Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tulus Mencari Wajah Tuhan
    Untuk apa kita melakukan kegiatan gereja atau pelayanan? Karena kita mau menyelamatkan orang dari api kekal. Bagaimana menyelamatkan orang dari api kekal? Caranya, ia harus berjalan dengan Tuhan sejak hidup di bumi. Maka betapa pentingnya kehadiran Tuhan itu. Setan itu licik sekali. Kuasa kegelapan itu jauh lebih cerdik dari yang kita duga. Jadi, kalau kita tidak dipimpin Roh Kudus, kita pasti tertipu. Tanpa kita sadari, kita disesatkan; bukan hanya jemaat, pendeta, aktivis, pelayan Tuhan pun bisa tertipu. Bukan hanya pelayan yang baru melayani, yang sudah puluhan tahun pun bisa tertipu.
    Kalau kita tidak duduk diam di kaki Tuhan, bahaya sekali. Maka, kita harus berdoa, “Lindungi aku dari kuasa gelap. Lindungi aku dari manusia lama ini. Lindungi aku dari pengaruh jahat dunia. Lindungi aku dari bencana dan orang-orang yang bermaksud jahat padaku. Lindungi aku, Tuhan.” Secara ukuran dunia dengan usia cukup tinggi, mungkin beberapa di antara kita sudah pensiun, tidak kerja keras seperti ini. Ya, kita akan pensiun di langit baru, bumi baru. Kalau di bumi ini, tidak ada pensiunnya. Mahal waktu yang Tuhan berikan. Jadi, kalau sampai kita sempat menonton drama atau melihat media sosial yang tidak perlu apalagi dalam durasi waktu yang lama, itu merusak hidup kita. Untuk apa yang perlu dilihat boleh, tapi kita tidak tenggelam dengan hiburan dunia atau keinginan-keinginan dunia.
    Jadi, kalau orang sakit, dia tidak mau makan. Pemabuk lebih suka minum minuman yang beralkohol daripada makan. Sama, kita tidak ingin berdoa, kita tidak merindukan Tuhan, lalu kita melakukan yang lain. Kita sakit, kita akan binasa. Kita tidak memiliki Tuhan, tidak merindukan Tuhan, jiwa kita sakit. Dan tanpa sadar, sejatinya, kita mencampakkan Tuhan dari hidup kita. Kita mengeliminir Tuhan, memisahkan, membuang Tuhan dalam hidup kita. Kalau dibahasakan dengan kata-kata, kita berkata, “Aku tidak butuh Tuhan.” Kita memang tidak mengatakannya, tetapi kita melakukan itu, karena kita lebih menyenangi yang lain daripada Tuhan. 
    Dan rata-rata kita masih sakit. Ironis, kita tidak mau sembuh, tidak mau memaksa diri duduk diam di kaki Tuhan, sampai kehausan akan Allah itu bisa mengalir dan mencengkeram jiwa kita. Mari kita betul-betul berubah, sampai kita punya kehausan akan Allah. Allah merasakan kehausan kita akan Dia, Allah merasakan kita mencintai Dia. Dan kalau kita bisa berbuat begitu, kita istimewa di mata Tuhan. Sehingga orang-orang di sekitar kita yang kita cintai, juga akan diistimewakan oleh Tuhan. 
    Kalau pagi kita angkat tangan bukan mau bergaya, “Aku angkat tangan, Tuhan.” Tapi kita mau meraih Tuhan. Kita harus bisa menyentuh hadirat Tuhan, sampai kita punya kehausan akan Allah. Di tengah-tengah situasi yang serba tidak menentu, namun kalau kita bersama Tuhan, kita aman. Kalau Tuhan beserta kita, kita tetap dilindungi Tuhan. Apa pun yang terjadi. Lalu kenapa kita tidak mencari Tuhan? Kalau kita tidak punya selera doa, hari-hari kita pasti tidak bersama dengan Tuhan. Dalam keadaan seperti itu, kita bisa betah melakukan pekerjaan yang lain, tapi tidak bisa duduk diam di kaki Tuhan, tidak mampu karena jiwa kita sakit. Tuhan itu seperti makanan jiwa kita. 
    Kalau kita dengan tulus berusaha mencari wajah Tuhan, maka kita akan seperti telur yang menetas menjadi rajawali. Hati ini harus kita angkat, kita terbangkan mencari Tuhan. Kalau tidak, kita tidak akan pernah berubah. Kita akan beku seperti es, bukan mencair dan menyala. Ayo, kita kobarkan hati ini. Sebab kita tahu, hidup ini bernilai kalau kita bertemu dan berjalan dengan Tuhan. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini, jangan lewatkan kesempatan ini. Jangan ulangi kesalahan yang pernah kita lakukan di lembar tahun hidup yang lalu. Berilah diri kita untuk diubahkan dan dibarui oleh Tuhan. 
    8 min
  • Kebersamaan dengan Tuhan
    Dengan rentang waktu tahun, indah sekali Tuhan mengingatkan supaya kita bisa menghitung berapa lembar tahun yang kita miliki. Betapa berharganya waktu hidup kita ini. Kita hanya memiliki 70 lembar tahun, 80 lembar tahun, paling banyak 90 lembar tahun. Selama tahun-tahun itu diberikan kepada kita dan kita jalani, apakah kita benar-benar berjalan bersama Tuhan? Sebab kalau kita tidak bersama dengan Tuhan sejak kita hidup di bumi ini, maka ketika melewati tahun-tahun hidup kita, kita tidak akan pernah bersama dengan Tuhan di kekekalan. Dan ini hal yang paling prinsip di dalam hidup ini: kebersamaan dengan Tuhan. 
