Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Surat Cinta Tuhan
    Di lembar hari hidup kita, Tuhan ajar kita melukis hati-Nya agar kita memiliki perasaan Tuhan. Dan perasaan itu dapat terekspresikan, nampak, terejawantahkan dengan ucapan, perbuatan kita seperti surat yang terbuka. Tuhan mengirimkan surat cinta kepada dunia, kepada masing-masing individu, melalui dan di dalam hidup kita. Hidup kita menjadi seperti simfoni yang merdu, bukan kaleng yang dipukul memekakkan telinga dan menyakitkan telinga. Hidup kita harus dapat menjadi menyentuh setiap pribadi, bukan membuat luka dan membuat luka makin menganga. Dan hidup kita harus dapat menghadirkan suasana surga.
    Suatu hari di hadapan pengadilan Tuhan akan tampak siapa orang yang lembar hidupnya betul-betul terlukiskan perasaan Tuhan yang diterjemahkan, diekspresikan, diwujudkan, dinyatakan dalam ucapan dan perbuatan, seperti surat terbuka. Juga akan nampak siapa yang hidupnya benar-benar merdu seperti simfoni yang menyentuh setiap pribadi, yang membalut luka, meneduhkan jiwa, dan menghadirkan suasana surga. Hari ini antara orang baik dan orang jahat, seperti tidak ada bedanya. Orang jahat mengaku baik, mencela kanan kiri, seakan-akan dia mengatakan, “Aku lebih baik.” Sampai orang jadi bingung, “Ini siapa yang baik?” 
    Tapi nanti di pengadilan Tuhan, semua akan terbuka. Menjadi doa kita agar kita menjadi seperti pelangi yang indah. Bukan di langit hidup kita sendiri atau langit hidup keluarga kita, tapi di langit hidup sesama kita. Menjadi hujan berkat di ladang hidup sesama kita. Dan kehidupan kita benar-benar bisa menjadi berkat, karena menggarami orang di sekitar kita. Itulah sebabnya kita dikatakan garam karena kita menggarami sesama. Dikatakan terang, karena kita menerangi hidup sesama. Maka kita harus menjadi manusia yang membawa perasaan, pikiran Allah di tengah-tengah dunia yang gelap, di tengah-tengah dunia yang membutuhkan Tuhan, dan kita hadir di sana. 
    Banyak orang tidak mengerti ini. Bahkan mereka yang Sekolah Tinggi Teologi pun tidak jarang yang tidak mengerti bahwa setiap orang percaya harus menjadi saksi. Bukan hanya khotbah yang bagus, ceramah yang edukatif, atau kecakapannya mengatur organisasi, melainkan kehidupan yang seperti simfoni yang merdu, meneduhkan jiwa, membalut luka, menjadi berkat bagi orang. Ini adalah proyek besar yang akan menghasilkan catatan abadi dan berkat kekal. Kita harus belajar bukan hanya pintar khotbah, bukan hanya bisa mengorganisir kegiatan gereja, melainkan hidup yang di mana pun kita berada memancarkan sifat-sifat Allah. 
    Hal itu kita bisa minta kepada Tuhan. Roh Kudus akan menolong kita. Tentu tidak dalam satu hari kita menjadi orang baik. Kita mungkin sudah melewati tahun-tahun ketika hidup kita kurang mengubah orang lain, karena kita pun tidak berubah dengan benar. Dan kalau kita melihat hidup kita masa lalu, kita sedih karena kita gagal mengubah orang. Kita bisa membuat orang tetap jadi Kristen, tapi kita gagal mengubah mereka menjadi manusia Allah. Kalau kita bertumbuh dalam kedewasaan rohani otomatis kita memiliki sifat-sifat Allah, karakter Allah. Kita pasti mengasihi jiwa-jiwa, kita akan merasa apa yang Tuhan rasakan, yaitu belas kasihan Tuhan. Kita dapat memandang orang yang terhilang seperti Tuhan memandang, dan Tuhan memberi kita beban dalam hati kita seperti beban di hati Tuhan. 
    Dan inilah keindahan hidup sebagai orang percaya. Di sinilah kita menjadi orang-orang yang dipercayai Tuhan untuk mengemban pekerjaan-Nya. Dan Tuhan akan memberikan kepada kita beban. Dan kita bisa melakukan pekerjaan Tuhan. Sejatinya, inilah orang-orang yang berbahagia, yang sukses. Bertumbuh dewasa, memiliki pikiran perasaan Allah, memiliki beban seperti beban di hati Tuhan, itu indah sekali, luar biasa. Dan Tuhan memercayakan kepada kita pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Jika demikian, jangan khawatir sebab Tuhan akan melengkapi kita dengan berkat-berkat; berkat jasmani, berkat rohani. 
    Ketika kita menjadi hamba, pelayan,
    9 min
  • Hidup Menjadi Saksi
    Kehidupan kita harus menjadi berkat bagi orang lain sebab Tuhan Yesus sendiri berkata, “Seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani,” Matius 20:28. Demikian pula orang percaya harus sampai pada level kedewasaan rohani yang hidupnya melayani. Jadi, melayani itu suatu keharusan. Kalau bisa dikatakan, suatu kodrat. Tidak bisa tidak, setiap orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus Kristus, pasti menjadi berkat bagi orang lain. Tidak ada orang percaya yang tidak menjadi berkat, tidak ada orang percaya yang tidak melayani. Tetapi, melayani itu bukan berarti aktif dalam kegiatan gereja saja. Ini konsep salah yang telah ada di dalam pikiran banyak orang artinya melayani itu harus ada dalam lingkungan gereja, dalam kegiatan pelayanan gereja. Jika tidak, maka itu bukan pelayanan. 
