kita secara pribadi. Kita akan sangat menyesal kalau hanya menjadi orang Kristen yang punya pengetahuan tentang Tuhan dari kata buku, kata orang, kata pengkhotbah, kata pembicara. Sejatinya, kita harus bertemu Tuhan langsung. 
    Kalau seseorang berinteraksi dengan Allah, maka semua pasti diletakkan pada proporsinya. Interaksi dengan Tuhan itu luar biasa, karena ada impartasi; penularan. Sampai akhirnya dalam pertumbuhan, kita bukan hanya tidak berbuat dosa melainkan sampai tidak bisa berbuat dosa. Dosa jadi begitu menjijikkan. Seluruh saraf kita benar-benar diendapi oleh kehadiran Allah. Inilah yang namanya perubahan kodrat. Jadi, kalau kita menjadi orang baik hanya karena takut masuk penjara, malu dilihat tetangga, berarti kita belum kudus sekali. 
    Ironis, jika kita percaya ada Allah, tapi tidak pernah kita temui. Betapa Dia ingin berbicara kepada setiap kita. Bayangkan, ketika kita membaringkan tubuh di tempat tidur, Tuhan di samping kita dan berkata, “Anak-Ku, kau belum berdialog dengan Aku. Aku mau beri tahu banyak hal kepadamu.” Tetapi kita masih pegang HP, lihat yang lain. Maka, jangan melihat apa yang Tuhan tidak ikut menikmatinya. Sebab sebanyak apa pun teologi yang kita miliki, sebanyak apa pun ilmu tentang Tuhan yang ada di pikiran kita, kita tetap harus datang kepada Tuhan. Seakan-akan kita tidak punya ilmu apa-apa. 
    Ingat pesan ini: the only world I have is Jesus. The only world I have is Father, my Lord, my God, satu-satunya Tuhan kita. Bersyukur kalau Tuhan memproses kita begitu hebat, yang membuat kita mencari Tuhan. Tidak peduli berapa tinggi pendidikan yang telah kita capai, berapa banyak buku yang telah kita tulis dan baca, berapa ribu khotbah yang telah kita sampaikan, berapa kokoh argumentasi teologi yang kita miliki. Tetapi kalau sudah di hadapan Tuhan, kita berkata, “I am nothing, Lord. Jangan tinggalkan aku, Tuhan. Pegang tanganku dan tuntun.” 
    Kita punya 5 musuh besar. Pertama, kuasa kegelapan. Kedua, diri kita sendiri; manusia lama kita ini jahat dan licik. Kuat menyatu dan tahu momentum mana yang bisa menjatuhkan kita. Licik. Ketiga, pengaruh dunia yang jahat. Keempat, malapetaka, marabahaya, kecelakaan, dan lain-lain. Kelima, orang-orang yang bermaksud jahat kepada kita. Bukan takut manusianya, tetapi kita takut Tuhan, kita takut merespons salah. Kita harus mengasihi orang-orang yang melukai kita, dan menjaga hati itu tidak mudah.
    Jangan kita merasa tenang-tenang. Karena sejujurnya, standar hidup kita belum seperti yang Allah kehendaki. Kita harus melakukan kehendak Bapa. Sudah, belum? Apa salah satu ciri dari orang yang belum melakukan kehendak Allah? Takut mati. Maka, mari kita bertobat; mengakui dosa yang kita lakukan dan jangan mengulangi lagi. Bagaimana cara kita berhenti berbuat dosa? Berjanji. Sebutkan dosa kita, minta ampun secara detail dan jangan dilakukan lagi. Kalaupun kita melakukan lagi, pasti kita akan sakit sampai trauma dan fobia berat. Sehingga kita tidak melakukan dosa lagi. Sampai bukan tidak mau berbuat dosa, tetapi tidak bisa berbuat dosa. Ini berarti kodrat kita diubah. 
    Perjumpaan dengan Tuhan itu mengubah kodrat. Yang dikatakan di dalam 2 Petrus 1:3-4, mengenakan kodrat ilahi; theios. Biasakanlah mengangkat hati, menyembah Allah. Jangan kalau ada masalah, baru “Oh, Tuhan…” tetapi setelah itu turun lagi. Kita harus terus belajar mengangkat jiwa. Memandang Tuhan, seakan-akan ada masalah besar, ada ancaman berat di sekitar kita. Memang ada lima musuh besar. Dunia kita makin banyak orang jahat,
    9 min
  • Hubungan
    Pasti semua kita percaya bahwa Allah itu ada. Kita juga setuju bahwa Allah itu Allah yang hidup dan nyata. Senyata orang tua atau pasangan kita yang dengannya kita berinteraksi, demikian pula Tuhan. Yang karenanya kita memiliki pengalaman berinteraksi, berhubungan dengan orang tua atau pasangan. Setiap anak dalam satu keluarga pasti memiliki keunikan dalam berinteraksi atau berhubungan timbal balik dengan orang tua. Dan itu bisa menjadi kenangan panjang, bahkan kenangan abadi dalam hidup kita. Kita juga tentu telah merasakan kebaikan orang tua kita, yang kemudian ketika kita bisa membalas kebaikan mereka, kita mau melakukan apa saja yang dapat membuat mereka bahagia. Kenangan, goresan masa lalu bagaimana kita berinteraksi dengan orang tua merupakan suatu hal yang faktual, yang riil. 