    Kalau kita memeriksa diri dengan jujur, apakah tahun-tahun yang kita miliki tersebut benar-benar terwarnai oleh kebersamaan kita dengan Tuhan atau tidak? Biasanya, orang tidak memedulikan. Kalau tahun lalu dinilai, apakah kita hidup dalam kebersamaan dengan Tuhan? Kemudian berlanjut pertanyaannya: apa ukuran kebersamaan dengan Tuhan dalam tahun itu? Ya, mesti kita lebih melihat detail hari hidup kita, bulan, minggu, hari, jam, dan menit-menit hidup kita. Dari 360 hari, apakah kita benar-benar dalam kebersamaan dengan Tuhan atau tidak? Coba kita melihat per jam kita, lalu kita lihat per menit: apakah kita ada dalam kebersamaan dengan Tuhan? 
    Kalau tahun lalu kita sulit menilainya, coba kita lihat hari hidup kita sekarang, jam kita sekarang, menit kita sekarang. Karena orang tidak bisa mendadak berjalan dengan Tuhan atau mendadak terpisah dari Tuhan. Irama hidup yang kita miliki di tahun lalu menjadi irama hidup yang sekarang ini kita jalani; tidak beda jauh, mungkin juga sama persis. Jadi, menilai 360 hari kita tahun lalu, kita lihat dari hari-hari hidup kita sekarang ini, apakah bersama dengan Tuhan? Sekarang kita melihat menit kita hari ini, apa yang kita lakukan? Dari kita bangun tidur, bagaimana kita mengisi menit-menit hari kita, menit-menit hidup kita, apa yang kita lakukan? 
    Setan membuat orang terlena, tidak waspada, tidak mengenali dirinya dengan benar, dan ini mengerikan. Ini bukan hanya berlaku bagi mereka yang ada di luar lingkungan gereja, namun termasuk yang ada di lingkungan gereja dan kesibukan pelayanan di lingkungan gereja dan Sekolah Tinggi Teologi. Karena bukan tidak mungkin kita sibuk dalam urusan gereja, tapi kita tidak berjalan dengan Tuhan, sangat besar kemungkinan itu bisa terjadi. Tanpa sadar, sering kita memperhatikan pekerjaan gereja, pekerjaan pelayanan secara teknis, sedangkan kita sendiri tidak melekat dengan Tuhan, tidak dalam persekutuan dengan Tuhan. Yang nanti ketika kita berjumpa dengan Tuhan, Tuhan bisa berkata, “Aku tidak kenal kamu.” 
    Setelah melewati rentang panjang perjalanan hidup, sejatinya kita harus lebih bisa menghayati atau merenungkan kalau kita suatu saat menutup mata, lalu melihat hari-hari hidup yang tidak berjalan bersama Tuhan, maka akan ada penyesalan yang tiada terduga, tak terhingga, tak terbayangkan; yang Alkitab katakan sebagai “ratap tangis dan kertak gigi.” Dan masalahnya, kita tidak bisa mengembalikan waktu, tidak bisa memutar waktu kembali. Berharganya hidup kita adalah kesempatan bisa berjumpa dengan Sang Pencipta, dan berjalan bersama dengan Dia di lembar tahun hidup kita.
    Sehingga Firman Tuhan yang mengatakan, “Baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” “Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” hal itu tidak berlebihan, sungguh tidak berlebihan. Kalau kita memandang itu berlebihan, pasti ada yang rusak di dalam hidup kita, rusak jiwa kita. Kita belum menemukan kehausan akan Allah. Dan kalau kita tidak menemukan kehausan akan Allah, kita juga tidak punya kerinduan akan Allah. Kalau tidak ada kerinduan akan Allah, kita tidak memiliki kecintaan kepada Tuhan, dan firman Tuhan mengatakan, “Terkutuklah orang yang tidak mengasihi Tuhan” (1 Kor. 6:22). 
    Orang yang mengasihi Tuhan pasti menantikan kedatangan Tuhan. Kita khawatir jangan-jangan hati kita sudah tidak bi...
    8 min
  • Tanpa Tujuan
    Mari kita mempersiapkan diri kita untuk sepenuhnya hidup bagi Tuhan. Dalam melakukan segala sesuatu benar-benar kita melakukannya untuk satu tujuan, yaitu Tuhan. Hal ini harus kita biasakan, kita latih. Baik kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, kita lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan (1 Kor. 10:31). Bukan hanya hal-hal besar yang menyangkut uang banyak, reputasi, harga diri, atau nyawa, melainkan dalam segala hal. Sebab dengan cara demikian, kita bisa benar-benar hidup bersih, tidak bercacat, tidak bercela. Juga baru kita bisa mengalami kehadiran Tuhan di dalam hidup kita dan mengalami apa yang Alkitab maksud berjalan dengan Tuhan seperti yang dialami oleh Henokh.
    Tentu saja Tuhan kita Yesus Kristus selalu bersama dengan Bapa. Tidak ada yang Yesus lakukan untuk kepentingan yang lain, semua hanya untuk kepentingan Allah Bapa. Prinsip-Nya adalah: “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Yang membuat kita sering meleset—bahkan berbuat dosa—adalah ketika kita mulai melakukan sesuatu tanpa tujuan. Asal kita senang, asal berjalan atau berlangsung dengan baik, tapi kita tidak menujukan untuk apa dan untuk siapa kita melakukan sesuatu itu. 
    Termasuk yang kita lihat, kita tonton. Apalagi yang menyita waktu kita. Jangankan 1 jam, 1 menit pun tidak boleh kita sia-siakan, tidak boleh kita buang untuk melakukan sesuatu yang tidak bertujuan untuk Tuhan. Jangankan 1 jam, 1 menit pun jangan kita melakukan sesuatu yang tidak kita tujukan untuk kepentingan Tuhan. Ini memang sulit sekali, tapi kita harus membiasakannya dan kita harus melatihnya supaya kita tidak memberi kesempatan kuasa kegelapan bersarang di dalam diri kita. Jangankan satu kalimat, satu kata pun tidak boleh terlontar dari mulut kita jika itu tidak bertujuan untuk kemuliaan Allah. 