    Kegiatan di dalam lingkungan gereja, benar sebuah pelayanan. Tetapi pada intinya, pelayanan adalah kegiatan hidup yang membuat orang mengenal Allah. Kegiatan hidup, aktivitas hidup yang membuat orang mengenal Tuhan. Memperkenalkan Tuhan bukan hanya mendengar cerita tentang Yesus, namun harus juga melalui peragaan hidup, bagaimana seseorang memperagakan hidup-Nya Tuhan di dalam dirinya. Dan ini barulah disebut sebagai saksi. Bangsa Israel menjadi saksi untuk menunjukkan siapakah Allah yang benar itu, Allah yang menciptakan langit dan bumi, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Allah yang mengutus Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus menjadi Juruselamat bagi umat manusia. 
    Yesus adalah Saksi yang setia. Dia membuktikan, Dia menyatakan bagaimana sifat Allah di dalam hidup-Nya. Karenanya Alkitab mengatakan, “Kepenuhan Allah atas diri-Nya.” Karena Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang menyatakan diri dalam manusia. Yesuslah manusia Allah, di mana Allah berdiam di dalam diri-Nya, dan Yesus sendiri menyatakan tubuh-Nya adalah bait Roh Kudus. Orang percaya harus menjadi saksi yang setia juga. Bukan hanya menceritakan tentang siapa Yesus, atau bagaimana Yesus dalam sejarah, melainkan menunjukkan kehidupan Yesus melalui hidup kita.
    Orang percaya harus menjadi saksi yang sama dengan harus melayani Tuhan; artinya di dalam aktivitas hidupnya menunjukkan siapa dan bagaimana Allah yang benar itu. Maka pelayanan bukan hanya kegiatan di lingkungan gereja, melainkan dalam seluruh aktivitas hidup di mana pun kita berada—di tengah keluarga sendiri, keluarga besar, pergaulan, tempat pekerjaan, kampus, gereja, di mana pun—kita harus menunjukkan kehidupan sebagai anak-anak Allah yang memiliki sifat-sifat Allah Bapanya. Maka, kita disebut “Kristen” yang artinya seperti Kristus. Ironis sekali kalau seorang pendeta, hamba Tuhan, seorang aktivis jemaat justru tidak menunjukkan kehidupan sebagai pelayan Tuhan, tidak menunjukkan kehidupan Kristus. Misalnya, mulut bocor, sembarangan menulis sesuatu di media sosial yang menunjukkan kebencian, dendam, mencemarkan dan menjatuhkan orang lain, merusak karakter orang dan lainnya. Dan itu terjadi di lingkungan gereja. Fakta ini sudah terjadi di mana-mana. 
    Karakteristik Allah tidak demikian. Karakter Kristus tidaklah demikian. Tentu kita mengharapkan kita dapat prestasi yang bagus di hadapan Allah dan nanti diwisuda di dalam Kerajaan Surga, dinyatakan sebagai pewaris-pewaris janji Allah bersama-sama dengan Yesus Kristus. Mari kita menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang ditebus oleh darah Yesus, artinya kita harus menjadi pelayan Tuhan. Roh Kudus akan menolong kita untuk itu. Jadi sebenarnya secara otomatis atau dengan sendirinya, orang Kristen yang bertumbuh dewasa itu akan makin sempurna seperti Bapa, makin serupa dengan Yesus, makin menjadi berkat bagi orang lain. 
    Menjadi berkat bukan hanya membagi uang atau makanan—walau tentu saja hal itu harus dilakukan–tapi lebih dari itu, menjadi berkat berarti menunjukkan siapa dan bagaimana Allah kita. Dengan demikian, kita menjadi saksi apakah Yesus Kristus yang menga...
    9 min
  • Api yang Benar
    Karena Allah mau mewujudkan rencana-Nya, maka Ia memperkenalkan Diri-Nya kepada dunia lewat kehidupan bangsa Israel. Dari sejarah bangsa Israel—keluar dari Mesir ke Kanaan, lalu perjalanan mereka, zaman Hakim-hakim, Raja-raja dan seterusnya—di dalamnya Allah mau menunjukkan rencana-Nya, yaitu menghadirkan Mesias. Nyata benar bahwa urusannya hanya itu. Sedangkan urusan kita adalah sempurna seperti Bapa. Jadi kalau urusan kita masih hal pemenuhan kebutuhan jasmani berarti kita kembali ke pola hidup bangsa Israel. Urusan kita adalah kekudusan seperti Bapa, memenangkan jiwa-jiwa—yang artinya bukan hanya membuat orang menjadi anggota gereja, melainkan juga menyempurnakan manusia untuk menjadi anak-anak Allah yang layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Ini istimewa. Inilah yang hilang dari gereja dan karena ini hilang, Allah hilang.
    Mungkin ada saat Allah menolerir, di mana Allah menunjukkan kehadiran-Nya lewat mukjizat atau kesembuhan ilahi, tapi itu tidak berlangsung lama. Karena itu bukan tujuan kehadiran Allah. Tujuan kehadiran Allah adalah menjadikan orang percaya sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Maka kita melihat bagaimana kehadiran Allah dalam Kebaktian Kebangunan Rohani, mukjizat-mukjizat, tapi tidak berlangsung terus-menerus. Orang bisa melihat kehadiran Allah lewat mukjizat, tapi seperti angin berlalu alurnya dan setelah itu lenyap karena orang-orang yang tidak memburu apa yang menjadi core business Tuhan, yaitu mau menyempurnakan kita. 
    Jadi sebenarnya kita juga tidak perlu ambisi memiliki gereja besar, gedung dan fasilitas, jumlah jemaat yang banyak, mestinya bukan itu. Tidak salah, namun untuk apa? Kalau kita hanya membuat rumah tangga yang berantem jadi rukun, anak-anak yang nakal jadi baik—tidak salah—tapi kalau tidak sampai langit baru bumi baru, untuk apa? Kalau tidak sampai sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus, untuk apa? Sebab tujuan kita adalah menjadikan manusia sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Kita mungkin dicibir dan dianggap berlebihan, itu terserah. Memang tujuannya begitu, karena keselamatan itu pada intinya mengubah manusia menjadi anak-anak Allah yang modelnya adalah Yesus. Kurang dari itu berarti gagal. Dan itu yang hilang dari gereja. 
