Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Agenda Tuhan
    Bagaimana kita bisa memiliki keberhasilan hidup? Bagaimana kita bisa memiliki sukses yang sejati, sukses yang sesungguhnya? Ternyata rahasianya adalah jangan memiliki agenda sendiri. Hidup kita harus di dalam lingkup agenda Tuhan. Kita hanya menjalani, melakukan agenda Tuhan. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, “Petrus, waktu engkau muda, engkau ikat pinggangmu dan engkau pergi ke mana engkau suka, tetapi nanti tanganmu akan diikat dan kamu akan dibawa ke tempat yang kamu tidak suka, tetapi dengan cara demikian kamu memuliakan Allah” (Yoh. 21:18). Betapa sulitnya hidup dalam agenda Tuhan karena kita sudah terbiasa menjalani hidup dengan agenda kita sendiri. 
    Mungkin kita pernah punya tekad untuk benar-benar hidup menurut kehendak Tuhan, namun ternyata di dalam perjalanan hidup, bagaimana memenuhi apa yang Tuhan kehendaki yaitu hidup di dalam agenda-Nya, perlu waktu panjang. Ada pengikisan terus-menerus, digores terus, penggerusan terus-menerus sampai kemudian kita mengerti dan rela hidup dalam agenda Tuhan. Hidup dalam agenda Tuhan terjadi ketika kita sudah meletakkan semua keinginan pribadi, hobi, kesenangan dihormati, dianggap penting dan berjasa. Memang hari ini kita belum sempurna, tetapi kita mau belajar mengerti bahwa tidak ada kehidupan yang sukses, yang berhasil selain hidup di dalam agenda Tuhan. 
    Pada umumnya orang masih hidup dengan agendanya sendiri. Namun, begitu mudahnya mereka berkata, “Dengan apa kubalas kebaikan-Mu, Tuhan?” Sejatinya, mereka tidak pernah sungguh-sungguh mau membalas kebaikan Tuhan. Orang yang hidup dalam agenda Tuhan, pasti akan terus berjuang untuk hidup suci. Dan Tuhan pasti akan memenuhi kehausan jiwanya untuk hidup suci tersebut. Hidup suci artinya memiliki karakter Yesus. Tidak ada standar kesucian selain Tuhan kita Yesus Kristus. Di dalam kesucian, ada potensi untuk melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran perasaan Allah. Ia tidak punya agenda sendiri. Latihannya dari menit ke menit, dari jam ke jam. Dalam hal ini, mereka adalah orang yang benar-benar serius. 
    Jika kita hidup dalam agenda Tuhan, maka kita akan dipakai Tuhan melindungi orang, merawat orang, menyelamatkan orang. Dulu, ketika kita masih hidup dalam agenda pribadi, Tuhan tidak memercayakan banyak kepada kita. Tuhan memercayakan banyak kepada orang lain dan orang lain melindungi dan memelihara kita. Tetapi sekarang, setelah kita mulai bisa dipercayai Tuhan, kita memelihara dan menjaga orang lain. Dan yang paling dahsyat adalah menjaga orang dari kebinasaan. Kalau memelihara orang hanya dari masa depan yang terpuruk lalu bisa memiliki masa depan di bumi, orang dunia juga bisa lakukan. Tapi itu harus kita lakukan, bukan tidak. Berapa banyak orang yang mau bunuh diri, namun tidak jadi bunuh diri karena kita lindungi? Berapa banyak rumah tangga yang mesti hancur, jadi tidak hancur karena kita jaga?     
     
    Tuhan tahu kebutuhan kita, Tuhan juga akan memberikan karena kita adalah manusia yang juga perlu fasilitas dan rekreasi dengan keluarga. Tapi jangan fokus ke situ, bukan tidak boleh. Sejujurnya, kita sering meleset karena ada agenda pribadi dan perjalanan kita meleset dalam penggunaan uang. Ke depan kita tidak boleh salah, sebab kalau kita salah dengan uang 10 juta, Tuhan tidak akan kasih kita 1 miliar. Kita harus bisa dipercaya oleh Tuhan. Bahkan ketika kita memberi uang ke orang saja, bukan karena kita sedang menikmati sesuatu yang Tuhan belum tentu menikmati itu. Padahal yang kita lakukan harus semata-mata hanya untuk kepuasan Tuhan, bukan untuk kita. 
    Jadi kalau hanya perasaan sentimentil saja, karena ini orang baik, atau orang ini menyenangkan, bahaya. Ketika kita memberi sesuatu kepada orang dan kita menikmatinya, tapi kita tidak melihat perasaan Tuhan, artinya kita melukai hati-Nya. Kalau dulu kita mau memberi orang, siapa saja kita beri, karena kita dapat pujian, senyuman, dan sanjungan. Kita jual semua uang Tuhan untuk diri kita.  Celaka! Jadi,
    8 min
  • Membidik dengan Tepat
    Pernahkah kita merindukan untuk bisa benar-benar memberi yang terbaik, terindah dan termulia bagi Allah? Kalau kita melakukannya, tidak akan sia-sia, benar-benar kita beruntung. Bagaimana bisa mewujudkan hati kita yang terarah kepada Bapa, Khalik langit dan bumi, satu-satunya Pencipta langit dan bumi ini? Hidup kita harus benar-benar rela dimiliki Tuhan sepenuhnya. Hidup kita harus rela untuk direnggut, diambil, dirampas oleh Tuhan. Dan kita juga harus rela untuk memberikan hidup kita sepenuhnya dimiliki oleh Allah. Kalau kita masih belum segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan dalam mengasihi Allah, berarti kita masih hidup dalam remang-remang. Padahal hidup kita harus terang benderang.
