Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kepercayaan kepada Tuhan
    Sangat-sangat sedikit orang yang benar-benar memperlakukan Allah Pencipta langit dan bumi sebagai Pribadi yang hidup, yang nyata, yang Maha Hadir. Sebab orang tidak berani menginvestasikan waktunya untuk benar-benar mengalami Tuhan. Jadi di mata banyak orang, Tuhan itu ada dan tidak ada. Mereka percaya Tuhan itu ada, tapi juga ragu-ragu. Jadi, antara percaya Tuhan itu ada dan tidak ada. Di dalam pikiran, karena sudah mendengar banyak dari berbagai sumber, percaya Allah itu ada, tetapi dia tidak memiliki keyakinan bahwa Allah itu ada. Ada kesenjangan antara apa yang dia pikirkan, yang dia rasakan dan tentu yang dia lakukan. 
    Yang dia pikirkan Allah itu ada, tapi hati tidak sanggup memercayai sepenuhnya bahwa Allah itu ada. Sehingga kelakuannya pun tidak menunjukkan bahwa ia yakin Allah itu ada. Memang, memercayai Allah itu ada bukan sesuatu yang mudah. Benar, tidak mudah. Dengan mulut kita mengaku bahwa Allah itu ada, dengan nalar kita berani menerima atau menyetujui bahwa Allah itu ada. Tetapi hati tidak bisa memercayai-Nya secara lengkap, penuh, bulat. Dan tentu perbuatan akan sangat terpengaruhi oleh sikap kita terhadap Tuhan. 
    Lalu bagaimana hati kita bisa memercayai Allah sepenuhnya? Kepercayaan kepada Tuhan tidak bisa dipisahkan dari kekudusan, kesucian hidup dan kesediaan kita menjadikan Dia satu-satunya kebahagiaan kita. Jadi, tidak dapat dipisahkan. Kalau orang tidak hidup benar-benar bersih, maka hati tidak akan sanggup memercayai dengan utuh dan bulat. Kalau hidup kita tidak benar-benar bersih, rasanya kita mau meyakini Tuhan itu, sulit. Ibarat terbang kita hanya sampai 5-10 meter dari tanah yang kita injak ini. 
    Tapi kalau hidup kita bersih, mempertahankan kesucian, kesempatan-kesempatan berbuat dosa tidak kita gunakan, belajar mengendalikan diri, mengendalikan emosi dan kalau kita gagal, kita datang minta ampun kepada Tuhan, lalu memulai lagi berjalan di dalam kekudusan Tuhan, dimana Roh Kudus pasti pimpin kita. Di situ kemampuan kita terbang memercayai Allah lebih tinggi. Kalau orang punya kesenangan-kesenangan dunia atau hatinya terikat dengan dunia ini, ia tidak bisa memercayai Allah. 
    Jadi kita bisa mengerti apa yang dikatakan Tuhan Yesus, “Bagaimana kamu percaya, jika kamu masih mencari hormat satu dengan yang lain?” Mencari hormat, jelas sikap atau langkah yang salah, dosa. Itu membuat kita tidak bisa memercayai secara utuh dan bulat keberadaan Tuhan. Ini sama dengan, kita tidak bisa minta perlindungan Tuhan dan yakin Tuhan akan melindungi jika kita masih tidak hidup benar, tidak hidup kudus, masih terikat dengan percintaan dunia. Lumpuh iman kita. Kita tidak bisa yakin kepada Allah yang hidup, Allah yang nyata. Jadi, sangat sedikit orang yang benar-benar memercayai bahwa Allah itu hidup. Sangat sedikit orang yang benar-benar memperlakukan Allah sebagai Allah yang hidup. Karena dunia kita sudah sangat-sangat-sangat gelap. Kejahatan di mana-mana. Bukan hanya dalam kehidupan orang yang tidak beragama, orang beragama pun tidak sungguh-sungguh hidup di dalam kekudusan. 
    Banyak orang Kristen yang tidak hidup bersih, hatinya masih terikat dengan dunia. Ia tidak sungguh-sungguh hidup dalam kekudusan, masih terikat dengan perkara dunia, ia tidak sanggup memercayai Allah yang hidup. Dan kalau orang tidak memercayai Allah yang hidup, perilakunya pasti rendah, artinya kualitas perilakunya pasti rendah. Jadi, kalau orang berkata, percaya Tuhan dengan mulutnya, belum tentu dia percaya kepada Tuhan dengan benar di dalam hatinya. Dari perilaku seseorang, dari perbuatan seseorang, nampak, apakah dia meyakini Allah yang hidup atau tidak. 
    Orang yang meyakini Allah yang hidup, dampaknya luar biasa, lebih dari dinamit, powerfull. Orang yang memercayai Allah itu ada, yang dibangun dari kesucian hidup dan tidak terikat dengan dunia ini, hatinya menjadi kuat. Jadi ketika kita berusaha untuk hidup suci, keyakinannya terhadap Allah yang hidup bertumbuh atau bertambah.
    9 min
  • Mengancam Ketenangan
    Salah satu ciri dari kehidupan seseorang yang benar-benar bertumbuh adalah kesepian. Ketika kita bertumbuh di dalam iman, makin dewasa rohani, semakin mencintai dan menghormati Tuhan, semakin hidup suci, takut akan Allah, tidak mencintai dunia, keindahan dunia menjadi pudar di mata kita, maka di situ kita akan mulai merasakan kesepian. Karena kita mulai merasakan tidak banyak orang yang bisa kita ajak berbagi perasaan dan membicarakan pokok-pokok bahasan yang sama dengan kita. Fokus kita sudah langit baru dan bumi baru, Kerajaan Surga. Tetapi tema dan fokus banyak orang dalam percakapan masih seputar hal-hal dunia. 
