Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Bertemu Muka dengan Muka
    Kita harus menguatkan iman kita dan terus menggoreskan di dalam jiwa kita, adanya realitas yang tidak kelihatan atau realitas ilahi atau realitas kekekalan. Dalam 2 Korintus 4:18 dikatakan, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Hal ini harus kita yakini, kita renungkan setiap saat, sehingga menjadi sesuatu yang riil. Yang tidak kelihatan itu, yang pertama, yang harus kita renungkan dan hayati adalah pengadilan Tuhan. 
    Renungkan, bayangkan kita ada di hadapan pengadilan Tuhan, yang itu pasti kita akan alami. Jangan berkata, “Itu nanti, Pak!” Justru itu nanti, syukur bukan sekarang. Tetapi karena nanti, maka kita harus mempersiapkan diri. Jangan ada dosa sekecil apa pun; dusta, kemunafikan, apa pun yang tidak dinilai baik oleh Tuhan, yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Lalu yang kita bayangkan dan renungkan adalah wajah Tuhan Yesus. Kita akan bertemu dengan Tuhan Yesus. Pasti! 
    Tuhan berkata di dalam Yohanes 14:2-3, “Aku pergi menyediakan tempat bagimu dan setelah Aku menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali menjemput kamu, supaya di mana Aku ada, kamu ada.” Kita pasti bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus. Coba bayangkan! Ini bukan sesuatu yang tidak akan terjadi atau mimpi. Ini pasti terjadi. Kira-kira apa reaksi Tuhan terhadap kita pada waktu itu? Ironis, tidak banyak orang Kristen yang membayangkan itu. Padahal, mestinya kita membayangkan hal itu. 
    Seperti seorang murid yang serius belajar, serius sekolah, dia membayangkan pada waktu ujian, soal apa yang bakal keluar. Lalu dia mencari bank soal dan memikirkan bahwa apa yang sedang dia pelajari itu akan keluar. Kalau kita bertemu Tuhan, soal apa yang kita sudah harus selesaikan? Sangat mengerikan, ketika bertemu dengan Yang Mulia, Tuhan kita Yesus Kristus. Jangan sampai Tuhan Yesus berkata, “Kamu tidak melakukan kehendak Bapa.” Kita bayangkan itu! Jadi, mumpung sekarang, bukan nanti! Perkarakan, soal apa yang kita belum selesaikan? Dosa, kemunafikan, apa pun, karakter buruk yang masih melekat di dalam diri kita, yang pasti Roh Kudus beritahu, kita harus selesaikan itu! 
    Terpisah dari hadirat Allah itu mengerikan. Tapi orang yang tidak bersama dengan Tuhan sejak di bumi hari ini, tidak mungkin bersama dengan Tuhan selamanya. Tidak ada dadakan! Waktu di bumi, hatinya menjauh dari Tuhan, lalu setelah meninggal dunia, bersama-sama dengan Tuhan. Tidak mungkin! Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajar kita Doa Bapa Kami, “Datanglah Kerajaan-Mu.” Ini sesuatu yang sulit, benar-benar sulit. Tetapi bisa, kalau kita serius dan sungguh-sungguh. Roh Kudus pasti menolong kita agar bisa selalu di hadirat Tuhan. Merenungkan, membayangkan Allah yang hidup sehingga Ia menjadi nyata! Ini realitas ilahi atau realitas yang tidak kelihatan. 
    Jika perenungan pertama ini sukses, artinya kita bisa menghayati kehadiran Tuhan setiap saat, maka kita memiliki hati yang takut akan Allah sehingga kita tidak mudah berbuat dosa, sampai tidak bisa berbuat dosa. Dan kita akan teguh dan kokoh menghadapi segala keadaan. Mungkin kita adalah orang yang terpuruk, dihina, diinjak, ditindas, direndahkan, dikhianati, dianggap dipandang seperti kotoran, tapi kalau kita bisa menghayati kehadiran Tuhan, kita kuat, karena Allah kuat!
    Tuhan melihat orang yang hatinya remuk. Tuhan melihat orang yang direndahkan, yang tertindas, yang tidak berdaya, yang lemah, yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, yang diam, seperti domba kelu. Tuhan pasti melindungi, karena Tuhan berkenan. Jadilah orang seperti itu, jangan memberontak. “Aku hina, Tuhan. Aku rendah, Tuhan. Aku tidak punya apa-apa, Tuhan. Aku berlindung kepada-Mu.” Tapi kalau orang kuat, kaya, punya relasi pejabat, merasa kuat, mungkin dia tidak akan berlindung kepada Tuhan. 
    Maka orang-orang yang dikasihi Tuhan seperti Yakub,
    9 min
  • Di Hati-Nya
    Kita harus dengan rendah hati mempertimbangkan, jangan-jangan kita sebenarnya masih terhilang dari hadirat Tuhan. Jangan sampai kita tidak mengenal diri kita sendiri. Kita merasa bahwa kita sudah ada di dalam rumah Tuhan, padahal kita ada di luar rumah Tuhan. Secara fisik ada di dalam gereja, secara organisasi menjadi aktivis, bahkan menjadi pendeta, tapi sebenarnya kita ada di luar hati Tuhan, di luar hati Bapa. Jadi, betapa mengerikan keadaan ini kalau sampai ternyata kita masih ada di luar hati Tuhan. 
    Orang yang belum ada di hati Tuhan adalah orang yang terhilang. Orang yang di luar hati Tuhan, pasti Tuhan juga di luar hatinya. Kita mungkin berkata, “Tuhan di hatiku,” mudah mengucapkan kalimat itu. Tapi coba periksa, apakah benar Tuhan di hati kita? Ingat, Tuhan tidak menginginkan sebagian hati kita; Tuhan menghendaki segenap, seluruh hati kita. Kalau kita hanya memberikan sebagian hati kita, Tuhan tidak ada di situ. Karena firman Tuhan mengatakan di Injil Matius 6:24 bahwa orang percaya tidak bisa, tidak boleh memiliki dua tuan. Hanya Tuhan satu-satunya Tuan kita, atau tidak usah sama sekali.
