Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Memuaskan Dahaga Jiwa
    Bukan hanya tubuh kita yang membutuhkan makanan, melainkan manusia rohaniah kita, batin kita, jiwa kita juga membutuhkan makanan; makanan Rohani. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan di Injil Matius 4:4, “Manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi juga dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Masalahnya, yang terjadi dalam kehidupan, banyak orang tidak merasakan lapar dan haus di dalam jiwanya. Kalau fisiknya bisa lapar dan selalu dipenuhi dengan makan, tetapi jiwa dan batinnya tidak haus dan lapar. Kalaupun ada kehausan dan kelaparan, maka objeknya pun beda. Objeknya salah. Objeknya adalah tontonan, hiburan, materi, kekayaan dunia, kehormatan, pangkat, gelar, dan lain sebagainya. Manusia di sini menjadi sesat. Dan inilah yang terjadi di dalam kehidupan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah. 
    Sebenarnya, Tuhan menciptakan manusia dengan keadaan “terkunci” bahwa manusia tidak bisa memuaskan jiwa, batinnya dengan apa pun selain Tuhan. Jadi, ada kekosongan dalam jiwa manusia, yang hanya dapat diisi oleh Tuhan. Tidak dapat diisi oleh yang lain. Maka manusia yang normal, yang sehat rohaninya, dia akan bisa merasakan kehausan akan Allah, kehausan akan Tuhan. Sekarang ini, sangat sedikit orang yang benar-benar memiliki kehausan akan Allah. Walaupun ia dapat merasakan bahwa jiwanya sebenarnya haus dan lapar akan Tuhan, tetapi dia tidak menyadari bahwa yang bisa memuaskan dahaga jiwanya itu hanya Tuhan. Iblis menawarkan berbagai isian untuk memuaskan dahaga jiwa manusia, dan apa yang ditawarkan Iblis itu menyesatkan. Bukan memperbaiki jiwa, melainkan merusak jiwa. 
    Seperti yang tertulis di Lukas 4:4-8, ketika itu Yesus dibawa ke tempat tinggi, dan ditunjukkan kekayaan, keindahan dunia ini. Iblis berkata, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Kalau Yesus menerima tawaran itu, maka rusaklah jiwa-Nya. Ini juga yang ditawarkan Iblis kepada manusia. Memang tidak secara harfiah manusia menyembah Iblis, tetapi ketika manusia mengingini kekayaan dunia ini, artinya manusia terjebak dalam jebakan kuasa kegelapan. Ini yang banyak terjadi dalam kehidupan manusia. Manusia menjadi haus dan lapar, bukan kepada Tuhan, melainkan kepada objek lain. Selera rohani, selera batin, selera jiwanya telah dirusak. 
    Ini sama dengan orang yang kecanduan minuman keras, sampai tidak bisa tidak minum alkohol setiap hari. Selera tubuhnya telah disesatkan. Tetapi dia tidak bisa menghilangkan itu, karena sudah terbelenggu, terperangkap dengan selera yang salah. Iblis merusak selera manusia, bukan saja selera tubuh terlebih selera jiwa. Mestinya ditujukan kepada Tuhan, namun ditujukan kepada yang lain: dunia ini. Dan ironisnya, kalau seseorang sudah haus akan objek lain, dia tidak akan bisa haus akan Allah. Tidak bisa dua-duanya. Apalagi kalau orang sudah kecanduan dosa. Tidak mungkin dia haus akan Allah. Ia tidak bisa merindukan Allah. Orang-orang seperti ini tidak bisa menjadi kekasih Tuhan. Padahal mestinya, seperti yang dikatakan dalam 2 Korintus 11:2-4, orang percaya adalah mempelai Tuhan Yesus. 
    Hatinya harus terikat hanya kepada Tuhan Yesus. Jadi bukan tanpa alasan kalau Paulus berkata, “Aku takut kalau-kalau kamu disesatkan dari kesetiaanmu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdaya oleh ular.” Hawa mau mencapai apa yang seharusnya dia tidak capai. Hawa mengingini, bersama Adam tentunya, sesuatu yang mestinya dia tidak ingini. Dia mau menjadi seperti Allah. Sudah rusak. Gara-gara itu, selera jiwa manusia menjadi rusak. Adam dan Hawa rusak, dan seluruh keturunannya pun menjadi rusak. Karenanya Alkitab berkata, “Karena semua manusia telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). 
    Mari kita melihat dengan jujur, betapa rusaknya jiwa kita.
    8 min
  • Yakin, Allah Pasti Menolong
    Dalam berhubungan dengan Allah, dalam berinteraksi dengan Allah ada dua aspek yang harus kita ketahui untuk bisa mengalami Tuhan lebih mendalam. Jadi ini seperti sekeping mata uang. Tidak terpisahkan. Dari aspek Allah ada tuntutan yang harus dipenuhi. Tetapi dari aspek kita, kita harus memenuhi tuntutan itu. Aspek pertama, aspek dari pihak Tuhan. Tuhan dalam kekudusan dan keagungan-Nya tidak bisa disentuh sembarangan. Allah tidak bisa dihampiri sesuka-suka kita. Allah pasti memiliki tatanan. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Siapa yang boleh masuk naik ke gunung Tuhan? Siapa yang boleh datang menyembah Dia?” (Mzm. 24:3). Jadi ada semacam syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menembus tahap demi tahap, tingkat lebih tinggi, lintasan demi lintasan untuk sampai kepada God’s region (kawasan Tuhan). Aspek ini tidak bisa kita tawar, itu mutlak.
