Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Bisa Dinikmati Tuhan
    Berhubung manusia sudah jatuh dalam dosa, maka manusia diberi hukum, supaya tidak rusak total. Kita harus berhubungan terus dengan Allah, masuk sekolah kehidupan yang dilatih Roh Kudus untuk menjadi anak-anak Allah. Kita harus memahami yang namanya firman Tuhan itu bukan hanya yang tertulis, melainkan firman yang kita makan setiap hari yang keluar dari mulut Allah; “Sebab manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Artinya, kalimat yang diucapkan Allah yang keluar dari hati-Nya. Kalau Tuhan berbicara terus kepada kita, pasti sesuai dengan konteks hidup yang kita alami, sehingga kita menjadi manusia sesuai dengan yang dikehendaki Allah. 
    Kalimat “kasihi musuhmu,” secara pengertian nalar atau secara kognitif pasti kita tahu, tapi masalahnya musuh kita itu siapa? Bisa kepala bagian, mertua, pasangan hidup, bisa siapa saja. Bagaimana mengimplementasikan firman tersebut? Mengasihi musuh dikenakan atau diimplementasikan dalam menghadapi berbagai masalah yang terkait dengan permusuhan itu. Bagaimana kita menghadapi pasangan hidup yang memusuhi tentu berbeda dengan menghadapi tetangga. Bagaimana juga kita bertindak presisi terhadap mertua, rekan kerja yang mau menjatuhkan kita, di situ Roh Kudus akan menuntun kita bagaimana mengimplementasikannya. 
    Roh Kudus pasti melatih kita dan ini hanya untuk orang yang mengasihi Tuhan, karena Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Jadi, kita harus mau mengasihi Tuhan, sebab dari hati yang mencintai Tuhan, kita mau memuaskan hati-Nya. Dari hati yang memuaskan hati Bapa di surga, kita bisa dinikmati Tuhan. Jadi kalau Tuhan Yesus berkata, “Aku tidak kenal kamu,” berarti Tuhan tidak bisa menikmati kita. Kalau standar agama Yahudi, mereka melakukan hukum itu sudah cukup untuk bisa dinikmati oleh Tuhan. Namun, bagi umat Perjanjian Baru, melakukan hukum itu belum cukup memuaskan hati Allah. 
    Jadi, kekristenan yang sejati adalah kehidupan Yesus yang diperagakan, namun ini sudah hilang. Sekarang kita mau menemukannya, maka kita harus bekerja keras untuk bisa menjadi teladan. Kalau kita bisa berpikir soal kekekalan, coba kita menutup mata dan renungkan bahwa kita datang tidak membawa apa-apa, tetapi selama hidup kita sudah belajar untuk bisa memiliki kemampuan bertindak presisi seperti yang Allah kehendaki yang merupakan harta abadi kita. 
    Jadi, saat kita pulang menghadap Bapa, hanya Yesus yang kita miliki, yang kehidupan-Nya sudah kita kenakan, sehingga kita mendapat status di hadapan Allah Bapa, “Ini anak yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Jadi, kalau kita tidak semakin seperti Kristus, berarti Kristen kita itu palsu. Memang harus berproses terus, dan Tuhan mau melatih kita melalui segala hal. Maka, kalau Alkitab mengatakan, “Allah bekerja dalam segala hal,” berarti dalam semua hal, di setiap waktu, di setiap saat, di mana pun kita berada. Jadi, tidak ada waktu di mana kita tidak berurusan dengan Tuhan. Yang membuat rusak adalah ketika kita mengenakan kehidupan orang beragama dalam berurusan dengan Tuhan, di mana mereka melakukannya hanya pada waktu seremonial di gereja; waktu kebaktian doa. Maka, ada hari suci dan bulan suci.
    Sedangkan bagi kita, setiap hari adalah hari-Nya Tuhan. Suatu hari menjadi suci atau tidak, tergantung bagaimana kita mewarnai hari tersebut dalam perilaku dan perbuatan kita. Kita yang mengondisi hari itu jadi kudus, dengan tidak mengucapkan kata kotor, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak bersaksi dusta dan perbuatan lainnya yang tidak menyenangkan hati Bapa. Jadi, kalau kita selalu mendengar rhema melalui setiap peristiwa hidup yang terjadi, maka kepenuhan Allah terjadi atas diri kita. Itulah yang memungkinkan kita bisa bertindak presisi tepat seperti yang Allah kehendaki. Ini membutuhkan proses dan kerja keras, tetapi menjadi kehormatan kalau kita menjadi umat pilihan.
    1 Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,
    9 min
  • Precision
    Dealing with God should occur every moment; there is no time we are not dealing with Him. How poor and miserable are those who deal with God through the church’s liturgical media or ceremonies, which is also done in many religions, primitive religions, and ancient beliefs which in dealing with their worship is only for a moment, during their ceremonies. This became the standard for the Israelites, who did not know the Gospel of the Kingdom then. They had prayer times, and they had to face Jerusalem as their qibla. There were days when they performed religious ceremonies. This state cannot be avoided because that is their portion individually.
    Not many people can interact with Elohim YAHWEH, the God of Israel. Only the high priest can enter the Holy of Holies once a year. If specific people can interact with God, they are unique individuals who can be counted, such as Abraham, Moses, and others. The High Priest generally represented the Israelites, and their interaction with God was within the law. So, if on the Sabbath day, they interact with God through the Sabbath law, at their dining table, they interact with God through the laws of what is kosher and forbidden. They interact with God about the appropriate clothing for Jewish women. That is already interaction, but not directly with the Person of God.