    Sebagai pendeta, pelayan jemaat, atau dosen Sekolah Tinggi Teologi, rasanya kita pernah melewati tahun-tahun di mana kita hanya memberi sebagian hati. Ada bagian di dalam hati kita—sekecil apa pun itu—yang kita berikan untuk yang lain, atau kesenangan pribadi. Sejatinya, itu berarti kita terhilang. Di dalam kesabaran hati Tuhan yang luar biasa, Tuhan menanti kita sadar seperti “anak terhilang” di Lukas 15; ditunggu kepulangan kita. Puji Tuhan, lewat pengalaman hidup, dalam perjalanan waktu, Tuhan menegur, Tuhan mengingatkan sehingga kita sadar bahwa ternyata kita terhilang. 
    Seperti anak bungsu yang ditegur melalui keadaannya, kemiskinannya, sampai ia harus menjadi penjaga babi. Padahal, bagi orang Yahudi, babi itu haram. Anak terhilang bukan hanya menjaga babi, melainkan makan makanan babi. Betapa rendahnya, betapa miskinnya! Orang yang tidak ada di dalam hati Tuhan adalah orang yang hina, yang rendah, yang miskin dalam pemandangan mata Tuhan, walaupun mungkin secara materi kaya. Ia tidak akan pernah ada ‘di pangkuan Abraham.’ Artinya, tidak akan pernah ada di tempat terhormat. Jadi, mari kita periksa diri kita, kita ini orang yang terhilang atau tidak. 
    Kalau kita mau menjadi orang yang tidak terhilang, jadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan; beri seluruh ruangan hati dan hidup kita hanya untuk Tuhan, bukan untuk yang lain! Mungkin orang menilai kita dengan berbagai penilaian. Jangan jadikan itu masalah. Justru hal itu memicu kita untuk bersungguh-sungguh dan menantikan pengadilan Tuhan. Kita terus merenungkan dan menghayati ada pengadilan Tuhan. Semua akan dibuka di hadapan Allah; siapa dan bagaimana kita masing-masing. Jadi, jangan memberi ruangan untuk siapa pun dan apa pun, apalagi untuk dosa! 
    Penebusan oleh darah Yesus atas hidup kita memberi konsekuensi bahwa segenap hidup kita adalah milik Tuhan. Tidak ada ruangan hidup, ruangan hati kita yang pantas diberikan kepada sesuatu atau seseorang. Semua hanya pantas, layak dipersembahkan bagi Tuhan! Jadi kalau kita masih terhilang, masih ada di luar hati Tuhan, ayo pulang! Ayo, balik dan bertobat karena Tuhan pasti tidak ada di dalam hati kita! Tuhan tidak akan ada di hati orang yang masih mendua. Ruangan hati kita harus sepenuhnya dipersembahkan bagi Tuhan. Ini persoalan besar. 
    Kita masih sering menyimpan berbagai kesenangan diri sendiri dan tidak memperkarakan hal tersebut berkenan di hadapan Tuhan atau tidak, hal ini menyenangkan Tuhan atau tidak. Sebab kita hanyut, tenggelam di dalam kesenangan-kesenangan itu dan berpikir itulah kebahagiaan kita. Tanpa itu, tidak bahagia. Mengerikan! Kita bersyukur kalau Tuhan mengingatkan kita pada kesempatan ini bahwa orang yang tidak menempatkan Tuhan secara benar di dalam hidupnya, tidak akan ditempatkan Tuhan secara benar juga di hati-Nya.
    8 min
  • Harus Dilatih
    Kita mau meninggalkan cara-cara beragama, yang hanya dibalut oleh liturgi, seremonial, yang mana itu merupakan permainan manusia dan penuh kemunafikan. Bukan berarti kita tidak lagi memiliki liturgi atau kebaktian seperti pada umumnya dilakukan gereja, kita masih memilikinya. Tetapi lebih dari itu, kita mau sungguh-sungguh mencari Tuhan dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kualitas dari pertemuan kita tidak ditentukan oleh kemampuan menyanyi, vokal, musik, dan lain sebagainya, yang menyangkut teknis, tetapi ditentukan oleh perjalanan hidup kita setiap hari, apakah kita sungguh-sungguh hidup dalam persekutuan dengan Tuhan atau tidak. Allah mencari orang-orang yang hatinya terus memiliki hubungan dengan Tuhan, dan itu bisa kita lakukan, dan memang harus kita lakukan.
     
    Terus terang banyak orang Kristen, termasuk sebagian kita, yang masih asing dengan Tuhan, sehingga Kerajaan Surga juga asing terhadap kita. Kita bertuhan hanya pada waktu kita ke gereja mengikuti liturgi, dan di gereja pun belum tentu seseorang itu fokus. Pada umumnya gagal fokus. Maka, mesti kita memiliki relasi dengan Tuhan setiap saat. Tidak ada wilayah blankspot dengan Tuhan. Selalu ada hubungan. Itu yang dimaksud Alkitab sebagai “Berdoalah tiada berkeputusan.” Doa tiada berkeputusan, bukan berarti kita hanya melipat tangan, berlutut di ruang doa, melainkan kita harus ada dalam kesadaran bahwa kita sedang menuju Rumah Bapa. 
     
    Kita adalah musafir-musafir yang sedang menuju Rumah Bapa, dan memang semua kita sedang ada dalam perjalanan, yang pasti kita akan ada di ujung perjalanan tersebut. Dan di akhir perjalanan hidup kita, kiranya kita disambut Tuhan, karena Kerajaan Surga mengenal kita. Jadi kita jangan hanya beragama Kristen, tetapi kita harus memiliki hubungan dengan Tuhan setiap saat, dan itu harus dilatih dari menit ke menit. Orang yang hidup di hadirat Tuhan, pasti beda; dalam sukacitanya, cahaya hidupnya, keberaniannya menghadapi pergumulan. Bagi seorang hamba Tuhan, ‘basahnya’ waktu dia berdoa atau menyanyi atau menyembah itu nampak. 
