Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mental Bangsawan
    Satu hal yang mestinya sungguh-sungguh membahagiakan kita, yaitu kesadaran bahwa kita adalah anggota keluarga Kerajaan Allah. Kita adalah bangsawan surgawi. Ini bukan omong kosong. Ini merupakan maksud keselamatan diberikan. Soal sakit menjadi sembuh, miskin menjadi kaya secara materi, yang tidak memiliki teman hidup lalu mendapat jodoh, yang mandul mendapat anak, yang menganggur dapat pekerjaan, yang di tempat kerja dari bawahan menjadi atasan, itu semua sebenarnya bukan masalah prinsip; memang itu masalah, tapi bukan masalah prinsip. Sebab, apa pun masalah yang kita hadapi, itu tidak ada artinya dibanding dengan status kehormatan kita sebagai bangsawan surgawi.
    Dan tentu, penghayatan ini tidak hanya di gereja, namun harus dapat menjadi seperti garis panjang yang kita terus renungkan, “Aku adalah seorang bangsawan Kerajaan.” Kalau kita menganggap ini adalah omong kosong, sebenarnya kita tidak menghargai Tuhan Yesus yang berjuang dan berkurban agar kita memiliki status ini. Selanjutnya, Roh Kudus akan menuntun kita (bagi yang mau dituntun) agar kita bukan hanya memiliki status, melainkan juga keadaan dan mental bangsawan surgawi. Bukan hanya berstatus anak dari bapak anu, tapi juga berkeadaan seperti bapaknya. Inilah perjuangan yang harus kita miliki; bukan berkeadaan statis, melainkan progresif. 
    Firman Tuhan di 1 Petrus 2:9 mengatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih …” Kita adalah umat pilihan, namun jangan karena sering menyebut kalimat ini, kita gagal menghayatinya. Kita harus menghargainya. Tidak semua orang terpilih. Jadi, kalau ada keluarga atau tetangga kita yang bukan orang terpilih, mereka tidak dituntut untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Kita tidak bisa mengenakan ukuran baju kita ke badan dia, sulit bicara tentang langit baru dan bumi yang baru. Namun, yang menyedihkan adalah kalau ada orang Kristen yang asing terhadap hal langit baru bumi baru. 
    Dengan kita mensyukuri dan menghayati status sebagai umat pilhan dengan benar, kita bisa menghargai pilihan itu. Dengan menghargai pilihan tersebut, kita bisa menjalani hidup sebagai anak-anak Allah. Kalau sudah gagal menghayati, bisa gagal paham juga, nanti. Bicara mengaku dirinya anak-anak Allah, tapi tidak menganggap bahwa pilihan menjadi anak Allah itu sesuatu yang sangat berharga. Kita adalah orang-orang berdosa, tetapi Tuhan sebagai bangsawan atau Raja Surgawi, mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Ironis, banyak pendeta tidak menghayati dengan benar. Dan karena sudah biasa bicara soal menjadi anak-anak Allah, sehingga tidak memandang hal menjadi anak-anak Allah itu berharga. Masalahnya, jemaat ikut ketularan buruk. Makanya Tuhan mengingatkan kita lagi, betapa berharganya menjadi anak-anak Allah.
    Maka, jangan kita gagal menghayatinya. Menjadi anak Allah itu luar biasa. Karena Bapa di surga adalah sempurna, maka anak-anak-Nya juga harus sempurna. Kita harus berlatih tidak melakukan kesalahan. Biar kita miskin secara materi, tidak berpendidikan tinggi, penampilan juga tidak elok, tapi kita adalah anak-anak Allah. Dan itu lebih elok dari bintang film, dari anak pejabat di dunia ini, asal kita menjalani hidup sebagai anak Allah. Alkitab katakan, “Tuhan memilih orang bodoh, orang yang terbuang.” Jadi, yang pertama, syukuri kita adalah umat pilihan; “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani.” Imam itu pelayan Tuhan, rajani itu berkerajaan. Imam atau imamat itu bisa berarti pengawal, hulubalang. 
    Kalau nanti kita sudah meninggal, Tuhan memberikan tubuh baru kepada kita. Kita jadi hulubalang di rumah Bapa. Tuhan Yesus Rajanya kita dan kita melayani Tuhan Yesus selamanya. Yang melayani Tuhan di bumi akan melayani Tuhan di surga. Jadi, sebagai anak-anak Allah, harus melayani Tuhan. Kalau tidak melayani, tidak akan layak jadi anak-anak Allah. Melayani Tuhan itu artinya kita menyenangkan Dia. Jujur, berbelas kasihan terhadap orang, tidak melukai, tidak menyakiti,
    9 min
  • Tidak Ada Pilihan
    Orang Kristen abad pertama, murid-murid Yesus dan pengikut Yesus, awal di abad pertama, mereka hidup di dalam penganiayaan yang sangat berat; dalam persekusi, penganiayaan yang sangat berat. Mereka mempertaruhkan nyawa mereka, melepaskan kebahagiaan dan kenyamanan hidup mereka, demi memercayai Yesus. Memercayai Yesus sebagai Kurios, Tuhan, dan Juruselamat. Dengan harga yang sangat mahal, yaitu seluruh kehidupan mereka. Bagi orang Kristen yang benar-benar mencintai Tuhan pada waktu itu, penderitaan bisa menjadi kesukaan karena di balik penderitaan tersebut mereka memiliki kemuliaan. 