    Yang kedua, aspek dari pihak manusia. Hal ini menyangkut tiga hal, yaitu: yang pertama, kesucian hidup; bagaimana kita memiliki kehidupan yang benar-benar bersih. Jadi tidak boleh ada yang kita lakukan yang melanggar kekudusan Allah. Yang kedua, kedewasaan mental. Pengalaman-pengalaman yang dahsyat dengan Allah sering kali menjadi rahasia iman yang tidak boleh diceritakan kepada orang. Tetapi banyak orang yang tidak dewasa mental, bocor. Karena itu dapat menjadi komoditas untuk kesombongan. Karena mau mengangkat diri, mau dapat nilai, mendapat poin kredit pengalaman spektakuler dengan Tuhan. Paulus memiliki pengalaman ini, supaya dia tidak sombong, maka dia diberi duri dalam daging. Banyak perkara ajaib yang kita alami dengan Tuhan pada waktu kita berinteraksi dengan-Nya dan Tuhan menghendaki kita memiliki rahasia iman, keintiman dengan Tuhan. 
    Yang ketiga, keterikatan dengan Tuhan. Orang yang mau masuk hadirat Allah haruslah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Orang yang selesai dengan dirinya sendiri adalah orang yang tidak lagi merasa berutang kepada siapa-siapa; tidak terikat dengan apa pun dan siapa pun kecuali dengan Tuhan. Walaupun ia belum punya rumah, belum punya pacar, belum punya jodoh, belum punya fasilitas lain, belum selesai masalahnya, dan lain sebagainya, tetapi kalau kita menghadap Tuhan seakan-akan semua sudah selesai. Lagi pula kita percaya, Tuhan mampu menyelesaikan.
    Untuk bisa mengalami Tuhan dan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, maka kita harus memperhatikan apa yang harus kita penuhi. Allah tidak mengurangi harga dari nilai atau value yang Allah miliki. Ingat, yang boleh naik ke gunung kudus-Nya, hanyalah orang yang suci hatinya. Lalu dari aspek manusia, kita harus hidup kudus, dewasa mental, dan tidak ada keterikatan. Menghadap Tuhan dengan sikap hati yang pantas walaupun beban hidup masih bertumpuk-tumpuk. Maka, kita tidak boleh memberhalakan masalah. 
    Pada zaman dahulu, misalnya pada zaman Nehemia, ketika seseorang menghadap raja dengan muka muram, ia bisa dihukum, bahkan bisa sampai hukuman mati karena dianggap tidak menghormati raja. Peristiwa itu hendak menunjukkan bahwa menghadap raja dunia saja tidak boleh muram. Memang, hubungan kita dengan Allah bukan hanya hubungan Raja dengan rakyat, melainkan hubungan Bapa dan anak. Tetapi anak-anak yang dewasa pasti berhenti merengek-merengek, berhenti bersungut-sungut karena ia yakin bahwa Allah itu hidup, yakin bahwa Allah itu Maha Kuat dan pasti menolongnya. 
    Jadi kalau Tuhan seakan-akan tidak menolong, seakan-akan Tuhan belum turun tangan, karena memang waktunya belum cukup. Allah kita cerdas sekali, bagaimana Tuhan membuat persoalan kita tidak selesai, dipertahankan masih ada di dalam hidup kita. Kita terus ditekan oleh masalah itu. Tetapi sementara itu Tuhan mengerjakan sesuatu yang tidak bisa dikerjakan kalau tidak ada masalah. Ibarat seorang pandai besi yang mau membuat pisau, besi itu harus dipanasi dalam derajat tertentu. Dibuat tipis, dari besi tebal 1,5 Cm menjadi tipis 0,5 Cm. Ujungnya dibuat tajam,
    9 min
  • Perkara Sederhana
    Berkat rohani yang Allah sediakan bagi kita, tidak ternilai; tidak ada yang dapat dipadankan. Sangat mulia, sangat bernilai, sangat mahal. Tetapi, sangat sedikit orang yang benar-benar menemukannya. Dan orang harus memiliki respons yang memadai untuk mengenali dan memiliki berkat kekekalan yang tak ternilai tersebut. Sangat sedikit orang yang benar-benar berani menginvestasikan hidupnya untuk berkat-berkat rohani, yang sesungguhnya adalah berkat kekal. Mengutip apa yang dikatakan pemazmur, “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah, sebab Ia, Allah, memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” Di luar pengetahuan kita, Tuhan menyediakan berkat; bekal kekekalan.
    Banyak orang berpikir masuk surga itu mudah. Percaya Tuhan Yesus, ke gereja, meyakini keselamatan di dalam Yesus oleh pengurbanan-Nya di kayu salib, cukup. Menjalani hari, melewati waktu, menunggu kematian, dan percaya kalau meninggal dunia, nanti masuk surga. Lalu kita bisa melihat orang-orang Kristen yang terjebak dalam seremonial atau liturgi. Merasa kalau sudah ke gereja, sudah menunjukkan keseriusannya dengan Tuhan. Dan itu dianggap sebagai bekal kekekalan. Mungkin pada waktu mendengar khotbah, ada ketakjuban, perasaan terpesona terhadap penjelasan yang dipaparkan, apalagi hal yang belum pernah didengarnya. Tetapi kalau jujur, tidak ada yang diperoleh. Tidak ada yang mengubah hidup. 