     
    Tanpa kita sadari, sering kita bersikap tidak setia kepada Tuhan. Puji Tuhan, walaupun kita tidak setia, Tuhan tetap setia. Dan sekarang, setelah kita mengerti hal ini, selain kita berkata “Jangan tinggalkan aku, Tuhan,” kita juga berkata kepada diri sendiri, “Jangan tinggalkan Tuhan.” Jangan tinggalkan Tuhan, bukan hanya tetap menjadi Kristen atau ke gereja, tapi setiap saat memiliki koneksi, memiliki hubungan dengan Tuhan. Sejatinya, kita mau cari apa sih hidup ini? Apa sih yang kita harapkan? Apa yang kita usahakan, kita upayakan, pada akhirnya akan kita lepas, atau harus dilepaskan.  Siapa pun yang ada di sekitar kita, yang kita miliki, dan merasa memiliki kita, juga harus dilepaskan. Ini bukan berarti kita berpikir fatalistik, karena kita tetap harus berpikir realistis. 
     
    Jadi, perkataan pemazmur itu luar biasa, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau?” Artinya, tidak ada yang akan kita bawa. “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Jangan berbagi fokus kepada apa pun dan siapa pun. Jadi kalau kita kerja, fokus kerja tentunya, tapi semua untuk Tuhan. Sebagai ibu rumah tangga, mengerjakan tugas sebagai ibu rumah tangga, tapi di atas fokus itu kita melakukannya semua untuk Tuhan. Kita harus menjadi anak-anak Allah yang benar-benar proper, yang benar-benar unggul. Dan itu harus dilatih. 
     
    Begitu bangun tidur, mulai menjaga mata kita, miliki tekad, “Hari ini aku mau berjalan bersama Tuhan, aku hidup di hadirat-Mu, Tuhan, aku hidup di hadapan-Mu,” dan itu harus menjadi kebahagiaan kita. Menatap hari yang baru, menyongsong hari yang baru, menapaki detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, sampai nanti kita akan tidur lagi pada malam hari, merebahkan diri di pembaringan, kita memiliki sukacita berjalan dengan Tuhan. Dan itu harus dilatih. Ini sesuatu yang tidak mudah,
    11 min
  • Tidak Takut
    Sejujurnya, percaya kita kepada Allah sering tidak bulat. Apalagi pada kondisi-kondisi sulit, kadang-kadang Tuhan seperti tidak membantu pekerjaan-Nya. Sering Tuhan seakan-akan tidak mau mengerti kesulitan pekerjaan-Nya. Tetapi di situ Tuhan mau melatih kita untuk menaruh percaya kepada-Nya. Tuhan hanya mau berkata, “Lebih dari semua penyelesaian masalah yang bisa Kubuat, Aku mau hatimu bulat percaya kepada-Ku tanpa curiga.” Kita pasti punya kesulitan, tapi maukah kita menyandarkan kepala kita di bahu Tuhan? 
    Kalau kita sungguh-sungguh memercayai Allah itu hidup dan ada, akhiri jalan hidup kita di hadapan Tuhan. Akhiri jalan kita di hadirat Alllah. Berdoalah, mintalah, mulai hari ini berjalan dengan Tuhan. Lalu katakan, “Jika ada sesuatu dalam hidupku yang membuat Engkau tidak nyaman, aku bersedia membuang dan melepaskannya.” Lakukan, jangan menyentuh dosa, jangan sembarangan hidup. Maka kalau kita melihat gadget dan melihat ada hal-hal yang tidak patut dilihat, lewati. Karena kita tahu, Tuhan tidak berkenan. Kita tidak mau membuat Tuhan tidak nyaman dalam hidup kita. Berurusanlah dengan Tuhan.
    Jangan main-main. Ketepatan, akurasi dalam seluruh tindakan, kita pelajari tahap demi tahap. Tidak bisa dalam satu hari. Kita berjalan dengan pasangan hidup kita saja perlu waktu untuk bisa penyesuaian. Penyesuaian dengan Tuhan juga perlu waktu karena ada kodrat dosa dalam diri kita. Berjalan dengan Roh Kudus, ikuti kehendak Roh. Kalau kita hidup menurut Roh, barulah kita menjadi anak-anak Allah. Jika tidak, kita bukan anak-anak Allah. Jadi, sebutan sebagai anak-anak Allah bukan hanya status, melainkan keberadaan di mana kita punya ketepatan, akurasi bertindak selalu sesuai dengan kehendak Allah. 
    Sebagai hamba Tuhan, sejujurnya, kita masih sering meleset; bukan hanya pada waktu sehari-hari, tetapi di mimbar pun kita sering meleset. Tuhan tegur, “Waktu kamu bicara demikian kamu berlebihan, waktu bicara itu tidak tulus, waktu kamu bicara itu kamu membanggakan diri, waktu kamu bicara begitu kamu menyerang orang.” Lalu kita mulai bertanya, “Tuhan, saya harus bagaimana supaya saya tidak meleset?” Jawabnya adalah kalau hidup keseharian kita tidak meleset, di mimbar pun kita tidak akan meleset. Kalau di hari-hari kita tulus, maka di mimbar juga akan tulus. Kalau hari-hari hidup kita melihat jemaat dengan penuh kasih, maka kita juga berkhotbah dengan kasih.