    Kita mulai tidak nyambung, mulai tidak ‘klik’ dengan mereka yang dulu dekat. Kita mulai kehilangan mereka. Dan cepat atau lambat mereka pun akan merasa kehilangan kita. Kita mulai tidak banyak teman. Bahkan sampai pada titik tertentu, kita tidak punya teman. Itu adalah ciri atau gejala dari orang yang benar-benar bertumbuh di dalam iman; makin dewasa rohani, makin hidup kudus tak bercacat tak bercela, makin tidak mencintai dunia, mulai fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, mulai menghayati dunia bukan rumah kita, makin berkerinduan bertemu dengan Tuhan muka dengan muka. Bersyukur kita mengalami hal ini. 
    Selanjutnya, kita akan mendapatkan tantangan dan serangan dari berbagai pihak. Bukan hanya orang-orang di luar gereja, justru dari orang-orang di dalam gereja. Karena kita dianggap aneh, cara hidup kita mengancam mereka. Hidup dalam kekudusan, hidup tetap ada di hadirat Allah, hidup meneladani Yesus Kristus adalah hidup yang sulit, hidup yang berat. Ketika kita mulai bicara tentang kekudusan, maka kita akan dianggap sombong, dinilai merasa lebih benar dari orang lain, padahal kita tidak bermaksud begitu.
    Seruan untuk hidup tak bercacat tak bercela, lalu kerinduan langit baru bumi baru mengancam ketenangan orang yang masih mau menikmati dunia ini.  Seakan-akan orang berkata, ‘boleh sungguh-sungguh, tapi jangan terlalu ekstrem.’ Yang namanya ekstrem itu selalu diasumsikan negatif, demikian juga fanatik, selalu diasumsikan negatif. Padahal mestinya untuk Tuhan dan Kerajaan-Nya, kita harus seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya. Untuk kekudusan mestinya kita seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya. Kalau ada kata yang lebih tajam, lebih keras dari ini, kita gunakan. 
    Untuk Allah, Bapa Yang Maha Kudus kita harus menyerahkan hidup kita tanpa batas kepada-Nya. Mendengar kata ‘tanpa batas,’ mungkin kita dianggap bercanda atau main-main atau dianggap sedang mengintimidasi orang untuk menarik harta mereka untuk diri kita. Mendengar kata ‘tidak menyisakan,’ kita dianggap sedang mengintimidasi orang, memperdaya orang untuk memperkaya diri. Kita mungkin tidak bisa berbicara apa-apa dan memang tidak boleh banyak bicara, kita diam-diam-diam. Sementara itu kita terus membenahi diri. Karena untuk menjadi seorang yang benar-benar bersih di mata Tuhan, lurus, kudus tak bercela, tulus, bukan sesuatu yang mudah. Karena kita sudah biasa hidup di dalam kelicikan, kepura-puraan, egois dengan kecerdasan yang kita miliki, hidup suka-suka sendiri dan kita cerdas membangun argumentasi atau alasan kenapa melakukan ini atau itu. 
    Padahal kita tidak memperkarakannya di hadapan Tuhan, apa penilaian Tuhan terhadap diri kita. Itu yang terjadi dalam hidup ini. Tetapi kita akan terus memandang Tuhan, tidak terpengaruh oleh keadaan dunia sekitar kita. Dunia sekitar kita sudah sangat-sangat-sangat gelap. Standar hidup kekristenan yang mestinya dipahami dan dikenakan, jauh dari pengertian banyak orang. Standar hidup kekristenan yang kita miliki itu sesungguhnya hanya satu: serupa dengan Yesus dan sempurna seperti Bapa. Itu berarti gaya hidup Tuhan Yesus yang harus kita kenakan.
    Roh Kudus pasti menuntun kita bagaimana kita mengenakan kehidupan Yesus yang pernah Yesus jalani 2000 tahun yang lalu di Palestina, dalam hidup kita hari ini. Liku-liku,
    9 min
  • Atmosfer Hidup
    Sejatinya, kitalah yang membuat atmosfer di dalam hidup kita masing-masing, suasana hidup kita sendiri yang membangunnya. Atau kita harus berjuang untuk membangun atmosfer bagi kita masing-masing. Yang nantinya, atmosfer itu juga dirasakan oleh orang dekat di sekitar kita, orang-orang dalam pergaulan, orang-orang yang berinteraksi dengan kita di kantor atau di tempat pekerjaan. Kita harus berjuang membuat atmosfer itu atau kita membiarkan atmosfer dunia mencengkeram atas hidup kita. Jika bukan kita sendiri yang membangun, yang menciptakan atmosfer hidup kita, maka atmosfer dunialah yang akan melingkupi kita. Atmosfer yang saya maksud itu adalah hadirat Tuhan.
    Tuhan mengajarkan kepada kita Doa Bapa Kami, “Datanglah Kerajaan-Mu,” artinya, pemerintahan Kerajaan Allah hadir di dalam hidup kita sebagai anak-anak Allah. Kita harus sadar bahwa kita ada di wilayah di mana kita harus hidup di dalam pemerintahan-Nya, bukan di daerah netral. Kita ada di daerah di mana Allah memerintah sebagai Kepala Pemerintahan, Yesus sebagai Raja kita. Jadi, kalau kita mengatakan “Tuhan,” berarti kita hidup di dalam pemerintahan Allah. Karenanya, kita harus menghadirkan suasana pemerintahan Allah itu di dalam hidup kita. Bagaimana kita bisa menghadirkan pemerintahan Allah? Tentu kita harus hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan.
    Bagi orang-orang beragama, khususnya agama samawi, agama yang percaya adanya Allah Yang Esa, Allah yang memberi hukum, Allah yang juga berhak menghukum, membuang orang ke neraka atau memasukkan ke surga; seperti agama Yahudi, misalnya. Masyarakatnya bisa merasakan ada atmosfer orang beragama. Kecuali di negara-negara yang masyarakatnya sudah tidak peduli agama. Maka atmosfer sekuler yang terasa. Kita yang menentukan warna dari atmosfer yang mencengkeram hidup kita, yang juga memengaruhi orang di sekitar kita.