    Untuk itu, mau tidak mau, kita belajar dari menit ke menit menjaga sikap hati. Curigai, kalau-kalau ada yang tidak patut kita pikirkan, kita renungkan dan kalau-kalau ada ucapan dan perbuatan kita yang tidak patut sebagai anak-anak Allah. Selalu kita mencurigai kalau-kalau masih ada dosa yang kita lakukan, dari menit ke menit. Memang, tentu ada melesetnya, tapi kita harus belajar dari kemelesetan yang satu ke kemelesetan yang lain, dari ketidaktepatan yang satu ke ketidaktepatan yang lain; seperti seseorang yang belajar memanah, ia belajar untuk dapat membidik dengan tepat.
    Kalau kita tidak berusaha membidik dengan tepat, kita tidak pernah tahu bagaimana melakukan perubahan. Jadi, kalau orang hidupnya sembarangan, sembrono, ia akan meleset terus, dan celakanya, ia tidak tahu kalau dia meleset. Tapi kalau kita selalu belajar untuk membidik dengan tepat—artinya apa yang kita lakukan itu tepat seperti yang Allah Bapa inginkan—maka kalau kita meleset, kita berusaha untuk tidak meleset lagi. Di situ Tuhan ajar kita untuk memiliki ketepatan dari menit ke menit, jam ke jam. Kita bukan orang yang sudah sempurna, tapi kita harus tahu kapan kita meleset. Kita bisa menilai karena kita punya roh menimbang yang makin peka, makin tajam, makin teliti. Di situlah kita belajar untuk hidup dimiliki oleh Tuhan sepenuhnya.
    Luar biasa berat untuk belajar dimiliki oleh Allah sepenuhnya. Bagi yang sungguh-sungguh mau itu pun tidak mudah, apalagi kalau orang memang tidak berniat, tidak akan bisa. Sementara kita belajar mempertimbangkan segala hal yang kita lakukan sesuai kehendak Allah atau tidak, di situ keyakinan kita kepada Allah yang hidup akan bertambah. Orang juga bisa percaya Allah itu ada, tapi seberapa orang benar-benar meyakini keberadaan Allah dan menghayati keberadaan Allah tersebut? Tidak banyak. Kalau seseorang mampu menghayati keberadaan Allah, maka dia tidak bisa takut dalam menjalani hidup. Ini misteri kehidupan yang tidak bisa dialami kalau seseorang tidak masuk ke dalam pengalaman ini.
    Hidup kita yang terang membuat kita berani menghadapi segala keadaan, bahkan hal-hal yang berat. Kita bersyukur karena kita memiliki Alkitab, kita dapat melihat kesetiaan Allah kepada umat pilihan-Nya. Bayangkan Musa, ia belum pernah memiliki pengalaman laut terbelah, belum ada pengalaman bisa menghadapi secara fisik algojo Firaun yang mengejarnya, betapa itu mengerikan. Bayangkan juga posisi Sadrakh, Mesakh, Abednego yang diperhadapkan dengan dapur api yang dipanaskan tujuh kali lipat. Tentu sangat menakutkan. Perhatikan bagaimana Sadrakh, Mesakh, Abednego begitu percaya sehingga bisa berkata, “Sekalipun Allah yang kami sembah tidak menolong, tapi kami tetap percaya dan tidak akan menyembah patung yang tuanku dirikan di Lembah Dura.” 
    Dari kisah-kisah tersebut, kita tahu Allah setia. Jadi mengapa kita masih bisa tidak percaya? Sejatinya, kita merendahkan Allah dengan ketidakpercayaan kita itu. Mungkin dalam masalah-masalah besar yang kita hadapi, sampai saat ini Tuhan tidak memberi jalan keluar dengan mudah. Kita hanya menyimpannya, tidak seorang pun tahu. Namun, kita tetap percaya kepada Elohim Yahweh, Allah yang disembah Abraham, Ishak dan Yakub. Sebab tidak ada orang yang bisa melarang dan menghalangi kita untu...
    9 min
  • Pelayanan Pribadi
    Satu pertanyaan yang sangat prinsip, “Mengapa Allah menciptakan manusia?” Seakan-akan pertanyaan tersebut sederhana, namun sejatinya tidak. Allah menghendaki satu makhluk yang kepadanya Allah ingin cinta-Nya dirasakan. Tetapi Allah juga ingin memiliki makhluk yang cintanya dapat Allah rasakan. Maka makhluk ini harus memiliki kehendak bebas. Didesain begitu rupa dengan pikiran dan perasaan yang juga dimiliki oleh Allah. Dengan pikiran dan perasaan itu, makhluk ini bisa menggerakkan dirinya, menggerakkan emosinya, apakah ia mencintai Allah dengan rela, sadar dan ikhlas atau tidak. Ini adalah hal yang sangat prinsip sekali.
    Maka sebelum kita melayani Tuhan di gereja, pelayanan secara umum seperti yang kita lakukan, kita harus memiliki pelayanan pribadi kepada Tuhan; yaitu bagaimana kita menumpahkan cinta kita kepada Tuhan di hadirat-Nya, bagaimana kita menghayati keberadaan Allah. Bahwa kita tidak sedang berfantasi mengenai Allah, namun kita sedang berhadapan dengan Allah yang hidup, yang kepada-Nya kita menumpahkan cinta kita. Belum dalam bentuk perbuatan konkret di tengah-tengah pergumulan hidup kita, tetapi dari hati ke hati kita bertemu Tuhan, dan mengungkapkan perasaan kita. Tuhan menginginkan kita ada di hadirat Tuhan.