    Sejatinya, apa pun yang disampaikan lewat mimbar—apakah itu bersifat etis, kognitif, pengetahuan, pewahyuan, apa pun—Roh Kudus jadikan berkat untuk mengubah jemaat. Sebagai pelayan Tuhan, kita harus selalu mempertanyakan, “Apa yang harus kami lakukan, apa yang harus kami penuhi untuk masuk ke dalam pelayanan roh?” Sebab roh itu kehidupan yang bisa mengubah dan memperbarui orang. Maka khotbah harus membawa dampak, harus membawa akibat, harus memberi sesuatu. Sehingga jemaat datang, memperoleh sesuatu sebagai bekal kekekalan. Sebab, tidak mudah orang masuk surga. Tuhan Yesus sendiri yang berkata, “Banyak orang berusaha, tetapi tidak masuk.” Pembicara dan pelayan-pelayan Tuhan, harus sungguh-sungguh membidik apakah jemaat sudah cukup memiliki bekal kekekalan ini? 
    Matius 7:21, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Kalau seseorang menyebut Yesus sebagai “Tuhan,” berarti dia sudah percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat. Tetapi kalau dia tidak melakukan kehendak Bapa, tidak akan masuk surga. Dan kalau kita ditanya apakah sudah melakukan kehendak Bapa, sedikit sekali yang berani berkata “sudah.” Kita harus merasa sebagai orang-orang yang berutang. Bukan hidup menurut daging, tetapi hidup menurut roh. Jadi kepada siapa kita membayar utang itu? Ke daging atau ke roh? Kalau kita merasa bisa dipuaskan dengan melakukan sesuatu, mengucapkan sesuatu, membeli sesuatu, memperoleh sesuatu, berarti kita berutang kepada daging. Tetapi kalau kita berutang menurut roh, maka apa yang kita mau ucapkan, lakukan, pikirkan dan miliki, semua itu untuk melengkapi kita dalam melayani pekerjaan Tuhan. 
    Setiap saat kita diperhadapkan kepada pilihan ini. Dan kalau kita serius memperhatikan hal ini, berutang kepada roh untuk hidup menurut roh, pasti kita melakukan kehendak Bapa. Jadi kalau ada kesalahan, kita selesaikan, kita minta ampun. Perjuangan ini adalah bagian dari bekal kekekalan. Ingat firman Tuhan mengatakan, “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” Kebaikan yang dimaksud adalah serupa dengan Yesus. Allah membutuhkan dan memakai setiap kejadian atau peristiwa untuk membekali orang percaya. Di situlah bekal kekekalan Allah sediakan. Ada banyak bekal kekekalan, berkat-berkat rohani yang membekali kita. 
    Namun, kita harus masuk dalam kancah pergumulan ini, kancah perjuangan ini dalam hitungan menit; apakah kita merespons satu kejadian dengan sikap hati ...
    9 min
  • Berambisi Tidak Berdosa Lagi
    Sering kali kita bersikap permisif, kita tidak berani mengatakan dengan tegas bahwa kita kesetanan. Jadi ketika kita berbuat dosa, berbuat kesalahan, Roh Kudus tegur, ingatkan kita, harusnya kita langsung mengakui dosa itu dan menyadari kita kesetanan atau ada dalam penguasaan kuasa gelap. Kita minta ampun, minta kekuatan dari Tuhan, agar kita tidak melakukan dosa yang sama lagi. Firman Tuhan mengatakan dalam 1 Yohanes 3, bahwa orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi. Kita harus berambisi untuk menjadi orang yang tidak berbuat dosa lagi. 
    Mengapa kita takut berjanji hidup kudus? Ingat, penakut adalah salah satu jenis orang yang tidak akan masuk surga. Penakut adalah orang yang tidak memercayai Allah hidup. Memang, percaya itu perlu waktu, perlu pertumbuhan. Tetapi kita yang harus mengobarkan dan menyalakan terus kerinduan itu, sehingga tidak pernah padam. Kalau kita menyalakan kerinduan itu, begitu kita berbuat salah, sakitnya bukan main. Dan ini yang membuat kita trauma terhadap dosa. Trauma ini akan menciptakan kerinduan kita untuk tidak berbuat dosa. Tetapi kalau seseorang tidak punya komitmen untuk hidup suci, jadi hanya sesekali saja, sesaat insidentil, maka ketika ia berbuat dosa, dia akan merasa nyaman-nyaman saja. Jadi, komitmen itu tergantung kita, bukan tergantung siapa-siapa. Memang tidak mudah, tetapi bisa.
    Dalam 1 Yohanes 3 dikatakan, “Setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah. Demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” Jadi, tidak ada kompromi. Kalau kita tidak melakukan kebenaran, berarti kita bukan berasal dari Allah. Lalu ayat yang ke-9, “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi, sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia, dan dia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” Luar biasa. Jadi kita harus sampai pada keadaan di mana kita tidak bisa berbuat dosa lagi. Bahkan kepada orang yang menyakiti kita pun, kita tidak dendam. Tidak berusaha untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. 
    Tuhan berkata 1 Petrus 1:16, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Tidak mungkin Allah perintahkan kita melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Jangan menganggap Tuhan itu kejam, memberi perintah yang tidak bisa kita lakukan. Tuhan semesta alam, Elohim Yahweh, Tuhan kita, Juruselamat kita, Yesus Kristus, tidaklah demikian. Dia memberi perintah yang pasti kita dapat lakukan. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 6:17 mengatakan, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” 
    Memang tidak mudah dan Yesus sendiri berkata, “Berjuanglah masuk jalan sempit. Karena banyak orang berusaha masuk, tetapi tidak bisa.” Banyak orang yang memiliki keinginan, tetapi tidak punya perjuangan. Tidak ada perjuangan, tidak bisa. Tuhan pasti tolong kita. Masalah kita akan selesai kalau kita punya tiga hal ini. Yang pertama, hidup suci. Kalau kita merasa ini suatu hal yang berat, benar. Bahkan sejujurnya, menjadi kudus tidak bercela itu mustahil.  Kedua, melayani Tuhan, artinya berbuat sesuatu untuk pekerjaan-Nya. Tidak harus ada di dalam aktivitas gereja. Tetapi di mana pun kita berada, kita bisa punya kesempatan untuk melayani Tuhan.  Ketiga, diam. 
    Menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, yang targetnya berkenan di hadapan Allah, tidak mudah. Tetapi Tuhan pasti akan menolong kita. Jadi sebelum berakhir hidup ini, kita sudah melakukan kehendak Allah. Jangan sampai kita menutup mata, lalu kita belum melakukan kehendak Allah. Coba, sekarang kita memeriksa hidup kita. Apakah kita memiliki tekad hidup suci yang temporal? Tekad itu harus kita kobarkan terus. Bagaimana Tuhan mau menolong kita, kalau kita tidak menolong diri kita sendiri? Jadi,
    9 min
  • Penguasaan Iblis
    Pasti orang Kristen yang benar merindukan hidup benar, merindukan hidup suci. Tetapi kerinduan itu bisa tidak konstan. Kadang-kadang rindu hidup benar, kadang-kadang tidak. Mungkin lebih banyak tidaknya. Hanya pada waktu di gereja mendengarkan khotbah pendeta, lalu tergerak mau hidup benar, tergerak sesaat hidup benar. Tetapi ketika keluar dari gereja, gairah atau semangat itu hilang atau lenyap lagi. Rasanya hal ini terjadi dalam kehidupan banyak orang, termasuk dalam kehidupan hamba Tuhan. Kalau kita naik pesawat terbang lalu ada turbulence, ada guncangan hebat di atas, kita minta ampun kepada Tuhan atas dosa, kesalahan yang kita masih lakukan. Lalu kadang-kadang disertai janji untuk hidup benar, hidup suci. 
    Tetapi setelah pesawat mendarat dengan baik di landasan pacu, lenyap janji itu. Sudah, aman. Sudah tidak ada dalam turbulence. Itu namanya tekad yang situasional, komitmen yang situasional. Dan itu terjadi dalam hidup kita selama bertahun-tahun. Akibatnya, kita tidak pernah hidup suci, kita tidak pernah hidup benar. Keadaan ini sering tidak diratapi, karena dianggap wajar. Yang lain juga berbuat dosa, dan aman-aman saja. Lalu tidak jarang orang-orang Kristen menggampangkan hidup ini, menganggap remeh hidup ini, tidak sungguh-sungguh mau bertobat. Betapa celakanya kehidupan seperti ini. Sebab dengan kehidupan yang tidak memiliki komitmen yang permanen untuk hidup suci, hidupnya tidak akan terberkati. 
    Tentu berkat di sini bukan hanya menyangkut makan minum, melainkan banyak aspek. Berkat di sini artinya seseorang bisa menjalani hidup, lalu bertumbuh dalam kesempurnaan untuk serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa, dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Faktanya, tidak bisa dibantah, banyak orang Kristen yang seperti itu, lalu merasa keadaannya nyaman-nyaman saja dan tetap hidup di dalam keadaannya yang tidak atau kurang menyenangkan hati Allah. Orang seperti ini—kalau ia tidak bertobat—masuk neraka. Sebab yang masuk surga adalah orang-orang kudus. Bukan orang-orang yang setengah kudus. Jadi kalau seseorang tidak hidup di dalam kekudusan, tidak bisa masuk surga. 
    Dalam Wahyu 21:8 dikatakan, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji yang tega menyakiti sesama, orang-orang pembunuh. Bukan hanya menghabisi nyawa orang, tetapi membenci seseorang. Orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala, dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang. Inilah kematian yang kedua.” 
    Mengerikan. Hal ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak kita untuk benar-benar hidup suci mulai sekarang. Jangan main-main. Jadi, kita tidak boleh punya komitmen yang hanya situasional. Kitalah yang menentukan ambisi, hasrat, keinginan, tekad untuk menjadi berkenan di hadapan Tuhan. Jangan hanya berkata, “Saya penuh kekurangan dan kelemahan. Tetapi nantilah saya bertobat.” Jangan nanti, harus sekarang. Perhatikan anak-anak yang bodoh di sekolah, bahkan tidak naik kelas, mereka sering menunda mengerjakan PR. Tidak mungkin jadi juara, bahkan sulit untuk bisa naik kelas. Kita jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jadi begitu kita punya dosa, segera kita selesaikan. Dan kita tahu kelemahan kita apa. Apalagi kalau kita benar-benar memperkarakannya di hadapan Tuhan. Roh Kudus pasti bicara, tidak mungkin tidak. 
    Dan kesempatan ini berharga sekali. Tidak bisa kita tukar dengan apa pun. Waktu seseorang sekarat di ujung maut, baru ia mengerti betapa berharganya waktu yang dia miliki untuk bebenah diri supaya berkenan di hadapan Tuhan. Apalagi kalau sudah menutup mata, lalu dibawa di hadapan takhta pengadilan Allah. Betapa mengerikan keadaan itu. Masalahnya, kita sering membenarkan diri dan bersikap permisif terhadap dosa yang kita lakukan, dengan beralasan proses, kelemahan, kekurangan kita. 
    Sejatinya, ketika kita berbuat dosa, ada penguasaan Iblis di dalamnya.
    10 min
  • Rela Kehilangan
    Iblis memiliki anak panah yang dihujamkan pada diri kita, demikian dikatakan dalam firman Tuhan, maka kita harus berhati-hati dengan anak panah-anak panah ini. Dari sejak masa kecil, dunia dipakai Iblis untuk mengasuh kita. Kita ditanamkan selera, ambisi, nafsu-nafsu, seperti peluru yang ditanamkan di dalam diri kita. Misalnya, materialistis, judi, zina, tidak bisa menguasai diri, pornografi, mau melukai orang. Matius 18:8-9 mengatakan, “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang daripada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu daripada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.” 
