Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Merebut Diri Sendiri
    Kalau Alkitab berkata, “Ucapkan syukur dalam segala hal,” itu bukan tanpa alasan. Artinya semua yang terjadi baik adanya. Misalnya, ketika nama baik kita dirusak, sebenarnya Tuhan mau menghancurkan kehormatan dan kesombongan kita. Karena Tuhan mau kita hanya mencari kehormatan di kekekalan, kehormatan yang diberikan Allah; bukan kehormatan dari manusia. Masing-masing kita memiliki pergumulan yang berbeda-beda, tapi pada intinya, Tuhan mau menghancurkan manusia lama kita melalui masalah dan tekanan hidup. 
    Jadi, kalau kita punya masalah, kita harus menangkap apa maksud Tuhan di balik masalah tersebut. Sering kali, justru karakter kita yang harus diselesaikan lewat masalah itu. Jangan sampai kita berdoa seperti yang dikatakan Yakobus, yaitu kita minta sesuatu untuk memuaskan hawa nafsu kita sendiri. Misalnya, waktu kita dimusuhi orang, kita tidak minta Tuhan untuk menghancurkan musuh itu, melainkan kita minta Tuhan membuat kita tidak marah, bisa mengampuni dan memberkati orang yang melukai kita. Di sini kita merebut diri kita untuk Tuhan. Jangan meminta sesuatu untuk memuaskan hawa nafsu kedagingan kita. 
    Jadi sekarang yang kita lakukan adalah meminta Tuhan agar kita bisa berkata seperti pemazmur, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah.” Walau banyak kasus yang terjadi di dalam hidup, kita tidak terpaku pada masalah atau kasus itu, tetapi kita memperhatikan keadaan manusia lama yang harus dimatikan. Supaya manusia barulah yang dihidupkan, yang kita persembahkan untuk Tuhan. Namun, banyak di antara kita yang masih memelihara manusia lama. Kalau kita berkeadaan seperti ini terus, kita tidak mungkin dilayakkan masuk ke dalam Kerajaan Surga. 
    Sekarang, kalau ada orang berkata, “Saya mau melayani pekerjaan Tuhan,” maka ia harus mulai dengan merebut dirinya sendiri dulu. Nanti Roh Kudus akan menuntunnya, karena setiap orang punya kasus yang sangat pribadi dengan karakteristik yang berbeda. Dan kalau kita sudah merebut diri kita, maka kita pasti merebut orang lain. Pelayanan kita baru benar, bukan sekadar mengisi gereja dengan orang-orang yang menjadi anggota gereja, tapi kita mengisi Kerajaan Allah, mengisi Rumah Bapa dengan jiwa-jiwa. Kita harus mengasihi diri sendiri dengan benar, sebab standar mengasihi orang lain harus bisa mengasihi diri sendiri dahulu dengan benar. 
    Maka kalau kita merebut diri kita untuk Kerajaan Surga, kita juga pasti merebut sesama untuk Kerajaan Surga. Dan itu harus dimulai dari hati. Jadi, kalau kita sampai tidak punya kerinduan untuk memenangkan jiwa-jiwa, berarti memang kita juga belum menang. Bagaimana kita mau merebut jiwa untuk Tuhan jika kita sendiri belum merebut jiwa kita untuk Tuhan? Makanya, sekolah Alkitab harus melatih para mahasiswa untuk memperbaiki manusia barunya, bukan hanya memberi pendidikan teologi. Kita tidak butuh sertifikat atau piala dari manusia, yang kita pikirkan bagaimana sebanyak mungkin jiwa-jiwa diselamatkan; dari anak-anak remaja, pemuda, dewasa sampai usia lanjut. 
    Kita ingin kehadiran kita di mana-mana merupakan kehadiran Tuhan sendiri; tulus, polos, natural, tidak berdiplomasi, penuh belas kasihan. Kita bisa mengekspresikan, menerjemahkan perasaan Tuhan dan itu membahagiakan Tuhan. Dalam hal ini berarti kita berhasil memenangkan jiwa kita untuk Tuhan. Ketika hati kita menjadi bejana, di mana perasaan Tuhan dicurahkan, kita bisa mengasihi orang karena Tuhan mengasihi orang itu; bukan karena kita punya kepentingan. Ketika kita ingat, bagaimana Tuhan Yesus melihat kota Yerusalem dan menangisinya. Kita harus punya perasaan seperti itu, menangisi jiwa-jiwa dengan tulus, dan menanyakan, “Apa yang harus kulakukan bagi mereka, Tuhan?”
    Tuhan bisa tidak membutuhkan kita atau tidak memaksa pembelaan dari kita, tapi Tuhan mau memakai kita untuk menyelamatkan manusia lain. Tuhan tidak menyuruh dan memakai malaikat, Tuhan memakai kita. Dan kalau kita sungguh-sungguh membela Tuhan dengan menyelamatkan ji...
    10 min
  • Pengkhianatan
    Ada kesenangan dan hobi yang menjadi beban dan menghambat perjalanan kita ke surga dan merusak langkah kita berkemas-kemas. Dan tanpa kita sadari, kesenangan dan hobi tersebut pasti akan mencuri uang Tuhan yang Tuhan percayakan kepada kita. Namun bersyukur, Tuhan begitu sabar kepada kita dengan memberi kita kesempatan. Sekalipun kita tidak setia, Dia tetap setia. Dan kalau kita melihat kesetiaan Tuhan, kita berutang. Maka kita tidak boleh tidak setia lagi, kita harus setia. 
