Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Selagi Masih Ada Kesempatan
    Kalimat “selagi masih ada kesempatan” bisa memiliki pengertian yang berbeda dari dua kelompok besar manusia yang memiliki perbedaan prinsip hidup atau filosofi hidup. Sudut pandang pertama, “selagi masih ada kesempatan” berarti kesempatan untuk menikmati kehidupan di bumi ini semaksimal mungkin. Dan itu fakta yang tidak bisa dibantah. Pada umumnya atau hampir semua manusia berfilosofi atau berprinsip hidup ini. Sedangkan sudut pandang kedua, ini langka. “Selagi masih ada kesempatan” artinya kesempatan untuk sepenuhnya mengabdi dan melayani Tuhan, mempersembahkan hidup bagi Tuhan. Namun, hampir semua manusia memiliki cara pandang yang salah. 
     “Selagi masih ada kesempatan” dalam sudut pandang pertama, disinggung oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:32, “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja, aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus. Apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum sebab besok kita mati.” Ini filosofi hidup hampir semua manusia. Jika berdasarkan perilaku, cara hidup, gaya hidup manusia pada umumnya atau manusia kebanyakan, Paulus juga dapat menggunakan kesempatan untuk kesenangan-kesenangan hidup seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Jadi, jangan kita berpikir Paulus tidak memiliki kesempatan. Ia ada di dalam ladang pelayanan pekerjaan Tuhan, tetapi kesempatan itu ada.
    Jangan berpikir kalau orang sudah memberi diri menjadi full timer; sepenuh waktu untuk pekerjaan Tuhan, masuk Sekolah Tinggi Teologi, memasuki pendidikan seminari Alkitab, menjadi pendeta, lalu kesempatan untuk menikmati kesenangan hidup seperti kebanyakan manusia lain tertutup. Tidak. Rasanya kalau sudah “membuang diri” ke ladang Tuhan berarti jauh dari dunia. Itu pikiran yang keliru. Sebab walaupun seseorang ada di ladang Tuhan, memberikan hidup sepenuh waktu, istilah yang kita sering dengar “full timer,” itu bukan berarti menikmati kesenangan hidup seperti yang dinikmati manusia pada umumnya tertutup. 
    Dalam pernyataan Paulus tadi hendak ditunjukkan bahwa ia juga memiliki kesempatan atau bisa menggunakan kesempatan untuk menikmati kehidupan seperti manusia pada umumnya. “Jika oleh pertimbangan-pertimbangan manusia. Jika hanya oleh pertimbangan-pertimbangan manusia.” Ei kata anthropon. Tetapi Paulus memilih yang lain, yang berbeda. Itulah sebabnya di Filipi 1:21 Paulus mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Selanjutnya di 2 Korintus 5:14-15, “Kalau Yesus sudah mati untuk kita semua, kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Dia.” 2 Timotius 4:7-8, Paulus sudah menyelesaikan pertandingan akhir. Darahnya pun ditumpahkan, rela dicurahkan untuk pengabdian pelayanannya bagi Tuhan. 
    Ini adalah kehidupan standar sebagai pengikut Kristus atau sebagai orang percaya. Standarnya memang begitu. Oleh karenanya, Paulus bisa mengatakan, “Ikutilah teladanku seperti aku ikut teladan Kristus.” Semua kita adalah orang-orang yang telah diwarnai. Tentu yang pertama oleh orang tua kita, lingkungan keluarga, plus gen yang kita terima dari orang tua. Juga diwarnai oleh pengaruh dunia sekitar kita; filosofi-filosofi, prinsip-prinsip hidup. Dan di kalangan orang Kristen, prinsip hidup yang kita warisi itu kebanyakan begini: menikmati dunia selagi masih hidup—walaupun tidak diucapkan—dan nanti setelah mati menikmati surga. Bedanya, kita plus ada pelayanan. 
    Prinsip ini seolah-olah benar, padahal sejatinya, ini menyesatkan. Maka sering kita mendengar orang berkata, “Kita masih hidup di dunia. Jangan bicara surga, langit baru bumi baru terus. Yang realistis, lah.” Padahal justru selama masih hidup di dunia, harusnya kesempatan hidup ini digunakan untuk berurusan dengan Allah secara benar. Selagi masih ada kesempatan. Bukan nanti setelah mati, baru menikmati surga. Ini orang-orang licik dan munafik. Sebab kalau kita masih memberi peluang yang berharap ada kesenangan hidup di bumi, itu berarti kita belum mengabdi dan melayani Tuhan dengan bena...
    9 min
  • Hari Ini
    Ibrani 3:15, “Tetapi apabila pernah dikatakan: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.’”
    Ibrani 4:7, “Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu hari ini, ketika Allah setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud, seperti dikatakan di atas, pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.”
    Kalimat-kalimat itu jelas menunjukkan bahwa ada satu waktu Tuhan berbicara. Tuhan memiliki jadwal yang diberikan kepada masing-masing kita. Maka jika kita mendengar suara Tuhan hari ini, Tuhan menghendaki kita menghormati Dia. Sebagai orang tua, kita bisa merasakan kesal, sakit hati, sedih bahkan marah kalau kita menasihati anak-anak, tetapi anak-anak tidak mau mengerti. Demikian pula Tuhan. Ketika Tuhan menjadwalkan satu waktu berbicara kepada kita, Tuhan menghendaki agar kita menghargai Tuhan, dengan mendengarkan suara-Nya.