    Seperti yang dikatakan dalam Roma 8:18 bahwa, “Penderitaan zaman sekarang ini tidak ada bandingannya, tidak setara dengan kemuliaan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang menderita bersama Tuhan Yesus atau menderita bagi Tuhan.” Orang Kristen bisa menikmati penderitaan sebagai berkat, sebagai jalan untuk memperoleh kemuliaan. Jadi mereka tidak menolak, bahkan seakan-akan mereka sengaja menantang. Sebab memang tidak ada pilihan, mengikut Yesus harus menderita. Demikian dikatakan di dalam surat 2 Timotius 3:12, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” 
    Jadi inilah yang harus dialami oleh para murid Tuhan Yesus. Dan yang ajaib, luar biasa, menakjubkan adalah mereka tidak takut menghadapi keadaan-keadaan yang sulit itu; “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Tim. 3:12). Pertanyaannya bagi kita, penderitaan apa yang kita alami sebagai pengikut Kristus di abad 21 ini? Kalau mereka mengalami penderitaan aniaya fisik; apa yang kita peroleh, apa yang kita alami? Ini yang menjadi masalah bagi kita. Apakah kita tidak mengalami penderitaan? Pasti harus dialami.
    Kalau mereka menghadapi aniaya fisik, kita mengalami aniaya batin, aniaya jiwa. Ketika kita menolak kenikmatan hidup, ketika kita menolak hidup wajar seperti manusia lain, ketika kita menolak dosa dengan melukai daging kita, membunuh nafsu-nafsu dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kesucian Allah; itu menyakitkan. Tetapi kita harus melakukannya. Kesediaan menjadi orang yang tidak dihormati, kesediaan untuk menjadi orang yang dihina, diinjak-injak, dilecehkan tanpa membalas. Kesediaan untuk menjadi orang yang dianggap tidak penting, direndahkan tapi tidak membalas; inilah penderitaan yang kita alami dan juga kita nikmati. 
    Kecuali ketika kita dilukai, kita membalas dengan kemarahan, membalas dengan perkataan, hal itu mungkin dinikmati juga tetapi itu menikmati dosa. Kita mau belajar menikmati sikap kita yang meneladani Yesus ketika diludahi, ditempeleng. Yesus berkata, “Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ini adalah sikap yang benar. Ketika kita punya kesempatan berbuat dosa, kita menolak, sakit daging kita. Tetapi dengan cara ini kita memberi diri mengikut Yesus. Kalau orang-orang Kristen abad mula-mula, mereka menderita penderitaan fisik, penderitaan badani; kita menderita penderitaan jiwa, batin. Dan itu indah, karena semua ini mengerjakan kesempurnaan di dalam hidup kita. 
    Mungkin sebagian kita bukan orang yang tidak bermoral, melainkan orang yang sangat bermoral, santun, baik, bahkan pendeta, tapi ada bagian-bagian hidup kita yang harus disalibkan. Yang itu tidak akan pernah kita ketahui kecuali kita duduk diam di kaki Tuhan, menghayati kekudusan, kesucian Allah, dan Tuhan mencerahi kita. Kalau hanya ilmu teologi yang kita klaim sebagai kebenaran, kalau hanya teori-teori tentang Tuhan yang kita bisa rangkai dari ayat ke ayat, dengan latar belakang bahasa asli dan lain sebagainya, hal itu tidak membuat mata hati kita tercelik untuk melihat kelicikan-kelicikan dan kesombongan-kesombongan terselubung di dalam diri kita. 
    Dan ini sejujurnya yang kita lihat dalam kehidupan hamba-hamba Tuhan yang baik, tetapi ada kesombongan terselubung, ada kebanggaan terselubung. Coba,
    8 min
  • Mengurusi Pekerjaan Tuhan
    Bagi kita yang sudah dewasa rohani, yang bertumbuh di dalam iman, kita harus sampai pada tahap di mana kita hidup hanya untuk mengurusi pekerjaan Tuhan. Kedengarannya ini berlebihan, tetapi inilah standar hidup orang percaya. Hidup kita hanya untuk mengurusi pekerjaan Tuhan. Kalau kita menjaga pola hidup, pola makan yang baik, menjaga kesehatan, kalau kita kerja keras, kita melakukan apa pun, dalam rangka karena kita mau mengurusi atau sedang mengurusi pekerjaan Tuhan. Tuhan juga memang memberi kesenangan kepada kita; tidur nyenyak, makan enak atau kita menikmati pemandangan alam sewaktu-waktu. Tetapi fokus kita hanya bagaimana kita melakukan pekerjaan Tuhan. 
    Prinsip-prinsip hidup kekristenan atau prinsip-prinsip hidup Kristiani yang benar ditunjukkan oleh Paulus dalam surat dan kehidupannya. Misalnya di Filipi 1:21 Paulus menulis, ” Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Jadi, sepenuhnya dia hidup bagi Kristus. Tidak ada yang diharapkan dari dunia ini, tidak ada kebahagiaan yang dia harapkan dari dunia ini. Karenanya dia berkata, “Dan mati adalah keuntungan.” Orang yang belum mempersembahkan hidupnya sepenuhnya bagi Tuhan, tidak akan pernah bisa berkata “mati adalah keuntungan.” Hanya orang yang hidup sepenuhnya bagi Tuhan, yang hidupnya hanya untuk mengurusi pekerjaan Tuhan yang bisa berkata, “mati adalah keuntungan.” 
    Ini tidak berlebihan, sebab firman Tuhan juga mengatakan, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31). Dalam 2 Korintus 5:14-15 dikatakan, “Kalau Tuhan Yesus sudah mati untuk kita, kita semua sudah mati,” artinya kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tapi hidup untuk Dia yang telah mati bagi kita. Jangan sisakan hidup kita untuk diri sendiri, artinya semua yang kita miliki, kita klaim milik Tuhan. Kita harus punya kepekaan bagaimana mengelola semua yang kita miliki untuk pekerjaan Tuhan. Itu bukan berarti harus diberikan ke gereja semua. Jadi bagaimana? Bagaimana Roh Kudus pimpin mengelola uang itu. Tentu mendukung pekerjaan Tuhan di gereja, betul. 