    Entering the New Testament, Lord Jesus began to teach the format of worshiping God in spirit and truth—direct interaction with God in everything, of course, through good behavior. Believers must interact directly with the feelings of God because what concerns is not just about what is good but also what is pleasing and perfect. Rom12:1-2 says, “Therefore, I urge you, brothers and sisters, in view of God’s mercy, to offer your bodies as a living sacrifice, holy and pleasing to God—this is your true and proper worship. Do not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind. Then you will be able to test and approve what God’s will is—his good, pleasing, and perfect will.”
    So, if the Israelites represent the Abrahamic religions, they please God by obeying the written law—violating it can result in legal offenses with their sanctions—while believers fulfill the will of God because our law is God Himself. This reality shows an extraordinary life, which is not normal. To achieve this kind of life, one must study diligently, be seized to enter the school of life, and have Christ’s mind and feelings in line with the mind and emotions of the Father. That’s why sin in the Christian concepts is not just breaking the law but inaccuracy. The word often used is hamartia, which means to miss the mark.
    So, not just being a good person who doesn’t break the law, but in everything, precision, in line with the mind and feelings of God, which is equivalent to living according to the spirit. That’s why being a chosen people must be willing to lose anything to experience a change in nature to a level or stage where everything done is precise, just as God desires. Talking about this should evoke a sense of awe and trembling in our hearts. How far are we from that state? The life that God desires for humans is like this, so the humans we have now are imitations, not originals—the imitations of a wrong image taught by Lucifer. 
    Lucifer offered Eve the fruit of knowledge of good and evil with the promise of becoming like God. What’s wrong with knowing what is good and evil? Isn’t it good if we know what good and evil are? But that was considered wrong and judged to lose the glory of God because what God desires is not knowledge of what is good and evil but the ability to think as He thinks. So, it is not a standard of what is good and evil, but what is pleasing to God and perfect in His eyes. Religion teaches the ethics of what is good and evil. However, the original standard of human design according to God is an enlightened per...
    9 min
  • Presisi
    Berurusan dengan Tuhan itu harus berlangsung setiap saat, tidak ada waktu di mana kita tidak berurusan dengan Tuhan. Betapa miskin dan celakanya orang yang berurusan dengan Tuhan dijembatani atau memiliki media liturgi gereja atau upacara atau seremonial. Hal demikian dilakukan di dalam banyak agama, agama primitif, kepercayaan kuno, yang dalam berurusan dengan sesembahannya itu hanya sesaat, yaitu pada waktu mereka mengadakan upacara. Dan itu sudah menjadi standar bagi bangsa Israel yang waktu itu belum mengenal Injil Kerajaan. Mereka memiliki jam-jam sembahyang di mana mereka harus menghadap Yerusalem sebagai kiblatnya. Ada hari-hari di mana mereka melakukan upacara keagamaan. Hal itu tidak bisa dihindari, karena memang demikianlah porsinya secara individu. 
    Tidak banyak orang yang bisa berinteraksi dengan Elohim YAHWEH, Allah Israel. Hanya imam besar setahun sekali diperkenankan masuk ruang maha suci. Kalau ada orang tertentu yang bisa berinteraksi dengan Allah, maka mereka adalah orang khusus yang jumlahnya bisa terhitung; seperti, Abraham, Musa, dan lain-lain. Tetapi umat Israel pada umumnya diwakili oleh Imam Besar. Interaksi mereka dengan Allah merupakan interaksi dalam hukum. Jadi kalau hari Sabat, mereka berinteraksi dengan Allah melalui hukum Sabat, di meja makan mereka berinteraksi dengan Allah melalui hukum-hukum halal haram. Mereka berinteraksi dengan Allah melalui pakaian yang pantas dikenakan bagi wanita-wanita Yahudi. Itu sudah merupakan interaksi, tapi tidak secara langsung dengan pribadi Allah.
    Masuk Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mulai mengajarkan format penyembahan kepada Allah di dalam roh dan kebenaran. Interaksi dengan Allah dalam segala hal dan secara langsung dalam segala hal. Secara langsung tentu melalui perilaku yang baik. Orang percaya harus berinteraksi langsung dengan perasaan Allah, karena urusannya bukan hanya apa yang baik, melainkan juga apa yang berkenan dan yang sempurna. Roma 12:1-2, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu serupa dengan dunia ini, tapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, supaya kamu mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.” 
    Jadi, kalau bangsa Israel mewakili agama samawi, mereka menyenangkan Tuhan dengan melakukan hukum yang tertulis—yang jika dilanggar bisa nampak delik hukum dengan sanksi-sanksinya—tetapi orang percaya melakukan kehendak Allah. Sebab hukum kita adalah Tuhan sendiri. Ini kehidupan yang luar biasa, yang tidak wajar. Dan untuk mencapai kehidupan seperti ini, seseorang harus belajar sungguh-sungguh, hidupnya harus disita untuk masuk sekolah kehidupan ini, ia harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus supaya bisa seiring dengan pikiran dan perasaan Bapa. Itulah sebabnya dalam konsep Kristen, dosa itu bukan hanya melanggar hukum, melainkan ketidaktepatan. Kata yang sering digunakan adalah hamartia, yang artinya meleset. 
