Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kesempatan Memilih
    Kita tidak boleh dan memang tidak bisa meminta lahir dari suku apa, bangsa apa, orang tua siapa, dan bagaimana keadaannya. Bahkan kita juga tidak berhak untuk meminta mewarisi gen dan bakat apa. Tetapi kita sudah menjadi seperti sekarang dan kita tidak boleh melihat itu dari sisi negatif. Karena kita bisa berpikir fatalistik. Sebaliknya, kita harus melihat dari sisi positif, yaitu kemungkinan bisa menjadi apa kita. Karena Allah memberi kita kesempatan, baik untuk hancur maupun untuk kokoh berdiri, untuk menjadi seseorang yang berkualitas tinggi (mulia) atau hina. Jadi selama kita masih memiliki jantung yang berdetak, nadi yang berdenyut, dan memiliki nafas kehidupan, berarti kita masih memiliki kesempatan mau menjadi manusia yang bagaimana.
    Kita bersyukur kalau kita sekarang ada di hadapan Allah, mendengarkan firman Tuhan yang bisa mengarahkan kita kepada kehidupan. Karena terbentang di depan kita ini dua jalan; jalan menuju kebinasaan atau kehidupan, kehinaan kekal atau kemuliaan kekal. Maka kita harus berpikir dengan sudut pandang positif bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengarahkan diri kepada kehidupan kemuliaan kekal. Allah yang kita sembah, yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang bukan saja Maha Baik melainkan juga Maha Kuasa. Kalau Allah hanya baik tetapi tidak Maha Kuasa, tidak bisa diharapkan. Tetapi kalau Allah Maha Kuasa namun tidak baik, itu mengerikan. Kita bersyukur, Allah kita bukan saja Maha Baik melainkan juga Maha Kuasa. 
    Kita memiliki masa depan, dan yakin bahwa masa depan itu ada di tangan kita.  Kita bukan saja memercayai ada Allah yang hidup, tetapi Allah yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya, Allah yang mau berurusan, berperkara dengan kita, yang menyediakan kehidupan, kemuliaan kekal, berkat, dan apa yang baik untuk kita. Sementara itu kalau kita menoleh di jalan yang lain, tersedia juga kematian, kebinasaan, kehinaan kekal. Memang pada waktu sekarang ini ketika kita hidup, promosi dari pihak kuasa jahat yang akan menggiring orang ke dalam kegelapan abadi, kebinasaan, kehinaan kekal itu lebih menarik. Seperti lebih menjanjikan. Hal itu memang ada di depan mata, dan itu sekarang. 
    Sedangkan kehidupan, kemuliaan kekal seperti kurang menarik dan sangat sedikit peminatnya. Ini bisa tidak atau kurang merangsang manusia memilihnya. Sekarang tergantung kita, seberapa berani memercayai bahwa apa yang disediakan Tuhan itu bukan jauh lebih baik, melainkan bertolak belakang dari apa yang kuasa kegelapan sediakan. Jadi, jangan kita ragu untuk memilih untuk mengikut Tuhan Yesus. Kuasa kegelapan itu sangat cerdik, cerdas, tetapi menipu. Yang menyediakan dan menjanjikan apa yang kelihatannya baik. Oknum ini benar-benar jahat, penipu. Allah memilih orang-orang yang diberi kesempatan untuk mendengar Injil. Ini yang disebut sebagai “umat pilihan.” Tetapi tidak semua umat pilihan itu terpilih, karena tidak semua orang yang menjadi umat pilihan itu setia. Jadi tidak semua orang yang menjadi umat pilihan itu setia. 
    Dari orang-orang yang terpilih ini, ditawarkan apakah mau ikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, atau ikut jalan dunia. Apakah mau serupa dengan Tuhan Yesus, atau tidak; berarti serupa dengan dunia. Jadi jangan berpikir bahwa umat yang terpilih ini otomatis bisa serupa dengan Tuhan Yesus. Tetap harus memilih mau ikut jalan yang mana. Dua belas murid itu dipilih Tuhan Yesus, tetapi tidak semuanya setia sampai akhir. Ternyata Yudas tidak. Maka di dalam Alkitab dikatakan: “Setialah sampai akhir. Barangsiapa yang setia, dia yang diselamatkan.” Jadi, setiap orang harus memilih, apakah mengikuti jejak Tuhan Yesus untuk serupa dengan Tuhan, atau jejak hidup anak dunia untuk serupa dengan dunia. 
    Banyak orang merasa kalau sudah memilih yakin bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat, itu pasti otomatis masuk surga. Namun, bersyukur kita dinasihati oleh Tuhan hari ini dari 1 Petrus 5:8-9, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis,
    9 min
  • Berkejaran dengan Waktu
    Dalam Yeremia 18:1-6, Tuhan sedang mengumpamakan diri-Nya sebagai seorang tukang periuk dan kita sebagai tanah liat. Tanah liat itu berharga. Betul, selama masih bisa dibentuk menjadi bejana. Tetapi kalau tanah liat sudah mengeras, tidak akan bisa jadi apa-apa, sudah tidak terbentuk lagi, sama sekali tidak berguna. Seperti adukan semen. Kalau masih basah, gampang diukir, tetapi kalau sudah kering, tidak bisa diukir. Kalau masih basah, pakai tangan juga bisa, tetapi kalau sudah kering, pakai besi juga belum tentu mudah. Jadi, ini penting. Maka, jangan menunda. Selagi masih punya kesempatan berubah, kita harus berubah. Kita sedang berkejar-kejaran dengan waktu. Jangan sampai waktu kita tersita oleh ambisi, keinginan-keinginan untuk memiliki hal-hal duniawi atau memuaskan nafsu-nafsu daging kita. 
