Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tuhan Melukai
    Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan mengajarkan, “Berikan kami makanan kami pada hari ini yang secukupnya.” Kalimat ini mengisyaratkan ketergantungan terus-menerus kepada Bapa di surga, yang akan membangun selera jiwa; sehingga kehausan akan Allah dapat terpenuhi. Sampai akhirnya kita bisa mengerti bahwa ada kehausan di dalam jiwa kita yang hanya bisa diisi oleh Tuhan. Dan itu mestinya ditemukan. Jadi kalau mengandalkan Tuhan hanya karena masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, maka kehausan jiwa kita belum terjawab, karena kita tidak memiliki keterikatan dengan Tuhan. Dalam hal ini, kita memanfaatkan Tuhan, menarik Tuhan di bisnis kita, tapi kita tidak mau mengerti bisnis Dia. Dan itu yang dilakukan oleh kuasa kegelapan melalui mimbar-mimbar gereja yang tanpa disadari menyesatkan umat.
    Sejatinya, itu bahaya sekali. Jadi kalau kita mengandalkan Tuhan, haruslah karena hanya Tuhan yang bisa menjawab keselamatan kekal kita, sekalipun masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, Tuhan tidak menolong, asal kita tidak terlepas dari ikatan dan pelukan Tuhan. Makanya Tuhan tidak jarang membuat seseorang miskin. Tuhan izinkan kita mengalami kesulitan, Tuhan pun bisa “melukai” demi keselamatan kekal kita. Jadi, kita tetap harus bersyukur. Maka, jangan menunggu jatuh, bangkrut, sakit, baru kita pegang tangan Tuhan. Jangan sombong. Kesombongan itu berangkat dari sikap hati di mana seseorang merasa bisa hidup tanpa Tuhan. 
    Ketika semua dalam keadaan nyaman, finansial cukup, tubuh sehat, kita tidak merasa perlu bergantung pada Tuhan. Mestinya, walaupun tubuh sehat, uang banyak, relasi kuat, tetap kita harus bergantung dan mengandalkan Tuhan. Kita akan buktikan bagaimana Tuhan tidak mempermalukan orang yang mengandalkan Dia. Buktikan, Tuhan itu hidup. Tuhan tetap pelihara, walaupun di tengah kelam kabut hidup, asalkan kita tetap mencari Tuhan. Kita pasti akan dibedakan, karena Elohim Yahweh, Allah Israel itu tidak berubah, dulu, sekarang, sampai selama-lamanya tidak berubah. Jadi, jangan sombong. 
    Dan ingat, jangan kita berurusan mengenai kekekalan hanya pada waktu mau mati, atau saat sudah tua, sebab kita tidak akan bisa. Hal ini harus dimulai sejak jauh-jauh hari. Sebab ketika kita haus akan Dia, kecanduan Dia, berarti Tuhan baru bisa menikmati kita. Pasti Tuhan akan membawa kita pulang ke Rumah Bapa. Alkitab berkata, “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon.” Persahabatan kita bukan dengan dunia, bukan dengan mamon, namun dengan Tuhan. Mamon, kita pakai untuk bersahabat dengan Allah. Ironis, orang berurusan dengan Tuhan karena dompet. 
    Kita membutuhkan Tuhan, Pribadi-Nya. Kita mengandalkan Tuhan karena terkait dengan kekekalan, sehingga pencarian kita akan Tuhan stabil dan di dalam pencarian tersebut kita menghayati adanya kehausan jiwa kita yang hanya bisa dipenuhi oleh Allah. Ketika pikiran kita hanya tertuju pada perkara-perkara materi, maka kita tidak pernah menemukan kehausan jiwa yang sejati. Haus kita sesat, hausnya salah. Maka ketika kita menghargai Tuhan dan menjadikan Dia paling berharga dalam hidup, maka kita pun menjadi berharga di mata Tuhan. Sampai pada kehidupan menjadi kekasih abadi Tuhan, seperti Paulus katakan, “Aku mempertunangkan kamu dengan Kristus sebagai perawan suci di hadapan Tuhan.” 
    Tuhan mau menyempurnakan kita menjadi mempelai-Nya. Jadi, mestinya tidak ada yang kita anggap berharga selain Tuhan. Jangan memberhalakan sesuatu, sampai Tuhan saja ditarik-tarik untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Di situ kita tidak menghormati Tuhan. Tuhan berkata, “… itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” Masakan kita seperti itu? Kalau burung di udara, Dia pelihara dan bunga di padang Dia dandani, apalagi kita sebagai kekasih-Nya. Pemazmur pun sudah berkata, “Sekalipun daging dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” 
    Sering mimbar dipakai untuk menipu orang, seakan-akan masalah jodoh, ekonomi, kesehatan merupakan masalah besar,
    8 min
  • Titik Zenit Masalah
    Allah menentang orang sombong. Kata “menentang” di dalam teks aslinya adalah antitasetai. Orang yang sombong adalah orang yang terkutuk, karena orang sombong pasti tidak menghormati Tuhan. Sebenarnya apakah inti, nafas, jiwa dari kesombongan? Inti kesombongan pada dasarnya adalah ketika seseorang merasa bisa hidup tanpa Tuhan; ketika seseorang bisa menjalani sesuatu tanpa Tuhan. Sebaliknya, kerendahan hati pada intinya adalah sikap hati di mana seseorang merasa tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Jadi, memang dalam segala hal kita harus bergantung kepada Tuhan, sebab pada akhirnya irama hidup yang bergantung kepada Tuhan itu membawa kita ke Rumah Bapa. 