    Jadi, bukan hanya menjadi orang baik yang tidak melanggar hukum, namun dalam segala hal presisi, sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah; yang sama dengan hidup menurut roh. Itulah sebabnya, menjadi umat pilihan itu harus bersedia kehilangan apa pun supaya bisa mengalami perubahan kodrat sampai pada tingkat atau tahap dalam segala hal yang dilakukan itu presisi, tepat seperti yang Allah kehendaki. Berbicara ini harusnya ada perasaan getar dan gentar di hati kita. Betapa keadaan kita masih jauh dari hal itu. Kehidupan manusia yang dikehendaki Allah orisinalnya itu begini, jadi manusia yang sekarang kita miliki itu imitasi, bukan orisinal. Imitasi dari gambar yang salah, yang diajarkan Lusifer. 
    Lusifer menawarkan Hawa buah pengetahuan yang baik dan jahat dengan janji akan menjadi sama seperti Allah. Apa salahnya tahu apa yang baik dan jahat? Bagus bukan jika kita tahu apa yang baik dan jaha...
    8 min
  • Mediokritas
    Pada akhirnya kita tidak bisa setengah-setengah dalam mengikut Tuhan. Kita tidak boleh ada di wilayah abu-abu, di tempat yang disebut mediokritas; panas tidak dingin tidak, terang tidak gelap juga tidak. Tempat yang untuk banyak orang—khususnya orang beragama—merupakan tempat yang paling nyaman. Di mana mereka memberontak kepada Allah, tidak; tetapi mengasihi Allah dengan segenap hati, juga tidak. Orang-orang seperti ini pada akhirnya akan terlempar dari hadirat Allah. Sebab yang dikehendaki Allah adalah mencintai Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan atau tidak usah sama sekali. 
    Seperti yang dikatakan dalam Matius 6:24, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan …” Akhirnya kita harus memilih, hitam atau putih, putih atau hitam, tidak ada pilihan lain. Dan tentu kita mau memilih yang putih. Kita memilih apa yang benar, kita memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya. Namun, yang terjadi dalam kehidupan banyak orang, termasuk kita dulu, adalah kita menunda untuk sepenuh-penuhnya menujukan hidup kita bagi Tuhan. Memang kita tidak bermaksud mau memberontak kepada Tuhan, tidak bermaksud mau melawan Tuhan; tetapi kita juga tidak sepenuh-penuhnya mencintai Dia. Ini sebenarnya termasuk sikap tidak hormat kepada Tuhan.
    Orang-orang seperti ini tidak bisa berkata, “Aku memuja-Mu, aku memuji-Mu, aku menyembah-Mu, Tuhan.” Tidak bisa. Sebab orang yang memuja Tuhan harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan hidup, dan satu-satunya kebahagiaan. Jiwa kita yang sudah keruh sering kali mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki, juga daging kita ini sering kali masih mendesak kita untuk melakukan apa yang memuaskan daging. Tetapi kita harus memilih. Kita yang harus membuat diri kita menjadi benar-benar ekstrem terhadap Tuhan, sampai kita tidak bisa tidak ekstrem lagi. 
    Dunia sudah begitu jahat, tarikannya begitu kuat, maka kalau kita tidak pada posisi yang jelas—yaitu di kutub yang bertentangan dengan kutub dunia—kita bisa terbawa. Kalau kita masih ada di tengah, dalam status mediokritas, kita akan terbawa masuk ke dalam persekutuan dengan kerajaan kegelapan. Karenanya, kita harus melarikan diri, kita harus memisahkan diri dengan sungguh-sungguh, kita mau ada di kutub yang bertentangan dengan kutub dunia. Dan ini adalah pilihan. Tidak bisa kita menantikan Tuhan membawa kita ke kutub puncak yang bertentangan dengan dunia, karena kita sendiri yang harus membawa diri kita ke kutub yang paling bertentangan dengan dunia. Dan Roh Kudus pasti menolong kita. Tetapi kalau kita sendiri tidak menolong diri kita sendiri, kita sudah tidak memiliki kerinduan akan Tuhan, maka tidak bisa. Kita yang harus membangkitkan gairah dan semangat kita untuk berada di kutub paling ujung yang bertentangan dengan dunia. 
    Sebelum kesempatan ini lenyap atau hilang, mari kita keluar dari keadaan abu-abu, apalagi dalam keadaan gelap. Kita mau ada di tempat terang Tuhan, yang terus menerangi hidup kita, yang memimpin kita kepada kekudusan dan kesucian Allah dan Tuhan pasti menolong kita. Banyak orang dan gereja yang baik-baik, banyak pendeta yang baik-baik, menyelenggarakan kegiatan pelayanan dengan baik-baik, tetapi tidak sungguh-sungguh ekstrem. Kalau tidak sungguh-sungguh ekstrem untuk Tuhan, pasti tidak sungguh-sungguh hidup kudus dan tidak mungkin tidak mencintai dunia, pasti hatinya telah dibagikan kepada dunia, walaupun tidak seluruhnya, tetapi itu sudah satu pemberontakan di mata Allah. 
    Orang yang seperti ini tidak mungkin merindukan langit baru bumi baru karena masih menikmati apa pun yang bisa dinikmati di bumi ini. Mestinya kita sudah tidak memarkir hati kita di dunia. Bagi hamba-hamba Tuhan mesti harus memancarkan kerinduan yang kuat untuk pulang ke surga. Menunjukkan bahwa kita adalah musafir di bumi ini. Supaya bisa menularkan, bisa mengimpartasikan spirit ini kepada jemaat. Ini memang sukar, bahkan bisa dikatakan mustahil.