    Ibrani 12:16, “Janganlah ada orang yang menjadi cabul …” Cabul di sini tidak harus cabul seks secara fisik. Cabul di sini bisa berarti percintaan dunia. “… atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, …” Esau tidak mendapat kesempatan lagi, karena dia tidak jauh-jauh hari belajar menjadi anak yang dengar-dengaran bagi orang tuanya, sehingga ia menjadi rusak, dia memandang rendah hak kesulungannya dan menukarnya dengan semangkuk makanan. 
    Dosa itu harus dilihat dari dua perspektif, dua dimensi. Satu, dosa dalam bentuk perbuatan atau perilaku atau sudah merupakan ekspresi dari kodrat dosanya, sudah menjadi buah, menjadi perbuatan. Dua, dosa yang merupakan kodrat atau potensi. Banyak orang hanya menyelesaikan sampai dimensi pertama saja, tetapi kodrat dosanya tidak diselesaikan. Kalau kita minta ampun atas perbuatan dosa kita, kita juga harus melihat dan mengakui betapa buruknya keadaan kita ini. Jadi, setiap kali kita minta ampun atas perbuatan dosa, sekaligus kita berkomitmen untuk tidak mengulangi dosa itu dengan cara membunuh kodrat dosa ini. Dengan cara apa? Firman kebenaran. Dengan Firman yang kita dengar, mengubah cara berpikir, mengubah paradigma kita, dan itu memerdekakan kita. 
    Oleh sebab itu, di dalam Roma 1:16 dikatakan, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan …” Dalam Yohanes 8:31-32, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Tentu di situ juga ada proses di mana seseorang mematikan kodrat dosa. Kalau kita memiliki kodrat, misalnya temperamental, mudah marah, maka ketika kita melakukan kesalahan, kita mengakui dosa itu, kodrat dosa kita pun harus diakui, lalu berusaha untuk waspada agar tidak terulang perbuatan dosa yang sama.   
    Jadi, kita bukan hanya meratapi perbuatan dosa yang sudah kita lakukan, melainkan juga meratapi potensi dosa yang masih ada pada kita, dan kita pasti sadar. Tidak mungkin tidak sadar. Mengubah kodrat dosa sama juga dengan hidup suci, sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Jangan tunda untuk mencapai level ini. Maka, sering kita ini harus bercermin pada Tuhan. Jangan bercermin pada manusia. Kalau bercermin pada manusia, kita bisa merasa lebih baik dari mereka. Tetapi kalau kita bercermin kepada Tuhan, kita bisa melihat bahwa kita belum seperti yang Allah kehendaki dan belum menyelesaikan tugas yang Allah titipkan.
    Yohanes 9:4, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Jangan menunda. Hari ini kita selesaikan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Jangan sampai kita meninggal dunia, kodrat kita belum berubah. Jangan sampai meninggal dunia jalannya masih belum lurus. Ayo kita mengubah kodrat, karena perubahan kodrat itu lewat proses. Yang membuat rusak kekristenan itu ketika diaja...
    9 min
  • Perjalanan Waktu
    Prinsip penting yang kita harus ingat, dan ini merupakan tatanan yang tidak bisa diubah adalah proses berlangsung dalam perjalanan waktu. Tuhan memberikan kepada kita, setiap orang, satu rentang waktu yang terbatas, namanya hora atau durasi. Di dalam durasi waktu ini, Allah mau memproses kita. Ada momentum-momentum yang Tuhan izinkan kita alami. Ini namanya kairos. Ada kairos-kairos. Di dalam setiap momentum (kairos) itu ada pelajaran rohani yang Tuhan berikan secara bertahap, proses naik. Ini namanya kronos, kronologi. Kalau seseorang menunda, maka hora menjadi sia-sia, kairos juga menjadi sia-sia, dan kronos tidak terbentuk.
    Maka, penundaan itu membinasakan dan gejala pembinasaan itu mulai dapat dilihat sejak hidup di bumi. Seharusnya kita sudah bisa melihat diri kita, apakah kita ini memiliki gejala akan binasa atau tidak? Makanya, potret yang kita harus lihat, cermin yang harus kita lihat adalah Tuhan Yesus. Karena hidup yang berkualitas kita itu standarnya Yesus. Jadi, kalau kita belum seperti Yesus, kita harus gusar (upset), anxious (khawatir). Jangan kita khawatir untuk hal-hal yang tidak perlu kita khawatir; “… mengenai apa yang kita makan, apa yang kita minum, tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya …” Artinya yang harus kita khawatirkan adalah apakah kita sudah menjadi warga Kerajaan Surga yang baik? Dan standar warga Kerajaan Surga yang baik adalah Yang Mulia, wajah Tuhan kita, Yesus Kristus. 
    Kalau kita memiliki standar rohani yang sudah bertumbuh, maka doa kita tidak lagi dipenuhi dengan berbagai permintaan, tetapi kita hanya mau mendengar suara-Nya, mau menyenangkan hati-Nya dengan penyembahan yang tulus. Di situlah kita membawa korban, yaitu hati yang menghormati Dia, hati yang mengasihi Dia. Yang kita minta hanya satu, “Aku mau menjadi berkenan di hadapan-Mu, Bapa.” Bapa tahu kita punya masalah. Tetapi kalau kita dewasa rohani, maka kita tidak akan mendesak-desak Tuhan, “Tuhan, tolong buka jalan, dengarkan doaku dan jawab aku, ya, Tuhan.” 