    Larangan untuk tidak mengingini dunia kedengarannya konyol. Tapi kalau kita bisa merebut diri kita untuk Tuhan, kita pasti dibela Tuhan. Tuhan tahu kebutuhan kita. Tuhan tidak akan mempermalukan hidup kita. Walaupun hari ini kita dalam keadaan kelam kabut, Tuhan akan membela kita, asalkan kita pun membela Tuhan. Allah tidak menghendaki jiwa kita binasa dan itu tidak bisa dilakukan oleh Tuhan karena Tuhan punya tatanan. Hal itu harus dilakukan oleh manusia itu sendiri. Ingat, betapa aktifnya kuasa kegelapan mau merebut kita. Iblis bisa menyuntikkan berbagai keinginan di dalam diri kita dan kita menjadi sibuk dengan keinginan-keinginan itu sehingga kita berkhianat kepada Tuhan.
    Pelayanan juga tidak boleh menjadi hobi, tapi menjadi kesukaan bagi Tuhan, bukan kesukaan bagi diri kita sendiri. Jadi pada intinya, keinginan yang tidak menyenangkan Tuhan adalah pengkhianatan. Sebab kita telah dibeli dan harganya lunas dibayar, artinya kita bukan milik diri kita sendiri. Hal ini bukan berarti setiap orang harus menjadi pendeta, tapi baik kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, kita lakukan semua untuk kemuliaan Allah. Ini Kristen yang normal. Kurang dari ini, palsu. Kita ke gereja bukan ukuran kita sudah bertuhan. Bertuhan adalah interaksi dengan Tuhan setiap saat, menemukan kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya. 
    Bagaimana Tuhan mau membela seseorang kalau orang itu tidak membela Tuhan? Ia tidak mau merebut rohnya dan jiwanya untuk Kerajaan Surga. Bagaimana kita mau dibela Tuhan? Kita tidak menjadi anak-anak Allah yang baik, tidak mengarahkan jiwa dan roh kita ke Kerajaan Surga. Kita harus berperang setiap hari melawan keinginan-keinginan yang ada di dalam pikiran kita dan kalau kita menurutinya, itu akan berbuah dalam perbuatan. Sejujurnya, masih banyak orang yang berfantasi tentang Tuhan, mereka belum sungguh-sungguh mengalami Tuhan, lagu-lagu yang begitu indah yang dinyanyikan sering itu hanya menjadi hiasan bibir semata. 
    Tapi ketika kita berjuang untuk merebut roh dan jiwa kita untuk Tuhan, baru kita bisa merasakan kehadiran Tuhan. Sakitnya menanggalkan keinginan lama untuk tunduk kepada Tuhan akan membuat kita bisa merasakan kehadiran Tuhan. Kita akan mengalami realitas Allah, kalau kita berani menyembelih keinginan daging untuk mengikuti kehendak Allah. Ironis, banyak orang tidak mau berjuang. Ketika kita mendengar firman, kita dilatih Tuhan untuk mulai melihat ada dua manusia di dalam diri kita. Manusia lama yang harus dimatikan sampai menjadi manusia baru. Pemisahan ini harus terjadi. 
    Namun, sering kita tidak berusaha untuk mencabut manusia lamanya. Yang berusaha mencabut saja kadang masih kalah, apalagi yang tidak mau berusaha mencabut, maka itu akan melekat terus sampai tunduk dan dikalahkan. Itu namanya hidup menurut daging, tidak hidup menurut roh. Jadi, kita harus menemukan bahwa yang paling membahayakan yang melekat dalam diri kita adalah manusia lama kita yang kuat, menyatu, dan tahu momentum. Tuhan memberikan kita masalah, kesempatan berbuat dosa, sejatinya di situlah kesempatan kita merebut manusia lama. Kalau tidak ada itu, tidak ada proses pelepasan atau pemisahan. Masalahnya, saat kesempatan itu datang, apakah kita sanggup melepaskan diri dan berkata “tidak” terhadap keinginan daging? 
    Kalau kita menghadapi satu kasus yang menekan perasaan, sejatinya itu adalah proses pencabutan manusia lama, pemisahan manusia lama kita. Jadi kasus-kasus itu membuat kita harus terpisah dari manusia lam...
    8 min
  • Membela Tuhan
    Firman Tuhan mengatakan, “Jika Tuhan di pihak kita, siapa lawan kita?” Dalam hidup ini tidak mungkin kita tidak memiliki musuh. Bagi kita yang sedang berjuang mengenakan Yesus di dalam hidupnya, jelas-jelas musuh kita adalah kuasa kegelapan. Kita juga menghadapi musuh dari pengaruh dunia yang jahat, juga bisa berupa bencana, malapetaka, dan berbagai kesulitan yang sekarang kita alami. Dan dari orang-orang yang bermaksud jahat kepada kita; selalu saja ada orang yang bermaksud jahat kepada kita, di mana pun dan kapan pun. Yang karena semuanya itu kita jadi susah. Namun Tuhan Yesus berkata, “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, sebab hari esok ada kesusahannya sendiri.” Itu berarti selalu ada kesulitan hidup, tetapi kalau Tuhan di pihak kita, siapa lawan kita? 
    Banyak di antara kita yang berkata, “Tuhan adalah penolongku, Tuhan adalah pembelaku.” Tapi kalau jujur, kadang kita tidak yakin kalau Tuhan benar-benar menolong dan membela. Keyakinan bahwa Tuhan membela itu tipis dan kadang-kadang hampir-hampir tidak ada. Mudah mengatakan, “Engkau perlindunganku, Tuhan.” Tetapi sejujurnya, kita tidak merasa ada payung perlindungan di dalam hidup, tidak ada keyakinan yang kuat dan tidak merasa bahwa Tuhan memberikan perlindungan. Terbukti dengan kita masih merasa takut, cemas, khawatir, gentar. Jangan-jangan Dia tidak menolong dan membela kita. 