    Atmosfer itu kita bangun berdasarkan apa yang menjadi ketertarikan kita, apa yang menurut kita membahagiakan, berharga dan bernilai. Kalau kita masih memiliki ketertarikan pada materi, kebahagiaan kita hanya pada perkara-perkara duniawi, maka atmosfer hidup kita pasti juga duniawi. Tapi kalau ketertarikan kita adalah Tuhan dan Kerajaan Allah, maka percakapan-percakapan kita akan diwarnai dengan hal itu. Coba, apa yang memenuhi gadget kita? Itu menunjukkan warna atmosfer hidup kita. 
    Secara supranatural atau secara adikodrati, kalau kita hidup dalam kekudusan Tuhan, pasti ketertarikan kita adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Sehingga di dalam melakukan segala sesuatu, sesuai dengan firman Tuhan yang mengatakan, “Baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Maka yang terjadi, atmosfer Kerajaan Allah hadir di dalam hidup kita. Kuasa kegelapan tidak bisa menyentuh hidup kita. Malaikat-malaikat dihadirkan, setan tidak akan bisa tinggal di dalam rumahmu. Karena ada atmosfer hadirat Allah.
    Karenanya, televisi kita jangan dihiasi dengan tontonan yang tidak patut. Gadget kita jangan mempertontonkan sesuatu yang tidak patut. Monitor komputer juga jangan mempertontonkan apa yang najis. Kita yang menentukan atmosfer itu. Bapa di surga akan menuntun kita, bagaimana kita membangun, menciptakan atmosfer itu. Bagi seorang hamba Tuhan, ia harus hidup di dalam atmosfer hadirat Allah setiap saat. Jadi, ketika dia ke mimbar, tidak perlu membujuk-bujuk Tuhan supaya mengurapinya. Tuhan pasti mengurapi dan memimpinnya. 
    Kalau kita hidup dalam atmosfer yang lain, maka ketika kita meninggal, kita tidak bisa masuk hadirat Tuhan. Seseorang tidak bisa dadakan masuk surga dengan atmosfer jahat. Ironis, banyak orang yang sembarangan hidup, atmosfernya atmosfer dunia, warnanya lain, tidak seperti warnanya Tuhan. “Datanglah Kerajaan-Mu,” bukan nanti waktu Yesus datang, baru kita masuk Kerajaan-Nya. Hari ini, kita sudah harus ada di dalam hadirat Tuhan, menghadirkan Kerajaan Surga, supaya kalau Tuhan datang atau kita meninggal dunia,
    10 min
  • Terang Dunia
    Ketika Tuhan Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia,” sebenarnya secara tidak langsung, Tuhan Yesus mau berkata, “Bersinarlah.” Tentu kita tahu bahwa menjadi terang artinya melalui perbuatan kita yang baik, Bapa di surga dimuliakan. Tetapi, jangan keliru, sebab ini bukan bermaksud kita berpura-pura berbuat baik supaya nama Bapa di surga dimuliakan. Dan secara implisit, Tuhan Yesus mau mengatakan, “Berubahlah kamu dari kehidupan yang tidak bercahaya menjadi seorang yang bercahaya.” Mengingat apa yang dikatakan Tuhan Yesus, “Seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku mengutus kamu” berarti tugas penyelamatan atas dunia ini dipercayakan kepada pengikut Yesus. 
    Tuhan sudah naik ke surga, dan kita menggantikan tugas penyelamatan atas dunia ini. Maka, terang yang harus kita pancarkan haruslah terang seperti yang Yesus pancarkan. Jadi, Ketika kita berkata, ‘saya mau iring Yesus,’ itu bukan sekadar menjadi Kristen dan bergereja. Tetapi bagaimana mengikuti jejak-Nya, menyerap hidup-Nya seperti yang Yesus katakan: “Darah-Ku benar-benar minuman, tubuh-Ku benar-benar makanan. Makan tubuh-Ku, minum darah-Ku.” Artinya, kita mengenakan hidup-Nya. Jadi, tidak berlebihan kalau Paulus mengatakan, “Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” 
    Kita mewakili Tuhan Yesus. Yesus mewakili Bapa. Setelah Yesus ke surga, kita mewakili Yesus. Tongkat estafet telah diberikan kepada kita. Terang yang dimaksud di sini adalah kehidupan seperti kehidupan yang diperagakan Yesus. Dan itulah sebabnya kita disebut Kristen, artinya ‘to be like Christ’ (seperti Kristus). Terang di sini harus menjadi kodrat, natur kita. Oleh sebab itu, untuk menjadi terang dunia, bukan hanya belajar etika, budi pekerti, perilaku yang baik. Itu agama, namun kekristenan bukan agama, melainkan jalan hidup. Ini perjalanan panjang, bukan perjalanan 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, bukan juga 10, 15, 20, 30 tahun. Ini perjalanan panjang seiring dengan perjalanan hidup kita mengiring Yesus. 
    Terang kita bertambah dari 5, 10, 50, sampai menakjubkan. Di dalam 1 Petrus 2:9 firman Tuhan mengatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan Tuhan, memancarkan terang Tuhan, terang yang menakjubkan.” Kalau kita berbuat baik, banyak orang beragama berbuat baik; bahkan bisa lebih baik. Kalau kita beretika, banyak orang beragama beretika. Kalau kita memiliki kesantunan, banyak orang di luar gereja punya kesantunan. 
    Maka, menjadi terang tidak cukup berbuat baik—apalagi kalau cuma berpura-pura menjadi orang baik—tapi perubahan natur, perubahan kodrat dari kodrat dosa/sinful nature menjadi berkodrat ilahi/divine nature (kodrat Allah). Itulah sebabnya gereja tidak boleh hanya menjadi tempat kita berliturgi dan melakukan kegiatan agama. Gereja harus mengajar kebenaran seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “Kalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku, kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran akan memerdekakan kamu.” Setiap firman yang disampaikan harus mencerdaskan pikiran, sehingga jemaat memiliki yang namanya kecerdasan rohani atau spiritual quotient (kecerdasan rohani).