    Kalau kita belajar bergantung kepada Tuhan, belajar mengandalkan Tuhan dalam segala perkara, maka irama hidup mengandalkan Tuhan akan membawa kita sampai pada puncak masalah, titik zenit masalah, yaitu mengenai kekekalan. Banyak orang bisa menangani semua masalah tanpa Tuhan, dan dia merasa bahwa semua itu adalah karyanya. Dan memang, itu bagian dari karyanya. Kalau kemudian orang itu menjadi sombong dan merasa bisa menanggulangi semua masalah sampai titik zenitnya nanti, dia tahu bahwa ada satu masalah yang tidak bisa dia tanggulangi, yaitu masalah kekekalan. 
    Jadi bukan tanpa alasan kalau Alkitab berkata, “Allah, menentang orang sombong, terkutuklah orang yang mengandalkan manusia,” karena orang-orang seperti ini memiliki irama yang pada akhirnya ia tidak merasa membutuhkan Tuhan. Padahal, hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan masalah kekekalan. Dalam hal ini, kita bisa melihat betapa liciknya Iblis waktu ia berkata kepada Tuhan Yesus, “Sembah aku, kuberikan dunia kepada-Mu.” Di balik pernyataan itu, secara implisit terkandung pengandalan kekuatan dunia. Iblis menawarkan dunia yang dapat membahagiakan, menjamin, melindungi. 
    Kenyataannya, hari ini kita melihat fakta bahwa kekuatan uang itu nyaris tidak terbatas. Bisa membeli kedudukan, bisa mengatur keputusan hakim, bisa menguasai atau mengatur penguasa, dan lain sebagainya. Maka banyak orang menyembah Iblis. Memang tidak langsung menyembah Iblis, sebab Iblis memasukkan dirinya pada materi. Sebagai manusia modern, kita tidak percaya hal-hal yang bersifat mistik. Juga sebagai orang yang santun, beradab, beragama, tentu kita tidak menyembah Iblis secara langsung. Tapi ketika kita merasa kurang nyaman, kurang aman, kurang terjamin, kurang tergaransi tanpa kekuatan-kekuatan itu, kekuatan materi, sejatinya kita menyembah Iblis.
    Sekalipun Tuhan tidak menolong kita dalam masalah-masalah hidup, tapi jangan sampai kita lepas dari pelukan Tuhan di kekekalan. Sementara kita hidup di bumi ini, tentu kita akan terjamin kalau kita mengandalkan Tuhan. Yeremia 17:5-8 mengatakan, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air dan yang tidak mengalami datangnya panas terik. Yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”
    Orang yang tidak 100% mengandalkan Tuhan, tidak mungkin hidup bersih. Sebaliknya, orang yang sepenuhnya mengandalkan Tuhan, ia dikondisi untuk hidup suci, tidak bisa hidup tanpa Tuhan, dan dikondisi untuk merapat terus.  Sehingga ia akan takut menghadapi hidup tanpa berjalan dengan Tuhan. Dan kalau kita merapat terus, kita tidak mungkin ceroboh hidup, tidak mungkin kita berbuat dosa sembarangan. Jadi, seseorang tidak mungkin hidup kudus, kalau ia tidak 100% mengandalkan kepada Tuhan. Dan seseorang tidak mungkin mengandalkan Tuhan dengan benar kalau ia tidak mengaitkan dengan kekeka...
    8 min
  • Keberhakan Diri
    Sebenarnya seluruh ruangan hidup kita (waktu, pikiran, tenaga) adalah milik Tuhan, sebab Tuhan yang menciptakan kita dan telah membeli atau menebus kita dengan darah-Nya yang mahal.  Tetapi oleh karena irama hidup yang salah selama bertahun-tahun, maka tidak mudah bagi kita untuk menyerahkan ruangan hidup kepada Tuhan. Banyak orang Kristen tidak berkeberatan menjadi orang yang rajin ke gereja dan memberi persepuluhan atau sumbangan yang lain untuk kegiatan sosial dan penginjilan. Masih mudah juga untuk berusaha melakukan hukum-hukum moral umum yang diakui oleh masyarakat. Tidak terlalu sulit juga mengambil bagian dalam pelayanan, bahkan menjadi pendeta. Tetapi untuk menyerahkan segenap hidupnya tanpa sisa bagi Tuhan sebagai Pemilik kehidupan, bukan hal yang mudah.
    Banyak orang Kristen yang masih nyaman menguasai dirinya sendiri, seakan-akan dirinya miliknya sendiri dan seakan-akan tidak pernah menerima penebusan. Harus diingat bahwa ditebus berarti dibeli untuk dimiliki oleh sang penebus.  Keberhakan atas diri sendiri, sukar sekali dihancurkan. Tetapi kalau seseorang telah ditebus oleh Tuhan Yesus, mau tidak mau ia harus mengembalikan segenap hidupnya untuk dimiliki oleh Tuhan (1 Kor. 6:19-20). Walau keberhakan diri ini sukar dihancurkan, tetapi harus dihancurkan, sebab kegagalan menyerahkan atau mengembalikan milik Tuhan berarti menolak penebusan. 
    Melepaskan keberhakan atas diri yang utama bukan masalah uang atau harta yang diberikan kepada gereja atau disumbangkan kepada kegiatan sosial, melainkan suatu kesadaran bahwa Tuhan adalah Pemilik segala sesuatu, termasuk di dalamnya segenap hidup kita. Mengaku dengan mulut bahwa segenap hidup kita milik Tuhan sangatlah mudah, apalagi kalau sedang menghadapi masalah berat. Pada waktu menghadapi masalah berat, kita akan berkata bahwa kita milik Tuhan agar mendapat pertolongan Tuhan. Tetapi kalau sudah tidak bermasalah, kita mulai hidup sesuka hati kita sendiri. Sering pengakuan mulut itu tidak disertai dengan kesadaran yang tulus dan pengakuan dalam batin. 