    Tapi jangan lupa, yang pertama, orang tua kita; mereka harus kita perhatikan. Bagaimana kita bisa hidup nyaman, kalau orang tua kita tinggal di daerah kumuh yang tidak nyaman? Bagaimana kita bisa naik mobil baik, kalau orang tua naik mobil tua yang bisa mogok setiap saat? Yang kedua, bagaimana kita bisa mandiri dan tidak jadi beban bagi orang lain. Yang ketiga, bagaimana kita memperhatikan keluarga besar di mana kita ditaruh. dan tidak sedikit kita berutang budi kepada om, tante, opa, oma. Balas budi baik mereka. Lalu, yang keempat, masyarakat sekitar kita; dari pembantu, sopir, pegawai kita. Di situlah pelayanan yang sesungguhnya, kita memperhatikan sesama dan menjadi kesaksian hidup. Selanjutnya, yang kelima, tentu tidak boleh lupa kita mendukung pekerjaan Tuhan di lingkungan gereja, di pendidikan sekolah tinggi teologi, dan lain sebagainya, yang semua terarah kepada Tuhan.
    Kita bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan luar biasa memelihara hidup kita dan pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Mari kita berkemas-kemas pulang ke surga. Kita percaya Elohim Yahweh, Allah yang hidup, Dia meneliti, melihat hidup kita setiap saat, memeriksa diri kita setiap waktu. Jangan berbuat dosa sekecil apa pun, sehalus apa pun dosa itu. Dan jangan hidup untuk diri sendiri. Mulai hari ini, mari kita memulai hidup untuk mengurusi pekerjaan Tuhan. Dari perkara kecil, sejak muda. Kita bertekad untuk memilih jalan ini, walaupun dunia mengarahkan kita dalam kenyamanan.
    7 min
  • Menemukan Kemuliaan Tuhan
    Tidak ada kemuliaan apa pun selain Tuhan. “Kemuliaan” berasal dari kata “mulia.” Mulia artinya “agung,” bisa berarti “besar, bernilai tinggi, sangat berkualitas, luhur.” Jadi, tidak ada kemuliaan selain Tuhan. Satu kali ada seorang datang kepada Yesus dan berkata, “Guru yang baik, apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, “Tidak ada yang baik selain Allah.” Ini sama dengan “tidak ada yang mulia selain Allah.” Jika kita percaya hal ini, maka dalam hidup ini yang kita cari hanya Tuhan. Jangan dibalik. Mencari dunia dengan memakai Tuhan sebagai alat, kekuatan, sarana. Kita harus menggunakan apa pun yang ada pada kita, semua potensi; kemampuan, harta, uang, untuk menemukan Tuhan.
    Memang menemukan Tuhan bukan sesuatu yang mudah. Jadi, jangan merasa sudah menemukan Tuhan hanya karena sudah beragama, ke gereja, sudah berdoa. Menemukan Tuhan artinya bersekutu dengan Tuhan, menjadi satu dengan Tuhan (in bound in God). Ini harus diperjuangkan, karena kita tidak bisa menjadi satu ikatan dengan Tuhan, tidak bisa ada dalam persekutuan dengan Tuhan kalau karakter kita tidak mengimbangi Allah. Allah yang mulia hanya bisa bersekutu dengan manusia yang mulia. Roh Kudus akan menolong kita untuk menjadi manusia yang mulia, memiliki sifat-sifat Allah; kelembutan, belas kasihan, kemurnian, dan sifat-sifat Allah yang lain. Dan memang inilah rancangan Allah semula: menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah. 
    Tetapi kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan; kehilangan sesuatu yang bernilai. Dan yang bernilai itu hanya Allah. Manusia tidak bisa segambar dan serupa dengan Allah, manusia tidak memiliki sifat-sifat Allah. Dan inilah yang dimaksud kehilangan kemuliaan. Sebab, tidak ada kemuliaan selain Allah. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia segambar dan serupa dengan Allah, yang sama dengan agar manusia menemukan kemuliaan itu. Dan kemuliaan itu adalah sifat, karakter dari Allah. 
    Jadi, bagaimana kita bisa menemukan kemuliaan itu? Kalau kita menemukan Allah. Bagaimana kita bisa menemukan Allah? Kalau kita terikat dalam persekutuan dengan Tuhan. Dan itu bukan hanya datang ke gereja, bernyanyi memuji Tuhan, melainkan setiap saat hidup di hadirat Allah, setiap saat hidup dalam persekutuan dengan Allah. Hal ini harus benar-benar diperjuangkan. Karena, mengubah karakter, watak, sifat kita yang duniawi, yang kedagingan, yang telah tercemari oleh dunia, terpapar oleh sifat-sifat dosa, tidak mudah. Karakter dosa itu melekat dan seakan-akan menjadi bagian yang menyatu tak terpisahkan, bagian integral di dalam diri kita. 
    Tetapi, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Roh Kudus menolong kita sehingga kita bisa terus bertumbuh untuk mengenakan kodrat ilahi; memisahkan manusia daging dan manusia roh, lalu membuat manusia daging kita dimatikan, supaya manusia roh kita tumbuh kuat, atau dengan kalimat lain supaya Kristus hidup di dalam diri kita. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang berharga. Jangan membuang waktu, tenaga, pikiran untuk hal yang tidak mulia. Jadi kalau Alkitab berkata, “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” Segenap dunia, kurang banyak apa? 