    Bukan hanya membuat kita baik, namun membuat kita keluar dari cara hidup yang kita warisi dari nenek moyang, lalu mengenakan cara hidup anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah itu bukan hanya status, melainkan berkodrat, berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan kecerdasan rohani ini, seseorang bukan hanya tahu apa yang baik, melainkan juga yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Bukan hanya tidak melanggar hukum, sebab kalau hanya tidak melanggar hukum, banyak orang di luar gereja yang taat hukum. Tetapi dalam segala hal yang kita lakukan, kita bisa sepikiran dan seperasaan dengan Allah (Flp. 2:5-7). 
    Jangan sampai kita berhenti di titik yang disebut point of no return ...
    8 min
  • Kesederhanaan
    Tanpa kita sadari, betapa rusaknya manusia, jika ditinjau dari standar kehidupan umat yang diselamatkan, termasuk di dalamnya orang-orang Kisten. Betapa jauh standar yang mestinya dikenakan oleh umat pilihan. Yang pada akhirnya, kita sendiri bertanya: Bagaimana seharusnya hidup sebagai umat pilihan? Dan jawabnya adalah simplicity (kesederhanaan). Kesederhanaan ini bukan berbicara mengenai keadaaan secara fisik, melainkan dari sikap hati kita. Coba kita renungkan, pahami, mengerti dan buktikan. Orang yang berhasil menghayati kekekalan adalah orang yang akan terus diarahkan pada kesederhanaan. Kalau kita gagal menghayati kekekalan, maka kita tidak akan bisa sederhana. 
    Kesederhanaan berangkat dari satu konsep, pemikiran atau pemahaman bahwa yang kita butuhkan hanya Tuhan. Mudah mengucapkannya, tetapi kalau orang sampai pada tingkat ini, sangat tidak mudah. Orang-orang yang banyak menderita, tertekan, kecewa, selalu dalam kondisi kritis, krisis biasanya lebih bisa menghayati hal ini; bukan berarti pasti. Sebaliknya, orang yang hidupnya makmur, nyaman, kaya, sulit menghayatinya. Dan tidak berlebihan, Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 19:23, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Ini bukan sembarangan. Pasti ada landasan, ada alasan mengapa Yesus mengatakan ini. 
    Kalau kita membaca ayat sebelumnya, ada seorang datang kepada Yesus dan bertanya, “Guru yang baik, apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Hidup kekal, bukan hanya bicara mengenai panjangnya hidup karena tertumbuk kata “kekal,” melainkan juga bicara mengenai dalamnya hidup, kualitas hidup. Jadi, jika sejak di bumi hidupnya berkualitas pasti akan berlanjut di kekekalan. Masuk surga itu bukan dadakan. Orang yang akan masuk surga atau masuk neraka gejalanya sudah kelihatan sejak ia hidup di bumi ini. Maka kita harus belajar setia dari perkara kecil. Kekudusan itu absolut sekali. Namun kadang-kadang manusia lama kita masih bangkit. Paulus mengatakan, “Aku tahu yang baik, yang jahat kulakukan. Dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” 
    Jadi kalau kita tidak banyak berdoa, tidak hati-hati, kita akan mudah meleset. Jangan kita menuruti keinginan daging kita yang puas sesaat. Kenapa kita bisa begitu? Karena kita merasa kuat. Maka orang kaya itu, potensi untuk meleset lebih besar. Mereka tidak membutuhkan “dunia lain.” Karena dunia hari ini sudah nyaman, maka untuk apa “dunia yang akan datang?” Sebaliknya, dalam kondisi orang terjepit, orang lebih bisa memikirkan kekekalan. Tetapi kiranya kita tidak usah dibuat menderita atau terjepi dahulu baru kita bisa menghayati kekekalan. Mari melihat hidup secara realistis dari kacamata Alkitab, bukan realistis dari kacamata dunia yang duniawi, yang semua diukur dengan uang dan benda. Kita mengukurnya dengan ukuran rohani. 
    Hidup kita mau jadi berkat, simple, jangan sok. Lagipula ciri orang yang menemukan Tuhan adalah mengubah orang. Kekristenan yang sejati itu simple. Kalau tidak simple, kita tidak bisa terima ajaran Tuhan Yesus. Ilmu tentang Tuhan Yesus, teologi, bisa. Tapi hal-hal yang menyangkut sikap batin, bisa tidak menyentuh. Makanya Tuhan berkata, “Datang kepada-Ku, yang letih lesu dan berbeban berat, Aku beri kelegaan.” Kelegaan itu artinya perhentian. Tapi banyak orang menafsirankan salah; lega kalau sudah punya rumah, sudah sembuh, sudah punya anak, dan lainnya. 
    Padahal yang Tuhan maksud, kita lega ketika kita tidak punya keinginan apa-apa. Dan suatu kali kita harus melepaskan apa pun dan siapapun. Mari kita kenakan pemahaman yang Tuhan inginkan ini, kesederhanaan. Sehingga, pertama, hidup kita berubah, kita tidak terikat dunia. Kedua, kita tidak berbuat dosa lagi. Ketiga, kematian menjadi hal yang ditunggu dan menyenangkan. Ingat, Yesus hanya melayani Bapa. Demikian juga kita. Buatlah hidup kita sederhana; asal ada makanan pakaian, cukup.