    Ketika hati kita bersih, tidak terikat dengan percintaan dunia, kita bisa sampai ke hadirat Tuhan, mempersembahkan cinta kita. Tapi kalau hidup kita kotor, masih ada dosa dan kenajisan, masih terikat dengan percintaan dunia, kita tidak akan sampai hadirat Allah. Suara kita tidak layak diperdengarkan di hadapan takhta Allah. Malaikat tidak ikut menyanyi, penghuni surga tidak ikut menyanyi. Jangan anggap ringan, jangan anggap remeh akan hal ini. Allah kita bukan Allah fantasi, Dia Allah yang hidup, Allah yang bisa dijumpai dan ditemui. Alami! Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa Allah itu suatu Pribadi. Kita tidak berdoa kepada satu hakikat, tapi kita berdoa kepada satu Pribadi, Allah yang mono, Elohim Yahweh. Dan itu memberi dampak yang luar biasa terhadap perjumpaan dengan Allah. 
    Di dalam Perjanjian Lama pun kita tidak pernah menemukan tokoh-tokoh iman berhadapan dengan lebih dari satu Pribadi. Musa, Daniel berhadapan dengan satu pribadi, Yahweh. Hari ini, kita bisa berhadapan dengan satu Pribadi yang kita rasakan Pribadi itu. Sehingga kalau kita berdoa kepada Bapa, langsung! Karena Roh Kudus hadir di mana-mana, Roh-Nya Bapa. Tuhan Yesus pun mengalami Bapa, face to face dengan Bapa. Tidak pernah kita baca Tuhan Yesus berdoa kepada Roh Kudus. Dia berdoa kepada Bapa. Itu berarti Dia langsung berhadapan dengan Bapa karena Roh Kudus meliputi jagat raya. 
    Inilah yang Tuhan mau beritahukan kepada kita, yaitu bagaimana kita diciptakan untuk bisa menikmati kelimpahan cinta Allah dalam bentuk berkat-berkat jasmani, alam semesta yang indah, kenikmatan segala sesuatu yang bisa kita nikmati dengan fisik ini. Dan sementara itu, kita merasakan kasih Allah tersebut. Sebagaimana seorang anak bisa merasakan kasih orang tua. Allah memberikan berkat ini, kita nikmati cinta Tuhan, tapi kita tidak bisa memberikan materi kepada Tuhan. Kita tidak bisa memberi sesuatu kepada Allah karena Allah tidak butuh apa-apa, tapi Dia bisa menerima hati kita, cinta kita. 
    Lalu apa yang kita balaskan kepada Tuhan? Cinta kita. Kita belajar untuk membalas Tuhan dengan cinta kita. Dan kita mulai dari ruangan tertutup, kita melayani Tuhan dengan cinta, “Engkau tidak butuh apa-apa dariku, Tuhan, Engkau tidak butuh materi, tidak butuh uang dan lain-lain, tapi Engkau bisa merasakan cintaku, merasakan gelora cintaku.” Dan kita limpahkan cinta, hormat dan sembah kita kepada-Nya. Selanjutnya, kita tidak melukai Tuhan dengan dosa, dan kita mengasihi orang di sekitar kita. Itulah bentuk dari persembahan kita kepada Tuhan. 
    Betapa luar biasa. Oleh sebab itu, tidak boleh ada dosa dalam diri kita, tidak boleh ada ikatan-ikatan. Dalam doa kita kemukakan, “Tuhan, bawa aku melintasi semua langit,
    10 min
  • Panggilan untuk Sempurna
    Pada akhirnya, kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang tidak diatur oleh siapa pun kecuali oleh Allah sendiri sebagai Bapa. Hukum yang diberikan Tuhan hanya menjadi “tutor” sementara, sebab akhirnya tanpa tekanan dan bayang-bayang hukum seseorang bisa memiliki kelakuan bukan saja tidak melanggar hukum melainkan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hal ini orang percaya harus memiliki kualitas moral seperti Allah sendiri. Kualitas moral seperti inilah yang sebenarnya Allah Bapa kehendaki dimiliki oleh anak-anak-Nya. Dan mereka harus memilikinya, sebab Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus sempurna.
    Dengan demikian, menjadi sempurna maksudnya agar orang percaya hidup dalam pengaturan Tuhan sepenuhnya. Tidak ada yang anak Tuhan kerjakan di luar kehendak Allah Bapa. Sehingga akhirnya kita bisa berkata seperti Tuhan Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Sebenarnya Allah tidak memformat manusia sejak semula untuk hidup di bawah bayang-bayang hukum atau peraturan. Itulah sebabnya pada waktu penciptaan, Allah tidak merumuskan hukum untuk dilakukan. Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambarNya, artinya bahwa Allah memberikan kemampuan moral kepada manusia yang bisa membaca pikiran dan perasaan Allah sehingga segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan keinginan Bapa.
    Jadi, sempurna seperti Bapa artinya segala sesuatu yang dilakukan oleh orang percaya sesuai dengan yang Allah Bapa kehendaki. Dengan demikian orang percaya yang selalu berjalan dengan Allah untuk belajar melakukan kehendak-Nya secara benar akan memiliki frekuensi pikiran dan perasaan yang “nyambung” dengan Allah. Sehingga, tanpa pemaksaan kita akan selalu berjalan sesuai dengan kehendak Allah, yang artinya berjalan seiring dengan Tuhan sendiri. Di sini seseorang bisa berdialog dengan Allah. Dialog ini akan semakin terbuka dan intensif sehingga seseorang bisa tinggal di dalam Dia, artinya dalam persekutuan dengan Allah Bapa seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus (Yoh. 17:20-21).
    Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Yun. phroneo). Pikiran dan perasaan inilah yang hampir sama dengan nurani (Yun. suneidesis). Tetapi sebelum Tuhan Yesus menang, taat sampai mati, menderita, disalib dan bangkit, Ia berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa, sebab pada waktu itu Ia belum bisa mengklaim bahwa diri-Nya menang. Tetapi setelah Tuhan Yesus menang, maka Ia bisa menjadi pokok keselamatan bagi orang yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:9). Jadi, kalau seseorang mau sempurna seperti Bapa, ia harus mengenal kehidupan Tuhan Yesus.
    Kesempurnaan dalam ayat ini hendak menunjuk kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa yang juga harus dimiliki orang percaya. Allah berfirman agar umat-Nya kudus seperti Dia kudus (1 Ptr. 1:16). Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) dan sama dengan mengenakan kodrat ilahi (2 Ptr. 1:3-4). Semua ini menandai bahwa seseorang sah sebagai anak-anak Allah. Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah untuk hal yang mengganggu pertumbuhan kesempurnaan seperti Bapa.
    Dalam kesaksiannya Paulus menyatakan, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Flp. 3:12). Orang percaya ditangkap Allah supaya akhirnya ia juga menangkap Allah, artinya sempurna seperti Bapa di surga. Hidup selama 70 sampai 80 tahun di dunia ini merupakan masa untuk mengejar suatu prestasi abadi, yaitu sempurna seperti Bapa. Jika fokus hidup orang percaya tertuju kepada hal yang lain, maka target yang harus dicapai tidak akan tercapai. Sebab yang sungguh-sungguh berusaha saja bisa nyaris tidak bisa meraih, apalagi yang tidak sungguh-sungguh.
    10 min
  • Berbuah dalam Ketekunan
    Persoalan paling penting dalam kehidupan orang percaya adalah apakah ketika menghadap Tuhan ada buah yang dapat dipersembahkan kepadaNya? Buah itu adalah melakukan dengan baik segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya;” memiliki natur melakukan kehendak Tuhan tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak-anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya, Tuhan memberikan kemampuan untuk bisa berbuah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa beralasan mengapa tidak berbuah.
    Dalam perumpamaan mengenai penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama adalah orang yang walaupun mendengar Injil, tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Kuasa antikris telah mengunci mereka, sehingga mereka tidak pernah bisa menerima Tuhan Yesus Kristus. Kelompok kedua adalah mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen, tetapi tidak berani membayar harga percayanya. Pada zaman itu, kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus, maka mereka akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih menyelamatkan nyawanya daripada kehilangan nyawanya karena Kristus.
    Kelompok ketiga adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah, tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14). Kata “matang” dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσφορέω), yang artinya dewasa. Jadi buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Kelompok keempat adalah orang-orang yang mendengar firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15). Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk berbuah seseorang harus berjuang keras.
    Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dituntut untuk berbuah (Yoh. 15:1-7). Jika tidak berbuah akan dipotong, tetapi yang berbuah akan dibuat semakin lebat buahnya. Dalam Lukas 13:6- 7 mengenai perumpamaan seorang peladang yang memiliki kebun anggur, di dalamnya terdapat pohon ara. Ketika dilihatnya pohon ara tidak berbuah, ia mengatakan bahwa percuma pohon itu tumbuh di kebunnya. Ia menghendaki agar pohon itu dikerat saja. Dalam perumpamaan ini Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya berbuah yang memuaskan hati-Nya.
    Berbuah artinya memiliki hati yang suka melakukan kehendak-Nya. Tuhan mau menemukan pribadi-pribadi seperti ini, yang selama hidup di dunia telah memenuhi atau menunaikan apa yang dipercayakan kepadanya. Dalam hal ini setiap orang memiliki keadaan istimewa dan Tuhan memiliki rancangan khusus bagi orang tersebut untuk dipenuhi. Jangan pulang ke rumah kekal sebelum tahu persis bahwa diri kita sudah melakukan dengan baik rencana Allah dalam hidup ini. Tentu saja dalam hal ini seorang anak Tuhan harus memiliki kepekaan untuk mengerti kehendakNya dan menemukan rencana-Nya dalam hidupnya pribadi. Untuk memiliki kepekaan ini seseorang harus dicerdaskan oleh firman Tuhan.
    Dalam hal ini mendengar “suara kebenaran” barulah langkah pertama untuk bisa berbuah, sebab akhirnya Tuhan bukan hanya menghendaki kita menjadi pendengar melainkan juga memberi atau menghasilkan buah. Kalau langkah pertama sudah tidak dilakukan—yaitu mendengar firman Tuhan yang diajarkan Tuhan Yesus—bagaimana ia bisa berbuah? Banyak orang Kristen yang tidak mendengar firman Tuhan yang benar sehingga tidak memiliki kepekaan terhadap kehendak dan rencana Tuhan. Bisa dimengerti kalau mereka tidak pernah menghasilkan buah. Memang mereka menjadi orang baik-baik, tetapi hidup ini hanya untuk memenuhi keinginan dan cita-citanya sendiri.
    10 min
  • Kebutuhan akan Allah
    Bagaimanapun, orang yang sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan melalui doa pagi, doa puasa, terus belajar mendengar Firman, pasti berbeda dengan orang yang tidak mencari Tuhan. Memang perbedaan ini sering tidak radikal, artinya tidak cepat, tidak mencolok, tetapi pasti ada perubahan. Dan perubahan itu bisa dirasakan oleh orang atau individu yang sungguh-sungguh mencari Tuhan. Indahnya, kerinduan untuk terus hidup di hadirat Tuhan akhirnya menjadi kebutuhan. Kita tidak memaksa diri kita untuk berdoa, tidak memaksa diri kita untuk doa puasa, tidak memaksa diri kita untuk datang ke gereja, otomatis kita mencari Tuhan.