    Kesadaran dan pengakuan dalam batin yang tulus akan memiliki dampak dalam sikap hidup setiap hari. Sikap hidup yang muncul adalah kesadaran bahwa ia hidup di semesta sebagai makhluk yang diciptakan hanya untuk melakukan keinginan Penciptanya. Usaha melepaskan keberhakan diri adalah berusaha melakukan keinginan Tuhan. Untuk melepaskan keberhakan atas diri kita, dimulai dari kesungguhan untuk menemukan Tuhan secara pribadi. Kita harus menghadap Tuhan setiap hari dengan sikap hati seakan-akan kita tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa. Memang pada waktunya akan demikian, setiap orang akan menghadap Tuhan tanpa apa-apa dan siapa-siapa. Inilah yang dimaksud dengan berperkara dengan Tuhan. 
    Harus ada kebiasaan menghadap dan berurusan dengan Tuhan sendiri setiap hari. Waktu yang disediakan untuk ini mutlak sangat penting, lebih penting dari segala hal. Namun ini adalah hal yang jarang dilakukan, sehingga banyak orang tidak pernah memiliki pengalaman pribadi dan hubungan pribadi dengan Tuhan. Dalam menghadap Tuhan, tidak ada persoalan lain yang digumuli selain hubungan pribadi antara diri kita sendiri dengan Tuhan. Menghadap Tuhan bukan mempermasalahkan apa pun selain masalah hubungan pribadi tersebut. Berbagai masalah hidup harus dianggap tidak berarti sama sekali dibandingkan dengan masalah hubungan dengan Tuhan.
    Kita harus berdamai dengan Bapa secara pribadi, karena banyak tindakan dan sikap hati yang menunjukkan permusuhan dengan Allah. Yakobus 4:1-4 mengatakan bahwa berbagai hawa nafsu dan keinginan menempatkan banyak orang pada posisi bermusuhan dengan Allah. Tentu saja hal ini juga dilakukan oleh banyak orang Kristen. Kita harus meminta ampun atas segala tindakan kita yang tidak berkenan kepada Tuhan dan tingkat pertumbuhan rohani serta kedewasaan kita yang belum memuaskan hati-Nya. Selanjutnya, harus ada tekad dan usaha yang serius untuk berubah agar tidak lagi melukai hati Tuhan dengan kesalahan...
    8 min
  • Mengukir Sejarah Tuhan
    Mengukir sejarah Tuhan dalam hidup harus dimulai setiap hari dari hal-hal sederhana, karena Allah pun turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya (Rm. 8:28). Untuk ini orang percaya harus mulai menggelar harinya sejak pagi dengan kewaspadaan bahwa hari itu Tuhan hendak mengukir sejarah-Nya dalam hidupnya secara pribadi. Dengan kewaspadaan tersebut ia mulai belajar menemukan jejak Tuhan di dalam atau melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Dalam hal ini, mencari Tuhan seperti mencari jarum jatuh di antara jerami. Rasanya sulit menemukan, tetapi Tuhan berjanji barang siapa sungguh-sungguh berusaha mencari Tuhan, maka Tuhan akan membuat seseorang menemukan-Nya (Yer. 29:13).
    Banyak orang menganggap Tuhan adalah Pribadi yang murahan. Mereka tidak berusaha dengan segenap hati menemukan Tuhan. Faktor lain juga disebabkan adanya mental blok, seakan-akan yang dapat menemukan Tuhan hanyalah orang-orang khusus yang memiliki karunia. Padahal setiap orang harus menemukan Tuhan. Tidak menemukan Tuhan berarti kebinasaan. Orang yang mencari Tuhan berarti berusaha untuk melakukan kehendak-Nya. Segala sesuatu yang dilakukan selalu disesuaikan dengan kehendak-Nya. Harus diingat bahwa yang paling dapat “mematikan Tuhan” dalam kehidupan seseorang adalah dosa. Dosa di sini artinya ketidaktepatan dari apa yang dipikirkan atau direnungkan, diucapkan dan dilakukan. Orang yang mencari Tuhan akan berusaha belajar mengenal pribadi-Nya melalui tindakan-tindakan Tuhan dalam sejarah di Alkitab. 
    Hal yang kedua yang paling bisa “mematikan Tuhan” dalam kehidupan seseorang adalah ambisi pribadi. Ambisi di sini adalah keinginan dan cita-cita yang menguasai hidup seseorang tanpa dikonfirmasikan dengan Tuhan; apakah cita-cita tersebut sesuai dengan rencana Tuhan dalam hidupnya? Ambisi dan cita-cita seseorang sangat ditentukan oleh “cita rasa” jiwanya; yaitu apa yang menurutnya paling membahagiakan. Ia tidak memiliki hasrat menyukakan hati Tuhan, tetapi hanya mencari kesenangan diri sendiri. Ia tidak akan mengerti rencana Tuhan atas keselamatan dirinya dan keselamatan orang lain di sekitarnya. Tuhan tidak akan “hidup” dalam kehidupan orang seperti ini. Pada dasarnya, mereka tidak serius dengan Tuhan, mereka hanya serius dengan dirinya sendiri. Akhirnya Tuhan pun tidak peduli terhadap orang-orang seperti ini.
    Harus kita sadari bahwa ketika kita mengikut Tuhan Yesus dengan benar, sejatinya hal itu akan mengakibatkan kepentingan orang di sekitar kita bisa terganggu. Sebab ketika hak-hak kita harus diserahkan kepada Tuhan, maka orang di sekitar kita merasa hak-hak mereka juga terampas pula, yaitu hak-hak yang mereka anggap milik mereka di dalam diri kita. Misalnya, kalau kita memiliki teman-teman yang selalu dalam suatu kebersamaan melakukan kegiatan tertentu, kemudian kita harus meninggalkan kebersamaan tersebut berhubung Tuhan tidak bisa menikmati kebersamaan tersebut, maka mereka merasa kehilangan kita. Mengikut Tuhan Yesus berarti kenyamanan kita terganggu, dan kalau kenyamanan kita terganggu maka orang-orang di sekitar kita yang bersama-sama menikmati kenyamanan tersebut akan merasa dirugikan. Ini barulah contoh sederhana, banyak hal yang lebih ekstrem dari ini. 