    Jadi, kalau bagi bangsa Israel, Allah itu nyata, karena urusan utamanya adalah bagaimana Allah menunjukkan kehadiran-Nya dengan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir ke Kanaan. Lalu terlihat juga bagaimana Allah bekerja pada zaman Raja-raja dan seterusnya, supaya nyata siapa Allah yang benar. Sampai lahirnya Mesias yang membuktikan bahwa Allah yang benar adalah Allah Israel. Tapi setelah itu, apa? Keselamatan diberikan. Keselamatan itu apa? Manusia mengenakan kodrat ilahi, menjadi anak-anak Allah yang modelnya adalah Yesus. 
    Untuk sementara waktu Allah hadir lewat KKR, kesembuhan dan mukjizat, tapi itu bukan core business-Nya Allah. Itu tanda atau simeon, yang artinya petunjuk arah. Alkitab menuliskan bahwa tanda-tanda ini akan menyertai orang percaya, yaitu: menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan lain-lain. Kesembuhan dan mukjizat itu bukan tujuan, itu petunjuk arah supaya kita tahu hendak dibawa ke mana kita melangkah. Mungkin sebagian kita sudah merenungkan dan membayangkan, kalau nanti kita bertemu Tuhan namun potret kita belum seperti Yesus, bagaimana? Tuhan akan bertanya, “Siapa yang kau ikuti? Kristen macam apa yang kamu kenakan?” 
    Dan ironisnya, Sekolah Tinggi Teologi tidak membuat orang menjadi seperti Yesus, tapi jadi akademisi, malah jadi sombong! Menyedihkan. Karena tidak sedikit gereja yang tidak memperhatikan pendidikan, tidak berani membenahi diri atau tidak membenahi diri sementara kemajuan jalan terus. Di sisi lain, kelompok lain dengan modal yang tidak terbatas terus menggeliat. Kampusnya besar-besar, profesornya bukan ratusan, tapi ribuan. Masalahnya adalah banyak pendeta yang hanya cari uang, tidak memikirkan langit baru bumi baru,
    10 min
  • Impartasi Keagungan Allah
    Tidak berlebihan kalau kita melihat sejarah gereja dan kehidupan orang-orang Kristen pada tahun-tahun belakangan ini atau abad-abad belakangan ini, seakan-akan Tuhan telah menghilang. Apa yang dikisahkan di dalam Alkitab, yaitu Allah yang begitu nyata hadir di dalam kehidupan umat, seakan-akan lenyap tidak berbekas. Kalau kita melihat kehidupan gereja Tuhan di sekitar kita, seakan-akan Tuhan telah lenyap tak berbekas. Entah kita menyadari atau tidak, namun kalau jujur, memang demikian adanya. Sehingga kita melihat orang-orang Kristen yang berfantasi tentang Tuhan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami Tuhan yang hidup. Ironisnya itu terjadi dalam kehidupan para pendeta dan teolog. Tidak bermaksud mau menciderai para pendeta atau teolog, tetapi fakta itu memang terjadi dalam kehidupan kekristenan di zaman ini.
    Tetapi demikianlah yang kita rasakan, kita alami, yaitu ada sesuatu yang hilang. Itulah sebabnya kita menggandakan doa pencarian kita akan Allah, kita mencari wajah Tuhan guna kita mengalami-Nya. Kalau seseorang benar-benar mengalami Tuhan, maka keagungan dari kemuliaan Allah di dalam hidup orang itu akan nyata. Sering kita menyadari betapa tidak agungnya hidup kita, betapa kita kurang mulia karena karakter kita yang belum beres dan karena keputusan dan pilihan kita tidak menunjukkan keagungan Tuhan. Ini yang kita harus ratapi. Banyak hal yang tidak patut kita ucapkan, kita ucapkan. Banyak hal yang tidak patut kita lakukan, kita lakukan. Banyak hal yang tidak patut kita pikirkan dan renungkan, kita pikirkan dan kita renungkan. Walau tentu yang terakhir ini hanya kita yang tahu. Inilah yang menjadi pergumulan kita.
    Dari penampilan dan perkataan pendeta dan teolog di media sosial, kita tidak menemukan keagungan dan kemuliaan Allah; bahkan keagungan dan kemuliaan manusia saja tidak. Nampak sikap tidak beretikanya, sikap beringas dan kejamnya, sikap sewenang-wenangnya terhadap sesama. Apa pun alasannya, itu tidak bisa dibantah. Tetapi kita tidak mau menunjuk orang dengan jari kita. Kita mau menunjuk kepada diri kita sendiri. Bersyukur kita masih memiliki kesempatan, maka kita mau menggandakan pencarian kita akan Tuhan. Kita akan terus mencari Tuhan sampai kita menemukan Tuhan Yang Agung, Tuhan Yang Mulia dan kita terimpartasi, tertulari keagungan dan kemuliaan Allah tersebut. Tidak mungkin orang yang benar-benar berinteraksi dengan Allah tidak mendapatkan impartasi dari keagungan dan kemuliaan Allah. 
    Jadi kalau kita berkata, “Pegang tanganku, Tuhan, aku tak dapat dan tak berani berjalan sendiri,” itu bukan karena ada masalah keuangan, kesehatan yang mengancam nyawa atau masalah lainnya, melainkan karena kita belum menemukan keagungan dan kemuliaan yang mestinya kita kenakan. Terutama kita yang sudah sering berdoa dan belajar firman. Mungkin kita telah mengendus keagungan dan kemuliaan Allah. Kita hanya mengendus, tetapi kita belum melakukannya. Ini yang membuat kita terluka. Dan pada malam hari ketika kita mau tidur, kita mengingat-ingat apa yang terjadi pada hari itu, lalu kita diingatkan ada langkah-langkah kita yang tidak patut. Betapa kita berduka dan terluka. 