    Inilah orang yang mengalami haus dan lapar akan kebenaran. Kalau tubuh kita dengan metabolisme yang baik akan merasa lapar dan haus—kecuali tubuh sakit –maka demikian pula kalau metabolisme hidup rohani kita baik, maka kita akan berusaha mencari Tuhan. Ada kehausan akan Tuhan. Ada kelaparan akan Tuhan. Orang-orang seperti ini pasti mengasihi Tuhan. Jadi kalau sampai orang tidak haus dan lapar akan Tuhan, pasti dia tidak mengasihi Tuhan. Orang yang tidak merindukan Tuhan, tidak mungkin mengasihi Tuhan.
    Orang yang benar-benar merindukan Tuhan akan merasa sangat membutuhkan, sehingga di matanya Allah itu sangat berharga, sangat bernilai. Jika demikian barulah ia dapat menyembah Allah dengan benar. Menyembah Allah dengan benar tidak dimulai dengan cakap menyanyikan lagu rohani dengan vokal yang baik, dengan pitch yang baik, atau dengan nada yang tepat; bukan dari situ. Penyembahan kita kepada Tuhan dimulai dari sikap hati kita yang menghormati Allah. Sikap menghormati Allah dibangun dari rasa kebutuhan akan Allah yang kuat bahwa Dia sangat berharga. Rasa butuh ini terbangun lewat tekad yang kita kobarkan dalam diri kita untuk mencari Tuhan.
    Oleh sebab itu, mari kita memisahkan diri dari dunia dengan cara tidak menikmati kesenangankesenangan dunia seperti yang dinikmati manusia pada umumnya. Kita harus berani memilih jalan lain. Di zaman akhir, di tengah-tengah gelora kejahatan dunia hari ini, kita berhenti dari semua hobi dan kesenangan. Kita mau fokus mencari Tuhan, belajar firman, berdoa, berpuasa, dan melayani Tuhan. Pasti kita akan terpisah dari dunia. Jangan membuka mata terhadap tontonan, tampilan di gadget kita, atau apa pun, yang itu tidak membuat kita bertumbuh di dalam Tuhan, di mana Tuhan tidak ikut menikmati di dalamnya.
    Sudah saatnya kita melepaskan semua itu, agar kecintaan kita kepada Tuhan makin membara, kerinduan kita akan Tuhan makin menyala. Sebab ketika bejana hati kita dikosongkan dari kesenangankesenangan dunia, maka kerinduan akan Tuhan menyala. Dan kalau kerinduan akan Tuhan ini menyala dan terus menyala sampai pada titik tertentu, kita tidak bisa balik. Kita baru bisa berkata, “Yang kuingini Engkau saja.” Sampai tingkat ini seseorang barulah bisa menjadi kekasih Tuhan yang ideal. Memiliki intimacy (keintiman) dengan Tuhan secara benar. Orang-orang seperti ini pasti dipelihara Tuhan secara khusus. Sejak di bumi, Tuhan akan lindungi. Yaitu bagaimana kehidupan rohani kita bertumbuh, bagaimana kita menjadi orang-orang yang layak disebut anak-anak Allah.
    Perlu selalu diingat bahwa kesempatan untuk bergaul dengan Tuhan ini luar biasa nilainya. Tidak bisa diukur, tidak bisa ditakar dengan apa pun. Kesempatan untuk mencari Tuhan merupakan kesempatan yang mahal sekali. Kita diberi Tuhan kesempatan yang tidak ternilai di waktu yang singkat. Kita diberi Tuhan potensi untuk menemukan Tuhan, potensi untuk bergaul dengan Allah, mengenal Allah, berjalan dengan Allah; tetapi kesempatan itu terbatas.
    Karenanya kita harus bisa menanggalkan semua kesibukan yang lain dan memfokuskan diri kita sepenuh-penuhnya untuk Tuhan. Roh Kudus kiranya menolong kita untuk membuang apa yang seharusnya kita buang, dan untuk tidak lagi memiliki kesenangan-kesenangan dunia atau hobi-hobi yang hanya untuk menyenangkan hati, kebanggaan, nilai diri, prestise,
    9 min
  • Memilih Jalan Lain
    Jujur kita akui, betapa sulitnya mengenakan hidup Yesus, betapa sulitnya menyembah, memberi nilai tinggi sampai kita benar-benar mengakui bahwa tidak ada sesuatu yang kita anggap bernilai selain Allah. Emas, kemenyan, dan mur bicara soal kekayaan kemuliaan dunia yang harus kita lepaskan. Bukan berarti kita harus memberi uang ke gereja atau rumah yatim piatu. Kita harus mendengar suara Roh Kudus tentang apa yang patut kita lakukan dan jangan terikat dengan harta. Dan kalau sudah begitu, kita akan rela berbuat apa pun.
    Kalau seandainya para majus itu kedapatan lewat jalan lain, bisa mati mereka karena tidak menurut perintah Herodes. Tetapi bagi mereka, demi pertemuan dengan Yesus, apa pun mereka lakukan. Maka salah satu ciri orang yang benar-benar menemukan Yesus di dalam hidupnya adalah dia rela melakukan apa pun untuk Tuhan. Baginya, adalah suatu kehormatan bisa membela pekerjaan Allah. Maka, ketika para majus itu diperingatkan untuk tidak kembali ke jalan yang sama, tidak ada perbantahan, tidak ada adu argumentasi. Persis seperti Abraham, ketika diperintahkan menyembelih anaknya, Ishak, tidak ada perbantahan.