    Pada intinya, mengikut Tuhan Yesus berarti hidup dalam ketidakwajaran, sebab kewajaran kita adalah kehidupan Tuhan Yesus. Tidak hidup seperti Tuhan Yesus berarti kita belum wajar di hadapan Allah Bapa. Selama ini kompromi-kompromi yang dilakukan banyak orang Kristen telah memadamkan spirit Kristus di dalam diri kita. Spirit yang menguasai kita ternyata bukanlah spirit Anak Allah, melainkan spirit agama Kristen dengan standar kesantunan yang baik, namun jauh dari standar yang dikehendaki oleh Allah. Kita harus mengakui bahwa kita adalah korban dari atmosfer gereja dan kekristenan palsu yang penuh penyesatan. Kalau Paulus mengatakan “ikutlah teladanku” itu berarti sebagai manusia seratus persen Paulus mencoba hendak m...
    9 min
  • Masalah Terbesar
    Semakin mendekati akhir zaman akan semakin terbukti kebenaran atau dusta. Fakta yang tidak dapat dibantah bahwa setiap umat manusia memiliki karakter sesuai dengan hukum atau keyakinannya, yaitu apa yang dianggap benar atau salah. Dari cara hidup seseorang akan nampak keyakinan atau agamanya. Juga suatu masyarakat atau negara sangat dipengaruhi oleh keyakinan atau agamanya. Kalau kita pergi ke suatu negara, maka warna dan suasana masyarakat tersebut mencerminkan atau menunjukkan keyakinan atau agamanya. Ini adalah cermin yang jujur yang tidak tidak dapat disangkal atau dibantah. 
    Seperti yang kita tahu bahwa salah satu ciri keberagamaan adalah hukum; seperti bangsa Israel yang menganut agama Musa. Ciri agama tersebut adalah “hukum yang tertulis.” Seluruh cara hidup mereka diatur oleh hukum itu. Terdapat larangan-larangan, petunjuk apa yang halal dan yang haram. Juga sanksi terhadap pelanggaran. Taurat mewarnai hidup bangsa itu. Suatu realitas yang akan terjadi dan sekarang sudah mulai nampak bahwa pada akhirnya hukum tidak akan dapat mampu menopang moral manusia. Sebaik apa pun hukum disusun dan berusaha ditegakkan, dunia sudah semakin jahat dan rusak. Manusia tidak menyukai kebaikan dan tidak mau diatur. 
    Tidak bisa tidak, manusia hanya bisa diselamatkan dengan “cara” yang diberikan Bapa melalui pengurbanan Putra Tunggal-Nya. Tuhan Yesus menebus dosa, memuridkan dan mengubah manusia untuk menjadi seperti diri-Nya. Dalam hal ini keselamatan dalam Yesus Kristus bisa tampil membuktikan kebenaran-Nya. Dalam kekristenan, tidak ada hukum yang secara terperinci mengatur cara hidup umat. Hukum Taurat hanya menjadi tutor sementara, sebab yang menjadi hukumnya adalah Tuhan sendiri. Setiap tindakan orang percaya harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Segala sesuatu yang dilakukan harus seturut komando-Nya. 
    Orang percaya diajar untuk memiliki kehidupan Tuhan Yesus di dalam dirinya (Gal. 2:19-20). Hanya dengan cara demikian dunia tidak bisa memengaruhi. Persoalannya adalah bagaimana proses pemuridan berlangsung sehingga seseorang benar-benar diubah menjadi seperti Tuhan sendiri. Hal ini menuntut pengorbanan segenap hidup. Kekristenan harus menjadi jalan hidup di mana seseorang memiliki fokus yang penuh dan terus menerus terhadap proses mengenal kebenaran dan mengenakan kebenaran. Allah Bapa akan menolong orang yang berani mempertaruhkan segenap hidupnya untuk ini.
    Pada akhirnya, orang-orang Kristen yang hanya menjadikan kekristenannya sekadar agama akan menunjukkan kehidupannya yang tidak berbeda dengan orang yang tidak mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang yang sudah puas memiliki kebaikan moral umum, pergi ke gereja mengikuti liturgi dan melakukan berbagai kegiatan rohani lainnya. Tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mau belajar mengenal Tuhan. Padahal pengenalan tersebut sangat menentukan kesucian hidupnya sehingga bisa luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan (2 Ptr. 1:3-4).  Untuk bisa menghindarkan diri dari pengaruh dunia yang jahat ini, tidak bisa tidak, orang percaya harus sungguh-sungguh mengenal Tuhan dengan benar, peka terhadap kehendak Tuhan dan berlatih untuk dapat melakukannya. 
    Karakter seseorang sangat ditentukan oleh keyakinan agama serta hukum yang dipahaminya. Orang percaya seharusnya diwarnai oleh karakter Tuhan sebagai hukumnya, sebab orang percaya menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, artinya selalu hidup dalam kehendak-Nya. Inilah keistimewaan keselamatan dalam Yesus Kristus. Manusia diubah menjadi seperti Tuhan dengan cara mengenakan hidup-Nya (Rm. 13:14). Mengenakan kehidupan Tuhan Yesus adalah perlengkapan senjata terang. Hukum tidak bisa menopang manusia menjadi baik, tetapi kehidupan yang dimatikan dari keinginan duniawi dan dosa, serta mengenakan kehidupan Tuhan Yesus merupakan satu-satunya jalan terhindar pengaruh dunia yang jahat.
    Demi keselamatan umat, gereja harus mengajarkan kebenaran ini dengan jelas.