    Kita harus menyesuaikan diri dengan Tuhan, bukan Tuhan yang menyesuaikan diri dengan kita. Kita menyinkronkan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Maka, kalau kita percaya Allah hidup, berjalanlah dengan Dia, sehingga waktu kita meninggal, tidak ada takutnya sama sekali. Kalau warna hidup kita putih di bumi, maka warna kita juga akan putih di surga. Jadi kalau sekarang warna hidup kita coklat, jangan mimpi masuk surga. Tetapi kalau kita berjalan dengan Tuhan, ketika kita memiliki keadaan yang tidak berkenan, Tuhan pasti bicara. Jiwa kita terganggu. Hobi-hobi yang tidak patut kita lakukan, kebiasaan-kebiasaan apa yang Tuhan tidak berkenan, Tuhan pasti akan beri tahu.
    Tidak ada berkat yang lebih besar selain Tuhan sendiri. Maka, miliki Tuhan, yakini Dia hidup, Dia hadir dan alamilah perjumpaan dengan Dia setiap hari dalam kesucian hidup. Duduk diamlah berjam-jam di kaki Tuhan. Paling tidak 30 menit meditasi di rumah. Allah harus menjadi riil dalam hidup kita. Dan orang yang mengalami Tuhan, pesona hidupnya luar biasa. Temui Tuhan setiap hari. Kuatkan hati memercayai Dia.  Jangan mencurigai Tuhan walau dalam keadaan-keadaan sulit, karena Tuhan sering mengizinkan kita dalam keadaan sulit supaya kita mempunyai hati yang percaya dan itu memuliakan Tuhan. 
    Allah menjanjikan anak kepada Abraham sebanyak bintang di langit, tetapi Allah memberikan anak setelah 25 tahun penantian. Dan setelah punya anak, disuruh menyembelihnya, tetapi Abraham tidak ragu melakukan. Kiranya pemulihan hidup kita terjadi ketika kita berjalan bersama dengan Tuhan.
    9 min
  • Pemulihan Kehidupan
    Yakobus 4:8, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! Dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!”
    Kalau hidup kita tidak benar-benar jujur, tidak benar-benar suci, kita mendua. Maka kita tidak layak mendapat sesuatu dari Tuhan. Kalau kita masih tidak memercayai Allah, berarti kita masih mendua. Tuhan sering membawa kita dalam keadaan sulit. Namun dalam situasi sulit, kita harus tetap tenang. Percaya kita dibuktikan dengan kesucian hidup. Percaya kita ditunjukkan dengan mencari Allah, Dia hidup dan kita menemui Dia setiap hari. Kita akan bisa duduk berlama-lama di hadapan-Nya karena tahu bahwa Dia hidup. Kita tidak bicara kepada angin, tidak bicara ke ruang kosong karena Allah itu hidup. Kalau kita mau hidup suci, kita harus mencari Allah, dan menyediakan waktu untuk bertemu dengan Dia. Bukan hanya 5 atau 10 menit seperti menelepon orang, tetapi harus duduk diam. 
    Maka, kalau kita percaya Allah itu ada, kita tidak khawatir, tidak takut. Belajarlah memercayai diri bahwa Allah mengontrol segala sesuatu. Kalau kita naik pesawat dan mengalami turbulance, itu latihan untuk kita tenang. Kalau pesawat ini tidak mendarat di bandara, pasti mendarat di langit baru bumi baru. Yakin dan belajar percaya. Selalu kita mengagumi Abraham karena percaya yang luar biasa dan itu menjadi inspirasi. Orang yang memiliki percaya yang benar dan hidup adalah dia menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya. Ini menjadi tidak masuk akal bagi kebanyakan orang karena mereka tidak mengalami. 
    Kita harus masuk dalam persekutuan dengan Allah, kesucian hidup, hidup di dalam doa, menguatkan hati dalam setiap keadaan, sehingga kita mengerti bahwa Dia kebahagiaan satu-satunya. Kita akan menjadi manusia yang tangguh dan ini harus dialami bahwa Allah itu hidup. Dunia berguncang terus tiada henti, namun Allah tidak terguncangkan. Lalu, kenapa kita tidak bergantung pada Tuhan? Akhiri jalan hidup kita yang kurang bermanfaat, cari Tuhan saja. Ayo kita mencari Tuhan, merendahkan diri di hadapan Tuhan setiap hari. 
    Tidak ada yang lebih membahagiakan hati seorang pelayan Tuhan selain bisa memperkenalkan Tuhan dalam hidup jemaat. Bukan hanya mengajarkan tentang Tuhan, tetapi benar-benar menunjukkan bagaimana Tuhan hidup dalam dirinya dan mereka melihatnya. Hidup para hamba Tuhan harus menjadi kehadiran Tuhan. Jangan berbuat dosa. Harus hidup dalam kekudusan. Setiap kata yang diucapkan harus teduh. Sering kali Tuhan akan mengizinkan berbagai masalah supaya terang kita menyala. Ada yang dimusuhi, difitnah, dimarahi orang, namun kita harus teduh. Di situ kita baru bisa memancarkan keagungan Tuhan.
     
    Bumi penuh kemuliaan-Nya bukan karena ada bulan, bintang, marga satwa, gunung, lautan, bunga dengan aroma dan warnanya, tetapi hidup kita menjadi kemuliaan Allah. Bumi penuh kemuliaan Allah melalui hidup kita; dari salam sapa kita, etika hidup kita, hormat kita kepada orang tua, peduli kita kepada orang susah, ketulusan kita memberi penghiburan kepada orang yang sudah dan tertindas. Di situ bumi penuh kemuliaan Allah lewat hidup kita.
    Kantong kita bisa melarat, tetapi mental kita jangan melarat. Mari kita akhiri jalan hidup kita di hadirat Tuhan. Tidak ada tempat yang nyaman. Ini kita lakukan bukan hanya sekadar agar jalan hidup kita di bumi lancar, pekerjaan bagus, usaha diberkati, semua dalam keadaan sehat, bukan hanya itu. Tetapi agar kita terbimbing untuk menuju langit baru bumi baru. Tidak ada yang kita nantikan selain kedatangan Tuhan yang membawa kita ke Rumah Bapa. Itu yang seharusnya menjadi pengharapan kita. 