    Karena dunia ini bukanlah sesuatu yang bernilai tinggi, bukan sesuatu yang mulia. Yang mulia hanya Tuhan. Kemuliaan hanya kita peroleh di dalam Tuhan. Jadi, jangan sampai kita membuang waktu, tenaga, pikiran, untuk hal yang sia-sia dan tidak bernilai. Kita bersyukur mendapatkan peringatan ini sebelum melanjutkan hari hidup kita. Sebelum melewati minggu, bulan-bulan, dan tahun-tahun panjang ke depan, kita dilengkapi dengan firman ini, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?”
    Jadi, kita harus camkan hal ini! Kita meteraikan di dalam jiwa, hati, dan pikiran kita bahwa tidak ada yang mulia kecuali Allah!
    10 min
  • Menyembelih Diri
    Hubungan kita dengan Elohim atau Allah adalah hubungan Bapa dan anak. Dan itu indah sekali. Sebab, kita menemukan simetrisnya, analoginya dengan kehidupan kita. Kalau kita cerdas, kita dapat menangkap kebenaran-kebenaran di dalam kehidupan kita yang kita alami, kita jalani dalam hubungan antara orang tua dan anak, yang itu bisa kita kenakan dalam hubungan kita dengan Allah sebagai Bapa. Ketika anak masih kanak-kanak atau belum dewasa berkata kepada orang tua, “I love you,” itu membahagiakan orang tua, walaupun anak belum bisa buat apa-apa, bahkan ketika anak masih sering merepotkan. 
    Tapi, kalimat itu tidak bisa diucapkan oleh anak dewasa tanpa membayar harga cintanya. Anak yang tidak dengar-dengaran kepada orang tua, yang tidak mau belajar dengan baik, bahkan melakukan pelanggaran-pelanggaran—apalagi pelanggaran berat seperti narkoba—tentu menyusahkan hati orang tua. Dan apabila setelah dewasa ia tetap melakukan berbagai kejahatan, lalu berkata, “Mama, I love you,” itu lebih menyakitkan lagi. 
    Masalah besar adalah banyak orang tidak merasakan dan tidak mengerti perasaan Allah. Jadi ketika Tuhan terluka, kita tidak merasakan; tidak tahu, tidak peka. Itu mengerikan sekali. Walaupun tentu Tuhan memberitahu, tapi kita sering keras kepala. Banyak orang keras kepala. Seperti banyak di antara orang-orang Kristen yang mulutnya mengatakan, “Aku menyembah (memberi nilai tinggi), aku cinta pada-Mu,” tapi tidak buat apa-apa. Itu menyakitkan hati Bapa. Pada akhirnya, kita bisa mengerti bahwa hidup kita memang harus untuk Tuhan. 
    Untuk Tuhan, artinya untuk orang di sekitar kita. Itu maksudnya. Kita harus berani “menyembelih diri” supaya bisa memberkati sesama dan menjadi saluran untuk menyentuh Allah. Yesus, Imam Besar, Dia disembelih di kayu salib untuk bisa membawa orang percaya kepada Bapa. Kalau Imam Besar di Perjanjian Lama, yang disembelih itu domba. Dalam hidup orang percaya, kita harus “menyembelih diri.” Kalau kita ingin melihat anak-anak diberkati, tidak mempermalukan mereka, maka sembelih diri kita! Banyak orang tua yang tidak menyembelih dirinya. Sehingga membuat anaknya malu. 
    Kita belum bisa jadi contoh kalau belum menyembelih diri! Para pendeta kalau mau menjadi berkat dalam khotbahnya, harus menyembelih diri! Para worship leader, singer atau choir, supaya bisa menjadi berkat bagi jemaat waktu memimpin puji-pujian, harus menyembelih diri supaya bisa menjadi keharuman. Bukan berarti kita tidak boleh punya rumah bagus atau mobil bagus, kalau memang bagian kita. Siapa yang bisa larang kalau Tuhan yang beri untuk bagian kita masing-masing? Tapi kalau itu menjadi kenyamanan, berarti kita tidak menyembelih diri kita. 
    Tuhan sembelih kita lewat banyak hal. Itu cara untuk menghancurkan kesombongan kita. Harga diri, nama baik dirusak, ekonomi berantakan; itu disembelih. Dan kita harus terima. Itu pisau Tuhan, supaya kita tidak melakukan kesalahan. Kalau kita tidak menyembelih diri, kita disembelih. Contoh, dari muda kita tidak mengerti bagaimana seharusnya hidup dengan tertib. Pokoknya dididik makan enak. Sate, sop, soto, minyak, dimakan semua. Akhirnya, kita disembelih di meja operasi. Coba kalau dari muda kita makan sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian, maka kita tidak disembelih dokter di meja operasi. Hal ini terjadi karena kita tidak mau menyembelih diri. 
    Padahal Alkitab dalam Amsal 23:2-3 berkata, “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu! Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu.” Setelah tua, kita baru sadar. Tapi sudah hampir terlambat atau sudah terlambat. Ini kesalahan. Tapi yang terpenting, jangan sampai kita disembelih di kekekalan. Kalau kita masih hidup dalam kedagingan, tidak hidup dalam kesucian, bagaimana kita bisa terbang tinggi? Yang sudah berjuang terus untuk hidup suci saja, naiknya tidak gampang, tapi pasti naik. Makin hari, makin naik. Walaupun sedikit, tapi ada rasa naiknya.