    Kalau dikatakan bahwa Tuhan memiliki waktu untuk berbicara, dan diwakili dengan istilah “hari ini,” itu berarti bisa tidak ada waktu lain. Sebenarnya ini satu hal yang mengerikan. Fakta bahwa seseorang kehilangan kesempatan memperoleh berkat adalah sebuah hal yang pasti bisa terjadi. Dalam Alkitab, kita menemukan Esau yang kehilangan kesempatan, walaupun dengan meneteskan air mata, teriak dan ratap tangis. Maka, firman Tuhan juga mengatakan, “Pergunakanlah waktu yang ada.” Tuhan Yesus juga berkata di Yohanes 9:4, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” 
    Setiap kita memiliki anugerah lawatan Tuhan. Kalau Tuhan melawat kita, hendaknya kita mengerti dan menerima lawatan Tuhan tersebut. Jangan keraskan hati seperti bangsa Israel di padang gurun, yang akhirnya mereka ditewaskan di padang gurun. Sadarilah bahwa kegagalan umat pilihan sampai ke Tanah Kanaan adalah sebuah fakta, dan hal itu bisa terjadi juga pada kita. Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir agar mereka sampai Tanah Kanaan, tetapi faktanya sebagian besar mereka tewas di padang gurun. Apakah karena ketidakberdayaan Allah menuntun mereka?
    Bukankah dengan mudah Tuhan mengobrak-abrik Mesir, dan dalam sekejap mereka bisa keluar dengan bebas? Bukankah Tuhan bisa membelah Laut Kolsom? Apa sulitnya bagi Tuhan untuk membawa bangsa Israel masuk Tanah Kanaan? Tidak sulit, tetapi yang Tuhan perkarakan itu karakter, watak manusia batiniah, kehidupan rohani dari bangsa itu. Bagi Tuhan, tidak sulit memberikan sepuluh tulah kepada bangsa Mesir dengan bervariasi. Tidak sulit bagi Tuhan untuk membelah Kolsom. Tidak sulit bagi Tuhan merubuhkan tembok Yerikho, dan mengeringkan Sungai Yordan, tetapi sulit bagi Tuhan untuk secara ajaib mengubah watak karakter bangsa itu, karena hal itu tidak di dalam kodrat-Nya. Untuk mengubah watak dan karakter bangsa itu, membutuhkan respons dari bangsa itu sendiri. Firman Tuhan mengatakan, agar bangsa itu nanti tidak menyesal ketika sampai Tanah Kanaan, dan ternyata yang dihadapi itu adalah bangsa yang kuat, maka Tuhan membuat mereka berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun.
    Walaupun sebenarnya mereka bisa menjangkau Kanaan hanya dalam beberapa minggu saja, namun Tuhan membuat mereka berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun, sebab Tuhan mau mengubah karakter watak mereka, dari bangsa budak menjadi bangsa yang berdaulat mewarisi negeri Kanaan yang permai, yang dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka, Abraham. Ironis, sebagian besar mereka tewas di padang gurun. 1 Korintus 10:5-6 mengatakan bahwa semua itu menjadi contoh bagi kita yang hidup di zaman akhir ini. Artinya, jangan kita seperti bangsa Israel yang tidak dengar-dengaran, yang pada akhirnya Tuhan memutuskan tidak bisa masuk tanah Kanaan. 
    Demikian pula dengan kehidupan orang Kristen, yang akhirnya bisa tidak sampai tanah Kanaan, sebab ketika Tuhan berbicara pada waktu-waktu tertentu, sesuai jadwal Tuhan,
    7 min
  • Membaca Jejak Tuhan
    Dalam perjalanan hidup kita sebagai anak-anak Allah, sebagai umat pilihan yang dikasihi oleh Bapa, pasti ada momentum-momentum penting yang Tuhan izinkan kita alami atau kita jalani, yang melaluinya Tuhan mau mengarahkan kita kepada-Nya atau mengarahkan kita kepada rencana-Nya yang agung, besar, dan mulia. Maka, kita harus dapat menangkap dan menggunakan momentum itu dengan benar. Yusuf, anak Yakub, mengalami puncak penderitaan bukan hanya pada waktu ia dibuang ke dalam sumur, atau pada waktu dia dijual menjadi budak, melainkan ketika dia masuk ke dalam penjara dengan tuduhan hendak memperkosa istri tuan Potifar yang adalah pejabat Firaun. Pada saat itu, langit hidup Yusuf menjadi rubuh. Masa depan hidup anak Yakub ini seolah gelap gulita. 
    Tetapi ternyata, itu momentum penting; momentum yang Tuhan izinkan dialami Yusuf untuk mengangkatnya, yang kemudian menjadi awal dari keselamatan seluruh keluarga Yakub, dan perjumpaan Yakub dengan anak kesayangannya ini. Allah memiliki banyak jalan, dan jalan-jalan-Nya sering tidak kita pahami. Tetapi, Allah tidak pernah mendatangkan kecelakaan kepada kita, sebab rancangan-rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, demikian dalam kitab Yeremia ditulis.
    Daud, mengalami puncak penderitaan bukan hanya pada waktu dia menghadapi Goliat, tetapi ketika nyawanya seperti telur di ujung tanduk sebab dia dikejar, diburu nyawanya oleh Saul. Dia dilawan oleh bangsanya sendiri. Semua pasukan Saul memburu nyawanya. Seorang anak gembala menghadapi raja dengan ratusan tentara atau prajurit. Tetapi, ternyata itu momentum bagi Daud sebagai latihan untuk suatu saat dia menjadi Raja Israel. Demikian pula dengan gua singa Daniel dan dapur perapian yang dinyalakan (dipanaskan) 7 kali lipat bagi Sadrakh, Mesakh, Abednego; itulah momentum-momentum yang mengubah hidup mereka.