    Lalu bagaimana kita dapat memiliki pembelaan dari Tuhan? Camkan ini, Tuhan membela orang yang membela diri-Nya. Pertanyaannya, apakah sebenarnya Tuhan membutuhkan pembelaan kita? Jawabannya, tidak. Tuhan bisa membela diri-Nya sendiri. Tuhan sanggup melindungi, membela diri-Nya sendiri. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi orang yang mengasihi Tuhan pasti melakukan pembelaan untuk Tuhan, walaupun sebenarnya Tuhan tidak membutuhkan pembelaan kita. Tuhan tahu dan Tuhan merasakan pembelaan tersebut. Bagaimana caranya kita membela Tuhan? Yang pertama, rebut diri kita untuk Tuhan. Yang kedua, rebut orang lain untuk Tuhan. 
    Tuhan sangat mengasihi kita, Tuhan sangat menghargai kita. Bukan tanpa alasan kalau kitab suci mengatakan, “roh yang ditempatkan dalam diri kita diingini dengan cemburu.” Dengan cemburu artinya dengan sangat kuat. Mengapa Allah mengingini roh yang ada pada kita? Sebab Allah merasa berhak. Jadi, cemburu Allah artinya tidak ingin kita ini tidak dimiliki oleh Allah. Allah mau roh kita kembali kepada-Nya, dan Allah tidak bisa melakukan itu tanpa si pemilik roh berjuang. Roh di sini bukan Roh Kudus, tapi roh manusia. Jarang orang merenungkan dan menghayati bahwa Allah yang menaruh roh itu di dalam diri kita. 
    Ketika Allah menghembuskan nafas ke lubang hidup manusia yang diciptakan dari tanah liat, maka ada kehidupan di situ. Itu roh dari Allah dan Allah menghendaki roh ini kembali kepada-Nya. Tetapi yang membuat roh manusia tidak kembali kepada Allah adalah percintaan dunia. Yakobus 4:4, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia. Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi, barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Orang yang tidak menjadi sahabat Tuhan berarti menjadi sahabat dunia. Rata-rata manusia bersahabat dengan dunia. Ikatan persahabatan dengan dunia ini kuat sekali dan kalau tidak diputuskan maka ikatan itu tidak akan pernah lepas. Mestinya ikatan kita dengan Tuhan makin kuat sehingga kita menjadi mempelai Tuhan. 
    Tetapi kalau seseorang mengikatkan diri dengan dunia, makin kuat terlekat dengan dunia, maka ia menjadi mempelai dunia; mempelai kuasa kegelapan. Dan banyak orang terjebak di sini, selera jiwanya sudah terikat dengan percintaan dunia. Iblis begitu cerdas membungkus gaya hidup percintaan dunia ini sebagai suatu yang wajar, yang etis, yang tidak melanggar moral dan membahagiakan. Mari kita menilai diri kita masing-masing, apakah kita termasuk sahabat Tuhan atau sahabat dunia? Kalau umat Perjanjian Lama melakukan dosa yang dipandang Tuhan keji,
    10 min
  • Menata Ulang
    Sejatinya, gereja bukan hanya tempat di mana orang berliturgi, menyanyikan lagu-lagu rohani—yang sering kali antara apa yang diucapkan dengan kenyataan hidup itu berbeda, yang membuat jemaat justru berdosa karena menipu diri sendiri, menipu orang lain di sekitarnya, dan menipu Tuhan. Kalau kita menyanyi, “Bersinar-bersinar,” misalnya, apakah kita sudah sungguh-sungguh bersinar? Kalau kita mengatakan dalam pujian, “Kesukaan yang ceria hanya ada pada-Mu,” apakah kita benar-benar telah menjadikan Tuhan satu-satunya kesukaan yang ceria? Kita harus berani menata ulang kehidupan kita.
    Yang Tuhan Yesus katakan kepada Nikodemus di Yohanes 3 sebagai kelahiran baru, sering dipahami begitu sederhana dan naif; dibaptis berarti lahir baru. Padahal tidak sesederhana itu. Nikodemus harus mulai dari nol, ditata ulang, tapi Nikodemus tidak mau. Ya, akhirnya tidak bisa. Jadi sebelum kita menutup mata meninggal dunia, kita harus ditata ulang karena dunia telah begitu merusak kita. Jadi ketika kita menyadari bahwa kehidupan Yesus Kristus itulah kekristenan yang sejati, maka kita mulai bertabrakan dengan manusia lama kita. Gereja mula-mula dikondisi Tuhan mengalami penganiayaan dan penganiayaan, namun hal itu justru me-reset atau menata ulang hidup mereka. Itu guncangan hebat. 
    Murid-murid Yesus berpikir bahwa Yesus akan menjadi raja seperti Herodes atau kaisar Roma, namun ternyata menjadi seseorang yang dihinakan, yang mati disalib. Hal itu merupakan guncangan, tetapi Roh Kudus menolong mereka sehingga mereka menurut apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup mereka. Mereka mengalami masa penganiayaan; masa aniaya yang sebenarnya adalah masa pemurnian. Keadaan yang tidak nyaman itu ternyata memelihara kekristenan, guncangan-guncangan yang dialami oleh orang-orang yang memberi diri diubah Tuhan itu menata ulang cara berpikirnya. Memaksa dia untuk melepaskan segala miliknya, masuk proses pembaruan yang benar-benar menuju kepada Kristus.
    Tidak jarang masalah-masalah hidup itu menata ulang hidup kita, hanya kita sering tidak menyadari hal ini karena menganggap itu sebagai kecelakaan, keadaan naas atau malang. Padahal, Tuhan mau me-reset kita. Murid-murid Yesus, dengan konsep berpikir keyahudian yang fokusnya hanya pemenuhan kebutuhan jasmani, memandang Mesias dengan perspektif (sudut pandang) yang salah, sehingga mereka ditata ulang lewat penderitaan dan aniaya. Alkitab mengatakan bahwa penganiayaan membuat seseorang berhenti berbuat dosa. Ketika Tuhan menegur kita, dan kita sadar kesalahan kita, maka kita bisa menata ulang diri, memberi diri ditata ulang oleh Tuhan. Berdoa setiap hari merupakan bagian dari menata ulang hidup kita.