    Kalau kita tidak merindukan pulang ke Rumah Bapa, berarti ada yang salah dalam hidup kita. Berurusanlah dengan Allah, Dia hidup. Setiap kita pasti banyak masalah. Kita tidak perlu minta tolong Tuhan kalau kita sudah berurusan dengan Tuhan secara benar, sebab kita tidak akan dipermalukan. Kita akan melihat jejak Tuhan yang luar biasa dalam hi...
    9 min
  • Keagungan Hidup
    Kalau kita membaca Alkitab, orang-orang yang berurusan dengan Tuhan, tidak dipermalukan, diberkati, dilindungi, bahkan diberi kelimpahan. Tentu untuk umat Perjanjian Baru, agak berbeda karena umat Perjanjian Baru memang mendapat tugas dari Allah Bapa untuk meneruskan karya keselamatan dalam Yesus Kristus. Mungkin dari lahir sampai meninggal hidup dalam aniaya atau penderitaan, tetapi itu hanya terjadi pada zaman Kristen mula-mula dan tidak terjadi di zaman yang lain. Mengapa demikian? Karena kekristenan baru muncul dan masih sangat muda, maka Tuhan menjaga dan memelihara iman kristiani itu dengan penganiayaan. Alkitab mengatakan, penderitaan membuat seseorang berhenti berbuat dosa. 
     
    Orang-orang non Kristen, orang-orang kafir atau orang-orang yang beragama Yahudi, masuk Kristen dengan karakter atau watak buruk yang mereka miliki sebelum menjadi Kristen, harus disempurnakan Tuhan melalui penderitaan. Dengan demikian, kekristenan terpelihara. Ini digambarkan dalam Wahyu 12 di mana wanita itu menggambarkan gereja Tuhan atau iman Kristen yang dipelihara di padang gurun. Padang gurun tidak pernah berbicara keadaan nyaman. Tetapi itulah pemeliharaan Allah atas kekristenan. Tetapi itu hanya berlaku pada gereja awal sekali, pada abad ke-1 dan pertengahan abad ke-2. Setelah itu, kekristenan mulai diterima. 
     
    Ini kasus khusus. Orang-orang Kristen pada abad awal dan pertengahan abad ke-2 adalah orang-orang Kristen yang mendapatkan hak istimewa yang tidak akan pernah mereka sesali di kekekalan. Jadi kita harus mengerti mengapa kekristenan abad pertama dan abad kedua itu mengalami aniaya. Pada intinya, orang-orang yang berurusan dengan Allah, tidak dipermalukan. Dari zaman Abraham dan semua tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama, tidak dipermalukan. Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel, Ester, Daud, dan semua yang berurusan dengan Allah itu tidak dipermalukan. Karena Allah memang hidup, Allah itu ada. Tuhan Yesus yang mulia, Juru Selamat kita berkata, “Aku datang untuk memberi hidup dan mereka memilikinya dalam segala kelimpahan.” 
     
    Tentu kata kelimpahan di sini harus dipahami dengan benar, tidak harus mobil atau rumah mewah atau uang banyak. Tetapi pada intinya, kehidupan orang yang benar-benar berurusan dengan Tuhan, tidak dipermalukan. Hidupnya harus mempesona, agung. Orang Kristen di abad pertama dan kedua, walaupun teraniaya, hidup mereka agung. Akhirnya kekaisaran Roma ditaklukkan oleh orang-orang Kristen yang disembelih, dipancung, dibakar hidup-hidup, tetapi mereka diam. Pasti ada pesonanya. Sekarang kita tanya kepada diri kita masing-masing, apakah hidup kita punya pesona? Bagaimana kita bisa bersaksi, bagaimana kita bisa berkhotbah, bagaimana kita bisa mengajar kalau hidup kita tidak mempesona, tidak ada keagungan? 
     
    Memang keagungan yang dimiliki oleh orang percaya yang benar, tidak selalu dapat dilihat. Karena orang-orang yang bengkok hatinya, mereka tidak akan dapat melihat kemuliaan Allah dalam kehidupan orang Kristen yang benar. Bahkan mereka sengaja akan membusuk-busukkan orang Kristen yang benar. Tetapi, yang jelas orang yang berurusan dengan Tuhan, tidak akan dipermalukan, pasti hidupnya mempesona. Jadi kalau hidup kita tidak mempesona, tidak ada sesuatu yang istimewa, ada yang salah dengan hidup kita ini, ada yang keliru. “Aku datang untuk memberi hidup,” kata Tuhan Yesus, supaya mereka memiliki hidup itu dalam segala kelimpahan.  
     
    Kalau kita sebagai pendeta atau hamba Tuhan, tidak menikmati atau tidak mengalami kelimpahan itu, maka kita tidak bisa membagikan kepada jemaat, kita tidak bisa menularkannya kepada jemaat. Jemaat yang tidak memiliki kemuliaan Allah tersebut, dia juga tidak bisa membagikan kepada orang lain. Itu berarti dia tidak menjadi saksi. Padahal Tuhan Yesus berkata, “Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu”. Maka, pasti ada yang salah dalam berurusan dengan Tuhan. Yakobus 1:8 mengatakan, “Sebab orang yang mendua hati,
    9 min
  • Mengakhiri Jalan Hidup
    Kalau Tuhan mengajar kita dan menghendaki kita mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, akal budi, dan kekuatan, itu memang berarti kita tidak boleh memberikan ruangan hati kita, ruangan jiwa kita untuk siapa pun dan apa pun. Untuk kesenangan kita sendiri dalam bentuk kehormatan, pujian, sanjungan, benda-benda materi atau apa pun. Bahkan pasangan hidup, orang tua, anak, keluarga tidak boleh ‘menyaingi’ Tuhan di dalam hidup kita. Dan ini satu hal yang mutlak. Hanya Roh Kudus yang dapat menolong kita untuk menjadikan Dia sebagai Tuhan kita dan untuk menjadikan Allah, Bapa kita, Bapa yang kita hormati, yang bagi-Nya kita hidup.