    9 min
  • Terkoreksi
    Kita adalah organisme yang hidup, makhluk hidup. Artinya, bukan hanya fisik kita yang hidup, tapi manusia batiniah kita pun harus menjadi makhluk yang hidup. Inilah yang sebenarnya Tuhan kehendaki. Namun, seringkali kehidupan kekristenan seseorang itu tidak berubah pada waktu hidup nyaman, waktu tidak ada masalah, waktu semua baik-baik. Di mana keadaan itu menjadikan seseorang lalai. Yang sering orang katakan sebagai “zona nyaman”. Bukan tidak boleh memiliki banyak materi dan fasilitas, namun jangan fokusnya hanya pada perkara-perkara dunia. 
    Sebaliknya, juga ada orang yang hidup rohaninya tidak bertumbuh karena masalah berat yang bertumpuk-tumpuk dan bertubi-tubi, sampai ia merasa kecewa, mengapa Tuhan memperlakukan dirinya begitu kejam, menurutnya. Bahkan tanpa disadari, ia memandang Tuhan itu jahat. Bagaimana sikap kita? Ini seharusnya sikap kita, baik kita dalam keadaan tidak memiliki persoalan, baik dalam keadaan baik-baik saja, maupun dalam keadaan banyak masalah, kita harus selalu memperhatikan, apakah kita memiliki kehidupan rohani yang bertumbuh? Apakah kita berubah? Tentu perubahan kita haruslah perubahan ke arah Yesus, perubahan yang sempurna; makin hari makin tidak didapati cela cacat, dosa, dan salah. 
    Dan hanya Roh Kudus yang bisa menolong kita untuk itu. Kalau pikiran kita sendiri sering lolos atau meleset, karena kita tidak mengenali keadaan kita yang sebenarnya. Tetapi, kalau Roh Kudus yang menuntun kita, maka kita bisa mengenali keadaan kita secara benar, keadaan kita yang sebenarnya. Karena Tuhan yang membantu, menolong kita untuk melihat keadaan kita. Jadi, betapa pentingnya dan mutlaknya untuk kita setiap hari datang kepada Tuhan di dalam doa. 
    Sebab ketika kita berdoa, jika ada dosa, kenajisan, atau kebiasaan-kebiasaan yang Tuhan tidak kehendaki yang masih kita lakukan, Tuhan pasti bongkar. Tuhan pasti bukakan. Tuhan pasti menunjukkan dan kita harus mau memperbaruinya. Jadi, kalau orang tidak berdoa, tidak mungkin hidupnya tambah bersih dalam standar kekudusan Allah. Yang berdoa saja belum tentu hidupnya bersih, jika doa dengan motif yang salah. Yang berdoa saja tidak mudah mengalami perubahan, apalagi yang tidak berdoa, pasti tidak mengalami perubahan sama sekali. Ironis, ini terjadi di dalam kehidupan banyak orang Kristen. Tidak berdoa sama sekali, atau doanya pada waktu mau makan, mau tidur, tetapi tidak ada waktu khusus untuk duduk diam di kaki Tuhan.
    Padahal ketika kita duduk diam di kaki Tuhan, kita terkoreksi. Dan Tuhan pasti tahu hal-hal apa yang masih hidup di dalam diri kita yang mengotori hari yang baru yang Tuhan berikan. Tuhan pasti tahu dan menunjukkan kepada kita hal-hal busuk, hal-hal buruk yang masih kita lakukan yang merusak hari indah yang Tuhan berikan kepada kita setiap hari. Maka, jangan sampai karena keadaan senang, tidak ada masalah, kita terlena. Ingat, segala sesuatu akan berakhir. Keadaan nyaman, keadaan baik-baik, bukanlah jaminan, karena tidak akan berlangsung terus. Jadi, ketika kita ada dalam keadaan baik-baik, nyaman, ingat kalimat ini: “Semua akan berakhir.” Sebaliknya, ketika kita ada di dalam kesulitan, kesukaran, yang nyaris marah-marah dan kecewa terhadap Tuhan, dan mungkin sudah kecewa, ingat: “Jangan lawan Tuhan, karena penderitaan kita akan berakhir pada waktunya.”
    Jadi, satu hal yang berharga sekali yang Tuhan berikan kepada kita pada kesempatan ini, bahwa hari baru yang Tuhan berikan itu tidak bisa kita hindari. Kita hidup di dalam perjalanan waktu, dan hari baru yang Tuhan berikan adalah anugerah, yang di dalamnya kita bisa mengumpulkan harta di surga, harta abadi. Jadi, setiap hari, kalau kita mau diubahkan Tuhan, keadaan kita tidak sama seperti kemarin. Dan hari baru yang tak ternilai harganya, kita isi dengan hal-hal indah; yaitu kekudusan dan kesucian. Makin hari hidup kita makin bernilai dan berharga di hadapan Tuhan.
    Dan kalau setiap hari kita mengalami perubahan yang positif dalam pimpinan Tuhan,
    9 min
  • HARI BARU
    Kita ada dalam perjalanan waktu, hari demi hari, lembar hidup kita terus berubah, dibarui. Demikian pula, minggu ke minggu, bulan ke bulan, juga tahun ke tahun. Kita tidak bisa menyangkal, tidak bisa menolak. Kita tidak bisa berkata, “Saya tidak mau hari yang baru.” Kita tidak bisa menolak atau menyangkal, “Aku tidak mau minggu yang baru, bulan yang baru, atau tahun yang baru.” Karena kita sudah masuk dalam perjalanan waktu yang ketat, perjalanan waktu yang absolut. Artinya, mau tidak mau, kita harus masuk dalam perjalanan waktu tersebut. Yang menjadi persoalan, apakah lembar hari hidup yang selalu baru yang Tuhan berikan itu juga berisi lukisan baru, atau kita biarkan lukisan-lukisan lama masih tetap tergambar di atasnya? 