    Namun, kita tidak bisa mengharapkan tata ulang hidup dengan cara mudah. Karena kita harus membangun ulang konstruksi berpikir, selera jiwa, paradigma berpikir. Itu tidak mudah. Roh Kudus siap menggarap, Tuhan beserta kita. Untuk menggarap kita, Dia beserta kita untuk mendidik. Sebagaimana yang Tuhan firmankan, “Jadikan semua bangsa murid-Ku,” artinya ubah mereka untuk mengenakan hidup seperti hidup yang Kuajarkan. Selanjutnya, “Dan ketahuilah Aku menyertai kamu sampai kesudahan zaman.” Dia menyertai untuk mendidik dan mengajar kita. Kalau kita jadi Kristen kanak-kanak terus, di mana kita disertai Tuhan hanya karena mau dilindungi, mau dijaga, mau dipuaskan, maka kita tidak pernah menjadi dewasa. 
    Hidup ini singkat dan tragis, apa yang kita harapkan dari hidup ini? Munculnya berbagai penyakit, itu juga tragisnya hidup, belum kesewenang-wenangan, ketidakadilan, dan lain-lain. Kita adalah orang-orang yang dipilih untuk mewarisi Kerajaan Surga, kehidupan yang jauh lebih baik, sempurna. Tidak banyak orang yang dipilih seperti kita. Tapi kita harus menata ulang, dikonstruksi ulang, dibentuk ulang. Dan hanya Tuhan yang bisa menata ulang kita. Sampai akhirnya kita mengakui bahwa masalah hidup tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan kekal yang Allah sediakan. Apa pun masalah kita,
    10 min
  • Teladanilah Aku
    Kekristenan mula-mula—yang merupakan model kekristenan yang harus dikenakan oleh orang Kristen sepanjang zaman—adalah kekristenan yang dikenakan oleh para murid Yesus, kemudian diteruskan kepada para rasul hingga sampai pada kita hari ini. Tapi, apakah kekristenan yang kita kenakan hari ini adalah kekristenan yang dikenakan oleh para murid Yesus sebagai narasumber pertama yang menerima pengajaran Injil Kerajaan Allah? Di dalam Injil Matius 28:18-20, Yesus berkata, “Ajar mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan, yang sama dengan yang Kutunjukkan kepadamu untuk kamu kenakan. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa, sampai kepada akhir zaman. Aku harus menyertai kamu.” 
    Tuhan Yesus berjanji menyertai kita melalui atau di dalam Roh Kudus yang keluar dari Bapa, agar orang percaya mengenakan kekristenan seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Murid-murid Yesus pasti mengenakan kekristenan seperti kehidupan Yesus. Jadi, kekristenan yang dikenakan oleh murid-murid Yesus adalah kehidupan yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Karenanya, di kota Anthiokia, orang percaya disebut Kristen, artinya seperti Kristus. Apakah kita layak disebut Kristen? Apakah kehidupan kita sudah seperti Kristus? Itulah sebabnya dalam Galatia 2:19-20, Paulus menulis yang merupakan kesaksian dari hidupnya, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”
    Sejujurnya kita melihat di dalam perjalanan sejarah gereja—oleh pengaruh berbagai filsafat, agama, dan perubahan zaman—kekristenan yang sejati mulai luntur, mengalami kemerosotan. Dan satu hal yang terjadi hari ini, seakan-akan kekristenan itu seperti agama, sebuah keyakinan yang dibangun di atas dasar ajaran atau doktrin. Kekristenan tidak beda dengan banyak agama pada umumnya—bermoral baik, beretika baik— di mana kekristenan seperti ini merupakan kekristenan yang telah kehilangan Yesus. Dan kita baru mengerti setelah kita melewati perjalanan panjang, mengapa Yesus berkata dalam Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”
    Itulah sebabnya, di dalam Ibrani 12:1 dikatakan bahwa untuk bisa mengikuti perlombaan yang diwajibkan—yaitu memiliki iman yang sempurna atau ketaatan yang sempurna seperti Yesus—kita harus menanggalkan semua beban dan dosa. Kekristenan itu benar-benar sesuatu yang sulit, benar-benar mustahil tanpa pertolongan Roh Kudus. Ada saat seorang kaya datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, apa yang harus kulakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Sebenarnya, kalimat itu bisa berarti, “Apa yang harus kulakukan supaya hidupku berkualitas?” Dan Yesus menjawab, “Lakukan hukum.” Hormati orang tuamu, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, dan seterusnya. Tentu, orang ini sudah melakukan hukum-hukum tersebut dan bisa tidak bercela. 
    Orang kaya ini merasa bahwa keberagamaan yang dia miliki telah memenuhi syarat orang beragama. Tetapi dia merasa masih kurang, maka ia bertanya, “Semua sudah aku lakukan, Tuhan. Apa lagi?” Dia seperti mencari gara-gara! Lalu Tuhan berkata, “Jual segala milikmu, berikan kepada yang miskin, ikutlah Aku.” Tentu maksud menjual segala milik dan membagikan kepada orang miskin, itu tidak harus diartikan secara harfiah. Tetapi kita tidak boleh memiliki ikatan, belenggu dengan harta benda, kita harus rela tidak bermilik, baru kita bisa mengikut Dia. Jadi, sebagai umat pilihan Perjanjian Baru, untuk memiliki hidup yang berkualitas standar Tuhan Yesus itu, tinggi sekali. Yang oleh karenanya, murid-murid-Nya berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”
     
    Kita melihat bagaimana konsep banyak orang Kristen di dalam pikirannya hari ini seakan-akan masuk surga itu mudah. Kekristenan menjadi jalan mudah, jalan gampang, mungkin juga dipandang jalan pintas masuk surga. Ironis,
    10 min
  • Menemukan Kekasih Abadi
    Pernahkah kita membayangkan, betapa dahsyatnya detik akhir kita menghembuskan nafas? Yang mana kita tidak tahu kapan. Dan setelah itu kita akan menghadap takhta pengadilan Tuhan. Kita harus mengingatkan diri kita sendiri mengenai realitas ini sehingga kita selalu mengarahkan hidup kita untuk menemukan Sang Kekasih Abadi. Banyak orang tidak memperkarakan dengan serius, apakah dirinya sudah menemukan kekasih abadi ini atau belum. Mereka merasa bisa ditunda, atau bisa menggumulinya di lain waktu. Kalau seseorang belum merindukan Dia, berarti ia belum sampai pada titik menemukan Kekasih Abadi. Sebab orang yang tidak merindukan Tuhan, belum layak menjadi kekasih Tuhan.