    Sejatinya, kita harus menyerahkan ke tangan Tuhan, sambil kita tetap berusaha untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup kita dengan tanggung jawab. Semua kita kembalikan ke Tuhan sambil kita berkemas-kemas. Tetapi jangan berkemas-kemasnya terlambat. Jangan menunda. Tidak sedikit orang yang berkemas-kemasnya menunda. Berkemas-kemas itu sejak dini, supaya kita jangan terlambat. Ada banyak kesempatan yang Tuhan berikan, namun kalau sampai kesempatan itu tidak kita tidak gunakan sebaik-baiknya, kita pasti akan menyesal. 
    Itulah sebabnya dikatakan di dalam kitab Efesus 5:15-17, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Di dalam ayat yang lain dikatakan, “Bangunlah, kamu yang tidur, bangunlah dari antara orang mati … Terang akan bercahaya kepada kamu.” Kata ‘bagaimana kamu hidup’ berasal dari kata asli, peripateite. Kata itu bicara mengenai habit (kebiasaan). Tuhan mau kita benar-benar memperhatikan bagaimana kita berkebiasaan. Lalu kalimat yang luar biasa, “… pergunakanlah waktu yang ada, …” Ini sama dengan jangan menunda! Jadi, kalau orang menunda pertobatan, menunda untuk berubah, sebenarnya dia menolak bertobat, menolak untuk berubah.
    Tuhan masih beri kesempatan, tetapi ada batasnya. Bukan karena Allah tidak mau mengubah seseorang, tetapi keadaan orang itu tidak bisa berubah lagi. Dan biasanya kalau orang sudah berusia, memang lebih sulit berubah. Jadi, jangan tidak berubah. Elang saja kalau mau belajar terbang harus dihancurkan dulu sarangnya oleh induknya. Sehingga elang itu jatuh. Waktu jatuh itu, barulah dia mencoba untuk terbang. Semua perlu proses, tetapi jangan lupa, kalau sampai terlambat berproses, kita tidak bisa berubah lagi. Makanya, kesempatan itu berharga.
    9 min
  • Tidak Peka
    Kalau firman Tuhan mengatakan bahwa Allah bekerja dalam segala perkara, berarti dalam setiap peristiwa Tuhan berbicara kepada kita, dan di setiap kejadian Tuhan memberi pernyataan. Dari peristiwa-peristiwa kecil, peristiwa-peristiwa yang dianggap remeh, peristiwa yang dianggap sederhana, Tuhan memiliki berita di situ, percayalah. Apalagi peristiwa-peristiwa besar yang menyita perhatian, yang memeras emosi dan perasaan kita, pasti Tuhan berbicara. Bahkan, menjadi ancaman kalau kita tidak memedulikan berita apa yang Tuhan mau sampaikan kepada kita, pernyataan apa yang Tuhan mau berikan kepada kita.
    Sehingga, banyak nasihat dan hikmat dari Tuhan yang terlewati. Oleh karena banyak orang tidak menghargai Tuhan, tidak menghormati Tuhan, tidak memperkarakan peristiwa dan kejadian yang terjadi dalam hidupnya, maka ia menjadi tidak sensitif, tidak peka. Jangankan perkara kecil, dalam perkara besar pun dia tidak menemukan hikmat di balik peristiwa-peristiwa itu. Maka setiap peristiwa yang terjadi di dunia, kita harus perhatikan. Pasti ada sesuatu yang Tuhan mau sampaikan. Pasti demikian pula dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam hidup kita pribadi—menyangkut bisnis, kesehatan, karier, dana, dan lainnya.
    Sesuatu yang merenggut emosi dan perasaan, hal-hal yang besar, pasti memuat pesan Tuhan di balik itu. Dalam perkara kecil saja Tuhan mau berbicara kepada kita, apalagi perkara besar. Dan betapa banyak mutiara yang Tuhan berikan kepada kita setiap hari, melalui setiap peristiwa yang terjadi. Ingat ini, kalau Allah bekerja dalam sesuatu, pasti apa yang Allah kerjakan itu bernilai; tidak mungkin tidak bernilai. Betapa rugi kalau mutiara-mutiara itu terbuang sia-sia. Oleh sebab itu, pesan dan nasihat Tuhan hari ini, mari kita camkan. 
    Jika kita belum tahu apa yang Tuhan mau sampaikan lewat suatu peristiwa, maka kita harus memperkarakannya dengan serius, “Tuhan, mengapa terjadi ini?” Sering Tuhan tidak menjawab langsung. Tuhan seakan berdiam diri. Dalam keberdiaman-Nya, seakan Tuhan mau berkata, “Apakah kamu serius mau berurusan dengan apa yang Kukerjakan?” Sebab kita harus memperkarakan itu sendiri dengan Tuhan. Tanyakan, dan jangan bermental blok. Jangan berpikir bahwa kita tidak akan bisa mendengar suara Tuhan. Seakan-akan suara Tuhan hanya dapat didengar orang-orang yang ‘berkarunia’ mendengar suara-Nya.
    Suara Tuhan adalah hak setiap anak-anak Allah, tergantung seberapa kita serius berurusan dengan Tuhan, seberapa kita berani untuk mencuci hidup kita dari dosa. Tuhan itu hidup dan nyata. Maka, alami Tuhan. Jadi, di setiap peristiwa, ada suara. Peristiwa itu berbicara. Allah mau berbicara kepada kita. Di setiap kejadian, ada pernyataan. Jadi, bukan sekadar supaya kita tidak dagang rugi, tidak salah pilih barang waktu beli, namun pasti lebih dari itu. Sebab proyeksi Tuhan itu proyeksi kekekalan, karena Allah itu kekal. 