    9 min
  • Keagungan Manusia
    Pada akhirnya, yang dikehendaki Tuhan adalah agar manusia menjadi manusia yang berbudi luhur, maksudnya menjadi makhluk yang berbuat kebaikan bagi sesama. Hal ini sangat berbeda dengan binatang yang demi mempertahankan hidup bisa mengorbankan apa pun. Seperti misalnya binatang buas yang mengejar mangsa dan mencabik-cabiknya adalah hal yang harus dilakukan atau menurut kodrat. Ironis sekali kalau hari ini banyak manusia berkarakter seperti hewan. Mereka melakukan praktik ini sampai pada taraf menganggap hal tersebut sebagai kewajaran atau hampir bisa dikatakan kodrat. Seperti misalnya praktik korupsi dan pemerasan, sudah hampir melanda semua golongan dan instansi, baik pemerintah maupun swasta. Tindakan mereka bukan lagi sesuatu yang dianggap aib yang memalukan.
    Suasana dunia seperti ini memberi pengaruh yang kuat dalam kehidupan hampir semua orang. Sedikit sekali orang yang memiliki integritas, sehingga tidak terpengaruhi oleh suasana dunia yang fasik ini. Sesuai firman Tuhan, pada akhir zaman manusia menjadi makhluk yang mencintai dirinya sendiri (2 Tim. 3:1-5). Hampir semua manusia telah kehilangan gambar diri, artinya tidak mengerti dan tidak mau mengerti bagaimana seharusnya menjadi makhluk yang disebut “gambar Allah.” Untuk memperbaiki manusia, Tuhan memberikan hukum-Nya. Hukum diberikan dengan maksud agar manusia bisa menjadi beradab, minimal lebih baik dari hewan. Pada umumnya agama mengusahakan agar pemeluk agamanya menjadi manusia yang hidup sesuai dengan moral agama yang dianutnya. 
    Kenyataan, sungguh ironis, hukum agama tidak bisa membendung pengaruh jahat dalam diri manusia itu sendiri sehingga praktik “homo homini lupus” tetap ada, subur bahkan sekarang semakin merajalela. Pada kenyataannya, di seluruh dunia manusia mengalami kemorosotan akhlak yang luar biasa. Perang saudara di beberapa negara, usaha memusnahkan suatu suku bangsa atau genosida, bom bunuh diri, teror, perlombaan senjata, peningkatan ketegangan yang memicu pengayaan nuklir menjadi gambaran yang jelas bahwa manusia telah kehilangan keberadabannya. Bagaimana sikap kita terhadap situasi dunia seperti ini? Kita harus mencari Tuhan dan kebenaran-Nya dan meneguhkan hati untuk memiliki integritas sebagai orang percaya yang berdiri pada kesucian dan kebenaran-Nya.
    Untuk bisa menjadi manusia yang berbudi luhur, harus ada niat yang sungguh-sungguh pada setiap individu. Niat ini merupakan inti dari hakikat manusia yang tidak diintervensi oleh siapa pun. Kalau hakikat ini bisa diintervensi—artinya kalau keputusan dan pilihan manusia dikendalikan oleh kekuatan di luar dirinya—maka manusia tidak perlu bertanggung jawab atas keputusan dan pilihannya. Oleh sebab itu, harus dimengerti bahwa sesungguhnya Iblis tidak dapat mencegah manusia berbuat baik, tetapi di lain pihak Tuhan pun tidak bisa memaksa manusia berbuat baik (Kej. 4:7). Manusia diberi kehendak bebas untuk memilih dan menentukan nasib atau keadaannya. Manusia memilih apakah mengasihi sesamanya atau mendatangkan bencana bagi sesamanya. 
    Berbeda dengan hewan yang oleh nalurinya mereka bergerak dan mempertahankan hidup, apa pun mereka lakukan demi mempertahankan hidup ini. Mereka tidak dapat menghindarkan diri dari dorongan yang sudah menjadi kodrat dalam diri hewan tersebut. Mereka tidak dapat menjadi makhluk yang agung. Bisa dimengerti kalau mereka tidak memiliki “adab” atau kesantunan hidup. Berbeda dengan manusia. Manusia bisa mengatur dorongan yang ada di dalam dirinya. Itulah sebabnya manusia bisa bertanggung jawab atas dirinya di hadapan Tuhan yang menciptakan dirinya. 
    Adalah bodoh kalau memandang seakan-akan manusia dipaksa untuk berbuat baik atau berbuat jahat berdasarkan takdir atau pemilihan Tuhan. Seakan-akan manusia menjadi seperti hewan yang tidak dapat menghindarkan diri dari dorongan yang ada padanya. Kebebasan manusia mengambil keputusan menunjukkan keagungan manusia itu sendiri. Kalau manusia memilih melakukan kebajikan bagi sesamanya,
    9 min
  • Mengenakan Semangat Hidup Yesus
    Kasus yang terjadi pada zaman Tuhan Yesus di mana orang-orang Yahudi termasuk murid-murid-Nya menghendaki suatu berita yang baik menurut versi mereka, ternyata juga terjadi terjadi di zaman sekarang ini. Banyak orang menghendaki suatu berita Injil yang tidak menganggu ketenangan hidup. Suatu Injil yang menurut mereka sopan dan tidak aneh. Injil yang dapat diterima semua kalangan tanpa menimbulkan resistensi. Injil yang bisa mengubah dunia yang sulit ini menjadi dunia yang mudah dijalani. Mengikut Tuhan Yesus menjadi kesempatan untuk menciptakan “firdaus di bumi.” Kekristenan yang sejati adalah ajakan untuk mengenakan semangat hidup Tuhan Yesus. 