    Dari hal ini nampak, apakah seseorang benar-benar mengalami Tuhan atau tidak; apakah seseorang benar-benar berjalan dengan Tuhan atau tidak. Dan hal ini harus kita latih mulai hari ini. Hari ini kita akan mulai memiliki kehidupan yang menyembah Allah bukan hanya dengan nyanyian, melainkan dengan sikap, tindakan, renungan hati, pikiran dan perkataan kita yang merupakan sikap menghormati Allah. Allah sangat baik dan Dia Allah yang berbelas kasihan. Betapa menyedihkan kalau kita masih sembarangan melakukan sesuatu, yang mana hal itu benar-benar dapat menyakiti dan melukai hati Tuhan. 
    Padahal Allah sungguh amat baik dan berbelas kasihan. Jangan sampai kita melukai Tuhan. Untuk orang Kristen baru, bisa saja ditolerir kalau tindakan-tindakannya tidak presisi, tidak tepat, tidak akurat. Bisa saja Tuhan menolerirnya. Tetapi kita yang sudah bertahun-tahun ikut Tuhan, apalagi kita yang sudah menjadi Kristen sejak kecil, terlebih lagi seorang aktivis gereja, apalagi seorang pendeta dan teolog; betapa hidup kita harus memancarkan kemuliaan Allah. Dari setiap kata yang kita ucapkan, dari setiap tindakan yang kita lakukan, tidak ada yang meleset, semua presisi untuk kepentingan Tuhan, untuk kesukaan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan, bertujuan untuk Tuhan, apa pun yang kita lakukan. 
    Ingat, yang membuat kita sering meleset bahkan berbuat dosa adalah ketika kita mulai melakukan sesuatu yang tidak bertujuan bagi Tuhan. Sesuatu yang memang bukan suatu kesalahan di mata manusia. Bahkan juga tidak menunjukkan itu suatu kejahatan atau pelanggaran. Tetapi kalau dilakukan tanpa tujuan, dilakukan tanpa sikap hati yang ditujukan bagi Tuhan, itu menjadi jalan seseorang membawa diri dalam ikatan kuasa kegelapan. Itu menjadi celah, bagaimana Iblis masuk dan merusak hidupnya, menghancurkan hidupnya. Jangan membuka celah sekecil apa pun untuk Iblis masuk. Atau istilah lain, jangan membuat sekecil apa pun kebocoran.
    Pokoknya setiap hal yang kita lihat di gadget, apa yang kita ucapkan, kita lakukan semua harus bertujuan untuk Tuhan. Dengan irama yang demikian, dengan pembiasaan yang demikian,
    9 min
  • Skenario Allah
    Kalau kita mengingat kisah Elia, ia merupakan seorang nabi yang berani sekali. Dia melawan raja yang tidak takut akan Allah, yang beristrikan Izebel, yang memiliki dewa dan menyembah Baal sehingga mereka memiliki nabi-nabi Baal. Elia adalah seorang hamba Allah yang membela Allah, ia menantang nabi-nabi Baal untuk membuktikan siapa Allah yang benar. Dan hal itu ia lakukan demi untuk menyelamatkan banyak umat Israel yang disesatkan. Kita membaca Alkitab, bagaimana Elia dapat membuktikan bahwa Allah yang benar adalah Allah Israel, Elohim Yahweh yang membakar mezbah korban Elia. Sedangkan korban yang dimiliki nabi-nabi Baal tetap tidak terbakar karena tidak ada api. Tetapi korban nabi Elia terbakar; api turun dari langit. 
    Namun, kisah tidak berhenti sampai di situ. Raja yang tidak takut akan Allah mengancam nyawa Elia, terutama istrinya; Izebel. Mereka mengejar Elia, dan Elia merasa hidupnya terancam. Sampai kemudian Elia putus asa. Dalam keputusasaan Elia sempat berkata, “Lebih baik aku mati.” Di situ tersirat, Allah tidak menghabisi sama sekali musuh-musuh Elia dan itu yang membuat Elia mungkin sedikit kecewa. Kemenangannya terhadap nabi-nabi Baal tidak membuat tuntas kemenangan yang dia capai. Barangkali Elia berharap dengan kemenangannya melawan nabi-nabi Baal, langsung semua selesai. Tapi ternyata tidak. Wanita jahat Izebel memburu nyawanya. Dan ini yang membuat Elia kemudian menjadi takut. 
    Mengapa Allah memiliki skenario seperti itu? Sering kali kita menemukan banyak misteri di dalam kehidupan—misteri Tuhan—tetapi pasti Tuhan tidak pernah gagal dengan apa yang Dia lakukan. Tidak mungkin Allah gagal dengan apa yang Dia rencanakan. Karena Allah adalah Allah yang sempurna, tidak mungkin Allah melakukan sesuatu yang salah, bahkan meleset sedikit pun tidak. Elia dijaga oleh Tuhan dengan keadaan seperti itu. Dan Elia tetap rendah hati dan memberikan kemuliaan hanya bagi Allah. 
    Ini hal yang luar biasa. Karena manusia dengan keadaannya yang terbatas bisa lupa diri ketika ia ada di puncak prestasi, ada di dalam puncak keberhasilan, dan itu yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Tuhan tidak membuat pekerjaan Tuhan mudah dijalani. Itu juga menjadi pertanyaan banyak orang percaya—khususnya para hamba Tuhan—mengapa Tuhan tidak membuat mudah jalan pelayanan kita? Kadang-kadang sampai kita seperti terjepit, jalan seperti berat. Tetapi rupanya Tuhan menghendaki demikian, supaya kita tidak menjadi sombong dan angkuh, supaya kita tidak menepuk dada dan merasa berjasa. 