    Kita harus sungguh-sungguh menempatkan Tuhan di atas segala-galanya dalam hidup ini. Dan hanya Roh Kudus yang bisa menolong kita melakukan hal ini. Suatu hari kita pasti meninggal dunia. Dan semua kita tahu bahwa tidak ada selembar benang pun yang kita bawa, tidak ada sekeping uang pun yang kita bawa. Pemazmur menunjukkannya dengan mengatakan dalam Mazmur 73:25, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” 
    Kalau kita yang masih muda bisa melakukan hal ini, maka kita pasti akan menjadi sangat luar biasa. Roh Kudus yang menuntun bagaimana kita menjadikan Tuhan sebagai segalanya dalam hidup. Hari esok kita pasti menjadi orang-orang yang terberkati, terlindungi, dan tidak akan dipermalukan. Bagi kita yang sudah berumur, mestinya kita benar-benar mengosongkan bejana hati kita agar tidak ada kesenangan dan kebahagiaan apa pun dalam hidup ini selain Tuhan. 
    Jika Tuhan menjadi satu-satunya kebahagiaan kita, maka Tuhan akan menjadikan siapa pun dan apa pun di lingkungan kita dalam hidup kita sebagai kebahagiaan kita. Sebab kebahagiaan kita bukan terletak pada pasangan hidup, orang tua, anak, famili, keluarga besar, sahabat atau benda-benda materi seperti mobil, rumah, perhiasan, perlengkapan hidup, kehormatan, pujian, sanjungan. Bukan itu! Maka kita harus mengakhiri jalan hidup kita, menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup ini. Suatu hari dunia akan menjadi lautan api. Itu mengerikan!  
    Gunung berapi saja dalam lokasi tertentu, mengerikan, kalau sudah awan panas menyembur, langit menjadi gelap, hujan abu. Mengerikan! Apalagi pada waktu kedatangan Tuhan nanti, yang di dalam 2 Petrus 3:10-11, “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.”
    Pada waktu itu baru orang sadar betapa yang diperlukan, yang dibutuhkan hanya Tuhan. Kita akan ngeri jika membayangkan orang-orang yang sekarang pelit untuk sesamanya, tetapi royal dan boros untuk dirinya sendiri. Kalau dia mau beli apa, dia beli. Dia mau mencapai apa, dia lakukan. Tetapi, untuk sesama dia begitu pelit, begitu perhitungan. Orang yang mengumpulkan kesenangan, kekayaan bagi dirinya sendiri, tapi tidak pernah mau mendengar Tuhan bicara apa, tidak pernah menemukan apa rencana Allah di dalam hidupnya. Ada orang-orang yang sampai tidak bisa dinasihati karena dia tidak peduli pekerjaan Tuhan. 
    Kita bisa mengerti, mungkin dia tidak menemukan gereja yang bisa dipercayai atau pendeta yang bisa dipercayai, sehingga dia tidak mau melepaskan hartanya untuk pekerjaan Tuhan. Atau mungkin dia tahu ada pendeta-pendeta baik yang bisa dipercayai untuk menjalankan pekerjaan Tuhan, tetapi hatinya telah tertutup terhadap sesamanya. Betapa mengerikan orang-orang ini. Suatu hari ketika dia melihat kekekalan yang dahsyat, dia tidak layak bersama dengan Tuhan, karena pada dasarnya yang disembah bukan Tuhan, tapi harta, kekayaannya. Kemuliaannya adalah benda-benda di sekitarnya. Apakah itu tas yang ditenteng, apakah itu arloji yang dikenakan, apakah itu mobil yang dikendarai, atau pakaian yang dipakai.
    8 min
  • Memiliki Pikiran Perasaan-Nya
    Tidak ada hal yang boleh lebih menarik atau kita pandang lebih berharga daripada menjadi anak-anak Allah. Jadi kita mulai bisa berkata, “Cita-citaku menjadi anak Allah.” Jangan merasa sudah menjadi anak-anak Allah, tetapi coba periksa, selidiki, minta Roh Kudus pimpin, apakah kita sudah memiliki sifat anak-anak Allah itu. Tentu sebagai manusia kita sering menilai orang, mengevaluasi orang, atau seperti menghakimi: kenapa orang ini buat begini, kenapa orang itu buat begitu? Tapi mari kita kenakan pada diri sendiri, bagaimana saya? Jangan-jangan kita tidak lebih baik dari dia. 
    Di situ kita menemukan “si aku” yang belum dimatikan. Padahal kita mengerti bagaimana harus terus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya. Sampai kita betul-betul menjadi profil manusia yang luar biasa, yang itu pasti akan dirasakan oleh orang lain. Di tengah-tengah kita mengagungkan, mengumandangkan kasih Allah, puaskah Tuhan melihat kita? Apakah kasih Allah telah kita miliki dan kita salurkan kepada sesama? Sehingga perasaan tidak menginginkan seorang pun binasa bukan hanya dimiliki Tuhan, melainkan juga kita miliki. 
    Kalau Allah memberikan Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus, maka kita pun rela memberikan apa pun demi keselamatan sesama. Suami istri akan rela berkorban apa pun untuk pasangan, anak-anak, orang tua, mertua. Suami istri rela berkorban, rela mengalah demi keutuhan rumah tangga, demi kebersamaan. Kalau kita sampai pada perasaan tidak menginginkan seorang pun binasa, pasti kita akan jauh lebih menghormati orang tua, mertua dan mengasihi mereka secara benar. Mengerikan kalau kita tidak berubah. Kita harus takut, kalau kita meninggal masih ada unsur-unsur “si aku” yang belum dipatahkan, belum digilas habis. 