    Kita akan menyesal kalau bertemu dengan Maha Raja dan kita belum tidak berbuat apa-apa untukNya. Dengan renungan ini tidak dimaksud kita harus memberi uang, sama sekali tidak. Tapi perkarakan apa yang sudah kita lakukan untuk membela Tuhan. Kita yang mestinya mencium-cium kaki Tuhan dan berkata, “Apa yang harus kulakukan Tuhan? Sebelum waktuku usai, sebelum kesempatan ini berlalu?” Ironis, dari muda kita dilatih untuk memanfaatkan Tuhan, mengeksploitasi Tuhan, menghisap Tuhan. Tapi kita tidak berpikir bagaimana kita dapat berguna bagi pekerjaan Tuhan.
    Melalui jalan lain, tidak hanya ditandai dengan rajin ke gereja, menjadi aktivis, bahkan jadi pendeta, namun ketika kita mengenakan hidup Yesus di dalam diri kita. Memberi uang juga bukan hal terutama, bukan, namun ketika kita berjalan dari waktu ke waktu di dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Bagaimana setiap kata yang kita ucapkan, kalimat, narasi, setiap perbuatan, tindakan, keputusan pilihan kita selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dan itu yang memuaskan hati Allah, itu yang bisa dinikmati oleh Tuhan. Itu yang membuat Bapa di surga bisa berkata, “Ini anak-Ku yang Kukasihi kepadanya Aku berkenan.”
    Di antara kita adalah orang-orang Kristen sejak kecil. Betapa malangnya kalau kita yang sudah Kristen sejak kecil ternyata kita tidak menjadi satu pribadi yang memuaskan hati Allah. Betapa menyedihkan. Sering kita frustrasi kalau memikirkan hal ini. Lapar dan haus itu frustrasi. Bukan lapar dan haus makanan, tapi lapar dan haus akan kebenaran. Bagaimana kita melakukan kehendak Allah? Ayo kita bertobat. Kita harus berani “memilih jalan lain,” yaitu jalan yang berbeda dengan jalan dunia.
    Percayalah, kita tidak akan dipermalukan, bahkan anak cucu kita akan dipelihara Allah, dan Allah akan membuktikan, Dia setia kepada orang yang setia. Jangan ragukan Tuhan, Dia Allah yang hidup. Ingat, keselamatan bukan harga yang murah. Itulah sebabnya ketika ada orang yang berkata, “Tuhan apa yang harus kulakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal, hidup yang berkualitas?” Yesus berkata, “Ikut Aku, jangan terikat dengan dunia.” Banyak orang berusaha, tapi tidak masuk surga. Jangan kita disesatkan dengan konsep seakan-akan surga itu cara mudah, jalan pintas.
    Kita harus berani mengambil keputusan. Jadikan hal menemukan Tuhan dalam hidup kita sebagai, bukan hanya utama dalam hidup, melainkan satusatunya. Selalu kita bertanya kepada diri kita sendiri setiap hari, “Apakah aku sudah berkenan?” Tapi yang dilakukan banyak orang adalah “Nanti kalau aku sudah beres dengan masalah ini.” Setan menipu, dan masalah kita tidak pernah beres, setiap hari ada saja masalah yang kita hadapi. Jadi, setiap hari kita harus memeriksa diri kita. Jika ada dosa yang kita lakukan, kita minta ampun. Kalau ada hal yang mestinya kita lakukan, namun tidak kita lakukan,
    8 min
  • Menemukan Tuhan
    Menurut catatan, di dalam sejarah bahwa pada abad penggenapan, di abad 1, orang-orang dunia Timur meyakini akan adanya seorang penguasa yang lahir. Jadi sebenarnya bukan orang Yahudi saja yang memercayai seorang Messiah atau Mesias.  Herodes mengerti itu. Ia bertanya kepada ahli Taurat bangsa Yahudi yang mengerti seluk-beluk hal Alkitab, hal Mesias. Ia mengerti akan ada Mesias yang dipersepsikan sebagai raja yang akan melepaskan bangsa Israel dari perbudakan penjajahan bangsa asing. Para imam kepala dan ahli Taurat juga menantikan Mesias. Mereka tidak mempunyai jawaban lain kecuali Betlehem, tanah Yehuda. Herodes dalam kelicikannya, memanggil orang-orang Majus, dan dengan teliti bertanya. Dia mengadakan investigasi, “Pergilah selidikilah dengan saksama hal itu, jika kamu sudah menemukan Dia, kabarkan padaku, karena aku akan datang menyembah.” Sebenarnya dia tidak bermaksud menyembah. Herodes tahu ini menjadi kompetitornya, pesaingnya, yang bisa memaksa dia turun dari takhtanya. Dengan diam-diam, dia tahu, dia tidak akan melakukan itu secara terbuka, karena akan membangkitkan pemberontakan masyarakat Yahudi yang menantikan Messiah atau Mesias.  Dan mereka diperingatkan dalam mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes, maka mereka pulang melalui jalan lain.
    Didorong oleh kerinduan mereka, bertemu dengan Anak itu, maka mereka harus mengorbankan waktu, harta, tenaga, bahkan juga nyawa. Bukan tidak mungkin di perjalanan akan bertemu dengan perompak padang pasir dan orangorang jahat. Tetapi mereka begitu merasa membutuhkan bertemu raja itu, apa pun yang terjadi, karena mereka yakin itu raja orang Yahudi. Pertanyaan untuk kita hari ini, seberapa kita sebenarnya tertarik bertemu dengan Tuhan Yesus? Seberapa kita sungguh-sungguh rindu bertemu dengan Tuhan Yesus? Tentu kisah ini secara kiasan memberi pelajaran kepada kita. Orang yang sungguh-sungguh berniat—berminat dengan kenekatan tertentu—pasti bisa menjumpai Yesus.