    Lukisan-lukisan lama maksudnya adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang lama, cara hidup kita yang lama. Misalnya: kalau sedang marah, ia mengucapkan kata-kata kasar, bahkan menyebut jenis-jenis binatang tertentu. Dan ternyata di hari yang baru, tetap sama isinya. Kalau kebiasaan tidak jujur, mencuri, tidak menghormati orang tua, berzina, dan berbagai dosa-dosa lain, hari baru tetapi isinya lama. Ini yang terjadi dalam kehidupan banyak orang, dan orang tidak peduli hal tersebut. Betapa mengerikannya itu. Tanpa sadar, kita juga sering melakukan hal tersebut. 
    Tuhan memberi hari yang baru, tetapi kita tidak mengisinya dengan sesuatu yang baru; sebaliknya, cara hidup, kebiasaan lama yang tetap mengisi hari hidup kita yang baru itu. Hal ini pasti mendukakan hati Tuhan. Sebab Tuhan memberi hari yang baru supaya kita mengisinya dengan cara hidup yang baru, terus berkelanjutan. Hari baru diisi dengan isi yang baru, yang tentu lebih baik, lebih positif. Sehingga pada akhirnya, keadaan kita makin indah, makin baik. Jangan tetap sama. Kemarin isinya apa? Hari ini isinya juga tetap sama. Orang-orang seperti ini tidak akan beroleh kesempatan masuk langit baru, bumi baru. Terus terang, kita tanpa sadar masih mengisi hari baru kita dengan cara hidup yang tidak baru. 
    Kita diberi hari yang baru, yang sebenarnya tak ternilai harganya, mahal sekali. Mestinya, di hari yang baru, kita mengisinya dengan isi hidup yang baru. Tetapi kita tidak menghargai anugerah waktu yang Tuhan berikan tersebut dengan hidup sembarangan, melestarikan keinginan-keinginan daging kita, nafsu-nafsu kita. Sehingga hari baru yang begitu berharga kita kotori dengan isi yang salah, dengan konten yang salah dan buruk, dan itu menyakitkan hati Tuhan. Banyak orang demikian, tanpa sadar kita pun juga ternyata sering melakukan hal yang sama. Tetapi hari ini Tuhan berbicara kepada kita. Tuhan memberitahukan kepada kita betapa berharga, betapa mahal, hari yang baru yang Tuhan berikan. 
    Firman Tuhan mengatakan, “Sehasta saja kamu tidak bisa menambahkan umur hidupmu.” Apalagi 1 mil, kita tidak sanggup. Jadi waktu yang Tuhan berikan itu anugerah. Hanya Tuhan yang bisa memberikan, dan kalau pemberian itu dari Tuhan, pasti berharga, pasti mahal dan pasti luar biasa. Artinya, hari yang baru itu mahal, tak ternilai, maka harus diisi dengan kekudusan, kesucian, segala hal yang tidak melukai hati Tuhan; segala hal yang menyenangkan hati Allah. Maka, yang sering bohong, jangan bohong lagi; yang suka berdusta, jangan berdusta lagi; yang banyak bicara, jangan banyak bicara lagi; yang menyimpan dendam, kebencian, jangan lestarikan dendam dan kebencian tersebut; yang hidup dalam perjudian, jangan lakukan itu lagi; yang tidak menghormati orang tua, ayo kita mulai menghormati orang tua; yang hidup dalam perzinaan, jangan lagi hidup dalam perzinaan; yang suka bertengkar, suka ribut, ayo kita belajar mengalah, belajar diam. 
    Dengan demikian, hari baru yang mahal, yang tak ternilai, kita isi dengan perilaku dan perbuatan-perbuatan yang indah, ini yang Tuhan kehendaki. Di dalam Efesus 4 tertulis, “Yaitu bahwa kamu berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu harus menanggalkan manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatka...
    10 min
  • Sampai Menutup Mata
    Paulus berkata, “Kalau aku disuruh memilih hidup atau mati, aku pilih bersama Tuhan.” Sebab Paulus tahu pasti keselamatannya, bukan spekulasi, bukan untung-untungan, bukan “mudah-mudahan diterima di sisi Tuhan,” bukan. Semua ada tatanannya. Dan kalau kita mengikuti tatanan itu, maka ada kepastian. Filipi 2:12 mengatakan, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Artinya, kita harus merespons keselamatan yang Tuhan berikan untuk memasuki pengalaman penggarapan Tuhan atas diri kita, di dalam dan melalui Roh Kudus. Dan itu luar biasa.
    Para teolog khususnya, punya potensi untuk stuck, stagnan, berhenti, karena sudah punya pengetahuan, sudah memiliki pengetahuan teologi yang cukup, punya posisi di dalam gereja, mendapatkan legitimasi dari jemaat bahwa ini pendeta; wakil Tuhan, orang baik, rohaniwan. Mereka lupa bahwa mereka tidak boleh berhenti berubah. Perubahan berhenti waktu kita menutup mata. Kita tidak boleh berhenti berubah sampai kita menutup mata. Bukan berlebihan kalau kita selalu memikirkan hal ini, karena kalau kita menunda, berarti kita terjebak siasat setan.