    Kita harus rela kehilangan bagian tubuh—yang sama dengan kehilangan kesenangan—demi kesucian hidup, demi ketaatan. Mungkin sudah puluhan tahun kita mengejar kesucian hidup, tetapi kita mengalami kesulitan untuk membunuh kedagingan ini. Kita tidak dapat mencapai kesucian yang kita mimpikan. Kita juga meminta Tuhan untuk mematikannya. Sampai melalui perjalanan panjang, baru kita mengerti bahwa kitalah yang harus mematikan itu. Jadi kalau kita berkata, “Matikan aku, Tuhan,” itu berarti kita harus mematikan apa yang Tuhan tidak berkenan yang ada di dalam diri kita. Seperti kalau kita berkata, “Berikanlah kami makanan kami pada hari ini secukupnya,” itu berarti kita harus pergi bekerja. Kita tidak mengharapkan Tuhan mengirimkan beras dari langit, atau tiba-tiba ada uang masuk ke rekening kita. 
    Lewat perjalanan panjang di mana makin hari senja buat kita, dan makin mendesak, maka kita harus terus mengampanyekan hidup di dalam kekudusan. Dan yang harus kita lakukan adalah berani memenggal nafsu kedagingan kita. Bagaimana caranya? Buatlah janji. Kalau kita punya kebiasaan yang Tuhan tidak berkenan, buatlah janji dengan mengatakan “Aku tidak akan melakukan ini lagi.” Sedetail-detailnya. Mungkin ada satu, dua gagal. Kalau gagal, artinya apa? Kita merobek kesucian. Tetapi kalau kita bertobat, seperti kain, kesucian itu menyambung lagi. Dan kalau kita punya kesempatan berbuat dosa, namun kita tidak lakukan, maka kesucian kita akan makin tebal sampai tidak bisa dirobek. Tetapi kalau kita sering merobeknya, kesucian kita akan hancur, tidak bisa disusun lagi. Jadi kita tidak boleh takut untuk membuat janji. Daging kita itu licik, jahat dan tahu momentumnya.
    Hidup ini tragis. Mau kaya, mau miskin, apa pun, tragis. Yang bisa membuat tidak tragis hanya satu, yaitu bertemu Tuhan dan dijemput ke surga. Itu saja, tidak ada hal yang lebih baik dari itu. Mari kita berubah. Ingat, tidak ada orang yang bisa melarang kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan kita. Kita bisa mengarahkan diri kita kepada Tuhan. Kalau kita berani hidup suci, tidak mungkin kita gagal. Pasti kita dilindungi dan dibela Tuhan. Kalau kita memperlakukan Tuhan secara khusus dan istimewa, Tuhan juga memperlakukan kita secara khusus dan istimewa. Sebab Tuhan berlaku suci kepada orang yang suci. Tuhan berlaku belat-belit kepada orang yang belat-belit. Kalau kita percaya ada Allah yang hidup, yang berkuasa melindungi kita dan anak cucu kita dan orang orang yang kita kasihi, mengapa kita tidak membuktikannya dengan kesucian hidup kita? 
    Kita naikkan doa, “Tuhan, aku berjanji atas apa yang tidak dapat kulakukan. Tetapi aku mencintai-Mu. Aku tidak punya pilihan. Aku minta tolong buat aku bisa memenuhi janji ini. Aku tahu aku tidak bisa memenuhi janji ini. Tetapi Engkau bisa beri aku kekuatan untuk bisa memenuhinya.” Di lain pihak, Iblis akan bicara, daging kita akan bicara, “Kamu jangan janji, kamu pasti akan mengingkarinya. Kamu akan lebih menghina Tuhan. Lebih baik kamu tidak janji, daripada kamu janji, kamu tidak tepati.” Itu suara setan. Suara Roh Kudus berkata, “Lakukan.
    8 min
  • Berani Mengkhianati Diri
    Seseorang yang memiliki penyerahan diri yang benar kepada Allah—tentu melalui proses—akan sampai pada kawasan atau level yaitu ia akan merasa bahwa yang tersisa dalam hidupnya hanyalah Tuhan. Pada waktu kita masih belum dewasa rohani, banyak hal yang kita miliki, termasuk Tuhan di dalamnya. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, ketika kita makin bertumbuh menikmati hadirat Tuhan, sukacita Tuhan, nilai-nilai rohani; nilai-nilai Kerajaan Surga, maka yang tersisa dalam hidup kita hanyalah Tuhan. Namun hal ini tidak bisa diajarkan dengan kata-kata, tetapi harus dialami.
    Sering Tuhan membawa kita kepada keadaan-keadaan yang sulit. Tetapi keadaan itu menggiring kita untuk bisa melepaskan kebanggaan-kebanggaan, percintaan dunia, keinginan-keinginan daging, yang kemudian akhirnya bisa mengerti bahwa yang tersisa dalam hidup ini hanyalah Tuhan. Tuhan menjadi satu-satunya harta kekayaan dan kebahagiaan kita. Orang percaya yang benar pasti merasa takut kalau masih ada sesuatu yang ia merasa memiliki, dan itu menjadi kebahagiaan hidupnya. Apakah itu harta, kekayaan, kenikmatan, keagungan, apa pun. Terus terang, dulu kita bangga punya gelar. Lalu secara terselubung atau pun terang-terangan, ikut berkompetisi. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika kita mulai lebih mengenal kebenaran, kita mulai menghayati Kerajaan Surga, ditambah dengan goresan-goresan luka, lalu kita mulai mengarahkan diri ke surga. Inilah vitamin bagi jiwa kita.