    Kisah mengenai Elia yang membunuh sekitar 450 nabi Baal merupakan prestasi yang luar biasa, menakjubkan dan itu bisa menjadi kendaraan Elia mengangkat diri. Tetapi kisah tidak berhenti sampai Elia membunuh nabi-nabi Baal. Izebel, istri raja Ahab, mengejar nabi Elia terus dan mau membunuhnya. Kenapa Izebel tidak bertobat, lalu Elia mendapat kehormatan? Kenapa Izebel, raja Ahab tidak kemudian menundukkan diri, mengaku bersalah lalu menyembah Elohim Yahweh, tapi malah masih mau membunuh Elia? Sulit dipahami skenario itu atau sulit dipahami keadaan ini. Sulit, tetapi di balik ini ada perlindungan Tuhan bagi Elia. Elia dikasihi Tuhan. Allah menghendaki hidup Elia berjalan dengan baik di mata Tuhan dan berakhir dengan baik, yang akhirnya Elia dijemput oleh Tuhan dengan kereta berapi.
    Saat ini, kalau pelayanan kita dibuat Tuhan sulit, dibuat Tuhan tidak mudah, tentu ada maksud Tuhan di balik semua itu. Yaitu: pertama, supaya kita rendah hati. Yang kedua, supaya kita jangan jatuh dalam dosa; bisa dosa kesombongan atau dosa-dosa yang lain. Sebab kalau keadaan mudah, nyaman, atau tidak ada masalah, kita bisa sombong atau kita melakukan dosa-dosa lain atau kenyamanan hidup membuat kita tidak merindukan langit baru bumi baru.
    8 min
  • Prime Time
    Berurusan dengan Tuhan adalah prime time kita. Jangan kita merasa cukup dengan datang ke gereja. Sebab Tuhan itu segalanya dalam hidup kita. Hal ini tidak membuat kita jadi aneh dan tidak bertanggung jawab hidup. Orang yang bergaul dengan Tuhan dan mengalami Tuhan pasti cerdas, rajin, dan hidup bertanggung jawab, sehingga hidupnya agung, luhur, mulia. Di dunia ini banyak orang agung, luhur, mulia, bertanggung jawab tapi belum tentu memiliki Tuhan. Tapi kalau seseorang memiliki Tuhan, pasti memiliki semua ini. 
    Jadi, kalau kita melihat orang Kristen malas, tidak bertanggung jawab, pasti dia bukan Kristen yang benar. Kristen yang benar, yang bergaul dengan Allah, pasti hidupnya agung, luhur, mulia. Justru dari situ nampak keagungan kita sebagai anak-anak Allah. Perjumpaan dengan Allah membuat karakter agung Allah diturunkan. Kehidupan Yesus yang agung ini juga dapat kita miliki. Maka berjuanglah. Jangan nanti ketika kita di ujung maut, baru kita mencari Tuhan, tidak bisa! Kita tidak akan bertemu Tuhan. Jangan anggap bahwa Tuhan itu gampangan atau murahan! Selagi masih memiliki kesempatan, cari dan temukan Tuhan. 
    Sadari, kita hidup tidak lebih 100 tahun. Jadi selama kita hidup di bumi, kita mau belajar menjadi anak-anak Allah, melalui peristiwa-peristiwa hidup yang terjadi Tuhan bicara, karena tubuh kita dijadikan bait Roh Kudus. Roh Kudus diam di dalam diri kita. Kita mau berurusan dengan Tuhan melalui Roh-Nya yang ada di dalam diri kita. Jika itu terjadi di dalam hidup kita, maka hidup kita memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan artinya menganggap Tuhan itu mulia, berharga, dan menyenangkan hati Dia dari setiap sikap dan perbuatan kita. Yaitu jika kita menuruti firman atau suara Roh Kudus yang diberikan kepada kita.
    Dan hidup kita disita seluruhnya untuk itu. Bagaimana segala sesuatu yang kita lakukan selalu benar di mata Tuhan. Benar, bahwa kita punya keinginan sendiri, tapi kalau kita menghargai Tuhan, maka kita lebih mengikuti kehendak Tuhan daripada kehendak diri kita sendiri. Di situ akan ada proses yang tidak mudah. Kita memiliki dua manusia, manusia lama dan manusia baru. Kita berlatih terus untuk mengikuti apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita, supaya manusia baru kita tumbuh, dan manusia lama kita bisa makin dimatikan. 
    Terkesan kita ini tidak lagi memiliki hidup untuk diri kita. Benar, memang benar. Hidup kita seluruhnya dipersembahkan kepada Tuhan untuk kemuliaan-Nya, dan itu keadaan atau jalan yang paling aman dalam hidup kita. Sebab, kalau kita membuka peluang untuk mencari kesenangan bagi diri kita sendiri, di singkatnya umur hidup kita ini, itu berbahaya, karena kesenangan-kesenangan yang tidak menyenangkan Tuhan itu menjadi pangkalan kuasa gelap. Namun harus dimengerti, kita tetap manusia yang makan enak, kumpul dengan keluarga, wisata, menikmati seni dan lainnya. Tuhan juga akan memberikan kegembiraan seperti itu, di mana dalam kegembiraan tersebut, kita tetap menikmati bersama Tuhan. Pasti kegembiraan-kegembiraan yang tidak melanggar etika kesucian Tuhan.