    Setiap kita pasti memiliki momentum dalam menjalani hidup. Kalau kita bisa membaca jejak Tuhan di dalam hidup kita, pasti; momentum yang Tuhan izinkan kita alami atau kita jalani, yang mengarahkan kita kepada Tuhan, kepada kemakmuran Tuhan; bukan kemakmuran duniawi. Momentum yang mengarahkan kita kepada penggenapan rencana-rencana Allah yang indah bagi kemuliaan nama-Nya dan bagi keindahan hidup kita. Coba kita renungkan peristiwa-peristiwa hidup yang pernah kita alami, yang sebenarnya itu merupakan panggilan Tuhan untuk mengarahkan kita kepada rencana agung-Nya. Kalau kita telah menyia-nyiakan momentum itu, mari kita berbalik. Masih ada kesempatan selama kita masih memiliki kehidupan ini; selama jantung kita masih berdetak. 
    Banyak orang yang menyia-nyiakan momentum berharga yang merupakan berkat kekal yang Allah berikan itu. Sehingga, hidupnya tidak mengalami perubahan secara signifikan; tidak mengalami perubahan yang berarti. Rencana-rencana agung Allah yang didesain-Nya, tidak tergenapi dalam hidup kita. Mari kita periksa hidup kita dengan lebih teliti. Sebab kalau kita menyia-nyiakan momentum yang berharga itu dan kita tidak memperoleh apa-apa—bahkan tidak jarang yang malah menjadi lebih menjauh dari Tuhan—momentum itu tidak terulang lagi. Ingat, momentum itu mahal, itu kasih karunia, itu berkat abadi yang Allah sediakan. Jangan kita sia-siakan.
    Malah tidak jarang kekecewaan yang kita alami itulah yang membuat kita bertanya-tanya, kekristenan yang benar itu bagaimana? Guncangan-guncangan hidup itu membuat kita meragukan kekristenan yang kita jalani, yang kita warisi dari pendahulu-pendahulu dengan semua doktrin dan pengajaran yang sudah kita serap memenuhi pikiran. Maka, ketika kita mulai memasuki ruang sepi, ruang doa, melewati malam panjang duduk diam di kaki Tuhan, juga dalam kekecewaan yang kita alami. Sejatinya, itulah momentum penting yang membuat hidup kita mulai berubah. 
    Ternyata, kekristenan yang kita jalani belum kekristenan standar yang diajarkan Tuhan Yesus. Hidup kita terkoneksi dengan tokoh-tokoh teologi yang kita pelajari, tetapi tidak terkoneksi dengan Tuhan.
    8 min
  • Semakin Bisa Merasakan
    Yang luar biasa dalam hidup umat percaya adalah kita bisa menjadi bait Allah, di mana Roh Allah diam di dalam diri kita. Di dalam kehadiran-Nya, Allah pasti berbicara. Kalau umat Perjanjian Lama, bait Allahnya adalah gedung, kemah suci. Di Silo, misalnya. Tetapi bagi orang percaya, tubuhnyalah bait Allah. Setiap orang bisa berperkara, bisa berurusan, bisa berinteraksi dengan Allah. Allah berkenan hadir di dalam hidup kita dan menyatakan kehendak-Nya; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Maka, menjadi umat pilihan Allah itu luar biasa. Karena kepada setiap individu, Allah mau berurusan. 
    Sehingga kita bisa mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam media persoalan dan pergumulan hidup yang kita alami, di mana ada momentum di situ. Hal itu bisa menyangkut peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang lain, maupun pergumulan batin, perasaan kita yang kita sendiri menggumulinya. Maka, berbahagialah kita yang mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya. Bagi kita, itu bukan firman dalam arti hukum, melainkan firman dalam arti suara Allah yang sangat spesifik, sangat khusus, yang bisa didengar setiap orang. Oleh sebab itu, yang bisa menilai seberapa kayanya masing-masing individu di hadapan Allah, hanya Tuhan, karena hanya Tuhan yang tahu.
    Jadi kalau kita membuka mata pada pagi hari, kita diberi waktu hari itu, artinya kita harus bersyukur karena Allah mau hadir dalam hidup kita. Allah mau berurusan dengan kita. Di situlah kesempatan bagi kita untuk mengumpulkan harta di surga. Jadi bukan panjangnya hidup—sebab setiap kita punya panjang waktu yang sama—melainkan dalamnya hidup. Bagaimana kita memaknai waktu kita dalam setiap hari, yang kita diberikan 24 jam, yaitu dengan melakukan kehendak Bapa. Jadi begitu kita melek mata di pagi hari, dari menit pertama, menit kedua, menit ketiga, dan seterusnya, kita diperhadapkan pada momentum-momentum, peristiwa demi peristiwa dan pilihan untuk melakukan kehendak Allah atau tidak. 
    Jadi kalau kita bisa bangun pagi dan berdoa, mempersiapkan hari itu, betapa berartinya doa pagi itu. Namun bagi sebagian orang, Allah itu seperti mati, seperti tidak ada. Tetapi bagi kita, Dia hidup. Jadi ketika kita serius untuk memperkarakan “hal ini berkenan di hadapan Tuhan atau tidak,” kita akan makin bisa merasakan hadirnya Tuhan dalam hidup kita. Ketika kita membuat waktu kita bernilai karena melakukan kehendak Allah, maka hidup kita menjadi bernilai. 