    Masalahnya, banyak orang berpikir bahwa selalu ada waktu untuk berubah, selalu ada waktu untuk bertobat. Faktanya, dalam perjalanan hidup, ketika kesempatan demi kesempatan yang Tuhan berikan tidak digunakan, maka hati seseorang mengeras, sampai dia tidak bisa bertobat. Bahkan kalau ia tidak belajar menjumpai Tuhan dalam doa dan perjumpaan konkret, ia tidak akan sanggup percaya. Hingga nanti di ujung maut, ia mencoba untuk mencari, meraih-raih Tuhan, ia tidak mampu. Sekarang kita masih bisa berkata, “Aku percaya Tuhan.” Tuhan masih beri kesempatan untuk kita memiliki pengalaman dengan Tuhan melalui doa, pengalaman hidup setiap hari. 
    Dia menyertai bukan hanya karena mau melindungi dan menjaga kita, namun Dia Bapa yang mendidik, Dia Guru yang mengajar. Dan kita kagum terhadap hikmat kebijaksanaan Allah yang mengubah kita lewat berbagai peristiwa. Kalau orang Kristen baru, mereka memuji Tuhan karena kuasa-Nya, keajaiban-Nya, mengabulkan permintaan, menyembuhkan sakit, memulihkan ekonomi. Tapi Kristen yang dewasa, mulai melihat kebijaksanaan Allah yang membentuk kita. 
    Sebagaimana hubungan suami istri mestinya semakin hari akan saling lebih mencintai, lebih berterima kasih. Apa yang dilakukan suami terhadap istri, atau yang dilakukan istri terhadap suami membuat dia berkata, “Kamu luar biasa. Kamu luar biasa.” Tetapi karena dunia sudah rusak, menikah makin hari makin lihat bobroknya. Makin menyakitkan. Waktu seseorang kenal Tuhan, cinta mula-mula, itu belum membuat seseorang mengagumi Tuhan, sebenarnya. Tapi cintanya membara. Mestinya cintanya akan matang lewat hari, bulan, tahun, ketika melihat kebijaksanaan Tuhan membawanya kepada perwujudan keselamatan. Jadi, keselamatan itu menjadi begitu menarik, begitu berharga seiring dengan berjalannya waktu, karena kita mengalami Tuhan yang hadir dan menyempurnakan karakter kita. 
    Tetapi sejujurnya, dari sekian banyak orang yang mengaku percaya, tidak banyak yang punya niat betul-betul ke langit baru bumi baru. Kalau harus mati, ya matilah. Tapi tidak memiliki kerinduan untuk sampai langit baru bumi baru. Kenapa? Karena mereka tidak mengerti keselamatan itu begitu berharga. Kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, ayat itu muncul setelah ayat di atasnya: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Jadi, mengerjakan keselamatan adalah usaha untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus, atau usaha untuk memiliki gaya hidup yang dikenakan Yesus: melakukan kehendak Bapa. 
    Dan di dalam proses menjadi serupa dengan Yesus—memiliki pikiran, perasaan Kristus—kita mengagumi bagaimana Tuhan memproses kita. Dan itulah sebabnya mengapa hidup kita menjadi menarik. Kristen yang benar, pasti punya pengalaman bagaimana proses pembentukan itu berlangsung dalam hidupnya. Maka, jangan berhenti berubah.
    9 min
  • Hati yang Bijaksana
    Kalimat “sampai menutup mata” memberi pesan bahwa kita pasti menutup mata. Kedengarannya hal ini sederhana dan tidak penting, tetapi pemazmur mengajari kita, di dalam tulisannya, pemazmur mengatakan, “Ajar aku menghitung hari-hari, supaya aku beroleh hati yang bijaksana, karena hari-hariku berlalu cepat.” Orang yang menyadari bahwa pasti ada akhir dari perjalanan hidupnya akan memiliki hati yang bijaksana. Orang yang tidak memikirkan realitas bahwa ia ada dalam perjalanan waktu dan pasti ada ujung dari perjalanan adalah orang yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti serta tidak menghayati hal ini sehingga ia tidak memiliki hati yang bijaksana; berarti ceroboh. 
    Kita hidup di tengah-tengah dunia yang makin gelap, makin fasik, makin tidak memercayai keberadaan Allah. Walaupun mulutnya mengaku percaya ada Tuhan, tetapi sesungguhnya dia belum percaya dengan benar. Ia tidak mengakui di dalam perbuatannya bahwa Allah itu ada. Orang yang tidak memiliki percaya yang benar, pasti tidak memikirkan kekekalan. Dan kalau orang tidak memikirkan kekekalan, pasti tidak serius merenungkan realitas adanya ujung dari perjalanan waktu. Itulah sebabnya filosofi hidup manusia di sekitar kita pada umumnya adalah: “Mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Tetapi kalimat “besok kita mati” tidak dipikirkan. 
    Mari kita menggoreskan, menorehkan di dalam hati kita bahwa kita ada di dalam perjalanan waktu yang pasti ada ujungnya, dan pasti kita akan menutup mata. Dan ada kehidupan setelah kita menutup mata. Setiap kita pasti berkata “amin,” tetapi seberapa dalam kita merenungkan, menghayati hal ini dan menerima realitas ini, bahwa kita pasti akan sampai di ujung perjalanan hidup? Dan setelah itu kita menghadapi kekekalan. Jangan anggap remeh hal ini. Ironisnya, kalau kita bicara mengenai langit baru dan bumi baru, kita dianggap lucu, aneh, dan bisa menjadi bahan olok-olokan. 