    Yesus akan datang kembali, namun bukan lagi sebagai bayi kecil, melainkan sebagai Raja, sebagai Tuan.  Ironis, banyak orang belum siuman bahwa hidup ini singkat dan tragis. Apalagi kalau ekonomi kuat, relasi kuat, tubuh sehat, semua berjalan dengan baik. Yang tentu semua itu bisa menjadi alat kuasa kegelapan “meninabobokan” kita. Sehingga kita tidak merasa membutuhkan dunia lain, padahal dunia kita hidup hari ini akan berakhir dan ada ujungnya. Mengerikannya, bukan hanya singkat, tetapi kita tidak tahu kapan berakhir. Dan setelah berakhir, bukan selesai, tapi ada kelanjutan sebab manusia harus memperhadapkan dirinya di hadapan Tuhan, Raja kita, Tuhan Yesus Kristus karena penghakiman diserahkan oleh Allah Bapa kepada Tuhan Yesus.
    Kita harus sangat serius memperkarakan hal ini, apakah kita sudah benar-benar benar di mata Allah? Ukurannya bukan berangkat dari perasaan kita, tapi berangkat dari perasaan Allah, sebab Allah yang mesti mengesahkan, apakah kita sudah melakukan kehendak-Nya, dan itu membangkitkan kesukaan di hati Tuhan?  Di Matius 7:21 Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Siapa yang melakukan kehendak Bapa? Yesus! Standar melakukan kehendak Bapa adalah Yesus, yang karenanya Bapa berkata, “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” tidak ada ukuran lain, ukurannya hanya Yesus.
    Sejujurnya, kita sering tidak serius dan tidak memperkarakan hal ini; apakah benar di dalam perasaan Bapa, kita sudah melakukan kehendak-Nya? Apakah kita telah memenuhi selera Allah Bapa dengan melakukan kehendak Bapa seperti Yesus?  Kalau orang Majus menemui Yesus dan memperolehnya dengan pengorbanan waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa, apakah kita juga sungguh-sungguh menemukan Tuhan dengan segala pengorbanan? Menemukan Tuhan di sini bukan hanya menjadi Kristen dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
    Kalau kita belum mengenakan hidup-Nya Yesus,
    8 min
  • Petualangan Hidup
    Tidak mungkin Tuhan berkata kepada seseorang, “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan,” kalau hati orang itu belum tersambung dengan Tuhan. Maka seharusnya kita bisa berkata seperti pemazmur berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Cinta kita semakin menyatu dengan Tuhan. Kalau cinta manusia bisa makin pudar dan padam, tapi cinta kepada Tuhan akan makin menyala. Jadi, kita harus menjadikan Tuhan lebih dari sekadar hobi atau kesukaan. Sehingga kita bisa berkata seperti pemazmur di Mazmur 42:2, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” 
    Dunia hari ini harus kita hadapi dengan kekristenan yang benar-benar fanatik, freak, dan gila-gilaan untuk Tuhan. Pagi, siang, malam, setelah kita menyelesaikan tanggung jawab dan tugas kehidupan yang kita miliki, kita mencari Tuhan. Dan bahkan mestinya, baik kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan. Sejujurnya, dulu kita masih memberi ruangan untuk beberapa hal. Dan itu yang membuat kita gagal menjadi jurubicara Tuhan. Sebab sebagai jurubicara Tuhan, fokusnya harus Tuhan sepenuhnya dan harus hidup di dalam kekudusan. Jangan men-distract pikiran kita dengan hal-hal yang tidak Tuhan kehendaki masuk dalam pikiran kita. 
    Petualangan hidup yang bernilai adalah petualangan hidup mencari dan menemukan Tuhan. Mau tidak mau, walau kita mungkin dianggap ekstrem, berlebihan, fanatik, sudah kegilaan, dan lain sebagainya. Setiap saat kita hidup di hadirat Tuhan, ada di dalam suasana hadirat Allah. Ada banyak baju yang bisa kita pakai, tapi kita memilih memakai baju kekudusan. Tapi sering baju kita robek. Yang itu sama dengan kita merobek kekudusan. Akhirnya kita memakai baju yang salah. Kalau anak-anak muda mulai sekarang belajar memakai baju kekudusan, tidak kalian ganti dengan pakaian lain, maka kalian tetap ada di hadirat Allah. 
    Mengapa Tuhan menghubungkan kekudusan-Nya dengan kekudusan kita? Karena tanpa kekudusan, seseorang tidak bisa menghampiri Allah. Maka, pakailah pakaian kekudusan. Sehingga Allah menjadi hidup di dalam hidup kita. Dan ketika kita menghadap Tuhan, seakan-akan kita tidak pernah belajar teologi. Kita hanya mau bertemu dengan Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya. Tetapi setelah itu, jangan memberi waktu untuk hal yang Tuhan tidak suka kita melakukannya. Ya, itu siksaan rasanya. Tapi kita harus berpikir bahwa tidak ada kehidupan di luar Tuhan. Namun sejujurnya, masih ada kesenangan-kesenangan dan hal-hal yang kita pandang berharga dalam hidup ini. Dan itu sulit untuk kita lepaskan.
    Karenanya kita harus terus mencari Tuhan sampai ‘krek.’ Kalau sudah sampai ‘krek,’ kita pasti kecanduan Tuhan karena kita sudah menemukan selera kudus, selera kekal, sehingga kita merasa tidak membutuhkan yang lain. Ini tidak mudah. Ketika kita berkata, “ku perlu Kau, Tuhan” sejujurnya, mungkin saat itu kita merasa perlu Tuhan karena punya masalah, punya kebutuhan yang belum terpenuhi, dan berbagai hal lain. Maka, jangan merasa sudah menemukan Tuhan, lalu kita puas diri. Ibaratnya, kalau kita dibawa ke satu gua, dan ternyata ada emas berkilo-kilo, maka kita pasti cari karung sebanyak-banyaknya. 