    Orang yang menemukan Tuhan akan ditandai dengan memiliki sifat Tuhan. Orang yang memiliki sifat Tuhan, pasti memancarkan kemuliaan Tuhan. Pertanyaannya, seberapa kita sudah memancarkan kemuliaan Tuhan? Karena sering kita meleset. Tetapi tentu kita tidak mau meleset lagi. Apalagi sebagai hamba Tuhan, kehadirannya di mimbar itu harus kehadiran Allah. Hal itu bisa terwujud, kalau kehidupannya terlatih melakukan kehendak Tuhan dari hari ke hari, dari jam ke jam, dari menit ke menit. Dari 100 kesempatan yang Tuhan berikan di dalam waktu, dalam perjalanan waktu itu, seberapa kita melakukan kehendak Allah? 
    Maka perhatikan bagaimana kita berkebiasaan. Janganlah seperti orang bebal yang tidak mau ditegur, tidak mau menyadari salahnya, yang tidak mau berubah; bebal. Jadilah seperti orang arif yang mendengar firman dan melakukan. Kita mau semakin buka telinga, agar semakin sering mendengar suara Tuhan. Hal itu tidak boleh spekulasi, tetapi harus dilatih setiap hari. Pergunakanlah waktu yang ada, artinya bagaimana membuat waktu kita bernilai dengan melakukan kehendak Allah. Dalam hal ini, kita yang harus mengusahakan, bukan Tuhan. Karena Tuhan pasti sudah menyediakan suara-Nya. Tetapi apakah kita mau membuka telinga kita untuk mendengar suara Tuhan? Orang yang sungguh-sungguh saja, tidak mudah mendengar suara-Nya, apalagi yang tidak serius.
    Kita ada di bumi yang seperti debu, jika dibanding jagat raya yang tidak terbatas. Dan kita adalah debu dalam debu. Allah semesta alam itu Maha Tinggi, Maha Suci. Jadi,
    8 min
  • Kualitas Waktu
    Di dalam keadilan-Nya, kita semua memiliki anugerah, yaitu waktu yang sama; 24/7 atau 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Kalau Tuhan berkata, “Tidak ada seorang pun dapat menambahkan sehasta saja dari umur hidupnya,” artinya tidak ada seorang pun yang bisa menambahkan menit, jam, hari hidupnya. Tuhan yang memberikan waktu kepada setiap kita. Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama setiap hari. Tidak ada orang yang memiliki lebih dari 24 jam dalam sehari. Dan setiap orang memiliki putaran menit sebanyak 60 menit dalam 1 jam. Tetapi berapa nilai waktu setiap orang, itu berbeda. Panjangnya sama, jumlahnya sama, tetapi nilainya beda. Kualitasnya beda. Dan kualitas waktu yang seseorang miliki, menentukan hasil kehidupan yang diraihnya; yaitu keadaan kekalnya.
    Kalau kita menghayati hal ini dan merenungkan dengan sungguh-sungguh, ini menggetarkan. Sementara semua kita ada dalam perjalanan waktu, dan di setiap kita pasti akan sampai pada ujung atau akhir perjalanan waktu kita. Jadi, apakah waktu yang Tuhan berikan bagi kita itu berkualitas atau bernilai atau tidak, itu tergantung setiap individu. Tergantung kita, bagaimana membuat waktu kita ini bernilai, berkualitas atau tidak, tergantung kita. Di sini berlaku firman, “Yang diberi banyak, dituntut banyak.” Allah tentu punya keadilan. Tetapi bicara mengenai kualitas waktu yang dimiliki seseorang, tentu tergantung kehidupan setiap individu. 
    Persoalannya, bagaimana membuat waktu kita berkualitas? Inilah yang kita harus camkan, dan harus amalkan dengan sungguh-sungguh. Waktu kita menjadi berkualitas kalau di dalam waktu itu kita melakukan kehendak Bapa. Efesus 5:15-17, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Hari-hari ini adalah jahat, maksudnya pengaruh dunia jahat. Maka, waktu yang kita miliki, harus kita gunakan dengan bijak supaya kita tidak membuat waktu kita menjadi tidak bernilai; sebaliknya, supaya kita membuat waktu itu berharga. Pernahkah kita memperkarakan kalau Allah memiliki kehendak-Nya dalam satu hari itu sebanyak 100 butir dan kira-kira berapa persen yang kita lakukan? 
    Kalau kita melewati hari dengan segala dinamikanya, berapa persen kita melakukan kehendak Allah kalau ada 100 butir yang ada di situ? Perlu kita ingat bahwa melakukan kehendak Allah itu bukan hanya waktu kita berdoa di ruang doa, melainkan ketika kita di dalam pergumulan hidup, di dalam dinamika hidup sehari-hari. Doa itu mutlak. Bertemu dengan Tuhan setiap hari, itu mutlak. Tetapi pengalaman hidup, peristiwa-peristiwa hidup yang kita jalani, itu adalah media di mana Tuhan mau menyatakan kehendak-Nya. Dan media di mana Tuhan mau kita membuktikan siapa yang kita pilih: Tuhan atau yang lain, kehendak Tuhan atau yang lain, gelap atau terang. Di dalam setiap peristiwa kehidupan yang kita jalani, pasti ada pilihan ini. Namun, kita sering kali lupa bahwa 70 tahun umur hidup kita ini hanya setitik air di lautan dibanding dengan kekekalan. Karena kekekalan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Hal ini seharusnya menggetarkan kita. 