    Mestinya dengan Allah juga demikian, sebagai Bapa kita. Dia Allah yang hidup. Tidak mungkin jagat raya dengan tatanan yang sedemikian sempurna itu ada dengan sendirinya. Ada Desainer Agung dengan pikiran maha cerdas yang menciptakan semua planet yang berputar pada orbitnya, pada lintasannya, dengan kekuatan magnet tertentu, sehingga tidak bertabrakan satu dengan yang lain. Ekosistem bumi yang luar biasa pun tidak mungkin ada dengan sendirinya. Tubuh kita dengan metabolismenya ini pun merupakan sebuah keajaiban yang tidak pernah selesai dieksplorasi, diselidiki. Ada tangan yang tidak kelihatan—invisible hand—yang menciptakan jagat raya dengan isinya, dan khususnya manusia. 
    Kalau kita percaya Allah itu ada, hidup, dan juga maha hadir, maka konsekuensi seharusnya adalah kita memperlakukan Allah juga sebagai Pribadi yang hidup dan nyata. Kita harus menemukan mekanisme interaksi dengan Allah, yang setiap individu pasti unik. Ada ruangan yang Allah sediakan seluas-luasnya, di mana kita bisa menjumpai Tuhan dan berinteraksi dengan Dia. Dalam hal ini bukan di ruangan doa saja, melainkan dalam seluruh wilayah hidup kita dan melalui segala sesuatu yang kita lakukan, Allah berkenan hadir di situ. Ia mau berinteraksi dengan kita. Sebab di luar Dia, tidak ada kehidupan. Manusia mati tanpa interaksi dengan Dia. 
    Di dalam interaksi itu, Bapa mendidik. Jadi kalau Allah menyertai kita, itu bukan hanya dalam rangka Allah mau melindungi dan menjaga kita. Sebagai Bapa, Dia mendidik. Di dalam Ibrani 12:3-7, firman Tuhan mengatakan, bapak mana yang tidak mendidik anak-anaknya? Dia mendidik, menghajar anak-anak-Nya, memukul berulang-ulang. Di 70-80 tahun umur hidup kita, Allah mendidik, supaya kita menjadi manusia sesuai yang Dia inginkan. Bukan seperti manusia kebanyakan yang tidak akan mendapat kesempatan ada di Rumah Bapa di kekekalan. 
    Namun, banyak orang sibuk dengan segala urusan. Diajak mencari Tuhan, selalu menunda. Jawabnya “nanti.” Padahal, satu, kita tidak tahu kapan meninggal. Dua, Iblis membentuk manusia batiniah kita sampai tidak mampu berinteraksi dengan Allah. Hati manusia membatu, siapa yang dapat mengenalinya? Kalau ibarat penyakit hati, ini sirosis. Sudah membatu. Petrus ketika dilirik Tuhan, dia menangis tersedu-sedu. Berbeda dengan Yudas yang gantung diri. Karena Yudas terbiasa mencintai uang. Dia tidak memiliki kepekaan mendengar Roh Kudus. Dan ini adalah stadium menghujat Roh. Penundaan demi penundaan, lalu hidupnya sembarangan itu mendukakan Roh, sampai memadamkan. Dan akhirnya Roh Kudus tidak bisa bekerja, karena dia tidak mampu merespons pekerjaan Roh Kudus.
    Roh Kudus adalah satu-satunya representatif atau wakil Bapa dan Tuhan Yesus dalam menggarap hidup manusia atau umat pilihan. Kalau satu-satunya representatif ini ditolak, tidak ada wakil lain. Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh berurusan dengan Tuhan? Seserius apa kita berurusan dengan Tuhan? Kalau hanya kebaktian ke gereja seminggu sekali atau lebih, itu bukan sesuatu yang sulit. Setiap orang beragama bisa lakukan demikian. Namun, apakah kita ada di dalam kesadaran bahwa Allah itu hidup, dan kita menempatkan diri di hadapan Allah yang hidup dengan ...