    Allah itu luar biasa. Dan setiap kita punya kurikulum yang khusus. Allah menyusun kurikulum untuk setiap individu demi hidup kekal individu tersebut. Peristiwa demi peristiwa dirangkai Tuhan, dirajut Tuhan. Betapa hebatnya itu. Jika kita serius memperhatikannya, maka kita bisa menemukan gerak Tuhan, manuver Tuhan yang ternyata aktif. Dia bukan Allah yang diam, tetapi Allah yang aktif, yang melalui Roh-Nya Dia bekerja. Sampai kita seperti dipaksa untuk berubah. 
    Suatu perbuatan yang rasanya merupakan ‘kesalahan kecil’ sudah Tuhan tegur. Maka sekecil apa pun kesalahan itu, kita tidak boleh melakukannya. Sebab kesalahan kecil yang kita lakukan, dampaknya luar biasa. Bersyukur kalau Tuhan masih terus mengingatkan kita. Dan ini adalah persiapan untuk kita menghadap Dia. Maka, ini harus dimulai sejak sekarang, bukan nanti.
     
    Oleh karena banyak orang tidak tidak memperkarakan peristiwa dan kejadian yang terjadi dalam hidupnya, maka ia menjadi tidak peka.
    7 min
  • Pasti Terhilang
    Dalam percakapan antara Tuhan Yesus dengan seorang kaya di Matius 19, orang kaya itu disuruh menjual segala miliknya. Mengapa? Karena ia harus berhenti menikmati miliknya atau dunia ini; harta, uang, kedudukan. Kekayaannya bukan untuk disimpan, melainkan diberikan kepada orang miskin, kepada orang-orang yang tidak bisa membalas kebaikan, kemudian datang kepada Yesus dan ikut Yesus. Mengikut Yesus artinya ikut cara hidup-Nya yang membangun persekutuan yang benar dengan Allah. Hidup yang bernilai itu standarnya Yesus, karena Dialah sosok atau pribadi yang memiliki persekutuan dengan Bapa secara proporsional, secara benar, secara ideal, “Engkau tinggal dalam Aku, Aku dalam Engkau, ya, Bapa,” tetapi juga memberi peluang kepada orang percaya “… supaya mereka tinggal di dalam Kita.” Luar biasa. 
    Jangan menunda, sebab untuk bisa terlepas dari percintaan dunia, memerlukan proses, dan tidak bisa cepat. Kalau tidak mulai sekarang keluar dari keterikatan dengan dunia, maka kita tidak akan pernah masuk surga menjadi anggota keluarga Kerajaan. Ini termasuk orang-orang miskin secara materi, tetapi masih ingin kaya. Menjadi kaya itu tidak salah. Sebaiknya, bisa seharusnya. Kalau kita kaya secara materi, maka kekayaan itu harus membuat kita semakin efektif bagi pekerjaan Allah, bukan supaya lebih bernilai dan memiliki Firdaus di bumi. Sekarang kita harus jujur melihat diri kita, apa yang masih membuat kita ini bergairah? Tuhan atau apa? Sebab kalau ada sesuatu lain yang membuat kita merasa bisa bahagia, itu berarti kita meletakkan sesuatu sebagai saingan bagi Allah. 
    Kalau orang kaya ini menjual segala miliknya lalu membagikan kepada orang miskin, itu bukan berarti lalu selera jiwanya seketika berubah. Belum tentu, dan rasanya tidak. Dia baru bisa benar-benar terlepas dari ikatan dunia itu lewat perjalanan waktu setelah mengikut Yesus, mendengar kebenaran-kebenaran-Nya sampai selera jiwanya diubah, fokus pencarian hidupnya diubah. Jadi, kalau seseorang didorong ke gereja hanya supaya berkat materi, berkat jasmaninya, berlipat ganda, 30, 60, 100 kali lipat, itu pembodohan, sampai bisa tingkat penyesatan, dan dampaknya bisa kebinasaan. Justru orang percaya harus diajar tidak lagi memburu apa pun, kecuali persekutuan dengan Allah atau hidup di hadirat Allah. 
    Kita yang harus melangkah, bertekad tidak lagi menikmati dunia. Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan dunia. Nanti Tuhan akan mengajarkan kepada kita kehausan akan Allah. Kita bisa mati sebelum mati atau selesai sebelum selesai. Orang-orang seperti ini baru berhak memiliki Allah dan Allah berhak memiliki dia. Hanya orang yang tidak memiliki siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa yang berhak memiliki Allah dan dimiliki Allah, karena akan terjalin sebuah hubungan yang harmoni. Tidak salah memiliki pasangan hidup, anak, orang tua, sahabat, dan teman-teman, tetapi kalaupun tidak memiliki mereka semua, juga tidak menjadi masalah, sebab yang penting kita memiliki Tuhan. 
    Punya anak itu kesenangan, punya cucu kesenangan; punya keluarga yang bahagia, harmoni itu kesenangan; memiliki materi, kedudukan, pangkat, pendidikan tinggi, kesenangan, tetapi jangan kesenangan itu kita miliki dan kita merasa di situ hidup kita menjadi lengkap. Tuhan pun senang melihat rumah tangga kita yang bahagia, Tuhan senang melihat anak cucu kita, Tuhan senang melihat sukses karier atau studi kita, yang tentu saja semua itu bisa dipersembahkan untuk kepentingan Kerajaan Surga, karena, “Baik kita makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, kita lakukan untuk kemuliaan Allah.” Kalau Tuhan tidak ikut menikmatinya, berarti kita terlepas dari hadirat-Nya. Sulit sekali, tetapi kalau kita belajar kebenaran terus-menerus, maka kita akan mengerti dan bisa melakukannya. 