    Walau kita sudah berjuang sungguh-sungguh, sejatinya, betapa sulitnya membunuh manusia lama kita. Namun ketika kita makin dipenuhi oleh firman, yaitu lewat perjalanan hidup, maka Roh Kudus bicara. Kita memiliki perasaan Tuhan, kita pasti tahu itu perasaan Tuhan, sebab itu beda dengan perasaan kita sebelumnya. Misalnya, dulu kita bisa mengampuni, sekarang juga bisa, tapi beda. Ketika kita merasakan kasih terhadap seseorang dan kita mau membela orang itu. Dulu juga bisa begitu, tapi kali ini beda. Kita bisa merasakan pikiran perasaan Allah yang dialirkan dan kita juga menikmatinya. 
    Jangan sampai waktu ini berlalu, namun kita gagal mengenakan kehidupan Yesus. Cita-cita kita adalah menjadi anak-anak Allah; memiliki gelar anak-anak Allah dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya. Kalau hari ini kita mengagung-agungkan kasih Allah tanpa meneruskan kepada sesama, itu tidak membahagiakan Tuhan. Keindahan, sukacita, damai yang dimaksudkan Tuhan baru kita nikmati kalau kita memiliki pikiran perasaan-Nya. Tidak mungkin kita bisa menikmati damai Tuhan tanpa memiliki pikiran dan perasaan-Nya, “Damai sejahtera Kuberikan kepadamu, damai sejahtera yang Kuberikan tidak sama seperti yang diberikan dunia ini.” 
    Sampai kita menjadi anak-anak Allah dengan karakteristik anak-anak Allah, dengan sifat anak-anak Allah, barulah kita sah sebagai anak-anak Allah; itu luar biasa. Itu lebih dari menjadi seorang presiden, atau seorang anak konglomerat. Dan nanti kita akan menikmati damai itu, kita bisa menikmati kasih yang kita berikan kepada orang lain. Mungkin kita belum bisa memberi uang, tapi kita punya beban terhadap jiwa-jiwa, ada kebahagiaan yang mengalir. Ketika kita melihat orang yang pernah kita tolong, lalu hidupnya berubah, kita bisa menangis, kita punya perasaan yang bahagia. 
    Yang kita butuhkan hanya Tuhan. Tapi siapa yang mau dengar prinsip seperti ini, hidup tidak wajar? Kita memang tidak boleh wajar hidup di mata dunia. Dan kita tidak mungkin hidup wajar karena hidup yang kita kenakan adalah hidup anak-anak Allah yang sama sekali tidak dikenal dunia. Kalau mereka mengenal, mereka tidak akan menyalibkan Yesus, demikian firman Tuhan. Kita mau membangun komunitas anak-anak Allah dengan standar hidup anak-anak Allah...
    8 min
  • Menggerakkan Perasaan Allah
    Menjadi kehendak Tuhan, bagaimana kita meneruskan kasih-Nya kepada orang di sekitar kita. Dan itu bisa terjadi dalam hidup kita kalau kita mematahkan, mematikan, membuang ego, keinginan-keinginan kita sendiri, dan menggantikannya dengan keinginan-keinginan Tuhan. Tentu tidak sekaligus kita bisa berubah. Ini perlu proses. Tidak bisa satu hari, tidak cukup satu bulan, bahkan satu, dua tahun, tetapi lewat proses panjang yang akhirnya kita bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”
    Tetapi kalau kita tidak mulai bergerak, tidak mulai berubah sejak sekarang, maka kita tidak akan pernah bisa mengenakan kehidupan Yesus di dalam diri kita. Itu berarti kita tidak pernah layak disebut sebagai anak-anak Allah, karena anak-anak Allah adalah gelar yang terhormat. Hanya orang-orang yang benar-benar memenuhi syarat sebagai anak-anak Allah dengan mengenakan sifat-sifat anak Allah yang layak menjadi anak-anak Allah. Ironis, selama ini begitu murahnya sebutan itu. 
    Kalau kita mengenakan sifat-sifat Anak Allah, maka di situlah baru kita bisa menjadi seorang yang menggerakkan perasaan Allah. Perasaan kita sinkron dengan perasaan Allah, kita memperhatikan dan mengasihi orang lebih dari filosofi orang pada umumnya. Kalau kita lihat anak perempuan, kita bayangkan itu anak kita. Kalau kita lihat anak laki-laki, seakan-akan itu anak kita. Lihat orang tua, bayangkan dia papa mama kita. Dengan begitu kita bisa memiliki belas kasihan, tapi itu masih standar dunia. Tentu itu baik, tentu itu berharga dan baik di mata Bapa. Tapi lebih dari itu, Tuhan menghendaki kita menggerakkan perasaan kita sesuai dengan perasaan Allah. 
    Kita mengenakan perasaan Tuhan, sehingga ketika kita melihat seseorang, kita menerjemahkan perasaan Tuhan untuk orang tersebut. Kalau orang bercita-cita mau menjadi dokter, insinyur, politisi, pejabat tinggi, mengapa kita tidak bercita-cita menjadi anak-anak Allah? Kesalahan umum yang terjadi adalah seakan-akan gelar anak-anak Allah itu sudah kita miliki secara otomatis. Dan ini kesalahan yang bisa fatal. Orang menganggap bahwa dirinya sudah menjadi Kristen, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka otomatis dia menjadi anak-anak Allah. Sehingga tidak perlu diperjuangkan, karena itu sudah melekat secara otomatis. 
    Biasanya, orang mengambil dasar dari Yohanes 1:12-13, “Siapa yang menerima-Nya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” Yang kita terima itu bukan Yesus yang kita akui secara status sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, yang kita terima adalah firman atau logos. Logos itu metonimia Allah yang jika diserap, dikenakan dalam hidup, maka “orang mengalami kepenuhan Allah.” Yesus mengalami kepenuhan Allah karena logos masuk dalam daging-Nya Yesus. Kepenuhan akan Allah bukan hanya dialami oleh Yesus, melainkan juga dapat dialami orang percaya. Sehingga sifat-sifat Allah merasuk di dalam diri kita. 