    Untuk mengerti semangat hidup Tuhan Yesus, kita harus membedah semua isi Alkitab, terutama Perjanjian Baru dan sungguh-sungguh memahami isinya. Selanjutnya, harus ada pribadi-pribadi yang menampilkan kehidupan yang cirinya jelas menunjukkan kehidupan Tuhan Yesus. Semangat hidup Tuhan Yesus pada dasarnya adalah mengerti apa yang dikehendaki oleh Bapa dan melakukannya. Dalam hal ini setiap orang percaya harus mencari kebenaran yang membuka mata hatinya untuk mengenal Allah dan sungguh-sungguh mengalami Tuhan setiap hari. Pada akhirnya, setiap orang percaya harus sampai pada level “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). 
    Kenyataannya, tubuh yang kita hidupi sekarang ini adalah hidup dalam semangat yang kita warisi dari orang tua dan cara hidup manusia di sekitar kita. Ini berarti kita masih memiliki diri kita sendiri. Kita belum menjadikan Tuhan Yesus sebagai Pemilik kehidupan ini dan belum menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan (majikan atau tuan) dalam hidup kita. Kalau seseorang sadar dan berusaha keluar dari “kepompong” yang membelenggu hidupnya, maka Tuhan akan menolong sehingga ia bisa dimerdekakan. Terkait dengan hal ini, hanya kebenaran yang dapat memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Namun malangnya, banyak orang Kristen tidak menyadari hal ini. Mereka masih terbelenggu dengan pikiran mereka yang sangat duniawi. 
    Sejatinya, yang mengontrol kehidupan mereka adalah dunia ini, sebab dunia inilah yang menjadi tujuan dan kesukaan dalam hidupnya. Hari-hari hidup mereka hanya dihabiskan untuk menjalani kehidupan rutin tanpa berusaha menambah pengetahuan akan kebenaran yang dapat memerdekakan. Mereka sudah puas sebagai “orang-orang baik” yang tidak terpidana. Padahal mereka jauh dari standar kebenaran Tuhan yang harus dikenakan oleh orang percaya. Sungguh sangat disayangkan banyak gereja di kota-kota besar yang dihadiri banyak orang yang berpendidikan tinggi, berekonomi baik dan memiliki berbagai potensi, tetapi tidak mengerti Injil yang sejati atau yang orisinal. 
    Mereka ada di gereja-gereja yang yang tidak bermaksud menyesatkan, tetapi karena pembicaranya tidak mengerti kebenaran Injil yang murni, maka mereka menyesatkan diri mereka sendiri dan menyesatkan umat yang dengan tulus mau mencari Tuhan dan ajaran-Nya. Gereja-gereja itu ada yang menekankan kemakmuran jasmani dan yang menekankan mukjizat. Tentu dengan mengambil contoh-contoh dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Tuhan menjanjikan kemakmuran jasmani. Tentu saja gereja seperti ini akan sangat laku dan banyak pengikut karena sesuai dengan semangat hidup atau semangat zamannya. Kita harus mengerti bahwa kelimpahan materi hanya ditujukan kepada bangsa Israel. 
    Orang percaya dalam hidup yang sementara ini harus hanya mencari kebenaran untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Orang percaya memang harus bekerja dan memiliki kekayaan sebanyak mungkin, tetapi semua itu harus dipersembahkan untuk kepentingan Tuhan. Sebab orang percaya memiliki harta abadi di surga, dunia hanya tempat menumpang sementara (Flp. 3:20-21). Harus diterima bahwa dunia ini bukan rumah kita dan Kerajaan kita bukan berasal dari dunia ini. Mereka yang menekankan mukjizat selalu mempromosikan bahwa Tuhan Yesus tidak berubah. Padahal dunia berubah. Cara Tuhan melawat umat-Nya tidak selalu sama dengan ap...
    8 min
  • Kompromi yang Merusak
    Ketika kekristenan menjadi agama yang mudah dipeluk oleh manusia, maka kekristenan telah kehilangan jiwanya atau nyawanya atau esensinya. Agama Kristen seperti ini pasti dimodifikasi dengan mencari rujukan sesuai semangat hidup yang ada pada kebanyakan orang, supaya bisa menjadi kontekstual dengan kebutuhan manusia yang ada pada zamannya. Menurut mereka, rujukan itu harus dibuat supaya kekristenan tidak kehilangan pengaruh dan pengikut. Rujukan itu juga memuat usaha menaruh unsur-unsur yang bernuansa agamani dalam kekristenan, seperti dalam seremonial, hukum-hukum serta tradisi dan lain sebagainya. 
    Hal ini sebenarnya merupakan usaha untuk bisa mensejajarkan kekristenan dengan agama lain, supaya agama Kristen bisa berdampingan secara harmoni dengan berbagai agama, kepercayaan dan filsafat hidup manusia pada umumnya. Menurut mereka, kekristenan tidak boleh diajarkan sebagai sesuatu yang tidak wajar atau “aneh” yang sukar diterima masyarakat modern atau masyarakat pada zaman tertentu. Hal itu dimaksudkan agar kekristenan menjadi konsumtif bagi masyarakat luas dan eksis; tidak tersingkir dari kehidupan manusia. Inilah yang terjadi sekarang ini. Sehingga Injil yang diajarkan Tuhan Yesus tidak dikenal lagi oleh banyak orang yang beragama Kristen. 
    Injil yang murni telah dimodifikasi supaya bisa kontekstual dengan kebutuhan manusia modern hari ini, sehingga Injil telah kehilangan esensinya. Injil yang tidak berkuasa menyelamatkan manusia. Orang-orang Kristen yang mengenal Injil yang palsu tersebut sangat merosot nilainya, sehingga pada dasarnya mereka tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya. Sebenarnya mereka bukanlah orang yang masuk dalam proses keselamatan. Bertalian dengan hal ini, patut kita mengingat fakta sejarah, ketika kekristenan menjadi agama negara di Roma pada abad ke-4, ternyata kekristenan tidak mampu lagi menghalangi kemerosotan moral pusat kekaisaran Roma khususnya dan Eropa pada umumnya. 