    Banyak orang tidak memperkarakan hal haus dan lapar akan kebenaran. Mereka sudah merasa baik, sudah merasa benar, terutama para pendeta. Maka, jangan merasa sedang ada dalam pelayanan berarti kita itu baik-baik. Baik-baik kita adalah kalau kita di hadapan Tuhan dinilai tak bercacat dari apa yang kita pikirkan, renungkan, dan ucapkan. Sejatinya, pasti kita tahu kapan kita meleset. Sebab Tuhan memberi kita pikiran, perasaan dengan pimpinan Roh Kudus, sehingga kita pasti mampu mendeteksi jika ada hal-hal yang Tuhan tidak berkenan. Jangankan batu besar, pasir pun kita bisa rasakan yang ada di ujung kaki kita. Kita harus punya kepekaan tingkat tinggi sehingga bisa mendeteksi jika ada hal yang tidak beres. 
    Kita ini sebenarnya belum selesai, maka jangan merasa sudah selesai. Dulu kita bukan pendeta, sekarang pendeta. Sudah selesai?
    7 min
  • Melalui Hidup Kita
    Banyak orang melakukan pekerjaan Tuhan, baik di gereja, di pendidikan, dalam pekerjaan misi dan lain-lain. Mereka merasa sungguh-sungguh telah melayani Tuhan karena waktu mereka disita untuk kegiatan itu. Mereka merasa sudah melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Padahal lebih dari segala kegiatan dan kesibukan dalam pekerjaan gerejawi—penggembalaan, sekolah, misi, atau apa pun—Tuhan ingin agar perasaan-Nya kita kenakan dan kita terjemahkan dalam perbuatan. Tuhan mengasihi jiwa-jiwa, Tuhan mau menyentuh jiwa-jiwa dan untuk itu Tuhan menjadikan kita sebagai alat, bejana atau saluran untuk menjamah mereka. 
    Kalau bicara mengenai kegiatan gereja yang sama dengan kegiatan keagamaan, sejatinya dalam banyak agama, orang-orang di luar orang Kristen pun memiliki kegiatan semacam itu. Mereka mendedikasikan waktu dan uang mereka untuk kegiatan keagamaan itu. Lalu apa bedanya dengan kita? Benar-benar menyedihkan, orang-orang yang merasa sedang dalam pelayanan, padahal sebenarnya tidak berkenan di hadapan Tuhan. Seratus satu motivasi bisa ada di dalam hati kita dalam melakukan kegiatan-kegiatan tersebut yang kelihatannya membela Tuhan, membela gereja, dan membela kekristenan. Padahal yang Tuhan kehendaki adalah menerjemahkan perasaan-Nya. 
    Tuhan sungguh-sungguh mencari saluran bagaimana perasaan-Nya diterjemahkan, diekspresikan, diwujudkan, dipersonifikasikan di dalam hidup manusia. Untuk itu, Tuhan menjamah kita langsung untuk berurusan dengan Tuhan. Kita yang sudah mengenal Allah dalam doa, dalam persekutuan dengan Tuhan, sehingga kita bisa merasakan kasih-Nya. Tetapi banyak orang yang belum tentu memercayai Tuhan itu ada, belum tentu yakin bahwa Yesus itu Juruselamat. Lalu bagaimana Allah menyentuh mereka? Atau dengan kalimat lain, bagaimana mereka menemukan Allah? Jawabnya adalah melalui hidup kita. Kita bisa bersentuhan dengan Allah jika kita yang mencari-Nya; walaupun tentu tidak semua, tergantung seberapa panjang kita telah belajar mengenal Allah, menangkap frekuensi kehadiran-Nya dan merasakan Tuhan. 
    Tetapi mereka tidak tahu, juga banyak orang muda tidak tahu ada Allah yang hidup dan Yesus adalah benar-benar Juruselamat. Maka, kesempatan ini harus diwakili oleh orang-orang yang memiliki kasih yang tulus. Jadi kita bisa mewakili Tuhan di mana pun kita berada—di rumah, di tempat pekerjaan, dalam pergaulan—sehingga mereka bisa menemukan Allah. Walau tentu bagi mereka yang sudah bengkok dan jahat—yaitu mereka yang sudah mungkin nyaris tidak bisa diselamatkan atau memang sudah tidak bisa diselamatkan—tidak akan menangkap kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Untuk orang-orang seperti itu, kita tidak usah paksa. Tetapi mereka yang masih bisa diselamatkan akan dilawat Tuhan melalui dan di dalam hidup kita. 
    Kita sekarang harus mematikan daging kita agar perasaan Tuhan saja yang mengalir. Kadang-kadang orang tidak tahu dan tidak bisa mengerti, dan kita seperti sedang mencari masalah. Kita tidak usah jelaskan kepada orang yang tidak bisa dijelaskan. Suatu hari, bagi mereka yang tidak berkurban, yang tidak mengabdi kepada Tuhan, yang selalu sibuk dengan diri sendiri, pasti akan sangat menyesal. Kita tidak pernah berhenti dengan kesibukan diri sendiri. Kenapa kita tidak sibuk dengan rencana Allah, kehendak Allah dalam hidup kita? Banyak pekerjaan yang Tuhan sediakan bagi kita, kalau kita mau. Kita hadir sebagai wakil Tuhan. 
    Kita bukan mau membela yang namanya Rehobot Ministry atau Sinode GSKI, namun jangkauan kita adalah Indonesia, bahkan dunia, yaitu jiwa-jiwa yang harus diselamatkan. Kalau dulu kita masih memiliki unsur prestise, gereja besar dan bagus, jumlah jemaat yang banyak, sekarang kita tidak mencari prestise itu lagi. Tetapi lebih dari pekerjaan gereja, milikilah pikiran perasaan Kristus. Banyak kegiatan gereja, kegiatan organisasi Kristen yang hanya untuk cari nafkah, harga diri, dan uang. Sangat menyedihkan sekali. 