    Padahal di 70 tahun umur hidup kita ini, menentukan keadaan kekal kita. Maka, betapa kita harus membuat waktu hidup kita menjadi bernilai. Dan hidup kita menjadi bernilai kalau di dalam setiap kejadian—baik yang menyangkut dengan orang lain, maupun yang ada dalam gejolak jiwa pikiran kita sendiri—kita memilih Tuhan. Kita mau menjadi manusia yang beruntung. Karena itu, janganlah seperti orang bebal—yaitu orang yang tidak mau dinasihati, orang yang tidak menyadari kesalahannya, orang yang tidak mau berubah—tetapi kita harus menjadi orang bijaksana. Dan firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar firman Tuhan dan melakukan firman itu. 
    9 min
  • Tidak Ada Waktu Lagi
    Kita harus berpikir dengan serius seakan-akan tidak ada waktu lagi untuk membenahi diri. Yang kedua, kita harus berpikir seakan-akan tidak ada kesempatan lagi untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dan memang bisa terjadi dunia ini berakhir, entah karena bencana, entah karena perang atau kedatangan Tuhan yang kedua. Atau kita meninggal dunia. Dan hal itu sangat logis dan realistis. Kuasa kegelapan akan memberi kita banyak kesibukan, kesenangan, sampai kita menjadi gagal fokus ke Tuhan. Hari ini, kita sibuk mau bangun rumah. Besok, kita sibuk mau beli vila. Lusa, kita sibuk lagi mau pilih kendaraan. Minggu depan, kita sibuk mempersiapkan perjalanan. 
    Bukan tidak boleh membangun rumah, bukan salah membeli mobil atau mempersiapkan wisata, tetapi jangan sampai kita lupa untuk membenahi diri. Karena kita harus selalu didapati Tuhan tak bercacat tak bercela. Setelah kita membenahi diri, pasti seiring dengan itu kita memikirkan bagaimana menjadi alat di dalam Tuhan untuk membenahi orang lain. Setan bisa merusak hidup kita dengan banyak fokus sehingga kita tidak menyediakan waktu yang cukup bertemu dengan Tuhan, tidak cukup waktu untuk berdoa, untuk mendengarkan Firman atau dalam persekutuan dengan orang percaya lain yang baik, guna membangun iman bersama. Kalau waktu kita terfokus untuk gadget, film, tontonan dan berbagai kesibukan yang tidak membangun iman, kesucian hidup kita terancam. 
    Dan kalau kesucian hidup kita rusak, pasti tidak akan ada beban terhadap keselamatan jiwa orang lain. Jadi kalau kita benar-benar bertumbuh dalam kekudusan dan kesucian, maka salah satu ciri kesucian hidup yang benar adalah kepedulian kita terhadap orang, belas kasihan kita kepada orang. Memang, orang yang peduli dan penuh belas kasihan ke orang belum tentu memiliki kekudusan. Bisa karena ia memiliki nurani dan perasaan yang baik, dari gen orang tua yang baik, atau lingkungan yang mengajarkan. Banyak orang hatinya baik, bahkan sangat baik, tetapi belum tentu benar-benar memiliki kekudusan. 
    Namun, kalau seseorang punya kekudusan, pasti ia punya kepedulian terhadap orang lain. Menolong sesama itu menjadi kesukaan, kebahagiaan. Bukan lagi menjadi kewajiban, melainkan kebutuhan. Sebab kekudusan dari Allah pasti akan disertai perasaan Tuhan. Dalam kekudusan Tuhan, kita akan disertai hikmat dan marifat. Tidak mungkin orang yang setiap hari bertemu dengan Tuhan tidak mendapatkan ide-ide baru, kebenaran-kebenaran yang disingkapkan. Banyak orang pintar karena membaca buku, banyak orang cakap mengajar karena menimba pengetahuan dari berbagai sumber, tetapi tidak akan mungkin ia mendapatkan penyingkapan rahasia-rahasia firman jika tidak hidup di dalam kekudusan. 
    Jadi kesucian hidup kita akan melahirkan beban terhadap penderitaan orang lain. Kita tidak menginginkan seorang pun binasa dan perasaan ini tidak kita buat-buat, tetapi tulus. Bukan supaya sekadar jemaat banyak datang ke gereja. Atau bagi kita yang ada di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi, bukan sekadar supaya mahasiswanya banyak, sehingga itu menambah harga diri kita. Jika demikian, artinya kita memanipulasi, kita menjual manusia untuk kepentingan dan kesenangan kita. 
    Kita juga harus terbeban untuk orang lain agar mereka mengalami pertumbuhan kedewasaan dan kesucian sehingga layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Kita harus memiliki beban bukan hanya untuk orang-orang tua, melainkan kita memikirkan juga nasib anak-anak, sejak mereka masih muda. Nasib remaja dan pemuda yang hari ini telah banyak dipeluk oleh media sosial, dikuasai oleh pengaruh dunia yang jahat. Dan orang-orang tua yang sudah terlambat bertumbuh dan dalam situasi krisis, yang jika tidak berubah secara signifikan, maka tidak akan masuk Kerajaan Surga. Sejatinya, keadaan dunia hari ini mengerikan sekali! Inilah yang menjadi beban kita.
    Karenanya kita harus berpikir seakan-akan tidak ada waktu lagi untuk membenahi diri. Jangan terlena. Ayo, kita sungguh-sungguh berjuang untuk itu!
    8 min
  • Akhir Hidup Manusia
    Kalau kita membaca Lukas 17:20-36, perikop itu berbicara mengenai kedatangan Kerajaan Allah. Tuhan mengingatkan kepada kita, agar kita tidak turut hanyut dengan keadaan dunia. Di ayat 26-27 Tuhan berkata, “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.” Mereka tidak menyadari karena berada dalam kesibukan hidup, dalam kegiatan rutin hidup, mereka menjalaninya sampai Tuhan mengakhiri sejarah dunia ini. 