    Jangan menunda. Jangan berkata, “Sebentar deh. Bukan saya tidak mau ikut Tuhan sungguh-sungguh, tetapi sekarang saya masih duniawi. Nanti saya sungguh-sungguh.” Perubahan zaman sangat cepat,
    9 min
  • Berjaga-jaga
    Firman Tuhan mengatakan, “… berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Apa itu berjaga-jaga? Berjaga-jaga adalah sikap yang selalu mempersiapkan diri seakan-akan tidak ada waktu lagi untuk berubah atau bertobat. Lima gadis yang bijaksana bisa masuk ke dalam pesta perjamuan karena ketika lampunya mati dia memiliki persediaan minyak, sedangkan lima gadis bodoh yang tidak memiliki persediaan minyak, sedang pergi mencari minyak. Akhirnya, tidak keburu waktunya. Mengapa? Karena mereka menunda. Mengapa tidak dari dulu mencari persediaan minyak? Sekarang tidak ada waktu lagi.
    Matius 25:10, “Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis lain, “Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” Mereka tidak punya kesempatan lagi. Kesempatan yang tidak ada lagi atau hilangnya kesempatan itu mengerikan. Makanya, harus jauh-jauh hari kita mempersiapkan diri. 
    Terkait dengan hal ini, perlu kita ketahui bahwa setiap perbuatan itu ada harganya. Kalau itu perbuatan dosa, yang mendukakan hati Tuhan, akibatnya menghambat pertumbuhan kedewasaan kita. Setiap kesalahan itu pasti ada harga yang harus dibayar. Memang keadaan itu pun bisa dipakai Tuhan untuk membuat seseorang berubah dan bertobat, tetapi lebih baik tidak usah berbuat dosa. Banyak orang menunda untuk hidup suci karena menganggap suci itu sulit, sukar bahkan mustahil. Memang tidak ada barang bagus harga murah, tetapi kalau kita melatih diri, akhirnya kita bisa dan biasa melakukannya. Kita bisa melewati pencobaan dengan tetap menjaga kesucian. 
    Harga sebuah kesalahan itu mahal. Mendukakan Tuhan, menghambat pertumbuhan, bahkan neraka kalau sampai tidak bertobat. Mendukakan Allah itu bisa mendatangkan pukulan yang menyakitkan. Jangan lakukan kesalahan lagi. Jadi, “Carilah dahulu Kerajaan Surga,” artinya, hiduplah sebagai warga Kerajaan Surga yang baik, artinya yang lain harus diabaikan. Jangan Kerajaan Surga tidak didahulukan, atau ditunda, yang lain didahulukan, bahaya itu. Kita mau hidup tidak bercacat, tidak bercela. Itu lebih dari semua kekayaan, kedudukan, gelar, lebih dari segala status yang dianggap berharga di mata manusia. 
    Kita rindu hidup dalam kepenuhan Roh Kudus, tetapi konsekuensinya adalah kita tidak boleh menyentuh dosa. Maka, kita harus membangun hati yang takut akan Allah. Orang yang berjaga-jaga akan selalu ada dalam suasana perasaan krisis kalau menyangkut kesucian. Dalam hidup ini, ada hal yang kita anggap penting, tetapi tidak mendesak. Ada yang mendesak, tetapi tidak penting. Ironis, sering kali hal kekekalan (surga/neraka) itu dianggap penting, tetapi tidak mendesak. Padahal yang benar, hal kekekalan itu selalu penting dan mendesak. Sehingga harus didahulukan. Seakan-akan yang lain tidak berarti; mau punya jodoh atau tidak; mau punya anak atau mandul; mau kaya atau miskin; mau apa pun, tidak penting! 
    Maka, coba kita belajar berprinsip, “Hari ini adalah hari terakhir kita,” supaya kita tidak mendahulukan yang lain. Jangan berpikir mencari Tuhan, mendahulukan Kerajaan Allah, itu gampang. Kalau cari uang susah, cari jodoh susah, karier susah, yang lain susah, tetapi kalau surga gampang; “Tuhan kan hanya sejauh doa, kapan saja juga dapat dijangkau.” Itu pemikiran yang salah. Berarti kita kurang ajar, tidak menghormati Tuhan. Tuhan itu selalu penting dan mendesak; “Tuhan satu-satunya kebutuhanku.” Itu paling benar. Yang lain, bukan kebutuhan. Kalaupun kita butuhkan, tujuannya untuk kita menemukan Allah, menyenangkan hati-Nya, efektif bagi pekerjaan-Nya dan masuk Kerajaan Surga.
    Mari kita sungguh-sungguh, sebab kita mau berprestasi di Kerajaan Allah. Kalau boleh, kita menjadi salah seorang yang terkemuka dari hamba-hamba-Nya nanti di langit baru, bumi baru.
    9 min
  • Merasa Kosong
    Hidup kekal adalah hidup yang berkualitas, hidup yang bermutu, maka cara pandang hidup kita harus diubah. Itu yang penting. Kalau cara pandang hidup kita diubah terus-menerus, maka kita baru bisa mengerti betapa tidak berartinya kalau seseorang tidak memiliki persekutuan dengan Allah secara benar. Betapa kosong jiwa kita jika tidak memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Tetapi kalau cara berpikir atau paradigma seseorang belum diubah, maka ia tidak akan pernah menemukan kekosongan di dalam jiwanya, kesepiannya terpisah dari Allah, tidak berartinya hidup di luar persekutuan dengan Allah. Ini kebalikan dengan paradigma dunia. 