    Ingat! Kita akan menghadap takhta pengadilan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan a...
    9 min
  • Kesungguhan yang Kuat
    Di tengah-tengah dunia yang makin jahat ini, akan terasa seakan-akan Allah seperti semakin menghindar, semakin tidak nyata, makin tipis kehadiran-Nya dan seakan-akan Allah dikalahkan oleh kejahatan manusia. Dan ini benar-benar terjadi. Bagi orang yang tidak dengan segenap hati, sepenuh jiwa, segenap akal budi dan kekuatan mengasihi Tuhan, maka orang itu pasti tidak akan menangkap Tuhan. Tuhan akan terasa makin sulit ditemui, makin sulit dikenali, rasanya Tuhan menjauh, rasanya seakan-akan demikian, padahal tidak. Tuhan tidak berubah; dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Tuhan hadir dalam kehidupan manusia. 
    Namun dibutuhkan kesungguhan yang kuat, keseriusan yang tinggi untuk bisa menjangkau atau menemukan Tuhan di tengah-tengah dunia kita yang fasik ini. Kita harus sungguh-sungguh melepaskan semua kesenangan dunia. Ketertarikan kita kepada dunia harus kita tanggalkan. Dosa-dosa yang kita lakukan harus kita lepaskan. Berat sekali, memang sulit sekali, tetapi Tuhan lebih mahal dari apa pun dan siapa pun. Kita tidak bisa membeli atau memiliki barang mahal dengan harga murah. Barang mahal, harga mahal! Siapa yang lebih mahal dari Allah? Apa yang lebih mahal dari Allah? Tidak ada! Allah itu paling berharga, paling mahal, paling mulia! 
    Dengan apa kita bisa memperoleh atau mendapatkan-Nya? Tentu dengan segenap hidup yang kita pertaruhkan untuk mencari hadirat Tuhan, mencari wajah Tuhan. Sejatinya, hanya orang yang kehilangan nyawa karena Yesus—demi pengiringan kepada Yesus—yang akan memperoleh nyawa. Nyawa bicara mengenai kehidupan. Nyawa bicara mengenai suasana jiwa. Di dalam nyawa terdapat pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan ini akan memproduksi kehendak. Jadi, kalau pikiran dan perasaan kita sepenuhnya kita tujukan kepada Tuhan, maka kehendak kita pun akan terarah hanya pada Tuhan. 
    Kuasa kegelapan bermanuver luar biasa, bagaimana membuat manusia tidak fokus kepada Tuhan. Dan sebaliknya, fokus dengan banyak hal. Apalagi kalau sampai ada yang terjerat perbuatan dosa yang menyangkut keinginan daging, nafsu dan jiwa yang keruh, maka ia akan terbelenggu dengan keadaan yang tidak akan membuatnya mampu terbang menjangkau Allah. Sebab kita harus menanggalkan atau melepaskan beban dan dosa, baru bisa terbang. Jadi jangan menganggap menemukan Tuhan itu mudah karena merasa Tuhan sangat membutuhkan kita. Tuhan itu baik, penolong, penuh kasih sayang. Benar. Tetapi jangan dengan berpikir demikian, lalu kita berpendapat bahwa Tuhanlah yang membutuhkan kita dan mencari kita. Seperti anak-anak balita yang merasa orang tualah yang membutuhkan dia, padahal sebenarnya orang tua bisa tidak membutuhkan anak-anak itu. 
    Dunia sudah mau berakhir, masak kita masih seperti anak balita yang merasa Tuhan membutuhkan kita? Lalu kita lari sana-sini suka-suka kita, dengan berbagai fokus, kesenangan, hobi, dan lain sebagainya. Ingat, kita yang harus mendekat kepada Tuhan, kita yang yang harus mencari wajah-Nya, kita yang harus menanggalkan semua kesibukan supaya kita bisa fokus kepada Tuhan. Kecuali kesibukan mengurus keluarga, kesibukan mencari nafkah, jelas itu harus kita penuhi. Tetapi selebihnya, untuk hal yang tidak perlu, jangan sentuh. 
    Ke depan Tuhan akan sulit ditemukan, namun bukan karena Tuhan mempersulit untuk ditemui melainkan karena suasana dunia kita yang fasik. Dan tanpa disadari, itu merusak cara berpikir banyak orang Kristen, selera jiwa orang Kristen yang tidak lagi memiliki kehausan dan kerinduan akan Allah, itu membuat Tuhan terasa jauh, tidak hadir. Padahal Allah tidak berubah, Allah setia memelihara kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya, Allah yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Maka kita harus seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya mencari Tuhan. Kita harus membangun sebuah rutinitas, membangun sebuah irama hidup mencari Tuhan!
    Jadi jangan bergaul dengan orang yang membuat pikiran kita rusak. Kita bisa ditawan oleh teman-teman dengan segala kesenangan dan gaya hidup yang ...
    10 min
  • Sosok yang Dapat Diteladani
    Kalau kita bisa menjadi seorang hamba Tuhan yang menemukan hidup yang bisa kita tawarkan kepada sesama, pasti Tuhan mencukupi kita bahkan melimpahi kita dengan berkat jasmani dan rohani. Namun, kita harus sungguh-sungguh. Maka kita harus menanggalkan semua kesenangan, sampai kita tidak punya kesenangan lagi. Sebab ketika kita punya kesenangan dan Tuhan tidak ikut menikmati kesenangan itu, sejatinya kita keluar dari hadirat Allah, apalagi kalau kita berbuat dosa. Dan kalau kita keluar dari hadirat Allah, artinya kita keluar dari pokok anggur. Menjadi hamba Tuhan berarti kita harus rela kehilangan hidup atau kehilangan nyawa. Dan sebaliknya, kita harus memiliki nyawa Kristus sehingga kita akan menampilkan kehidupan yang Allah kehendaki. Dan ini yang harus para pelayan Tuhan tawarkan. 