    Pada waktu kita sudah menutup mata, di mana tidak ada dosa, tidak ada kuasa kegelapan, baru kita memiliki hidup kita sendiri. Maka, di dalam Lukas 16:12 dikatakan, “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?” Harta orang lain adalah apa pun yang bisa kita miliki sekarang ini. Sedangkan harta kita sendiri itu nanti di langit baru, bumi baru, di Kerajaan Surga. Jadi, harta kita hari ini, semua kemampuan dan kebisaan kita adalah harta orang lain, artinya harta-Nya Tuhan, yang kita gunakan untuk kemuliaan Tuhan.
    Hidup kita ini harus disita Tuhan sekarang, supaya kita memiliki hidup di kekekalan. Dan memang, mengikut Tuhan itu berat sekali. Karena kita harus menyerap pikiran perasaan Tuhan, sampai kesenangan-kesenangan kita pun benar-benar kudus, tidak sama dengan kesenangan dunia. Kita tetap bisa menikmati hidup,
    9 min
  • Memiliki Allah
    Hal yang paling prinsip setelah kita menerima keselamatan adalah bahwa anugerah yang sesungguhnya adalah Allah sendiri. Ketika Allah berkata kepada manusia pertama, “Pada hari kamu makan buah ini, kamu mati,” artinya manusia terpisah dari Allah, tidak ada kehidupan. Sehingga semua yang baik yang Allah miliki dan yang Allah sediakan bagi manusia, tidak dimiliki manusia. Manusia ‘dihalau atau dicerai’ oleh Allah karena ketidaktaatan, ketidakpatuhan, pemberontakan.  Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus memberi akses di mana manusia dapat menjumpai Allah dan memiliki Dia. Karena memang manusia didesain begitu rupa untuk tidak bisa hidup tanpa Allah. Ada rongga kosong di dalam jiwa manusia yang tidak bisa diisi oleh siapa pun dan apa pun selain oleh Allah. 
    Jadi, kalau manusia merasa tidak sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan walaupun beragama, atau membutuhkan Tuhan karena untuk menyelesaikan masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmaninya, berarti dia itu sesat. Kita harus bisa merasakan adanya kehausan di dalam diri kita, yang tidak akan bisa terpuaskan oleh apa pun dan siapa pun, kecuali oleh Tuhan. Tetapi terus terang, sedikit sekali orang yang sampai pada taraf kehausan seperti ini, karena selera jiwanya sudah salah sejak kecil, di mana ia dibesarkan dalam lingkungan dunia yang menawarkan berbagai kesenangan yang membentuk selera permanen bukan pada Tuhan.
    Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus memberi jalan untuk kita dapat menemukan Tuhan dan memiliki-Nya. Itulah sebabnya, kalau kita percaya kepada kurban Tuhan Yesus di kayu salib, kita dibenarkan; artinya dianggap benar, walaupun tentu belum benar-benar benar, supaya kita bisa menemukan Allah. Perjalanan hidup Kristen kita bukan hanya menemukan Allah, melainkan juga memiliki Allah. Ini prinsip, ini fundamental sekali. Jadi jangan merasa puas kalau kita bisa datang ke gereja dan merasa sudah bertuhan. Sebab jangan-jangan kebaktian seperti itu sama dengan liturgi atau seremonial yang menipu. Sejatinya, ini membuat kita dibohongi, dibodohi, dan berfantasi.
    Sebab kekristenan yang sesungguhnya adalah perjumpaan dengan Allah. Orang yang memiliki pengalaman liturgi, pengalaman seremonial, belum tentu memiliki pengalaman dengan Tuhan. Namun, bukan berarti kebaktian jadi tidak perlu lagi. Jelas perlu, karena di kebaktian kita bersama-sama menyanyi, memuji Tuhan, dan mendengarkan firman. Tetapi hendaknya apa yang mewarnai hidup kita, artinya sektor riil kita dalam hidup sehari-hari harus sesuai dengan pengakuan kita di gereja. Kalau tidak, kita menipu diri sendiri, dan menipu Tuhan. Misalnya, kalau kita bernyanyi, “Bapa, aku cinta pada-Mu,” apakah kita sudah mencintai Dia dengan benar?
    Ketika bumi ini berlalu, nyawa kita putus, waktu kita habis, tidak ada selembar benang pun yang kita bawa, tak ada sekeping uang yang kita genggam, tidak ada pangkat, derajat, gelar yang kita sandang, kita hanya membutuhkan Tuhan yang menerima kita di Rumah Abadi. Maka kalau menjadi anak kesukaan Bapa, itu lebih dari cukup. 
    Dalam Yohanes 2:19 tertulis, “Jawab Yesus kepada mereka: ‘Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.’” Maksud Tuhan Yesus, bait Allah itu adalah tubuh-Nya. Itulah sebabnya di Galatia 2:19-20, firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus memiliki kehidupan di mana Kristus yang hidup di dalam diri kita; “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Jadi, ada target yang harus kita capai dalam 70, 80, 90 tahun umur hidup kita, yaitu bagaimana kita mengalami kepenuhan Allah. Jawabnya adalah jika pikiran dan perasaan-Nya bisa kita kenakan, sebab hanya dengan cara ini kita menjadi anak-anak Allah. Jadi, memiliki Allah berarti memiliki pikiran dan perasaan-Nya. 
    Dan ini adalah proses panjang; sepanjang umur hidup kita. Bukan dari tahun ke tahun, tapi dari menit ke menit, dan hidup kita memang harus disita untuk itu; di tengah-tengah pergumulan hidup,
    10 min
  • Melekat dengan Tuhan
    Sejatinya, menghayati kehadiran Allah dalam hidup kita itu sering situasional. Pada waktu kita di gereja, ada dalam kegiatan kebaktian, kita berusaha untuk menghayati kehadiran Tuhan. Kita berdoa, kita menyanyi, tetapi itu hanya berlangsung beberapa waktu atau beberapa saat saja. Juga belum tentu kita konstan menghayati kehadiran Allah di dalam kebaktian itu. Atau pada waktu kita berdoa, kita berusaha menghayati kehadiran Tuhan. Kalau kita berdoa 30 menit, belum tentu selama 30 menit tersebut kita menghayati kehadiran Tuhan. Ini adalah persoalan yang krusial, penting, fundamental di dalam hidup kita.