    Kalau sifat-sifat Allah merasuk dalam diri kita, jelas kita menjadi anak-anak Allah; satu gen dengan Allah, seperasaan dan sepikiran dengan Allah. Itulah sebabnya di dalam firman Tuhan kita menemukan bahwa orang percaya akan dimuliakan bersama-sama Yesus. Jadi, menjadi Kristen itu luar biasa. Kalau orang pada umumnya menolong sesama karena ada perintah: “Tolonglah dia, perhatikan dia.” Tapi kalau pikiran perasaan Allah merasuk di dalam diri kita, maka itu sudah menjadi irama kita secara otomatis. Tanpa kita memerintahkan diri kita untuk mengasihi orang, otomatis kita mengasihi. 
    Kita tidak mungkin bisa mencuri, tidak mungkin kita bisa membenci, kita tidak bisa berzina, tidak bisa menyakiti orang, karena menjadi kodrat, dan itulah yang disebut sebagai moralitas kesucian Allah. Jadi yang penting, apakah hidup kita telah mengenakan pikiran perasaan Allah, sudah menjadi anak-anak Allah yang meneruskan kasih ini kepada sesama? Meneruskan bukan karena kita mendapat perintah, bukan karena ada aturan, melainkan karena kita punya naluri.
    9 min
  • Berpikir Dewasa
    Berpikir dewasa artinya memandang Tuhan dan mengusahakan bagaimana kita membalas kebaikan Tuhan dan meresponi kasih Tuhan. Bukan hanya mengumandangkan kasih-Nya, mengucap syukur, mengelu-elukan Yesus yang lahir di kota Betlehem, mengagung-agungkan kebaikan Allah. Sudah tentu itu tidak salah. Tetapi ada satu langkah lagi yang mestinya kita lakukan sebagai orang percaya—yang mestinya harus akil balik, harus dewasa—yaitu meneruskan kasih kepada sesama dengan kasih seperti yang Allah berikan kepada dunia ini. Ini tidak berlebihan, sebab mengasihi sesama bukan hanya dikenal oleh orang-orang Kristen. Agama-agama di dunia juga mengajarkan kasih, belas kasihan, kebaikan dan kemurahan terhadap sesama. 
    Apakah kekristenan hanya memiliki kasih seperti itu? Jika hanya demikian, maka tidak perlu Yesus datang ke dunia. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita, artinya Allah mau mengembalikan kita menjadi model manusia seperti yang Dia inginkan, model manusia sesuai yang Allah inginkan. Dengan kualitas emosi, perasaan yang di dalamnya juga kasih, sesuai dengan standar manusia yang dikembalikan ke rancangan Allah semula tersebut. Kiranya ini bukan hanya menjadi pengetahuan yang ada di dalam pikiran kita sehingga kita berfantasi teologi, berfantasi ajaran. Namun, kita benar-benar mengalami apa artinya menjadi manusia yang dibarui, di mana semakin hari kita semakin menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula tersebut dan kita memiliki gerak emosi, gerak perasaan dan seluruh tindakan sesuai dengan standar manusia baru, sesuai dengan standar manusia yang dirancang Allah tersebut. 
    Jadi jangan kita merasa bahwa kekristenan kita sudah selesai sampai di sini. Kita harus menjadi Kristen yang benar-benar memperagakan kehidupan anak-anak Allah dengan seluruh geraknya, gerak hidup anak-anak Allah sesuai dengan standar manusia rancangan Allah semula. Sebagai orang-orang yang dipilih oleh Allah menjadi umat pilihan, kita telah ditentukan standarnya (Ef. 1:4-5). Hal ini bukan sekadar sebutan kosong, melainkan mengandung gelar anak-anak Allah dengan sifat-sifat yang harus dipenuhi sebagai anak-anak Allah. Maka, jika kita benar-benar menyandang gelar sebagai anak-anak Allah dan memenuhi sifat anak-anak Allah di dalam hidup kita, pasti gerak hidup kita adalah gerak hidup anak-anak Allah. Dan itulah yang memuaskan hati Allah. 
    Jadi kalau Alkitab mengatakan berulang-ulang Yesus menjadi yang sulung, secara implisit atau di balik kalimat tersebut ada tuntutan bahwa kita harus mengikuti jejak-Nya, jejak Anak Allah. Seperti Yesus menyandang gelar Anak Allah dan layak menyandang gelar itu dengan mengenakan sifat-sifat Anak Allah yang ada di dalam-Nya, kita juga menyandang gelar anak-anak Allah, layak menyandang gelar itu dengan sifat-sifatnya, dan salah satu sifatnya adalah mengasihi sesama. Kalau kita mengenakan sifat yang sama, maka kita juga akan memandang orang dan tidak menginginkan seorang pun binasa. Tidak cukup kita mengumandangkan kasih Allah, tetapi kita juga harus memiliki tindakan kasih yang nyata.
    Seperti kasih Allah kepada manusia, demikian pula kita meneruskan kasih ini kepada sesama. Dan Allah sungguh menghendaki ini berlaku di dalam hidup kita. Sejujurnya, sering kali kita tidak memenuhi hal ini dengan baik. Sebab banyak orang yang fokusnya pada diri sendiri, bukan kepada orang lain. Jadi kita tidak heran kalau ada orang Kristen lebih bengis dari orang non-Kristen; lebih tidak berbelas kasihan terhadap sesama dibanding orang-orang non-Kristen. Bagaimana dengan kita? Kasih yang kita miliki mestinya lebih dari itu, kasih Allah yang ditaruh di dalam diri kita. “Seperti Bapa mengutus Aku,” kata Tuhan Yesus. “Aku mengutus kamu.” Bukankah ini sama dengan, “Seperti Aku menerima mandat dari Bapa untuk mengasihi kamu, maka dengan kasih yang sama, kamu teruskan ini untuk orang lain.” Dan itu satu hal yang pasti memuaskan hati Bapa di surga. 
    Jangan sampai waktu menutup mata,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…