    Apa yang diajarkan kepada kita, selama ini kepalsuan, seakan-akan orang Kristen boleh hidup wajar, seperti manusia lain. Manusia saja, kalau punya kekasih—apalagi menjadi pasangan hidup—tidak ingin hatinya dibagi secuil pun untuk orang lain. Demikian pula Allah yang layak kita junjung tinggi. Mestinya, kita hanya merindukan Dia. Jadi masalahnya, mengapa orang tidak merindukan Tuhan? Jika kita masih memiliki ikatan-ikatan dunia, berarti dia belum habis. Kita berusaha untuk habis, tapi itu tidak mudah. Orang yang giat setiap pagi berdoa, belum tengah malam bangun untuk berdoa, senekat itu, masih merasa belum habis rasanya, ada yang belum habis. 
    Kalau kita tidak merindukan Tuhan, berarti ada yang belum habis; masih ada kesenangan. Apakah itu berupa materi, sanjungan, kehormatan dan yang paling merusak kalau ada dosa. Karena dosa itu mematikan total kerinduan kita akan Tuhan. Ketika kita melakukan dosa dan menikmati dosa itu, pasti tidak ada kerinduan kita akan Dia. Jadi kalau seseorang tidak memiliki kesucian yang tinggi, dia tidak punya kerinduan yang tinggi juga. Menjadi kekasih abadi Tuhan berarti kita harus habis, tidak boleh punya kesenangan apa pun, dan jangan berbuat dosa. Kedengarannya ini ekstrem, tetapi ini wajar. 
    Kita berdiri di pihak Bapa, Elohim Yahweh. Kita berdiri di samping Yesus dan mengenakan hidup-Nya sebagai kehormatan kita, sujud, hormat, dan pengabdian kita kepada Tuhan Yesus. Kita harus terus giat, segiat-giatnya untuk menumbuhkan kehidupan rohani yang benar ini. Kalau kita menghormati Allah, maka kita tidak akan membagi hati kita kepada apa pun dan siapa pun. Firman Tuhan mengatakan, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku,” artinya kita jangan sujud menyembah, mengabdi, memuja, dan menjadikan sesuatu sebagai kesenangan. Seorang pria memuja dan mencintai seorang wanita, atau sebaliknya, karena ia membutuhkan dan merasa diisi. Demikian pula kita untuk Tuhan. 
    Kita bisa mencontoh bagaimana Abraham memuja Elohim Yahweh, tidak ada keraguan terhadap Dia walaupun melewati keadaan-keadaan sulit, seakan-akan Allah melupakan janji-Nya. Sampai ketika dia harus mempersembahkan anaknya, Ishak, dia melakukannya. Kalau kita tidak meragukan Bapa di surga, Elohim Yahweh, dan mengenakan sepenuhnya hidup Yesus, kita habis di situ, sebab pasti tidak ada kesenangan dunia yang bisa masuk dalam hidup kita. Tidak ada kebanggaan terhadap sesuatu, tidak ada keinginan dihormati, karena Yesus memberikan contoh teladan bagaimana Ia mengosongkan diri dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Menjadi kekasih abadi Allah itu, luar biasa. Mari kita kenakan hidup Yesus, sebab dengan cara itu kita mencintai dan menghormati Bapa di surga. Namun di satu sisi, kuasa kegelapan luar biasa bekerja. Dalam hal ini, bukan ilmu teologi yang kita perlukan, melainkan bagaimana Roh Kudus bicara kepada kita setiap hari, dan itu yang harus memenuhi kita. Sebab kalau soal jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, tidak perlu kita dengar suara Roh Kudus. Karena kita sudah bisa membaca dan telinga kita mendengar larangan seperti itu, dan agama lain pun mengajarkannya. Tapi dalam setiap perkara, dari setiap persoalan-persoalan hidup yang kecil, yang sederhana, di situlah kita mendengar suara Roh Kudus. 
    10 min
  • Tidak Curiga
    Memang, sering kali Tuhan memberikan masalah, lalu seakan-akan Tuhan sembunyi tangan dan tidak hadir. Sehingga kita bertanya, “Tuhan, ke manakah Engkau?” Lalu Tuhan berdiam diri. Kita bingung mengapa Tuhan bersikap demikian terhadap kita. Lewat masalah itu, ternyata Tuhan mau membuat kita menjadi dewasa. Pasti. Tuhan mengizinkan hal-hal itu terjadi dalam hidup kita karena kita mau didewasakan. Jadi, kalau kita melihat masalah kita begitu berat, begitu besar, jangan berpikir Tuhan lebih kecil. Tuhan yang mengizinkan persoalan-persoalan itu terjadi untuk mendewasakan kita, untuk menguji kita. 