    9 min
  • Meningkatkan Kecepatan
    Kita harus selalu merasa bahwa kita masih bisa lebih meningkatkan kecepatan kita dalam pertumbuhan kerohanian. Kita harus selalu merasa bahwa kita belum melakukan yang terbaik. Kita harus selalu merasa bahwa kita belum maksimal. Namun, banyak orang sudah merasa puas dengan pertumbuhan rohani yang terjadi atau berlangsung di dalam hidupnya.  Banyak orang Kristen merasa bahwa kecepatan pertumbuhan rohaninya sudah wajar, sudah normal, sudah baik; padahal belum. Orang-orang seperti ini akan cenderung kecepatannya bertumbuh menjadi lebih lambat bahkan bukan tidak mungkin menjadi stagnan, berhenti atau stop. 
    Ironis, kalau untuk hal-hal yang bersifat fana—apakah itu karier, prestasi dalam bekerja, jumlah uang atau harta, kedudukan, nama baik—orang berusaha sekuat tenaga agar bisa terus bertambah banyaknya, lebih besar dan lebih cepat. Namun mengapa untuk kehidupan rohani, mereka tidak memiliki ambisi untuk lebih berkenan di hadapan Tuhan, lebih menyenangkan hati Tuhan? Padahal, jika kita memiliki sikap hati yang benar—bahwa kita bisa lebih maksimal, bahwa kecepatan kita bertumbuh bisa lebih baik—maka kita akan mulai melihat hal-hal yang bisa menghambat pertumbuhan rohani kita. Kita bisa melihat dosa-dosa yang masih menghambat kita bertumbuh, dan mengenali beban-beban yang menghambat kita bertumbuh; yaitu kesenangan-kesenangan dunia. 
    Banyak orang yang hidupnya masih wajar; wajar di mata dunia, tapi tidak wajar di mata Tuhan. Dan tanpa sadar kita sering terjebak dalam kesalahan itu. Kita melakukan kekeliruan, tapi kita tidak menyadarinya. Sering kita sadar belakangan. Pada waktu kita melakukan kesalahan, kita tidak menyadari, tapi belakangan baru kita sadar bahwa kita ternyata kita masih hidup dalam kehidupan yang wajar seperti anak dunia. Sehingga kecepatan kita bertumbuh tidak sebagaimana yang Allah Bapa kehendaki. 
    Sejatinya, kecepatan kita harus makin meningkat. Ibarat kendaraan gigi 1 – gigi 2 – gigi 3 – gigi 5 – lalu maksimal. Ibarat pesawat terbang, kita bukan hanya di landasan pacu terus-menerus. Memang pertama lambat, tapi makin cepat, makin cepat, makin cepat, dan cepat sekali, lalu terbang. Kita terbang (take off) dan kita akan mendarat (landing) di langit baru bumi baru. Kita harus terbang setinggi-tingginya. Kita harus berambisi untuk sampai ke takhta Bapa di surga dan dalam keadaan yang berkenan di hadapan Tuhan. 
    Tidak ada yang harus kita kerjakan dalam hidup ini selain terus bertumbuh dengan kecepatan setinggi-tingginya yang bisa kita lakukan, sehingga kita mencapai perkenanan Tuhan secepat-cepatnya. Selain kita tidak tahu kapan dunia ini berakhir, kapan akan ada chaos, dan dunia kacau, juga kita tidak tahu kapan hari meninggalnya kita. Sering kita tidak maksimal sehingga ada kesombongan-kesombongan terselubung yang masih kita pelihara, ada sikap gila hormat yang sebenarnya masih menetap, atau hal-hal duniawi yang ternyata masih kita dekap dalam kehidupan kita. Dan itu tidak bisa kita sadari selain kecepatan kita tinggi. 
    Jadi kalau kecepatan pertumbuhan kita tinggi, baru nampak dosa dan kelemahan kita yang Tuhan tidak kehendaki tersebut. Sebaliknya, kalau kecepatan kita tidak tinggi, maka tidak ada nyanyian indah di hadapan Tuhan. Memang, hal ini tidak bisa dikenakan kepada semua orang. Ada orang Kristen yang kecepatannya masih tidak bisa tinggi karena baru Kristen atau masih terlalu muda secara usia biologis, masih remaja, pemuda. Tapi kalau sudah usia makin tua, kecepatan kita harus makin tinggi, kita harus membubung setinggi-tingginya. 
    Dalam kecepatan tinggi, baru nyanyian indah terdengar di telinga Bapa. Kehidupan kita baru memuaskan hati Allah. Dengan kecepatan tinggi, baru tercipta keharuman di hadapan Tuhan. Jadi, kita tidak bisa berkata, “Saya sudah mencapai 30km/jam, cukuplah.” Padahal kita mampu 80km/jam, bahkan hingga 200km/jam. Untuk orang seperti itu, pasti tidak ada nyanyian, tidak ada keharuman di hadapan Allah.
    9 min
  • Membangun Eksklusivitas
    Bagi orang Kristen yang benar, ketika ia berbuat satu kesalahan, maka hal itu akan menyakitkan dirinya. Sampai dia trauma, fobia berat, dan tidak melakukan kesalahan lagi. Dia benci dosa, benci perbuatan salah. Sebab hukumnya adalah Tuhan sendiri; pikiran dan perasaan-Nya. Bukan hanya tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, tapi segala sesuatu yang kita lakukan, harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Maka setiap kata yang kita ucapkan, harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Jangan ragukan Allah. Allah tidak mungkin salah. Tidak bercela, Dia. Yang bercela itu kita. Bukan Tuhan yang menyesuaikan diri dengan kita; kita yang menyesuaikan diri dengan Allah. 
    Perjanjian Baru adalah zaman anugerah; bukan saja di zaman ini Yesus mati untuk kita, tapi Yesus menjadi jalan kita sampai kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi. Maka kita harus memahami kebenaran, yang akan mencerdaskan pikiran kita; kecerdasan rohani. Sehingga kita mengerti pikiran dan perasaan Allah, kita bisa mengerti selera-Nya. Tidak ada kehidupan yang lebih indah dari kehidupan seorang yang peka terhadap pikiran dan perasaan Allah. Semakin kita memiliki kecerdasan rohani dalam setiap langkah yang kita miliki, semakin kita membahagiakan hati Tuhan. Sehingga kehidupan kita menjadi kehidupan yang mengekspresikan pikiran dan perasaan Allah. 