    9 min
  • Katup Pengaman
    Ketika kita sungguh-sungguh mencari Tuhan—ke gereja, hidup suci, mengalah, menghindari kegiatan yang tidak perlu, fokus pada pekerjaan, keluarga dan gereja atau urusan rohani—Tuhan seakan-akan juga tidak memberi perhatian kepada kita. Ini masalahnya, seakan-akan Tuhan tidak memberi penghargaan, tidak memedulikan kita. Tetapi, jangan kita menjadi lemah. Tuhan akan mengizinkan kita hidup dengan persoalan. Paulus menyebutnya sebagai duri dalam daging (torn in the flesh); 2 Korintus 12:7, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” 
    Jadi, kita pasti punya masalah dan masalah itu bisa permanen, juga bisa lebih dari satu hal. Tidak pernah ada hari tanpa masalah, karena Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan di Injil Matius 6:34, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.” Jangan menganggap itu kecelakaan, karena ada Tuhan yang mengizinkan. Duri dalam daging itu bisa pasangan hidup, orang tua sendiri, mertua, anak, persoalan di keluarga, di pekerjaan, dan lain-lain. Jadi, kalau kita berurusan dengan Tuhan yang baik, bukan berarti kita tidak punya masalah sama sekali. Tidak begitu. 
    Jangan kita simpan dalam hati. Hari ini masalah di kantor, besok di pergaulan, ada saja. Duri dalam daging ini sebenarnya katup pengaman, supaya kita tidak fokus ke dunia. Jadi, kalau kita tidak punya duri dalam daging berarti kita harus “mencari duri.” Di mana? Persoalan sesama yang Tuhan titipkan di sepanjang jalan hidup kita. Kita cari persoalan; kita memikirkan orang-orang muda yang tidak bisa sekolah, lalu bisa sekolah. Keluarga yang di ambang perceraian, kita damaikan. Mereka yang dalam duka, kita hiburkan dan beri kekuatan. Satu hal yang ajaib, Tuhan selalu menolong ketika kita menolong sesama. 
    Duri dalam daging ini menjadi pengatup pengaman sampai menjadi kemuliaan. Paulus punya Duri dalam daging, supaya dia tidak sombong. Jadi, Paulus itu ternyata punya potensi sombong. Paulus adalah seorang rasul yang hebat, tapi Tuhan tahu ada benih kesombongan. Supaya rasul Paulus tidak sombong dan bisa tidak efektif untuk pekerjaan Tuhan, bisa-bisa masuk neraka, maka Tuhan beri duri dalam daging, keadaan tidak nyaman. Makanya, Paulus dalam suratnya berkata, “Aku menguasai diriku sepenuhnya, supaya aku yang sudah membawa orang ke surga, jangan aku sendiri ditolak.”
    Ingat, khususnya bagi para pendeta dan hamba Tuhan, sekalipun kita sudah khotbah, melayani Tuhan, belum tentu masuk surga. Karena kita harus tetap menguasai diri, mengendalikan diri. Kita harus berjuang untuk itu. Maka jangan berhenti berurusan dengan Tuhan, dan jangan sampai kita terbawa oleh menu-menu yang Iblis sediakan. Jangan fokus kita terbagi untuk menonton film seri, nonton berita, lihat gadget terus. Yang begini, harus kita tinggalkan. Kita harus fokus ke Tuhan dan menjadikan Tuhan satu-satunya dunia kita. 
    Jadi pasti ada duri dalam daging, pasti ada masalah. Jangan berpikir masalah itu kecelakaan. Tidak, duri dalam daging harus kita terima sebagai vitamin, sebagai nutrisi di dalam kehidupan, nutrisi dalam jiwa. Ingat, Tuhan kita sangat cerdas. Dia mengerti bagaimana menaruh masalah agar kita bertumbuh dewasa, dan paling tidak, agar kita tidak merasa betah hidup di bumi, karena rumah kita ada di surga.
    Yang terakhir, kalau kita punya masalah dan membawanya kepada Tuhan, tidak mungkin Tuhan tidak menjawab, tidak mungkin Tuhan tidak campur tangan. Ada masalah yang memang bisa permanen, tetapi ada masalah yang memang harus diselesaikan. Kita mungkin terlahir cacat, itu permanen, tapi ketika kita sakit, kita bisa sembuh. Adapun masalah-masalah yang Tuhan biarkan itu berlangsung, pasti tidak membahayakan hidup kita dan tidak mengganggu hidup kita, sampai kita tidak bertumbuh. Jadi,
    7 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…