    Mestinya, di tengah-tengah situasi yang sulit itu, kita jangan kecewa terhadap Tuhan, apalagi marah. Tetapi, belajarlah untuk bersyukur, karena ternyata lewat masalah itu, Tuhan memberikan berkat kekal. Makanya, cara kita memandang masalah harus dari sudut pandang kekekalan. Jangan memandang masalah dengan sudut pandang kefanaan. Jadi berat nanti. Apakah artinya masalah ini dibandingkan dengan kekekalan? Jadi, kalau Tuhan memberikan kita masalah, sebesar apa pun, percayalah Tuhan lebih besar. Tuhan mengizinkan masalah itu, untuk kita bisa menghayati tentang keberadaan Allah, karakter kita diubah, dan kita bisa memiliki percaya yang benar. Jadi, kalau Tuhan seakan-akan tidak hadir, jangan kita kecewa. 
    Ingat pada waktu Yesus mengajak murid-murid-Nya berlayar di danau Tiberias? Yesus tidur di buritan, sementara mereka ketakutan karena angin badai menerjang dan air masuk ke dalam perahu. Namun, Tuhan seakan-akan tidak hadir, Tuhan Yesus seakan-akan tidak peduli. Jangan kita berpikir Tuhan tidak peduli, Ia hanya mau menguji mereka. Tapi lewat pengalaman hidup, kita belajar untuk memercayai bahwa Allah lebih besar dari masalah. Lewat perjalanan waktu, kita tidak curiga lagi kepada Tuhan.
    Bagaimana kita bisa mempercayai bahwa Allah lebih besar dari masalah kita? Yang ketiga, jangan punya kepentingan pribadi. Hidup kita ini adalah pekerjaan Tuhan, tubuh kita ini adalah bait Roh Kudus. Jalani hidup dalam kebenaran dan kesucian. Kalau orang menentang, melawan, mempersekusi, menganiaya kita, diam. Kalau hidup kita adalah milik Tuhan, pekerjaan Tuhan, berarti orang-orang itu akan berhadapan dengan Tuhan. Jangan kita membalas, jangan kita sakiti hati mereka. Ibu-ibu yang ditindas oleh mertua, suami, keluarga besar suami, jangan putus asa. Tetap tenang, karena Allah yang hidup, Allah pasti sedang menyertai. Hayati bahwa Tuhan ada, menjerit dan berserulah kepada Allah yang pasti mendengar dan menjawab. 
    Dan yang terakhir, keempat, hiduplah untuk kepentingan Tuhan. Artinya, bagaimana kita hidup untuk kesukaan hati Allah, yaitu dengan hidup dalam kekudusan dan kesucian. Bagaimana kita hidup dalam kekudusan dan kesucian Allah, sehingga kita bisa menyenangkan Dia? Ingat, bukan dengan uang, harta, atau apa pun melainkan dari setiap perkataan, perbuatan yang kita lakukan, gerak pikiran, dan perasaan kita, kita bisa menyenangkan hati Allah Bapa. Setelah itu, kita mau menjadi berkat; bagaimana memenangkan jiwa-jiwa orang-orang di sekitar kita. Itulah kita ini pekerjaan Tuhan.
    Jadi, kalau kita menghadapi masalah, kita serahkan dalam tangan Tuhan, dengan percaya bahwa hidup kita ini adalah pekerjaan Tuhan. Kalau orang memberkati hidup kita, mendukung kita, orang itu diberkati karena dia mendukung pekerjaan Tuhan. Sebaliknya, kalau orang itu mempersulit, menganiaya, menyakiti kita, berarti orang itu melawan Tuhan. Buatlah mereka mesti berurusan dengan Tuhan, bukan berurusan dengan kita. Diam, tidak membalas. Walaupun kita punya kesempatan membalas dendam, jangan lakukan itu. Kita bisa menjadi kuat karena kita memercayai Allah itu ada. Kisah dalam Alkitab itu bukan hisapan jempol, bukan dongeng, itu adalah fakta yang juga bisa kita alami.
     
    Lewat pengalaman hidup, kita belajar untuk memercayai bahwa Allah lebih besar dari masalah, dan kita tidak curiga lagi kepada-Nya.
    7 min
  • Menjadi Lemah
    Ibrani 11:6, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
    Percaya bahwa Allah itu ada bukan sesuatu yang mudah. Namun, orang sering berpikir memercayai bahwa Allah itu ada, mudah. Tidak, tidak mudah. Allah tidak kelihatan dan tidak mudah diyakini atau dipercayai. Meyakini Allah bukan melalui pikiran semata-mata, tapi juga di dalam penghayatan hidup. Penghayatan terhadap keberadaan Allah melalui peristiwa-peristiwa yang Tuhan izinkan terjadi atau berlangsung dalam hidup kita. Maka jangan menganggap persoalan kita lebih besar dari Tuhan. Kalau kita menganggap persoalan hidup dan tekanan yang kita alami lebih besar dari Tuhan, kita menjadi lemah. Karena kita bisa meragukan Tuhan, dan akhirnya kita tidak menghormati Tuhan dan tidak bisa memuliakan Dia. 
    Jadi, yang pertama, kita harus percaya bahwa Allah itu ada melalui waktu atau jam menghadap Tuhan. Di situ kita menumbuhkan urat syaraf percaya kita. Urat syaraf percaya kita kepada Tuhan bahwa Tuhan itu hidup. Tuhan hadir pada waktu kita berdoa. Memang pada awalnya kita seperti bicara di udara kosong, teriakan kita seakan-akan hanya sampai langit-langit rumah kita, seakan-akan ada pemisahan antara kita dengan Tuhan karena Tuhan bersemayam di tempat yang tak terhampiri. Tetapi jika kita sungguh merindukan Tuhan, Ia pasti berkenan hadir di dalam kehidupan kita. Masalahnya, apakah kita sungguh-sungguh mengembangkan urat syaraf percaya kita bahwa Dia ada? Pengenalan akan Allah secara kognitif melalui ilmu teologi yang benar, adalah penting, dan harus dimiliki, tapi yang lebih harus dari itu adalah perjumpaan langsung dengan Tuhan. 