    Jadi harus digoreskan di dalam hati para hamba Tuhan, dilihat dari satu aspek pelayanan, haruslah menawarkan jenis kehidupan yang berkualitas tinggi. Dan jemaat harus dapat menemukan sosok Kristus di dalam hidup para hamba Tuhan. Belas kasihan kita, kasih kita kepada jemaat dan ini akan menjadi kesan yang kuat di dalam hidup mereka. Kita boleh marah, tetapi jangan melukai. Sebab jika kita melukai, maka mereka tidak akan mendapat sosok teladan. Jemaat harus menemukan wajah Yesus di diri para hamba Tuhan. Maka jaga perkataan, jaga sikap kita. Suatu hari mereka akan menawarkan versi kehidupan ini kepada orang lain dengan membawa pengalaman hidupnya bersama kita. 
    Jika demikian, percayalah, kita akan menikmati apa yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.” Damai yang dinikmati oleh penduduk surga, para malaikat. Tetapi kalau karakter kita buruk, maka tidak mungkin kita dapat menikmati meaningful life atau hidup yang berarti. Maka kalau kita dalam keadaan sulit—untuk makan pun sulit atau seadanya, tidak ada fasilitas–jangan kita kehilangan damai sejahtera-Nya. Sejatinya, itu adalah suatu kehormatan. Namun, bagaimana kita bisa tetap menikmati damai Tuhan di tengah-tengah keadaan sulit seperti itu? Ketika kita menikmati Tuhan, kita bisa melakukan kehendak Tuhan dan sejatinya itulah kebahagiaan kita. Itulah sebabnya kita tidak pernah kehilangan harapan dan kerinduan untuk pulang ke surga. Sebaliknya, kalau kita terikat dengan keindahan dunia ini, kita tidak akan merindukan pulang ke surga. 
    Kita adalah surat yang terbuka, maka di mana pun kita berada, orang harus bisa melihat dan merasakan surga. Ketika sukacita kita di dalam Tuhan, maka pasti kebahagiaan kita bukan di bumi ini. Dan kita pasti akan rela berkorban untuk Tuhan, karena apa yang kita tabur bagi pekerjaan Tuhan akan diingat Tuhan di kekekalan. Kita menawarkan kehidupan, dan kita adalah duta-duta yang menawarkan bentuk versi satu kehidupan yang sekaligus di dalamnya menawarkan Kerajaan Surga. Jangan sampai kita menawarkan dunia karena versi hidup kita yang telah diracuni oleh dunia. Iblis aktif seperti singa yang berjalan keliling mengaum mencari orang yang dapat ditelannya. Kita harus merapat kepada Tuhan. Yakobus 4:7-8a berkata, “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu. Mendekatlah kepada Allah, maka Ia akan mendekat kepadamu.” 
    Mungkin kita dikenal sebagai pemberita suara kebenaran, tajam khotbahnya, cerdas, tetapi kita tidak mengarahkan orang untuk memiliki kehidupan yang berkualitas, tidak menunjukkan buah-buah hidup yang baik. Maka pasti ada yang salah di situ. Kita tidak boleh mengandalkan kemampuan berkhotbah, paparan suara kebenaran yang bagus, tetapi kita harus mengandalkan kekuatan Roh Kudus supaya rhema yang dari Tuhanlah yang disampaikan. Perbanyak doa puasa dan berusaha untuk hidup tidak bercacat tidak bercela. Jangan punya kesenangan.
    Orang boleh bicara apa saja tentang kita, namun kalau kita hidup dalam kebenaran, orang akan menemukan Tuhan, menemukan sosok yang dapat diteladani. Jadi kita tidak takut berjanji untuk hidup suci dan mencintai Tuhan karena memang tidak a...
    9 min
  • Layak Masuk Rumah Bapa
    Hal yang harus kita pikirkan sekarang adalah apa yang kita tawarkan kepada jemaat atau sesama yang Tuhan percayakan hadir di jalur hidup kita. Kalau kita adalah domba yang baik, kita pasti mengikuti suara Sang Gembala yang membawa kita ke mana Dia pergi. Kita juga dapat menikmati firman yang akan mewarnai hidup kita dan membentuk warna hidup kita yang luar biasa. Firman yang menyanggupkan kita berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam Aku.”Kristus dengan spirit-Nya yang lemah lembut, belas kasihan-Nya, kesucian-Nya dan sukacita-Nya. Sehingga orang bisa berkata, “Aku ingin punya hidup seperti itu.” Warna kehidupan yang kita tawarkan adalah kehidupan yang mempersiapkan seseorang untuk layak masuk Rumah Bapa.Jadi bukan hanya sekadar mengubah orang menjadi baik, melainkan benar-benar menjadi orang yang layak dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
    Ironisnya, banyak orang hanya diajar ilmu tentang Tuhan atau teknik-teknik pelayanan, tetapi tidak diajar atau kurang diajar untuk bagaimana memiliki versi hidup yang bisa ia tawarkan; versi hidup yang Tuhan kehendaki. Maka, kalau orang tidak mengerti hal ini, pasti tidak ada isi pelayanannya, tidak ada tujuan. Kiranya ini menjadi koreksi kita yang sudah melayani Tuhan dan yang akan turun ke ladang Tuhan. Kita harus menemukan versi jenis kehidupan itu sehingga kita bisa menawarkan, lalu orang mengenakannya sebagai persiapan untuk kehidupan kekalnya. Jadi jangan hanya karena mau mendapat gelar—yang mana dengan gelar itu kita memiliki prestise, dan bisa mendapatkan nafkah—tetapi kita mau belajar untuk menemukan kehidupan yang Allah kehendaki yang akan kita tawarkan.