    Tapi tidak menjadi masalah. Kita tetap pada track ini; kita menghayati realitas kefanaan hidup di bumi dan realitas kekekalan nanti di balik kubur kita. Tahukah kita bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus itu diproyeksikan untuk kehidupan yang akan datang, bukan kehidupan hari ini? Tetapi setan begitu licik memutarbalikkan kebenaran. Bicara “keselamatan” hanya dipahami sebagai terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Lalu orang Kristen ‘disuntik’ dengan ajaran yang sebenarnya tidak alkitabiah. Dan mereka meyakini saja bahwa dirinya sudah selamat dan nanti kalau mati, masuk surga. 
    Sejatinya, menjadi orang Kristen itu makin hari, makin mengagumi keselamatan. Jadi bukan tanpa perubahan; dari dulu percaya Yesus Tuhan dan Juruselamat, yakin kalau mati masuk surga, lalu menjalani hidup seperti hidup yang dijalani oleh orang yang bukan umat pilihan, yang tidak memiliki keselamatan. Karena di dalam keselamatan itu ada pengalaman, perubahan hidup; bagaimana Roh Kudus menuntun hidup kita. Dan kita bisa menghayati perubahan dari manusia berdosa dengan karakter dosa, menjadi seorang yang berkarakter ilahi, berkodrat ilahi dengan keagungan karakter yang Allah ajarkan kepada kita di dalam dan melalui Roh Kudus. Dinamika hidup seorang yang dipimpin Roh Kudus. Kekristenan yang benar, seperti ini. 
    Dan itu harta kita. Jadi kalau Tuhan berkata, “Kumpulkan harta di surga,” artinya ada proses akumulasi, proses penumpukan. Apa itu? Perubahan karakter kita. Kalau bangsa Israel menempuh jarak untuk sampai Kanaan, tetapi kita untuk sampai langit baru bumi baru harus menempuh perubahan. Dan perubahan adalah sesuatu yang indah, yang mestinya dirasakan, dialami. Dan dari pengalaman itu, timbul kekaguman kita betapa ajaib Tuhan. Keselamatan dalam Yesus Kristus bukan hanya menyelamatkan jiwa dari api kekal, melainkan menyelamatkan karakter kita. Justru perubahan karakter menjadi ciri atau tanda kepastian keselamatan. 
    Jadi kepastian keselamatan bukan karena keyakinan secara mental bahwa dia akan masuk surga karena percaya Yesus sebagai Tuhan dan Jurus...
    8 min
  • Asing dengan Allah
    Betapa berharganya diri kita ini, yang oleh karenanya Allah menciptakan langit dan bumi bagi Adam dan bagi seluruh keturunannya. Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, maka bumi ini menjadi surga menjadi Firdaus. Allah di dalam tatanan-Nya tidak bisa bersekutu dengan manusia yang tidak bermoral seperti diri-Nya. Maka mereka diusir dari keindahan yang Allah ciptakan. Kalau Adam dan Hawa tidak bisa lagi menikmati Firdaus, itu bukan hanya berarti mereka tidak bisa menikmati keindahan, kenikmatan satu lokasi, melainkan bumi menjadi tanah yang terkutuk, tanah yang terhukum. Bumi yang terkutuk akan menumbuhkan onak dan duri, artinya menumbuhkan kesulitan.
    Yang kedua, karakter manusia yang rusak. Hal ini membuat manusia tidak bisa menikmati keindahan. Manusia tidak mungkin bisa menikmati ciptaan Allah secara proporsional. Tetapi Allah yang baik, mengasihi manusia yang berharga di mata Allah. Allah yang agung dan mulia, tidak mungkin mengasihi sesuatu yang tidak mulia. Manusia itu bernilai dan Allah mencintai. Tetapi manusia rusak, sebenarnya tidak layak, tidak pantas dicintai. Itulah sebabnya dalam Yakobus 4:5 dikatakan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah dalam diri kita, diingin-Nya dengan cemburu!” Roh kita itu milik-Nya, maka Dia menginginkannya. Allah ingin roh itu kembali kepada-Nya. 
    Ada yang bernilai di dalam diri kita, yaitu roh yang kekal yang dilahirkan dari Allah ketika Ia menghembuskan nafas. Tetapi sering kali manusia tidak menghargai dirinya sendiri. Yakobus 4:4 mengatakan, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia!  Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”  Sejujurnya, banyak di antara kita yang sebenarnya asing dengan Tuhan. Tetapi akrab dengan dunia. Itulah sebabnya banyak orang yang lebih menghargai dunia daripada Tuhan. Selera mereka terhadap Tuhan tipis, kecil, jauh dibanding dengan selera terhadap uang, harta, dan semua fasilitas. 
    Bukan berarti salah jika kita punya banyak uang atau fasilitas, tetapi kita harus lebih menghargai Tuhan. Hal itu bisa terbukti dari waktu yang kita sediakan untuk pertemuan dengan Tuhan. Sebagaimana Mazmur 1:2 mengatakan, “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Sepertinya ayat ini terkesan berlebihan. Tetapi setelah melewati tahun-tahun panjang dan kita mengakui bahwa yang kita butuhkan itu Tuhan, maka sekarang kita mengerti bahwa merenungkan Firman itu menjadi nafas yang otomatis kita lakukan sebagaimana kita bernafas. Sekarang kita belajar berprinsip the only world I have is God, My Lord. 