    Kepada setiap kita yang sedang mengalami masalah berat, yang selama ini merasa bahwa Tuhan itu tidak campur tangan, kita merasa masalah ini lebih besar dari Tuhan, coba temui Tuhan, alami kehadiran-Nya sampai kita tahu bahwa Allah itu ada, Allah itu hidup. Dengan pengalaman tersebut, kita akan tahu bahwa Allah itu ada dan nyata, bukan kata buku, kata dosen, kata teolog mana, melainkan kita mengalami perjumpaan langsung, dan ini akan menjadi kekuatan. Roh Kudus yang akan menuntun setiap pribadi dan memberi kemampuan untuk memikul, menanggung, dan bersikap sebagaimana seharusnya.
    Yang kedua, kita bisa menghayati kehadiran Tuhan melalui pengalaman hidup. Ketika kita dalam keadaan terjepit, berada di tempat yang sulit, di titik terendah, di situ kita bisa menghayati Allah yang hidup, Allah yang hadir di dalam hidup kita. Lewat persoalan, kita memandang Tuhan, kita belajar untuk menjerit. Jeritan-jeritan ini akan membangkitkan syaraf iman kita untuk meyakini bahwa Dia ada. Sampai nanti, kita tidak usah sengaja memikirkan, merenungkan tentang keberadaan Allah, karena kita sudah punya irama untuk memercayai bahwa Allah itu ada, benar-benar hidup. Sehingga dalam keadaan bagaimanapun, hati kita menjadi kuat. 
    Kalau dulu kita harus menguatkan hati untuk percaya Tuhan, tetapi suatu hari nanti kita akan punya irama di mana kita otomatis tidak takut menghadapi segala keadaan, bahkan sampai kita tidak bisa takut lagi. Menjadi suatu hal yang luar biasa kalau sampai kita tidak bisa takut lagi, karena begitu yakinnya Allah menyertai. Inilah bukti bahwa kita mengakui bahwa Allah lebih besar dari semua masalah kita. Dan juga melalui masalah-masalah hidup yang kita alami, kita didewasakan, dan kemuliaan Allah dinyatakan. Ketika kita menjerit kepada Tuhan dalam persoalan dan beban yang kita hadapi, maka kita akan melihat pertolongan Tuhan yang mana saat itu kita mendapatkan kesaksian iman. Kita mendapatkan verifikasi bahwa Allah itu hidup. 
    Iman seperti ini tidak akan membuat kita mundur. Tidak akan membuat kita pindah agama. Mau kecewa bagaimanapun terhadap manusia atau keadaan, kita tidak akan meninggalkan Tuhan. Maka, kita harus mengalami Tuhan, melalui doa,
    9 min
  • Membersihkan Lantai Hati
    Kita sering mengucapkan kalimat “berkemas-kemas,” tetapi sejujurnya, kita sering tidak atau belum dalam suasana hati sedang di dalam perjalanan. Ini yang membuat kita tidak memiliki pertumbuhan rohani yang mestinya kita alami. Ibrani 12 mengingatkan bahwa ada perlombaan yang diwajibkan bagi kita, namun perlombaan tersebut akan kita jalani dengan baik kalau kita melepaskan beban dan dosa. Maka, jika kita tidak sungguh-sungguh dalam penghayatan bahwa kita ada dalam perjalanan, pasti kita tidak sungguh-sungguh melepaskan beban dan dosa. Mestinya tidak ada satu hari pun kita tidak melepaskan beban dan dosa. Pasti ada beban dan dosa yang kita harus tanggalkan.
    Mungkin saat ini belum terwujud dalam perbuatan, tetapi menjadi potensi di dalam daging kita atau dalam jiwa kita, dan kita tidak menyadari hal tersebut. Kita merasa berkeadaan baik-baik, walau beban masih melekat di dalam jiwa kita. Padahal kalau dosa, dalam arti kodrat, masih melekat di dalam hati kita, maka tidak mungkin kita bisa masuk surga dengan keadaan yang berkenan di hadapan Tuhan. Ironis, kita merasa sudah melepaskan semua beban, padahal ternyata belum. Kita hanya belum punya kesempatan meraihnya, bahkan kita menyembunyikan segala keinginan kita di bawah sadar. Selain tidak ada kesempatan, kita juga memendamkannya tanpa kita sadari. Itu beban. Kalau kita serius sedang ada dalam perjalanan menuju Kanaan Surgawi, berarti kita harus selalu membersihkan lantai hati kita, membersihkan ruangan hati kita. 
    Jangan tersisa keinginan apa pun, supaya kita bisa berkata seperti pemazmur berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini …” Sampai kemudian ada jeritan di dalam hati kita, “Buat aku sungguh-sungguh bisa menghayati bahwa engkau lebih dari nafas dan darahku. Buat aku bisa benar-benar menghayati bahwa Engkau kubutuhkan lebih dari nafas dan darahku,” tetapi itu tidak mudah. Apakah benar kita mengucapkan ini dengan ketulusan? Karena, sejujurnya, kita sering bersandiwara. Kita tidak sadar bahwa kita tidak di dalam ketulusan. Lalu, apa yang kita harus lakukan? 
    Jika Tuhan memberi kita kasih karunia anugerah, kita mau menjadi komunitas kelompok orang-orang yang benar-benar sedang bergerak menuju langit baru bumi baru. Sampai orang bisa melihat gerakan kita bahwa kita sedang menuju satu arah dan kita memenuhi yang dikatakan firman Tuhan, “Mereka melihat perbuatanmu. Kota yang terletak di atas bukit mustahil tersembunyi.” Kita memilih pulang ke surga. Kita memilih bergerak. Kalau hamba Tuhan tidak move, dia tidak pernah menjadi rohani. Mau cara bagaimana, dia tidak akan bisa rohani. Akhirnya, pelayanan menjadi aktivitas yang di dalamnya orang menikmati kesenangan.