    Namun jangan lengah, Iblis aktif menawarkan versi kehidupan yang menggiring manusia menuju kegelapan abadi. Kita berkejar-kejaran dengan waktu. Kita harus menyelamatkan anak-anak sejak dini, kita mendidik agar mereka menemukan hidup seperti yang Tuhan mau. Kalau kita hanya mendidik mereka secara ilmu pengetahuan dalam kegiatan akademis, hal itu sudah banyak dilakukan orang. Kita harus menjadikan mereka lulusan yang benar-benar telah menemukan hidup. Oleh sebab itu, goreskan di hati kita tekad untuki menemukan hidup yang Tuhan kehendaki. Jangan makan rumput yang salah, makanlah rumput dari Tuhan, yaitu firman-Nya (rhema); “Sebab manusia hidup bukan hanya dari roti, melainkan dari setiap firman (rhema) yang keluar dari mulut Allah.”
    Secara implisit mau dikatakan bahwa setiap orang memiliki firman yang khusus; sesuatu yang spesial yang berhubungan dengan kehidupan secara individu. Untuk itu, harus ada interaksi dengan Tuhan. Maka sekarang kita mengerti, betapa pentingnya berdoa. Kita membutuhkan suara Tuhan karena Tuhan mau bicara bagaimana membentuk kita menjadi manusia yang unggul. Jadi, menakutkan kalau kita tidak memiliki hubungan dengan Tuhan. Pengetahuan teologi tidak menjamin seseorang menjadi manusia yang punya etika yang baik; belum bisa mewakili Tuhan. Sebab seharusnya kita mewakili gambar Allah yang tidak kelihatan. Sebelum Yesus naik ke surga, Yesus berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu,” yaitu untuk menjadi saksi bagi Bapa. Namun sejujurnya, betapa jauhnya standar hidup kita dari standar yang Allah kehendaki.
    Kehidupan kita sebagai pelayan Tuhan harus menjadi model dengan mana seseorang membangun dirinya; bukan hanya dari khotbah yang kita sampaikan, melainkan dari hidup kita. Sebab ketika kita memiliki kehidupan sebagai anak-anak Allah yang menyerap kebenaran dan memperagakan kehidupan ilahi (2 Ptr. 1:3-4) di situlah kita bisa menikmati hidup yang tidak bisa kita jelaskan kepada orang lain. Camkan, tidak mungkin seseorang yang karakternya buruk bisa menikmati Tuhan, menikmati hidup dengan benar. Orang yang tidak memiliki karakter kristiani yang benar pasti akan mencari perkara-perkara fana. Selera jiwanya telah rusak oleh dunia. Jadi dunia merusak selera jiwa manusia, seperti domba kelu dibawa ke pembantaian kekal,
    9 min
  • Meaningful Life
    Banyak orang tidak menyadari bahwa pelayanan yang sesungguhnya atau pelayanan yang sejati adalah menawarkan satu bentuk atau satu jenis kehidupan. Tentu banyak aspek yang lainnya. Jika tidak demikian, pasti pelayanan itu kosong, tidak ada isi yang berkualitas, tidak ada tujuan juga untuk gereja. Jadi, pelayanan kita adalah usaha menawarkan satu bentuk, satu warna, satu versi, satu jenis kehidupan dan tentu kita berusaha apa yang kita tawarkan itu diterima. Dan jika diterima, maka kehidupan jemaat yang kita layani, pasti berubah. Berubah sesuai dengan kehidupan yang kita tawarkan. Kita harus meletakkan landasan yang benar, agar jemaat sejak dini telah memiliki satu jenis, satu warna, satu bentuk, satu versi kehidupan yang benar dan baik.
    Tuhan Yesus berkata di Yohanes 10:10, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan. Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Pencuri maksudnya adalah kuasa kegelapan yang dikatakan dalam Injil, menabur ilalang di tengah-tengah ladang gandum. Sejatinya, kita sedang berkompetisi dengan lawan yang menawarkan jenis, warna, bentuk dan versi kehidupan yang menjadikan mereka penghuni api kekal, terbuang dari hadirat Allah. Mereka aktif seperti singa yang berjalan, berkeliling, mencari orang yang dapat ditelannya. Bagi kuasa kegelapan, tidak ada cuti, tidak ada gencatan senjata, tidak ada libur; kalau bisa lembur.
    Apakah Tuhan memakai malaikat untuk melawan hal ini? Tidak. Kitalah orang-orang yang diutus menyuarakan kebenaran, menawarkan versi kehidupan seperti yang Tuhan mau. Setan memakai berbagai sarana media, melalui film, musik, dan berbagai input konten di dalam gadget. Anak-anak sejak dini disemai. Iblis meletakkan landasan supaya firman tidak bisa diterima oleh anak-anak ketika mereka menginjak remaja, pemuda, dan dewasa. Anak-anak menjaditidak mengerti bagaimana kehidupan yang seharusnya. Iblis menabur racun yang membuat jiwa sakit, sehingga tidak bisa menikmati Tuhan dan Kerajaan-Nya.
    Ketika Yesus berkata, “Aku datang untuk memberi hidup,”pasti hidup yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus itu hidup yang Dia kenakan, bukan hidup orang lain. Hidup yang Yesus kenakan yang dilihat oleh murid-murid-Nya, yang karenanya Yesus bisa berkata, “Pergilah jadikan semua bangsa murid-Ku, ajar mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan;”ajar mereka memiliki hidup seperti hidup yang Kukenakan. Maka, kita harus menawarkan satu jenis kehidupan seperti itu.Berkelimpahan bukan berarti banyak, melainkan kehidupan yang berkualitas tinggi. Sebab Tuhan datang untuk memberi hidup yang bukan sekadar hidup seperti makhluk pada umumnya—bukan bios—melainkan zoe—hidup yang berkualitas. Dan Tuhan memberinya tanpa batas.