    9 min
  • Memercayakan Diri
    Biasanya, didasarkan pada anggapan dasar atau premis bahwa karena kita telah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka kita otomatis menjadi anak-anak Allah. Itu benar, tapi belum lengkap. Percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat itu sendiri juga harus dimengerti, dipahami dengan benar; percaya yang bagaimana? Menerima Yesus yang bagaimana, sehingga kita bisa berstatus anak-anak Allah? Sebab pada akhirnya, yang diakui oleh Allah Bapa sebagai anak-anak-Nya adalah orang-orang yang benar-benar berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. 
    Dan untuk itu, tidak mungkin Tuhan tidak memberitahu keadaan kita yang sebenarnya menurut Dia. Kalau kita sungguh-sungguh memperkarakan atau mempersoalkannya, pasti Tuhan memberitahu. Pernahkah kita mempertanyakan apakah percaya kita kepada Tuhan itu sudah benar? Apakah benar-benar telah diakui sebagai penerimaan yang memang Allah kehendaki? Kita harus benar-benar mempersoalkan hal ini dengan serius. Kalau kata ‘percaya’ itu sendiri dibedah dari etimologinya, berasal dari kata “pisteuō,” artinya menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai.
    Berapa persen kita menyerahkan diri kepada objek yang kita percayai? Dalam hal ini, berapa persen kita memercayakan diri kita kepada Tuhan? Pasti Tuhan menghendaki, tidak 50%, tidak cukup 80%, bahkan 90% pun tidak cukup, sebab standarnya itu segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan. Jadi, di dalam kata percaya memuat kesediaan memercayakan diri kita kepada Tuhan. Kalau kita percaya Tuhan Yesus berarti kita memercayakan diri kita kepada-Nya untuk apa yang Dia kehendaki dalam proses keselamatan itu. Apakah kita benar-benar ada di dalam proses dinamika keselamatan yang Tuhan sediakan itu? Artinya, kita mencapai maksud keselamatan diberikan yang dibahasakan oleh Paulus dalam Filipi 2:12, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.”
    Kalau sampai dengan takut dan gentar, itu artinya bukan hal yang mudah, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Berjuanglah masuk jalan sempit, karena banyak orang berusaha tapi tidak masuk.” Sejujurnya, kalau kita melihat geliat hidup banyak orang Kristen, itu bukan geliat orang hidup yang mengerjakan keselamatan. Mungkin bisa dikatakan, jauh dari geliat atau perjuangan hidup proses memasuki proses keselamatan. Pada umumnya, orang Kristen hidup dalam kewajaran anak dunia. Padahal, menjadi umat pilihan itu istimewa. Tidak semua orang menjadi umat pilihan. Umat pilihan adalah orang yang dirancang Allah.
    Bahkan di dalam Alkitab dikatakan, sebelum dunia dijadikan, Dia sudah memilih kita. Artinya, ada orang-orang yang memang dipilih dengan standar harus menjadi kudus di hadapan Allah, di dalam kasih-Nya. Kita ditentukan untuk diadopsi sebagai anak-anak-Nya melalui Tuhan Yesus Kristus, sesuai dengan keinginan atau kehendak baik-Nya. Kalau sudah jadi umat pilihan, artinya kita masuk dalam “arena perlombaan” (Ibr. 12:2). Jadi, kalau kita berkata, “Aku percaya kepada-Mu, Tuhan Yesus. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu.” Tuhan Yesus pasti berkata, “Ikutlah Aku.”
    Jadi kalau kita belum serupa dengan Yesus, berarti kita belum menjadi anak-anak Allah. Tentu kita tidak akan bisa menyamai kekudusan Tuhan Yesus, tetapi harus mencapai level di mana segala sesuatu yang kita lakukan itu selalu sesuai, selalu sinkron dengan kehendak Bapa. Di Roma 7, Paulus berkata, “Celaka aku! Dengan tubuh maut ini, celaka aku!” Kenapa? Sebab, kalau dia masih hidup dalam tubuh maut, dia tidak bisa jadi anak-anak Allah. Lalu, di Roma 8, Paulus berkata, “Orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah.” Mari kita bertanya, yang memimpin hidup kita itu daging kita atau Roh Allah? Kita sudah sinkron belum dengan Roh Allah? Itu masalahnya. 
    Kita harus bertumbuh terus sampai satu level, Allah berkata, “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Jadi,
    9 min
  • Keasyikan Menyenangkan Hati Tuhan
    Setiap kesenangan yang kita teguk dalam hidup ini, dengan berbagai fasilitas yang kita miliki yang dunia sediakan, akan berlalu. Dan kemudian kita akan haus lagi untuk menikmatinya. Kalau yang kita konsumsi itu sesuatu yang buruk, pasti akan berdampak buruk juga di hari tua kita. Padahal untuk kenikmatan sesaat tersebut, kita harus membayar harganya di kemudian hari. Ini merupakan hukum atau tatanan yang tidak bisa dihindari, dan banyak orang terjebak. Sehingga orang bisa terbelenggu oleh satu keinginan ke keinginan yang lain. Dan tanpa disadari, Tuhan disingkirkan. Sesungguhnya, betapa mengerikan hidup seperti ini. Mereka pikir hidup ini gratis.
    Kenyataannya, hampir semua kita pernah terjebak dalam irama hidup seperti itu. Firman Tuhan mengatakan, “Keinginan mata, keinginan daging, keangkuhan hidup bukan berasal dari Bapa.” Semua ini akan berlalu, tetapi orang yang melakukan kehendak Bapa, beroleh hidup kekal. Jadi kita harus mengarahkan kesenangan kita kepada sesuatu yang akan menghasilkan kehidupan kekal. Itu yang dikatakan Tuhan Yesus, “Bekerjalah, bukan untuk roti yang dapat binasa, tapi bekerjalah untuk roti yang tak dapat binasa.” Bagaimana hidup kita bisa menyenangkan Tuhan dari menit ke menit. Dan ini merupakan hal yang bukan saja sulit, tapi bisa mustahil. Mustahil mengerti apa yang Dia ingini untuk kita lakukan, namun jika kita lakukan, itu luar biasa. 