    Sehingga akhirnya Roma jatuh dan ekspansi kekuatan agama besar dari Timur Tengah yang menggantikan tempatnya. Walaupun gereja-gereja menjadi megah, para pemimpin agama Kristen atau para uskupnya berpakaian sutera dan terhormat di mata masyarakat, seremonial agama atau liturgi disusun begitu anggun dan megah, tetapi semua itu tidak mengantar orang percaya kepada kebenaran yang memerdekakan. Kekristenan telah menjadi ajaran manusia yang memperkenalkan Yesus yang lain (2 Kor. 11:4-5). Kekristenan haruslah mengajarkan Injil yang murni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Walaupun dunia menolak atau sukar menerimanya, tetapi gereja harus tetap berdiri di pihak Tuhan dan mengajarkan apa yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus untuk diajarkan. 
    Dewasa ini telah terjadi kompromi-kompromi yang merusak orisinalitas Injil Tuhan Yesus Kristus. Padahal kekristenan yang orisinal tidak mengenal rujukan sama sekali. Tuhan Yesus memberitakan kebenaran pada zaman-Nya, di mana Ia harus berhadapan dengan semangat agama Yahudi yang menentang Injil-Nya. Tetapi Tuhan Yesus tidak mengurangi bobot kebenaran yang disampaikan-Nya. Tuhan Yesus tidak takut kehilangan pengikut, bahkan ketika murid-murid meninggalkan Dia, Ia juga menantang 12 murid yang dekat dengan diri-Nya untuk menentukan sikap tanpa membujuk untuk tetap setia mengikut diri-Nya (Yoh. 6:66-71). 
    Kalau dikatakan tubuh-Nya benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman, maka hal itu hendak mengisyaratkan sesuatu yang aneh atau asing untuk didengar. Hal itu sungguh-sungguh tidak bisa dimengerti pendengarnya. Mereka menanggapi sebagai perkataan yang keras. Kata “keras” dalam teks aslinya adalah skleros (σκληρός), yang memiliki beberapa pengertian, di antaranya harsh, rough, stern, hard dan juga berarti intolerable (tak tertahankan, tidak toleransi atau tidak peduli kalau orang lain tidak menerima). 
    Tuhan Yesus tidak memiliki hasrat untuk memuaskan pendengar-Nya dengan berita yang menyenangkan mereka atau yang sesuai dengan selera dan apa yang mereka angg...
    8 min
  • Irama Hidup yang Diubah
    Betapa sulitnya memiliki sikap hidup tidak menyayangkan nyawa pada zaman ini (Mat. 10:39; 16:25). Pada umumnya orang berlomba untuk menyelamatkan nyawanya. Ini adalah irama hidup standar yang dikenakan oleh hampir semua manusia. Sebaliknya, tidak menyayangkan nyawa adalah irama hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Ia datang ke dunia melepaskan semua kemuliaan-Nya, mengosongkan diri dan berkeadaan sama seperti manusia yang berdosa (Flp. 2:5-7). Dalam segala hal Tuhan Yesus disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17). Dalam keadaan sama seperti manusia Ia menyediakan diri untuk taat sampai mati di kayu salib. 
    Sebenarnya Tuhan Yesus bisa memperoleh dan menikmati dunia ini, tetapi Ia memilih untuk melakukan kehendak Bapa. Ia mematikan diri-Nya dari segala kesenangan dunia. Pengakuan-Nya adalah bahwa makanan-Nya atau rezeki-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kata makanan atau rezeki dalam teks aslinya adalah broma (βρῶμα), yang selain berarti makanan padat (solid food), juga menunjuk pada makanan yang berkualitas tinggi. Sebagaimana setiap hari kita berusaha untuk bisa memiliki makanan yang berkualitas, demikianlah orang percaya harus berusaha untuk menemukan kehendak Allah dan melakukannya. 
    Namun sayang sekali, banyak orang hanya bekerja untuk roti yang dapat binasa, tetapi tidak bekerja untuk roti yang tidak dapat binasa, yaitu dengan percaya (Yoh. 6:27-29). Percaya adalah pergumulan hidup yang melibatkan semua potensi jasmani maupun rohani, bukan hanya aktivitas pikiran. Percaya artinya menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai. Kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, berarti ia harus mengikuti jejak-Nya. Mengikuti jejak-Nya artinya memiliki irama hidup seperti yang Tuhan Yesus miliki. Kalau seseorang tidak berani mengenakan irama hidup ini berarti ia tidak bersedia mengikut Tuhan Yesus.  
    Tuhan Yesus berani mematikan diri-Nya dari segala kesenangan dunia, demikian pula seharusnya kita. Inilah yang Tuhan Yesus maksudkan bahwa barangsiapa mau mengikut Tuhan Yesus, ia harus melepaskan dirinya dari segala miliknya (Luk. 14:33). Kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak bersedia melepaskan dirinya dari segala miliknya. Dengan demikian ia masih bertahan mengenakan irama hidup anak-anak dunia. Jika irama hidup ini tidak digantikan dengan irama hidup yang Tuhan Yesus kenakan, pada akhirnya seseorang tidak pernah bisa diubah. Perubahan itu harus berangkat dari diri sendiri. Oleh sebab itu, kita harus bertindak sesegera mungkin. 
    Pertanyaan yang harus kita perkarakan, mengapa banyak orang Kristen yang tidak berani mengenakan irama hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus? Banyak faktor sebagai alasannya. Pertama, mereka tidak memandang bahwa hidup ini akan berakhir. Mereka sudah terbiasa berpikir seakan-akan hidup ini terus bisa dijalani. Padahal kalau sudah sampai titik akhirnya, maka tidak seorang pun yang dapat memperpanjang. Titik akhir tersebut seperti raksasa yang tidak takluk pada siapa pun. Oleh sebab itu, sikap bijaksana yang patut dimiliki adalah mempersiapkan diri menyongsongnya, sehingga menjadikan hari itu sebagai hari yang paling membahagiakan. 