    Ayat 28-29, “Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.” Kegiatan ini merupakan aktivitas kehidupan rutin, aktivitas kehidupan umum yang berlangsung. Tuhan juga mengatakan, “Ingatlah akan istri Lot.” Peringatan ini patut kita sungguh perhatikan. Jangan kita terjebak dalam perputaran, dalam siklus kehidupan seperti yang dijalani dan dialami orang pada umumnya, sampai tidak menyadari akhir hidup kita.
    Akhir hidup itu bisa berupa: yang pertama, kiamat atau kedatangan Tuhan. Yang kedua, hari kematian seseorang. Yang ketiga, titik di mana seseorang tidak bisa berubah lagi; jadi masih hidup, tetapi rohaninya mati. Ingat! Tidak menyadari bahwa dia hidup dalam siklus perputaran kesibukan, aktivitas, rutinitas, sampai hari meninggal dia atau kiamat, kedatangan Tuhan atau titik di mana mereka tidak bisa berubah. Masih hidup, tetapi sudah mati, artinya sudah tidak bisa berubah. Inilah tingkat seseorang yang menghujat Roh Kudus, di mana Allah tidak bisa menggarap dia lagi. 
    Di Lukas 18, Yesus memberikan perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Tentu maksud doa ini sudah pasti bukan doa ritual. Karena Tuhan mengajarkan kepada kita bukan format kalimat doa, tetapi format kehidupan; “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” Itu adalah formula kehidupan bukan format kalimat doa semata. Jadi kalau Tuhan menegaskan agar orang percaya selalu berdoa artinya kita harus selalu membangun hubungan dengan Allah. Jangan khawatir, jangan mencurigai Tuhan.
    Dalam kisah tersebut, janda itu benar-benar mengganggu Sang Hakim. Mungkin ada juga orang-orang yang minta agar perkaranya dibenarkan atau dibela, tetapi tidak sampai tingkat mengganggu. Dan pasti Hakim ini sudah pengalaman menghadapi orang-orang seperti ini. Namun janda ini beda, ia menyusahkan sampai menikam. Dikatakan, “Karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia.” Ia mengalah, ia kalah. “Supaya jangan terus saja dia datang.” Rupanya janda ini datang terus. “Dan akhirnya menyerang aku.” Sang Hakim sudah melihat tanda-tanda gila dari si janda tersebut. 
    Orang nekat masih punya pikiran, tetapi kalau orang gila tidak punya pikiran. Pokoknya kalau ketemu orang gila sudah tidak pakai pikiran. Kita harus dinilai oleh orang dunia sampai tidak punya pikiran. Apa tidak bosan ikut doa pagi? Apa tidak bosan doa? Apa tidak bosan kebaktian setiap hari? Jadi sudah di atas nekat, yaitu gila. Nasihat Tuhan melalui perumpamaan itu adalah agar kita bertekun! Bertekun sampai tingkat gila. Maka kita harus membawa diri kita sampai tingkat nekat dan sampai akhirnya “gila.” 
    Di ayat selanjutnya tertulis, “Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Mendapati iman di bumi yang ukurannya adalah ima...
    10 min
  • Jiwa yang Meronta
    Sejatinya, tambah hari kita bisa semakin menyadari betapa jauh standar kekristenan yang dikehendaki oleh Tuhan dari kehidupan orang-orang Kristen hari ini, juga dari kehidupan kita pribadi. Semakin mengenal kebenaran, jiwa kita meronta, sebab kita menyadari betapa keadaan kita masih jauh dari standar yang Tuhan kehendaki. Kelambanan kita bertumbuh, akselerasi kita dalam bertumbuh, yang mestinya seiring dengan umur biologis, yang mestinya seiring dengan umur rohani, tetapi tidak berjalan dengan baik. Sehingga, ketika kita menyadari kelambanan, keterlambatan, ketidaksinkronan antara umur biologis, umur rohani, dengan kehidupan rohani kita, atau tingkat yang mestinya kita capai, jiwa kita meronta. Tetapi itu yang Tuhan kehendaki, jiwa kita harus meronta.
    Firman Tuhan mengatakan, “Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Tubuh yang haus dan lapar menunjukkan mekanisme tubuh yang sehat, metabolisme tubuh yang baik. Jadi, ketika jiwa kita meronta itu pertanda bahwa kita mesti mencapai apa yang seharusnya kita capai, tetapi belum. Di situlah ada pengalaman haus dan lapar akan kebenaran. Dan Tuhan berjanji Ia akan memuaskan orang yang haus dan lapar akan kebenaran. Namun, untuk merasa haus dan lapar akan kebenaran dengan benar, sehingga mengalami jiwa yang meronta dengan benar, tidak mudah.
    Orang yang masih bergelut dengan kesenangan dunia, dengan keinginan dihormati, untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya apa yang dunia sediakan untuk dinikmati, maka dia tidak akan memiliki kehausan jiwa. Karena dia haus dengan perkara-perkara dunia. Dan paling jahat, sangat jahat, kalau seorang hamba Tuhan menjadikan keberhasilan pelayanan dan kemegahan gereja menjadi kesukaan. Di situlah liciknya setan menipu para hamba Tuhan. Kebanggaan memiliki acara-acara yang megah, kebanggaan gereja memiliki gedung besar, dengan jumlah jemaat yang banyak, dan berbagai fasilitas, membuatnya meleset sehingga semua perangkat gereja, benda maupun manusia, dipakai bukan untuk kesenangan Tuhan, tetapi bagi kesenangan dirinya sendiri.