    Karena kita adalah manusia, seperti yang lain, maka kita tahu apa yang diingini orang karena kita juga mengingininya, “Apa yang kamu suka orang perbuat kepadamu, buatlah untuk orang lain.” Ini sama dengan “Kasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Orang yang memiliki kehidupan seperti ini adalah orang yang berkualitas. Dalam hidup kita masing-masing, dengan pergumulan hidup kita masing-masing, di situ kita bisa memainkan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Begitu spesifiknya setiap individu, begitu uniknya setiap orang memiliki arena dan area di mana Allah mau keinginan-Nya, kehendak-Nya, dan rencana-Nya dilakukan.
    Itu keberhargaan hidup setiap individu yang memiliki meterai Roh Kudus, sebab hanya Roh Kudus yang dapat membuka mata pengertian kita untuk memahami apa yang Allah kehendaki. Dan jika kita hidup melakukan keinginan Tuhan, kita memainkan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dalam pergumulan hidup kita masing-masing yang khusus itu, berarti kita mengumpulkan harta di surga, dan kita akan memetik buah kehidupan di kekekalan. Kalau Tuhan Yesus sudah mati untuk kita, artinya kita yang hidup tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tapi untuk Dia yang telah mati untuk kita (2 Kor. 5:14-15). Renungan ini mudah diucapkan atau dibaca, tapi sulit dilakukan, bahkan mestinya mustahil. Tetapi apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah. 
    Kita harus meng-update terus kerinduan ini, walaupun kedengarannya hiperbola, berlebihan, fanatik. Tapi kita harus selalu berkata, “Tuhan, aku hidup hanya bagi-Mu, untuk kesenangan-Mu. Aku hidup hanya untuk melakukan kehendak-Mu, memenuhi rencana-Mu. Aku berjanji dan buatlah aku bisa melakukannya. Aku tahu aku tidak akan sanggup, tapi aku mohon agar aku bisa melakukannya.” Dan betapa berharganya setiap hari yang Tuhan berikan, dari menit ke menit. Mari kita periksa hidup kita; apakah langkah kita berkenan dari menit ke menit? Suatu hari nanti, di pengadilan, akan nyata siapa orang yang hidup bagi Tuhan.
    Dengan cara itu, kita benar-benar memuja Allah. Kita tidak pernah tidak punya masalah. Masalah satu selesai, masalah berikut akan muncul. Mungkin juga ada masalah yang Tuhan izinkan berlangsung panjang dan tidak berhenti sampai saat ini, belum lenyap dari hidup kita. Jangan kita persoalkan itu. Jangan kita merasa hidup kita ini invalid, cacat, dengan keadaan di mana kita punya masalah yang belum selesai. Ketahuilah, kita cacat kalau kita tidak menyenangkan hati Tuhan,
    10 min
  • Keutuhan Cinta kepada Tuhan
    Tuhan mengingatkan bahwa kita harus mempersembahkan atau memberikan segenap hidup kita bagi-Nya. Sudah sangat jelas maksud hukum terutama yang Tuhan Yesus kemukakan, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan.” Namun, sedikit sekali orang yang benar-benar mempersoalkan apakah dirinya benar-benar telah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan atau belum. Jarang sekali orang memperkarakan hal ini di hadapan Tuhan. Memang, porsi setiap orang itu berbeda, yang pertama, tergantung pada usia rohani orang tersebut; sudah berapa lama dia menjadi anak-anak Allah. 
    Yang kedua, tergantung dari porsi kesempatan yang Tuhan berikan. Tentu kalau orang ada di pedalaman sebuah pulau yang jarang dikunjungi penginjil, tidak ada pendeta, maka ia tidak bisa dituntut seperti orang yang ada di kota besar yang hampir tiap hari mendengar khotbah. Tetapi Tuhan mau setiap orang mencapai keutuhan cintanya kepada Allah sesuai usia rohani, sesuai porsi yang diberikan kepada masing-masing kita. Ironis, ternyata kita belum memperlakukan Dia secara patut. Jangan sampai kita menyesal, maka marilah kita sungguh-sungguh mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. 
    Sampai pada akhirnya, kita bisa berkata, “Hanya ada satu cinta yang kusisakan di dalam diriku, yaitu cinta pada-Mu, ya Tuhan. Pada akhirnya, tidak ada yang kuperjuangkan selain cintaku kepada-Mu.” Dan ini tidak berlebihan, sebagaimana Ayub berkata, “Aku datang telanjang dan pergi telanjang.” Secara fisik tidak ada yang kita bawa, apa pun termasuk segala kehormatan. Tetapi selama perjalanan hidup 70, 80, 90, 100 tahun, kalau kita bisa membangun cinta kepada Tuhan sebulat-bulatnya, seutuh-utuhnya, sepenuh-penuhnya, semurni-murninya, betapa beruntungnya kita. Sebab cinta harus diperjuangkan dan harus diwujudkan.
    Cinta bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis. Cinta ada dalam batin, tapi memancar dalam seluruh perbuatan kita. Dan Allah mencium persembahan keharuman dari cinta kita. Dan kita bisa berkata kepada Tuhan, “Apa yang masih kupertahankan dalam hidupku yang belum aku serahkan? Apa yang masih kupertahankan dalam hidupku yang tidak kusembelih menjadi korban bakaran di hadapan-Mu?” Sampai ada ketakutan di dalam diri kita, yaitu bagaimana cara kita membelanjakan uang untuk sesuatu dengan uang yang Tuhan percayakan.