    Waktu kita Kristen baru, kita nuntut ini-itu kepada Tuhan, dan Tuhan toleransi. Tapi seiring dengan bertumbuhnya kedewasaan kita, kita mulai berkata, “bukan kehendakku yang jadi, Bapa, kehendak-Mulah.” Dia Allah yang hidup. Kita tidak perlu perantara tokoh, karena kita bisa menjumpai Tuhan secara pribadi sampai menemukan satu bentuk hubungan yang Allah inginkan itu terbangun. Lewat perjalanan waktu, bertumbuhnya kedewasaan rohani kita, sampai terjadi keharmonisan antara kita dengan Allah, dan itu harta abadi yang akan kita miliki di kekekalan. 
    Sebagaimana kita memiliki hubungan yang baik dengan pasangan, maka ketika tua, baru kita bisa menemukan satu bentuk hubungan yang itu tidak akan pernah bisa terbangun dengan siapa pun. Air mata sudah tidak bisa mewakili dukacitanya ketika kita kehilangan orang yang bersamanya kita membangun hidup. Tuhan mau kita memiliki hubungan yang eksklusif dengan Dia, dan itu anugerah. Kalau Tuhan menjadikan tubuh kita bait Roh Kudus, betapa luar biasa. Bukan hanya kita yang berkata, “aku tidak mau kehilangan Engkau, Tuhan.” Tapi Tuhan pun berkata, “Aku tidak mau kehilangan orang ini.” Hubungan yang istimewa. Yang untuk itu Yesus berkata, “jika kamu tidak membenci ayahmu, jika kamu tidak membenci ibumu, bahkan nyawamu, kamu tidak layak bagi-Ku.” 
    Artinya, keintiman, eksklusivitas, keistimewaan hubungan kita dengan Tuhan harus melampaui eksklusivitas hubungan kita dengan siapa pun dan apa pun. Sampai terbentuk satu tipe, versi, bentuk personal relationship yang luar biasa, lewat perjalanan waktu. Dan ini tidak bisa dicapai dalam sekejab, karena kedewasaan rohani kita tidak bisa kita capai dalam satu hari. Perlu waktu karena karakter kita itu buruk. Makanya kalau kita sungguh-sungguh mau menemukan Kekasih Abadi, yaitu Tuhan, jangan merasa sudah menemukan. Betul, kita sudah menemukan Dia. Tapi belum menemukan relasi yang ideal dengan Dia. Investasikan waktu, pikiran, tenaga, apa pun yang kita miliki untuk membangun eksklusivitas hubungan kita dengan Tuhan. 
    Bersyukur kita mengerti hal ini atau pada kesempatan ini diberi kesadaran. Kita belum terlambat. Mari kita membangun hubungan yang indah dengan Tuhan, sampai menemukan bentuk yang Tuhan sendiri menikmatinya dan berkata, “Aku senang urusan dengan orang ini.” Sebab pada akhirnya kita pulang sendiri. Seperti Ayub katakan, “aku datang sendiri, pulang sendiri.” Orang tidak menyadari ini. Nanti kalau sudah di ujung maut, baru dia tahu sebagaimana ia datang sendiri, dia pulang sendiri. Jadikan setiap menit hidup kita menjadi ibadah, seremonial, liturgi kita. Dan hukum kita adalah Tuhan sendiri.
    10 min
  • Selera Rohani
    Perjumpaan dengan Tuhan yang benar, perjumpaan dengan Allah yang benar, pasti akan membangkitkan selera rohani di dalam dirinya. Selera rohani di sini maksudnya dia bisa mengerti perasaan Allah; apa yang menyenangkan hati Tuhan, apa yang tidak. Banyak orang memiliki pengalaman keberagamaan, pengalaman liturgi, tetapi tidak memiliki pengalaman berjalan dengan Tuhan. Tidak ada perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi. Jadi, tidak heran banyak orang Kristen yang tidak mengerti selera Tuhan; tidak mengerti pikiran dan perasaan Allah. Jadi kalau seseorang mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara benar, cirinya adalah dia mengerti selera Tuhan; “baik kamu makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” 
    Kalaupun pacaran, pacaran pun untuk Tuhan; menikah, menikah pun untuk Tuhan; punya anak, punya anak pun untuk Tuhan; tidak pacaran, tidak menikah, tidak punya anak pun juga untuk Tuhan. Mestinya standar hidup kita itu seperti ini. Dari anak-anak Sekolah Minggu, mestinya kita mengajarkan kebenaran ini. Kepada remaja dan pemuda, mestinya kita mengajarkan hal ini. Dan jika kebenaran ini diperoleh seseorang, maka hidup orang itu akan menjadi team work. Suami istri itu team work; tim yang bekerja bersama untuk pekerjaan Allah. Itu idealnya. Di dalam hidup ini, ada dua pilihan besar yang menentukan kebahagiaan. Pilihan yang pertama, memilih kekasih abadi. Pilihan kedua yang terbesar adalah memilih jodoh. 
    70 tahun umur hidup kita di bumi ini, sebenarnya hanya untuk menemukan kekasih abadi. Kalau seorang pria atau seorang wanita serius dalam membangun rumah tangga, ia akan mengevaluasi, mengoreksi hubungan dengan pasangannya; hal-hal apakah yang membuat hubungan dengan pasangannya tidak harmoni? Kalau pasangan bertumbuh dewasa, maka mereka akan memiliki hubungan yang matang. Demikian pula kalau kita serius mau menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, dimana Yesus menjadi Mempelai Pria dan kita menjadi mempelai wanita. Kita serius mengoreksi, mengevaluasi hubungan kita dengan Tuhan. 