    Jadi, kehidupan yang penuh arti—meaningful life—adalah kehidupan yang dapat dinikmati, kehidupan yang menyenangkan, kehidupan yang indah karena kehidupantersebut penuh makna, penuh arti. Kalau kita mau menawarkan satu warna kehidupan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki untuk dimiliki manusia, kita harus terlebih dulu memilikinya dan menikmati kehidupan itu. Mari sekarang kita persoalkan di mana letak makna dari kehidupan itu? Di mana letak berartinya hidup itu? Bagaimana kita bisa membuat atau menemukan hidup kita berarti, itu masalahnya. Sebab kalau kita belum menemukan hidup yang berarti, bagaimana kita bisa menawarkan hidup yang berarti itu kepada orang lain?
    Jemaat pergi ke gereja supaya mengenal Tuhan, dan ketika mereka punya masalah berharap gereja bisa menolong. Tetapi jika hidup para pelayan Tuhannya tidak indah, maka mereka tidak bisa menikmati hidup yang berkualitas tinggi tersebut. Jemaat tidak melihat keteladanan dan kehidupan indah dari pelayan atau hamba Tuhan. Padahal Tuhan berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu.” Makin hari kitasemakin mengerti betapa beratnya mengubah manusia. Sebab pada umumnya mereka menjadikan hidup berarti karena uang, harta, kehormatan,
    8 min
  • Perbedaan Akhir
    Setan menipu dengan perkataan, “Nanti saja bertobat, nanti saja berubah, masih bisa.” Padahal ada tahap-tahap yang harus kita lalui, ada dosa-dosa yang harus kita selesaikan pada waktunya. Namun ada orang yang sudah umur, tetapi tidak membenahi diri sejak muda. Terus terang, akan lebih sulit kalau sudah telanjur lewat umur. Maka sejak dini, anak-anak harus mengenal Tuhan. Karena zaman ini, masa kanak-kanak pun sudah teracuni oleh banyak hal. Dunia telah meracuni kehidupan banyak orang dan mereka tidak mau belajar menyalibkan daging, menanggalkan manusia lamanya. Fokus mereka terbelah, terbagi dengan banyak hal yang menarik perhatian, sehingga tidak fokus lagi untuk bagaimana menjadi anak-anak Allah yang berkenan.
    Jadi, ada tahap-tahap yang harus dijalani, dimulai dari tahap Sekolah Minggu, di mana peran orang tua sangat besar. Pada tahap remaja, orang tua harus lebih memberi perhatian. Tahap pemuda, kalau sudah baik, mulai bisa dilepas. Dewasa muda mestinya sudah mulai bisa mandiri. Tetapi ini hanya mimpi rasanya, untuk dapat menemukan orang yang benar-benar mengikuti tahap-tahap tersebut dengan baik. Sekarang mari kita fokus untuk memberi kegirangan bagi Tuhan. Caranya? Tanggalkan manusia lama, tahap demi tahap. Menyembelih daging ketika kita memiliki dendam. Mengampuni musuh itu seperti persembahan yang berbau harum.
    Berkenannya seorang yang masih kanak-kanak rohani dengan yang sudah dewasa rohani, berbeda. Maka, kita mesti mesti jujur dengan usia yang telah kita capai ini, sudahkah kita mencapai tingkat kedewasaan rohani yang memuaskan dan menyenangkan hati Tuhan? Waktu muda, kita tersinggung ketika ada yang menghina. Tetapi sekarang, di usia 50-60 tahun, apakah kita masih tersinggung dengan mengucapkan kata-kata yang tidak patut, atau kita mulai bisa mengendalikan diri dan kita tidak membuka mulut dan tidak mengucapkan apa yang tidak patut? Tuhanlah Tabib yang sejati dan melalui Roh Kudus merawat kita. Dia melihat virus dan bakteri dosa di dalam diri kita yang harus dicabut. Bagaimana mencabut dosa dalam diri kita? Melalui masalah, itu adalah pisau operasi Tuhan. 
    Ada pisau operasi Tuhan lewat masalah-masalah hidup, dan itu adalah sekolah kehidupan kita. Namun, orang sering tidak menyadari bahwa itu adalah berkat kekal, supaya kita bisa dibersihkan dari keduniawian, unsur-unsur manusia lama, unsur-unsur kedagingan. Yang kalau kita berhasil tahap demi tahap, itu menyenangkan Tuhan. Kita akan dapat pujian, dan lewat pujian itu kita akan merasakan damai sejahtera. Kalau di dunia ini, sekolah yang baik, sekolah favorit itu sangat mahal biayanya. Namun, sekolah kehidupan ini bukan hanya mahal, namun tidak ada yang bisa membayar kecuali darah Yesus. Tuhan yang membayar. Bapa memberikan Putra Tunggal-Nya mati di kayu salib. Itulah harga sekolah kehidupan. 
    Dengan kematian Yesus di kayu salib, Bapa membenarkan kita. Artinya, kita dianggap benar. Kita bisa dibawa kepada Bapa di surga, walaupun keadaan kita masih berantakan. Itulah sebabnya Yesus berkata di Lukas 14:33, “Jika seseorang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, ia tak dapat jadi murid-Ku.” Dengan kalimat lain, “Aku bayar harga untuk membawa kamu kepada kesempurnaan, agar layak masuk Kerajaan Surga.” 
    Dalam keseharian, kita temui salah satu ciri siswa yang tidak berprestasi adalah ia suka menunda tugas. Coba sekarang perhatikan siswa yang cerdas dan juara, dia segera menyelesaikan tugas. Mereka sama-sama sekolah, namun hasil akhirnya pasti berbeda. Hal ini sama seperti yang kita jalani dalam keseharian hidup kita, terutama dalam hal mencapai kesucian hidup. Banyak orang yang berkata, “Saya tidak bisa hidup suci, karena saya adalah manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan.” Dengan segala macam alasan, kita menunda untuk hidup suci, mengosongkan bejana hati dari segala keinginannya. Mestinya kita itu makin hari makin finishing well. Ibarat bejana, kita harus makin kosong: kosong dari dosa, dari kenajisan,
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…