    Kita takut kalau kita masih memiliki sesuatu. Sampai akhirnya, kita bersedia kehilangan apa pun dan siapa pun, kalau itu Tuhan kehendaki. Terserah Tuhan. Ini kebalikan dari orang yang merasa takut kalau ia tidak memiliki sesuatu yang dapat membahagiakan dirinya. Sebagai orang percaya, kita bisa memiliki segala sesuatu—gelar, pangkat, harta—tetapi kalau kita bertumbuh secara benar, kita bisa tidak merasa memilikinya. Kalau kita merasa memilikinya, berarti kita menolak hidup sebagai anak tebusan. Sebab sebagai anak tebusan yang ditebus oleh darah Yesus, artinya kita tidak memiliki diri kita sendiri. Segala sesuatu yang kita miliki menjadi milik Tuhan. Itu adalah konsekuensi menjadi anak tebusan. 
    Seharusnya di akhir pengembaraan hidup kita, setelah mengarungi perjalanan panjang, kita sampai pada kawasan ini. Bahwa yang tersisa dalam hidup ini hanyalah Tuhan. Tuhan menjadi satu-satunya harta kekayaan dan kebahagiaan. Kalau tidak begini, berarti kita mengkhianati Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus berani mengkhianati diri kita sendiri untuk bisa membahagiakan Tuhan. Bagaimana ini bisa terjadi? Kita harus belajar kebenaran dan jujur terhadap keadaan hidup kita. Apakah masih ada yang menjadi kebahagiaan hidup? Bagi yang sering melihat penderitaan dan tragisnya hidup, hal itu memicu kita untuk memindahkan hati kita di langit baru bumi baru. Kita tidak bisa menikmati kebahagiaan di tengah-tengah dunia yang hancur ini. Selain itu, kita tidak bisa bahagia sementara orang di sekitar kita hidup di dalam penderitaan, terlebih lagi banyak orang yang hidup di bawah bayang-bayang maut menuju kegelapan abadi. 
    Pada akhirnya kita menyadari, semua yang dunia tawarkan, semu. Namun, jika seseorang tidak pernah sampai pada kawasan ini—bahwa akhirnya hanya Tuhan yang tersisa dalam hidup kita—berarti kita masih ada dalam belenggu dunia dan kita memiliki kekristenan yang salah; kekristenan yang palsu. Kekristenan yang palsu tidak membawa kita sampai pada tingkat penyerahan ini. Kalau kita tidak mau sampai pada tingkat penyerahan ini, tidak mungkin kita dapat menghormati dan mengasihi Allah dengan benar. Tidak mungkin kita dapat mengabdi kepada Allah secara utuh dan memiliki kerinduan bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus. Kita tidak sanggup menghayati dunia ini bukan rumah kita dan tidak akan merindukan pulang ke surga.
    Kalau dulu orang Kristen menghadapi aniaya, hal itu karena memang Tuhan mau mereka bersih. Yang mereka hadapi adalah aniaya kekaisaran Roma dan agama Yahudi.
    10 min
  • Penyerahan yang Dewasa
    Sejatinya, banyak orang yang sebenarnya belum siap menjadi makhluk kekal atau sebenarnya menolak untuk menjadi makhluk kekal; tidak menerima keberadaannya sebagai makhluk kekal. Kalau kita melihat hewan atau binatang, secerdas-cerdasnya binatang, mereka tetap binatang, mereka tetap hewan. Satu hal yang membedakan manusia dengan hewan adalah hewan tidak menyadari, tidak mampu dan memang tidak diberi komponen untuk bisa menghayati kekekalan. Tetapi ketika titik di mana seseorang harus meninggalkan dunia, namun dia tidak mau, di situ terjadi stagnasi. Untuk menyeberangkan seutuhnya hati kita ke langit baru dan bumi baru, tidak mudah. Sama dengan kalau kita percaya Allah itu ada, tetapi bagaimana kita bisa memiliki kegentaran terhadap Allah, seakan-akan kita ada di hadapan pengadilan-Nya, itu pun tidak mudah.
    Mudah mengatakan “Kutaruh Tuhan di mataku,” tetapi faktanya kita tidak sungguh-sungguh menghayati kehadiran Allah. Kita tidak menghayati bahwa Allah itu hidup, mata-Nya melihat seperti candid camera yang selalu mengawasi kita. Buktinya apa? Kita sembarangan berbicara, berpikir, dan bertindak. Apalagi Dia tidak kelihatan. Apalagi dalam pengalaman hidup, kadang-kadang kita terjepit. Tuhan seakan-akan tidak membela. Tuhan memojokkan dan membawa kita di satu situasi yang mana kita direndahkan, dikalahkan, disalahkan, bukan saja oleh orang luar, tetapi juga oleh orang di sekitar kita yang sudah begitu kita kasihi dan percayai. Maka Tuhan luar biasa memproses kita lewat segala kejadian. 