    Kalau hubungan suami istri manusia, keduanya harus bertumbuh bersama. Kalau yang pria dewasa, wanita tidak dewasa, ada kesenjangan; dan sebaliknya. Maka sulit membangun hubungan harmoni yang matang atau dewasa. Namun kalau hubungan kita dengan Tuhan, Tuhan sempurna. Dia setia. Tidak diragukan. Yang menjadi masalah pasti di pihak kita, bukan di pihak Tuhan. Jadi kalau kita mengoreksi, mengevaluasi hubungan kita dengan Tuhan, yang kita evaluasi diri kita, bukan Tuhan. Karenanya, kita harus bertumbuh. Semakin kita bertumbuh dewasa, maka hubungan kita dengan Tuhan makin dewasa, makin matang. 
    Dalam hubungan suami istri untuk mencapai hubungan yang ideal, tentu seseorang berusaha mengerti pasangannya, dan menyesuaikan diri. Demikian pula hubungan kita dengan Tuhan. Jangan menuntut Tuhan berbuat baik. Dia sudah sangat baik. Jangan menuntut Tuhan berbuat tidak salah. Dia tidak pernah bersalah. Pasti yang tidak baik dan yang bersalah itu pihak kita, bukan pihak Tuhan. Yang kita harus lakukan adalah kita bertumbuh untuk memahami, mengenal Allah. Bertumbuh dan memahami Allah. Bukan hanya secara teologis, bukan hanya secara pengajaran, melainkan setiap individu harus benar-benar berusaha untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, sehingga bisa menemukan hubungan yang benar-benar eksklusif antara diri kita masing-masing dengan Tuhan. Eksklusivitas yang tidak dimiliki oleh siapa pun. 
    Kalau menggunakan kata “tipe” atau “versi,” tidak ada satupun manusia yang memiliki versi sama dalam berelasi dengan Tuhan. Karena setiap individu itu khusus, unik. Betapa menakjubkan Allah yang Maha Hadir, berurusan dengan setiap individu. Dan setiap individu bisa membangun eksklusivitas hubungan dengan Tuhan. Ironis, sedikit sekali yang benar-benar memperkarakan bagaimana menjumpai Tuhan, bagaimana memiliki perjumpaan dengan Tuhan, sentuhan dengan Tuhan secara personal. Personal relationship. Sampai menemukan satu versi,
    10 min
  • Merasa Lebih Dari Cukup
    Tuhan tidak akan mengecewakan kita. Kalau keadaan kita tidak membahagiakan, jangan kita cepat-cepat menyalahkan Tuhan. Sebab, Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Ingat pengalaman Abraham yang selama 25 tahun menantikan anaknya lahir. Dia sudah taat meninggalkan Ur-Kasdim, dan tidak berniat kembali ke Ur-Kasdim demi ketaatannya kepada Elohim Yahweh, yang menjanjikan bahwa dirinya akan punya anak sebanyak bintang di langit, pasir di laut. Tapi kenyataannya, anaknya tidak kunjung lahir. Tapi dia tidak kecewa. Ini mengagumkan. Dia tetap memercayai Tuhan.
    Mungkin sekarang ada di antara kita yang sedang mengalami keadaan sulit yang membuat kita merasa bahwa ini sudah berlarut-larut, dan Tuhan tidak peduli. Keadaan kita makin merosot, makin terpuruk, lalu kita bertanya, “Tuhan, Engkau di mana?” Namun ketahuilah bahwa semua hal yang terjadi itu pasti ada akhirnya, ada ujungnya. Dan pasti mendatangkan kebaikan. Karena Roma 8:28 mengatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” 
    Mari kita tidak menjadi kecewa. Dia patut, Dia pantas dipercayai. Dalam keadaan kita yang paling sulit, kita tetap memercayai bahwa Allah itu setia. Satu-satunya Allah yang benar, Yang Maha Besar, Elohim Yahweh selalu menyertai. Sampai putih rambut kita, Ia menggendong kita. Hal lain yang membuat seseorang jenuh dan bosan adalah kenyamanan. Jangan main-main, kenyamanan pun bisa membahayakan. Sebab seseorang yang menikmati kenyamanan, sampai akhirnya dia terbelenggu oleh kenyamanan. Ia tidak tertarik lagi dengan hal-hal rohani. 
    Maka kadang Tuhan mengizinkan kita mengalami kesulitan supaya kita mencari Tuhan. Ketika Tuhan memberkati kita dengan segala berkat, hidup kita menjadi tidak bermasalah dalam segi ekonomi dan lain-lain, mestinya kita bersyukur dan makin mencari Tuhan. Kita melihat orang-orang lain, begitu banyak penderitaan yang dialami oleh mereka. Dan ucapan syukur kita bukan hanya dengan perkataan, tapi dengan sikap dan perbuatan. 
    Ingat! Seberapa nyamannya hidup di dunia ini, pasti berakhir. Semua ada ujungnya. Jadi, jangan kita tenggelam kenyamanan hidup, sampai kita tidak memikirkan lagi dunia yang akan datang, langit baru bumi baru. Seakan-akan kehidupan itu hanya sekarang di bumi ini; di balik kubur tidak ada kehidupan lagi. Masalahnya, sering orang ketika memiliki kenyamanan hidup, maka ia tidak menginginkan dunia lain. Sebab dunia hari ini sudah baik. Kalau sudah dilanda masalah, baru mengerti bahwa realitas hidup ini pahit. Kalau tidak ada masalah, semua jalan dengan baik, orang merasa tidak membutuhkan siapa-siapa, bahkan tidak membutuhkan Tuhan. 
    Tapi bersyukur jika kita masih diingatkan Tuhan bahwa kita membutuhkan Dia lebih dari siapa pun dan apa pun. Oleh karena itu, kita harus bertumbuh terus sampai kita merasa bahwa Dia kita butuhkan lebih dari nafas di dalam tubuh kita, lebih dari darah di tubuh kita. Kalau sampai kita pada tingkat itu, kita tidak akan merasa jenuh atau bosan. Kita bisa berkata, “Engkau kehidupanku, Tuhan. Tanpa Engkau, tidak ada kehidupan di dalam diriku. Pegang tanganku, jangan tinggalkan aku. Yang kubutuhkan bukan berkat-Mu, bukan kuasa-Mu, tapi Engkau sendiri, Tuhan. Engkau sendiri.” 