    Dunia telah meracuni pikiran banyak orang, dunia membangun paradigma dari sudut pandang dunia. Maka, mereka akan berprinsip: betapa tidak berartinya kalau orang tidak memiliki harta, betapa tidak bermutunya orang yang tidak terhormat di mata manusia, betapa kosongnya kalau orang tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Dan hampir semua manusia sudah sesat di sini. Yang lebih menyedihkan, kalau seseorang mau menjadi pelayan Tuhan, yang mestinya menganjurkan bagaimana memiliki hidup yang berkualitas menurut versi Tuhan, tetapi ia masih ada di dalam area duniawi. 
    Tidak dapat dipungkiri, banyak pelayan Tuhan yang sejak semula masuk ke sekolah Alkitab karena mau mengubah nasib. Setelah nasibnya berubah, ekonominya menjadi lebih baik, lalu ia berubah lagi; bagaimana punya kedudukan lebih tinggi, bagaimana lebih terhormat dari jemaat dan para pendeta lain, dan lainnya. Maka, tidak heran terjadi pertikaian di dalam gereja lokal, di sekolah-sekolah teologi, di kelas sinode, karena hidup kekal yang dipahaminya itu salah, sehingga tidak memiliki kehausan akan Allah. Sejatinya, orang harus merasa kosong, merasa sepi, jika tidak memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Kalau sudah memiliki persekutuan yang benar dengan Allah, maka biar rumah sepetak, itu pun sewa dari bulan ke bulan, tetapi hidupnya dirasakan berarti, karena ia memiliki Tuhan. 
    Sebenarnya prinsip seperti ini sudah dimiliki pemazmur sejak periode Perjanjian Lama, dan itu sebenarnya sudah memberikan kita pelajaran yang mahal. Mazmur 73:23-24, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selamanya.” Maka, kalau orang sudah mengerti betapa tidak bernilainya hidup kalau terpisah dari hadirat Allah, kalau seseorang menyadari betapa kosongnya hidup jika tidak hidup dalam persekutuan yang benar dengan Allah, betapa menyakitkan keadaan tidak memiliki persekutuan dengan Allah, maka barulah dia memiliki kegentaran yang hebat, kegentaran yang luar biasa terhadap kekekalan, jika seseorang terpisah dari hadirat Allah.
    Sebaliknya, ia akan bisa melihat betapa indahnya persekutuan dengan Allah di kekekalan nanti, yang di dunia ini diperjuangkan dengan berat. Mengapa dengan berat? Karena kita menghadapi banyak musuh, lima paling tidak. Pertama, kuasa gelap yang berusaha menarik kita masuk dalam persekutuan dengan kuasa kegelapan. Yang kedua, kita menghadapi diri kita sendiri yang sudah dicemari oleh dunia, sehingga memiliki kehausan-kehausan yang sesat. Dan manusia lama kita ini jahat, licik, kuat, menyatu dan tahu momentum mana yang bisa menjatuhkan kita. Yang ketiga, pengaruh dunia, dari segala hal yang dilihat, didengar, menarik supaya kita ini terbawa. Keempat, malapetaka, marabahaya, kecelakaan. Yang kelima, orang-orang yang bermaksud jahat kepada kita.
    Jadi, bukan tanpa alasan kalau Tuhan Yesus berkata, “Banyak orang yang berusaha, tetapi tidak masuk. Maka, berjuanglah!” Artinya, dengan seluruh kekuatan, perhatian, potensi yang ada pada kita, dan ini mestinya didahulukan kalau kita menganggap itu penting. Inilah sesatnya banyak orang, mereka tidak tahu mana yang utama mana yang bukan. Maka cara pandang kita harus berubah. Dengan cara pandang yang berubah, maka selera jiwa kita juga berubah. Dengan selera jiwa kita berubah, maka fokus pencarian kita juga berubah.
    8 min
  • Jangan Menunda
    Tanpa disadari, orang sering memahami kata binasa sekadar lenyap atau hilang. Ini pengertian yang tidak tepat. Binasa artinya tidak memiliki nilai sama sekali, tidak berarti. Bagaimana seseorang dapat dikatakan tidak bernilai? Yaitu kalau seseorang terpisah dari Allah dan tidak mendapat kesempatan lagi untuk diperdamaikan dengan Allah. Keadaan di mana seseorang tidak mendapat kesempatan lagi untuk diperdamaikan dengan Allah, terpisah dari hadirat Allah, atau terhilang dari hadirat Allah, merupakan kedahsyatan yang luar biasa, keadaan yang tidak terbayangkan, kedahsyatan yang dahsyat dan mengerikan. Tetapi, fakta ironis yang kita lihat dan kita temukan hari ini, banyak orang tidak takut terhadap realitas tersebut. 
    Bukan hanya orang ateis yang tidak percaya adanya Allah, yang tidak percaya adanya Tuhan, yang tidak percaya kitab suci yang diwahyukan oleh Allah, tetapi orang Kristen sendiri atau orang-orang beragama tidak benar-benar memiliki kegentaran, tidak memiliki ketakutan terhadap realitas terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya itu. Lebih miris lagi, kalau di lingkungan gereja ada aktivis, bahkan pendeta yang tidak memiliki kegentaran yang proporsional, kegentaran yang benar terhadap realitas terpisah dari hadirat Allah itu selamanya.