    Kita mungkin pernah melewati kejenuhan. Kita sendiri bingung, kenapa kita jenuh? Tetapi akhirnya kita tahu. Kita jenuh karena kita mempunyai kesenangan-kesenangan pribadi. Apakah itu kehormatan, nilai diri, keluarga, pelayanan, dsb. Tetapi ketika kita mulai serius meninggalkan dunia, tidak punya kesenangan selain Tuhan dan Kerajaan-Nya, kita seperti mulai dari nol. Tidak ada lagi yang mau kita pertahankan. Kita yakin, Tuhan yang benar adalah Allah Abraham, Ishak, Yakub, Allah Israel, Allah Bapa di surga yang mengutus Putra-Nya. Namun yang paling mengerikan adalah banyak orang tidak berpikir bahwa suatu hari harus berhadapan dengan Allah dan harus mempertanggungjawabkan hidupnya. Kalau kita selalu di dalam kesadaran ada Allah yang hidup, di mana kita harus menjaga perasaan-Nya, kita akan bertanggung jawab kepada Allah atas semua yang kita lakukan, kita pasti hati-hati dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan. 
    Banyak orang yang sebenarnya belum siap jadi manusia. Karena filosofinya, “Mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena mau menyelamatkan nyawa di bumi. Seperti orang-orang Israel di Perjanjian Lama yang orientasinya masih berkat jasmani. Padahal kita yang diberi mandat oleh Tuhan untuk membinasakan pekerjaan Iblis. Jadi orang percaya itu memang hidupnya diproyeksikan untuk itu.
    Para pelayan Tuhan biasanya “menyerahkan hidup” untuk pelayanan. Tetapi ini sering sarat dengan agenda pribadi. Namun kita mau belajar memiliki penyerahan yang dewasa. Kita harus memilih, kita mau menyerahkan diri ke siapa: dunia atau Tuhan. Tidak boleh dua-duanya. Karena, Tuhan berfirman di Matius 6:24, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Kalau seseorang menyerahkan hidupnya kepada dunia, enak. Dia boleh berbuat apa saja yang cocok dengan daging dan jiwanya. Di mana daging yang sudah merekam banyak nafsu, dan menuntut untuk dipuaskan. Tetapi kalau kita menyerahkan hidup untuk Tuhan, itu masalah. Karena kita akan dibelenggu. 
    Kita sudah tidak merdeka lagi. Kita harus menjadi tawanan Tuhan. Seperti yang Paulus katakan, “Aku tidak tahu apa yang akan aku alami, tetapi penjara dan sengsara menanti aku. Aku sudah menjadi tawanan roh.” Ini adalah ciri dari orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan. Kita mesti terbelenggu. Penyerahan diri yang dewasa kepada Tuhan berarti kita tidak punya kepentingan pribadi lagi. Dan kita dapat memulainya ketika berdoa sudah tidak mengatur Tuhan,
    9 min
  • Ancaman Hidup
    Sebagai manusia, kita bisa mengalami kegagalan dan kesalahan dalam berelasi, berinteraksi dengan Allah. Kalau ada sesuatu yang kita takuti, maka sesuatu itu akan mengurangi rasa hormat dan takut kita kepada Allah. Karena takut kurang bahagia, maka kita berusaha untuk punya uang sebanyak-banyaknya, harta selimpah-limpahnya. Merasa kurang bahagia kalau tidak memuaskan daging, maka kita akan memuaskan daging kita. Padahal harus selalu kita ingat bahwa tidak ada ancaman dalam hidup ini kecuali terpisah dari Allah. Maka, firman Tuhan katakan dalam Lukas 12:4, “… janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak bisa berbuat apa-apa lagi,” artinya tidak ada keberlangsungannya di kekekalan. 
    Mestinya kita memandang hal terpisah dari Allah sebagai ancaman hidup satu-satunya. Maka kalau bicara soal api kekal, kita gentar bahkan paranoid. Tetapi hari ini banyak orang yang tidak takut terhadap kenyataan terpisah dari Allah. Kalau seseorang tidak takut terhadap kenyataan keterpisahan dengan Allah, ia juga tidak memiliki perasaan takut secara proporsional kepada Allah. Walaupun kelihatannya dia santun, beretika, orang Kristen yang baik, mungkin juga kalau seorang aktivis gereja atau pendeta, tampak rohani. Mereka lebih takut kepada banyak hal sehingga demi segala kepentingan dan kesenangan, mereka mengorbankan perhatian yang seharusnya diberikan untuk perkara-perkara rohani, guna menjadi anak-anak Allah dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.
    Kita bisa melihat dari cara mereka menghargai uang, menghargai harta, atau dari perilakunya yang menunjukkan dia tidak takut akan Allah secara patut. Kalau dia santun, itu karena tidak mau dianggap tidak bemoral di mata masyarakat, atau karena tidak mau masuk penjara, dimusuhi orang, dan lain-lain. Tetapi dia tidak takut dimusuhi Allah. Atau kalimat yang tepat, tidak takut menjadikan dirinya musuh Allah, sebagaimana dikatakan dalam Yakobus 4:4, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” 
    Ini berlaku untuk siapa saja. Jangan karena kita sudah berteologi, maka kita merasa sudah beda dengan manusia yang tidak berteologi. Faktanya, kita lihat di media sosial bagaimana kelakuan orang-orang yang pandai berteologi. Masalahnya, jika kita berlarut-larut tidak memiliki takut akan Allah secara benar, maka kita tidak pernah sungguh-sungguh membutuhkan keselamatan, bagaimana menjadi manusia yang dikembalikan ke rancangan semula dan menjadi seorang yang benar-benar berkenan. Mari kita belajar simulasi seakan-akan kita ada di hadapan takhta Allah. Lakukan itu waktu kita berdoa, kita menghadap Allah, kira-kira masih adakah dosa yang tersimpan? Kalau ada, kita harus merasa takut. 