    Tahukah ketika Tuhan Yesus berkata di Matius 6:21, “Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada,” secara implisit, Tuhan Yesus mau berkata, “Bergeraklah, pindahkan hatimu.” Didahului dengan kalimat, “Jangan mengumpulkan harta di bumi, kumpulkan harta di surga.” Banyak pelayanan tidak sungguh-sungguh mengarahkan jemaat ke Kanaan Surgawi. Tidak ada pesan, tidak ada kesan, tidak ada inspirasi yang jelas bahwa gembalanya, pimpinannya sedang move (bergerak) menuju langit baru bumi baru. Betapa mengerikan kalau dunia ini berakhir lalu kita tidak diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan Surga, terpisah dari Allah. Betapa mengerikan itu. Karenanya, kita harus sungguh-sungguh bebenah diri, berkemas-kemas dengan benar. Menanggalkan beban dan dosa, artinya lantai hati kita harus dibersihkan.
    Perjalanan hidup merupakan sekolah untuk sungguh-sungguh kita bisa memiliki batin yang bersih, yang berkenan. Sehingga kita bukan hanya cakap menyuarakan kata langit baru bumi baru, namun kita benar-benar bergerak menuju ke sana. Dan kita harus menyadarkan orang-orang betapa dahsyatnya kekekalan itu. Karena begitu dahsyatnya kekekalan, maka persiapan untuk kekekalan harus dari detik ke det...
    9 min
  • Kegagalan
    Efesus 1:4-5, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.”
    Jadi, begitu penting, begitu luhur, begitu mahalnya hal ini, di mana Allah sudah melihat kita yang terpilih sebelum dunia dijadikan. Terpilih di sini bukan berarti pasti masuk surga, melainkan kita termasuk orang yang diwajibkan ikut perlombaan. Sebagaimana ditulis dalam Ibrani 12, dan perlombaan itu adalah menjadi serupa dengan Yesus atau memiliki iman yang sempurna seperti Yesus; supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Jadi, jangan mendengar kata kudus, kita langsung resisten karena menganggap kudus itu hanya berlaku untuk orang tertentu. Padahal, setiap orang percaya itu harus menjadi orang kudus. 
    Kekristenan itu bukan mengambil bagian hidup kita, tapi seluruh hidup kita. Sayangnya, kekristenan yang selama ini diajarkan sering ada di wilayah abu-abu. Jadi, Kristen yang benar itu harus seperti Kristus dan untuk itu seluruh hidup harus disita oleh pergumulan untuk menjadi seperti Kristus; tidak bisa sambilan. Maka, tidak ada waktu di mana kita tidak berinteraksi dengan Allah. Kita merangsang, menstimulasi hal itu lewat doa, dan mendengar atau membaca firman. Tidak ada peluang untuk dunia. Nanti kalau kita semua sudah meninggal, dan kita menghadap takhta pengadilan Tuhan, baru kita tahu betapa beruntungnya menjadi orang yang dipilih Tuhan. 
    Roh Kudus sebagai pelatih akan menuntun kita setiap hari. Kita harus selalu merapat ke Tuhan, menyembah dan menjadikan Tuhan segalanya. Hanya Tuhan perlindungan kita. Sementara dunia juga berusaha menarik kita merapat kepadanya. Oleh sebab itu, bukan tanpa alasan kalau Yesus berkata, “Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga.” Di ayat lain Yesus berkata, “Banyak orang berusaha, tetapi tidak bisa masuk,” “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.” Kita ada di tengah-tengah masyarakat yang hampir tidak pernah menemukan kekristenan seperti ini. 
    Kita harus membayar ketinggalan kita dengan kerja keras. Dan jika sejak muda sudah mendengar hal ini, jangan menundanya. Roh Kudus akan menolong kita untuk membentuk kita menjadi manusia yang unggul, yang tidak ternilai harganya. Sementara, ada orang-orang yang tidak punya nilai sama sekali sehingga mereka dibuang; itu yang namanya kehinaan kekal. Tetapi, kita masuk kemuliaan kekal. Puji Tuhan, kita masih punya umur entah sampai berapa lama, paling tidak kita masih punya kesempatan untuk membenahi diri, supaya ketika kita menutup mata bertemu Tuhan, Dia menjumpai kita dalam keadaan menyenangkan atau memuaskan. 
    Jadi, Kristen itu eksklusif sekali. Memang, kadang Tuhan membuat kita gagal untuk sementara waktu, tapi bukan gagal untuk sesuatu yang fatal. Seringkali ambisi kita mau dipatahkan Tuhan dengan kegagalan, supaya kita menjadi murni. Kita harus bisa menerimanya dengan besar hati. Kegagalan hidup bisa membuat kita mengenal dan semakin mengenal Tuhan. Jangan-jangan kalau kita sukses terus, kita masuk neraka. Karena kita jadi sombong, angkuh, mata duitan, dan tidak mencari Tuhan lagi. 
    Tuhan itu luar biasa. Maka, jangan takut. Kita hadapi hari esok bersama-Nya. Dia lebih dari apa pun dan siapa pun. Dengan sikap hati seperti ini, baru kita memuja Tuhan dan mengagumi Dia. Namun, walau kita sudah memiliki sikap hati seperti itu, kadang masalah tidak dibuat Tuhan selesai. Tuhan membuat kita sering dalam kondisi kritis dan krisis dan tidak ada orang bisa kita ceritakan, dan kelihatannya semua baik-baik. Namun, kita dibuat Tuhan punya tentara yang kuat—bukan uang, kenalan pejabat atau fasilitas lain—namun Allah yang kita yakini lebih dari siapa pun dan apa pun. Jangan kecil hati, sebab Tuhan menyertai kita. Dia lebih kuat dari siapa pun, maka jangan merasa tidak punya siapa-siapa. 
     
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…