    Pertanyaannya, mengapa orang tidak memiliki perasaan gentar dan takut yang proporsional terhadap realitas terpisah dari Allah itu? Mengapa? Karena memang sejak hidup di bumi, ketika jantungnya masih berdetak, ketika nadinya masih berdenyut, ketika masih memiliki nafas, dia tidak menghayati betapa menyakitkan, betapa kosongnya seseorang yang tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Hal ini disebabkan karena ruang hatinya telah diisi oleh berbagai kesenangan dunia, selera jiwanya telah dirusak oleh pengaruh dunia, sehingga kehausan jiwanya tidak ditujukan kepada Allah, tetapi ditujukan kepada dunia. 
    Alkitab berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan kepadamu,” artinya memang Kerajaan Allah harus diprioritaskan. Jangan ada unsur lain yang diprioritaskan yang mengisi ruangan hati kita dan membentuk selera jiwa kita sehingga kita tidak merasakan sakitnya, kosongnya, kalau tidak memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Sesatnya kehidupan banyak orang hari ini adalah merasa sakit, kosong jiwanya kalau tidak memiliki rumah pribadi, tidak memiliki teman hidup, belum memiliki keturunan, tidak terhormat, dihina orang. Ini pikiran yang sesat. 
    Kata ‘hidup kekal’ dalam Matius 19:6 (“Apa yang harus kulakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?”) sebenarnya bukan hanya menunjuk kehidupan terus-menerus nanti di surga. Hal ini yang membuat orang-orang Kristen atau orang-orang beragama, tidak merasa membutuhkan Tuhan sekarang ini. Mereka membutuhkan Tuhan nanti kalau sudah mati, di surga, karena tidak ingin masuk neraka. Bicara mengenai kekekalan itu bukan hanya ada di surga, tetapi terpisah dari Allah itu juga kekal karena sudah tidak ada kesempatan lagi direkonsiliasi atau dipulihkan. Hidup kekal juga menunjuk kehidupan hari ini, yaitu kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang bermutu. 
    Jadi, kalau orang kaya ini berkata, “Apa yang harus kuperbuat supaya aku memperoleh hidup yang kekal?” maksudnya adalah, “Apa yang harus kuperbuat supaya hidupku berkualitas?” Kapan? Sekarang, sejak hidup di bumi, bukan nanti. Itulah sebabnya, jawaban Tuhan Yesus adalah, “Lakukan hukum. Hormati orang tuamu, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta…” dan seterusnya. Kalau dalam kehidupan bangsa Israel, standar hidup bersekutu dengan Elohim Yahweh adalah melakukan hukum dan menjalankan ibadah sesuai dengan apa yang diajarkan Musa. Itu yang disebut dengan hidup yang berkualitas. 
    Rupanya orang ini sudah memiliki hidup yang berkualitas, menurut ukuran orang beragama atau menurut ukuran orang-orang Yahudi. Maka orang ini berkata, “Semuanya itu telah kuturuti, …”  Jadi, secara hukum, secara agamani,
    8 min
  • Tidak Terbeli
    Kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk bertumbuh menjadi semakin sempurna dan berkenan kepada Bapa, tidak dapat kita beli. Itu adalah anugerah, berkat yang tidak ternilai. Setiap hari Tuhan menyediakan berkat-Nya. Seperti melalui doa pagi atau ibadah, pasti ada lawatan Tuhan kepada masing-masing pribadi. Pasti ada berkat rohani, berkat kekal yang Bapa berikan. Jadi kalau kita melewatkan kesempatan ini, membuang kesempatan ini, artinya benar-benar suatu kemalangan. Bahkan bisa menjadi laknat dan kutuk. Sebab kita harus memilih antara berkat dan kutuk. 
    Selanjutnya, kita akan diberkati Tuhan melalui setiap kejadian yang kita dengar, kita lihat, apalagi yang kita alami, pasti kita dapat menemukan dan merasakannya. Jika kita mulai bangun pagi berdoa mohon pimpinan Tuhan, maka berkat-berkat yang Tuhan sediakan, tidak berlalu. Yang memuat firman, nasihat, teguran, arahan, supaya kita bertumbuh menjadi sempurna. Dan itulah sesungguhnya yang dimaksud dengan mengumpulkan harta di surga. Jadi, tangkap apa yang Tuhan sediakan setiap saat dalam setiap harinya. Tuhan pasti memberikan tuntunan kepada kita untuk bertumbuh dewasa rohani.
    Menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Makin sempurna seperti Bapa artinya semakin tepat, semakin presisi, apa pun yang kita lakukan. Dalam bertindak, berucap, dalam mengambil keputusan selalu sesuai dengan pikiran perasaan Allah. Itu sempurna seperti Bapa. Dan Roh Kudus menuntun kita untuk memiliki kecerdasan rohani seperti itu; yaitu kemampuan mengerti apa yang Allah kehendaki, yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Dan Roh Kudus pasti memberikan kepada kita kekuatan. Inilah berkat kekal yang Tuhan berikan yang harus kita kumpulkan; mengumpulkan harta di surga. Yaitu kedewasaan rohani, sempurna seperti Bapa. Kemampuan untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Percayalah Roh Kudus melatih kita setiap saat. 