    Lalu berkembang lagi takut dengan setiap kata yang kita ucapkan. Mulut kita bisa memproduksi perkataan apa pun. Tapi produksilah, ucapkanlah kata yang manis didengar Tuhan, tak peduli orang mau dengar senang atau tidak. Lalu, ketakutan kita yang berikut adalah apakah kita telah memperjuangkan pekerjaan Tuhan dengan menguras apa pun yang kita miliki? Segenap hidup harus kita persembahkan, pelayanan sepenuhnya harus untuk Tuhan. Jangan takut, kita tidak akan pernah dipermalukan Tuhan. Ingat, seluruh hidup kita adalah pekerjaan Tuhan. 
    Kedengarannya ekstrem, tapi ini standar. Hidup kita harus memancarkan kemuliaan Allah. Bumi penuh dengan kemuliaan-Nya; bukan hanya benda-benda yang memuliakan Allah karena keagungan karya-Nya yang dahsyat, namun hidup kita yang merupakan karya Roh Kudus yang diubahkan juga memancarkan kemuliaan Allah. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan. Tuhan harus menjadi satu-satunya fokus kita. Jangan ada kesibukan lain. Fokus kita hanya kepada Tuhan saja. 
    Miliki tekad ini: “Tidak ada yang kusisakan selain satu, cintaku kepada Tuhan. Tidak ada lagi yang kuperjuangkan selain cintaku kepada Tuhan. Kuperjuangkan cintaku kepada Tuhan lewat bagaimana aku memperkokoh keluargaku, bagaimana aku bekerja dalam usahaku, bagaimana aku bekerja di perusahaan, dan bagaimana aku memenuhi tanggung jawabku di tengah-tengah masyarakat.” Di situlah kita menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Maka, sebelum waktu berlalu dan kita kehilangan kesempatan, lakukan ini.
    7 min
  • Bertuhan
    Ke gereja bukan indikator satu-satunya bahwa seseorang itu bertuhan. Ada ciri-ciri lain yang harus dimiliki dalam kehidupan seseorang yang bisa dikatakan bertuhan. Tidak ada manusia yang berkualitas jika ia tidak bertuhan. Sehebat apa pun prestasi manusia, sekaya apa pun, sebanyak apa pun gelar yang disandang, seluas apa pun kekuasaan yang dimiliki, setinggi apa pun jabatan, pangkat yang dia miliki, tidak ada artinya sama sekali jika ia tidak hidup bertuhan. Dan orang yang tidak bertuhan, tidak layak dihidupkan terus di kekekalan, di langit baru bumi baru. Mereka akan dibuang ke dalam api kekal, tidak perlu dilestarikan. 
    Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Kesia-siaan di atas segala kesia-siaan.” Ketika ayat itu muncul dari seorang berhikmat di Perjanjian Lama, belum ada keselamatan dalam Yesus Kristus, artinya manusia belum memiliki jalan untuk menemukan Bapa, Allah semesta alam, yang memberi nilai atas individu. Kesia-siaan di atas segala kesia-siaan maksudnya adalah apa pun yang dimiliki oleh manusia—pangkat, kekayaan, kecantikan, kedudukan, status—adalah sia-sia. Pertanyaan yang harus kita perkarakan di dalam hidup kita masing-masing: Apakah kita sudah bertuhan selama ini? 
    Orang bertuhan itu pasti beragama, tapi orang beragama belum tentu bertuhan. Jadi, jangan kita kecewa melihat orang yang rajin ke gereja, beragama, namun kelakuannya tidak seperti orang yang memiliki etika, sewenang-wenang terhadap sesama, berduri, menyakiti sesama. Karena dia hanya bergereja dan beragama, tapi tidak bertuhan. Bahkan majelis, aktivis gereja, dan pendeta pun belum tentu bertuhan. Sejujurnya, sering kita dibodohi oleh sistem-sistem keberagamaan; ini namanya politik beragama. Bukan berarti kita tidak menghormati pendeta atau hamba Tuhan. Kalau kita mulai tidak bertuhan, maka semakin hari kita semakin tidak mampu bertuhan. “Urat rohani” kita akan semakin tipis, sampai akhirnya putus, yang membuat kita tidak bisa bertuhan.
    Sebagaimana orang jahat yang semakin jahat sampai titik di mana ia tidak bisa balik lagi. Dan sebaliknya, orang yang terus membangun kehidupan bertuhan akan sampai pada titik tidak bisa balik di mana ia tidak bisa mencintai dunia; dia memiliki hidup yang berkualitas. Dan orang seperti ini akan dilestarikan, dihidupkan di kekekalan. Untuk itu, mari kita belajar pada Abraham, bapak orang percaya. Kehidupan orang percaya harus berpola Abraham. Kita harus melihat dinamika hidupnya. Abraham itu tidak beragama. Ia tinggal di Lembah Sumeria yang merupakan lembah yang paling subur dan makmur pada zamannya. 
    Dari hasil penggalian arkeologi, ditemukan di sana sudah ada perpustakaan dari lempengan-lempengan. Perkakasnya juga menunjukkan kecerdasan dari orang-orang Lembah Sumeria itu.  Abraham memiliki sesembahan yang bernama Elohim Yahweh. Pada suatu saat, ia diperintahkan oleh Elohim Yahweh untuk meninggalkan Ur Kasdim, meninggalkan kampung halaman dan pergi ke negeri yang Tuhan akan tunjukkan. Tuhan tidak memberi peta perjalanan. Abraham hanya menurut saja ke mana Tuhan bawa dia pergi. Dan ternyata sampai akhir hidupnya, Abraham tidak pernah menemukan negeri itu (Ibr. 11). Sebab ternyata itu adalah negeri di balik kubur. Abraham tidak pernah kembali ke Ur Kasdim, walaupun menghadapi masa-masa sulit, masa kekeringan yang hebat. Dia begitu submit kepada Elohim Yahweh; total submission. 