    Karena keberlanjutan kita bukan karena kita beragama Kristen dan kita mengikuti kebaktian atau liturgi, melainkan bagaimana kita memiliki irama hidup yang selalu menghayati kehadiran Tuhan. Dan kita benar-benar menghadirkan atmosfer Kerajaan Surga di dalam hidup kita. Dan inilah yang membuat kita kurang hidup suci, yang pertama, kita kurang takut akan Allah. Yang kedua, kita tidak atau kurang memiliki keteguhan dalam menghadapi berbagai pergumulan; yang ketiga, kurang menikmati sukacita. Tetapi yang paling parah, yang keempat, kita tidak membiasakan diri berdialog dengan Tuhan sepanjang waktu. 
    Sebab doa itu bukan hanya pada waktu kita melipat tangan dan berlutut. Doa adalah sebuah percakapan yang tiada henti dengan Tuhan, dan itulah yang membuat kita terbiasa dalam suasana Kerajaan Surga. Tidak mungkin orang yang tidak terbiasa dengan suasana Kerajaan Surga akan masuk Kerajaan Surga. Ibarat ikan yang biasa berenang di air tawar tidak mungkin bisa masuk sebuah laut yang airnya asin, atau sebaliknya. Orang yang tidak memiliki atmosfer Kerajaan Allah, jiwanya tidak terwarnai oleh kekudusan Tuhan atau kehadiran Tuhan. Dan orang yang sukacitanya ditopang oleh perkara-perkara dunia tidak mungkin dilayakkan masuk Kerajaan Surga. 
    Mari kita mulai belajar memenuhi apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Doa Bapa Kami, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu.” Tentu maksud kerajaan di sini adalah pemerintahan Allah yang hadir di dalam hidup kita. Kalau kita melihat seseorang sedang hanyut dengan hobi tertentu, maka kita bisa menangkap gairah hidup orang tersebut. Kalau kita melihat anak muda yang sedang jatuh cinta, kita juga melihat gairahnya. Gairah apa yang kita miliki sebagai anak-anak Allah? Kerajaan Allah itu sangat mulia, sangat berharga. Harganya adalah darah Tuhan kita, Yesus Kristus. 
    Ketika seseorang menutup mata, ia melihat kekekalan; jalan yang tiada ujung, kehidupan yang tidak berakhir. Betapa dahsyat! Dan kalau kita diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan Allah, memiliki pengalaman menikmati kemuliaan Allah, betapa luar biasa. Atau sebaliknya, betapa mengerikan terpisah dari Allah. Jadi, kalau kita diperkenan mengucapkan kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu,” itu luar biasa. Doa Bapa kami bukan sekadar formula kalimat doa yang diucapkan seperti doa-doa yang dikenal dalam banyak agama, melainkan sebuah formula kehidupan yang harus kita kenakan. Maka, jangan sia-siakan kesempatan yang berharga untuk menghadirkan Kerajaan-Nya dalam hidup kita. 
    Kita harus menghormati dan menghargai Tuhan lebih dari apa pun dan siapa pun. Untuk Tuhan, kita harus seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya. Tuhan itu satu-satunya dunia kita. Jadi kalau kita ingin rumah, mobil, atau apa pun, maka itu pun untuk Tuhan, bukan untuk kepuasan kita. Menjadi kekasih Tuhan itu indah sekali. Kita tidak harus punya uang banyak, berpendidikan tinggi atau menjadi pendeta untuk menjadi kekasih Tuhan. Kalau orang serius dengan sesuatu (misalnya sakit), dia akan mencari dokter yang terbaik. Kalau dia seorang teknisi, dan dia butuh satu komponen yang sangat penting, maka dia akan berusaha mencari komponen itu. Demikian pula, kalau orang serius dengan Tuhan, dia akan mencari-Nya sampai ia menemukan-Nya. 
    Kita pasti ada di ujung waktu hidup kita. Bertobatlah dan berubahlah, jangan sombong.
    7 min
  • Dibelenggu oleh Perhambaan
    Sebenarnya banyak orang yang belum mengerti apa maksud ‘merdeka di dalam Tuhan.’ Dari muda kita ikut menyanyi lagu “sekarang saya sudah bebas,” dan kalimat itu sering diucapkan atau kadang-kadang diucapkan oleh orang Kristen bahwa diri mereka sudah bebas. Benarkah kita telah bebas? Secara de jure (secara hukum), kematian Yesus di kayu salib membebaskan kita dari kepemilikan (ownership) kuasa gelap atas diri kita. Tetapi apakah secara de facto (secara kenyataan) kita benar-benar telah terbebas dari kuasa gelap dan dimiliki Tuhan? Itu tergantung masing-masing individu; yaitu apakah seseorang memberi diri untuk dimiliki Tuhan, dikuasai, dicengkeram oleh Tuhan, atau memberi diri atau membiarkan diri dimiliki oleh kuasa kegelapan.
    Orang-orang yang masih hidup di dalam kesenangan diri sendiri, kepuasan diri sendiri—dalam kebencian, dendam, dosa, kenajisan, percabulan, ketidakjujuran—adalah orang-orang yang masih dimiliki kuasa gelap; secara de facto dia memberi diri dikuasai kuasa gelap. Itulah sebabnya, firman Tuhan jelas mengatakan dan ini tidak bisa terbantahkan, “Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal. 5:1). Jangan lagi dibelenggu oleh perhambaan, artinya menghamba kepada keinginan-keinginan diri sendiri, nafsu-nafsu diri sendiri. Ini berarti ada dalam belenggu kuasa gelap. 