    Kalau seseorang sudah berusaha untuk hidup seperti Tuhan Yesus, kematian akan menjadi saat yang paling indah. Dengan cara inilah seseorang mengumpulkan harta di surga. Suatu hari nanti orang akan menghitung berapa banyak yang telah dikerjakan selama hidup ini untuk mengumpulkan harta di surga. Setiap orang harus menghadap takhta pengadilan Tuhan (Rm. 14:12; 2 Kor. 5:9-10). Hal ini sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus kemukakan mengenai talenta (Mat. 25:14-30). Setiap orang harus bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan ketika menerima talenta. Talenta adalah kemampuan untuk bisa menjadi bermoral Allah. 
    Kedua, banyak orang Kristen tidak memahami bahwa menjadi orang Kristen berarti harus hidup seperti Tuhan Yesus hidup. Jika tidak demikian, berarti menolak menjadi pengikut-Nya.
    10 min
  • Menjaga Diri dan Sesama
    Tuhan memanggil agar kita menjaga orang yang seharusnya kita jaga, melindungi orang yang harus kita lindungi; sebab pasti ada orang yang kita lindungi, pasti ada orang yang harus kita jaga. Di dalam Alkitab, kita menemukan orang-orang yang dipakai Tuhan menjaga orang lain. Misalnya, Yusuf. Yusuf dipakai Tuhan menjaga keluarganya, bahkan kemudian orang-orang kafir, orang-orang yang bukan umat pilihan di Mesir ikut terlindungi. Juga Daud. Ketika bangsa Israel gemetar menghadapi Goliat, tidak ada seorang pun yang berani tampil. Sampai akhirnya, Daud, gembala domba, yang tidak akrab dengan pedang, perisai, tombak, dan pakaian zirah perang, maju menghadapinya. Dia akrab dengan umban dan bergaul dengan domba-domba, tetapi di balik itu dia bergaul dengan Allah. Dan itu nyata dari Mazmur yang ditulisnya, dia bergaul karib dengan Allah. 
     
    Mordekhai dan wanita hebat yang bernama Ester, menyelamatkan seluruh bangsa Israel di negeri pembuangan itu. Sungguh menakjubkan kisah-kisah nyata ini. Goresan sejarah dari orang-orang yang dipakai Tuhan menjadi penjaga sesama. Hal ini memberi pelajaran bagi kita supaya kita sadar bahwa ada orang-orang yang harus kita jaga. Ada orang-orang yang harus kita lindungi dan itu bentuk dari ekspresi kasih Allah. Karena Allah mau melindungi, Allah mau menjaga orang-orang yang Dia kasihi melalui kita. Jangan kita seperti Kain yang ketika ditanya TUHAN keberadaan adiknya, ia berkata, “Apakah aku penjaga bagi adikku?” Mungkin kita tidak mengucapkan kalimat seperti itu, tetapi sikap hidup kita seperti itu. Di mana kita tidak peduli atas orang-orang yang harus kita jagai atau orang-orang yang harus kita lindungi.
     
    Di media sosial, kita menemukan banyak orang yang menjagal sesamanya, gosip-gosip yang mereka lemparkan dapat menjagal atau membunuh sesama; bisa membunuh karakter, membunuh masa depan dan lain sebagainya. Mungkin hari ini kita tidak tahu siapa yang kita harus jaga. Dan Tuhan tidak memercayakan orang-orang yang harus kita jaga. Mengapa? Karena ternyata kita tidak bisa menjaga diri kita sendiri. Kalau kita tidak bisa menjaga diri kita sendiri, maka Tuhan tidak akan memercayakan orang lain untuk kita jagai. Yusuf, dari muda dia menjaga dirinya dari dosa, dia tidak ikut terlibat dosa kakak-kakaknya. Karenanya dia bisa mengadukan perbuatan jahat kakak-kakaknya karena dia tidak ikut terlibat. Yusuf menjaga dirinya dari cobaan Nyonya Potifar, dia menjagai dirinya. Dia berkata, “Bagaimana aku dapat melakukan dosa sebesar ini?” walaupun karena itu dia harus masuk penjara. 
     
    Ingat, kalau kita bisa menjaga diri kita dari dosa, Tuhan akan menjagai kita dan memercayakan kepada kita orang-orang yang harus kita jagai. Kenapa Kain membunuh Habel? Karena ia tidak dapat menjagai dirinya. Tuhan berkata, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kej. 4:6-7).
    Kita harus menjadi tuan, bukan jadi budak atau hamba dosa. Kita harus menguasainya, kalau tidak, kita yang akan dikuasai. Dia mengintip, tapi kalau kita tidak menjaga diri, kita diterkamnya. Karena musuh kita itu seperti singa yang mengaum. 
     
    Masalahnya, orang lebih menjagai martabat, nama baik, kehormatan, uang dan lain sebagainya, tapi tidak serius minta tolong Tuhan untuk menjaga kesucian hidupnya. Padahal, kalau kita tidak menjagai batin dan kesucian hidup kita, Tuhan juga tidak bisa menjagai kita. Tuhan tidak bisa menjagai orang yang tidak menjagai dirinya sendiri. Kain tidak menjaga dirinya, dia membiarkan hatinya panas. Makanya, firman Tuhan mengatakan, “Hiduplah dalam ketaatan. Jangan turuti hawa nafsumu pada waktu kebodohanmu.” Ada banyak anak hancur karena suami istri tidak bisa menjagai dirinya sendiri. Sembarangan mengucapkan kalimat, memaki pasangan, memukul, KDRT.
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…