    Semua hal yang dilakukan bertujuan untuk kemegahan manusia, dan itu yang kita pernah lakukan. Namun, tentu sekarang kita tidak boleh lagi melakukannya. Itu baru satu gejala dari kemerosotan kekristenan yang sedang melanda. Sebenarnya, itu adalah kemerosotan standar kesucian, kemerosotan dari fokus hidup. Coba kita melihat standar yang Alkitab ajarkan, di mana Tuhan Yesus Kristus berkata, “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Perhatikan juga apa yang dikatakan Paulus di Kolose 3:2-4, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” 
    Namun, berapa banyak di antara kita yang sungguh-sungguh merindukan bertemu dengan Tuhan? Benar, setiap kita punya persoalan. Tetapi, bisakah kita menghargai Tuhan, menghormati Tuhan secara patut? Menghormati Tuhan secara patut berarti memikirkan perkara-perkara yang di atas, dan tidak terikat dengan dunia. Walaupun kita masih hidup di dunia, di mana kita harus bertanggung jawab mencari nafkah, bekerja, tetapi yang penting kita tidak terikat dengan apa pun. Kalaupun kita punya masalah, tetapi kita tidak mendewakan masalah itu, tidak menjadikan masalah itu berhala. 
    Sebab standar Kristen yang sejati adalah Tuhan kita Yesus Kristus; tidak ada standar lain. Dan Alkitab mengatakan, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh. 2:6). Sejujurnya, kalau kita melihat hidup kita, rasanya masih jauh dari standar itu, padahal usia kita bisa saja sudah di atas 50 tahun, atau bahkan di atas 70 tahun. Apa kita bisa mengejar ketinggalan ini? Hal yang mengkhawatirkan yaitu tidak banyak orang yang diarahkan dengan serius sampai ke t...
    9 min
  • Menciptakan Waktu
    Mari kita mengambil keputusan yang bulat dan kuat untuk menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup kita. Artinya Tuhan menjadi tujuan hidup kita satu-satunya. Kita hidup karena dan demi Dia. Karena memang kita hidup oleh Dia. Menjadikan Tuhan segalanya, artinya Dialah kebahagiaan kita satu-satunya. Kita bisa hidup tanpa siapa pun, tetapi kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup, artinya kita mencintai Tuhan lebih dari mencintai siapa pun dan apa pun. Bahkan mestinya kalau kita mencintai, mengasihi sesuatu atau seseorang, itu dasarnya karena kita mencintai Dia. Mencintai Tuhan itu indah sekali. Sebuah petualangan yang paling hebat di dalam hidup ini, kalau seseorang bercinta dengan Tuhan dengan cinta yang benar. 
    Yang pernah jatuh cinta, pasti mengerti artinya menjadikan seseorang yang kita cintai sebagai segalanya di dalam hidup. Maka tidak heran kalau orang bisa melakukan apa pun demi cinta, demi orang yang dia cintai. Mengapa kita tidak mengarahkan cinta kita kepada Tuhan, sampai pada level di mana kita menjadikan Tuhan segalanya di dalam hidup kita? Percayalah, kita tidak akan pernah menyesal dengan petualangan hidup bercinta dengan Tuhan. Bercinta dengan dunia itu bisa otomatis, karena kita terkondisi atau dikondisi hidup dalam suasana dunia yang tidak mengenal Allah atau dunia yang tidak mau mengenal Allah. 
    Kita hidup di lingkungan di mana manusia hampir semuanya mencintai dunia. Hal mencintai dunia, bercinta dengan dunia, itu bisa otomatis, terkondisi sedemikian rupa, sampai orang menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai segalanya. Yang menjadi “segalanya” itu bisa berupa uang, hobi, seseorang, keluarga, jabatan dan lainnya. Terkait dengan ini, Tuhan Yesus mengatakan, “Jika kamu tidak membenci ayahmu, ibumu, saudaramu laki-laki, perempuan, bahkan nyawamu sendiri, engkau tidak layak bagi-Ku,” itu artinya kita harus menjadikan Tuhan segalanya. Kalau orang mencintai istri, suami, anak, orang tua, maka belum tentu dia mencintai Tuhan. 
    Cinta yang diberikan kepada seseorang tanpa mencintai Tuhan, itu rentan dan rapuh. Kita tentu telah menyaksikan bagaimana pasangan pria wanita yang begitu menggebu-gebu dalam cinta, mengambil keputusan menjadi pasangan suami istri, namun tidak lebih dari 5 tahun kemudian gugur. Pecah, cerai karena pengkhianatan. Tetapi kalau seseorang mencintai Tuhan, dia pasti mencintai pasangan hidup, orang tua, anak, dan cintanya kokoh. Sebab dia tidak takut terhadap pasangan hidup, anak atau orang tua, tetapi dia takut Tuhan. Anak yang takut dan menghormati orang tua tanpa mengasihi Tuhan, bukan tidak mungkin ada saat ketika dia mengingkari hormat, takut dan cintanya itu karena satu dan lain hal. Bisa karena pasangan hidup, situasi ekonomi dan lainnya.