    Banyak orang Kristen yang memandang remeh Tuhan. Apalagi kalau mereka berkedudukan tinggi, punya gelar tinggi, punya kekayaan banyak, penampilan bagus, dihormati orang, maka mereka menjadi sombong. Mereka masih asing dengan Tuhan. 
    Kalau suatu hari mereka bertemu Tuhan, apa yang mereka mau katakan? Coba pikiran ini, perkarakan ini. Mereka tidak punya bahan pembicaraan, karena mereka tidak punya dialog dengan Dia setiap hari. Dengan orang tua, dengan pasangan hidup saja kita berdialog. Mengapa tidak dengan Tuhan? Dia, yang maha hadir, yang menyertai kita, selalu menunggu kita berdialog dengan-Nya. Tuhan mau menyelamatkan kita, tetapi percintaan dunia membuat kita tidak mengasihi Allah (1Yoh. 2:15-17). 
    Jadi kalau kita lebih akrab dengan dunia, kita tidak layak mengatakan, “Aku mencintai Engkau, Tuhan.” Tidak layak, karena standar mengasihi Tuhan itu hatinya harus utuh hanya bagi Dia. Kekusutan hidup bisa membuat batin kita menjadi seperti benang kusut yang tidak bisa diurai, yang hanya bisa dibakar. Maka, semakin tua itu bejana kita harus makin kosong, dan hanya diisi Tuhan. Tuhan sayang kita, tapi sering kali kita yang tidak menyayangi diri kita sendiri. Kita tenggelam dalam berbagai kesenangan dunia dan kita anggap waja...
    7 min
  • Pengalaman Kematian
    Ada satu yang seharusnya kita khawatirkan dalam hidup kita pribadi, yaitu kalau kita tidak berani masuk dalam pengalaman kematian bersama dengan Tuhan. Sebab kalau seseorang tidak berani memasuki pengalaman kematian bersama dengan Tuhan, dia tidak mungkin menjadi orang Kristen yang rohani. Ia tidak mungkin berjuang untuk hidup suci. Memasuki pengalaman kematian di dalam Tuhan tidak otomatis membuat hidup kita benar, tapi kita akan memiliki perjuangan yang sungguh-sungguh. Kita akan menjadi manusia rohani dan pasti memiliki pengaruh terhadap orang lain. Mengapa anak-anak kita tidak menjadi rohani, tidak mencari Tuhan? Karena orang tuanya tidak rohani. Apa yang dimaksud dengan kematian di dalam Tuhan? 
    Kolose 3:3-10, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”
    Kalau seseorang tidak berani masuk pengalaman kematian bersama Tuhan, pasti tidak ada pertumbuhan, tidak ada perubahan. Dan menjadi mengerikan sekali ketika ia mengahadap Tuhan dan dibuang ke dalam api kekal. Dari sini kita melihat bahwa Kristen palsu itu bisa nampak indah, ke gereja, aktif dalam pelayanan, tapi tidak berbuah. Seperti pohon hidup berbuah dimana buahnya bisa dimakan orang. Pohon itu berdampak walaupun suatu hari pohon itu akan mati, tapi telah menghasilkan banyak buah. 
    Maka, kita harus berani meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Manusia rohani adalah manusia yang makin hari makin hidup suci. Itu tergantung kita, bukan tergantung Tuhan. Masalahnya, yang nagih di jiwa kita itu kesucian atau dosa. Ada nafsu jahat dalam diri kita, namun besar atau kecil tergantung apakah itu dihidupi atau dimatikan. Tapi kita harus mematikan, harus dimatikan. Yang paling mengerikan itu diri kita sendiri. Karena kita sering tidak sadar bahwa yang sedang menguasai diri kita itu manusia lama, sehingga manusia lama kita menyatu dengan diri kita. Namun kita anggap itu memang diri kita. Sejatinya, Roh Kudus pasti memberitahu. Hanya, kita sering tidak peka karena kita tidak memperkarakannya. 
    Tuhan itu lebih dari cukup selama kita memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan. Tuhan tidak akan mempermalukan kita. Kita bisa melewati masalah demi masalah, kebutuhan demi kebutuhan. Jangan serakah. Sebab akhirnya kita tidak bisa menikmati apa yang sebenarnya menjadi bagian kita. Firman Tuhan mengatakan, “semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).” Jadi, seharusnya firman Tuhan yang disampaikan tiap Minggu, renungan harian, khotbah lewat kanal Youtube dan medsos, seharusnya mematikan semua hal negatif di dalam diri kita.
    Setan tidak bisa menguasai kita kalau kita tidak mau dikuasai. Dunia tidak bisa memengaruhi kita kalau kita menolak, mereka tidak bisa memaksa kita. Tetapi kalau diri kita sendiri yang membuka celah—karena kita tidak mematikannya—maka dia akan mencengkeram, menguasai, dan menyeret kita ke dalam api kekal. Kalau orang masih menghidupi nafsu-nafsu jahat, dia tidak bisa menumbuhkan sifat-sifat Allah di dalam dirinya, tidak bisa menumbuhkan kodrat ilahi. Padahal kita adalah anak-anak Allah yang harus menjadi seorang yang berkodrat ilahi. Sebab kesucian itu bukan hanya keadaan tidak berbua...
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…