    Oleh sebab itu, kalau fokus kita tidak tertuju kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, pasti akan terlewati. Dan ingat, kita tidak akan pernah memperoleh kesempatan yang sama. Walaupun di waktu-waktu mendatang ada kesempatan-kesempatan lain, tetapi setiap kesempatan memiliki berkat rohani, berkat kekal yang spesifik. Tidak dapat diulang seiring dengan perjalanan waktu yang kita jalani. Jadi pada kesempatan ini kita menyadari betapa baik Allah Bapa kita. Dia menyediakan berkat-berkat kekal, berkat-berkat rohani, yang itu menjadi milik atau harta kita. Karenanya, memang kita harus fokus ke Tuhan dan Kerajaan-Nya. 
    Terkait dengan, ‘kumpulkan harta di surga,’ Matius 6:21 mengatakan, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Jadi kalau harta kita adalah hidup berkenan kepada Allah, sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, maka hati kita akan tertaruh di situ.  Kita tidak tahu, hari yang Tuhan berikan kepada kita masih tersisa berapa lama lagi, kita tidak tahu. Tetapi, kita harus memikirkan, merenungkan dan menganggap bahwa mungkin hari terakhir yang Tuhan berikan adalah hari ini. 
    Bersyukur kalau Tuhan masih memberikan kita hari baru besok, dan kita meniti hari yang baru besok. Tetapi hari ini kita harus gunakan sebaik-baiknya, kita tangkap setiap berkat rohani yang Tuhan berikan. Kita manfaatkan kesempatan ini. Serius kita duduk diam di kaki Tuhan. Jika kita tidak fokus maka pasti berkat yang Tuhan sediakan akan terlewati.  Maka jangan lewatkan kesempatan demi kesempatan yang Tuhan berikan di mana Tuhan mau kita menerima berkat-Nya yang sungguh tidak ternilai, yang sungguh tidak bisa dibeli dengan uang atau apa pun. Itu adalah pemberian anugerah salib Tuhan Yesus, kurban Tuhan Yesus yang menebus dosa kita. 
    Disertai dengan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup kita setiap hari. Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran, Roh Kudus yang selalu aktif. Bapa aktif menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Dan di situlah kita akan bertumbuh dewasa, makin sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.
    7 min
  • Tidak Ada Lagi Kesempatan
    Paulus dalam suratnya menyatakan pilihannya dengan mengatakan, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus.” Ini pilihan. Mumpung ada kesempatan memilih. Tindakan memilih Tuhan dibayar dengan melepaskan segala sesuatu. Jadi kalau belum melepaskan segala sesuatu berarti belum memilih Tuhan. 
    Sebenarnya tindakan Paulus ini adalah realisasi dari tulisan sebelumnya di Filipi 2:6-8, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” 
    Yesus bisa menikmati dunia ini. Ketika ditawari keindahan dunia di awal pelayanan-Nya, tetapi Yesus memilih menyembah dan hanya berbakti kepada Allah Bapa saja. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus menikmati Kerajaan Allah sejak hidup di bumi ini. Itulah sebabnya selagi masih ada kesempatan, kita harus menghadirkan pemerintahan Kerajaan Allah untuk kita nikmati. Kerajaan Allah bukan soal makan dan minum, tetapi damai sejahtera, sukacita, dan kebenaran oleh Roh Kudus. Dengan demikian, kita tidak terikat oleh dunia seperti manusia pada umumnya. Dan kehidupan Yesus ini merupakan model dari kehidupan Anak Allah yang harus kita kenakan. Prinsip-Nya, filosofi-Nya jelas. Di antaranya Yesus berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Ini model kehidupan yang hanya difokuskan kepada Allah dan Kerajaan-Nya. 
    Maka di Yohanes 4:34 Tuhan Yesus berkata, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” Memang kehidupan yang diperagakan oleh Yesus adalah kehidupan yang tidak wajar di mata dunia. Tetapi kita harus mengenakannya. Kita tidak bisa menghindari, karena memang itulah kehidupan anak-anak Allah. Dan Tuhan mematangkan pengertian kita dengan berbagai persoalan hidup, badai-badai yang membuat kita terbang lebih tinggi dan melihat tragisnya hidup. 
    Coba perhatikan, orang yang prinsip hidupnya adalah menggunakan kesempatan untuk menikmati kesenangan dunia, adalah orang-orang yang berpikir bahwa masih ada kesempatan nanti untuk bertobat dan berubah. Dan itulah yang juga meracuni kita selama belasan bahkan puluhan tahun. Sebaliknya, orang yang memiliki prinsip hidup seperti Paulus, yaitu hidup untuk mengabdi dan melayani Tuhan, akan lebih cenderung berpikir bahwa tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertobat dan berubah. Karenanya di dalam tulisannya di Efesus 5:15-16, Paulus mengatakan, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” 
    Kita harus benar-benar bebenah, “berkemas-kemas,” yang artinya siap berangkat. Siap, hari ini, bukan nanti, tetapi sekarang. Coba kita membayangkan diri berada di hadapan takhta pengadilan Allah, masih ada tidak, dosa atau kesalahan yang kita lakukan? Masih ada tidak, pekerjaan yang belum kita tunaikan, belum kita selesaikan? Maka sekecil apa pun, sehalus apa pun dosa dan kesalahan, harus dibereskan. Manusia lain tidak perlu tahu. Di pengadilan Tuhan nanti, baru kita gelar perkara. 
    Jadi kalau orang Kristen masih ada dalam filosofi “bagaimana menikmati kesenangan dunia,” ini adalah orang Kristen yang belum bisa digolongkan sebagai orang percaya dan jangan mengaku percaya. Sebab, orang percaya itu harus percaya semua yang dikatakan Tuhan dan melakukannya. Kalau kita percaya rumah kita di surga,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…