    Mari kita dengan rela memberi diri untuk dibelenggu atau dikuasai oleh Tuhan. Bagaimana hal itu bisa terjadi atau berlangsung dalam hidup kita? Firman Tuhan dalam Kolose 3:3 mengatakan, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kematian terhadap diri sendiri adalah jalan untuk dimiliki oleh Tuhan. Kematian dari kesenangan, kepuasan diri sendiri, kematian dari daging kita, kematian terhadap daging kita, adalah jalan untuk hidup dalam Tuhan. 
    Oleh sebab itu, perhatikan ayat sebelumnya, “Carilah perkara yang di atas di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Inilah yang Tuhan ajarkan kepada kita. Kita harus menempatkan hati dan pikiran kita di Kerajaan Tuhan. Kita sudah mati bagi dunia; kita menutup pintu terhadap kesenangan dunia, hiburan dunia, dan kebanggaan-kebanggaan dunia. Dan kita merasa bahwa kita sudah ada di dalam surga. Tubuh kita di bumi, dan kita masih harus bekerja menghidupi daging ini dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga, terhadap pekerjaan Tuhan. Tetapi kita sudah menghayati bahwa kita sudah ada di dalam surga. 
    Kita hanya menunggu waktu tubuh kita meninggal dunia; roh dan jiwa kita akan terangkat. Sulit memasuki wilayah ini. Tetapi tidak ada pilihan karena Tuhan sendiri yang berkata, “Kamu telah mati, hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Hal ini memang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sebab ini harus diperjuangkan! Diperjuangkan secara riil dan nyata dalam hidup melalui kebenaran firman yang mengubah pikiran melalui doa pribadi atau doa bersama sehingga kita bisa menghayati apa artinya ayat tersebut.
    Ketika kita bisa menghayati kematian daging atau manusia lama kita; kematian dari dunia, kematian terhadap dunia, dan hidup bagi Allah, baru kita bisa mengatakan “Tiada yang kuharap lagi, apa pun di bumi ini. Tiada yang kunanti lagi apa pun di bumi ini.” Betapa anehnya kehidupan seperti ini. Betapa tidak wajarnya kehidupan seperti ini. Tetapi inilah kehidupan kristiani yang benar. Menjalani hidup seperti ini bukan berarti kita jadi nyentrik. Kita masih berpenampilan wajar. Tentu kita harus bekerja mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga kita, atau orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita. 
    Tentu kita masih bisa menikmati manisnya gula, lezatnya makanan, masih bisa menikmati segarnya buah. Tapi, hati kita tidak terikat sama sekali. Kita bisa naik mobil pribadi, bisa naik kendaraan umum. Tetapi orang yang hatinya benar-benar telah ditaruh di dalam Ker...
    10 min
  • Iman yang Dilatih
    Tuhan melatih kepercayaan kita kepada Pribadi-Nya, Pribadi Bapa di surga, Pribadi Elohim Yahweh, Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus, ketika kita menghadapi masalah. Semakin berat masalah itu, semakin terjepit keadaan kita, semakin kita dilatih untuk memercayai Pribadi-Nya. Kepercayaan itu tidak kelihatan; ada di dalam batin atau hati, yang tentu bisa terekspresi dalam sikap maupun perbuatan. Coba kita membayangkan bagaimana bangsa Israel, umat pilihan Allah secara darah daging, keturunan Abraham, menghadapi berbagai persoalan. Di situ Allah sengaja memperhadapkan bangsa Israel untuk memilih, memercayai Elohim Yahweh atau memercayai yang lain. 
    Dan kita melihat dalam Alkitab, bagaimana Tuhan menyatakan kemuliaan dan pertolongan-Nya kepada bangsa Israel ketika mereka menaruh percaya kepada-Nya. Sama dengan kita, kita juga diperhadapkan kepada masalah-masalah berat dan rumit. Semakin rumit masalah itu, semakin kita mempertajam iman kita. Kita percaya kepada Tuhan bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan mengajar kita untuk memercayai janji-Nya bahwa Dia menyertai kita. “Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau Tuhan yang akan menepatinya. Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini. Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara kebusukan muncul di antara anak-anak manusia” 
    Kita pasti menghadapi banyak masalah. Karena kita ada di tengah-tengah orang-orang fasik yang dipakai kuasa gelap untuk menghancurkan, menyakiti, dan melukai kita. Tetapi di situ Tuhan mengajar kita untuk memercayai janji-Nya bahwa Ia menyertai kita. Di mana-mana kita akan berhadapan dengan orang-orang fasik. Kalau dikatakan, “Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara kebusukan muncul di antara anak-anak manusia,” artinya kita berada di tengah manusia yang jahat, di tengah kebusukan manusia. Keadaan itulah yang pasti membuat kita tersakiti. Tetapi hendaknya kita bergantung kepada Tuhan, bersandar kepada-Nya. 
    Kalau kita bergantung dan bersandar kepada Tuhan, berarti kita harus hidup dalam kebenaran dan kesucian. Kita harus hidup di dalam kehidupan yang tak bercacat dan tak bercela. Kita akan menghadapi kenyataan di mana kita diperhadapkan kepada pilihan memercayai Tuhan dengan hati yang teduh, dengan tenang, dan bersandar kepada Tuhan, atau kita menjadi galau, khawatir, cemas, dan gusar. Keteguhan hati kita menunjukkan kepercayaan kita kepada Allah yang hidup. Masalah kita bisa datang dari pasangan hidup, orang tua, anak, saudara, orang dekat, orang jauh, atasan, bawahan, teman, sahabat, dan lain-lain. Tetapi ingat, kita memiliki Allah yang hidup, yang membela kita. 
    Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Mari kita belajar tidak membela diri. Itu tidak mudah, tetapi di situ kita memperhadapkan orang-orang yang memusuhi kita dengan Tuhan. Perhadapkan mereka dengan Tuhan. Jangan mengharapkan kecelakaan orang yang menyakiti atau merugikan kita. Perhadapkan mereka dengan Tuhan! Kita diam, mengampuni, dan mencari Tuhan; mempersiapkan diri menghadapi kekekalan atau menyongsong kekekalan, berkemas-kemas memasuki kehidupan yang akan datang dan tidak terganggu dengan masalah-masalah hidup yang dihadapi. 
    Kalau masalah itu datang dari pasangan hidup, memang itu berat. Banyak istri yang menghadapi masalah suami; yang jahat, yang sewenang-wenang, KDRT. Tidak bisa dibayangkan betapa sakitnya hati wanita yang dulu dicintai, kepadanya berjanji mencintai, tapi ternyata dikhianati, disakiti, dilukai secara fisik maupun batin. Tapi kepada para istri seperti ini, mari kita pandang Tuhan, berkemas-kemas pulang ke surga. Dunia bukan rumah kita. Hadapi dengan teduh dan tenang. Biarlah sang suami menghadapi Tuhan, artinya bawalah dia untuk berhadapan dengan Tuhan. Diam, diam, diam. 
    Kalau yang menyakiti kita adalah mertua, ipar, anak sendiri, orang tua sendiri, siapa pun, apalagi anggota keluarga,
    9 min
  • Pasangan Abadi
    Perhatikan ini, bahwa siapa pun dan apa pun yang dapat mendampingi atau menemani kita selama di dunia, harus kita lepaskan suatu saat. Tidak ada sesuatu atau seseorang yang dapat menjadi pasangan abadi. Pasangan abadi manusia hanyalah Tuhan. Di Perjanjian Lama, digambarkan hubungan Allah dengan Israel itu seperti pasangan. Di kitab Hosea, digambarkan Israel seperti wanita yang tidak setia kepada suaminya. Seperti wanita yang melacurkan diri, tetapi suami masih mau menerima. Demikian pula Elohim Yahweh, yang dengan tangan terbuka penuh belas kasihan, menerima kembali Israel yang berkhianat kepada-Nya. Hubungan Elohim Yahweh dengan umat, seperti pasangan. 
    Di Perjanjian Baru juga ditunjukkan kepada kita bahwa hubungan kita dengan Tuhan Yesus adalah hubungan mempelai. Dalam Efesus 5:22-33 dikatakan bahwa hubungan Kristus dengan kita itu hanya dapat digambarkan atau dianalogikan dengan hubungan suami istri. Jadi kesimpulannya, Tuhan adalah satu-satunya pasangan abadi yang harus dapat kita miliki sejak di bumi. Sering kali kita merenungkan dan terkagum dengan apa yang disaksikan oleh pemazmur di Mazmur 73:25, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Ayat itu jelas menunjukkan bahwa tidak ada pasangan abadi di dalam hidup seseorang, selain Tuhan sendiri. Tuhan satu-satunya pasangan abadi kita. 
    Di Perjanjian Baru, ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Lepaskan segala milikmu,” berarti kita tidak bermilik, selain Tuhan yang menjadi milik kita. Ketika Paulus mengatakan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Tim. 6:8), itu berarti tidak ada lagi yang perlu kita miliki. Tuhanlah yang harus kita miliki. Hanya orang yang berani melepaskan segala sesuatu yang bisa memiliki Tuhan dan dimiliki Tuhan. Melepaskan segala sesuatu bukan berarti lalu kita memberikan uang kita, harta kita kepada yayasan-yayasan sosial atau kepada gereja. Bukan demikian. Tetapi kita harus menghayati dan mengakui bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Jadi, yang pertama, segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan. 
    Yang kedua, segala sesuatu yang ada pada kita, atau apa pun yang belum kita miliki, tidak akan dapat membahagiakan kita. Sebab, yang dapat membahagiakan kita hanyalah Tuhan. Dengan Tuhan menjadi kebahagiaan, maka apa pun yang ada pada kita akan bisa membahagiakan kita. Kita bisa menjadi pasangan abadi kalau kita melepaskan segala sesuatu, kalau kita berprinsip, “Asal ada makanan dan pakaian, cukup.” Kalau kita bisa berprinsip, “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi,” barulah kita dapat menjadi pasangan abadi. 
    Bukan tanpa alasan kalau Rasul Paulus mengatakan dalam suratnya di 2 Korintus 11:3, “Tetapi aku takut kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Jadi, ada oknum licik yang harus diwaspadai! Yang oleh karenanya, oleh ilham Roh tentunya, Paulus takut. Kalau sampai Paulus mengatakan “takut,” ini bahaya! Ini sesuatu yang benar-benar membahayakan. Sesuatu yang bisa dengan licik, licin, cerdik, menipu banyak orang percaya sehingga tidak bisa menjadi pasangan abadi Tuhan. 
    Bilamana hal itu terjadi? Yaitu ketika kita menaruh perhatian kepada sesuatu atau seseorang lebih dari kecintaan kita kepada Tuhan, ketika kita menanti-nantikan sesuatu atau seseorang lebih dari kita menanti-nantikan Tuhan. Dan sering kita ini terjebak di situ. Kita menanti-nantikan, kita mengharapkan masalah ini selesai, kebutuhan ini terpenuhi, cita-cita ini tercapai, sebenarnya di situ seseorang berharap akan memperoleh kebahagiaan, sukacita, ketenangan atau kehidupan yang lebih nyaman. Tanpa sadar, kita telah mengkhianati Tuhan.
    Kalau hal itu terjadi atas orang-orang Kristen baru atau orang-orang yang masih muda, bisa dimaklumi. Tapi kalau kita sudah berumur,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…