    Bukan harta dunia saja, namun kebanggaan, kesombongan, semua itu membuat kita tidak bulat utuh mengasihi, menghormati dan takut akan Allah. Kalau kita tidak membiasakan diri untuk simulasi di hadapan Allah, pasti di ujung maut pun kita tidak pernah memiliki perasaan takut yang benar. Baru nanti ketika di hadapan pengadilan, kita bergetar hebat. Tetapi sudah terlambat. Sudah terbuang ke dalam kegelapan abadi. Baru kita menyesal mengapa ketika di dunia tidak menghormati Dia, tidak mengasihi Dia, tidak takut akan Dia, dan tidak membela Tuhan segenap hidup. Bahkan jadi pelayan Tuhan pun hanya karena nafkah dan rezeki. 
    Kalau kita melihat gerak radikalisme di sekitar kita, bisa membuat kecut hati orang-orang Kristen. Namun jangan takut, dulu penganiayaan zaman Roma juga dahsyat, tetapi orang Kristen tetap setia. Kita tidak usah ikut-ikut berbicara, diam saja. Jangan berkomentar di media sosial. Makanya kita belajar “melukis” setiap hari. Melukis pikiran dan perasaan Tuhan. Makin hari, makin bagus lukisan kita. Waktu kita meninggal, kita membawa lukisan yang indah di mata Allah. 
    9 min
  • Lebih dari Segala Sesuatu
    Segala keindahan dan kebaikan alam semesta ini tentu tidak akan dapat menandingi Allah yang menciptakannya. Tetapi kenyataannya, keindahan Tuhan hanya bisa dihayati oleh orang-orang yang benar-benar telah melepaskan dirinya dari kesenangan apa pun, dari percintaan dunia ini. Jadi, pengertian, pengetahuan, dan persetujuan kita belum pasti membuat kita benar-benar mengalami, menikmati, menghayati keindahan Tuhan itu. Sebab keindahan Tuhan hanya dapat dinikmati oleh mereka yang benar-benar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan dan tujuan hidup. Dan sejatinya, ini tidak cukup direspons dengan kata “amin,” tetapi harus benar-benar kita alami. 
    Walaupun dari muda kita berkata, “Kaulah segalanya dalam hidup ini,” tetapi faktanya kita tidak benar-benar menjadikan Yesus segalanya. Ironis, sangat sedikit orang yang memiliki prinsip dan langkah seperti ini, bahwa Tuhan itu satu-satunya kebahagiaan, satu-satunya tujuan hidup. Pada umumnya dan hampir semua orang telah terikat oleh percintaan dunia, terikat oleh kesenangan dunia dan berbagai hal yang menurut dirinya membuat ia bahagia dan lengkap. Ini yang harus kita waspadai: ketika kita memuaskan satu kesenangan, kita menumbuhkan satu monster; dua kesenangan, dua monster; tiga kesenangan, tiga monster. Dan rata-rata kita pasti punya beberapa kesenangan. 
    Kalau bukan Tuhan yang menjadi kebahagiaan dan kesenangan kita, kita membuat atau membangun monster. Semakin kita memuaskan monster itu, semakin kuat dia. Jadi, jangan lagi berkata, “Sekali ini saja saya lakukan, nanti tidak lagi.” Sekali kita memberi umpan kepada monster itu, dia semakin kuat dan terus meningkatkan cengkeramannya di dalam hidup kita. Sampai kita tidak bisa lepas lagi. Ini mirip dengan orang-orang yang kecanduan. Seseorang bukan hanya kecanduan alkohol atau narkoba saja, melainkan kesenangan juga bisa menjadi ikatan. Keinginan dipuji, keinginan dianggap penting, dianggap terhormat, belum lagi kekayaan, kesenangan, keinginan daging, kuliner, dan seks. Itu semua bisa menjadi belenggu jika tidak ditempatkan secara proporsional. Misalkan ‘kuliner’, bukan berarti tidak boleh makan, tetapi ada etikanya. Seks bukan tidak boleh, tetapi ada etikanya. 
    Mari kita secara jujur mengakui bahwa kita belum menghayati keindahan Tuhan secara benar, dan belum menikmati-Nya. Karena kesenangan-kesenangan hidup telah menggeser selera kita dalam menikmati Tuhan. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Matuius 16:26 maupun Markus 8:36, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya, dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Ayat yang senada bunyinya di Lukas 9:25 “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Ayat-ayat ini secara tidak langsung mengemukakan bahwa lebih dari segala sesuatu yang dapat kita peroleh dan dapat kita miliki di dunia ini, tidak terpisah dari Allah adalah satu-satunya yang dibutuhkan oleh manusia. Itulah keindahan, itulah kebahagiaan sejati. 
    Lebih dari segala sesuatu yang dapat kita peroleh dan miliki di dunia ini, tetap ada dalam persekutuan yang intim dengan Allah adalah satu-satunya yang kita butuhkan. Jangan sampai kita terpisah dari Allah. Ini bukan hanya menyangkut berkat jasmani, bahkan berkat jasmani bagi umat Perjanjian Baru sudah tidak mendapat tempat lagi. Di atas segalanya yang penting adalah kita memiliki Tuhan; memiliki keintiman dengan Tuhan. Tetapi kita tidak bisa memiliki Tuhan kalau tidak dimiliki Dia sepenuhnya. Namun, banyak orang mau memiliki Tuhan—terutama berkat-Nya—tetapi tidak bersedia dimiliki oleh Dia. Itu adalah sikap semena-mena terhadap Tuhan. Kita akan memiliki Tuhan, memiliki berkat-Nya, memiliki tenaga-Nya, mengalami perlindungan, penjagaan-Nya, jika kita mau dimiliki Dia sepenuhnya.
    Maka jangan heran kalau kita tidak pernah memiliki Allah, hal itu karena kita tidak pernah dimiliki oleh Dia. Terhadap dewa, ilah, allah yang disembah,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…