    Abraham tidak beragama, tapi ia bertuhan. Dia hidup hanya menuruti apa yang Allah kehendaki. Di dalam Kejadian 12, Tuhan berjanji akan membuat Abraham memiliki keturunan, dan dari keturunannya segala bangsa diberkati. Abraham akan memiliki banyak anak, sebanyak pasir di laut dan bintang di langit. Tetapi dia harus menunggu selama seperempat abad. Dan ketika anaknya sudah mulai dewasa, Allah memerintahkan Abraham untuk menyembelih anaknya, menjadikannya korban bakaran. Sampai di sini pun Abraham tetap taat. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan Abraham saat itu. Luar biasa, bukan?
    9 min
  • Mempersoalkan Kekekalan
    Satu hal yang sungguh-sungguh menyedihkan dan mengerikan, banyak orang sampai saat ini tidak mampu menghayati kekekalan. Bicara mengenai kekekalan dianggap omong kosong, mungkin juga dianggap sarana menakut-nakuti orang, sehingga orang meremehkan atau melecehkan hal kekekalan itu. Kalau kita sebagai pendeta berbicara mengenai kekekalan, orang bisa berkata, “Ya, dia memang pendeta, pantaslah kalau ngomongnya surga terus.”  Padahal kita bicara mengenai kekekalan, dan surga, bukan karena kita pendeta, tetapi karena kekekalan memang fakta. Fakta yang tidak bisa kita bantah, bahkan semua orang tidak bisa bantah, akan adanya kematian. 
    Kematian bukan sesuatu yang bersifat mitos, melainkan itu adalah fakta. Kematian bukan mimpi, bukan ilusi, bukan halusinasi, maka kekekalan juga adalah fakta. Terserah orang mau percaya atau tidak. Sebab banyak orang tidak mau percaya. Betapa mengerikan ketika seseorang menutup mata, ternyata ia harus menghadapi kekekalan, surga kekal atau neraka kekal, kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Betapa mengerikan! Dan orang mulai berkata lagi, “Tetapi itu kan nanti, bukan sekarang, mengapa harus kita bicarakan sekarang?” Betul, tetapi nanti itu, kapan? Sepuluh tahun, lima tahun, tiga tahun, dua tahun, minggu depan, besok atau hari ini? Bisa kapan saja, bukan? Tidak akan bisa terhindar! 
    Maka, mari kita menyadari hal kekekalan ini dan jauh-jauh hari mempersiapkannya. Seandainya kita masih hidup lima belas, dua puluh, tiga puluh tahun, empat puluh tahun, lima puluh tahun, enam puluh tahun ke depan, tetap harus dipersiapkan. Mengapa? Selain kita tidak tahu kapan kita meninggal, pengaruh dunia bisa membuat seseorang tidak pernah dapat diperbaiki lagi. Dan ini merupakan keuntungan Iblis yang berhasil menggiring orang menuju kegelapan abadi.
    Ini pula yang menjadi kekhawatiran Tuhan, sehingga Ia berkata, “Ketika Aku datang kembali, apakah Kudapati iman di bumi ini?” Tuhan mengkhawatirkan ketekunan orang percaya. Tuhan mau mengingatkan agar kita tidak terkejut ketika nanti kita melihat kekekalan yang dahsyat. Bukankah kita bekerja delapan hingga dua belas jam setiap hari demi masa depan di bumi yang sementara sifatnya? Mengapa untuk mencari Tuhan, untuk mengenal Tuhan, dan untuk bisa bersekutu dengan benar dengan Tuhan yang merupakan harta kekal, kita tidak sungguh-sungguh?
    Sejatinya, kita tidak tahu berapa banyak orang akan tetap tekun dengan integritas komitmen yang kuat menjadi pejuang Tuhan, bangsawan surgawi yang menjadi ksatria Tuhan, yang akan bukan saja menyelamatkan dirinya sendiri, namun untuk layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Yang juga membawa orang tua, adik, kakak, tante, om, keluarga besar, teman, dan setiap orang yang mereka temui untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Apakah kita termasuk dalam hitungan mereka yang setia? Bagaimana dengan kita yang sudah lanjut usia, yang juga mungkin memiliki waktu sudah sangat singkat? Tinggal sesaat waktu yang kita miliki. Ayo, kita berubah. 
    Seperti Nuh yang berteriak-teriak mengajak orang masuk bahtera, kita mengajak orang masuk bahtera dan bahtera itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Bagaimana kita hidup seperti Yesus hidup. Bagaimana kita memiliki kualitas hidup anak-anak Allah seperti kualitas hidup yang dimiliki Tuhan Yesus; bukan hanya menjadi orang baik, bukan saja menjadi orang yang tidak bersalah dinilai dari hukum melainkan juga dalam segala hal bisa menyenangkan, menyukakan hati Allah.
    Ayo, kita memilih jalan ini, jalan yang tidak dipilih oleh dunia, jalan yang ditinggalkan oleh manusia pada umumnya. Mereka hanya puas beragama dalam konteks hanya beragama Kristen datang ke gereja, tetapi mereka tidak mau melepaskan diri dari keduniawian, dari percintaan dunia, dari dosa-dosa. Sejatinya, betapa mengerikan keadaan mereka kalau mereka tidak bertobat. Oleh sebab itu, kita mau berubah, kita memilih untuk mengikut Tuhan Yesus. Roh Kudus akan menuntun kita,
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…