    Kita bisa masuk gua rumah Tuhan di ruang hidup, atau di kamar, dan di dalam perjalanan hidup kita. Kita pasti tidak hanya mau menggenggam dua batang emas. Kita akan bawa karung, sebanyak-banyaknya. Oleh sebab itu, jangan membuat hidup kita bocor dengan memberikan waktu dan perhatian kita kepada sesuatu. Ketika seseorang menutup mata, masuk ke dalam kekekalan dan melihat kemuliaan Tuhan, ia baru menyadari betapa berharganya Tuhan. 
    Tuhan telah membuka diri untuk dimiliki sebanyak-banyaknya, tapi kita mengambil sekecil-kecilnya karena kita sibuk dengan banyak hal lain. Kita harus seekstrem-ekstremnya untuk Tuhan agar semakin ‘krek’ menjadi kekasih Tuhan. Kita bukan hanya mendapat tempat istimewa nant...
    10 min
  • Kerinduan yang Semakin Membara
    Tidak ada dua orang yang sama di muka bumi ini, apalagi tiga. Setiap orang berkeadaan unik, khusus. Pengalaman perjalanan hidup seseorang juga pasti unik, tidak ada duanya. Tidak sama dengan siapa pun. Maka, perjumpaan dengan Tuhan juga unik, yang orang lain tidak akan bisa mengerti. Apalagi kalau seseorang tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan, maka dia tidak akan mengerti orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Tetapi pasti buah hidup orang itu nyata. Hidup ini adalah petualangan yang luar biasa. Karena kita memiliki waktu yang telah dijatah Tuhan, waktu yang tertentu. Tetapi waktu yang tertentu tersebut menentukan nasib atau keadaan kekal kita; sebuah perjalanan yang tidak bertepi.
    Jadi, betapa luar biasa kehidupan ini. Pengembaraan yang singkat, tetapi menentukan kekekalannya. Keluarbiasaan, keindahan nilai, kualitas dari singkatnya waktu hidup kita bukan terletak pada keberhasilan mengumpulkan harta, mencapai jenjang studi, atau karena memiliki penampilan yang mempesona, juga bukan karena sukses dalam rumah tangga, karier, atau memiliki nilai-nilai lebih yang dipahami manusia sebagai keluhuran atau keunggulan. Yang memang karena hal itu manusia menggulirkan harinya, memenuhi harinya demi keberhasilan dalam studi, karier, rumah tangga, memiliki harta, dan penampilan yang baik. Dan orang berani mempertaruhkan apa pun demi mencapai hal itu. 
    Mungkin di antara kita ada yang pernah melihat orang yang berhasil dalam hidup, namun di ujung akhir hidupnya semua kemegahannya tidak berarti lagi. Misalnya, seseorang yang pernah berkuasa selama 40 tahun, namun 1 tahun sebelum ia meninggal, ia dipenjara. Maka kemegahannya selama 40 tahun menjadi tidak ada artinya. Atau ia memiliki pengembaraan hidup yang dinilai indah oleh manusia, bahkan sampai akhir hayatnya tetap indah dan bernilai di mata manusia, tetapi kalau di kekekalan ia terbuang dari hadirat Tuhan, betapa dipermalukannya orang-orang seperti ini. Maka kita bersyukur kalau kita ‘hanya’ dipermalukan di bumi. Bahkan hal itu memacu kita untuk benar-benar memeriksa diri, apakah suatu hari nanti ketika kita meninggal dunia, kita berkenan di hadapan Tuhan sehingga kita mendengar pengakuan-Nya, “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” 
    Hanya itu yang membuat kita tidak dipermalukan. Dan hal itu harus kita kejar, sehingga hidup kita menjadi pengembaraan yang luar biasa, yang sangat bernilai. Dan itulah harta yang harus kita cari, kita gumuli untuk kita peroleh. Oleh sebab itu, tidak bisa tidak, kita harus benar-benar menemukan Tuhan. Kita terus mengampanyekan hal ini, seperti kita juga terus memerintahkan diri kita sendiri untuk menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran, guna menemukan Tuhan. Dan benar-benar kita bisa mendengar suara Tuhan, menangkap kehadiran-Nya di dalam hidup kita. Ibarat radio, kita harus mencari frekuensi yang tepat. Dan sejatinya, Tuhan itu tidak mudah ditemukan. Maka dibutuhkan keberanian dalam menantikan Tuhan sebab Tuhan kadang seperti tidak peduli.
    Kita sudah melewati malam panjang di kaki Tuhan, berlutut, menyanyi, berdoa namun kita tidak merasakan ada hembusan angin atau kehadiran Tuhan yang membuat bulu kuduk kita merinding. Semua terasa sepi-sepi saja, seakan-akan Tuhan ada di nun jauh di sana dan tidak mengunjungi kita. Besoknya begitu lagi, besoknya begitu lagi. Bahayanya adalah kalau kita tidak tekun, kita tidak cukup berani memercayai bahwa Dia hidup. Seperti kita menantikan terbitnya matahari dari pukul 6 sore sampai besok pukul 6 pagi, 12 jam. Menantikan Tuhan bisa 12 bulan atau bisa lebih. Tetapi percayalah, sepasti matahari, Dia akan terbit, Dia pasti kita temukan. Dan ini yang seharusnya memberi nilai di dalam hidup kita. Kalau kita mendapat kesempatan hidup, kita melihat kemungkinan yang paling berharga, yaitu menemukan Tuhan. 
    Dan orang yang menemukan Tuhan memiliki kebahagiaan yang luar biasa. Jadi bukan hanya fantasi. Menemukan Tuhan itu sangat pribadi, bahkan bisa berunsur misteri.
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…