    Jadi, sebelum kesempatan ini berlalu, mari kita belajar untuk mencintai Tuhan lebih dari mencintai siapa pun. Sebab untuk mencintai Tuhan, kita yang harus mengondisi diri kita sendiri. Kalau kita tidak mengondisi diri kita sendiri, kita tidak akan pernah mencintai Tuhan. Kalau kita tidak membuat hati kita membara mencintai Tuhan, kita tidak akan pernah mencintai Tuhan. Kita yang harus menggores hati kita sedalam-dalamnya untuk mencintai Tuhan, sampai tidak bisa menarik cinta itu, dan sampai cinta itu terbenam di dalam hati Tuhan. Karena kita membenamkan cinta-Nya di hati kita. Pengalaman seperti ini tidak bisa dibagikan dengan kata-kata, sebab setiap kita harus mengalami sendiri. 
    Kalau kita bercinta dengan Tuhan, yaitu menjadikan Tuhan segalanya di dalam hidup, pasti kita menjadi kekasih Tuhan; kekasih abadi. Tidak mungkin orang yang tidak menjadi kekasih Tuhan di bumi akan menjadi kekasih Tuhan di kekekalan. Tidak mungkin. Orang yang membangun kasih kepada Tuhan di bumi, berarti dia meniti jalan kekekalan menjadi kekasih Allah di keabadian. Dan kalau kita menjadi kekasih Tuhan, maka orang-orang yang kita kasihi pun akan terseret dikasihi Allah. Kita tidak bisa melindungi anak kita 24 jam,
    8 min
  • Melarikan Diri
    Orang bisa merasa mual, bahkan muntah, ketika dia mencium bau tertentu. Namun, lambat laun dia bisa menyukainya. Hal ini tergantung bagaimana dia mengarahkan seleranya. Masalahnya, kita memiliki kebiasaan berbuat dosa; memuaskan ambisi, ego, temperamen yang kita umbar, daging yang kita puaskan. Sekarang kita sadar dan mau bertobat sungguh-sungguh agar kita dapat mengalami perubahan untuk mencapai kesucian Tuhan. Mau tidak mau, selera kita harus kita ubah. Tidak cukup kita berkata, “Tuhan, ubah seleraku.” Kita sendiri yang harus bertindak mengubah selera kita. Hobi kita apa selama ini? Kalau hobi itu hanya untuk menyenangkan kita, maka harus kita tinggalkan. Kalau kita mau, pasti bisa. 
    Tetapi kalau seseorang berkata, “Wah, saya tidak bisa,” maka tidak bisa. Berarti ia sudah membelenggu dirinya dengan mental blok bahwa dia tidak bisa meninggalkan kebiasaan itu. Tergantung seberapa kita memiliki tekad. Kalau kita kaitkan dengan mengasihi Tuhan, hal ini tergantung seberapa kita mencintai Tuhan. Kalau kita mencintai Tuhan, maka apa pun yang dapat mendukakan Tuhan, melukai hati Tuhan, bahkan membuat Tuhan tidak nyaman, kita tinggalkan. Kita lepaskan, kita buang. Walaupun tentu itu menyakitkan daging kita. Tetapi tidak ada pilihan.
    Kalau kita memang benar-benar mau menjadi orang-orang yang diselamatkan atau memberi diri diselamatkan, berarti kita harus membuang semuanya. Jangan kita berpikir kalau sudah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara akal, secara pengakuan mulut, berarti sudah selamat. Percaya itu bertindak. Kalau kita berkata, “Aku percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku; tidak ada keselamatan di luar Yesus,” maka kita harus mengikuti kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan adalah agar kita mencontoh, meneladani hidup-Nya. Jadi kalau ada orang mengaku percaya, tetapi hidupnya masih terikat dengan dunia, itu berarti belum percaya. Yesus berkata dalam Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Artinya kita tidak bisa diubah-Nya
    Dia sudah memikul dosa kita, menebus kita dan memerdekakan kita. Sudah selesai di kayu salib. Tetapi yang belum selesai adalah kodrat dosa kita. Keadaan batiniah kita yang belum layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Ini yang harus dibenahi dan didewasakan. Karenanya kalau ada selera-selera di dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kekudusan Allah, harus dibuang. Roh Kudus pasti menolong kita, hal-hal apakah yang ada di dalam hidup kita yang Tuhan tidak berkenan, pasti Roh Kudus beri tahu. Ironis, selama ini orang tidak tahu, karena memang dia tidak mau tahu. Kalau orang mau tahu, dia pasti membawa dirinya kepada Tuhan dan berkata, “Periksa aku, Tuhan, selidiki aku.” 
    Seperti yang dikatakan pemazmur dalam Mazmur 139:23-24, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Jadi kalau orang memang tidak mau diselidiki Tuhan, karena memang tidak mau berubah, Tuhan tidak bisa paksa. Tuhan juga memiliki tatanan. Seperti Iblis tidak bisa memaksa orang berbuat jahat, Tuhan pun tidak mau dan tidak akan memaksa orang berbuat baik. Iblis tidak akan bisa memaksa orang masuk neraka. Tuhan juga tidak memaksa orang masuk surga. Kehendak bebas masing-masing itulah yang memainkan peranan. 
    Tetapi jangan lupa, Iblis berusaha supaya manusia tidak mengarahkan dirinya ke Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dari kecil telah diasuh, disemai oleh kuasa gelap, agar tidak memiliki landasan untuk bisa menerima kebenaran. Dan ini yang menjadi kegelisahan kita. Banyak anak-anak yang sedang dituai oleh kuasa kegelapan. Masuk masa remaja, pemuda, mereka tidak bisa lagi diselamatkan. Sudah terlalu rusak. Selera jiwa mereka hanya tertuju kepada dunia. Mereka bisa memuja bintang-bintang film atau tokoh-tokoh dunia, tetapi tidak memuja Yesus. 
    11 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…