    Memiliki ketergantungan yang kuat, sampai kita seperti orang kecanduan atau addict terhadap Tuhan. Dan kita baru bisa menghayati yang dikatakan pemazmur, “seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku merindukan Engkau, ya Tuhan.” Kalau sampai tingkat menjadikan Tuhan itu kehidupan, kita menjadi kekasih Tuhan. Jadi kalau pasangan hidup atau anak meninggalkan kita, jangan diratapi. Serahkan dalam tangan Tuhan, biar kehendak Tuhan yang jadi. Jangan memaksa dia harus pulang. Kalau memang dia memilih untuk tidak pulang, Tuhan pun tidak memaksa dia. Jangan terluka. Jangan membuat kita memusuhi bahkan mengutukinya.
    Namun katakan,
    7 min
  • Kejenuhan
    Mungkin ada di antara kita yang pernah mengalami kejenuhan; perasaan bosan atau jenuh dalam mengikut Tuhan. Kita jadi malas ke gereja, malas berdoa, lebih senang nonton film, mendengarkan lagu-lagu duniawi, melakukan banyak kegiatan yang tidak terkait dengan pertumbuhan rohani, apalagi pelayanan. Saat-saat seperti itu bisa dialami oleh semua orang. Tahukah bahwa ketika kita mengalami hal itu, sebenarnya itu adalah sebuah isyarat atau signal atau petunjuk bahwa kita mengalami keadaan stagnan; keadaan tidak bertumbuh. Keadaan rohani yang tidak bertumbuh ditandai dengan perasaan jenuh dan bosan dalam menjalani kehidupan rohani atau kegiatan yang dapat membangun iman. 
    Justru dalam keadaan seperti itu mestinya kita bertindak, keluar dari keadaan tersebut. Kita yang harus memaksa diri untuk berdoa, membaca Alkitab, meninggalkan hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang tidak membangun iman kita. Itu semua tergantung kita. Sayangnya, banyak orang yang menyerah. Dia pikir, nanti suatu hari dia akan tekun lagi, giat lagi mencari Tuhan. Sekarang mau mencari “selingan” dahulu; “me time.” Ini sesat, ini salah. Seharusnya, me time kita adalah kebersamaan dengan Tuhan. Banyak orang yang tidak memiliki kecintaan kepada Tuhan secara proporsional, tidak mengalami pertumbuhan rohani secara benar, sehingga masih mengalami perasaan bosan, jenuh dalam kegiatan-kegiatan rohani. Orang yang bertumbuh dewasa, tidak akan mengalami kejenuhan. 
    Padahal kalau sudah mencari selingan semacam ini, kita menjadi rentan, akan mudah jatuh dalam dosa. Ini masalahnya. Yang sedang tekun mencari Tuhan, tekun berdoa, membaca Alkitab saja bisa meleset—karena tidak ada seorangpun yang kebal terhadap doa—apalagi yang tidak. Karena jenuh dan bosan melakukan kegiatan-kegiatan rohani, maka dia punya berbagai aktivitas yang tidak membangun iman. Mereka pasti menjadi mangsa empuk kuasa kegelapan. Jika kita mengalami ini, maka kita harus bisa menaklukkan atau mengalahkan kejenuhan itu. Kalau kita menyerah dan berkata “kali ini saja,” berarti kita membangun selera duniawi. Kita seperti membuat belenggu yang makin kuat melilit kita. 
    Kejenuhan ini bisa disebabkan berbagai hal; misalnya, kekecewaan terhadap orang tertentu, apalagi kalau orang itu dianggap rohani, atau kita terlukai oleh orang yang kita anggap sebagai menjadi teladan. Atau mungkin kita tidak mengalami langsung tapi mendengar. Itu pun bisa membuat seseorang jadi memiliki pembenaran diri. Kekecewaan seperti ini membuat kita menjadi jenuh dan bosan. Sejatinya, kita harus melihat kenyataan bahwa seorang Yudas yang bersama dengan Tuhan Yesus, bisa berbuat tindakan yang begitu jahat, keji. Semua orang bisa berbuat salah. Hamba Tuhan pun tidak kebal terhadap kesalahan atau dosa. 
    Kalau suatu hari kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, dan berkata, “Tuhan, aku jadi jenuh dan bosan mencari Engkau, karena aku dikecewakan oleh gembala gereja, yang mestinya menjadi panutan saya, Tuhan.” Maka alasan kita pasti tidak akan diterima. Seakan-akan kalau dikecewakan oleh seorang pendeta, aktivis gereja, majelis, lalu kita seperti boleh memiliki reaksi yang negatif. Justru mestinya hal itu membuat pikiran kita terbuka bahwa seorang pendeta, majelis, atau aktivis bisa melakukan hal-hal yang tidak patut. Nah, kita berjaga-jaga jangan melakukan hal yang sama. Jadi, keadaan itu mestinya memicu dan memacu kita untuk bertumbuh. 
    Jadi, kita harus memberikan respons yang positif. Respons yang negatif membuat seseorang tidak bertumbuh, jenuh ke gereja. Bahkan tidak jarang yang total tidak mau lagi mencari Tuhan, sampai pada tingkat pindah agama. Hal ini bisa terjadi atas hidup siapa saja, semua orang. Jangan menjadi jenuh. Justru sebaliknya, kita menjadi kuat. Itu bisa menjadi nutrisi, bisa menjadi bahan bakar untuk kita terbang. Apalagi dunia kita hari ini adalah dunia yang penuh hoaks. Media sosial terbuka, sembarangan orang mengatai, mem-bully, memfitnah orang.
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…